PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 97/M-IND/PER/8/2010 TENTANG

Teks penuh

(1)

PERATURAN

MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 97/M-IND/PER/8/2010

TENTANG

PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI SULAWESI SELATAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 3 ayat (1) huruf a Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menyusun Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Industri Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 – 2014;

b. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 3 ayat (2) Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, perlu menetapkan Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Industri Unggulan Provinsi sebagaimana dimaksud dalam huruf a;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 46 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3478);

3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411);

(2)

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

2

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

8. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan, Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987);

12. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional;

13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 14. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010

(3)

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

3

tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;

15. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II Periode Tahun 2009-2014;

16. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian; 17. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor

113/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Kakao;

18. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 120/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Ikan;

19. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 52/M-IND/PER/4/2010 tentang Kedudukan dan Tugas Pejabat Kementerian Perindustrian Dalam Masa Peralihan Struktur Organisasi;

Memperhatikan : Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 57 Tahun 2009 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI SULAWESI SELATAN.

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Industri Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan pengembangan industri Provinsi Sulawesi Selatan yang memuat sasaran, strategi dan rencana aksi pengembangan industri unggulan Provinsi Sulawesi Selatan untuk periode 5 (lima) tahun.

2. Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia yang selanjutnya disebut KBLI adalah pengelompokan kegiatan ekonomi ke dalam klasifikasi usaha.

3. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, swasta, perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan serta

(4)

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

4

lembaga kemasyarakatan lain.

4. Menteri adalah Menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

Pasal 2

(1). Industri Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 terdiri dari:

a. Industri Pengolahan Kakao yang meliputi:

1. Industri kakao fermentasi, industri bubuk coklat dan industri pasta coklat (KBLI 10731), dan

2. Industri makanan dari coklat dan industri kembang gula (KBLI 10732).

b. Industri Pengolahan Rumput Laut, yang meliputi :

1. Industri pengalengan ikan dan biota air lainnya (KBLI 10221);

2. Industri penggaraman/pengeringan biota air lainnya (KBLI 10291);

3. Industri pengolahan pengawetan lainnya biota air lainnya (KBLI 10299).

(2) Peta Panduan industri unggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

(3) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan:

a. pedoman operasional bagi Aparatur Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam menunjang pelaksanaan program pengembangan industri unggulan provinsi secara komplementer dan sinergik;

b. pedoman pengembangan industri unggulan provinsi bagi pelaku industri pengolahan kakao dan rumput laut oleh pengusaha dan atau institusi terkait;

c. pedoman dalam mengkoordinasikan perencanaan kegiatan pengembangan industri unggulan provinsi, antar sektor, antar instansi terkait di pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten/kota);

(5)

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

5

Kerja Tahunan Provinsi dalam periode 2010-2014; dan

e. informasi dalam menggalang dukungan sosial – politis dan kontrol sosial atas pelaksanaan kebijakan pengembangan industri unggulan provinsi.

Pasal 3

(1). Rencana aksi pengembangan industri unggulan Provinsi Sulawesi Selatan dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2).

(2). Pelaksanaan rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan.

Pasal 4

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan harus membuat laporan kinerja semesteran kepada Menteri atas pelaksanaan rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri dan menteri terkait.

Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 30 Agustus 2010 MENTERI PERINDUSTRIAN RI

MOHAMAD S. HIDAYAT

TEMBUSAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada : 1. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II;

2. Eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian;

3. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan; 4. Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan;

5. Bupati/Walikota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan;

6. Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Perindustrian; 7. Pertinggal.

(6)

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 97/M-IND/PER/8/2010

TANGGAL : 30 Agustus 2010

PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN

PROVINSI SULAWESI SELATAN

I PENDAHULUAN

II INDUSTRI PENGOLAHAN KAKAO 1. Sasaran Pengembangan 2. Strategi Pengembangan 3. Kerangka Pengembangan 4. Rencana Aksi

III INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT 1. Sasaran Pengembangan 2. Strategi Pengembangan 3. Kerangka Pengembangan 4. Rencana Aksi MENTERI PERINDUSTRIAN RI MOHAMAD S. HIDAYAT

(7)

PETA PANDUAN

PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN

PROVINSI SULAWESI SELATAN

I. PENDAHULUAN

Provinsi Sulawesi Selatan menentukan industri pengolahan kakao dan rumput laut sebagai industri unggulannya didasarkan atas pertimbangan hasil analisa terhadap kondisi dan potensi ekonomi daerah dan potensi pengembangan lima tahun ke depan serta keterkaitannya dengan industri penunjang, industri terkait dan industri di provinsi lain.

Dalam rangka mengembangkan industri unggulan tersebut, disusun Peta Panduan Pengembangan Industri Unggulan Provinsi tahun 2010-2014, yang memaparkan sasaran pengembangan yang ingin dicapai, strategi pengembangan serta rencana aksinya.

II. INDUSTRI PENGOLAHAN KAKAO 1. Sasaran Pengembangan

Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014)

a. Meningkatnya utilisasi kapasitas industri kakao dari 50% menjadi 70%; b. Meningkatkan mutu biji kakao yang dijual petani dari unfermented bean

menjadi fermented bean;

c. Meningkatnya investasi di bidang industri pengolahan cokelat;

d. Meningkatnya konsumsi cokelat penduduk Indonesia (saat ini hanya 1 gram/orang/tahun); dan

(8)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

2

Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2025)

a. Meningkatnya jumlah industri cokelat olahan dari 28 unit menjadi 30 unit;

b. Meningkatnya jumlah industri kakao olahan dari 11 unit menjadi 13 unit; c. Meningkatnya utilitasi kapasitas industri kakao dari 70% sampai 90%;

dan

d. Meningkatnya nilai ekspor sekitar 8%. 2. Strategi Pengembangan

a. Peningkatan kualitas biji kakao dari unfermented beans menjadi fermented beans;

b. Penguasaan teknologi pengolahan cokelat kualitas tinggi;

c. Diversifikasi produk cokelat ke arah yang memiliki nilai tambah tinggi; d. Adanya jaminan pasokan bahan baku cokelat untuk industri dalam

negeri.

3. Kerangka Pengembangan

KERANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN KAKAO

Industri Inti Industri Penunjang Industri Terkait

Industri Kakao Olahan (Cocoa Liquor, Cocoa

Butter,Cocoa Cake,Cocoa Powder,dll)

Biji Kakao; Mesin dan Peralatan; Kemasan; Bahan Kimia dan Bahan

Tambahan Pangan

Makanan minuman, farmasi, kosmetik

Sasaran Jangka Menengah (2010–2014) a. Meningkatnya utilitas industri kakao dari 50%

menjadi 70%;

b. Meningkatnya mutu biji kakao yang dijual petani dari unfermented beanmenjadi fermented bean;

c. Meningkatnya investasi di bidang industri pengolahan cokelat;

d. Meningkatnya konsumsi cokelat penduduk Indonesia (saat ini hanya 1

gram/orang/tahun); dan

e. Meningkatnya ekspor sekitar 6% pertahun.

Sasaran Jangka Panjang (2015–2025)

a. Meningkatnya jumlah industri cokelat olahan dari 28 unit menjadi 30 unit; b. Meningkatnya jumlah industri kakao

olahan dari 11 unit menjadi 13 unit; c. Meningkatnya utilitas dan kapasitas

dari 70% sampai 90%;

d. Meningkatnya nilai ekspor sekitar 8%.

(9)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

3

Strategi

Sektor : Diversifikasi produk cokelat ke arah nilai tambah tinggi.

Teknologi : Penguasaan teknologi pengolahan cokelat kualitas tinggi, mendorong tumbuhnya teknologi pengolahan dan produksi cokelat.

Pokok Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010–2014) a. Mencabut atau merevisi peraturan

perundang-undangan yang menghambat pengembangan industri;

b. Meningkatkan kemitraan antar industri kakao dengan petani kakao;

c. Mengembangkan kerjasama dengan instansi terkait dan negara-negara Eropa untuk membantu petani kakao untuk memperbaiki mutu biji kakaonya;

d. Mendorong pembangunan fasilitas unit-unit fermentasi dan pengeringan di sentra-sentra kakao;

e. Meningkatkan diversifikasi produk cokelat dan kakao yang bernilai tambah tinggi.

Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015–2025)

a. Meningkatkan produksi biji kakao melalui perluasan lahan kakao; b. Mengembangkan industri berbasis

kakao non pangan;

c. Mengembangkan riset dan teknologi untuk industri kakao olahan dan cokelat.

Unsur Penunjang Periodisasi Peningkatan Teknologi

a. Tahap Inisiasi (2010–2014), Pengembangan teknologi kakao/cokelat bubuk, pasta, larutan; a. Tahap Pengembangan cepat (2015-2024)

Modifikasi dan pengembangan teknologi pengolahan, aroma, tablet, remah dan coating; b. Tahap Matang (2025–2030) industry up grading

Pasar a. Meningkatkan jaringan pemasaran ekspor; b. Meningkatkan kualitas dan Pengembangan merk

Indonesia di pasar Internasional;

c. Meningkatkan promosi ekspor dan efisiensi rantai pemasaran dalam negeri.

SDM

a. Pelatihan Manajemen Mutu; b. Peningkatan keahlian dan

kemampuan SDM di bidang pengolahan cokelat.

Infrastruktur

a. Meningkatkan peran litbang; b. Memberlakukan Bea Keluar

untuk biji kakao.

Lokasi Pengembangan

Kota Makasar, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Bone

(10)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

4

4. Rencana Aksi

RENCANA AKSI PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN KAKAO 2010-2014

NO RENCANA AKSI PUSAT PEMANGKU KEPENTINGANDAERAH SWASTA LAIN LAIN 2010 2011 2012 2013 2014TAHUN

1 Penanganan Usaha Tani dan Penanggulangan Hama PBK Kementan, Puslit. Kakao Jember Pemda, Disbun, Unhas Askindo, Apkai, Aiki, Apikci Asean Cocoa Club. 2 Pembuatan Klon-klon baru untuk bibit

kakao yang tahan hama

Kementan , Puslit. Kakao Jember Pemda, Disbun, Unhas Askindo, Apkai, Aiki, Apikci Asean Cocoa Club. 3 Peningkatan Mutu Biji Kakao dari

Unfermentedmenjadi Fermented Kementan , Kemenperin, BSN Pemda, Disbun, Disperindag, Unhas Askindo, Apkai, Aiki, Apikci 4 Monitoring dan Evaluasi Bea Keluar

untuk biji kakao.

Kemenkeu, Kemendag

Askindo, Apkai, Aiki, Apikci 5 Meningkatkan kemitraan antara

industri kakao olahan dengan petani.

Kemenperin, Kementan, Kemen Kop & UKM

Pemda, Disperindag, Diskop & UKM, Disbun

Askindo, Apkai, Aiki, Apikci, IFC Pensa 6 Meningkatkan Promosi melalui

pameran ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Kemenperin , Kemendag, Kementan Pemda, Disperindag, BPPMD Askindo, Apkai, Aiki, Apikci Asean Cocoa Club, ICCO 7 Membangun fasilitas unit-unit

fermentasi dan pengeringan di sentra-sentra kakao.

Kemenperin,

Kementan Pemda, Disperindag, Disbun Askindo, Apkai, Apikci, Aiki

8 Membangun Merk Indonesia di pasar Internasional.

Kemenperin, Kemendag

Pemda, Disperindag Askindo, Apkai, Apikci, Aiki

(11)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

5

III. INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT 1. Sasaran Pengembangan

Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014) a. Meningkatnya areal tanaman rumput laut;

b. Meningkatnya produktivitas tanaman rumput laut menjadi 3 ton kering/Ha/2 bln;

c. Tumbuhnya industri Semi Refined Carragenan(SRC);

d. Tumbuhnya industri makanan dan kosmetik berbasis rumput laut; e. Meningkatnya akses pasar, khususnya pasar SRC;

f. Meningkatnya brand imagerumput laut Sulawesi Selatan. Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2025)

a. Budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian pokok masyarakat pesisir Sulawesi Selatan;

b. Meningkatnya produktivitas tanaman menjadi 4 ton kering/Ha/2 bulan; c. Semakin tumbuh dan berkembangnya industri SRC dan industri

makanan dan kosmetik berbasis rumput laut; d. Tumbuhnya industri Refined Carragenan(RC);

e. Semakin meluasnya akses pasar SRC, RC dan produk rumput laut; dan f. Sulawesi Selatan merupakan penghasil SRC, RC terkemuka di dunia.

2. Strategi Pengembangan

a. Peningkatan produktivitas tanaman rumput laut melalui pengembangan kultur jaringan, teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen; b. Pengembangan teknologi proses untuk menghasilkan SRC, RC dan

produk berbasis rumput laut; c. Penerapan berbagai standar.

(12)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

6

3. Kerangka Pengembangan

KERANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT

Industri Inti Industri Penunjang Industri Terkait

Industri Pengolahan Rumput Laut

(Chips)

Budidaya Rumput Laut, Ind Pembibitan, Ind. Mesin/peralatan, Ind. Kimia, Ind Kemasan,

Jasa konsultan –Business Development Services(BDS), Jasa Transportasi

Tepung rumput laut, Makanan minuman,

farmasi, kosmetik Sasaran Jangka Menengah

(2010 – 2014)

a. Meningkatnya areal tanaman rumput laut;

b. Meningkatnya produktivitas tanaman rumput laut 3 ton kering/Ha/2 bulan; c. Tumbuhnya industri Semi Refine

Carragenan(SRC);

d. Tumbuhnya industri makanan dan kosmetik berbasis rumput laut; e. Meningkatnya akses pasar,

khususnya pasar SRC;

f. Meningkatnya brand image rumput laut Sulawesi Selatan.

Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2025) a. Budidaya rumput laut sebagai mata

pencaharian pokok masyarakat pesisir Sulawesi Selatan;

b. Meningkatnya produktivitas tanaman 4 ton kering/Ha/2 bulan;

c. Semakin tumbuh dan berkembangnya industri SRC dan industri makanan dan kosmetik berbasis rumput laut;

d. Tumbuhnya industri Refine Carragenan ( RC);

e. Semakin meluasnya akses pasar SRC, RC dan produk rumput laut;

f. Sulawesi Selatan merupakan penghasil SRC, RC terkemuka di dunia.

Strategi

a. Peningkatan produktivitas tanaman rumput laut melalui pengembangan kultur jaringan, teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen;

b. Pengembangan teknologi proses untuk menghasilkan berbagai produk makanan dan kosmetik yang berbasis rumput laut;

c. Penerapan berbagai standar produk untuk menembus pasar ekspor ke berbagai negara.

Pokok Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) a. Regulasi dan deregulasi kebijakan; b. Intensifikasi dan ekstensifikasi

budidaya rumput laut;

c. Pendirian kelembagaan petani, lembaga keuangan mikro dan Business Development Services (BDS);

d. Penelitian dan pengembangan bibit, budidaya, proses dan produk;

a. Pendirian percontohan, unit penyediaan bibit, unit layanan pengendalian mutu dan unit mini

Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015 – 2025)

a. Regulasi dan deregulasi kebijakan;

b. Pengembangan Intensifikasi dan ekstensifikasi budidaya rumput laut;

c. Penguatan kelembagaan petani, lembaga keuangan mikro dan Business Development Services(BDS);

d. Pengembangan litbang bibit, budidaya, proses dan produk;

e. Pengembangan, unit penyediaan bibit, unit layanan pengendalian mutu;

(13)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

7

plant SRC;

e. Inisiasi industri SRC, RC, makanan dan kosmetik berbasis rumput laut.

kosmetik berbasis rumput laut.

Unsur Penunjang Periodisasi Peningkatan Teknologi a. Tahap Inisiasi (2010-2014),

Penerapan Teknologi Kultur Jaringan dan teknologi pengolahan;

b. Tahap Pengembangan Cepat (2015-2024) Modifikasi teknologi pengolahan dan Diversifikasi Produk; dan

c. Tahap Matang (2025-2030), industry upgradingpengolahan rumput laut.

Pasar a. Meningkatkan jaringan pemasaran

ekspor;

b. Pengembangan brand image. SDM

a. Peningkatan kemampuan teknologi budidaya; b. Peningkatan kemampuan GMP, SNI, ISO

9000, ISO 14000.

Infrastruktur

a. Peningkatan peran Balai Litbang dan Perguruan Tinggi;

b. Peningkatan peran lembaga akreditsasi dan sertifikasi mutu;

c. Peningkatan peran UPTD Dinas Terkait. Lokasi Pengembangan

Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bone, Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu , Kabupaten Luwu Utara, Kota Palopo, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Pangkep.

(14)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 97/M-IND/PER/8/2010

8

4. Rencana Aksi

RENCANA AKSI PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT 2010-2014

NO RENCANA AKSI PUSAT PEMANGKU KEPENTINGANDAERAH SWASTA LAIN LAIN 2010 2011 TAHUN2012 2013 2014 1 Regulasi dan deregulasi berbagai

kebijakan; Kemen. KP;Kemenperin; Kemen.PDT.

Pemda, Dinas

Perikanan & Kelautan, Disperindag

Kadin Universitas 2 Pengembangan infrastruktur yang

mendukung budidaya rumput laut dan industri pengolahan rumput laut;

Kemen. KP;

Kemen PU. Pemda, Dinas Perikanan & Kelautan, Kimpraswil

Kadin

3 Intensifikasi dan ekstensifikasi

budidaya rumput laut; Kemen. KP Pemda, Dinas Perikanan & Kelautan Kadin 4 Pendirian kelembagaan petani,

pedagang dan asosiasi pengusaha rumput laut;

Kemendag, Kemen Kop & UKM

Pemda, Disperindag,

Dis. Kop & UKM Kadin 5 Pendirian Unit Percontohan

Penyediaan Bibit Rumput Laut pada beberapa sentra produksi utama;

Kemen KP Pemda, Dinas Perikanan & Kelautan

Kadin

6 Pendirian Unit Percontohan Mini Plant Semi Refined Carragenan(SRC ) pada beberapa sentra produksi utama;

Kemen KP, Kemenperin

Pemda, Dinas

Perikanan & Kelautan, Disperindag

Kadin

7 Penelitian dan pengembangan teknologi proses dan produk makanan/minuman dan kosmetik berbasis rumput laut

Kemenperin,

Kemen KP Disperindag, Dinas Perikanan & Kelautan, Unhas

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :