BAB II COMMUNIO-KOINONIA YANG DICITA-CITAKAN
2.4 Makna Communio dan Koinonia
2.4.1 Karya Keselamatan Allah
Manusia adalah homo socius. Ia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Bahkan ia bisa mengaktualisasikan dirinya saat bersama dengan orang lain.
Dengan kata lain manusia membutuhkan manusia lainnya untuk hidup dan berkembang (secara fisik, psikologis maupun rohani). Ketergantungan manusia akan kehadiran manusia lain bukan hanya berdasarkan hal praktis saja (pemenuhan kebutuhan, afeksi, pengakuan, keamanan dan sebagainya) melainkan berdasarkan pada relasinya dengan Allah. Awalnya manusia diciptakan sendiri saja. Namun kemudian Tuhan Allah merasa tidak baik bila manusia hidup seorang
89 G.S. Wakefield (ed.), A Dictionary of Christian Spirituality, 241. Union of belivers with Christ, in Spirit, and hence among one another (Gal 2:9, Rom 11:17).
90J.M.R. Tillard, “Communion”, 324.
91J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, The Liturgical Press, Collegeville 1992, 18.
diri saja. Maka Tuhan Allah menciptakan manusia lain yang mendampingi manusia (Adam).
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej 2:18.21-24)
Di satu sisi manusia adalah ciptaan Allah yang senantiasa bergantung pada penciptanya. Ia hanya dapat ada karena ia diciptakan oleh dan untuk Allah.
Namun manusia juga diciptakan Allah dalam ketergantungan pada manusia lain.
Kebutuhan relasi itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Masing-masing dari mereka (manusia) diciptakan bagi manusia yang lain.92 Dengan begitu citra Allah pada manusia hanya bisa dilihat dalam kerangka hubungannya dengan manusia lain. Saat manusia membuka diri dan berelasi dengan yang lain, ia menjadi citra Allah atau hidup sesuai dengan citra Allah karena manusia merupakan gambaran pencipta karena selalu berhubungan dengan orang lain. Manusia dapat menemukan kepenuhan diri dan aktualisasi diri dalam relasinya dengan manusia lain.
Peristiwa Kain dan Habel (Kej 4:3-8) adalah awal mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Akibatnya manusia dipisahkan oleh kedengkian dan iri hati. Relasi antar manusia menjadi rusak. Dan sebelumnya, relasi Adam dengan Allah juga
92 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325.
rusak karena melanggar perintah untuk tidak memakan buah terlarang. Ia pun melimpahkan kesalahan pada perempuan pendampingnya, Hawa. Peristiwa Adam dan Kain sama-sama mengungkapkan rusaknya dua relasi yaitu relasi dengan Allah dan dengan manusia lain. Di dalam hal inilah communion mendapatkan tantangannya. Umat menjadi tercerai berai. Maka gerak Allah untuk menyelamatkan manusia adalah menyatukan kembali manusia untuk bersatu dengan-Nya dan dengan manusia lain seperti yang ditulis oleh J.Y. Lacoste.
This is the origin of human misfortune. And the salvation offered by God has as its object the “recapitulation” (anakephalaôsis) of communion (Irenaeus).93
Dengan begitu relasi dengan Allah dapat dipulihkan kembali dengan memperbaiki pula relasi dengan manusia lain. Yesus pernah bersabda bahwa untuk menjalin relasi dengan Allah, seorang manusia harus memulihkan relasi dengan sesamanya yang rusak akibat perselisihan.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Mat 5:23-24)
Relasi dengan Pencipta harus selaras dengan relasi dengan sesama. Maka pertobatan yang didengungkan oleh Yohanes Pembaptis juga secara mendasar didasari oleh relasi dengan tetangga dan juga dengan komunitas (Luk 3:10).94Yesus sendiri melihat bahwa relasi dengan Allah diungkapkan dalam
93 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325. Inilah asal mula keterceraiberaian manusia. Dan keselamatan itu diberikan oleh Allah sebagai sebuah sarana penyatuan kembali suatu persekutuan (Ireneus).
94 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325.
relasi dengan sesama, dengan cara berbagi di dalam sebuah komunitas. Perubahan diri harus sampai pada pemberian diri yang bersifat komuniter. Contohnya dengan berbagi milik kepada orang miskin (Luk 18:18-30; Mat 19:16-30; Mrk 10:17-31).
He desires to transform human relations by giving them a communitarian meaning of sharing and of attentiveness to the needs of others. This is what the Kingdom requires. Alms and concern for little children and the suffering belong to the Good News.95
Maka communio-koinonia senantiasa saling terkait erat dengan sabda, karya dan hidup Yesus. Bahkan peristiwa salib menjadi sebuah peristiwa communio-koinonia. Dalam Inkarnasi, Sang Putera datang dalam rupa manusia, meninggalkan keallahan-Nya dan menjadi sama dengan manusia. Karena menjadi sama dengan manusia, Dia menjadi saudara bagi manusia lainnya untuk membawa mereka kepada Bapa (karya penyelamatan). Berbagi dalam kemanusiaan itulah menjadi koinonia Sang Putera. Maka communio-koinonia senantiasa memiliki tujuan ilahi, yaitu keselamatan manusia, di mana Allah mengumpulkan kembali manusia ke dalam pangkuan-Nya.96 Bahkan keselamatan mendapat bentuk nyata dalam communio.97
Sedangkan peristiwa Babel sebagai sebuah drama yang menunjukkan keterceraiberaian manusia akibat perbedaan bahasa dan keangkuhan dikaitkan dengan peristiwa Pentakosta yang menunjukkan sebuah kesatuan di tengah perbedaan bahasa dan bangsa. Peristiwa Pentakosta membalikkan apa yang dialami umat manusia pada peristiwa Babel. Pada peristiwa Pentakosta, umat
95 J.M.R. Tillard, “Communion”, 325. Ia berkehendak untuk mengubah relasi manusia dengan member mereka makna komunal berbagi dan penerimaan kebutuhan sesama. Inilah mengapa Kerajaan Allah dibutuhkan. Penghargaan dan perhatian kepada anak kecil dan penderitaan menjadi Kabar Injil.
96J.M.R. Tillard, “Communion”, 326.
97 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 17.
beriman disatukan dalam satu iman, meski di dalam perbedaan bahasa oleh Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka.98 Roh Kudus itu pula yang membuat kodrat manusia untuk bersatu dalam communion muncul kembali untuk menyingkirkan ketidakadilan, rivalitas dan iri hati.99