MAKALAH
PENGEMBANGAN KURIKULUM ANAK USIA DINI
“WAYANG”
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Anak Usia Dini
Dosen Pengampu: Dr. Sofia Hartati, M.Si.
Disusun Oleh :
Jumiatmoko 7516130361
M Hery Yuli S 7516130370
MAGISTER PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA
2013
diselesaikan dengan baik. Penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan saran dari berbagai pihak, oleh karenannya penyusun ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Ibu Dr. Sofia Hartati, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah pengembangan kurikulum anak usia dini yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasinya.
2. Rekan satu kelompok, yang saling membantu dan menyemangati, 3. Serta rekan-rekan PAUD B Solid Selalu yang senantiasa
menyisipkan kegembiraan dalam setiap kegiatan perkuliahan. Penyusun pun menyadari bahwa karya yang sederhana ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran perbaikan sangat penyusun harapkan dari pembaca yang budiman.
Akhirnya, semoga tulisan ini dapat ikut serta memberikan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Jayalah PAUD Indonesia.
Jakarta, Nopember 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul...i
Kata Pengantar...ii
Daftar Isi...iii
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang...1
B. Tujuan...2
BAB II Pembahasan A. Sejarah Munculnya Wayang...3
B. Perencanakan Penggunaan Wayang dalam Pendidikan Anak Usia Dini...4
C. Strategi Mempersiapkan Lingkungan Belajar yang Baik dalam Penggunaan Wayang...7
D. Jenis-Jenis Wayang yang Mudah Dibuat...8
E. Cara menempatkan dan Menyimpan Wayang...9
F. Menghubungkan Wayang dengan Kurikulum PAUD...11
G. Wayang dan Televisi...13
H. Strategi Memperkenalkan Wayang Kepada Keluarga...14
I. Tips untuk Orang Tua...14
J. Kompetensi yang Diharapkan...15
BAB III Penutup A. Kesimpulan...17
B. Saran...17
Daftar Pustaka 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wayang merupakan suatu boneka tiruan makhluk hidup dua atau tiga dimensi yang mampu memberikan daya tarik luar biasa bagi anak maupun orang dewasa. Wayang dapat mengajar, menghibur dan memberikan kesenangan bagi anak dan orang dewasa. Berdasarkan sejarah perwayangan dideskripsikan sebagai kesenian rakyat yang dihasilkan dari dan untuk masyarakat. Wayang telah ada sejak ribuan tahun dan ditemukan secara virtual dimanapun di seluruh dunia yang tertanam disetiap benua dan kebudayaan.
Raines dan isbell (1994) menyatakan bahwa dongeng dan pewayangan adalah bentuk kuno dari expresi lisan yang di kembangkan secara historis dengan cara yang sama cerita dinyatakan dari generasi kegenerasi dan menjadi ikatan untuk berbagai keluarga dan berbagai budaya, pendongen sering menambahkan dalam kegiatan mendalangnya dengan visualisasi dan bagian – bagian yang mengejutkan dalam penyajian ceritnya.
Wayang memberikan kesenangan pada anak dan mampu menyentuh hati orang dewasa lebih jauh lagi hal tersebut menunjukan bahwa wayang merupakan hal yang unik dan cara yang inovatif yang menjangkau semua orang dan semua usia.
Wayang dapat menghibur memberikan informasi dan memberikan daya tarik. Wayang adalah bagian dari sejarah dunia kuno dan selain itu wayang merupakan dari imajinasi dunia modern.
Hal ini mendorong pentingnya penggunaan wayang dalam pendidikan anak usia dini. Sebuah kesemapatan bagi para pendidik dan praktisi PAUD untuk turut serta memperhatikan pentingnya keberdaan wayang dalam PAUD. Wayang membawa harapan besar untuk turut serta mendukung pendidikan khususnya bagi anak usia dini untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, kognitifnya, sosial emosinya, bahkan termasuk fisik motoriknya. Melalui bingkai kegiatan yang menyenangkan ini, anak diharapkan pula memiliki perkembangan yang baik khususnya dalam menyelesaikan setiap permasalahan dengan kreatif, imajinatif, dan mandiri.
B. Tujuan
Dalam makalah ini penyusun berusaha memaparkan beberapa aspek yang menjadi pembahasan dalam Bab II, diantaranya akan membahas :
1. Sejarah Munculnya Wayang;
2. Perencanakan Penggunaan Wayang dalam Pendidikan Anak Usia Dini;
3. Strategi Mempersiapkan Lingkungan Belajar yang Baik dalam Penggunaan Wayang;
4. Jenis-Jenis Wayang yang Mudah Dibuat; 5. Cara menempatkan dan Menyimpan Wayang; 6. Menghubungkan Wayang dengan Kurikulum PAUD; 7. Wayang dan Televisi;
8. Strategi Memperkenalkan Wayang Kepada Keluarga; 9. Tips untuk Orang Tua;
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Munculnya Wayang
Tidak satu orang pun yang mampu memastikan atau yang tau kapan pewayangan itu muncul. Apakah dalang-dalang orang primitif menuangkan bayangan-bayangan dalam dinding yang gelap. Atau apakah dalang yang pertama itu orang-orang yang berprofesi pendeta dan dukun yang menggunakan wayang untuk menggambarkan siklus penting kehidupan. Atau apakah orang-orang mesir yang menemukan wayang pertama seperti yang di kemukakan oleh ahli-ahli sejarah. Berdasarkan pusat pewayangan di Atlanta Georgia. Tertulis dalam sebuah catatan pewayangan bahwa permulaan pewayangan dapat di telusuri dari asia, disana dikembangkan secara simultan di India dan di cina pada abad 19 sebelum masehi. Di Indonesia, datar , wayang kulit dan wayang kayu tiga dimensi, diperkenalkan beberapa abad yang lalu dan sampai sekarang masih digunakan.
Vietnam terkenal dengan kebudayaan uniknya yang berupa wayang air. Merupakan wayang yang dimainkan melalui kombinasi tangkai dan tali, di atas danau. Dalangnya berada di dalam sebuah rumah tiruan yang menyerupai rumah adat Vietnam di tengah danau. Wayang ditempatkan pada tiang bambu yang panjang disertai tali pengikatnya. Ketika para penonton menyaksikan pertunjukan ini, mereka melihat wayang beraksi di panggung air dengan rumah dalang sebagai latar belakangnya. (Pusat Seni Pewayangan,1994).
Conteras, mengutip dari Jalongo (2003) menambahkan bahwa “Dalam hal ini pertunjukan wayang air Vietnam merupakan wujud ekspresi dari nilai-nilai tradisional, sumber kebanggaan nasional dan sebagai bagian sarana promosi antar kebudayaan.”
Wayang juga pernah ada di Afrika, sekitar abad kelima sebelum masehi. Wayang ditampilkan dalam sebuah pertunjukan untuk seluruh penduduk dalam perayaan kegiatan-kegiatan penting. Seperti ketika memasuki masa tanam dan masa panen.
Di Jepang, muncul Bunraku pada abad keenam belas. Merupakan wayang bertangkai dengan bentuk yang sangat bagus. Diperlukan tiga dalang untuk memainkan satu karakter wayang. Satu dalang berperan memainkan kepala dan satu lengan, satu dalang memainkan lengan lainnya dan dalang ketiga memainkan kakinya. Dalang-dalang tersebut biasanya berpakaian hitam. Mereka terlihat berada di belakang wayang, dan tentunya mereka memiliki keterampilan memainkan dan koordinasi yang hebat.(Pusat Seni Pewayangan,1994; Henson,1994).
Wayang tangan mulai muncul di Eropa dan negara-negara koloni Amerika pada pertengahan tahun 1700. Di Inggris, Punch dan Judy merupakan wayang yang paling populer, wayang tersebut masih keturunan dari wayang Italia yang bernama Pulcinella. Punch dan Judy tampil di toko-toko, pameran, jalan-jalan, sirkus, dan sekolah-sekolah. Wayang yang sama, dengan nama yang berbeda juga ditampilkan di Jerman, Prancis, Rusia, dan Turki.
Tradisi pewayangan Mamulengo dapat ditemukan di Afrika Selatan. Para dalang memadukan tradisi masyarakat asli dan tradisi orang berkulit hitam, seperti yang terjadi antara Koloni Hispanic dan pengaruh Portugis ketika mereka menampilkan teater wayang jalanan. (Pusat Seni Pewayangan, 1994).
B. Perencanaan Penggunaan Wayang dalam Pendidikan Anak Usia Dini
5
mereka memakai sepatu, memeras buah jeruk, atau sisir dan membuat semua itu bergerak dan berbicara. Mainan dan boneka memiliki peran aktif dalam permainan anak-anak. Mereka tertawa dan berbicara bahkan berdebat. Mereka memberi berbagai tipe kepribadian dan menlepaskan kepribadian itu lagi.
Apa senebarnya wayang itu? Cheryl Henson (1994) putri terakhir Jim Henson (Seorang dalang yang menciptakan The Muppets), menerangkan bahwa, “wayang dalah sebuah objek yang dapat ‘hidup’ ketika Ia dimainkan oleh tangan manusia”. Beberapa wayang berwujud seperti boneka, ada juga yang berbentuk boneka binatang. Adapula yang lainnya berwujud seperti patung atau bahkan ada yang berwujud seperti tumpukan sampah.
Untuk anak dalam pendidikan anak usia dini, wayang adalah ‘apapun bisa jadi wayang’ untuk anak-anak, pengalamannya sebagai seorang dalang menjadi sebuah pengalaman yang sangat mengesankan . kegembiraan, antusias, dan imajinasi mereka dalam membuat dan memainkan wayang dapat menular kepada yang lainnya, orang dewasa, dan sesama anak.
“Isenberg dan Jalongo mendorong penggunaan wayang sebagai sebuah alat yang tidak akan menghalangi untuk terbangunnya improvisasi dan kolaborasi atau bahkan sebagai alat menbangun harga diri dan manajemen risiko”(Esch & Long, 2002). Anak-anak juga dapat mengeksplorasi nilai-nilai kebudayaan lain dengan cerita legenda, cerita rakyat, atau mitos dari seluruh penjuru dunia, dengan wayang sebagai penceritanya.
Bagi guru, pilihlah wayang yang akan digunakan. Wayang dapat dibuat sendiri atau dapat pula membeli yang sudah ada toko. Namun yang perlu diperhatikan bahwa wayang tersebut harus menjadi teman paling spesial bagi kita. Biasanya wayang tangan adalah wayang yang paling nyaman digunakan . semakin sering kita menggunakannya, akan semakin pas dan nyaman, seperti sarung tangan kesayangan.
Langkah selanjutnya adalah mengindentifikasi, mengapa wayang tersebut sangat menarik bagi kita. Apakah wayang tersebut mengingatkan kita pada mainan, boneka, atau wayang yang pernah kita miliki ketika masa anak-anak? Pengalaman ini akan membantu kita untuk memutusakan nama wayang, kepribadian, dan karakter suaranya. Ingat, kita tidak harus menjadi seorang Ventriloquist.
Praktikan penggunaan wayang Kita. Praktik di depan cermin, bisa jadi sangat bermanfaat untuk memutuskan bagaimana cara atau gaya terbaik dalam memainkan wayang kita.
Kita tidak perlu menggunakan panggung wayang. Hal ini dikarenakan interaksi dengan anak atau kelompok adalah jauh lebih penting.
Tingkatkan selalu kreativitas dan kenyamanan kita dalam mengajar. Biarkan wayang melakukannya untuk kita dan kita lihat apa yang akan dilakukan wayang kepada anak-anak. Biarkan imajinasi kita berkembang, biarkan kreativitas dalam bermain wayang mengalir bebas dan biarkan munculnya pemikiran, perasaan,dan bahasa yang unik.
Gunakan wayang dengan biasa. Seperti ketika kita membawa sesuatu yang baru ke dalam kelas. Dan hal yang tidak boleh dilupakan adalah menggunakan wayang sebagai mana mestinya.
7
mainan atau aktivitas biasa, dan perlu diperhatikan gunakan bahan-bahan yang aman.
Untuk Infant (Bayi), gunakan mainan-mainan dan boneka binatang yang akrab dengan mereka dan ‘bicaralah pada mereka’ merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperkenalkan wayang. Cara lainnya adalah dengan ‘berjalan’ dengan menggunakan dua jari pada lengan anak. Gunakan ritme, nyanyian, dan katakan ‘Datang seorang yang amat kecil, berjalan di lengan (nama anak). Sekarang, di bahumu, sekarang di lehermu, itik-itik.
Sediakan waktu yang cukup bagi toddler. Mulai dengan permainan jari dan wayang tangan. Sediakan pula ruangan yang cukup antara anak dengan wayang, akan sangat membantu anak pada usia ini agar merasa lebih nyaman.
Mainkan wayang dengan permainan jari, puisi, lagu, buku, dan papan flanel yang paling favorit. Saat berkumpul merupakan waktu yang tepat untuk memperkenalkan wayang. Ketika menyamapaikan cerita yang akrab dengan anak-anak, biarkan anak-anak mendengar cerita tersebut beberapa kali. Pengulangan sebuah cerita memungkinkan kita dan anak-anak untuk memasukkan wayang ke dalam latar yang lebih akrab. Anak akan secepatnya mampu bercerita secara spontan dan mengembangkannya sendiri dengan wayangnya.
C. Strategi Mempersiapkan Lingkungan Belajar yang Baik dalam Penggunaan Wayang
Ketika para orang dewasa sadar bahwa aspek terpenting dari sebuah kreativitas adalah proses, bukan hasinya, maka mereka akan mendukung keinginan anak-anak untuk mencoba dan berkreasi dengan cara mereka sendiri. Mereka akan memahami bahwa proses terjadinya sesuatu jauh lebih penting dari sekadar hasil. (Fortson & Reiff, 1995).
Anak dapat mengeksplorasi dan memperkuat kemampuan mereka dalam seluruh aspek perkembangan melalui proses membuat dan memainkan wayang mereka. Mereka akan :
Mengalami kegembiraan yang mendalam dari bermain dan berfantasi; Membangun citra diri positif dan kemandirian;
Menggunakan cara yang aman dan diterima untuk mengekspresikan diri mereka;
Mengembangkan kosakata dan keterampilan berbicara;
Meningkatkan keterampilan bersosialisasi dengan berbagi dan bekerja sama dan dalam menyampaikan ide-ide mereka;
Belajar untuk memecahkan masalah dan berfikir abstrak; Menggunakan keterampilan motorik dengan baik;
Mempraktikan koordinasi mata-tangan, tangan-tangan, dan kontrol otot tubuh.
D. Jenis-Jenis Wayang yang Mudah Dibuat
Terdapat tiga (3) jenis utama wayang yaitu Wayang Tangan (Hand Puppets), Wayang Bertangkai (Stick or Rod Puppet), dan Marionet.
9
dalam lima Jari), Glove Puppet (wayang yang dibuat atau dikreasi dari sarung tangan), selanjutnya Sock Puppet (wayang yang dibuat dari kaos kaki), dan ada pula Paper Plate Puppet (wayang yang terbuat dari kertas bekas bungkus sereal, puding, outmeal yang berbentuk seperti piring).
Wayang Bertangkai (Stick or Rod Puppet)
Yakni wayang yang memiliki tangkai tunggal untuk dipegang dan dimainkan. Tangkai ini dapat dibuat dari paku kayu, kertas yang digulung membentuk tongkat, alat pembersih lidah, dan stik es krim. Untuk membuatnya cukup mudah. Tempelkan gambar yang akan dijadikan karakter wayang pada tongkat tersebut. Ada dua contoh wayang jenis ini, yaitu stick people puppet dan people mask puppet. Marionet
Merupakan wayang yang berwujud tiga dimensi, yang digerakan dengan memasang tali pada kepala, tangan, badan, dan kakinya dengan kayu yang disilangkan di atasnya. Untuk memainkan wayang jenis ini, kita perlu berlatih agar terampil.
Wayang jenis lainnya yang mudah untuk kita buat adalah wayang dari bayangan. Biasanya dengan menyorotkan cahaya ke tangan, kita dapat membentuk bayangan seperti kelinci, burung, atau kambing.
E. Cara Menempatkan dan Menyimpan Wayang
Pertama, beberapa anak dipersilahkan mengamati wayang dan kita lihat bagaimana perasaan mereka. Sedangkan anak yang lain dapat menikmati proses pembuatan wayang dan yang lainnya dapat memainkan wayang yang sudah jadi. Biarkan mereka menikmati secara individu dan sesuai perkembangannya.
Dalam kaitannya kreativitas dan spontanitas penggunaan wayang, panggung merupakan hal yang tidak terlalu penting. Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa kita sebagai seorang guru tidak membutuhkan panggung, begitu pula dengan anak-anak. Jika kita merasa kita butuh sebuah tambahan kreativitas., Hunt and Renfro (1982) menyarankan ‘cerita celemek’.
Ini merupakan kostum yang ideal bagi seorang dalang. Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu mendongeng adalah tentang memulai. Hal tersebut memberikan nuansa latar bagi cerita yang kita bawakan, puisi atau lagu dan dapat pula menyembunyikan wayangnya sampai kita siap untuk menggunakannya. Celemek ini dapat dibuat dengan menambahkan semacam dompet atau membuatnya sendiri dengan kain pilihan.
Jika anak-anak memang memerlukan kain panggung untuk wayang mereka. Berikut ini ada beberapa langkah mudah untuk membuatnya :
Dapat dibuat dengan menggunakan kardus besar. Buat lubang ditengahnya, sehingga terbentuk penggung yang terbuka;
Tambahkan kain sebagai tirainya;
Gunakan meja yang kuat dan memungkinkan anak untuk bersembunyi ketika memainkan wayang;
11
Tempatkan dua kursi (yang biasa digunakan orang dewasa) untuk menyangga pemasangan tirai di depan panggung buatan;
Gunakan strategi ‘Musnahkan televisi’, pindahkan televisi dari area bermain wayang, agar fokus anak tidak terganggu.
Berikut ini saran-saran yang dapat digunakan dalam menyimpan wayang yang telah dilakukan oleh beberapa guru dan disarankan juga oleh Hunt dan Refro (1982), Raines dan Isabel (1994) dan Hilda L Jackman.
Kita dapat menggantung jemuran baju, sepanjang dinding yang dapat dilihat dan dicapai anak. Dan gunakan penjepit jemuran untuk menjepit wayang sepanjang gantungan tersebut;
Tempatkan wayang di dalam gantungan rak baju; Jepit wayang pada gantungan bersusun;
Simpan wayang jari dan wayang bertongkat pada kardus bekas tempat telur dan kantong plastik;
Simpan wayang dalam keranjang-kerangjang bertingkat;
Dapat pula menggunakan tas sepatu atau rak sepatu untuk menyimpan wayang;
Tempatkan kotak sepatu atau kotak plastik yang bening di rak yang rendah;
Simpan wayang dalam kotak mainan atau peti.
F. Menghubungkan Wayang dengan Kurikulum PAUD
Akan sangat membantu jika ada diskusi dan pertukaran ide dengan kolega dan teman seprofesi dalam membahas hal ini. Namun di bawah ini ada beberapa strategi yang dapat merangsang kreativitas kita, yaitu :
‘Mister Number’ merupakan wayang yang dapat berhitung dari satu sampai dua puluh dalam berbagai bahasa. Wayang lainnya hanya berbicara ‘ya dan tidak’ atau ‘halo dan selamat tinggal’, tetapi juga diucapkan dalam sepuluh bahasa yang berbeda. Wayang sebaiknya berbicara hanya dengan bahasa yang akrab dengan anak atau bahasa yang anak dapat mengikutinya. Wayang multikultural dapat digunakan untuk memperkenalkan berbagai kebudayaan.
Mengembangkan sentra seni bahasa dengan menambahkan wayang dan propertinya. Wayang dengan mikrofon dapat mendorong permainan yang kreatif. Wayang, bahkan dapat melakukan wawancara dengan wayang lainnya. Karena karakter wayang dapat berupa manusia, binatang, atau tuan dan nyonya, pertanyaannya dapat berupa pertanyaan seputar keluarga, perasaan, makanan favorit, dan tempat tinggal. Untuk anak dengan usia yang lebih tua, pertanyaan dapat berpusat tentang kegiatan tertentu, makanan, matematika, sains atau lingkungan hidup.
13
Perkenalkan wayang ‘pendengar’ yakni wayang dengan ukuran telinga yang besar, dapat membantu kita dalam menekankan pentingnya mendengarkan orang lain. Wayang ini dapat berbicara dan menjawab anak-anak melalui lagu atau syair. Mungkin juga wayang lain hanya menari-nari. Wayang yang sangat pemalu yang tidak mau berbicara dapat belajar melakukannya juga dengan bantuan dari anak-anak. Ciptakan beberapa wayang untuk kegiatan luar ruangan. Siapkan
beberapa pakaian untuk memberikan variasi karakter. Dan anak-anak dapat memilih pakaian yang sesuai dengan cuacanya.
G. Wayang dan Televisi
Sejak munculnya televisi, wayang telah telah menjadi bagian dalam acara harian. Stasiun televisi lokal biasanya mengawali siaran hariannnya dengan program yang berisi wayang.
Di Amerika, delapan dalang memperkenalkan kreasi wayang yang belum pernah ada sebelumnya kepada anak-anak. Mereka adalah
Edgar Bergen (1903-1978), seorang ventriloquist yang menghibur anak-anak dan orang tuanya dengan boneka kayunya,
Bil Baird (1904-1987), dalang Marionet lebih dari 60 tahun dan menciptakan lebih 3000 wayang yang ditampilkan di panggung, televisi dan film,
‘Buffalo Bob’ Smith (1917-1998), menhibur ribuan anak-anak di awal program televisi dengan acara Howdy Doody, Clarabel dan Marionetnya,
Burr Tilstrom (1917-1985), puncak ketenarannya selama tahun 1950, dengan wayang tangannya, Kukla dan Ollie.
Shari Lewis (1934-1998), seorang ventriloquis dan dalang dengan karakter-karakternya seperti Lamb Chop, Charlie Horse, dan Hush Puppy.
Fred Rogers (1928-2003), Mister Roger percaya bahwa setiap orang adalah spesial. Memiliki tokoh wayangnya King Friday and his friends. Bob Keshan (1927-2004), terkenal dalam kalangan anak-anak dan
orang dewasa di seluruh dunia dengan Captain Kangaroo-nya. H. Strategi Memperkenalkan Wayang Kepada Keluarga
Mengusahakan orang tua agar terlibat dan antusias dengan wayang memang akan membutuhkan waktu dan kesabaran kita. Berikut ini ada beberapa saran yang mungkin membantu :
Kirimkan informasi kepada orang tua berupa presentasi wayang yang ada dalam komunitas kita. Hal ini penting karena memungkinkan anak untuk melihat secara langsung pertunjukan wayang,
Kirimkan surat kepada orang tua. Libatkan anak-anak untuk membubuhkan ilustarsi dalam surat tersebut.
Selenggarakan pertemuan-pertemuan informal dengan orang tua. Seperti dengan makan malam bersama. Setelah kegiatan tersebut adakan kegiatan membuat karya bersama, salah satunya karya wayang.
Berikan pinjaman wayang kepada anak dan keluarganya. Dorong orang tua untuk menikmati wayang bersama anak-anak. Sediakan pula kantong untuk memudahkan membawa dan mengembalikan wayang.
I. Tips untuk orang tua
15
Wayang dapat mengatakan apa yang dipikirkan anak-anak, merasakan apa yang dirasakan anak, dan berbagi kesedihan dengan anak-anak. Wayang pun dapat menunjukkan bahwa anak yang kekurangan, kelaparan, dalam konflik, dan kehilangan, bisa begembira bersama dan berbagi cinta serta menggapai kebahagiaan.
Wayang dapat menyampaikan sesuatu yang jarang sekali didengar oleh anak-anak, yakni bahwa mereka amat dicintai. Wayang juga dapat menunjukkan pada anak-anak bahwa terkadang ayah dan ibunya pun bisa juga mengalami kesedihan, dan wayang akan menunjukkan betapa berharganya cinta, kesia—iaan dari sebuah pertengkaran, dan indahnya kerjasama dan saling mendukung. (UNICEF,2007).
Kreasi wayang akan menjadi alat yang sangat berharga untuk kita dalam mengajar. Wayang akan mendorong kita untuk menyesuaikan diri baik secara perilaku maupun kemampuan berbicara pada saat mengajar. Sekali kita sendiri merasa nyaman dalam membuat dan menggunakan wayang, kita akan mengalami dalam kenyamanan tersebut bahwa karakter wayang yang hebat tersebut dapa membantu kita sepanjang kita mengajar. Semakin sering kita menggunakan wayang maka kita akan melihat anak-anak semakin tertarik dan mencintai wayang. Namun demikian, kita perlu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk :
Memperoleh waktu yang cukup untuk membuat wayang; Membuat wayang dengan kreasi mereka sendiri;
Membebaskan kreativitas dan imajinasinya; Bersabar, menunggu kita siap;
Bereksplorasi, mencoba, dan berkreasi.
J. Kompetensi yang Diharapkan
2. Mengembangkan kemandiriannya; 3. Mempelajari perilaku yang diterima; 4. Meningkatkan keterampilan mendengar;
5. Mempelajari cara baru untuk mengekspresikan perasaan; 6. Belajar berbagi;
7. Belajar membuat pilhan-pilihan;
8. Mengembangkan otot besar maupun kecil; 9. Mempraktikan keterampilan berbicara;
10. Menggunakan cara berpikir kreatif dan imajinatif;
11. Memperkuat keterampilan penyelasaian masalah dan berpikir abstract;
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, dari penerapan wayang dalam kegiatan bermain pada Pendidikan Anak Usia Dini. Maka guru dan orang tua sekurang-kurangnya memahami tentang :
1. Perencanakan Penggunaan Wayang dalam Pendidikan Anak Usia Dini; 2. Strategi Mempersiapkan Lingkungan Belajar yang Baik dalam
Penggunaan Wayang;
3. Jenis-Jenis Wayang yang Mudah Dibuat; 4. Cara menempatkan dan Menyimpan Wayang; 5. Menghubungkan Wayang dengan Kurikulum PAUD; 6. Strategi Memperkenalkan Wayang Kepada Keluarga; 7. Tips untuk Orang Tua.
B. Saran
Demi mendukung keberhasilan penerapan wayang dan kompetensi yang dicapai peserta didik maka perlu adanya upaya untuk : 1. Membina kerjasama yang baik antara guru dan orang tua dalam
implementasi penggunaan wayang ini;
2. Memasukkan karakter atau tokoh yang sesuai dengan kebudayaan Indonesi, demi membangun kecintaan dan kebanggaan anak pada budaya sendiri.