• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Perkembangan Sastra di Masyarakat - NILAI AGAMA, PENDIDIKAN, DAN SOSIAL DALAM FOLKLOR NYI BAGELEN KAJIAN TERHADAP CERITA RAKYAT LISAN KABUPATEN PURWOREJO - repository perpustakaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Perkembangan Sastra di Masyarakat - NILAI AGAMA, PENDIDIKAN, DAN SOSIAL DALAM FOLKLOR NYI BAGELEN KAJIAN TERHADAP CERITA RAKYAT LISAN KABUPATEN PURWOREJO - repository perpustakaan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoretis

1. Perkembangan Sastra di Masyarakat

Sastra dalam masyarakat bagaikan makhluk hidup, karena dapat hidup berkembang atau mati. Berbicara tentang perkembangan sastra tentunya tidak akan sama dengan perkembangan manusia. Sastra bisa berarti karya tulis atau karya yang berujud tulisan (KBBI1994:882). Menurut Teeuw (1988: 22-23) dalam Ratna (2013: 408) bahwa secara etimologis sastra berasal dari kata (sas+tra), bahasa Sansekerta,‟sas‟(mengarahkan, mengajar, member petunjuk), „tra‟(alat).

Jadi, sastra alat untuk mengajar. Dalam bahasa-bahasa Barat (cf. Wellek dan Warren, 1962:20) dalam Ratna (2013: 408), literature dengan berbagai variannya pada umumnya didifinisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis. Dalam perkembangan berikut sastra memiliki dua pengertian, pertama, hasil karya, sebagai karya seni, kedua, keseluruhan hasil karya, baik sebagai karya seni maupun ilmu yang meliputi sejarah dan kritik.

(2)

popular dan serius. Sebagai kajian dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: a) teori, b) sejarah, dan c) kritik. Analisis pada umumnya meliputi aspek intrinsik dan ekstrinsik (Wellek dan Warren, 1962) dalam Ratna (2013: 408). Fenomena tradisi lisan meliputi banyak genre aktivitas lisan, seperti pertunjukan sastra lisan, pidato atau pertuturan adat, cerita lisan, mantera, dan lagu-lagu permainan anak-anak. (Amir 2013: 142).

Perkembangan sastra Indonesia khususnya sejarah sastra Indonesia dikenal adanya perkembangan dari masa ke masa atau biasa di kenal dengan sebutan periodisasi sejarah sastra Indonesia. Periodesasi tersebut meliputi: masa kelahiran atau masa penjadian (kurang lebih 1900-1945) yang dapat dibagi lagi menjadi beberapa periode, yaitu: periode awal hingga 1933, periode 1933-1942, periode 1942-1945. Masa berikutnya adalah masa perkembangan (1945 hingga sekarang) yang lebih lanjut dapat pula dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut: periode 1945-1953, periode 1953-1961, periode 1961- sampai sekarang. (Rosidi 1991:11).

(3)

dengan kemunculan karya sastra asli yaitu karya seni tulis dalam latar fiktif.

2. Cerita Rakyat atau Folklor

Cerita rakyat atau di kenal dengan FOLKLOR menurut beberapa ahli ada persamaannya seperti: Folklor (FOLKLOR) diturunkan dari bahasa Inggeris dari akar kata folk (rakyat atau bangsa) dan lore (adat istiadat). Jadi FOLKLOR meliputi semua tradisi rakyat, seperti: kepercayaan, adat istiadat, peribahasa, dongeng, dan mitos. (Ratna 2012:143). Sementara itu penelusuran melalui bahasa Jerman oleh Bouman (1992:29-30) dalam Ratna (2012:143) bahwa (volkskunde), pertamakali digunakan oleh William John Thomas (1846). Secara luas diartikan sebagai kebiasaan sehari-hari suatu komunitas, baik dalam bentuk pikiran dan perasaan, interaksi sosial, maupun benda-benda keras. Aktivitas pertama pertama (pikiran dan perasaan ) menghasilkan karya sastra lisan, sedangkan aktivitas yang kedua (interaksi sosial dan benda-benda keras) menghasilkan tradisi lisan. (Ratna 2012:143).

(4)

linguistic, tradisi lisan merupakan wilayah antropologi dan kajian budaya. Sebagai disiplin yang baru antropologi sastra seolah-olah memberikan perhatian yang seimbang terhadap sastra lisan dan tradisi lisan. (Ratna 2012:143).

Berbicara tentang Folklor tidak bisa lepas daricerita lisan. James Dananjaya (dalam Amir, 2013: 162) menjelaskan sejarah istilah kebudayaan dan foklor. Sementara itu Amier (2013 :163) folklor lisan adalah Folklor yang hanya mewujud secara lisan dalam masyarakat pemiliknya, seperti puisi rakyat, gelar tradisional, peribahasa. Folklor sebagian lisan adalah Folklor yang wujudnya gabungan antara lisan dengan tindakan.

(5)

3. Fungsi Cerita rakyat

Folklor atau cerita rakyat memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk penenangan jiwa. Seperti yang diungkap oleh (Endaswara 2008 : 202) bahwa folklor pada dasarnya adalah ekspresi jiwa manusia. Apapun alasannya Folklor adalah karya kreatif. Baik berupa Folklor lisan, setengah lisan, dan nonlisan adalah kreatifitas jiwa. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya analisisnya adalah kejiwaan. Demikian juga gagasan Freud dalam karya (Eagleton , 2006:281) dalam Endaswara (2008 : 204) berjudul buku The Psychopatholgy of Everiday Life, tampak bahwa psikoanalisis memang cukup berperan. Psikoanalisis mampu mengungkap dinamika kenikmatan dan ketidaksenangan hidup. Dua perasaan ini saling bertaberakan dalam jiwa manusia. Keduanya saling berebut kemenangan, hingga bisa meletus dalam ekspresi folklor.

Tak jauh berbeda dari dua pendapat diatas adalah pendapat atau teori Kritis Mazhab Frankfurt (Toar, 2005:220-201) dalam Endaswara (2008 : 208) bahwa dalam diri manusia berupaya untuk mengintegrasikan konsep-konsep kritis dari Freud mengenai gangguan psikis dan naluri ke dalam kritik idiologi Marx. Sebagai seorang psikolog, Freud menangani pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.

(6)

a. Sebagai sistem proyeksi, yaitu sebagai pencerminan angan-angan suatu kolektif.

b. Alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. c. Alat pendidik anak.

d. Alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Melihat dari fungsi Folklor sebagai alat legitimasi, keselamatan, pendidikan, pengontrol norma kehidupan, berfungsi rekreatif. Termasuk didalamnya ada cerita atau Folklor cerita pelipur lara. Maka ada kecenderungan bahwa Folklor atau cerita lisan cenderung berdampak psikologis seiring dengan amanat atau pesan-pesan moral yang ada didalamnya.

4. Perkembangan Folklor di Indonesia

(7)

Secara umum perkembangan penelitian Folklor di Indonesia tak begitu maju seiring anggapan bahwa Folklor termasuk kajian yang unik dan pelik. Meski demikian muncul juga ahli Folklor di Indonesia meski hanya sedikit. Profesi peneliti Folklor di Indonesia sering berganti-ganti, bolak-balik dan hamper tidak terarah. Selama ini hanya Folkloris Danandjaya (1994:9-13) dan Hutomo (1993-48) dalam (Endaswara 2009: 57) telah memaparkan perjalanan folkloris Indonesia. Dananjaya berusaha melukiskan kerja penelitian Folklor dari anekaragam disiplin. Adapun Hutomo, lebih mengaitkan penelitian Folklor lebih historis. Kedua folkloris ini, memang memiliki dedikasi terhadap Folklor yang amat tinggi.

Seiring itu muncul generasi baru yang menulis teori penulisan penelitian Folklor. Sepertihalnya Suwardi Endaswara melalui bukunya

Metodologi Penelitian Folklor Konsep, Teori, dan Aplikasi tahun 2009’.

Menurut Endaswara ada tiga motifasi penelitian Folklor yaitu: (1) hendak melestarikan atau mendokumentasikan, (2) menggali nilai-nilai Folklor agar dimanfaatkan hasilnya sedikit demi sedikit, (3) menemukan identitas bangsa lewat pluralitas folklor. (Endaswara 2009:17).

(8)

Katolik roma Folklor upun Zending Protestan) , pegawai pamong praja Kolonial Belanda, dan sebagainya. Nama-nama sarjana filologi antara lain G.A.J. Hazeu, J.Kats,H Kern, R.M. Ng Poerbatjaraka, Tjan Tjoe Siem, suami istri C. dan J.Hooykaas, dan Th.Pigeaud. Sarjana-sarjana yang lain: Brandts Buys (Van Zijp) Colin Mc Phee, B.J.O Schrieke, Gregory Bateson, James Peacock, P.J. Zoetmulder, Roelof Gooris, N. Adriani, I Made Bandem, Walter Spies.

Sejak masa penjajahan Folklor di Indonesia sudah diteliti. Para peneliti berlatar belakang beragam. Secara umum peneliti mengambil sudut pandang dari disiplin ilmu masing-masing. Seiring dengan perubahan zaman muncul pula ahli-ahli Folklor Indonesia. Secara umum mereka adalah akademisi. Dalam hal ini muncul pula peneliti-peneliti baru, atau peneliti muda atau para mahasiswa, seiring dengan studinya, meraka melakukan penelitian ilmiah. Ujud penelitiannya adalah membuat karya ilmiah dengan sudut Folklor Folklor. Jadi dapat ditarik simpulan seiring dengan majunya peradaban Folklor atau cerita lisan lama, tetap menarik untuk diteliti, dikaji, dipelajari. Untuk diambil nilai-nilai manfaatnya.

5. Pembelajaran Sastra di Sekolah

(9)

Folklor. Melalui adanya materi membaca novel remaja karya terjemahan pada pelajaran Bahasa Indoneia kelas VIII, Kurikulum 2006, satu sisi menunjukkan minimnya perbendaharaan novel remaja nasional. Hal ini menunjukkan betapa kering kemampuan generasi Indonesia untuk memproduksi novel remaja.

Kekeringan ide atau terbatasnya penulis cerita di Indonesia tak lepas dari mereka tidak begitu mengenal Folklor atau cerita lisan dimasa kecilnya. Lewat perbendaharaan cerita yang dimiliki dapat menumbuhkan kemampuan berimajinasi, kemampuan membaca, dan kemampuan berkreatifitas bagi generasi muda. Terlebih mampu mengangkat relung makna yang ada dalam Folklor. Seperti halnya pendapat Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, SU. Dalam bukunya Peranan Karya Sastra, Seni, dan

Budaya dalam Pendidikan Karakter (2014). Beliau berpendapat: Dominasi

usia ini jelas bahwa generasi muda memiliki tanggungjawab, baik dalam mendidik dan mendewasakan diri maupun fungsi dan tugasnya terhadap masyarakat. Mendewasakan diri, maturasi psikologis berarti berkewajiban menuntut ilmu setinggi-tingginya, bukan semata-mata demi kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompok tertentu, bukan juga demi pangkat dan jabatan, melainkan bagi kepentingan orang banyak, bangsa dan Negara secara keseluruhan. (Ratna 2014 : 120).

(10)

(Kemendiknas RI, 2010:6) lima isu penting dalam pendidikan karakter , yaitu (1) hubungan pendidik dengan watak karakter , (2) hubungan pendidikan dengan kesiapan seseorang pasca pendidikan, (3) hubungan pendidikan dengan lapangan pekerjaan, (4) bagaimana membangun masyarakat berpengetahuan, dan (5) bagaimana membangun budaya inovasi. (Ratna 2014 : 127).

Dari permasalahan diatas adanya tuntutan untuk berkreatifitas dan berinovasi. Melalui karya sastra, seni dan budaya, yang terkaji dari dalam FOLKLOR. Diharapkan muncullah sebuah karya baru. Karya baru sebagai ujud inovasi dapat berupa penjabaran dari nilai-nilai luhur budaya bangsa yang berakar dari FOLKLOR. Untuk mencapai hal tersebut, perlu adanya pemunculan kembali dongeng klasik, memunculkan cerita-cerita lisan yang belum ditulis atau dibukukan. Melalui pemunculan barang lama, tetapi baru akan mampu membawa pengaruh, perubahan dalam memotifasi masyarakat dalam berkarya

(11)

untuk memfasilitasi ,memberikan kesempatan, memberikan contoh pada generasi baru. Agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai pemilik bangsa. a. Tinjauan Unsur Agama Dunia

Agama pada dasarnya merupakan pedoman hidup bagi orang yang meyakininya. Meskipun demikian keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan untuk orang lain. Agama memiliki banyak unsur termasuk didalamnya adalah maknanya. Agama dapat di artikan sebagai bentuk pelarangan atau anjuran yang sebaiknya ditaati. Masyarakat awam ada yang meyakini adanya bentuk mistik. atau hal yang berkebalikan. Hal ini bisa terjadi tergantung bagaimana masyarakat sendiri yang menilai. Agama merupakan sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dsb) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (Ali, 1994:10).

(12)

Unsur agama bumi meliputi keyakinan, akhlak, perjuangan, dan ibadah. Disamping itu unsur ini tak lepas dari mistik. Legenda Nyi Bagelen berkembang di Tanah Jawa. Legenda ini mengandung unsur mistik. Sementara diyakini “Mistik Kejawen” sebagai agama bagi sebagian orang Jawa. Ada yang meyakini secara puritan bahwa mistik kejawen adalah milik manusia Jawa yang telah ada sebelum ada pengaruh lain. (Endaswara, 2014: 73)

b. Tinjauan Unsur Pendidikan

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. (Ali, 1994:232) Ada juga yang memberi pengertian bahwa pendidikan adalah pengajaran yang dilakukan di sekolah. Dapat juga dimaknai bahwa pendidikan adalah semua pengalaman belajar yang dialami dalam semua lingkungan sepanjang hidupnya. Setelah hakikat pendidikan dapat dipahami perlu juga dikenalkan hahekat pendidikan berbasis tertentu.

(13)

hanya berjalan baik kalau “sama-sama bebas” dan saling menghormati.

Komunikasi hanya dapat berlangsung baik apabila kedua subjek-objek komunikasi itu berdiri pada posisi yang sama. Bila posisinya tidak seimbang, maka kadar kebenaran dan kebermaknaan yang dikomunikasikannya serta kepekatan komunikasi pribadi menjadi ternodai. ( Darmadi 2009: 11) Demikian juga pendapat ( Zuriah 2015: 19) dikatakan bahwa pendidikan nilai-nilai adalah Pengembangan pribadi siswa tentang pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal yang baik harus dilakukan dan hal yang buruk harus ditinggalkan.

Kajian mengenai cerita Nyi Bagelen tak akan lepas dari sosok pelaku utamanya. Dia adalah seorang wanita. Nyi Bagelen sebagai peran utama tak lepas dari dominasi kekuasaan. Bagaimana sebenarnya pendidikan untuk perempuan. Keterdidikan perempuan sebagai pendukung peran sebagai Ibu. Hal ini dapat diungkap. Disamping berperan sebagai ibu rumah tangga dan istri, perempuan yang telah menikah dan memiliki anak akan berperan sebagai ibu dengan tugas merawat dan mendidik anak-anaknya. ( Wiyatmi 2013:127 )

(14)

melibatkan, logika dan emosi yang saling melengkapi, tanpa ada dominasi sepihak.

c. Tinjauan Unsur Sosial

Sosial dapat dimaknai sebagai bentuk, berkenaan dengan masyarakat, perlu adanya komunikasi atau suka memperhatikan kepentingan umum ,suka menolong, menderma. ( Ali 1994: 958) Pendidikaan senantiasa mempunyai dua sasaran, yaitu pengajaran dan pelatihan perilaku yang baik. Konsepsi mengenai perilaku yang baik bervariasi sesuai dengan lembaga politik dan tradisi sosial dari komunitas. (Russell 1993: 39) Sosial dapat dimaknai sebagai hal yang berkaitan dengan orang banyak tanpa adanya tendensi mencari keuntungan material semata.

(15)

hubungan dengan sesamanya. Koridor disini mengacu agama sebagai agama bumi yang mengatur harmonisasi di bumi.

Agar situasi sosial kondusif maka peranan agama mutlak dibutuhkan. Agar Masyarakat mengenal, tahu, dan mengamalkan maka perlulah wadah untuk mensosialisasikan. Wadah tersebut adalah pendidikan atau bisa dijabarkan dalam bentuk lebih luas dalam praktik dilapangan berupa pengenalan, pembiasaan, dan pengamalan.

B. Asumsi Dasar

Cerita rakyat atau Folklor adalah cerita yang muncul di tengah masyarakat secara turun temurun yang biasanya diceritakan karena mengandung pesan atau nilai-nilai. Melalui pembelajaran sastra di sekolah peserta didik akan mendapatkan masukan, sebagai pembanding dari realita yang terdapat dalam masyarakat. Misalnya melalui prosa atau cerpen dapat ditampilkan latar yang menggambarkan kehidupan masyarakat kita yang santun dan bersahaja. Apabila dalam realita peserta didik melihat “Ternyata masyarakat kita kurang santun.” Maka logika peserta didik ditantang untuk

menjawab, mana pilihan yang ter baik untuk dirinya.

(16)

dibayangkan bagaimana jati diri bangsa ini sebenarnya. Karena masyarakat akan mudah diombang-ambingkan dengan situasi dan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang berpola pikir sepihak.

Untuk itu perlu ada kepedulian yang serius, bagaimana mengangkat akar budaya sendiri, agar kita punya kepribadian, punya pijakan yang jelas, dan tahu akan melangkah kemana selanjutnya. Melalui Folklor yang ditampilkan dalam kemasan khusus generasi baru akan merasa tertantang, tidak merasa bosan atau jenuh. Apabila ini bisa terjadi dinamika pendidikan akan marak, penuh geliat dan torehan yang dalam. Untuk mengukir peradaban baru yang berakar dari kepribadian yang sebenarnya.

Apabila pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah benar-benar mengakar, dan terakar dari akar budaya sendiri. Maka akan tercipta fondamen yang begitu kokoh, yaitu kepribadian. Kepribadian yang berruhkan pada sari pati bangsa, maka kehidupan yang ada akan terasa marak dan penuh dinamika, semangat patriotisme, semangat kebersamaan. Semua dilandasi pada satu tujuan yaitu peningkatan harkat dan martabat bangsa.

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III, Program Studi Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung

Iklan Baris Iklan Baris APARTMENT DIJUAL Serba Serbi Iklan Baris Iklan Baris AHLI WC AGEN ALAT MUSIK ALAT KANTOR ALAT RMH TANGGA BAHAN BANGUNAN APARTMENT DIKONT.. ADA DIJUAL Tabung

Larangan kawin yang sampai saat ini masih berlaku kental dalam masyarakat Candirejo ini di antaranya adalah larangan kawin karena ketidaklengkapan orangtua pada

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut perusahaan memerlukan sejumlah dana untuk dijadikan sebagai modal kerja yang dapat digunakan baik untuk keperluan

In the writer’s opinion, Bella does not care anymore whether Edward is a vampire or not. It is covered by her curiosity and affection toward him. She thinks that no matter who

Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah malai, umur panen, panjang malai, jumlah gabah total per malai, Jumlah gabah isi

Begitu pula, suatu gerak konduktor di dalam medan magnet akan membangkitkan tegangan e = B l V dan bila dihubungkan dengan beban, akan mengalir arus listrik I atau

Jenis lahan berpengaruh positif terhadap perilaku petani terhadap risiko, dengan nilai odds rasio sebesar 7,50 maka dapat dikatakan bahwa petani kubis pada lahan