• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan terhadap Tetangga dalam Satu Rukun Tetangga

BAB III KENYATAAN PASTORAL PERJUANGAN PKKR

3.6 Masyarakat

3.6.1 Pengenalan terhadap Tetangga dalam Satu Rukun Tetangga

Tabel 30: Pendidikan dan Pengenalan terhadap Tetangga dalam Satu RT

Pendidikan

Keterlibatan mereka di dalam lingkungan masyarakat serta pengembangan sikap solidaritas nampaknya memiliki peluang yang cukup. Para responden sebagian besar (83,9%) mengenal hampir seluruh orang di dalam RT-nya.

Pengenalan ini bisa menjadi peluang karena melalui pengenalan terhadap lingkungannya, ia memiliki pintu masuk serta modal untuk terlibat aktif di masyarakatnya. Pengenalan itu mengandaikan mereka sudah banyak berelasi dengan masyarakatnya.

Responden diploma, sama seperti pengenalan terhadap warga lingkungan, mereka pun juga hampir seluruhnya (90%) mengenal hampir seluruh warga tetangga dalam satu RT. Dan begitu pula responden yang belum tamat SLTA adalah kelompok responden yang paling sedikit (71,4%) mengenal hampir seluruh warga RT-nya. Lebih dari seperempat dari mereka ini (28,6%) hanya mengenal tetangga dekat rumah saja.

Sebagian besar dari umat PKKR ini sudah merambah ke komunitas yang lebih luas lagi yaitu lingkungan warga di mana mereka tinggal. Komunitas yang lebih luas ini menjadi tanda keseimbangan interaksi mereka yang bukan hanya di dalam intern orang-orang yang seiman, melainkan juga mereka yang tidak seiman.

Interaksi mereka bukan hanya dalam tataran iman saja, melainkan juga dalam tataran sosial. Landasan dan dorongan yang mereka miliki untuk berinteraksi secara lebih luas itu perlu ditemukan. Paling tidak, inilah yang menjadi peluang bagi mereka untuk mengaplikasikan nilai solidaritas terhadap sesama yang dibawa pertemuan APP.

Tabel 31: Suku Bangsa dan Pengenalan terhadap Tetangga dalam Satu RT

Suku Bangsa

Banyak responden bersuku bangsa Tionghoa yang hanya mengenal tetangga dekat rumahnya. Mereka ini berjumlah sebesar sepertiga jumlah seluruh responden bersuku bangsa Tionghoa (33,3%). Maka hanya kurang dari duapertiga responden (63%) yang kenal hampir seluruh tetangga dalam satu RT. Sedangkan responden bersukubangsa Jawa sebagian besar dari mereka (89,9%) mengenal hampir seluruh warga RTnya. Maka bagi responden bersuku bangsa Tionghoa ini perlu diperhatikan sungguh mengenai pengenalan ini, sebab pengenalan terhadap masyarakat sekitar berpengaruh pada keterlibatan dan peluang untuk mengikuti berbagai aktivitas atau kehidupan bermasyarakat.

Data ini menunjukkan persoalan yang sama yang dihadapi oleh responden Tionghoa dalam berinteraksi. Pola interaksi yang dimiliki kiranya membuat mereka kurang berelasi secara mendalam baik kepada warga lingkungan yang seiman, maupun dengan masyarakat sekitarnya. Persoalan ini merupakan tantangan bagi PKKR dalam memahami dan menghayati jatidirinya sebagai terang dan garam masyarakat.

Tabel 32: Pendidikan dan Merasa Terganggu dengan Kegiatan Umat Agama Lain

Pendidikan

Merasa Terganggu dengan Kegiatan Umat Agama

Lain N

Ya Tidak

Sebelum Tamat SLTA 0,0 100,0 7

Tamat SLTA 2,1 97,9 47

Diploma 0,0 100,0 20

Sarjana 4,5 95,5 44

2,5 97,5 118

Sebuah peluang untuk menjadi terang dan garam bagi masyarakat di PKKR adalah hubungan yang baik dengan para umat beragama lain. Buktinya, hampir seluruh responden (97,5%) tidak merasa ada gangguan dan hubungan kurang harmonis dengan masyarakatnya yang beragama lain. Artinya relasi dengan umat beragama lain cukup baik dan tidak ada kendala yang berarti.

Kondisi situasi masyarakat di wilayah PKKR relatif memungkinkan untuk membangun relasi antar umat beragama yang harmonis. Perbedaan agama tidak lagi menjadi halangan untuk berelasi. Demikian pula perbedaan suku terlihat tidak menjadi masalah bagi para responden untuk membangun komunitas masyarakat yang saling menghargai perbedaan.

PKKR berpeluang menjadi komunitas yang terbuka dengan komunitas yang lainnya. PKKR juga mampu untuk terjun ke dalam masyarakat di mana

mereka tinggal. Dengan begitu tidak berkutat dan terkurung dalam komunitas yang homogen semisal lingkungan.

3.6.3 Keikutsertaan dalam Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat

Tabel 33: Pendidikan dan Mengikuti Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat

Pendidikan

Mengikuti Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat

N

Ya

Kadang-kadang Tidak Pernah

Sebelum Tamat SLTA 42,9 42,9 14,3 7

Tamat SLTA 72,3 21,3 6,4 47

Diploma 80,0 10,0 10,0 20

Sarjana 81,8 6,8 11,4 44

75,4 15,3 9,3 118

Seperempat responden peserta pertemuan APP (75,4%) mengikuti kegiatan di lingkungan RT/masyarakat. Jumlah ini memang tidak terlalu besar, namun menjadi baik karena hampir seperlima responden (15,3%) juga mengikuti kegiatan di RT/masyarakat meskipun kadang-kadang. Maka hampir seluruh responden mengikuti kegiatan masyarakat meski ada sebagian kecil yang hanya kadang-kadang saja. Dari tabel di atas juga terlihat bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi seseorang mengikuti kegiatan RT/masyarakat. Semakiin tinggi pendidikan, ternyata makin banyaklah yang mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan mereka yang belum tamat SLTA, kurang dari separuhnya mengikuti kegiatan masyarakat. Kecenderungan mereka yang berpendidikan tinggi adalah terlibat dalam bentuk kegiatan masyarakat. Ini bisa menjadi peluang dalam mengembangkan pelayanan dan kerjasama dalam masyarakat. Demikian pula mereka yang berpendidikan menengah juga perlu diperhatikan. Keterlibatan mereka dalam masyarakat perlu ditingkatkan dan sekaligus mencari bentuk

keterlibatan yang memang sesuai dengan situasi mereka ini. Communio yang dipikirkan lebih berupa communio eksternal yang berkaitan dengan relasi masyarakat di luar komunitas beriman ini. Namun bagaimana dengan communio internalnya? Kedua paham ini harus berimbang.

Seperempat dari mereka tidak memanfaatkan kesempatan untuk menjadi terang dan garam masyarakat serta membangun persaudaraan sejati. Mereka kehilangan moment perjumpaan dengan sebuah kenyataan iman. Iman menjadi makin nyata bila bertemu dengan kehidupan, berjumpa dengan yang lain dari dirinya. Persaudaraan sejati dapat semakin diberdayakan saat orang mau berjumpa dengan saudara-saudarinya tanpa dibatasi oleh sekat-sekat iman. Seperti terang yang tidak dibatasi oleh sebuah wilayah. Ia akan memancarkan terangnya sejauh ia bisa. Dan dalam hal ini, tingkat pendidikan mempengaruhi sosialisasi mereka dalam masyarakat.

Tabel 34: Pendidikan dan Alasan Mengikuti Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat

Pendidikan

Alasan Mengikuti Kegiatan di Lingkungan RT/Masyarakat

N

Tanggungjawab sebagai warga masyarakat (kewajiban) Relasi yang sudah dibangun dengan warga (tahap relasional) Motivasi iman dan kemanusiaan Tidak terlibat karena tidak kenal dan tidak tahu Tidak terlibat karena sibuk Tidak memberi alasan

Sebelum Tamat SLTA 42,9 14,3 0,0 14,3 14,3 14,3 7

Tamat SLTA 31,9 25,5 2,1 6,4 21,3 12,8 47

Diploma 45,0 25,0 15,0 5,0 10,0 0,0 20

Sarjana 40,9 27,3 9,1 6,8 9,1 6,8 44

38,1 25,4 6,8 6,8 14,4 8,5 118

Dari mereka yang mengikuti kegiatan masyarakat/RT, kebanyakan dari mereka terdorong oleh alasan tanggungjawab sebagai warga masyarakat. Artinya, sepertiga lebih responden (38,1%) terdorong terlibat dalam masyarakat karena

memang sudah menjadi kewajiban sebagai warga masyarakat. Sedangkan seperempat responden (25,4%) lebih terdorong karena ingin menjaga atau membangun relasi dengan warga masyarakat. Artinya mereka ini lebih terdorong karena alasan relasional, bukan hanya sekedar kewajiban saja. Namun sedikit sekali (6,8%) responden yang terdorong oleh alasan iman atau kemanusiaan.

Maka peran sebagai terang dan garam masyarakat baru disadari dalam tahap kewajiban dan relasi sosiologis, belum menyentuh pada sisi iman/moral. Justru mereka yang merupakan tamatan SLTA-lah yang paling banyak terdorong oleh motivasi iman (15%). Namun yang perlu mendapat perhatian adalah mereka yang merupakan responden yang belum tamat SLTA. Tidak ada dari mereka ini yang memiliki motivasi iman dalam bermasyarakat. Dan sedikit pula yang memiliki alasan dalam tahap relasional/sosiologis (14,3%). Padahal seharusnya communio eksternal mengalir dari iman. Sedangkan dalam keterlibatan di masyarakat, sebagian besar dari mereka mengikuti kegiatan masyarakatnya. Hal ini bisa menjadi peluang sekaligus sebuah tantangan.

Sedangkan mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan masyarakat atau kadang-kadang memiliki alasan lebih karena sibuk. Lebih dari sepersepuluh responden (14.4%) tidak terlibat karena sibuk. Dengan jumlah kecil (6,8%), selain sibuk, ada pula yang memberikan asalan karena tidak tahu atau diberi tahu akan kegiatan di masyarakat. Atau mereka merasa tidak diajak oleh masyarakat RT sekitarnya. Responden yang merasa sibuk sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan masyarakat adalah mereka yang merupakan tamatan SLTA. Lebih dari seperlima responden ini (21,3%) merasa sibuk.

Komunitas yang lebih luas yang didasari oleh persaudaraan sejati itu nampak sebagai sebuah komunitas formal. Berbanding terbalik dengan keikutsertaan sebagian besar umat PKKR dalam hidup bermasyarakat, umat PKKR sepertiga lebih dari mereka menjadikan hidup bermasyarakat sebagai sebuah kewajiban, terutama oleh mereka yang berpendidikan diploma dan yang belum tamat SLTA. Komunitas yang dibangun dengan dasar macam inilah yang disebut sebagai komunitas yang formal. Komunitas semacam ini memiliki tantangan yang besar, antara lain mudah bosan dan jenuh, relasi tidak mendalam dan mudah retak bila ada konflik. Yang menarik adalah secuilnya mereka yang tergerak untuk terlibat karena iman mereka. Ternyata dorongan keterlibatan itu tidak disadari sebagai usaha menjadikan diri sebagai terang dan garam masyarakat. Atau dengan kata lain, satu bagian visi ini tidak dipahami dan dihidupi oleh hampir seluruh umat. Pertemuan APP yang membawa jembatan antara iman dan perutusan belum mampu membawa umat memaknai perutusan mereka itu.18 Nampaknya responden diploma mampu menjadi pelopor dalam menghubungkan antara iman dan perutusan mereka. Sehingga dengan demikian komunitas Lingkungan mampu mendorong warganya untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan RT dan masyarakat.

18 Caritas Indonesia-LPPS, Profil Program Aksi Puasa Pembangunan Nasional (APP Nasional), 2.

3.6.4 Wujud Perhatian kepada Orang KLMT

Tabel 35: Pendidikan dan Wujud Perhatian kepada Orang KLMT yang sudah/akan Dilakukan

Pendidikan

Wujud Perhatian kepada Orang KLMT yang sudah/akan Dilakukan

N

Mengumpulkan dana APP Prapaskah dan GERAH Mendoakan Mereka saat doa lingkungan maupun pribadi mengadakan kunjungan/bakti sosial Memberikan Sapaan atau bantuan moril Tidak Ada Dua dimensi/aspek Tiga dimensi/aspek Seluruhnya

Sebelum Tamat

SLTA 28,6 14,3 14,3 0,0 0,0 28,6 0,0 14,3 7

Tamat SLTA 29,8 4,3 10,6 6,4 0,0 25,5 12,8 10,6 47

Diploma 30,0 0,0 5,0 5,0 5,0 40,0 10,0 5,0 20

Sarjana 20,5 2,3 9,1 15,9 0,0 20,5 13,6 18,2 44

26,3 3,4 9,3 9,3 0,8 26,3 11,9 12,7 118

Separuh dari seluruh responden (50,9%) akan/telah mewujudkan perhatian mereka kepada orang KLMT melalui lebih dari satu bentuk perwujudan.

Sedangkan separuh lainnya hanya pada satu perwujudan saja. Wujud perhatian yang paling banyak dilakukan adalah dengan mengumpulkan dana APP dan GERAH (Gerakan Seratus Rupiah). Seperempat lebih responden memilih perwujudan ini (26,3%). Perwujudan ini adalah kegiatan yang dapat dilakukan secara pribadi. Perwujudan ini juga merupakan kegiatan yang rutin dan selalu ada (GERAH dilakukan dengan mengumpulkan uang seratus rupiah setiap hari selama satu tahun ini). Bentuk perwujudan kedua dengan peminat yang sedikit, adalah mengadakan kunjungan atau bakti sosial (9,3%) dan memberikan sapaan moril (9,3%). Kedua kegiatan ini bisa dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama dengan kelompok tertentu namun dapat langsung bersentuhan dengan orang KLMT.

Perwujudan lain yang lebih sedikit dipilih responden (3,4%) adalah dengan mendoakan orang KLMT pada saat doa lingkungan maupun doa pribadi.

Tentunya dalam perwujudan ini responden tidak bersentuhan langsung dengan orang KLMT. Yang paling banyak menggunakan seluruh bentuk perwujudan adalah responden diploma. Lebih dari separuh responden ini (55%) menggunakan lebih dari satu bentuk perwujudan. Namun sedikit sekali (5%) dari responden ini yang menggunakan seluruh bentuk perwujudan. Berbeda dengan responden sarjana, yang paling banyak menggunakan seluruh bentuk perwujudan itu. Hampir seperlima dari responden kategori ini (18,2%) pula, menggunakan seluruh bentuk perwujudan tersebut.

Bagi para diploma, komunitas karitatif yang menjadi pilihan mereka harus menampakkan wujudnya dalam perhatian kepada orang yang KLMT. Memang tidak banyak yang berpendapat demikian. Namun antusias mereka pada solidaritas bisa menjadi peluang untuk menggerakkan yang lain. Demikian pula dalam pertemuan APP, mereka berpeluang membangun pemahaman dan memunculkan ide menggerakkan rasa solidaritas itu.

Permasalahan yang dihadapi adalah belum maksimalnya pertemuan APP menggerakkan orang dalam dimensi solidaritas. Padahal tujuan dari Pertemuan APP adalah menggerakkan orang sampai pada tataran solidaritas. Komunitas karitatif yang menjadi gambaran mayoritas umat PKKR ternyata berupa idealisasi.

Tantangannya, lebih banyak mereka ini terkungkung dalam membangun komunitas yang berada di dalam. Konsentrasi umat pada pertemuan APP kali ini terletak pada pengumpulan dana GERAH yang terbukti belum dimaknai sebagai sebuah gerakan solidaritas konkret. Padahal, solidaritas bagi Paulus dapat menjadi

jalan untuk masuk ke dalam communio bersama Allah karena solidaritas menjadi wujud tindakan Allah dalam menyelamatkan umat manusia.19 Communio masih berkutat pada communio internal. Perhatian mereka terletak pada usaha untuk melakukan sesuatu oleh dan dalam kelompok mereka.

3.6.5 Wujud Kesaksian Iman dalam Masyarakat setelah Mendalami Tema APP

Tabel 36: Pekerjaan dan Wujud Kesaksian Iman dalam Masyarakat setelah Mendalami Tema APP

Pendidikan

Wujud Kesaksian Iman dalam Masyarakat setelah Mendalami Tema APP

N

Hidup sebagai warga yang jujur dan menjadi teladan hidup warga lain Aktif mengikuti kegiatan masyarakat Mendukung kegiatan masyarakat yang ada dengan dana/materi Tidak ada yang dibuat Dua dimensi (pribadi dan masyarakat) Ketiga-tiganya

Sebelum Tamat SLTA 57,1 14,3 0,0 0,0 0,0 28,6 7

Tamat SLTA 55,3 6,4 12,8 2,1 12,8 10,6 47

Diploma 45,0 25,0 10,0 0,0 15,0 5,0 20

Sarjana 43,2 15,9 11,4 4,5 11,4 13,6 44

49,2 13,6 11,0 2,5 11,9 11,9 118

Pertemuan APP tentunya mendorong seseorang untuk mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam masyarakat, sebuah medan di mana ia hidup. Sisi ini adalah sebuah dimensi (ke luar) dari tujuan APP. Umat beriman didorong untuk berperan di dalam masyarakatnya. Sebagai bagian masyarakat ia memiliki tanggungjawab hidup bermasyarakat dan bersosialisasi untuk menghadapi apa yang menjadi keprihatinan dan persoalan masyarakat.

Sebagai kristiani ia diajak untuk membangun masyarakat yang sejalan dengan

19 J.M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, 7.

nilai-nilai kemanusiaan dan kristiani. Artinya ia menjadi “terang” dan “garam”

bagi masyarakatnya. Perannya dalam masyarakat dapat dilakukan dalam berbagai bentuk keterlibatan. Pertama dalam lingkup pribadi yaitu melalui hidup pribadinya. Umat sebagai pribadi, hidup sebagai warga yang jujur dan sekaligus bisa menjadi teladan orang lain. Dalam hidupnya ia menggulati nilai-nilai kristiani. Kedua, dengan memanfaatkan apa yang dimiliki berupa dana dan materi.

Hal ini biasanya dilakukan dengan ikut mengumpulkan dana APP. Selain itu tentunya di luar dana APP yang memang setiap umat sudah melakukannya.

Apalagi sekarang ini Keuskupan Purwokerto sedang mengadakan Aksi Gerakan Seratus Rupiah (Gerah) dalam rangka Tahun Kerpihatinan Keuskupan mulai Juni 2009 sampai dengan Mei 2010. Umat diminta mengumpulkan setiap hari uang seratus rupiah per orang. Uang itu dikumpulkan untuk membantu berbagai karya kerasulan ekonomi atau sebagai dana untuk membantu kesejahteraan orang yang tidak mampu. Hanya saja, keterlibatan semacam ini tentunya harus diikuti dengan keterlibatan diri dalam masyarakat. Memang dalam sebuah kegiatan masyarakat, peran dana/materi amat berpengaruh. Namun bila hanya dalam bentuk seperti ini tidaklah cukup. Keterlibatan semacam ini tidak dapat menggantikan kehadirannya dalam masyarakat. Ketiga, melalui kehadiran dan perannya, aktif mengikuti kegiatan masyarakat. Ia bisa menjadi partisipan, pelaku, bahkan inisiator kegiatan-kegiatan bersama dalam masyarakatnya. Berbagai bentuk kegiatan-kegiatan itu mulai dari yang rutin maupun yang aksidental, entah ronda malam, arisan dasawisma, karang taruna, kelompok tani, Perayaan Hari Kemerdekaan, rapat RT dan sebagainya.

Maka untuk menjadi terang dan garam dalam masyarakat, umat beriman diharapkan dapat berperan melalui hidup pribadinya dan sekaligus melalui

partisipasi dan keikutsertaannya dalam kegiatan masyarakat. Dengan begitu responden diharapkan mampu hidup sebagai warga yang jujur namun juga terlibat dengan mengikuti kegiatan masyarakat. Dan syukur bila mendukung kegiatan masyarakat yang ada dengan materi. Tentunya yang terakhir ini adalah bagi yang memiliki yang bisa dibagikan.

Hampir separuh responden (49,2%) memilih hanya dengan hidup pribadinya sebagai warga yang jujur dan mampu menjadi teladan hidup warga lain. Artinya APP lebih banyak mendorong responden mewujudkan iman dalam masyarakat melalui lingkup pribadi. Sedikit pula responden yang menunjukkan peran dalam masyarakat melalui keterlibatan dalam kegiatan masyarakat saja (13,6%). Namun lebih dari seperlima responden (23,8%) sadar bahwa selain melalui hidup pribadi, mereka pun harus ikut “nyemplung” dalam kegiatan dan dinamika masyarakatnya. Hanya sedikit sekali yang tidak terdorong oleh pertemuan APP (2,5%). Maka pertemuan APP lebih banyak mendorong peserta dalam bidang pribadi.

Responden yang belum tamat SLTA lebih dari seperempatnya (28,6%) melakukan ketiga bentuk wujud kesaksian iman sebagai dampak pendalaman tema APP. Mereka ini adalah yang paling banyak di antara responden kategori lainnya. Responden diploma merupakan kategori responden yang paling sedikit memilih dua atau tiga aspek perwujudan kesaksian iman itu. Seperlima dari mereka (20%) mewujudkan melalui hidup pribadi, keaktifan dalam masyarakat, dan memberi dukungan pada kegiatan masyarakat.

Iman belum melebar ke dalam tataran yang lebih luas yaitu kehidupan bersama dengan yang lain. Pertemuan APP membawa dampak personal bagi

separuh umat PKKR. Namun jumlah itu tensentuh hanya dalam tataran personal saja. Persaudaraan sejati yang terindikasi dari dampak inter-relasi dengan yang lain belum menjadi dampak nyata dan signifikan dari pertemuan APP tersebut.

Persaudaraan sejati yang menjadi bagian dari isi komunitas yang diperjuangkan, belum bisa digulati dengan pertemuan APP itu. Pertemuan lingkungan tidak serta merta membangun komunitas yang terbuka pada masyarakat tempat mereka hidup.

3.6.6 Medan Pengungkapan/Perwujudan Iman Kristiani

Tabel 37: Pendidikan dan Aspek Kehidupan yang Menjadi Medan Pengungkapan/Perwujudan Iman Kristiani

Pendidikan

Aspek Kehidupan yang Menjadi Medan Pengungkapan/Perwujudan Iman Kristiani

N

Doa/Liturgi Pekerjaan Kehidupan Berkeluarga Relasi dengan tetangga Kegiatan masyarakat Dua sampai tiga dimensi/aspek Empat sampai lima dimensi/aspek

Sebelum Tamat SLTA 14,3 0,0 14,3 0,0 14,3 28,6 28,6 7

Tamat SLTA 10,6 0,0 12,8 17,0 6,4 25,5 27,7 47

Diploma 10,0 5,0 5,0 15,0 15,0 10,0 40,0 20

Sarjana 4,5 4,5 9,1 9,1 11,4 25,0 36,4 44

8,5 2,5 10,2 12,7 10,2 22,9 33,1 118

Dari keseluruhan responden, hanya sepertiga responden (33,1%) yang mampu menunjukkan iman kristianinya dalam empat sampai lima bidang/aspek tersebut. Seperlima lebih responden memilih dua sampai tiga dimensi/aspek (22,9%). Duaperlima yang lain (44,1%) memilih salah satu aspek saja. Bagi mereka yang memilih satu aspek saja, aspek relasi dengan tetangga adalah yang paling banyak digunakan oleh mereka dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman mereka (12,7%). Sedangkan aspek pekerjaan saja hanya dipilih oleh secuil

responden (2,5%). Maka dapat dikatakan bahwa para responden, sebagian besar (66,9%), belum mewujudkan imannya dalam keseluruhan kehidupannya. Atau, tidak setiap aspek kehidupan dapat dipahami dan disadari sebagai medan perwujudan iman oleh sebagian besar responden (duapertiga responden).

Responden bergelar pendidikan diploma adalah responden yang paling banyak memilih empat sampai lima dimensi kehidupan sebagai medan perwujudan iman. Mendekati separuh dari mereka memilih seluruh dimensi yang ada (40%). Namun separuh dari responden ini hanya menggunakan satu medan perwujudan saja (50%). Sementara responden yang lain kurang dari separuh jumlah masing-masing kategori mereka. Bahkan para sarjana, hampir dua pertiga dari mereka memilih lebih dari satu aspek/dimensi perwujudan iman (61,4%).

Tingkat pendidikan tinggi mempengaruhi dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman umat. Maka kekuatan pertemuan APP dalam mengajak umat untuk perwujudan iman yang utuh (semua aspek) terletak pada cara penyajian pertemuan yang seharusnya bisa mudah ditangkap oleh mereka yang selain berpendidikan tinggi.

Persaudaraan sejati belum sepenuhnya disadari sebagai keterlibatan yang lebih luas. Hal ini terlihat dari dimensi-dimensi perwujudan iman yang belum tergarap dengan maksimal. Belum tergarapnya dimensi-dimensi ini bisa menjadi sebab sekaligus akibat dari kurang berpengaruhnya pertemuan APP bagi perwujudan iman umat PKKR. Sebagai dampak, pertemuan APP belum menyentuh kelima dimensi tersebut. Hal ini bisa terkait dengan bahan yang diberikan, metode yang digunakan serta cara penyampaian materi kepada umat atau peserta yang hadir. Sebagai sebab, kelima dimensi yang belum disadari

sebagai sebuah keseimbangan perwujudan iman membuat para peserta pertemuan belum mampu menangkap pesan dan tujuan dari pertemuan APP tersebut.

Hal ini mengakibatkan komunitas yang mengembangkan persaudaraan sejati seperti yang dicita-citakan PKKR belum terwujud. Banyak kesempatan yang ada diabaikan oleh masing-masing pribadi dan komunitas lingkungan.

3.6.7 Dampak Pertemuan APP bagi keterlibatan dalam Masyarakat

Tabel 38: Pendidikan dan Pertemuan APP Mendorong Semakin Terlibat dalam Kegiatan di Masyarakat

Pendidikan

Pertemuan APP Mendorong Semakin

Terlibat dalam Kegiatan di Masyarakat N

Ya Tidak

Sebelum Tamat SLTA 57,1 42,9 7

Tamat SLTA 72,3 27,7 47

Diploma 80,0 20,0 20

Sarjana 81,8 18,2 44

76,3 23,7 118

Pertemuan APP sudah dirasakan hampir sebagian besar responden, mampu mendorong mereka untuk semakin terlibat dalam kegiatan di masyarakat.

Tiga perempat responden ini (76,3%) terdorong oleh pertemuan APP untuk lebih terlibat dalam kegiatan di masyarakat. Mereka ini sebenarnya sudah terlibat di masyarakat. Dan pertemuan APP mendorong mereka untuk semakin terlibat di masyarakat lebih dari sebelumnya. Dengan kata lain, pertemuan APP mampu memberi efek yang signifikan bagi mereka ini dalam hal keterlibatan dalam masyarakat. Namun pertemuan APP ini tidak begitu mendorong hampir seperempat responden (23,7%). Jumlah ini bukan jumlah yang kecil. Terlebih para responden yang belum tamat SLTA. Hanya separuh responden kategori ini yang terdorong oleh pertemuan APP. Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama,

mereka lebih terdorong oleh kegiatan lain selain pertemuan APP. Kemungkinan kedua, pertemuan APP pada dirinya sendiri memang tidak mampu mendorong mereka untuk semakin terlibat di masyarakat. Berbeda sekali dengan para sarjana yang sebagian besar (81,8%) menjadi semakin terlibat dengan mengikuti pertemuan APP. Maka dari tabel di atas, terlihat bahwa tingkat pendidikan memberi pengaruh pada tanggapan terhadap pertemuan APP tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mudah mereka menangkap dan memahami sisi sosial dari pertemuan APP.

Pertemuan APP tidak berdampak langsung kepada keterlibatan umat dalam masyarakat. Pertemuan ini memang bisa mengajak orang untuk menjadi terang dan garam masyarakat, namun belum bisa menjadi sarana dan kesempatan yang signifikan dan efektif. Melalui pertemuan APP, lingkungan, dalam tingkat lokal yang lebih konkret, diharapkan menjadi persekutuan dalam kesaksian iman.

Kesaksian iman itu berupa membantu setiap orang yang kesulitan mencari dan

Kesaksian iman itu berupa membantu setiap orang yang kesulitan mencari dan