• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit Di Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit Di Kota Medan"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS CONJOINT TERHADAP PREFERENSI

KONSUMEN PRODUK MINYAK GORENG KELAPA SAWIT

DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

DELA AGUSTINA SARUMAHA 100304015

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK

Dela Agustina Sarumaha (100304015) dengan judul skrispsi “Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit di

Kota Medan”. Dibimbing oleh Bapak Ir.Luhut Sihombing,MP dan Ibu Dr.Ir. Salmiah,MS.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut

produk minyak goreng kemasan di Kota medan, untuk menganalisis urutan atribut

yang paling penting dari produk minyak goreng kemasan berdasarkan preferensi

konsumen di Kota Medan, untuk menegtahui tingkat keakuratan prediksi hasil

estimasi dengan ahsil aktual pada proses conjoint.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa preferensi konsumen berfokus pada hasil

stimuli kombinasi terbaik berdasarkan nilai kegunaan dari perhitungan yang di

dapat, dan tingkat kepentingan atribut di dalamnya. Hasil kombinasi terbaik

diperoleh yakni kombinasi kejernihan minyak yang bening, warna minyak kuning

keemasan, proses pemanasan minyak cepat panas, proses penirisan minyak cepat

tiris, kemasan dalam bentuk plastik(refill), informasi gizi jelas tertera pada produk, ukuran produk 2L, harga produk Rp.20.000-Rp.30.000, promosi diketahui

dari media elektronik dan tempat pembelian di pasar modern (minimarket).

Tingkat kepentingan konsumen terhadap atribut ditunjukkan pada tingkat

kepentingan atribut yang berpengaruh yakni warna minyak (15,75%), harga

minyak (13,30%), kemasan minyak (10,89%),tempat pembelian (10,80%), ukuran

minyak (10,37%), promosi (10,30%), kejernihan (10,05%), proses pemanasan

(6,23%), informasi gizi (6,15%) dan proses penirisan (6,12%).

(3)

RIWAYAT HIDUP

DELA AGUSTINA SARUMAHA (100304015), lahir di Onanganjang pada 6 Agustus 1992, anak pertama dari Ayah H.Sarumaha dan Ibu R.Marbun.

Pendidikan yang pernah ditempuh penulis sebagai berikut:

1. Tahun1997,masuk Taman Kanak-kanak dan lulus pada tahun 1998 dari Taman Kanak-kanak Harapan Baru, medan.

2. Tahun 1998,masuk Sekolah Dasar dan lulus pada tahun 2004 dar SD SANTO THOMAS 4 Medan.

3.Tahun 2004, masuk sekolah Menegah Pertama dan lulus pada tahun 2007 dari SMP PUTRI CAHAYA Medan.

4. Tahun 2007,masuk Sekolah Menengah Atas dan lulus pada tahun 2010 dari SMA NEGERI 4 Medan.

5. Tahun 2010, diterima di Universitas Sumatera Utara ,Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis melalui jalur PMP (Penerimaan Mahasiswa Berprestasi).

6. Bulan Juli hingga Agustus 2013, melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Rampah Estate,Kecamatan Sei Bamban,Kab.Deli Serdang.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugrah dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat meneyesaikan skripsi ini. Judul dari skripsi

ini adalah “Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak

Goreng Kelapa Sawit di Kota Medan”.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1.Bapak Ir.Luhut Sihombing,MP selaku ketua komisi pembimbing yang telah

membantu,mengarahkan dan membimbing penulis selama dalam penyelesaian

skripsi ini.

2.Ibu Dr.Ir.Salmiah,MS selaku anggota komisi pembimbing yang telah

membantu,mengarahkan dan membimbing penulis selama dalam penyelesaian

skripsi ini.

3.Ayahanda Hankelman Sarumaha dan Ibunda Romas Lumbangaol yang telah

memberikan doa dan dukungan baik secara moril maupun materiil bagi penulis

dalam menyelesaikan pendidikan di Univeritas Sumatera Utara.

4.Adik-adik tercinta Hilman Sarumaha dan Immanuel Sarumaha yang

memberikan doa dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5.Sahabat-sahabat terkasih Ollanie Bangun, Triany Siahaan, Yolanda Saulina,

Ursula Silalahi, Anne Manik,dan Sepupu terkasih Natalia Siamnjuntak, Ceriati

(5)

6. Teman-teman seperjuangan Voldo Sidauruk SP, Ezra Panggabean SP, Nusantry

Sirait SP , Johannes Munthe SP, Irwan Siregar Sp, Jona Perangin SP, Roy Sianturi

SP, Hendrik SP, Melky SP, Ester SP, Restu SP, Elisabeth SP, serta teman

seangkatan AGB’10 yang tidak disebutkan satu per satu.

7. Segenap pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah

memberikan bantuan dan dukungan selama penulis menempuh pendidikan dan

penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu

penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi

penyempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, Maret 2015

(6)

DAFTAR ISI

2.5 Hipotesis Penelitian ... 26

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian... 27

3.2 Metode Penentuan Sampel ... 27

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 28

3.4 Metode Analisis Data ... 28

3.5 Definisi dan Batasan Operasional ... 38

3.5.1Definisi Operasional ... 38

3.5.2BatasanOperasional ... 39

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 40

4.1.1 Geografis ... 40

4.1.2 Keadaan Penduduk ... 40

4.1.3 Kecamatan Medan Baru ... 41

4.1.4 Kecamatan Medan Petisah... 41

4.2 Karateristik Sampel Penelitian ... 42

4.2.1 Umur ... 42

(7)

4.2.3 Pendapatan ... 43 4.2.4 Jumlah Tanggungan ... 44

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Produk Minyak Goreng Kemasan ... 45 5.1.1 Nilai Kegunaan Pada Setiap Level Atribut Berdasarkan Preferensi Konsumen ... 48 5.2 Urutan Atribut Minyak Goreng yang Paling Penting menurut

Preferensi Konsumen ... 55 5.3 Tingkat Keakuratan Prediksi Model Hasil Conjoint ... 57 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 59

6.2 Saran ... 60

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Hal

1 Kebutuhan,Ketersediaan,Produksi dan Surplus Minyak

Goreng tahun 2010-2012

3

2.2.a Atribut dan Indikator Minyak Goreng 20

3 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Sumatera

Utara Menurut Kota Tahun 2012

26

3.4.a Atribut dan Subatribut Minyak Goreng 28

3.4.b Desain Stimuli Minyak Goreng Kemasan 30

3.4.c Pemberian Rating pada Stimuli Minyak Goreng 32

3.4.d Hasil Analisis Conjoint pada Minyak Goreng 34

4.1.2 Penduduk Menurut Kelompok dan Jenis Kelamin di

Kota Medan, Tahun 2013

39

4.2.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur 41

4.2.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan 42

4.2.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan 43

4.2.4 Distribusi Responden Berdasarkan Tanggungan 43

5.1.1 Nilai Kegunaan Pada Setiap Level Atribut Berdasarkan

Preferensi Konsumen

48

5.2 Nilai Kepentingan Atribut Minyak Goreng 54

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Hal

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Lampiran

1 Karakteristik Konsumen 1

2 Pengisian Rating oleh Konsumen Minyak

Goreng

2

3 Hasil SPSS 17 dengan Proses Conjoint 3

(11)

ABSTRAK

Dela Agustina Sarumaha (100304015) dengan judul skrispsi “Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit di

Kota Medan”. Dibimbing oleh Bapak Ir.Luhut Sihombing,MP dan Ibu Dr.Ir. Salmiah,MS.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut

produk minyak goreng kemasan di Kota medan, untuk menganalisis urutan atribut

yang paling penting dari produk minyak goreng kemasan berdasarkan preferensi

konsumen di Kota Medan, untuk menegtahui tingkat keakuratan prediksi hasil

estimasi dengan ahsil aktual pada proses conjoint.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa preferensi konsumen berfokus pada hasil

stimuli kombinasi terbaik berdasarkan nilai kegunaan dari perhitungan yang di

dapat, dan tingkat kepentingan atribut di dalamnya. Hasil kombinasi terbaik

diperoleh yakni kombinasi kejernihan minyak yang bening, warna minyak kuning

keemasan, proses pemanasan minyak cepat panas, proses penirisan minyak cepat

tiris, kemasan dalam bentuk plastik(refill), informasi gizi jelas tertera pada produk, ukuran produk 2L, harga produk Rp.20.000-Rp.30.000, promosi diketahui

dari media elektronik dan tempat pembelian di pasar modern (minimarket).

Tingkat kepentingan konsumen terhadap atribut ditunjukkan pada tingkat

kepentingan atribut yang berpengaruh yakni warna minyak (15,75%), harga

minyak (13,30%), kemasan minyak (10,89%),tempat pembelian (10,80%), ukuran

minyak (10,37%), promosi (10,30%), kejernihan (10,05%), proses pemanasan

(6,23%), informasi gizi (6,15%) dan proses penirisan (6,12%).

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok yang penting

bagi masyarakat Indonesia. Minyak goreng dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan

masyarakat. Minyak goreng juga merupakan salah satu produk kebutuhan rumah

tangga yang digunakan untuk memasak. Oleh karena itu, minyak goreng

dikategorikan sebagai komoditas yang cukup strategis. Peningkatan kebutuhan

dalam mengkonsumsi makanan akan cenderung meningkatkan permintaan produk

minyak goreng. Sebagian besar permintaan terhadap minyak goreng ialah untuk

konsumsi rumah tangga.

Pada saat ini minyak goreng kelapa sawit dipasarkan dalam dua bentuk, yaitu

secara curah dan kemasan (bermerek) tertentu. Minyak goreng curah dan minyak

goreng bermerek merupakan hasil dari proses industri namun memiliki perbedaan

dari segi kualitas. Perbedaan dari segi kualitas ini diakibatkan dari perbedaan

tahapan proses produksi dalam pembuatannya. Minyak goreng curah hanya

melalui 1 kali proses penyaringan, berwarna kuning keruh, dan didistribusikan

dalam bentuk non kemasan. Sementara minyak goreng bermerek melalui 3-4

proses penyaringan, berwarna kuning jernih, dan dikemas dengan label atau

merek tertentu. Perbedaan dalam proses produksi juga mengakibatkan kandungan

kadar lemak dan asam oleat pada minyak goreng curah juga lebih tinggi

dibandingkan minyak goreng bermerek yang mengakibatkan dampak yangkurang

(13)

Seiring dengan makin tingginya tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi

masyarakat, peralihan pola konsumsi dari minyak goreng curah ke minyak goreng

bermerek pun semakin besar. Minyak goreng yang dikemas dalam botol atau

plastik dianggap lebih bersih dan higienis oleh masyarakat daripada minyak

goreng yang dijual eceran oleh pedagang keliling yang ditempatkan di dalam

jerigen dan drum. Hal ini semakin membuka lebar peluang pasar bagi industri

minyak goreng bermerek, mengingat pula bahwa minyak goreng merupakan

bahan pokok kebutuhan sehari-hari sehingga tentunya hampir seluruh masyarakat

mengkonsumsinya.

Konsumen dalam menentukan pilihannya terhadap produk-produk tertentu terlihat

dari sikapnya terhadap produk itu sendiri. Sikap konsumen merupakan komponen

penting dalam perilaku pembelian. Perilaku konsumen berhubungan dengan

alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dari

barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan

pribadi. Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan

dengan konsumsi dari individu (Hanna, 2001) .

Dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli, konsumen hanya

mempunyai bekal informasi yang diberikan oleh produsen sehingga persepsi

konsumen terhadap produk sangat dikendalikan oleh produsen. Oleh karena itu,

keputusan untuk mengkonsumsi minyak goreng pada saat ini, masih

mengandalkan pada kecermatan konsumen sehingga perlu diketahui bagaimana

proses keputusan pembelian konsumen dalam membeli minyak goreng bermerek.

Di lain pihak, konsumen harus mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat

(14)

Tabel 1. Kebutuhan, Ketersediaan, Produksi ,Dan Surplus Minyak Goreng Tahun 2010-2012

Tahun Kebutuhan

(Ton)

Ketersediaan (Ton) Produksi (Ton) Surplus

(Ton)

2010 126.522 2.296.710 2.186.044 2.170.188

2011 183.828 387.704 2.281.020 203.876

2012 183.828 964.758 2.509.122 780.930

Jumlah 494.178 3.649.172 6.976.186 3.154.994

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara 2012

Tabel 1 menunjukkan besarnya permintaan terhadap minyak goreng dilihat dari

jumlah konsumsi atau kebutuhan terhadap minyak goreng di Provinsi Sumatera

Utara dari tahun 2010 hingga 2012, menunjukkan terjadi peningkatan kebutuhan

minyak goreng dari tahun 2010 hingga 2012 sebesar 57.306 ton .

Peningkatan kebutuhan permintaan akan minyak goreng tentunya akan

mengakibatkan peningkatan dari sisi produksi. Dimana pada tahun 2010 hingga

tahun 2011 terjadi peningkatan produksi minyak goreng sebesar 94.976 ton. Hal

yang sama juga terjadi pada tahun 2011 hingga tahun 2012 dimana terjadi

peningkatan produksi minyak goreng sebesar 228.102. Hal ini menujukkan bahwa

provinsi Sumatera Utara memiliki potensi yang cukup besar dalam memproduksi

minyak goreng sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan minyak goreng yang

cenderung meningkat tiap tahunnya.

Menurut Komalasari (2010), produk yang menarik dapat diartikan sebagai produk yang memberikan keterangan, mempengaruhi serta menyakinkan konsumen

(15)

khalayak untuk menggunakan produk tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut

suatu produk harus dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian

konsumen yang melihat produk tersebut, maka dengan sendirinya ia akan

berusaha untuk mengerti atau memahami produk yang dimaksud. Akan tetapi,

untuk melakukan pembelian tentu saja konsumen tidak membeli hanya karena

satu atribut saja, melainkan oleh beberapa kombinasi atribut. Oleh sebab itu

produsen harus mengetahui atribut dan kombinasi atribut yang mempengaruhi

keputusan konsumen dalam membeli produknya.

Oleh karena itu, peneliti ingin mengidentifikasi tentang preferensi konsumen

terhadap minyak goreng berdasarkan atributnya. Dengan mengetahui kombinasi

atribut minyak goreng yang dipilih kosumen dapat membantu untuk

mengembangkan minyak goreng kemasan yang sesuai dengan preferensi

konsumen tersebut.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1) Bagaimana preferensi konsumen terhadap atribut produk minyak goreng

kemasan di Kota Medan?

2) Bagaimana urutan atribut dari minyak goreng kemasan yang paling penting

menurut preferensi konsumen di Kota Medan?

(16)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan identifikasi masalah diatas maka tujuan penelitian adalah :

1) Untuk menganalisis perferensi konsumen terhadap atribut produk minyak

goreng kemasan di Kota Medan.

2) Untuk menganalisis urutan atribut yang paling penting dari produk minyak

goreng kemasan berdasarkan preferensi konsumen di Kota Medan.

3) Untuk mengetahui tingkat keakuratan prediksi antara hasil estimasi dengan

hasil aktual pada proses conjoint.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah :

1) Bagi perusahaan sebagai masukan informasi. Melalui penelitian ini produsen

akan memperoleh masukan khususnya untuk rencana pemasaran guna

meningkatkan kepuasan konsumen serta mencapi target pasar.

2) Sebagai bahan informasi, wawasan dan pengetahuan, serta bahan bagi

penelitian selanjutnya.

3) Sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA,LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Minyak Goreng

Minyak goreng merupakan bahan pokok yang penting bagi masyarakat Indonesia.

Konsumsi minyak goreng masyarakat terbagi dalam dua kategori yaitu minyak

goreng curah dan kemasan. Minyak goreng curah ialah minyak yang tidak

memiliki merek dan diukur dalam satuan massa (Kg). Minyak goreng kemasan

adalah minyak goreng yang diberi merek dan dikemas dalam botol, plastik,

refilldan jerigen. Minyak goreng kemasan diukur dalam satuan volume (liter). Pada umumnya minyak goreng yang beredar di Indonesia berasal dari kelapa

sawit (Irvani, 2008).

Minyak goreng dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia, baik

yang berada di pedesaan maupun perkotaan. Oleh karena itu, minyak goreng dapat

pula dikategorikan sebagai komoditas yang strategis, karena pengalaman ini

menunjukkan bahwa kelangkaan minyak goreng dapat menimbulkan dampak

ekonomis dan politis yang cukup berarti bagi perekonomian kita.

Peningkatan kebutuhan manusia dalam mengkonsumsi makanan akan cenderung

meningkatkan permintaan produk minyak goreng. Banyaknya produk minyak

goreng yang beredar dipasar seperti Bimoli, Sania, Sunco, Filma dan Fortune

dengan karateristik dan keunggulan masing-masing mulai dari warna, kejernihan,

kemasan, kandungan gizi, ukuran kemasan dan lain sebagainya semakin memacu

(18)

mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasarnya agar jangan diambil alih

oleh perusahaan lain.

Dan sebagaimana diketahui bahwa minyak goreng memiliki kandungan lemak

yang tinggi sehingga konsumsinya cenderung dibatasi atau bahkan dikurangi.

Semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga, semakin besar pula peluang untuk

menggantikan minyak goreng yang mengandung lemak atau minyak goreng curah

dengan minyak goreng yang lebih baik mutu kesehatannya yaitu minyak goreng

kemasan yang pada umumnya lebih mahal (Irvani, 2008).

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen

Perilaku konsumen merupakan studi tentang cara individu, kelompok, dan

organisasi menyeleksi, membeli, menggunakan, dan mendisposisikan barang,

jasa, gagasan atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan

mereka. Studi konsumen memberikan petunjuk untuk memperbaiki dan

memperkenalkan produk atau jasa, menetapkan harga, merencanakan saluran,

menyusun pesan, dan mengembangkan kegiatan pemasaran lain (Kotler,2007).

Oleh sebab itulah memahami perilaku konsumen dan mengenal kebutuhan dan

keinginan mereka sangatlah penting. Produsen harus mengetahui kebutuhan dan

keinginan konsumennya. Dengan mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen

terhadap sebuah produk, maka produsen dapat mempengaruhi- konsumen agar

mereka dapat membeli produknya, pada saat mereka membutuhkannya.

Produk sebagai barang dan jasa yang terdiri dari atribut-atribut termasuk kemasan,

warna, harga,kualitas, dan merek ditambah pelayanan dan reputasi penjual, yang

(19)

digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan

konsumen.

Diferensiasi produk adalah statu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam

memenangkan persaingan di pasar dengan menetapkan sekumpulan

perbedaan-perbedaan yang berarti pada produk yang ditawarkan (kemasan produk, harga

produk, merek produk) untuk membedakan produk perusahaan dengan produk

pesaingnya, sehingga dapat dipandang atau dipersepsikan konsumen bahwa

produk tersebut mempunyai nilai tambah yang diharapkan oleh

konsumen.Perusahaan juga harus dapat mendiferensiasikan produknya agar dapat

menghadapi persaingan yang semakin ketat diantara perusahaan-perusahaan yang

memproduksi barang sejenis.

Variabel utama diferensiasi produk menurut (Kotler, 2007) adalah sebagai

berikut:

1. Bentuk (Form)

Produk bisa dideferensiasikan dalam bentuk, ukuran atau struktur fisik produk.

2. Keistimewaan/fungsi (Feature)

Produk dapat ditawarkan dengan beberapa keistimewaan, karakteristik yang

melengkapi fungsi dasar produk.

3. Kualitas kinerja (Performance Quality)

Kualitas kinerja mengacu pada tingkat dimana karakteristik produk itu

beroperasi.Yang ditetapkan sebagai satu dari empat tingkatan koalitas; rendah,

(20)

4. Kualitas kesesuaian (Conformance Quality)

Kualitas kesesuain mengacu pada tingkat dimana semua unit yang diproduksi

identik dan memenuhi spesifikasi sasaran yang dijanjikan.

5. Daya tahan (Durability)

Adalah suatu ukuran usia operasi produk yang diharapkan dalam kondisi normal

dan atau berat, yang menjadikan atribut bernilai bagi beberapa produk.

6. Keandalan (Reliability)

Adalah ukuran kemungkinan suatu produk tidak akan rusak atau gagal dalam

suatu periode waktu tertentu.

7. Mudah diperbaiki (Repairability)

Adalah ukuran kemudahan memperbaiki suatu produk yang rusak atau gagal.

8. Gaya (Style)

Menggambarkan penampilan dan perasaan produk itu bagi pembeli.Gaya meiliki

keunggulan kompetitif yang sukar ditiru. Disisi negatif, gaya yang menarik tidak

selalu menciptakan kinerja yang tinggi.

9. Rancangan (Design)

Adalah totalitas dari keistimewaan yang mempengaruhi cara penampilan dan

fungsi suatu produk dalam hal kebutuhan pelanggan. Dengan semakin ketatnya

persaingan, rancangan akan menjadi salah satu cara yang paling ampuh untuk

mendiferensiasikan.

Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan

manfaat yang dicarinya. Atribut produk dapat menjadi penilaian tersendiri bagi

konsumen terhadap suatu produk.Terdapat karateristik pembeli, dimana seorang

(21)

sehingga konsumen mendapatkan manfaat dari pemilihan produk yang dibeli.

Karateristik pembeli tadi dapat disebut sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku konsumen dalam melakukan pembelian sebagai berikut :

Faktor budaya

a. Budaya adalah penyebab keinginan dan perilaku seseorang yang paling dasar.

Perilaku manusia dipelajari secara luas, tumbuh didalam satu masyarakat,

seorang anak mempelajari nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku

dari keluarga dan institusi lainnya. Setiap kelompok masyarakat mempunyai

budaya, dan pengaruh budaya pada perilaku pembelian bisa sangat bervariasi

dari negara yang satu dengan negara lain.

b. Subbudaya merupakan bagian budaya yang paling kecil atau kelompok orang

yang berbagi sistem nilai yang berdasarkan pengalaman hidup dan situasi

umum. Meliputi kebangsaan, agama, kelompok ras dan daerah geografis.

c. Kelas sosial merupakan pembagian masyarakat yang relatif permanen dan

berjenjang dimana anggotanya berbagi nilai, minat dan perilaku. Kelas sosial

tidak hanya ditentukan oleh satu faktor seperti pendapatan, tetapi diukur

sebagai kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan dan kekayaan variabel

lain.

Faktor sosial

a. Kelompok acuan

Seorang indiividu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi

perilaku seseorang. Perilaku seseorang dipengaruhi kelompok kecil. Kelompok

yang mempengaruhi langsung dan tempat dimana seseorang menjadi

(22)

sebagai titik perbandingan atau tidak langsung dalam membentuk sikap atau

perilaku seseorang.

b. Keluarga

Keluarga ialah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam

masyarakat dan para anggota keluarga menjadi kelompok acuan primer yang

paling berpengaruh. Keluarga adalah organiasi pembelian konsumen yang

paling penting dalam masyarakat dan teliti secara ekstensif. Pemasar tertarik

pada peran suami, istri, serta anaka-anak dalam pembelian barang dan jasa

yang berbeda.

c. Status

Posisi seseorang dalam masing-masing kelompok didefinisikan dalam peran

dan status. Peran terdiri dari kegiatan yang diharapkan dilakukan seseorang

sesuai dengan orang-orang disekitarnya. Masing-masing peran membawa

status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan kepadanya oleh

masyarakat. Orang biasanya memilih produk sesuai dengan peran dan status

mereka.

Faktor pribadi

a. Usia

Memahami usia konsumen adalah penting, karena konsumen yang berbeda usia

akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda. Perbedaan usia juga akan

mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap merek. Dari sisi

(23)

b. Pekerjaan

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang mereka beli.

Pemasar, berusaha mengidentifikasi kelompok pekerjaan yang mempunyai

minat di atas rata-rata pada produk dan jasa mereka.

c. Gaya Hidup

Pola kehidupan sesorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dna

opini orang tersebut. Orang-orang yangd atang dari kebudayaan, kelas sosial,

dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yag berbeda

(Kotler, 2007).

Faktor psikologis

a. Motivasi

Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan sesorang untuk mencari

kepuasaan dari kebutuhan. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hirarki,

dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak. Ketika kebutuhan

yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti

menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemjudian mencoba untuk

memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya.

b. Persepsi

Dimana seseorang dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, dan

menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti.

Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari

(24)

c. Pembelajaran

Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang

timbul dari pengalaman. Pembelajaran terajdi melalui interaksi dorongan,

rangsangan pertanda, respons dan penguatan.

d. Keyakinan dan Sikap

Keyakinan ialah pemikiran deskriptif yang dimiliki seeorang tentang sesuatu.

Keyakinan bisa didasarkan pada pengetahuan nyata, pendapat atau iman yang

bisa membawa muatan emosi atau tidak. Keyakinan akan membentuk citra

produk dan merek yang memepengaruhi perilaku pembelian.

Selain faktor internal juga terdapat faktor eksternal yang menimbulkan persepsi

konsumen yaitu faktor stimulis pemasaran yang terdiri atas produk, harga,

distribusi dan promosi. Faktor eksternal dan internal ini kemudian menimbulkan

dua persepsi konsumen. Kedua persepsi ini sangat mempengaruhi konsumen

dalam membuat keputusan membeli produk berdasarkan selera mereka

(Umar, 2000).

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Konsumen

Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh

beberapa faktor, diantaranya: pendapatan, selera konsumen, dan harga barang,

disaat kondisi yang lain tidak berubah (ceteris paribus). Perilaku konsumen ini didasarkan pada teori perilaku konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang

dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa

(25)

Teori perilaku konsumen yaitu teori yang menjelaskan tindakan konsumen dalam

mengkonsumsi barang-barang,dengan pendapatan tertentu dan harga barang

tertentu pula sedemikian rupa agar konsumen mencapai tujuannya.Tujuan

konsumen untuk memperoleh manfaat atau kepuasan sebesar-besarnya dari

barang-barang yang dikonsumsi (maximum satisfaction). Danteori ekonomi menganggap bahwa maximum satisfaction itu adalah tujuan akhir konsumen.

Beberapa anggapan - anggapan sederhana yang biasa menjadi patokan untuk

menganalisa pembentukan garis permintaan dari suatu barang secara lebih tepat,

tanpa menyimpang dari realitas ekonomi:

1.Barang dan jasa yang dikonsumsi biasanya disebut komoditi. Komoditi adalah

sesuatu yang memberikan jasa konsumsi terhadap konsumen persatuanwaktu

tertentu.

2.Setiap konsumen dianggap tahu macam barang dan jasa yang tersedia di pasar,

kapasitasteknis masing - masing barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan

konsumen dan tingkat harga masing - masing.

3. Konsumen dianggap tahu secara pasti mengenai jumlah uang yang akan

dibelanjakanya selama periode perencanaan tertentu.

Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam macam pendekatan yaitu:

1. Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal :

Pendekatan nilai guna (Utility) kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen

dapat dinyatakan secara kuantitif/dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen

dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat

(26)

berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya.

Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan

kuantitatif.

Para ahli ekonomi mempercayai bahwa utility merupakan ukuran kebahagian.

Utility dianggap bahwa ukuraan kemampauan barang / jasa untuk memuaskan kebutuhan. Besar kecilnya utility yang dicapai konsumen tergantung dari jenis barang atau jasa dan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi.

2.Pendekatan nilai guna ordinal:

Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis kurva indeference: manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak

dapat diukur. Pendekatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan

yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal

tidak memiliki kelebihan.

3.Persamaan kardinal dan ordinal

Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan

konsumendalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan

pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya

(maximum utility) .

Konsumen melakukan kegiatan pembelian untuk memenuhi kebutuhannya.

Konsumen akan memenuhi semua yang diperlukan oleh tubuhnya sehingga tidak

akan kekurangan apapun, karna tubuh yang sehat akan memudahkan dalam

beraktifitas. Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau

(27)

dalam diri. Apabila konsumen kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan

menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi,

konsumen akan memperlihatkan perilaku yang senang sebagai rasa puasnya.

Menurut Sumarwan (2004) menyatakan bahwa perilaku konsumen diartikan

sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen untuk mencari, membeli,

menggunakan, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan

memuaskan kebutuhan mereka.

Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi

pemilihan, pembelian, penggunaan akan barang dan jasa yang bertujuan untuk

memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.Perilaku konsumen menitikberatkan

pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu (Hanna, 2001).

2.2.2 Pemasaran

Menurut Kotler (2007), pemasaran adalah proses sosial (individu dan kelompok)

untukmendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,

menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan

pihak lain. Sedangkan bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang

digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di

pasar sasaran.

Sebagai jantung marketing, bauran pemasaran minimal mencakup empat hal : - Produk dan jasa yang dihasilkan

- Harga yang ditawarkan untuk sebuah produk yang dihasilkan

- Strategi promosi yang ditempuh dapat meningkatkan awareness atas barang/jasa yang dihasilkan ditengah-tengah persaingan.

(28)

Untuk itu, strategi bauran pemasaran dirumuskan minimal mencakup empat hal di

atas.

a. Bauran Produk

Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan,

diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan

kebutuhan/keinginan pasar yang bersangkutan.

b. Bauran Harga

Harga adalah satuan lain (termasuk barang dan jasa) yang ditukarkan agar

memperoleh hak kepemilikan/penggunaan suatu barang/jasa.

c. Bauran Promosi

Promosiadalah aktivasi pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,

mempengaruhi/membujuk, dan mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan

dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang

ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.

d. Bauran Distribusi

Distribusi adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan

mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen ke

konsumensehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis,

jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan).

2.2.3Analisis Conjoint

Analisis Conjoint ialah teknik yang digunakan secara khusus untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap suatu produk atau jasa dan untuk

membantu mendapatkan kombinasi atau komposisi atribut-atribut suatu produk

(29)

merupakan elemen-elemen yang terdapat pada suatu produk yang berfungsi

menjelaskan karakter produk tersebut (Hair et al, 2006).

Dalam pemasaran, analisis conjoint merupakan teknik yang sangat baik untuk

menjawab dua pertanyaan. Pertama, bagaimana tingkat kepentingan sekumpulan

atribut merek? Kedua, dalam pengembangan produk baru, model produk mana

yang paling disukai konsumen?Analisis conjoint tergolong metode tidak langsung (Indirect methode). Kesimpulan diambil berdasarkan respon subjek terhadap perubahan sejumlah atribut. Karena itu, perlu dipastikan terlebuh dahulu apa saja

atribut suatu produk atau merek (Simamora, 2005).

Model Analisis Conjoint

Dimana:

U(X) = keseluruhan utilitas dari alternatif

aij = j = 1,2 ki dari i atribut ( 1 = 1,2....m)

ki = no level pada atribut i

m = no atribut

Xij = 1 apabila level j dari atribut ; dan 0 kalau tidak dipilih.

Pentingnya atribut dinyatakan dalam:

Ii = {max(aij) – min(aij)}, untuk masing – masing i

Pentingnya atribut ini dinormalkan dalam kaitannya dengan kepentingan relatif

dengan atribut yang lain:

Wi=

Sehingga,

(30)

Model yang digunakan adalah :

U = bo+b1X1 +b2X2+ b3X3+ b4X4+ b5X5+ b6X6

Dimana :

X1, X2 = variabel dummy untuk atribut 1

X3,X4 = variabel dummy untuk atribut 2

X5,X6 = variabel dummy untuk atribut 3

Pada bidang pemasaran, analisis ini banyak digunakan untuk mengetahui

preferensi konsumen akan produk baru atau desain produk. Jadi, pada dasarnya

tujuan analisis conjoint adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi seseorang terhadap suatu objek yang terdiri dari atas satu/banyak bagian. Hasil utama

conjoint analysisadalah suatu bentuk (desain) produk barang / jasa / objek tertentu yang diinginkan oleh sebagian besar responden (Santoso, 2012).

Proses dasar conjoint analysis:

1. Menentukan Perancangan Atribut dan Level

Menentukan faktor sebagai atribut spesifik kemudian level sebagai bagian-dari

faktor sebuah objek. Dalam analisis ini, perancangan atribut yang berpengaruh

merupakan bagian dari mengidentifikasi atribut dengan tingkatan, masing-masing

dipergunakan untuk membuat stimuli.

(31)

No. Bauran Atribut Subatribut

4. Distribusi Tempat 1. Pasar Tradisional

2. Pasar Modern

Sumber : Data Diolah (2014)

2. Mendesain Stimuli

Kombinasi antara faktor dengan level disebut satu stimuli. Dalam penelitian ini

bentuk stimuli yang bisa dibentuk yaitu warna ,kejernihan, variasi ukuran produk,

kandungan gizi, kemasan, harga, informasi dan promosi ,dan tempat.

Kemungkinan stimuli dari atribut dan level di penelitian preferensi konsumen

minyak goreng yaitu 2x2x2x2x3x2x3x3x3x2 = 5184 stimuli. Ada dua cara

merancang kombinasi taraf atribut yaitu pendekatan kombinasi berpasangan dan

(32)

karena jumlah stimuli terlalu banyak untuk dievaluasi oleh responden maka

digunakan teknikfractional factorial designmelalui konsep SPSS untuk membantu mereduksi stimuli dari 5184 kemungkinan stimuli tersebut agar tidak semua

kombinasi harus dianalisis lebih lanjut.

3. Mengumpulkan pendapat responden terhadap setiap stimuli yang ada.

Responden akan memberikan rating terhadap stimuliyang ada. Penilaian rating menggunakan skala ordinal yang terukur berupa skala likert dengan angka 1= sangat tidak suka sekali, 2 = tidak suka sekali, 3 = cukup suka, 4 = suka sekali, 5

= sangat suka sekali. Dari stimuli yang terbentuk, proses kemudian dilanjutkan

dengan proses conjoint . Pendapat setiap responden ini disebut sebagai utilityyang dinyatakan dengan angka dan menjadi dasar perhitungan conjoint.

4. Melakukan proses conjoint dengan masukan data yang ada

Dari pendapat responden atas sekian stimuli yang telah dikumpulkan dilakukan

proses conjoint dengan bantuan perangkat lunak SPSS untuk memprediksi kombinasi atribut produk minyak goreng yang diinginkan responden. Output yang

dihasilkan dari proses analisis conjoint berupa nilai utility dan nilai kepentingan. Nilai utility merupakan nilai yang menunjukkan kecenderungan pemilihan konsumen terhadap kombinasi stimuli yang disukai. Nilai kepentingan merupakan

nilai yang menunjukkan atribut produk minyak goreng yang paling penting

sehingga mendasari konsumen untuk membeli minyak goreng.

5. Uji Keakuratan

(33)

yang sebenarnya. Tingkat uji keakuratan dicerminkan dengan adanya korelasi

yang tinggi dan siginifikan antara hasil estimasi dengan aktual. Sementara itu

untuk menguji hasil conjoint dilakukan dengan sejumlah holdout samplesebagai penguji hasil apakah proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi.

Secara teoritis jumlah stimuli akan sangat banyak jika faktor dan level juga

bervariasi. Untuk jumlah stimuli yang terlalu banyak bisa dilakukan pengurangan

stimuli dengan ketentuan stimuli minimal :

Asumsi pada analisis conjoint berbeda dengan analisis multivariat lainnya, proses

conjoint tidak membutuhkan uji asumsi seperti normalitas, homoskedastisitas, dan lainnya (Santoso, 2012) .

Dalam evaluasi model, hasil analisis conjoint ini untuk akurasi baik individu maupun agregat. Tujuan keduanya ialah memastikan seberapa konsisten model

memprediksi preferensi yang diberikan responden. Untuk memeriksa kecocokan

model keseluruhan dapat digunakan nilai korelasinya. Semakin tinggi korelasinya

semakin cocok atau semakin baik modelnya. Untuk data ranking dilihat korelasi

antara ranking aktual dan prediksi dengan Taun Kendall, sedangkan data rating

digunakan korelasi Pearson (Hair,et al, 2006).

2.3 Penelitian Terdahulu

Resmawati (2013) dimana penelitiannya berjudul “Analisis Preferensi Konsumen

terhadap Produk Susu Berbasis Analisis Conjoint” menggunakan Metode

(34)

preferensi konsumen terhadap kombinasi atribut produk susu khusus untuk umur

remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis conjoint

dengan menggunakan pairwise-comparison sebagai metode presentasinya. Atribut yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis susu, rasa, kemasan dan

kandungan lemak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemasan merupakan

atribut terpenting dibandingkan dengan atribut lainnya dengan nilai relaltive importance sebesar 56,13%. Atribut terpenting kedua yaitu rasa susu dengan nilai

relaltive importance 38,55%. Kandungan lemak menempati rangking ketiga dengan nilai relaltive importance sebesar 4,28%, dan jenis susu sebagai atribut keempat dengan relaltive importance nilai sebesar 1,05%. Selain itu, stimuli yang diinginkan konsumen untuk produk susu khusus umur remaja adalah jenis susu

kental, rasa coklat, kemasan kaleng, dan kandungan lemak non fat.

2.4 Kerangka Pemikiran

Dalam melakukan keputusan pembelian minyak goreng, konsumen dihadapkan

pada preferensi terhadap produk minyak goreng yang akan dibeli. Pada produk

minyak goreng kemasan terdapat karateristik yang dalam penelitian ini disebut

dengan atribut minyak goreng. Atribut yang didefinisikan mempengaruhi

preferensi konsumen dari warna, kejernihan, cepat panas, cepat tiris, kemasan,

informasi gizi, ukuran produk, harga, promosi, dan lokasi. Dalam memasarkan

produk minyak goreng kemasan ini produsen harus mengetahui preferensi

konsumen yang menjadi kebutuhan konsumen sehingga konsumen membeli

produknya. Dan preferensi konsumen pada minyak goreng ini menggunakan

(35)

dipilih kosumen dapat membantu untuk mengembangkan minyak goreng kemasan

(36)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Pengaruh

Hubungan

2.4Hipotesis

MINYAK GORENG KEMASAN

ATRIBUT POSITIF ATRIBUT NORMATIF

ATRIBUT :

Warna,Kejernihan, Pemanasan, Penirisan, Kemasan, Informasi Gizi, Ukuran, Harga,Informasi dan Promosi,dan Tempat.

Analisis Conjoint Preferensi Konsumen

(37)

Berdasarkan landasan teori dari penelitian ini, maka dapat dibuat hipotesis sebagai

berikut :

1. Ada hubungan yang kuat antara antara hasil conjoint dengan preferensi konsumen,didasari bahwa hasil utama conjoint analysis adalah suatu bentuk (desain) suatu produk tertentu yang diinginkan secara teoritis oleh sebagian

besar konsumen dan dilihat dari setiap atribut-atribut yang dipertimbangkan

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian

Daerah penelitian ditentukan secara purposive,artinya daerah penelitian ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu disesuaikan dengan

tujuan penelitian (Arikunto,2010). Dengan pertimbangan bahwa Kota Medan

merupakan salah satu kota yang jumlah penduduknya paling besar dibandingkan

dengan daerah lain di Sumatera Utara .

Tabel 3.Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Sumatera Utara Menurut Kota Tahun 2012

Sumber : BPS, Provinsi Sumatera Utara 2012

3.2 Metode Pengambilan Sampel

Metode pengukuran sampel yang dilakukan di daerah penelitian ini adalah

purposive sampling yaitu dengan memilih konsumen yang membeli produk minyak goreng kemasan di lokasi penelitian. Metode yang digunakan dalam

pengambilan sampel adalah metode Accidentalyaitu metode pengambilan sampel

(39)

Menurut Hair,et al(2006) dalam analisis conjoint ukuran sampel yang dipertimbangkan berkisar antara 50-200 yang dianggap sudah cukup memadai.

Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 50

responden yang dianggap telah mewakili populasi konsumen minyak goreng di

Kota Medan.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.

Data primer diperoleh secara langsung melalui wawancara kepada responden

dengan menggunakan kuisioner. Sampel yang digunakan adalah konsumen yang

membeli minyak goreng kemasan di Kota Medan Sedangkan data sekunder

didapat dari instansi terkait yaitu seperti dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan

Badan Ketahanan Pangan berupa data produksi minyak goreng di Sumatera Utara.

3.4 Metode Analisis Data

Analisis conjoint yangmerupakan teknik yang digunakan untuk mengetahui bagaimana preferensi konsumen terhadap barang atau jasa. Analisis didasarkan

pada pemikiran kosumen dalam mengevaluasi nilai dari sebuah objek terhadap

kombinasi atributnya masing-masing (Hair, et al, 2006).

Pada dasarnya tujuan analisis conjoint adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi seseorang terhadap suatu objek yang terdiri dari atas satu/banyak bagian.

(40)

Proses dasar conjoint analysis:

1. Menentukan Perancangan Atribut dan Level

Menentukan faktor sebagai atribut spesifik kemudian level sebagai bagian-dari

faktor sebuah objek. Dalam analisis ini, perancangan atribut yang berpengaruh

merupakan bagian dari mengidentifikasi atribut dengan tingkatan, masing-masing

dipergunakan untuk membuat stimuli.

Tabel 3.4.a Atribut dan Subatribut Minyak Goreng

No. Bauran Atribut Subatribut

1. Produk Warna

4. Distribusi Tempat 1. Pasar Tradisional

2. Pasar Modern

Dari atribut dan subatribut yang telah dibuat diperoleh jumlah atribut Minyak

(41)

2. Mendesain Stimuli

Kombinasi antara faktor dengan level disebut satu stimuli. Dalam penelitian ini

bentuk stimuli yang bisa dibentuk yaitu merek, warna , variasi ukuran produk,

kandungan gizi, tanggal kadaluarsa, harga, informasi dan promosi ,dan

kemudahan didapat. Kemungkinan stimuli dari atribut dan level di penelitian

preferensi konsumen minyak goreng yaitu 2x2x2x2x3x2x3x3x3x2 = 5184 stimuli.

Dalam penelitian ini,menggunakan metode full-profileyang mengevaluasi banyak faktor. Pada pengukuran ini untuk memudahkan responden dalam mengevaluasi

semua stimuli digunakan fractional factorial design yang merupakan teknik untuk mereduksi jumlah stimuli dimana diperoleh stimuli yang hanya mengukur efek

utamanya (Rosada,2012).

Dengan memakai prosedur orthogonal pada SPSS 17.0 maka stimuli yang berjumlah 5.184 tadi disederhanakan jumlahnya agar tidak semua kombinasi

(42)

3. Mengumpulkan pendapat responden terhadap setiap stimuli yang ada.

Responden akan memberikan rating terhadap stimuliyang ada. Penilaian rating menggunakan skala ordinal yang terukur berupa skala likert dengan angka 1= sangat tidak suka sekali, 2 = tidak suka sekali, 3 = cukup suka, 4 = suka sekali, 5

= sangat suka sekali. Dari stimuli yang terbentuk, proses kemudian dilanjutkan

(43)

Rating diisi oleh konsumen minyak goreng kemasan yang menjadi responden

dalam penelitian ini dan ditulis sesuai dengan selera mereka masing –masing

dengan menggunakan skala likert dari nilai 1- 5. Dari hasil penelitian terhadap

stimuli tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses conjoint .

4. Melakukan proses conjoint dengan masukan data yang ada

Hasil penilaian rating oleh responden diolah dengan analisis conjoint dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis conjoint secara keseluruhan dilihat dari overall statistic pada SPSS subfile summary. Hasil analisis ini diperoleh untuk memperkirakan atribut minyak goreng kemasan yang diinginkan oleh

responden berdasarkan penilaian terhadap stimuli tersebut yang disertakan dalam

kuisioner sebelumnya.

5. Hasil Analisis

Output yang dihasilkan dari proses analisis conjoint berupa nilai utility yaitu suatu perbandingan antara nilai kegunaan dengan tiap-tiap taraf atributnya, importance values yaitu suatu nilai perbandingan antara nilai kepentingan dengan tiap-tiap atribut minyak goreng kemasan serta nilai korelasi Pearson dan Kendall’s Tau

untuk mengetahui seberapa tinggi predictive accuracy-nya.

Interpretasi hasilnya adalah untuk nilai utility, yaitu nilai yang paling besar menjadi kombinasi stimuli yang disukai oleh konsumen. Untuk nilai kepentingan

(importance values) yaitu nilai yang terbesar menunjukkan atribut minyak goreng kemasan yang paling penting serta untuk uji keakuratan dilihat dari korelasi

(44)

H0 : tidak adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi

aktual atau tidak ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint.

H1 : adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan perferensi aktual

atau ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint. Sign. < 0,05 maka H0ditolak

Sign. > 0,05 maka H0 diterima

(Santoso, 2012).

Tabel 3.4.d Hasil Analisis Conjoint pada Minyak Goreng

No. Atribut Level/Taraf Nilai Kegunaan (Utility values)

6. Informasi Gizi Lengkap Jelas

10. Tempat Pasar Tradisional

Pasar Modern

-a1 -a2

b10

Jika sign < 0,05 maka predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.

(45)

penguji hasil yang didapat nanti, jika nilai signifikansi 0,00 (kurang dari 0,05)

dapat dikatakan bahwa proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi (Santoso, 2012).

Untuk tujuan penelitian (1) dapat dilihat dari nilai utility pada masing-masing level atribut. Interpretasi hasilnya yaitu nilai utility yang terbesar menunjukkan level dari atribut yang menjadi preferensi konsumen minyak goreng kemasan

sehingga level-level atribut yang memiliki nilai utility paling besar digabungkan maka akan membentuk kombinasi/stimuli dari karateristik minyak goreng

kemasan yang menjadi preferensi konsumen.

Tujuan penelitian (2) menggunakan analisis deskriptif yang menjadi perbedaan untuk tujan ini adalah output yang dihasilkan. Output yang dihasilkan dari proses

analisis conjoint berupa nilai utility dan nilai kepentingan. Nilai utility merupakan nilai yang menunjukkan kecenderungan pemilihan konsumen terhadap kombinasi

stimuli yang disukai. Nilai kepentingan merupakan nilai yang menunjukkan

atribut produk minyak goreng yang paling penting sehingga mendasari konsumen

untuk membeli minyak goreng kemasan.

Untuk tujuan penelitian (3) melihat tingkat keakuratan prediksi model hasil analisis conjoint maka output yang dilihat berupa nilai korelasi Pearson dan Kendall’s Tau.

H0 : tidak adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi

aktual atau tidak ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint.

H1 : adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan perferensi aktual

(46)

Sign. < 0,05 maka H0ditolak

Sign. > 0,05 maka H0 diterima (Santoso, 2012).

Interpretasi hasilnya yaitu jika nilai signifikansi 0,000 (kurang dari 0,05)

menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan

preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.

3.5. Defenisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Defenisi Operasional

Defenisi Operasional dalam penelitian ini dibuat agar tidak terjadi keslahan

pengertian dari beberapa istilah yang dipakai dalam penelitian. Berikut defenisi

dari istilah yang digunakan dalam operasional penelitian ini :

1) Konsumen minyak goreng adalah sampel yang melakukan pembelian minyak

goreng kemasan dipasar tradisional maupun modern.

2) Preferensi ialah suatu perilaku konsumen dalam memilih minyak goreng dan

kecenderungannya terhadap kombinasi atribut minyak goreng yang dipakai.

3) Preferensi aktual adalah penilaian konsumen yang ada dilapangan.

4) Preferensi estimasi adalah penilaian konsumen berdasarkan hasil perhitungan

conjoint.

5) Stimuli merupakan kombinasi dari taraf atau level atribut.

6) Atribut merupakan variabel yang melingkupi minyak goreng meliputi

karateristik yang dimiliki dan ditentukan untuk dipilih oleh konsumen sebagai

pertimbangan dalam membeli minyak goreng.

7) Atribut positif adalah karateristik yang sudah ditentukan oleh konsumen dalam

(47)

8) Atribut normatif adalah karateristik tambahan atau lanjutan yang diinginkan

konsumen dalam membeli minyak goreng kemasan.

9) Subatribut ialah nilai atau gambaran dari atribut minyak goreng yang lebih

khusus dan spesifik.

10) Analisis conjoint ialah teknik yang digunakan secara khusus untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap suatu produk atau jasa dan

untuk membantu mendapatkan kombinasi atau komposisi atribut-atribut suatu

produk atau jasa baik baru maupun lama yang paling disukai konsumen.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian dilakukan di Kota Medan.

2. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2014 – 2015.

3.Sampel penelitian ialah konsumen yang membeli produk minyak goreng kelapa

sawit kemasan (Bimoli, Fortune, Filma, Sunco, Sania) yang kebetulan

(48)

BAB IV

DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN KARATERISTIK

SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian 4.1.1 Letak dan Geografis

Kota Medan merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara, terletak antara

2o,27’- 2o24’ LU- 98o,35’ - 98o,44’ BT dan pada ketinggian 2,5 – 3,75 meter

diatas permukaan laut. Kota Medan merupakan pusat pemerintahan di Provinsi

Sumatera Utara terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan.Kota Medan

berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang pada bagian Utara, Barat, Selatan

serta dengan Selat malaka dibagian Timur.

Kota Medan merupakan salah satu dari 30 Daerah Tingkat I di Sumatera Utara

dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan

Daerah Tingkat I Sumatera Utara.Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan

dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu

Sungai Babura dan Sungai Deli.

4.1.2 Keadaan Penduduk

Penduduk Kota Medan berjumlah 2.122.804 jiwa yang tersebar di kecamatan di

Kota Medan. Jumlah dan persentase penduduk Kota Medan diperlihatkan pada

(49)

Tabel 4.1.2 : Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di

Total 1,047,875 1,074,929 2,122,804

Dari tabel 4.1.2 dapat diketahui bahwa pendudu Kota Medan pada tahun 2013

yang berjumlah 2.122.804 jiwa yang terdiri dari 1.074.875 jiwa laki-laki dan

1.074.929 jiwa perempuan. Menunjukkan jumlah usia non produktif (0-14 Tahun)

yang terdiri dari bayi, balita, anak-anak dan remaja sebanyak 569.622 jiwa.

Jumlah usia produktif yaitu 15-54 tahun sebanyak 1.355.771 jiwa. Sedangkan usia

manula >55 tahun adalah 199.311 jiwa. Usia produktif adalah usia dimana orang

memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa

(50)

4.1.3 Kecamatan Medan Baru

Kecamatan Medan Baru merupakan kecamatan di Kota Medan yang mempunyai

luas wilayah sekitar 5,41 km2 dengan ketinggian wilayah 31 meter diatas

permukaan laut.Kecamatan Medan Baru berbatasan dengan:

Sebelah utara berbatasan dengan : Kecamatan Medan Petisah

Sebelah selatan berbatasan dengan : Kecamatan Medan Selayang

Sebelah Barat berbatasan dengan : Kecamatan Medan Sunggal

Sebelah Timur berbatasan dengan : Kecamatan Medan Polonia

Kelurahan Padang Bulan merupakan kelurahan terluas di Kecamatan Medan Baru

yaitu sekitar 1,68 km2 atau sebesar 31,05 persen dari total luas Kecamatan Medan

Baru, sedangkan kelurahan dengan wilayah terkecil yaitu Kelurahan Darat dengan

luas wilayah hanya 0,28 km2atau sebesar 5,18 persen dari luas wilayah

Kecamatan Medan Baru secara total.

Jumlah penduduk Kecamatan Medan Baru pada tahun 2013 sebanyak 39.817 jiwa

penduduk terdiri dari 17.667 jiwa penduduk laki-laki dan 22.150 jiwa perempuan.

Penduduk terbanya berada di Kelurahan Padang Bulan yaitu sebanyak 9.179 jiwa,

sedangkan jumlah penduduk terkecil di Kelurahan Darat yaitu sebanyak 1.923

jiwa.

4.1.4 Kecamatan Medan Petisah

Secara geografis Kecamatan Medan Petisah berada di tengah Kota Medan.

Kecamatan Medan Petisah berbatasan dengan:

Sebelah Utara berbatasan dengan : Kecamatan Medan Barat

(51)

Sebelah Timur berbatasan dengan : Kecamatan Medan Barat

Sebelah Barat berbatasan dengan : Kecamatan Medan Sunggal

Luas wilayah Kecamatan Medan Petisah adalah 13.764 km2. Kelurahan Petisah

Tengah merupakan kelurahan yang memiliki wilayah terluas dengan luas wilayah

1,27 km2 atau 25,76 persen dari luas wilayah Kecamatan Medan Petisah.

4.2 Karateristik Sampel Penelitian

Responden dalam penelitian ini ialah konsumen yang menggunakan minyak

goreng kelapa sawit kemasan yang melakukan pembelian di pasar tradisional dan

pasar modern.Karateristik konsumen meliputi umur, pekerjaan, pendapatan dan

jumlah tanggungan.

4.2.1 Umur

Tingkat pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh usianya, orang akan

merubah pola pembeliannya selama umurnya terus bertambah demikian pula pada

responden minyak goreng kemasan. Adapun keadaan umur responden di daerah

penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.2.1 dibawah ini.

Tabel 4.2.1: Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur

No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 20 – 30 5 10

2. 31 – 45 16 32

3. 46 – 50 14 28

4. 51 – 60 15 30

Jumlah 50 100

Sumber :Data diolah dari Lampiran

Dari Tabel 4.2.1 diatas dapat dilihat range umur konsumen yang terbanyak berada

pada kelompok umur 31 – 45 tahun dengan jumlah 16 jiwa 32% dan yang terkecil

(52)

4.2.2 Tingkat Pendidikan

Pendidikan sangat erat hubungannya dengan pengetahuan terhadap suatu barang

baik dari segi kualita maupun manfaatnya.Adapun pendidikan responden

konsumen di daerah penelitian Kota Medan bervariasi dari SMA sampai

Perguruan Tinggi. Tingkat Pendidikan Konsumen adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2.2 : Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan

Sumber :Data diolah dari lampiran .

Tabel diatas dapat dilihat tingkat pendidikan responden yang terbesar berada pada

tingkat SMA dengan jumlah 25 jiwa atau 50 % dan yang terkecil pada tingkat

Sarjana dengan jumlah 11 jiwa atau 22 %.

4.2.3 Pendapatan

Daya beli masyarakt dapat dilihat melalui pendapatannya.Jika pendapatan yang

diperoleh cukup tinggi, maka pada umumnya daya beli masyarakat juga tinggi.

Pendapatan responden konsumen minyak goreng kemasan dalam penelitian ini

sangat bervariasi untu lebih jelas dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.2.3 : Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan

No. Pendapatan (Rp) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. < Rp.3.000.000 11 22

2. Rp. 3.000.000 – Rp. 5.000.0000 27 54

3. > Rp. 5.000.000 12 24

Jumlah 50 100

(53)

Dari Tabel diatas dilihat jumlah pendapatan terbesar berada pada Rp.3.000.000 –

Rp.5.000.000 dengan jumlah 27 jiwa atau 54 % dan yang terkecil pada

< Rp.3.000.000 dengan jumlah 11 jiwa atau 22 %.

4.2.4 Jumlah Tanggungan

Dalam mengkonsumsi minyak goreng kelapa sawit kemasan, responden

dipengaruhi oleh anggota keluarga yang tinggal bersama-sama dengan responden,

karena itu jumlah tanggungan dapat pula mempengaruhi jumlah konsumsi dalam

suatu keluarga. Jumlah tanggungan responden penelitian dapat dilihat pada Tabel

berikut :

Tabel 4.2.4 : Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan No. Jumlah tanggungan (Jiwa) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 0 – 2 22 44

2. 3 – 5 24 48

3. > 5 4 8

Jumlah 50 100

Sumber :Data diolah dari lampiran

Dari Tabel diatas dapat dilihat jumlah tanggungan konsumen yang terbesar

berada pada kelompok 3 – 5 dengan jumlah 24 jiwa atau 48 % dan yang terkecil

(54)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut

produk minyak goreng kemasan, untuk menganalisis urutan atribut yang paling

penting dari produk minyak goreng kemasan dan untuk mengetahui tingkat

keakuratan prediksi antara hasil estimasi dengan hasil aktual pada proses conjoint. Hasil penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian yang diuraikan sebagai

berikut:

5.1 Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Produk Minyak Goreng Kemasan

Preferensi konsumen adalah pemilihan konsumen yang mempengaruhi keputusan

konsumen dalam menentukan sikap terhadap suatu produk. Atribut dapat

digunakan untuk mengetahui perilaku konsumen,yangmenyatakan bahwa

konsumen menilai utilitasnya bukan dari produk yang dikonsumsi tetapi dari

karateristik atau atribut yang ada pada produk itu sendiri.

Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan

manfaat yang dicarinya.Atribut produk dapat menjadi penilaian tersendiri bagi

konsumen terhadap suatu produk. Konsumen akan melakukan penilaian terhadap

produk dengan evaluasi terhadap atribut produk. Konsumen akan menggambarkan

pentingnya suatu atribut bagi dirinya.

Minyak goreng kemasan yang menjadi preferensi konsumen dilihat dari nilai

(55)

masing-masing atribut. Diuraikan terlebih dahulu semua atribut yang akan dianalisis

sebagi berikut :

Kejernihan

Atribut kejernihan dianggap penting oleh responden, karena atribut kejernihan

mewakili persepsi konsumen akan proses permurnian yang dilakukan terhadap

produk minyak goreng. Semakin jernih warna minyak goreng, menurut konsumen

produk minyak goreng tersebut telah mengalami semakin banyak proses

pemurnian. Melalui proses pemurnian, zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan

dapat dipertahankan dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

Warna Minyak

Warna minyak goreng mempengaruhi dalam proses pembelian produk tersebut.

Warna minyak goreng secara alamiah adalah kekuningan, karena mengandung zat

α dan β karoten, dan zat xantofil yang berwarna kuning kecoklatan dan degradasi

zat warna alamiah yang berwarna gelap. Jadi semakin kekuningan warna minyak,

semakin menarik perhatian konsumen.

Cepat Panas

Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar panas, penambah rasa gurih

danpenambah nilai kalori bahan pangan.Minyak goreng yang baik mempunyai

sifattahan panas, stabil pada cahaya matahari, tidak merusak rasa hasil gorengan

(56)

Cepat Tiris

Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar panas, penambah rasa gurih

danpenambah nilai kalori bahan pangan.Minyak goreng yang baik mempunyai

sifattahan panas, stabil serta dalam pengolahan makanan minyak dapat cepat tiris.

Kemasan

Kemasan produk dalam kemasan botol, plastik dan drigen diasumsikan

memudahkan pengisian ulang maka konsumen akan cenderung memilih produk

dengan kemasan yang praktis.

Informasi Gizi

Informasi gizi menunjukkan kepada konsumen zat-zat apa yang terkandung di

dalam produk yang sangat penting diketahui karena gizi yang terkandung di

dalam produk diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan gizi. Informasi tentang

gizi yang terkandung juga harus tertera lengkap dan jelas pada kemasan.

Ukuran

Ukuran produk minyak goreng yang sesuai dengan konsumen ialah ukuran produk

yang sesuai dengan kebutuhan yang digunakan dalam mengkonsumsi minyak

goreng.

Harga

Harga adalah nilai yang harus dibayar oleh konsumen sebagai timbal balik dari

kepemilikan terhadap produk.Konsumen menginginkan produk yang dibeli sesuai

(57)

Informasi dan Promosi

Informasi dan promosi merupakan strategi yang dilakukan produsen untuk

menarik perhatian konsumen dalam keputusan pembelian. Dan informasi atau

promosi dapat konsumen ketahui melalui media elektronik, keluarga dan media

cetak.

Tempat Pembelian

Atribut kemudahandinilai sangat penting karena menunjukkan seberapa baik

distribusi produk dan usaha perusahaan agar produknya dapat dikonsumsi

konsumen.Namun secara keseluruhan,produk minyak goreng kemasan bermerek

mudah ditemui di tempat pembelian, khususnya pasar modern.

5.1.2 Nilai Kegunaan (Utility) Pada Setiap Level Aribut Berdasarkan Preferensi Konsumen

Nilai kegunaan merupakan penilaian responden yang dinyatakan dengan angka

dan menjadi dasar dalam analisis konjoin (Santoso,2010). Pada penelitian analisis

preferensi konsumen produk minyak goreng kemasan dengan metode konjoin,

menghasilkan nilai kegunaan yang menggambarkan penilaian konsumen terhadap

setiap taraf/level atribut dengan angka positif dan negatif menunjukkan tingkat

preferensi konsumen.

Nilai positif dan yang paling besar menunjukkan level atribut yang disukai

konsumen sedangkan bernilai negatif kurang disukai konsumen. Setelah diperoleh

nilai kegunaan kemudian diketahui nilai kegunaan total untuk mendapatkan

kombinasi atribut manakah yang terbaik berdasarkan perhitungan konjoin.

Gambar

Tabel Judul
Tabel 1. Kebutuhan, Ketersediaan, Produksi ,Dan Surplus Minyak Goreng
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Tabel 3.Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Sumatera Utara
+7

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dari tabel di atas yaitu pada stimuli satu kombinasi buah durian yang mungkin menjadi preferensi konsumen adalah buah durian dengan bobot 1 – 2 kg (kecil), bentuk buah

Conjoint Analysis preferensi produk sepeda motor berdasarkan jenis kelamin laki-laki adalah kombinasi harga motor 5-7juta, desain motor yang klasik, keamanan motor

Nilai korelasi Kendall’s Tau for Holdouts dimana Holdouts merupakan stimuli penguji hasil yang didapat dari proses conjoint bernilai 0,025 (sign.&lt; 0,05) artinya bahwa

Hasil analisis Conjoint Overall

Analisis Conjoint adalah teknik multivariat yang digunakan secara khusus untuk mengetahui bagaimana preferensi konsumen terhadap suatu produk atau jasa dan untuk membantu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang menjadi preferensi konsumen dalam pembelian produk olahan tahu walik adalah atribut rasa, atribut kerenyahan, atribut

Penelitian dari Dela Agustina Sarumaha (2015), yang berjudul Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit di Kota Medan dimana tujuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memilih buah durian dengan spesifikasi bobot buah 3 – 5 kg, bentuk buah bulat telur, warna kulit buah hijau kekuningan, warna daging