• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II COMMUNIO-KOINONIA YANG DICITA-CITAKAN

2.4 Makna Communio dan Koinonia

2.4.6 Tantangan bagi Communio dan Komunitas

Koinonia yang dihidupi sejak Gereja Perdana terus dihidupi oleh Gereja sampai dengan sekarang dan seterusnya. Koinonia tersebut berupa sebuah partnership (persaudaraan/persekutuan) dalam iman.128 Iman menjadi pemersatu Gereja. Namun Gereja tak luput pula dari berbagai tantangan di depan, sementara Gereja juga bagaikan tanah liat yang rapuh.129

Tantangan yang paling kelihatan dan paling awal terjadi dalam Gereja Perdana. Gereja sejak awal sudah memiliki diversivitas. Yang pertama muncul ke

126 J.M.R. Tillard, Church of Churches, 36.

127 J.M.R. Tillard, Church of Churches, 43.

128 E. Eaton Whitehead - J.D. Whitehead, Community of Faith: Crafting Christian Communities Today, Twenty-Third Publications, Mystic 1992, 6.

129 J.M.R. Tillard, Church of Churches, 33. The clay vessel which contain the treasure are not only individuals but also communities. Bejana tanah liat yang berisi harta, bukanlah hanya individu-individu, namun juga komunitas-komunitas.

permukaan adalah permasalahan bagi para kaum non Yahudi kristen. Masalahnya adalah apakah mereka harus menjadi Yahudi dahulu untuk menjadi kristen.

Paulus menjadikannya sebagi sebuah permasalahan jemaat universal dengan membawa perbantahan ini ke Yerusalem di mana Petrus berada. Permasalahan ini menjadi sebuah konsekuensi kerasulan Paulus di wilayah kafir (Yunani).

Permasalahan itu kemudian diatasi di dalam sebuah pertemuan jemaat (semacam konsili) dan kemudian membuat keputusan yang diterima semua pihak. Demikian pula perbedaan dalam nuansa teologi, pandangan teologi yang sejak masa Patristik terbagi dalam dua arus besar yaitu aliran Aleksandria dan Antiokia.

Dalam sebuah komunitas selalu ada suatu perbedaan dan ketegangan karena setiap komunitas berisi banyak orang dengan berbagai latar belakang.

Komunitas selalu berciri plural.130 Pluralisme bukanlah sebuah hal yang dihindari atau tabu melainkan sebuah rahmat yang besar. Meski dalam perjalanan sejarah Gereja, kadang perbedaan ini dianggap sebagai sesuatu yang merusak, bahkan dianggap sebagai perpecahan dan ketidaksetiaan.131

Komunitas Gereja saat ini juga dihadapkan pada sebuah fakta sosiologis.

Manusia yang di dalamnya juga termasuk anggota Gereja, hidup dalam berbagai komunitas.132 Komunitas bukan hanya Gereja saja. Komunitas lain itu antara lain keluarga, sekolah/tempat pendidikan, tempat kerja, tempat tinggal (RT/RW, desa, kota) dan sebagainya. Masing-masing dari komunitas tersebut –dan termasuk Gereja- memiliki karakteristik dan corak masing-masing. Bahkan juga memiliki

130 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 9. Diversity is an essential characteristic of a vital community of belief, a resource to be mined, not a flaw to be overcome.

Keragaman adalah sebuah karakter mendasar dari sebuah komunitas beriman yang hidup, sebuah sumber yang memperkaya, dan bukan untuk memisahkan.

131 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 9.

132 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 19.

kelebihan dan kekurangannya, serta tantangan yang dihadapinya. Corak komunitas kerja berbeda dengan komunitas keluarga. Komunitas tempat kerja berciri formal, disiplin, dan terukur. Sedangkan komunitas keluarga lebih pada informal, akrab, luwes. Perbedaan sifat/corak seperti ini pun dialami oleh Gereja berhadapan dengan komunitas lain dan juga berhadapan dengan dirinya sendiri.

Perbedaan corak ini bila tidak disadari akan menimbulkan kecenderungan untuk menyamakan Gereja sebagai komunitas dengan komunitas lain. Corak administratif dan formal di tempat kerja bisa ada di dalam Gereja, namun tidak sama persis dan Gereja tidak hanya bercirikan seperti itu. Demikian relasi dalam keluarga yang kharismatis memang ada di dalam Gereja dengan takaran yang lain, namun bukan melulu hanya itu.

Gereja sebagai komunitas memiliki coraknya sendiri. Dan ia sebagai komunitas berada dalam ketegangan antara corak kharismatis/emosional dan formal. Corak itu kemudian dipengaruhi oleh struktur dan pengalaman.133 Struktur yang dimaksud adalah tatanan para anggota komunitas yang menentukan bagaimana ia bergerak serta berbagai rutinitas yang dihidupi oleh komunitas.

Dalam Gereja, susunan itu bisa berkaitan dengan hierarki, paroki-paroki di dalam keuskupan, susunan pelayan pastoral paroki dan sebagainya. Rutinitas bisa dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan di dalam komunitas Gereja, entah keuskupan, paroki, maupun kelompok yang lebih kecil lagi. Struktur komunitas demikian akan menentukan bagaimana ia akan bertumbuh dan berkembang. Sedangkan pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman iman

133 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 18.

Gereja yang hidup dari sabda Allah. Pengalaman iman ini akan menjadi sebuah spiritualitas dan semangat hidup Gereja.134

Bentuk komunitas ditentukan oleh enam macam unsur.135 Pertama fokus utama. Yang dimaksud fokus utama ini adalah arah aktivitas kelompok/komunitas. Fokus ini bisa berupa terarah ke luar atau ke dalam. Kedua, seberapa besar anggota terlibat. Artinya seberapa besar peranan anggota dalam komunitas, terbagi dalam masing-masing anggota atau satu perintah. Ketiga adalah kontak emosional atau perasaan di dalam komunitas. Unsur ini berupa seberapa dalamkah relasi personal dalam tataran emosional berpengaruh pada komunitas. Keempat, kebiasaan kelompok. Ada dua ektrem yaitu diatur sesuai prosedur atau diserahkan kepada masing-masing orang dan tergantung situasi.

Kelima adalah relasi dan ketaatan anggota kelompok. Apakah ketaatan ini muncul dari dalam diri sebagai bentuk loyalitas atau merupakan sebuah kontrak. Dan keenam bagaimana anggota akan dievaluasi. Bagian keenam ini lebih dalam arti evaluasi orang per orang dalam pribadinya ataukah keseluruhan atau performance-nya sebagai kelompok. Keenam ciri itu dicapai dengan tetap menggulati spiritualitas Kristus Raja Semesta Alam yang mau berkorban demi orang lain, menjadi sesama bagi yang menderita, terbuka bagi banyak orang, lemah-lembut dan penuh empati serta menghargai kebesaran martabat manusia.

134 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 22.

135 E. Eaton Whitehead-J.D. Whitehead, Community of Faith, 28.