BAB III KENYATAAN PASTORAL PERJUANGAN PKKR
3.5 Komunitas (Mandiri, Dinamis, Persaudaraan Sejati)
3.5.1 Kemandirian dan Kedinamisan
3.5.2.1 Pengenalan Warga Lingkungan
Tabel 25: Pendidikan dan Prosentase Pengenalan Warga Lingkungan
Pendidikan
Prosentase Pengenalan Warga Lingkungan Seluruhnya 75% 50% 25% Hanya beberapa N
orang saja
Sebelum Tamat SLTA 14,3 28,6 28,6 14,3 14,3 7
Tamat SLTA 17,0 46,8 29,8 2,1 4,3 47
Diploma 45,0 45,0 0,0 10,0 0,0 20
Sarjana 27,3 50,0 11,4 6,8 4,5 44
25,4 46,6 17,8 5,9 4,2 118
Tigaperempat responden (72%) mengenal sebagian besar warga lingkungannya (tiga perempat dan seluruh warga). Jumlah ini tidak terlalu menggembirakan karena masih banyak peserta pertemuan APP yang tidak mengenal sebagian besar warga lingkungannya. Bahkan hanya seperempat responden yang mengenal seluruh warga lingkungannya. Responden yang bergelar diploma jauh lebih banyak mengenal warga lingkungannya dari pada responden kategori lainnya. Hampir seluruh responden diploma mengenal sebagian besar umat di lingkungannya (90%). Hampir separuh dari mereka ini (45%) mengenal seluruh warga di lingkungannya. Responden bergelar sarjana hanya separuhnya saja (50%) yang mengenal warga lingkungannya 75%, sama seperti responden lulusan SLTA (46,8%). Dan responden tamatan SLTA ini hanya secuil saja (6,4%) yang tidak banyak mengenal warga lingkungannya. Para
diploma dalam tabel pendidikan dan umur, didominasi oleh para kaum dewasa produktif (36-60 tahun), sebanyak tigaperempatnya (75%). Dan seperlima dari para diploma ini (20%) adalah usia purnakarya. Maka hampir seluruh responden diploma ini berumur 36 tahun ke atas. Nampaknya usia mampu mempengaruhi pengenalan terhadap warga lingkungan. Dalam tabel di bawah ini kemudian hal ini menjadi lebih jelas.
Tabel 26: Kategori Umur dan Prosentase Pengenalan Warga Lingkungan
Kategori Umur
Responden yang berusia purnakarya lebih banyak yang mengenal seluruh warga lingkungan (52,2%) dibandingkan prosentase kategori usia di bawahnya yaitu usia dewasa produktif yang hanya seperlimanya (22,5%) saja yang mengenal seluruh warga. Sedangakan usia di bawahnya lagi, tidak ada yang mengenal sampai pada seluruh warga. Lebih dari separuh responden usia dewasa awal (62,5%), mengenal 75% warga lingkungannya. Dan responden yang berusia di bawah 25 tahun lebih banyak mengenal hingga separuh warga lingkungannya (42,9%). Semakin tinggi usia, makin tinggi pula pengenalan terhadap warga lingkungan.
Mereka yang mengisi angket merupakan orang-orang yang pernah bertemu atau berkumpul sebagai sebuah komunitas lingkungan. Akan tetapi tidak seluruhnya kenal dengan baik. Dengan begitu dipertanyakan apa yang menjadi
dasar atau landasan mereka hidup berkomunitas. Hidup berkomunitas tidak cukup berlandaskan sebuah kebutuhan yang sama.
Kesalingan berupa kehadiran dan saling berbagi belum disadari oleh sebagian umat. Ada beberapa hal yang mempengaruhi, misal tingkat pendidikan, usia dan suku bangsa. Semakin tinggi usia, semakin banyak mengenal warga dan kebutuhan sosialisasi semakin tinggi. Umat berusia tua membutuhkan saat-saat berinteraksi yang makin banyak. Relasi bukan hanya sebatas untuk bekerjasama saja, melainkan untuk saling mengenal.14
Tabel 27: Suku Bangsa dan Prosentase Pengenalan Warga Lingkungan
Suku Bangsa
Responden yang bersuku bangsa Jawa, lebih banyak yang mengenal warga lingkungan ketimbang responden suku bangsa lainnya. Hampir sepertiga dari mereka ini (30,3%) mengenal seluruh warga lingkungan. Sementara, responden Tionghoa hanya kurang dari sepersepuluh (7,4%). Separuh dari responden bersuku bangsa Jawa mengenal 75% warga lingkungan (49,4%).
Cara berelasi setiap orang berbeda-beda, baik dalam perbedaan usia, pendidikan maupun suku bangsa. Mereka mencari sesuatu dalam sebuah pertemuan APP. Artinya, bagi diri sendiri, pertemuan APP diharapkan
14 J.M.R. Tillard, “Communion”, dalam J.Y. Lacoste (ed.), Encyclopedia of Christian Theology, Routledge, New York 2005, 324. Hence, koinonia was the form of life corresponding to the social nature of human beings. It reached its apex in friendship (philia): “Among friends, everything is in common.” Maka, koinonia menjadi bentuk korespodensi hidup bagi sifat sosial manusia. Hal itu mendapat realitasnya dalam persahabatan; “Di antara teman-teman, semuanya adalah milik bersama”.
memberikan sesuatu yang dapat berguna bagi hidup dan dirinya. Sedangkan komunitas, bukan hanya menjadi sarana dan kesempatan bagi seseorang untuk mendapatkan sesuatu, melainkan juga memberikan sesuatu bagi yang lain. Iman berkembang bukan hanya dalam tataran pribadi, melainkan juga dalam tataran relasional. Iman menjadi makin hidup saat manusia berinteraksi dengan yang ada di luar dirinya. Peristiwa Pentakosta menunjukkan kebersamaan dalam beriman.15
Tabel 28: Keterlibatan dalam Gereja dan Prosentase Pengenalan Warga Lingkungan
Keterlibatan dalam Gereja
Responden yang terlibat dalam kepengurusan DPP atau lingkungan dan kelompok kategorial, hampir separuhnya (42,5%) mengenal seluruh warga di lingkungannya. Sedangkan mereka yang terlibat menjadi pelayan liturgi dan kelompok doa, hanya seperempatnya saja (24,1%) yang mengenal seluruh warga di lingkungnnya. Lebih sedikit lagi adalah mereka yang tidak terlibat, yang hanya kurang dari seperdelapan saja (12,1%) yang mengenal seluruh warga lingkungan.
Kebanyakan dari para responden, memang mengenal 75% warga lingkungan terutama mereka yang tidak telibat. Lebih dari separuh mereka yang tidak terlibat dalam tugas gerejani (57,1%) mengenal 75% warga lingkungan. Yang menarik adalah mereka yang terlibat dalam kepengurusan struktural, hampir separuhnya
15 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 12.
(45%) mengenal 75% warga lingkungannya. Maka hampir seluruh mereka yang terlibat dalam tugas struktural organisasi mengenal sebagian besar warga lingkungannya. Memang ada separuh dari mereka ini yang hanya mengenal 75%
warga lingkungannya. Hal ini bisa berasal dari faktor pribadi responden itu sendiri maupun karena banyaknya umat yang tidak aktif dalam kegiatan di lingkungan maupun paroki.
Hal ini bisa dimaklumi karena beberapa hal. Pertama, ada lingkungan yang jumlah umatnya sedikit dan ada yang cukup banyak. Kisaran jumlah kepala keluarga di masing-masing lingkungan adalah 41 sampai dengan 99 Kepala Keluarga atau 152 sampai dengan 341 jiwa. Jumlah umat di lingkungan yang cukup banyak akan menyulitkan untuk mengenal seluruh warga yang ada. Kedua, tidak seluruh warga lingkungan aktif dalam kegiatan di lingkungan. Oleh karena itu menjadi mungkin, ketidak-aktifan atau ketidak-munculan dalam kegiatan lingkungan itu membuat mereka tidak saling kenal.
Keterlibatan dalam kepengurusan dan kegiatan paroki menjadi sebuah jalan (peluang) untuk membangun interaksi komunitas itu. Kepengurusan dan pelayanan sejatinya mengembangkan jiwa hidup berkomunitas dalam diri mereka yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian mau tidak mau mereka harus berinteraksi dengan mereka yang ada di dalam maupun luar kepengurusan maupun kelompok pelayanan itu. Di sisi lain, kira hal itu juga bisa menjadi positif. Meski mereka tidak terlibat dalam kepengurusan dan sebagainya, mereka tetap mau terlibat dalam hidup berkomunitas. Tentu semua kesempatan keterlibatan di paroki itu dapat menampung seluruh umat yang ada.