BAB II COMMUNIO-KOINONIA YANG DICITA-CITAKAN
2.3 Pertemuan APP Lingkungan
2.3.4 Hubungan APP dengan Communio-Koinonia yang Dicita-
APP di satu sisi membangun relasi yang makin mendalam dengan Allah karena mengajak seorang Kristiani untuk terus-menerus membarui dirinya melalui pertobatan dan pemurnian. Di sisi lain, APP juga membangun relasi dengan sesama dan lingkungannya. Sisi yang kedua ini dipandang dari sudut seorang kristiani sebagai bagian Gereja dan sekaligus sebagai bagian dari dunianya/masyarakatnya. Pendalaman APP ini dilaksanakan dalam pertemuan-pertemuan yang dijadualkan selama masa Prapaskah. Di PKKR, pendalaman tema/bahan permenungan APP ini dilaksanakan dalam beberapa pertemuan-pertemuan yang waktu dan pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing lingkungan. Maka pertemuan APP ini menjadi salah satu kesempatan kegiatan lingkungan.
76 RD G Utomo, Bidang-Bidang Karya yang Diperhatikan Komisi PSE MAWI cq Sekretaris, 95.
77 RD G Utomo, Bidang-Bidang Karya yang Diperhatikan Komisi PSE MAWI cq Sekretaris, 96.
Pertemuan Lingkungan dalam rangka APP Prapaskah ini mendukung usaha membangun communio-koinonia yang dicita-citakan oleh PKKR. Pertama, melalui pertobatan dan pembaruan hidup yang dilaksanakan dengan menggulati tema-tema bahan pertemuan APP, umat diajak untuk mengusahakan kekudusannya. Pertobatan dan pembaruan diri itu menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan rohani umat. Dan selain itu membawa orang pada semangat pelayanan bagi sesamanya.
Kedua, pertobatan dan pembaruan diri senantiasa mengasah kepekaan seorang kristiani untuk melihat tanda-tanda zaman melalui pengalam hidupnya.
Diharapkan dalam masa Prapaskah itu, ia mengasah kepekaan dalam mendengarkan suara hatinya. Dan sekaligus, ia berani membagikan refleksi dan pengalaman kepada umat lain demi perkembangan iman. Dengan begitu ia semakin dewasa dalam iman.
Ketiga, pertobatan bukanlah sesuatu yang dipaksakan melainkan muncul dari dalam dirinya. Ada inisiatif dari diri pribadi selain adanya rahmat.
Pelaksanaan pertemuan ini juga merupakan tantangan kemandirian suatu lingkungan. Artinya lingkungan mampu melaksanakan sendiri kegiatan ini tanpa harus menginduk pada lingkungan lain. Kemandirian ini bisa terlihat dari pemimpin/fasilitator pertemuan, pelaksanaan pertemuan, serta kehadiran anggota-anggotanya.
Keempat, pertemuan APP Prapaskah ini menjadi sarana keterlibatan umat beriman dalam hidup menggereja terutama di lingkungannya tempat ia tinggal.
Keterlibatan itu bukan hanya kehadiran saja melainkan juga sampai pada kesediaan untuk berperan aktif atau kesediaan menjadi fasilitator pertemuan.
Kelima, Pertemuan ini bisa menjadi sarana untuk membaun persaudaraan antar pribadi dalam satu lingkungan demi berkembangnya persaudaraan sejati.
Pertemuan ini mengandaikan adanya kesempatan untuk berbagi pengalaman, refleksi, waktu, dan perhatian, serta memunculkan keterbukaan dan rasa aman dalam komunitas. Artinya pertemuan ini memiliki dampak terhadap komunitas lingkungan tersebut.
Dan keenam, pertemuan APP ini menjadi sarana umat lingkungan menjadi terang dan garam bagi masyarakat. Ia menjadi garam karena ia menjadi semakin
“asin” melalui pertobatan dan pemurnian dirinya. Ada sebuah kesaksian hidup yang diwartakan. Ia menjadi terang karena ia berani memberi warta keselamatan kepada orang lain. Melalui solidaritas yang berwujud dana, materi maupun aksi, umat PKKR diajak menjadi terang bagi sesamanya terutama yang membutuhkan atau yang lemah tanpa memandang agama, ras, maupun tempat.
Dengan demikian pertemuan APP Prapaskah yang diadakan di lingkungan-lingkungan di PKKR dapat dimanfaatkan untuk menjadi sarana membangun communio-koinonia yang dicita-citakan PKKR yaitu yang kudus, dewasa, mandiri, dinamis, berkembang dalam persaudaraan sejati dan menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Dengan kata lain, diharapkan, PKKR melalui pertemuan APP Prapaskah, menjadikan komunitas beriman di lingkungan-lingkungan dan paroki mencapai kekudusan dan semakin dewasa serta mandiri untuk terlibat membangun masyarakat dalam persaudaraan sejati. Dan jelas melalui itulah PKKR bersama Keuskupan Purwokerto sedang mengusahakan kehadiran Kerajaan Allah.
2.4 Makna Communio dan Koinoia
Istilah communio ini menjadi kata penting di dalam Konsili Vatikan II.
Communio menjadi jalan penting untuk memahami eklesiologi Konsili Vatikan II.
Ada banyak sumber yang memberikan penjelasan mengenai arti communio. Di dalam tradisi Barat, sering dipakai kata communio sedangkan di dalam tradisi Timur dipakai istilah koinonia. Kedua istilah ini saling berkaitan satu sama lain.
Meski begitu nuansa dan arti yang dihasilkan tidaklah sama begitu saja.
Communio merupakan bahasa Latin. Communio ini berasal dari dua kata yaitu cum dan munis. Cum berarti bersama atau dengan, sedangkan munis berarti tugas, pekerjaan, jabatan publik. Maka cum-munis diartikan mengerjakan/memenuhi pekerjaan atau tugasnya. Sesuatu disebut com-munis bila ia berbagi dalam pekerjaan atau berbagi dengan seluruh orang. Demikian pula dalam bahasa Latin klasik, communio sebagai kata benda berarti membagikan, berbagi kepemilikan, karakteristik umum dan kadang-kadang komunitas. 78 Namun ada sumber lain yang juga mengatakan bahwa communio berasal dari kata communitas (Latin) yang memiliki dua unsur kata yaitu com (cum) dan unus. Cum berarti bersama atau bagian dari beberapa orang (with and implies severalness) sedangkan unus berarti satu. Tambahan kata tas lebih mau menunjukkan kata yang abstrak.79
78J.M.R. Tillard, “Communion”, dalam J.Y. Lacoste (ed.), Encyclopedia of Christian Theology, Routledge, New York 2005, 322. Something is com-munis that “shares the office” and, in a derivative sense, what is “shared among all,” hence in common. This relationship of the term to the idea of a large number had the effect that sometimes it came to evoke banality, vulgarity, or even impurity*. In classical Latin the noun communio means sharing, shared ownership, common characteristics, and sometimes community (Ernout-Meillet 1951).
79 C.M. LaCugna-M. Downey, “Trinitarian Spirituality”, dalam M. Downey (ed.), The New Dictionary of Catholic Spirituality, The Liturgical Press, Collegeville-Minnesota 1993, 979-982.
Meski ada sumber lain yuang mengatakan bahwa communio bukan berasal dari kata cum dan unio.
Kata ini mulai dipakai dalam konteks Gereja sejak zaman Bapa-bapa Gereja Latin. Communio dihubungkan dengan gerak Allah yang secara terus menerus communicates (berbagi, membagikan diri) kepada Gereja melalui sabda, pelayanan, sakramen dan Ekaristi) dan umat pun dipanggil bersatu dalam communicate satu sama lain, terutama melalui bantuan material. Dalam communion, segala buah-buah Ekaristi terpenuhi.80Dalam konteks kristiani, communion diartikan sebagai relasi antara beberapa individu kristiani atau komunitas-komunitas kristiani yang dihasilkan dari partisipasi umum dalam sebuah realitas yang satu dan sama.81
Sedangkan kata koinonia merupakan bahasa Yunani κοινωνία. Dalam Vulgata, communio merupakan kata Latin untuk menerjemahkan kata koinos (koinonia,koinônein, koinônos, koinônikos). Secara semantik koinos memiliki arti ide atau gagasan mengenai partisipasi bersama, asosiasi, dan sharing dalam kebersamaan dari sebuah realitas singular.82Kata ini tetap memiliki konotasi ke fellowship (Inggris), communion, participation dan sharing. Serta kata koinonia memiliki arti kata dasar: berbagi sesuatu dengan seseorang (sharing in something with someone).83Kata ini awalnya bukan istilah yang khas kristiani. Kata ini merupakan kata yang biasa dipakai dalam konteks sosial. Kata ini ingin mengungkapkan situasi sifat sosial dari manusia, entah itu persahabatan, asosiasi,
80 J.M.R. Tillard, “Communion”, 322. These were derived from the fact that the community in question had its source in what God himself continually communicates to theChurch (Word*, ministry*, sacraments*, the most important of which is the Eucharist*) and what believersare called on to communicate to one another, particularly through mutual material assistance. There was communio in the goods communicated by God, and it embraced all the members of the body of Christ.
81 S.B. Ferguson-D.F Wright (eds.), The New Dictionary of Theology, Intervarsity Press, England-Illinois 1988, 372. A relation between individual Christians or Christian communities resulting their common participation in one and the same reality.
82 J.M.R. Tillard, “Communion”, 323.
83 G.S. Wakefield (ed.), A Dictionary of Christian Spirituality, SCM Press Ltd, London 1983, 240.
maupun idealisasi politis. Bahkan beberapa filsuf Yunani yaitu Plato dan Stoa menggunakan kata ini untuk menjelaskan hubungan sosial manusia.84
Dalam kitab suci, kata yang berasal dari kata koinos disebut sampai 73 kali dan 19 di antaranya berupa koinonia. Istilah ini menjadi istilah untuk menyebut salah satu elemen Gereja pada tulisan Bapa-bapa Kapadokia.85Koinonia memang menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan Gereja. Seperti yang disebut dalam 2 Kor 13:14, koinonia bermakna fellowship yang kemudian ingin menjelaskan berbagi dalam sesuatu yang diikat dalam Roh Kudus (sharing in something bond by Holy Spirit).86 Kesatuan dari saling memberi atau berbagi itu berada dalam kuasa Roh Kudus. Roh Kudus itulah yang menyatukan komunitas Gereja. Dan dalam hal praktis, koinonia berarti mengumpulkan uang untuk jemaat di Makedonia (2 Kor 8:4). Angelo Di Bernadino juga menjelaskan bahwa koinonia adalah kebersamaan dalam komunitas (2 Kor 13:13, 1 Yoh 1:3), semangat berbagi (2 Kor 9:13), sebuah ungkapan/tanda dari sebuah persahabatan (Kis 2:42), dan partisipasi dalam kumpulan (2 Kor 8:4) atau dalam sebuah kebaikan bersama.87Selanjutnya Angelo juga mengatakan bahwa istilah ini dipakai Gereja dalam konteks religius baru pada awal abad I oleh para Bapa-bapa Gereja, yang memiliki tiga segi yaitu bersama dengan Trinitas, antara Allah dan manusia dan hubungan antar manusia.88 Nada yang sama juga disampaikan oleh
84 J.M.R. Tillard, “Communion”, 324.
85 J.M.R. Tillard, “Communion”, 324.
86 J. Bowden (ed.), Christianity: The Complete Guide, London, Continuum 2005, 272.
87 Y. Congar, “Koinonia”, dalam A. di Bernardino, Encyclopedia of the Early Church, I, James Clarke & Co., Cambridge 1992, 188.
88Y. Congar, “Koinonia”, 467.
Paulus, namun lebih menekankan kristosentrisnya, bukan hanya dalam hal persekutuan atau komunitas.89
Dari makna istilah koinonia maupun koinos, dapat dilihat bahwa secara umum, istilah ini tidak untuk menggantikan istilah Gereja (ekklesia) serta bukan untuk menjelaskan arti dari Gereja. Kalau sebagai salah satu unsur dalam Gereja, istilah ini sering dipakai. Namun apa yang muncul dari pemaknaan istilah ini atau turunannya termasuk dalam esensi dari Gereja.90Dalam tulisan Paulus dan Yohanes, kata koinonia muncul lebih untuk mengungkapan keseluruhan isi atau yang ingin ditampakkan/diungkapkan dari communio.91
Maka dari pengertian istilah tersebut, dapat dicari beberapa dasar teologis dari communio-koinonia Gereja.
2.4.1 Karya Keselamatan Allah
Manusia adalah homo socius. Ia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Bahkan ia bisa mengaktualisasikan dirinya saat bersama dengan orang lain.
Dengan kata lain manusia membutuhkan manusia lainnya untuk hidup dan berkembang (secara fisik, psikologis maupun rohani). Ketergantungan manusia akan kehadiran manusia lain bukan hanya berdasarkan hal praktis saja (pemenuhan kebutuhan, afeksi, pengakuan, keamanan dan sebagainya) melainkan berdasarkan pada relasinya dengan Allah. Awalnya manusia diciptakan sendiri saja. Namun kemudian Tuhan Allah merasa tidak baik bila manusia hidup seorang
89 G.S. Wakefield (ed.), A Dictionary of Christian Spirituality, 241. Union of belivers with Christ, in Spirit, and hence among one another (Gal 2:9, Rom 11:17).
90J.M.R. Tillard, “Communion”, 324.
91J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, The Liturgical Press, Collegeville 1992, 18.
diri saja. Maka Tuhan Allah menciptakan manusia lain yang mendampingi manusia (Adam).
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej 2:18.21-24)
Di satu sisi manusia adalah ciptaan Allah yang senantiasa bergantung pada penciptanya. Ia hanya dapat ada karena ia diciptakan oleh dan untuk Allah.
Namun manusia juga diciptakan Allah dalam ketergantungan pada manusia lain.
Kebutuhan relasi itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Masing-masing dari mereka (manusia) diciptakan bagi manusia yang lain.92 Dengan begitu citra Allah pada manusia hanya bisa dilihat dalam kerangka hubungannya dengan manusia lain. Saat manusia membuka diri dan berelasi dengan yang lain, ia menjadi citra Allah atau hidup sesuai dengan citra Allah karena manusia merupakan gambaran pencipta karena selalu berhubungan dengan orang lain. Manusia dapat menemukan kepenuhan diri dan aktualisasi diri dalam relasinya dengan manusia lain.
Peristiwa Kain dan Habel (Kej 4:3-8) adalah awal mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Akibatnya manusia dipisahkan oleh kedengkian dan iri hati. Relasi antar manusia menjadi rusak. Dan sebelumnya, relasi Adam dengan Allah juga
92 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325.
rusak karena melanggar perintah untuk tidak memakan buah terlarang. Ia pun melimpahkan kesalahan pada perempuan pendampingnya, Hawa. Peristiwa Adam dan Kain sama-sama mengungkapkan rusaknya dua relasi yaitu relasi dengan Allah dan dengan manusia lain. Di dalam hal inilah communion mendapatkan tantangannya. Umat menjadi tercerai berai. Maka gerak Allah untuk menyelamatkan manusia adalah menyatukan kembali manusia untuk bersatu dengan-Nya dan dengan manusia lain seperti yang ditulis oleh J.Y. Lacoste.
This is the origin of human misfortune. And the salvation offered by God has as its object the “recapitulation” (anakephalaôsis) of communion (Irenaeus).93
Dengan begitu relasi dengan Allah dapat dipulihkan kembali dengan memperbaiki pula relasi dengan manusia lain. Yesus pernah bersabda bahwa untuk menjalin relasi dengan Allah, seorang manusia harus memulihkan relasi dengan sesamanya yang rusak akibat perselisihan.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Mat 5:23-24)
Relasi dengan Pencipta harus selaras dengan relasi dengan sesama. Maka pertobatan yang didengungkan oleh Yohanes Pembaptis juga secara mendasar didasari oleh relasi dengan tetangga dan juga dengan komunitas (Luk 3:10).94Yesus sendiri melihat bahwa relasi dengan Allah diungkapkan dalam
93 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325. Inilah asal mula keterceraiberaian manusia. Dan keselamatan itu diberikan oleh Allah sebagai sebuah sarana penyatuan kembali suatu persekutuan (Ireneus).
94 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325.
relasi dengan sesama, dengan cara berbagi di dalam sebuah komunitas. Perubahan diri harus sampai pada pemberian diri yang bersifat komuniter. Contohnya dengan berbagi milik kepada orang miskin (Luk 18:18-30; Mat 19:16-30; Mrk 10:17-31).
He desires to transform human relations by giving them a communitarian meaning of sharing and of attentiveness to the needs of others. This is what the Kingdom requires. Alms and concern for little children and the suffering belong to the Good News.95
Maka communio-koinonia senantiasa saling terkait erat dengan sabda, karya dan hidup Yesus. Bahkan peristiwa salib menjadi sebuah peristiwa communio-koinonia. Dalam Inkarnasi, Sang Putera datang dalam rupa manusia, meninggalkan keallahan-Nya dan menjadi sama dengan manusia. Karena menjadi sama dengan manusia, Dia menjadi saudara bagi manusia lainnya untuk membawa mereka kepada Bapa (karya penyelamatan). Berbagi dalam kemanusiaan itulah menjadi koinonia Sang Putera. Maka communio-koinonia senantiasa memiliki tujuan ilahi, yaitu keselamatan manusia, di mana Allah mengumpulkan kembali manusia ke dalam pangkuan-Nya.96 Bahkan keselamatan mendapat bentuk nyata dalam communio.97
Sedangkan peristiwa Babel sebagai sebuah drama yang menunjukkan keterceraiberaian manusia akibat perbedaan bahasa dan keangkuhan dikaitkan dengan peristiwa Pentakosta yang menunjukkan sebuah kesatuan di tengah perbedaan bahasa dan bangsa. Peristiwa Pentakosta membalikkan apa yang dialami umat manusia pada peristiwa Babel. Pada peristiwa Pentakosta, umat
95 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325. Ia berkehendak untuk mengubah relasi manusia dengan member mereka makna komunal berbagi dan penerimaan kebutuhan sesama. Inilah mengapa Kerajaan Allah dibutuhkan. Penghargaan dan perhatian kepada anak kecil dan penderitaan menjadi Kabar Injil.
96J.M.R. Tillard, “Communion”, 326.
97 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 17.
beriman disatukan dalam satu iman, meski di dalam perbedaan bahasa oleh Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka.98 Roh Kudus itu pula yang membuat kodrat manusia untuk bersatu dalam communion muncul kembali untuk menyingkirkan ketidakadilan, rivalitas dan iri hati.99
2.4.2 Bersumber pada Relasi Trinitaris
Communio-koinonia juga didasarkan pada relasi yang terjalin antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam Konsili Toledo yang kesebelas tahun 675 memberikan peryataan demikian:
“What the Father is, he is for the Son, not for himself. What the Son is, he is for the Father, not for himself ” (DS 528).100
Dalam relasi trinitas ada kesalingan antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa. Bapa itulah yang membuat Putera menjadi Putera, demikian pula sebaliknya. Kehadiran Putera tidak bisa dilepaskan dari Bapa dan Roh Kudus. Kehadiran Putera selalu dalam relasinya dengan Bapa dan Roh Kudus.
Manusia adalah citra Allah. Ia adalah gambaran dari Allah. Dengan begitu manusia ambil bagian dalam relasi Trinitas tadi. Karena Allah merupakan persona yang berada dalam communion demikian pula manusia. Dalam relasi trinitas, persona yang satu saling menghadirkan persona yang lain. Maka manusia juga mau tidak mau tidak bisa dipisahkan dari relasi communio-koinonia dengan Allah, sesama, seluruh manusia. Manusia menjadi berpartisipasi dalam
98 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 7-8.
99 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion,12.
100 J.M.R. Tillard, “Communion”, 327. Apakah Bapa itu, Dia adalah untuk Putera, bukan demi diri-Nya sendiri. Apakah Putera itu, Dia adalah bagi Bapa, bukan bagi diri-Nya sendiri.
koinonia kehidupan Trinitas.101 Seorang manusia akan selalu membutuhkan orang lain karena ia berelasi dengan Allah Triniter dan berpartisipasi dalam hidup Allah Triniter itu. Bahkan dalam surat pertama Rasul Yohanes tertulis, “Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus”.102 Salib Kristus dan pencurahan Roh Kudus dalam Pentakosta telah membuka gerbang masuk ke dalam misteri Trinitas bagi orang yang dibaptis dan juga masing-masing komunitas umat beriman.103
2.4.3 The Church of God (Gereja Umat Allah)
Dalam Ekaristi, seluruh umat beriman disatukan sebagai Tubuh Kristus.
Maka Ekaristi menjadi communio-koinonia eklesial. Artinya melalui Ekaristi, umat beriman berpartisipasi atau dimasukkan ke dalam relasi Trinitas Bapa, Putera, Roh Kudus, sekaligus di ikat bersama dengan umat beriman lain sebagai sebuah komunitas. Dalam Ekaristi menjadi nampak relasi Trinitas itu melalui persembahan diri Putera yang diterima oleh Bapa dalam Roh Kudus. Dalam roti dan anggur yang menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang satu dan dan sama itu, umat beriman disatukan sebagai Tubuh Kristus. Dengan kata lain, Ekaristi
101 J.M.R. Tillard, “Communion”, 328. In this light we can look again at the creation “in the image and likeness of God.” Because God is “persons in communion,” the human person cannot be perceived otherwise than in a relation of communio-koinonia with God, with the other, with others, a relation that is directed toward those others who are in turn directed toward him.
Through this reciprocity, he participates, in his very being, in the personal life of the creative Trinity. His need of others is therefore not a lack but a dignity that finds its source in participation in the being of the Triune God. Dalam penjelasan ini kita dapat melihat lagi penciptaan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Karena Allah adalah pribadi-pribadi dalam communio, pribadi manusia tidak dapat menerima pribadi lain, selain dalam relasi communio-koinonia dengan Allah, dengan yang lain, dengan sesama, sebuah relasi yang diarahkan kepada orang lain yang mengalir juga kepadanya. Dalam pemahaman ini, ia ikut serta, dalam esensinya, dalam hidup personal yang kreatif dari Trinitas. Kebutuhan terhadap sesama bukanlah sebuah sarana, melainkan sebuah tujuan yang menemukan sumbernya dalam Allah Trinitas.
102 1Yoh 1:3
103 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 19.
merupakan manifestasi Gereja sebagai Tubuh Kristus. Persaudaraan yang terjalin diikat oleh Tubuh Kristus.
Communio itu diwujudnyatakan dalam agape yang merupakan hidup Gereja itu sendiri.104 Dalam agape, umat beriman saling berbagi di dalam sebuah komunitas. Bahkan communio-koinonia itu juga terjadi antar komunitas, entah melalui saling membantu dalam hal finansial (seperti bantuan untuk umat di Makedonia dan Yerusalem), maupun surat-menyurat kepada antar komunitas.
Paulus berkeyakinan bahwa panggilan untuk bersolidaritas dengan sesama umat beriman merupakan kodrat para murid Kristus. Solidaritas itu menjadi salah satu wujud sebuah tindakan berbagi dengan karya Allah menyelamatkan manusia dan ini menjadi jalan masuk ke dalam communio tadi.105 Demikian pula saat Petrus, Yakobus dan Yohanes berdebat dengan Paulus dan Barnabas mengenai ke-Yahudi-an, dapat juga dipandang sebagai tanda communio di antara Gereja-gereja lokal, yang memiliki keberagaman dalam praksisnya.106 Keragaman Gereja lokal tidak mengaburkan koinonia katolik dalam Injil yang sama, iman yang sama, pelayanan untuk misi yang sama, meski dalam bentuk/wadah dan tradisi yang berlainan/beragam.107 Perkembangan Gereja pada abad pertama itu adalah masa di mana Gereja mencari bentuk dirinya yang kemudian ditemukan dalam bentuk sebuah communio. Communio ini secara tidak tampak diikat dan dibentuk oleh
Paulus berkeyakinan bahwa panggilan untuk bersolidaritas dengan sesama umat beriman merupakan kodrat para murid Kristus. Solidaritas itu menjadi salah satu wujud sebuah tindakan berbagi dengan karya Allah menyelamatkan manusia dan ini menjadi jalan masuk ke dalam communio tadi.105 Demikian pula saat Petrus, Yakobus dan Yohanes berdebat dengan Paulus dan Barnabas mengenai ke-Yahudi-an, dapat juga dipandang sebagai tanda communio di antara Gereja-gereja lokal, yang memiliki keberagaman dalam praksisnya.106 Keragaman Gereja lokal tidak mengaburkan koinonia katolik dalam Injil yang sama, iman yang sama, pelayanan untuk misi yang sama, meski dalam bentuk/wadah dan tradisi yang berlainan/beragam.107 Perkembangan Gereja pada abad pertama itu adalah masa di mana Gereja mencari bentuk dirinya yang kemudian ditemukan dalam bentuk sebuah communio. Communio ini secara tidak tampak diikat dan dibentuk oleh