• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA

SEKRETARIAT JENDERAL

(3)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014

TENTANG HAK CIPTA Pasal 1

(1) Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 113

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/

atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/

atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

(4)

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

2022 Penulis:

NUROHMA

MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA

SEKRETARIAT JENDERAL

(5)

BPSDM KUMHAM Press

Jalan Raya Gandul No. 4 Cinere-Depok 16512

Telepon (021) 7540077, 754124; Faksimili (021) 7543709, 7546120 Laman: http://bpsdm.kemenkumham.go.id

Cetakan I : 2022

Editor : Sri Mulyati

Perancang Sampul : Maria Mahardhika Penata Letak : Maria Mahardhika

Ilustrasi Sampul : freepik.com & pixabay.com x+50 hlm; 18 x 25 cm

ISBN:

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip dan memublikasikan

sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin penerbit.

Dicetak oleh:

PERCETAKAN POHON CAHAYA

Isi di luar tanggung jawab percetakan Penulis:

NUROHMA

MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA

SEKRETARIAT JENDERAL

(6)

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia- Nya review modul Pelatihan Muatan Teknis Substansi dan Lembaga (MTSL) berjudul

“MTSL Sekretariat Jenderal” sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia telah terselesaikan. Modul ini disusun untuk membekali para peserta pelatihan dan pembaca agar mengetahui dan memahami salah satu tugas dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Modul “MTSL Sekretariat Jenderal” merupakan strategi pendokumentasian pengetahuan tacit yang menjadi bagian dari aset intelektual organisasi. Langkah ini dilakukan untuk memberikan sumber–sumber pengetahuan yang dapat disebarluaskan sekaligus dipindahtempatkan atau direplikasi guna meningkatkan kinerja individu maupun organisasi. Keberadaan modul “MTSL Sekretariat Jenderal” dapat mendukung proses pembelajaran mandiri, pengayaan materi pelatihan dan peningkatan kemampuan organisasi dalam konteks pengembangan kompetensi yang terintegrasi (Corporate University) dengan pengembangan karir.

Modul “MTSL Sekretariat Jenderal” pada artinya dapat menjadi sumber belajar guna memenuhi hak dan kewajiban pengembangan kompetensi paling sedikit 20 Jam Pelajaran (JP) dalam 1 tahun bagi setiap pegawai. Hal ini sebagai implementasi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN).

(7)

vi MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

Dalam kesempatan ini, kami atas nama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam penyelesaian modul ini. Segala kritik dan saran sangat kami harapkan guna meningkatkan kualitas Pelatihan MTSL ini. Semoga modul ini dapat memberikan kontribusi positif bagi para pembacanya dan para pegawai di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Selamat Membaca. Salam Pembelajar.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia- Nya masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan amanah dalam rangka review modul dan bahan ajar Muatan Teknis Substansi dan Lembaga (MTSL) Sekretariat Jenderal.

Keberagaman bidang tugas dan fungsi pada Kementerian Hukum dan HAM terlihat dengan adanya 11 (sebelas) Unit Utama Eselon I dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM sebagai perwakilan kementerian di daerah/

provinsi. Untuk bidang tugas dan fungsi diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk melaksanakan pengembangan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia perlu diselenggarakan Pelatihan MTSL. Dalam pelaksanaan Pelatihan MTSL maka dilakukan review terhadap modul dan bahan ajar pelatihan yang secara teknis penulisan mengacu pada Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, dan substansi modul sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021.

Demikian review modul dan bahan ajar MTSL Sekretariat Jenderal, dengan harapan modul ini dapat bermanfaat serta meningkatkan kompetensi bagi peserta pelatihan dan ASN di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

(9)
(10)

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Deskripsi Singkat ... 2

C. Hasil Belajar ... 2

D. Indikator Hasil Belajar ... 3

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ... 3

F. Manfaat Hasil Belajar ... 3

G. Petunjuk Belajar ... 3

BAB II GAMBARAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL ... 5

A. Sejarah Singkat ... 5

B. Dinamika Peran, Tugas Pokok dan Fungsi ... 9

C. Struktur Organisasi Dan Tata Laksana ... 12

D. Latihan ... 22

E. Rangkuman ... 22

F. Evaluasi ... 24

G. Umpan Balik ... 25

BAB III SASARAN STRATEGIS DAN PELAYANAN SEKRETARIAT JENDERAL ... 27

A. Visi Misi dan Sasaran Strategis Organisasi ... 27

B. Pelayanan Internal Administratif ... 34

C. Latihan ... 44

D. Rangkuman ... 44

E. Evaluasi ... 46

F. Umpan Balik ... 46

(11)

x MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

BAB IV PENUTUP ... 47

A. Simpulan ... 47

B. Tindak Lanjut ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49

(12)

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini akan didiskusikan tentang latar belakang, deskripsi singkat, tujuan pembelajaran, materi pokok, manfaat hasil belajar dan petunjuk belajar.

A. Latar Belakang

Keberadaan Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM tidak terlepas dari latar belakang berdirinya Kementerian, karena sejak mula berdiri Sekretariat Jenderal merupakan salah satu unit yang pertama dibentuk. Dimana sejarah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dimulai pada hari-hari pertama kemerdekaan Bangsa Indonesia, pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI dalam sidangnya menetapkan hal-hal yang bersangkutan dengan struktur Negara menurut Undang-Undang Dasar dengan menetapkan Kementerian Negara.

Melalui peraturan pemerintah Nomor 2 Tahun 1945 mengenai pembentukan departemen-departemen di Indonesia. Pemerintahan Republik Indonesia dibagi dalam 12 Kementerian, dengan menteri Kehakiman pertama dijabat oleh Prof. DR.

Mr. Supomo.

Selain itu, diatur pula diatur pula tugas pokok dan ruang lingkup Kementerian Kehakiman yakni mengurus hal mengenai pengadilan, penjara, kejaksaan, dan sebagainya. Pada waktu itu termasuk ruang lingkup tugas Kementerian ini antara lain: Balai harta peninggalan dan pusat pendaftaran wasiat; notariat; catatan sipil; ijin tinggal di Indonesia; kepenjaraan; persetujuan berdirinya perkumpulan;

peraturan mengenai hukum perdata dagang; dan semua peraturan mengenai peradilan, daktiloskopi, pengurusan paspor ke luar negeri, dan lain-lain.

Selama kurun waktu tersebut hingga kini, Kementerian Hukum dan HAM telah beberapa kali mengalami perubahan nomenklatur sekaligus ruang lingkup tugas dan fungsinya. Kementerian Kehakiman RI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1945 tentang Pembentukan Kementerian-Kementerian di Indonesia, kemudian menjadi Departemen Hukum dan Perundang-Undangan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. M.03.PR.07.10 Tahun 2000.

(13)

2 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

kemudian pada tahun 2004 Nomenklatur Departemen Kehakiman Dan HAM RI diubah menjadi Departemen Hukum Dan HAM RI seiring terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana tercantum dalam Keppres RI tgl 20 Oktober 2004 No. 187/M Tahun 2004.

Jika diawal berdirinya, fungsi Sekretariat Jenderal Kementerian ini adalah memberi pelayanan administrasi dan teknis sekaligus. Kini seiring perkembangan kebutuhan dan tuntutan masyarakat serta makin bertambah luasnya ruang lingkup tugas Kementerian, maka fungsi pelayanan Sekretariat Jenderal hanya terfokus pada fungsi administrasi, dengan tujuan untuk lebih memudahkan proses penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Kementerian secara keseluruhan. Hal ini didasarkan pada keunikan yang sangat membedakannya dengan organisasi publik lainnya, yakni banyaknya unit organisasi yang bernaung didalamnya.

Sebagaimana diuraikan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 41 Tahun 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja, Kementerian Hukum dan HAM memiliki 11 Unit Kerja Utama setingkat Eselon I dan 5 Staf Ahli setingkat Eselon I, 33 Kantor Wilayah, 821 Unit Pelaksana Teknis yang tersebar secara nasional. Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM antara lain: Balai Harta Peninggalan, Balai Diklat, Lapas, Rutan, Balai Pemasyarakatan, Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan), Kantor Imigrasi (Kanim) dan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).

B. Deskripsi Singkat

Mata Diklat ini membekali peserta dengan kemampuan menjelaskan gambaran umum Unit Eselon I Sekretariat Jenderal, sasaran strategis organisasi dan fungsi pelayanan yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mata Diklat disajikan melalui penggunaan perangkat teknelogi informasi melalui model pembelajaran elearning dengan metode diskusi melalui elearning.

C. Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu menjelaskan hal ikhwal tentang muatan substantif Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

(14)

D. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu:

1) Menjelaskan gambaran umum Sekretariat Jenderal;

2) Menjelaskan sasaran strategis dan pelayanan Sekretariat Jenderal.

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok 1. Materi Pokok

1.1. Gambaran Umum Sekretariat Jenderal.

1.2. Sasaran Strategis dan Pelayanan.

2. Materi Sub Pokok 2..1. Sejarah Singkat

2..2. Dinamika Peran, Tugas Pokok dan Fungsi.

2..3. Struktur Organisasi dan Tata Laksana.

2..4. Visi Misi dan Sasaran Strategis Organisasi 2..5. Pelayanan Internal Administratif

F. Manfaat Hasil Belajar

Dengan mempelajari modul ini peserta akan memperoleh pengetahuan tentang keberadaan dan pelaksanaan peran, tugas pokok, fungsi dan pelayanan dari Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sehingga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta.

G. Petunjuk Belajar

Untuk dapat menguasai modul ini, para peserta diklat perlu mengikuti beberapa petunjuk belajar sebagai berikut:

1. Peserta harus membaca terlebih dahulu modul sebelum mengikuti pembelajaran di kelas;

2. Mengikuti kegiatan pembelajaran dengan Widyaiswara dalam kelas secara tertib dan aktif;

3. Peserta harus proaktif terlibat dalam diskusi pembahasan muatan substantif Unit Eselon I Sekretariat Jenderal.

(15)
(16)

BAB II

GAMBARAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL

Setelah membaca Bab II, peserta Diklat diharapkan mampu menjelaskan sejarah singkat, dinamika perang, tugas pokok dan fungsi serta stuktur organisasi dan tata laksana

Dalam Bab ini, Peserta akan mempelajari mengenai sejarah singkat tentang cikal bakal keberadaan sekretariat jenderal dalam lingkup kementerian lembaga pemerintah yang bertugas mengurusi bidang hukum dengan dinamika perkembangan peran serta fungsinya dari waktu ke waktu.

A. Sejarah Singkat

Gambaran umum Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM tidak terlepas dari latar belakang berdirinya Kementerian, karena sejak mula berdiri Sekretariat Jenderal merupakan salah satu unit yang pertama dibentuk. Dimana sejarah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, disingkat Kemenkumham, dahulu bernama “Departemen Kehakiman” (1945-1999), “Departemen Hukum dan Perundang- undangan” (1999-2001), “Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia” (2001-2004), “Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia” (2004- 2009), dimulai pada hari-hari pertama kemerdekaan Bangsa Indonesia, pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI dalam sidangnya menetapkan hal-hal yang bersangkutan dengan struktur Negara menurut Undang-Undang Dasar dengan menetapkan Kementerian Negara.

Lewat peraturan pemerintah Nomor 2 Tahun 1945 mengenai pembentukan departemen-departemen di Indonesia. Pemerintahan Republik Indonesia dibagi dalam 12 Kementerian (kementerian), yaitu Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehakiman, Kementerian Keuangan, Kementerian Kemakmuran, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, Kementerian Pertahanan, Kementerian Penerangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum. Dengan menteri Kehakiman pertama dijabat oleh Prof. DR. Mr. Supomo

(17)

6 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

berdasarkan pada Pengumuman Pemerintah tanggal 19 Agustus 1945 tentang Pembentukan Kabinet I.

Selain ditetapkan jumlah Kementerian telah diatur pula secara singkat singkat tugas pokok dan ruang lingkup Kementerian yang bersangkutan. Adapun tugas pokok Kementerian Kehakiman adalah mengurus hal mengenai pengadilan, penjara, kejaksaan, dan sebagainya. Pada waktu itu yang termasuk ruang lingkup tugas Kementerian antara lain: Balai harta peninggalan dan pusat pendaftaran wasiat, notariat, catatan sipil, ijin tinggal di Indonesia, kepenjaraan, persetujuan berdirinya perkumpulan, peraturan mengenai hukum perdata, dagang, dan semua peraturan mengenai peradilan, daktiloskopi, pengurusan paspor ke luar negeri, dan lain-lain.

Pada 1 Oktober 1945, keberadaan Departemen Kehakiman diperluas menjadi beberapa departemen, yaitu: (1) Kejaksaan berdasarkan Maklumat Pemerintah Tahun 1945 tanggal 1 0ktober 1945; (2) Jawatan Topograpi berdasarkan Penetapan pemerintah Tahun 1945 Nomor 1/S.D. Sebaliknya meski ada perluasan, keberadaan Mahkamah Islam Tinggi yang sebelumnya di bawah tanggung jawab Departemen Kehakiman justru dikeluarkan dari Departemen Kehakiman Republik Indonesia dan masuk ke Departemen Agama Republik Indonesia berdasarkan penetapan pemerintah tahun 1946 Nomor 5/S.D.

Hal ini berlanjut ketika departemen Jawatan Topograpi yang sebelumnya berada di dalam Departemen Kehakiman Republik Indonesia malah dikeluarkan dan masuk ke Departemen Pertahanan berdasarkan Penetapan Pemerintah tahun 1946 nomor 8/S.D.

Pada tanggal 5 Juli 1959 keluar DEKRIT Presiden untuk kembali ke Undang- undang Dasar 1945. Dengan keluarnya Dekrit Presiden tersebut, Departemen Kehakiman mendapat tanggung jawab baru setelah Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LPHN) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 194 tahun 1961 dipindahkan kedudukannya dari Perdana Menteri ke Departemen Kehakiman Republik Indonesia.

Pada tanggal 31 Oktober 1964, tugas pokok dan fungsi Departemen kehakiman semakin bertambah luas dengan memasukkan lembaga peradilan di bawah tanggung jawabnya. Melalui Undang-Undang Pedoman Nomor 19

(18)

Tahun 1964, Lembaran Negara Nomor 107 Tahun 1964 mengenai Ketentuan Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, berlaku 31 Oktaber 1964, dijelaskan bahwa Peradilan Negara Republik Indonesia menjalankan dan melaksanakan hukum yang mempunyai fungsi PENGAYOMAN yang dilaksanakan dalam lingkungan, seperti Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara.

Penggabungan lembaga peradilan ke dalam departemen kehakiman ini diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Organisasi Departemen yang mengatur di dalamnya tentang Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi Departemen, Susunan Organisasi Departemen, Tugas dan Fungsi Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal, Staf Ahli dan unit-unit Vertikal di Daerah.

Sementara untuk susunan Organisasi Departemen Kehakiman Republik Indonesia diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 tahun 1974, Lampiran 3, Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor J.S.4/3/7 tahun 1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehakiman Republik Indonesia.

Pada Tahun 1984, penerapan Sistem Holding Company ke Sistem Integrated diberlakukan di lingkungan Departemen Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Persetujuan MENPAN Nomor B 477/I/MENPAN/7/

84 Tanggal 6 Juli 1984. Kemudian dikukuhkan lagi melalui KEPPRES RI Nomor 124/M Tahun 1984 dan KEPMENKEH RI Nomor M.05-PR.07.10 Tahun 1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehakiman R.I.

Namun ketika Reformasi 1998 bergulir, keberadaan lembaga peradilan yang selama ini berada di dalam departemen kehakiman pun dianulir. Lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 136 tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. Dipertegas lagi dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 355/m tahun 1999 tentang Pengangkatan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia.

(19)

8 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

Disusul dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 35 tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman makin memperkuat bahwa lembaga Peradilan Umum secara resmi keluar dari Departemen Kehakiman Republik Indonesia untuk kemudian bergabung di bawah naungan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan masa transisi paling lama 5 (lima) tahun (lebih kurang tahun 2003 sudah selesai).

Atas dasar itu, maka berdasarkan Surat Persetujuan Menteri Negara pendayaan Aparatur Negara Nomor 24/M.PAN/I/2000 dikeluarkan Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor M.O3- PR.07.10 Tahun 2000 tanggal 5 April 2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Hukum dan Perundang- Undangan Republik Indonesia.

Guna merespon perkembangan dan kebutuhan organisasi maka pada 30 September 2015 format organisasi diperbaharui dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 disempurnakan kembali melalui Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Dengan fungsi dan tugas pokok dari sekretariat jenderal meliputi;

menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,

Kemudian, sesuai dengan kebijakan Presiden Joko Widodo pada pidato pelantikan sebagai Preseden Republik Indonesia pada tahun 2019 bahwa birokrasi pemerintah hanya ada 2 layer dan mengedepankan jabatan fungsional yang mengedepakan keahlian atau lebih dikenal dengan kebijakan penyederhanaan birokrasi dengan mengalihkan pejabat structural ke jabatan fungsional, maka pada 13 Desember 2021 format organisasi diperbaharui k e dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 42

(20)

Tahun 2021 tentang Uraian Fungsi Organisasi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan Tugas Koordinator Jabatan Fungsional di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Dengan tugas pokok dari sekretariat jenderal meliputi; menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan menyelenggarakan fungsi; koordinasi kegiatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, koordinasi kegiatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, koordinasi dan penyusunan rencana, program dan anggaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pembinaan dan penataan organisasi, tata laksana, dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi, koordinasi dan penyusunan peraturan perundangundangan serta pelaksanaan advokasi hukum, penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan pelayanan pengadaan barang/

jasa, dan pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

B. Dinamika Peran, Tugas Pokok dan Fungsi

Tahun demi tahun sesuai dengan perkembangan sejarah Republik Indonesia, maka susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM mengalami perubahan dan penyempurnaan pula. Secara ringkas perubahan berdasarkan fungsinya itu sebagai berikut:

1. Fungsi Administrasi dan Teknis

Periode sebelum tahun 1966, tepatnya pada tahun 1962, bentuk organisasi atau wadah yang menjalankan fungsi Sekretariat Jenderal pada periode ini bernama Kantor Pusat Kementrian dengan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, disamping mengelola bidang administrasi juga mengelola bidang teknis.

2. Fungsi Administrasi dan Sebagian Teknis

Mulai tahun 1966 dengan dibentuk Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan-badan Peradilan Umum dan Perundang- undangan,

(21)

10 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

maka bentuk organisasi Kementerian kehakiman adalah holding company type Masing-masing unit mengurus administrasi di unitnya dan mempunyai bagian anggaran tersendiri.

Dengan keputusan Presidium Kabinet tertanggal 31 Agustus 1966 Nomor 15/U/Kep/8/1966 telah diatur mengenai kedudukan, tugas pokok, fungsi, wewenang, dan tata kerja Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal, dan Inspektorat Jenderal. Sekretariat jenderal adalah badan staf yang berada di bawah menteri dan dipimpin oleh sekretariat jenderal.

Tugas sekretariat jenderal adalah memberikan bantuan di bidang teknis dan administrasi, dalam melaksanakan tugasnya sekretariat jenderal dibantu oleh Kepala Biro. Adapun direktorat jenderal merupakan alat pelaksana utama tugas Kementerian dipimpin oleh seorang direktur jenderal, sedangkan sebagai alat pelaksana utama pengawasan Kementerian adalah inspektorat jenderal yang dipimpin oleh inspektur jenderal.

3. Fungsi Administrasi

Berdasarkan Keppres RI No.27 tahun 1981 diadakan perubahan susunan organisasi Kementerian Kehakiman dari bentuk holding company menjadi Intergrated dengan tujuan konsep terpadu di bidang pembinaan hukum.

Fungsi sekretariat jenderal dalam usaha membina administrasi kehakiman semakin ditingkatkan serta mulai mengembangkan sistem komputerisasi untuk bidang-bidang substantif.

Selama kurun waktu tersebut, saat ini Kementerian Hukum dan HAM telah beberapa kali mengalami perubahan nomenklatur. Kementerian Kehakiman RI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1945 tentang Pembentukan Kementerian- Kementerian di Indonesia, kemudian menjadi Kementerian Hukum dan Perundang-Undangan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. M.03.PR.07.10 Tahun 2000.

Dengan terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana tercantum dalam Keppres RI tgl 20 Oktober 2004 No. 187/M Tahun 2004 Nomenklatur Kementerian Kehakiman Dan HAM RI diubah menjadi Kementerian Hukum Dan HAM RI.

(22)

Dapat ditinjau dari perubahan fungsi tersebut, bahwa keberadaan Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM berkembang sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan bertambah luasnya ruang lingkup tugas Kementeria, sehingga perlu memisahkan antara fungsi teknis dan administrasi, agar lebih memudahkan proses penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Kementerian secara keseluruhan.

Terlebih lagi sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam bidang hukum, Kementerian Hukum dan HAM memiliki keunikan yang membedakannya dengan organisasi publik lainnya, yakni banyaknya unit organisasi yang bernaung didalamnya. Dalam hal ini, Kementerian Hukum dan HAM memiliki sebelas (11) Unit Utama Eselon I, tiga puluh tiga (33) Kantor Wilayah, serta delapan ratus dua puluh satu (821) Unit Pelaksana Teknis yang tersebar secara nasional.

TABEL 1.1 Struktur Organisasi Kementerian Hukum dan HAM RI

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

Dengan struktur organisasi yang besar ini, kedudukan Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM sudah tentu dihadapkan pada tugas pokok dan fungsi yang luas pula. Sebagaimana mengacu pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi

(23)

12 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

Manusia Republik Indonesia, disebutkan bahwa:

1. Kedudukan Sekretariat Jenderal di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal (Pasal 5).

2. Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Pasal 6).

3. Dalam melaksanakan tugas itu, Sekretariat Jenderal menyelenggarakan fungsi (Pasal 7) :

a. koordinasi kegiatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

b. koordinasi dan penyusunan rencana, program dan anggaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

c. pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

d. pembinaan dan penataan organisasi, tata laksana, dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi;

e. koordinasi dan penyusunan peraturan perundangundangan serta pelaksanaan advokasi hukum;

f. penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan pelayanan pengadaan barang/jasa; dan

g. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

C. Struktur Organisasi Dan Tata Laksana

Mengacu pada struktur organisasi Kementerian Hukum dan HAM sebagaimana diatur dalam Permenkumham No. 41 Tahun 2021, dijelaskan bahwa organisasi Kementerian Hukum dan HAM dipimpin pejabat setingkat menteri, yang bertugas sebagai seorang manajemen puncak atau penentu kebijakan dalam lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.

Untuk selanjutnya secara administratif dijalankan oleh Sekretariat Jenderal agar dapat diimplementasikan kepada Unit-Unit Utama Eselon I yang ada di dalamnya. Sementara Kantor-Kantor Wilayah yang tersebar secara nasional

(24)

merupakan perwakilan Menteri di daerah maka dari itu langsung berhubungan dengan Menteri Hukum dan HAM dengan difasilitasi oleh Sekretariat Jenderal.

Sehingga Tugas dan peran pokok seorang menteri dalam tataran teknis operasional manajerial kebijakan sepenuhnya dibantu oleh keberadaan Sekretariat Jenderal yang dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal. Dalam hal ini memastikan terwujudnya manajemen organisasi yang akuntabel dengan penyelenggaraan birokrasi dalam lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang professional.

Dengan demikian keberadaannya sangat vital dalam organisasi Kementerian Hukum dan HAM yakni sebagai pengelola manajemen organisasi melalui koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi semua Unit organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dam HAM. Artinya Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM sebagai service unit yakni sebagai administrator, manajer dan sekretaris dari organisasi.

Guna memenuhi tugas tersebut, sesuai dengan Keputusan Sekretaris Jenderal Nomor SEK.1-PR.01.04-310 Tahun 2021 tentang Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2020-2024, Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM mencanangkan target kinerja yang dituangkan dalam “Program Dukungan Manajemen dan Tugas Teknis Lainnya” dengan Outcome “Meningkatnya layanan dukungan manajemen di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM” dengan Indikator Kinerja meliputi:

a. Target Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2020

1. Meningkatnya citra positif Kementerian Hukum dan HAM;

2. Peningkatan kualitas pengelolaan Sumber Daya Manusia;

3. Tata kelola keuangan yang efektif dan efisien;

4. Meningkatnya Kualitas Program dan Penganggaran Kementerian Hukum dan HAM;

5. Optimalisasi pengelolaan BMN di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM;

6. Meningkatnya kualitas pelayanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Kementerian Hukum dan HAM; dan

(25)

14 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

7. Tersedianya layanan pengelolaan Administratif dan Fasilitatif Kantor Wilayah Kemenkumham.

b. Target Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2021-2024

1. Terwujudnya organisasi lingkungan Kementerian Hukum dan HAM yang efektif dan efisien;

2. Peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya manusia;

3. Optimalisasi Pengelolaan BMN di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM;

4. Meningkatnya kualitas pelayanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Kementerian Hukum dan HAM;

5. Meningkatnya citra positif Kementerian Hukum dan HAM;

6. Terwujudnya layanan administratif dan fasilitatif Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM;

7. Meningkatnya Kualitas Program dan Penganggaran Kementerian Hukum dan HAM; dan

8. Mewujudkan tata kelola keuangan yang efektif dan efisien.

Sejumlah Indikator itu sangat ditentukan oleh efektifitas peranan Sekretariat Jenderal yakni seberapa optimal pelaksanaan tugas pada setiap unit di lingkungan Sekretariat Jenderal melalui kegiatan dalam program-program kerja yang telah ditetapkan. Untuk itulah pentingnya pemahaman atas tugas dan kemampuan melaksanakan semua kegiatan dalam lingkup tanggungjawab masing-masing ASN di lingkungan Sekretariat Jenderal.

Dimana dengan didukung oleh enam (6) Biro dan satu (1) Pusat setingkat eselon II di dalamnya, Sekretariat Jenderal memiliki tugas pokok dan fungsi atas nama kementerian, dan tidak dibatasi pada fungsi yang bersifat teknis pelayanan masyarakat. Sementara, unit utama eselon I Kementerian Hukum dan HAM selain Sekretariat Jenderal yakni; Imigrasi, Pemasyarakatan, Kekayaan Intelektual, Peraturan Perundangan, Administrasi Hukum Umum, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Badan Pembinaan Sumber Daya Manusia dipastikan terikat pada pelayanan yang bersifat teknis kepada masyarakat.

(26)

Keberadaan biro-biro setingkat eselon II tersebut menjadi sistem pendukung tugas pokok dan fungsi dari Sekretariat Jenderal yang terdiri atas; (1) Biro Perencanaan; (2) Biro Kepegawaian; (3) Biro Keuangan; (4) Biro Pengelolaan Barang Milik Negara; (5) Biro Hubungan Masyarakat, Hukum dan Kerja Sama;

(6) Biro Umum; dan (7) Pusat Data dan Teknologi Informasi.

TABEL 2.1 Struktur Organisasi Sekretariat Jenderal

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

Untuk optimalisasi dan efektivitas kinerja dari biro-biro tersebut, masing- masing biro di dukung oleh Kepala Bagian setingkat eselon III dan kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana tersebut di bawah ini.

1. Biro Perencanaan, didukung oleh tiga (3) bagian dan kelompok jabatan fungsional yang meliputi:

a. Bagian Program dan Anggaran, yang didukung oleh kelompok jabatan fungsional;

b. Bagian Tata Laksana dan Tata Usaha, yang didukung oleh 1 (satu) Subbagian yaitu, Subbagian Tata Usaha Biro;

c. Bagian Reformasi Birokrasi, yang didukung oleh kelompok Jabatan Fungsional.

(27)

16 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

TABEL 2.2 Struktur Organisasi Biro Perencanaan

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

2. Biro Kepegawaian, yang didukung oleh dua (2) bagian dan kelompok jabatan fungsional terdiri atas:

a. Bagian Perencanaan Sistem Informasi Kepegawaian, dan Tata Usaha, didukung oleh 1 (satu) Subbagian yakni Subbagian Tata Usaha Biro dan kelompok Jabatan Fungsional;

b. Bagian Pengembangan Karir Pegawai, yang dibawah tanggung jawab kelompok Jabatan Fungsional;

(28)

TABEL 2.3 Struktur Organisasi Biro Kepegawaian

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

3. Biro Keuangan dibantu oleh dua (2) bagian dan kelompok jabatan fungsional yang terdiri dari:

a. Bagian Pelaksanaan Anggaran dan Tata Usaha, yang didukung oleh 1 (satu) Subbagian yaitu, Subbagian Tata Usaha Biro dan kelompok Jabatan Fungsional;

b. Bagian Akuntansi dan Pelaporan, yang dibawah tanggung jawab kelompok Jabatan Fungsional;

(29)

18 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

TABEL 2.4 Struktur Organisasi Biro Keuangan

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

4. Biro Pengelolaan Barang Milik Negara yang didukung oleh tiga (3) bagian dan kelompok jabatan fungsional yaitu meliputi:

a. Bagian Perencanaan Barang Milik Negara dan Tata Usaha Biro, yang didukung oleh 1 (satu) Subbagian yaitu Subbagian Tata Usaha Biro dan kelompok jabatan fungsional;

b. Bagian Layanan Pengadaan Barang Milik Negara, dibawah tanggung jawab kelompok jabatan fungsional;

c. Bagian Penatausahaan Barang Milik Negara, dibawah tanggung jawab kelompok jabatan fungsional;

(30)

TABEL 2.5. Struktur Organisasi Biro Pengelolaan Barang Milik Negara

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

a. Biro Hubungan Masyarakat, Hukum, dan Kerja Sama dibantu oleh satu (1) bagian dan kelompok jabatan fungsional yaitu, Bagian Layanan Advokasi Hukum dan Tata Usaha, didukung oleh Subbagian Tata Usaha Biro dan Kelompok Fungsional;

(31)

20 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

TABEL 2.6 Struktur Organisasi Biro Hubungan Masyarakat, Hukum dan Kerja Sama

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

5. Biro Umum didukung oleh t i g a ( 3 ) bagian dan kelompok jabatan fungsional yang terdiri atas :

a. Bagian Tata Usaha Pimpinan, yang didukung oleh 3 (tiga) subbagian yaitu Subbagian Tata Usaha Menteri dan Wakil Menteri, Subbagian Tata Usaha Sekretaris Jenderal, dan Subbagian Tata Usaha Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri;

b. Bagian Rumah Tangga dan Tata Usaha, didukung oleh 3 (tiga) subbagian yaitu, Subbagian Urusan Dalam, Subbagian Kendaraan dan Perjalanan Dinas, dan Subbagian Tata Usaha Biro;

c. Bagian Protokol dan Pengamanan, didukung oleh 4 (empat) subbagian yaitu, Subbagian Acara dan Tamu Pimpinan, Subbagian Keprotokolan, Subbagian Pengamanan Pimpinan, dan Subbagian Pengamanan Lingkungan, Instalasi, Dokumen dan Jalur Informasi;

(32)

TABEL 2.7 Struktur Organisasi Biro Umum

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

6. Terakhir, Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas pokok Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di bidang data dan teknologi informasi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Pusdatin dipimpin oleh Kepala Pusat dengan tugas pokok melaksanakan fasilitasi teknologi informasi, pengelolaan data, pengembangan aplikasi, jaringan, infrastruktur, pengamanan, penyusunan standar, evaluasi, dan kerja sama teknologi informasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pusdatin didukung oleh 1 bagian dan kelompok jabatan fungsional yang terdiri atas :

(33)

22 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

a. Bagian Umum dan Tata Usaha, didukung oleh satu (1) subbagian yaitu, Subbagian Tata Usaha;

b. Kelompok Jabatan Fungsional.

TABEL 2.8 Struktur Organisasi Pusat Data Dan Teknologi Informasi

Sumber : Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Nomor : 41 Tahun 2021 Tanggal 13 Desember 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia

D. Latihan

Kepada peserta diklat silahkan secara berkelompok (paling sedikit 3 orang) mendiskusi kembali tentang mengapa dan bagaimana bisa terjadi pergeseran mengenai fungsi dan peran sekretariat jenderal tersebut? Apa yang melatarbelakanginya?

E. Rangkuman

Berdasarkan uraian dalam Bab ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai rangkuman, sebagai berikut:

1. Keberadaan Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM tidak terlepas dari latar belakang berdirinya Kementerian, karena sejak mula berdiri, Sekretariat Jenderal merupakan salah satu unit yang pertama dibentuk yakni dua hari setelah kemerdekaan Bangsa

(34)

Indonesia dikumandangkan, pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI dalam sidangnya menetapkan peraturan pemerintah Nomor 2 Tahun 1945 mengenai pembentukan departemen-departemen di Indonesia.

Selain itu, diatur pula diatur pula tugas pokok dan ruang lingkup Sekretariat Jenderal Kementerian Kehakiman yakni mengurus hal mengenai pengadilan, penjara, kejaksaan, dan sebagainya. Pada waktu itu termasuk ruang lingkup tugas Kementerian ini antara lain : Balai harta peninggalan dan pusat pendaftaran wasiat, notariat, catatan sipil, ijin tinggal di Indonesia, kepenjaraan, persetujuan berdirinya perkumpulan, peraturan mengenai hukum perdata, dagang, dan semua peraturan mengenai peradilan, daktiloskopi, pengurusan paspor ke luar negeri, dan lain- lain.

2. Selama kurun waktu sejak dibentuk hingga sekarang, fungsi pelayanan Sekretariat Jenderal mengalami perubahan dan penyempurnaan pula. Dimulai pada tahun 1962, Sekretariat Jenderal melaksanakan fungsi pelayanan administrasi dan teknis sekaligus dengan nomenklatur Kantor Pusat Kementerian. Kemudian tahun 1966, setelah dibentuk unit eselon I lainnya yakni Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan-badan Peradilan Umum dan Perundang-undangan, maka fungsi pelayanan yang dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal sedikit terkurangi khususnya dalam fungsi pelayanan teknis karena bentuk organisasi Kementerian kehakiman adalah holding company type sehingga masing-masing unit mengurus Sekretriat Jenderal administrasi di unitnya dan mempunyai bagian anggaran tersendiri. Pergeseran terakhir dari fungsi pelayanan yang dijalankan oleh Sekretariat Jenderal adalah melalui Keppres RI No.27 tahun 1981 yang lebih difokuskan pada pelayanan administrasi saja karena susunan organisasi Kementerian Kehakiman diubah dari bentuk holding company menjadi Intergrated.

3. Ketika Reformasi 1998 bergulir, keberadaan lembaga peradilan yang selama ini berada di dalam departemen kehakiman pun dianulir. Lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 136 tahun 1999

(35)

24 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 355/m tahun 1999 tentang Pengangkatan Menteri Hukum dan Perundang- Undangan Republik Indonesia. Disusul dengan keluarnya Undang- Undang Nomor 35 tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman makin mempertegas bahwa lembaga Peradilan Umum secara resmi keluar dari Departemen Kehakiman Republik Indonesia untuk kemudian bergabung di bawah naungan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan masa transisi paling lama 5 (lima) tahun (lebih kurang tahun 2003 sudah selesai). Hal ini membuat beban dan porsi pelayanan dari Sekretariat Jenderal semakin berkurang sehingga lebih memudahkan proses penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Kementerian secara keseluruhan.

4. Untuk mendukung optimalisasi kinerja Sekretariat Jenderal, sebagai service unit yakni sebagai administrator, manajer dan sekretaris dari organisasi Kementerian Hukum dan HAM, maka dibentuklah supporting system dengan enam (6) biro setingkat eselon II di dalamnya. Keberadaan biro-biro setingkat eselon II tersebut menjadi sistem pendukung tugas pokok dan fungsi dari Sekretariat Jenderal yang terdiri atas; (1) Biro Perencanaan; (2) Biro Kepegawaian; (3) Biro Keuangan; (4) Biro Pengelolaan Barang Milik Negara; (5) Biro Hukum, Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama; dan (6) Biro Umum.

F. Evaluasi

1. Kapan dan apa yang menjadi dasar berdirinya sekretariat jenderal pada saat awal kementerian hukum dibentuk pasca Indonesia merdeka?

2. Jelaskan apa yang melatarbelakangi dan menjadi dasar pemisahan lembaga peradilan dari kementerian hukum dan Hak Asasi Manusia?

3. Apa saja tugas pokok dan ruang lingkup Sekretariat Jenderal sebelum tahun 1966?

4. Sebutkan pergeseran tugas pokok dan ruang lingkup apa saja yang terjadi pada Sekretariat Jenderal hingga sampai keadaan saat ini?

5. Poin-poin penting perubahan apa saja yang membedakan terkait

(36)

struktur, organisasi dan tata laksana antara Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 29 Tahun 2015 dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 41 Tahun 2021?

G. Umpan Balik

Berdasarkan soal evaluasi dan soal latihan diatas, coba periksa kembali apakah jawaban Anda sudah benar atau belum. Apabila Anda telah menjawab dengan benar maka Anda telah memahami dan mampu menjelaskan dinamika perkembangan dan perubahan kedudukan, tugas pokok, peran dan fungsi serta struktur organisasi dan tata laksana sekretariat jenderal dari sejak berdiri sampai saat ini. Namun apabila belum benar, coba pelajari kembali materi tersebut.

(37)
(38)

BAB III

SASARAN STRATEGIS DAN PELAYANAN SEKRETARIAT JENDERAL

Setelah membaca Bab II, peserta diharapkan mampu menjelaskan visi misi dan sasaran strategis organisasi, serta pelayanan internal administratif

Di bab ketiga ini akan didiskusikan mengenai visi misi dan sasaran strategis organisasi serta pelayanan internal administratif dari sekretariat jenderal kementerian hukum dan hak asasi manusia sebagaimana yang tersaji di bawah ini.

A. Visi Misi dan Sasaran Strategis Organisasi

Dalam Rencana Strategis (Renstra) sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 33 Tahun 2020 tanggal 23 Desember 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Hukum dan HAM Tahun 2020-2024 disebutkan bahwa strategi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menitik beratkan pada :

1. Terpenuhinya peraturanperundang-undangan yang sesuai dengan azas pembentukan peraturan perundang-undangan.

2. Mengoptimalkan peran dalam penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM.

3. Memastikan pelayanan publik di bidang hukum sesuai dengan asas penyelenggaraan pelayananpublik.

4. Memastikan penegakanhukum yang mampu menjadi pendorong inovasi dankreatifitas dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

5. Ikut berperan serta dalam menjaga stabilitas keamanandan kedaulatan NKRI.

(39)

28 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

6. Meningkatkan kesadaranhukum masyarakat.

7. Meningkatkan kompetensi strategis Sumber Daya Manusia di Bidang Hukum dan HAM.

8. Membangun budaya kerja yang berorientasi kinerja organisasi yang berintegritas, efektif dan efisien.

Dengan bersandar pada Visi Kementerian Hukum dan HAM yaitu

“Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang Andal, Profesional, Inovatif, dan Berintegritas dalam Pelayanan Kepada Presiden dan Wakil Presiden untuk Mewujudkan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden “Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Lalu Misi Kementerian Hukum dan HAM yaitu ;

1. Membentuk Peraturan Perundang-Undangan yang Berkualitas dan Melindungi Kepentingan Nasional,

2. Menyelenggarakan Pelayanan Publik di Bidang Hukum yang Berkualitas,

3. Mendukung Penegakan Hukum di Bidang Kekayaan Intelektual, Keimigrasian, Administrasi Hukum Umum, dan Pemasyarakatan yang Bebas Dari Korupsi, Bermartabat, dan Terpercaya

4. Melaksanakan Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia yang Berkelanjutan

5. Melaksanakan Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat

6. Ikut Serta Menjaga Stabilitas Keamanan Melalui Peran Keimigrasian dan Pemasyarakatan

7. Melaksanakan Tata Laksana Pemerintahan yang Baik Melalui Reformasi Birokrasi dan Kelembagaan

Guna melaksanakan Misi Kementerian Hukum dan HAM tersebut maka kegiatan Kementerian Hukum dan HAM dipandu dengan nilai-nilai Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif (PASTI). Diharapkan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu :

1. Mewujudkan peraturan perundang-undangan yang harmonis yang sejalan dengan kebutuhan hukum masyarakat dan kebijakan pemerintah; dan terciptanya ketertiban dan keamanan dalam

(40)

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Mewujudkan layanan Kementerian Hukum dan HAM yang Prima.

3. Mendorong inovasi kreativitas masyarakat melalui peningkatan permohonan kekayaan intelektual, meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional melalui kemudahan pemberian ijin pendirianbadan usaha, sekaligus memenuhi hak-hak warga binaanpemasyarakatan serta membentuk Warga Binaan Pemasyarakatanagar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan,memperbaiki diri, tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperandalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab serta memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan yang ditahan serta keselamatandan keamanan benda-benda yang disita untuk keperluan barang bukti dan benda-benda yang dinyatakan dirampas untuk negara danmencegah penyalahgunaan dokumen keimigrasian oleh WNI dan WNA yang melintas dan tinggal di Indonesia.

4. Terlindunginya hak asasi manusia.

5. Meningkatkan nilai-nilai dan sikap kesadaranhukum masyarakat serta akses keadilan.

6. Menciptakan wilayahperbatasan yang aman dari perlintasan WNA/WNI yang tidak mempunyai dokumen sesuai prosedur dan menciptakan keamanandan ketertiban di seluruh Lapas/Rutan.

7. Mewujudkan ASN Kementerian Hukum dan HAM yang kompeten dan terlaksananya reformasi Birokrasi di Kementerian Hukum dan HAM.

Berkenaan dengan hal itu, Sekretariat Jenderal merumuskan tugasnya sebagaimana tertuang dalam Keputusan Sekretaris Jenderal Nomor SEK.1- PR.01.04-310 Tahun 2021 tentang Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2020-2024, sasaran rencana strategis organisasi yakni :

1. Meningkatnya kepercayaan stakeholder terhadap pelayanan internal Sekretariat Jenderal

(41)

30 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

2. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan pola hubungan kerja yang dinamis dan berorientasi pada pelayanan prima

3. Meningkatnya akuntabilitas dan pengendalian internal secara berkelanjutan

4. Meningkatnya kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi 5. Meningkatnya Intensitas dan kualitas publikasi kinerja

6. Terwujudnya ASN yang berkompeten, professional dan berintegritas 7. Perencanaan dan pengelolaan anggaran yang efisien efektif dan

akuntabel

Adapun visi, misi dan indikator kinerja Sekretariat Jenderal dapat dilihat pada tabel (data) dibawah ini :

Tabel 3.1

Indikator Kinerja Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM

VISI: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang Andal, Profesional, Inovatif, dan Berintegritas dalam Pelayanan Kepada Presiden dan Wakil Presiden untuk Mewujudkan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden “Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”

MISI: 1. Membentuk Peraturan Perundang-Undangan yang Berkualitas dan Melindungi Kepentingan Nasional, 2. Menyelenggarakan Pelayanan Publik di Bidang Hukum

yang Berkualitas,

3. Mendukung Penegakan Hukum di Bidang Kekayaan Intelektual, Keimigrasian, Administrasi Hukum Umum, dan Pemasyarakatan yang Bebas Dari Korupsi, Bermartabat, dan Terpercaya

4. Melaksanakan Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia yang Berkelanjutan 5. Melaksanakan Peningkatan Kesadaran Hukum

Masyarakat

6. Ikut Serta Menjaga Stabilitas Keamanan Melalui Peran Keimigrasian dan Pemasyarakatan

7. Melaksanakan Tata Laksana Pemerintahan yang Baik Melalui Reformasi Birokrasi dan Kelembagaan

(42)

Values : PASTI P A S T I

rofesional kuntabel inergi ransparan novatif GRAND

STRATEGY SEKRETARIAT JENDERAL :

a. Perspektif Pemangku Kepentingan Eksternal b. Perspektif Bisnis Proses Internal

c. Perspektif Bisnis Proses Internal

SASARAN SEKRETARIAT JENDERAL

1. Terpenuhinya Peraturan Perundang-undangan yang sesuai dengan azas pembentukan

peraturan perundang-undangan

a) Meningkatnya kepercayaan stakeholder terhadap pelayanan internal oleh Sekretariat Jenderal

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

Indeks kepuasan layanan internal di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM

2. Mengoptimalkan peran dalam penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM

a) Meningkatnya kualitas kelembagaan dan pola hubungan kerja yang dinamis dan berorientasi pada pelayanan prima

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

1) Persentase Satker yang melaksanakan pola hubungan kerja yang dinamis.

2) Persentase Satker yang mempunyai dan

mengimplementasikan standar pelayanan publik.

3) Persentase Satuan Kerja yang terselesaikan penataan kelembagaannya sesuai analisa beban kerja.

(43)

32 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

3. Memastikan pelayanan publik di bidang hukum sesuai dengan azas penyelenggaraan pelayanan publik

a) Meningkatnya akuntabilitas dan pengendalian internal secara berkelanjutan

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

Persentase satuan kerja yang memiliki Nilai LAKIP minimal BB.

4. Memastikan penegakan hukum yang mampu menjadi pendorong inovasi dan kreativitas dalam pertumbuhan ekonomi nasional

a) Meningkatnya kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

Persentase satuan kerja yang mengimplementasikan area perubahan Reformasi Birokrasi

5. Ikut berperan serta dalam menjaga stabilitas keamanan dan kedaulatan NKRI

a) Meningkatnya Intensitas dan kualitas publikasi kinerja.

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

1) Persentase opini positif terhadap pemberitaan Kementerian Hukum dan HAM di media.

2) Persentase publikasi Kementerian Hukum dan HAM yang terintegrasi

6. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat a) Terwujudnya ASN yang berkompeten,

profesional dan berintegritas

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

Prosentase pegawai yang memperoleh hak-hak yang terdapat di dalam UU ASN mulai dari Recruitment sampai dengan Retirement

(44)

7. Meningkatkan kompetensi strategis Sumber Daya Manusia di bidang Hukum dan HAM a) Perencanaan dan pengelolaan anggaran yang

efisien efektif dan akuntabel.

❑ Indikator Sekretariat Jenderal:

1) Persentase Satuan Kerja yang memiliki

Perencanaan Penganggaran berorientasi pada hasil (SMART).

2) Persetase satuan kerja yang mendapatkan Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Kementerian di atas 93.

3) Persentase satuan kerja yang mempunyai laporan keuangan sesuai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)

Dengan demikian sebagai bagian penting dalam organisasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, maka Sekretariat Jenderal memiliki tata nilai, tujuan, dan sasaran pelaksanaan tugas yang mengacu pada Visi dan Misi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Dengan Misi Kementerian yang terkait langsung dengan Sekretariat Jenderal yaitu melaksanakan tatalaksana pemerintahan yang baik melalui reformasi birokrasi dan kelembagaan.

Bersandar pada tata nilai yang dipedomani Sekretariat Jenderal dalam mengemban tugas adalah Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan, dan Inovatif (PASTI).

Profesional adalah aparat yang bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi melalui penguasaan bidang tugasnya, menjunjungtinggi etika dan integritas profesi.

Akuntabel adalah setiap kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku.

Sinergi adalah komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku

(45)

34 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

kepentingan untuk menemukan dan melaksanakan solusi terbaik, bermanfaat dan berkualitas.

Transparan adalah menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai.

Inovatif adalah kreativitas dan inisiatif untuk selalu melakukan pembaharuan dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya.

B. Pelayanan Internal Administratif

Sebelum mengurai dan menjelaskan tentang fungsi pelayanan dari Sekretariat Jenderal, kiranya perlu disinggung sedikit tentang pengertian pelayanan. Secara konseptual, ada dua istilah yang perlu diketahui, yaitu melayani dan pelayanan.

Pengertian melayani adalah

“membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang”.

Sedangkan pengertian pelayanan adalah “usaha melayani kebutuhan orang lain”

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995).

Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh organisasi atau perorangan kepada konsumen (customer/yang dilayani), yang bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki. Sementara untuk membedakan bentuk pelayanan, Gonroos (1990) membaginya ke dalam tiga kelompok, yaitu :

a. Core Service

core service adalah pelayanan yang ditawarkan kepada pelanggan, yang merupakan produk utamanya. Misalnya untuk hotel adalah penyediaan kamar dan untuk penerbangan adalah transportasi udara. Perusahaan mungkin mempunyai beberapa core service, misalnya perusahaan penerbangan menawarkan penerbangan dalam negeri dan penerbangan luar negeri.

b. Facilitating Service

facilitating service adalah fasilitas pelayanan tambahan kepada pelanggan, misalnya pelayanan “front office” pada hotel atau pelayanan “check in” pada transportasi udara. Facilitating service ini merupakan pelayanan tambahan tetapi sifatnya wajib.

(46)

c. Supporting Service

seperti pada facilitating service, supporting service merupakan pelayanan tambahan (pendukung) untuk meningkatkan nilai pelayanan atau untuk membedakan dengan pelayanan-pelayanan dari pihak “pesaingnya”.

Misalnya hotel Restoran pada suatu hotel. Supporting adalah pelayanan tambahan tetapi tidak wajib dan disediakan untuk meningkatkan daya saing.

Adapun Customer (pelanggan) yang dimaksudkan didalam modul ini dapat berupa individu (perorangan), kolektif (organisasi), maupun masyarakat dalam arti luas. Sehingga, pelanggan dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :

1. Pelanggan internal (internal customer) adalah pelanggan yang berasal dari dalam organisasi (instansi) itu sendiri. Pelanggan internal dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu a) pelanggan internal organisasi dan b) pelanggan internal pemerintah. Pelanggan internal dapat dilihat dari dalam lingkungan organisasi, sehingga meskipun bagian/unit kerja kita berbeda, namun masih dalam lingkungan organisasi, maka pelanggan tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggan internal.

2. Sedangkan pelanggan internal pemerintah adalah pelanggan yang walaupun instansi kita berbeda, namun instansi pelanggan itu adalah instansi pemerintah, pelanggan tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggan internal pemerintah (pelanggan internal dalam skala makro).

Mengacu dari pengertian konseptual di atas, dapat dipahami bahwa kedudukan Sekretariat Jenderal dalam pelayanan lebih mengarah pada bentuk pelayanan administratif. Karena core service (produk utama pelayanan) dari Sekretariat Jenderal menitikberatkan pada fungsi administrasi umum agar dapat mendukung kelancaran dan optimalisasi pelaksanaan tugas dan fungsi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia secara menyeluruh dalam lingkup internal kelembagaan baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalam hal ini, fungsi dan peran pelayanan Sekretariat Jenderal dalam rangka supervisi, fasilitasi dan koordinasi kegiatan unit-unit eselon 1, kantor wilayah serta satuan kerja di bawahnya (UPT/ Unit Pelaksana Teknis). Pengertian ini telah menempatkan jenis dan karakteristik pelayanan yang dilakukan oleh Sekretariat Jenderal lebih dominan pada pelayanan internal.

(47)

36 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

Meskipun dalam konteks tertentu fungsi pelayanan internal pemerintah (eksternal) juga menjadi tanggung jawabnya, misalnya dalam hubungan koordinasi, kerjasama dan fasilitasi dengan lembaga tinggi negara seperti Kejaksaan, Kepolisian, KPK, DPR, MA maupun Kementerian/ LND dan instansi vertikal lainnya ataupun organisasi pemerintah negara- negara lain (asing) serta organisasi non pemerintah seperti partai politik, media massa, LSM (NGO), organisasi profesi, dan sebagainya.

Sebagaimana yang tercantum dan diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomoro 41 Tahun 2021 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bahwa Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dan untuk melaksanakan tugas tersebut, Sekretariat Jenderal menyelenggarakan fungsi :

1) Koordinasi kegiatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

2) Koordinasi dan penyusunan rencana, program dan anggaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

3) Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip dan dokumentasi Kementerian hukum dan Hak Asasi Manusia;

4) Pembinaan dan penataan organisasi, tata laksana dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi;

5) Koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan serta pelaksanaan advokasi hukum;

6) Penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan pelayanan pengadaan barang/jasa; dan

7) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

Untuk mendukung tugas-tugas tersebut, Sekretariat Jenderal dipimpin oleh satu orang Sekretaris Jenderal yang kedudukan adalah unsur pembantu Menteri dan merupakan pejabat birokrat tertinggi di lingkungan Kementerian yang berada

(48)

di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri.

Sejauh ini jika dicermati, fungsi pelayanan tersebut relatif cukup berjalan dengan baik, meskipun dalam beberapa sisi masih banyak ditemui kekurangan dan masalah terutama menyangkut aspek citra dan pelayanan kelembagaan di tengah hiruk pikuk tuntutan dan kebutuhan soal penegakan hukum dan reformasi birokrasi di Indonesia. Selain itu, persoalan koordinasi baik secara internal maupun eksternal masih perlu untuk ditingkatkan terus, sebab seringkali timbulnya masalah pada suatu kegiatan karena terhambat dalam masalah koordinasi antar unit organisasi.

Untuk lengkapnya seperti apa bentuk dan detail pelayanan yang dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal berikut ini terurai dalam tugas dan fungsi unit-unit eselon II, III, dan IV yang berada di bawah lingkup sekretariat jenderal yang terdiri dari:

1. BIRO PERENCANAAN

Biro Perencanaan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, koordinasi penyusunan rencana, program dan anggaran, kelembagaan, ketatalaksanaan, koordinasi dan fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi, serta penyusunan evaluasi dan pengendali laporan Kementerian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ditinjau dari tugas ini, biro ini memiliki atau menyelenggarakan fungsi:

a. Koordinasi dan pengolahan data perencanaan dan anggaran Kementerian Hukum dan HAM;

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan rencana tahunan;

c. Penyusunan program dan Nota Keuangan/Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), Rencana Kerja (Renja), Rencana Kerja dan Anggaran, perubahan/revisi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L);

d. Pelaksanaan pemberian bimbingan teknis perencanaan kementerian Hukum dan HAM;

e. Pelaksanaan pembinaan kelembagaan di lingkungan kementerian Hukum dan HAM;

(49)

38 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

f. Pelaksanaan pembinaan ketatalaksanaan di lingkungan kementerian Hukum dan HAM;

g. Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi reformasi birokrasi di lingkungan kementerian Hukum dan HAM;

h. Penyusunan dan evaluasi serta pengendali laporan kementerian Hukum dan HAM; dan

i. Pelaksanaan urusan ketatausahaan dan Biro Perencanaan.

2. BIRO KEPEGAWAIAN

Biro Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengelolaan di bidang perencanaan kebutuhan pegawai, pembinaan dan pengembangan karir, penilaian kinerja, pemberian perizinan, jaminan sosial, perlindungan, dan sistem informasi kepegawaian di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, terdiri dari: Bagian Perencanaan, dan Sistem Informasi Kepegawaian dan Tata Usaha, Bagian Pengembangan Karir Pegawai, dan Kelompok Jabatan Fungsional.

Dalam melaksanakan tugasnya Biro Kepegawaian menyelenggarakan fungsi:

a. penyusunan rencana dan program Biro Kepegawaian;

b. koordinasi dan penyusunan rencana kebutuhan pegawai;

c. penyelenggaraan seleksi penerimaan pegawai, seleksi alih golongan, pengangkatan, dan penempatan pertama pegawai;

d. pembinaan dan pengelolaan sistem informasi kepegawaian;

e. pengelolaan data arsip kepegawaian;

f. penyelenggaraan pembinaan karir pegawai yang meliputi mutasi, kepangkatan, pemberhentian, dan pensiun;

g. penyusunan rencana pengembangan kompetensi pegawai;

h. penyusunan rencana pengembangan karir pegawai;

i. penyusunan kebijakan dan pengendalian penilaian kinerja pegawai;

j. penyelenggaraan pembinaan penegakan disiplin dan kode etik pegawai;

k. penyelenggaraan pemberian penghargaan pegawai;

l. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi perizinan

(50)

kepegawaian;

m. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan jaminan sosial pegawai;

n. penyelenggaraan pelayanan dan pengelolaan administrasi, ketatausahaan, persuratan, kearsipan, dan kerumahtanggaan di lingkungan Biro Kepegawaian; dan

o. penyusunan bahan evaluasi, monitoring dan pelaporan di lingkungan Biro Kepegawaian.

3. BIRO KEUANGAN

Biro Keuangan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, pengelolaan, koordinasi, dan pelaksanaan anggaran di lingkungan Kementerian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terdiri dari: Bagian Pelaksanaan Anggaran dan Tata Usaha, Bagian Akuntansi dan Pelaporan, dan Kelompok Jabatan Fungsional.

Tugas Biro Keuangan sangat erat hubungannya dengan Biro Perencanaan, bahkan pada tahun-tahun sebelumnya bagian ini juga melakukan penyusunan anggaran, saat ini koordinasi dilakukan menyangkut pencairan dan pertanggungjawaban anggaran. Tugas masing-masing bagian juga saling berkaitan.

Dalam melaksanakan tugas ini, Biro Keuangan menyelenggarakan fungsi- fungsi pelayanan meliputi :

a. penyusunan rencana dan program Biro Keuangan;

b. penyiapan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

c. koordinasi, pembinaan, pengelolaan terhadap pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

d. penyusunan dan perumusan pelaksanaan daftar isian pelaksanaan anggaran di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

e. penyusunan revisi daftar isian pelaksanaan anggaran di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

f. koordinasi dan pembinaan penatausahaan penerimaan negara bukan pajak di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

(51)

40 MATERI TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA SEKRETARIAT JENDERAL

g. pelaksanaan pengeluaran keuangan di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

h. pelaksanaan pembinaan dan penatausahaan pengelolaan rekening dan penerimaan hibah di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

i. pelaksanaan dan pengujian surat permintaan pembayaran dan penerbitan surat perintah membayar Sekretariat Jenderal;

j. pelaksanaan urusan perbendaharaan;

k. pelaksanaan penatausahaan administrasi keuangan di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

l. pelaksanaan konsolidasi dan penyusunan laporan keuangan tingkat Sekretariat Jenderal sebagai satuan kerja, Sekretariat Jenderal sebagai eselon I, dan tingkat kementerian;

m. pelaksanaan pembinaan dan monitoring serta evaluasi akuntansi dan pelaporan sesuai standar akuntansi pemerintahan;

n. pelaksanaan pengelolaan dan analisa data laporan keuangan di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

o. pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis tentang akuntansi dan penyusunan laporan keuangan;

p. pelaksanaan pendampingan prarekonsiliasi data laporan keuangan tingkat kantor wilayah;

q. pelaksanaan rekonsiliasi nasional data laporan keuangan tingkat pusat dan kantor wilayah;

r. pelaksanaan koordinasi tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksaan Keuangan dan Inspektorat Jenderal di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

s. pelaksanaan bimbingan teknis pengelolaan keuangan;

t. pelaksanaan penyelesaian kerugian negara; dan

u. pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Biro Keuangan.

Referensi

Dokumen terkait

e) perusahaan yang termasuk dalam kategori sektor sesuai huruf c wajib mendapatkan rekomendasi dari kementerian teknis pembina sektornya sebelum dapat memperoleh

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

Tetapi pada tahun 2018, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia menetapkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2018

(3) Jenis kesenian daerah sebagaimana dimaksud pada ayat( 2) yang dapat dipertunjukkan di Hotel/Restaurant/Puri/Tempat lain yang dianggap layak adalah seni kreasi

Logika fuzzy adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan sesuatu ruang input ke dalam suatu ruang output. Dalam perancangan sistem ini fuzzy logic digunakan untuk

29 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Direktorat Diseminasi dan Penguatan Hak Asasi Manusia di

Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia diatur dalam Keputusan Menteri Hukum dan

Tanpa seka kultural apapun (termasuk sekat etnis, ras, agama. geografis, dan strata sosial) individu bebas melalukan aktivítas di ruang cyberpublik. la