7 BAB II
TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA
A. Review Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian dari Rita et al. (2015) mengungkapkan bahwa, pengakuan dan penyaluran zakat infak/sedekah yang ada di LAZISMU kabupaten Malang sudah sesuai dengan ketentuan PSAK No.109. Namun di dalam pengukuran, penyajian, dan pengungkapan zakat dan infak/sedekah belum sesuai dengan PSAK No. 109. Selain itu LAZISMU juga tidak memisahkan dana zakat, infak dan dana amil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif bersifat studi kasus.
Hasil penelitian dari Ritonga (2017) bahwa penyajian laporan keuangan pada BAZNAS Sumatra Utara sudah menerapkan sesuai dengan ketentuan PSAK No. 109 akan tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan PSAK No. 109. Di dalam laporan keuangan yang disajikan BAZNAS Sumatera utara masih belum informatif, hal ini disebabkan karena perlakuan akuntansi zakat belum sepenuhnya sesuai dengan penerapan PSAK NO. 109. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif dan jenis data ini bersifat kualitatif.
Penelitian dari Wati et al. (2017) bahwa pada BAZNAS kota Manado dalam membuat laporan keuangannya ada yang belum menerapkan sesuai ketentuan PSAK 109. Di dalam Laporan keuangannya masih berbentuk laporan penerimaan serta penyalurannya saja. Oleh karna itu pimpinan Badan
Amil Zakat (BAZNAS) Kota Manado sebaiknya melakukan pembuatan 5 jenis komponen laporan keuangan yang sesuai berdasarkan ketentuan PSAK 109.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran yang detail tentang latar belakang, sifat-sifat dan karakteristik yang ada didalam penelitian.
Hasil Penelitian Saputro et al. (2018) menjelaskan di dalam penyajiannya Lazis sabilillah Malang sudah sesuai dengan PSAK 109, akan tetapi pengakuan, pengungkapan, pengukuran belum sesuai dengan PSAK 109.
Metode yang di gunakan yaitu metode deskriptif analitis.
Penelitian dari Muflihah dan Wahid (2019) bahwa di LAZIS Kota Tasikmalaya belum menerapkan ketentuan berdasarkan konsep PSAK 109 tentang penerapan akuntansi zakat dan infak/sedekah. Dapat dilihat dari laporan penerimaan dan penyaluran zakat, infak/sedekah. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu analisis deskritif dengan menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi serta wawancara.
Penelitian dari Saputri et al. (2019) bahwa pengakuan yang ada di Lembaga zakat Al Haromain dan LESMA An Nur di Kota Batu telah sesuai penerapannya berdasarkan ketentuan PSAK 109. Akan tetapi didalam pengukuran, penyajian serta pengungkapan belum sesuai sepenuhnya dengan ketentuan berdasarkan PSAK 109. Karena hal tersebut merupakan Standar bagi amil zakat dalam menyusun laporan keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu deskritif analisis dan merupakan jenis penelitian kualitatif.
Penelitian tentang penerapan akuntansi zakat, dan infak/sedekah telah banyak di lakukan oleh para akademisi. Namun dalam melakukan penelitian ini penulis melakukan peneletian dengan judul yang relatif sama dengan peneliti terdahulu, akan tetapi dengan objek yang berbeda, yaitu di Yayasan Dana Sosial Al Falah kota Malang (YDSF). Penelitian terdahulu tersebut digunakan penulis sebagai dasar refensi dalam penelitian ini.
B. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah
Menurut Sri Nurhayati dan Wasilah (2015) Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu serta menjadi unsur dari rukun Islam yaitu memberikan harta tertentu yang di wajibkan Allah SWT dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk di serahkan kepada orang-orang yang berhak menerima. berdasarkan Pengertian tersebut maka zakat tidak sama dengan donasi, sumbangan dan shodaqoh yang bersifat sukarela. Zakat merupakan suatu kewajiban muslim yang harus di tunaikan dan bukan merupakan hak.
Sehingga kita tidak dapat memilih untuk membayar atau tidak. Zakat memiliki aturan yang jelas mengenai harta yang harus di zakatkan batasan harta yang tekena zakat, demikian juga cara menghitungnya, bahkan siapa yang boleh menerima harta zakat pun telah di atur oleh Allah SWT dan Rosulnya di dalam Al qur’an.
Sedangkan akuntansi dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan dan penganalisaan data keuangan suatu
organisasi (Haryono Jusuf, 2001). Akuntansi zakat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu penyediaan informasi, pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Akuntansi zakat merupakan alat informasi antara lembaga pengelola zakat sebagai manajemen dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Bagi manajemen, informasi akuntansi zakat digunakan dalam proses pengendalian manajemen mulai dari perencanaan, pembuatan program, alokasi anggaran, evaluasi kinerja, dan pelaporan kinerja (Mahmudi, 2008). Informasi akuntansi zakat juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja lembaga pengelola zakat. Akuntansi dalam hal ini diperlukan terutama untuk menentukan indikator kinerja (performance indicator) sebagai dasar penilaian kinerja. Manajemen akan kesulitan untuk melakukan pengukuran kinerja apabila tidak ada indikator kinerja yang memadai. Indikator kinerja tersebut dapat bersifat finansial maupun nonfinansial.
2. Perlakuan Akuntansi Zakat, dan Infak/Sedekah Menurut PSAK No. 109
Perlakuan akuntansi zakat semuanya sudah diatur oleh PSAK No.109 yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang berlaku efektif mulai per Januari 2012. Dalam PSAK ini sudah diatur mulai dari Pengakuan dan Pengukuran, Penyajian, serta Pengungkapan Zakat dan Infaq/Sedekah.
A. Pengakuan dan Pengukuran Zakat dan Infak/Sedekah Penerimaan Zakat
Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset lainnya diterima. Zakat yang diterima dari muzakki diakui sebagai penambah dana zakat :
(i) jika dalam bentuk kas maka sebesar jumlah yang diterima;
(ii) jika dalam bentuk nonkas maka sebesar nilai wajar aset nonkas.
Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga pasar. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang diatur dalam PSAK yang relevan.
Zakat yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil dan dana zakat untuk bagian nonamil.
Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk masing-masing mustahiq ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil. Jika muzakki menentukan mustahiq yang harus menerima penyaluran zakat melalui amil maka aset zakat yang diterima seluruhnya diakui sebagai dana zakat. Jika atas jasa tersebut amil mendapatkan ujrah/fee maka diakui sebagai penambah dana amil.
Jika terjadi penurunan nilai aset zakat nonkas, jumlah kerugian yang ditanggung harus diperlakukan sebagai pengurang dana zakat atau pengurang dana amil tergantung dari sebab terjadinya kerugian tersebut. Penurunan nilai aset zakat diakui sebagai:
(i) pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil;
(ii) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.
Penyaluran zakat
Zakat yang disalurkan kepada mustahiq diakui sebagai pengurang dana zakat sebesar :
(i) jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas;
(ii) jumlah tercatat, jika dalam bentuk aset non kas.
Penerimaan Infak/Sedekah
Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai penambah dana infak/sedekah terikat atau tidak terikat sesuai dengan tujuan pemberi infak/sedekah sebesar:
(i) Jumlah yang diterima, jika dalam bentuk kas;
(ii) Nilai wajar jika dalam bentuk nonkas.
Penentuan nilai wajar asset nonkas yang diterima menggunkaan harga pasar. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai dengan SAK yang relevan. Infak/sedekah yang diterima dapat berupa kas atau aset non kas. Aset non kas dapat berupa aset lancar dan aset tidak lancar.
Jika terjadi penurunan nilai aset infak/sedekah tidak lancar diakui sebagai:
(i) Pengurangan dana infak/sedekah, jika tidak disebabkan oleh kelalaian amil;
(ii) Kerugian dan pengurangan dana amil, jika disebebkan oleh kelalaian amil.
Penyaluran Infak/Sedekah
Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana infak/sedekah sebesar:
(i) Jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas;
(ii) Nilai tercatat aset yang diserahkan, jika dalam bentuk aset non kas.
Bagian dana infak/sedekah yang disalurkan untuk amil diakui sebagai penambah dana amil.Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk penerima infak/sedekah ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah, kewajaran, dan etika yang dituangkan dalam bentuk kebijakan amil.
Dana Non Halal
Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, antara lain penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank konvensional. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh entitas syariah karena secara prinsip dilarang. Penerimaan nonhalal diakui sebagai dana nonhalal, yang terpisah dari dana zakat, dana infak/ sedekah dan dana amil. Aset nonhalal disalurkan sesuai dengan syariah.
B. Penyajian
Amil menyajikan dana zakat, dana infak/ sedekah, dana amil, dan dana nonhalal secara terpisah di dalam (laporan posisi keuangan).
C. Pengungkapan Zakat
Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut ini terkait dengan transaksi zakat, tetapi tidak terbatas pada:
a) Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas penyaluran zakat dan penerima (mustahiq);
b) Kebijakan pembagian antara dana untuk amil dan dana non amil atas penerimaan zakat, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan;
c) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat berupa aset nonkas;
d) Rincian jumlah penyaluran dana zakat yang mencakup jumlah beban pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung mustahiq;
e) Hubungan istimewa antara amil dan mustahiq yang meliputi:
(i) Sifat hubungan istimewa;
(ii) Jumlah dan jenis aset yang disalurkan;
(iii) Prosentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode.
Infak/Sedekah
Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut ini terkait dengan transaksi infak/sedekah, tetapi tidak terbatas pada:
a) Kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas penyaluran, dan penerima infak/sedekah;
b) Kebijakan pembagian antara dana untuk amil dan dana non amil atas penerimaan infak/sedekah, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan;
c) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan infak/sedekah berupa aset nonkas;
d) Keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi dikelola terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan persentase dari seluruh penerimaan infak/sedekah selama periode pelaporan serta alasannya;
e) Hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d) diungkapkan secara terpisah;
f) Penggunaan dana infak/sedekah menjadi aset kelolaan yang diperuntukkan bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan persentase terhadap seluruh penggunaan dana infak/sedekah serta alasannya;
g) Rincian jumlah penyaluran dana infak/sedekah yang mencakup jumlah beban pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung oleh penerima infak/sedekah;
h) Rincian dana infak/sedekah berdasarkan peruntukannya, terikat dan tidak terikat; dan
i) Hubungan istimewa antara amil dengan penerima infak/sedekah yang meliputi:
(i) Sifat hubungan istimewa;
(ii) Jumlah dan jenis aset yang disalurkan;
(iii) Prosentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran dana infak/sedekah selama periode.
Selain membuat pengungkapan terkait dengan transaksi zakat dan infak/sedekah amil juga harus mengungkapankan hal-hal berikut ini:
a) Keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan menegenai kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya;
b) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan infak/sedekah.
3. Komponen Laporan Keuangan Lembaga Amil Zakat
Akuntansi akan menghasilkan informasi keuangan bagi sebuah organisasi. Informasi keuangan yang di hasilkan oleh proses akuntansi ini disebut dengan laporan keuangan. Penyusunan laporan keuangan harus taat kepada prinsip akuntansi yang berlaku umum pada saat ini yaitu PSAK.
Standar berfungsi untuk memberikan acuan dan pedoman dalam menyusun laporan keuangan sehingga laporan keuangan antar entitas lebih seragam.
Adanya tuntutan untuk menerapkan transparasi dan akutabilitas menjadikan amil harus membuat laporan keuangan secara lengkap sesuai dengan komponen laporan keuangan yang ada di dalam PSAK 109 yaitu:
A. Laporan posisi keuangan
Amil dalam menyajikan laporan posisi keuangan dengan memperhatikan ketentuan dalam SAK yang relevan mencangkup, tetapi tidak terbatas, seperti dalam ilustrasi tabel berikut :
Tabel 2.1 : Ilustrasi Laporan Posisi Keuangan BAZ “XYZ”
Per 31 Desember 20XX
Keterangan Rp Keterangan Rp
Aset
Aset lancar Kas dan setara kas
Piutang
Aset tidak lancar Aset tetap
Akumulasi penyusutan
xxx xxx xxx
xxx (xxx)
Liabilitas
Liabilitas jangka pendek
Biaya yang masih harus dibayar Liabilitas jangka panjang Liabilitas imbalan kerja Jumlah liabilitas Saldo dana Dana zakat
Dana infak/sedekah Dana amil
Jumlah dana
Xxx xxx xxx
xxx xxx xxx xxx
Jumlah aset Xxx Jumlah liabilitas dan saldo dana Xxx Sumber; IAI (2019:101.46)
B. Laporan perubahan dana
Amil dalam menyajikan laporan perubahan dana zakat, dana infak/sedekah, dan dana amil, penyajian laporan perubahan dana mencangkup, tetapi tidak terbatas seperti dalam ilustrasi tabel berikut ini :
Tabel 2.2 : Ilustrasi Laporan Perubahan Dana BAZ “XXX”
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XXX
Keterangan Rp
DANA ZAKAT Penerimaan
Penerimaan dari muzakki muzakki entitas
muzakki individual Hasil penempatan
Jumlah penerimaan dana zakat
Bagian amil atas penerimaan dana zakat Jumlah penerimaan dana zakat setelah bagian amil
Penyaluran Fakir-Miskin Riqab
Gharim Muallaf Sabilillah Ibnu sabil
Jumlah penyaluran dana zakat Surplus (defisit)
Saldo awal Saldo akhir
xxx xxx xxx xxx xxx xxx
(xxx) (xxx) (xxx) (xxx) (xxx) (xxx) (xxx) xxx xxx xxx DANA INFAK/SEDEKAH
Penerimaan
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah
Bagian amil atas penerimaan dana infak/sedekah Hasil pengelolaan
Jumlah penerimaan dana infak/sedekah Penyaluran
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah Alokasi pemanfaatan aset kelolaan
(misalnya beban penyusutan dan penyisihan) Jumlah penyaluran dana infak/sedekah Surplus (defisit)
Saldo awal Saldo akhir
xxx xxx (xxx)
xxx xxx
(xxx) (xxx) (xxx) (xxx) xxx xxx xxx
DANA AMIL Penerimaan
Bagian amil dari dana zakat
Bagian amil dari dana infak/sedekah Penerimaan lainnya
Jumlah penerimaan dana amil Penggunaan
Beban pegawai Beban penyusutan
Beban umum dan administrasi lainnya Jumlah penggunaan dana amil
Surplus (defisit) Saldo awal Saldo akhir
xxx xxx xxx xxx (xxx) (xxx) (xxx) (xxx) xxx xxx xxx DANA NONHALAL
Penerimaan Bunga bank Jasa giro
Penerimaan nonhalal lainnya Jumlah penerimaan dana nonhalal Penggunaan
Jumlah penggunaan dana nonhalal Surplus (defisit)
Saldo awal Saldo akhir
xxx xxx xxx xxx
(xxx) xxx xxx xxx Jumlah saldo dana zakat, dana infak/sedekah,
dana amil dan dana nonhalal
Xxx
Sumber; IAI (2019:101.47-48)
C. Laporan perubahan aset kelolaan
Amil dalam menyajikan laporan perubahan aset kelola yang mencangkup, tetapi tidak terbatas seperti dalam ilustrasi tabel berikut ini:
Tabel 2. 3 : Ilustrasi Laporan Perubahan Aset Kelolaan BAZ “XXX”
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XX2
saldo awal
Penam- bahan
Pengu- rangan
Penyi- sihan
Akumulasi penyusutan
Saldo akhir
Dana infak/
sedekah – aset kelolaan lancar (misal piutang bergulir)
Xxx Xxx (xxx) (xxx) - Xxx
Dana infak/
sedekah – aset kelolaan tidak lancar (misal rumah sakit atau sekolah)
Xxx Xxx (xxx) - (xxx) Xxx
Dana zakat- aset
kelolaan(misal rumah sakit atau sekolah
Xxx Xxx Xxx - (xxx) Xxx
Sumber; IAI (2019:101.49) D. Laporan arus kas
Amil menyajikan laporan arus kas sesuai dengan PSAk 2; Laporan Arus Kas dan SAK lain yang relevan.
E. Catatan atas laporan keuangan
Amil menyajikan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah dan SAK lain yang relevan.