• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA PERPUSTAKAAN: STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KABUPATEN BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA PERPUSTAKAAN: STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KABUPATEN BOGOR"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA

PERPUSTAKAAN: STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH

KABUPATEN BOGOR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP)

Oleh :

ICHSAN MAULANA

NIM : 109025000027

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

SUMBER

DAYA MAI{USIA

PERPUSTAKAAN:

STUDI KASUS PERPUSTAKAAN

UMUM DABRAH

KABUPATEN

BOGOR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna

Meplperoleh Gelar Sarjana ilmu perpustakaan (S.Ip)

Oleh:

Ichsan

Maulana

NIM: 109025000027

Dibawah Bimbingan

Drs.

Rosa

Widvawan,

M.A

NIM: 1957061019843 1 001

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN F'AKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

LEMBAR

PENGBSAHAN

PANITIA

UJIAN SKRIPSI

Ichsan Maulana

109025000027

Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Ferpustakaan: Studi Kasus Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor

30 Oktober 2014

Skripsi tersebut sudah diperbaharui sesuai saran dan komentar Tim penguji sebagai syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Program Studi Ilmu Ferpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakafia,30 Oktober 2014

Tanda Tangan Tanggal

1. Ketua Sidang Pungki Purnomo" MLIS

NIP. 196412rs 199903

t

00s Mukmin Suprayogi, M.Si

Nama

NIM

Judul Skripsi

Ujian Skripsi

2. Sekretaris Sidang

3. Pembimbing

4. Penguji 1

NrP" 19620301 199903

I 001

Drs. Rosa Widyawan. MA NrP. 19570610 19843 1 001 Ida Farida. MLS

NIP" 19700407 20A00 32 003

Mukmin Supravosi. M.Si

ffr

q&

''f,,lrq

5. Penguji 2

(4)

LEMBAR PENYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1.

Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3i

Jika dikemudian

hari

terbukti karya

ini

bukan hasil karya saya atau

I

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta'

Jakarta, Oktober 2014

(5)

ABSTRAK

Ichsan Maulana

Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Perpustakaan: Studi Kasus Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan sumber daya manusia dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia serta cara mengatasi kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan sumber daya manusia dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia perpustakaan. Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode kualitatif dengan narasumber yaitu Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan, Kepala Seksi Pengelolaan Perpustakaan, dan 4 staf perpustakaan. Hasil penelitian yang diketahui bahwa Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor merencanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia berupa seminar dan pelatihan di bidang ilmu perpustakaan, berkoordinasi dengan semua staf perpustakaan dan dengan Lembaga Induk serta memberikan fasilitas berupa transportasi, akomodasi dan konsumsi kepada pustakawan yang mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan. Sedangkan usaha pustakawan yaitu melakukan kegiatan formal, non-formal dan informal mengenai bidang perpustakaan. Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor yaitu kurangnya pengembangan potensi diri pustakawan yang diatasi dengan memberikan kompensasi dan tunjangan, kebijakan Lembaga Induk dalam pemberian kepada satu pustakawan untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dapat diatasi dengan menghimbau pustakawan agar mempresentasikan hasil kegiatan kepada pustakawan lainnya serta ketidaksesuaian tema dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan, kendala belum teratasi karena kurangnya informasi mengenai kegiatan pendidikan dan pelatihan. Kendala bagi pustakawan yaitu usia, waktu, biaya dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan secara formal serta kemampuan dalam bahasa asing dalam kegiatan pengolahan koleksi. Hanya biaya yang tidak dapat teratasi oleh pustakawan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan secara formal, selebihnya dapat diatasi dengan cara melakukan tanya jawab atau diskusi kepada teman sejawat.

(6)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta hidayah-Nya yang tiada henti dalam memelihara dan membimbing penulis pada proses penyusunan skripsi ini yang berjudul “Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Perpustakaan: Studi Kasus

Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor”. Meskipun terdapat hambatan namun hal tersebut merupakan proses pembelajaran. Alhamdulillah ya Rabbil ‘Alamin. Shalawat teriring salam senantisa kita sanjungkan kepada pemimpin

besar dunia yang mereformasi kehidupan jahiliyyah menuju manusia yang berakhakul karimah yaitu Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan kita selaku umat yang insya Allah yang selalu taat kepadaNya.

Skripsi disusun dengan tujuan utama sebagai proses penyatuan dan pembelajaran mengenai ilmu-ilmu yang didapat selama perkuliahan dan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP) . Dalam proses dan penyusunan skripsi ini, banyak sekali pihak-pihak yang turut membantu baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya penulisan skripsi ini yaitu kepada:

(7)

2. Bapak Pungki Purnomo, MLIS, selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Rosa Widyawan, MA, selaku dosen pembimbing dalam penulisan skripsi ini, yang telah meluangkan waktu dan kesabarannya dalam memberikan masukan dan bimbingan kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

5. Ibu Ida Farida, MLS dan Bapak Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku dosen penguji ujian sidang skripsi ini, yang telah meluangkan waktunya dalam menguji skripsi ini dan kesabarannya dalam memberikan masukan dan bimbingan kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan segala pengetahuan dan ilmu kepada mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan.

(8)

8. Andri Wijayanto, S.Sos, Ade M. Sa’ban, A.Md, Rini Naritha, A.Md, Joko Rianto, S.IP, Lutfi Hikmawan, SE selaku staf Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor yang dengan senang hati membantu dan memudahkan penulis dalam melakukan wawancara dan dokumentasi. Penulis mengucapkan terima kasih atas kerja samanya.

9. Kepada kedua orang tua Bapak Muhammad Sukarya Sahari, SAP dan Ibunda Siti Mahromi Zein yang teramat berjasa dalam kehidupan penulis, semoga Allah memberikan kasih dan sayang-Nya kepadamu. Terima kasih atas segala do’a dengan tulus ikhlas kepada penulis, skripsi ini didedikasikan untuk

kalian.

10. Adikku Fikri Maghfiroh dan Kaila Zahra Saida, terima kasih telah memberikan segala do’a, bantuan, motivasi dan keceriaannya dalam kehidupan penulis.

11. Semua Keluarga Besar (alm) H. Asmawi Zein dan (alm) Sahari, terima kasih telah memberikan segala do’a, bantuan, motivasi dan keceriaannya dalam

kehidupan penulis. Skripsi ini didedikasikan untuk kalian semua.

12. Semua teman-teman Jipers UIN khususnya angkatan 2009 yang selalu memberikan kebahagiaan, senyuman, motivasi dan semangat setiap hari dan setiap saat.

(9)

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis dan juga para pembaca lainnya. Amin.

Jakarta, Oktober 2014

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK……… i

KATA PENGANTAR……….. ii

DAFTAR ISI………... v

DAFTAR LAMPIRAN……….……. ..ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 7

D. Metode Penelitian………... 8

E. Sistematika Penulisan………. 10

BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Perpustakaan Umum………... 12

B. Sumber Daya Manusia di Perpustakaan………... 16

1. Pengertian Pustakawan……….... 17

2. Tugas dan Kewajiban Pustakawan………... 20

C. Standar Kompetensi Pustakawan………... 23

1. Jenis Standar Kompetensi Pustakawan………... 25

2. Tujuan Kompetensi Pustakawan………. 27

D. Pendidikan Sumber Daya Manusia di Perpustakaan……….. 29

1. Pendidikan Formal………...29

2. Pendidikan Non-Formal……….. 29

3. Pendidikan Informal……… 30

E. Pelatihan Sumber Daya Manusia di Perpustakaan…... 31

1. Pengertian Pelatihan……… 31

(11)

3. Tujuan Pelatihan……….. 34

F. Pelatihan untuk Pustakawan………... 35

G. Penelitian Terdahulu………... 40

BAB III GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH KABUPATEN BOGOR A. Sejarah Singkat………... 45

B. Visi dan Misi Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor………... 46

C. Struktur Organisasi………. 47

D. Personalia………...48

E. Pendidikan yang Dilaksanakan Sumber Daya Manusia Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor………49

F. Pelatihan yang Dilaksanakan Sumber Daya Manusia Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor………... 52

G. Pelatihan untuk Pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor ……….. 55

H. Tata Tertib………...60

I. Pelayanan……… 63

J. Koleksi………... 63

K. Fasilitas………... 64

J. Gedung dan Ruang……… 65

K. Jaringan Kelembagaan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor……65

(12)

B. Hasil Penelitian

1. Upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor Dalam pendidikan dan pelatihan yang dilakukan untuk

meningkatkan kualifikasi SDM………..68

2. Upaya Sumber Daya Manusia Dalam Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kualifikasi SDM………... 74

3. Kendala dan Cara Mengatasinya Dalam Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia………..80

C. Pembahasan……… 86

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………. 90

B. Saran………... 92

DAFTAR PUSTAKA……….... 94

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Wawancara

Lampiran 2 Tabel Kategori Wawancara

Lampiran 3 Framework Penelitian

Lampiran 4 Foto Ruang Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor

Lampiran 5 Surat Tugas Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia

Lampiran 6 Surat Tugas Menjadi Pembimbing

Lampiran 7 Surat Penguji Skripsi

Lampiran 8 Surat Izin Penelitian

[image:13.595.107.500.133.538.2]
(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Apabila kita berbicara mengenai sumber daya yang dimiliki oleh sebuah organisasi, maka kita tidak akan dapat melepaskan begitu saja keberadaan sumber daya manusia yang ada di samping sumber daya modal dan sarana serta prasarana kerja. Sumber daya manusia merupaka aset utama dalam sebuah organisasi, bahkan kinerja organisasi sangat tergantung kepada kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia merupakan ujung tombak dalam sebuah organisasi, sedangkan sumber daya lainnya sebagai pendukung. Apabila ujung tombak tajam dan runcing, maka ia akan mudah menembus sasaran yang diinginkan. Kebutuhan akan staf yang memiliki kemampuan dan kualitas yang baik dalam melaksanakan pekerjaannya merupakan suatu hal yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Staf yang berkualitas sangat diperlukan untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas pula, baik produk berupa materi maupun produk jasa. Dengan memiliki staf yang berkualitas, maka efisiensi dan efektivitas organisasi akan dapat terwujud bahkan ditingkatkan.

(15)

orang-orang dalam negeri saja, tetapi juga harus mampu berkompetisi dengan mereka yang berasal dari luar indonesia. Agar masyarakat benar-benar bisa berkompetisi dan bertahan hidup (survive) pada era global ini, maka dibutuhkan lembaga yang mampu memberikan informasi yang cukup mengenai perkembangan dan perubahan-perubahan terjadi kepada mereka. Perkembangan dan perubahan terus terjadi saat ini, sehingga hanya mereka yang mampu bertahan mengikuti perkembangan lah yang akhirnya dapat memiliki kemampuan berkompetisi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Salah satu lembaga yang potensial dalam menyebarkan dan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat adalah perpustakaan umum.

Perpustakaan umum sebagaimana yang dikatakan Guidelines for public library adalah sebuah perpustakaan yang didirikan oleh pemerintah lokal atau pemerintah pusat atau organisasi lainnya yang diberikan kuasa untuk menjalankan, tanpa adanya diskirminasi bagi orang yang menggunakannya1. Selanjutnya pusat pembinaan perpustakaan dalam buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan umum menyatakan tujuan perpustakaan umum

adalah “untuk membina dan mengembangkan kebiasaan membaca dan belajar

sebagai suatu proses yang bersinambungan seumur hidup serta kesegaran jasmani dan rohani masyarakat yang berada jangkauan pelayanannya, sehingga dengan demikian berkembang daya kreativitas dan inovatif bagi peningkatan martabat dan produktivitas setiap warga masyarakat menyeluruh2.”

Sebagai lembaga jasa, perpustakaan umum haruslah berupaya memberikan layanan sebaik-baiknya ke pemakai. Dalam hal ini tanggung jawab yang

1

IFLA, Guidelines for public library. Edisi 3. (Muenchen: IFLA, 1986), h. 1

2

(16)

“diemban” staf perpustakaan umum sangatlah berat, karena kesuksesan sebuah perpustakaan umum di mata masyarakat sangat tergantung kepada staf perpustakaan umum tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Perpustakaan umum sebagai sebuah organisasi juga harus terus aktif berupaya meningkatkan kualitas kerja para stafnya apabila tidak ingin tertinggal

pesatnya kemajuan yang terjadi segala bidang saat ini. Staf yang “melempem”

tidak kreatif dan inovatif pada akhirnya melahirkan mutu layanan yang

“melempem” pula, berjalan ditempat tanpa upaya peningkatan yang lebih baik

lagi. Perpustakaan yang demikian lambat alun akan ditinggalkan oleh pemustakanya, dan perpustakaan tidak berarti apapun tanpa pemustakanya. Staf perpustakaan berperan banyak dalam memberikan layanan terbaik pada pemustakanya, dan hanya staf yang memiliki kualitas baiklah yang mampu melakukan hal tersebut. Menurut Maurnice B. Line seperti dikutip Pringgoadisurjo bahwa perubahan-perubahan pesat terjadi pada bidang perpustakaan dokumentasi informasi, oleh karena itu diperlukan tenaga kerja (staf) dengan kemampuan imajinasi dan visi, yaitu melihat kemungkinan-kemungkinan yang baru dama bidang sosial, teknis, atau konseptual juga diperlukan kemampuan melihat kedepan, mengenal masalah jangka pendek maupun jangka menengah3.

Untuk mencapai kualitas pelayanan yang baik, maka kulitas staf perpustakaan pun harus senantisa mendapat perhatian dari para pengelola perpustakaan.Menurut Ratna U. Widodo “agar mampu menghasilkan jasa perpustakaan sesuai tuntutan pemustaka, kualitas unsur-unsur perpustakaan,

3

(17)

khususnya kualitas pustakawan harus ditingkatkan. Alasan lain mengapa kualitas pustakawan perlu ditingkatkan adalah kemajuan teknologi informasi, perubahan peran, dan tanggung jawab pustakawan karena informasi yang dibutuhkan pemustaka berkembang menjadi sangat spesifik.”4 Selayaknya untuk memilih seseorang untuk menduduki sebagai staf perpustakaan umum pun perlu diperhatikan kemampuan kerja, pengetahuan di bidang perpustakaan dan latar belakang pendidikannya. Mungkin pada saat ini masih banyak kalangan yang mengganggap mengurus perpustakaan umum adalah hal yang mudah, bagi mereka staf perpustakaan tidak lebih sekedar penjaga buku. Apabila kita melihat lebih jauh tugas staf perpustakaan maka kita akan dapat mengatakan bahwa tugas tersebut bukanlah tugas yang mudah dan ditangani oleh sembarang orang yang

„mungkin‟sama sekali tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman

kerja di bidang perpustakaan. Staf perpustakaan sudah seharuskan memiliki pengetahuan yang luas dan kreatif.

Seiring dengan kebutuhan akan staf yang mempunyai kemampuan dan kualitas kerja yang baik, maka perpustakaan umum perlu menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia bagi para stafnya. Pendidikan sangat diperlukan berdasarkan anggapan bahwa tidak seorang pun yang sempurna sesuai kebutuhan organisasi pada waktu masuk didalamnya. Dengan kata lain ada kesenjangan antara kebutuhan organisasi dengan kemampuan yang dimiliki oleh staf atau karyawan. Pendidikan dan Pelatihan yang dilakukan secara tepat juga dapat membantu memastikan bahwa sebuah organisasi memiliki staf yang cukup berkualitas untuk mencapai tujuan organisasi.

4

(18)

Pendidikan dan Pelatihan sumber daya manusia merupakan investasi yang tidak ternilai harganya apabila dibandingkan dengan kesalahan dan keefisienan yang ada timbul tanpa adanya program pendidikan dan pelatihan University of East Anglia disebutkan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada staf untuk memperluas pengalaman dan menambah pengetahuan, berarti kita telah membantu mereka untuk mengubah motivasinya dan meningkatkan kepuasan kerjanya, karena pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan yang sifatnya pengembangan atau aktualisasi diri.5 Masalah pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di perpustakaan umum menjadi sangat menarik untuk dibahas mengingat pentingnya program tersebut bagi perpustakaan umum, sebagai sebuah lembaga yang potensial dalam memperdayakan masyarakat, dan senantisa untuk memberikan layanan terbaik kepada para pemustakanya.

Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor merupakan perpustakaan pemerintah daerah yang diselenggarakan untuk melayani anak, remaja, dewasa masyarakat umum. Pada perpustakaan memiliki 7 orang staf. Wawancara awal hanya 3 orang staf mempunyai latar belakang pendidikan Ilmu Perpustakaan, 4 orang staf lainnya tidak memiliki latar belakang pendidikan Ilmu perpustakaan, sehingga menimbulkan kendala dalam kinerja pelayanan perpustakaan.

Kajian tentang pendidikan dan pelatihan khususnya untuk SDM yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Ilmu perpustakaan diperlukan karena sebagai indikator yang menunjukkan sejauh SDM yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Ilmu perpustakaan guna menunjang pekerjaan mereka di perpustakaan.

5

(19)

Dari keterangan di atas terdapat permasalahan dalam pendidikan dan pelatihan SDM Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Ilmu Perpustakaan, oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pendidikan dan Pelatihan SDM Perpustakaan: Studi Kasus Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor”

B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan masalah

Agar batasan dalam penulisan skripsi ini tidak terlalu luas, maka penulis membatasi penelitian sebagai berikut:

a. Upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dalam pendidikan dan pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kualifikasi SDM

b. Upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan SDM dalam mengatasi berbagai kendala untuk meningkatkan kualifikasi SDM

2. Perumusan Masalah

(20)

1. Sejauh mana upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan SDM dalam pendidikan dan pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kualifikasi SDM?

2. Sejauh mana upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan SDM dalam mengatasi berbagai kendala untuk meningkatkan kualifikasi SDM?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai , yaitu :

a. Untuk mengetahui upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan SDM dalam pendidikan dan pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kualifikasi SDM.

b. Untuk mengetahui upaya Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor dan SDM dalam mengatasi berbagai kendala untuk meningkatkan kualifikasi SDM.

2. Manfaat Penelitian

Secara garis besar, ada 2 (dua) manfaat yang bisa diambil dari dilakukannya penelitian ini, yaitu :

(21)

manusia sebagai upaya meningkatkan kualitas kerja yang dimiliki para stafnya.

b. Selanjutnya hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi pengembangan ilmu perpustakaan dan kemajuan dunia perpustakaan.

D. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan untuk mencari fakta status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang degan interprestasi yang tepat.6

Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah kualitatif. Pendekatan kulaitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Pada suatu konten khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.7

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Data primer yaitu data yang berasal dari narasumber yang ditemui

langsung di lapangan (Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor) yakni sumber daya manusia perpustakaan.

6

Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat. Metodologi Penelitian. (Bandung: Mandar Maju, 2002), h. 33

7

(22)

2. Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun rapi dalam arsip yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan.

3. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.8 Penentuan informan ditentukan dengan mencari tahu pihak yang paling memahami objek penelitian. Informan dalam penelitian ini yaitu Kepala kantor, pustakawan, staf. Kepada pustakawan yang mengelola perpustakaan itu untuk mendapatkan informasi tentang pendidikan dan pelatihan SDM perpustakaan.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1) Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.9 Peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang telah peneliti siapkan kepada informan, lalu dijawab oleh pemberi data dengan bebas terbuka.

2) Dokumentasi

Dokumentasi, dilakukan untuk mencari data berupa surat tugas, sertifikat,

8

Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 90.

9

(23)

catatan, agenda dan sebagainya.10 3) Teknik Analisa Data

Data akan di analisa melalui tiga tahapan yaitu : a. Reduksi data

Data yang diperoleh penulis melalui wawancara dan dokumentasi dicatat dengan rinci, mengelompokkan dan memfokuskan pada hal penting dengan demikian data yang didapat bisa memberikan gambaran yang jelas.

b. Penyajian data

Setelah data direduksi penulis melakukan penyajian dalam bentuk teks bersifat naratif.

c. Penarikan kesimpulan

Data-data yang terangkum dan dijabarkan dalam bentuk naratif penulis buatkan kesimpulan. Kesimpulan digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

E. Sistematika Penulisan

Agar bahasan bab demi bab terjalin secara sistematis, maka dalam skripsi ini penulis membaginya dalam lima bab, adapun urutannya adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Dalam bab ini dikemukakan latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian serta sistematika penelitian.

10

(24)

Bab II Tinjauan Literatur

Bab ini memuat teori-teori yang berasal dari kajian kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian mengenai sumber daya manusia, pustakawan, tugas dan fungsi pustakawan. Standar kompetensi pustakawan, pendidikan sumber daya manusia di perpustakaan serta penelitian terdahulu mengenai pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia.

Bab III Gambaran Umum Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten

Bogor

Bab ini memuat gambaran umum mengenai Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor yang meliputi sejarah singkat, visi dan misi, struktur organisasi, personalia, pendidikan yang dilaksanakan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor, pelatihan yang dilaksanakan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor, pelatihan untuk pustakawan, tata tertib, pelayanan, koleksi, fasilitas, gedung dan ruang serta jaringan kelembagaan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor.

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari pendidikan dan pelatihan SDM Perpustakaan dan upaya mengatasi kendala-kendala yang dihadapi pustakawan.

Bab V Penutup

(25)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

A. Perpustakaan Umum

1. Pengertian dan Tujuan Perpustakaan Umum

Menurut Hermawan dan Zulfikar menyatakan bahwa Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya. Konsep dasar perpustakaan umum adalah didirikan oleh masyarakat, untuk masyarakat, dan didanai dengan dana masyarakat11. Sementara Sutarno menyatakan bahwa Perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan yang demokratis karena menyediakan sumber belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan melayaninya tanpa membedakan suku bangsa, agama yang dianut, jenis kelamin, latar belakang dan tingkat sosial, umur dan pendidikan serta perbedaan lainnya12.

Menurut Sulistyo Basuki Perpustakaan umum adalah perpustakaan umum adalah perpustakaan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum, tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya. Perpustakaan ini

11

Hermawan S, Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 3.

12

(26)

dibiayai oleh dana umum serta jasa yang diberikan pada hakekatnya bersifat cuma-cuma.13

Dalam Online Dictionary for Library and Information Science menyatakan bahwa perpustakaan umum adalah Sebuah perpustakaan atau sistem perpustakaan yang menyediakan akses tidak terbatas ke sumber daya perpustakaan dan layanan gratis bagi semua warga suatu masyarakat, kabupaten, atau wilayah geografis, didukung seluruhnya atau sebagian oleh dana publik.14

Selanjutnya dalam Guidelines for Public Library disebutkan bahwa perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan yang didirikan oleh pemerintah lokal atau pemerintah pusat atau organisasi lainnya yang diberikan kuasa untuk menjalankan, tanpa adanya diskirminasi bagi orang yang menggunakannya. Berdasarkan 2 (dua) definisi mengenai perpustakaan umum tersebutkan dapat dikatakan bahwa perpustakaan umum dibiayai dengan dana umum dan layanan yang diselenggarakannya pun terbuka untuk umum tanpa memandangan perbedaan agama, ras, suku bangsa, usia, maupun jenis kelamin. Sementara dalam UNESCO Public Library Manifesto disebutkan bahwa perpustakaan umum merupakan pusat informasi lokal yang bertujuan agar semua jenis pengetahuan dan informasi mudah di akses dan digunakan oleh pemakai.

Perpustakaan umum mempunyai tugas untuk mengumpulkan, menyimpan, memelihara, mengatur, dan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan pendidikan, penerangan, penelitian, pelestarian, serta pengembangan kebudayaan dan rekreasi bagi seluruh anggota masyarakat.

13

Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan.(Jakarta: Gramedia, 1991), h. 46

14

(27)

2. Fungsi Perpustakaan Umum

Fungsi perpustakaan umum sebagaimana di muat dalam buku Panduan penyelenggaraan Perpustakaan Umum, adalah sebagai pusat untuk:

a. Menyediakan bahan pendidikan (edukatif),

b. Menyediakan dan menyebarluaskan informasi (informatif),

c. Menyediakan bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai rekreasi (rekreasi), dan

d. Menyediakan petunjuk, pedoman, dan bahan-bahan rujukan bagi anggota masyarakat (referensi).15

Fungsi perpustakaan umum sebagaimana di muat dalam buku Pengantar Ilmu Perpustakaan, ada empat fungsi yaitu:

a. Sebagai sarana simpan karya manusia b. Pendidikan

c. Informasi d. Kebudayaan e. Rekreasi16

3. Tujuan Perpustakaan Umum

Selanjutnya di dalam buku Panduan penyelenggaraan Perpustakaan Umum juga disebutkan bahwa tujuan perpustakaan umum, yaitu membina dan mengembangkan kebiasaan membaca dan belajar sebagai suatu proses yang

15

Perpustakaan Nasional Indonesia. Panduan Penyelenggara Perpustakaan Umum. (Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 1992), h. 5-6

16

(28)

berkesinambungan seumur hidup serta kesegaran jasmani dan rohani masyarakat yang berada dalam jangkauan layanannya, sehingga berkembang daya kreasi dan inovasinya bagi peningkatan martabat dan produktivitas masyarakat secara menyeluruh dalam menunjang pembangunan nasional. 17

Tujuan perpustakaan menurut Muchyidin dkk adalah untuk membantu

masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan

melelui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka:

a. Dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan

b. Dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan,

kehidupan sosial dan politik

c. Dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi

anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik

d. Dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan

dapat menggunakan kemempuannya untuk dapat menghargai hasil seni

dan budaya manusia

e. Dapat meningkatkan tarap kehidupan sehari-hari dan lapangan

pekerjaannya

f. Dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara

aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian

antar bangsa

17

(29)

g. Dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi

kehidupan pribadi dan sosial.18

Manifesto Perpustakaan Umum UNESCO seperti dikutip oleh Sulistyo-Basuki selanjutnya menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 (empat) tujuan utama, yaitu:

a. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang membantu meningkatkan mereka kearah kehidupan yang lebih baik.

b. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.

c. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

d. Bertindak sebagai agen cultural artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. 19

B. Sumber Daya Manusia di Perpustakaan

Menurut Saha dkk sumber daya manusia adalah semua orang yang bekerja dalam sebuah organisasi, perusahaan atau institusi20. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 1 ayat 15 yang berbunyi sumber daya perpustakaan adalah semua

18

Muchyidin, Suherlan. Mihardja, Iwa D Sasmita. Perpustakaan (Bandung: PT Puri Pustaka 2008) hlm 41,42

19

Sulistyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan.(Jakarta: Gramedia, 1991)

20

(30)

tenaga, sarana dan prasarana, serta dana yang dimiliki dan/ atau dikuasai oleh

perpustakaan. Jadi sumber daya manusia di perpustakaan disebut dengan pustakawan. Pustakawan pun sebagai salah satu faktor pendukung bagi perpustakaan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Zainuddin menambahkan bahwa pustakawan hendaknya mampu mengatasi setiap persoalan dalam bidang kepustakawanan serta dapat mengikuti perkembangan pelayanan secara terus menerus21.

Kedudukan pustakawan pun telah ditetapkan sebagai tenaga kerja di perpustakaan. Penetapan pustakawan sebagai tenaga kerja perpustakaan terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan pada pasal 29 ayat 1 yang berbunyi tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. Dengan penjelasan pustakawan sebagai tenaga kerja di perpustakaan, maka bab ini penulis akan lebih menjelaskan mengenai pustakawan, tugas, dan kewajiban serta standar kompetensi pustakawan.

1. Pengertian Pustakawan

Dalam Online Dictionary for Library and Information Science menyatakan bahwa pustakawan adalah Seseorang yang terlatih secara profesional bertanggung jawab untuk mengurus perpustakaan dan isinya, termasuk pemilihan, pengolahan, dan organisasi bahan dan penyampaian informasi, instruksi, dan layanan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan penggunanya (untuk melihat contoh-contoh, mencoba pencarian kata kunci pada istilah di Google Images). Dalam online, peran

21

(31)

pustakawan adalah untuk mengelola dan menyedia akses ke informasi dalam bentuk elektronik.22

Menurut Eileen Abels dkk secara luas pustakawan termasuk kedalam information professional. information professional adalah orang yang menggunakan informasi dalam membantu lembaga induk dalam mencapai tujuannya. Pekerjaan yang dilakukan yaitu pengembangan, penyebaran dan pengelolaan serta pelayan informasi.23

Menurut Sutarno NS dalam buku Manajemen Perpustakaan: suatu pendekatan praktik, pustakawan diartikan sebagai semua tenaga kerja yang berada dan bekerja di perpustakaan, baik sebagai pemimpin, staf maupun pelaksana teknis operasional.24 Lebih jauh Sudarsono menjelaskan pustakawan adalah PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Sehingga jabatan seorang pustakawan PNS adalah jabatan fungsional25. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian

22

Joan M Reitz. Online Dictionary of Library and Information Science. Artikel diakses pada 23 Mei 2014 dari http://www.abc-clio.com/ODLIS/searchODLIS.aspx

23

Eileen Abels dkk. Compentencies for information professionals of the 21st Century. Revised edition, June 2003. Artikel diakses pada 7 Februari 2014 dari

http://www.sla.org/content/learn/members/competencies/index.cfim

24

Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 76

25

(32)

Negara (BAKN) No. 53469/MPK/1988 dan No. 15/SE/1988 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Pustakawan.26

Pengertian pustakawan di atas berbeda menurut Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang menyatakan bahwa pustakawan adalah seorang professional yang berkarya di bidang perpustakaan dan dokumentasi dan tidak membedakan status PNS atau Non PNS. Sedangkan dalam Kode Etik Pustakawan Indonesia menjelaskan bahwa pustakawan adalah seoarang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya didasari dengan pengetahuan kepustakawanan yang dimilikinya melalui pendidikan.27

Pengetahuan tentang kepustakawanan itu sendiri menurut Sudarsono adalah ilmu dan profesi di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.28 Orang yang melaksanakan profesinya disebut professional. Jadi, bila pustakawan tersebut menjalankan tugasnya di bidang ini disebut professional.29

Dreher mengartikan pustakawan yang professional yaitu pustakawan yang melaksanakan tugasnya dengan kemampuan tinggi dan memiliki banyak kemampuan yang meliputi kemampuan dalam kognitif, afektif dan psikomotorik.30

26

Soetminah. Perpustakaan, Kepustakawanan dan Pustakawan. (Yogyakarta: Kanisius, 1992), h. 161-162

27

Hermawan S, Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 50-53

28

Blasius Sudarsono. Pustakawan Cinta dan Teknologi. (Jakarta: Sagung Seto, 2009), h. 86

29

Sulistyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan.(Jakarta: Gramedia, 2010), h. 39

30

(33)

Sehingga bagi penulis, seorang pustakawan adalah orang yang bekerja di perpustakaan dengan pengetahuan tentang kepustakawanan yang dimilikinya, tanpa melihat status sebagai PNS atau Non PNS, serta mampu bekerja secara professional.

2. Tugas dan Kewajiban Pustakawan

a. Tugas Pustakawan

Sebagai pustakawan tentu memiliki tugas dalam melakukan pekerjaannya. Tugas tersebut adalah tugas kepustakawanan yang wajib dilakukan oleh setiap pustakawan. Tugas pokok pustakawan yaitu melakukan kegiatan teknis perpustakaan seperti pengadaan dan pengolahan bahan pustaka serta pelayanan perpustakaan, menyimpan dan melestarikan serta menyebar informasi, memberikan penyuluhan tentang manfaat perpustakaan kepada masyarakat dan melakukan pameran tentang hasil dari kegiatan perpustakaan kepada masyarakat dan kemampuan sumber informasi perpustakaan.31

Sebagai seorang professional, pustakawan hendaknya dapat melakukan pembinaan dan pengembangan program dan sistem informasi secara tepat guna yang dapat memenuhi kebutuhan pemustaka. Pustakawan professional ini dibantu oleh seorang teknisi perpustakaan dalam memperoleh dan mempersiapkan materi dan membantu pemustaka dalam menemukan informasi.32

31

Hermawan S, Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 50-53

32

(34)

Menurut Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, tugas pustakawan ditinjau dari segi jabatannya adalah pustakawan, asisten pustakawan, tenaga fungsional dan tenaga administrasi. Seorang pustakawan dengan pendidikan Strata 1 bidang perpustakaan atau bidang lain yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan perpustakaan bertugas melaksanakan tugas keprofesian dalam bidang perpustakaan. Asisten pustakawan dengan pendidikan diploma memiliki tugas sebagai penunjang keprofesian dalam bidang perpustakaan. Tenaga fungsional dengan pendidikan kejuruan atau keahlian tingkat kesarjanaan dengan tugas melaksanakan pekerjaan penunjang keprofesian seperti pranata komputer dan kearsipan. Sedangkan tenaga administrasi melaksanakan tugas kegiatan kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, perlengkapan, penjilidan, pelistrikan dan lain-lain. Tenaga tersebut diartikan sebagai pelengkap tugas kepustakawanan.33

Sesuai dengan penjelasan di atas, secara singkat tugas pustakawan meliputi: kegiatan manajerial maupun teknis perpustakaan. Pembagian tugas juga dilihat dari segi kemampuan dan tingkat atau jabatan pustakawan itu sendiri.

33

Departemen Pendidikan Nasional RI DIrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

(35)

b. Kewajiban Pustakawan

Kewajiban pustakawan telah dituangkan dalam Kode Etik Pustakawan Indonesia. Kewajiban tersebut meliputi: kewajiban umum, kewajiban kepada organisasi dan profesi, kewajiban antar sesama pustakawan dan diri sendiri.34

Kewajiban umum pustakawan meliputi: mengemban tugas pendidikan dan penelitian serta mengamalkan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat, menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian pada bangsa dan Negara, menghargai dan mencintai kepribadian dan kebudayaan Indonesia serta menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari masyarakat yang dilayani. Kewajiban kepada organisasi dan profesi yaitu memanfaatkan Ikatan Pustakawan Indonesia sebagai sarana kerjasama, konsultasi dalam pengembangan profesi, memberikan kontribusi seperti tenaga, pikiran, dan dana kepada organisasi untuk kepentingan pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia serta menjaga nama baik Ikatan Pustakawan Indonesia. Kewajiban antar sesama pustakawan yaitu menjalin hubungan baik, saling membantu, menasehati dan menghargai pendapat dan sikap antar sesama pustakawan. Kewajiban terhadap diri sendiri yaitu selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang perpustakaan, menjaga tingkah laku dan kesehatan serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

Mengacu kepada kewajiban pustakawan terhadap diri sendiri di atas, Santoso (2001) menambahkan bahwan kewajiban pustakawan meliputi: menjaga tingkah laku dari perbuatan curang, merugikan dan membahayakan dalam bekerja,

34

Basyral Hamidy Harahap dkk. Kiprah Pustakawan: Seperempat Abad Ikatan

(36)

memelihara hubungan baik dengan pemustaka dan sesama pustakawan serta berpegang teguh pada peraturan kerja.

C. Standar Kompetensi Pustakawan

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 8 menerangkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Saiful-Haq dkk menambahkan bahwa dalam penyusunan dan pengelolaan tenaga kerja perpustakaan dibutuhkan sebuah kompetensi.35

Kompetensi yang diartikan oleh Perpustakaan Nasional RI dalam Rekomendasi Komisi I: program pengembangan karir pustakawan berbasis

kompetensi yaitu kemampuan seseorang yang mecakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.36

Menurut Ernawati kompetensi adalah pencapaian standar kinerja oleh pustakawan dengan cara pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dimiliki oleh pustakawan yang disesuaikan dengan lembaga induk sebagai tempat bekerja

35

Rizal Saiful Haq. Pengantar Manajemen Perpustakaan Madrasah. (Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, 2006), h. 45

36

Perpustakaan Nasional RI. “Rekomendasi Komisi I: Program pengembangan karir

(37)

yang terkait dengan budaya organisasi, nilai dan norma, strategis bisnis dan lingkungan kerja.37

Dalam Online Dictionary of Library and Information Science kompetensi yaitu suatu kemampuan yang diharapkan untuk dapat melakukan suatu pekerjaan setelah selesai melakukan pendidikan. Dalam kepustakawanan, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman diperlukan untuk menangani tanggung jawab professional secara efektif dalam spesialisasi dan bukan sebagai satu set standar minimum.38

Sedangkan menurut Hermawan dan Zen, standar kompetensi adalah sesuatu yang menyangkut norma, teknis dan pengakuan untuk melakukan jasa profesi serta sebagai tolak ukur keberhasilan dan pembeda tanggung jawab serta sarana untuk melindungi konsumen, berperan sebagai alat pembinaan bagi anggota profesi dan alat untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat pengguna jasa. Sehingga standar kompetensi pustakawan adalah suatu kriteria minimal kompetensi pustakawan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi yang di dalamnya berisi norma-norma, teknis kemampuan dan pembakuan dalam upaya peningkatan kualitas layanan. Lebih lanjut standar kompetensi pustakawan adalah tolak ukur yang digunakan untuk acuan penilaian kualitas pustakawan dalam bentuk formulasi dari komitmen atau janji pustakawan kepada masyarakat.

Dengan standar kompetensi yang dimiliki oleh seorang pustakawan tentunya akan berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai pengelola

37

Endang Ernawati. Kompetensi, Komitmen, dan Intrapreneurship Pustakawan dalam Mengelola Perpustakaan di Indonesia. Artikel diakses pada 1 April 2014 dari

http://eprints.rclis.org/

38

(38)

perpustakaan dan kegiatan perpustakaan lainnya. Standar kompetensi tidak hanya penting bagi seorang pustakawan tetapi penting juga untuk pemustaka. Hubungannya yaitu seorang pemustaka akan mendapatkan pelayanan yang berkualitas dari pustakawan yang berkompeten di bidang perpustakaan.

1. Jenis Standar Kompetensi Pustakawan

Menurut Rumani, standar kompetensi bagi pustakawan khususnya di Indonesia belum memiliki pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan39. Dengan hal ini penulis akan meninjau standar kompetensi pustakawan dari beberapa sumber. Salah satunya yaitu menurut Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Pendidikan Tinggi dalam buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi. Di dalam pedoman tersebut, kompetensi pustakawan terbagi menjadi dua jenis, yaitu kompetensi professional dan individu.40

Kompetensi professional meliputi pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian serta kemampuan dalam menggunakan pengetahuan tersebut untuk pelayanan perpustakaan. Wicaksono menambahkan kemampuan dalam manajemen informasi meliputi pencarian, penggunaan, pembuatan, pengorganisasian dan penyebaran informasi. Dalam hal teknologi informasi kemampuan tersebut meliputi mengelola perangkat teknologi informasi baik perangkat keras maupun lunak, serta pemrograman, pembuatan dan penerbitan sumber informasi elektronik serta desain dan

39

Sri Rumani. Kompetensi pustakawan dan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Perpustakaan Nasional. Artikel diakses pada 2 April 2014 dari

www.pnri.go.id/MajalahOnline

40

Departemen Pendidikan Nasional RI DIrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

(39)

manajemen database. Kemampuan manajemen meliputi kepemimpinan yang menonjol, pembuatan administrasi perpustakaan, mampu dalam manajemen sumberdaya manusia, waktu dan perubahan, mampu membangun hubungan kerja yang baik secara manajemen, mampu menganalisis kinerja pustakawan, mampu dalam merencanakan program yang sesuai serta implementasinya dan mampu berkoordinasi dengan bagian lain yang terkait.41

Sedangkan kompetensi individu meliputi komitmen dalam memberikan pelayanan yang terbaik, terampil dalam berkomunikasi, berpandangan luas dan memiliki sifat positif terhadap perkembangan, bekerja dalam tim dan menciptakan suasana kerja yang sehat serta mampu mencari mitra kerja, memiliki sifat kepemimpinan dan dapat dapat memcahkan masalah pada suatu hal yang kritis. Menurut Sheila Slauter dan Lary L. Laslie kemampuan di atas disebut dengan sikap entrepreneur.42

Rumani juga menambahkan bahwan seorang pustakawan hendaknya memiliki keahlian dalam melobi, koordinasi dan komunikasi khususnya komunikasi dalam bahasa asing serta kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi.43

Selain kompetensi pustakawan di atas, menurut Widijanto kompetensi pustakawan hendaknya memiliki kompetensi sosial-budaya. National Association

41

Hendro Wicaksono. Kompetensi Perpustakaan dan Pustakawan dalam Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan. Artikel di akses pada 6 April 2014 dari

www.pnri.go.id/MajalahOnline.

42

Aziz, Safrudin. Strategi Peningkatan Mutu pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Artikel diakses pada 6 April 2014 dari www.pnri.go.id/MajalahOnline

43

Sri Rumani. Kompetensi pustakawan dan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Perpustakaan Nasional. Artikel diakses pada 6 April 2014 dari

(40)

of Social Workers dalam artikel Diversity Standars: Cultural Competency for Academic Libraries menjelaskan bahwa kemampuan sosial-budaya adalah sebuah perilaku, sikap dan kebijakan yang memungkinkan seseorang atau kelompok untuk bekerja secara efektif dalam situasi lintas budaya, proses dimana individu merespon dengan hormat dan efektif kepada orang-orang dari semua budaya, bahasa, kelas, ras, latar belakang, etnis, agama, dan faktor keberagaman lainnya dengan cara mengakui, menegaskan, dan menghargai nilai individu, keluarga, dan masyarakat, dan melindungi serta menjaga martabat masing-masing.

Dari berbagai kompetensi mengenai pustakawan di atas dapat dikatakan secara singkat bahwa sebuah kompetensi pustakawan merupakan suatu acuan dalam kegiatan manajerial maupun teknis yang hendaknya dimiliki oleh seorang pustakawan sesuai dengan tingkat atau jabatannya. Kompetensi tersebut tidak hanya dari sudut pandang kegiatan pustakawan tetapi dari sudut pandang sebagai seorang professional dan individu pustakawan. Standar kompetensi pustakawan pun hendaknya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Tujuan Kompetensi Pustakawan

(41)

setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, tepat waktu, sasaran dan sebanding dengan biaya dan hasil yang diperoleh.44

Hermawan dan Zen menjelaskan bahwa tujuan kompetensi pustakawan yaitu memberikan jaminan kepada masyarakat, pengelola dan Pembina perpustakaan bahwa pustakawan dapat memberikan layanan optimal kepada masyarakat di bidang layanan bahan pustaka dan informasi sesuai dengan kualifikasi dan memberikan jaminan kepada pustakawan bahwa kebutuhan hidupnya yang bersifat primer dan esensial baik jasmani maupun rohani serta menjamin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesinya.45

Menurut Widijanto perpustakaan mampu memberikan pelayanan yang professional untuk masyarakat. Baik yang bersifat pelayanan referensi, penyedia informasi dan pemberian bimbingan pada pembaca. Ernawati menambahkan bahwa kemandirian pustakawan merupakan tujuan dari kompetensi pustakawan itu sendiri.46 Kemandirian ini mampu menjadikan pustakawan yang mampu berkreasi dan berinovasi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Sehingga dapat digarisbawahi bahwa tujuan kompetensi pustakawan tidak hanya membantu pustakawan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tetapi berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan baik manajerial maupun teknis di perpustakaan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing pustakawan.

44

Departemen Pendidikan Nasional RI DIrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku PedomanPerpustakaan Perguruan Tinggi ed. 3. (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI DIrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2005), h. 27

45

Hermawan S, Rachman dan Zulfikar Zen . Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), 155-156

46

Endang Ernawati. Kompetensi, Komitmen, dan Intrapreneurship Pustakawan dalam Mengelola Perpustakaan di Indonesia. Artikel diakses pada 1 April 2014 dari

(42)

D. Pendidikan Sumber Daya Manusia di Perpustakaan

1. Pendidikan Formal

Pendidikan formal merupakan sarana bagi Pustakawan atau calon pustakawan mempersiapkan diri menjadi professional. Pendidikan formal dapat dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi dengan jenjang diploma, sarjana dan magister di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Baik lembaga pendidikan dalam maupun luar negeri yang menyelenggarakan program bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Penyelenggara perpustakaan dalam pendidikan formal hendaknya mengacu kepada Keputusan Presiden No. 12/1961. Acuan tersebut yaitu dengan cara membuat kontrak kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau peraturan lembaga pendidikan setempat. Rumus kontrak kerja biasanya adalah P=2n+1, dengan pengertian bahwa n = lama pendidikan dan P = pengabdian kerja. Apabila pustakawan telah melakukan pendidikan dan tidak kembali bekerja di tempat semula maka pustakawan tersebut mengembalikan minimal tiga kali jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh penyelenggara perpustakaan.47

2. Pendidikan Non-Formal

Pendidikan non-formal dapat dilakukan dengan cara mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat), penataran (up grading), symposium, seminar, lokakarya, kursus, magang (on the job training), studi banding dan lain sebagainya yang

47

Departemen Pendidikan Nasional RI DIrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

(43)

tentunya bersifat pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal merupakan salah satu jawaban bagi peningkatan kualitas bagi pustakawan apabila pendidikan formal tidak memungkinkan dilakukan untuk kegiatan pembinaan pustakawan.48

Dalam artikel Libraries, Archives, Records and Information Management Services menyatakan bahwa kegiatan magang dalam dunia perpustakaan sangat dibutuhkan oleh pustakawan. Terlebih untuk peningkatan karir atau untuk melanjutkan pendidikan lanjutan. Manfaat lainnya yaitu mampu memberikan pelayanan kepada pemustaka dalam hal pencarian informasi yang lebih baik. Ditambahkan pula, kegiatan magang terbagi menjadi 2 tingkatan yaitu: tingkat menengah dan tingkat lanjutan. Tingkat menengah terdiri dari asisten informasi, asisten perpustakaan. Sedangkan tingkat lanjutan terdiri dari asisten senior perpustakaan, coordinator layanan informasi, supervisor layanan perpustakaan.49

3. Pendidikan Informal

Selain pendidikan formal dan non formal bagi pustakawan, pendidikan informal pun dapat dilakukan dalam meningkatkan kualitas kepustakawanan. Pendidikan secara informal ini sangat berpengaruh terhadap kemauan diri pribadi pustakawan tersebut meningkatkan kualitas. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu seperti belajar sendiri, terutama membaca dan belajar dari pengalaman diri sendiri serta orang lain atau sering melakukan diskusi secara informal dengan sesama pustakawan. Sedangkan kegiatan lainnya yang mampu menunjang pendidikan

48

Hermawan S, Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 158

49

(44)

informal antara lain seperti berkaryawisata, bertukar pengalaman, kunjung mengunjungi antar sesama pustakawan atau kunjungan kerja pustakawan.50

Pengembangan diri sendiri oleh pustakawan tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh sesama pustakawan tetapi dapat dilakukan antar pustakawan dengan pemustaka. Pengembangan diri ini dilakukan dengan cara saling berbagi pengetahuan dari hasil seminar, workshop atau pelatihan dan dari buku-buku yang telah dibaca oleh pemustaka atau pustakawan. Dengan cara ini pustakawan diharapkan mampu mengambil manfaat dan dapat mengembangkan pengetahuannya.51 (Nusantari, 2009)

E. Pelatihan Sumber Daya Manusia di Perpustakaan

1. Pengertian Pelatihan

Pengertian pelatihan menurut Olaniyan, “training is a systematic development of the knowledge, skills and attitudes required by employees that:

perform adequately on a given task or job”. Dari pengertian yang dikemukakan

oleh Olaniyan bahwa pelatihan merupakan upaya pengembangan yang sistematis dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan oleh pegawai untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang diberikan.52

Hal ini diamati pula oleh Adeniyi seperti dikutip oleh Olaniyan dan Ojo,

mengungkapkan “staff training and development is a work activity that can make

50

Hermawan S, Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan.(Jakarta: Sagung Seto, 2006), h. 159-160

51

Anita Nusantari. Penerapan Manajemen Pengetahuan untuk Meningkatkan Kinerja Perpustakaan Tinggi. Artikel diakses pada 6 Juni 2014 dari www.pnri.go.id/MajalahOnline

52

(45)

a very siginificant contribution to the overall effectiveness and profitability of an

organization”.53

Pelatihan merupakan media untuk membangun sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan dan meningkatkan kinerja yang dihasilkan dalam pekerjaan. Upaya pelatihan memungkinkan sumber daya manusia untuk memperluas kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan.

2. Program Pelatihan

Program pelatihan sangat penting bagi sumber daya manusia baru maupun sumber daya manusia lama. Sumber daya manusia baru sering tidak mengetahui secara pasti apa peranan dan tanggung jawab mereka. Maka program orientasi dan pelatihan perlu diberikan kepada mereka agar mengetahui program kerja perusahaan dan mengetahui peranan dan tanggung jawabnya. Sedangkan sumber daya manusia lama perlu diberikan pendidikan dan pelatihan untuk lebih memahirkan bidang kerjanya dan mempersiapkan tanggung jawab mereka di masa mendatang.

Menurut Sondang Siagian, ada tujuh langkah utama dalam program pelatihan yang efektif, yaitu:

1. Analisis kebutuhan dan sasaran pelatihan. Pelatihan yang direncanakan untuk diselenggarakan karena ada kebutuhan nyata untuk itu dan harus jelas sasaran yang ingin dicapai.

53

Olaniyan D.A. and Lucas B. Ojo. Staff training and development: a vital

(46)

2. Seleksi peserta pelatihan. Para peserta pelatihan merupakan masukan yang paling penting karena mereka itulah yang menjadi sasaran pelatihan. Seleksi pelatihan akan menentukan berbagai hal seperti materi pelatihan dan teknik serta metode belajar-mengajar.

3. Penentuan materi pelatihan yang diharapkan memutakhirkan pengetahuan dan keterampilan karyawan serta meningkatkan kemampuan kerjanya.

4. Seleksi instruktur. Keberhasilan suatu program pelatihan sangat tergantung pada mutu dan kualifikasi pada instruktur yang terlibat.

5. Efektivitas pelatihan akan meningkat apabila berbagai prinsip pelatihan dipahami dan diterapkan dengan tepat.

6. Metode dan teknik belajar-mengajar.

7. Evaluasi. Untuk mengetahui efektif tidaknya suatu program pelatihan, evaluasi perlu dilakukan. Maksudnya ialah untuk mengetahui reaksi para peserta, keterampilan baru apa yang diperoleh mereka, perbaikan apa yang dapat dilakukan mereka, dan perubahan apa yang terjadi baik dalam diri peserta bersangkutan maupun dalam diri para manajer yang menggunakan tenaga kerja yang baru selesai mengikuti pelatihan tersebut.54

Program pelatihan harus mempunyai kegiatan terarah dan mempunyai sasaran yang jelas, memuat hasil yang ingin dicapai dalam melaksanakan kegiatannya. Hasil yang dicapai harus dirumuskan dengan jelas agar langkah

54

(47)

langkah persiapan dan pelaksanaan dapat diarahkan untuk mencapai sasaran yang ditentukan.

Kegiatan pelatihan dapat memberikan keuntungan bagi Lembaga Induk dan sumber daya manusia, berupa keahlian dan keterampilan yang selanjutnya akan menjadi aset yang berharga bagi Lembaga Induk. Sedangkan bagi sumber daya manusia sebagai peningkatan karir di masa mendatang.

3. Tujuan Pelatihan

Menurut Veithzal Rivai, tujuan dari pelatihan adalah sebagai berikut: (a) meningkatkan kuantitas output; (b) meningkatkan kualitas output; (c) untuk menurunkan biaya limbah dan perawatan; (d) menurunkan jumlah dan biaya terjadinya kecelakaan; (e) menurunkan turnover, ketidakhadiran kerja serta meningkatkan kepuasan kerja; (f) mencegah timbulnya antipati sumber daya manusia.55

Kegiatan pelatihan pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan perubahan tingkah laku berupa meningkatnya kemampuan mengambil keputusan, penerapan ilmu dan keterampilan yang baru dimiliki, motivasi untuk berkembang yang semakin besar, perubahan sikap dan perilaku sumber daya manusia, kemajuan dalam meniti karir, peningkatan penghasilan dan peningkatan kepuasan kerja.

55

(48)

F. Pelatihan untuk Pustakawan

“Training is often used to refer to learning that is associated with the development of very specific skills and behaviours that are required in the workplace. Training may take place through a wide range of activities including the development of specific skills in the workplace, eg through instruction, coaching, and on-job-training, and also learning by attending specific training events”.56

Dari pernyataan Barbara Allan tersebut pelatihan sebagai sarana untuk pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam lingkungan pekerjaan. Pengembangan keahlian khusus tersebut didapat dalam pengajaran, on-job-training dan juga dapat dipelajari dengan menghadiri pelatihan dan seminar yang spesifik sesuai dengan pekerjaan.

Menurut Barbara Allan di dalam menentukan suatu pelatihan terdapat proses pelatihan yang digambarkan melalui empat tahap siklus pelatihan (training cycle), yaitu : (1) Training needs analysis ; (2) Design ; (3) Delivery ; (4) Evaluation. Training needs analysis atau analisis kebutuhan pelatihan memfokuskan kepada kebutuhan dari individu atau kelompok dalam melakukan kegiatannya di perpustakaan. Proses pelatihan bertujuan meningkatkan pertumbuhan motivasi dari para staf perpustakaan dan manager dalam lingkungan pekerjaan. Menurut Barbara Allan (2000, p.5-6) proses training needs analysis

56

(49)

didasari atas 3 bagian yang masing-masing saling berkaitan dan mempengaruhi yakni :

a. Kebutuhan yang relevan dari suatu organisasi/unit/personal (relevant to the needs of the organization/unit/individual)

b. Penyajian dan penyampaian materi pelatihan (appropriately designed and delivered)

c. Evaluasi untuk mendukung peningkatan keahlian yang berkesinambungan (evaluated to ensure continuous improvement) 57

Ward seperti dikutip oleh Barbara Allan menyatakan : “The information explosion continuous in size, complexity and diversity. Information overload is a recognized stress stimulus and our business is in managing, organizing and enabling the exploitation of information, so that we have control and contain the explosion on behalf of organizations and individuals who need or demand not overload but filtered, validated and authoritative information”.58

Menurut Margery Hyde seperti dikutip oleh Ray Prytherch faktor utama dalam mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dari pustakawan lebih spesifik pada kebutuhan para pustakawan perusahaan yang akan membuat perbedaan dalam penyajian pelayanan informasi kepada pemustakanya. Identifikasi kebutuhan tersebut didasari pada faktor-faktor berikut: peningkatan pendapatan (revenue),

57

Barbara Allan. Training skills for information and library staff. (British : Library Association Publishing, 2000), h. 5-6

58

(50)

pengembangan karir, pemustaka, teknologi informasi, dan manajemen informasi.59

Pelatihan tingkat dasar dalam suatu industri perpustakaan selalu didasari pada on-job-training yang meliputi penyusunan di rak (shelving), file kartu (card filing), memasukkan data (input data), inventori (inventories), kegiatan peminjaman (circulation activities), serials check in, dan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan rutin otomasi (activities related to automated outines).60

Berikut adalah kebutuhan pelatihan untuk pustakawan menurut Michael G. Williamson seperti dikutip oleh Barbara Allan, yaitu :

a. Asisten Pustakawan :

1. Umum, meliputi : perpustakaan, layanan informasi, perusahaan.

2. Tugas Khusus, meliputi : penggunaan sistem komputer, otomasi perkantoran, pengelolaan rumah tangga perpustakaan (library housekeeping), layanan pelanggan.

3. Peran Khusus, meliputi : pendahuluan sampai pekerjaan informasi, referensi, dan perannya di dalam masyarakat.

b. Pustakawan Profesional Junior.

Pelatihan yang diperuntukkan untuk tingkatan ini berdasarkan pada orientasi subyek untuk mengembangkan keterampilan profesional yang lebih

59

(51)

spesifik, yaitu : manajemen arsip atau pembuatan thesaurus (records management or thesaurus construction) atau berdasarkan topik khusus (based on a particular topic), yaitu informasi perusahaan, publikasi resmi, atau statistik bisnis (company information, official publications or business statistics). 61

Patricia Layzell Ward seperti dikutip oleh Barbara Allan, mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan untuk manager informasi (information manager), yaitu :

a. Keterampilan interpersonal dapat dikembangkan melalui :

-Hubungan dengan kolega (relationship with colleagues)

-Komunikasi dengan semua level (communication at all levels)

-Keterampilan diagnostik (diagnostic skills)

-Menangani perubahan dan konflik (handling change and conflict)

b. Keterampilan teknik dapat dikembangkan melalui :

-Pembuatan indeks dan tesaurus (indexing and thesauri construction)

-Menangani informasi dan teknologi dari yang sederhana sampai yang kompleks (information handling and technology from the simple to the complex)

-Keterampilan mengajar (teaching skills)

-Mengefektifkan biaya (costing and assesment of cost-effectiveness)

61

(52)

-Bahasa (languages)

Menurut Michael G. Williamson saperai dikutip oleh Barbara Allan pada umumnya pelatihan dapat dipisahkan dalam lima kategori, yaitu :

1. Pengetahuan: akuisisi fakta (the acquisition of facts), informasi (information) dan prinsip-prinsip (principles).

2. Pelatihan keterampilan: menjadi mahir pada tindakan fisik yang khusus (becoming adept in particular physical actions), contohnya mengoperasikan komputer.

3. Teknik: menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada situasi kehidupan yang nyata melibatkan pendapat dan membuat keputusan (the application of knowledge and skill in a real-life situation involving judgement and

decision making).

4. Sikap pelatihan (Attitude training) : Mencoba merubah sikap dasar merupakan hal sulit bagi pengajar tetapi bisa menjadi esensial di banyak aspek kerja (attempting to change basic attitudes can be filled with difficulty for the trainer but can be essential in many aspects of our work), contohnya Health and Safety Training.

(53)

practice of all the previous forms over a period of time and in a variety of

situations).62

G. Penelitian Terdahulu

Dalam sub-bab ini, penulis memberikan beberapa penelitian terdahulu mengenai pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di perpustakaan. Penyantuman penelitian di bawah ini bertujuan agar penelitian yang penulis lakukan berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan Wening Kurniati Dewi Lakhsmi dengan judul “Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pada Perpustakaan

Umum Kotamadya dan Perpustakaan Umum Soemantri Brodjonegoro

Pemerintah DKI Jakarta” pada tahun 2008. Tujuan penelitian tersebut yaitu untuk memperoleh gambaran tentang (1) kondisi sumber daya manusia di perpustakaan umum yang digambarkan oleh responden, (2) pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang telah dilakukan, (3) upaya yang telah dilakukan oleh staf perpustakaan umum untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan serta (4) program pelatihan dan pengembangan yang telah diikuti oleh para staf dapat membantu dalam melaksanakan pekerjaan.

Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode

Gambar

Tabel Kategori Wawancara
Tabel Kategori Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Menggunakan HSBC Bond Index sebagai acuan, pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja bulanan yang fantastis, menguat 6.15%, sehingga kinerja secara tahun

Dns, POEDJO EFPgrm

Satuan aliran listrik dalam sistem CGS e disebut statampere dan dengan cara yang sama kuat medan E, beda potensial V, dan kapasitansi C, dapat diturunkan dari..

Etika berbusana dengan mengacu pada etika umum yang dikemukakan pada pendahuluan, maka etika berbusana dapat diartikan suatu ilmu yang memikirkan bagaimana kita mengambil

Hak yang lahir dari hukum, yaitu hak-hak yang diberikan oleh hukum Negara kepada manusia dalam kedudukannya sebagai warga Negara seperti hak untuk memberikan

Colorful fish swim among coral in one of the many tanks at the Monterey Bay

Subject Lacanian Psychoanalysis Cogito Displacement Reinterpretation l l l l l l The real-the symbolic-the imaginary Substitution l..

Jadi Basis data ( Database ) dapat dipahami sebagai suatu kumpulan dari data yang saling berhubungan dengan yang lainnya, tersimpan di perangkat keras komputer dan