• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasionalitas Riyadh dalam Dinamika Hubungan Saudi dan Amerika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rasionalitas Riyadh dalam Dinamika Hubungan Saudi dan Amerika"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Rasionalitas Riyadh dalam Dinamika Hubungan Saudi dan Amerika

Ahmad Anwar

Departemen Ilmu Politik Universitas Sains Al-Quran, Wonosobo–Jawa Tengah Email:[email protected]

ABSTRACT

Alliance between Saudi and the US experiences clear evidence of state behavior in

considering such policies. For Saudi, the US is main ally to maintain its power against its

political opponent in the region. Yet, pertaining to its dynamics, changing behavior of the

Kingdom toward Washington is considered due to strategic matter. Using Rational Choice

approach, this paper indicates that Saudi’s interests are believed to adjust favorable

circumstance.

Keyword: rational choice, state-behavior, Saudi Arabia, alliance

ABSTRAK

Aliansi antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat merupakan bukti nyata perilaku

Negara dalam pertimbangan kebijakan. Bagi Arab Saudi, Amerika Serikat adalah aliansi

utama untuk mempertahankan kekuatanya melawan lawan politik dalam wilayah. Namun,

melihat dinamikanya, perubahan perilaku kerajaan Arab Saudi terhadap Washington

sejalan dengan masalah strategis. Dengan menggunakan pendekatan Rational Choice,

tulisan ini mengindikasikan bahwa ketertarikan Arab Saudi dipercayai merupakan sebuah

pertimbangan keadaan tertentu

Kata kunci: rational choice, perilaku negara, Arab Saudi, aliansi

I. Pendahuluan

Timur-Tengah seakan tidak ada habisnya menjadi perhatian dunia.

Beberapaperilaku negaradi kawasan ini terkadangcukup rumit untuk dipahami. Fenomena

aliansi antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat merupakan salah satu hal unik dari sikap

negara(Luján, 2014)di tengah perseteruan Saudi dengan beberapa negara kawasan. Meski

mempunyai perbedaan karakter, hubungan erat dua negara tersebut bahkan sudah terjalin

(2)

Relasi antara negara Islam yang menganut sistem monarki absolut dengan negara

demokrasi sekuler ini sempat mengalami pasang surut. Terlebih lagi ketika dikaitkan

dengan isu terorisme maupun konflik Timur-Tengah. Masa perang dingin, misalnya

menunjukkan hubungan aliansi yang begitu erat. Namun demikian keduanya juga sempat

berselisih ketika pada era 1970-an Saudi mengembargo minyak yang menyebabkan krisis

di negara-negara Barat. Meski hubungan kembali normal dan berjalan beberapa dekade,

peristiwa WTC 9/11 kembali menegangkan persahabatan(Pollack, 2002). Namun sekali

lagi Riyadh dan Washington dapat menjalin hubungan yang erat kembali. Hal ini dapat kita

lihat, misalnya, pada November 2015 lalu Amerika menyetujuipermintaan suplay senjata

untuk militer Saudi(BBC News, 2015). Hal ini menuntut penjelasanapa yang menyebabkan

Riyadh untuk menjaga kemitraan dengan Washington?

Sebagaimana pendapat Taufiq Subhan, hubungan keduanya yang telah lama terjalin

merupakan langkah strategi yang telah memberikan manfaat positif bagi

masing-masing.Meskipun peristiwa 9/11 sempat mengganggu relasi kedua negara, namun

hubungan diplomatik kembali terjalin meski dalam porsi tertentu. Bagi Saudi, perbaikan

hubungan ini diambil karena adanya kebutuhan untuk mewujudkanhubungan politik dan

ekonomi yang lebih kondusif(Subhan, 2003).

Sementara itu, Delaney berpendapatpolitik perdagangan minyak merupakan faktor

yang paling signifikan. Amerika berkepentingan untuk menjaga stabilitas harga minyak

dunia karena Saudi termasuk penghasil minyak terbesar. Sebagai gantinya, Saudi mendapat

keuntungan untuk meningkatkan kekuatannya. Kerja sama keamanan dan pertahanan,

seperti supply persenjataan dan program latihan militer bersama misalnya, telah

menguatkan kemampuan pasukan pertahanan Saudi(Delaney, 2009).

Dalam penelitian terbaru, Blanchard menegaskan tentang kebutuhan Saudi yang

hampir selalu tidak bisa dilepas darikepentingan keamanan. Munculnya negara Islam

Irak-Suriah atau ISIS menambah tema baru dalam kebijakan anti-terorisme. Tuntutan keamanan

ini mendorong Saudi untuk menyerukan bahwa ISIS adalah musuh bersama dan perlu

ditangani oleh kedua negara(Blanchard, 2015).

Di tengah perbedaan sistem kenegaraan kedua negara, beberapa penjelasan tersebut

terlihat belum sepenuhnya menjawab tentang faktor-faktor pendorong dalam dinamika

(3)

elaborasi lebih dalam.Untuk itu, faktor pendorong maupun penghambat dalam aliansi

keduanya perlu digali. Penelitian ini mencoba menelusuri aspek tersebut dengan

memfokuskan pada kebijakan luar negeri Arab Saudi ditinjau dari dinamika hubungan

kedua negara agar dapat menghasilkan analis yang memadai.

II. Pilihan Rasional dalam Kebijakan Luar Negeri

Dalam mencapai tujuan ataupun kepentingan nasional, setiap negara perlu

merumuskan kebijakan luar negeri. Sejarah telah memberikan gambaran bagaimana setiap

negara bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, atau setidaknya

menguntungkan. Dalam perspektif Pilihan Rasional (Rational Choice), negara

digambarkan sebagai aktor rasional yang selalu berupaya untuk mendapatkan keuntungan

maksimal serta meminimalisir kerugian yang mungkin muncul. Dengan demikian setiap

kebijakan luar negeri khususnya dalam hal ini kerja sama luar negeri tidak bisa dipisahkan

dari alasan rasional yang mempertimbangkan untung rugi(Riker, 1995).

Untuk mengetahui apakah suatu kerja sama yang diambil akan memberikan

keuntungan, maka negara perlu menentukan kepentingannya. Jika memang

menguntungkan, maka negara akan mengambil sikap tertentu. Dalam hal ini kerja sama

akan terjalin ketika terjadi shared interest di antaranya keduanya(Axelrod & Keohane,

1985). Negara memutuskan dan bertindak dengan menghitung untung rugi yang jelas atau

logis sesuai kepentingannya.

Orientasi sebuah kebijakan dilihat dari aspek hasil yang akan diperoleh. Maka,

keputusan melakukan kerja sama didasarkan pada berbagai alternatif yang paling

memungkinkan(Mesquita, 2009). Hal yang paling signifikan ialah pengambil keputusan

selalu siap untuk menyesuaikan atau bahkan mengubah kebijakannya. Hal ini disandarkan

pada apa yang memang dianggap lebih atau paling menguntungkan (APSC, 2007).

Secara umum ada beberapa poin penting yang perlu digarisbawahi dalam pilihan

rasional. Pertama, negara mendefinisikan atau menentukan kepentingannya. Dalam hal ini

tentu sangat mungkin bagi setiap negara memiliki kepentingan yang berbeda-beda,

tergantung pada preferensi masing-masing. Kedua, ketika kepentingan nasional telah

ditentukan, maka suatu negara akan dapat menentukan tindakan rasionalnya, apakah

(4)

aspek tersebut.Ketiga, tindakan yang diambil dapat saja berubah di kemudian hari. Hal ini

disesuaikan dengan kondisi ataupun konteks politik yang berjalan, karena memang dunia

internasional selalu mengalami perubahan yang bahkan begitu dinamis.

Dari kerangka konsep ini, penulis berpendapat bahwa dinamika pasang surut

kebijakan Saudi untuk bekerja sama dengan Amerika dipengaruhi oleh pilihan rasional

yang dihasilkan dari preferensi kepentingan Saudi. Berbagai kesepakatan yang mereka

lakukan tidak jauh dari pertimbangan-pertimbangan tertentu.

III. Pemerintah Sunni di Tengah Konflik Kawasan

Bank Dunia mencatat pada 2013 jumlah penduduk Saudi setidaknya mencapai

28,83 juta jiwa dengan GDB senilai 748,45 Miliar US$, sebuah angka yang cukup besar

untuk negara dunia ketiga. Hal ini tidak dipungkiri mengingat 80% pendapatan ekspornya

berasal dari komoditas minyak (EHE Research, 2015). Pencapaian ini membuat Saudi

menjadi negara paling berpengaruh baik diGulf Cooperation Council/GCC maupun

Organization of the Petroleum Exporting Countries/ OPEC (Chauvin, 2010).

Arab Saudi menganut sistem monarki absolut dengan raja sebagai penguasa

kerajaan sekaligus pemimpin negara. Dengan kekuasaan yang mutlak tanpa dibatasi oleh

undang-undang, pertalian keluarga raja menjadi hal yang sangat vital, terutama dalam

suksesi kekuasaan. Raja membatasi partisipasi rakyat dalam ranah politik. Nilai-nilai

liberal dan demokrasi tidak ada karena kuatnya tradisi atau syariat Islam yang digunakan

sebagai basis legitimasi(Al-turaiqi, 2008).

Terbatasnya hak-hak politik ini setidaknya berjalan sampai beberapa dekade

sampai pada 2005 ketika tampuk kekuasaan dipegang oleh Raja Abdullah. Di masa ini,

kebijakan baru dikeluarkan untuk mereformasi sistem yang lebih terbuka dan memberikan

partisipasi yang lebih besar kepada rakyat. Pemilihan umum mulai diterapkan, di mana

rekrutmen politik yang sebelumnya bersifat eksklusif mulai ditinggalkan. Hal yang paling

signifikan adalah penerapan hak perempuan untuk memilih dan dipilih dalam beberapa

pemilu lokal(Rajkhan, 2014).

Dalam politik internasional, Kerajaan Saudi merupakan salah satu negara yang

(5)

berada di bawah kedaulatannya membuat Saudisebagai pemimpin duniaIslam. Pasca

kampanye perang melawan terorisme global oleh barat, kerajaan

menggunakanMekahsebagai alatkebijakan luar negerisejak tahun 2006. Klaim

inimenunjukkan sebuah simboluntuk mengungguli beberapa negara sainganyang

dipandang memiliki aspirasi dan visi yang berbeda dalam menjaga stabilitas dan ketertiban

kawasan(Yamani, 2008).

Kebijakan luar negeri Saudi telah dibentuk oleh konsepsi yang kuat sebagai negara

adidaya regional.Perannya sebagai penjaga stabilitas menjadikannya sebagai aktor penting.

Hal ini tidak lepas dari aspek historis bahwa Islam muncul di Arab Saudi. Karena itu

konsep peran dan tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan kesejahteraan Islam di

seluruh dunia menjadi konsep dalam kebijakan luar negerinya.

Dari pandangan tersebut, Saudi termasuk negara yang aktif dalam kerja sama luar

negerinya. Di kawasan, Saudi telah sejak lama menjalin hubungan dengan negara-negara

teluk. Persamaan ikatan darah, agama, sejarah, dan geografis merupakan beberapa faktor

penentu.Berbagai contoh kerja sama yang berhasil dilaksanakan adalah GCC pada 1981

dan Liga Arab 1945.Dalam lingkup tersebut, keamanan dan stabilitas kawasan

merupakan prinsip dalam melaksanakan tanggung jawab bersamauntuk menghadapi

berbagai ancaman regional maupun internasional. Konflik Arab-Israel, sebagai contoh,

merupakan tantangan yang tidak bisa diabaikan dalam mewujudkan stabilitas politik

kawasan. Selain itu, kerja sama yang lebih luas di luar kawasan juga menjadi salah satu

agenda Riyadh.Dengan menjadikan Islam sebagai landasan menentukan politik luar negeri,

negara ini menjalin solidaritas sesama negara-negara Islam di Asia dan

Afrika.Diprakarsainya Organization of Islamic Conference (OIC) pada 1969 menjadi

wujud nyata dari komitmen tersebut.

Namun demikian, politik luar negeri Saudi bukan tanpa tantangan. Lebih utamanya

berkaitan dengan stabilitas kawasan. Perkembangan sektarian Sunni dan Syiah dalam

agama Islam menjadikan negara-negara Islam Timur-Tengah terbagi, setidaknya, ke dalam

dua kubu. Perpecahan dalam Islam ini sebenarnya telah terjadi sejak sepeninggal Nabi.

Namun kemudian terus berlangsung hingga era modern. Sementara populasi Syiah sangat

sedikit, Arab Saudi dan sebagian besar negara-negara timur tengah serta muslim dunia

(6)

ini mengantarkan pada konflik di kawasan yang selalu menjadi perhatian dunia(Heni,

2014).

Sebagai pusat Islam dan negara Sunni terbesar di kawasan, Saudi merasa perlu

‘bertanggung-jawab’ dalam setiap konflik regional. Konflik di Yaman, misalnya,

memperlihatkan tindakan Saudi membantu pemerintah melawan pemberontak Syiah

Houti(Dorsey, 2015). Perang saudara yang sangat kuat diwarnai isu sektarian ini menjadi

bukti nyata intervensi Saudi untuk mengembalikan kekuasaan Sunni di Yaman(Nünlist,

2015).

Konflik Sunni-Syiah yang paling menonjol adalah ketegangan Saudi dengan Iran.

Selain memiliki luas wilayah dan kekayaan tambang minyak yang hampir sama, Iran

menjadi saingan utama Saudi karena negara tersebut adalah negara Syiah terbesar.

Hubungan kurang harmonis ini telah berlangsung lama terutama sejak meletusnya revolusi

Iran. Bahkan hubungan diplomasi keduanya telah putus pada awal Januari 2016 akibat isu

sektarian yang semakin meruncing(Hubbard, 2016).

Kuatnya kepentingan menjaga eksistensi Sunni ini juga dapat dilihat dalam

beberapa konflik lain. Konflik internal di Suriah merupakan contoh yang juga sangat

menonjol. Bahkan konflik ini dinilai sebagai medan lain bagi perseteruan Riyadh dan

Teheran. Iran sangat dikhawatirkan Saudi sebagai pesaing hegemoni di

Timur-Tengah(Berti & Guzansky, 2014).

Dengan kuatnya kepentingan Islam Sunni, Saudi merupakan salah satu kekuatan

utama di kawasan. Berbagai konflik Timur-Tengah agaknya tidak bisa dipisahkan dari

kerajaan ini sebagai peran vital. Terlepas dari sistem monarkinya, politik luar negeri Saudi

dapat dikatakan cukup aktif di kawasan.

IV. Aliansi Riyadh - Washington

Eksistensi Saudi tidak dapat dipisahkan dari hubungan eratnya dengan negeri

Paman Sam. Bahkan dapat dikatakan bahwa Saudi merupakan kawan paling dekat bagi

Amerika di Timur-Tengah.Kemitraan di antara keduanya telah dimulai sejak 1930 ketika

Amerika mengakui deklarasi kedaulatan Saudi. Beberapa tahun kemudian hubungan

(7)

meningkatnya kebutuhan industri Amerika pasca perang dunia II, keduanya menjalin

kesepakatan melalui Arab American Company (Aramco) yang memungkinkan berbagi

keuntungan 50-50. Mengalirnya minyak ke negara industri initelah menguntungkan bagi

keduanya.

Ketegangan sempat terjadi ketika tahun 1970an, misalnya, Saudi mengembargo

minyak karena Barat telah mendukung Israel dalam perang Yom Kippur. Melambungnya

harga minyak dunia membuat negara industri seperti Amerika kewalahan(Delaney, 2009,

p.78). Namun kemudian ketegangan mulai surut setelah Amerika membujuk Israel untuk

mengambil jalur diplomasi dengan kubu Arab.

Kemudian dalam situasi Perang Dingin, Amerika diuntungkan sebagai mitra utama

dalam bisnis minyak untuk keperluan industrinya. Di sisi lain, Saudi yang telah dikenal

sebagai mitra Amerika menjadi berisiko atas berbagai ancaman dalam situasi bipolaritas

dunia tersebut. Untuk itu Saudi mendapatkan suplai senjata yang cukup banyak untuk

meningkatkan kekuatannya. Hubungan erat ini kemudiandiperkuat atas kesamaan

anti-Komunis yang mulai berkembang di kawasan(Luján, 2014, p.36).Secara khusus kedua

negara pernah bersekutu melawan Soviet di Afghanistan di masa perang dingin. Kemudian

ketika perang teluk 1991, Saudi dan Amerika membantu membebaskan Kuwait dari

invasiIrakmeski ketika itu Riyadh sempat mengalami dilema (Marrar, 2009, pp.95-96).

Hubungan spesial ini kembali terganggu setelah peristiwa 9/11, di mana beberapa

pelaku teror dalam peristiwa ini merupakan warga Saudi. Al-Qaeda yang dituduh sebagai

dalang di balik serangan ini ditengarai berlindung kepada kelompok Sunni - Taliban di

Afghanistan. Itulah mengapa selain menginvasi Irak, Amerika juga menginvasi

Afghanistan.Padahal secara identitas, Taliban menganut aliran yang sama dengan

pemerintah Sunni di Saudi. Fakta bahwa Saudi merupakan pendukung finansial Taliban

semasa perang dingin menunjukkan motivasi agama yang cukup erat. ‘Perangmelawan

teror’ oleh Amerika termasuk di antaranya adalah tekanandiplomatik danmiliter

terhadaprezim yang didugamensponsoriterorisme, serta promosidemokrasi

diTimur-Tengah untuk menciptakan stabilitas. Sementara jika merunut pada model demokrasi ala

Barat, hampir seluruh negara di kawasan tidak menganut prinsip ini.Situasi politik yang

cukup genting dibarengi dengan pergantian kepemimpinan Saudi oleh Raja Abdullah

mengubah arah kebijakan luar negeri kerajaan ke negara-negara Asia Pasifik seperti China,

(8)

prioritas untuk melebarkan sayap kerja sama luar negerinya. Dalam perubahan strategi

yang demikian, Saudi menunjukkan sikap pragmatis untuk mengimbangi hubungannya

dengan Amerika(Petrini, 2007).

Setelah munculnya laporan bahwa Saudi tidak terbukti sebagai negara maupun

pihak yang mendukung aksi teror 9/11, hubungan keduanya mulai membaik. Kedua pihak

kemudian bertemu dan mendiskusikan kepentingan bersama serta membangun kembali

hubungan bilateral. Pada awal tahun 2015, presiden Obama dan Raja Salman - pengganti

Raja Abdullah-sepakat untuk memperkuat persaudaraan yang telah sejak lama terjalin,

terlebih untuk mewujudkan stabilitas kawasan(Foxnews, 2015).

Meskipun, sebagaimana telah disebutkan di awal, kedua negara menganut sistem

yang sangat berbeda, namun mereka dapat membangun hubungan aliansi yang erat. Dalam

beberapa hal, kemitraan kedua negara terkadang digambarkan sebagai hubungan khusus

satu sama lain.

V. Analisis Rasionalitas Saudi

Pada tahun-tahun awal didirikannya kerajaan, Amerika bisa dikatakan sebagai

mitra paling berpengaruh dalam memajukan perkembangan domestik Saudi. Setelah

ditemukannya ladang minyak, Standard Oil of California - sebuah perusahaan Amerika –

memulai eksplorasi minyak. Perusahaan ini diberi kewenangan untuk membangun

infrastruktur pertambangan dan mengolah minyak secara penuh. Sebagai imbalannya,

Saudi menerima 50.000 Pounsterling dari perusahaan yang kemudian berganti Aramco

ini(History.com, 2014).

Kesepakatan ini tentu saja sangat menguntungkan karena sebelum minyak

ditemukan, Saudi bukanlah negara yang kaya. Dari aspek infrastruktur, modernisasi tentu

saya sangat diperlukan untuk menunjang kemajuan. Terlebih lagi, Mekah dan Madinah

sudah sejak lama menjadi pusat peradaban Islam.

Kerja sama semakin erat manakala industri di negara Barat berkembang pesat.

Salah satu yang paling penting adalah untuk mendukung industri persenjataan. Perang

(9)

bergantung pada bahan bakar minyak. Maka ketika harga minyak melambung tinggi pada

1970-an, semua perusahaan di Amerika mengalami kemandekan.

Krisis minyak pada era tersebut berkaitan dengan konflik Arab-Israel. Amerika

ketika itu mendukung yahudi melawan aliansi negara muslim. Padahal di sisi lain Amerika

dan Saudi menjalin hubungan erat dalam menangkal pengaruh Blok Timur. Secara

ideologi, Komunisme Soviet dianggap sangat bertentangan dengan prinsip Islam Sunni.

Memang, meskipun konflik Sunni-Syiah belum begitu mencolok, ideologi sudah menjadi

prinsip dalam masyarakat Saudi. Dalam titik ini, keduanya telah disatukan dengan

eksistensi Komunis sebagai musuh bersama. Kuatnya tradisi Islam ini juga telah

menjadikan Saudi lebih peka terhadap kawasan. Solidaritas sesama negara muslim

menyatukan pandangan bahwa Israel adalah musuh bersama di kawasan.

Menghadapi tendensi AS kepada Israel, tidak ada keraguan bagi Saudi - bersama

negara-negara arab lainnya - untuk mengubah kebijakan dari kerja sama menuju embargo

minyak ke semua negara Barat. Upaya ini merupakan langkah strategis untuk menurunkan

konflik Yom Kippur(Pollack, 2002), meski Israel muncul sebagai pemenang. Krisis dunia

yang terjadi ketika itu menghasilkan upaya yang cukup signifikan. Melalui jalur diplomasi,

AS kemudian mau membujuk Israel untuk mengambil langkah diplomatis dari pada

berkonflik.

Tidak lama kemudian, meletusnya revolusi Iran kembali menguatkan hubungan

Saudi dengan AS. Iran yang sebelumnya juga merupakan mitra dekat AS, mendeklarasikan

diri menjadi pemerintahan Syiah terkuat di kawasan yang anti-Barat. Dari sinilah mulai

meruncing benturan Sunni-Syiah sebagai isu serius di dunia Islam. Hingga saat ini, ketika

dihadapkan pada konflik tersebut, AS selalu memposisikan diri di kubu Arab Saudi.

Konflik serupa seperti di Suriah dan Yaman merupakan bentuk nyata kuatnya aliansi

militer di antara keduanya.

Terlepas dari isu bahwa AS mempunyai kepentingan lain di kawasan, hubungan

keduanya sangat penting bagi eksistensi Saudi sebagai salah satu pemerintahan-Sunni

terkuat. Bahkan, biaya pengeluaran militernya menempati terbesar ke empat dunia setelah

AS, China, dan Rusia, yaitu mencapai 56,725 Juta US$(Macias, 2014). Hal yang perlu

dicatat bahwa angka ini tidak bisa dilepaskan dari peran AS sebagai supplyer utama

(10)

Perseteruannya dengan Iran, di sisi lain, seakan menunjukkan kontes kekuatan.

Dengan ideologi yang berbeda, konflik Sunni-Syiah seakan seperti perlombaan pengaruh

di antara dua negara(Wehrey et al., 2009, p.43). Saudi tidak ingin tersaingi oleh

pemerintahan Syiah Iran. Meski kekuatan militer Iran tidak sebesar Saudi, namun dugaan

kepemilikan senjata nuklir akan sangat mengkhawatirkan. Untuk itu, lagi-lagi AS tidak

segan membantu Saudi menghadapi musuh bersama tersebut.

Namun demikian, ideologi Sunni yang eksis di tubuh pemerintahan kerajaan

agaknya tidak begitu berpengaruh dalam menentukan sikap politik luar negerinya.

Memang, Iran adalah lawan utama di kawasan. Namun motif untuk mempertahankan

hegemoni lebih menonjol. Hal ini juga dibuktikan mana kala hubungannya dengan AS

sangat erat terutama bidang pertahanan dan militer (Blanchard, 2015, p.24). Padahal jika

dibandingkan, AS dengan liberal-sekulernya dan Saudi dengan monarki-Islamnya,

keduanya harusnya berbenturan. Dengan kata lain, ideologi bukanlah motif utama Saudi

untuk bermusuhan ataukah bersekutu.

Saudi dalam beberapa hal termasuk mempunyai posisi tawar yang tinggi. Selain

menghadapi tantangan pada era 70-an, hubungannya dengan AS juga sempat terganggu

pasca 9/11. Dugaan sebagai negara pendukung teroris tidak membuat Saudi ragu untuk

menggeser kebijakan luar negerinya ke negara-negara Asia. Namun sekali lagi meski

hubungannya dengan AS sempat renggang, Saudi masih tetap menjadi pembeli utama

senjata AS(Rosen, 2014).

VI. Kesimpulan

Sebagai negara besar secara ekonomi dan militer di kawasan, posisi Saudi tidak

bisa dilepas dari kemitraannya dengan AS. Pasang surut hubungan kedua belah pihak

merupakan bentuk nyata dari sikap negara yang selalu mempertimbangkan aspek

untung-rugi. Bagi AS, Saudi merupakan sekutu utama untuk menghadapi lawan-lawan politiknya

di kawasan. Latar belakang ideologi nampak tidak berpengaruh terhadap politik luar negeri

Saudi untuk melakukan kerja sama dengan AS.

Di sisi lain,AS telah menjadi partner utama dalam bidang ekonomi maupun militer.

Selain minyak sebagai komoditas ekonomi, kekuatan militer merupakan aspek utama

(11)

Saudi menghadapi berbagai ancaman yang mungkin datang. Perubahan sikap Saudi

terhadap AS lebih banyak diambil sebagai strategi untuk menyesuaikan situasi yang lebih

menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-turaiqi, A. (2008).The Political System of Saudi Arabia. London: Ghainaa Publications.

Axelrod, R., & Keohane, R. O. (1985). Achieving Cooperation under Anarchy: Strategies and Institutions.World Politics,38(1), 226–254.

Berti, B., & Guzansky, Y. (2014). Saudi Arabia’s Foreign Policy on Iran and the Proxy War in Syria : Toward a New Chapter? Israel Journal of Foreign Affairs, VIII(3), 25–34.

Chauvin, N. M. D. (2010). The Rise of the Gulf : Saudi Arabia as a Global Player . Berlin.

Delaney, J. S. (2009).The Unlikely Partnership: The State of the U.S.-Saudi Relationship. Hawaii Pacific University.

Dorsey, B. J. M. (2015). Saudi Arabia ’ s Reach in Yemen : Fighting for Regional Dominance. Singapore: RSIS Commentary.

Heni, F. D. (2014). Saudi Leadership in a Chaotic Middle Eastern Context.ISPI, (279).

Luján, K. G. (2014). Paradox of the U.S-Saudi Alliance : Deconstructing External and Internal Threats. Central European University.

Marrar, K. (2009).The Arab Lobby and US Foreign Policy: The Two-State Solution. New York: Routledge.

Mesquita, B. B. de. (2009). Foreigh Policy Analysis and Rational Choice Models (International Studies Association Compendium Project Paper).

Petrini, B. (2007). Saudi arabian external relations after 9/11. Journal of Middle Eastern Geopolitics,2(4), 65–82.

Pollack, J. (2002). Saudi Arabia and the united states: Security and interdependence. Middle East Review of International Affairs,6(3), 77–102.

Rajkhan, S. F. (2014). Women in Saudi Arabia Status , Rights , and Limitations Master of Arts in Policy Studies. University of Washington Bothell School.

(12)

Subhan, T. (2003). US-Saudi Arabia Relations: Coming of Age. Economic and Political Weekly,38(37), 3885–87.

Wehrey, F., Karasik, T., Nader, A., Ghez, J., Hansell, L., & Guffey, R. (2009). Saudi-Iranian Relations Since the Fall of Saddam: Rivalry, Cooperation, and Implications for US Policy. Santa Monica: RAND Corporation.

Yamani, M. (2008). The Two Faces of Saudi Arabia.Survival,50(1), 143–156.

Artikel Internet

Australian Public Service Commission. (2007). Changing Behaviour. A Public Policy Perspective. Commonwealth of Australia. Retrieved January 20, 2016, fromhttp://www.apsc.gov.au/__data/assets/pdf_file/0017/6821/changingbehaviour.pdf

BBC News. (2015). US State Department approves Saudi Arabia arms sale. Retrieved February 1, 2016, from http://www.bbc.com/news/world-us-canada-34838937

Blanchard, C. M. (2015). Saudi Arabia : Background and U. S. Relations . Retrieved January 22, 2016, from www.crs.gov

Research, E. H. E. (2015). Country Report: Saudi Arabia - Weaker oil revenues , but strong financial Asset. Retrieved January 22, 2016, from http://www.eulerhermes.com/mediacenter/Lists/mediacenter-documents/Country-Report-Saudi-Arabia.pdf

History.com. (2014). 1933 Standard Oil geologists arrive in Saudi Arabia. Retrieved January 20, 2016, from http://www.history.com/this-day-in-history/standard-oil-geologists-arrive-in-saudi-arabia

Hubbard, B. (2016). Saudi Arabia Cuts Ties With Iran Amid Fallout From Cleric’s Execution. Retrieved January 21, 2016, from http://www.nytimes.com/2016/01/04/world/middleeast/iran-saudi-arabia-execution-sheikh-nimr.html?_r=0

Macias, A. (2014). The 35 Most Powerful Militaries In The World. Retrieved January 10, 2016, from http://www.businessinsider.co.id/35-most-powerful-militaries-in-the-world-2014-7/

Nünlist, C. (2015). War in Yemen : Revolution and Saudi Intervention. CSS Analyses in Security Policy, (15). Retrieved January 20, 2016, from www.css.ethz.ch/cssanalysen

Pew Research Center. (2009). Mapping the Global Muslim Population. Retrieved January 20, 2016, from http://www.pewforum.org/2009/10/07/mapping-the-global-muslim-population/

Referensi

Dokumen terkait

Secara kelompok, siswa mengerjakan lembar portopolio yang diberikan oleh guru dalam rangka mengumpulkan informasi dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan

Shalawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kita ilmu menuju jalan yang di ridhoi Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Cahaya Abadi Indah adalah strategi tipe 5 atau best-value focus yang memproduksi suatu produk kepada sejumlah kecil konsumen dengan nilai tambah terbaik, karena perusahaan

Pada dasarnya asupan gizi yang diterima pada anak- anak sekolah dasar masih menunjukkan kurang menerima asupan gizi yang baik untuk perkembangan tubuh dan intelektualitas yang

Pada proses selanjutnya, tasawuf yang pada awalnya hanya merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu, maka pada tahapan selanjutnya,

Tuntutan ekonomi yang terus mendesak keluarga nelayan di Muara Angke khususnya dengan pendapatan suami yang tidak menentu membuat wanita nelayan memiliki

Dari hasil analisis deskriptif, variabel X yaitu SK Menpan Nomor 132 tahun 2002, secara garis besar responden menilai bahwa penilaian angka kredit dalam SK

Suatu bangun dikatakan simetri putar jika bangun di putar pada titik pusat putaran, maka bangun tersebut dapat menempati bingkainya sendiri seperti semulac. Titik pusat