PENGARUH MODEL PEER TEACHING TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN HOCKEY
TESIS
Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Olahraga
Oleh Irwan Hermawan
1202622
PRODI PENDIDIKAN OLAHRAGA
PENGARUH MODEL PEER TEACHING TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KETERAMPILAN HOCKEY
Oleh
Irwan Hermawan
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Olahraga
[email protected] Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Januari 2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
LEMBAR PENGESAHAN TESIS
IRWAN HERMAWAN, S.Pd 1202622
PENGARUH MODEL PEER TEACHING TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
KETERAMPILAN HOCKEY
(Studi Eksperimen Pada Siswa Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Hockey SMAN 26 Kota Bandung)
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Pembimbing I
Agus Rusdiana, M. Sc., Ph. D. NIP. 1917608122001121001
Pembimbing II
Dr. Nuryadi, M.Pd NIP. 197101171998021001
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEER TEACHING TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
KETERAMPILAN HOCKEY
Irwan Hermawan, S.Pd (2015): “Pengaruh Model Pembelajaran Peer Teaching
Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Keterampilan Hockey”. Tesis, Bandung. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Pembimbing:
(1) Agus Rusdiana, M. Sc., Ph. D (2) Dr. Nuryadi, M.Pd.
Penelitian ini hendak mengkaji mengenai efektivitas model peer teaching
terhadap motivasi dan hasil belajar keterampilan hockey. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif solusi dalam rangka pengembangan kualitas pembelajaran hockey. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Experiment dengan desain The Static Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler hockey di SMAN 26 Bandung sebanyak 30 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling seadanya. Waktu penelitian yaitu selama 6 minggu, jumlah perlakuan 16 kali pertemuan, dengan frekuensi 1 minggu 3 kali. Instrumen yang dipilih penulis untuk mengukur peningkatan motivasi adalah menggunakan angket motivasi, Sedangkan instrumen yang dipakai untuk menjaring data hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah tes praktek keterampilan pada materi tes keterampilan hockey (dribbling, passing, dan
stopping). Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan: (1) Model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap motivasi, (2) Model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap hasil belajar keterampilan hockey, (3) Pretest motivasi berpengaruh terhadap posttest motivasi, (4) Pretest hasil belajar keterampilan hockey berpengaruh terhadap posttest hasil belajar keterampilan hockey, (5) Pretest motivasi, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap posttest motivasi, (6) Pretest hasil belajar, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap posttest hasil belajar keterampilan hockey.
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRACT
THE EFFECT OF PEER TEACHING MODEL ON MOTIVATION AND LEARNING RESULTS
HOCKEY SKILLS
Irwan Hermawan, S.Pd (2015): “The effect on Peer Teaching learning model to
Motivation and learning results on hockey skills”. Thesis, Bandung. Postgraduate
School University Education of Indonesia. Preceptor: (1) Agus Rusdiana, M. Sc., Ph. D
(2) Dr. Nuryadi, M.Pd.
This research seeks to examine the effectiveness of peer teaching models on motivation and learning results in hockey skills. The results of this study can be used as an alternative solution in order to develop the quality of learning hockey. The method used in this research is the Experiment method. It’s designed to The Static Pretest-Posttest Design. The population in this study was students who following the hockey extracurricular time at 26 Senior High School, in Bandung. It involved as much as 30 students in it. The sampling technique used, is an improvised sampling techniques. The research times spent are 6 weeks exactly, with a total of 16 treatment sessions, within a frequency of 3 times in 1 week. The amount of treatment of 16 sessions, with 1 week 3 times frequencies. The instrument that has been chosen by the author to measure the enhancement motivation is the motivation questionnaire. While the instrument is in use to collecting the result of students learning data, this research is a practice test on the hockey material skills such as (dribbling, passing, and stopping). Based on the analysis results then, it can be concluded in this following conclusion: (1) Peer teaching model and the conventional learning model have effect to motivation, (2) Peer teaching model and the conventional learning model have effect to result of learning hockey skills, (3) Pretest of motivation have effect to posttest of motivation, (4) Pretest result of learning hockey skills have effect to posttest result of learning hockey skills, (5) Pretest of motivation, Peer teaching model and the conventional learning model have effect to posttest of motivation, (6) Pretest result of learning hockey skills, peer teaching model and the conventional learning model have effect to posttest result of learning hockey skills.
Irwan Hermawan, 2015
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... i
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... i
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 7
C. Rumusan Masalah Penelitian ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 9
E. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka ... 12
1. Belajar dan Pembelajaran ... 12
2. Model Pembelajaran Peer Teaching ... 13
3. Motivasi ... 21
4. Hasil Belajar ... 23
5. Olahraga Hockey ... 27
B. Penelitian Yang Relevan ... 29
C. Kerangka Pikir ... 31
D. Hipotesis ... 33
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ... 35
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
C. Metode Penelitian... 38
D. Definisi Oprasional ... 38
E. Instrumen Penelitian... 43
F. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 52
G. Teknik pengumpulan Data ... 54
H. Analisis Data ... 55
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 59
B. Pembahasan Penelitian ... 71
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan ... 77
B. Rekomendasi ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 80
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR TABEL
Gambar Halaman
3.1 3.2 3.5 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 4.10 4.11 4.12 Materi pembelajaran………..………... Skenario pembelajaran..………...……….
Kisi-kisi angket motivasi……….………...
Deskripsi Data Motivasi………
Deskripsi Data Keterampilan Hockey………..
Hasil uji normalitas pre-test dan post-test motivasi………….
Hasil uji normalitas pre-test dan post-test keterampilan
hockey………..
Hasil uji homogenitas data motivasi dan keterampilan
hockey……….. Hasil uji homogenitas matriks varian/covarian……… Hasil Uji Linieritas………...
Test of Between-Subject Effects………..
Uji Hipotesis Pengaruh Model Peer Teaching dan model konvensional Terhadap Motivasi siswa.. ………
Uji Hipotesis Pengaruh Model Peer Teaching dan Model Konvewnsional Terhadap Hasil Belajar Keterampilan
Hockey.. ……….. Pengaruh Pretest Motivasi Terhadap Posttest Motivasi ……
Pengaruh Pretest Hasil Belajar Terhadap Posttest Hasil
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4.13
4.14
Belajar Keterampilan Hockey………..
Pengaruh pretest motivasi, model peer teaching dan model
pembelajaran konvensional terhadap posttest motivasi…….
Pengaruh pretest hasil belajar keterampilan hockey, model
peer teaching dan model pembelajaran konvensional
terhadap posttest hasil belajar keterampilan hockey……….
69
70
71
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
3.3
3.4
3.7
3.8
3.9
Bagan Alur Penelitian………...
Desain The Static Pretest-Posttest Design………..
Papan Target Teknik Push………...
Test Stopping………....
Tes Dribble………...
42
43
48
49
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR LAMPIRAN
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
A B C D E F G H I J K L M N O
Skenario Model Peer Teaching………. Skenario Model Pembelajaran Konvensional………
Kisi-Kisi Angket Motivasi………..
Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ………..…………
Hasil Uji Validitas instrument motivasi……… Angket Motivasi………
Data Tes Awal Motivasi Kelompok Model Peer Teaching Siswa SMAN 26 Bandung………..
Data Tes Akhir Motivasi Kelompok Model Peer Teaching
Siswa Sman 26 Bandung……….
Data Tes Awal Motivasi Kelompok Model Pembelajaran
Konvensional Siswa Sman 26 Bandung………
Data Tes Akhir Motivasi Kelompok Model Pembelajaran
Konvensional Siswa SMAN 26 Bandung………..
Data Tes Awal Hasil Belajar Keterampilan Hockey
Kelompok Model Peer Teaching Siswa SMAN 26
Bandung………
Data Tes Akhir Hasil Belajar Keterampilan Hockey
Kelompok Model Peer Teaching Siswa SMAN 26
Bandung………
Data Tes Awal Hasil Belajar Keterampilan Hockey
Kelompok Model Pembelajaran Konvensional Siswa
SMAN 26 Bandung……….
Data Tes Akhir Hasil Belajar Keterampilan Hockey
Kelompok Model Pembelajaran Konvensional Siswa
SMAN 26 Bandung……….
Data Tes Awal, Tes Akhir dan Selisih Motivasi Kelompok
Model PeerTeaching Siswa SMAN 26 Bandung…………
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
P Q R S T U V W X Y Z AA AB
Data Tes Awal, Tes Akhir dan Selisih Motivasi Kelompok
Model KonvensionalSiswa SMAN 26 Bandung…………
Data Tes Awal, Tes Akhir dan Selisih Hasil Belajar
Keterampilan Hockey Kelompok Model Peer Teaching Siswa SMAN 26 Bandung………..
Data Tes Awal, Tes Akhir dan Selisih Hasil Belajar
Keterampilan Hockey Kelompok Model Konvensional
Siswa SMAN 26 Bandung………
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Awal Motivasi
menggunakan ModelPeer Teaching……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Akhir Motivasi
menggunakan ModelPeer Teaching……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Gain Motivasi
menggunakan ModelPeer Teaching……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Awal Motivasi
menggunakan ModelKonvensional……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Akhir Motivasi
menggunakan ModelKonvensional……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Gain Motivasi
menggunakan ModelKonvensional………..
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Awal Keterampilan
Hockey menggunakan ModelPeer Teaching………..
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Akhir Keterampilan
Hockey menggunakan ModelPeer Teaching………..
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Gain Keterampilan Hockey
menggunakan Model Peer Teaching……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Awal Keterampilan
Hockey menggunakan ModelKonvensional……….
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
AC AD AE AF AG AH AI AJ AK AL AM AN AO AP AQ
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Tes Akhir Keterampilan
Hockey menggunakan ModelKonvensional……….
Hasil Uji Normalitas Lilliefors Gain Keterampilan Hockey
menggunakan ModelKonvensional………..
Uji Homogenitas Menggunakan Uji Kesamaan Dua
Variansi……….. Uji Homogenitas Matriks Varian/Covarian………. Uji Linieritas………..
Uji Signifikansi Pengaruh Model Peer Teaching dan model
konvensional Terhadap Motivasi siswa.. ………
Uji Signifikansi Pengaruh Model Peer Teaching dan Model Konvennsional Terhadap Hasil Belajar
Keterampilan Hockey………
Uji Signifikansi Pengaruh Pretest Motivasi Terhadap
Posttest Motivasi………..
Uji Signifikansi Pengaruh Pretest Hasil Belajar Terhadap
Posttest Hasil Belajar Keterampilan Hockey ……….
Uji Signifikansi Pengaruh pretest motivasi, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap
posttest motivasi ………..
Uji Signifikansi Pengaruh pretest hasil belajar keterampilan
hockey, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap posttest hasil belajar keterampilan
hockey………
Foto penelitian...
Surat Keterangan Pembimbing Tesis...
Surat Keterangan Permohonan Izin Penelitian...
Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian...
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
AR Daftar Riwayat Hidup... 195
1
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Hockey merupakan jenis olahraga permainan bola kecil yang dimainkan di
atas permukaan rumput atau karpet yang khusus untuk bermain hockey. Setiap
regunya mempunyai tujuan untuk berusaha memasukan bola sebanyak-banyaknya
ke gawang lawan dengan menggunakan stik, dan mempertahankan gawang sendiri
agar tidak kemasukan. Tabrani (2002, hlm. 1) menjelaskan “hoki adalah suatu
permainan yang dimainkan antara dua regu yang setiap pemainnya memegang
sebuah tongkat bengkok yang disebut stik (stick) untuk menggerakan sebuah
bola”.
Dalam pergerakannya, setiap pemain harus menguasai teknik bermain baik
teknis dasar maupun teknis lanjutan yang meliputi teknik “push (mendorong bola), hit (memukul bola), stop (menahan bola), dribble (menggiring bola), flick
(mencungkil bola), jab (menjangkau bola), tackle (merampas bola), dan scoop
(mengangkat bola)” Dawkins (1990, hlm. 54). Masing-masing teknik mempunyai
fungsi dan tujuan yang berbeda, seperti push digunakan untuk mengumpan bola kepada rekan yang jaraknya dekat dengan posisi pemain yang menguasai bola,
Ryan & Brown (1985, hlm. 49) menjelaskan ‘Pushing: moving or passing the ball
along the ground with the stick without first raising the stick in back-swing.’
Artinya push: menggerakan atau mengoper bola di permukaan tanah dengan stik
tanpa menaikkan stik terlebih dahulu selama mengayunkan stik. Stop digunakan untuk menahan bola hasil passing dari orang lain, Ryan & Brown (1985, hlm. 49)
menjelaskan ‘Trapping/stopping : the action of controlling, stopping or receiving the ball.‟ Artinya Trapping/stopping adalah aksi mengendalikan, menghentikan
2
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
the ball in control.‟ Artinya dribbling seperti dalam sepak bola atau bola basket, yaitu pergerakan pemain dengan bola dalam penguasaannya.
Selain dituntut penguasaan teknik dasar secara perorangan, diperlukan
juga penguasaan teknik secara berpasangan atau secara unit, misalnya penguasaan
bola yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, baik di tempat maupun dalam
keadaan bergerak. Hal ini diperlukan karena seorang pemain tidak mungkin
menguasai bola sendirian dari daerah pertahanan sendiri sampai daerah
pertahanan lawan walaupun penguasaan teknik dribbling-nya baik. Kalaupun bisa, hal semacam ini tidak efektif dan efisien.
Penguasaan terhadap teknik-teknik dasar dalam olahraga hockey
membutuhkan model pembelajaran yang tepat, karena olahraga ini dinilai sebagai
olahraga yang baru dikenal siswa di sekolah. Oleh karena itu pelaksanaan
pembelajarannya tidak menggunakan model pembelajaran konvensional lagi.
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang biasa dilakukan
oleh guru. Pendapat Ainshworth & Fox (1989, dalam Suherman, 2009, hlm. 130)
menyebutkan bahwa direct teaching sebagai pendekatan traditional (konvensional), kemudian Suherman (2009, hlm. 149) menjelaskan : "dalam
direct teaching, dominasi pembuatan keputusan berada pada gurunya, sebaliknya, dalam indirect teachingdominasi berada pada siswanya”.
Dampak yang ditimbulkan dari model pembelajaran semacam ini yaitu
rendahnya motivasi diri siswa. Kebosanan dalam belajar merupakan salah satu
indikasi rendahnya motivasi diri siswa. Ini jelas akan merugikan siswa karena
Chen (2001, dalam Walhead, 2004, hlm. 4) menjelaskan „Motivation has been viewed as a key factor influencing student learning outcomes’. Artinya motivasi dilihat sebagai factor kunci yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh sebab
itu, permasalahan semacam ini harus segera ditindak lanjuti dengan merubah
kebiasaan yang dilakukan oleh guru penjas sekarang ini. Saylor (dalam Mulyasa,
3
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
student, teacher interaction in an educational setting‟. Artinnya instuksi adalah pelaksanaan dalam rencana kurikulum, tapi tidak selalu melibatkan siswa dalam
pengajaran, guru yang mengatur interaksi dalam pembelajaran. Dalam hal ini,
guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat ketika
peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar, apakah kegiatan
pembelajaran dihentikan, diubah modelnya atau mengulang dulu pembelajaran
yang lalu.
Alderman (1974, dalam Hidayat 2009, hlm. 52) menyebutkan bahwa “tidak
ada prestasi tanpa motivasi” dan ditegaskan oleh Straub (1980, dalam Hidayat
2009, hlm. 52) bahwa “prestasi adalah perpaduan antara latihan keterampilan
dengan motivasi”. Artinya disini bahwa motivasi memiliki peranan yang sangat
penting dalam mencapai suatu tujuan tertentu khususnya dalam pembelajaran
pendidikan jasmani, karena motivasi adalah pendorong siswa untuk melakukan
pembelajaran. Dengan demikian, motivasi belajar merupakan dorongan untuk melakukan kegiatan belajar dengan sepenuh hati. Bagi siswa, motivasi itu
diibaratkan bahan bakar sebuah kendaraan. Tidak akan berarti betapapun
bagusnya mesin dan halusnya penyetelan kalau tidak memiliki bahan bakar!
Bahan bakar menjadi unsur vital bagi sebuah kendaraan. Begitu pula halnya
dengan motivasi bagi siswa untuk belajar. Motivasi inilah yang menggerakkan
mereka untuk belajar.
Dari perspektif kognitif, Pintrich and Schunk (1996, dalam Walhead 2004,
hlm. 4) menjelaskan: ‘motivation as the process in which a goal-directed activity is instigated and sustained’. Artinya motivasi sebagai proses mencapai tujuan dengan aktifitas yang didorong dan berkelanjutan. Dalam kajian ilmu psikologi,
motivasi merupakan dorongan baik itu dari internal seseorang maupun merupakan
hasil pengkondisian terhadap suatu keadaan yang memungkinkan seseorang
meraih tujuan yang telah ia tetapkan sebelumnya. Seorang siswa yang termotivasi
belum tentu ia mau belajar, sebaliknya seorang siswa yang mau belajar belum
4
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
poin utama untuk membantu mengarahkan perhatian dan fokus siswa terhadap
proses pembelajaran yang dilakukan. Melalui dorongan semangat serta bentuk
penguatan positif yang diberikan kepada siswa, akan sangat mendorong
keberhasilan dalam proses pembelajaran itu sendiri. Tanpa upaya tersebut sangat
mustahil siswa akan mampu menjalani proses pembelajaran yang dilaluinya
dengan baik. Siswa yang tidak memiliki motivasi akan cenderung menganggap
bahwa proses pembelajaran adalah suatu hal yang membosankan dan dihindari.
Kemudian siswa akan mencari kompensasi lain di luar tujuan proses pembelajaran
itu sendiri. Tugas berat tentunya bagi guru untuk dapat menciptakan dan menjaga
motivasi belajar siswa
Motivasi belajar siswa akan menentukan bagaimana mereka belajar
nantinya. Penanamanan target serta tujuan pembelajaran yang jelas, dukungan
sosial yang baik, materi serta metode yang sangat menyenangkan dalam proses
pembelajaran, lingkungan yang kompetitif, akan sangat membantu seorang siswa
untuk mengoptimalkan motivasi belajar yang dimilikinya. Hamzah (2011, hlm.
23) menjelaskan “motivasi belajar dapat timbul karena factor instrinsik, berupa
hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan
cita-cita. Sedangkan factor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan
belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik.” Perwujudan kondisi yang ideal seperti ini, nantinya diharapkan agar memunculkan kesadaran kepada
diri siswa bahwa proses pembelajaran yang dilalui bukanlah merupakan suatu
tugas berat yang harus dijalani, melainkan sudah merupakan kebutuhan serta
tantangan yang harus mereka lalui untuk mencapai tujuan pembelajaran serta
memberikan modal yang permanen agar siswa mampu memiliki motivasi belajar
siswa yang baik
Keberhasilan sebuah pembelajaran bergantung pada pemilihan materi
pelajaran, merencanakan kegiatan belajar-mengajar, pemilihan model
hal-5
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
hal tersebut, hal yang paling penting adalah keterampilan guru dalam
memperlakukan perangkat pembelajaran tersebut.
Pelaksanaan pembelajaran hendaknya bermakna bagi siswa, jangan sampai
siswa hanya datang dan duduk di kelas tanpa memperoleh sesuatu yang
bermanfaat. Berliner (1986, dalam Chotran, 2006:166) menjelaskan „suggests that expert teachers use a range of instructional strategies based on the task and learners' needs’. Artinya guru menggunakan berbagai strategi pengajaran berdasarkan tugas dan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu hendaknya guru
pandai memilih model yang dapat menjadikan pembelajaran bermakna bagi
siswa. Lasley and Matczynski (1997, dalam Chotran 2006:166) menjelaskan ‘only teachers who utilize a variety of instructional models will be successful in maximizing the achievement of all students‟. Artinya hanya para guru yang memanfaatkan berbagai model pembelajaran yang akan sukses dalam
memaksimalkan pencapaian prestasi siswa. Hal lain yang harus dijadikan
pertimbangan dalam memilih model pembelajaran adalah kesesuaiannya dengan
tujuan instruksional serta pelaksanaannya dilihat dari sarana dan waktu yang
tersedia. Model pembelajaran yang dinilai memiliki efektivitas tinggi, menurut
Boud, et al. (2001, hlm 186) adalah peer teaching atau disebut juga peer learning
bahwa:
Peer teaching involves students learning from and with each other in ways which are mutually beneficial and involve sharing knowledge, ideas and experience between participants. The emphasis is on the learning process, including the emotional support that learners offer each other, as much as the learning itself.
Ini berarti bahwa peer teaching itu melibatkan siswa belajar dari dan dengan satu sama lain dalam cara-cara yang saling menguntungkan dan di sana terlibat
suasana berbagi pengetahuan, ide dan pengalaman antara peserta. Penekanannya
adalah pada proses pembelajaran, termasuk dukungan emosional yang ditawarkan
6
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Menurut Metzler (2000, hlm. 337) „Peers can often be as or more effective than adult teachers’. Artinya bahwa teman sebaya sering dapat seperti guru atau lebih efektif daripada orang dewasa. Teman sebaya membuat siswa lebih aktif
dalam proses pembelajaran, memberi mereka lebih banyak tanggung jawab dan
tingkat keterlibatan mereka dalam tugas lebih banyak karena mereka tidak akan
segan atau merasa malu kepada rekannya sendiri. Terlebih lagi Metzler (2000,
hlm. 337) menjelaskan „to structure a learning environment in whichsome students assume and carry out many of the key operations of instruction to assist other students in the learning process‟. Artinya bahwa struktur sebuah lingkungan belajar di mana beberapa siswa menganggap dan melaksanakan banyak dari kunci
operasi instruksi untuk membantu siswa lainnya dalam proses pembelajaran,
sehingga model peers teaching ini akan lebih efektif digunakan dalam
pembelajaran.
Disamping itu Westberg dan Jason dalam Juliantine (2013, hlm. 192)
menekankan alasan penting penggunaan model peer teaching salah satunya adalah
“pembelajaran bersifat aktif dan terindividualisasi”. Di dalam konteks peer teaching yang menekankan kerja sama, setiap individu terlibat aktif dalam proses pembelajaran begitu mereka mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, sasaran
maupun gaya belajar mereka. Kemudian Juliantine (2013, hlm. 192)
menambahkan bahwa “Individualisasi terhadap proses pembelajaran seseorang di dalam peer teaching dapat meningkatkan konsep diri, antusiasme, kepercayaan
diri, dan motivasi untuk belajar”. Karena bersifat aktif dan pribadi, kemungkinan besar pembelajaran tersebut dapat memberikan manfaat dan mudah dicapai.
Greenwood, dkk (1988, dalam Fuchs, 1997, hlm. 197) melaporkan bahwa
„peer tutoring produces academic gains equivalent to and even greater than conventional procedures involving lecture and student discussion’. Artinya peer tutoring menghasilkan keuntungan akademis setara dengan dan bahkan lebih besar daripada prosedur konvensional yang melibatkan ceramah dan diskusi
7
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
manfaat model peer teaching yaitu ‘increased motivation and learning for
students and tutors’.Artinyamanfaat peer teaching adalah meningkatkan motivasi dan belajar bagi siswa dan tutor. Terlebih lagi Falchikov (2001, dalam Colvin,
2007, hlm. 166) menjelaskan „In general, peer tutors help other students either on a one-to-one basis or in small groups by continuing classroom discussions, developing study skills, evaluating work, resolving specific problems, and encouraging independent learning„. Artinya secara umum, siswa yang menjadi tutor membantu siswa lain secara satu-satu atau dalam kelompok kecil dengan
melanjutkan diskusi kelas, mengembangkan kemampuan belajar, mengevaluasi
kerja, menyelesaikan masalah-masalah tertentu, dan mendorong belajar mandiri.
Berdasarkan beberapa ulasan di atas untuk memperkuat hasil penelitian,
beberapa penelitian yang telah dilakukan yaitu: Penelitian yang dilakukan
Kathryn R. Wentzel (1998) dari University of Maryland College Park yang
berjudul Social Relationships and Motivation in Middle School: The Role of Parents, Teachers, and Peer. Penelitian ini memaparkan bahwa dukungan dari teman sebaya memliki pengaruh yang positif terhadap motivasinya disekolah.
Selain itu, penelitian Tomoko Ogiwara, dkk (2011) dengan judul Teaching strategy for correcting naïve conception in an overhand volleyball pass skill among seventh grade PE student. Dalam penelitian ini 43 siswa belajar passing atas bolavoly dengan menggunakan model peer teaching dan dibandingkan
dengan variable control sebanyak 38 siswa. Hasilnya bahwa siswa yang
menggunakan model peer teaching menunjukan peningkatan yang signifikan dalam menguasai keterampilan passing atas. Hasil menunjukkan bahwa peer
teaching adalah model yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar baik kognitif
ataupun penguasaan keterampilan passing atas bolavoly.
Berdasarkan pengamatan, observasi di lapangan, dan hasil penelitian
terdahulu, isu-isu yang terjadi di lingkungan sekolah khususnya di SMA saat ini
adalah efektivitas serta efisiensi penerapan model pembelajaran yang belum tepat,
8
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
khususnya pada cabang olahraga hockey yang dinilai olahraga yang baru
dipelajari.
Dibutuhkan study untuk mengatasi persoalan yang telah dipaparkan
sebelumnya dengan mengkaji model-model pembelajaran yang dapat digunakan
untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mengimplementasikan model peer teaching.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Implementasi kurikulum 2013 menjadi tantangan bagi guru, karena dalam
hal ini guru dituntut untuk secara profesional merancang pembelajaran efektif dan
bermakna (menyenangkan), mengorganisasikan pembelajaran, memilih
pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan
pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan criteria keberhasilan.
Selaras dengan itu Mulyasa (2013, hlm. 99) menjelaskan bahwa “Tema kurikulum
2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif,
afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
terintegrasi“. Tetapi pada kenyataannya, temuan di lapangan saat ini adalah guru masih menggunakan model konvensional dalam mengajar siswanya.
Dari beberapa kajian di atas, penulis mengidentifikasi masalah
penelitiannya sebagai berikut:
1. Guru belum kreatif dalam mengembangkan model pembelajaran,
sehingga masih menggunakan model konvensional.
2. Model pembelajaran konvensional cenderung membuat siswa menjadi
tidak begitu antusias dalam mengikuti pembelajaran.
3. Gurunya yang selalu aktif dan muridnya yang selalu acuh dalam proses
KBM
Dalam menjawab permasalahan ini, salah satu hal yang perlu diperbaiki
adalah cara belajar yang salah serta pemilihan model pembelajaran yang tepat.
9
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
juga harus menciptakan suasana belajar yang dapat membangkitkan motivasi
siswanya dalam belajar. Model pembelajaran peer teaching diharapkan akan
menjawab persoalan ini. Model ini diharapkan akan membantu meningkatkan
motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan diharapkan akan
meningkatkan hasil belajarnya juga.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan dalam identifikasi masalah
penelitian, maka rumusan masalah penelitian secara umum adalah „Apakah model
pembelajaran berpengaruh terhadap peningkatan motivasi dan hasi belajar siswa?‟
Sedangkan rumusan masalah secara khusus adalah sebagai berikut:
1. Apakah model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadapmotivasi siswa di SMAN 26 Bandung?
2. Apakah model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap hasil belajar keterampilan hockey siswa di SMAN 26
Bandung?
3. Apakah pretest motivasi berpengaruh terhadap posttest motivasi siswa di
SMAN 26 Bandung?
4. Apakah pretest hasil belajar keterampilan hockey berpengaruh terhadap
posttest hasil belajar keterampilan hockey siswa di SMAN 26 Bandung?
5. Apakah pretest motivasi, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap posttest motivasi siswa di SMAN 26
Bandung?
6. Apakah pretest hasil belajar, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional berpengaruh terhadap posttest hasil belajar keterampilan
hockey siswa di SMAN 26 Bandung?
10
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran peer teaching pada peningkatan motivasi dan hasil belajar
keterampilan siswa SMA. Berikut merupakan tujuan secara khusus dalam
penelitian ini:
1. Mengetahui pengaruh model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap motivasisiswa di SMAN 26 Bandung.
2. Mengetahui pengaruh model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar keterampilan hockey di SMAN 26
Bandung.
3. Mengetahui pengaruh pretest motivasi terhadap posttest motivasi siswa di
SMAN 26 Bandung.
4. Mengetahui pengaruh pretest hasil belajar keterampilan hockey terhadap
posttest hasil belajar keterampilan hockey siswa di SMAN 26 Bandung.
5. Mengetahui pengaruh pretest motivasi, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap posttest motivasi siswa di SMAN 26
Bandung.
6. Mengetahui pengaruh pretest hasil belajar, model peer teaching dan model pembelajaran konvensional terhadap posttest hasil belajar keterampilan
hockey siswa di SMAN 26 Bandung.
E. Manfaat Penelitian
Metzler (2000, hlm. 288) memaparkan bahwa, „The peer teaching model is based on accepted trade off to help reduce the problem of too little teacher observation of practice and limited feedback recieved by student‟. Sesuai dengan
pernyataan ini bahwa model pembelajaran peer teaching merupakan model
pembelajaran untuk membantu siswa mengurangi masalahnya dalam belajar,
pengawasan guru yang sedikit dan feedback yang diberikan guru juga terbatas.
11
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
setiap tugas yang diberikan guru dalam. Oleh karena itu, penelitian ini akan
bermanfaat secara:
1. Teoritis
Penelitian ini berusaha menguatkan teori Greenwood, dkk (1988, dalam
Fuchs, 1997, hlm. 179) yang melaporkan bahwa „peer tutoring produces academic gains equivalent to and even greater than conventional procedures involving lecture and student discussion’. Artinya peer tutoring menghasilkan keuntungan akademis setara dengan dan bahkan lebih besar daripada
prosedur konvensional yang melibatkan ceramah dan diskusi siswa.
Sementara Mille, dkk (1996, dalam Colvin, 2007, hlm. 165) menjelaskan manfaat model peer teaching yaitu ‘increased motivation and learning for
students and tutors’. Selain itu (Falchikov, 2001 dalam Colvin, 2007, hlm.
166) menjelaskan „In general, peer tutors help other students either on a one-to-one basis or in small groups by continuing classroom discussions, developing study skills, evaluating work, resolving specific problems, and encouraging independent learning„. Artinya secara umum, siswa yang menjadi tutor membantu siswa lain secara satu-satu atau dalam kelompok
kecil dengan melanjutkan diskusi kelas, mengembangkan kemampuan
belajar, mengevaluasi kerja, menyelesaikan masalah-masalah tertentu, dan
mendorong belajar mandiri.
Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian sebelumnya
serta dapat memberikan informasi terkait dengan model pembelajaran peer teahing dan bahan referensi kepada pihak yang berkepentingan dalam mengembangkan keilmuan pendidikan jasmani dan olahraga seperti guru
pendidikan jasmani, guru ekstrakurikuler, lembaga FPOK, atau lembaga
lainnya sebagai rujukan untuk dilakukan penelitian lebih jauh terkait model
pembelajaran.
12
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi implikasi
penerapan model pembelajaran peer teaching untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran khususnya pembelajaran hockey dalam rangka meningkatkan
motivasi dan hasil belajar keterampilan siswa. Sehingga penelitian ini dapat
dijadikan acuan oleh para guru sebagai pertimbangan bahan pengajaran di
sekolah dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model
35
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi, Populasi, Teknik Sampling Penelitian, dan Sampel 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMAN 26 Bandung yang beralamat di
Jalan Sukaluyu Cibiru Kota Bandung. Alasan mengambil lokasi penelitian ini
adalah karena SMAN 26 Bandung merupakan sekolah yang sedang
berkembang, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengembangkan model
pembelajaran dalam meningkatkan motivasi dan juga hasil belajar siswa.
2. Populasi
Arikunto (2006, hlm. 130), menjelaskan bahwa: “Populasi adalah
keseluruhan objek penelitian”. Lebih lanjut Sugiyono (2010, hlm. 80)
menjelaskan sebagai berikut: “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 26 Bandung yang mengikuti
ekstrakurikuler hockey berjumlah 30 siswa. Populasi ini diambil dengan alasan
siswa yang mengikuti ekstrakurikuler hockey adalah siswa pemula yang baru
mengenal hockey di SMA. Motivasi dan hasil belajar keterampilan hockey
harus ditingkatkan sejak mereka masih pemula. Diharapkan model peer teaching
dapat meningkatkan motivasi dan juga hasil belajar keterampilan hockey siswa.
3. Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling
seadanya. Sudjana (2001, hlm. 167) menjelaskan, “Pengambilan sebagian dari
populasi berdasarkan seadanya data atau kemudahannya mendapatkan data
tanpa perhitungan kerepresentatifannya, dapat digolongkan ke dalam sampling
36
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Menurut Sugiyono (2010, hlm. 81), “Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sampel pada penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler hockey berjumlah 30 siswa
dengan alasan jumlah populasi kurang dari 100 orang. Arikunto (2002, hlm.
112) menjelaskan: “Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyek kurang
dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi”. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka untuk jumlah
sampel penelitian ini ditetapkan oleh penulis sebesar 100% atau sebanyak 30
orang, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi atau sampel total
(total sampling). Dalam penentuan kelompok eksperimen dan kelompok
control dilakukan random assigment dengan cara mengundi para responden menjadi dua kelompok, sehingga didapat kelompok eksperimen sebanyak 15
orang dan kelompok control 15 orang.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperiment. Penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan yang dilaksanakan 3 kali
dalam seminggu, dari mulai tanggal 26 Agustus sampai 3 Oktober 2014. Hal ini
didasarkan menurut Harre yang dikutip oleh Harsono (1988, hlm. 106) yang
menyatakan bahwa: “Macro-cycle adalah suatu siklus latihan jangka panjang yang
bisa memakan waktu 6 bulan, satu tahun, sampai beberapa tahun; Meso-cycle
lamanya antara 3-6 minggu; dan untuk micro-cycle kurang dari 3 minggu, bisa 1
atau 2 minggu.”. Lebih lanjut Sajoto (1995, hlm. 35) menegaskan bahwa, “Para
pelatih dewasa ini pada umumnya setuju untuk menjalankan program latihan 3 kali
setiap minggu, agar tidak terjadi kelelahan yang kronis.”
Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian eksperimen
menggunakan model pembelajaran peer teaching dalam meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa:
37
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pelaksanaan pre test dilakukan sebelum perlakuan diberikan. Pre test
dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana motivasi dan hasil belajar yang telah
dimiliki siswa baik pada kelompok eksperimen maupun kontrol. Untuk mengetahui
skor pre test tersebut kelompok eksperimen dan kontrol diberikan angket yang mengacu pada skala motivasi dan tes performa untuk hasil belajar dalam permainan
hockey.
2. Treatment
Treatment atau perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen adalah model pembelajaran peer teaching dengan materi permainan bola kecil yaitu hockey. Perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali seminggu selama 6 minggu
berturut-turut atau dengan kata lain sebanyak 16 kali pertemuan.
Berikut adalah materi yang akan diajarkan melalui model pembelajaran peer teaching dan model konvensioanal.
PERTEMUAN MODEL PEER TEACHING MODEL KONVENSIONAL
1 Pretest motivasi dan hasil belajar hockey
Pretest motivasi dan hasil belajar hockey
2-3 Menguasai teknik dasar dribble dalam bermain hockey
Menguasai teknik dasar dribble dalam bermain hockey
4-5 Menguasai teknik dasar push dan stopping dalam bermain hockey
Menguasai teknik dasar push dan stopping dalam bermain hockey
6-7
Menguasai teknik dasar dribbling, passing dan stoping dalam bermain
hockey
Menguasai teknik dasar dribbling, passing dan stoping dalam bermain
hockey
8-9
Menguasai teknik dasar dribbling melewati lawan, passing dan stoping
dalam bermain hockey
Menguasai teknik dasar dribbling melewati lawan, passing dan stoping
dalam bermain hockey
10-11 Menguasai teknik dasar shooting dalam bermain hockey
Menguasai teknik dasar shooting dalam bermain hockey
12-13
Menguasai teknik dasar dribbling, passing, stopping, dan taktik penyerangan dalam bermain hockey
38
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
14-15 Menguasai taktik pertahanan dalam bermain hockey
Menguasai taktik pertahanan dalam bermain hockey
16-17 Menguasai taktik penyerangan dan pertahanan dalam bermain hockey
Menguasai taktik penyerangan dan pertahanan dalam bermain hockey
18 Pretest motivasi dan hasil belajar hockey
Pretest motivasi dan hasil belajar hockey
Tebel 3.1
Materi pembelajaran
Adapun sekenario pembelajaran pada materi pertama adalah sebagai berikut
:
Sekenario Model peer teaching Model konvensional
Pendahuluan Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi, penjelasan tujuan
pembelajaran.
Guru menjelaskan konsep peer
teaching dan memberikan masukan
mengenai bagimana cara menjadi
tutor (pelatih pribadi /personal
trainer) yang efektif
Pemilihan pasangan (tutor-lerner). Siswa melakukan peregangan
statis, lari lima keliling dan
peregangan dinamis
Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi, penjelasan tujuan
pembelajaran.
Guru menjelaskan materi yang
akan dipelajari
Siswa melakukan peregangan
statis, lari lima keliling dan
peregangan dinamis.
Inti A. Dribble di tempat
Siswa melakukan dribble
ditempat
Siswa yang memliki
keterampilan dribble hockey
yang lebih baik dijadikan
tutor.
A. Dribble di tempat
Siswa melakukan dribble
ditempat
Guru mengajari siswa
pegangan stik yang baik
untuk melakukan dribble
39
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kemudian siswa dibagi
secara berpasangan (siswa
yang menjadi tutor
dipasangkan dengan siswa
yang memiliki keterampilan
rendah)
Guru menjelaskan kepada
tutor tentang apa yang harus
mereka ajarkan kepada
rekannya yang menjadi
lerner, yaitu cara melakukan
dribble yang baik dalam
olahraga hockey.
Tutor mengajari rekannya
pegangan stik yang baik
untuk melakukan dribble
Tutor mengajari rekanya
dribble ditempat, dengan
memperhatikan posisi badan,
perkenaan stik dengan bola,
dan jarak bola ke kaki.
Lakukan gerakan dribble
dengan perlahan-lahan dulu
sampai pegangan dan
perkenaan stik dengan bola
tampak benar, kemudian
tambah kecepatannya.
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
Guru mengajari siswa
dribble ditempat, dengan
memperhatikan posisi
badan, perkenaan stik
dengan bola, dan jarak bola
ke kaki.
Siswa melakukan gerakan
dribble dengan
perlahan-lahan dulu sampai pegangan
dan perkenaan stik dengan
bola tampak benar,
kemudian tambah
kecepatannya.
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
ditentukan guru
B. Dribble bergerak
Siswa melakukan dribble sambil
berjalan/ bergerak lurus ke depan
Guru mengajari siswa
dribble sambil
berjalan/bergerak lurus ke
depan dengan
memperhatikan posisi
badan, perkenaan stik
dengan bola, dan jarak bola
ke kaki.
40
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ditentukan guru
Guru mengawasi dan
memberikan masukan kepada
tutor
B. Dribble bergerak
Siswa melakukan dribble sambil
berjalan/ bergerak lurus ke depan
Tutor mengajari rekanya
dribble sambil
berjalan/bergerak lurus ke
depan dengan
memperhatikan posisi badan,
perkenaan stik dengan bola,
dan jarak bola ke kaki.
Tutor dan rekannya
melakukan dribble secara
bergantian agar rekannya
dapat melihat dan meniru
gerakan yang benar.
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
ditentukan guru
Tutor sambil mengoreksi
gerakan rekannya saat
melakukan latihan
Guru mengawasi dan
memberikan masukan kepada
tutor
dari cones 1 ke cones 2
dengan jarak yang telah
ditentukan guru
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
ditentukan guru
C. Dribble melewati rintangan
Siswa melakukan dribble
melewati rintangan yang disusun
menggunakan cones
Guru mengajari siswa
dribble melewati cones
yang telah disusun dengan
memperhatikan posisi
badan, perkenaan stik
dengan bola, dan jarak bola
ke kaki.
Siswa melakukan dribble
secara bergantian sesuai
dengan apa yang diajari
guru.
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
41
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
C. Dribble melewati rintangan
Siswa melakukan dribble
melewati rintangan yang disusun
menggunakan cones
Tutor mengajari rekanya
dribble melewati rintangan
yang telah disusun dengan
memperhatikan posisi badan,
perkenaan stik dengan bola,
dan jarak bola ke kaki.
Tutor dan rekannya
melakukan dribble secara
bergantian agar rekannya
dapat melihat dan meniru
gerakan yang benar,
sedangkan tutornya akan
lebih mahir melakukan
dribble.
Lakukan secara berulang –
ulang sampai waktu yang
ditentukan guru
Tutor sambil mengoreksi
gerakan rekannya saat
melakukan latihan
Guru mengawasi dan
memberikan masukan kepada
tutor
-42
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Penutup Berbaris, guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai apa
yang telah mereka kerjakan, Guru meminta siswa melakukan
kembali gerakan dribble yang telah
mereka pelajari sebagai bentuk
pengulangan dan evaluasi.
Pendinginan berdoa
Berbaris, guru melakukan tanya
jawab dengan siswa mengenai apa
yang telah mereka kerjakan, Guru meminta siswa melakukan
kembali gerakan dribble yang
telah mereka pelajari sebagai
bentuk pengulangan dan evaluasi.
[image:35.595.86.554.105.297.2] Pendinginan Berdoa
Table 3.2
Sekenario pembelajaran
3. Post test
Setelah diberikan perlakuan selama 16 kali pertemuan yang dilakukan 3 kali
setiap minggunya dengan durasi 2x45 menit setiap pertemuannya, selanjutnya
sampel diberikan kembali angket dan tes performa, kemudian dianalisis untuk
melihat peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. Dan langkah terakhir hasil
analisis diuji hipotesis untuk menjawab semua pertanyaan penelitian yang telah
diajukan sebelumnya.
Agar alur penelitian lebih jelas, berikut ini disajikan bagan alur penelitiannya:
POPULASI
SAMPEL
43
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gambar 3.3. Bagan Alur Penelitian
C. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain The-Static Group Pretest-Posttest Design. Adapun bentuk desainnya sebagai berikut:
The Static-Group Pretest-Postest Design
O1 X O2
[image:36.595.136.472.126.383.2]O1 C O2
Gambar 3.4.
Desain Penelitian : Fraenkel (2012, hlm. 270)
Keterangan :
KEL A: PEMBELAJARAN HOCKEY
DENGAN MODEL PEER
TEACHING
KEL B: PEMBELAJARAN HOCKEY
DENGAN MODEL KONVENSIONAL
TES AKHIR: MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA
PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
44
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
O1 : Tes motivasi dan hasil belajar keterampilan hockey sebelum perlakuan
X : Perlakuan (treatment) model pembelajaran peer teaching
C : Model pembelajaran konvensional
O2 : Tes motivasi dan hasil belajar keterampilan hockey setelah perlakuan
Alasan menggunakan desain ini karena dalam penelitian ini ingin mengetahui
pengaruh model peer teaching dengan variable control model konvensional
terhadap motivasi dan hasil belajar siswa, jadi dilakukan tes awal dan tes akhir
untuk melihat sejauh mana pengaruh kedua kelompok tersebut.
D. Definisi Operasional
1. Pembelajaran
Surya (2005, dalam Rusman, 2012, hlm. 21) mengatakan bahwa Pembelajaran
adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
2. Model peer teaching
Metzler (2000, hlm. 288) memaparkan bahwa, „The peer teaching model is based on accepted trade off to help reduce the problem of too little teacher observation of practice and limited feedback recieved by student‟. Sesuai
dengan pernyataan ini bahwa model pembelajaran peer teaching merupakan
model pembelajaran untuk membantu siswa mengurangi masalahnya dalam
belajar, pengawasan guru yang sedikit dan feedback yang diberikan guru juga
terbatas.
3. Model pembelajaran konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang biasa dilakukan
oleh guru. Pendapat Ainshworth & Fox (1989, dalam Suherman, 2009, hlm.
45
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
direct teaching, dominasi pembuatan keputusan berada pada gurunya,
sebaliknya, dalam indirect teaching dominasi berada pada siswanya”
4. Motivasi
Menurut Sumiati (2009, hlm. 59) “motivasi merupakan keinginan (wants) yang
ingin dipenuhi (dipuaskan), maka ia timbul jika ada rangsangan, baik karena
adanya kebutuhan (needs) maupun minat (interest) terhadap sesuatu”. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai suatu tujuan tertentu
khususnya dalam pembelajaran, karena motivasi adalah pendorong siswa untuk
melakukan pembelajaran.
5. Hasil belajar
Berdasarkan hasil revisi taksonomi Bloom (dalam Sumiati, 2009, hlm. 214),
“bentuk perilaku sebagai hasil belajar digolongkan dalam tiga domain (kognitif, afektif, dan psikomotor)”
a. Domain kognitif
Domain kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan dengan berpikir,
mengetahui dan pemecahan masalah.
b. Domain afektif
Domain afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi
(penghargaan) dan penyesuaian perasaan social.
c. Domain psikomotor
Domain psikomotor mencakup tujuan berkaitan dengan keterampilan (skill)
yang bersigat manual atau motorik
6. Hockey
Tabrani (2002, hlm. 1) menjelaskan hoki adalah suatu permainan yang
dimainkan antara dua regu yang setiap pemainnya memegang sebuah tongkat
bengkok yang disebut stik (stick) untuk menggerakan sebuah bola. Teknik
dasar dalam olahraga hoki meliputi push (mendorong bola), hit (memukul
bola), stop (menahan bola), dribble (menggiring bola), flick (mencungkil bola),
46
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
E. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen yang digunakan untuk pengukuran motivasi pada penelitian ini
adalah menggunakan angket. Angket terlebih dahulu di ujikan kepada sampel yang
homogen. Pengujian instrumen dilakukan untuk: uji coba, uji skala per item, uji
validitas per item, dan uji reliabilitas. Sedangkan instrumen yang dipakai untuk
menjaring data hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah tes praktek
keterampilan pada materi tes keterampilan teknik dasar hockey (dribbling, passing,
dan stopping).
Ali (2010, hlm. 300) memaparkan bahwa: Sebelum penyusunan instrumen,
terlebih dahulu dibuat kisi-kisi instrumen. Menurut Ali (2010, hlm. 303), „Kisi-kisi
bertujuan untuk merencanakan sampel domain konstrak, sampel bentuk-bentuk
prilaku dari setiap domain konstrak, dan berapa besar jumlah butir soal pertanyaan
yang akan digunakan untuk mengukur setiap bentuk prilaku itu.‟ Dari kisi-kisi ini maka akan diketahui berapa jumlah butir soal pada instrumen yang akan
dikembangkan. Ali (2010, hlm. 303) juga memaparkan bahwa:
Mengacu pada kisi-kisi selanjutnya dikembangkan buti-butir soal tes atau
pernyataan untuk skala yang berfungsi mengukur variabel sesuai dengan
indikator-indikatornya. Butir-butir soal tes atau pertanyaan yang dijadikan instrumen adalah
hanya sampel saja.
1. Instrument pengukuran motivasi
Instrument pengukuran motivasi yang dipergunakan dalam penelitian ini
menggunakan skala motivasi. Skala motivasi ini berdasarkan pengembangan dari
motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Valerand, dkk (dalam Barkaukis, 2008, hlm. 40)
self-47
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
determination theory tradition: external regulation, introjection, and identification.
[image:40.595.100.548.170.659.2]Adapun kisi-kisi angketnya adalah sebagai berikut :
Tabel 3.6
Kisi-Kisi Angket
No SUB ASPEK Nomor Pertanyaan Jumlah
Positif Negatif
1
Instrinsic Motivation to Know (Motivasi Intrinsik untuk
mengetahui)
Memiliki rasa ingin tahu terhadap olahraga yang diikutinya
5, 22 7, 42 4
Memiliki keinginan untuk bereksplorasi terhadap aktifitas baru
25, 33 44, 4 4
2 Instrinsic Motivation towards accomplishment (Motivasi Intrinsik terhadap prestasi)
Memiliki rasa ingin lebih baik dari orang lain
43, 39 31, 48 4
Memiliki keinginan untuk mencapai standar yang baru
3, 40 12, 41 4
3 Motivation to Experience Stimulation (Motivasi untuk mendapatkan rangsangan) Memiliki keinginan untuk memperoleh pengalaman yang menyenangkan
20, 9 17, 10 4
Memiliki keinginan mendapatkan sensasi yang positif
27, 36 24, 6 4
4 External Regulation (aturan dari luar)
Mendapatkan reward /
imbalan dari orang lain 21, 13 2, 46 4
Memiliki keinginan
untuk dihargai 1, 37 11, 28 4
5
Introjection Regulation (penanaman sikap)
Dapat menanamkan kesadaran akan suatu hal yang bermanfaat
16, 47 34, 19 4
Dapat menanamkan kesadaran akan suatu kewajiban
26, 45 18, 32 4
6
Identified regulation (identifikasi)
Dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain
25, 14 45, 30 4
Dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga
23, 29 38, 8 4
Jumlah 48
Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis angket
48
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pernyataan yang tegas, teratur, konkrit, lengkap dan tidak menuntut jawaban, hanya
sesuai dengan alternatif jawaban.
Untuk mengetahui tiap item tes tersebut valid atau tidak valid dengan
membandingakan hasil perhitungan (thitung) dengan ttabel. Dengan signifikansi untuk α = 0,05 dengan nilai r = 1,72. Kaidah keputusannya adalah jika thitung > dari nilai
ttabel berarti valid dan jika thitung < dari ttabel berarti tidak valid. Berdasarkan hasil
perhitung diatas sebanyak 30 item butir tes dinyatakan valid, dan item tes ini
memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,71, maka item tes tersebut digunakan sebagai
instrumen penelitian.
2. Instrument tes ketrampilan hockey
Instrument tes keterampilan bermain hockey adalah sebagai berikut :
1. Tes Teknik Push.
Memiliki validitas 0,92 dan reliabilitas 0,74. Adapun pelaksanaan tesnya
adalah sebagai berikut:
a. Testee berdiri di garis yang telah ditentukan dalam sikap siap
melakukan push dengan posisi menghadap daerah papan target yang
telah ditentukan dengan jarak 10 m.
b. Melakukan push sesuai peraturan yang berlaku
c. Kesempatan melakukan teknik push sebanyak 5 kali dalam dan hasilnya dijadikan data testee yang bersangkutan.
49
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Tes Stoping
Memiliki validitas 0,91 dan reliabilitas 0,70. Adapun pelaksanaan tesnya
adalah sebagai berikut:
a. Tujuan : mengukur keterampilan stoping dalam permainan hockey
b. Alat dan perlengkapan : bola 2 buah, stop watch, bangku swedia 2 buah
(papan ukuran 3m x 60cm), format isian dan kapur
c. Pelaksanaan : teste berdiridi belakang garis tembak yang berjarak 2
meter dari sasaran/papan, posisi kaki harus berada di belakang garis
yang telah ditentukan. Pada aba-aba Y, teste mulai menembak bola ke
sasaran/papan (depan) dan menahannya kembali dengan stik dan kaki di
belakang garis tembak, setelah itu bersiap untuk langsung menembak
bola berikutnya kea rah berbeda dengan tembakan pertama (samping
kanan). Lakukan kegiatan ini bergantian selama 60 detik. Apabila bola
keluar dari daerah tempat melakukan test, maka teste menggunakan bola
cadangan yang telah disediakan.
d. Penyekoran : jumlah menahan bola yang sah selama 60 detik, hitungan
1 diperoleh dari satu kali kegiatan menahan bola.
5 4 3 2 1
1 2 3 4
[image:42.595.141.492.116.330.2]10 m
Gambar 3.7
50
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Mengenai pelaksanaan tes stopping dapat dilihat pada gambar 3.8 dibawah
ini.
2 meter
teste
[image:43.595.154.441.186.534.2]2 meter
Gambar 3.8
Test stopping
Richard, dkk (1984, hlm. 253)
3. Tes Dribble.
Memiliki validitas 0,93 dan reliabilitas 0,74. Adapun pelaksanaan
tesnya adalah sebagai berikut:
a. Tujuan: mengukur kecepatan
b. Alat dan perlengkapan: lapangan, tiang, peluit, stopwatch dan format
51
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
c. Pelaksanaan: Pada aba-aba “Ya” testee melakukan dribble dari garis start sesuai alur lari yang ditetapkan sampai ke garis finish.
[image:44.595.143.477.192.489.2]d. Penyekoran: waktu tempuh terbaik dalam menyelesaikan dribble dicatat sebagai data penelitian. Mengenai pelaksanaan tes dribble dapat dilihat pada gambar 3.9 berikut ini.
Gambar 3.9 Tes Dribble
Richard, dkk (1984, hlm. 252)
F. PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Motivasi dan hasil belajar siswa akan dilihat pengaruhnya melalui
pembelajaran pendidikan jasmani menggunakan model pembelajaran peer teaching
dengan materi ajar hockey. Oleh karena itu, angket dan tes keterampilan hockey
akan diuji kembali validitas dan realibilitasnya. Uji coba instrument akan dilakukan
pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler selain hockey yang mempunyai
karakteristik bermain seperti hockey yaitu futsal. Setelah angket dan tes
keterampilan hockey diberikan pada kelompok tersebut, dilakukan dengan analisa
uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengetahui tingkat keterandalan atau
kesahihan alat ukur.
START/ FINISH
2 m 2 m 1 m
52
Irwan Hermawan, 2015
Pengaruh model peer teaching terhadap motivasi dan hasil belajar Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1. Uji Validitas
Adapun langkah-langkah pengerjaan yang dilakukan adalah sebagai berikut
:
1. Data yang diperoleh dari hasil uji coba dikumpulkan dan dipisahkan antara skor
tertinggi dan skor terendah.
2. Menentukan 27% responden yang memiliki skor tertinggi dan 27% responden
yang mempunyai skor terendah.