• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM KUALITAS AIR ACARA II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM KUALITAS AIR ACARA II"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM KUALITAS AIR ACARA II

PENENTUAN LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL AIR TANAH (PRA SURVEY)

Dosen Pengampu: Ferryati Masitoh, S.Si, M.Si.

Di Susun oleh :

Nama : Elok Nailatus S Nim : 160722614603 Off : G/2016

Asisten : Unsila Tamiya Artawan

PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG

(2)

LAPORAN PRAKTIKUM KUALITAS AIR ACARA II

PENGAMBILAN SAMPEL AIR TANAH

I. TUJUAN

a. Mahasiswa mampu memahami teknik pengambilan sampel air tanah

b. Mahasiswa mampu melaksanakan pengambilan sampel air

II. DASAR TEORI

Air tanah (ground water) adalah air yang berada di bawah permukaan tanah di dalam zone jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer (Sosrodarsono, 1993:1) Air tanah merupakan sumber air tawar terbesar di planet bumi, mencakup kira-kira 30 % dari total air tawar atau 10,5 juta km3 . Akhir akhir ini pemanfaatan air tanah meningkat dengan cepat, bahkan di beberapa tempat tingkat eksploitasinya sudah sampai tingkat yang membahayakan. Air tanah biasanya diambil, baik untuk sumber air bersih maupun untuk irigasi, melalui sumur terbuka, sumur tabung, spring, atau sumur horizontal. Kecenderungan memilih air tanah sebagai sumber air bersih, dibanding air permukaan mempunyai keuntungan:

a. Tersedia dekat dengan tempat yang memerlukan, sehingga kebutuhan bangunan pembawa/distribusi lebih murah

b. Debit (produksi) sumur biasanya relatif stabil c. Lebih bersih dari bahan cemaran permukaan d. Kualitasnya lebih seragam

e. Bersih dari kekeruhan, bakteri, lumut atau tumbuhan dan binatang air

(3)

ekonomi proyek irigasi. Kebutuhan air telah menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam memilih keputusan tentang perbedaan pendapat pada beberapa sistem sungai utama dimana kesejahteraan masyarakat dari lembah, Negara, dan Bangsa yang tercakup. Sebelum sumber air dari suatu daerah aliran didaerah kering dan setengah kering dapat ditentukan secara memuaskan, pertimbangan yang hati-hati harus dicurahkan kepada kebutuhan air (consumptive use) pada berbagai daerah aliran. (Hansen, 1979).

Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Nilai kualitas dari masing-masing golongan ditunjukkan dalam laimpiran 3. Adapun penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut:

1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung ,tanpa pengolahan terlebih dahulu.

2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.

Pengambilan titik pengambilan sampel air tidak boleh dilakukan dengan sembarangan sehingga ketika melakukan pengambilan sampel air harus memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Hindari daerah ayng dekat dengan gedung atau bangunan atau pohon sehingg dapat ,enimbulkan terjadinya proses absorpsi atau adsorpsi pencemar udara ke gedung atau pohon tersebut.

2. Hindari daerah dimana pengganggu yang bersifat kimia dapat mempengaruhi pencemar udara yang akan diukur.

(4)

4. Jika pemantauan bersifat kontinu, pemilihan lokasi harus mempertimbangkan perubahan kondisi peruntukan pada masa yang akan datang. (Hadi, 2015)

Pemilihan stasiun pengambilan sampel air tanah lebih banyak bervariasi terhadap kondisi geologi. Pada air tanah dangkal atau bebas maka, titik pengambilan sampel ditetapkan pada rata-rata kedalaman sumur. Pada air tanah dalam atau tertekan dapat diambil dari lubang-lubang pengeluaran aor msialnya sumur bor, lubang-lubang mata air maupun rembesan air. (Masitoh, 2016).

Prosedur pengambilan sampel air tanah dilakukan setelah air sumur dikuras secukupnya. Hal ini untuk meyakinkan bahwa sampel yang telah diambil berasal dari air atanh bukan dri air hujan atau air rembesan dari air permukaan sehingga, dapat menggambarkan kualiats air tanah sesungguhnya. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan karena suatu hal maka, pengambilan air sumur atau tanah dilakukan dipagi hari sedangkan untuk air sumur bor setelah air dibuang selama kurang lebih lima menit melalui pompa. Hal penting yang harus diperhatikan adalah menjaga jangan sampai air permukaan masuk ke dalam air sumur selama proses pengambilan sampel air tanah. (Hadi, 2016) III. ALAT dan BAHAN

a. Alat:

- Pita ukur - Botol sampel - Termometer - Alat Tulis b. Bahan:

- Kertas catatan

(5)

IV. LANGKAH KERJA

V. HASIL

N o

Indikator Keterangan

1 Nama Air tanah Air tanah Jl Sumbersari gang 5 2 Lokasi Pengambilan

Sampel

Jl Sumbersari Gang 5 kecamatan Klojen Kota Malang

5 Jam Pengambilan Sampel Pukul 22.30 WIB 6 Temperatur 24,5˚C

7 Debit

-8 Kondisi tubuh air Buatan 9 Kondisi musim Musim Hujan 10 Pengambil samapel air Fariz Ichsan K Sumber: hasil praktikum Kualitas Air

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini membahas mengenai penentuan lokasi pengambilan sampel air. Sampel air diambil dari air tanah (air sumur). Sampel air sumur berlokasi di Jl Sumbersari Gang 5 kecamatan Klojen Kota Malang dan daimbil pada pukul 22.30 WIB. Suhu air sebesar 24,5˚C dan diambil pada musim hujan. Sebelum pengambilan air sumur dilakukan maka prosedur yang dianjurkan adalah pengambilan sampel pada pagi haria atu membuang air tanah selama kurang lebih lima menit. Namun pada saat pengambilan terdapat sedikit hambatan

(6)

yaitu hujan. Hujan turun ketika akan dilakukan pengambilan sampel air sehingga, pengambilan sampel air ditunda dan dilakukan setelah berjam-jam hujan turun. Hal ini bertujuan untuk menghindari sampel air dari proses pelarutan yang berasal dari air hujan. Dan juga tidak dapat mengambil sampel air pada pagi hari dikarenakan uji laboratorium kualitas air dilakukan pada pagi hari sehingga hal yang dapat dilakukan adalah denagn membuang air selama lima menit sebelum dilakukan pengambilan sampel air tanh.

Ketika pengambilan sampel air dilakukan saat hujan turun maka sampel air dapat dikatakan tidak valid karena air hujan dapat melarutkan unsur-unsur yang terdapat didalam air sehingga kandungan unsur-unsur atau ion-ion tertentu dalam air berkurang. Pengambilan sampel air menggunakan wadah dan alat yang sudah ditentukan agar sampel air tetap terjaga dengan baik tanpa adanya kontaminasi apapun. Wadah yang digunakan untuk menyimpan sampel harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat sampel, baik sifat fisik maupun kimia sehingga sebisa mungkin menggunakan bahan wadah yang tidak memicu terjadi interaksi zat-zat atau ion-ion tertentu ayng dapat merubah sifat sampel air. Wadah sampel dapat terbuat dari bahan gelas atau plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP/0 atau teflon (Poli Tetra Fluoro Etilen, PTFE). b. Volume atau kapasitas wadah sesuai dengan kebutuhan

pengambilan sampel. Dianjurkan menggunakan wadah yang seperti gelas ukur sehingga terdapat keterangan volumenya.

c. Bahan wadah mudah dicuci dari penggunaan pengambilan sampel sebelumnya sehingga data yang diambil untuk selanjutnya tidak mengalami kontaminasi.

(7)

e. Wadah dianjurkan mudah dibawa dan aman saat dalam perjalanan dari lokasi pengambilan sampel sampai ke laboratorium untuk diuji.

Lokasi pengambilan sampel air tanah dapat dilakukan di sumur, mata air, dan sumur pantau. Pada praktikum kali ini pengambilan sampel air dilakukan di sumur yang menggunakan timba namun untuk kebutuhan mandi dan mencuci bisa dilakukan menggunakan pompa air. Sumur tersebut berdiameter 1,3 meter dengan kedalaman 3 meter. Penentuan lokasi tersebut disebebabkan oleh daerah tersebut merupakan daerah permukiman yang padat dan dekat dengan sungai sehingga penggunaan air tanah untuk kehidupan sehari-hari meningkat. Air tanah tersebut digunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan minum. Dekat dengan sungai yang berwarna hijau yang mengindikasikan bahwa sungai tersebut tercemar. Kemudian jarak dari sungai ke lokasi pengambilan sampel sekitar 10-15 meter. Dikarenakan lokasi pengambilan sampel yang dekat dengan sungai, kerap berada didaerah permukiman sehingga penggunaan air tanah meningkat dan dikhawatirkan kualitas air terganggu dengan pencemaran air yang ada di sungai. Uji laboratorium kualitas air di daerah tersebut bertujuan untuk memantau dan mengetahui kualitas iar tersebut layak dikonsumsi atau tidak. Namun, untuk hal itu memerlukan uji laboratorium yang lebih detail. Penentuan lokasi pengambilan sampel ditujukan untuk kegiatan pemanfaatan sebagai berikut:

a. Untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk air minum b. Pembungan akhir sampah

c. Pertanian yang menggunakan pestisida secara intensif d. Kawasan industri dan pertambangan

e. Intrusi air laut

(8)

keduanya. Secara fisika dapat dilakukan dengan memasukkan sampel air ke dalam freezer atau mendinginkan sampel air dengan suhu tertentu, misalnya sebesar 3˚C. Kemudian tutup wadah sampel ditutup dengan rapat menggunakan solatip (lakban) agar sampel air tidak mudah terpengaruh dari udara luar. Secara kimia dapat dilakukan dengan menambah larutan kimia tertentu yang dapat mencegah aktivitas penambahan atau pengurangan ion-ion tertentu yang terdapat di sampel air. Namun, dalam dalam menambahkan bahan atau larutan kimia sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu analisis yang akan dilakukan.

Pengambilan sampel air tanah dilakukan dengan cara menimba air pada kedalaman separuh dari kedalaman seluruhnya. Kedalaman air sampel 3 meter namun yang terisi oleh air tanah 2 meter saja. Seharusnay pengambilan sampel air tanah dilakukan pada kedalaman 1,5 meter. Namun, hal ini tidak dapat dilakukan karena timba tidak dapat mengambil air terlalu dalam sehingga hanya dapat mengambil air di permukaan saja setinggi 2 meter. Kemudian hasil pengambilan air dari timba tersebut ditampung ke dalam botol pengambilan sampel dengan posisi botol sampel sedikit miring dan tenggelam dalam air. Hal ini bertujaun agar sampel air dpat masuk ke dalam botol sampel air dengan valid tanpa ada pengaruh dari udara luar. Setelah itu, botol sampel ditutup dengan rapat dan disimpan dalam kulkas atau freezer.

VII. KESIMPULAN

(9)

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hadi, Anwar. 2015. Pengambilan Sampel Lingkungan. Jakarta:

Erlangga

Hansen, V. E., O. W. Israelsen, dan G. E. Stringham. 1979. Irrigation Principles and Practices. New York: John Wiley and Sons.

Masitoh, Ferryati. 2016. Panduan Praktikum Kualitas Air. Malang: Universitas Negeri Malang

Sosrodarsono, Suyono, dan Takeda, Kensaku. 1993. Hidrologi Untuk Pengairan. Jakarta: Pradnya Paramitha.

IX. LAMPIRAN

(10)

Gambar 3. Proses pengambilan Gambar 4. Memploting Air tanah menggunakan timba Koordinat lokasi

Gambar

Gambar 1 pengukuran suhu
Gambar 3. Proses pengambilan

Referensi

Dokumen terkait

KAJIAN INTERAKSI SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN PAKAN SERTA KECERNAAN LEMAK..

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah yaitu dengan membantu proses pelapukan bahan mineral

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia atau fisika) dari zat yang direaksikan, serta untuk mencari rumus

Komposit adalah bahan hibrida yang terbuat dari resin polimer diperkuat dengan serat, menggabungkan sifat-sifat mekanik dan fisik, Bahan komposit merupakan bahan gabungan

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah yaitu dengan membantu proses pelapukan bahan mineral

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia atau fisika) dari zat yang direaksikan, serta untuk mencari rumus senyawa

Kemasan yang digunakan dapat mempengaruhi mutu bahan pangan, yaitu terjadinya perubahan fisik dan kimia karena migrasi zat-zat kimia dari bahan pengemas ke makanan, perubahan aroma,

Dasar Teori Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsur- unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan