Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 1 ADMINISTRASI PENYIDIKAN PEMBERIAN
KETERANGAN TIDAK BENAR UNTUK MENDAPATKAN PASPOR
OLEH : SILFIA VIDIYA FIRMANTI NIP : 19870521 201712 2 001
KANTOR IMIGRASI KELAS I KHUSUS TPI SOEKARNO-HATTA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 2 DAFTAR ISI
I.PENDAHULUAN ... 3
II.TATA CARA PENYIDIKAN PROJUSTITIA ... 5
2.1 LAPORAN KEJADIAN ... 5
2.2 PEMERIKSAAN SAKSI ... 6
2.3 PEMERIKSAAN TERSANGKA ... 7
2.4 PENANGKAPAN ... 8
2.5 PENAHANAN ... 9
2.6 PENANGGUHAN PENAHANAN ... 10
2.7. PEMBANTARAN PENAHANAN ... 11
2.8. PEMERIKSAAN SAKSI AHLI ... 11
2.9. PENYITAAN BARANG BUKTI ... 12
2.10. PELIMPAHAN BERKAS PERKARA ... 12
III. KESIMPULAN ... 12
DAFTAR PUSTAKA………..…………..………..13
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 3 I.PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Seiring dengan perkembangan zaman dan di beri kebebasannya warganegara asing untuk masuk serta melakukan kegiatan di wilayah Republik Indonesia memunculkan permasalahan baru berupa banyaknya pelanggaran keimigrasian baik berupa pelanggaran administratif maupun pelanggaran Tindak pidana keimigrasian.
Dalam menghadapi kasus kasus pelanggaran keimigrasian dan tindak pidana keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian penyidik pegawai negeri sipil wajib melakukan penyelidikan dengan melakukan pemeriksaan dan pengumpulan barang bukti untuk bisa membuktikan suatu perbuatan baik berupa pelanggaran keimigrasian maupun tindak pidana keimigrasian.
Alat bukti sah untuk membuktikan kebenaran materiil dalam dugaan tersangka bersalah atau tidak harus di dukung oleh keterangan saksi dan sangkaan yang di prasangkakan sehingga unsur dua alat bukti yang di perlukan untuk mengatakan telah terjadi tindak pidana terpenuhi.
Awal dari rangkaian peradilan pidana adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apakah benar telah terjadi suatu peristiwa pidana sebagaimana yang disangkakan dengan membuktikan perbuatan yang diduga tindak pidana maka penyidik harus mengumpulkan bahan keterangan dari saksi dan alat bukti yang berhubungan langsung dengan peristiwa. Pemenuhan unsur dalam ketentuan peraturan perundangan hanyalah upaya minimal, dalam taraf akan masuk kedalam peristiwa hukum yang sebenarnya dengan pemenuhan unsur berupa tercukupinya semua alat bukti.
Kecermatan penyelidikan dan penyidikan bertujuan untuk dapat membuktikan suatu peristiwa pelanggaran hukum yang dapat di proses secara projustitia dengan mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Proses dimulainya penyelidikan dan penyidikan harus selalu berpedoman dengan hukum formil yang diatur dalah KUHAP untuk bersinergi dengan undang undang tindak pidana khusus berupa undang – undang dimana Penyidik pengawai negeri sipil bernaung.
Mekanisme tatacara seorang penyelidik dan seorang penyidik mengumpulkan bahan keterangan yang di peroleh dari tempat tertentu haruslah memiliki pemahaman dan pemikiran tentang hukum yang benar terlebih kemampuan untuk bisa menggali
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 4 suatu keterangan yang mempunyai nilai hukum sehingga bermuara kepada sebuah keadilan yang sesungguhnya.
Dalam hal ini tindakan hukum lainnya, perlu kita pahami dengan benar bagaimana tentang tata cara, penyitaan, tata cara penahanan, pembuatan berita acara dan berita acara pemeriksaan dengan meletakkan kata kata yang benar sesuai kaidah hukum, artinya dengan peletakkan kata kata yang tepat dan benar berarti kita juga telah melakukan upaya meminimalisir kesalahan kesalahan yang fatal dan tidak perlu terjadi.
Proses hukum yang harus ditaati dalam pemberkasan adalah di setiap surat yang di keluarkan dan berkenaan dengan suatu kasus yang disangkakan wajib di bubuhkan tanda tangan agar berkekuatan hukum sehingga apabila kepentingan kepentingan pemenuhan ketentuan hukum formil tidak terpenuhi secara benar maka akan menimbulkan ancaman bagi legalitas dan keabsahan serta kekuatan perjalanan hukum dalam pemberkasan sampai ke persidangan yang juga dapat menimbulkan kegagalan proses oenegakan hukum melalui upaya pemenuhan hukum formil dan upaya pemenuhan hukum materialnya. Oleh sebab itu dalam penanganan perkara di butuhkan kejelian menggikuti prosedur yang benar menurut ketentuan yang berlaku.
Dalam proses pemberkasan sering kali di temukan adanya kesalahan kesalahan yang dapat membatalkan suatu sangkaan terhadap perbuatan tindak pidana sehingga sering di berikan pengembalian berkas untuk di koreksi dan perbaikan ulang yang kita sebut P 18-P19. Disamping itu bila dalam proses penyidikan terdapat kesalahan atau kelalaian dari pihak penyidik maka hal tersebut dapat menyebabkan perkara di tutup demi hukum atau di pra pradilankan. Maka penanganan perkara saat menentukan seseorang di jadikan tersangka maka penyidik wajib menulis secara lengkap identitas berupa Nama, Tempat tanggal lahir, Jenis kelamin, agama dan alamat domisili sehingga dalam pembuktiannya mendapatkan orang yang benar benar sebagai pelaku perbuatan tindak pidana yang disangkakan.
I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam perkembangan saat ini sering didapati permasalahan permasalahan keimigrasian yang berpotensi menjadi perbuatan tindak pidana keimigrasian antara lain dalam hal memberikan keterangan tidak benar untuk mendapatkan paspor Republik Indonesia dimana pelaku hal ini bisa warganegara Indonesia maupun warganegara asing dengan perbuatan memberikan keterangan tidak benar dalam mendapatkan paspor RI sebagaimana dimaksud dalam pasal 126 huruf c Undang undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian.
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 5 Pemberian keterangan tidak benar untuk mendapatkan paspor RI bisanya terjadi dengan melampirkan data data berupa KTP, Kartu keluarga, Akta kelahiran atau surat nikah atau izasah sebagai bagian persyaratan paspor namun surat surat tersebut palsu.
Dalam penanganan perkaranya pemberian keterangan tidak benar dapat dibagi menjadi 2 yaitu pelaku sebagai warganegara Indonesia dan pelaku sebagai warganegara asing.
Untuk pelaku warganegara Indonesia biasanya pemberian keterangan tidak benar dengan melampirkan data data palsu dilakukan untuk tujuan bekerja di luar negeri atau orang tersebut sebelumya telah memiliki paspor namun identitas yang di gunakan berbeda sementara untuk warganegara asing pemberian keterangan tidak benar agar bisa mendapatkan paspor RI dan menjadi warganegara Indonesia secara cepat.
Disamping itu permasalahan lain yang kerap terjadi dalam keimigrasian adalah penggunaan paspor milik orang lain, menggunakan paspor palsu, penyeludupan orang, penyalahgunaan ijin tinggal dan lain sebagainya dimana semua hal ini merupakan perbuatan tindak pidana keimgrasian.
Sehingga penanganan perkara yang di lakukan oleh PPNS sebagaimana di maksud dalam pasal 1 angka 2 KUHAP berbunyi sebagai berikut :
“ Penyidikan adalah serangkaian tindakan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang undang untuk mencari serta menggumpulkan bukti yang dengan itu membuat terang suatu perbuatan tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangka. “
II.TATA CARA PENYIDIKAN PROJUSTITIA 2.1 LAPORAN KEJADIAN
Dalam pemahaman umum laporan atau pengaduan akan suatu peristiwa adalah tindakan seseorang untuk memberitahukan kepada penyidik sehingga pemberitahuan tersebut dapat di berikan suatu tindakan sesuai dengan ketentuan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 24 dan angka 25 KUHAP masing masing berbunyi :
“ Pasal 1 angka 24 KUHAP”
“ Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena akan kewajibannya berdasarkan undang undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang diduga akan terjadi peristiwa pidana”
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 6
“ Pasal 1 angka 25 KUHAP”
“ pengaduan tentang pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikan:
Dua pengertian istilah diatas sama sama menyampaikan informasi berdasarkan hak hak hukum kepada aparatur negara yang berwenang untuk selanjutnya laporan tersebut dapat di tindak lanjuti dengan melakukan suatu tindakan hukum dengan tata cara penyidikan membuat laporan kejadian yang memenuhi unsur unsur berupa :
1. Tindak pidana yang telah di lakukan 2. Tempat tindak pidana dilakukan 3. Cara tindak pidana dilakukan 4. Tersangka yang melakukan 5. Saksi yang melihat kejadian
6. Barang bukti akan perbuatan tersebut
Setelah menerima laporan tentang pengaduan akan suatu peristiwa dengan kreteria yang telah disimpulkan sebelum di lakukan langkah langkah lainnya maka seorang penyidik akan membuat laporan kejadian akan suatu peristiwa untuk selanjutnya penyidik akan mulai melakukan suatu tindakan hukum berkenaan dengan laporan yang di terima berupa membuat surat perintah tugas dari atasan dan surat perintah penyidikan.
2.2 PEMERIKSAAN SAKSI
Saksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 26 KUHAP berbunyi sebagai berikut.
“ saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri”
Poin penting yang terkandung dalam keterangan saksi untuk menentukan suatu perkara pidana bukanlah perkara yang sederhana dan tidak semua orang dapat memahaminya dengan mudah, kondisi inilah yang dapat memicu keadaan bisa semakin krusial, karena untuk menentukan keadaan itu tentu dibutuhkan pemahaman hukum yang cukup, apakah saksi akan tetap menjadi saksi dimana keadaan itu tidak bisa
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 7 menjamin karena ada peluang yang di manfaatkan untuk kepentingan yang bertentangan dengan hukum. Agar harapan terlindungi dari jeratan hukum perkara yang sebenarnya dapat tercapai dilakukan dengan langkah langkah melanggar hukum.
Untuk menentukan apakah saksi itu adalah betul betul saksi di perlukan kecermatan tersendiri terhadap kasus yang sedang terjadi oleh penyidik sehingga dalam penanganan perkara dapat secara objektif. Pemeriksaan saksi dapat di lakukan secara langsung saat membuat laporan kejadian suatu peristiwa atau menggunakan surat panggilan :
Disamping itu dalam pemeriksaan saksi seorang penyidik harus mampu mengali semua keterangan yang berkenaan dengan sangkaaan akan suatu peristiwa dimana dalam prosesnya seorang penyidik dapat menggambil sumpah yang menerangkan apa yang disampaikan dalam kesaksiannya dan tertuang dalam berita acara pemeriksaan adalah sama dengan yang akan disampaikan dimuka pengadilan, hal ini dapat di lakukan jika sekiranya penyidik meragukan bahwa saat persidangan saksi akan berhalangan untuk hadir.
Setelah melakukan pemeriksaan saksi saksi yang berkenaan dengan perbuatan tindak pidana maka selanjutnya penyidik akan mengumpulkan barang bukti dan melakukan pemeriksaan terhadap tersangka.
2.3 PEMERIKSAAN TERSANGKA
Tersangka sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 14 KUHAP menjelaskan sebagai berkut :
“tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadanya berdasarkan bukti permulaan yang cukup patut diduga sebagai pelaku tindak pidana”
untuk dapat dikatakan sebagai tersangka menurut ketentuan pasal 1 angka 14 KUHAP seseorang harus memenuhi unsur-unsur yang di tentukan sebagai berikut :
1. Yang karena perbuatannya
2. Dengan perbuatannya itu harus di dukung dengan bukti permulaan
Berdasarkan ketentuan dalam pasal 1 angka 14 KUHAP tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya menimbukan suatu kerugian terhadap orang lain atau perbuatan yang bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku.
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 8 Dalam pemeriksaan tersangka seorang penyidik harus memenuhi ketentuan ketentuan sebagaimana diatur dalam KUHAP yaitu menyediakan penasehat hukum serta penterjemah sebelum dimulainya pemeriksaan karena hal ini sangat penting selain itu sebelum dimulainya pemeriksaan seorang penyidik wajib menjelaskan bahwa atas hal apa seseorang di periksa.
Proses pemeriksaan tersangka adalah titik pangkal untuk memperoleh keterangan tentang peristiwa pidana yang sedang di periksa, akan tetapi sekalipun tersangka yang menjadi titik tolak pemeriksaan tidak boleh dipandang sebagai objek pemeriksaan, karena tersangka harus di tempatkan pada kedudukan manusia yang memiliki harkat dan martabat serta harus dinilai sebagai subjek dengan asas praduga tak bersalah sampai mendapatkan keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Pada pemeriksaan tersangka seorang penyidik harus memperhatikan keterangan yang disampaikan dan tidak boleh bertindak diluar keterangan tersebut, salah satu ketentuan tersebut mengenai hal hal tersangka didalam pemeriksaan diatur dalam KUHAP. Ketika melakukan pemeriksaan seorang penyidik tidak dibenarkan memberi tekanan, paksaan atau ancaman guna memperoleh suatu keterangan karena semua keterangan tersangka dapat di jadikan kesaksian akan perbuatannya di muka persidangan.
Dalam proses pemeriksaan semua keterangan yang disampaikan oleh tersangka wajib di catat dan dituangkan dalam berita acara pemeriksaan untuk selanjutnya di teliti dan dihubungan dengan peritiwa pidana yang disangkakan
Proses pemeriksaan tersangka dapat di lakukan dengan menghadirkan tersangka ke tempat penyidik atau jika tersangka berada di tempat yang jauh dan sangat sukar untuk dihadirkan maka penyidik bisa mendatangi kediaman tersangka untuk melakukan pemeriksaan hal ini diatur dalam ketentuan pasal 113 KUHAP.
Selain itu dalam pemeriksaan seorang tersangka dapat meminta kepada penyidik untuk menghadirkan saksi yang mengguntungkan atau saksi meringankan akan perbuatan pidana yang di sangkakan kepada tersangka.
2.4 PENANGKAPAN
Setelah semua proses pemeriksaan saksi dan tersangka lengkap maka langkah hukum yang di lakukan oleh penyidik selanjutnya adalah melakukan atau mengeluarkan surat perintah penangkapan dengan berita acara penangkapan sebagaimana tertuang
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 9 dalam Pasal 16, pasal 17, pasal 18 dan pasal 19 undang undang nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
Pasal 16 KUHAP
1. Untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan atas perintah penyidikan berwenang melakukan penangkapan.
2. Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dan penyelidik berwenang untuk melakukan penangkapan.
Tindakan penangkapan adalah tindakan hukum yang di lakukan oleh penyidik atas perintah yang bersifat memaksa kepada seseorang yang diduga kuat sebagai pelaku tindak pidana dan penangkapan tersebut dilakukan agar memudahkan penyidik untuk melakukan pemeriksaan lanjutan serta mencegah kepada tersangka menghilangkan barang bukti. Akan tetapi perlu diingat bahwa untuk menentukan tersangka dengan tindakan penangkapan maka penyidik wajib memperoleh dasar dasar yang kuat dengan keterangan saksi serta barang bukti disamping dalam penanganan perkara tindak pidana khusus maka langkah mutlak yang harus di lakukan oleh penyidik adalah mensinkronisasi (kesesuaian) antara fakta di lapangan dengan ketentuan ketentuan peraturan yang bersifat khusus.
Surat perintah penangkapan di keluarkan dengan masa berlaku satu hari sejak di keluarkan dengan kertas berwarna kuning selanjutnya setelah di lakukan penangkapan maka penyidik wajib membuat berita acara penangkapan.
2.5 PENAHANAN
Berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan, penahanan adalah bagian dari kewenangan yang di berikan kepada penyidik untuk melakukan pembatasan hak hak seseorang antara lain pembatasan hak kebebasan untuk bergerak dengan leluasa dan pembatasan untuk tidak bisa bebas tinggal disuatu tempat yang di sukai sebagaimana tertuang dalam pasal 1 angka 21 KUHAP berbunyi :
“ penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa ditempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan menempatkannya dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang undang “
Penahanan harus dilakukan terhadap seseorang yang harus terlebih dahulu berstatus hukum sebagai tersangka atau terdakwa dan hanya dapat di lakukan di tempat tertentu yaitu di rumah tahanan negara yang sudah teregister menurut hukum selain itu untuk
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 10 tempat penahanan dalam rangka penyidikan bisa di lakukan di tempat penyidik berada dengan mengeluarkan surat penahanan untuk masa penahanan selama 20 (dua puluh) hari.
Untuk melakukan penahanan harus memenuhi persyaratan karena penahanan bukanlah tindakan yang begitu saja dapat di lakukan oleh seorang penyidik terhadap seseorang karena untuk melakukan penahanan terlebih dahulu seseorang harus di tetapkan sebagai tersangka dengan dipedomani beberapa hal antara lain.
a. Kehati hatian terhadap barang bukti permulaan yang cukup karena harus berdasarkan keterangan saksi dan bukti yang didapat saat kejadian, disampin itu saksi yang dihadirkan harus benar benar mengetahui atau mengalami kejadian yang dimaksud serta netral
b. Logika hukum hendaknya menjadi porsi yang utama, agar dalam proses hukumnya tidak akan menjebak penyidik sendiri.
c. Pemahaman hukum yang benar adalah harga yang wajib untuk dikuasai oleh setiap penyidik.
Dalam proses penahanan sering kali terdapat permasalahan yaitu terlambatnya penyampaian surat perintah penahanan kepada pihak keluarga sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut seorang penyidik wajib menggaris bawahi bahwa setelah di lakukan penahanan paling lama 2 x 24 jam maka surat tembusan tentang penahanan wajib di serahkan kepada keluarga jika yang bersangkutan memiliki keluarga di Indonesia yang terdiri dari keluarga yang memiliki ikatan langsung dengan tersangka yaitu Istri, anak dan orang tua sementara jika tersangka berkewarganegaraan asing maka surat tembusan tentang pemberitahuan penahanan wajib di sampaikan kepada perwakilan negaranya yang berada di Indonesia.
2.6 PENANGGUHAN PENAHANAN
Dalam peroses penahanan sering kali kita menemukan adanya upaya hukum dan hak dari seorang tersangka untuk melakukan permohonan penangguhan penahanan atau peralihan penahanan dari tahanan kurungan menjadi tahanan rumah atau tahanan kota. Proses permohonan penangguhan penahanan disampaikan kepada penyidik oleh keluarga tersangka dengan memberikann jaminan dan berdomisili di kota yang sama dengan tempat kejadian perkara .
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 11 Disamping itu kita juga mengenal tahanan rumah dimana perbandingannya 1 hari tahanan badan sama dengan 3 hari tahanan rumah atau 5 hari tahanan kota dengan ketentuan bila dilakukan tahanan rumah maka penyidik dapat memerintahkan kepada tersangka untuk berada di rumah dengan melakukan pengawasan atau menempatkan seseorang di sekitar rumah tersebut termasuk juga tahanan kota maka tersangka tidak di perbolehkan untuk keluar dari kota dimana ia di jamin dengan penangguhan.
2.7. PEMBANTARAN PENAHANAN
Pembantaran penahanan adalah proses hukum yang membantarkan masa penahanan dengan tidak menghitungnya sebagai masa tahanan dengan alasan tersangka sedang di rawat di rumah sakit dan hal ini harus di dukung rekam medis serta surat keterangan sakit dari rumah sakit.
2.8. PEMERIKSAAN SAKSI AHLI
Untuk melengkapi berkas perkara maka penyidik wajib menghadirkan saksi ahli yang berkompeten di bidangnya untuk bisa menerangkan akan suatu perbuatan pidana yang disangkakan dimana saksi ahli adalah orang yang mempunyai kepakaran di bidang ilmu pengetahuan tertentu, yang keterangannya diperlukan dalam persidangan. Saksi Ahli tidak menerangkan fakta atau peristiwa, tetapi ia menerangkan sesuatu yang ditanyakan dalam sidang sesuai keahliannya. Sebelum memberikan keterangan, Saksi Ahli wajib diambil sumpah menurut agamanya, atau berjanji di hadapan majelis hakim dalam persidangan.
Dalam sumpahnya, Saksi Ahli menyatakan dia akan menerangkan sesuatu yang diminta sesuai dengan keahliannya dalam ilmu yang dikuasainya. Saksi Ahli bisa dihadirkan oleh para pihak yang berperkara, pihak terkait maupun atas inisiatif majelis hakim sendiri. Ketika dihadirkan dalam sidang, Saksi Ahli boleh ditanya oleh majelis hakim, pemohon, termohon maupun pihak terkait. Ketika ditanya oleh pihak manapun dalam sidang, Saksi Ahli wajib menjawab sesuai ilmu dan kepakarannya. Ahli tidak boleh berpihak pada siapapun.
Keterangan Saksi Ahli yang baru saja diucapkannya, bisa disanggah oleh para pihak yg tidak setuju dengan keterangannya, dan Saksi Ahli wajib menjawabnya. Bisa saja keterangan Saksi Ahli menguntungkan atau merugikan kepentingan salah satu pihak yang berperkara, termasuk merugikan pihak yang menghadirkannya. Layak atau tidaknya keterangan seorang Saksi Ahli untuk dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan, tergantung penilaian hakim.
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 12 2.9. PENYITAAN BARANG BUKTI
Untuk melengkapi berkas perkara maka penyidik wajib mendapatkan persetujuan dari ketua pengadilan negeri tentang penyitaan barang bukti yang akan di ajukan di muka persidangan sebelum ahirnya melakukan pemberkasan.
2.10. PELIMPAHAN BERKAS PERKARA
Setelah menyelesaikan pemberkasan maka penyidik wajib menyerahkan berkas perkara kepada pihak penuntut umum dalam hal ini adalah kejaksaan negeri untuk selanjutnya dilakukan penelitian akan kelengkapan berkas apakah sudah memenuhi unsur-unsur materil sesuai dengan pasal yang disangkakan dan jika belum lengkap maka kejaksaan negeri akan mengeluarkan surat P18-P19 kepada penyidik serta mengembalikan berkas dengan melampirkan beberapa petunjuk yang harus di lengkapi namun jika berkas dikatakan lengkap maka akan di keluarkan surat P21 yang menerangkan bahwa berkas perkara sudah siap untuk di sidangkan.
Setelah penyidik mendapatkan keterangan dari Jaksa penuntut umum bahwa berkas perkara telah lengkap dengan di keluarkannya surat P21 maka penyidik wajib untuk selanjutnya melakukan penyerahan tahap dua berupa barang bukti dan tersangka kepada jaksa penuntut umum sebagai tugas akhir bahwa penanganan perkara tindak pidana yang di sangkakan telah menjadi tanggung jawab jaksa.
III. KESIMPULAN
Dari rangkaian yang telah di jabarkan bagaimana proses hukum berupa pro Justitia yang di lakukan oleh penyidik pegawai negeri sipil, maka dapat di simpulkan semua rangkayan yang di lakukan harus sesuai dengan KUHP dengan tujuan memenuhi hak hak tersangka berdasarkan perlindungan Hak asasi manusia. Apabila dalam melakukan prosedur penyidikan terdapat hal yang salah maka akan menyebabkan adanya upaya hukum dari pihak tersangka untuk membatalkan proses penyidikan yang telah di lakukan sehingga penyidik harus benar benar jeli dalam melakukan administrasi penyidikan.
Administrasi Penyidikan Pemberian Keterangan Tidak Benar untuk Mendapatkan Paspor
Page 13 DAFTAR PUSTAKA
https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/2011/6TAHUN2011UUPenjel.htm https://journal.poltekim.ac.id/jlbp/article/download/173/143/