• Tidak ada hasil yang ditemukan

COMMUNIO-KOINONIA MENURUT VISI PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA DALAM PERTEMUAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "COMMUNIO-KOINONIA MENURUT VISI PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA DALAM PERTEMUAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN"

Copied!
221
0
0

Teks penuh

(1)

i

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA PROGRAM PASCA SARJANA

PROGRAM MAGISTER THEOLOGI

COMMUNIO-KOINONIA

MENURUT VISI PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA DALAM PERTEMUAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN

Tesis diajukan oleh : Dhimas Martin Yuniar NPM : 096312008/PPs/M.Th.

untuk memperoleh

GELAR MAGISTER THEOLOGI

2012

(2)

ii

28 November

(3)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini, saya menyatakan bahwa di dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah dibuat untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat orang lain yang pernah ditulis atau diterbitkan, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan dicantumkan dalam catatan kaki dan daftar pustaka.

Yogyakarta, November 2012

Dhimas Martin Yuniar Penulis

(4)

iv

“Whatever you do, think not of yourself, but of God”

(St. Vinsensius Ferrerius)

(5)

v ABSTRAK

Keuskupan Purwokerto mengidealkan komunitas Gereja Kerajaan Allah yang menjadi gerak bersama seluruh umat di Keuskupan Purwokerto. Setiap paroki, termasuk PKKR mengolah visi tersebut agar menjadi makin konkret sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat setempat. PKKR ingin membangun komunitas yang kudus, mandiri, dewasa, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan menjadi terang dan garam dunia. Perkembangan itu diusahakan dengan pertemuan APP sebagai saat PKKR bertemu dalam komunitas kecil Lingkungan. APP sesuai dengan usaha PKKR dalam menghadirkan komunitas yang ber-communio secara internal maupun eksternal. APP memang dimaksudkan untuk menjadikan Gereja sebagai komunitas menghayati identitas dan perutusan membangun pribadi-pribadi dan juga masyarakat.

Dalam penelitian, ternyata maksud APP yang memang selaras dengan visi komunitas PKKR belum sepenuhnya ditangkap dan dihayati oleh umat PKKR.

Segi eksternal komunitas belum menjadi gambaran nyata PKKR. Pertemuan APP belum sepenuhnya membantu PKKR membangun identitas komunitasnya. Untuk semakin efektif dan efisien dalam menghadirkan komunitas yang ideal menurut PKKR, perlu ada beberapa langkah pastoral dalam perjalanan PKKR. Dengan beberapa langkah itu, diharapkan, APP mampu menjadi sebuah usaha PKKR membangun komunitas yang kudus, mandiri, dewasa, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati serta menjadi terang dan garam masyarakat.

(6)

vi ABSTRACT

Diocese of Purwokerto idealizes a community of God’s Kingdom Church, which by then becomes a together movement of the Catholics in Diocese of Purwokerto. Each parish, including Parish Cathedral Kristus Raja of Purwokerto, makes a vision which is appropriate with the need and situation of the Catholics in this parish. Cathedral Kristus Raja of Purwokerto wants to build a community which is holy, independent, mature, dynamic, growing in true brotherhood and sisterhood and becoming the light and the salt of world. The event of Aksi Puasa Pembangunan, where the Catholics meet in small community, becomes a method to get the ideal community. APP is really suitable with the efforts of Cathedral Kristus Raja of Purwokerto in presenting a community which is communious internally and externally as well. APP is intentioned to make Church as a community that realizes its identity and mission to build the people and the society as well.

In this research, the intention of APP, which is harmonious with the vision of the the community of the Cathedral Kristus Raja of Purwokerto, is not fully caught and comprehended by the Catholic people of Cathedral Kristus Raja of Purwokerto. The External side of the community have not yet become the real description of Cathedral Kristus Raja of Purwokerto. Therefore APP meeting have not really helped Cathedral Kristus Raja of Purwokerto to build its community’s identity.

To make it more effective and efficient in presenting the ideal community, Cathedral Kristus Raja of Purwokerto needs to make some pastoral steps. By enduring some pastoral steps, it is hoped that APP can become a program done by the Catholic people of Cathedral Kristus Raja of Purwokerto to build a community which is holy, autonomic, mature, dynamic, growing in true brotherhood and becoming the light and salt of world.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Komunitas yang menyadari identitasnya adalah komunitas yang hidup karena akan selalu memiliki arah perjuangan dan harapan. Identitas itu akan mengajak komunitas untuk menggulati kekhasannya yang memuat spiritualitas dan potensi. Dan identitas itu juga yang mengajak komunitas itu keluar dari dirinya sendiri bertemu dan merasuk ke dalam komunitas lain dan komunitas yang lebih luas. PKKR semakin mampu menggulati identitasnya saat mereka mengusahakannya melalui pertemuan APP. Pertemuan APP menjadi ruang bagi PKKR menghayati spiritualitas komunitas mereka dan sekaligus ruang untuk berperan dalam masyarakat tempat mereka bertumbuh. Tulisan ini ingin mengangkat sejauh mana pertemuan APP di PKKR membangun idealisasi komunitas ini dan langkah pastoral yang bisa dilakukan untuk mengefektifkan peran pertemuan APP itu.

Dalam menemukan langkah-langkah itu, karya Allah sungguh besar membantu penulis. Ia berperan dalam berbagai hal, yaitu peristiwa dan pengalaman, orang-orang, tulisan, bahkan kesulitan dan tantangan. Oleh karena itu penulis secara khusus mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah yang senantiasa menguatkan hati menyelesaikan tulisan ini

2. Gereja Keuskupan Purwokerto dan Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto yang memunculkan inspirasi dalam penulisan ini.

(8)

viii

3. Rm. PC Siswantoko, Pr. yang telah memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan penelitian di PKKR.

4. Rm. Dr. St. Gitowiratmo, Pr. dan Rm. Dr. FA Purwanto, SCJ yang dengan penuh kesabaran dan kekritisan membimbing penulisan tesis ini.

5. Mgr. J Sunarka, SJ yang telah mendorong untuk terselesaikannya tesis ini.

6. Rektor Seminari Tinggi St. Paulus yang selalu kooperatif menyediakan sarana dan waktu bagi penulis menggarap tesis ini.

7. Umat Paroki St. Agustinus Purbalingga yang terus menyemangati penulis menyelesaikan tulisan ini dan sekaligus bersedia ditinggal untuk sementara waktu demi selesainya tulisan ini.

8. Teman-teman kaum muda Purbalingga yang selalu membantu, mendukung, menyemangati, menghibur dalam perjuangan.

9. Pribadi-pribadi lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang melalui sapaan, teguran, kritikan, ide, dan doa membantu penulis.

Semoga tulisan yang tidak sempurna ini menampakkan karya Allah yang sempurna. Dan semoga mampu pula menjadi inspirasi bagi penelitian selanjutnya.

Penulis

(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ………. i

Halaman Pengesahan ………... ii

Halaman Persembahan ……… iii

Pernyataan Keaslian Karya ………. iv

ABSTRAK ……….. v

ABSTRACT ……… vi

KATA PENGANTAR ……… vii

DAFTAR ISI ………... ix

DAFTAR SINGKATAN ………. xv

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

1.1 Latar Belakang ……….. 1

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah ………... 4

1.3 Batasan Masalah ……… 5

1.4 Tujuan Penelitian ……….. 6

1.5 Manfaat Penelitian ……… 7

1.6 Hipotesa ………. 7

1.7 Sistematika Penulisan….……… 7

BAB II COMMUNIO-KOINONIA YANG DICITA-CITAKAN PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA PURWOKERTO …… 10

2.1 Pengantar ……….. 10

2.2 Paroki Katedral Kristus Raja ……… 11

2.2.1 Sejarah dan Situasi Aktual ……… 11

(10)

x

2.2.2 Visi Misi Paroki Tahun 1998-2007 ………... 17

2.2.3 Hasil Penelitian oleh Tim Visi Misi PKKR Tahun 2007 ………. 19

2.2.4 Visi Misi Paroki 2008-2017 ………. 22

2.2.4.1 Visi Keuskupan Purwokerto 2006-2011……… 22

2.2.4.2 Visi Misi Paroki sebagai Konkretisasi Visi Keuskupan ………… 24

2.2.4.3 Persekutuan yang Kudus ……….. 25

2.2.4.4 Persekutuan yang Dewasa ………. 29

2.2.4.5 Persekutuan yang Mandiri ………. 30

2.2.4.6 Persekutuan yang Dinamis ……… 32

2.2.4.7 Persekutuan yang Berkembang dalam Persaudaraan Sejati …….. 34

2.2.4.8 Persekutuan yang Menjadi Terang dan Garam Dunia ………….. 36

2.2.5 Communio yang Diperjuangkan oleh PKKR ……… 38

2.3 Pertemuan APP Lingkungan ………. 40

2.3.1 Keberadaan Lingkungan dan Kegiatannya ………... 40

2.3.2 Sejarah APP ………. 41

2.3.2.1 Latar Belakang ……….. 41

2.3.2.2 Pembentukan Gerakan Sosial di Indonesia ……….. 45

2.3.2.3 Perkembangan APP ……….. 46

2.3.3 Tujuan APP ……….. 48

2.3.4 Hubungan APP dengan Communio-Koinonia yang Dicita- citakan PKKR ……… 51

2.4 Makna Communio dan Koinonia ……….. 54

2.4.1 Karya Keselamatan Allah ……….. 57

2.4.2 Bersumber pada Relasi Trinitaris ………. 61

2.4.3 The Church of God (Gereja Umat Allah) ……….. 62

2.4.4 Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus ……… 64

2.4.4.1 Dalam Kisah Perjamuan Terakhir ………... 65

2.4.4.2 Dalam Surat Pertama Paulus kepada Umat di Korintus ………... 65

2.4.4.3 Dalam Ajaran Bapa-Bapa Gereja ………. 69

2.4.4.4 Dalam Ajaran Konsili Vatikan II ..………... 70

2.4.4.5 Dalam Pandangan Yves Congar………. 71

(11)

xi

2.4.5 Gereja sebagai Paguyuban-paguyuban (Communion of

Communities) ………. 72

2.4.6 Tantangan bagi Communio dan Komunitas ……….. 74

2.5 Refleksi dan Kesimpulan ……….. 78

2.5.1 Melalui Pertemuan APP PKKR Membangun Communio Internal dan Eksternal ………. 78

2.5.2 Communio Selalu Bersemangatkan Koinonia (Relasi-Partisipasi yang Mendalam) ……… 79

2.5.3 Melalui Kelompok/Paguyuban Itulah Communio-Koinonia yang Diharapkan PKKR Memperoleh Ungkapannya ………... 80

2.5.4 Beberapa Unsur Communio yang Diperjuangkan/Ingin Dicapai oleh PKKR ……… 82

2.5.4.1 Kudus ……… 82

2.5.4.2 Dewasa ……….. 82

2.5.4.3 Mandiri ……….. 83

2.5.4.4 Dinamis ………. 84

2.5.4.5 Persaudaraan Sejati ……….. 84

2.5.4.6 Menjadi Terang dan Garam bagi Masyarakat ……….. 85

BAB III KENYATAAN PASTORAL PERJUANGAN PKKR MEMBANGUN COMMUNIO-KOINONIA MELALUI PERTEMUAN LINGKUNGAN APP PRAPASKAH …………. 86

3.1 Metode Penelitian ……….. 87

3.2 Data Responden ……… 92

3.2.1 Jenis Kelamin ……… 92

3.2.2 Kategori Umur ……….. 93

3.2.3 Kategori Pekerjaan ……… 95

3.2.4 Kategori Suku Bangsa ………... 98

3.2.5 Kategori Keterlibatan dalam Gereja ………. 99

3.3 Pemahaman mengenai Pertemuan APP Lingkungan ……… 101

(12)

xii

3.3.1 Frekuensi Mengikuti Pertemuan APP ……….. 102

3.3.2 Kekhasan/Keunggulan Pertemuan APP ……… 103

3.3.3 Penyajian Pertemuan APP dalam Menghayati Pertobatan ……… 106

3.3.4 Pengetahuan Mengenai Penggunaan Dana APP ……….. 108

3.4 Pribadi (Kudus dan Dewasa) ………. 112

3.4.1 Wajah Gereja PKKR Saat Ini ……… 112

3.4.2 Pengaruh Frekuensi Mengikuti Perayaan Ekaristi Mingguan …... 114

3.4.3 Kebiasaan Doa ………... 117

3.4.4 Kegiatan Lingkungan selain Perayaan Ekaristi ………. 120

3.5 Komunitas (Mandiri, Dinamis, Persaudaraan Sejati) ……… 125

3.5.1 Kemandirian dan Kedinamisan ………. 125

3.5.1.1 Kesulitan Lingkungan Mengadakan Pertemuan APP …………... 126

3.5.1.2 Kemandirian dalam Mengadakan Pertemuan APP ………... 127

3.5.1.3 Tanda Kemandirian dalam Mengadakan Pertemuan APP ……… 129

3.5.2 Persaudaraan Sejati ………... 132

3.5.2.1 Pengenalan Warga Lingkungan ……… 133

3.5.2.2 Pengaruh Utama Pertemuan APP bagi Lingkungan ………. 138

3.6 Masyarakat ……… 139

3.6.1 Pengenalan terhadap Tetangga dalam Satu Rukun Tetangga (RT)……… 141

3.6.2 Keikutsertaan dalam Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat … 144 3.6.3 Wujud Perhatian kepada Orang KLMT ……… 148

3.6.4 Wujud Kesaksian Iman dalam Masyarakat setelah Mendalami Tema APP ……… 150

3.6.5 Medan Pengungkapan/Perwujudan Iman Kristiani ………... 153

3.6.6 Dampak Pertemuan APP bagi Keterlibatan dalam Masyarakat … 155 3.7 Ringkasan ……….. 158

(13)

xiii

BAB IV USULAN LANGKAH PASTORAL BAGI PENGEMBANGAN COMMUNIO-KOINONIA DI LINGKUNGAN-LINGKUNGAN PKKR ……… 161

4.1 Pengantar ……….. 161

4.2 Beberapa Keprihatinan dan Tantangan Pastoral yang Muncul …. 162 4.2.1 Usaha Mencapai Kekudusan adalah Urusan Pribadi ………. 162 4.2.2 Kurangnya Semangat “Berbagi” Paguyuban/Komunitas

Lingkungan ……… 164 4.2.3 Tidak Seluruh Medan Perwujudan Iman Tergarap dengan Baik .. 166 4.3 Berbagai Kekuatan dan Peluang yang Sudah Dimiliki …………. 167 4.3.1 Potensi Pribadi Warga Lingkungan ………... 167 4.3.2 Memiliki Sense of Community ……….. 169 4.3.3 Keterbukaan dalam Memanfaatkan Berbagai Medan Perjumpaan 171 4.4 Usulan Langkah Pastoral ……….. 172 4.4.1 Membangun Kekudusan dengan Menjadikan Iman Semakin

Berakar ……….. 172 4.4.2 Membangun Paguyuban yang Ekaristis………. 173 4.4.3 Komunitas menjadi Tempat yang Subur untuk Sebuah

Pertobatan……….. 176 4.4.4 Menjadikan Komunitas Beriman Semakin Fokus dalam

Mengamalkan Keutamaan-Keutamaan Kristiani….……….. 176 4.4.5 Menampakkan Communion of Communities Gereja dalam

Sebuah Sinergitas ………. 178 4.4.6 Mengembangkan Peranan Awam dalam Membangun Dunia

sebagai Usaha Gereja Terlibat dalam Kegembiraan dan

Kegelisahan Dunia ………..………. 180 4.4.7 Membangun Paguyuban yang Efektif dengan Memecah

Lingkungan Besar dan Membuat Blok Lingkungan …..……….. 182 4.4.8 Optimalisasi Pertemuan APP melalui Kelompok-Kelompok

Khas/Minat/Kategorial ………. 185

4.5 Ringkasan ………. 188

(14)

xiv

BAB V PENUTUP ………. 189

DAFTAR PUSTAKA ………. 195

LAMPIRAN ……… 201

Lampiran 1 Angket Penelitian ………. 201

Lampiran 2 Daftar Pembagian Responden ……….. 206

(15)

xv

DAFTAR SINGKATAN

AA : Apostolicam Actuositatem APP : Aksi Puasa Pembangunan DPP : Dewan Pastoral Paroki

FABC : Federation of Asian Bishops Conferences GS : Gaudium et Spes

KWI : Konferensi Waligereja Indonesia KLMT : Kecil Lemah Miskin Tersingkir

LG : Lumen Gentium

LPPS : Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial MAWI : Majelis Waligereja Indonesia

MUSPAS : Musyawarah Pastoral

PKKR : Paroki Katedral Kristus Raja PSE : Pengembangan Sosial Ekonomi RT : Rukun Tetangga

RW : Rukun Warga

SLTA : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Communio merupakan salah satu aspek kehidupan Gereja. Communio berasal dari kata Latin yang memiliki makna assosiation, participation, status of being common, the fact of sharing the same faith.1 Kata Latin itu untuk menerjemahkan kata dalam bahasa Yunani yaitu koinonia, yang memiliki akar kata dasar berbagi sesuatu hal dengan seseorang.2 Dalam konteks Kristiani, communion diterjemahkan dengan “a relation between individual christians or christian communities resulting from their common participation in one and the same reality”.3 Melalui baptis, orang dimasukkan ke dalam communio eklesial, yang menyatukan mereka dengan seluruh umat beriman.4 Yang menjadi dasarnya adalah kesatuan dengan Allah.

Communion atau koinonia itu memiliki beberapa aspek atau cakupan dalam kitab suci yaitu menyangkut komunitas (2Kor 13:13, 1Yoh 1:3), semangat berbagi (2Kor 9:13), tanda/bentuk dari suatu persahabatan (Kis 2:42), dan participation in collection or in common good (2Kor 8:4).5

1 A. di Berardino, Encyclopedia of The Early Church, I, James Clarke & Co, Cambridge 1992, 188.

2 G.S. Wakefield (ed), A Dictionary of Christian Spirituality, SCM Press Ltd., London 1983, 241.

Berbagi dalam sesuatuhal dengan seseorang. Dengan berkonotasi pada fellowship, communion, participation dan sharing.

3 Sinclair B Ferguson, David F Wright (eds), New Dictionary of Theology, Intervarsity Press, England-Illinois 1988, 372.

4 Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, art. 11.

5 A. di Berardino, Encyclopedia of The Early Church, I, 188.

(17)

Pemahaman akan Gereja sebagai communio didasarkan pula pada konsep Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam surat St. Paulus. St. Paulus menekankan kesatuan, saling memperhatikan, dan saling membutuhkan antar umat beriman.

Gereja adalah sebuah paguyuban (communio) umat beriman yang berciri spiritual batiniah yang kemudian diungkapkan melalui ikatan-ikatan yang kelihatan. Maka paguyuban-paguyuban itu mengandaikan juga terdiri dari relasi-relasi manusiawi.

Gereja sebagai sebuah communio juga kemudian diwujudkan secara khusus sesuai dengan ciri khas di mana Gereja itu hidup. Di Keuskupan Purwokerto, dalam masa penggembalaan Mgr Julianus Sunarka, SJ, communion diterjemahkan sebagai sebuah paguyuban yang menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. Dalam visinya, bapa Uskup menekankan ciri pelopor Kerajaan Allah. Maka Gereja Keuskupan Purwokerto sebagai sebuah komunitas memiliki tugas untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dalam komunitas mereka sekaligus berhadapan dengan komunitas lainnya. Di dalam visi itu ada sisi ke dalam dan sisi ke luar.

Demikian pula bapa Uskup menekankan kerjasama dengan mereka semua yang berkehendak baik dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

Bentuk communion atau koinonia yang khusus/khas bagi Keuskupan Purwokerto itu kemudian diterjemahkan oleh Paroki Katedral Kristus Raja (PKKR) Purwokerto melalui visi misinya yang disesuaikan dengan situasi dasar wilayah paroki ini. Sebagai Gereja lokal, PKKR menerjemahkan cita-cita communio itu melalui visi misi yang bertitik tolak pada jati diri PKKR. Tahun 1998, PKKR mulai menggulati visi “Paroki Katedral adalah persekutuan umat beriman yang misioner, tertata rapi, mandiri dan berdaya tahan atas dasar cinta kasih Kristus yang memanggil dan mengutus, berkembang dalam persaudaraan

(18)

sejati, sehingga menjadi terang dan garam di tengah masyarakat”.6 Dari visi tersebut, ternyata communio secara khusus diterjemahkan dengan kata persekutuan. Namun persekutuan memiliki ciri-ciri khusus yang menjadi jati diri sekaligus cita-cita PKKR. Persekutuan tersebut memiliki empat ciri yaitu misioner, tertata rapi, mandiri dan berdaya tahan. Dari beberapa ciri itu dapat ditemukan empat unsur yang menjadi idelisasi communio yang dicita-citakan PKKR pada tahun 1998 sampai dengan 2007, yaitu tanggungjawab bersama, komunikasi, kerjasama, dan keterlibatan aktif dalam Gereja dan masyarakat.

Pada tahun 2007, perjalanan membangun persekutuan yang misioner, tertata rapi, mandiri dan berdaya tahan yang berisikan tanggungjawab bersama, komunikasi, kerjasama, dan keterlibatan aktif itu dievaluasi melalui penelitian yang dilakukan oleh Tim Visi Misi PKKR.7 Penelitian itu menyatakan bahwa hanya separuh umat yang mengatakan sudah ada keterlibatan dan kerjasama antara warga lingkungan dalam kegiatan yang diadakan di lingkungannya.

Sedangkan separuh yang lain belum dan kurang mengalami kerjasama dan keterlibatan tersebut. Lebih dari sepertiga dari responden menilai keterlibatan dan kerjasama anggota atau warga lingkungan/paroki dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lingkungan atau paroki masih kurang. Hanya separuh yang mengatakan keterlibatan dan kerjasama itu sudah tercapai. Bahkan jalinan persaudaraan di dalam lingkungan sungguh-sungguh hanya dialami oleh kurang dari separuh umat. Dengan data itu, nampak bahwa konsep persaudaraan sejati yang berisikan tanggungjawab bersama, kerjasama, dan keterlibatan aktif umat belum sepenuhnya terwujud.

6 Rumusan ini diambil dari bahan rapat Tim Kerja Visi Misi PKKR pada tanggal 22 Mei 2007.

7 Hasil Penelitian Tim Kerja Visi Misi PKKR pada tahun 2007. Hasil tersebut disampaikan dalam rapat Tim Kerja Visi Misi pada tanggal 7 Agustus 2007.

(19)

Oleh karena itu pada tahun 2007, saat penyusunan visi-misi paroki yang baru untuk tahun 2008-2017, meski ada perubahan, PKKR tetap mencantumkan beberapa gagasan communio visi sebelumnya. Beberapa unsur gagasan communio PKKR dalam visi 2008-2017 adalah persekutuan yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Visi tersebut ditempuh dengan lima misi yaitu meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat, kedewasaan umat, keterlibatan aktif umat dalam hidup menggereja dan memasyarakat, kesadaran umat terhadap kemajemukan dan kesediaan untuk menerima perbedaan, dan mengembangkan cara-cara hidup alternatif dalam semua aspeknya. 8 Semua itu dicapai dengan menghayati spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam, pelindung PKKR.

Unsur-unsur communion tersebut merupakan unsur konkret dari communio yang dicanangkan oleh keuskupan. Kerajaan Allah yang begitu luas maknanya, di PKKR diterjemahkan dengan sebuah persekutuan yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan menjadi garam dan terang bagi masyarakat.

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

Gereja Kerajaan Allah yang dicanangkan Keuskupan Purwokerto itu secara teoritis telah dijawab oleh PKKR melalui visinya yaitu persekutuan yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Keenam ciri persekutuan itu adalah penekanan dari visi keuskupan sebagai kebersamaan dalam mengambil bagian

8 Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Arah Karya Pastoral PKKR Purwokerto Tahun 2008- 2017, 14-15.

(20)

dalam gerak keuskupan. Persekutuan menjadi sumber pokok dalam mengembangkan Kerajaan Allah yang dicita-citakan Keuskupan Purwokerto.

Visi PKKR mulai digeluti sejak tahun 2008, namun sampai di manakah aspek persekutuan dalam tataran praktis sudah tergarap dengan baik khususnya melalui gerakan APP tahunan?

1.3 Batasan Masalah

Gerak Gereja PKKR dalam menggulati visinya akan terlihat dari berbagai segi dan kelompok yang ada di dalam paroki. Salah satu perwujudan visi itu ada dalam kehidupan lingkungan. Setiap lingkungan memiliki kegiatan yang bermacam-macam. Ada kegiatan rohani berupa doa bersama, pendalaman iman maupun kegiatan pertemuan lingkungan. Kegiatan-kegiatan itu dimaksudkan untuk membangun communio yang diidam-idamkan. Maka dari kegiatan-kegiatan dalam lingkungan itulah dapat dilihat perjuangan PKKR dalam menggulati visinya.

Dalam penelitian kali ini, pertemuan lingkungan yang akan diteliti adalah pertemuan lingkungan dalam rangka Pendalaman Aksi Puasa Pembangunan Prapaskah. Pertemuan APP Prapaskah ini dipilih sebagai obyek penelitian karena beberapa alasan. Pertama, selama masa Prapaskah, umat berkesempatan mempersiapkan batin menyambut paskah melalui pendalaman iman pada pertemuan APP Prapaskah lingkungan. Kedua, sosialisasi mengenai pertemuan tersebut lebih banyak ketimbang pertemuan lingkungan lainnya atau dengan kata lain umat tahu bahwa setiap Prapaskah ada pendalaman iman rutin di masing- masing lingkungan. Ketiga, pertemuan APP Prapaskah ini sudah ada panduannya

(21)

sehingga persiapan masing-masing lingkungan lebih baik dari pada pertemuan biasanya. Keempat, pertemuan ini memiliki jangka waktu yang terbatas sehingga memudahkan untuk dianalisa. Pertemuan APP Prapaskah Lingkungan yang menjadi obyek studi lapangan adalah pertemuan APP Prapaskah 2010.

Pertemuan APP Prapaskah Lingkungan sebagai salah satu kegiatan di dalam lingkungan menjadi sarana yang dipakai oleh PKKR untuk membangun persekutuan yang mereka cita-citakan yaitu persekutuan yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati serta menjadi terang dan garam bagi masyarakat. Lingkungan menentukan sendiri waktu yang akan dipakai untuk berkumpul bersama menggulati tema yang ditawarkan oleh keuskupan (Komisi Kitab Suci dan Kateketik) dan/atau paroki. Kesediaan untuk berkumpul dan berbagi pengalaman menjadi sebuah tanda kesadaran masing-masing umat akan identitas mereka sebagai bagian dari sebuah paguyuban/lingkungan.

Pertemuan tersebut menjadi sebuah bukti gerak geliat hidupnya lingkungan.

1.4 Tujuan Penelitian

a) Melihat perwujudan pencapaian visi communio yang diusahakan oleh PKKR.

b) Memberi usulan-usulan langkah pastoral untuk membangun aspek communio yang dicita-citakan oleh PKKR.

c) Memberi data dan referensi untuk pertemuan lingkungan APP Prapaskah dalam usaha mencapai visi persekutuan yang diidealkan oleh Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto.

(22)

1.5 Manfaat Penelitian

a) Penelitian ini bisa menjadi bahan evaluasi pelaksanaan program kerja Dewan Pastoral Paroki periode 2007-2010 serta data bagi kebijakan- kebijakan pastoral Pastor Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto.

b) Bagi DPP, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan membuat program kerja dalam Masa Prapaskah.

c) Penelitian ini juga bisa menjadi data sekunder pelaksanaan pertemuan APP Prapaskah Lingkungan bagi Tim Katekese Dewan Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto.

d) Bagi Keuskupan Purwokerto, penelitian ini dapat membantu melihat dan mengevaluasi pelaksanaan visi keuskupan dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

1.6 Hipotesa

Pertemuan APP Prapaskah Lingkungan sudah mampu membangun communio yang dicita-citakan umat Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto.

Dengan semakin terlibat dalam kegiatan APP tahunan, aspek-aspek persekutuan yang dicita-citakan PKKR semakin terwujud.

1.7 Sistematika Penulisan

Tesis ini akan menemukan berbagai usulan langkah pastoral bagi PKKR dalam perjalanannya mewujudkan visi communio yang dicita-citakannya. Untuk sampai pada usulan tersebut, perlu ditemukan keprihatinan dan peluang yang

(23)

merupakan pelaksanaan perwujudan visi tersebut. Hasil dari pelaksanaan perwujudan visi pastoral tersebut dapat ditemukan bila ada pemahaman mengenai arti communio yang dicita-citakan oleh PKKR tersebut. Untuk itulah tesis ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I berupa Pendahuluan. Dalam Pendahuluan, penulis menjelaskan latar belakang, identifikasi dan rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesa dan sistematisasi penulisan. Pendahuluan ditempatkan pada Bab I karena mempunyai arti penting bagi penulis untuk memberikan gambaran secara singkat dan umum kepada pembaca mengenai isi dan konteks pembahasan dalam karya ilmiah ini.

Bab II menjelaskan arti communio-koinonia yang dicita-citakan oleh PKKR. Communio-koinonia memiliki arti yang sangat luas dan beragam. Banyak sumber yang berbicara mengenai arti communio dan koinonia. PKKR mengambil beberapa unsur yang ada dalam arti communio-koinonia itu. Tentunya PKKR memperjuangkannya sesuai dengan situasi dan kebutuhan mereka. Communio yang dicita-citakan itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan terutama di lingkungan. Pertemuan APP di lingkungan menjadi sarana Lingkungan untuk membangun visi communio paroki.

Bab III berisikan kenyataan perjuangan yang dilakukan oleh PKKR dalam mewujudkan communio-nya melalui pertemuan APP lingkungan. Penulis mengadakan penelitian kuantitatif untuk melihat pelaksanaan usaha PKKR mewujudkan cita-cita communio tersebut. Dengan penelitian tersebut nampaklah situasi aktual PKKR dalam pembangunan communio dalam hal pribadi, komunitas

(24)

maupun masyarakat. Penelitian tersebut dilakukan dengan mengambil locus dalam pertemuan APP Lingkungan agar penelitian ini mudah diukur dan dibatasi rentang waktu. Hasil penelitian ini menjadi pijakan untuk menemukan keprihatinan dan peluang yang bisa untuk mencari usulan langkah pastoral.

Bab IV merupakan bagian yang berisi usulan pastoral bagi pengembangan communio-koinonia di PKKR. Usulan langkah pastoral tersebut dimaksudkan untuk menjawab keprihatinan dan peluang yang sudah ditemukan. Dengan demikian tesis ini dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan PKKR mengembangkan langkah mereka mewujudkan cita-cita communio.

Bab V merupakan penutup. Dalam penutup ini dipaparkan pandangan dan refleksi penulis mengenai keseluruhan tesis ini. Penulis memberikan tanggapan atas berbagai arti communio yang diusahakan PKKR, pelaksanaannya dan usulan- usulan langkah pastoral yang ditemukan.

(25)

BAB II

COMMUNIO-KOINONIA YANG DICITA-CITAKAN PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA PURWOKERTO

2.1 Pengantar

Partisipasi aktif dalam kegiatan Gereja, entah dalam paroki maupun lingkungan bertujuan untuk membangun communio. Umat beriman berkumpul sebagai sebuah komunitas melalui berbagai cara dan kesempatan, salah satunya adalah dengan berkumpul dalam lingkungan-lingkungan atau pertemuan lingkungan. Salah satu tujuan dari pertemuan lingkungan adalah membangun dan mengembangkan komunitas.

Dalam penelitian kali ini, pertemuan lingkungan yang akan diteliti adalah pertemuan lingkungan dalam rangka Pendalaman Aksi Puasa Pembangunan Prapaskah. Pertemuan APP Prapaskah ini dipilih sebagai obyek pengamatan karena beberapa alasan. Pertama, selama masa Prapaskah, umat berkesempatan mempersiapkan batin menyambut paskah melalui pendalaman iman pada pertemuan APP Prapaskah lingkungan. Kedua, sosialisasi mengenai pertemuan tersebut lebih banyak ketimbang pertemuan lingkungan lainnya atau dengan kata lain umat tahu bahwa setiap Prapaskah ada pendalaman iman rutin di masing- masing lingkungan. Ketiga, pertemuan APP Praspaskah ini sudah ada panduannya sehingga persiapan masing-masing lingkungan lebih baik dari pada biasanya.

Keempat, pertemuan ini memiliki jangka waktu yang terbatas sehingga

(26)

memudahkan untuk dianalisa. Pertemuan APP Prapaskah Lingkungan yang menjadi obyek studi lapangan adalah pertemuan APP Prapaskah 2010.

Pertemuan APP Prapaskah Lingkungan sebagai salah satu kegiatan di dalam lingkungan menjadi sarana yang dipakai oleh PKKR untuk membangun persekutuan (communio) yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan mampu menjadi terang dan garam masyarakat.

Lingkungan menentukan sendiri waktu yang akan dipakai untuk berkumpul bersama menggulati tema yang ditawarkan oleh keuskupan dan paroki. Kesediaan untuk berkumpul dan berbagi pengalaman menjadi sebuah tanda kesadaran masing-masing umat akan identitas mereka sebagai bagian dari sebuah paguyuban/lingkungan. Pertemuan tersebut menjadi sebuah bukti gerak geliat hidupnya lingkungan.

Communio yang dibangun oleh PKKR itu juga tak lepas dari visi keuskupan yang dicanangkan Bapa Uskup dalam visi tahun 2001 dan 2006.

Gereja diharapkan mampu membawa dan menghadirkan Kerajaan Allah bagi setiap orang. Karena PKKR memiliki situasi yang berbeda, maka PKKR menerjemahkan visi keuskupan itu dalam visi paroki yang lebih konkret bagi PKKR.

2.2 Paroki Katedral Kristus Raja 2.2.1 Sejarah dan Situasi Aktual

Dalam melihat jatidiri PKKR, selain dari visi dan misinya, PKKR memiliki sejarah yang panjang, dimulai sejak Keuskupan Purwokerto masih

(27)

menjadi daerah misi.1 Pada tahun 1927, kawasan yang bernama Gereja Misi Kristus Raja di Purwokerto diserahterimakan dari Tarekat Yesuit yang mengelola daerah misi ini dari Vikariat Apostolik Batavia kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC). Tanggal 27 November 1927, Rm. B.J.J. Visser, MSC datang ke Purwokerto dan saat itu berdiri Paroki Kristus Raja. Sejak itu para misionaris MSC berkarya ke berbagai daerah yaitu Tegal, Kroya dan Wonosobo, dengan pusat misi di Purwokerto. Akhirnya tahun 1928 berdiri tiga paroki yaitu Purwokerto, Tegal dan Purworejo.

Paroki Kristus Raja Purwokerto waktu itu menggunakan sebuah rumah milik Dr. Radom yang disewa seharga Fl. 150. Rumah itu kemudian pada bulan Desember dibeli atas nama Yayasan Pius yang didirikan oleh Rm. B.J.J. Visser, MSC. Gedung gereja Kristus Raja mulai dibangun pada tanggal 9 Maret 1930 dan selesai sekaligus diberkati pada tanggal 10 Agustus 1930 oleh Mgr. Van Velsen, SJ. Yang menarik, seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh misi. Sedangkan isinya (perabotannya) merupakan partisipasi dari umat.

Perkembangan Paroki Kristus Raja semakin berlanjut dengan munculnya berbagai karya. Karya pendidikan diawali oleh 6 suster Ursulin Jakarta yang membuka sekolah yaitu ELS dan Frobel. Demikian pula 5 orang bruder Karitas memulai karyanya bulan September 1930. Di luar karya pendidikan di sekolah, pada bruder dan suster juga memberikan pelajaran agama kepada anak-anak.

Tanggal 25 Juni 1931 Cilacap menjadi paroki tersendiri. Dengan demikian wilayah Paroki Kristus Raja dikurangi wilayah Gombong sampai dengan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sejak 9 Agustus 1931, wilayah Paroki

1 Disadur dari Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, PKKR, Purwokerto 2007, 8-10.

(28)

Kristus Raja hanya meliputi daerah Purbalingga dan Banyumas, karena Wilayah Wonosobo dan Banjarnegara telah dilayani oleh Rm. C. Daman, MSC.

Tanggal 2 Agustus 1932 Mgr. B.J.J. Visser dilantik menjadi Perfek Apostolik setelah Paus Pius XI mengeluarkan Dekrit pembentukan Perfektur Apostolik, yang meresmikan daerah misi Kristus Raja menjadi Gereja Partikular.

Untuk pertama kalinya diterimakan Sakramen Penguatan pada tanggal 16 Oktober 1932 oleh Mgr. B.J.J. Visser pada 61 anak dan 40 orang dewasa. Tanggal 1 Agustus 1935 didirikan Sekolah Katekis St. Paulus yang dipimpin Rm. W.

Zeegers, MSC. Tanggal 21 April 1936, Rm. H Dekkers menggantikannya. Tahun 1939, Paroki Kristus Raja membentuk dua stasi yaitu stasi St. Theresia Jatilawang dan stasi St. Bernadeth Ajibarang. Tanggal 29 Januari 1939 71 orang Jawa menerima Sakramen Penguatan di Jatilawang. Tanggal 9 Februari 1942, Mgr. P.

Willekens, SJ datang ke Purwokerto utnuk memberitahukan bahwa berdasarkan telegram dari Roma, sejak 16 Oktober 1941, Perfektur Apostolik Purwokerto berubah menjadi Vikariat Apostolik Purwokerto dan Mgr. B.J.J. Visser sebagai Administrator Vikariat Apostolik.

Pada saat Jepang masuk ke Banyumas melalui Cilacap, Mgr. B.J.J. Visser ditawan. Maka pelayanan dilakukan oleh Rm. Th. Padmowijoyo, MSC dan Rm.

Kuow selaku Pro-Vikaris. Bpk. Darmosasmito membantu dengan menjadi katekis dan koster. Mereka mendapat bantuan pula dari Keuskupan Semarang yaitu Rm.

Dwidjosoesanto, Pr, Rm. Harjadi dan Rm. W. Lengkong, Pr dari Menado.

Tanggal 16 Desember 1949, Mgr. B.J.J. Visser digantikan oleh Mgr. W.

Schoemaker, MSC. Pada tanggal 31 Januari 1961, Gereja Misi Kristus Raja Purwokerto ditetapkan menjadi Keuskupan Purwokerto yang dipimpin oleh Mgr.

(29)

W. Schoemaker, MSC. Dengan demikian Paroki Kristus Raja menjadi Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto.

Setelah Vikariat Purwokerto menjadi keuskupan, PKKR berkembang pesat.2 Pada tahun 1973 Aksi Puasa Pembangunan Prapaskah untuk pertama kalinya dilakukan, termasuk di Paroki Katedral Kristus Raja (PKKR). Pada tahun ini pula di PKKR sudah terbagi menjadi 10 lingkungan (kring) yaitu Kedungbenda, Kranji, Sitapen, Brobahan, Kalibener, Sawangan, Karanganjing, Jl.

Bank, Kober dan Pasar Pon. Tanggal 6 Maret 1973 Mgr. P.S. Hardjasoemarta, MSC ditahbiskan menjadi Uskup Purwokerto di Gedung ISSOLA Purwokerto.

Pada tahun 1983 gereja Katedral terbakar, tepatnya pada Hari Raya Kristus Raja.

Kebakaran ini membakar habis sakristi dan sebagian altar. Maka pada tahun 1985, dimulailah pembangunan gereja Katedral yang baru. Tanggal 30-31 Mei 1988 gereja Katedral yang baru diresmikan oleh Menkokesra Soepardjo Roestam. Pada tanggal 23 Mei 1999, Mgr. P.S. Hardjasoemarta, MSC meninggal dunia dan dimakamkan di Moesoleum Kaliori. Beberapa lama kemudian Mgr. Julianus Sunarka, SJ ditahbiskan sebagai uskup Purwokerto pada tanggal 8 September 2000 di GOR Satria Purwokerto. Tahun 2001 PKKR menjadi tuan rumah Temu Raya Kaum Muda VI. Untuk pengembangan sarana pelayanan pada tahun 2005 gedung Paschalis Hall dan Pastoran baru dibangun. Pada tahun 2007 lonceng gereja beserta menara terpasang dan diberkati. Dan pada Hari Raya Kristus Raja, Bapa Uskup sekaligus melantik para pengurus Dewan Pastoral Paroki yang baru dan mengesahkan Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral

2 Disadur dari Tim Buku Profil Paroki, Duc in Altum: Bertolaklah ke Tempat yang Dalam, Peziarahan Iman Umat, Purwokerto, PKKR 2007, xix-xxiv.

(30)

Kristus Raja Purwokerto beserta visi dan misi PKKR tahun 2008-2017, yang bertepatan dengan Perayaan 80 Tahun PKKR.

Dalam pembagian wilayah pemerintah, paroki ini meliputi beberapa kecamatan yang ada di dalam wilayah Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Brebes. Luas wilayah Kabupaten Banyumas adalah 1.329,02 km2 dengan jumlah penduduk 1.524.901 jiwa (tahun 2003) dan jumlah kecamatan 27 buah.3 Dari keseluruhan daerah Kabupaten Banyumas itu, yang termasuk wilayah PKKR adalah Kecamatan Purwokerto Barat, Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, Purwokerto Utara, Karanglewas, Kedung Banteng, Rawalo, Purwojati, Pekuncen, Gumelar, Lumbir, Ajibarang, Jatilawang, Baturaden, Cilongok, Wangon, Kebasen, dan Patikraja. Sedangkan wialyah Kabupaten Brebes yang termasuk wilayah PKKR antara lain Kecamatan Bumiayu, Sirampog, dan Salem.

Sedangkan dalam administrasi gerejawi, PKKR memiliki jumlah umat sebanyak 4862 jiwa yang tersebar dalam 19 lingkungan (3998 jiwa/1184 Kepala Keluarga) dan 9 stasi (864 jiwa/223 Kepala Keluarga). 4 Kesembilanbelas lingkungan itu adalah:5

Lingkungan 1: St. Maria, Pasar Pon Lingkungan 2: St. Paulus, Kober

Lingkungan 3: St. Yohanes Pemandi, Jl. Bank Lingkungan 4: St. Agustinus, Kranji

Lingkungan 5: St. Andreas, Brobahan Lingkungan 6: St. Veronika, Jl. Pemuda

3Data diambil dari Departemen Agama berdasarkan sensus tahun 2003 dan dari Diambil dari id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas, diakses pada tanggal 7 Oktober 2007.

4 Berdasarkan data sensus umat PKKR tahun 2005.

5 Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, 17.

(31)

Lingkungan 7: St. Fransiskus Assisi, Sokanegara Lingkungan 8: St. Lukas, Sitapen

Lingkungan 9: St. Petrus, Sawangan Lingkungan 10: St. Yoseph, Kalibener Lingkungan 11: St. Mathius, Purwosari

Lingkungan 12: St. Fransiskus Xaverius, Tanjung Lingkungan 13: St. Ignatius Loyola, Karangkobar Lingkungan 14: St. Anna, Proliman

Lingkungan 15: St. Yohanes Maria Vianey, Griya Karang Indah Lingkungan 16: St. Elisabeth, Karang Lewas

Lingkungan 17: St. Aloysius, Permata Hijau Lingkungan 18: St. Albertus, Limas Agung

Lingkungan 19: St. Gregorius Agung, Karangklesem

Kesembilanbelas lingkungan itu terbagi dalam 4 wilayah yaitu Wilayah Utara (Lingkungan 11,13, 17, dan 18), Wilayah Barat (Lingkungan 1, 2, 3, 6, dan 16), Wilayah Selatan (Lingkungan 9, 10, 12, 14, 15, dan 19) dan Wilayah Timur (Lingkungan 4, 5, 7, dan 8).6 Sedangkan 9 stasi PKKR yaitu Stasi St. Markus Kaliwedi, St. Maria Marganingsih Kebasen, St. Albertus Patikraja, St. Yusup Tambaknegara, St. Theresia Jatilawang, St. Stefanus Gentawangi (dengan dua lingkungan yaitu Sanggreman dan Gentawangi), St. Paschalis Wangon, St.

Bernadeth Ajibarang (dengan satu lingkungan yaitu Cilongok) dan St. Fransiskus Xaverius Bumiayu (dengan empat lingkungan yaitu Winduaji, Bumiayu, Jipang,

6 Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, 18.

(32)

dan Sirampog).7 PKKR berbatasan dengan Paroki St. Yosep Purwokerto Timur (di sebelah timur), Paroki St. Stefanus Cilacap (di sebelah selatan), Paroki St.

Maria Immaculata Slawi (di sebelah barat), dan Paroki St. Lukas Pemalang (di sebelah utara).8PKKR masuk dalam Dekenat Tengah.

2.2.2 Visi Misi Paroki tahun 1998-2007

Pada tahun 1998, PKKR memunculkan visi yang akan digulati selama sepuluh tahun yaitu sampai pada tahun 2007. Visi menunjukkan identitas (yang menjelaskan siapa dirinya dan yang membedakan dengan yang lain) dan apa yang akan dibuat. Visi tersebut berbunyi demikian:

Paroki Katedral adalah persekutuan umat beriman yang misioner, tertata rapi, mandiri dan berdaya tahan atas dasar cinta kasih Kristus yang memanggil dan mengutus, berkembang dalam persaudaraan sejati, sehingga menjadi terang dan garam di tengah masyarakat.9

Dari visi ini bisa dilihat bersama apa gambaran PKKR mengenai arti communio.

PKKR memilih beberapa segi dari communio Gereja yang menjadi fokus utama dalam peziarahannya. PKKR menerjemahkan communio itu dengan kata persekutuan. Dan persekutuan itu mencakup beberapa unsur yaitu: misioner, tertata rapi, mandiri dan berdaya tahan. Itulah identitas persekutuan (communio) yang ingin dicapai PKKR selama 1998-2007. Identitas PKKR itu akan diwujudkan melalui misi sebagai bentuk kerja dari visi. Adapun misi yang berjumlah tujuh itu antara lain:

7 Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, 19.

8 Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Pedoman Pelaksanaan Dewan Pastoral Paroki Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, 22.

9Rumusan ini diambil dari bahan rapat Tim Kerja Visi Misi PKKR pada tanggal 22 Mei 2007.

(33)

a) Menumbuhkan mutu kehidupan keluarga katolik yang sejati dan misioner.

b) Mengusahakan tertib administrasi dan pembenahan di segala bidang.

c) Memupuk dan mengembangkan kedewasaan iman umat.

d) Mengembangkan tanggungjawab dan ketertiban bersama dalam mewujudkan persaudaraan sejati.

e) Menggalakkan pendampingan kaum muda katolik sebagai generasi penerus.

f) Mengembangkan dan memperlancar arus komunikasi demi menggalang kesatuan umat dalam semangat kerjasama dan saling membantu.

g) Meningkatkan kesadaran dan kedewasaan umat untuk berperan aktif dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

Dengan begitu bentuk nyata dari communio berupa persekutuan yang diidamkan PKKR adalah sebagai berikut:

a) Misioner: pada bagian ini terlihat bahwa PKKR menindaklanjuti visi Keuskupan Purwokerto yang juga ingin menjadi Gereja yang misioner.

Artinya Gereja mampu menemukan dan beranjak menuju ke tempat yang membutuhkan pewartaan iman. Misioner artinya bergerak untuk menjadi saksi Kristus di mana pun berada. Dalam misinya, PKKR ingin kehidupan keluarga katolik yang sejati dan misioner.

b) Tertata rapi: PKKR ingin mewujudkan suatu persekutuan yang secara administratif dapat menjadi contoh bagi paroki yang lain. Bukan hanya administrasi saja melainkan juga dalam hal pelayanan yang lebih tertata sehingga umat dapat menerima pelayanan dengan baik. Dalam misi juga dicantumkan pembenahan di segala bidang.

(34)

c) Mandiri: kedewasaan iman umat akan membuat umat sendiri terdorong dari dalam dirinya (sadar) untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan paroki.

d) Berdaya tahan: kedewasaan umat penting tatkala dihadapkan dengan suatu tantangan maupun persoalan. Tantangan dan persoalan itu bisa datang dari dalam maupun dari luar paroki. Maka dalam misinya, PKKR mengusahakan pengembangan tangungjawab dan ketertiban bersama serta komunikasi antar umat. Dan lebih lagi kaum muda perlu pendampingan sebagai generasi penerus Gereja.

Persekutuan yang dibangun itu berdasarkan pada cinta kasih Kristus. Cinta kasih Kristus itulah yang mengundang umat beriman untuk berkumpul, mengutus untuk bersaksi dan berkembang dalam persaudaraan yang sejati. Harapannya akhirnya adalah PKKR menjadi “terang dan garam” di tengah masyarakat.

2.2.3 Hasil Penelitian oleh Tim Visi Misi PKKR tahun 2007

Ketika visi PKKR 1998-2007 akan berakhir, maka dibentuklah sebuah tim kerja untuk menyusun visi PKKR yang baru yang akan berjalan tahun 2008 sampai dengan tahun 2017. Maka pada tanggal 22 Mei 2007 tim itu, yaitu Tim Kerja Visi-Misi PKKR, memulai rapat perdananya yang dipimpin oleh Rm.

Tarcisius Puryatno, Pr. selaku koordinator tim (ex officio pastor kepala paroki).

Tim ini dianggotai oleh Rm. Mourice Loru, MSC (Co-coordinator), Chris Sumardi (sekretaris), G.H. Sumartono, Paulus Suparman, A. Edy Suwarno, Yashinta Siti, Y. Bono Widiyanto, Henry, Christina Ginawati, dan Ketty Murtini.

Mulai bulan Juli 2007 tim ini ditambah Fr. V.F. Dimas Martin Yuniar. Proses yang dilakukan tim ini adalah sebagai berikut. Pertama Tim Kerja menganalisis

(35)

situasi paroki secara keseluruhan. Kemudian untuk mendukung analisis itu, dikumpulkanlah berbagai analisis dari umat yang lain melalui angket, rapat Dewan Pastoral Paroki, Lingkungan, Stasi, Organisasi, Kelompok Kategorial dan tokoh umat. Setelah data itu terkumpul, kemudian disusunlah draft yang kemudian akan disinkronisasi dalam tim dan dirumuskan. Setelah selesai akan ditetapkan untuk kemudian disosialisasikan.

Sebagai data pembanding untuk analisis, Tim Kerja ini mengadakan penelitian dengan menyebarkan angket. Adapun angket itu berisikan pertanyaan untuk mengevaluasi keempat bidang hidup Gereja (Liturgia, Kerygma, Koinonia, dan Diakonia) dan beberapa unsur dari visi PKKR tahun 1998-2007 (Kemandirian, Berdaya Tahan, Misioner dan Tertata Rapi). Angket ini disebarkan ke seluruh PKKR dan diisi oleh 193 orang. Dengan demikian praktis, penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan visi dan misi PKKR 1998-2007 sekaligus menampakkan sampai berada di manakah PKKR sekarang ini.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, communio yang diperjuangkan PKKR sejak tahun 1998 sampai dengan 2007 belum sepenuhnya tercapai.10 Hal ini dapat dilihat dalam beberapa aspek, antara lain:

Dalam bidang misioner, ternyata perkembangan sifat misioner Gereja PKKR belum dapat dikatakan baik. Hanya sepertiga responden yang mengatakan sudah berkembang. Separuhnya lagi mengatakan cukup berkembang. Demikian pula ketika memandang berbagai indikasi kemisioneran tersebut. Hasil tidak terlalu jauh berbeda. Dalam hal mengusahakan persekutuan yang tertata rapi, ternyata hanya separuh umat responden yang melihat kerapian dalam bidang

10 Diambil dari Data Penelitian Tim Kerja Visi-Misi PKKR pada tahun 2007. Data ini dipresentasikan dalam rapat Tim Kerja pada tanggal 24 Juli 2007.

(36)

administrasi dan pengelolaan pelayanan. Sedangkan separuh lainnya melihatnya cukup. Kemandirian umat dalam bidang liturgi, pewartaan, dan persekutuan masih tergolong lemah karena hanya sepertiga yang mengatakan sudah mandiri. Apalagi semangat umat untuk mandiri dalam bidang tersebut lebih lemah lagi karena hanya seperempat yang mengatakan sudah ada dan baik semangat tersebut.

Mengenai persekutuan yang berdaya tahan, ternyata data mengatakan bahwa hanya kurang dari seperempat umat yang melihat perkembangan PKKR untuk berdaya tahan sudah ada. Demikian pula indikasinya hanya dilihat baik oleh sepertiga umat.

Selain itu, secara umum dalam bidang persekutuan/koinonia yang lebih khusus membahas mengenai perkembangan persekutuan, PKKR mengalami kemajuan dan kemandegan. Penelitian itu menyatakan bahwa hanya separuh umat yang mengatakan sudah ada keterlibatan dan kerjasama antara warga lingkungan dalam kegiatan yang diadakan di lingkungannya. Sedangkan separuh yang lain belum dan kurang mengalami kerjasama dan keterlibatan tersebut. Lebih dari sepertiga dari responden mengalami kurangnya keterlibatan dan kerjasama anggota atau warga lingkungan/paroki dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lingkungan atau paroki. Hanya separuh yang mengatakan keterlibatan dan kerjasama itu sudah tercapai. Bahkan jalinan persaudaraan di dalam lingkungan sungguh-sungguh dialami hanya oleh kurang dari separuh umat.

Dengan data itu, nampak bahwa konsep persekutuan yang misioner, tertata rapi, mandiri, dan berdaya tahan dengan berkembang dalam persaudaraan sejati yang berisikan tanggungjawab bersama, kerjasama, dan keterlibatan aktif umat

(37)

belum sepenuhnya terwujud. Sedangkan bidang yang paling mendesak untuk digarap adalah dalam hal persekutuan yang berdaya tahan.

2.2.4 Visi Misi Paroki tahun 2008-2017 2.2.4.1 Visi Keuskupan Purwokerto 2006-2011

Pada 30 April sampai 4 Mei 2001 di Rumah Pastoral Heninggriya Baturaden dilaksanakan Musyawarah Pastoral Keuskupan Purwokerto pertama dalam masa penggembalaan Mgr. J Sunarka, SJ. Dalam MUSPAS tersebut, visi keuskupan yang disampaikan Bapa Uskup menjadi salah satu titik tolak arah rekomendasi dan arah pastoral Keuskupan Purwokerto. Visi keuskupan pada waktu itu adalah:

Keuskupan Purwokerto adalah persekutuan umat beriman katolik, yang dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia, khususnya Indonesia, dan dalam kerjasama dengan umat setempat yang berkeyakinan lain, terpanggil untuk memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan sambil mempelopori berdirinya Kerajaan Allah.11

Visi itu menunjukkan jati diri keuskupan yang bertujuan utama adalah Kerajaan Allah. Bapa Uskup mengajak seluruh umat Keuskupan Purwokerto untuk menjadi pelopor hadirnya Kerajaan Allah bagi semua orang yang ada di wilayah Keuskupan Purwokerto, yang tidak dibatasi oleh sekat agama. Nuansa ini terus dibawa dalam visi keuskupan berikutnya.

Tanggal 1-5 Mei 2006 di tempat yang sama, Keuskupan Purwokerto kembali mengadakan MUSPAS untuk membuat arah pastoral keuskupan tahun

11 Musyawarah Pastoral Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Purwokerto, Purwokerto 2001, 14.

(38)

2006 sampai 2011. Dalam MUSPAS ini, Bapa Uskup tetap mempertahankan visinya yang sebelumnya, tetap memperjuangkan tegaknya Kerajaan Allah.

Rumusan visi hampir sama dengan periode sebelumnya:

Keuskupan Purwokerto adalah persekutuan umat beriman katolik, yang dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia, khususnya Indonesia, dan dalam kerjasama dengan umat setempat yang berkeyakinan lain, terpanggil untuk mempelopori semakin tegaknya Kerajaan Allah dengan memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan.12

Ada beberapa unsur yang termuat dalam visi itu. Pertama, universalitas dan sekaligus partikularitas Keuskupan Purwokerto.13Keuskupan Purwokerto menjadi bagian dari Gereja Universal dan sekaligus sebagai bagian dari Gereja Indonesia. Keuskupan menyadari di mana ia tinggal dan hidup. Kedua, ada kerjasama dengan berbagai pihak atau membuat jejaring. Situasi jumlah yang kecil mendorong keuskupan untuk lebih banyak mengadakan kerjasama dengan pihak lain, terutama mereka yang berkeyakinan lain. Ketiga, menjadi pelopor Kerajaan Allah. Gereja Keuskupan Purwokerto ditantang untuk menjadi sakramen karya keselamatan Allah bagi dunia. Dan yang terakhir memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan. Inilah wujud konkret kehadiran Kerajaan Allah yang dipahami oleh Keuskupan Purwokerto.

Visi tersebut merupakan arah haluan bersama seluruh keuskupan. Maka gerak paroki yang ada di seluruh keuskupan berjalan dalam rel tersebut. Hanya saja setiap paroki di keuskupan Purwokerto memiliki situasi yang berbeda-beda.

Maka visi tersebut perlu diterjemahkan dengan situasi dan kondisi setempat.

12 Gereja Keuskupan Purwokerto Menegaskan Arah 2006-2011, Keuskupan Purwokerto, Purwokerto 2006, 13.

13Gereja Keuskupan Purwokerto Menegaskan Arah 2006-2011, 14.

(39)

2.2.4.2 Visi Misi Paroki sebagai Konkretisasi Visi Keuskupan

Dalam rangka menemukan situasi konkret paroki, PKKR mengadakan evaluasi untuk membuahkan visi baru yang selaras dengan visi keuskupan yang baru pula. Evaluasi ini menjadi data dalam penyusunan jatidiri atau visi paroki.

Evaluasi terhadap visi PKKR tahun 1998-2007 tadi, dijawab dengan visi misi tahun 2008-2017. Dengan kata lain, Visi Misi Paroki 2008-2017 adalah kelanjutan dari visi dan misi sebelumnya. Visi Misi ini disahkan pada Perayaan Kristus Raja Semesta Alam, pelindung PKKR sekaligus acara Puncak 80 Tahun PKKR.

Bersamaan pengesahan Visi dan Misi ini, sekaligus dilantiklah Dewan Pastoral Paroki periode 2008-2010, yang dibekali dengan Arah Karya Pastoral PKKR 2008-2017 sebagai aplikasi Visi Misi yang baru. Adapun visi yang baru itu berbunyi demikian:

Paroki Katedral Kristus Raja merupakan persekutuan umat beriman Katolik yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis dan berkembang dalam persaudaraan sejati atas dasar cinta kasih Kristus Raja Semesta Alam, sehingga menjadi terang dan garam di tengah masyarakat.14

Untuk mewujudkan visi tersebut, muncullah misi sebagai hal-hal yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat beriman di PKKR, yang terdiri sebagai berikut15:

a) Meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat b) Meningkatkan kedewasaan iman umat

14Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, PKKR, Purwokerto 2007, 4-5.

15Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 12-18.

(40)

c) Meningkatkan keterlibatan aktif umat dalam hidup menggereja dan memasyarakat

d) Meningkatkan kesadaran umat terhadap kemajemukan dan kesediaan untuk menerima perbedaan

e) Mengembangkan cara hidup alternatif dalam semua aspek-aspeknya.

Dari visi tersebut, gambaran communio yang dibayangkan dan diharapkan oleh PKKR adalah persekutuan (communio) yang memiliki unsur-unsur kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati serta menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Seluruh konsep persekutuan yang ingin dicapai itu didasarkan pada spiritualitas Kristus Raja Semesta Allah yang merupakan pelindung paroki ini. Berikut ini adalah keenam ciri persekutuan yang dijelaskan dalam Arah Karya Pastoral PKKR tahun 2008-2017 dan sekaligus pandangan/refleksi penulis mengenai arti dari masing-masing ciri persekutuan tersebut.

2.2.4.3 Persekutuan yang Kudus

Kudus yang dimaksud oleh PKKR dalam visi ini adalah sifat dari atau hal yang berkaitan dengan Allah (Kel 15:11) dan para murid diajak untuk mengejar panggilan kekudusan itu (Ibr 12:14). 16 Dengan baptis, orang dipersatukan di dalam kekudusan itu. Dan orang yang sudah dikuduskan itu memiliki tugas untuk menguduskan diri sendiri dan juga orang lain.17 Tugas pengudusan ini merupakan salah satu partisipasi dalam imamat Kristus melalui baptisan yang diterimanya.

Oleh karena itu PKKR menegaskan bahwa tugas seorang yang sudah dibaptis

16Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 6.

17Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 7.

(41)

adalah tugas sebagai seorang imam yang menguduskan diri dan orang lain.18 Dalam spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam, PKKR diajak untuk mencontoh Yesus yang tetap memperjuangkan keselamatan bagi manusia melalui sengsara- Nya yang berpuncak di salib. Yesus tidak lari dari salib, melainkan bertahan menghadapi salib karena ia mencarikan keselamatan bagi orang lain.19 Dalam misinya, PKKR ingin meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat. Yang dimaksud dengan hidup rohani adalah sebuah kesempurnaan, seperti mencari suatu kehidupan yang “utuh”.20 Yang dimaksud dengan sempurna dan utuh itu adalah penuh dan tidak mungkin bertambah lagi. Untuk mencapai hidup yang utuh atau sempurna itu, umat PKKR diajak untuk “menemukan kembali hal-hal yang masih ‘hilang atau mengusik’ kehidupan mereka”.21

Paham kekudusan yang dimiliki PKKR bila kemudian ditilik menurut arti katanya, dalam bangsa Israel kala itu, kudus berarti diperuntukkan bagi Allah.

Atau kudus berarti menjadi milik Allah.22 Dalam bahasa Semith dipakai akar kata qadash. Akar kata itu kemudian diturunkan menjadi qadosh yang bermakna menjadi kudus atau dipisahkan. Menjadi kudus berarti dipisahkan dari dunia untuk menjadi milik Allah dan dikhususkan bagi Allah. Maka kekudusan dikontraskan dengan keduniawian atau kedagingan (menurut Paulus).23 Dalam Perjanjian Baru, kata qadosh ini diterjemahkan dengan kata hagios atau hagiazo

18Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 7.

19Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 9.

20Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 12.

21Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 13.

22J. Auneau, “Holiness: Biblical Theology”, dalam J.Y. Lacoste (ed.), Encyclopedia of Christian Theology, Routledge, New York 2005, 712.

23J. Auneau, “Holiness: Biblical Theology”, 712. It is contrasted with the “profane” (chol), which derives from pro fanum, “in front of the temple*,” a term applied to whatever was located outside the temple. The couplet “sacred” and “profane” has parallels with the couplet purity*”/“impurity” (Lv 10:10; Ez 44:23).

(42)

yang bermakna disucikan atau dikonsekrasi.24 Persembahan diri Yesus di kayu salib memungkinkan manusia untuk masuk ke dalam kekudusan Allah. Melalui peristiwa inkarnasi, manusia diajak berpartisipasi dan berbagi (koinonia) kekudusan oleh Allah. Kekudusan tak lain adalah communio manusia dengan Allah yang sudah mulai sejak sekarang, terus berlangsung dan akan mencapai kepenuhannya di dalam Yerusalem surgawi.25

Dari perjuangan Yesus dalam spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam, yang berjuang bagi keselamatan orang lain itu, dapat ditarik dua hal penting yaitu pengorbanan diri bagi orang lain dan sekaligus iman akan Yesus Kristus sebagai sang Juru Selamat. Dalam nilai itulah kekudusan umat beriman PKKR ingin dicapai. Pertama, orang bersemangat menjadi pelayan bagi orang lain terutama sesama umat beriman di dalam Gereja. Menjadi pelayan berarti pertama-tama mengorbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang lain. Melayani berarti membantu orang lain mencapai kepentingannya atau kepentingan bersama.

Kedua, kesadaran akan Yesus Kristus Sang Juru Selamat akan semakin memperdalam pengolahan iman umat beriman.

Bagi penulis, kekudusan semacam ini menjadi nyata dan khusus saat PKKR menekankan dalam misinya usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat. Kekudusan selalu berkaitan dengan persekutuan atau hidup berkomunitas. Kekudusan dalam bayangan umat Israel selalu berkaitan dengan kekudusan bangsa itu di hadapan Tuhan. Ketidakkudusan seseorang dapat mengakibatkan ketidakkudusan seluruh bangsa. Tak dapat dipungkiri, Gereja yang merupakan Gereja yang kudus, juga tak luput dari ketidakkudusan. Namun

24P. McPartlan, “Holiness: Historical and Systematic Theology”,dalam J.Y. Lacoste (ed.), Encyclopedia of Christian Theology, Routledge, New York 2005 713.

25P. McPartlan, “Holiness: Historical and Systematic Theology”, 713-714.

(43)

Gereja tetap kudus karena Roh Kudus tinggal dan menguduskan Gereja (LG art.

4). Gereja juga merupakan Tubuh Mistik Kristus, di mana masing-masing anggotanya harus menyerupai Kristus (LG art. 7). Kekudusan itu bukan sesuatu yang pasif yang hanya tinggal ditunggu. Melainkan harus diusahakan.Gereja, meskipun kudus, juga berisi pula para pendosa. Namun, seperti yang diungkapkan Konsili Vatikan II, “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG art. 8). Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat, tentu bukan kuantitas yang ingin dicapai. Bukan banyaknya kegiatan liturgis, devotif atau kegiatan rohani lainnya yang ingin ditingkatkan melainkan kualitas penghayatan umat dalam mengolah hidup rohani mereka. Berbagai kegiatan itu dapat dipakai sebagai sarana-sarana dan kesempatan-kesempatan atau salah satu indikator peningkatan kualitas kehidupan rohani umat. Kualitas kehidupan rohani yang dimaksud adalah semangat pelayanan dan kedalaman iman umat, terutama menghayati spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam, pelindung paroki mereka.

Memperdalam iman merupakan usaha untuk mencapai keutuhan jiwa atau kesempurnaan hidup seperti seorang gembala mencari satu domba yang hilang dari 99 domba lain atau seperti seorang janda yang berusaha keras mencari satu dirham yang hilang.26 Maka akan selalu ada kerinduan dalam hati umat untuk ber- communion secara utuh dengan Allah.

26Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 12-13.

(44)

2.2.4.4 Persekutuan yang Dewasa

Ciri kedua dari persekutuan yang diidamkan PKKR adalah persekutuan yang dewasa. Dalam penjelasannya PKKR menyebut demikian.

Kedewasaan seseorang bisa ditandai dengan kemampuan menggunakan akal budi dan kehendak bebasnya. ... Persekutuan umat beriman yang dewasa artinya suatu persekutuan yang memungkinkan anggotanya: saling memahami dan saling mengerti satu sama lain, mampu mengambil suatu keputusan berdasarkan suara hati dan bukan karena paksaaan atau tekanan tertentu, mampu membangun hidup bersama bukan atas dasar naluri dan emosi.27

Seperti dalam spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam, Yesus yang sebagai Raja, terbuka pada segala bangsa, demikian pula umat beriman diajak untuk memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan pemahamannya.28 Ia terbuka pada hal-hal baru. Sikap hidup didasarkan pada pemahaman yang utuh terhadap pengalaman-pengalaman atau orang-orang atau komunitas yang dihadapinya. Yesus sekalipun Dia adalah Raja atas segala raja, namun ia tetap lembut hati dan mampu merasakan penderitaan orang lain.29 Teladan Yesus Raja Semesta ini mengajak umat untuk mendengarkan suara hatinya, merasakan dan memahami pengalaman dan perasaan sesamanya. Persaudaraan dan hidup bersama bukan berdasarkan emosi, naluri, dan perasaan sesaat saja, melainkan sungguh muncul dari hati yang dalam. Maka dari itu, dalam misinya, PKKR ingin meningkatkan kedewasaan iman umat.30 Kedewasaan iman umat artinya dengan seluruh diri umat menanggapi wahyu Allah.

27Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 7.

28Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 10.

29Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 10.

30Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 13.

(45)

Bila meninjau pemahaman kedewasaan iman umat yang dicita-citakan PKKR itu, dapat ditemukan refleksi dari arti kedewasaan iman umat. Kedewasaan secara umum diartikan dengan kemampuan berpikir-berefleksi dan memilih untuk bertindak. Kedewasaan tidak hanya diukur berdasarkan usia. Dewasa diartikan orang mampu memahami dan menelaah pengalaman-pengalaman yang dia miliki.

Kehendak bebas berarti ia mampu memilih sebuah keputusan atau sikap hidup berdasar pertimbangan pribadi dan bukan karena paksaan. Pilihan dibuat dalam sebuah interioritas diri. Sikap hidup orang yang dewasa adalah sikap yang muncul karena dorongan dari dalam dan bukan didasarkan pada suruhan atau bahkan paksaan orang lain. Meski ia mempertimbangkan tawaran pilihan orang lain, namun ketika ia memilih, maka itu menjadi pilihan pribadinya sehingga ia berani mempertanggungjawabkannya. Kedewasaan yang dituliskan dalam visi PKKR itu adalah kedewasaan dalam tataran psikologis dan sosiologis.

Sedangkan dalam misinya, PKKR menyebutkan kedewasaan dalam arti rohani. Di satu sisi, manusia patuh dan taat pada Allah, di sisi lain manusia memiliki kebebasan terhadap tawaran Allah itu. Maka umat PKKR diajak untuk terbuka pada wahyu itu yang mewujud dalam hidup mereka sehari-hari dan sekaligus menanggapinya secara bebas dengan peka terhadap suara hatinya.

2.2.4.5 Persekutuan yang Mandiri

Mandiri memiliki makna mampu mencukupi kebutuhan diri sendiri tanpa terus melulu bergantung pada bantuan orang lain.31 Unsur/ciri persekutuan ini juga terdapat di dalam visi yang sebelumnya. Kemandirian kembali menjadi

31Arah Karya Pastoral Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Tahun 2008-2017, 7.

Referensi

Dokumen terkait

dimana harus menyiapkan perahu dipa!i uta untuk men+ari ikan dilaut dan lain sea!ainya. &eiasaan penduduk dan adat istiadat setempat ter!antun! den!an lin!kun!an

Dengan segala kerendahan hati dan rasa terima kasih yang dalam penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas kasih dan karunianya yang tidak berkesudahan, penulis

Mengukur dan menganalisis persepsi petani terhadap peran penyuluh pada kegiatan penangkaran benih IPB 3S dilakukan dengan mengunakan pengukuran data scoring skala

Berita.. Formula Penyuntingan Bahan yang Berdaya Maju untuk Berita Surat Khabar  Bahasa Melayu

Fokus masalah yang akan diangkat adalah eksperimen jenis apa yang cocok untuk laboratorium/eksperimen virtual karena dari 5 artikel tersebut sudah diketahui bahwa laboratorium

Puji dan syukur hanya pada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis Analisis Pengaruh Jenis Asing Invasif Acacia nilotica

87.360,-/ Hari tetapi solusi tersebut solusi yang tidak layak karena melebihi kapasitas ketersediaan barang, tetapi dengan menggunakan metode Branch and Bound

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui presentase jenis makanan ikan Lais yang tertangkap di rawa banjiran sungai Rungan Kota Palangka Raya.. Handayani