• Tidak ada hasil yang ditemukan

TATA KELOLA PERUSAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TATA KELOLA PERUSAHAAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TATA KELOLA PERUSAHAAN

“Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002”

Nama Dosen : Abdurrahman

Di susun oleh :

Gina Widiyawati (20160102072)

FAKULTAS EKONOMI - AKUNTANSI

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

JAKARTA

2016-2017

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 2 KATA PENGANTAR ... 3 BAB I ... 4 PENDAHULUAN ... 4 a. Latar Belakang ... 4 b. Tujuan Penulisan ... 5 BAB II PEMBAHASAN ... 6

A. Pengertian Sarbanes Oxley Acct ... 6

B. Sejarah Sarbanes Oxley Acct ... 6

C. Aktivitas SOA dalam Perusahaan ... 7

D. Isi Sarbanes Oxley Acct ... 8

E. Manfaat Penerapan SOA ... 10

F. Kebutuhan akan Penerapan SOA pada Perusahaan ... 10

G. Resiko tidak mematuhi SOA bagi Perusahaan ... 11

H. Penerapan SOA di Indonesia ... 11

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur tidak lupa penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002”.

Penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bpk. Abdurrahman selaku dosen mata kuliah Tata Kelola Perusahaan Universitas Esa Unggul yang sudah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas ini. Penulis sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan juga wawasan menyangkut munculnya Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002”.

Penulismenyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna atau masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulismengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan penulis buat di masa yang akan datang.

Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang khususnya bagi para pembaca. Mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan.

Jakarta, 18 Oktober2017

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Sarbanes Oxley

Sarbanes Oxley Act of 2002 merupakan akta (undang-undang) yang diberi nama berdasarkan dua sponsornya, yaitu Senator Paul Sarbanes and Representatif Michael G. Oxley, ini disetujui oleh Dewan serta disahkan menjadi hukum oleh presiden George W. Bush. Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Akta ini memiliki :

- 11 judul atau bagian (untuk menetapkan hal-hal mulai dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana);

- Menuntut Securities and Exchange Commission (SEC) (untuk menetapkan aturan persyaratan baru, untuk menaati hukum mini);

Perdebatan mengenai untung rugi atas penerapan Sarbox masih terus terjadi. Para pendukung menganggap aturan ini diperlukan dan memegang peranan penting untuk mengembalikan keprcayaan publik terhadap pasar modal nasional, sedangkan para penentang menganggap Sarbox tidak diperlukan dan campur tangan pemerintah dalam manajemen perusahaan akan membuat perusahaan-perusahaan AS mengalami kerugian terhadap perusahaan-perusahaan asing.

Sarbox merupakan suatu lembaga semi pemerintah, PCAOB yang bertugas : - Mengawasi

- Mengatur - Memeriksa

- Mendisiplinkan kantor-kantor akuntan PCAOB ( Public Company Accounting Oversight Board )

Sarbanes Oxley Act of 2002, Public Company Accounting Reform and Investor Protection Act of 2002 atau kadang disingkat Sox atau Sarbox adalah hukum federal Amerika Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002 sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar yang termasuk diantaranya melibatkan Enron, Tyco Internasional, Adelphia, Peregrine Systems dan WorldCom. Skandal-skandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional.

(5)

b. Tujuan Penulisan

Pada dasarnya tugas ini dibuat sebagai wujud dari pertanggung jawaban penulis atas tugas yang diberikan oleh dosen sebagai syarat untuk memenuhi aspek penilaian mata kuliah Tata Kelola Perusahaan.

Selain itu tugas ini memiliki tujuan sebagai berikut :

- Memahami pengertian dari Sarbanes Oxley Acct; - Mengetahuisejarah munculnya Sarbanes Oxley Acct; - Mengetahui aktivitas SOA dalam Perusahaan;

- Untuk mengetahui isi dari Sarbanes Oxley Acct; - Untuk mengatahui manfaat dari Sarbanes Oxley Acct; - Untuk mengatahui kebutuhan akan penerapan SOA;

- Untuk mengetahui resiko tidak mematuhi Sarbanes Oxley Acct; - Untuk mengetahui penerapan Sarbanes Oxley Acct di Indonesia; - Mengetahui keunggulan dan kelemahan SOA;

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian (Sarbanes Oxley Act)

SOA adalah sebuah landasan yang disahkan pada 23 januari oleh kongres Amerika Serikat. Undang-Undang tersebut dikenal sebagai Public Company Accounting and Investor Protection Act of 2002 atau undang-undang perlindungan investor dan pengaturan akuntansi perusahaan publik. Hukum federal Amerika Serikat ini ditetapkan pada 30 Juli 2002.

Sarbanes-Oxley Act (SOA) merupakan sebuah produk hukum (Undang-Undang) di Amerika Serikat (AS) yang mengatur tentang akuntabilitas, praktik akuntansi dan keterbukaan informasi, termasuk tata cara pengelolaan data di perusahaanpublik. Namun, di Indonesia baru sebagian kecil yang baru menerapkan aturan tersebut.

B. Sejarah Munculnya SOA

Sarbanes-Oxley atau kadang disingkat SOx atau SOA adalah hukum federal Amerika Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002. Undang-undang ini diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes (Maryland) dan Representative Michael Oxley (Ohio) yang disetujui oleh Dewan dengan suara 423-3 dan oleh Senat dengan suara 99-0 serta disahkan menjadi hukum oleh Presiden George W. Bush. Undang-undang ini dikeluarkan sebagai respons dari Kongres Amerika Serikat terhadap berbagai skandal pada beberapa perusahaan besar seperti: Enron, Tyco International, Adelphia, Peregrine Systems, WorldCom (MCI), AOL TimeWarner, Aura Systems, Citigroup, Computer Associates International, CMS Energy, Global Crossing, HealthSouth, Quest Communication, Safety-Kleen dan Xerox, yang juga melibatkan beberapa KAP yang termasuk dalam “the big five” seperti: Arthur Andersen, KPMG dan PWC.

Skandal-skandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham. Semua skandal ini merupakan contoh tragis bagaimana kecurangan (fraudschemes) berdampak sangat buruk terhadap pasar, stakeholders dan para pegawai.

Dengan diterbitkannya undang-undang ini, ditambah dengan beberapa aturan pelaksanaan dari Securities Exchange Commision (SEC) dan beberapa self regulatory bodies lainnya, diharapkan akan meningkatkan standar akuntabilitas perusahaan, transparansi dalam pelaporan keuangan, memperkecil kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan menyembunyikan fraud, serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi

(7)

terhadap corporate governance.

Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Akta ini terdiri dari 11 bab atau bagian yang menetapkan hal-hal mulai dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana. Sarbox juga menuntut Securities and Exchange Commission (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan baru untuk menaati hukum ini. Saat ini, corporate governance dan pengendalian internal bukan lagi sesuatu yang mewah lagi karena kedua hal ini telah disyaratkan oleh undang-undang.

Undang-undang ini merupakan suatu terobosan dan sebagai reformasi terbesar di USA khususnya dan dunia pada umumnya bagi penilaian corporate governance sejak diterbitkannya Securities Acts of 1933 and 1934, diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes (Maryland) dan Representative Michael Oxley (Ohio) yang disetujui oleh Dewan dengan suara 423-3dan oleh Senat dengan suara 99-0 serta disahkan menjadi hukum oleh Presiden George W. Bush.Undang-undang ini dikeluarkan sebagai respons dari Kongres Amerika Serikat terhadap berbagai skandal pada beberapa perusahaan besar seperti: Enron, Tyco International, Adelphia, PeregrineSystems, WorldCom (MCI), AOL TimeWarner, Aura Systems, Citigroup, Computer Associates International, CMS Energy, Global Crossing, HealthSouth, Quest Communication, Safety-Kleen danXerox, yang juga melibatkan beberapa KAP yang termasuk dalam “the big five” seperti: Arthur Andersen, KPMG dan PWC.

C. Aktivitas SOA dalam Perusahaan

Dalam Sarbanes Oxley Act diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan pembaharuan governance yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen. Selain itu diatur pula mengenai hal-hal sebagai berikut:

a. Menetapkan beberapa tanggung jawab baru kepada dewan komisaris, komite audit, dan pihak manajemen;

b. Mendirikan the Public Company Accoounnting Oversight Board, sebuah dewan yang independen dan bekerja full time bagi pelaku pasar modal; c. Penambahan tanggung jawab dan anggaran SEC (Securities Exchange

Commision) secara signifikan. Mendefinisikan jasa “non audit” yang tidak boleh diberikan oleh KAP kepada klien;

d. Memperbesar hukuman bagi terjadinya corporate fraud (manipulasi perusahaan);

e. Mensyaratkan adanya aturan mengenai cara menghadapi conflicts of interest; f. Menetapkan beberapa persyaratan pelaporan yang baru;

(8)

atau pengadu untuk melaporkan terjadinya penyimpangan. Sistem pelaporan ini diselenggarakan oleh komite audit.Perusahaan dapat menggunakan jasa pelaporan hotlines seperti ACFE’s EthicsLine. ACFE dapat membantu menyusun hotlines pengaduan yang akan menerima dan merahasiakan pengaduan, dan memberikan informasi kepada perusahaan agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Sistem hotlines ini akan mendorong para pegawai untuk melaporkan karena mereka merasa aman dari tindakan pembalasan dari yang dilaporkan, dan inilah elemen penting dan kritis bagi program pencegahan fraud yang kuat.

D. Isi Sarbanes Oxley Acct

SOX terdiri dari 11 seksi sebagai berikut :

TITLE I—PUBLIC COMPANY ACCOUNTING OVERSIGHT BOARD Sec. 101. Establishment; administrative provisions.

Sec. 102. Registration with the Board.

Sec. 103. Auditing, quality control, and independence standards and rules. Sec. 104. Inspections of registered public accounting firms.

Sec. 105. Investigations and disciplinary proceedings. Sec. 106. Foreign public accounting firms.

Sec. 107. Commission oversight of the Board. Sec. 108. Accounting standards.

Sec. 109. Funding.

TITLE II—AUDITOR INDEPENDENCE

Sec. 201. Services outside the scope of practice of auditors. Sec. 202. Preapproval requirements.

Sec. 203. Audit partner rotation.

Sec. 204. Auditor reports to audit committees. Sec. 205. Conforming amendments.

Sec. 206. Conflicts of interest.

Sec. 207. Study of mandatory rotation of registered public accounting firms. Sec. 208. Commission authority.

Sec. 209. Considerations by appropriate State regulatory authorities. TITLE III—CORPORATE RESPONSIBILITY

Sec. 301. Public company audit committees.

Sec. 302. Corporate responsibility for financial reports. Sec. 303. Improper influence on conduct of audits. Sec. 304. Forfeiture of certain bonuses and profits. Sec. 305. Officer and director bars and penalties.

Sec. 306. Insider trades during pension fund blackout periods. Sec. 307. Rules of professional responsibility for attorneys. Sec. 308. Fair funds for investors.

TITLE IV—ENHANCED FINANCIAL DISCLOSURES Sec. 401. Disclosures in periodic reports.

(9)

Sec. 402. Enhanced conflict of interest provisions.

Sec. 403. Disclosures of transactions involving management and principal stockholders.

Sec. 404. Management assessment of internal controls. Sec. 405. Exemption.

Sec. 406. Code of ethics for senior financial officers. Sec. 407. Disclosure of audit committee financial expert. Sec. 408. Enhanced review of periodic disclosures by issuers. Sec. 409. Real time issuer disclosures.

TITLE V—ANALYST CONFLICTS OF INTEREST

Sec. 501. Treatment of securities analysts by registered securities associations and national securities exchanges.

TITLE VI—COMMISSION RESOURCES AND AUTHORITY Sec. 601. Authorization of appropriations.

Sec. 602. Appearance and practice before the Commission. Sec. 603. Federal court authority to impose penny stock bars.

Sec. 604. Qualifications of associated persons of brokers and dealers. TITLE VII—STUDIES AND REPORTS

Sec. 701. GAO study and report regarding consolidation of public accounting firms.

Sec. 702. Commission study and report regarding credit rating agencies. Sec. 703. Study and report on violators and violations

Sec. 704. Study of enforcement actions. Sec. 705. Study of investment banks.

TITLE VIII—CORPORATE AND CRIMINAL FRAUD ACCOUNTABILITY Sec. 801. Short title.

Sec. 802. Criminal penalties for altering documents.

Sec. 803. Debts nondischargeable if incurred in violation of securities fraud laws. Sec. 804. Statute of limitations for securities fraud.

Sec. 805. Review of Federal Sentencing Guidelines for obstruction of justice and extensive criminalfraud.

Sec. 806. Protection for employees of publicly traded companies who provide evidence of fraud.

Sec. 807. Criminal penalties for defrauding shareholders of publicly traded companies.

TITLE IX—WHITE-COLLAR CRIME PENALTY ENHANCEMENTS Sec. 901. Short title.

Sec. 902. Attempts and conspiracies to commit criminal fraud offenses. Sec. 903. Criminal penalties for mail and wire fraud.

(10)

Sec. 905. Amendment to sentencing guidelines relating to certain white-collar offenses.

Sec. 906. Corporate responsibility for financial reports. TITLE X—CORPORATE TAX RETURNS

Sec. 1001. Sense of the Senate regarding the signing of corporate tax returns by chief executive officers.

TITLE XI—CORPORATE FRAUD AND ACCOUNTABILITY Sec. 1101. Short title.

Sec. 1102. Tampering with a record or otherwise impeding an official proceeding.

Sec. 1103. Temporary freeze authority for the Securities and Exchange Commission.

Sec. 1104. Amendment to the Federal Sentencing Guidelines.

Sec. 1105. Authority of the Commission to prohibit persons from serving as officers or directors.

Sec. 1106. Increased criminal penalties under Securities Exchange Act of 1934. Sec. 1107. Retaliation against informants.

E. Manfaat penerapan SOA

a. Manfaat penerapan bagi perusahaan :

- Perusahaan publik akan memiliki sitem pengendalian intern yang lebih baik, sehingga akuntabilitas dan integritas pelaporan keuangannya lebih dapat dipercaya dan diandalkan;

- Kepercayaan investor meningkat;

- Memiliki citra yang positif dimata publik dan pemangku kepentingan lainnya;

- Membantu perusahaan untuk melakukan Good Governance Corporation dengan baik;

b. Manfaat penerapan bagi konsumen :

- Meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan; - Menghindari adanya kebohongan publik oleh perusahaan;

- Konsumen dapat memastikan akurasi laporan keuangan perusahaan;

F. Kebutuhan akan penerapan SOA pada perusahaan

SOA diterbitkan untuk memproteksi kepentingan investor dengan cara menciptakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), full disclosure, dan akuntabilitas dalam perusahaan (Sarbanes dan Oxley, 2002). SOA khususnya section 404 mensyaratkan adanya laporan manajemen tahunan (annual management report) tentang pengendalian intern perusahaan atas pelaporan keuangan dan laporan manajemen tersebut merupakan subjek yang akan diaudit.

Pada dasarnya SOA ditujukan kepada perusahaan publik yang terdaftar dalam bursa saham. Namun, juga dapat diterapkan pada perusahaan non-publik. Karena dalam SOA diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan

(11)

pembaharuan governance yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen.

Perusahaan sangat perlu Sarbanes Oxley untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa perusahaan tersebut tidak ada unsur fraud (manipulasi) didalamnya khususnya pada perusahaan publik yang harus mempunyai kepercayaan terhadap masyarakat. Sarbanes Oxley Act juga meningkatkan perlindungan bagi pegawai karena SOA mewajibkan semua perusahaan publik untuk membuat suatu sistem pelaporan yang memungkinkan bagi pegawai untuk melaporkan terjadinya penyimpangan. Sistem pelaporan hotlines ini akan mendorong para pegawai untuk melaporkan karena mereka merasa aman dari tindakan pembalasan dari yang dilaporkan, dan inilah elemen penting dan kritis bagi program pencegahan frauds (manipulasi).

G. Resiko tidak mematuhi SOA bagi perusahaan

a. Dapat menyebabkan kebangkrutan bagi perusahaan khususnya perusahaan publik jika ternyata terdapat fraud (manipulasi) dalam perusahaan tersebut. Karena, dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat dan menarik semua saham-sahamnya dan akan menyebabkan kebangkrutan bagi perusahaan.

b. Dapat menyebabkan perlakuan buruk bagi pegawai jika terjadi pengakuan/membeberkan dan memberi informasi jika terjadi fraud (manipulasi) dan membantu investigasi didalam perusahaan. Seperti dipecat, didemosikan, dilecehkan dan berbagai perlakuan diskrimatif lainnya.

H. Penerapan SOA di Indonesia

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai perusahaan yang telah tercatat di bursa saham dalam negeri dan luar negeri berkomitmen penuh untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan serta praktek tata kelola perusahaan dengan pembenahan internal dan pemenuhan standard internasional. Standard internasional khususnya aturan yang ditetapkan oleh US Securities and Exchange Commission (US SEC) yang harus diadopsi oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, sebagai salah satu perusahaan yang telah listing di New York Stock Exchange (NYSE), adalah Sarbanes Oxley Act (SOA).

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk saat ini menerapkan tiga section Sarbanes Oxley Act, yaitu section 302, section 404, dan section 906. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan tiga section tersebut dapat diterapkan sebagai langkah awal implementasi Sarbanes Oxley Act. Sedangkan, untuk section lainnya, kemungkinan di masa mendatang juga akan diterapkan secara bertahap bila perusahaan telah mampu menjalankan tiga section tersebut dengan lengkap dan benar, serta adanya pertimbangan manajemen terhadap benefit yang

(12)

BAB III

KESIMPULAN

• SOA merupakan hukum federal Amerika Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002.

• SOA mengatur tentang akuntabilitas, praktik akuntansi dan keterbukaan informasi, termasuk tata cara pengelolaan data di perusahaan publik. • Pada dasarnya SOA ditujukan kepada perusahaan publik yang terdaftar

dalam bursa saham. Namun, juga dapat diterapkan pada perusahaan non-publik. Karena dalam SOA diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan pembaharuan governance yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen.

• Para pendukungnya merasa bahwa aturan ini diperlukan dan memegang peranan penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pasar modal nasional dengan antara lain memperkuat pengawasan akuntansi perusahaan. Sementara para penentangnya berkilah bahwa SOA tidak diperlukan dan campur tangan pemerintah dalam manajemen perusahaan menempatkan perusahaan-perusahaan pada kerugian kompetitif terhadap perusahaan asing.

• Munculnya SOA adalah sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar. Penyebab dari kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan, mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. • Undang-undang SOA mengharapkan akan meningkatkan standar akuntabilitas

perusahaan, transparasi dalam pelaporan keuangan, memperkecil kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan

menyembunyikan fraud, serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi terhadap corporate governance.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

• Suradi. 2011. Artikel Mengenal Sarbanes Oxley Act (Sox/Soa). www.bppk.depkeu.go.id/bdk/.../146_ARTIKEL-SOA-WEB.pdf • http://www.scribd.com/doc/31300664/Penerapan-Sarbanes-Oxley-di-Indonesia • http://rebellion-rudi.blogspot.com/2012/10/pengertian-dan-tujuan-sarbanes-oxley.html • http://www.syamatahari.com/2008/06/sarbanes-oxley-act-2002.html • http://zakiyudin-ikhtar.blogspot.com/2012/08/sarbanes-oxley-act-2002.html

Referensi

Dokumen terkait

• Guru memulai pelajaran dengan mengajak siswa mengamati gambar pada buku tema 6 Subtema 4 Pembelajaran 2, atau kalau guru, mempunyai tayangan video tentang sikap pemborosan

Peta bidang tanah adalah hasil pemetaan 1 (satu) Peta bidang tanah adalah hasil pemetaan 1 (satu) bidang tanah atau lebih pada lembaran kertas dengan bidang tanah

Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving

2. Masyarakat berhak memberikan tanggapan atas daftar calon desa sasaran ini sampai dengan tanggal ……….. Tanggapan yang disampaikan setelah tanggal ……….. tersebut tidak

[r]

Tujuan dari kegiatan riset ini adalah untuk menganalisa hasil model parameter fisik dalam kaitannya pada distribusi dan variabilitas produktivitas serta kesuburan perairan

Spikula dinding tubuh ventral terdiri atas spikula bentuk meja dengan ujung tiang (spire) membentuk mahkota duri, roset, batang berbentuk huruf S dan C, batang yang permukaannya

Selain berinteraksi dengan lingkungan internal atau lingkungan domestik, sistem politik  juga melakukan interaksi dengan sistem politik lain dalam lingkungan internasional