APLIKASI PROSEDUR PERAWATAN PROSTODONTIK
PADA PRAKTIK DOKTER GIGI UMUM
DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
WILDAN HUMAIRAH NIM: 090600020
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Prostodonsia Tahun 2015
Wildan Humairah
Aplikasi Prosedur Perawatan Prostodontik pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan
xx + 157 halaman
radiografik merupakan tahap prosedur yang diaplikasikan dengan persentase terendah pada perawatan GTP dan GTSL, sedangkan pemasangan sementara GTC merupakan tahap prosedur yang diaplikasikan dengan persentase terendah oleh dokter gigi umum di Kota Medan. Dokter gigi umum mengalami permasalahan dengan persentase terbesar dalam mengaplikasikan perawatan GTP. Adapun prosedur pemeriksaan radiografik merupakan tahap prosedur dengan persentase permasalahan terbesar dalam mengaplikasikan perawatan GTP, sedangkan prosedur border molding pada sendok cetak fisiologis merupakan tahap prosedur dengan persentase permasalahan terbesar dalam mengaplikasikan perawatan GTSL. Prosedur pemasangan sementara merupakan tahap prosedur dengan persentase permasalahan terbesar dalam mengaplikasikan perawatan GTC. Keterbatasan waktu, biaya serta cenderung merasa tidak perlu mengaplikasikan prosedur tertentu merupakan jenis permasalahan yang paling sering dihadapi oleh dokter gigi dalam mengaplikasikan tahap prosedur perawatan GTP, GTSL maupun GTC. Persentase perawatan prostodontik terbesar pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan dari tahun 2010 hingga 2012 adalah perawatan GTSL resin akrilik dengan persentase 35,16% (2010), 28,61% (2011) dan 25,95% (2012).
APLIKASI PROSEDUR PERAWATAN PROSTODONTIK
PADA PRAKTIK DOKTER GIGI UMUM
DI KOTA MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
WILDAN HUMAIRAH NIM: 090600020
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 9 April 2015
Pembimbing: Tanda tangan
Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D.,Sp.Pros (K)
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 9 April 2015
TIM PENGUJI
KETUA : Syafrinani, drg., Sp. Pros (K)
ANGGOTA : 1. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D.,Sp.Pros (K) 2. Ricca Chairunnisa, drg., Sp. Pros
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi ini telah selesai disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta yaitu Ayahanda H. Kamaruddin SE dan Ibunda Dra. Hj. Siti Zulfah M.Hum yang telah membesarkan serta memberikan kasih sayang, doa terindah yang selalu dipanjatkan, dorongan, semangat dan dukungan baik secara moril maupun materil kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan pendidikan ini, begitu juga kepada adik-adik penulis yaitu Dina Khairunnisah S.Ked, Syifa Syafitri, M. Farhan Syauqi dan Qanita Khalisah atas doa, cinta kasih dan dukungan, serta pengorbanan demi kebaikan dan kebahagiaan penulis. Seluruh Keluarga Besar H. Sulaiman Wahab dan Bachtiar atas doa, kasih sayang serta dukungan baik secara moril maupun materil Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Nurul Habibi atas kesiagaan, bantuan, motivasi serta kasih sayang yang selama ini diberikan kepada penulis
Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat pengarahan, bimbingan, bantuan, dukungan, saran-saran serta doa dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat disusun dengan baik. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp. Pros (K) selaku pembimbing utama penulis dalam penulisan skripsi ini yang telah member perhatian dan meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan pengarahan serta dorongan, semangat dan nasihat-nasihat kepada penulis selama penulisan skripsi ini hingga selesai.
3. Hubban Nasution, drg selaku pembimbing pendamping penulis yang telah rela meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan dorongan dan semangat kepada penulis selama penulisan skripsi ini hingga selesai.
4. Prof. Haslinda Z. Tamin, drg., M.Kes., Sp. Pros (K) selaku Koordinator skripsi Departemen Prostodonsia Fakultas Kedoktetran Gigi Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan bantuan dan bantuan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
5. Syafrinani, drg., Sp.Pros(K) selaku Ketua Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai ketua tim penguji skripsi atas kesempatan dan bantuan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
6. Ricca Chairunnisa, drg., Sp. Pros dan Putri Welda Utami Ritonga, drg., MDSc selaku anggota tim penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan yang sangat bermanfaat kepada penulis untuk penyempurnaan skripsi ini.
7. Astrid Yudhit, drg., M.Si selaku penasehat akademik yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis selama masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terutama di Departemen Prostodonsia atas saran, bantuan serta motivasi yang telah diberikan dalam pengerjaan skripsi ini.
9. Maya Fitria, SKM, M.Kes, staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara atas bantuannya kepada penulis dalam analisis statistik penelitian.
10. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan yang atas bantuannya dalam memperoleh data penelitian untuk penyelesaian skripsi ini.
12. Senior penulis dan teman-teman yang telah memberikan bantuan dan masukan selama pengerjaan skripsi ini terutama Evi (2007), Oktavina (2008), Ruth dan Tuty (2009).
13. Teman-teman seperjuangan yang melaksanakan skripsi di Departemen Prostodonsia yaitu Langgeng Surya Dewi, Sumarni, Juliana Pardede, Rachel, Witta, Olivia, Calvin, Steven Tiopan, Sri Dewi, Cindy Denhara Wijaya dan David, atas dukungan dan bantuannya selama penulis mengerjakan skripsi.
14. Sahabat-sahabat terbaik saya semasa sekolah : Dila Afifah, Victoria Febrina R Simangunsong, Irma Sari Nasution, Fanny Arizka Andini, Elnoviamy, Tengku Chairun Mamnun, Siti Octrina Malikah dan Aditya Hidayat atas segala dukungan moril dan motivasi selama penulis mengerjakan skripsi.
15. Sahabat-sahabat terbaik lainnya Ririn, Tarra, Ade, Femmy, Icut, Rifaidah, Mira, Raja dan seluruh teman-teman FKG USU angkatan 2009, adinda dan kakanda senior di FKG USU yang memberi dukungan, bantuan dan motivasi kepada penulis selama perkuliahan dan penulisan skripsi.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan di dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan selama penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Dengan kerendahan hati penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan disiplin ilmu, masyarakat, dan bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Prostodonsia.
Medan, 9 April 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...
KATA PENGANTAR ... iv 2.1 Perawatan Prostodontik ... 6
2.1.1 Pengertian ... 6
2.1.2 Tujuan Perawatan Prostodontik ... 6
2.1.3 Jenis Perawatan Prostodontik... 7
2.1.3.1 Gigitiruan Lepasan ... 7
2.1.3.1.1 Gigitiruan Penuh ... 7
2.1.3.1.2 Gigitiruan Sebagian Lepasan ... 7
2.1.3.2 Gigitiruan Cekat ... 7
2.1.3.3 Gigitiruan Implan ... 8
2.1.3.4 Protesa Maksilofasial ... 8
2.1.4 Keberhasilan Perawatan Prostodontik ... 8
2.1.4.2 Syarat Keberhasilan Perawatan Prostodontik.. 9
2.2 Aplikasi ... 10
2.2.1 Pengertian ... 10
2.2.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Prostodontik oleh Dokter Gigi ... 10
2.3 Prosedur Perawatan Prostodontik ... 10
2.3.1 Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh ... 11
2.3.1.1 Prosedur Diagnostik ... 11
2.3.1.2 Pencetakan Anatomis ... 15
2.3.1.3 Pencetakan Fisiologis ... 17
2.3.1.4 Penentuan Basis Gigitiruan dan Oklusal Rim 20 2.3.1.5 Penentuan Hubungan Rahang... 23
2.3.1.6 Pemilihan Warna Anasir Gigitiruan Penuh ... 26
2.3.1.7 Pasang Percobaan Gigitiruan Penuh ... 27
2.3.1.8 Remounting dan Selective Grinding….. ... 28
2.3.1.9 Pemasangan Gigitiruan Penuh……… 28
2.3.1.10Pemeriksaan Pasca Pemasangan Gigitiruan Penuh……….. 29
2.3.2 Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian Lepasan ... 30
2.3.2.1 Prosedur Diagnostik ... 30
2.3.2.2 Pencetakan Anatomis ... 31
2.3.2.3 Pencetakan Fisiologis ... 32
2.3.2.4 Penentuan Hubungan Rahang... 35
2.3.2.5 Pemilihan Warna Anasir Gigitiruan Sebagian Lepasan………... 37
2.3.2.6 Pasang Percobaan Gigitiruan Sebagian Lepasan……….. 38
2.3.2.7 Pemasangan Gigitiruan Sebagian Lepasan .... 39
2.3.2.8 Pemeriksaan Pasca Pemasangan Gigitiruan Sebagian Lepasan ... 39
2.3.3 Prosedur Perawatan Gigitiruan Cekat ... 40
2.3.3.1 Prosedur Diagnostik ... 40
2.3.3.2 Pencetakan Anatomis ... 41
2.3.3.3 Pemilihan Warna Gigitiruan Cekat ... 41
2.3.3.4 Preparasi Gigi Penyangga... 42
2.3.3.5 Retraksi Gingiva ... 45
2.3.3.6 Pencetakan Fisiologis ... 46
2.3.3.7 Restorasi Sementara ... 47
2.3.3.8 Pasang Percobaan Gigitiruan Cekat ... 49
2.3.3.9 Pemasangan Sementara Gigitiruan Cekat ... 49
2.3.3.10Pemasangan Tetap Gigitiruan Cekat ... 50
Selama Mengaplikasikan Prosedur Perawatan 4.1 Karakteristik Dokter Gigi Umum yang Melakukan Perawatan Prostodontik di Kota Medan………. . 61
4.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Prostodontik pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan…………... 62
4.2.1Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan………… 63
4.2.1.1 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 64
4.2.1.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Berdasarkan Usia……….. 67
4.2.1.3 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Berdasarkan Lama Praktik…… 72 4.2.1.4 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Kota Medan Berdasarkan Tamatan
Universitas………. 76
4.2.1.5 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik Dokter Gigi Umum di
Kota Medan Berdasarkan TahunTamat…… 78 4.2.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian
Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota
Medan……….. 81 4.2.2.1 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Sebagian Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Berdasarkan
JenisKelamin.………. 83 4.2.2.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Sebagian Lepasan pada Praktik Dokter Gigi
Umum di Kota Medan Berdasarkan Usia….. 86 4.2.2.3 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Sebagian Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Berdasarkan Lama
Praktik………... 91 4.2.2.4 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Sebagian Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan BerdasarkanTamatan
Universitas………. 95
4.2.2.5 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum diKota Medan Berdasarkan Tahun
Tamat………. 97
4.2.3 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Cekat pada
Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan………… 100 4.2.3.1 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik Dokter Gigi Umum di
Kota Medan Berdasarkan Jenis Kelamin…. 102 4.2.3.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik Dokter Gigi Umum di
Kota Medan Berdasarkan Usia………. 105 4.2.3.3 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik Dokter Gigi Umum di
Kota Medan Berdasarkan Lama Praktik….. 110 4.2.3.4 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik Dokter Gigi Umumdi Kota Medan Berdasarkan Tamatan
Universitas……….. 114 4.2.3.5 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik Dokter Gigi Umum di
4.3 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami Permasalahan dalam Mengaplikasikan Seluruh Prosedur Perawatan
Prostodontik pada Praktik di Kota Medan………... 119 4.3.1.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan GigitiruanPenuh
pada Praktik di Kota Medan ……… 120 4.3.1.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik di Kota Medan
Berdasarkan permasalahannya………. 122 4.3.2.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
PermasalahandalamMengaplikasikanTahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian
Lepasan pada Praktik diKotaMedan…….... 125 4.3.2.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian Lepasan pada Praktik di Kota
Medan Berdasarkan Permasalahannya…. 126 4.3.3.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik di Kota Medan………. 129 4.3.3.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Cekat pada Praktik di Kota Medan
Berdasarkan Permasalahannya...………… 130 4.4 Persentase Jenis Perawatan GTP, GTSL& GTC dari
Seluruh Perawatan Prostodontik yang Dilakukan padaPraktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan Tahun
2010-2012………. 133
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Dokter Gigi Umum yang Melakukan
Perawatan Prostodontik di Kota Medan………. 134 5.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Prostodontik pada Praktik
Dokter Gigi Umum di Kota Medan……… 134 5.2.1 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada
Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan……….. 135 5.2.2 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian
Lepasan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota
5.2.3 Aplikasi Prosedur Perawatan Gigitiruan Cekat pada
Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan……….. 142 5.3 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami Permasalahan
dalam Mengaplikasikan Seluruh Prosedur Perawatan
Prostodontik pada Praktik di Kota Medan………... 145 5.3.1.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan
Penuh pada Praktik di Kota Medan………. 145 5.3.1.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh pada Praktik di Kota Medan
Berdasarkan Permasalahannya………….. 146 5.3.2.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
PermasalahandalamMengaplikasikanTahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian
Lepasan pada Praktik di Kota Medan…… 147 5.3.2.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian Lepasan pada Praktik di Kota
Medan Berdasarkan Permasalahannya…. 148 5.3.3.1 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan
Cekat pada Praktik di Kota Medan……… 148 5.3.3.2 Persentase Dokter Gigi yang Mengalami
Permasalahan dalam Mengaplikasikan Tahap Prosedur Perawatan Gigitiruan Cekat pada Praktik di Kota Medan
BerdasarkanPermasalahannya………. 149 5.4 Persentase Jenis Perawatan GTP, GTSL, dan GTC dari
Seluruh Perawatan Prostodontik yang Dilakukan pada Praktik Dokter Gigi Umum di Kota Medan
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel
1 Definisi operasional variabel bebas……….. 56
2 Definisi operasional variabel terikat………... 57
3 Definisi operasional variabel terkendali………... 58
4 Definisi operasional variabel tidak terkendali……… 58
5 Persentase distribusi karakteristik dokter gigi umum yang melakukan perawatan prostodontik di Kota Medan………... 62
6 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur perawatan prostodontik pada praktik di Kota Medan ……… 63
7 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik di Kota Medan……….. 64
8 Persentase dokter gigi umum laki-laki yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik………... 65
9 Persentase dokter gigi umum perempuan yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik …………... 65
10 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan jenis kelamin……….. 67
11 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan usia…………. 68
12 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan usia………... 71
14 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan
lama praktik……… 75
15 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan tamatan
universitas……… 76
16 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan
tamatan universitas……… 78 17 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan tahun tamat.. 79 18 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan penuh pada praktik berdasarkan tahun
tamat………. 81
19 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik di Kota
Medan………..…... 83 20 Persentase dokter gigi umum laki-laki yang mengaplikasikan
prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada
praktik………...…. 84
21 Persentase dokter gigi umum perempuan yang mengaplikasikanp
prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik……… 84 22 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik
berdasarkan jenis kelamin ……….… 86 23 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik berdasarkan
usia………...…… 87
24 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik
berdasarkan usia……… 90
25 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik berdasarkan
26 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik
berdasarkan lama praktik ……… 94 27 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik berdasarkan
tamatan universitas……….. 95 28 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik
berdasarkan tamatan universitas ……… 97 29 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik berdasarkan
tahun tamat……… 98
30 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian lepasan pada praktik
berdasarkan tahun tamat……….. 100 31 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik di Kota
Medan………... 102
32 Persentase dokter gigi umum laki-laki yang mengaplikasikan
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik ……… 103 33 Persentase dokter gigi umum perempuan yang mengaplikasikan
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik ……… 103 34 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan jenis
kelamin………..….. 105
35 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan usia………… 106 36 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan
usia………..…….. 109
37 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
38 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan lama
praktik………... 113
39 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan tamatan
universitas………...….. 114 40 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan
tamatan universitas………. 116 41 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan prosedur
perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan tahun tamat…. 117 42 Persentase dokter gigi umum yang mengaplikasikan setiap tahap
prosedur perawatan gigitiruan cekat pada praktik berdasarkan tahun
tamat………..….. 119
43 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam mengaplikasikan seluruh prosedur perawatan prostodontik pada
praktik di Kota Medan………. 120 44 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam
mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada
praktik di Kota Medan……… 122 45 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam
mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan penuh pada
praktik di Kota Medan berdasarkan permasalahannya……….. 124 46 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam
mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian
lepasanpada praktik di Kota Medan……… 126 47 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam
mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan sebagian
lepasan pada praktik di Kota Medan berdasarkan permasalahannya .. 128 48 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam
mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan cekat pada
49 Persentase dokter gigi yang mengalami permasalahan dalam mengaplikasikan tahap prosedur perawatan gigitiruan cekat pada
praktik di Kota Medan berdasarkan permasalahannya……….. 132 50 Persentase Jenis Perawatan GTP, GTSL dan GTC dari Seluruh
Perawatan Prostodontik yang Dilakukan pada Praktik Dokter Gigi
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar
1 Pemeriksaan ekstra oral……….. .. 13 2 Sendok cetak logam dengan desain yang baik dalam berbagai
ukuran.……… 15
3 Tepi sendok cetak yang telah dilapisi dengan soft boxing wax….. 16 4 Hasil cetakan anatomis yang mencakup seluruh daerah
pendukung tidak poreus dan terisi seluruhnya………. 17 5 Sendok cetak fisiologis untuk (a) Rahang atas dan (b)Rahang
bawah………...
. 17
6 Hasil border molding dengan green stick compound pada sendok
cetak fisiologis yang dilakukan secara berurutan per regio………. 19 7 Sendok cetak fisiologis rahang atas dengan border molding dan
lubang………... 19
8 Ukuran dan bentuk basis dan oklusal rim……… 21 9 Hubungan antara garis interpupil mata, Camper’s line dan bidang
oklusal……….. 22
10 Salah satu contoh shade guide pada pemilihan warna anasir GTP 26
11 Outline sendok cetak fisiologis……… 32
12 Wax spacer dilapiskan pada model di atas permukaan linggir
edentulus, daerah palatal dan di atas gigi-geligi……….. 33 13 Resin akrilik swapolimerisasi yang diadaptasikan pada model
15 Interocclusal record dengan Aluwax……… 36 16 Penentuan hubungan rahang dengan bantuan basis dan oklusal
rim 36
17 Salah satu contoh shade guide pada pemilihan warna GTC……… 42 18 Contoh Colour communication form pada pemilihan warna
GTC……….. 42
19 Restorasi yang optimum harus memenuhi syarat biologis, mekanis
dan estetik ……… 43
20 Bentuk akhiran servikal preparasi: (a) knife edge,(b) bevel,
(c) chamfer, (d) shoulder, (e) shoulder bevel……… 45 21 Faktor yang harus dipertimbangkan pada pembuatan restorasi
sementara……… 47
22 Restorasi sementara buatan pabrik yang terbuat dari bahan
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1 Surat Pengantar Dinas Kesehatan Kota Medan 2 Lembar Penjelasan Kepada Responden
3 Lembar Persetujuan Subjek Responden
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehilangan gigi yang terjadi dapat dirawat dengan melakukan perawatan prostodontik.1 Tujuan dari perawatan prostodontik adalah memperbaiki dan memelihara kesehatan umum pasien, memperbaiki fungsi, meliputi fungsi pengunyahan dan fungsi bicara, memperbaiki estetik sehingga menambah kepercayaan diri pasien dalam penampilan, merestorasi dan memelihara kesehatan gigi dan jaringan yang masih ada serta mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut dari struktur rongga mulut.2,3
Jenis perawatan prostodontik meliputi gigitiruan lepasan, gigitiruan cekat (GTC), gigitiruan implan dan protesa maksilofasial. Gigitiruan lepasan terdiri atas gigitiruan penuh (GTP) dan gigitiruan sebagian lepasan (GTSL), sedangkan GTC meliputi gigitiruan mahkota (crown), dan gigitiruan jembatan (bridge).4-6 Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Gigi, dokter gigi umum yang melakukan perawatan postodontik pada pasien anak dan dewasa, berkompetensi untuk melakukan perawatan kasus gigitiruan cekat, gigitiruan sebagian dan gigitiruan penuh sederhana.7 Pemilihan jenis gigitiruan yang dibutuhkan oleh seorang pasien disesuaikan dengan jumlah elemen gigi yang hilang, kondisi jaringan pendukung gigitiruan, lokasi gigi yang hilang, usia pasien, kesehatan sistemik pasien, keinginan dan kebutuhan.1
Dukungan adalah daya tahan gigitiruan terhadap komponen vertikal dari pengunyahan atau tekanan-tekanan lain yang dijatuhkan ke arah daerah pendukung.1
Seorang dokter gigi dalam menjalankan tugasnya dituntut untuk bersikap profesional sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Gigi. Untuk mencapai kompetensi tersebut, pendidikan dokter gigi yang merupakan pendidikan profesi harus didasari oleh keilmuan yang kokoh. Dengan demikian seorang dokter gigi akan mempunyai kompetensi akademik-profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi yang didasari oleh pendidikan akademik, sehingga setelah selesai pendidikannya akan memiliki kemampuan melaksanakan praktik sesuai dengan keahliannya, bersikap profesional, dengan selalu membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.7
Keberhasilan dalam perawatan gigitiruan tergantung pada upaya tiga pihak, yaitu dokter gigi yang membuat diagnosa, persiapan rencana perawatan dan melaksanakan prosedur klinis, tekniker gigi yang melakukan prosedur laboratorium pembuatan gigitiruan dan pasien dalam hal menyesuaikan diri terhadap gigitiruan dan menerima keterbatasan gigitiruan.8 Proses pembuatan gigitiruan bagi pasien melibatkan banyak prosedur terpisah yang saling berkaitan antara satu prosedur dengan prosedur lainnya dan hal tersebut merupakan faktor yang paling menentukan untuk keberhasilan perawatan gigitiruan. Prosedur yang harus dilakukan meliputi prosedur klinis dan prosedur laboratoris. Apabila salah satu prosedur yang dilakukan kurang tepat, maka gigitiruan yang dihasilkan tidak akan memuaskan, baik bagi pemakainya maupun operatornya.1,8
pendidikan, namun sebagian besar institusi pendidikan menggunakan bahan maupun teknik yang sama dalam perawatan gigitiruan penuh, gigitiruan sebagian lepasan dan gigitiruan cekat.9,10
Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari berupa hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah metode bekerja pada suatu kasus dan masalah yang nyata misalnya mengerjakan, memanfaatkan, menggunakan dan mendemonstrasikan.14,15 Berdasarkan penelitian Singh dkk (2011), hanya 11,4% dokter gigi di India Utara melaksanakan seluruh rangkaian prosedur, baik prosedur klinis maupun prosedur laboratoris oleh mereka sendiri, sedangkan 88,6%, prosedur laboratoris dilakukan oleh teknisi laboratorium11 Hasil penelitian Mendez (1985) dan Singh dkk (2011), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara prosedur yang diajarkan di fakultas, dan prosedur yang benar-benar dipraktikkan.11-12 Sebagian besar dokter gigi tidak mengikuti prosedur yang telah mereka pelajari selama masa pendidikan dan lebih mengikuti prosedur singkat dan sesuai kenyamanan mereka sendiri untuk melakukan perawatan prostodontik.12 Clark dkk (2001) melaporkan bahwa dokter gigi di Amerika Serikat dan di negara lain biasanya tidak menggunakan teknik restoratif tertentu yang telah dipelajari di fakultas, terdapat teknik alternatif yang sesuai untuk masing-masing kasus yang mereka rawat. Sementara mahasiswa kedokteran gigi menggunakan teknik yang telah diajarkan, kebanyakan dokter gigi lebih memilih untuk tidak menggunakannya atau memilih teknik yang berbeda yang mereka pelajari dari luar universitas.13 Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka sebagian besar dokter gigi tidak mengikuti prosedur yang telah mereka pelajari selama masa pendidikan.11-13
1.2 Permasalahan
Pada dasarnya prosedur perawatan prostodontik baik pada pembuatan gigitiruan penuh, gigitiruan sebagian lepasan maupun gigitiruan cekat telah diajarkan berdasarkan kurikulum yang ditetapkan oleh fakultas kedokteran gigi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dokter gigi tidak melaksanakan seluruh rangkaian prosedur peawatan yang diajarkan selama masa pendidikan yang penting untuk mencapai keberhasilan perawatan prostodontik. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu diadakan penelitian terhadap aplikasi prosedur perawatan prostodontik (GTP, GTSL dan GTC) pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik dokter gigi umum yang melakukan perawatan prostodontik di Kota Medan?
2. Bagaimana aplikasi prosedur perawatan prostodontik (GTP, GTSL dan GTC) pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan?
3. Apa saja masalah yang dihadapi oleh dokter gigi dalam melaksanakan prosedur perawatan prostodontik (GTP, GTSL dan GTC) pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan?
4. Berapa persentase perawatan GTP, GTSL dan GTC dari seluruh perawatan prostodontik yang dilakukan pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan tahun 2010-2012?
1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui karakteristik dokter gigi umum yang melakukan perawatan prostodontik di Kota Medan.
2. Untuk mengetahui aplikasi prosedur perawatan prostodontik (GTP, GTSL dan GTC) pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan.
4. Untuk mengetahui persentase perawatan GTP, GTSL dan GTC dari seluruh perawatan prostodontik yang dilakukan pada praktik dokter gigi umum di Kota Medan tahun 2010-2012.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
1. Untuk memperoleh data mengenai aplikasi prosedur perawatan prostodontik pada praktik dokter gigi di Kota Medan.
2. Hasil penelitan ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi dokter gigi tentang prosedur perawatan prostodontik untuk menunjang keberhasilan perawatan.
3. Sebagai referensi bagi institusi pendidikan kedokteran gigi untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pembelajaran perawatan prostodontik kepada mahasiswa.
4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan Continuing Dental Education dalam bidang prostodontik bagi dokter gigi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Perawatan Prostodontik 2.1.1 Pengertian
Prosthodontics atau Prosthetic Dentistry dan disebut juga dengan ilmu Prostodonsia adalah salah satu cabang ilmu kedokteran gigi, yang berhubungan dengan diagnosis, rencana perawatan, rehabilitasi dan pemeliharaan kesehatan mulut, kenyamanan, penampilan dan kesehatan pasien dengan cara mengganti gigi dan jaringan maksilofasial yang hilang atau tidak sempurna terbentuk dengan alat tiruan biokompatibel untuk pemulihan sistem stomatognasi.18 Hal ini sesuai dengan filosofi perawatan prostodontik yaitu "restore what is missing but also preserve what is remains", sehingga perawatan prostodontik yang dilakukan oleh dokter gigi tidak hanya untuk menggantikan struktur yang hilang tetapi memelihara struktur rongga mulut yang masih ada.2,3
2.1.2 Tujuan Perawatan Prostodontik
2.1.3 Jenis Perawatan Prostodontik 2.1.3.1Gigitiruan Lepasan
Gigitiruan lepasan merupakan jenis perawatan prostodontik yang menggantikan gigi serta jaringan pendukung pada kehilangan sebagian maupun seluruh gigi dengan gigitiruan yang dapat dipasang dan dilepas sendiri oleh pasien dari rongga mulut. Berdasarkan jumlah gigi yang digantikannya, gigitiruan lepasan terdiri atas gigitiruan sebagian lepasan (GTSL) dan gigitiruan penuh (GTP).18,19
2.1.3.1.1Gigitiruan Penuh
Gigitiruan penuh (GTP) adalah gigitiruan yang menggantikan seluruh gigi-geligi yang hilang dan jaringan pendukungnya baik di rahang atas dan rahang bawah.
18,19
Tujuan pembuatan GTP adalah untuk memenuhi kebutuhan estetik, fonetik, dukungan oklusal, pengunyahan, kenyamanan dan kesehatan jaringan pendukung.1
2.1.3.1.2 Gigitiruan Sebagian Lepasan
Gigitiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigitiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang dan jaringan pendukungnya pada rahang atas atau rahang bawah serta dapat dibuka pasang oleh pasien, terdiri atas GTSL akrilik dan GTSL kerangka logam. Indikasi pemakaian GTSL, yaitu: 3,5,18,19
1. Panjang daerah tidak bergigi tidak memungkinkan pembuatan GTC 2. Tidak terdapat gigi penyangga di sebelah distal ruang tidak bergigi 3. Resorpsi tulang alveolar berlebih
4. Bila dukungan sisa gigi asli kurang sehat atau belum erupsi sempurna.
2.1.3.2Gigitiruan Cekat
1. Menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang
2. Daerah tidak bergigi masih dibatasi oleh gigi asli pada kedua sisinya
3. Gigi yang dijadikan sebagai penyangga harus sehat dan jaringan periodontal baik
4. Pasien berumur 20-55 tahun.
2.1.3.3Gigitiruan Implan
Merupakan gigitiruan yang mempunyai dukungan dari bahan yang ditanamkan ke dalam tulang alveolar untuk mendapatkan retensi dan dukungan yang cukup terhadap gigitiruan cekat maupun gigitiruan lepasan.18
2.1.3.4Protesa Maksilofasial
Protesa maksilofasial merupakan jenis perawatan protodontik yang berhubungan dengan restorasi dan atau penggantian sistem stomatognatik dan struktur wajah yang disebabkan oleh adanya penyakit, tindakan bedah dan kelainan bawaan dengan alat tiruan yang dapat atau tidak dapat dilepas oleh pasien.18 Jenis protesa maksilofasial terdiri atas protesa ekstra oral dan intra oral. Protesa ekstra oral adalah protesa yang merestorasi dan atau menggantikan bagian dari wajah atau struktur kepala yang hilang seperti protesa mata, protesa hidung dan protesa telinga. Protesa intra oral adalah protesa yang merestorasi dan atau menggantikan kelainan struktur di dalam rongga mulut seperti obturator pada celah palatum, speech aids,
palatal lifts dan feeding plate pada bayi.19
2.1.4Keberhasilan Perawatan Prostodontik
2.1.4.1Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perawatan Prostodontik
yang paling menentukan untuk keberhasilan perawatan prostodontik, hal ini disebabkan perawatan prostodontik bagi pasien melibatkan banyak prosedur terpisah yang saling berkaitan antara satu prosedur dengan prosedur lainnya sehingga harus ada komunikasi, kerjasama yang baik serta saling menghargai antara dokter gigi dan tekniker gigi selama melakukan pembuatan gigitiruan.17
2.1.4.2Syarat Keberhasilan Perawatan Prostodontik
2.2Aplikasi 2.2.1 Pengertian
Menurut Notoatmodjo, aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari berupa hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah metode bekerja pada suatu kasus dan masalah yang nyata misalnya mengerjakan, memanfaatkan, menggunakan dan mendemonstrasikan.14,15
2.2.2Aplikasi Prosedur Perawatan Prostodontik oleh Dokter Gigi
Hasil penelitian Mendez (1985) dan Singh dkk (2011), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara prosedur yang diajarkan di fakultas, dan prosedur yang benar-benar dipraktikkan.11,12 Sebagian besar dokter gigi tidak mengikuti prosedur yang telah mereka pelajari selama masa pendidikan dan lebih mengikuti prosedur singkat dan sesuai kenyamanan mereka sendiri untuk melakukan perawatan prostodontik.11 Clark dkk (2001) melaporkan bahwa dokter gigi di Amerika Serikat dan di negara lain biasanya tidak menggunakan teknik restoratif tertentu yang telah dipelajari di fakultas, terdapat teknik alternatif yang sesuai untuk masing-masing kasus yang mereka rawat. Sementara mahasiswa kedokteran gigi menggunakan teknik yang telah diajarkan, kebanyakan dokter gigi lebih memilih untuk tidak menggunakannya atau memilih teknik yang berbeda yang mereka pelajari dari luar universitas.13 Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka sebagian besar dokter gigi tidak mengikuti prosedur yang telah mereka pelajari selama masa pendidikan.11-13
2.3 Prosedur Perawatan Prostodontik
telah diajarkan di dalam kurikulum oleh seluruh institusi pendidikan kedokteran gigi untuk memandu dokter gigi dalam melakukan perawatan prostodontik secara optimal.9-13 Apabila salah satu prosedur yang dilakukan kurang tepat, maka gigitiruan yang dihasilkan tidak akan memuaskan, baik bagi pemakainya maupun operatornya.1,8
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan, oleh sebab itu, sebagai bahan acuan prosedur perawatan prostodontik disesuaikan dengan kurikulum yang diajarkan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, yang meliputi:
2.3.1 Prosedur Perawatan Gigitiruan Penuh
Proses perawatan gigitiruan penuh yang harus dilakukan oleh dokter gigi terdiri dari beberapa tahap, antara lain:
2.3.1.1Prosedur Diagnostik
Prosedur diagnostik perlu diaplikasikan pada pasien yang akan membuat gigitiruan penuh untuk membantu dalam menetapkan diagnosa dan rencana perawatan, meliputi: 1,4,5
A. Informasi Sosial
Identitas pasien penting diketahui meliputi nama, usia, alamat, nomor telepon dan pekerjaan pasien. Informasi ini diperlukan bila akan menghubungi pasien lebih lanjut dan dapat memberikan petunjuk tentang keadaan sosial-ekonomi pasien. 1,4,5
B. Status Medis
obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus dapat diketahui dengan jelas karena akan mempengaruhi keberhasilan perawatan yang akan dilakukan. 1,4,5
C. Sikap Mental Pasien
Dr. Milus House berdasarkan pengalaman klinisnya, mengklasifikasikan sikap mental pasien yang membuat gigitiruan menjadi empat kategori, yaitu philosophic, indifferent, critical dan skeptical. Sikap mental pasien merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam mendiagnosa pasien. Dokter gigi harus mampu mengerti dan memahami sikap pasien yang akan dilakukan perawatan. Untuk mengatasi sikap mental pasien pada dasarnya dokter gigi harus melakukan perawatan dengan penuh simpati, kesabaran dan bersikap empati terhadap pasien untuk mencapai keberhasilan perawatan prostodontik yang dilakukan.1
D. Riwayat Kesehatan Gigi dan Mulut
Dokter gigi harus mengetahui riwayat kesehatan gigi pasien dengan mengajukan beberapa pertanyaan, misalnya mengenai pencabutan terakhir gigi. Waktu dan gigi dibagian mana yang dicabut terakhir perlu diketahui. Apakah gigi tesebut sengaja dicabut atau tanggal sendiri. Bila tanggal sendiri mungkin ada sisa akar yang tertinggal. Lama jangka waktu antara pencabutan terakhir dengan saat dimulainya pembuatan gigitiruan akan mempengaruhi hasil perawatan. Informasi lain seperti prosedur kebersihan rongga mulut pasien, kebiasaan pasien misalnya mengunyah di satu sisi dan bruxism. Selain itu perlu diketahui kelainan rongga mulut yang pernah diderita serta perawatan yang pernah diterima oleh pasien. 1,4,5
E. Pemeriksaan Klinis
1. Pemeriksaan ekstra oral dan intra oral
Pemeriksaan ekstra oral meliputi bentuk muka, profil wajah, postur bibir saat istirahat dan selama berfungsi, sendi temporomandibular dan kemungkinan kebiasaan terkait dengan pemakaian gigitiruan seperti mengangkat gigitiruan rahang bawah dengan lidah. 1,4
Gambar 1. Pemeriksaan ekstra oral. (a) Bentuk Wajah dan (b) Profil Wajah 6
Pemeriksaan intra oral meliputi screening seluruh jaringan rongga mulut terhadap kelainan patologis yang dilakukan secara visual dan palpasi pada mukosa rongga mulut, linggir alveolar, palatum, lidah dan relasi rahang. Pemeriksaan terhadap jumlah serta konsistensi saliva perlu dilakukan karena berpengaruh pada retensi, stabilisasi serta kenyamanan pemakaian gigitiruan. Bila terdapat jaringan
flabby, ridge tajam (knife edge), protuberensia tulang seperti torus, eksostosis dan jaringan hiperplasia perlu dilakukan pertimbangan tindakan pembedahan atau membuat desain khusus. Dokter gigi memegang peranan penting dalam deteksi dini oral neoplasia, khususnya karsinoma. Prosedur pembuatan gigitiruan harus ditunda bila terdapat kelainan patologis sampai seluruh jaringan rongga mulut dalam keadaan sehat. 1,4,5
2. Pemeriksaan gigitiruan
Tujuan dari pemeriksaan gigitiruan adalah untuk menentukan kualitas gigitiruan yang berhubungan dengan keluhan pasien mengenai gigitiruannya sehingga dapat dilakukan perbaikan pada gigitiruan yang baru. Pemeriksaan yang dilakukan
pada saat gigitiruan dikeluarkan dari rongga mulut meliputi kebersihan gigitiruan, bentuk umum, posisi gigi, oklusi, dan keausan gigitiruan. Kemudian dilakukan pemeriksaan gigitiruan di dalam rongga mulut meliputi adaptasi gigitiruan, border extension, freeway space, dimensi vertikal, oklusi sentrik, estetik, serta posisi gigi dan hubungannya terhadap lidah, pipi dan bibir, sebelum melakukan penilaian stabilitas dan retensi. 1,4
Keinginan dan harapan pasien terhadap gigitiruan yang akan dibuat sebaiknya harus diketahui pada saat kunjungan pertama. Harus disadari oleh pasien maupun dokter gigi bahwa gigitiruan yang akan dibuat harus dapat menciptakan fungsi rongga mulut dan keharmonisan hubungan dengan struktur rongga mulut lainnya serta jaringan sekitarnya.1
3. Model diagnostik
Pembuatan model diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui beberapa hal. Pada saat melakukan pencetakan model diagnostik, sensitivitas pasien terhadap prosedur yang dilakukan di rongga mulut, koordinasi aktifitas lidah dan faktor-faktor lain yang penting untuk penegakan diagnosa dapat diketahui lebih dini. Apabila masih terdapat gigi asli pada kedua rahang dan masih dapat dioklusikan, maka model diagnostik dapat dipasangkan ke artikulator sehingga hubungan oklusi yang ada dapat dicatat. Selain itu dokter gigi dapat mengevaluasi bentuk lengkung dan hubungan rahang serta mengevaluasi pemeriksaan intraoral yang telah dilakukan.1
4. Pemeriksaan radiografik
Pemeriksaan radiografik panoramik dari kedua lengkung rahang ditambah dengan foto periapikal atau oklusal bila diperlukan sangat membantu didalam menegakkan diagnosa, namun perlu dipertimbangkan pemaparan radiasi pada pasien harus seminimal mungkin. Karena itu disarankan untuk melakukan pemeriksaan radiografik dengan menggunakan foto panoramik, sedangkan foto periapikal atau oklusal hanya bila diperlukan untuk pemeriksaan tambahan.4
2.3.1.2 Pencetakan Anatomis
Pencetakan anatomis berfungsi untuk mendapatkan batas dukungan gigitiruan dan memperoleh studi model. Sendok cetak yang digunakan untuk melakukan pencetakan anatomis adalah sendok cetak pabrik yang terbuat dari bahan metal atau plastik. Sendok cetak ini ada yang berlubang dan tidak berlubang. Bentuk sendok cetak untuk pasien edentulus membulat pada permukaan yang menutupi linggir alveolar. Sendok cetak harus disesuaikan terlebih dahulu pada rongga mulut pasien. Ukuran sendok cetak edentulus sekitar 5 mm lebih besar dari permukaan linggir alveolar agar memberikan tempat yang cukup untuk bahan cetak.1,4,20
Gambar 2. Sendok cetak logam dengan desain yang baik dalam berbagai ukuran.Tanda panah menunjukkan bentuk sendok cetak edentulus melengkung pada permuka-
Tepi sendok cetak harus dilapisi dengan soft boxing wax pada tuberositas dan vestibulum bukal untuk membantu adaptasi tepi sendok cetak dengan jaringan, melindungi jaringan perifer dari kekerasan tepi sendok cetak dan sebagai pembatas bagi bahan cetak alginat agar tidak mengalir jauh dari jaringan yang akan dicetak. Sendok cetak tidak boleh menyebabkan distorsi atau perubahan bentuk terhadap jaringan dan struktur yang harus berkontak dengan tepi serta permukaan gigitiruan.1,20
Gambar 3. Tepi sendok cetak yang telah dilapisi dengan
soft boxing wax. Tanda panah menunjukkan
soft boxing wax. 20
Bahan cetak yang sering digunakan untuk pencetakan anatomis adalah alginat (irreversible hidrocolloid) karena harga yang ekonomis, mudah untuk digunakan dan mempunyai viskositas yang tinggi. 20
Gambar 4. Hasil cetakan anatomis yang mencakup seluruh daerah pendukung, tidak poreus dan terisi seluruhnya. (a) Rahang atas (b) Rahang bawah 20
Hasil cetakan harus segera diisi dengan bahan plaster of paris untuk mendapatkan studi model dan sebagai model untuk pembuatan sendok cetak fisiologis. 1,20
2.3.1.3Pencetakan Fisiologis
Prosedur pencetakan fisiologis bertujuan untuk mendapatkan model kerja untuk pembuatan basis gigitiruan. Pencetakan fisiologis menggunakan sendok cetak fisiologis yang dibuat dari bahan resin akrilik swapolimerisasi.20
Gambar 5. Sendok cetak fisiologis untuk (a) Rahang atas dan (b) Rahang bawah20
(a) (b)
a. Border Molding
Border molding atau disebut juga sebagai muscle trimming, merupakan proses pembentukan tepi-tepi sendok cetak fisiologis untuk mendapatkan anatomi struktur pembatas gigitiruan yang lebih akurat.20
Beberapa bahan telah digunakan untuk border molding pada sendok cetak fisiologis, antara lain modeling compound, heavy bodied vinyl polysiloxane dan
polyether. Green stick compound merupakan bahan yang paling bagus digunakan karena memiliki beberapa keuntungan antara lain setting cepat, dapat digunakan kembali apabila dilakukan pengulangan prosedur border molding, karena kekakuannya dapat digunakan untuk memperpanjang sendok cetak yang terlalu pendek sekitar 3-4 mm, umumnya bahan cukup kental untuk mempertahankan bentuknya bila dalam keadaan lunak sehingga memberikan lebar yang ideal (2-3 mm) pada tepi sendok cetak, tidak menyebabkan perubahan dimensi yang signifikan setelah pengerasan serta menghasilkan detail jaringan secara halus. Bahan ini juga memiliki kelemahan yaitu dapat menyebabkan distorsi ketika dikeluarkan dari daerah
undercut, dapat mengiritasi mukosa palatal serta menimbulkan aspirasi. 20
Wax spacer masih berada pada sendok cetak selama prosedur border molding
berlangsung dan sebelum melakukan prosedur border molding, tepi sendok cetak dikurangi terlebih dahulu 2 mm dari batas jaringan yang harus dicetak.1,4 Apabila menggunakan green stick compound sebagai bahan border molding, secara bertahap
Gambar 6. Hasil border molding dengan green stick compound pada sendok cetak fisiologis yang dilakukan secara berurutan per regio. (a) Rahang atas (b) Rahang bawah 20
Setelah prosedur border molding selesai, wax spacer dibuang dari permukaan dalam sendok cetak fisiologis kemudian dibuat lubang dengan round bur nomor 6 pada daerah median palatine raphe, daerah anterolateral dan posterolateral dari palatum durum untuk sendok cetak rahang atas, serta di tengah-tengah daerah alveolar dan fosa retromolar untuk sendok cetak rahang bawah. Lubang-lubang ini dimaksudkan sebagai jalan keluar bagi bahan cetak yang berlebih, memberikan retensi bagi bahan cetak, mengurangi tekanan secara selektif dan mencegah perpindahan jaringan saat pencetakan fisiologis.1,4,20
Gambar 7. Sendok cetak fisiologis rahang atas dengan border molding dan lubang.
b. Teknik Mencetak
Pencetakan fisiologis dilakukan dengan menggunakan teknik mukokompresi. Jaringan lunak di rongga mulut harus dalam keadaan sehat diistirahatkan terlebih dahulu sebelum membuat cetakan fisiologis. Untuk itu, pasien harus melepas gigitiruannya minimal 24 jam sebelum pencetakan fisiologis.1
Dua faktor yang terpenting untuk mendapatkan cetakan yang baik untuk gigitiruan penuh yaitu bentuk dan ketepatan sendok cetak fisiologis serta penempatan yang tepat dari sendok cetak fisiologis pada jaringan pendukung gigitiruan penuh di rongga mulut.1
2.3.1.4Penentuan Basis Gigitiruan dan Oklusal Rim
Basis gigitiruan dan oklusal rim berfungsi untuk membangun kontur wajah, membantu dalam pemilihan gigi, membangun dan mempertahankan dimensi vertikal oklusi selama pencatatan hubungan rahang, membuat catatan interoklusal, sebagai panduan pada penyusunan anasir gigitiruan, sebagai panduan untuk penanaman model kerja kembali (remounting) pada artikulator setelah pasang percobaan dan sebagai cetakan wax-up untuk permukaan eksternal gigitiruan penuh.20
a. Basis Gigitiruan
Basis gigitiruan harus memenuhi syarat, antara lain harus stabil pada model kerja dan pada rongga mulut, harus kaku, adaptasi yang baik pada model, menutupi seluruh jaringan pendukung lengkung rahang, estetik dan nyaman bagi pasien. Resin akrilik swapolimerisasi merupakan bahan yang paling sering digunakan sebagai basis gigitiruan ini karena memiliki kekuatan, kekakuan dan adaptasi yang baik pada model kerja dan di dalam mulut.1,4,5,17,20
lereng labial dan lereng bukal harus tipis untuk memperoleh ruangan bagi penyusunan anasir gigitiruan.1,20
b. Oklusal Rim
Bahan oklusal rim dari baseplate wax sering digunakan karena mudah dimanipulasi di laboratorium, mudah dibentuk untuk memperoleh kontur rongga mulut yang tepat, estetik, dapat dibentuk sesuai ukuran dan bentuk gigi serta nyaman bagi pasien.20
Oklusal rim diletakkan di atas linggir yang sebelumnya dibuat basis gigitiruan dan dengan lembut ditekan sampai oklusal rim sejajar dengan basis pada model. Rim direkatkan dengan basis dan seluruh daerah yang kosong pada labial dan lingual ditambahkan dengan wax, kemudian oklusal rim dihaluskan.20
Ukuran dan bentuk eksternal dari oklusal rim sangat penting, harus sama dengan gigi asli yang akan digantikan. Tinggi oklusal rim rahang atas pada daerah anterior sekitar 22 mm yang diukur dari dasar perlekatan frenulum labial dan sekitar 12 mm dari basis di daerah tuberositas. Lebar labio-lingual sekitar 8-10 mm di posterior, dan 6-8 mm pada regio anterior. Tinggi oklusal rim pada rahang bawah sekitar 18 mm, sedangkan tinggi bagian posterior tidak melebihi setengah tinggi
retromolar pad, lebar 3 mm ke arah bukal sedangkan ke arah lingual lebar tidak melebihi perluasan medial dari tepi sayap lingual. Inklinasi oklusal rim pada labial dari kaninus ke kaninus sekitar 15o untuk memberikan dukungan bibir yang memadai.20
Gambar 8. Ukuran dan bentuk basis dan oklusal rim.(a)rahang atas (b)rahang bawah20
Oklusal rim yang dipasang dalam mulut pasien harus tampak normal, dengan persyaratan yaitu:
Ekstra Oral:
1) Sulcus nasolabial, sulcus mentolabial, commisura bibir dan filtrum pasien harus mendapat dukungan yang baik dari oklusal rim. Jika tidak ada dukungan, maka sulcus nasolabial, sulcus mento labial dan filtrum menjadi rata serta commisura kendor, namun jika dukungan berlebihan sulcus nasolabial, sulcus mentolabial berubah bentuk dan dangkal, filtrum akan hilang alurnya dan commisura berubah ke arah lateral.
2) Bibir dan pipi tidak boleh tampak cembung atau cekung bila oklusal rim berada dalam mulut. Oklusal rim yang baik harus mendukung bibir dan pipi serta otot-otot ekspresi wajah secara normal.1,4,5,17,20
Intra Oral:
1) Bidang oklusal dari oklusal rim rahang atas sejajar garis interpupil mata jika dilihat dari depan dan sejajar garis alanasi-tragus (Camper’s line) apabila dilihat dari arah lateral yang diukur dengan occlusal guide plane.
2) Pada posisi istirahat fisiologis dan bibir pasien dalam keadaan rileks, bidang oklusal dari oklusal rim rahang atas terlihat kira-kira 2 mm dibawah bibir atas.
3) Bidang oklusal dari oklusal rim rahang atas dan rahang bawah harus berkontak rapat jika dioklusikan
4) Garis median pada oklusal rim harus sesuai dengan garis median pasien. 5) Garis kaninus akan membuat garis lurus jika ditarik dari pupil mata ke
sudut mulut.1,4,5,17,20
Setelah oklusal rim memenuhi persyaratan, selanjutnya dapat dilakukan pengukuran dimensi vertikal dan relasi sentrik. 1,4,5,17,20
2.3.1.5Penentuan Hubungan Rahang
Hubungan rahang didefinisikan sebagai suatu keadaan hubungan rahang bawah terhadap rahang atas dan dinyatakan dengan hubungan rahang dalam arah vertikal dan hubungan rahang dalam arah horizontal. Kedua hubungan rahang ini saling mempengaruhi satu sama lain.17
Hubungan rahang dalam arah vertikal disebut juga dengan dimensi vertikal. Dimensi vertikal sering diartikan sebagai tinggi wajah vertikal yang ditentukan oleh besarnya ruang antar rahang. Terdapat dua keadaan dimensi vertikal yaitu dimensi vertikal oklusi dan dimensi vertikal istirahat fisiologis, sehingga dalam mulut terdapat selisih ruang dari kedua dimensi vertikal tersebut yang dikenal sebagai jarak interoklusal (free way space) yang dalam keadaan normal berkisar antara 2-4 mm. Sedangkan hubungan rahang dalam arah horizontal yang sering dikenal dengan relasi sentrik, merupakan hubungan horizontal maksilomandibular ketika rahang bawah dalam posisi paling posterior.17
a. Pengukuran Dimensi Vertikal
Pada pengukuran dimensi vertikal gigitiruan penuh, dimensi vertikal istirahat ditentukan terlebih dahulu kemudian pengukuran dimensi vertikal oklusi. Dimensi vertikal istirahat fisiologis diartikan sebagai posisi netral dari rahang bawah pada saat otot-otot membuka dan menutup mulut berada dalam keadaan seimbang. Dimensi vertikal istirahat fisiologis diukur pada saat rahang bawah dalam keadaan istirahat fisiologis dengan cara pasien didudukkan dalam keadaan rileks dengan posisi kepala sedemikian rupa dimana alanasi-tragus sejajar lantai, buat tanda berupa dua titik pada wajah, satu diatas puncak hidung dan satu lagi pada bagian paling menonjol dari dagu pasien. Pasien diinstruksikan untuk melakukan gerakan menelan dan rahang bawah dibiarkan dalam keadaan posisi istrirahat fisiologis, ukur jarak kedua titik tersebut. Kemudian pasien diinstruksikan untuk mengucapkan huruf “mmm” berdengung dan secara bersamaan dilakukan pengukuran jarak kedua titik kembali. Apabila hasil pada kedua pengukuran sama, maka posisi tadi dapat diterima sebagai dimensi vertikal istirahat. Pengukuran ini harus dilakukan beberapa kali, pasien diajak berbicara dan rileks diantara kedua pengukuran tersebut.17,20
b. Pengukuran Relasi Sentrik
Apabila dimensi vertikal yang benar telah ditetapkan, selanjutnya dilakukan penetapan hubungan rahang pada dataran horizontal yaitu relasi sentrik. Pengukuran relasi sentrik dapat dilakukan dengan metode statis, fungsional dan grafik. Metode statis lebih sering digunakan karena praktis dan dapat dilakukan berulang-ulang. Penetapan relasi sentrik dengan metode statis dilakukan dengan cara: 4
1) Persiapkan groove berbentuk V dengan kedalaman 3-4 mm pada oklusal rim rahang atas yang ditempatkan secara bilateral di regio molar satu-premolar dua. Oleskan gel petroleum pada daerah yang bersentuhan dengan lawan wax rim dan masukkan oklusal rim rahang atas ke dalam mulut pasien.
2) Persiapkan daerah berbentuk kotak dengan kedalaman 2-3 mm pada oklusal rim rahang bawah yang ditempatkan secara bilateral di regio molar satu-premolar dua. Isi daerah tersebut dengan bahan beeswax lunak dan masukkan oklusal rim rahang bawah ke dalam mulut pasien.
3) Pasien didudukkan dengan rileks dan posisi kepala didukung oleh sandaran kepala. Oklusal rim berada di dalam mulut pasien. Stabilkan oklusal rim rahang atas dengan ibu jari dan jari telunjuk, kemudian ibu jari dan jari tangan lainnya ditempatkan pada permukaan labial oklusal rim rahang bawah untuk menstabilkan basis gigitiruan pada posisi linggir serta memandu rahang bawah pasien ke posisi relasi sentrik. Pasien diinstruksikan membuka dan menutup mulut pelan-pelan. Pada saat pasien membuka mulut, rahang bawah didorong ke belakang perlahan-lahan tanpa paksaan dan berhenti pada saat oklusal rim mencapai dimensi vertikal yang telah ditentukan sebelumnya. Gerakan ini dicobakan beberapa kali hingga pasien melakukannya dengan benar dan terbiasa dengan posisi tersebut.
4) Setelah dimensi vertikal dan relasi sentrik diperoleh, lalu oklusal rim difiksasi. Pasien dan oklusal rim tidak boleh bergerak selama bahan pencatat mengeras.
oklusal rim tidak boleh berkontak pada daerah distal. Kemudian oklusal rim dikembalikan pada model kerja dan ditanam pada artikulator.1,4
2.3.1.6Pemilihan Warna Anasir Gigitiruan Penuh
Warna mempunyai 4 sifat yaitu hue, chroma, value dan translusens yang seluruhnya terlibat dalam pemilihan gigi.1
a. Hue, yaitu warna khas yang dihasilkan oleh gelombang cahaya tertentu yang jatuh pada retina. Merupakan warna itu sendiri, seperti biru, merah, hijau dan kuning.
b. Saturasi (Chroma) ialah jumlah warna per unit area dari suatu obyek. Misalnya beberapa gigi tampak lebih kuning dari yang lain. Warna dasarnya mungkin sama, tetapi ada sesuatu yang lain pada beberapa gigi dibandingkan yang lain.
c. Kecemerlangan(Value) ialah terang atau gelapnya sesuatu obyek. Variasi dalam kecemerlangan dihasilkan oleh pengenceran warna (hue) dengan putih atau hitam
d. Kebeningan (translusens) ialah sifat suatu obyek yang memungkinkan cahaya menembus melaluinya tetapi tidak memberikan bayangan yang dapat dibedakan.
Pemilihan warna anasir gigitiruan akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan perawatan. Pada umumnya pemilihan warna dapat disesuaikan dengan umur, warna kulit, rambut atau pupil serta jenis kelamin pasien.1 Untuk memilih warna gigi yang sesuai bagi pasien biasanya digunakan pedoman warna gigi (shade guide).20
Pemilihan warna gigi dilakukan di hari yang cerah, dengan menundukkan pasien dekat dengan cahaya alamiah dan dibawah sinar lampu yang mendekati sinar matahari. Pengamatan dengan pedoman warna dilakukan dalam posisi, yaitu:
1) Di luar mulut disamping hidung, yang menentukan warna dasar, kecemerlangan dan saturasi.
2) Di balik bibir dengan hanya tepi insisal yang terlihat, yang akan menunjukkan pengaruh warna gigi ketika mulut pasien relaks.
3) Di balik bibir dengan hanya bagian servikal yang tertutup dan mulut terbuka, yang menentukan pencahayaan gigi saat tersenyum.1
2.3.1.7Pasang Percobaan Gigitiruan Penuh
Pasang percobaan estetik dan fungsional merupakan kesempatan akhir bagi dokter gigi untuk memastikan bahwa gigitiruan wax telah memenuhi syarat estetik, fonetik dan fungsional bagi pasien serta untuk memastikan bahwa oklusal rim berada pada hubungan horizontal dan vertikal yang benar pada artikulator sebelum gigitiruan diproses. Prosedur ini juga akan memberikan kesempatan kepada pasien untuk memberikan penilaian terhadap gigitiruan yang akan dibuat.20
Pemeriksaan pada artikulator meliputi posisi gigi, bentuk lengkung rahang, perluasan basis wax pada daerah sulkus, retromolar pad dan aspek posterior palatum serta pemeriksaan terhadap oklusi dan konturing wax. Pemeriksaan intraoral mencakup adaptasi dan kecekatan dari basis, retensi dan stabilisasi, dukungan wajah, fonetik, dimensi vertikal, relasi sentrik, estetik dalam hal bentuk, susunan dan warna gigi. Setelah itu pasien dianjurkan untuk melakukan penilaian terhadap penampilan wajah dengan gigitiruan di depan cermin dibantu oleh anggota keluarga yang mendampingi untuk mencapai kesepakatan pada penampilan gigitiruan yang diusulkan.1,4,5,17,20
laboratorium untuk proses selanjutnya, jika dokter gigi dan pasien telah puas dan sepakat terhadap penilaian gigitiruan yang telah dilakukan.1,4,5,17,20
2.3.1.8 Remounting dan Selective Grinding
Prosedur flasking, packing dan processing resin akrilik dapat menghasilkan perubahan dimensi yang menyebabkan hubungan oklusi yang tidak harmonis dan peninggian dimensi vertikal oklusal. Hal tersebut dapat disebabkan oleh: 1,4,5,20
1. Perubahan dimensi wax ketika penanaman kuvet (flasking)
2. Anasir gigitiruan yang tertekan ke dalam bahan tanam akibat pengepresan sewaktu pengisian akrilik.
3. Pemasangan bagian-bagian kuvet yang tidak tepat
4. Sisa akrilik yang berlebih karena adonan resin akrilik terlalu elastis atau pengepresan yang kurang pada saat pengisian akrilik
5. Perubahan thermis pada saat polimerisasi resin akrilik
Remounting adalah suatu prosedur pemasangan kembali gigitiruan ke artikulator yang bertujuan untuk mengkoreksi hubungan oklusi yang tidak harmonis dari gigitiruan yang baru selesai diproses. Biasanya incisal guidance pin dari artikulator tidak berkontak dengan incisal guidance table dan gigitiruan harus digrinding untuk memperbaiki dataran bidang oklusi.1,5
Selective grinding merupakan pengasahan permukaan oklusal gigitiruan pada tempat-tempat tertentu untuk memastikan bahwa oklusi sentrik gigitiruan tepat dengan hubungan rahang sentrik dan juga gigitiruan harus dalam kontak eksentrik yang seimbang pada semua sisi. Merupakan salah satu tahap terpenting untuk mencapai oklusi seimbang dari gigitiruan. Oklusi yang seimbang memastikan bahwa tekanan akan jatuh merata disetiap bagian lengkung rahang sehingga kestabilitan gigitiruan dapat dipertahankan ketika rahang bawah berada pada posisi sentrik maupun eksentrik.1,4,5,17,20
2.3.1.9 Pemasangan Gigitiruan Penuh
setiap pertanyaan dan kekhawatiran pasien. Pasien diinstruksikan untuk menanggalkan gigitiruan lamanya selama 12-24 jam sebelum gigitiruan baru dipasangkan agar gigitiruan baru dapat duduk pada jaringan yang sehat dan tidak dalam keadaan distorsi.1,4,5,20
Sebelum pemasangan gigitiruan, lakukan pemeriksaan pada permukaan basis gigitiruan yang menghadap ke jaringan mulut dan permukaan yang dipoles harus bebas dari gelembung serta goresan tajam untuk menghindari trauma pada mukosa mulut serta tumpukan plak.5
Pemeriksaan gigitiruan dilakukan satu persatu secara terpisah untuk retensi, stabilitas dan kenyamanan di dalam rongga mulut, kemudian oklusi dan fonetik diperiksa setelah gigitiruan atas dan bawah berada pada rongga mulut. Pemeriksaan oklusi dilakukan dengan bantuan articulating paper untuk mengoreksi kontak prematur. Mulut harus dapat ditutup secara bersamaan tanpa adanya hambatan.5
Pasien dianjurkan untuk memakai gigitiruan selama 24 jam setelah pemasangan untuk menyesuaikan gigitiruan di dalam rongga mulut. Pasien diberikan informasi dan petunjuk secara verbal maupun instruksi tertulis mengenai pemakaian gigitiruan, cara pembersihan dan pemeliharaan gigitiruan yang dipakainya serta tentang pemeriksaan secara periodik yang diperlukan.1
2.3.1.10 Pemeriksaan Pasca Pemasangan Gigitiruan Penuh
Pemeriksaan pertama dijadwalkan 1 sampai 3 hari pasca pemasangan gigitiruan dan pemeriksaan kedua dijadwalkan satu minggu setelah pemeriksaan pertama. Dokter gigi harus menanyakan keluhan pasien terhadap gigitiruan meliputi fungsi bicara, mastikasi, estetik maupun kenyamanan pemakaian gigitiruan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan terhadap oklusi gigitiruan dan mukosa di dalam rongga mulut. Seluruh rongga mulut diperiksa secara visual dan palpasi sehingga dapat ditentukan lokasi apabila terdapat iritasi jaringan lunak. Perawatan yang dilakukan meliputi:1,4,5
3. Perbaikan terhadap basis gigitiruan yang terlalu panjang dan tepi gigitiruan yang tajam.
Kontrol berkala bagi pasien pemakai gigitiruan sebaiknya dilakukan dalam interval waktu 12 bulan, sedangkan bagi pasien dengan problem kesehatan tertentu, dianjurkan untuk melakukan kontrol berkala dengan interval waktu 3-4 bulan.1,5
2.3.2 Prosedur Perawatan Gigitiruan Sebagian Lepasan 2.3.2.1 Prosedur Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa terlebih dahulu dilakukan anamnesa terhadap keluhan pasien, riwayat kesehatan umum, riwayat kesehatan gigi dan mulut khususnya pengalaman pasien terhadap perawatan prostodontik sebelumnya serta harapan pasien terhadap gigitiruan yang akan dibuat. Dokter gigi juga harus mengevaluasi sikap mental pasien terhadap perawatan gigitiruan.2,3,5,6,20,21
Prosedur pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan ekstra oral dan pemeriksaan intra oral. Pemeriksaan ekstra oral meliputi bentuk wajah, profil, bentuk bibir dan sendi temporomandibular. Pemeriksaan intra oral dilakukan secara visual, palpasi, perkusi, sonde, termis dan rontgen foto terhadap gigi, jaringan lunak rongga mulut, jaringan periodonsium, residual ridge dan saliva. Pemeriksaan terhadap gigi meliputi gigi yang hilang, oklusi, warna gigi, oral hygiene, kondisi gigi yang tinggal apakah terdapat karies, restorasi, mobility, elongasi, malposisi, atrisi dan vitalitas gigi.
2,3,5,6,20,21
Pemeriksaan radiografik berfungsi untuk mengevaluasi struktur tulang alveolar gigi penyangga, evaluasi morfologi, panjang dan jumlah akar gigi penyangga, memeriksa adanya lesi karies, sisa akar gigi, gigi terpendam, resorpsi maupun sclerosis tulang alveolar dan kelainan periapikal, serta mengevaluasi perawatan gigi yang telah dilakukan baik tambalan maupun perawatan saluran akar.
2,3,5,6,20,21
1. Digunakan sebagai tambahan pada pemeriksaan rongga mulut dari oklusi bagian lingual, derajat overclosure, dan besar ruang interoklusal.
2. Digunakan untuk survey lengkung rahang pada pembuatan GTSL. 3. Digunakan untuk gambaran gigitiruan yang dibutuhkan.
4. Digunakan sebagai referensi tetap dalam persiapan kerja seperti tipe restorasi, daerah permukaan gigi yang dimodifikasi, lokasi rest dan desain gigitiruan serta menentukan arah memasang dan melepas gigitiruan.
Penegakan diagnosa dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, kemudian ditentukan rencana perawatan yang dirinci selengkap mungkin mencakup perawatan pendahuluan dan desain perawatan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien. Perawatan pendahuluan bertujuan untuk mengadakan sanitasi rongga mulut dan menciptakan kondisi oklusi normal yang menjamin kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya meliputi tindakan bedah pra prostetik, perawatan konservasi, perawatan periodontik dan perawatan orthodontik. Desain perawatan yang akan dilakukan meliputi penentuan gigi penyangga dan menentukan desain GTSL. Seluruh hasil pemeriksaan, diagnosa dan rencana perawatan dituliskan pada kartu status penderita (dental record).2,3,5,6,20,21
Diagnosa dan rencana perawatan untuk rehabilitasi rongga mulut yang kehilangan sebagian gigi, mempunyai beberapa pertimbangan, antara lain kontrol karies dan penyakit periodontal, pemulihan gigi pasien, pemulihan dan mengharmoniskan hubungan oklusal dan penggantian gigi yang hilang.6
2.3.2.2Pencetakan Anatomis