POTENSI OBJEK WISATA AIR TERJUN SERDANG SEBAGAI
DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA
KERTAS KARYA
Dikerjakan
O
L
E
H
KOKO IRAWAN
NIM 072204048
FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROGRAM PENDIDIKAN NON GELAR
DALAM PROGRAM STUDI PARIWISATA
BIDANG KEAHLIAN USAHA WISATA
MEDAN
POTENSI OBJEK WISATA AIR TERJUN SERDANG SEBAGAI
DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA
KERTAS KARYA
Dikerjakan
O
L
E
H
KOKO IRAWAN
NIM 072204048
PEMBIMBING
DRS. RIDWAN AZHAR M.Hum NIP. 19550923 198203 1 001
Kertas Karya Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian
Program Pendidikan Non Gelar Fakultas Sastra USU Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Diploma III Dalam Program Studi Pariwisata
FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROGRAM PENDIDIKAN NON GELAR
Disetujui oleh:
PROGRAM DIPLOMA SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Medan, Juni 2010
PROGRAM STUDI PARIWISATA KETUA,
PENGESAHAN Diterima oleh:
PANITIA UJIAN PROGRAM PENDIDIKAN NON GELAR SASTRA DAN BUDAYA
FAKULTAS SASTRA USU MEDAN
UNTUK MELENGKAPI SALAH SATU SYARAT UJIAN DIPLOMA III DALAM BIDANG STUDI PARIWISATA
Pada : Tanggal : Hari :
PROGRAM DIPLOMA SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dekan,
Prof. Syaifuddin, M.A., Ph.D NIP. 19650909 199403 1 004
Panitia Ujian
No Nama Tanda Tangan
1. Drs. Ridwan Azhar M.Hum (……….)
ABSTRAK
Pariwisata adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak nampak (secara kasat mata) hanya dapat merasakannya, terlebih lagi pariwisata ini sebenarnya suatu konsep yang ingin diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pariwisata mulai banyak dilirik orang terlebih orang kota yang jenuh dengan rutinitas dan ingin melepaskan kepenatan. Oleh karena itu bermacam-macam pariwisata ditawarkan, salah satunya yang menarik adalah yang mana orang ingin berdekatan dengan alam dan mencari tempat-tempat objek wisata yang ingin melihat keindahan alam dan melihat suatu daya tarik objek wisata tersebut beserta atraksi-atraksi yang ada pada objek wisata tersebut.
Objek wisata Air terjun Serdang yang berada di Kabupaten Labuhanbatu Utara misalnya yang memiliki panorama keindahan alam yang sangat berpotensi untuk di kembangkan, namun pihak pemerintah masih enggan untuk melihat dan meninjau objek wisata yang sangat berpotensi tersebut. Disamping objek wisata, daerah tingkat II ini sebenarnya mempunyai letak yang strategis dalam upaya pengembangan kepariwisataan misalnya berada pada jalur lintas Trans Sumatera dan dilalui oleh jalur lintasan kereta api yang memnjadi prasarana akses jalan dalam dunia kepariwisataan.
Namun sayangnya Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara kurang memperhatikan daerah yang cukup potensial ini, sehingga pengembangan dunia pariwisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara tertunda oleh waktu.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirahiim.
Alahamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya dan salawat beriring salam kepada Nabi Muhamamd SAW.
Sudah merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa Program Studi Pariwisata
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara untuk menyusun dan menyelesaikan sebuah
karya tulis. Dalam rangka itu pula penulis memberanikan diri untuk menyusun dan
menyelesaikan kertas karya ini guna melengkapi persyaratan untuk mencapai gelar
Diploma III Pariwisata Bidang Keahlian Usaha Wisata pada Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara. Adapun judul kertas karya yang penulis ajukan adalah: “Potensi Objek
Wisata Air Terjun Serdang sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kertas karya ini masih jauh dari sempurna,
yang mana hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan sumber
bacaan yang diperoleh, untuk itu dengan hati yang terbuka penulis bersedia menerima saran
dan keritikan yang sifatnya membangun dari pembaca guna penyempurnaan kertas karya
ini.
Dalam menyelesaikan kertas karya ini, penulis banyak mendapat begitu banyak
bantuan, dorongan, semangat dan motivasi yang penulis terima dari berbagai pihak. Pada
kesempatan baik ini pula dengan rasa haru dan bangga penulis menyampaikan rasa
terimakasih yang tulus kepada :
1. Bapak Prof. Syaifuddin M.A, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas
2. Bapak Drs. Ridwan Azhar, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Pariwisata
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai dosen pembimbing
yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis hingga
selesai.
3. Bapak Soegeng Parmono, SE, M.Si, selaku dosen pembaca yang telah banyak
meluangkan waktunya untuk mengoreksi kertas karya ini.
4. Bapak Mukhtar Madjid, S.Sos, S.Par, M.A selaku Sekretaris Program studi
Pariwisata Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Solahuddin Nasution, SE, MSP, selaku Ketua Koordinator Praktek
Jurusan Pariwisata Bidang Keahlian Usaha Wisata yang telah dengan sabar
membimbing dan mengarahkan penulis.
6. Tersayang dan tercinta Ayahanda Mustakim dan Ibunda Yatmi yang telah
banyak memberikan dorongan moral maupun materil dan kasih sayang yang
tiada tara terhadap penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya
ini. “Thanks a lot for everything that you gived me”.
7. Adik-adikku tercinta Dodo Setiawan, Roedini Koerniawan, Wahyumi Hanurany
dan Nilla Sundary, yang memberikan hangatnya kasih sayang kepada penulis.
“abang sangat dan selalu menyayangi kalian sampai kapan pun”.
8. Sahabat-sahabat tercinta, terutama anak Usaha Wisata stambuk 2007, Kimoy,
Sakti, Widya, Pawen, Refel, Q-kie, Aref, Aceh, Dian Permana, Nofrian, dan
teman-teman lain, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. “ I love you so
much guys”
9. Buat anak-anak KOST TENNINA Sakti, Widya, Ocik (Nynda), Ita (Umam),
10.Kepada Paklek Sampir, buklek Atin dan adik-adik sepupu tercinta Yenny,
Wiwiek, Winna and Yona terima kasih atas perhatian dan kasih sayang kalian
selama ini yang membuat penulis selalu merasa bahagia apabila berada di dekat
kalian.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan kertas karya ini. Semoga kertas
karya ini bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa dan semua pihak yang membacanya. Dan
kepada Engkau ya Allah segala kesempurnaan dan kami memohon atas segala
keridhoan-Mu ya Allah.
Alhamdulillahirabil’alamiin.
Medan, Juni 2010
Penulis,
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul... 1
1.2 Pembatasan Masalah ... 3
1.3 Tujan Penulisan ... 3
1.4 Metode Penelitian ... 3
1.5 Sistematika Penulisan ... 4
BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN 2.1 Pengertian Pariwisata dan Wisatawan ... 6
2.1.1 Pengertian Pariwisata ... 6
2.1.2 Pengertian Wisatawan ... 8
2.2 Pengertian Industri Pariwisata ... 10
2.3 Pengertian Sarana dan Prasarana Kepariwisataan ... 12
2.3.1 Sarana Kepariwisataan ... 12
2.3.2 Prasarana Kepariwisataan ... 13
2.4 Potensi Daya Tarik Wisata ... 15
2.5 Pengertian Objek Wisata dan Atraksi Wisata ... 16
2.6 Penetapan Lokasi Objek Wisata ... 18
2.7 Landasan Hukum Objek Wisata ... 19
2.8 Tujuan dan Asas Pengembangan Objek Wisata ... 20
2.8.1 Tujuan Pengembangan Objek Wisata ... 20
2.8.2 Asas Pengembangan Objek Wisata ... 21
2.9 Motif Perjalanan Wisata ... 22
BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN LABUHANBATU UTARA 3.1 Letak Geografis dan Keadaan Alam ... 25
3.1.1 Sejarah Kabupaten Lauhanbatu Utara... 25
3.1.3 Pembagian Wilayah Administratif... 28
3.1.4 Luas Daerah ... 28
3.1.5 Keadaan Alam ... 29
3.2 Perekonomian dan Sosial Budaya Masyarakat ... 30
3.2.1 Perekonomian ... 30
3.2.2 Sosial Budaya Masyarakat ... 31
3.3 Sarana Prasarana Kabupaten Labuhanbatu Utara ... 32
3.4 Permasalahan Pembangunan Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara ... 33
BAB IV POTENSI OBJEK WISATA AIR TERJUN SERDANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN LABUHANBATU UTARA 4.1 Sejarah Air Terjun Serdang ... 35
4.2 Potensinya Menjadi Daya Tarik Wisata ... 36
4.2.1 Letak Geografis ... 36
4.2.2 Sosialisasi Masyarakat Setempat ... 37
4.3 Sarana Prasarana yang Tersedia ... 37
4.4 Promosi Air Terjun Serdang ... 38
4.5 Perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara .. 39
4.6 Dampak Pengembangan... 41
ABSTRAK
Pariwisata adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak nampak (secara kasat mata) hanya dapat merasakannya, terlebih lagi pariwisata ini sebenarnya suatu konsep yang ingin diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pariwisata mulai banyak dilirik orang terlebih orang kota yang jenuh dengan rutinitas dan ingin melepaskan kepenatan. Oleh karena itu bermacam-macam pariwisata ditawarkan, salah satunya yang menarik adalah yang mana orang ingin berdekatan dengan alam dan mencari tempat-tempat objek wisata yang ingin melihat keindahan alam dan melihat suatu daya tarik objek wisata tersebut beserta atraksi-atraksi yang ada pada objek wisata tersebut.
Objek wisata Air terjun Serdang yang berada di Kabupaten Labuhanbatu Utara misalnya yang memiliki panorama keindahan alam yang sangat berpotensi untuk di kembangkan, namun pihak pemerintah masih enggan untuk melihat dan meninjau objek wisata yang sangat berpotensi tersebut. Disamping objek wisata, daerah tingkat II ini sebenarnya mempunyai letak yang strategis dalam upaya pengembangan kepariwisataan misalnya berada pada jalur lintas Trans Sumatera dan dilalui oleh jalur lintasan kereta api yang memnjadi prasarana akses jalan dalam dunia kepariwisataan.
Namun sayangnya Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara kurang memperhatikan daerah yang cukup potensial ini, sehingga pengembangan dunia pariwisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara tertunda oleh waktu.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul.
Industri pariwisata merupakan peluang yang tidak dapat dilepaskan begitu saja,
pariwisata telah tumbuh menjadi industri yang sangat menguntungkan dan memiliki
prospek yang cerah dikemudian hari bagi sebuah pembangunan.
Pariwisata merupakan salah satu penghasil devisa bagi negara dari sektor non migas
yang harus terus ditingkatkan. Dengan letak geografis Indonesia yang strategis, keadaan
alam dan beragam suku budaya merupakan suatu aset yang besar bagi Indonesia dalam
upaya membangun kegiatan kepariwisataan.
Sebagaimana yang telah digariskan dalam GBHN 1993 bahwa misi pengembangan
kepariwisataan adalah : Pembangunan kepariwisataan dilanjutkan dan ditingkatkan dengan
mengembangkan serta mendayagunakan sumber dan potensi kepariwisataan nasional
menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan untuk memperbesar penerimaan devisa,
memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja terutama bagi masyarakat setempat,
mendorong pembangunan kepariwisataan daerah serta memperkenalkan alam, dan nilai
budaya bangsa. Dalam pembangunan kepariwisataan tetap dijaga kepribadian bangsa, nilai
budaya bangsa dan pelestarian mutu lingkungan hidup.
Indonesia mempunyai banyak objek wisata alam yang berada di semenanjung
kepulauan Indonesia, baik yang sudah dikembangkan dan dipromosikan dengan sempurna
ataupun yang belum terjamah sama sekali. Salah satu objek wisata yang sudah sangat
Indonesia yang belum dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yang sangat
berpotensi untuk menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki
segudang daerah tujuan wisata, seperti Istana Maimoon, Masjid Raya Al ma’sum Medan,
ternak buaya Asam Kumbang, Danau Toba di Parapat, rumah adat dan masih banyak
wisata budaya dan sejarah lainnya.
Sejalan dengan itu pemerintah perlu melakukan pencaharian daerah tujuan wisata
lain yang berpotensi untuk dapat dikembangkan sebagai objek wisata yang dapat
dikunjungi oleh wisatawan. Kabupaten Labuhanbatu Utara merupakan salah satu kabupaten
di Provinsi Sumatera Utara yang menjadi pecahan dari Kabupaten Labuhanbatu, yang
memiliki banyak daerah tujuan wisata alam yang berpotensi untuk dikembangkan. Salah
satu objek wisata alam yang terdapat di kabupaten ini adalah Air Terjun Serdang. Objek
wisata air terjun ini sangat indah dan memesona pengunjung yang datang, tetapi sangat
disayangkan karena belum adanya pengelolaan dan pengembangan yang serius dari pihak
pengelola maupun pemerintah sehingga keberadaannya jarang diketahui oleh wisatawan
lokal maupun mancanegara yang sesungguhnya sangat berpotensi menjadi daya tarik wisata
di Kabupaten Labuhanbatu Utara tepatnya di Desa Pulo Dogom Kecamatan Kualuh Hulu.
Karena beberapa hal di atas maka penulis tertarik membuat judul : “ Potensi di Objek
Wisata Air Terjun Serdang sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara”.
1.2 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang dibahas hanya meliputi pengenalan objek wisata Air
Labuhanbatu Utara sehingga keberadaanya dapat diketahui oleh wisatawan lokal maupun
mancanegara.
1.3 Tujuan Penulisan
Dalam menyusun kertas karya ini penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar Ahli Madya Pariwisata Program
Diploma III, di Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
2. Memperkenalkan lebih jauh kepada masyarakat luas objek wisata Air Terjun Serdang di Desa Pulo Dogom Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu
Utara.
1.4 Metode Penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan kertas karya ini,
digunakan dua metode penelitian, yaitu:
1. Studi kepustakaan (library research).
Pengumpulan data secara teoristis, yang diperoleh dari bahan–bahan pustaka
berupa buku–buku ilmiah yang ada hubungannya dengan pembahasan judul
kertas karya ini.
2. Studi lapangan (Field Reseach)
Penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data dan bahan dengan cara
penelitian langsung dilapangan, dengan melakukan wawancara dengan instansi
1.5 Sistematika Penulisan.
Dalam sistematika penulisan ini digambarkan secara garis besar hal–hal yang akan
dijabarkan pada bab–bab berikutnya terdiri dari lima bab yang setiap bab mencakup hal–hal
sebagai berikut :
Bab I :Pendahuluan, berisikan uraian tentang alasan pemilihan judul, batasan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II :Uraian Teoristis Tentang Kepariwisataan, berisikan uraian teoristis tentang kepariwisataan yang meliputi, pengertian kepariwisatan, pengertian
pariwisata dan wisatawan, industri pariwisata, sarana prasarana pariwisata,
pengertian objek wisata dan daya tarik wisata.
Bab III :Gambaran Umum Kabupaten Labuhanbatu Utara, menguraikan tentang letak geografis Kabupaaten Labuhanbatu Utara, pembagian wilayah
administratif, sarana prasarana kepariwisatan di Kabupaten Labuhanbatu
Utara, keadaan sosial, sistem sosial dan perekonomian masyarakat
Labuhanbatu Utara.
Bab IV :Potensi Objek Wisata Air Terjun Serdang Sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara, menguraikan sejarah objek wisata air terjun serdang dan potensinya menjadi daya tarik wisata di Kabupaten
Labuhanbatu Utara, sarana prasarana yang tersedia, dan dampak
pengembangannya
BAB II
URAIAN TEORISTIS TENTANG KEPARIWISATAAN
2.1 Pengertian Pariwisata dan Wisatawan 2.1.1 Pengertian Pariwisata
Kata “pariwisata” di Indonesia pertama kali dikenal setelah diselenggarakannya
MUNAS PARIWISATA II di Tretes Jawa Timur pada tanggal 12 sampai dengan 14 Juni
1958 untuk menggantikan kata Tourisme menjadi Pariwisata. Kata pariwisata pertama kali
dicetuskan oleh Prof. Priyono (Alm) yang kemudian disyahkan oleh Presiden Soekarno,
atas dasar itu pula istilah “Dewan Tourisme” Indonesia dirubah menjadi Dewan Pariwisata
Indonesia (DEPARI), dan orang yang berjasa mempopulerkan kata pariwisata adalah
Jendral G.P.H Djatikusumo yang pada waktu itu menjabat sebagai mentri perhubungan
darat, pos, telekomunikasi dan pariwisata.pada tahun 1960. Beliau menunjuk Dewan
Pariwisata Indonesia (DEPARI) sebagai satu– satunya penanggung jawab dan
menyelenggarakan segala jenis pariwisata. Bersama–sama dengan bagian kementrian
perhubungan ditetepkan sebagai Biro Eksekutif untuk melaksanakan kebijakan pemerintah
dibidang kepariwisataan.
Menurut etimologi kata “pariwisata” diidentikkan dengan kata “travel” dalam
bahasa Inggris yang diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali–kali dari satu
tempat ke tempat lain. Atas dasar itu pula dengan melihat situasi dan kondisi saat ini
pariwisata dapat diartikan sebagai suatu perjalanan terencana yang dilakukan secara
individu atau kelompok dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk mendapatkan
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas penulis akan menjabarkan kata–kata
yang berhubungan dengan kepariwisataan sebagai berikut:
o Kepariwisatan : Hal–hal yang berhubungan dengan pariwisata dan dalam bahasa
Inggris disebut dengan “Tourisme”.
o Wisata : Perjalanan, dalam bahasa Inggris disebut dengan “Travel”.
o Pariwisata : Perjalanan yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, dalam
bahasa Inggris disebut dengan “Tour”.
o Wisatawan : Orang yang melakukan perjalanan, dalam bahasa Inggris disebut
dengan “Travelers”
Beberapa ahli mengemukakan pengertian pariwisata, antara lain:
1. Oka A . Yoeti (dalam Yoeti, 1982:103), menjelaskan bahwa kata pariwisata
berasal dari bahasa Sansekerta, yatu “…pari yang berarti banyak, berkali–kali,
berputar–putar, keliling, dan wisata yang berarti perjalanan atau bepergian”.
2. E Guyer Freuler (dalam. Yoeti,1966:115), merumuskan pengertian pariwisata
dengan memberikan batasan sebagai berikut : “…Pariwisata dalam arti modern
adalah merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas
kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan
menumbuhakan cinta terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan
oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas manusia sebagai hasil
dari perkembangan perniagaan, industri, serta penyempurnaan dari alat–alat
pengangkutan ”.
3. Prof. Hunziger dan Kraf dari swiss dari tahun 1942 (dalam Yoeti, 1996 : 115)
memberikan batasan pariwisata yang bersifat teknis, yaitu “…kepariwisataan
orang asing di suatu tempat, dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal ditempat
itu untuk melakukan pekerjaan yang penting yang memberi keuntungan yang
bersifat permanen maupun sementara”. (Anatomi Pariwisata, 1996:12).
4. Ketetapan MPRS No. 1 Tahun 1960 (dalam Yoeti :118) kepariwisatan dalam
dunia modern pada hakekatnya adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan
manusia dalam memberi liburan rohani dan jasmani setelah beberapa waktu
bekerja serta mempunyai modal untuk melihat – lihat daerah lain (pariwisata
dalam negri) atau negara lain (pariwisata luar negri).
2.1.2 Pengertian Wisatawan
Jika ditinjau dari arti kata “wisatawan” yang berasal dari kata “wisata” maka
sebenarnya tidaklah tepat sebagai pengganti kata “tourist” dalam bahasa Inggris. Kata itu
berasal dari bahasa Sansekerta “wisata” yang berarti “perjalanan” yang sama atau dapat
disamakan dengan kata “travel” dalam bahasa Inggris. Jadi orang melakukan perjalanan
dalam pengertian ini, maka wisatawan sama artinya dengan kata “traveler” karena dalam
bahasa Indonesia sudah merupakan kelaziman memakai akhiran “wan” untuk menyatakan
orang dengan profesinya, keahliannya, keadaannya jabatannya dan kedudukan seseorang.
Adapun pengertian wisatawan antara lain (RG.Soekadijo,2000:13-16)
1. Menurut Komisi Liga Bangsa–bangsa 1937, “…wisatawan adalah orang yang
selama 24 jam atau lebih mengadakan perjalanan di negara yang bukan tempat
kediamannya yang biasa.”
2. U.N Confrence on Interest Travel and Tourism di Roma 1963 menggunakan
bukan tempat tinggalnya yang biasa untuk keperluan apa saja, selain melakukan
perjalanan yang digaji. Pengunjung yang dimaksudkan meliputi 2 kategori :
a. Wisatawan yaitu : pengunjung yang datang ke suatu negara yang
dikunjunginya tinggal selama 24 jam dan dengan tujuan untuk bersenang–
senang, berlibur, kesehatan, belajar, keperluan agama dan olahraga, bisnis,
keluarga, utusan dan pertemuan.
b. Excurtionist, yaitu : pengunjung yang hanya tinggal sehari di negara yang
dikunjunginya tanpa bermalam.
3. Defenisi UN. Convention Concerning Costums Fasilities for Touring “…setiap
orang yang datang ke suatu negara karena alasan yang sah, selain untuk
berimigrasi dan yang tinggal setidaknya selama 24 jam dan selama– lamanya 6
bulan dalam tahun yang sama”.
4. Di dalam Instruksi Presiden RI No. 9, 1969, bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa
“…wisatawan ialah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggal untuk
berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan itu”.
2.2 Pengertian Industri Pariwisata
Bila orang mendengar kata industri, gambaran dari kebanyakan orang adalah suatu
bangunan pabrik dengan segala perlengkapannya yang mempunyai cerobong asap dengan
mempergunakan mesin dalam proses produksinya, demikianlah gambaran industri pada
umumnya, tetapi tidak demikian dengan industri pariwisata.
Kalau kita mengikuti pengertian-pengertian kata industri seperti yang kita uraikan
dalam bahagian terdahulu, maka kita cenderung untuk memberikan batasan industri
:172) sebagai berikut: “Industri pariwisata adalah kumpulan dari bermacam-macam
perusahaan yang secara bersama-sama menghasilakan barang dan jasa (goods and service)
yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan travel pada umumnya”.
Sedangkan menurut R.S Parmadji (dalam Yoeti, 1996 : 153) Industri Pariwisata
adalah: “Rangkuman daripada berbagai macam bidang usaha yang secara bersama-sama
menghasilkan produk-produk maupun jasa / pelayanan atau service, yang nantinya baik
secara langsung maupun secara tidak langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama
perlawatannya”.
Pengertian industri pariwisata akan lebih jelas bila kita mempelajari dari jasa atau
produk yang dihasilkan atau pelayanan yang diharapkan wisatawan dimana ia sedang
dalam perjalanan atau perlawatannya.
Industri pariwisata mulai dikenal di Indonesia setelah dikeluarkan instruksi Presiden
RI No.9 tahun 1969, di mana dalam bab II pasal 3 (dalam Yoeti, 1996 : 151) disebutkan:
“Usaha-usaha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan
industri pariwisata dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan
serta kesejahteraan masyarakat dan negara”.
Sesuai dengan instruksi presiden tersebut (dalam Yoeti, 1996 : 151) dikatakan
bahwa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah:
a. Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara pada
umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan
kegiatan industri sampingan lainnya.
b. Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan
Dengan pernyataan tersebut, jelaslah bahwa usaha-usaha yang berhubungan dengan
kepariwisataan merupakan usaha yang bersifat “Comercial”. Hal tersebut dapat dilihat dari
betapa banyaknya jasa yang diperlukan oleh wisatawan jika melakukan perjalanan wisata
semenjak ia berangkat dari rumahnya hingga kembali ke rumahnya tersebut. Jasa yang
diperoleh tidak hanya oleh satu perusahaan yang berbeda fungsi dalam proses pemberian
pelayanannya.
Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam industri pariwisata yaitu:
1. Travel Agent
2. Perusahaan Angkutan (Transportasi)
3. Akomodasi perhotelan
4. Bar dan Restoran
5. Souvenir dan Handicraft.
Perusahaan-perusahaan tersebut di atas merupakan perusahaan langsung.
2.3 Pengertian Sarana dan Prasarana Kepariwisataan 2.3.1 Sarana Kepariwisataan
Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan
kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan kehidupannya
tergantung kepada kedatangan wisatawannya. Sarana kepariwisataan ini harus tetap dijaga
dan ditingkatkan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan perkembangan
kebutuhan wisatawan. Untuk mendukung pencapaian yang lebih baik perlu adanya
kemampuan pengelolaan yang memadai sesuai dengan kondisi objek dan kebutuhan
pengunjung.
A. Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Suprastructure)
Yang dimaksud dengan sarana kepariwisataan adalah perusahaan yang hidup dan
kehidupannya sangat tergantung kepada kedatangan orang yang melakukan perjalanan
wisata, yang termasuk di dalamnya adalah:
• Travel Agent
• Tour Operator
• Perusahaan Transportasi
• Restoran, Bar, objek dan atraksi wisata.
B. Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Supplementing Tourism Suprastructure)
Adalah perusahaan yang menyediakan fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak
hanya melengkapi sarana pokok kepariwisataan, tetapi yang terpenting adalah untuk
membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal, di tempat atau daerah yang
dikunjunginya. Yang termasuk dikelompok ini adalah:
• Lapangan tenis
• Lapangan golf
• Lapangan bola kaki, kolam renang, bilyard, dan lain-sebagainya.
C. Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Suprastructure)
Adalah perusahaan yang menunjang sarana pokok dan sarana pelengkap yakni
fasilitas-fasilitas yang diperlukan wisatawan khususnya tourism business yang berfungsi
untuk membuat para wisatawan lebih lama tinggal di daerah yang dikunjungi agar lebih
banyak mengeluarkan atau membelanjakan uangnya di daerah tersebut. Yang termasuk ke
• Casino
• Steambath dalam buku yang berjudul Pengantar Ilmu Pariwisata (dalam Yoeti,
1996 : 199).
2.3.2 Prasarana Kepariwisataan
Prasarana (infrastrukture) kepariwisataan sesungguhnya merupakan “tourist
supply” yang perlu dipersiapkan atau disediakan bila akan mengembangkan industri
pariwisata, karena kegiatan pariwisata pada hakekatnya tidak lain adalah salah satu
kegiatan dari sektor perekonomian juga. Yang dimaksud prasarana (infrastukture) adalah
“semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian dapat berjalan dengan lancar
sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya”. Jadi
fungsi dari prasarana adalah untuk melengkapi sarana kepariwisataan sehingga dapat
memberikan pelayanan sebagai mana mestinya. Dalam buku yang berjudul Pengantar Ilmu
Pariwisata (dalam Yoeti, 1996 : 186).
Adapun beberapa prasarana yang dapat menunjang pelayanan dan kemudahan bagi
wisatawan, meliput i:
1. Pelayanan makan dan minum, yang dapat menyajikan makanan dan
minuman yang khas setempat.
2. Pelayanan tenaga kerja, yang sangat dominan sekali dibutuhkan karena salah
satu kunci keberhasilan pembangunan objek wisata adalah kemampuan para
tenaga kerja untuk mengelola dengan baik suatu kawasan objek wisata.
3. Pelayanan informasi, agar dapat mengatur pengunjung yang datang ke objek
Untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak unsur objek wisata yang
dikunjungi, maupun yang dapat mengganggu ketenangan pengunjung itu sendiri mengingat
arus kunjungan yang datang cenderung akan lebih meningkat.
2.4 Potensi Daya Tarik Wisata
Potensi dan daya tarik objek wisata merupakan salah satu unsur pokok dalam
pembangunan kepariwisataan di samping unsur-unsur yang lainnya seperti: akomodasi,
restoran, usaha jasa perjalanan, dan lainnya. Potensi daya tarik suatu objek wisata adalah
suatu sifat yang dimiliki oleh suatu objek berupa keunikan, keaslian, kelangkaan, atau lain
dari pada yang lain memiliki sifat yang menimbulkan semangat dan nilai bagi wisatawan.
Suatu tempat atau keadaan alam yang sangat menarik pasti sangat dinikmati oleh
wisatawan pada umumnya. Objek wisata yang mempunyai potensi dan daya tarik wisata
yang baik harus terus dibangun dan dikembangkan, sehinnga mempunyai daya tarik agar
wisatawan puas akan objek wisata yang dikunjunginya. Potensi dan daya tarik wisata di
dalam objek wisata yang berwujud pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa adalah keadaan
alam, beserta flora dan faunanya. Daya tarik suatu objek wisata sebagai sumber daya wisata
antara lain:
a. Daya tarik historis
b. Lokasi suatu kawasan objek wisata yang memberikan suatu pemandangan yang indah
c. Perkembangan tehnik pengelolaan yang baik.
Daya tarik suatu objek wisata yang memiliki potensi haruslah mempunyai suatau
2.5 Pengertian Objek Wisata dan Atraksi Wisata
Objek wisata dan atraksi wisata atau “tourism resources” adalah segala sesuatu
yang ada di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang
berkunjung ke tempat tersebut. Salah satu unsur yang sangat menentukan berkembangnya
industri pariwisata adalah objek wisata dan atraksi wisata. Secara pintas produk wisata
dengan objek wisata serta objek wisata seolah-olah memiliki pengertian yang sama, namun
sebenarnya memiliki perbedaan secara prinsipil. (Yoeti, 1996 : 172) menjelaskan bahwa di
luar negeri terminolgi objek wisata tidak dikenal, disana hanya mengenal atraksi wisata
yang mereka sebut dengan nama “tourist attraction” sedangkan di Negara Indonesia
keduanya dikenal dan keduanya memiliki pengertian masing-masing.
Adapun pengertian objek wisata yaitu, semua hal yang menarik untuk dilihat dan
dirasakan oleh wisatawan yang disediakan atau bersumber pada alam saja. Sedangkan
pengertian dari pada atraksi wisata yaitu, sesuatu yang menarik untuk dilihat, dirasakan,
dinikmati dan dimiliki oleh wisatawan, yang dibuat oleh manusia dan memerlukan
persiapan terlebih dahulu sebelum diperlihatkan kepada wisatawan. Mengenai pengertian
objek wisata, kita dapat melihat beberapa sumber acuan antara lain:
1. Peraturan Pemerintah No.24/1979 menjelaskan bahwa objek wisata adalah:
“perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah
bangsa dan tempat keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk
dikunjungi”.
2. SK. MENPARPOSTEL No.KM. 98 / PW.102 / MPPT-87 menjelaskan
bahwa objek wisata adalah: “tempat atau keadaan alam yang memiliki
sumber daya wisata yang dibangun dan dikembangkan sehingga mempunyai
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa objek wisata dan atraksi wisata
adalah sama, sedangkan menurut Oka A.Yoeti ( dalam Yoeti, 1996 : 172) dalam bukunya
yang berjudul “Pengantar Ilmu Pariwisata” menjelaskan bahwa objek wisata dan atraksi
wisata memiliki perbedaan yang asasi. Yang dimaksud objek wisata adalah: “kita dapat
mengatakan sesuatu sebagai objek wisata jika kita melihat objek itu tidak dipersiapkan
sebelumnya dengan kata lain objek tersebut dapat dikatakan tanpa bantuan orang lain”. Dan
yang dikatakan atraksi wisata adalah: “atraksi itu merupakan sinonim dari pengertian
entertainment yaitu sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati
dengan melibatkan orang lain”.
Namun pada dasarnya objek wisata dan atraksi wisata adalah segala sesuatu yang
ada di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang
berkunjung ke tempat itu. Suatu daerah untuk menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang
baik harus dikembangkan tiga hal agar daerah itu menarik untuk dikunjungi yaitu:
1. Adanya something to see
Maksudnya adalah sesuatu yang menarik untuk dilihat
2. Adanya something to buy
Maksudnya adalah sesuatu yang menarik dan khas untuk dibeli
3. Adanya something to do
Maksudnya adalah sesuatu aktivitas yang dapat dilakukan di tempat itu.
Ketiga hal di atas merupakan unsur-unsur yang kuat untuk daerah tujuan wisata
sedangkan untuk pengembangan suatu daerah tujuan wisata harus ada beberapa hal yang
harus diperhatikan, antara lain:
2. Harus tetap, tidak berubah dan tidak berpindah-pindah kecuali dibidang
pembangunan dan pengembangan.
3. Dengan sarana pendukungnya, objek wisata itu harus mempunyai ciri-ciri
khas tersendiri.
4. Harus menarik dalam pengertian secra umum (bukan pengertian dari
subjektif) dan sadar wisata masyarakat setempat.
5. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana, amenitas dan eksesibilitas serta
sadar wisata masyarakatnya yang mampu mendukung objek wisata tersebut.
(Dalam Yoeti, 1996 : 178).
2.6 Penetapan Lokasi Objek Wisata
Dalam menetapkan suatu lokasi objek wisata harus benar-benar diperhatikan
tentang karakteristik alam dan juga letak lokasi objek wisata yang strategis, karena dapat
mempengaruhi minat wisatawan yang akan datang nantinya. Untuk itu perencanaan harus
sesuai dengan pembangunan pariwisata di daerah, sehingga pengembangannya dapat
dilaksanakan secara optimal sesuai dengan kondisi kawasan dan tidak mengganggu
kegiatan komunitas di sekitar kawasan tersebut. Oleh karena itu pembangunan objek wisata
perlu dilakukan di tempat yang strategis, yang nantinya dapat menarik minat pengunjung
terutama bagi objek wisata yang berorientasi menjual suasana objeknya dan produknya.
Faktor yang menjadi pertimbangan objek wisata yaitu mudah dijangkau dan dekat
dengan kelompok sasaran. Pada suatu objek wisata penetapan lokasi merupakan salah satu
pendukung pariwisata yang nantinya dapat menentukan seberapa banyaknya wisatawan
2.7 Landasan Hukum Objek Wisata
Landasan hukum dalam pengembangan objek wisata bertujuan untuk meningkatkan
koordinasi antara keduanya dan dalam rangka memanfaatkan potensi objek wisata. Suatu
kegiatan dalam pengembangan suatu objek wisata perlu adanya hukum yang turut
membantu dan mengikat serta menjaga objek wisata dalam upaya perlindungan terhadap
pelestarian dan perawatan objek wisata. Secara fungsional perencanaan, pemanfaatan,
pembinaan, pengembangan kepariwisataan menjadi tugas dan tanggung jawab Departemen
Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. Untuk itu perlu adanya koordinasi antara departemen
ini dengan pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan objek wisata. Untuk itu landasan
hukum ini sekaligus sebagai wadah dan payung hukum bagi suatu daerah objek wisata.
Landasan hukum pengembangan objek wisata berdasarkan surat keputusan (SK)
bersama Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel) dan Menteri Pertanian
No. KM 47/PW-89 dan No. 204 / KPTS / HK / 050 / 4 1989.
Sebuah lembaga hukum mempunyai kekuatan untuk dapat mengikat dan
melindungi terhadap pelestarian dan pemanfaatan alam bagi suatu objek wisata, karena
landasan hukum ini sangat dijunjung tinggi oleh Negara Indonesia sebagai negara yang
berazaskan hukum maupun mengutamakan hukum yang berlaku. Landasan hukum inilah
yang menjadi pedoman masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
2.8 Tujuan dan Asas Pengembangan Objek Wisata 2.8.1 Tujuan Pengembangan Objek Wisata
Tujuan pengembangan dari objek wisata .(Tirtadinata dan Fachruddin, 1996 : 30)
2. Meningkatkan pengembangan objek wisata
3. Memberikan nilai rekreasi
4. Meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan
5. Meningkatkan keuntungan.
Adapun dua keuntungan ekonomi yaitu:
a. Keuntungan ekonomi bagi masyarakat daerah :
• Membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pengangguran
• Meningkatkan pendapatan masyarakat daerah
• Meningkatkan popularitas daerah
• Meningkatkan produksi
b. Keuntungan ekonomi bagi objek wisata :
• Meningkatkan pendapatan objek wisata tersebut • Meningkatkan gaji pegawai pengelola objek wisata
• Meningkatkan sarana dan prasarana yang ada pada objek wisata
• Meningkatkan sikap kesediaan dalam berperan serta untuk melestarikan
potensi daerah objek wisata dan lingkungan hidup serta manfaat yang
diperoleh
• Meningkatkan sikap, kreasi dan inovasi para pengusaha objek wisata
• Serta meningkatkan mutu asesilitas dan bahan-bahan promosi dalam
pengembangan suatu objek wisata.
2.8.2 Asas Pengembangan Objek Wisata
1. Asas Pelestarian
Penyelenggaraan program sadar wisata terhadap suatu objek wisata yang hendak
dikembangkan dan diarahkan bertujuan untuk meningkatkan kelestarian alam dan
lingkungan objek wisata serta kesegaran udara di daerah objek wisata tersebut.
2. Asas Manfaat
Penyelenggaraan program sadar wisata diarahkan untuk dapat memberikan manfaat
dan dampak praktis baik ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan maupun lingkungan.
(Tirtadinata dan Fachruddin, 1996 : 32).
2.9 Motif Perjalanan Wisata
Perjalanan yang dilakukan wisatawan mempunyai berbagai motif dan tujuan
tertentu dan secara garis besar alasan-alasan dan keperluannya dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
A. Menurut Objeknya
1. Culture Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan
perjalanan untuk menyaksikan daya tarik dari seni budaya suatu tempat atau
daerah dan benda-benda kuno serta bangunan-bangunan kuno (heritage).
2. Religion Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan
perjalanan tersebut bertujuan untuk menyaksikan upacara-upacara keagamaan.
3. Sport Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan
perjalanan bertujuan untuk menyaksikan atau melihat suatu pesta olahraga di
suatu tempat atau negara tetangga seperti Europe Cup, Olimpiade, All England,
4. Recurational Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang
melakukan perjalanan tersebut untuk kesehatan dan ingin menyembuhkan
penyakitnya.
5. Comercial Tourism, yaitu jenis pariwisata perdagangan karena perjalanan
pariwisata tersebut dikaitkan dengan kegiatan perdagangan international
dimana sering diadakan kegiatan expo, fair dan exhibition.
6. Sosial Tourism, yaitu jenis pariwisata untuk kegiatan sosial yang dapat dilihat
dari segi penyelenggaraannya yang tidak mencari keuntungan seperti halnya
study tour, piknik, atau youth tourism.
7. Political Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan
perjalanan tersebut dengan tujuan melihat atau menyaksikan suatu peristiwa
atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan suatu negara seperti
memperingati hari kemerdekaan suatu negara.
B. Menurut Alasan / Tujuan Perjalanan
1. Business Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana pengunjungnya datang untuk
tujuan dinas, usaha dagang atau yang berhubungan dengan pekerjaannya, kongres,
seminar, konvension, simposium, musyawarah kerja dan lain-lain.
2. Education Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang melakukan
perjalanan tersebut dengan tujuan studi atau untuk mempelajari suatu bidang ilmu
pengetahuan.
3. Vocation Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana pengunjungnya datang hanya
untuk berlibur saja.
1. Seasonal Tourism, yaitu kegiatan pariwisata yang berlangsung pada musim-musim
tertentu seperti summer tourism atau winter tourism.
2. Occutional Tourism, yaitu kegiatan pariwisata yang dihubungkan dengan kejadian
atau suatu event seperti ngaben, Galungan, Kuningan di Bali, Sekaten di
jogyakarta, Pajang, Jimat di Cirebon dan Pesta Danau Toba di Sumatera Utara.
BAB III
GAMBARAN UMUM KABUPATEN LABUHANBATU UTARA
3.1 Letak Geografis dan Keadaan Alam 3.1.1 Sejarah Kabupaten Labuhanbatu Utara
Kabupaten Labuhanbatu Utara terbentuk pada tanggal 21 Juli 2008, yang didasari
oleh Undang-undang No 23 Tahun 2008 Tanggal 21 juli 2008. Pada waktu Kabupaten
Labuhanbatu Utara resmi terpecah dari Kabupaten Labuhanbatu pemimpin sementara /
pejabat bupati sementara adalah Drs. H.Daud Syah, kemudian bapak Drs. H.Daud syah
mengundurkan diri sebagai bupati sementara karena mencalonkan dirinya sebagai bupati,
jabatan bupati Kabupaten Labuhanbatu Utara digantikan oleh Bapak H.Asrin Naim sebagai
bupati selanjutnya (bupati sementara) di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Sejarah Kabupaten Labuhanbatu Utara tidak terlepas dari sejarahnya Kabupaten
Labuhanbatu yang sekarang telah di pecah menjadi tiga kabupaten yaitu Kabupaten
Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu (induk) dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Sebelum penjajahan Belanda mamasuki daerah Labuhanbatu, sistem pemerintahan
kabupaten bersifat monarkhi yang kepala pemerintahannya disebut sultan atau raja.
Kesultanan yang terdapat di wilayah Kabupaten Labuhanbatu pada waktu itu terdiri dari 4
(empat) kesultanan, yaitu:
1. Kesultanan Kota Pinang berkeduduka n di Kota Pinang (Kabupaten Labuhanbatu
Selatan)
2. Kesultanan Kualuh berkeduduka n di Tanjung Pasir (Kabupaten Labuhanbatu Utara)
3. Kesultanan Panai berkedudukan di Labuhan Bilik (Kabupaten Labuhanbatu)
Belanda memasuki wilayah Labuhanbatu pada tahun 1861, yang berawal dari
kedatangan kesatuan angkatan laut Belanda dipimpin oleh Bevel Hebee ke Kampung
Labuhanbatu (di hulu Labuhan Bilik sekarang) melalui Sungai Barumun.
Kemudian di perkampungan tersebut dibangun pelabuhan yang terbuat dari batu
beton sebagai tempat pendaratan / persinggahan kapal-kapal berbobot 3000 samapai 5000
ton dan berkembang menjadi sebuah perkampungan (desa) yang lebih dikenal dengan nama
“Pelabuhan Batu”.
Selama penjajahan Belanda wilayah Labuhanbatu merupakan Onder Afdeling dari
wilayah Afdeling Asahan dengan ibukota Tanjung Balai yang dipimpin oleh Asisten
Residen (bupati), sedangkan Onder Afdeling dipimpin oleh controleur (wedana / camat).
Selanjutnya, pada masa Pemerintahan Jepang sistem pemerintahannya adalah
pemerintahan zaman Hindia Belanda dilanjutkan dan yang memonitoring kegiatannya
dilaksanakan oleh sultan / raja.
Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 Oktober 1945 dibentuk
Komite Nasional Daerah Labuhanbatu sekaligus di tetapkan Abdul Rahman sebagai kepala
pemerintahan. Dengan demikian pada tanggal 17 oktober ditetapkan sebagai Hari Ulang
Tahun (HUT) Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu sebelum dipecah menjadi tiga
kabupaten.
3.1.2 Letak Daerah
Kabupaten Labuhanbatu Utara terletak pada kawasan Pantai Timur Sumatera Utara,
yaitu pada koordinat 1 26’ – 2 11’ Lintang Utara dan 91 01’ – 95 53’ Bujur Timur. Dengan
• Sebelah Selatan : Kabupaten Labuhanbatu (Induk)
• Sebelah Timur : Selat Malaka
• Sebelah Barat : Kabupaten Tapanuli Utara / Toba Samosir
Kabupaten Labuhanbatu Utara
Motto : Basimpul Kuat Babontuk Elok
Provinsi : Sumatera Utara
Ibu kota : Aek Kanopan, Kualuh Hulu
Luas : 354.580 Ha
Penduduk :
• Jumlah : 344.519 jiwa (2009)
• Kepadatan : 90 jiwa/km²
Pembagian administratif :
• Kecamatan : 8 (delapan)
• Desa/kelurahan : 82 / 8 (delapan puluh dua / delapan)
Dasar hukum : UURI Nomor 23 Tahun 2008
Tanggal : 21 Juli 2008
Hari jadi : 21 Juli
3.1.3 Pembagian Wilayah Administratif
Kabupaten Labuhanbatu Utara terdiri dari 8 Kecamatan, 82 Desa dan 8 Kelurahan.
8 (Delapan) Kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan NA IX – X
2. Kecamatan Merbau
3. Kecamatan Aek Kuo
4. Kecamatan Aek Natas
5. Kecamatan Kualuh Selatan
6. Kecamatan Kualuh Hulu
7. Kecamatan Kualuh Hilir
8. Kecamatan Kualuh Leidong.
3.1.4 Luas Daerah
Kabupaten Labuhanbatu Utara memiliki luas wilayah 354.580 Ha, terdiri dari : • Kawasan pedalaman seluas 282.000 Ha (79,54%)
• Kawasan pesisir pantai seluas 72.500 Ha (20,46%).
Luas per Kecamatan:
1. Kecamatan NA IX – X, dengan luas daerah 55.400 Ha.
2. Kecamatan Merbau, dengan luas daerah 35.590 Ha.
3. Kecamatan Aek Kuo, dengan luas daerah 25.020 Ha.
4. Kecamatan Aek Natas, dengan luas daerah 67.800 Ha.
5. Kecamatan Kualuh Selatan, dengan luas daerah 34.451 Ha.
7. Kecamatan Kualuh Hilir, dengan luas daerah 38.458 Ha.
8. Kecamatan Kualuh Leidong, dengan luas daerah 34.032 Ha.
3.1.5 Keadaan Alam
Kabupaten Labuhanbatu Utara berada pada ketinggian berkisar 0 – 1.685 m di atas
permukaan laut, dengan komposisi dataran rendah 40%, dataran alluvial sungai dan gambut
30%, perbukitan dan pegunungan 20% serta daerah maritim / jalur pantai 10%.
Wilayah Labuhanbatu Utara dilalui oleh satu Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu : • DAS Kualuh Selatan
Dengan debit air berkisar 90 m3/detik, yang meliputi Kecamatan Kualuh Hulu,
Kualuh Selatan, Aek Natas dan Kualuh Hilir.
Secara umum Kabupaten Labuhanbatu Utara beriklim tropis yang mempunyai dua
musim yaitu musim hujan dan musim kering/kemarau. Rata-rata curah hujan pertahun
sebesar 1.900m dengan jumlah hari hujan 140 hari. Suhu udara rata-rata berkisar antara 21
C – 33 C dengan kelembaban udara rata-rata 83% dan rata-rata kecepatan angin 0,7
meter/detik.
3.2 Perekonomian dan Sosial Budaya Masyarakat 3.2.1 Perekonomian
Untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan dan mendayagunakan potensi ekonomi dan sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) pemerintahan
Kabupaten Labuhanbatu Utara membuat kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam
BAPPEDA Tahun 2009 yaitu (5) Lima Prioritas Pembangunan Labuhanbatu Utara, antara
1. Pembangunan Bidang Pendidikan
Bidang pendidikan menjadi prioritas utama karena sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang sasarannya diarahkan untuk
peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan mutu, peningkatan kualitas guru
dan lain-lain.
2. Pembangunan Bidang Kesehatan
Diarahkan untuk melayani kebutuhan dasar kesehatan masyarakat serta sebagai
upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan melakukan peningkatan sarana
prasarana kesehatan, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga medis dan non medis, serta
upaya lainnya.
3. Pembangunan Bidang Pertanian
Dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan produksi pertanian dan sebagai
upaya untuk menjamin stabilitas pangan serta sebagai upaya peningkatan konsumsi dan
kualitas gizi masyarakat.
4. Pembangunan Infrastruktur
Diarahkan untuk memenuhi sarana dan prasarana dasar kebutuhan masyarakat serta
untuk pengembangan wilayah terutama pada daerah terisolir dan terkebelakang (pesisir
pantai) dan untuk mendukung pengembangan investasi.
5. Pengentasan Kemiskinan dan Pengurangan Pengangguran
Kebijakan ini menjadi tujuan utama dalam rangka peningkatan kesejahteraan
masyarakat serta sebagai upaya mengurangi tingkat pengangguran dengan membuka
3.2.2 Sosial Budaya Masyarakat
Jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun 2009 mencapai 344.519
jiwa, dengan tingkat kabupaten 90 jiwa/km, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan
etnis seperti Tapanuli, Jawa, Melayu, Bali, Banjar, Nias, Tiong Hoa dan India. Berdasarkan
data pada tahun 2000, komposisi penduduk menurut suku bangsa menunjukan : Suku Jawa
47,91%, Melayu 19,64%, Tapanuli 29,70% dan lain-lain sebanyak 2,75%. Sedangkan
komposisi berdasarkan pemeluk agama yaitu : Agama Islam 86,30%, Kristen Protestan
8,54%, Kristen Katolik 4,64%, Budha 0,50%, dan Hindu 0,02%.
Usia angkatan kerja Kabupaten Labuhanbatu Utara sekitar 75, 93%, dimana sektor
pertanian merupakan lapangan kerja yang paling menonjol sebanyak 71,18%, sektor
industri 6,72%, dan sektor jasa 22,10%. Selanjutnya berdasarkan status pekerja, yang
paling menonjol adalah pekerjaan buruh / karyawan sebanyak 44,39%, berusaha sendiri /
wira usaha 19,10%, berusaha dengan buruh tak tetap 15,83%, berusaha dengan buruh tetap
1,41%, dan pekerja keluarga sebanyak 19,27%
Kondisi sosial budaya yang multicultural dan diwarnai dengan corak heterogenitas
masyarakat Labuhanbatu Utara masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya masing-masing
dan juga dapat menghargai budaya dari suku bangsa lain, sehingga kehidupan sosial
masyarakat di Kabupaten Labuhanbatu Utara cukup harmonis. Hal tersebut dapat terlihat
dari kehidupan dan pergaulan masyarakat sehari-hari yang senantiasa mengutamakan
kepentingan bersama, seperti masih terpeliharanya budaya gotong royong dalam kehidupan
masyarakat, yang tentunya sangat mendukung terciptanya suasana kondusif, aman dan
3.3 Sarana Prasarana Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Kabupaten Labuhanbatu Utara mempunyai sarana dan prasarana perhubungan darat,
kereta api, angkutan sungai, angkutan laut, dan tersedia juga sarana dan prasarana listrik,
telekomunikasi, akomodasi, perbankan dan air bersih. Akses jalan transportasi darat dan
laut Kabupaten Labuhanbatu Utara sepanjang :
Jalan nergara:
• Desa Simpang Marbau – Aek Kanopan – batas Kabupaten Asahan (49,50 Km)
Jalan propinsi :
• Aek Kota Batu – Pasoburan – Tarutung (75 Km)
Jalan Kabupaten :
• Gunting Saga – Teluk Binjai – Tanjung Leidong – batas Kabupaten Asahan (64,5
Km)
• Sei Tampang – Sidomakmur – Kampung Mesjid (31 Km)
• Simpang Marbau – Marbau – Pulo Bargot – Sei Tampang (54 Km)
• Simpang Panegoran – Aek Korsik – Kuala Bangka – Kampung Masjid (39 Km)
Jalan Kereta Api :
• Dari Rantau Prapat – Marbau – Padang Halaban – Aek Pamingke – Aek Kanopan –
sampai Medan.
• Dari Medan – Aek Kanopan – Aek Pamingke – Padang Halaban – Marbau – sampai
Rantau Prapat atau Kabupaten Labuhanbatu.
Transportasi laut :
Rute transportasi angkutan laut / sungai :
• Panipahan – Sei Berombang – Tanjung Leidong – Tanjung Balai
3.4 Permasalahan Pembangunan Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara
Didalam BAPPEDA Labuhanbatu Utara dalam bukunya ”Strategi Perencanaan
Pembangunan Kabupaten Labuhanbatu Utara” menyebutkan beberapa permasalahan
pembangunan Labuhanbatu Utara sebagai berikut :
• Sarana prasarana dasar masih sangat minim terutama dalam menunjang proyek
wilayah dan investasi
• Sarana transportasi darat menuju kecamatan pantai belum sepenuhnya dapat dilalui
dengan kendaraan roda empat
• Potensi sumber daya alam belum dapat didayagunakan secara maksimal
• Sumber daya manusia aparatur masyarakat masih perlu ditingkatkan
• Pembangunan dan hasilnya belum merata dan belum sepenuhnya dapat dinikmati
BAB IV
POTENSI OBJEK WISATA AIR TERJUN SERDANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KABUPATEN LABUHANBATU UTARA
4.1 Sejarah Air Terjun Serdang
Air Terjun Serdang adalah aliran sungai yang berasal dari sungai besar yang berada
di daerah perkebunan Afdeling III milik PTPN III yang berada tepat di hulu sungai dengan
berjarak sekitar 10 km dari lokasi Air Terjun Serdang tersebut. Air Terjun Serdang ini
adalah buatan alam yang sangat berpotensi menjadi objek wisata dan sebagai daya tarik
wisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara yang berada di atas lahan milik perorangan atau
milik masyarakat setempat yang dibuka atau baru dikembangkan pada tahun 2002. Air
Terjun Serdang berada di atas lahan (tanah) milik beberapa orang, diantaranya: • Milik Bapak Bero
• milik Bapak Darman • Milik Bapak Erwin
• Milik Bapak Lusa
Lahan tersebut kemudian dikelola oleh masyarakat setempat menjadi objek wisata alam
yang sangat asri dan indah yang dapat menghipnotis setiap pengunjung yang
mengunjunginya. Air Terjun Serdang adalah air yang mengalir melewati bebatuan yang
curam dan jatuh dari ketinggian 5 meter dari permukaan sungai yang berada tepat di
bawahnya.
Lahan tempat beradanya air tejun ini dahulunya dikenal oleh masyarakat dengan
mempercayainya dengan mitos-mitos yang berbau mistis atau banyaknya penghuni
mahkluk-mahkluk halus (sejenis jin) yang mendiami daerah tersebut, kemudian masyarakat
setempat memenggil orang pandai atau disebut dengan dukun yang dapat mengusir dan
memindahkan mahkluk-mahkluk halus (jin) ke daerah lain sehingga tempat tersebut dapat
dihuni masyarakat setempat dan dapat dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing.
Air Terjun Serdang berada di Desa Pulo Dogom Dusun Aek Sordang Kecamatan
Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara.
4.2 Potensinya Menjadi Daya Tarik Wisata 4.2.1 Letak Geografis
Objek wisata Air Terjun Serdang berada di Desa Pulo Dogom Dusun Aek Sordang
Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara. Objek wisata Air Terjun Serdang
adalah merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara yang memiliki
pesona indah yang cukup dapat dibanggakan oleh pemerintah daerah tingkat II ini. Jarak
antara objek wisata Air Terjun Serdang dengan akses jalan lintas Sumatera Utara lebih
kurang 15 km, yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun kendaran roda
empat. Objek wisata Air Terjun Serdang mempunyai aliran air yang sangat bersih sehingga
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat maupun pengunjung (wisatawan) yang
datang sebagai air minum dan prasarana air bersih.
4.2.2 Sosialisasi Masyarakat Setempat
Masyarakat Desa Pulo Dogom daerah objek wisata Air Terjun Serdang mayoritas
bersuku Jawa sebanyak 40% dan suku Tapanuli 29%, Melayu sebanyak 19% dan lain-lain
dalam mengerjakan kepentingan umum misalnya memeperbaiki jalan yang rusak, membuat
parit / selokan di tepi-tepi jalan dan menjaga keamaan dimalam hari guna menciptakan
keadaan yang aman, tentram dan terkendali. Penduduk sekitar objek wisata Air Terjun
Serdang juga memeiliki sifat yang hangat dan bersahabat yang masih mengutamakan sopan
santun dan juga masih memegang teguh norma-norma adat dan agama.
Sarana Prasarana yang Tersedia
Sarana maupun prasarana kepariwisataan adalah merupakan hal yang perlu
dipersiapkan dan sangat mendukung, apabila hendak mengembangkan suatu objek wisata.
dalam rangka mengembangkan, menunjang dan meningkatkan daya saing terhadap objek
wisata itu sendiri. Pengertian sarana kepariwisataan itu sendiri ( main tourism
suprastructure) adalah semua kegiatan usaha pariwisata yang menghasilkan barang dan
jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, mulai berangkat dari tempat tinggalnya
menuju Daerah Tujuan Wisata (DTW) hingga kembali lagi ke tempat asalnya.
Sedangkan pengertian prasarana (supplementing tourism suprastructure) adalah
semua kegiatan pariwisata yang menyediakan fasilitas untuk rekreasi. Fungsinya tidak
hanya untuk melengkapi sarana pokok kepariwisataan tetapi yang terpenting adalah agar
wisatawan lebih betah dan lama tinggal di suatu tempat atau di daerah yang dikunjunginya.
Sarana yang tersedia di daerah objek wisata alam Air Terjun Serdang: • Tempat parkiran roda dua dan roda empat
• Pondok-pondok tempat berkumpul bersama keluarga dan teman • Warung-warung tempat berjualan makanan dan minuman
Prasarana yang tersedia:
• Akses jalan raya menuju daerah objek wisata • Telekomunikasi
• Dan prasarana air bersih
4.4 Promosi Air Terjun Serdang
Pengertian promosi merupakan suatu kegiatan untuk memperkenalkan suatu produk
yang ingin diperkenalkan agar produk yang diperkenalkan dapat dijual kepada konsumen.
Akan tetapi promosi yang akan dilakukan disini atau yang akan dibahas adalah: mengenai
promosi objek wisata air terjun serdang sebagai daya tarik wisata di Kabupaten
Labuhanbatu Utara yang seharusnya sudah dilakukan sejak melihat antusiasme wisatawan
yang datang berkunjung ke daerah tersebut.
Dengan melihat potensi yang dimiliki objek wisata Air Terjun Serdang tentu
langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah setempat maupun
masyarakat setempat harus lebih meningkatkan promosi dan membuat penekanan atas
promosi wisata, supaya wisatawan asing juga tahu dengan potensi yang ada di kawasan
objek wisata Air Terjun Serdang dan ada keinginan untuk mengunjunginya.
Dengan adanya promosi, sudah tentu yang ingin dijadikan objek wisata ataupun
yang ingin diperkenalkan hendaknya harus mengikuti langkah-langkah antara lain:
1. Membuat suatu paket perjalanan wisata dan memasukkan objek wisata Air
Terjun Serdang dalam suatu paket perjalanan (Itinerary)
3. Melakukan kerja sama antara (BPW) Biro Perjalanan Wisata dan Agent
Perjalanan Wisata (APW) dengan memasukkannya ke dalam jadwal
perjalanan
4. Membuat iklan-iklan poster tentang menggalakkan objek wisata Air Terjun
Serdang
Dengan langkah-langkah diatas, diharapkan promosi mengenai peningkatan objek
wisata Air Terjun Serdang dapat diwujudkan dengan segera, dan dapat menjadi objek
wisata unggulan, serta banyak wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang datang untuk
berkunjung ke kawasan tersebut.
4.5 Perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara
Ketika suatu objek wisata daerah ingin dikembangkan, perlu adanya campur tangan
dari pihak pemerintah ataupun perhatian dari pemerintah kota terutama pemerintah daerah
Kabupaten Labuhanbatu Utara. Apalagi objek wisata yang akan dikembangkan ini, cukup
mempunyai potensi yang baik dan sangat layak untuk dijadikan salah satu objek wisata di
Kabupaten Labuhanbatu Utara. Objek wisata Air Terjun Serdang perlu perhatian yang
khusus dari Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara terutama dalam mengelola
kawasan tersebut agar kawasan ini dapat menjadi objek wisata yang layak untuk dikunjungi
oleh wisatawan. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara selama ini kurang menyadari
bahwa objek wisata Air Terjun Serdang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai objek
wisata unggulan. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara tidak mau melihat suatu
potensi yang terdapat di daerahnya yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, padahal
Dogom ini, tentu ini akan menjadi suatu asset yang sangat baik untuk dikembangkan
kedepannya, menjadi objek wisata unggulan di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Apabila dilihat lagi bahwa objek wisata Air Terjun Serdang sangat berpotensi,
namun masih perlu banyak perhatian dari Pemerintah Daerah terutama sarana dan
prasarana yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Utara, promosinya, pengelolaannya, baik
mulai dari hal yang kecil sampai hal yang terbesar sekalipun, itu semua harus dilakukan
Pemerintah daerah itu sendiri dan harus fokus terhadap permasalahan yang ada di
Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Apabila pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara tidak juga memperhatikan asset
wisata dan mengolahnya, sudah tentu bisa dibayangkan Kabupaten Labuhanbatu Utara
tidak akan bisa menjadi suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Sungguh sangat disayangkan
apabila terjadi seperti itu, kalau kita melihat potensi yang sangat baik dari objek wisata ini,
apalagi potensi yang dimilikinya, cukup alamiah dengan didalamnya terdapat panorama
keindahan alam yang cukup luas, asri dan indah untuk dilihat serta sungai yang berasal dari
mata airnya dan menuruni lerengnya secara continue.
Oleh karena itu diharapkan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara harus lebih
memperhatikan lagi terhadap kawasan yang sangat potensial ini, dan kelak dapat dijadikan
Daerah Tujuan Wisata (DTW) dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten
4.6 Dampak Pengembangan Objek Wisata Air Terjun Serdang 4.6.1 Dampak Postif
Dampak positif yang dapat dikembangkan apabila Air Terjun Serdang ini menjadi
Daerah Tujuan Wisata (DTW) dan menjadi daya tarik wisata Kabupaten Labuhanbatu
Utara adalah sebagai berikut:
a. Perubahan tata nilai dan sikap
Maksudnya apabila Air Terjun Serdang dikembangkan menjadi Daerah Tujuan
Wisata (DTW) dan menjadi daya tarik wisata maka adanya modernisasi dan globalisasi
dalam budaya, yang menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat setempat yang
tinggal di daerah setempat, yang tadinya semua irasional (tidak mungkin) menjadi rasional
(kenyataan)
b. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
Maksudnya bahwa apabila berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sudah
tentu masyarakat kawasan sekitar menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan
mendorong untuk berfikir maju.
c. Tingkat kehidupan yang lebih baik
Maksudnya apabila objek wisata Air Terjun Serdang ini menjadi Daerah Tujuan
Wisata (DTW) sudah pasti ini merupakan salah satu usaha mengurangi pengangguran dan
meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
4.6.2 Dampak Negatif
a.Pola hidup konsumtif
Maksudnya apabila Air Terjun Serdang ini sudah berkembang dan maju
kemungkinan masyarakat setempat yang tinggal di daerah sekitar, ingin melakukan sesuatu
(pelayanannya) dengan instan dalam mengelola objek wisata tersebut tanpa memikirkan
wisatawan yang mengutamakan kealamian dan keaslian dari objek wisata tersebut.
b. Sikap individualistik
Maksudnya masyarakat setempat merasa dimudahkan dengan teknologi maju untuk
mengelola objek wisata ini sehingga membuat mereka tidak lagi membutuhkan bantuan
orang lain dalam mengelola objek wisata tersebut, dan akan membuat mereka lupa bahwa
mereka adalah makhluk sosial.
c. Gaya hidup asing
Maksudnya bahwa apabila daerah objek wisata Air Terjun Serdang ini menjadi daya
tarik wisata Kabupaten Labuhanbatu Utara sudah pasti wisatawan asing akan banyak
berkunjung, dan membawa budaya kebarat-baratan mereka dan mempengaruhi budaya asli
contohnya pergaulan bebas remaja, dan lain-lain.
d. Kesenjangan sosial
Maksudnya adalah apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa
individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan ada jurang
pemisah antara individu yang satu dengan individu yang lain.
e. Tercemarnya lingkungan
maksudnya dengan semakin berkembangannya suatu objek wisata maka semakin
banyak pengunjung yang datang dan banyaknya sampah-sampah / bungkus-bungkus
makanan yanga dibuang sembarangan oleh pengunjung-pengunjung yang tidak
yang sehat dan bersih dan juga terhindar dari bencana-bencana alam seperti banjir dan
sebagainya.
4.7 Potensi Lain
Potensi lain yang dimiliki Kabupaten Labuhanbatu Utara yang sebenarnya sangat
mendukung pengembangan dunia kepariwisatan yang perlu di perhatiakan oleh
pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu Utara
1. Potensi sumber daya alam yang cukup menjanjikan baik potensi perkebunan,
pertanian, perikanan / kelautan, pertambangan, industri dan perdagangan dengan
produk unggulan dari hasil tanaman perkebunan kelapa sawit dan karet, yang
merupakan komoditas eksport non-migas (penyumbang devisa negara) dan
merupakan agrowisata Kabupaten Labuhanbatu Utara.
2. Letak Kabupaten Labuhanbatu Utara sangat strategis, karena berada pada jalur
lintas trans Sumatera serta berada pada lintasan jalur kereta api sehingga
mendukung pengembangan investasi baik industri maupun perdagangan dan
kepariwisataan.
3. Letak wiliayah yang berbatasan dengan Selat Malaka (perairan internasional)
sehingga sangat strategis untuk pengembangan pelabuhan bertaraf internasional,
selain potensi sumber daya alam perairan yang sangat mendukung.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Air Terjun Serdang adalah salah satu objek wisata yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sebagai salah satu objek wisata dan menjadi daya tarik wisata yang berada
di Kabupaten Labuhanbatu Utara Kecamatan Kualuh Hulu Dusun Pulo Dogom Provinsi
Sumatera Utara. Disamping memiliki panorama alam yang indah nan asri, udara yang
sejuk, juga terdapat aliran sungai yang bersih dan air terjun yang seolah terbebas dari segala
kekangannya, serta sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang kepariwisataan.
Namun masih perlu mendapatkan perhatian yang layak dari Pemerintah Kabupaten
Labuhanbatu Utara dan pihak pengelola.
Pengembangan objek wisata Air Terjun Serdang haruslah melibatkan pihak-pihak
penyelenggara tour untuk membantu memperkenalkan objek wisata ini, dengan
memasukkannya kedalam sebuah paket wisata. Disamping itu perlu juga diadakan seminar
mengenai pengembangan pariwisata dengan menitikberatkan terhadap potensi objek wisata
Air Terjun Serdang dan memperkenalkan objek wisata tersebut melalui media elektronik,
seperti iklan, video, internet, dan media cetak seperti brosur, booklet, majalah dan lain-lain.
Oleh karena itu perlu adanya kerja sama yang baik antara Pemerintah Kabupaten
Labuhanbatu Utara dengan pihak pengelola dan masyarakat setempat agar pengembangan
objek wisata Air terjun Serdang dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan
5.2 Saran
Seharusnya Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara harus turut serta dalam
mengembangkan objek wisata Air Terjun Serdang dan memberikan perhatian penuh guna
menarik wisatawan lokal maupun mancanegara ke daerah tingkat II Kabupaten
Labuhanbatu Utara. Dengan melihat potensi yang ada didalamnya, sudah tentu objek wisata
Air Terjun Serdang ini kedepannya dapat menjadi objek wisata yang unggul dan menjadi
asset pariwisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara itu sendiri. Untuk itu diharapkan kepada
pemerintah daerah setempat agar objek wisata Air Terjun Serdang ini mendapatkan
perhatian yang layak dalam pengelolaannya, agar dapat menjadi DaerahTujuan Wisata
DAFTAR PUSTAKA
BAPPEDA Labuhanbatu Utara. 2009. Strategi Perencanaan Pembangun Kabupaten
Labuhanbatu Utara. Aek Kanopan.
Direktorat Jendral Pariwisata. 1992. Himpunan Peraturan Dan Perundang-
Undangan Dalam Bidang Pariwisata. Jakarta.
Direktorat Jendral Pariwisata. 1995. Pedoman Pengembangan objek wisata. Jakarta.
.Koentjaraningrat. 1982. Kebudayaan Pengembangan Objek Wisata. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rieneka Cipta.
Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu : www.Labuhanbatu.go.id
Yoeti, Oka, A. Drs. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung : Angkasa.
Yoeti, Oka, A. Drs. 1996. Pemasaran Pariwisata. Bandung: Angkasa.