• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA PELAYANAN NUTRISI PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT GINJAL DAN PENYAKIT HATI DI RSUP PROF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLA PELAYANAN NUTRISI PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT GINJAL DAN PENYAKIT HATI DI RSUP PROF"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

109

POLA PELAYANAN NUTRISI PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT GINJAL DAN PENYAKIT HATI DI RSUP PROF Dr. R. D. KANDOU MANADO Monalisa M. Napitupulu* Gustaaf A. E. Ratag** Nelly Mayulu**

* Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado

** Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Pelayanan gizi di ruang rawat inap dilaksanakan oleh tim asuhan nutrisi yang terdiri dari dokter, ahli gizi, perawat, dan petugas kesehatan lain yang kegiatannya dipusatkan pada pasien. Penyakit yang berpengaruh terhadap menurunnya status gizi di rumah sakit diantaranya adalah gagal ginjal dan penyakit hati. Pada pasien penyakit ginjal kecukupan energi dan protein sangat penting. Asupan energi dan protein yang rendah mengakibatkan peningkatan katabolisme tetapi bila asupan protein terlalu tinggi menyebabkan sindrom uremik, oleh karena itu pada pasien penyakit ginjal perlu monitoring dan evaluasi asupan nutrisi agar tidak terjadi penurunan status gizi. Pada penyakit hati yang berat metabolisme protein terganggu sehingga ammonia terakumulasi secara abnormal di dalam darah. Pelayanan nutrisi di rumah sakit lebih tepat jika berorientasi sesuai keadaan individu dan memperhitungkan kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan keadaan penyakit/diagnosa penyakit sehingga pelayanan nutrisi dapat berjalan secara efektif. Masalah pelayanan nutrisi yang tidak tepat menjadi salah satu faktor dalam penyembuhan pasien terutama penyakit ginjal dan penyakit hati. Untuk itulah peneliti ingin menganalisis pola pelayanan nutrisi pasien rawat inap penyakit ginjal dan penyakit hati di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi dokumen di instalasi gizi dan ruangan C2 dan C3 RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan bulan November 2016-Maret 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam kepada 6 informan yaitu Kepala Instalasi Gizi, Penanggung Jawab Rawat Inap, Dietisen Ruangan C2 dan C3, Pengolah Makanan Khusus, Dokter, Pasien Ginjal. Kesimpulan dari pelayanan nutrisi pasien rawat inap penyakit ginjal dan penyakit hati di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou ditemukan terapi nutrisi belum berjalan optimal karena porsi makan baik dalam jumlah makanan dalam sehari maupun konsumsi cairan belum sesuai diet yang benar, belum ada kolaborasi yang baik antara dokter penanggung jawab pasien dengan ahli gizi di ruangan dan RSUP Prof Dr. R. D. Kandou belum memiliki dokter spesialis gizi, sehingga tim terapi gizi hanya terdiri dari dokter penanggung jawab pasien dan ahli gizi saja.

Kata Kunci: Pola Pelayanan Nutrisi, Rawat Inap, Penyakit Ginjal, Penyakit Hati ABSTRACT

Nutrition services in hospitals were provided and customized services with the patient's circumstances based on clinical circumstances, nutritional status, and status metabolism. The nutritional state of the patient was very influential on the process healing the disease, otherwise the disease travel process could affect the patient's nutritional status. Nutrition services in the inpatient room implemented by a team of nutritional care consisting of doctors, nutritionists, nurses, and other health workers whose activities are centered on patients. Disease which affects the decreasing of nutritional status in hospital among others was kidney failure and liver disease. In patients with kidney disease sufficiency energy and protein were very important. Low energy and protein intake resulting in increased catabolism but when protein intake was too high causing uremic syndrome, therefore in patients with kidney diseas ewas necessary monitoring and evaluation of nutrient intake so as not to decrease nutritional status. In several liver disease protein metabolism was disrupted so ammonia accumulate abnormally in the blood. Nutrition services in hospitals were more appropriate if oriented according to circumstances individual and take into account the nutritional needs of the patient by paying attention disease condition / disease diagnosis so that nutrition service can run effectively. The problem of improper nutrition services was one factors in the cure of patients, especially kidney disease and liver disease. That's

(2)

110

why researchers wanted to analyze the pattern of nutrition services inpatients Kidney disease and liver disease in RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. This research was conducted using qualitative methods aiming to obtain in-depth information by doing in-depth interviews and document observation on nutritional installations and room C2 and C3 RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. The time of the research implementation was carried out November 2016-March 2017. Data collection was performed by means of depth interviews with 6 informants namely Head of Nutrition Installation, Insurers Answer Inpatient, Dietisen Room C2 and C3, Special Food Processors,Doctors, Kidney Patients. The Conclusion of the nutrition services of patients inpatient of kidney disease and liver disease in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou founded nutritional therapy not yet running optimal because the portion to eat both in the amount of food in a day or fluid consumption has not been in accordance with the correct diet, there was no good collaboration between the physician in charge of the patient and the nutritionist in the room and the room of RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou that they don not yet have a specialist nutritionist, so the team is nutrition therapy consisting only of physicians in charge of patients and nutritionists alone.

Key Words: Nutritional Services Pattern, Inpatient Department Kidney Disease, Liver Disease

PENDAHULUAN

Rumah sakit menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 yaitu institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan berupa rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah sakit merupakan salah satu sektor kesehatan yang mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk memperbaiki manajemen agar dapat meningkatkan mutu pelayanan dan melakukan pemberdayaan terhadap semua potensi yang ada termasuk sumber daya manusia karena mutu pelayanan sangat tergantung pada kemampuan sumber daya manusia.

Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dijelaskan bahwa untuk melaksanakan upaya kesehatan

memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan untuk menjamin ketersediaan, pendistribusian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Unit Pelayanan Gizi Rumah Sakit yang merupakan salah satu unit penunjang umum, juga memerlukan SDM yang berkualitas untuk menjamin produksi layanan yang bermutu tinggi.

Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Pelayanan gizi yang baik pada akhirnya bertujuan meningkatkan status kesehatan sehingga mempercepat kesembuhan pasien. Sering terjadi kondisi pasien bertambah buruk karena

(3)

111 tidak diperhatikan keadaan gizinya (Dewi, dkk, 2015). Pelayanan gizi di ruang rawat inap dilaksanakan oleh tim asuhan nutrisi yang terdiri dari dokter, ahli gizi, perawat, dan petugas kesehatan lain yang kegiatannya dipusatkan pada pasien. Setiap anggota tim mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing dan dokter sebagai ketua tim (Anonim, 2007).

Data dari medical record RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado pasien yang mengalami penyakit ginjal dan penyakit hati mengalami peningkatan setiap tahunnya. Untuk penyakit ginjal sendiri merupakan urutan pertama dari sepuluh penyakit terbanyak. Untuk penyakit hati, pasien rawat inap paling banyak menderita sirosis hati dan hepatitis. Konsumsi energi dan protein pada penderita penyakit hati merupakan dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Konsumsi energi yang tinggi diperlukan untuk mencegah terjadinya katabolisme protein sedangkan konsumsi protein tinggi agar terjadi anabolisme protein (Beck, 2011). Pemahaman tentang penatalaksanaan diet yang tepat bagi penderita penyakit ginjal dan penyakit hati penting untuk diketahui, karena berpengaruh terhadap lama perawatan dan kesembuhan pasien. Penelitian yang dilakukan oleh Herawati dkk (2014) di Rumah Sakit

Umum Daerah Sumedang

menyimpulkan bahwa kapasitas tim panitia asuhan gizi dalam pelayanan gizi belum optimal. Terdapat peningkatan gizi buruk dari 1,9% sebelum perawatan menjadi 13% setelah perawatan. Penelitian yang dilakukan oleh Supu dkk (2014) di ruang rawat inap RSUD Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat menyimpulkan bahwa terdapat tidak tepat diet sebanyak 93,5% yang mempengaruhi pencapaian standar pelayanan minimal (SPM) gizi di rumah sakit tersebut.

Berdasarkan pengamatan peneliti beberapa waktu, pengetahuan petugas tentang nutrisi pasien penyakit ginjal dan penyakit hati didapatkan masih kurang baik. Porsi makan baik dalam jumlah makan dalam sehari maupun konsumsi cairan belum sesuai diet yang benar. Menu yang dihindari antara lain diet rendah cairan, pantangan makan bagi pasien penyakit ginjal dan penyakit hati belum terarah ke jenis dan jumlah yang tepat. Pasien belum maksimal dalam pembatasan cairan karena tidak ada edukasi yang baik yang diberikan petugas. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin mengkaji lebih lanjut tentang pola pelayanan nutrisi pasien rawat inap penyakit ginjal dan penyakit hati di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou.

METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang

(4)

112 bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi dokumen di instalasi gizi dan ruangan C2 dan C3 RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Penelitian ini dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou.. Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan bulan November 2016-Februari 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam kepada 6 informan yaitu Kepala Instalasi Gizi, Penanggung Jawab Rawat Inap, Dietisen Ruangan C2 dan C3, Pengolah Makanan Khusus, Dokter, Pasien Ginjal. Pemilihan sampel pada penelitian ini berdasarkan prinsip kesesuaian (appropriatness) dan kecukupan (adequency).

HASIL DAN PEMBAHASAN Ketepatan Waktu Pemberian

Jam distribusi makanan menurut peraturan di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado distribusi makan pagi pukul 06.00-06.30, distribusi makan siang pukul 12.00-12.30, dan distribusi makan malam pukul 18.00-18.30. Berdasarkan hasil penelitian di atas, distribusi penyajian makanan yang telah dimasak masih mengalami keterlambatan pada jam-jam tertentu. Distribusi makan siang dan distribusi makan malam kadang mengalami keterlambatan, sedangkan distribusi

makan pagi tidak pernah mengalami keterlambatan.

Proses distribusi makanan pasien di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado dilakukan secara sentralisasi dan desentralisasi. Proses sentralisasi dilakukan dengan ketentuan makanan tiap pasien langsung diporsikan di dapur instalasi gizi. Proses desentralisasi dilakukan dengan makanan diporsikan di dapur pantry kemudian didistribusikan ke pasien. Pelaksanaan distribusi makanan di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou, rata-rata jam distribusinya yang tidak tepat yaitu pada jam makan siang dengan kelebihan jam distribusi 10 sampai 30 menit.

Pada wawancara mengenai ketepatan waktu pemberian makanan, dalam hal ini hidangan yang disajikan pada pasien rawat inap di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado, ditemukan adanya keluhan mengenai waktu pemberian makanan. Salah satu faktor yang mempengaruhi jam distribusi makan yaitu persiapan bahan makanan. Persiapan bahan makanan merupakan suatu proses dalam rangka menyiapkan bahan makanan dan bumbu yang siap untuk dimasak sesuai standar resep serta perlengkapan atau peralatan sebelum dilakukan pemasakan. Bagian instalasi gizi telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya dengan mempercepat

(5)

113 pembelian bahan makanan sehingga dapat menyajikan hidangan kepada pasien tepat waktu.

Penelitian yang dilakukan oleh Halek dkk (2012) di Rumah Sakit Umum Daerah Atambua distribusi makan siang yang tidak sesuai dengan jam distribusi di rumah sakit adalah sebanyak 25 responden (96,15%) dimana distribusi makanan terlambat sesudah pukul 12.00 WIT sedangkan distribusi makan yang tepat hanya 1 responden (3,8%). Distribusi makan malam yang tidak sesuai dengan jam distribusi makanan di rumah sakit yaitu 6 responden (23,1%) dimana makanan didistribusi terlambat sesudah pukul 18.30 WIT sedangkan distribusi makan malam yang tepat yaitu sebanyak 20 responden (76,9%). Berdasarkan observasi yang dilakukan selama penelitian pada pelaksanaan distribusi makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Atambua, rata-rata jam distribusi yang tidak tepat yaitu pada jam makan siang dengan kelebihan jam distribusi 10-30 menit. Jam distribusi yang tidak tepat berkaitan dengan jumlah tenaga distribusi makanan yang sangat terbatas yaitu hanya 1 tenaga pendistribusi. Selain itu ketidaktepatan jam distribusi sering terjadi pada jam makan siang karena rumah sakit mengalami penambahan jumlah pasien pada jam makan siang. Hal ini dapat

mempengaruhi ketepatan jam distribusi karena proses produksi makanan di instalasi gizi akan mengalami penambahan waktu, sehingga akan berakibat distribusi makanan tidak efektif.

Indikator pelayanan nutrisi salah satunya adalah ketepatan waktu pemberian makanan. Proses penyajian makanan yang berkaitan dengan ketepatan waktu dan kondisi makanan haruslah selalu dijaga, dalam hal ini penyajian makanan yang telah dimasak harus disajikan kepada konsumen tepat pada waktunya yaitu tidak boleh disajikan terlalu lambat atau terlalu awal sehingga dapat menyebabkan suhu makanan berubah dan mempengaruhi selera makan konsumen. Standar pelayanan minimal rumah sakit untuk pelayanan gizi, salah satu indikatornya ketepatan waktu pemberian makanan standarnya harus ≥ 90% (Anonim, 2008).

Diet Yang Diberikan Rumah Sakit Hasil wawancara yang mendalam dan observasi dokumen didapatkan belum semua kegiatan pelayanan gizi memiliki Standard Operating Procedure (SOP), misalnya pelayanan nutrisi untuk pasien dengan makanan khusus belum memiliki SOP yang jelas. Kepala instalasi dan penanggung jawab gizi rawat inap perlu melakukan monitoring dan evaluasi

(6)

114 terhadap pelayanan, apakah telah sesuai SOP atau tidak.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, pengetahuan petugas tentang nutrisi pasien penyakit ginjal dan penyakit hati didapatkan masih kurang baik. Porsi makan baik dalam jumlah makan dalam sehari maupun konsumsi cairan belum sesuai diet yang benar. Menu sehari-hari yang dihidangkan lebih sering protein hewani, menu yang dihindari antara lain diet rendah cairan, pantangan makan bagi pasien penyakit ginjal dan penyakit hati belum terarah ke jenis dan jumlah yang tepat. Terapi nutrisi belum sepenuhnya dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien. Hal ini diakibatkan karena ketidaktaatan dokter terhadap standar prosedur operasional dan kurangnya kolaborasi antara dokter dan ahli gizi. Pasien belum maksimal dalam pembatasan cairan karena tidak ada edukasi yang baik yang diberikan petugas.

Penelitian yang dilakukan oleh Herawati dkk (2014) di Rumah Sakit

Umum Daerah Sumedang

menyimpulkan bahwa kapasitas tim panitia asuhan gizi dalam pelayanan gizi belum optimal. Terdapat peningkatan gizi buruk dari 1,9% sebelum perawatan menjadi 13% setelah perawatan. Penelitian yang dilakukan oleh Supu dkk (2014) di ruang rawat inap RSUD Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat

menyimpulkan bahwa tidak tepat diet sebanyak 93,5% yang mempengaruhi pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) gizi di rumah sakit tersebut.

Diet yang diberikan rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan status nutrisi dan membantu kesembuhan pasien. Dalam pelaksanaan asuhan nutrisi di ruang rawat inap, diperlukan kerjasama yang erat dan terpadu, saling mengerti dan saling menghormati di antara berbagai unsur yang terkait dengan pelaksanaaan asuhan nutrisi. Tujuan pemberian diet adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan daya tahan tubuh dalam menghadapi penyakit/cedera khususnya infeksi dan membantu kesembuhan pasien dari penyakit dengan memperbaiki jaringan yang rusak serta memulihkan keadaan homeostatis yaitu keadaan seimbang dalam lingkungan internal tubuh yang normal/sehat.

Pelayanan gizi yang berkualitas diperlukan sebagai upaya mempersingkat lama rawat di rumah sakit dan penghematan biaya pasien. Untuk itu diperlukan kerjasama multidisiplin yang bukan sekedar dukungan tetapi menjadi bagian terapi pasien dalam bentuk Tim Terapi Gizi (TTG), yang terdiri dari dokter spesialis gizi klinik, dietisien, perawat dan ahli farmasi (Anonim,2009). Permasalahan di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou adalah

(7)

115 belum memiliki dokter spesialis gizi, sehingga tim terapi gizi hanya terdiri dari dokter penanggung jawab pasien dan ahli gizi saja.

Pada penderita penyakit ginjal dan penyakit hati asupan cairan harus dibatasi. Pembatasan konsumsi cairan ini juga harus memperhatikan produksi pembuangan urine dalam sehari. Umumnya pada penyakit ginjal lebih jarang membuang urine, sehingga jumlah cairan yang masuk tidak boleh lebih banyak daripada jumlah cairan yang dikeluarkan karena akan membuat fungsi ginjalnya semakin menurun dan terjadi overhidrasi. Diet yang diberikan adalah rendah protein cukup tinggi, sumber protein sebagai lauk tidak hanya bersumber dari protein hewani, dapat juga digunakan hasil olahan kedelai untuk pengganti protein hewani sebagai variasi menu atau untuk penganut vegetarian. Asupan energi dan protein yang rendah mengakibatkan peningkatan katabolisme tetapi bila asupan protein terlalu tinggi menyebabkan sindrom uremik, oleh karena itu pada pasien penyakit ginjal perlu monitoring dan evaluasi asupan nutrisi agar tidak terjadi penurunan status gizi (Fahmia dkk, 2012) Asupan protein yang konsisten dan terkendali adalah penting karena dengan mengatur makanan dan memenuhi anjuran dapat meningkatkan kualitas pasien.

Makanan merupakan salah satu faktor penunjang untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit. Dengan mengkonsumsi makanan berarti pasien juga mengkonsumsi zat gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut. Tercukupinya zat gizi dapat membantu proses penyembuhan. Dengan pengadaan makanan di rumah sakit diharapkan agar pasien penderita penyakit dalam mendapatkan konsumsi energi dan protein terkontrol. Tujuan diet adalah memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh. Standar pelayanan minimal rumah sakit untuk pelayanan gizi, salah satu indikatornya adalah tidak adanya kejadian kesalahan pemberian diet, standarnya harus 100% (Anonim, 2008).

Sisa Makanan Yang Tidak

Dihabiskan

Keberhasilan suatu pelayanan gizi di ruang rawat inap dapat dievaluasi dengan pengamatan sisa makanan yang tidak dikonsumsi setelah makanan disajikan. Sisa makanan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal antara lain faktor psikologis yang disebabkan karena menurunnya aktivitas fisik selama dirawat, rasa tidak senang, rasa takut karena sakit, ketidakbebasan bergerak karena adanya penyakit yang menimbulkan rasa putus asa.

(8)

116 Manifestasi rasa putus asa itu sering berupa hilangnya nafsu makan dan rasa mual, faktor ini membuat pasien terkadang tidak menghabiskan porsi makanan yang telah disajikan.

Makanan yang tersisa masih sering dijumpai di berbagai rumah sakit di Indonesia. Berdasarkan Kemenkes No.129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit, sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien sebanyak-banyaknya 20%. Terpenuhinya syarat tersebut menjadi indikator keberhasilan pelayanan gizi di setiap rumah sakit di Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sisa makanan yaitu faktor yang berasal dari dalam pasien (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar pasien (faktor eksternal). Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap sisa makanan adalah cita rasa (penampilan dan rasa) makanan, kelas perawatan, lama perawatan, dan konsumsi makanan dari luar rumah sakit. Konsumsi makanan dari luar rumah sakit oleh pasien di ruangan rawat inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou secara umum masih menjadi permasalahan yang sering dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa cita rasa dan variasi menu merupakan faktor utama pasien mengkonsumsi makanan dari luar. Sebagian pasien mengkonsumsi jajanan

yang mengandung karbohidrat yang membuat cepat kenyang dan dapat mengganggu nafsu makan pasien, sehingga pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

Pada penelitian yang pernah dilakukan Priyanto (2008) di RSUD Kota Semarang ditemukan adanya sisa makanan berupa makanan pokok (nasi atau bubur), lauk hewani, lauk nabati, dan sayuran yang cukup banyak baik makan pagi, makan siang maupun makan sore, dengan rata-rata presentasi sebesar 48,29% yang terdiri dari pasien rawat inap kelas I ditemukan adanya sisa makanan sebesar 4,67%, kelas II sebesar 15,59%, dan kelas III sebesar 28,03%. Faktor yang menyebabkan sisa makanan yaitu konsumsi makanan dari luar rumah sakit dan mutu makanan yang masih kurang. Penelitian yang dilakukan oleh Wirasamadi dkk (2015) di RSUP Sanglah Denpasar Bali ditemukan rata-rata jumlah sisa makanan sebesar 14,79%. Pasien yang menyisakan makanannya lebih banyak pasien perempuan umur 50-64 tahun yang dirawat di kelas II dan kelas III dengan lama rawat < 5 hari.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi makanan dari luar yaitu cita rasa, variasi menu, cara penyajian, dan beda waktu makan. Asupan zat gizi pasien selama di rumah

(9)

117 sakit berasal dari makanan rumah sakit dan makanan luar rumah sakit. Bila penilaian pasien terhadap mutu makanan dari rumah sakit kurang memuaskan, kemungkinan pasien mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit. Pelayanan nutrisi memegang peranan penting dalam proses penyembuhan penyakit, jenis diet, penampilan dan rasa makanan yang disajikan akan berdampak pada asupan makan. Pasien akan merasa bosan apabila menu yang dihidangkan tidak menarik sehingga mengurangi nafsu makan.

Perawatan di rumah sakit berarti memisahkan pasien dengan lingkungannya sehari-hari, termasuk kebiasaan makannya. Tidak hanya perbedaan pada macam makanan yang disajikan, tetapi juga cara makanan tersebut dihidangkan, waktu makan, tempat makan, sehingga mempengaruhi selera makan pasien. Hal tersebut dapat berakibat pada menurunnya konsumsi terhadap makanan yang disajikan dan memperbesar kecenderungan pasien untuk mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit, sehingga berdampak pada kebutuhan gizi pasien yang tidak terpenuhi dan terhambatnya proses penyembuhan (Silviani, 2012).

KESIMPULAN

1. Pelaksanaan distribusi makanan di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou,

rata-rata jam distribusinya yang tidak tepat yaitu pada jam makan siang dengan kelebihan jam distribusi 10 sampai 30 menit. Ketidaktepatan jam distribusi ini karena proses produksi makanan di instalasi gizi mengalami penambahan waktu, sehingga berakibat distribusi makanan yang tidak efektif.

2. Terapi nutrisi belum berjalan optimal karena porsi makan baik dalam jumlah makanan dalam sehari maupun konsumsi cairan belum sesuai diet yang benar, belum ada kolaborasi yang baik antara dokter penanggung jawab pasien dengan ahli gizi di ruangan dan RSUP Prof Dr. R. D. Kandou belum memiliki dokter spesialis gizi, sehingga tim terapi gizi hanya terdiri dari dokter penanggung jawab pasien dan ahli gizi saja.

3. Konsumsi makanan dari luar oleh pasien khususnya penyakit ginjal dan penyakit hati karena mutu makanan dari rumah sakit yang kurang memuaskan. Menurunnya konsumsi terhadap makanan yang disajikan akan memperbesar kecenderungan pasien untuk mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit, sehingga berdampak pada kebutuhan gizi pasien yang tidak terpenuhi dan terhambatnya proses penyembuhan.

(10)

118 SARAN

1. Untuk RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou

a. Perlu lebih sering mengadakan pelatihan bagi petugas gizi dan lebih banyak menyediakan media informasi mengenai diet penyakit ginjal dan penyakit hati bagi pasien, keluarga pasien, maupun masyarakat umum. b. Perlu dioptimalkan peran dokter

penanggung jawab dalam memberikan terapi nutrisi.

2. Untuk Institusi Pendidikan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya. Bagi mereka yang ingin meneliti mengenai pelayanan gizi di rumah sakit diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan tentang analisis implementasi pelayanan gizi terhadap kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Pemerintah Republik Indonesia. Jakarta. ---. 2009. Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 44

Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.

---. 2008. Keputusan Kementerian Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta.

---. 2007. Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor

374/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Gizi. Jakarta.

Beck, M. E. 2011. Ilmu Gizi Dan Diet Hubungannya Dengan Penyakit-Penyakit Untuk Perawat Dan Dokter. Yogyakarta: Andi, hal 269-291.

Dewi, E. S., M. I. Kartasurya., dan A. Sriatmi. 2015. Analisis Implementasi Pelayanan Gizi di RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia. Vol. 3(2): 91-99. Fahmia, N. I., T. Mulyati, dan E.

Handasari. 2012. Hubungan Asupan Energi Dan Protein Dengan Status Gizi Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Rawat Jalan Di RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang. 1(1): 1-11.

(11)

119 Herawati, D. M. D., I. S. Nurparida, dan

N. Arisanti. 2014. Analisis Kebijakan Outsourcing Penyelenggaraan Makanan Pasien Di Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang. MKB. 46(4): 234-240.

Supu, L., Y. Prawiningdyah, dan Susetyowati. 2014. Studi Kasus Kualitas Ahli Gizi Dengan

Standar Pelayanan Minimal Gizi Di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. Jurnal Gizi Dan Dietetik Indonesia. 2(1): 32-40. Silviani, F. 2012. Konsumsi Zat Gizi

Dan Daya Terima Pasien Rawat Inap Penyakit Ginjal Kronik Terhadap Makanan Yang Disajikan RSUP Fatmawati.

Referensi

Dokumen terkait

4.1.3 Rencana keperawatan pada pasien untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi adalah kaji adanya alergi makanan; kaji makanan kesukaan dan yang tidak disukai; monitor berat

Untuk mengetahui gambaran mengenai pola makan atau diet sehari- hari meliputi jenis makanan pokok, lauk pauk, buah, sayuran, dan minuman yang mereka konsumsi

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui gambaran umum rumah sakit, instalasi gizi, dan penyelenggaraan makanan di RSUP Fatmawati; (2) mempelajari

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi zat gizi dan daya terima pasien rawat inap penyakit kardiovaskular terhadap makanan yang disajikan RSUP H..

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi zat gizi dan daya terima pasien rawat inap penyakit kardiovaskular terhadap makanan yang disajikan RSUP H..

Mengetahui tingkat konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi serta daya terima pasien rawat inap penyakit kardiovaskular terhadap makanan yang disajikan RSUP H. Mengetahui gambaran

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi zat gizi dan daya terima pasien rawat inap penyakit kardiovaskular terhadap makanan yang disajikan RSUP H..

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui gambaran umum rumah sakit, instalasi gizi, dan penyelenggaraan makanan di RSUP Fatmawati; (2) mempelajari