• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK PERNIKAHAN DINI DIKALANGAN REMAJA. (Studi kasus di Desa Langam Kec.Lopok Kab. Sumbawa)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAMPAK PERNIKAHAN DINI DIKALANGAN REMAJA. (Studi kasus di Desa Langam Kec.Lopok Kab. Sumbawa)"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PERNIKAHAN DINI DIKALANGAN REMAJA (Studi kasus di Desa Langam Kec.Lopok Kab. Sumbawa)

SKRIPSI

Disusun Oleh Yayuk Angria Apriani

NIM: 14.01.061.026

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA Juli 2019

(2)

ii

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(3)

iii

DAMPAK PERNIKAHAN DINI DIKALANGAN REMAJA (Studi kasus di Desa Langam Kec.Lopok Kab. Sumbawa)

SKRIPSI

Diajukan Kepada

Universitas Teknologi Sumbawa

Sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1)

Disusun Oleh Yayuk Angria Apriani

NIM: 14.01.061.026

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA Juli 2019

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini disusun oleh Yayuk Angria Apriani

NIM 14.01.061.026

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi Tanggal 15 Juli 2019

Susunan Dewan Penguji Ketua : Ivon Arisanti, S.Pt., M.M., CPHRM

NIDN.821098101 Anggota : Roni Hartono, M.Pd,

NIDN.0806058703

Anggota : Ayuning Atmasari M.Psi.,Psikolog NIDN. 0812098602

Anggota : Lukmanul Hakim, M.Pd NIDN. 0804088801

Mengetahui,

Ketua Dekan

Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi

Ayuning Atmasari M.Psi.,Psikolog Yossy Dwi Erliana, M.Psi.,Psikolog

NIDN. 0812098602 NIDN. 0815067701

(7)

vii

(8)

viii ABSTRACT

Apriani, Yayuk Angria. 2019. The impact of early marriage among teenagers in case studies was located in the Kabuyit village in Langam subdistrict. Lopok. Thesis, Psychology study program, Psychology University. Advisor (I) Ivon Arisanti, S.Pt., MM.,CPHRM . (II) Roni Hartono, M.Pd

This research is motivated by the many cases of adolescents who get married at an early age in the Langam village. This study aims to find out what kind of impact caused by the existence of early marriage.

This type of research is ualitative with a case study approach. The informants in this study amounted to 3 people, determining the subject of the study was cunduted using purposive sampling. Variable in this study ware how the impact of early marriage among adolescents used in this study are observation and interview that, it can be concluded that in general the population conduting marriages at an early age is caused by several factors of education, promiscurty and economic factors, the lack of cast of making teenagers unable to continue their education to a higher level makes it nocessary to marry at an early age. And there are also because of their own willingess to get married, with the reason that rhey are unable to goto school.

As for the impact caused by getting marriad at an early age, cenflicts between husband and wife which can lead to physical, mental and other violence, eventually lead to disharmony in the household and have an impact on uality of households that do not work well.

Key word : adolescents,The impact of early marriage

(9)

ix ABSTRAK

Apriani, Yayuk Angria. 2019. Dampak pernikahan dini dikalangan remaja Studi Kasus di Dusun kabuyit Desa Langam Kec.Lopok. Skripsi, Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Teknologi Sumbawa. Pembimbing (I) Ivon Arisanti, S.Pt., MM.,CPHRM . (II) Roni Hartono, M.Pd

Penelitian ini dilatar belakangi oleh banyaknya kasus remaja yang menikah pada usia dini di Desa Langam dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari adanya pernikahan di usia dini .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa dampak yang ditimbulkan dari adanya pernikahan diusia dini.

Jenis penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan pada penelitian ini berjumlah 3 orang, penentuan subjek dilakukan dengan perposif sampling.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Dengan demikian dapat di peroleh kesimpulan bahwa pada umumnya penduduk melakukan

pernikahan di usia dini di sebabkan oleh beberapa faktor pendidikan, pergaulan bebas dan faktor ekonomi, kurangnya biaya membuat berapa remaja tidak mampu melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi membuatnya harus menikah pada usia dini. serta ada juga karena kemauan sendiri untuk menikah, dengan alasan sudah tidak sanggup bersekolah.

Adapun dampak yang di timbulakan dari menikah pada usia dini, terjadinya konflik antara suami dan istri yang dapat berujung pada kekerasan fisik, batin dan lain sebagainya. pada akhirnya menimbulkan ketidak harmonisnya rumah tangga dan berdampak pada kualitas hidup rumah tangga yang tidak berjalan dengan baik.

Kata kunci : Remaja, pernikahan dini, dampak

(10)

x MOTTO

Jika kamu melihat masalah, maka berbahagialah karena saat itulah kamu akan dibutuhkan dan kamu akan sangat berguna bagi orang lain”

(Dr. Andy Tirta, M.Sc)

“Hidup ini seperti sepeda Agar tetap seimbang Kau harus terus bergerak”

(Yayuk A.A)

(11)

xi

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah…

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas semua karunia-Nya.Karya ini saya persembahkan untuk:

1. Kepada orang tua tersayang Bapak Sarapuddin (Ayyo) dan Ibu Salma atas jasa-jasanya selama ini yang tidak akan pernah bisa terbalaskan.

2. Kepada adikku tercinta Junni Saputra (Onek) yang selalu mendukungku dan menyemangatiku di saat aku mulai menyerah.

3. Kepada kakakku Atul, Ayen dan Ella, yang selalu memberikan motivasi disaat-saat aku mulai lemah.

4. Kepada Almarhumah Adindaku (Mei) dan yang berpulang tepat di hari terakhir Magang. Dan nenekku tersayang yang berpulang tepat dihari ulang tahunku.

5. Kepada keluarga besar yang selalu memberikan dukungan selama ini.

6. Kepada seluruh Dosen dan Staf Fakultas Psikologi yang selama 5 tahun telah bersama dalam suka maupun duka.

7. Kepada Kanda tersayang selalu memberikan motivasi dikala ingin menyerah (Dedi Seherman S.E).

8. Kepada orang yang meninggalkan saya disaat saya lagi sayang-sayangnya.

9. Kepada sahabat-sahabat Psi’14 (Monik, Juli,Eva, Trisna, Wiwin, Angel, kak Santi, Widia Andri, Dika dan Budi) yang selalu saling mendukung dan mengingatkan satu sama lainnya.

(12)

xii

10. Kepada teman akrab yang selalu bersedia menjadi tempat curhat (Yuyun Aprianti).

11. Kepada sahabat yang selalu setia dari SMA-sekarang dan saya berharap persahabatan ini akan tetap abadi (Sidik, Juli, Iman, Erna, Astri, Erin, Bayu, Dimas,Yuni,Fesal)

12. Dan kepada teman-teman seperjuangan Angkatan 2015.

(13)

xiii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Dampak Pernikahan Dini Dikalangan Remaja “Studi kasus di Desa Langam

Kec.Lopok..Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi (S.Psi) pada Progam Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa.

Berkenaan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dengan hati yang tulus kepada:

1. Ibu Yossy Dwi Erliana, M.Psi., Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa.

2. Ibu Ivon Arisanti, S.Pt., M.M., CPHRM selaku Dosen Pembimbing I yang selalu meluangkan waktunya untuk membimbing penulis selama ini.

3. Bapak Roni Hartono, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing II yang selalu meluangkan waktunya untuk membimbing penulis selama ini.

4. Bapak Lukmanul Hakim, M.Pd,selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun untuk penulis.

5. Ibu Ayuning Atmasari, M.Psi., Psikolog,selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun untuk penulis.

(14)

xiv

6. Segenap sivitas akademika Fakultas Psikologi, Universitas Teknologi Sumbawa, terutama seluruh Dosen Fakultas Psikologi yang telah membagi ilmunya selama ini.

7. Teman-teman seperjuangan Fakultas Psikologi angkatan 2015.

8. Kepala Desa Langam dan jajarannya yang telah memberikan penulis kesempatan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

9. Seluruh masyarakat yang telah bersedia membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Seluruh pihak yang membantu menyelesaikan skripsi baik moral maupun materil.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dikemudian hari maupun penelitian selanjutnya.

Sumbawa Besar, Juli 2019

Penulis

(15)

xv DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

LEMBAR LOGO ... ii

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi

ABSTRAK ... vii

MOTTO ... viii

PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

1. Manfaat Teoritis ... 7

2. Manfaat Praktis ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

(16)

xvi

A. Pernikahan ... 8

1. Definisi Pernikahan ... 8

2. Aspek dalam Pernikahan ... 10

3. Rukun dan Syarat Pernikahan ... 11

B. Pernikahan Dini ... 13

1. Perkawinan Usia Dini ... 13

2. Faktor Penyebab Pernikahan Usia Dini ... 15

3. Dampak-Dampak pernikahan dini ... 19

C. Remaja ... 20

1. Pengertian Remaja ... 20

2. Perkembangan Remaja ... 21

3. Ciri-ciri Remaja ... 23

D. Kerengaka Konseptual ... 26

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian ... 29

B. Subjek Penelitian ... 29

C. Lokasi Penelitian ... 30

D. Metode Pengumpulan Data ... 30

1. Wawancara ... 30

2. Observasi ... 30

3. Dokumen ... 31

E. Teknik Analisis Data ... 31

F. Keabsahan Data...31

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 33

1. Deskripsi Umum Pelaksanan Penelitian ... 33

2. Deskripsi Identitas Subjek... 34

3. Deskripsi Hasil Penelitian ... 34

4. Deskripsi Hasil Analisis Penelitian ... 44

(17)

xvii

B. Pembahasan ... 50

BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan ... 59

2. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Informed Consent ... 50

Lampiran 2. Guide Observasi ... 55

Lampiran 3. Guide Wawancara... 57

Lampiran 4. Verbatim Wawancara ... 61

Lampiran 5. Hasil Observasi Terhadap Subjek... 77

Lampiran 6. Dokumentasi ... 80

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Deskripsi Subjek ...

(19)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pernikahan adalah acara sakral untuk menyatukan dua hati antara laki- laki dan wanita menjadi sepasang suami isteri. Pernikahan sebagai jalan bagi wanita dan laki-laki untuk mewujudkan suatu keluarga atau rumah tangga. Hal tersebut merupakan salah satu ibadah dalam agama islam dan merupakan sesuatu yang sakral oleh karna itu diharapkan terjadi sekali seumur hidup.

Pernikahan yang terjadi antara seorang pria dengan seorang wanita menimbulkan akibat lahir maupun batin baik terhadap keluarga masing- masing, masyarakat dan juga dengan harta kekayaan yang diperoleh antara mereka baik sebelum maupun selama perkawinan berlangsung.Tujuan perkawinan menurut Undang-UndangNomor 1 Tahun 1974 dimana pernikahan pada umumnya dilakukan oleh wanita atau laki-laki yang usianya cukup dewasa untuk menikah seperti adanya ketentuan batas umur dalam (pasal 7 ayat I UU No. I Tahun 1974) yang menjelaskan bahwa perkawinan dapat dilaksanakan jika pihak laki-laki sudah berusia 19 tahunsedangkan pihak perempuan berusia 17 tahun. Jika ada salah satu pihak atau keduanya berusia kurang dari ketentuan maka dinyatakan melakukan pernikahan di bawah umur atau disebut pernikahan usia dini (Syarifuddin, 2009).

Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang salah satu atau kedua pasangan berusia dibawah usia minimal untuk melakukan pernikahan, yaitu 21 tahun bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki (BKKBN, 2014). Sejalan dengan

(20)

2 apa yang diungkapkan oleh (Marhiyanto,2000) yang mengatakan bahwa idealnya perkawinan dilakukan pada seorang berada dalam kondisi yang mapan baik fisikmaupun mental. Pernikahan usia dini banyak terjadi pada remaja-remaja yang masih memiliki status sebagai pelajar atau aktif sekolah.

Seiring dengan berkembangnya teknologi yang semakin canggih tentu kita dapat dengan mudah memperoleh informasi salah-satunya melalui media sosial. Kemudahan tersebut sering disalah gunakan oleh beberapa remaja yang cendrung kearah negatif. Adanya penyalagunaan tersebut tentu akan berdampak pada pola pikir, perilaku, dan keberlangsungan kehidupan remaja tersebut kedepannya. Saat ini banyak remaja yang melakukan pernikahan diusia dini hal dikarnakan adanya pergaulan bebas, dan keadaan keluarganya yang mendukung remaja melakukan pernikahan diusia dini meskipun dia masih sekolah. Hal senada juga dikemukakan oleh (Sntrock, 2002), masa remaja (adolescence) ialah periode perkembangan transisi dari masa kanak- kanak hingga masa dewasa yang mencangkup perubahan-perubahan biologis, kognitif,dan sosial emosional.

Berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2015, angka pernikahan dini di NTB mencapai angka 5,81 persen. Angka tersebut berkorelasi kuat dengan tingginya jumlah janda dan duda yang mencapai angka 21,55 persen, dimana sebagiannya muncul akibat tingginya angka perceraian. Masyarakat sumbawa masih menjunjung tinggi budaya dan norma agama dalam masyarakat.Namun, pada kenyataannya dari hasil observasi dan wawancara awal peneliti terhadap yang memilih menikah diusia muda maka ditemukan ada beberapa masyarakat yang melakukan pernikahan dan tentunya hal tersebut

(21)

3 bertentangan dengan prinsip-prinsip yang berlaku dimasyarakat sumbawa.

Sehingga hal tersebut memperkuat rasa ketertarikan peneliti lebih banyak tentang dampak yang akan ditimbulkan dari pernikahan diusia dini. Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia muda yang tinggi di dunia (rangking 37). Posisi ini merupakan yang tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Jumlah pernikahan dini diIndonesia terutama didaerah pedesaan masih tergolong tinggi pada tahun 2013 rasio pernikahan usia dini ialah 1 / 2 pernikahan. Tingginya kasus pernikahan usia muda tersebut, dikarenakan masyarakat yang tinggal dipedesaan masih renda pengetahuanya tentang bahaya melakukan pernikahan diusia muda (BKKBN, 2014)

Penelitian tentang pernikahan usia dini telah banyak dilakukan dan hal tersebut mendasari peneliti untuk melakukan penelitian secara lebih jauh tentang dampak yang akan ditimbulkan dari adanya pernikhan pada usia dini.Menurut beberapa penelitian yang terdahulu yang dilakukan oleh (fitra, 2017) dengan judul “ Pengaruh Perkawinan dibawah Umur Terhadap Tingkat Perceraian di kabupaten Aceh Tengah“. Hasil penelitian membuktikan bahwa

ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan usia dini diantaranya faktor budaya yang ada dimasyarakat setempat, rendahnya tingkat pendidikan, adanya pergaulan bebas remaja, dan tingginya tingkat kemiskinan, karena perkawinan usia dini banyak terjadi pada masyarakat yang ada budaya yang membenarkan perkawinan usia dini.Pernikahan dini sering kali berpotensi pada kasus perceraian, halini disebabkan kurangnya kesiapan mental dan emosional pasangan yang terpaksa menikah karena kehamilan diluar nikah.Para pasangan tersebut awalnya tidak menyebutkan bahwa pernikahan

(22)

4 dilatarbelakangi adanya kehamilan diluar nikah, namun seiring berjalannya waktu, fakta-fakta tersebut akhirnya terungkap. Hal itu disebabkan atas kesiapan fisik dan mental para pasangan yang terpaksa menikah karena desakan tersebut. Akibatnya, selama berumah tangga, kedua pasangan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya masing-masing, lantas memicu berbagai pertengkaran bahkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan kepada pasangan maupun kepada anak, dan dalam perkembangannya pernikahan dini akan membawa masalah baik secara fisik, psikologi, maupun sosial yang besar dikemudian hari karena pernikahan tersebut.

Penelitian lain juga dilakukan oleh (Rusmini, 2015) dengan judul

“Dampak Menikah Dini Dikalangan Perempuan Di Desa Batulappa Kecamatan Batulappa Kabupaten Pinrang”. Hasil penelitian membuktikan

bahwa bahwa pernikahan pada usia dini tidak selamanya harmonis.

Banyak yang menjadi faktor mengapa bayak orang menikah pada usia dini, seperti hamil di luar nikah, perjodohan, kekhawatiran orang tua, pacaran dan masih banyak faktor-faktor lainnya. Tetapi di Dusun Tarokko Desa Batulappa Kecamatan Batulappa Kabupaten pinrang, faktor yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan usia dini, di sebabkan karena perjodohan keluarga. Adapun dampak yang di timbulkan dari menikah pada usia dini antara. Terjadinya konflik antara suami dan istri yang dapat berujung pada kekerasan fisik, batin dan lain sebagainya. pada akhirnya menimbulkan ketidak harmonisnya rumah tangga dan berdampak pada kualitas hidup rumah tangga yang tidak berjalan dengan baik.

(23)

5 Penelitian lain yang dilakukan oleh (Mahmud, 2014) dengan judul

“Determinan dan Dampak Pernikahan Usia Muda di Desa Karang Anyar Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.” Tentang kesehatan

reproduksi hasil penelitian menunjukan bahwa pernikahan yang dilakukan perempuan pada usia muda berpotensi pada kerusakan alat reproduksi yang disebabkan oleh hubungan seks yang terlalu dini. Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun akan meningkatkan resiko komplikasi medis. Anatomi tubuh gadis remaja yang belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, berpotensi mengalami komplikasi berupa obstructed labour (gangguan pada saat persalinan, dimana pembukaan dalam

persalinan tidak ada kemajuan) (Fadlyana dkk,2009).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Dampak Pernikahan Dini di Kalangan Remaja”. Hal ini didasarkan pada observasi dan wawacara awal dimana maraknya kasus pernikahan dini yang dilakuan remaja didesa Langam kec. Lopok Kab.

Sumbawa membuat peneliti tertarik untuk menelitinya. Adapun data awal jumlah remaja yang menikah diusia dini pada tahun 2018 mencapai 9 orang.

Sebagai gambaran awal dari hasil wawancara terhadap subjek yang berinisial FW dimana subjek memilih menikah diusia dini dikarenakan subjek sudah hamil 3 bulan lebih. Subjek telahmengandung oleh pacarnya sendiri yaitu.

Mengetahui anaknya sedang hamil diluar nikah tentu orang tua dan keluarga subjek sendiri mengungkap hal tersebut sebagai suatu aib bagi keluarga mereka, dan akan menimbulkan penilaian yang buruk bagi keluarga subjek.

Sehingga jalan keluarnya adalah dengan menikahkan subjek meskipun orang

(24)

6 tuasubjek mengetahui subjek masih duduk dibangku sekolah yaitu kelas 1 SMA. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penilaian buruk mesyarakat kepada orang tua subjek sendiri. Setelah menikah subjek diharuskan menjalankan perannya sebagai seorang isteri dan sekaligus ibu bagi anaknya meskipun usia subjek tergolong masih sangat belia. Menikah diusia dinitentu menimbulkan berbagai macam konflik baik terhadap pasangan, diri sendiri, mertua atau pun orang masyarakat sekitar, mengingat usia subjek saat ini berusia tergolong masih dikatakan labil, sehingga hal tersebut akan berdampak pada bagaimana diri subjek baik secara fisik, psikologis, dan sosialnya (Masaroh, 2013).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada di atas, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu “Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini dikalakang remaja

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkanrumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini dikalakang remaja

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Diantaranya sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

(25)

7 Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis yaitu melalui sumbangan teori dan analisisnya untuk kepentingan penelitian dimana yang akan datang yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Manfaat Praktis a) Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengetahuibagaimana dampak pernikahan dini dikalangan remaja

b) Bagi Remaja

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasannya lebih luas dan tidak terjadi pernikahan dini dikalangan remaja

c) Bagi Orang tua

Hendaknya orang tua lebih mementingkan pendidikan anaknya, minimal tingkat SMA khususnya kepada anak perempuan agar wawasannya lebih luas dan tidak terjadi pernikahan dini dikalangan remaja

d) Bagi peneliti

Untuk memenuhi salah satu syarat menyelsaikan perkuliahan di Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa.

e) Bagi Universitas teknologi Sumbawa

Penelitian ini dapat menambah koleksi pustaka untuk bahan bacaan dan kajian mahasisiwa Universitas Teknologi Sumbawa khususnya mahasiswa jurusan Psikologi.

(26)

8

(27)

9 BAB I

PENDAHULUAN E. Latar Belakang

Pernikahan adalah acara sakral untuk menyatukan dua hati antara laki- laki dan wanita menjadi sepasang suami isteri. Pernikahan sebagai jalan bagi wanita dan laki-laki untuk mewujudkan suatu keluarga atau rumah tangga. Hal tersebut merupakan salah satu ibadah dalam agama islam dan merupakan sesuatu yang sakral oleh karna itu diharapkan terjadi sekali seumur hidup.

Pernikahan yang terjadi antara seorang pria dengan seorang wanita menimbulkan akibat lahir maupun batin baik terhadap keluarga masing- masing, masyarakat dan juga dengan harta kekayaan yang diperoleh antara mereka baik sebelum maupun selama perkawinan berlangsung.Tujuan perkawinan menurut Undang-UndangNomor 1 Tahun 1974 dimana pernikahan pada umumnya dilakukan oleh wanita atau laki-laki yang usianya cukup dewasa untuk menikah seperti adanya ketentuan batas umur dalam (pasal 7 ayat I UU No. I Tahun 1974) yang menjelaskan bahwa perkawinan dapat dilaksanakan jika pihak laki-laki sudah berusia 19 tahunsedangkan pihak perempuan berusia 17 tahun. Jika ada salah satu pihak atau keduanya berusia kurang dari ketentuan maka dinyatakan melakukan pernikahan di bawah umur atau disebut pernikahan usia dini (Syarifuddin, 2009).

Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang salah satu atau kedua pasangan berusia dibawah usia minimal untuk melakukan pernikahan, yaitu 21 tahun bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki (BKKBN, 2014). Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh (Marhiyanto,2000) yang mengatakan bahwa

(28)

10 idealnya perkawinan dilakukan pada seorang berada dalam kondisi yang mapan baik fisikmaupun mental. Pernikahan usia dini banyak terjadi pada remaja-remaja yang masih memiliki status sebagai pelajar atau aktif sekolah.

Seiring dengan berkembangnya teknologi yang semakin canggih tentu kita dapat dengan mudah memperoleh informasi salah-satunya melalui media sosial. Kemudahan tersebut sering disalah gunakan oleh beberapa remaja yang cendrung kearah negatif. Adanya penyalagunaan tersebut tentu akan berdampak pada pola pikir, perilaku, dan keberlangsungan kehidupan remaja tersebut kedepannya. Saat ini banyak remaja yang melakukan pernikahan diusia dini hal dikarnakan adanya pergaulan bebas, dan keadaan keluarganya yang mendukung remaja melakukan pernikahan diusia dini meskipun dia masih sekolah. Hal senada juga dikemukakan oleh (Sntrock, 2002), masa remaja (adolescence) ialah periode perkembangan transisi dari masa kanak- kanak hingga masa dewasa yang mencangkup perubahan-perubahan biologis, kognitif,dan sosial emosional.

Berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2015, angka pernikahan dini di NTB mencapai angka 5,81 persen. Angka tersebut berkorelasi kuat dengan tingginya jumlah janda dan duda yang mencapai angka 21,55 persen, dimana sebagiannya muncul akibat tingginya angka perceraian. Masyarakat sumbawa masih menjunjung tinggi budaya dan norma agama dalam masyarakat.Namun, pada kenyataannya dari hasil observasi dan wawancara awal peneliti terhadap yang memilih menikah diusia muda maka ditemukan ada beberapa masyarakat yang melakukan pernikahan dan tentunya hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip yang berlaku dimasyarakat sumbawa.

(29)

11 Sehingga hal tersebut memperkuat rasa ketertarikan peneliti lebih banyak tentang dampak yang akan ditimbulkan dari pernikahan diusia dini. Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia muda yang tinggi di dunia (rangking 37). Posisi ini merupakan yang tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Jumlah pernikahan dini diIndonesia terutama didaerah pedesaan masih tergolong tinggi pada tahun 2013 rasio pernikahan usia dini ialah 1 / 2 pernikahan. Tingginya kasus pernikahan usia muda tersebut, dikarenakan masyarakat yang tinggal dipedesaan masih renda pengetahuanya tentang bahaya melakukan pernikahan diusia muda (BKKBN, 2014)

Penelitian tentang pernikahan usia dini telah banyak dilakukan dan hal tersebut mendasari peneliti untuk melakukan penelitian secara lebih jauh tentang dampak yang akan ditimbulkan dari adanya pernikhan pada usia dini.Menurut beberapa penelitian yang terdahulu yang dilakukan oleh (fitra, 2017) dengan judul “ Pengaruh Perkawinan dibawah Umur Terhadap Tingkat Perceraian di kabupaten Aceh Tengah“. Hasil penelitian membuktikan bahwa

ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan usia dini diantaranya faktor budaya yang ada dimasyarakat setempat, rendahnya tingkat pendidikan, adanya pergaulan bebas remaja, dan tingginya tingkat kemiskinan, karena perkawinan usia dini banyak terjadi pada masyarakat yang ada budaya yang membenarkan perkawinan usia dini.Pernikahan dini sering kali berpotensi pada kasus perceraian, halini disebabkan kurangnya kesiapan mental dan emosional pasangan yang terpaksa menikah karena kehamilan diluar nikah.Para pasangan tersebut awalnya tidak menyebutkan bahwa pernikahan dilatarbelakangi adanya kehamilan diluar nikah, namun seiring berjalannya

(30)

12 waktu, fakta-fakta tersebut akhirnya terungkap. Hal itu disebabkan atas kesiapan fisik dan mental para pasangan yang terpaksa menikah karena desakan tersebut. Akibatnya, selama berumah tangga, kedua pasangan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya masing-masing, lantas memicu berbagai pertengkaran bahkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan kepada pasangan maupun kepada anak, dan dalam perkembangannya pernikahan dini akan membawa masalah baik secara fisik, psikologi, maupun sosial yang besar dikemudian hari karena pernikahan tersebut.

Penelitian lain juga dilakukan oleh (Rusmini, 2015) dengan judul

“Dampak Menikah Dini Dikalangan Perempuan Di Desa Batulappa Kecamatan Batulappa Kabupaten Pinrang”. Hasil penelitian membuktikan

bahwa bahwa pernikahan pada usia dini tidak selamanya harmonis.

Banyak yang menjadi faktor mengapa bayak orang menikah pada usia dini, seperti hamil di luar nikah, perjodohan, kekhawatiran orang tua, pacaran dan masih banyak faktor-faktor lainnya. Tetapi di Dusun Tarokko Desa Batulappa Kecamatan Batulappa Kabupaten pinrang, faktor yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan usia dini, di sebabkan karena perjodohan keluarga. Adapun dampak yang di timbulkan dari menikah pada usia dini antara. Terjadinya konflik antara suami dan istri yang dapat berujung pada kekerasan fisik, batin dan lain sebagainya. pada akhirnya menimbulkan ketidak harmonisnya rumah tangga dan berdampak pada kualitas hidup rumah tangga yang tidak berjalan dengan baik.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Mahmud, 2014) dengan judul

“Determinan dan Dampak Pernikahan Usia Muda di Desa Karang Anyar

(31)

13 Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.” Tentang kesehatan

reproduksi hasil penelitian menunjukan bahwa pernikahan yang dilakukan perempuan pada usia muda berpotensi pada kerusakan alat reproduksi yang disebabkan oleh hubungan seks yang terlalu dini. Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun akan meningkatkan resiko komplikasi medis. Anatomi tubuh gadis remaja yang belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, berpotensi mengalami komplikasi berupa obstructed labour (gangguan pada saat persalinan, dimana pembukaan dalam

persalinan tidak ada kemajuan) (Fadlyana dkk,2009).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Dampak Pernikahan Dini di Kalangan Remaja”. Hal ini didasarkan pada observasi dan wawacara awal dimana maraknya kasus pernikahan dini yang dilakuan remaja didesa Langam kec. Lopok Kab.

Sumbawa membuat peneliti tertarik untuk menelitinya. Adapun data awal jumlah remaja yang menikah diusia dini pada tahun 2018 mencapai 9 orang.

Sebagai gambaran awal dari hasil wawancara terhadap subjek yang berinisial FW dimana subjek memilih menikah diusia dini dikarenakan subjek sudah hamil 3 bulan lebih. Subjek telahmengandung oleh pacarnya sendiri yaitu.

Mengetahui anaknya sedang hamil diluar nikah tentu orang tua dan keluarga subjek sendiri mengungkap hal tersebut sebagai suatu aib bagi keluarga mereka, dan akan menimbulkan penilaian yang buruk bagi keluarga subjek.

Sehingga jalan keluarnya adalah dengan menikahkan subjek meskipun orang tuasubjek mengetahui subjek masih duduk dibangku sekolah yaitu kelas 1 SMA. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penilaian buruk mesyarakat

(32)

14 kepada orang tua subjek sendiri. Setelah menikah subjek diharuskan menjalankan perannya sebagai seorang isteri dan sekaligus ibu bagi anaknya meskipun usia subjek tergolong masih sangat belia. Menikah diusia dinitentu menimbulkan berbagai macam konflik baik terhadap pasangan, diri sendiri, mertua atau pun orang masyarakat sekitar, mengingat usia subjek saat ini berusia tergolong masih dikatakan labil, sehingga hal tersebut akan berdampak pada bagaimana diri subjek baik secara fisik, psikologis, dan sosialnya (Masaroh, 2013).

F. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada di atas, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu “Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini dikalakang remaja

G. Tujuan Penelitian

Berdasarkanrumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini dikalakang remaja

H. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Diantaranya sebagai berikut:

3. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis yaitu melalui sumbangan teori dan analisisnya untuk kepentingan penelitian dimana yang akan datang yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

(33)

15 4. Manfaat Praktis

a) Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengetahuibagaimana dampak pernikahan dini dikalangan remaja

b) Bagi Remaja

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasannya lebih luas dan tidak terjadi pernikahan dini dikalangan remaja

f) Bagi Orang tua

Hendaknya orang tua lebih mementingkan pendidikan anaknya, minimal tingkat SMA khususnya kepada anak perempuan agar wawasannya lebih luas dan tidak terjadi pernikahan dini dikalangan remaja

g) Bagi peneliti

Untuk memenuhi salah satu syarat menyelsaikan perkuliahan di Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa.

h) Bagi Universitas teknologi Sumbawa

Penelitian ini dapat menambah koleksi pustaka untuk bahan bacaan dan kajian mahasisiwa Universitas Teknologi Sumbawa khususnya mahasiswa jurusan Psikologi.

(34)

16 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Pernikahan

1. Definisi Pernikahan

Kata pernikahan merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu Annikah yang artinya menghimpun dan mengumpulkan, tapi dalam ilmu fiqih nikah di artikan sebagai akad yang memperbolehkan antara pria dan wanita yang sudah sah menjadi suami-istri untuk bersetubuh karena sudah melakukan lafaz pernikahan dan perkawinan. Pernikahan merupakan kewajiban setiap umat manusia, dimana manusia sudah di ciptakan harus hidup berpasangpasangan. Oleh karena itu, dalam hukum agama di jelaskan bahwa pernikahan yang di lakukan antara laki-laki dan perempuan harus sesuai dengan yang dianjurkan dan di perintah yang Maha Esa, agar kehidupan dalam rumah tangga serta berkerabat bisa berjalan dengan baik sesuai dengan ajuran agama.Dalam hukum agama islam pernikahan merupakan proses penyatuan antara dua insan yang di lakukan melalui akad atau persetujuan antara calon laki-laki dan calon wanita setra melalui pengucapan ijab dan qobul atau serah terima. Setelah semua proses pernikahan telah di laksanakan maka mereka sudah siap menciptakan rumah tangga yang harmonis dan berjanji akan hidup semati dalam menjalani rumah tangga. Pernikahan bagian dari perkawinan dimana menurut Wiryono adalah hidup bersama antara laki -laki dan perempuan yang sudah terikat dan sudah memenuhi syarat-syarat tertentu (Wiryono, 1978).

(35)

17 Selain itu perkawinan juga dapat diartikan sebagai ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang sudah terikat dan menjadi sepasang suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia, maka itulah yang di sebut sebagai keluarga kecil. Perkawinan dapat dilakukan bagi laki-laki yang sudah berapa usia 25-28 tahun dan bagi perempuan 19-25 tahun jika dilihat dari segi kematangan fisk dan non fisik. Pada kenyataanmya hampir dari 90% ditemukan kasus melakukan pernikahan usia dini di beberapa daerah terutama di daerah pedesaan yang jauh dari pantauan pemerintah (Mohammad, 2005)

Adapun syarat-syarat perkawinan ditetapkan Menurut UU No. 1 Tahun 1974 Perkawinan tercantum pada pasal 6 menyebutkan syarat-syrat perkawinan sbb:1) Perkawinan harus di lakukan menurut hukum agama,2) . Perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan, 3).

Perkawinan harus didasarkan atas perssetujuan kedua calon mempelai,4).

Untuk melangsungkan pernikahan seorang yang belum mencapai umur 21 harus mendapat izin orang tua.

Syarat-syarat perkawinan menurut pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 adalah:1) Perkawinan hanya di izinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapi umur 16 tahun. 2) Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensiasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang di tunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita. 3) Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seseorang atau dua orang tua tersebut dalam pasal 6 ayat (3) dan (4) UU ini,

(36)

18 berlaku yang dalam hal permintaan dispensiasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang di maksud dalam pasal 6 ayat (6).

2. Aspek-Aspek pernikahan

Aspek-Aspek pernikahan disebutkan Mohammad (2005) sebagai berikut:

a. Berdasarkan Pandangan agama islam

Agama islam adalah agama yang di dalamnya menjelaskan tentang semua sisi kehidupan, sumua permasalahan yang terjadi di dunia selalu ada kaitannya dengan ajaran agama islam, baik itu masalah duniawi maupun akhirat. Berdasarkan ketentuan islam menyangkut tentang pernikahan, bahwa bagi pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan, untuk laki-laki harus berusia di atas 19 tahun sedangakan perempan harus berusia diatas 16 tahun.Menikah merupakan jalan yang terbaik bagi seseorang, dengan alasan agar tidak terjadi hal-hal yang bertantangan dengan agama, seperti terjadinya hamil di luarnikah, kawin lari serta mengurangi terjadinya pergaulan bebas oleh para remaja. Oleh karena itu salah satu persyaratan dalam pernikahan, pasangan yang ingin menikah harus di dasari oleh saling suka, dikarenakan jika pasangan tersebut saling menyukai bisa menimbulkan keharmonian dalam rumah tangga dan bisa menghindari kekerasan dalam rumah tangga.

b. BerdasarkanPandangan Ilmu Kesehatan

Di dalam ilmu kesehatan perrnikahan dini atau pernikahan di usia muda sangat tidak di anjurkan bagi perempuan, karena banyak sekali efek dan resiko yang akan di timbulkan, dikarenakan pada usia tersebut kematakan

(37)

19 reproduksi seperti rahim dan pinggul belum sangat baik bagi seor ang perempuan yang masih sangat muda, baik itu dari segi fisik maupun mental serta sangat berat untuk membina dan menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Sehingga dapat menimbulkan resiko tinggi dalam proses bersalin, seperti terjadinya pendarahan dan bisa juga menimbulkan kematian.

5. Rukun dan Syarat Pernikahan

Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut dengan sah perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan.Dalam suatu acara perkawinan rukun dan syaratnya tidak boleh tertinggal. Dalam arti perkawinan tidak sah bila keduanya tidak sah atau tidak lengkap. Keduanya mengandung arti yang berbeda dari segi bahwa rukun adalah sesuatu yang berbeda didalam hakikat dan merupakan bagian atau unsur yang mewujudkannya. Sedangkan syarat adalah sesuatu yang berada di luarnya dan tidak merupakan unsurnya. Syarat itu ada yang berkaitan dengan rukun dalam arti syarat yang berlaku untuk setiap unsur yang menjadi rukun. Ada pula syarat itu berdiri sendiri dalam arti tidak merupakan kriteria dari unsur-unsur rukun (Ali, 2007).

1) Rukun Nikah

Adapun rukun nikah adalah sebagai berikut:

a) Adanya calon suami dan isteri yang tidak terhalang dan terlarang secara syar’i untuk menikah

b) Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali.

(38)

20 c) Adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang

mewakilinya

d) Wali adalah pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah atau orang yang melakukan janji nikah dengan penganten laki-laki.

e) Dua orang saksi, yang menyaksikan sah atau tidaknya suatu pernikahan.

2) Syarat nikah

Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai tersebut adalah:

a) Syarat bagi calon mempelai pria antara lain beragama islam, laki-laki, jelas orangnya, cakap bertindak hukum, untuk hidup berumah tangga, tidak terdapat halangan perkawinan.

b) Bagi calon mempelai wanita antara lain beragama islam, perempuan, jelas orangnya, dapat dimintai persetujuan, tidak terdapat halangan perkawinan.

c) Bagi wali dari calon mempelai wanita antara lain laki-laki, beragama islam, mempunyai hak perwalian, tidak terdapat halangan untuk menjadi wali

d) Syarat saksi nikah antara lain minimal dua orang saksi, menghadiri ijab qabul, dapat mengerti maksud akad beragama islam dan dewasa.

e) Syarat-syarat ijab qabul yaitu: 1) Adanya pernyataan mengawinkan dari wali, 2) Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai pria, 3) Memakai kata-kata nikah atau semacamnya, 4) Antara ijab dan qabul bersambungan, 5) Antara ijab dan qabul jelas maksudnya, 6) Orang yang terkait dengan ijab tidak sedang melaksanakan ikharam haji atau umrah,

(39)

21 7) Majlis ijab dan qabul itu harus dihadiri oleh minimal empat orang, yaitu calon mempelai pria atau yang mewakilinya dan dua orang saksi (Ali, 2007).

Sesudah pelaksaan akad nikah kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat nikah berdasarkan ketentuan yang berlaku. Diteruskan kepada kedua saksi dan wali. Dengan penandatanganan akta nikah yang dimaksud, perkawinan telah dicatat secara resmi dan mempunyai ketentuan hukum. Akad nikah yang demikian tersebut sah atau tidak sah dapat dibatalkan oleh pihak lain.

B. Pernikahan Dini

1. Perkawinan Usia Dini

Pernikahan dini adalah pernikahan yang di lakukan oleh pasangan yang berusia 18 tahun kebawah baik itu laki-laki maupun perempuan. Di indonesia sendiri masih marak terjadi kasus pernikahan di usia muda di berbagai daerah, baik itu di daerah perkotaan maupun pedesaan, tetapi yang paling banyak di temukan kasus pernikahan dini yaitu di daerah pedesaan terutama di desa -desa terpenci.Pernikahan di usia muda bisa di katakan sebagai ajang baru yang terjadi di kalangan masyarakat, karena dengan menikah pada usia muda bisa merubah pola pikir remaja menjadi pola pikir yang dewasa serta bisa menjadi awal pembelajaran dalam membina rumah tangga.

Di dalam agama, tidak di jelaskan secara kuantitatif berapa batas usia minimal untuk menikah dan berapa usia dewasa yang ideal, tetapi

(40)

22 secara kualitatif di tegaskan harus mampu baik itu secara fisik, mental, maupun sosial. Hal ini sejalan dengan prinsip Undang Undang perkawinan, yaitu mendewasakan usia kawin. Di sebutkan minimal 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria.Tapi jika dipertimbangkan kembali semakin dewasa seseorang untuk melakukan pernikahan, maka semakin sempurnah. Bagi yang belum berusia 21 tahun dangan ingin melangsungkan pernikahan harus memiliki atau mendapatkan izin dari orang tua (Marhiyanto, 2000)

Prinsip kedewasaan dalam rumah tangga sangat diperlukan, karena salah satu manfaatnya yaitu dapat menghasilkan rumah tangga yang bahagia, harmonis, mencegah terjadinya perceraian, serta mmenimbulkan kesetaraan kedudukan antara suami dan istri dalam rumah tangga, maupun dalam lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu kesimpulan dari permasalahan pernikahan dini yaitu, bahwa pernikahan dini di lakukan oleh pasangan kususnya perempuan yang masih berusia 18 tahun kebawah, dan jika dilihat dari segi umur belum masuk pada kata sempurna untuk melakukan pernikahan.Suatu masalah tidak akan terjadi apa bila tidak ada penyebabnya, seperti pernikahan, orang tua tidak akan menikahkan anaknya jika tidak ada faktor yang menyebabkannya harus menikahkan anaknya pada usia yang masih sangat mudah.

2. Faktor-faktor pernikahan di usia muda

(41)

23 Faktor-faktor pernikahan di usia muda Kamanto (2004) sebagai berikut:

a) Faktor ekonomi

Masalah ekonomi merupakan masalah yang paling utama dan terbesar di setiap negara, terutama di negara indonesia. Indonesia merupakan negara yang masuk dalam negara dengan tingkat kemiskinannya sangat tinggi, bayak hal yang menyebabkan kemiskinan di indonesia sulit untuk di obati atau dengan kata lain sulit untuk di cari solusinya, begitu banyak cara yang sudah di lakukan oleh para petinggi negara untuk menyelesaikannya, tapi sampai sekarang kemiskinan malah makin bertambah seiring dengan perubahan dalam pola hidup masyarakat.

b) FaktorPerjodohan

Perjodohan di artikan sebagai salah satu ikatan pernikahan, dimana pengantin pria dan wanita di pilihkan oleh orang ketiga, bukan karena pilihan sendiri. Dalam agama islam perjodohan merupakan hal yang sah untuk di lakukan, karena bisa menghindari terjadinya hal - hal buruk yang sangat di larang oleh agama, seperti persinahan dan sebagainya. Perjodohan pada awalnya hanya terjadi pada zaman dahulu, dikarenakan pada zaman dahulu seorang perempuan memiliki kedudukan yang sanagt rendah di bandingkan dengan laki-laki, padangannya apa yang di lakukan lelaki belum bisa lakukan oleh perempuan, sehingga untuk para lelaki setelah berusia belasan dan sudah

(42)

24 merasa mampu mencari nafkah untu keluarganya, sudah menjadi tradisi untuk pergi merantau ke negara tetangga.

c) Faktor Cinta Sejati

Cinta sejati kadang menjadi salah satu penyebab terjadinya pernikahan di usia muda, hal ini dikarenakan antara laki-laki dan perempuan sudah saling suka dan ingin segara bersatu dalam ikatan rumah tangga, tapi kebanyakan kasus yang di temukan akibat dari saling suka terkadang bisa menjerumuskan suatu pasangan pada hal yang tidak baik, baik itu pasangan yang sudah dewasa maupun yang masih remaja.

Bagi pasangan yang ingin menikah tapi tidak mendapat restu dari orang tua, kadang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti melakukan hubungan intim layaknya pasanagan suami dan istri, sehingga menimbulkan dampak seperti hamil sebelum menikah, hal ini dilakukan hanya untuk mendapatkan restu orang tua, tetapi ada juga yang melakukan hubungan layaknya suami dan istiri di karenakan ingin melampiaskan asrat keduanya. Cinta sejadi berawal dari suka sama suka kemudian menjalar pada kata berpacaran kemudian seiring berjalannya waktu rasa ingin memiliki antara satu dengan yang lain semakin besar. Berpacaran merupakan kata yang tidak asing lagi di lingkungan masyarakat karena berpacaran sudah bisa di alami anak anak, remaja, dan orang dewasa. Tetapi dalam agama islam kata berpacaran sebenarnya tidak ada, melainkan yang di anjurkan dalam agama yaitu ta’aruf.

d) Faktor kekhawatiran orang tua

(43)

25 Kekhawatiran orang tua bisa menjadi faktor terjadinya pernikahan di usia muda, dimana yang di sebabkan karena adanya rasa cemas yang dirasakan oleh orang tua terhadap pergaulan anaknya.

e) Faktor Adat Istiadat

Menurut adat-istiadat pernikahan sering terjadi karena adanya perjodohan sejak kecil. Kemudian orang tua yang bertempat tinggal di pedesaan pada umumnya ingin cepat-cepat menikahkan anak gadisnya karena takut akan menjadi perawan tua. Hal ini tidak memikirkan nasib pendidikannya

Faktor Penyebab Pernikahan Dini juga dikemukakan oleh (Yulianti, 2015) yaitu:

a. Faktor Internal 1) Pendidikan

Faktor pendidikan menjadi salah satu penyebab terjadinya perkawinan usia dini. Rendahnya tingkat pendidikan yang bersangkutan mendorong terjadinya pergaulan bebas karena yang bersangkutan memiliki banyak waktu luang dimana padasaat bersamaan mereka seharusnya berada dilingkungan sekolah. Banyaknya waktu luang yang tersedia mereka pergunakan pada umumnya adalah untuk bergaul yang mengarah kepada pergaulan bebas diluar kontrol mengakibatkan banyak terjadi kasus hamil pra nikah sehingga terpaksa dinikahkan walaupun masih berusia sangat muda.

2) Hamil diluar Nikah

(44)

26 Adapula faktor karena sang anak hamil diluar nikah yang terpaksa harus dinikahkan untuk menghindari aib keluarga mereka serta terhindar dari sanksi adat berupa denda. Orang tua lebih memilih untuk segera menikahkan anaknya.Pengetahuan agama yang rendah dapat mendorong remaja melakukan hubungan seks dan bisa mengakibatkan kehamilan yang tidak dinginkan. Kehamilan yang terjadi akibat seks bebas menjadi beban mental yang luar biasa. Kehamilan yang dianggap

“Kecelakaan” ini mengakibatkan kesusahan dan malapetaka bagi pelaku bahkan keturunannya. Maka hal inilah yang dapat mendorong terjadinya pernikahan dini secara terpaksa bagi para remaja.

b. Faktor eksternal

1) Budaya

Faktor budaya juga berperan dalam mempengaruhi terjadinya pernikahan dini. Apabila dalam budaya setempat mempercayai jika anak perempuannya tidak segera menikah, itu akan memalukan keluarga karena dianggap tidak laku dalam lingkungannya. Atau jika ada orang yang secara finansial dianggap mampu meminang anak mereka, dengan tidak memandang usia dan kesiapan sang anak kebanyakan orangtua akan menerima lamaran tersebut karena beranggapan masa depan sang anak akan lebih cerah dan berharap sang anak bisa mengurangi beban orangtua.

2) Kesulitan ekonomi

Disamping itu ada pula pasangan yang menikah karena adanya faktor sulitnya kehidupan orangtua yang ekonominya pas-pasan sehingga terpaksa menikahkan anak gadisnya dengankeluarga yang sudah mapan

(45)

27 perekonomiannya. Keputusan menikah kadang kala muncul dari inisiatif anak itu sendiri yang ingin meringankan beban ekonomi orangtuanya dengan cara menikah pada usia muda. Dengan menikah di usia muda mereka berharap akan dapat meringankan beban orang tua.

3. Dampak-Dampak Pernikahan Dini

Dampak-dampak pernikahan dinimenurut Masaroh (2013) dampak-dampak dari pernikahan dini adalah sebagai berikut:

1) Dampak Psikologis

Secara psikis anak belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luang serta hak-hak lainnya dalam diri anak.

Adapun dampak yang sering terjadi adalah timbulnya rasa cemas, stres dan depresi. Sehubungan dengan kesiapan mental, kesiapan dalam menghadapi diperlukan sebagai upaya mengontrol emosi sehingga akan memiliki mental yang kuat ketika menghadapi atau menjalani permasalahan dalam pernikahan. Kemampuan seseorang untuk mengontrol emosi secara baik dapat tercapai pada usia diatas 21 tahun. Dimana pada usia tersebut merupakan usia dewasa seseorang dan keadaan psikologinya sudah tersusun atau terkonsep secara matang.

2) Dampak Biologis

(46)

28 Secara biologis usia pernikahan dini dapat menyebabkan berbagai faktor yaitu alat-alat reproduksi akan menjadi infeksi dan perobekan Jika terjadi unsur pemaksaan, dengan demikian anak yang belum siap berhubungan seks dapat menyebabkan terjadinya trauma yang mendalam. Apalagi sampai hamil kemudian melahirkan itu bisa berbahaya. Jika dipaksakan pernikahan dini dapat mengakibatkan penyakit kanker leher rahim.

3) Dampak Sosial

Dampak sosial pasti akan dirasakan oleh kedua belah pihak pasangan yang menikah diusia muda, dimana pasangan harus mampu menghadapi kesulitan perekonomian dan kehidupan yang kompleks ketika ia memilih lepas dari tanggung jawab kedua orang tuanya. Adapun dampak sosial dari pernikahan dini berkaitan dengan faktor sosial budaya.

Dalam masyarakat pedesaan maupun perkotaan biasanya wanita dianggap lemah sehingga orangtua ingin cepat-cepat menikahkan anak- anaknya khususnya pada anak perempuan. Hal ini terjadi karena faktor sosial budaya sejak dulu apalagi di daerah pedesaan.

C. Remaja

1. Pengertian Remaja

Masa remaja (adolescence) adalah merupakan masa yang sangat penting dalam rentang kehidupan manusia, merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemasa dewasa(Sarwito, 2007). Ada beberapa pengertian menurut para tokoh-tokoh mengenai pengertian remaja

(47)

29 seperti Elizabeth B. Hurlock Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin (adolescene), kata bendanya adolescentia yang berarti remaja yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” bangsa orang-orang zaman purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.

Istilah adolescence yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang sangat luas, yakni mencangkup kematangan mental, sosial, emosional, pandangan ini di ungkapkan oleh Piaget dengan mengatakan, Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintregasi dengan masarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkat yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok.

2. Perkembangan Remaja

Menurut Yahya (2011) yang menyatakan masa remaja sebagai masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.Perkembangan remaja secara umum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut (Agustiani, 2009) a) Remaja Awal (12-15 tahun)

Pada masa ini individu mulai meninggalkan perannya sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan

(48)

30 tidak tergantung kepada orang tua. Fokus dari tahapan ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat pada teman sebayanya.

b) Remaja Pertengahan (15-18 tahun)

Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri mereka sendiri. Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kemampuan tingkah laku, belajar mengendalikan implusivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu.

c) Remaja Akhir (19-22 tahun)

Masa ini ditandai dengan persiapan akhir untuk memasuki peranperan orang dewasa. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa.Remaja akhir merupakan individu yang berusia 19 sampai 22 tahun dan mengalami masa penguatan atau penyatuan menuju masa kedewasaan yang ditandai meningkatnya kemampuan berpikir, memiliki minat terhadap orang lain, mulai matang secaraemosional dan mampu menyeimbangkan kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan adalah hal yang penting untuk diaplikasikan secara praktis dalam bidang psikologi perkembangan menurut (Hurlock, 1998) terdapat tugas-tugas perkembangan remaja akhir yang harus dilalui

(49)

31 agar dapat melaksanakan tugas perkembangan di masa selanjutnya dengan baik, antara lain :

a) Mencapai hubungan baru yang lebih dekat dan erat dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan.

b) Mencapai peran antara laki-laki dan perempuan.

c) Menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuh secara efektif.

d) Mengharapkan dan mencapai perilaku bertanggung jawab.

e) Mempersiapkan karir ekonomi.

f) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

g) Memperoleh perangkat nilai dan si stem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.

Tugas perkembangan remaja antara satu negara dengan negara yang lain belum tentu sama, tergantung kebudayaan yang terdapat di negara tersebut. Oleh karena itu tugas perkembangan tidak bersifat umum melainkan tergantung kebudayaan masing-masing Negara. Apabila individu berhasil melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik maka individu akan memiliki rasa percaya diri, berharga, dihargai dan optimis dalam menghadapi segala hal yang dihadapi. Akan tetapi apabila individu tidak berhasil melaksanakan setiap tugas perkembangannya dengan baik maka hal tersebut akan menyebabkan dia menjadi pesimis, lemah, dan tidak mampu menghadapi masa depannya.

4. Ciri-ciri Remaja Akhir

(50)

32 Adapun ciri-ciri yang menjadi ciri khas remaja akhir menurut (Mighwar, 2010) yaitu:

a. Mulai stabil

adanya peningkatan kestabilan emosi bagi remaja lakilaki maupun remaja perempuan. Hal tersebut diikuti pula oleh kestabilan dalam minat, menentukan sekolah, jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesama ataupun lain jenis, kestabilan dalam bersikap dan pandangan. Faktor yang berpengaruh terhadap proses kestabilan remaja akhir yaitu didikan atau pola asuh orangtua dan jarak tempat tempat tinggal antara remaja dengan orangtua. Kesetabilan emosional remaja akan mudah dicapai apabila dia berada dalam keluarga yang bersifat demokratis. Demikian pula dengan remaja yang tinggal jauh dari rangtua biasanya lebih cepat stabil dibandingkan dengan remaja yang tetap tinggal dengan orang tua. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Mappiare, 1982) tentang pola sikap mendidik orang tua dan jarak tempat tinggal antara remaja dengan orang tua merupakan dua hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses penstabilan.

b. Lebih realistis

remaja tahapan akhir akan mulai memandang dirinya secara rasional, menghargai apa yang dimiliki, keluarga, orang lain seperti keadaan yang sebenarnya. Pandangan yang realistis ini merupakan hal yang sangat positif karena akan menimbulkan perasaan puas, menjauhkan diri dari rasa kecewa, dan menghantarkan pada puncak kebahagiaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan

(51)

33 oleh (Hurlock, 1998) bahwa dengan bertambahnya pengalaman pribadi, pengalaman sosial, dan meningkatnya kemampuan untuk berpikir rasional, remaja lebih realistik dalam memandang diri sendiri, keluarga, teman-teman, dan kehidupan.

c. Lebih matang

menghadapi masalah, permasalah yang dihadapi pada remaja akhir hampir sama dengan remaja awal, yang membedakan adalah bagaimana mereka menghadapi permasalahan tersebut. Remaja awal akan menghadapi masalah dengan sikap bingung dan tingkah laku yang tidak efektif, sedangkan remaja akhir menghadapinya dengan lebih matang dan pemikiran yang rasional. Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang dihadapi baik dengan cara mereka sendiri maupun dengan diskusi bersama teman-teman sebaya.

d. Lebih tenang perasaannya

pada paruh akhir masa remaja akhir, ketika mereka menghadapi masalah remaja cenderung akan lebih tenang dibanding pada paruh awal masa remaja akhir. Remaja akhir jarang memperlihatkan kemarahan, kesedihan dan kecewa karena tahapan ini adalah tahapan dimana mereka mulai mempersiapkan diri untuk mengganti peran sebagai orang dewasa.

(52)

34 I. Kerangka Penelitian

Pergaulan bebas

Masa remaja (adolescence) adalah merupakan masa yang sangat penting dalam rentang kehidupan manusia, merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemasa dewasa. Dimana pada masa usia ini yang masih tergolong sangat belia dan sangat mudah terpengaruh oleh

Pernikahan usia dini

Biologis

• Infeksi

• Luka

• Perubahan bentuk tubuh

Psikologis

• Rasa cemas

• Stres

• Depresi

• Trauma yang mendalam

Sosial

• Kesulitan perekonomian

Penyebab Dampak

Ekonomi

Pendidikan

Cinta sejati

Orang tua

Media massa

Pergaulan bebas

Adat-istiadat

(53)

35 lingkungan sekitar baik dari keluarga teman bermain dan masyarakat sekitarnya.

Adanya pergaulan bebas dikalangan remaja mengakibatkan dampak yang buruk bagi remaja itu sendiri baik dari kepribadian perilaku dan pergaulannya.Perkembangan teknologi yang canggih membuat remaja dengan mudah mengakses situs video-video porno yang ada di media sosial. Sehingga hal tersebut mengakibatkan banyak remaja yang melakukan seks bebas dan tak sedik remaja yang hamil diluar nikah maka hal tersebut mengharuskan remaja tersebut menikah diusia pada dini. Adapun pernikahanusia dini menurut (Marjan, 2007) adalah Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki umur yang relatif muda. Umur yang relatif muda tersebut yaitu usia pubertas usia antara 10-19 tahun.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pernikahan dini menurutYulianti (2015), yang biasa dijumpai di lingkungan masyarakat sepertifaktor ekonomi,pendidikan, cinta sejati, faktor orang tua, faktor media massa, adat- istiadat dan hamil diluar nikah.Yang pertama faktor ekonomi masalah ekonomi merupakan masalah yang paling utama dan terbesar di setiap negara, terutama di negara indonesia. Indonesia merupakan negara yang masuk dalam negara dengan tingkat kemiskinannya sangat tinggi, bayak hal yang menyebabkan kemiskinan di indonesia sulit untuk di obati atau dengan kata lain sulit untuk di cari solusinya, begitu banyak cara yang sudah di lakukan oleh para petinggi negara untuk menyelesaikannya, tapi sampai sekarang kemiskinan malah makin bertambah seiring dengan perubahan dalam pola hidup masyarakat, selanjutnya faktor perjodohan di artikan sebagai salah satu ikatan pernikahan,

(54)

36 dimana pengantin pria dan wanita di pilihkan oleh orang ketiga, bukan karena pilihan sendiri.

(55)

37 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif.Menurut (Azwar, 2016) penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menekankan pada hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berpikir formal dan argumentatif.Sedangkan pendekatan deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu, dimana penelitian ini berusaha menggambarkan situasi atau kejadian (Azwar, 2016), juga menjelaskan dalam pengumpulan data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, maupun mempelajari implikasi.

B. Subyek Penelitian

Penentuan subyek penelitian dalam penelitian ini adalah dilakukan secarapurposivedimana subyek ditentukan dengan menyesuaikan pada tujuan penelitian denganmenggunakan kriteria yang sudah ditentukan.Adapun kriteria subyek yang akandigunakan dalam penelitian kali ini yaitu :

1) Remaja yang berusia kurang dari 18 tahun dengan Jumlah subjek yang akan diteliti sebanyak 3 orang.

2) Remaja berusia 15-16 tahun

3) Subjek menikah pada usia dini dikarenakan hamil di luar nikah 4) Keinginan sendiri dan usia subjek saat menikah 15-16 tahun.

5) Berada di Desa Langam.

(56)

38 C. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sumbawa Besar tepatnya di RT 001/ RW 002, Dusun Kabuyit, Desa Langam, Kec.Lopok, RT 002/ RW 001, Dusun buin gali, Desa Langam, Kec.Lopok,. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam waktu 2 bulan terhitung dari bulan Maret 2018 sampai dengan April 2019 dengan beberapa tahap yakni persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil.

D. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (depth interview) berupa wawancara semi terstruktur.Menurut Sugiyono (2016)

wawancara semi terstruktur didalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur.Teknik ini digunakan bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka berdasarkan pihak yang diwawancarai.Wawancara merupakan metode utama yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data mengenai penelitian yang telah dilakukan. Proses wawancara ini dilakukan dengan bimbingan guide interview yang telah disiapkan oleh peneliti agar proses wawancara lebih terstruktur dengan baik.

2. Observasi

Peneliti menggunakan observasi dengan terjun langsung ke lapangan untuk melihat fakta keseharian subjek di lingkungan tempat dia tinggal.Observasi sangat diperlukan sebagai info pendukung untuk kelengkapan dari data penelitian.Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi terus terang

Gambar

Tabel 2.1 Identitas subjek  Identitas subjek
Tabel 2. Instrumen guide Wawancara.
Tabel 1. Instrumen Guide Observasi
Foto 1.1 subjek FW

Referensi

Dokumen terkait

hanya disebabkan karena terjadinya hamil di luar pernikahan, melainkan adanya hal-hal lain yang memaksa mereka untuk menikah, di mana kedua pasangan remaja tersebut belum siap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) bagaimana bentuk perilaku keagamaan remaja di desa Barakkae. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkapkan, 2) dampak penggunaan

Dari penelitian yang penulis peroleh dapat diperoleh hasil penelitian, bahwa benar adanya dampak pernikahan usia dini terhadap pendidikan anak yaitu berdampak pada pendidikan

Menikah, mempunyai anak adalah dambaan bagi setiap wanita. Namun semua itu mengandung konsekuensi logis. Pasangan suami istri tidak hanya cukup bahagia menyambut kehadiran

Berdasarkan pernyataan Wulan di atas, maka dapat diketahui bahwa dampak modernitas terhadap aqidah yaitu game online dan media sosial sudah membuat masyarakat

Perceraian diakui dalam ajaran Islam sebagai jalan terakhir keluar dari kemelut rumah tangga bagi pasangan suami isteri, dimana kedua belah pihak atau salah

Bahwa pernikahan pada usia dini tidak selamanya harmonis, banyak yang menjadi faktor mengapa banyak orang yang menikah pada usia dini, seperti hamil di luar nikah,

Tanpa di sadari kerja sama bagi hasil pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Somba Palioi Kecamatan Kindang ini telah membantu kedua belah pihak,