MP3EI Breakthrough Indonesia strategi In

23 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

iii

MP3EI

BREAKTHROUGH STRATEGY

INDONESIA MENUJU NEGARA MAJU

(3)

iv

© 2012 Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Katalog dalam Terbitan

MP3EI, Breakthrough Strategy Indonesia Menuju Negara Maju/Syahrir Ika, Mohamad Nasir, Praptono Djunaedi, Widodo Ramadyanto, Adrianus Dwi Siswanto, Abdul Aziz, Wiloejo Wijono Winoto, Sofia Arie Damay-anty, Hadi Setiawan, Suska, Triyono Utomo, Yuventus Affandi, Yusuf Munandar, Widodo Ramadyanto, dan Edi M.P. Sitepu.–Jakarta: LIPI Press, 2012.

xxvii+ 436 hlm.; 14,8 x 21 cm ISBN 978-979-799-690-1

1. MP3EI 2. Pembangunan Ekonomi

338.9 Editor : Freddy R. Saragih

Copyeditor : M. Fadly Suhendra Risma Wahyu Hartiningsih Sarwendah Puspita Dewi Desain Isi : Ariadni

Desain Sampul : Aan Rustandi

Diterbitkan oleh: LIPI Press, anggota IKAPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Jln. Gondangdia Lama 39, Menteng, Jakarta 10350 Telp. (021) 314 0228, 314 6942. Faks. (021) 314 4591 E-mail: bmrlipi@centrin.net.id

(4)

v

Pandangan, gagasan, atau ide yang termuat dalam artikel bukanlah

representasi dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Pusat Pengelolaan

Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, dan

sepenuhnya menjadi tanggung jawab profesional penulis

(5)

vii

Masterplan

Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi

Indonesia (MP3EI) merupakan strategi yang cerdas, fokus, dan

terukur untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan

ekonomi serta menjadikan Indonesia sebagai negara maju (

developed

nation

) nomor 12 dunia pada tahun 2025 dan nomor 9 dunia pada

tahun 2045. MP3EI hadir untuk mendorong terciptanya kegiatan

ekonomi yang terintegrasi, sinergi, dan bernilai tambah tinggi,

serta mengatasi berbagai sumbatan atau hambatan pembangunan

melalui strategi

debotlenecking

dan

connectivity

. MP3EI

dikembang-kan dengan pendekatan

breaktrough

yang didasari oleh semangat

not business usual

’, melalui perubahan

mindset

bahwa keberhasilan

pembangunan ekonomi tidak hanya bergantung pada pemerintah

saja, tetapi merupakan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat,

Pemerintah Daerah, BUMN, BUMND, dan Swasta. Pemerintah

berperan sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator, sementara

swasta berperan dalam meningkatkan investasi dan penciptaan

lapangan kerja.

Impian akan sesuatu yang terbaik di masa depan merupakan

hal yang perlu, tetapi probabilitas mencapainya

fifty-fifty

, mengingat

PREFACE

(6)

viii

banyak faktor di luar kendali yang sulit dikontrol. Akan tetapi,

bila pemerintah memiliki perencanaan yang baik dan memastikan

adanya strategi yang tepat serta berusaha secara sungguh-sungguh

untuk mengimplementasikan rencana dan strategi tersebut, maka

setidak-tidaknya setengah dari harapan tersebut bisa diraih. Pakar

manajemen, Jack Trout (2004) dalam bukunya

Trout on Strategy

menulis bahwa “…

success isn’t about having the right people

,

the right

attitude

,

the right tools

,

the right role models

,

or the right organization

,

it’s about having the right strategy

.”

Hari ini kita menyaksikan Indonesia tertinggal dalam banyak

hal dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, termasuk

dengan beberapa negara di lingkungan ASEAN. Dari sepuluh

negara yang hari ini memiliki daya saing terbaik menurut World

Economic Forum (WEF), enam di antaranya berada di kawasan

Eropa, dua di kawasan Amerika, dan dua lagi di kawasan Asia.

Ranking tertinggi diraih Swiss dengan score 5,63, disusul oleh

Swedia (5,56), Singapura (5,48), Amerika Serikat (5,43), Jerman

(5,39), Jepang (5,37), Polandia (5,36), Belanda (5,33), Denmark

(5,32), dan Kanada (5,30). Sementara Indonesia menempati

rank-ing 44 dengan score 4,43.

(7)

ix

China (26), dan Malaysia (24). Karena itu, untuk mewujudkan

visi Indonesia 2025, pemerintah harus memperbaiki keempat hal

tersebut, dan target jangka menengah adalah bagaimana

mening-katkan daya saing Indonesia melebihi negara-negara di lingkungan

ASEAN. Hal ini hanya bisa dicapai bila Indonesia memiliki strategi

dan program-program yang bersifat terobosan (

breakthrough

) seperti

yang sudah ditetapkan dalam MP3EI.

Strategi tersebut adalah (i) pengembangan potensi ekonomi

melalui koridor ekonomi, (ii) penguatan konektivitas nasional, dan

(iii) penguatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dan iptek

nasional. Kekayaan sumber daya alam (SDA) di bidang pertanian,

perkebunan, pertambangan, minyak, dan gas, yang tersebar merata

di seluruh tanah air harus benar-benar dikelola dengan baik agar

memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi. Sumber

daya alam (SDA) tersebut termasuk juga yang potensinya sangat

besar, namun belum dijamah seperti panas bumi (geothermal) dan

Coal Bed Methane

(CBM) yang bisa digunakan untuk mendukung

pembangkit tenaga listrik. Konektivitas antarwilayah harus segera

dibangun agar memperlancar arus barang dan jasa dengan ongkos

yang lebih murah, dan tentunya diperlukan dukungan infrastruktur

jalan, jembatan, pelabuhan, ketenagalistrikan, air, dan jaringan

kere-ta api. Semenkere-tara SDM dan iptek menjadi strategi penentu karena

tanpa didukung SDM yang berkualitas, inovatif, dan produktif,

serta dukungan research and development, sulit bagi Indonesia

untuk melaksanakan kedua strategi lainnya (pengembangan potensi

ekonomi dan konektivitas) dan pencapaian visi Indonesia 2025.

(8)

x

mendukung suksesnya pelaksanaan MP3EI. Rekomendasi tersebut

termasuk juga peran Kementerian Keuangan, khususnya Badan

Kebijakan Fiskal sebagai unit yang bertanggung jawab dalam

memformulasikan kebijakan fiskal. Peran Kemenkeu antara lain

terkait dengan pemberian insetif fiskal untuk meningkatkan daya

tarik investasi pada proyek-proyek MP3EI, pemberian insentif fiskal

untuk mendukung pengembangan energi alternatif, pemberian

dukungan pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur, serta

hal-hal yang terkait dengan potensi risiko fiskal yang perlu

dimiti-gasi. Beberapa gagasan yang ditulis para peneliti, dalam beberapa

hal mungkin masih memerlukan uji akademis, namun banyak yang

dapat diterapkan karena gagasan tersebut dibangun berdasar hasil

kajian yang dilakukan di PPRF.

Sebagai Kepala PPRF, saya menyampaikan penghargaan yang

tinggi kepada para peneliti yang telah dengan sungguh-sungguh

melakukan kajian dan menuangkannya ke dalam sebuah buku,

karena hal ini selain menjadi bagian dari tanggung jawabnya

se-bagai peneliti, juga sese-bagai pegawai Kemenkeu yang berkewajiban

secara proaktif men-

delivery

gagasan-gagasan terbaiknya kepada

pimpinan. Budaya “menawarkan gagasan besar dan terobosan” ini

harus terus ditumbuhkembangkan dan ditingkatkan kualitasnya

agar mendukung proses formulasi kebijakan dan pengelolaan risiko

fiskal yang lebih kredibel dan akuntabel. Akhirnya, semoga karya

ini bermanfaat bagi masyarakat dan Bangsa Indonesia dalam rangka

mewujudkan visi Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2025.

(9)

xi

DAFTAR ISI

DISCLAIMER...v

PREFACE ...vii

DAFTAR ISI ...xi

CONTRIBUTORS...xix

ABBREVIATIONS ...xxv

BAB I PENDAHULUAN...1

MP3EI, BREAKTHROUGH STRATEGY MENUJU NEGARA MAJU ...13

A. PENGANTAR ...13

B. KONSEP DASAR MP3EI ...17

1. Pengertian ...17

2. Misi MP3EI ...18

3. Indikator Negara Maju ...19

4. Perubahan Mindset ...19

5. Kegiatan Utama MP3EI ...24

6. Indikasi Investasi MP3EI ...25

7. Penetapan 22 Kegiatan Utama MP3EI ...27

8. Menuju Indonesia yang Mandiri ...27

C. POTENSI SUMBER DAYA ALAM ...34

1. Potensi Pangan ...35

(10)

xii

10. Potensi Perikanan ...56

E. BENCHMARKING KE NEGARA DAN PEMIMPIN

2. Penguatan Konektivitas Nasional ...116

3. Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek Nasional ...119

C. PERANAN KEMENKEU DALAM MENDUKUNG MP3EI ...121

1. Dukungan Kemenkeu dalam Pembangunan Infrastruktur untuk Pembangunan Koridor Ekonomi dan Penguatan DAN PENDANAANNYA ...139

A. PENDAHULUAN ...139

B. PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL ...142

C. POSISI INFRASTRUKTUR INDONESIA DI DUNIA ...144

1. Infrastruktur: Salah Satu Fokus MP3EI ...144

(11)

xiii

2. Sektor Perkeretaapian ...156

3. Sektor Pelabuhan...156

4. Sektor Transportasi Udara/Bandara ...157

5. Sektor Kelistrikan ...158

6. Sektor Telekomunikasi ...159

G. PENUTUP ...160

DAFTAR PUSTAKA ...162

MP3EI, TERANCAM KEKURANGAN PASOKAN TENAGA LISTRIK ...165

A. PENGANTAR ...165

B. DAYA DUKUNG KETENAGALISTRIKAN...169

C. TANTANGAN PENGEMBANGAN LISTRIK ...172

1. Sumber Pembiayaan ...173

C. PENGEMBANGAN PANAS BUMI DI INDONESIA ...195

1. Potensi Panas bumi ...195

2. Kapasitas Terpasang ...196

3. Peta Persaingan Pengembang Panas Bumi di Indonesia...198

D. HAMBATAN PENGEMBANGAN PANAS BUMI ...201

1. Data ...201

(12)

xiv

PENGEMBANGAN COALBED METHANE SEBAGAI SUMBER ENERGI BARU DI INDONESIA ...209

A. PENDAHULUAN ...209

B. POTENSI PENGEMBANGAN CBM DI INDONESIA ...213

C. PENGEMBANGAN CBM DALAM MP3EI ...215

PERLUNYA KEBIJAKAN YANG STRATEGIS UNTUK PENYEDIAAN PELABUHAN YANG KOMPETITIF DI INDONESIA ...235

A. PENGANTAR ...235

B. KONDISI INFRASTRUKTUR PELABUHAN DANKEN DA LA DALAM SUPPORTING MP3EI ...238

C. PERLUNYA KEBIJAKAN STRATEGIS DAN TERINTEGRASI ...244

1. Kebijakan/Dukungan dari Sisi Fiskal ...245

2. Kebijakan/Dukungan dari Sisi Moneter (dari Perbankan) ...247

(13)

xv

4. Kebijakan/Dukungan dari Swasta dan BUMN:

Mengoptimal kan Program Kerja Sama Pemerintah Swasta

(KPS) ...249

5. Kebijakan/Dukungan Lain: Tambahan Loan untuk Mendukung Program Pembangunan Pelabuhan ...253

D. PENUTUP ...254

E. SARAN-SARAN ...256

DAFTAR PUSTAKA ...257

MENAKAR KONSEKUENSI FISKAL DARI RISIKO PEMEKARAN DAERAH DALAM PELAKSANAAN KORIDOR EKONOMI MP3EI ...259

A. PENDAHULUAN ...259

B. KONSEP KORIDOR EKONOMI DALAM MP3EI ...262

C. PEMEKARAN DAERAH DAN DESENTRALISASI ...263

1. Desentralisasi dan Kompetisi Antardaerah ...263

2. Pemekaran Daerah Dalam Konsep Otonomi Daerah ...264

3. Pemekaran Daerah, Desentralisasi Fiskal, dan Kesenjangan Fiskal ...269

4. Efektivitas Pemekaran Daerah ...271

D. PEMEKARAN DAERAH DAN RISIKO FISKAL ...273

1. Perkembangan Pemekaran Daerah ...273

2. Konsekuensi Pemekaran Daerah Terhadap Risiko Fiskal ....276

E. MENAKAR KONSEKUENSI FISKAL DARI RISIKO PEMEKARAN DAERAH DALAM KERANGKA MP3EI ...277

F. PENUTUP ...283

DAFTAR PUSTAKA ...284

MENGINTEGRASIKAN KEKUATAN PUSAT, DAERAH DAN SWASTA SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR ...287

A. URGENSI INVESTASI DI BIDANG INFRASTRUKTUR ...287

B. PERSOALAN TANAH ...294

C. DEREGULASI PERIZINAN TINGKAT DAERAH ...295

D. KETELITIAN PETA TATA RUANG: SUATU KEBUTUHAN ...298

E. POTENSI DAN TANTANGAN ...301

F. SINERGI KEKUATAN ANTAR LAPISAN PEMERINTAHAN...303

G. PENUTUP ...306

(14)

xvi

4. Perluasan Ekonomi Perlu Pergeseran Pembangunan...317

B. Interpretasi Atas “Ingkar Janji Dunia Usaha” ...321

C. PENUTUP ...330

DAFTAR PUSTAKA ...332

PENDANAAN INVESTASI MP3EI: PELAJARAN DARI SKEMA KEMITRAAN PEMERINTAH DAN SWASTA ...335

A. PENGANTAR ...335

B. KEBUTUHAN INVESTASI MP3EI DAN KERANGKA KEBIJAK AN PENDANAAN NASIONAL ...337

C. KEBUTUHAN INVESTASI DAN PENDANAAN SKEMA KPS ....343

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PELAKSANAAN SKEMA KPS...346

E. PENUTUP ...349

DAFTAR PUSTAKA ...352

PEMBERIAN FASILITAS PP 52 TAHUN 2011 UNTUK MENINGKATKAN PERINDUSTRIAN NASIONAL ...353

A. PENGANTAR ...353

1. Tujuan Fasilitas PP No. 52 Tahun 2011 ...356

2. Penetapan Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan Daerah Tertentu ...358

3. Pemanfaatan PP No. 52 Tahun 2011 ...362

C. PERBEDAAN FASILITAS PP NO. 52 TAHUN 2011 DENGAN FASILITAS PASAL 31E UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN 2008 ...365

D. PERBEDAAN FASILITAS PP NO. 62 TAHUN 2008 DENGAN FASILITAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN (PMK) NO. 130/PMK.011/2011 ...367

E. KESIMPULAN...371

F. SARAN.. ...371

(15)

xvii

KAJIAN PERBANDINGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS

DI INDONESIA DAN BEBERAPA NEGARA ASIA...377

A. PENDAHULUAN ...377

B. ANALISIS EKONOMI DAN HUKUM KAWASAN EKONOMI KHUSUS ...382

C. ECONOMIC ZONES DI BEBERAPA NEGARA ...387

1. India ...387

2. Thailand ...388

3. Filipina ...389

D. PENUTUP ...390

DAFTAR PUSTAKA ...391

KUALITAS BIROKRASI: SALAH SATU KUNCI SUKSES MP3EI ..393

A. PENGANTAR ...393

1. Kondisi Birokrasi pada Beberapa Era Pemerintahan ...394

2. Tantangan Birokrasi ...399

3. Reformasi Birokrasi yang Dipercepat ...402

B. PNS DIMATA MASYARAKAT ...404

C. TREN BELANJA PEGAWAI ...407

D. BELANJA NEGARA DAN IMPLIKASI PADA IPM ...409

E. PRODUKTIVITAS BIROKRASI ...411

F. PENGELOLAAN SDM DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN ..418

1. Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian PNS ...418

2. Formasi Pegawai Negeri Sipil ...419

3. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil ...421

4. Kenaikan Pangkat PNS ...422

5. Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS ...423

G. IMBALAN TERKAIT KINERJA ...424

H. REMUNERASI PEJABAT NEGARA ...426

1. Remunerasi Presiden dan Wakil Presiden ...429

2. Usulan Indeks Remunerasi Pejabat Negara ...430

I. PENUTUP ...431

(16)

xix

CONTRIBUTORS

Syahrir Ika,

Senior Economist

di bidang

Management and Business

di

(17)

xx

diterbitkannya adalah (i) Reformasi Struktur Ekonomi

Indone-sia, (ii) Pengetahuan Dasar Pasar Modal, (iii) Profil Perusahaan

Sekuritas Indonesia, (iv) Reksadana (Bunga Rampai), dan (v)

Subprime Mortgage Crisis Mengguncang Perekonomian Dunia

(dalam proses penerbitan). Beberapa artikel lainnya bisa dibaca

pada Jurnal Keuangan dan Moneter (JKM) yang diterbitkan oleh

BKF-Kementerian Keuangan, serta beberapa jurnal atau majalah

lainnya yang bisa diakses di internet. Ia juga pernah beberapa kali

menjadi pembicara di forum internasional antara lain di Denver-AS,

Kyoto-Jepang, dan Beijing-China.

Sofia Arie

Damayanty

,

Economist

di bidang

Public Policy

pada Pusat

Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian

Keuangan. Sebelumnya pernah berkarier di Direktorat Jenderal

Pajak, Kementerian Keuangan. Dia meraih gelar Sarjana Ekonomi

Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1998),

ke-mudian menyelesaikan Magister Ekonomi (M.E.) diperoleh dari

Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi

Universitas Indonesia (2007).

Yuventus Effendi,

Economist

di bidang Keuangan pada Pusat

Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian

Keuangan. Sebelumnya dia pernah berkarier di Direktorat Jenderal

Pajak, Kementerian Keuangan. Meraih Sarjana Ekonomi (S.E.)

dari STIE Perbanas (2007) dan Sarjana Sains Terapan (S.S.T.) di

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (2009).

Mohamad Nasir

.

Economist

di bidang

Corporate Finance

pada Pusat

(18)

xxi

Tinggi Akuntansi Negara (STAN) (2002), Master of Applied

Finance (M. App. Fin) dari the University of Adelaide, Australia

(2009), dan mendapatkan sertifikasi Certified Risk Management

Professional (CRMP) (2011).

Widodo Ramadyanto,

Economist

di bidang Risk Management dan

Kepala Sub-Bidang Risiko BUMN di Pusat Pengelolaan Risiko

Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan. Aktif di

Tim Perubahan Iklim Depkeu tahun 2008–2011 dan kegiatan

for-mulasi kebijakan fiskal terkait panas bumi hingga kini Sebelumnya

bekerja sebagai fasilitator diklat pegawai Kemenkeu dan pengajar di

STAN. Mendapatkan akuntan dari Sekolah Tinggi Akuntasi Negara

(STAN), Master of Risk Management dari Monash University,

Melbourne, Australia (2008).

Eddy Mayor Putra Sitepu

,

Economist

di bidang Akuntansi pada

Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal,

Kementerian Keuangan. Pernah berkarier di Direktorat Jenderal

Bea dan Cukai-Kementerian Keuangan. Meraih gelar Sarjana Sains

Terapan (S.ST.) dan Akuntan (Ak.) dari Sekolah Tinggi Akuntansi

Negara (2003), Master of Commerce (Accounting) dari the

Uni-versity of Adelaide, Australia (2009).

Abdul Aziz.

Economist

di bidang Keuangan Publik di Pusat

Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian

Keuangan. Sebelumnya pernah bekerja Direktorat Jenderal

Ang-garan. Meraih gelar sarjana dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara,

Magister Ekonomi (M.E.) dari Universitas Indonesia Jakarta pada

tahun 2009.

Suska

,

Economist

di bidang Keuangan Publik pada Pusat Kebijakan

(19)

Keuan-xxii

gan. Sebelumnya pernah berkarier pada Direktorat Jenderal Pajak,

Kementerian Keuangan. Meraih gelar Akuntan di Sekolah Tinggi

Akuntansi Negara (2000), Master of Public Finance (MPF) dari

National Graduate Institute for Public Policy (GRIPS) Tokyo,

Jepang (2006), dan Magister Ekonomi (ME) dari Universitas

Indonesia (2007).

Adrianus Dwi Siswanto

,

Economist

di bidang Keuangan Publik

di Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal,

Ke-menterian Keuangan. Sebelumnya pernah bekerja di Direktorat

Jenderal Anggaran. Meraih Gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas

Airlangga Surabaya (1994), Magister Ekonomi di Universitas

In-donesia (2006).

Praptono Djunedi

,

Economist

di bidang Keuangan Publik pada

Pu-sat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian

Keuangan. Sebelumnya pernah bekerja di Direktorat Jenderal

Ang-garan. Meraih gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST.) di Sekolah Tinggi

Akuntansi Negara pada tahun 1996. Kemudian memperoleh gelar

Magister Manajemen (M.M.) konsentrasi manajemen keuangan

dari salah satu universitas swasta di Jakarta.

Wiloejo Wirjo Wijono

,

Economist

di bidang Ekonomi

(20)

xxiii

Yusuf Munandar

,

Economist

Pusat Kebijakan Pendapatan Negara,

Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan. Pernah berkarier

Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. Meraih gelar

Sarjana Saint Terapan (S.ST.) di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

(2005), Magister Ekonomi (M.E.) diperoleh dari Universitas

In-donesia (2010).

Triyono Utomo,

Economist

di bidang Public Policy pada Pusat

Ke-bijakan Pendapatan Negara, Badan KeKe-bijakan Fiskal, Kementerian

Keuangan. Sebelumnya bekerja pada Direktorat Jenderal Piutang

dan Lelang Negara (DJPLN), Kemenkeu. Meraih gelar Sarjana Sains

Terapan (S.ST.) dan Akuntan (Ak.) di Sekolah Tinggi Akuntansi

(2004), Master of Public Administration (MPA) di Flinders

Uni-versity of South Australia (2009).

Hadi Setiawan

,

Economist

di bidang keuangan publik khususnya

(21)

xxv

ABBREVIATIONS

BBM

: Bahan Bakar Minyak

BMPK

: Batas Maksimal Pemberian Kredit

BOE/D

: Barrels of Equivalent Oil per Day

BPMIGAS : Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak

dan Gas Bumi

BUMN

: Badan Usaha Milik Negara

BUMD

: Badan Usaha Milik Daerah

CBM

: Coal Bed Methane

CDM

: Clean Development Mechanism

CIDA

: Canadian International Development Agency

CSR

: Corporate Social Responsibility

Ditjen Migas : Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi

EPZ

: Economic Processing Zones

ESC

: Energy Sales Contract

ESDM

: Energi dan Sumber Daya Mineral

(22)

xxvi

FDG

: Fasilitas Dana Geothermal

FDIs

: Foreign Direct Investments

FIZ

: Free Industrial Zone

FTP

: First Tranche Petroleum

GDP

: Gross Domestic Product

GEA

: Geothermal Energy Association

GMB

: Gas Metan Batubara

IPP

: Independent Power Producer

IRR

: Internal Rate of Return

IUP

: Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi

JOC

: Joint Operation Contract

KEK

: Kawasan Ekonomi Khusus

KPS

: Kemitraan Pemerintah dan Swasta

LNG

: Liquefied Natural Gas

MDGs

: Millenium Development Goals

MMSCFD

: Million Standard Cubic Feet per Day

MP3EI : Masterplan Percepatan dan Perluasan

Pem bangunan Ekonomi Indonesia

MSCFD

: Thousand Standard Cubic Feet per Day

MK

: Menteri Keuangan

MW

: Mega Watt

MWe

: Mega Watt electrical

PEZA

: Philippine Economic Zone Authority

Perpres

: Peraturan Presiden

PGE

: Pertamina Geothermal Energy

(23)

xxvii

PKP2B/KP

: Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu

Bara/Kuasa Pertambangan

PLN

: Perusahaan Listrik Negara

PLTP

: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

PMK

: Peraturan Menteri Keuangan

PP

: Peraturan Pemerintah

PPA

: Power Purchase Agreement

PPP

: Public Private Partnership

PSC

: Production Sharing Contract

PPh

: Pajak Penghasilan

PPN

: Pajak Pertambahan Nilai

QC

: Quality Control

SOEs

: State Owned Enterprises

SSC

: Steam Sales Contract

SDM

: Sumber Daya Manusia

SEZ

: Special Economic Zones

TCF

: Trillion Cubic Feet

UMKM

: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

VGF

: Viability Gap Fund

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...