1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada era sekarang ini, media massa adalah salah satu industri yang berkembang dengan berbagai macam jenisnya, ada yang berupa visual, audio dan audio visual. Contoh di masyarakat Indonesia sendiri terdapat media cetak, media elektronik dan media online. Media massa secara tradisional (surat kabar, majalah, radio, televisi, film) dan media massa modern (internet dan telepon selular).
Salah satu media massa di Indonesia adalah media elektronik televisi. Televisi seperti yang didefinisikan oleh McQuail adalah media komunikasi massa audio visual yang menimbulkan suara dan gambar, yang memiliki karakteristik, sifat, dan ciri-ciri media massa (Mc Quail, 2008). Sebagai media audio visual televisi memiliki program-program acara yang ditawarkan kepada audiennya atau penontonnya. Televisi telah menjadi pilihan utama hiburan masyarakat Indonesia sampai sekarang ini.
TV, TV-7, Lativi dan Global) serta beberapa televisi daerah yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan stasiun televisi lokal. Tidak ketinggalan pula muncul televisi berlangganan yang menyajikan berbagai program acara baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (Wikipedia, 2011).
Setelah Undang-Undang Penyiaran disahkan pada tahun 2002, jumlah televisi baru di Indonesia diperkirakan akan terus bermunculan, khususnya di daerah yang terbagi dalam tiga kategori yaitu televisi publik, swasta, berlangganan dan komunitas. Hingga Juli 2002, terbukti muncul televisi lokal seperti JTV. Hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah orang yang memiliki pesawat televisi di Indonesia mencapai 25 juta. Kini penonton televisi di Indonesia benar-benar memiliki banyak pilihan untuk menikmati berbagai program televisi (Morissan, 2005).
Televisi memiliki program acara yang mampu menarik pemirsanya. Sampai tahun 2011 ini penonton televisi terbukti meningkat, lembaga survei Nielsen juga memaparkan hasil riset penonton terhadap tayangan televisi di Indonesia sepanjang kuartal I 2011 untuk semua stasiun televisi di 10 kota besar. Secara umum, jumlah penonton televisi pada kuartal I 2011 juga naik sebesar 11,47% menjadi 6,8 juta penonton. Pada kuartal I 2010, jumlah penonton televisi sebanyak 6,1 juta penonton. Dari jumlah itu, sebanyak 1,4 juta orang menonton sinetron. Angka ini naik 55% dari jumlah penonton sinetron pada kuartal I 2010 yang sebanyak 900.000 orang. Program sinetron yang paling banyak di tonton salah satunya berjudul Putri yang Terbuang dengan rating sebesar 13,4% atau dengan jumlah penonton sekitar 1,18 juta orang (Falanta, 2011).
3
kebutuhan dan keinginan pemirsa, maka akan ditinggalkan. Tidak mengherankan, masing-masing TV baik wasta maupun nasional berlomba-lomba memproduksi acara unggulan.
Dalam praktek kesehariannya berkiblat ke sebuah Lembaga Survei Rating Acara TV, AGB Nielsen. Lembaga survei yang satu ini menjadi panutan bagi seluruh stasiun TV Nasional karena dapat mempengaruhi para pemasang iklan untuk berebut kapling di acara yang banyak ditonton. Data yang diperoleh dari sebuah Stasiun Televisi Swasta Nasional, acara unggulan yang mereka produksi mampu meraup iklan dengan keuntungan per tahun mencapai Rp. 1 Trilliun dari penjualan iklan dan program acara. Betapa tidak, sebuah iklan dengan durasi 30 detik dijual seharga Rp. 5 juta dan iklan rokok mampu dijual seharga Rp. 10 juta hingga Rp. 15 juta per spot (sekali tayang). Begitu juga dengan acara Talkshow, durasi 30 menit dijual seharga Rp 60 juta dan durasi 60 menit bisa mencapai Rp. 120 juta hingga Rp. 150 juta. Sebaliknya, di televisi swasta lokal, oleh karena susahnya mencari iklan, sampai membanting harga hingga Rp. 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah) per sekali tayang, atau seharga 1 persen dari tarif iklan swasta nasional. Program acara Talkshow durasi 60 menit, misalnya, di TV Swasta Lokal, dijual seharga Rp. 1.000.000,- (Syarif, 2008).
Pada struktur organisasi Televisi, tim kreatif masuk pada production team. Namun pada umumnya tidak disebutkan bahwa tim kreatif masuk padastruktur organisasinya, seperti dikutip dari Broadcaster Development Program General Training (2009)
Pada struktur organisasi tersebut tidak disebutkan langsung “tim kreatif” namun DIC Production, hal itu dikarenakan tim kreatif merupakan kehendak dari atasannya untuk memerlukan tim kreatif in house (milik sendiri) atau menggunakan jasa dari PH dan perlu tidaknya suatu program acara memakai sebuah tim kreatif.
5
Semuanya mempercayai kepada tim kreatif untuk membuat sebuah acara yang menarik, dengan ide-ide yang dimiliki.
Saat produksi acara dimulai, disinilah tim kreatif dapat merealisasikan semua ide-ide yang dimiliki. Tanpa adanya ide kreatif dalam suatu program acara maka akan sangat membosankan dan tidak menarik untuk dilihat bahkan ditinggalkan oleh audiens. Rating acara menurun bahkan kemungkinan akan ditarik dari peredarannya. Tugas tim-tim kreatif inilah yang harus bekerja lebih keras untuk membuat program acara lebih menarik dan lain dari program yang sudah ada. Melihat dari tugas-tugas yang mereka jalani dapat kita nilai bahwa untuk menghasilkan suatu karya yang bagus dan maksimal untuk disajikan media televisi, para tim kreatif memiliki peranan besar untuk dapat bersaing dengan televisi-televisi lain.
Pitriawanti (2010) menyebutkan bahwa, perkembangan di bidang pertelevisian tersebut memungkinkan timbulnya persaingan yang cukup ketat di antara stasiun-stasiun televisi untuk menarik perhatian pemirsa. Sebagai akibatnya, dapat kita lihat dari banyaknya jenis acara yang menarik, mulai dari film, sinetron, kuis, acara musik dan sebagainya. Dengan adanya program-program yang menarik tersebut, tim kreatif dituntut lebih baik untuk membuat acara yang menarik dari yang sudah ada.
Setiap individu memiliki berbagai macam aktivitas dalam rangka mengisi dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Individu sebagai makhluk sosial, harus mampu berinteraksi dengan sesamamya serta lingkungannya dan hal itu merupakan suatu kodrat manusia. Selain itu, bekerja dan berkarya juga merupakan kodrat manusia yang harus dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya agar tetap dapat bertahan di era globalisasi seperti sekarang ini.
dari sejumlah perusahaan. Sebagian besar dari inovasi yang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat sebenarnya perlu dimiliki oleh seluruh anggota organisasi.
Kreativitas menuntut seseorang untuk mampu melahirkan sesuatu yang baru sebagai hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungan kerjanya. Menurut Badawy (dalam Timpe, 1999) kreativitas adalah pengaruh gabungan dari orang-orang kreatif yang bekerja di dalam suatu lingkungan kreatif yang mendorong (atau setidaknya tidak menghambat) kreativitas.
Kreativitas orang-orang dunia pertelevisian ternyata memiliki caranya tersendiri dalam menciptakan ide-ide kreatifnya. Kreativitas para pekerja di media televisi itu muncul saat adanya keterikatan bersama tim kerja di lapangan, misalnya pada tim kreatif. Kreativitas itu amat sangat penting, para tim kreatif atau tim produksi di stasiun TV itu kreativitasnya muncul setiap saat, setiap detik, menit, jam, sampai setiap hari.
Dalam proses mengemas acara-acara TV. Karyawan tim kreatif mengalami kondisi kerja dimana secara tidak langsung mereka harus memunculkan kemajuan ide-ide yang kreatif dan ikut bertanggung jawab disetiap episode acara, mulai dari waktu penayangan, segmen acara, pengaturan disetiap acara dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan tidak lain untuk mendapat perhatian dari pemirsa. Tentunya kondisi tersebut secara tidak langsung menjadi tantangan dari pekerjaan itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Hendrakusuma (2007), setiap program memiliki sedikitnya empat tahap yaitu lahir, tumbuh, matang dan menurun, atau mati. Itu semua juga menjadi salah satu tantangan tercapainya tujuan bagi pelaku bisnis termasuk tim kreatif pada perusahaan media televisi agar survive dalam jangka panjang. Hal tersebut mendorong karyawan tim kreatif agar senantiasa berusaha mewujudkan pencapaian dalam bekerja dan bila berhasil maka akan mendapatkan pengakuan. Misalnya, dari pemirsa berupa rating dan dari perusahaan berupa kompensasi atau bonus.
7
segera dipikirkan. Namun bagaimana alur cerita tersebut asli, tidak mirip dengan sinetron lainnya dengan kata lain ide tersebut harus kaya dan lancar agar penontonnya bisa bertahan. Konsep kreatif harus orisinal yang muncul dari kreativitas murni. Hal ini sesuai pendapat dari Munandar (1999) kreativitas figural menekankan pada kemampuan mencetuskan aspek kelancaran, keluwesan, originalitas dan elaborasi. Oleh karenanya tim kreatif juga harus memiliki aspek-aspek tersebut. Faktanya sekarang ini sudah banyak program yang kurang original seperti tahun 2000-an ajang pencarian bakat sedang marak mulai dari AFI (Akademi Fantasi Indosiar) maka muncul juga ajang-ajang yang sama seperti Indonesian Idol. Kemudian program acara musik dari Inbox, Dahsyat, Hitzteria, KissVaganza dan yang lainnya (Sumatera Express, 30 November 2009).
Bukti hasil dari tim kreatif untuk mampu mempertahankan program acaranya adalah dari hasil rating program acara tersebut. Contoh saja program acara lawakan berupa wayang orang yaitu Opera Van Java atau biasa disebut OVJ. Meskipun ratingnya sempat turun pada Selasa (18/10), Opera Van Java (Trans 7) kembali unjuk gigi. Terbukti pada Rabu (19/10), OVJ berhasil kembali menduduki peringkat teratas. Menurut rating AGB Nielsen Rabu, OVJ mengumpulkan TVR 6,9 dan share 26,2 (Tabloid Bintang, 20 Oktober 2011).
berbuat apa-apa meski format acaranya sama dengan Empat Mata, meskipun namanya [Bukan] Empat Mata.
Seperti televisi-televisi nasional yang ada, televisi lokal seperti JTV (JawaPos Televisi) juga sangat memerlukan kreativitas dari tim kreatif. Menurut situs resmi JTV terbaru, JTV merupakan televisi lokal pertama di Indonesia yang tayang perdana pada 8 November 2001 dengan durasi tayang 10 jam sehari sampai tahun ini, JTV sudah mengudara selama 22 jam sehari dengan 95 % produksi sendiri (in house). JTV juga mempunyai program-program acara unggulan seperti Ngetoprak, Kartolo, Senam Pokse, Pojok Kampung dimana tim kreatif perannya sangat besar disetiap tayangannya.
Namun tim kreatif tidak selamanya kreatif, Opera Van Java atau lebih dikenal sebagai OVJ saja juga pernah luput dari kreativitas tim kreatifnya, dikutip dari Trans7 Forum Online masih terdapat kritikan-kritikan yang ditujukan pada tim kreatifnya contoh saja komentar yang ditulis oleh salah satu penggemar setia OVJ yaitu Iway mengemukakan bahwa sebagai penggemar setia dari Opera Van Java, bahwa tanggal 18 Mei 2011 ia merasa kecewa karena bintang tamu yang kurang cocok dengan lawakan-lawakan khas dari pemain Opera Van Java (OVJ). Menurutnya bintang tamu tersebut merusak lawakan dari pelawak asli OVJ. Intinya tim kreatif Oper Van Java harusnya memberikan briefing atau arahan terlebih dahulu sebelum memulai acara baik siaran langsung maupun tidak.
Seperti hal di atas, JTV juga menerima kritikan. Dikutip dari Hadi melalui grup opera, JTV mendapatkan kritikan pada acara Pojok Kampung karena penggunaan istilah yang dianggap kurang sopan seperti empal brewok yang pada bahasa Indonesia berarti alat kelamin perempuan.
9
KPI Pusat. Komisi Penyiaran Indonesia, melalui situs resmi terbaru menyebutkan bahwa peneguran dijelaskan dalam dua surat teguran KPI Pusat yang ditujukan ke direktur utama Trans TV, Wishnutama, Selasa, 18 Oktober 2011. Di surat teguran yang ditandatangani KPI Pusat, Dadang Rahmat Hidayat, dijelaskan pelanggaran program Reportase yang ditayangkan pada 10 Agustus 2011 mulai pukul 04.49 WIB adalah penayangan adegan kekerasan berupa tindakan fisik berulang-ulang yang dilakukan oleh seseorang yang menggunakan parang tanpa sensor. Sedangkan pelanggaran program acara John Pantau yang ditayangkan pada 11 September 2011 mulai pukul 16.17 WIB adalah penayangan adegan-adegan yang memuat penghinaan, pelecehan dan merendahkan perbedaan individu atau kelompok masyarakat tertentu. Pada program ini ditayangkan proses pemburuan, penangkapan, sampai pemborgolan dua orang dengan masalah kejiwaan. Selain itu, ditayangkan juga adegan tim kreatif yang dengan sengaja memasukkan host ke dalam ruangan yang berisi kelompok orang dengan masalah kejiwaan sebagai bahan tertawaan.
Begitu pula tim kreatif pada JTV sebagai televisi lokal, JTV sering digunakan sebagai ajang kampanye pada calon Gubernur. Dalam hal ini Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim memanggil manajemen JTV (Jawa Pos Media Televisi). Televisi lokal itu dinilai melakukan pelanggaran penayangan iklan calon gubernur di masa tenang Pemilihan Gubernur (pilgub) Jawa Timur putaran kedua. Sikap tegas KPID ini berdasarkan rekomendasi Panitia pengawas Pilgub Jatim yang mengungkapkan pada saat masa tenang, televisi yang berkantor Graha Pena Surabaya ini telah menayangkan iklan calon gubernur di waktu yang seharusnya tidak boleh disiarkan, yaitu pada tanggal 1-3 November 2008 (duniatv.blogspot).
menaikkan rating program acara yang diproduksinya tanpa berbuat kecurangan.
Dari keperluan stasiun televisi, baik televisi nasional maupun televisi lokal akan tim kreatif dan juga permasalahan dengan tim kreatif bahkan fenomena-fenomena yang lain mengenai tim kreatif penulis ingin meneliti studi tentang kreativitas figural pada tim kreatif media televisi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran Tentang Kreativitas Figural Pada Tim Kreatif Media Televisi?”.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Kreativitas Figural Pada Tim Kreatif Media Televisi.
D.Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan memberikan sumbangan atau referensi ilmiah bagi Ilmu Psikologi, khususnya di bidang Psikologi Sumber Daya Manusia.
2. Manfaat praktis
STUDI TENTANG KREATIVITAS FIGURAL
PADA TIM KREATIF MEDIA TELEVISI
SKRIPSI
Oleh:
FADFASH MUHAMMAD RUSYDA
07810051
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang
Sebagai salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi
Oleh:
FADFASH MUHAMMAD RUSYDA
07810051
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Studi Tentang Kreeativitas Figural Pada Tim Kreatif Media Televisi” ini dapat diselesaikan setelah melalui proses usaha keras yang memerlukan segenap tenaga dan pikiran. Skripsi ini dimaksudakan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan yang telah diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga karya ini bisa selesai. Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu Dra. Cahyaning Suryaningrum, M. Si selaku dekan fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Ibu Dra. Djudiyah, M. Si selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan arahan dan pengetahuan baru kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dan juga atas kesabaran dan nasehatnya yang sangat berarti.
3. Bapak Zakarija Achmat, S.Psi, M.Si selaku pembimbing II. Terima kasih atas bimbingan dan arahan yang sangat berarti dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, dan juga tidak bosan-bosannya memberikan nasehat yang sangat berarti.
4. Ibu Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si selaku dosen wali kelas A angkatan 2007. Terima kasih telah banyak membantu dalam proses akademik dan juga semangatnya kepada kami semua.
6. Segenap keluarga besar Televisi X yang telah menyediakan tempat untuk penulis, terima kasih atas kesediaan waktu dan perhatiannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Ayah dan Ibuku, terima kasih atas doa, dukungan, serta perhatian yang tak terhingga kepada penulis. Rasanya ucapan terimakasih dan gelar sarjana saja tak cukup untuk membalas kebaikan kalian. Adek-adekku, Azky dan Fifil yang menjadi motivator, tiru kebaikan dan jangan ikuti keburukan kakak kalian. 8. Untuk seluruh saudaraku di Pondok Pesantren Mahasiswa Alhikam Angkatan
2007 pengalaman luar biasa bersama kalian.
9. Untuk seluruh teman-temanku Psikologi angkatan 2007, terutama kalian, Anak Kelas A, Doni, Inung, Cino, Ndos, Topek, Ria, Panca, Romo, Ade, Firdian, Nandar, Bili, Mbek, Mat, Arul, Kebo, Ciput, Fajar, Ega dan anggota kos 19B Penki, Bentol, Ari, Rumpil, Bogrek, Haikal.
10. Keluarga besar Inter Club Indonesia (ICI) Regional Malang, menjadi bagian dari kalian anugerah terindah bagiku sebagai Interisti.
11. Kepada semua pihak, penulis ucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga. Semoga Allah SWT membalas segala amal dan kebaikannya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna dengan segala keterbatasan yang ada, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh.
Malang, 07 Mei 2012 Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
INTISARI. ... iii
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreativitas 1. Pengertian Kreativitas ... 11
2. Karakteristik Kreativitas ... 12
3. Jenis-jenis Kreativitas ... 14
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas ... 16
5. Alat Ukur Kreativitas Figural... … 20
B. Tim Kreatif Televisi. ... 21
C. Kreativitas Figural pada Tim Kreatif Media Televisi... ... 22
D. Kerangka Pemikiran ... 24
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 25
B. Variabel Penelitian ... 25
C. Definisi Operasional ... 26
D. Populasi Dan Sampel ... 26
E. Lokasi Penelitian ... 27
F. Metode Pengumpulan Data ... 27
G. Validitas dan Reliabilitas Alat Tes ... 28
I. Metode Analisa Data... ... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subjek Penelitian dan Analisa Data ... 31
1. Deskripsi Subjek Penelitian... ... .. 31
2. Analisa Data ... 32
a. Kelancaran Berpikir... 33
b. Keluwesan Berpikir... 33
c. Originalitas... 34
d. Elaborasi... 35
B. Pembahasan ... 35
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 40
B. Saran ... 40
DAFTAR PUSTAKA ... 41
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 31
2. Subjek Berdasarkan Usia ... 31
3. Subjek Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 32
4. Hasil Data T Skor ... 32
5. Hasil Skor Fluency ... 33
6. Hasil Skor Flexibility ... 34
7. Hasil Skor Originality ... 34
[image:20.612.140.509.155.313.2]DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A : - Norma Kelompok Tim Kreatif Televisi X - Rekapitulasi Psikotes Kreativitas Figural - Data T Skor Kreativitas Figural
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 1989. Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktis. Jakarta: PT. Bima Karya.
Azwar, S. 2007. Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
_______. 2000. Reliabilitas dan validitas. Edisi kelima. Yogjakarta: Pustaka Pelajar Offset. Broadcaster Development Program General Training. (2009)
Chandra, J. 1994. Kreativitas: Bagaimana menanamkan, membangun, dan mengembangkannya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Chaplin, J.P. 2000. Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Coleman, JC. Dan C. L. Hammen. 1974. Contemporary psychology and effective behavior. Glenview: Scot, Foresman, and Co.
Duniatv.blogspot.http://duniatv.blogspot.com/2008/11/langgar-aturan-kampanye-kpid-panggil.html. Diakses 10 Agustus 2011
Falanta, Evilin. 2011. http://industri.kontan.co.id/news/duh-ternyata-jumlah-penonton- sinetron-di-kuartal-i/. Diakses 10 Juli 2011
Guilford, J.P. and Benjamin Fruchter. 1973. Fundamental statistics in psychology and education. New York: McGraw-Hill.
Hendrakusuma, D. 2007. Siklus kehidupan. dalam surat sahabat. Edisi 06 - Juni 2007. Jakarta : Unit Corporate Secretary.
Hurlock. 1993. Psikologi perkembangan. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga.
Jtv. 2012.http://www.jtv.co.id/. Diakses 7 Januari 2012
Kerlinger, F. 2006. Azas-azas penelitian behavioral. Yogyakarta : Gajahmada University Press.
___________. 2004. Asas-asas penelitian behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Luxboy. 2008. http://gugling.com/2008/12/10/bukan-empat-mata-memang-kreatif/. Diakses 26 Agustus 2011
Munandar, Utami. 1977. Creativity and Education. A Study of the Relationship Between Measures of Creative Thinking and a Number of Educational Variables in Indonesia Primary and Junior Secondary School. Jakarta : Depdikbud
________.1983. Kreativitas Sebagai Aktualitas Diri: Suatu Tinjauan Psikologis. Kreativitas: Kumpulan 12 makalah. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Campbell, D. 1986. Mengembangkan kreativitas. Yogyakarta: Penerbit Kamisius.
________. 1983. Kreativitas sebagai aktualitas diri: suatu tinjauan psikologis. kreativitas: kumpulan 12 makalah. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
________, Achir, Y.A., Winata, S., Lestari, P., Rosemini, Rifameutia, T., & Hartana, G. 1988. Laporan penelitian standardisasi tes kreativitas figural. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
________. 1988. Kreativitas sepanjang masa. Jakarta: CV. Muliasari.
________. 1992. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah: petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta: Grasindo.
________. 1999. Kreativitas dan keberbakatan: strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. Cetakan ke-3. Jakarta: PT. Gramedia
________. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat . Jakarta :PT. Rineka Cipta.
Morissan, MA, 2005. Buku jurnalistik televisi teori dan praktik. Ramdina Prakarsa. Tangerang.
Naratama, R. 2004. Menjadi sutradara televisi. Jakarta: Grasindo.
Pitriawanti, Arista. 2010. Pengaruh intensitas menonton televisi dan komunikasi orang tua – anak terhadap kedisiplinan anak dalam mentaati waktu belajar: Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Rayendra, Panditio. 2011, 20 Oktober. RATING REPORT: OVJ Kembali Nomor 1, "Gol-gol fatimah" Tamat . Tabloid Bintang.
Rowe, A.J. 2005. Creative intelligence: membangkitkan potensi inovasi dalam diri dan organisasi anda. Bandung: Kaifa.
Syafei. 2012. http://www.scribd.com/doc/76566449/41002-3-470434083644. Diakses 9 Mei 2012.
Supriadi, D. 1994. Kreativitas, kebudayaan, dan perkembangan Iptek. Bandung: Alfabeta.
Syarif, Fuad. 2008. http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php/. Diakses 12 Juli 2011
Timpe, AD. 1999. Seri manajemen sumber daya manusia: kreativitas. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
West, M. A. 2000. Developing creativity in organization. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Wibowo, Arief. 2008. Peran tim kreatif dalam proses produksi acara talk show MTV zipper di global TV. Universitas Mercu Buana.
Wikipedia. http//www.wikipedia.org/wiki/Televisi_Republik_Indonesia. Diakses 12 Juli 2011
Winardi, J. 1990. Teori organisasi dan pengorganisasian. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Winarsunu, T. 2006. Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan edisi revisi. Malang : UMM Press.