• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN MANAJEMEN PRODUKSI TERHADAP ANALISIS USAHA PETERNAKAN KAMBING DI KECAMATAN CANDI

KABUPATEN SIDOARJO

Mudhita Zikkrullah Ritonga1), Koesnoto Soepranianondo2), Sri Hidanah2) 1)Magister Agribisnis Veteriner, 2)Departemen Ilmu Peternakan

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) manajemen produksi usaha peternakan kambing, (2) analisis usaha peternakan kambing, (3) hubungan manajemen produksi terhadap analisis usaha peternakan kambing. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik kuisioner, teknik wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Penentuan lokasi dan responden berdasarkan metode purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 25 peternak yang memiliki populasi 25-50 ekor. Analisis usaha adalah variabel dependent dan manajemen produksi adalah variabel independen. Indikator dari manajemen produksi yaitu manajemen bibit, kandang, pakan, pemeliharaan dan kesehatan. Indikator Analisis usaha yaitu R/C ratio, laba, persentase laba, laba per bulan, laba per ekor, Break Event Point (BEP) produksi,

Break Event Point (BEP) harga dan Payback Period (PP). Data dianalisis dengan

metode Structural Equation Modelling (SEM) dengan menggunakan program Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) peternak sudah mengaplikasikan manajemen produksi dengan baik; (2) usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo merupakan usaha yang profit dan layak untuk dilaksanakan dengan analisis usaha BEP harga Rp. 2.047.567., BEP produksi 27 ekor, nilai PP 1,22 dan nilai Rasio R/C 1,33; (3) terdapat hubungan antara manajemen produksi terhadap analisis usaha dengan komponen berpengaruh yaitu manajemen pemeliharaan dan manajemen pakan. Kata kunci: Manajemen produksi, Analisis usaha, Peternakan kambing,

Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo

Pendahuluan

Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang mendukung penyediaan pangan asal ternak yang bergizi dan berdaya saing tinggi serta menciptakan lapangan kerja dibidang agribisnis peternakan (Pakage, 2008). Prospek usaha peternakan yang mengarah

kepada komoditas unggulan dan spesifik lokasi akan berperan penting sebagai pasok pengetahuan dan teknologi peternakan serta memberikan umpan kedepan bagi pembangunan sektor pertanian pada umumnya untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang dicirikan oleh kemampuan dalam peningkatan

(2)

kesejahteraan petani dan mampu mendorong pertumbuhan sektor terkait dan ekonomi nasional secara keseluruhan (Rangkuti dkk., 2006).

Salah satu usaha peternakan yang dapat dikembangkan yaitu usaha ternak kambing. Ternak kambing merupakan ternak yang mudah dalam pemeliharaannya. Ditinjau dari aspek pengembangan secara komersil sangat potensial bila diusahakan karena umur dewasa kelamin dan dewasa tubuh serta lama bunting ternak kambing sangat pendek dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya (Sundari dan Efendi, 2010). Profil usaha ternak kambing disektor usaha primer menunjukkan bahwa usaha tersebut memberikan keuntungan yang relatif baik dengan nilai O/I ratio 1,39 untuk penggemukan (Sodiq dan Abidin, 2008). Keberadaan usaha ternak kambing tidak saja dapat menciptakan lapangan pekerjaan maupun lapangan usaha, namun juga memberikan penghasilan dan pendapatan (Sutama, 2004). Meskipun demikian ternak kambing merupakan komponen penting dalam usaha tani rakyat karena pemeliharaan kambing dengan skala kecil dapat membantu ekonomi rakyat dengan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia disekitar. Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki populasi kambing cukup banyak yaitu 297.300 ekor pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 315.2000 ekor

pada tahun 2014 (Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Sidoarjo Tahun 2014). Bila dilihat dari jumlah ternak maka ternak kambing berkembang secara baik di Kabupaten Sidoarjo. Populasi ternak kambing tersebar di enam belas kecamatan dan salah satunya adalah di Kecamatan Candi. Desa Sidodadi, Desa Sumokali dan Desa Sepande merupakan desa di Kecamatan Candi yang memiliki potensi untuk mengembangkan ternak kambing dengan usaha agroindustri seperti pembuatan tempe dan tahu. Tantangan terbesar dalam semua sistem produksi ternak diberbagai daerah antara lain adalah pakan dan lahan (Zulfanita, 2011). Faktor utama dalam menentukan produktivitas ternak adalah terjaminnya ketersediaan hijauan pakan.

Menurut Sunarso (2003), berbagai usaha telah dilakukan untuk memenuhi hijauan pakan yaitu integrasi tanaman pangan dan ternak, pemanfaatan lahan perkebunan kelapa atau karet. Desa Sumokali, Desa Sepande dan Desa Sidodadi adalah desa yang potensial untuk memelihara ternak kambing karena daya dukung (carriying capacity) untuk pakan ternak cukup banyak. Ketersediaan pakan untuk ternak di ketiga desa ini sangat mencukupi. Hal ini didukung dengan usaha agroindustri dan banyaknya rumput lapangan di lahan yang tidak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian oleh pemiliknya. Menurut Prawirodigjo dkk. (2005), ternak kambing mampu

(3)

beradaptasi pada kondisi daerah yang memiliki sumber pakan hijauan yang kurang baik, serta ternak kambing merupakan komponen peternakan rakyat yang cukup potensial sebagai penyedia daging. Peternak kambing di ketiga desa ini menggunakan limbah agroindustri sebagai pakan ternaknya. Limbah pertanian dan agroindustri pertanian memiliki potensi yang cukup besar sebagai sumber pakan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Bahan pakan tersebut apabila diolah atau difermentasi dengan bantuan mikroorganisme tertentu menghasilkan pakan fermentasi yang berkualitas tinggi (Sundari dan Efendi, 2010). Usaha pengkajian mengenai hubungan sistem manajemen produksi terhadap analisis usaha peternakan kambing sangat diperlukan. Meskipun pemeliharaan kambing merupakan usaha sampingan tetapi diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan usaha ternak kambing, sehingga kesejahteraan peternak meningkat (Zulfanita, 2011).

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui sistem manajemen produksi usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, (2) Mengetahui analisis usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, (3) Mengetahui hubungan sistem manajemen produksi terhadap analisis usaha peternakan kambing

di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei observasi langsung dengan melakukan teknik wawancara berdasarkan kuisioner yang telah dipersiapkan. Populasi dalam penelitian ini adalah peternak kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Objek penelitian ini menggunakan usaha peternakan kambing. Teknik pengambilan responden ditentukan secara purposive sampling. Ketentuan responden selanjutnya yaitu responden yang memiliki minimal 25 ekor kambing pada saat penelitian. Sehingga total keseluruhan diperoleh 25 responden/peternak yang dilakukan penelitian.

Variabel penelitian yang diamati dalam penelitian ini yaitu sistem manajemen produksi dan analisis usaha. Sistem manajemen produksi meliputi manajemen bibit, manajemen pemeliharaan, manajemen kandang, manajemen pakan dan manajemen kesehatan. Sistem manajemen produksi ini dihubungkan dengan analisis usaha yang terdiri dari BEP harga, BEP produksi/unit, R/C ratio dan PP, Laba, %Laba, Laba per Ekor dan Laba per Bulan.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi yaitu metode pengambilan data yang dilakukan dengan cara

(4)

mencatat secara sistematis hasil pengamatan terhadap kejadian-kejadian yang diselidiki selama penelitian (Marzuki, 2002). Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; 1) Teknik Wawancara, yaitu suatu metode yang digunakan untuk memperoleh data primer yang dimaksudkan untuk mengetahui aspek-aspek kuantitatif melalui media kuesioner yang terstruktur dan telah dipersiapkan; 2) Studi Dokumen, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat dan mencatat dokumen atau catatan yang berhubungan dengan penelitian sebagai data penunjang; dan 3) Focus Group Discussion (FGD), merupakan diskusi berkelompok untuk menghasilkan data kualitatif dan mengeksplorasi masalah yang spesifik.

Data penelitian yang terkumpul diolah dan dianalisis bagaimana sistem manajemen produksi, analisis usaha dan hubungan manajemen produksi terhadap analisis usaha. Tahapan analisa selanjutnya menggunakan metode analisis Partial Least Square (PLS) yaitu metode alternatif

Structural Equation Modelling (SEM) yang berbasis variance.

Hasil dan Pembahasan

Hasil bootstrapping dapat dilihat pada menunjukkan bahwa nilai T-statistik hubungan antara manajemen pakan terhadap analisis usaha sebesar 2,483 dan nilai original sample estimate sebesar 0,325. Nilai T-statistik ini menunjukkan bahwa hubungan antara manajemen pakan terhadap analisis usaha adalah signifikan (>1,96). Nilai original

sample estimate adalah positif yaitu

sebesar 0,325 yang menunjukkan bahwa arah hubungan antara manajemen pakan terhadap analisis usaha adalah positif. Hasil

bootstrapping untuk nilai T-statistik

hubungan antara manajemen pemeliharaan terhadap analisis usaha sebesar 5,447. Nilai T-statistik ini menunjukkan bahwa hubungan antara manajemen pemeliharaan terhadap analisis usaha adalah signifikan (>1,96). Nilai original

sample estimate adalah positif yaitu

sebesar 0,550 yang menunjukkan bahwa arah hubungan antara manajemen pemeliharaan terhadap analisis usaha adalah positif (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil Analisis Partial Least Square (PLS) Variabel Laten Hubungan Antara Variabel Laten Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Error (STERR) T Statistics (|O/STERR|) Values P Manajemen Pemeliharaan -> Analisis Usaha 0,550 0,597 0,101 5,447 0,000 Manajemen Pakan -> Analisis Usaha 0,325 0,299 0,131 2,483 0,013

(5)

Berdasarkan hasil bootstrapping hubungan manajemen produksi terhadap analisis usaha memakai smartPLS versi 3.1 didapat menunjukkan bahwa nilai T-statistik hubungan antara manajemen pakan terhadap analisis usaha sebesar 2,483

dan nilai original sample estimate sebesar 0,325. Hasil bootstrapping untuk nilai T-statistik hubungan antara manajemen pemeliharaan terhadap analisis usaha sebesar 5,447 dan nilai original sample estimate sebesar 0,550.

Tabel 2. Hasil Analisis Partial Least Square (PLS) Variabel Indikator Hubungan Variabel Indikator

dengan Variabel Laten

Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Error (STERR) T Statistics (|O/STERR|) Values P %Laba <- Analisis Usaha 0,833 0,777 0,167 5,093 0,000 BEP Harga <- Analisis Usaha -0,762 -0,765 0,086 6,476 0,000 Frekuensi Pembersihan Kandang

-> Manajemen Pemeliharaan

0,826 0,744 0,248 4,168 0,001 Frekuensi Pembersihan Tempat

Pakan dan Minum -> Manajemen Pemeliharaan

0,826 0,744 0,248 4,168 0,001

Laba <- Analisis Usaha 0,901 0,882 0,044 12,664 0,000 Laba Per Bulan <- Analisis Usaha 0,913 0,912 0,027 11,772 0,000 Lama Pemeliharaan -> Manajemen

Pemeliharaan

0,691 0,727 0,094 6,165 0,000 Intensitas Memandikan Kambing

-> Manajemen Pemeliharaan 0,716 0,712 0,146 5,411 0,000 PP <- Analisis Usaha -0,742 -0,736 0,102 5,756 0,000 Pencatatan -> Manajemen

Pemeliharaan 0,746 0,721 0,160 5,400 0,000 Renovasi Kandang -> Manajemen

Pemeliharaan

0,811 0,735 0,235 4,242 0,001 Penerapan Teknologi Pakan ->

Manajemen Pakan

1,000 1,000 0,000

Tabel 2. menunjukkan nilai original sample estimate variabel manajemen pakan yaitu penerapan teknologi pakan adalah 1,000. Hal ini menunjukkan pengaruh yang mutlak variabel penerapan teknologi pakan kepada hubungan manajemen pakan terhadap analisis usaha. Berdasarkan nilai original sample

estimate, setiap kenaikan penerapan

teknologi pakan satu unit maka akan

meningkatkan manajemen pakan sebesar 1,000 unit. Penerapan teknologi pakan yang dibuat peternak kambing Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo berupa pembuatan silase dan formulasi pakan konsentrat. Pakan tambahan yang digunakan peternak kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo adalah kulit kacang hijau dan tumpi jagung. Pencampuran

(6)

ampas tahu dan kulit kedelai dicampur dengan kulit kacang hijau atau tumpi jagung kemudian ditambahkan garam dapur. Menurut Sodiq dan Abidin (2007), penerapan teknologi pakan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan yang berdampak biaya produksi secara keseluruhan menurun. Mulyono dan Sarwono (2002) menyatakan bahwa pakan tambahan berfungsi untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan.

Nilai original sample estimate pada enam variabel indikator manajemen pemeliharaan yaitu frekuensi pembersihan kandang 0,826, frekuensi pembersihan tempat pakan 0,826, lama pemeliharaan 0,691, intensitas memandikan kambing 0,716, pencatatan/recording 0,746 dan renovasi 0,811. Data di atas menunjukkan bahwa variabel indikator yang mempengaruhi manajemen pemeliharaan terhadap analisis usaha yang paling tinggi adalah pembersihan kandang dan pembersihan tempat pakan. Pembersihan kandang dan pembersihan tempat pakan memiliki pengaruh lebih tinggi sebagai variabel indikatornya manajemen pemeliharaan dibandingkan variabel indikator lainnya. Sodiq dan Abidin (2007) menyatakan bahwa pembersihan tempat pakan dan minum dilakukan setiap hari dengan melakukan pencucian sebelum digunakan kembali. Tempat pakan dan minum yang tidak dibersihkan akan dijadikan media bagi kuman

ataupun jamur untuk hidup yang dapat menimbulkan penyakit pada ternak. Pembersihan tempat pakan dan minum dilakukan bersamaan dengan pembersihan kandang. Menurut Sodiq dan Abidin (2007), kambing dimandikan minimal dua minggu sekali. Kambing sebaiknya dimandikan pada waktu pagi hari saat cuaca cerah sehingga tubuh kambing lebih cepat kering. Badan kambing yang kotor memungkinkan tumbuh dan berkembangnya aneka macam parasit dan mikroba yang dapat menimbulkan bermacam-macam penyakit. Kebersihan tubuh kambing secara tidak langsung dapat memberikan dampak meningkatnya produksi (Sodiq dan Abidin, 2007). Peternak kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo memelihara ternak kambingnya lima hingga enam bulan (52%), tujuh hingga delapan bulan (40%) dan tiga hingga empat bulan (8%) disesuaikan akan panen pada Hari Raya Qurban. Kambing yang digemukkan selama lima bulan maka bibit yang dibeli berumur tujuh bulan sedangkan kambing yang digemukkan selama tujuh bulan maka bibit yang dibeli adalah sekita lima bulan. Umumnya di Indonesia kambing dipotong pada umur muda. Kambing yang dipotong pada umur muda lebih disukai karena empuk dan harum (Mulyono dan Sarwono, 2002). Lama pemeliharaan 5-7 bulan yang dilakukan peternak disesuaikan kondisi minat pasar pada umumnya. Saat terbaik untuk memotong

(7)

kambing adalah saat ternak berumur maksimal 24 bulan. Menurut Sarwono (2002), kambing paling responsif terhadap pakan sejak fase remaja yaitu berumur 7-8 bulan sampai ternak berumur 1-1,5 tahun.

Peternak kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo lebih banyak memiliki pencatatan tentang jual beli kambing. Tujuan pencatatan adalah agar peternak dapat mengadakan evaluasi terhadap peternakannya (Abidin dan Sodiq, 2003). Dwiyanto (1995) menyatakan bahwa pencatatan pada peternakan yang rapi akan memberikan data informasi yang dan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Beberapa pencatatan pada peternakan kambing seperti identitas kambing, data pertumbuhan kambing, kartu penimbangan dan kartu penjualan (Dwiyanto, 1995). Catatan yang dicatat oleh peternak yang terpenting adalah catatan kesehatan dan biaya pengeluaran. Peternak kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo melakukan renovasi kandang jika ada kerusakan sesegera mungkin (28%), jika ada kerusakan (36%), sekali seminggu (28%) dan sebulan sekali (8%). Sodiq dan Abidin (2007) menyatakan bahwa kandang yang baik akan mempermudah peternak melakukan kontrol pengawasan kesehatan kambing.

Nilai original sample estimate pada tujuh variabel indikator yang

mempengaruhi analisis usaha secara langsung yaitu laba 0,901, persentase laba 0.833, laba per bulan 0,913, PP -0.742 dan BEP harga -0.762. Paling besar pengaruhnya adalah laba per bulan karena mempunyai nilai

original sample estimate paling tinggi

yaitu 0,913 dibandingkan enam variabel lainnya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian adalah: (1) Manajemen produksi pada usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo dapat dikatakan baik pada semua sistem manajemen produksi, (2) Usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo merupakan usaha yang layak untuk dilaksanakan dengan nilai rata-rata BEP Produksi 27 ekor, rata-rata BEP Harga Rp. Rp. 2.082.078,-, rata-rata nilai PP 1,22 dan rata-rata nilai Rasio R/C sebesar 1,33, (3) Terdapat hubungan manajemen produksi terhadap analisis usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Komponen manajemen produksi yang berpengaruh pada analisis usaha adalah manajemen pemeliharaan dan manajemen pakan.

Daftar Pustaka

Dwiyanto, Muhaswad. 1995. Penanganan Domba dan Kambing. Penebar Swadaya. Jakarta.

(8)

Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, 2014. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Sidoarjo.

Mulyana dan Sarwono, 2007. Penggemukan Kambing Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mulyono, S. 2010. Penggemukan Kambing Potong. Niaga Swadaya. Jakarta.

Pakage, Stepanus. 2008. Analisis Pendapatan Peternak Kambing di Kota Malang. Jurnal Ilmu Peternakan hal. 51–57 Vol. 3 No.2. FPPK UNIPA. Manokwari 98314 Prawirodigjo, S., B. Utomo dan T.

Herawati. 2005. Produktivitas Induk dalam Usaha Kambing pada Kondisi Pedesaan. Balai Pengkaji Teknologi Pertanian. Ungaran.

Rangkuti, M., A. Setiadi, Solich dan A. Rusjat. 2006. Pedoman Praktis Beternak Kambing-Domba sebagai Ternak Potong. Puslitbangnak. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.

Sarwono. B. 2007. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta

Sodiq dan Abidin. 2008. Meningkatkan Produksi Susu Kambing Peranakan Ettawa. Agromedia Pustaka, Jakarta Selatan. Sundari dan K. Efendi. 2010. Analisis

Pendapatan dan Kelayakan Usaha Peternak Kambing Peranakan Etawah di Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulonprogo. Jurnal AgriSains Vol.1 No.1. Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Sutama, I Ketut, 2004. Teknologi Reproduksi Ternak Kambing. Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi Pertanian, BPTP Nusa Tenggara Barat, Tanggal 2 Maret 2004 di Mataram. Zulfanita. 2011. Kajian Analisis

Usaha Ternak Kambing di Desa Lubangsampang Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. Mediagro Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 7. No. 2: HAL 61–68. Fakultas Pertanian Universitas

Gambar

Tabel 1. Hasil Analisis Partial Least Square (PLS) Variabel Laten  Hubungan Antara  Variabel Laten  Original  Sample (O)  Sample  Mean (M)  Standard Error  (STERR)  T Statistics  (|O/STERR|)  Values P  Manajemen  Pemeliharaan -&gt;  Analisis Usaha  0,550
Tabel 2. Hasil Analisis Partial Least Square (PLS) Variabel Indikator  Hubungan Variabel Indikator

Referensi

Dokumen terkait

Pada proses ini, setiap pack breaded shrimp yang telah dibungkus selanjutnya akan dialirkan ke mesin pendingin melalui conveyor untuk quick freezing selama ± 1 menit yang

Melihat ragam penelitian soal haji, agaknya nyaris terlupakan adalah persoalan seksualitas jemaah selama di Arab Saudi. Mungkin sebagian besar jemaah dan petugas masih

Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan persentase kesesuaian data antara kontroler dan aplikasi Android sebesar 100% sehingga aplikasi dapat digunakan sebagai

Dala) kea$aan relaksasi #t#t $in$ing (erut4 agian 7ang )e)atasi anulus internus turut ken$ur. Pa$a kea$aan itu tekanan intra a$#)en ti$ak tinggi $an kanalis inguinalis erjalan

Membeli, atau dengan cara lain memperoleh barang tidak bergerak, kecuali dalam rangka melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh Perseroan sepanjang tidak

Karena insiden risiko terjadinya KNF yang cukup tinggi (enam kali lebih tinggi dari populasi umum) pada generasi pertama, maka penelitian ini diperlukan untuk deteksi

Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi berdasarkan penanda molekuler untuk membuktikan apakah benar kentang ―Superjohn‖ sama dengan kentang Granola atau berbeda

Media yang dapat digunakan dalam mempromosi koleksi Terbitan Pemerintah di Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat kepada pemustaka adalah