1
I. LP SECTIO CAESARIA (SC) A. PENDAHULUAN
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan bayi melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus. Sectio caesarea dilakukan sebagai pilihan terakhir setelah persalinan normal tidak dapat dilakukan (Oxorn, 2010). Penyebab dilakukan sectio caesarea diantaranya disebabkan oleh faktor janin, faktor ibu, riwayat persalinan. Indikasi sectio caesarea antara lain adalah disproposi panggul (CPD), disfungsi uterus, distosia, janin besar, gawat janin, eklamsia, hipertensi, riwayat pernah sectio caesarea sebelumnya (Prawirohardjo, 2010).
World Health Organization (WHO) menetapkan standar rata- rata sectio caesarea di sebuah negara adalah kurang dari 15% per 1000 kelahiran di dunia (Gibbson L. et al, 2010). Menurut WHO peningkatan persalinan dengan sectio caesarea di seluruh negara selama tahun 2007 – 2008 yaitu 110.000 per kelahiran di seluruh Asia (Sinha Kounteya, 2010 dalam Sumelung, 2014).
Di Indonesia terjadi peningkatan persalinan dengan sectio caesarea, mengalami peningkatan pada tahun 2000 sebesar 47,22 % di tahun 2005 sebesar 51,59% dan tahun 2006 sebesar 53,68% (Grace, 2007). Hasil Riskesdas (2013), menunjukkan kelahiran bedah caesarea sebesar 9,8 % dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta (19,9%) dan terendah di Sulawesi Tenggara (3,3%). Di Jawa Tengah persalinan dengan sectio caesarea pada tahun 2010 sebesar 11,8 % dan masuk ke peringkat ke - 10. Angka kejadian persalinan di RSUD Kota Salatiga periode tahun 2013 sebanyak 1521 persalinan yang terdiri dari 475 persalinan dengan sectio caesarea dan 1046 persalinan normal. Pada tahun 2014 jumlah persalinan di RSUD Kota Salatiga mengalami penurunan yaitu 1085 persalinan dengan 319 persalinan dengan sectio caesarea dan 766 persalinan normal. Dapat dikatakan jumlah tindakan sectio caesarea dapat mencapai sepertiga dari persalinan normal pada setiap tahunnya.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tentang konsep dasar sectio caesaria dan mampu melakukan asuhan keperawatan pada ibu post operasi sectio caesaria
2
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memahami konsep dasar sectio caesaria, meliputi: a. Pengertian
b. Tujuan sectio caesarea c. Jenis – jenis sectio caesarea d. Manifestasi klinik e. Etiologi / indikasi sc f. Patofisiologi g. Kontraindikasi h. Komplikasi i. Pemeriksaan penunjang
j. Penatalaksanaan post sectio caesarea
Mahasiswa mampu membuat dan melakukan asuhan keperawatan pada ibu post operasi sectio caesaria
C. MANFAAT
Laporan Pendahuluan (LP) ini diharapkan dapat menjadi landasan teori mahasiswa dalam memberikan atau melakukan asuhan keperawatan (maternitas) khususnya pada ibu post operasi dengan sectio caesaria.
3
II. KONSEP DASAR A. PENGERTIAN
Istilah caesarea berasal dari kata kerja latin caedere yang berarti memotong atau menyayat (Cunningham, 2006). Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan bayi melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn, 2010).
B. TUJUAN SECTIO CAESAREA
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
C. JENIS – JENIS SECTIO CAESAREA
Menurut Cunningham (2006), jenis section caesarea dapat dibedakan menurut : 1. Jenis insisi abdomen :
a. Insisi vertical
b. Adalah insisi garis tengah infra umbilicus, merupakan jenis insisi yang paling cepat dibuat. Insisi ini harus cukup panjang agar janin dapat lahir tanpa kesulitan, sehinggga harus sesuai dengan tafsiran berat janin.
c. Insisi Transversal/melintang
4
e. lateral otot rektus. insisi transversal memiliki keunggulan dalam hal kosmetik. 2. Menurut jenis insisi uterus :
a. Insisi caesarea klasik yaitu insisi vertikal kedalam korpus uterus diatas segmen bawah uterus dan mencapai fundus uteri
b. Insisi caesarea transversal yaitu insisi dengan menyayat bagian segmen bawah uterus yang harus dilakukan dengan hati-hati agar sayatan dapat memotong seluruh ketebalan dinding uterus tetapi tidak melukai janin dibawahnya.
D. MANIFESTASI KLINIK
Persalinan dengan sectio caesaria, memerlukan perawatan yang lebih
komprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post partum.
Menurut Prawirohardjo (2010), manifestasi klinis pada klien dengan post sectio caesarea,
antara lain :
a. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan 600-800 ml.
b. Terpasang kateter : urine jernih dan pucat.
c. Abdomen lunak dan tidak ada distensi.
d. Bising usus tidak ada.
e. Ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru.
f. Balutan abdomen tampak sedikit noda.
g. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan, berlebihan dan banyak.
E. ETIOLOGI / INDIKASI SC
Menurut Oxorn (2010), indikasi sectio caesarea lebih bersifat absolute dan relative. Setiap keadaan yang tidak memungkinkan kelahiran lewat jalan lahir merupakan indikasi absolute untuk sectio caesarea. Diantaranya adalah panggul sempit yang sangat berat dan neoplasma yang menyumbat jalan lahir. Pada indikasi, kelahiran pervaginam bisa
5
terlaksana tetapi dengan keadaan tertentu membuat kelahiran lewat sectio caesarea akan lebih aman bagi ibu, anak ataupun keduanya. Faktor-faktor yang menyebabkan perlunya tindakan sectio caesarea yaitu :
1. Faktor ibu
a. Disporporsi fetopelvic, mencakup panggul sempit, fetus terlalu besar, atau adanya ketidakseimbangan antara ukuran bayi dan ukuran pelvic.
b. Disfungsi uterus, mencakup kerja uterus yang tidak terkoordinasikan, inersia, ketidakmampuan dilatasi cervix, partus menjadi lama.
c. Neoplasma
Neoplasma yang menyumbat pelvis menyebabkan persalinan normal tidak mungkin dilakukan. Kanker invasif yang didiagnosa pada trimester ketiga dapat diatasi dengan sectio caesarea yang dilanjutkan dengan terapi radiasi, pembedahan radikal atau keduanya.
d. Riwayat sectio caesarea sebelumnya
Meliputi riwayat jenis insisi uterus sebelumnya, jumlah sectio caesarea sebelumnya dan indikasi sectio caesarea sebelumnya. Pada sebagian negara besar ada kebiasaan yang dilakukan akhir-akhir ini yaitu setelah prosedur sectio caesarea dilakukan maka persalinan mendatang juga harus diakhiri dengan tindakan sectio caesarea juga.
e. Plasenta previa sentralis dan lateralis f. Abruptio plasenta
g. Toxemia gravidarum antara lain pre eklamsia dan eklamsia, hipertensi essensial dan nephritis kronis.
h. Diabetes maternal
i. Infeksi virus herpes pada traktus genitalis. 2. Faktor janin
a. Gawat janin
Disebut gawat janin, bila ditunjukkan dengan adanya bradikardi berat atau takikardi. Namun gawat janin tidak menjadi indikasi utama dalam peningkatan angka sectio caesarea. Stimulasi oxytocin menghasilkan abnormalitas pada frekuensi denyut jantung janin. Keadaan gawat janin pada tahap persalinan
6
memungkinkan dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Terlebih apabila ditunjang kondisi ibu yang kurang mendukung. Sebagai contoh, bila ibu menderita hipertensi atau kejang pada rahim dapat mengakibatkan gangguan pada plasenta dan tali pusar yaitu aliran darah dan oksigen kepada janin menjadi terganggu. Kondisi ini dapat mengakibatkan janin mengalami gangguan seperti kerusakan otak. Bila tidak segera ditanggulangi, maka dapat menyebabkan kematian janin (Oxorn, 2010).
b. Ukuran Janin
Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Umumnya pertumbuhan janin yang berlebihan disebabkan sang ibu menderita kencing manis (diabetes mellitus). Bayi yang lahir dengan ukuran yang besar dapat mengalami kemungkinan komplikasi yang lebih berat daripada bayi normal karena sifatnya masih seperti bayi prematur yang tidak bisa bertahan dengan baik terhadap persalinan yang lama (Oxorn, 2010).
c. Cacat atau kematian janin sebelumnya
Ibu-ibu yang pernah melahirkan bayi yang cacat atau mati dilakukan sectio caesarea elektif.
d. Malposisi dan malpresentasi bayi e. Insufisiensi plasenta
f. Inkompatibilitas rhesus, jika janin mengalami cacat berat akibat antibody dari ibu Rh (-) yang menjadi peka dan bila induksi dan persalinan pervaginam tidak berhasil maka tindakan sectio caesarea dilakukan.
g. Post mortem caesarean yaitu dilakukan pada ibu yang baru saja meninggal bilamana bayi masih hidup.
F. PATOFISIOLOGI
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea
7
(SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah resiko infeksi.
8
9
H. KONTRAINDIKASI
Menurut Oxorn, (2010) sectio caesarea tidak boleh dilakukan bila terdapat keadaan sebagai berikut :
1. Bila janin sudah mati atau berada dalam keadaan yang jelek sehingga kemungkinan hidup kecil. Dalam keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi berbahaya yang tidak diperlukan.
2. Bila jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk sectio caesarea extraperitoneal tidak tersedia.
3. Bila dokter dan tenaga asisten tidak berpengalaman atau memadai.
I. KOMPLIKASI
Menurut Oxorn (2010) komplikasi dari sectio caesarea adalah : 1. Perdarahan disebabkan karena :
a. Atonia Uteri
b. Pelebaran insisi uterus
c. Kesulitan mengeluarkan plasenta
d. Hematoma ligament latum (broad ligament) 2. Infeksi Puerperal (nifas)
a. Traktus genitalia b. Insisi
c. Traktus urinaria
d. Paru-paru dan traktus respiratorius atas 3. Thrombophlebitis
4. Cidera, dengan atau tanpa fistula a. Traktus urinaria
b. Usus 5. Obstruksi usus
a. Mekanis b. Paralitik
10
J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah 4. Urinalisis / kultur urine
5. Pemeriksaan elektrolit
K. PENATALAKSANAAN POST SECTIO CAESAREA
Menurut Cunningham (2006) penatalaksanaan pasca operatif meliputi pemantauan ruang pemulihan dan pemantauan di ruang rawat. Di ruang pemulihan jumlah perdarahan pervagina harus dimonitor secara cermat, fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa kontraksi uterus tetap kuat. Palpasi abdomen kemungkinan besar akan menyebabkan nyeri yang hebat sehingga pasien dapat ditoleran dengan pemberian analgetik.
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
a) Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
b) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
11
mungkin setelah sadar
d) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
e) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler)
f) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan a) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotik sangat berbeda-beda setiap institusi b) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
1. Supositoria : ketopropen sup 2x/24 jam
2. Oral : tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
3. Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu c) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobion I vit. C
f. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti
g. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
h. Perawatan Payudara
12
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
III. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
a. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register , dan diagnosa keperawatan.
b. Keluhan utama c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu:
Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
2) Riwayat kesehatan sekarang:
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan.
3) Riwayat kesehatan keluarga:
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien.
B. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
13
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya.
3) Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.
4) Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
5) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain. 7) Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas 8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
9) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri
10) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
14
C. Pemeriksaan fisik 1) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
2) Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya proses menerang yang salah
3) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
4) Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah cairan yang keluar dari telinga.
5) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung
6) Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola mamae dan papila mamae
7) Abdomen
Tampak insisi post op SC, namun pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
8) Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat pengeluaran mekonium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.
9) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture 10) Ekstermitas
15
karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal. 11) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.
D. Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada ibu post SC yaitu : 1. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang
cara menyusui yang bernar.
2. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir.
3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar dengan sumber informasi tentang cara perawatan bayi.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin 5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi
16
E. RENCANA KEPERAWATAN
NO DIANGOSA KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
1. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang benar
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien menunjukkan respon breast feeding adekuat dengan indikator:
Klien mengungkapkan puas dengan kebutuhan untuk menyusuI
Klien mampu mendemonstrasikan perawatan payudara
Health Education:
Berikan informasi mengenai : Fisiologi menyusui Keuntungan menyusui Perawatan payudara Kebutuhan diit khusus
Faktor-faktor yang menghambat proses menyusui
Demonstrasikan breast care dan pantau kemampuan klien untuk melakukan secara teratur
Ajarkan cara mengeluarkan ASI dengan benar, cara menyimpan, cara transportasi sehingga bisa diterima oleh bayi
Berikan dukungan dan semangat pada ibu untuk melaksanakan pemberian Asi eksklusif
Berikan penjelasan tentang tanda dan gejala bendungan payudara, infeksi payudara
Anjurkan keluarga untuk memfasilitasi dan mendukung klien dalam pemberian ASI
Diskusikan tentang sumber-sumber yang dapat memberikan informasi/memberikan pelayanan KIA
17
2. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (luka insisi operasi)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nteri berkurang dengan indicator:
Pain Level, Pain control, Comfort level
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal
Pain Management
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
18
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
beratnya nyeri
Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
19
- 3. Kurang pengetahuan tentang
perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi b/d kurangnya sumber informasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pengetahuan klien meningkat dengan indicator:
Kowlwdge : disease process Kowledge : health Behavior
Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Teaching : Disease Process
Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
Hindari jaminan yang kosong
Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
20
Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat
4. Defisit perawatan diri b.d. Kelelahan.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam ADLs klien meningkat dengan indicator:
Self care : Activity of Daily Living (ADLs) Klien terbebas dari bau badan
Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs
Dapat melakukan ADLS dengan bantuan
Self Care assistane : ADLs
Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya. Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai
21
Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
5. Risiko infeksi b.d tindakan invasif, paparan lingkungan patogen
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan resiko infeksi terkontrol dengan indikator:
Immune Status
Knowledge : Infection control Risk control
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal Menunjukkan perilaku hidup sehat
Infection Control (Kontrol infeksi)
Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila perlu
Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
keperawtan
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (Proteksi Terhadap Infeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
22
Monitor hitung granulosit, WBC Monitor kerentanan terhadap infeksi Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap penyakit menular Partahankan teknik aspesis pada pasien yang
beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kulit pada area epidema Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase Ispeksi kondisi luka / insisi bedah Dorong masukkan nutrisi yang cukup Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi Laporkan kecurigaan infeksi Laporkan kultur positif
23
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, F.G., Gant, N.F., Leveno, K.J., Gillstrap III, L.C., Hauth, J.C., Wenstrom, K.D.,et. al. (2006). Obstetri William. Vol 1. Edisi 21. EGC. Jakarta
Oxorn. (2010). Ilmu Kebidanan : Patologi & Fisiologi Persalinan. Yayasan Essentia Medica. Yogyakarta
Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Professional. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Jilid 1. Yogyakarta: Med Action Publishing
Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Professional. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Jilid 2. Yogyakarta: Med Action Publishing
Partini. 2016. Pengaruh Pendampingan Terhadap Kemampuan Mobilisasi Dini Pada
Ibu Post Sectio Caesarea Di RSUD Kota Salatiga.
http://stikeskusumahusada.ac.id/digilib/files/disk1/30/01-gdl-partinist1-1453-1-partini-i.pdf diakses pada 31 Oktober 2017
Prawirohardjo, S. (2010). Ilmu Kebidanan, Jakarta: Bina Pustaka.
Riskesdas. (2013). http://www/depkes.gi.id/resources.dowload/general/Hasil%
20Riskesdas%202013 .pdf
Sumelung (2014), Faktor-Faktor Yang Berperan Meningkatnya Angka Kejadian Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Umum Daerah Liun Kandage, Ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 2, No.1. Februari 2014