BAB III KENYATAAN PASTORAL PERJUANGAN PKKR
3.5 Komunitas (Mandiri, Dinamis, Persaudaraan Sejati)
3.5.1 Kemandirian dan Kedinamisan
3.5.1.3 Tanda Kemandirian dalam Mengadakan Pertemuan APP
Tabel 24: Pendidikan dan Tanda Kemandirian Lingkungan dalam Mengadakan Pertemuan APP
Kemandirian yang dirasakan dan dialami oleh sebagian responden itu lebih banyak dalam hal praktis, yaitu dalam hal penyajian beserta fasilitatornya. Hampir dua pertiga responden (63,6%) mengatakan kemadirian dalam hal ini. Para responden beranggapan bahwa kemandirian itu terletak pada adanya/terlaksananya pertemuan. Terlaksananya pertemuan itu karena sudah ada panduan lengkap dari keuskupan (Komisi Kitab Suci). Pemandu dan peserta tinggal mengikuti bahan yang sudah disediakan komisi ini. Sedangkan fasilitator pun dipermudah dengan menggunakan buku yang khusus untuk pemandu selain sudah diberi pelatihan atau pembekalan sebelumnya. Namun bisa juga para pemandu berkreasi dengan panduan yang sudah ada. Kebanyakan dari responden ini, mereka merasa bahwa lingkungan mereka sudah mandiri dalam hal pengadaan pemandu. Mereka tidak perlu “meminjam” pemandu dari lingkungan lain. Di antara mereka sudah ada yang bisa dan/atau mau menjadi pemandu, bahkan bergantian tiap pertemuan. Artinya lingkungan itu mampu menyediakan pemandu sendiri tanpa harus selalu bergantung pada lingkungan lain atau paroki. Hanya
saja seberapa mandiri pemandu dalam mengolah bahan pertemuan. Selain dalam hal penyajian dan fasilitator, hal praktis lainnya adalah dalam hal akomodasi dan finansial. Kurang dari sepersepuluh responden (8,5%) menemukan indikator kemandirian ini. Para responden merasa lingkungannya mandiri bila dalam pertemuan itu, banyak yang sukarela menjadi tempat diadakannya pertemuan.
Atau juga menyediakan makanan kecil bagi para peserta yang datang. Selain itu, mandiri secara akomodasi bisa berarti para peserta tidak kesulitan untuk datang ke tempat pertemuan.
Selain pada hal-hal praktis semacam itu, ada sebagian kecil responden (12,7%) yang memandang kemandirian itu berupa suatu indikasi komunitas yang dinamis yaitu dalam tataran motivasi, inisiatif dan partisipasi. Indikasi ini dilihat dari segi pesertanya. Motivasi (kehendak dari dalam) dan inisiatif itu diungkapkan dalam jumlah yang hadir, kemauan dalam berbagi pengalaman atau pendapat, dan kesediaan untuk hadir tanpa harus disuruh-suruh. Artinya para peserta yang ada memiliki inisiatif dan kehendak untuk berperan dan hadir dalam pertemuan APP itu. Selain itu, kemandirian dan kedinamisan itu tampak dari semangat para peserta untuk datang dan mengolah tema yang disajikan.
Akan tetapi jumlah itu hanyalah jumlah yang amat kecil. Kemandirian lebih banyak dipandang mampu mencukupi kebutuhan lingkungan sendiri secara praktis. Sementara kemandirian pribadi per peserta untuk hadir dan berpartisipasi masih kurang memadai. Dan kedinamisan lingkungan belum nampak karena semangat yang ditunjukkan oleh respenden hanya sedikit saja.
Dari tabel itu, yang perlu diperhatikan adalah responden diploma yang sebagian besar (80%) memahami kemandirian itu dalam hal praktis penyajian.
Sedangkan responden sarjana lebih mudah memahami bahwa kemandirian itu terletak dari pesertanya yaitu semangat dan partisipasi mereka dalam pertemuan APP. Seperlima dari responden ini (20%) melihat kemandirian dari hal tersebut.
Maka para responden dengan pendidikan seperti ini dapat menjadi pioner untuk menjadikan lingkungan memaknai kemandiriannya juga dalam hal semangat dan partisipasi.
Bagi yang belum merasakan adanya kemandirian, kemungkinan mereka melihat ketergantungan lingkungan mereka kepada paroki maupun lingkungan lainnya. Komunitas mandiri yang dipikirkan dan dihayati oleh mereka adalah komunitas yang memang terpisah dari lingkungan lain atau tidak perlu dibantu oleh paroki. Dalam sisi positif, hal ini menjadi sebuah peluang di mana kemandirian berkaitan dengan kreativitas orang-orang yang berada di dalam komunitas itu. Kreativitas itu memungkinkan setiap lingkungan untuk mengembangkan diri mereka. Di sisi lainnya, konsep communion of communities menjadi makin abstrak. Kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, melainkan mampu untuk saling membantu dan mengisi. Kemandirian bukan untuk memisahkan melainkan untuk mengembangkan atau menumbuhkan komunitas itu dengan menggunakan kekuatan yang ada. Seperti yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Aksi Puasa Pembangunan, pertemuan APP mengajak umat untuk membentuk sebuah komunitas yang didasarkan pada relasinya dengan Allah.13 Tapi ternyata yang terjadi, kemandirian dipandang dalam kerangka penyajian/fasilitator atau dengan kata lain dalam sisi sumber daya manusianya.
13 Caritas Indonesia-LPPS, Profil Program Aksi Puasa Pembangunan Nasional (APP Nasional), 3.
Kemandirian tidak diletakkan dalam usaha partisipasi masing-masing warga sebagai inti sebuah communio.
Kemandirian dirasakan oleh sebagian besar peserta Pertemuan APP.
Sebagian besar dari mereka, kemandirian terletak pada hal praktis. Komunitas yang mandiri adalah komunitas yang mampu melaksanakan pertemuan-pertemuan secara mandiri. Ini menjadi peluang bagi mereka dalam menata dan mengorganisir lingkungan. Bila dikaitkan dengan kesulitan yang dialami peserta, kemandirian itu memiliki tantangan yaitu tingkat kehadiran peserta yang kemungkinan menjadi rendah karena kesibukan pribadi mereka. Maka kalau kesulitan itu dalam hal kesibukan, maka perlu dicari solusi dalam bentuk penataan waktu pertemuan.
3.5.2 Persaudaraan Sejati
PKKR ingin mewujudkan persekutuan yang berkembang dalam persaudaraan sejati. Persaudaraan yang sejati itu dapat dilihat melalui kesediaan umat untuk berbagai, entah berbagi pengalaman, materi, dukungan, maupun waktunya. Sekaligus menumbuhkan rasa aman (krasan) sebagai anggota suatu komunitas lingkungan. Kesediaan untuk berbagi dan memiliki rasa aman dalam komunitas lingkungan haruslah mengandaikan bahwa ia (warga lingkungan) mengenal dengan baik sesamanya yang ada di lingkungan. Pengenalan ini menjadi sebuah ungkapan bahwa ia sungguh menyadari bahwa ia menjadi bagian dari lingkungan dan sesama warga lingkungan menjadi keluarga dalam komunitasnya.
Selain pengenalan, keterbukaan dan rasa krasan/aman itu terungkap pula dalam relasi antar warga lingkungan yang guyub dan rukun. Pertemuan lingkungan menjadi sarana untuk semakin mengguyubkan mereka, bukan malah membuat
sekat dan konflik baru. Pertemuan APP lingkungan juga diharapkan demikian.
Pertobatan, berupa sikap berbalik kepada Allah menjadi kosong/timpang saat manusia tidak mau berdamai dengan sesamanya. Relasi baik dengan Allah selalu mengandaikan dan sekaligus membawa orang pada relasi baik dengan sesamanya.