BAB III KENYATAAN PASTORAL PERJUANGAN PKKR
3.4 Pribadi (Kudus dan Dewasa)
3.4.4 Kegiatan Lingkungan selain Perayaan Ekaristi
Tabel 19: Pendidikan dan Mengikuti Kegiatan Lingkungan selain Perayaan Ekaristi
Pendidikan Mengikuti Kegiatan Lingkungan selain Perayaan Ekaristi
Ya Tidak N
Sebelum Tamat SLTA 57,1 42,9 7
Tamat SLTA 89,4 10,6 47
Diploma 100,0 0,0 20
Sarjana 88,6 11,4 44
89,0 11,0 118
Hampir seluruh responden (89%) mengikuti kegiatan di lingkungan selain Perayaan Ekaristi di Gereja maupun di lingkungan. Perayaan Ekaristi di lingkungan misalnya adalah misa ujub arwah, misa syukur, misa rutin lingkungan dan ujub-ujub lainnya. Di masing-masing lingkungan berarti memang ada kegiatan non Ekaristi dan diikuti oleh hampir seluruh responden. Dalam kegiatan itu bisa diadakan doa bersama/kegiatan rohani namun juga bisa diadakan kegiatan lain yang dapat mengembangkan paguyuban lingkungan dalam hal persaudaraan, pemahaman iman/katekese, maupun kepribadian/kesejahteraan umat.
Bahkan para diploma seluruhnya mengikuti kegiatan lingkungan selain Perayaan Ekaristi. Sedangkan para tamatan SLTA (89,4%) dan sarjana (88,6%)
sebagian besar mengikuti kegiatan lingkungan tersebut. Namun para responden yang belum tamat SLTA, hanya separuhnya yang mengikuti kegiatan lingkungan tersebut (57,1%). Para responden yang belum tamat SLTA ini memang hanya sedikit yang terlibat dalam tugas gerejani bidang struktural (14.3%). Dan responden kategori pendidikan ini juga sedikit yang selalu mengikuti pertemuan APP di lingkungan (42,9%). Maka responden kategori pendidikan ini memang cenderung tidak tertarik pada kegiatan atau kehidupan komuniter Gereja. Mereka lebih cenderung mengembangkan kehidupan pribadi mereka. Atau dengan kata lain, kehidupan menggereja memang disadari sebagai kegiatan pribadi. Walau demikian, ada kemungkinan mereka ini tidak mampu atau tidak memiliki waktu mengikuti kegiatan-kegiatan semacam itu. Entah karena faktor usia, peran yang berbeda dalam Gereja, maupun juga faktor pribadi lainnya.
Hal tersebut akan memunculkan masalah yaitu hidup berkomunitas akan menjadi beban bagi mereka ini. Dengan kata lain, paguyuban yang dibangun tidak membuat mereka krasan dan rindu.
Tabel 20: Pendidikan dan Bentuk Kegiatan Lingkungan selain Perayaan Ekaristi
Pendidikan
Kegiatan lingkungan non Ekaristi itu antara lain kegiatan yang bersifat rohani semisal ibadat lingkungan (bisa dengan intensi khusus), rosario lingkungan, dan ziarah; maupun non rohani semisal pertemuan lingkungan, rapat
lingkungan, pendalaman iman, kunjungan sosial, sarasehan, latihan koor, kegiatan kelompok kategorial lingkungan dan sebagainya.
Kegiatan non Ekaristi yang paling diminati para responden adalah kegiatan non rohani. Sebagian besar dari mereka (80,5%) memilih kegiatan ini. Ada banyak responden bergelar diploma yang mengikuti kegiatan lingkungan non rohani/doa saja. Lebih dari duapertiga dari mereka mengikuti kegiatan itu (70%).
Hanya seperempatnya saja yang mengikuti keduanya (25%). Responden yang bergelar sarjana kurang dari separuhnya (47,7%) mengikuti kegiatan non rohani saja, sementara hampir sepertiganya (31,8%) mengikuti kedua bentuk kegiatan lingkungan itu. Hal ini hampir sama dengan apa yang terjadi pada responden yang tamatan SLTA. Responden yang belum tamat SLTA lebih berminat pada kegiatan non rohani. Lebih dari seperempat dari mereka mengikuti kegiatan ini (28,6%).
Kegiatan semacam inilah yang kiranya bisa menjadi peluang untuk mengajak para responden kategori pendidikan ini untuk lebih terlibat dalam kehidupan komunal Gereja di lingkungan. Sedangkan para sarjana lebih banyak mengikuti kedua jenis kegiatan itu. Nampak bahwa tingkat pendidikan tidak mempengaruhi jenis kegiatan yang diikuti.
Sejalan dengan trend atau mode hidup rohani personal, sebagian besar umat PKKR memandang komunitas lingkungan merupakan sarana untuk pengembangan non rohani/spiritual. Tentu ada banyak kemungkinan mengenai hal ini. Kegiatan lingkungan bisa menjadi sebuah oase dari sebuah kelelahan rutinitas.
Atau juga dimungkinkan hal ini dikarenakan mereka mendambakan komunitas yang karitatif yang lebih menekankan aksi atau praksis. Kegiatan yang bervariasi
dalam komunitas dirindukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi. Maka variasi kegiatan dalam komunitas dapat dipelopori oleh tingkat pendidikan tinggi.
Permasalahannya, pertemuan APP di lingkungan disajikan dalam bentuk yang tidak melulu non rohani, bahkan terkesan seluruhnya kegiatan rohani. Maka apakah kegiatan itu memang dapat dinikmati umat yang memiliki trend/minat seperti itu.
Tabel 21: Pendidikan dan Sumbangan Pertemuan APP bagi Kehidupan
Pendidikan
Pertemuan APP tentunya memberi efek bagi kehidupan orang-orang yang mengikuti pertemuan itu. Meski demikian, bisa saja pertemuan ini hanya menjadi kewajiban yang bila tidak memenuhinya dapat mendapat sanksi sosial. Efek atau dampak yang bisa dirasakan dari pertemuan ini antara lain bersifat pribadi yaitu dalam rangka pertobatan dan persiapan Paskah, bersifat komuniter yaitu mempererat persaudaraan di dalam lingkungan, serta bersifat sosial dengan adanya nilai solidaritas kepada mereka yang membutuhkan. Dan memang, solidaritas sebagai kekhasan pertemuan APP tidak disadari hampir sepertiga responden.
Ternyata aspek solidaritas merupakan sumbangan pertemuan APP yang paling dialami oleh hampir separuh responden (48,3%). Dan responden yang belum tamat SLTA lebih dari separuh mengalami aspek ini. Namun hanya sekitar seperempat dari seluruh responden (28,8%) mengalami bahwa pertemuan APP memberi sumbangan bagi lebih dari satu aspek kehidupan. Hal ini lebih banyak dialami oleh responden bergelar sarjana yang mencapai lebih dari sepertiga (34,1%). Para responden ini mampu mengalami dan memahami bahwa pertemuan APP tak hanya berdampak pada kehidupan pribadi/rohani melainkan juga mempererat persaudaraan dalam lingkungan dan membangun solidaritas. Akan tetapi dari ketiga segi kehidupan itu, pertemuan APP kurang mendukung bagian persaudaraan dalam paguyuban. Hanya kurang dari sepersepuluh responden yang mengalami hal ini (8,5%). Bila ditambah yang menjawab lebih dari satu dimensi, berarti ada sepertiga responden yang mengalami segi paguyuban pertemuan APP (34,3%). Bahkan tidak ada responden yang belum tamat SLTA yang hanya menjawab segi paguyuban saja.
Solidaritas adalah peristiwa kesalingan yang bukan hanya dalam tataran yang tampak atau fisik melainkan juga saling mempengaruhi dalam tataran spiritual.11 Maka solidaritas juga didasarkan pada kehidupan rohani komunitas tersebut. Peristiwa inkarnasi menjadi dasar dari solidaritas tersebut.
Dari data di atas patut dipertanyakan solidaritas yang dipahami oleh sebagian umat PKKR. Solidaritas yang merupakan bagian penting dari tujuan
11 B. Sesboü, “Solidarity”, dalam J.Y. Lacoste (ed.), Encyclopedia of Christian Theology, Routledge, New York 2005, 1490. Individuals act on each other, not only in the material sphere but also through the influence of their spiritual decisions. Setiap individu bertindak bersama orang lain, bukan hanya dalam tataran material, namun juga mempengaruhi keputusan rohaninya.
pertemuan APP hanya dialami dan dihayati oleh separuh umat PKKR.12 Dengan demikian, komunitas praksis yang ditunjukkan data-data sebelumnya, tidak sampai membawa anggotanya pada kesadaran untuk bersolidaritas. Atau solidaritas yang dibangun oleh pertemuan APP itu lebih mengajak orang untuk bersolidaritas secara pribadi. Solidaritas dipahami separuh umat PKKR sebagai sebuah gerakan pribadi. Padahal berbagi dalam kebersamaan adalah bagian dari ber-communio dengan Yesus, sehingga dengan demikian masalah yang muncul adalah komunitas yang bersama-sama bersolidaritas belum terwujud.