• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Sementara PKL Industri LAFI AD 2014-1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Sementara PKL Industri LAFI AD 2014-1"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN

ANGKATAN DARAT

(LAFI AD)

LAPORAN SEMENTARA PKL INDUSTRI

DI SUSUN OLEH :

ANGKATAN 2014

Elvina Adriani Gerad Geraldi Hasnawati I Nyoman Edi Irnawati Jenianty Tasikola M. Vikram Merlin Megawati R. Surat Nela Kurniawati Nurul Ulzmi Nur Aminah Nur Ilma Puspita Sari Ronawati Sutriyana Suriyati Sy. Gina Widya Ayu Lestari

Yuyun Ariska Zulfaidah

(2)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI (STIFA)

PELITA MAS

PALU

2017

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan bertujuan agar tercapainya kemampuan hidup

sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang

optimal, baik secara jasmani, rohani dan sosial sebagai salah satu unsur

kesejahteraan umum. Industri farmasi memegang peranan penting bagi apoteker

untuk mengaplikasikan ilmu dan keahliannya selain rumah sakit pemerintah

maupun apotek.

Peranan penting dari industri farmasi dimana apoteker melakukan

pekerjaan kefarmasian terutama menyangkut pengadaan, pengolahan,

pengendalian mutu sediaan farmasi, menyimpan, pendistribusian, dan

pengembangan obat. Industri farmasi mempunyai sasaran utama diantaranya

(3)

dan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Dalam menghasilkan obat jadi yang

memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan

penggunaannya, setiap industri farmasi harus menerapkan CPOB (Cara

Pembuatan Obat yang Baik).

Aspek CPOB diantaranya personil yang memiliki pengetahuan dan

keterampilan yang cukup untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di

industri farmasi. Apoteker sebagai personil yang profesional harus memahami

penerapan CPOB disamping adanya pengetahuan dan keterampilan, baik yang

berhubungan dengan kefarmasian ataupun kepemimpinan serta upaya untuk

memberikan wawasan yang luas tentang industri farmasi bagi mahasiswa dan

mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi dan Pengetahuan Alam Palu bekerja

sama dengan Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi

Ditkesad) Bandung memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan mahasiswi

untuk mengenal lingkungan kerja dan memperluas pengetahuan tentang Industri

Farmasi melalui program Praktek Kerja Lapangan Industri farmasi STIFA Pelita

Mas Palu yang dilaksanakan 01 - 28 Februari 2017.

1.2 Tujuan PKL Industri Farmasi

1. Menjelaskan prinsip-prinsip produksi, pengendalian kualitas

(Quality Control) dan penjaminan kualitas (Quality assurance)

obat, dan distribusi obat.

2. Untuk membekali mahasiswa dengan wawasan pengetahuan dan

keterampilan mengenai seluruh aspek dalam industri farmasi

(4)

mutu, serta bidang penelitian dan pengembangan dengan pedoman

CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik dan Benar) sehingga

dapat menghasilkan calon-calon lulusan yang siap memasuki dunia

kerja.

3. Agar mahasiswa dapat mengevaluasi, membandingkan antara hasil

pengamatan di lapangan dengan teori yang telah diperoleh

dibangku kuliah, sehingga akan diharapkan menjadi bekal bagi

mahasiswa terjun dimasyarakat.

4. Agar mahasiswa dapat mengaplikasikan secara langsung bentuk

aplikasi dari ilmu yang telah diperoleh dibangku kuliah.

5. Seorang tenaga farmasi, dimana pun ia menjalankan

profesionalnya apakah diapotek atau dirumah sakit, apalagi di

industri farmasi, perlu dibekali pengalaman kerja diindustri farmasi

(obat, obat tradisional dan kosmetika) atau perbekalan farmasi

(obat, bahan obat dan alat kesehatan) atau perbekalan kesehatan

(5)

BAB II

GAMBARAN UMUM

LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT (LAFIAD)

2.1 SEJARAH LAFIAD

Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)

berasal dari MSL (Militaire Scheikunding Laboratorium). Lembaga ini berfungsi

sebagai tempat pemeriksaan obat-obatan bagi kebutuhan tentara Belanda.

Panitia pengalihan dibentuk pada tanggal 23 Januari 1950, sehingga pada

tanggal 1 Juni 1950 dilakukan serah terima dari MSL kepada TNI AD yang

menjadi dasar dalam penetapan hari jadi Lafi Ditkesad melalui SK

No.Skep/23/1/1997tanggal 31 Januari 1997. Setelah serah terima pada tanggal 1

(6)

1. Laboratorium Kimia Tentara (LKT) yang kemudian berkembang

menjadi Laboratorium Kimia Angkatan Darat (LKAD).

2. Depot Obat Tentara Pusat (DOTP) yang berkembang menjadi Depot

Obat Angkatan Darat (DOAD).

Berdasarkan SK Ditkesad No. Kpts/61/10/IX/1960 tanggal 13 September

1960 terhitung mulai tanggal 8 Juni 1960 LKAD dan DOAD disatukan menjadi

Lembaga Farmasi Angkatan Darat (LAFIAD). Pada tanggal 15 Oktober 1970

LAFIAD dipisah kembali menjadi :

1. LAFIAD yang akhirnya menjadi Lebaga Farmasi Jawatan Kesehatan

Angkatan Darat (Lafi Jankesad).

2. Depot Obat Angkatan Darat (DOAD) berkembang menjadi Depot Alat

Peralatan Kesehatan (Dopalkes) dan berakhir menjadi Depot Pusat

Perbekalan Ksehatan (Dopusbekkes)mJankesad.

Selanjutnya tahun 1985 antara Lafi Jankesad dan Dopusbekkes Jankesad

disatukan kembali menjadi Lafi Ditkesad hingga 31 Maret 2005 dan mulai 1 April

2005 dipisah lagi menjadi Lafi Ditkesad dan Gudang Pusat II Ditkesad.

Lokasi pembangunan gedung baru dimulai pada tahun 1998, berlokasi di

dua tempat (18,714m²) yang beralamat di Jl. Gudang utara 25 Bandung (Gedung

lama) dengan luas 6.562 m² dan di Jl. Gudang utara 26 Bandung (Gedung baru

bersertifikat CPOB) dengan luas 12.152 m².

2.2 VISI DAN MISI LAFIAD 2.2.1 VISI

Menjadi salah satu lembaga produksi yang mampu memenuhi kebutuhan

obat bermutu bagi TNI.

(7)

A. Memberikan jasa informasi yang terbaik terhadap penggunaan obat

(Rational Use of Drugs).

B. Membantu fungsi pelayanan kesehatan atas ketersediaan obat atau

produk kesehatan lainnya bagi prajurit, PNS TNI AD dan keluarganya.

C. Terlibat secara aktif dalam fungsi dukungan kesehatan pada

penggunaan kekuatan untuk prajurit tugas operasional.

D. Memanfaatkan kapasitas atau kemampuan produksi untuk

kepentingan strategi.

2.3 TUJUAN LAFI DITKESAD

A. Terwujudnya kesehatan yang optimal bagi prajurit, PNS AD sehingga

selalu siap tugas serta keluarganya sehat terayomi.

B. Terwujudnya satuan kesehatan lapangan yang tangguh dalam

dukungan kesehatan.

C. Terwujudnya instalasi kesehatan yang prima dalam pelayanan

kesehatan.

D. Meningkatnya kemampuan lembaga produksi dalam mendukung

bekal kesehatan.

E. Meningkatnya kemampuan penelitian dan pengembangan dalam

(8)

F. Meningkatnya pelaksanaan fungsi organisasi di satuan kesehatan.

2.4 KEDUDUKAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI LAFI DITKESAD

Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat ( Lafi Ditkesad)

adalah badan pelaksana di tingkat Ditkesad yang berkedudukan langsung di

bawah Direktur Kesehatan Angkatan Darat (Ditkesad), yang mempunyai Tugas

pokok membantu Ditkesad dalam menyelenggarakan pembinaan dan

melaksanakan fungsi produksi, penelitian dan pengembangan obat. Dalam

melaksanakan tugas pokok tersebut Lafi Ditkesad menyelenggarakan

fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Melaksanakan fungsi utama

a. Fungsi produksi; meliputi segala usaha, pekerjaan dan kegiatan di

bidang produksi obat.

b. Fungsi pengawasan mutu; meliputi segala usaha, pekerjaan dan

kegiatan pemeriksaan fisik, kimiawi, mikrobiologi, terhadap bahan

baku, bahan pembantu, sarana pendukung, produk antara, produk

ruahan dan produk jadi yang dilaksanakan sebelum, selama dan

sesudah proses produksi.

c. Fungsi penelitian dan pengembangan; meliputi segala usaha,

pekerjaan, kegiatan di bidang penelitian dan pengembangan

metode produksi, pengawasan ,utu, formulasi, uji produk, alat

(9)

d. Fungsi pemeliharaan; meliputi segala usaha, pekerjaan, kegiatan di

bidang pemeliharaan, perawatanm, perbaikan, pengembangan

peralatan produksi, pengawasan mutu dan utilitas.

e. Fungsi penyimpanan; meliputi segala usaha, pekerjaan, dan

kegiatan di bidang penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran

bahan baku, bahan penolong, peralatan untuk proses produksi dan

produk jadi serta menyalurkan produk jadi ke Gudang Pusat II

Ditkesad.

2.5 STRUKTUR ORGANISASI LAFI DITKESAD

Keputusan kepala staf TNI AD No kep /11/2004 tanggal 30 januari 2004

tentang organisasi dan tugas lafi Ditkesad telah mengalami perkembangan

mengenai struktur organisasi yang bertujuan untuk lebih mengoptimalkan kinerja

personil dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Struktur

tersebut telah diterapkan sejak bulan April 2005, dengan susunan organisasi

sebagai berikut :

1. Kepala Lembaga Farmasi, disingkat Kalafi. Kalafi dijabat oleh

seorang pamen TNI Angkatan Darat berpangkat Kolonel CKM (Drs.

Budiman Gunawan Apt., MARS), Dalam melaksanakan tugas

kewajibannya bertanggung jawab kepada Dirkesad.

2. Wakil Kepala Lembaga Farmasi, disingkat Wakalafi dijabat oleh

seorang Pamen TNI Angkatan Darat (Drs. Wawan Kusdiawan, Apt)

berpangkat Letnan Kolonel CKM, dalam melaksanakan tugas

(10)

Perwira Ahli Lembaga Farmasi, disingkat Pa Ahli Lafi dijabat oleh Pamen

TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Kolonel CKM, dalam melaksanakantugas

kewajibannya bertanggung jawab kepada Kalafi.PaAHLI terdiri dari :

a. Perwira Ahli Madya Manajemen Industri ( Drs, Joeda Purwanto,

Apt ), disingkat Pa Ahli Madya Jemen In.

b. Perwira Ahli Madya Teknologi Farmasi (Meiske Sigarlaki,

S.H),disingkat Pa Ahli Madya Tekfi.

Perwira Ahl Madya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ( aya

Sophya,S,Sos), disungkat Pa Ahli Madya Bagian administrasi Logistik, disingkat

Bagminlog. Kabagminlog dijabat oleh Pamen TNI Angkatan Darat berpangkat

Letnan Kolonel CKM, dalam pelaksanaan tugas kewajibannya bertanggung jawab

kepada Kalafi. Kabagminlog dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh dua

kepala seksi yang masing-masing dijabat oleh Pamen TNI Angkatan Darat

berangkat Mayor CKM. Terdiri dari:

a. Kepala Seksi Perencanaan Anggaran dan Pengadaan, disingkat

Kasirengar Ada.

b. Kepala Seksi Pengendalian Materil, disingkat Kasidalmat. c. Amdal.

2.6 SERTIFIKASI CPOB LAFI DITKESAD

Lembaga Farmasi Angkatan Darat merupakan salah satu badan peaksana di

tingkat Ditkesad yang bertugas melaksanakan fungsi penelitian, pengembangan

(11)

pemerintah melalui keputusan MenKes RI No. 43/MenKes/SK/II/1988 tentang

Cara Pembuatan Obat Yang Baik yang mengharuskan seluruh industri farmasi

melaksanakan seluruh kegiatan sesuai dengan tuntutan CPOB.

Dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas maka dimulailah

pembangunan gedung baru di Jl. Gudang Utara No. 26 Bandung dengan

rancangan bangun sesuai CPOB dan perkembangan teknologi dibidang industri

farmasi pembangunan gedung baru ini dilaksanakan setelah Rncana Induk

Pembangunan (RIP) dalam rangka sertifikasi CPOB Lafi Ditkesat mendapatkan

persetujuan dari Dirjem POM Depkes RI dengan surat keputusan No.

02.01.2.4.96.665 tanggal 28 Februari 1996.

Pembangunan dan pekerjaan yang sudah dilaksanakan Lafi Ditkesad pada

saat ini adalah :

1. Bangunan

a. Bangunan Instalasi Produksi Betalaktam. b. Bangunan Instalasi Produksi Non Betalaktam. c. Bangunan Instalasi Pengawasan Mutu.

d. Fasilitas sumber air PDAM dan air baku farmasi untuk seluruh

kebutuhan Instalasi Produksi (betalaktam dan non betalaktam),

Instalasi Pengawasan Mutu dan perkantoran.

e. Fasilitas gardu listrik mencakup seluruh kebutuhan Instalasi

Produksi, Instalasi Pengawasan Mutu dan perkantoran.

f. Fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mampu

mengolah limbah cair pabrik.

g. Unit ketel uap yang mencakup kebutuhan seluruh pabrik.

h. Kompresor udara bertekanan yang mampu mendukung seluruh

(12)

i. Air Handling System (AHS) untuk unit produksi betalaktam,

ruang laboratorium mikrobiologi dan Instalasi Pengawasan

Mutu dan unit produksi Non Betalaktam sudah terpasang dan

memenuhi syarat CPOB. 2. Peralatan

Peralatan untuk betalaktam, non betalaktam dan Instalasi Pengawasan

Mutu sudah terpasang dan memenuhi syarat CPOB. 3. Dokumen Prosedur Tetap (Protap)

Dokumen protap yang sudah dibuat dan dilaksanakan terdiri dari

betalaktam. 4. Pelatihan CPOB

Pelatihan CPOB umum, kalibrasi atau validasi telah dilaksanakan

berkala minimal 1 tahun. 5. Sertifikat CPOB

Sertifikat CPOB yang diterima oleh Lafi Ditkesad sampai bulan

Februari 2007 ditujukan untuk sediaan betalaktam dan non

betalaktam, dan sebagian non betalaktam.

a. Sertifikat CPOB untuk sediaan betalaktam : 1. Tablet antibiotik Penisilin dan turunannya 2. Tablet salut antibiotik Penisilin dan turunannya 3. Kapsul keras antibiotik Penisilin dan turunannya 4. Suspensi kering oral antibiotik penisilin dan turunannya 5. Serbuk steril injeksi antibiotik Penisilin dan turunannya b. Sertifikat CPOB untuk sediaan non betalaktam :

1. Tablet biasa non antibiotik 2. Tablet salut non antibiotik 3. Kapsil keras non antibiotik 4. Serbuk oral non antibiotik 5. Cairan obat luar non antibiotik

Sertifikat ini merupakan pengakuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan

yang berlaku selama industri menjalankan prinsip CPOB yang telah ditetapkan.

(13)

Produksi dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan

dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk

yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan

izin edar (registrasi). Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang

telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan. Bahan awal di area

penyimpanan hendaklah di beri label yang tepat. Label hendaklah memuat

keterangan paling sedikit sebagai berikut :

1. Nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan

2. Nomor batch atau kontrol ynag diberikan pada saat penerimaan bahan 3. Status bahan misalnya karantina, sedang di uji, di luluskan, di tolak 4. Tanggal kadaluarsa atau tanggal uji ulang bila perlu

5. Jika digunakan sisstem penyimpanan dengan komputerisasi yang

divalidasi lengkap, maka semua keterangan diatas tidak perlu dalam

bentuk tulis yang terbaca pada label.

Pembuatan obat hendaklah melewati proses validasi karena memperkuat

pelksanaan CPOB dan dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Sebelum suatu prosedur pengolahan induk diterapkan hendaklah diambil langkah

untuk membuktikan prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi rutin.

Berikut adalah proses pembuatan sediaan obat :

1. Pengolahan

Semua bahan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa

sebelum dipakai. Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis

sebelum digunakan semua wadah dan peralatan yang berisi produk

(14)

pengolahan semua pengawasan selama proses yang dipersyaratkan

hendaklah dicatat dengan akurat pada saat pelaksanaannya dalam

semua tahap pengolahan perhatian utama hendaklah diberikan kepada

masalah pencemaran silang untuk sistem komputerisasi yang kristis

hendaklah disiapkan sistem pengganti manakala terjadi kegagalan. 2. Pencampura dan granulasi

Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi

dengan sistem pengendali debu, kecuali digunakan sistem tertutup,

parameter operasional yang kritis misalnya waktu, kecepatan dan suhu

untuk tiap proses pencampuran, pengadukan dan pengeringan,

hendaklah tercantum dalam dokumen produksi induk dan dipantau

selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan batch. Kantong

filter yang dipasang pada mesin pengering fluit bat tidak boleh dipakai

untuk produk yaang berbeda tanpa pencucian terlebih dahulu untuk

produk yang beresiko tinggi atau yang dapat menimbulkan sensitisasi

hendaklah digunakan kantong filter khusus sebagai masing-masing

produk. Udra yang masuk kedalam pengering ini hendaklah disaring.

Hendaklah dilakukan pengamanan untuk mencegah pencemaran

silang untuk debu yang keluar dari alat pengering tersebut.

Pembuatan dan pengguanaan larutan atau suspensi hendaklah dilaksanakan

sedemikian rupa sehingga resiko pencemaran atau pertumbuhan mikroba dapat

diperkecil.

1. Mesin pencetak sediaan obat a. Pencetak tablet

(15)

Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas

pengendali debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian rupa

untuk mrenghindari campuran baur antara produk. Tiap mesin

hendaklah ditempatkan dalam ruang terpisah. Kecuali mesin

tersebut digunakan untuk produk yang samaa atau dilengkapi

sistem pengendali udara yang tertutup maka dapat ditempatkan

dalam ruang tanpa pemisah untuk mencegah bur perlu dilakukan

penggendalian yang memadai baik secara fisik, prosedur

maupun penandaan.hendaklah harus selalu tersedia alat timbang

yang aakurat dan telah dikalibrasi untuk pemantauaan bobot

tablet selama proses. Tablet yang diambil dari ruangan pencetak

tablet untuk keperluan pengujian atau keperluan lain tidak boleh

dikembalikan lagi kedalam batch yang bersangkutan. Tablet

yang ditolak atau yang disingkirkan hendaklah ditempatkan

dalam wadah yang ditandai dengan jelas mengenai status dan

jumlahnya dicatat pada catatan pengolahan batch. Tiap kali

sebelum dipakai punch dan die hendaklah diperiksa kehausan

dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan pemakaian

hendaknya disimpan. b. Pengisian kapsul keras

Cangkang kapsul hendaklah diperlukan sebagai bahan awal.

Cangkang kapsul hendaklah disimpan dalam kondisi yang dapat

mencegah kekeringan dan kerapuhan atau efek lain yang

(16)

khusus untuk menghindari campuran baur selama proses

penandaan kapsul. Bila mana dilakukan penandaan pada produk

atau bets yang berbeda dalaam saat yang bersamaan hendaklah

dilakukan pemisahan yang memadai. c. Cairan, krim dan salep (non-steril)

Produk cairan, krim dan salep hendaklah diproduksi sedemikian

rupa, agar terlindung dari pencemaran mikroba dan pencemaran

lainnya. Penggunaan sistem tertutup untuk produksi dan transfer

sangat dianjurkan. Area produksi dimana produk atau wadah

bersih tanpa tutup terpapar kelingkingan hendaklah diberi

fentilasi yang lebih efektif dngan udara yang disaring. Tangki,

wadah, pipa, dan pompa yang digunakan hendaklah didesign

dan dipasang sedemikian rupa, sehingga memudahkan

pembersihan dan bila perlu disanitasi, penggunaan peralatan

dari kaca dapat mungkin dihindari. Baja tahan karat bermutu

tinggi merupakan bahan pilihan untuk bagian peralatan yang

bersentukan dengan produk. Kualitas kimia dan mikrobiologi air

yang digunakan hendaklah diberikan pada transfer bahan

melalui pipa untuk memastikan bahan tersebut ditransfer

ketujuan yang benar ketelitian sistem pengukutr hendaklah

diverifikasi, tongkat pengukur hanya boleh digunakan untuk

bejana tertentu dan telah dikalibrasi untuk bejana yang

bersangkutan. Perhatian hendaklah diberikan untuk

(17)

lain selama pengisian. Perhatian khusus diberikan pada awal

pengisian, sesudah penghentian pada akhir proses pengisian

untuk memastikan produk selalu dalam keadaan homogen. d. Bahan pengemas

pengadaan, penanganan dan pengawasan bahan, pengemas

primer dan bahan pengemas cetak serta bahan cetak lain

hendaklah diberi perhatian yang sama seperti tahap bahan awal.

Bahan cetak tersebut hendaklah disimpan dengan kondisi

keamanan yang memadai dan orang yang tidak berkepentingan

dilarang masuk, tiap penerimaan bets bahan pengemas primer

hendaklah diberi nomor yang spesifik. Bahan pengemas primer,

bahan pengemas cetak, atau bahan cetak lain yang tidak berlaku

lagi atau hendaklah dimusnahkan dan pemusnahannya dicatat

untuk menghindari campur baur, hanya satu jenis bahan

pengemas cetak atau bahan cetak tertentu saja yang

diperolehkan diletakkan ditempat modivikasi pada saat yang

sama. Hendaklah ada sekat pemisah yang memadai antara

tempat kodivikasi tersebut.

e. Kegiatan pengemasan

kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk

rumahan menjadi produk jadi, hendaklah ada prosedur tertulis

yang menguraikan penerimaan dan identifikasi produk ruahan

dan bahan pengemas, pengawasan untuk menjamin bahwa

(18)

benar. Sebelum kegiatan pengemasan dimulai, hendaklah

dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa area kerja dan

peralatan telah bersih serta bebas dari produk lain, sisa produk

lain atau dokumen lain yang tidak diperlukan untuk kegiatan

pengemasan yang bersangkutan.

Alur proses produksi tablet diLAFI-Ditkesad dengan menggunakan metode

granulasi basa dimulai dengan urutan sebagai berikut:

1. Instalasi penyimpanan

2. Proses penimbangan bahan baku 3. Proses pencampuran bahan 4. Proses granulasi basa 5. Proses pengeringan 6. Proses pengayakan 7. Proses pencampuran 8. Proses pencetakan tablet 9. Proses penyalutan 10. Stripping

11. Sie kemas

12. Quality control (pengawasan mutu)

Ruang produksi terdiri dari ruang pencampuran dan polishing, serta ruang

stiping. Peralatan yang digunakan untuk pembuatan kapsul diantaranya adalah

mesin pencampur, mesin pengisi kapsul, mesin polishing dan mesin strip.

Alur proses produksi kapsul terdiri dari tahapan sebagai berikut :

1. Instalasi penyimpanan 2. Penimbang bahan baku 3. Pencampuran / granulasi 4. Pengisian kapsul

5. Polishing 6. Stripping 7. Sei kemas

8. Quality control (pengawasan mutu) A. Sirup Kering

(19)

Alur proses produksi sirup kering hampir sama dengan alur proses produksi

tablet, yang membedakan hanya pada proses pencetakan, stripping dan

pengemasan.

1. Sediaan cair

Sediaan cair memproduksi obat-obatan yang terdiri dari sediaan sirup,

dan sediaan cair obat luar. B. Sediaan salep

Ruang produksi salep terdiri dari ruang pencampuran dan ruang pengisian.

Peralatan yang digunakan antara lain mesin peleleh basis (Double Jacket), mesin

pencampur salep dan mesin pengisi-penutup salep otomatis.

Alur proses produksi salep terdiri dari tahapan sebagai berikut : 1. Penyimpana bahan baku

2. Penimbangan bahan baku 3. Pelelehan basis

4. Pencampuran

5. Pengisian dan penutupan 6. Sei kemas

7. Pengawasan mutu C. Sediaan Sirup

Ruang produksi sirup merupakan ruang kelas III yang terdiri dari ruang

pencampuran, ruang pengisian, ruang pencucian alat, peralatan yang digunakan

antara lain Mixer, koloidmil, tangki pemanas(Double jacket),filter, drum styles,

mesin pengisian sirup, penutup botol dan pemasangan etiket yang merupakan satu

rangkaian (In line Process).

Alur proses produksi sirup terdiri dari tahapan sebagai berikut :

1. Penyimpanan bahan baku 2. Penimbangan bahan baku 3. Pencampuran 4. Pengisian penutupan 5. Labeling 6. Sie kemas 7. Pengawasan mutuh D. Sediaan khusus

(20)

Sediaan khusus terdiri dari produksi Betalaktam dan sefalosforin. Produksi

Betalaktam di LAFI-DITKESAD telahmendapatkan sertifikat CPOB pada tanggal

1 Juni 2000.Proses produksi Betalaktam dilakukan pada gudang yang terpisah

dengan produksi Non-Betalaktam untuk menghindari terjadinya pencemaran

silang. Gedung produksi Betalaktam telah dilengkapi dengan sistem pengaturan

udara (Air Handling System, Air Washer, Air Shower dan ruangan penyangga

(Air Lock). Lantai, dinding, dan langit-langit dilapisi oleh bahan epoksi untuk

memudahkan pembersihan.

Ruang kelas A terdiri dari Laminer Air Flow ( LAF) dimana dilakukan

pengisian kedalam FIAL. Ruang kelas B meliputi locker, koridor kelas B, air

shower,dan ruang staging steril.Ruang kelas C meliputi ruang timbang, ruang

staging, ruang campur, ruang cetak tabel, ruang karantina, ruang salut filem, ruang

penyetripan, ruang isi kapsul, ruang isi sirup kering, ruang cuci vial, ruang botol

bersih, ruang simpan alat, ruang IPC, ruang janitor, loker kelas C Wanita dan Pria.

Ruang kelas D meliputi ruang coading, ruang kemas, ruang karantina obat jadi,

ruang gudang sejuk, ruang gudang botol/vial, ruang cuci botol, ruang simpan alat,

ruang laundry dan loker kelas D wanita dan pria.

2.8 PERENCANAAN DAN PENGADAAN BARANG

Perencanaan dan pengadaan barang untuk produksi obat LAFI-Dditkesad di

lakukan berdasarkan data maka dari Sub-Direktorat pembinaan pelayanan

kesehatan (SUBDINYANKES) yang disusun berdasarkan masukan pola penyakit

dari daera dan laporan dari masing-masing kesehatan daerah militer (KESDAM),

(21)

(RSPAD).Rencana pengadaan obatkemudian dibuat dengan melakukan

penyesuaian antara daftar kebutuhan obat dengan anggaran yang tersedian dan

selanjutnya dianalisa dan dievaluasi oleh (SUBDITBINYANKES) yang dilakukan

sebelum pelaksanaan .Surat keputusan Kasad No.SKEP/336/X/2005 Tanggal 17 Oktober 2005 tentang pengadaan barang/material dan jasa di lingkungan

angkatan darat mengatur tata cara pengadaan obat yang di lakukan dengan cara

pembelian obat jadi dan produksi di Lafi Ditkesad. Bagminlog membuat rencana

kebutuhan produksi obat Lafi Ditkesad yang terdiri dari rencana kebutuhan bahan

aktif, bahan pembantu dan bahan pengemas (embalage). Perencanaa tersebut

disusun berdasarkan formula dan spesifikasi obat yang telah ditentukan oleh Lafi

Ditkesd, disamping itu Barang bagminlog juga menyusun rencana dan anggaran

untuk pemeliharaan sarana operasional yang digunakan ditiap bidang

LAFI-Ditkesa. Pengadaan barang dilakukan melalui ditkesad yang dikirimkan ke

Gudang pusat II disertai dengan surat perintah penerimaan material (PPnM).

Selanjutnya tim komisi penerimaan barang secara administrasi, fisika dan kimia,

dan pemeriksaan mutu dilakukan oleh instalasi wastu. Setelah batrang lulus uji

mutu akan dibuatkan laporan hasil pengujian (LHP) dan berita acara (BA)

penerimaan material, lalu barang di simpan diGudang pusat II dan barang yang

memenuhi spesifikasi yang di tetapkan akan ditolak dan dikembalikan kepada

(22)

2.9 PENYIMPANGAN BARANG

Penyimpanan barang dilaksanakan oleh instalasi simpan. Barang-barang

yang berkaitan dengan semua proses kerja yang berlangsung diLAFI-Ditkesad,

baik produksi, pengawasan mutu, pengemasan, administrasi maupun proses

pendukung lainnya merupakan tanggung jawab Instalasi simpan. Barang-barang

diGudang tersebut disimpan berdasarkan jenis, sifat atau keadaan bahan dan

pengeluaranya sesuai dengan sistem Firsh In-firs out atau FIFO, First Expired

First Out (FEFO) dan First Unstabel First Out (FUFO).

2.10 PENGEMASAN

Pengemasan dilakukan pada produksi ruahan tablet, kapsul, sirup, dan salep,

pengemasan tablet dilakukan setelah proses stripping. Tablet yang sudah distripp,

dipilih yang baik kemudian dimasukkan kedalam sak plastic lalu dislep.

BERIKUT INI MERUPAKAN OBAT-OBATAN YANG DIPRODUKSI

Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat

(LAFIAD)

A. SEDIAAN TABLET 1. Buscofiad

Komposisi: Hyoscine-N-butylbromide 10 mg 2. Clofenad

Komposisi: Natrium Diklofenak 25 mg, 50 mg 3. Dexad / Dexamethasone Komposisi: Dexamethason 0,5 mg 0,75 mg 4. Dextro 5 Komposisi: Dextromethorhan HBr 15 mg 5. Fimol Komposisi: Parasetamol 500 mg 6. Ifenad 7. Imodiad Komposisi: Loperamid Hcl 2 mg 8. Lafihistin Komposisi : Interhistin50 mg

(23)

9. Lafitens 10. Metron

Komposisi : Metronidazole 250 mg, 500 mg 11. Neo lafimag

12. Neo diare

Komposisi : Kaolin 550 mg, pectin 20 mg 13. Neo stop flu

14. Neurolagad

Komposisi :Methampyrone 500 mg, Thiamine HCl 50 mg, Pyridoxine

HCl 10 mg, Cyanocobalami10 mg, Trimethyxanthine 50 mg. 15. Neurobiad

Komposisi : Vitamin B1 (Thiamine Mononitrate) 100 mg. Vitamin 6

(Pyridoxol Hydrocholride) 100 mg,Vitamin 12 5000 mg. 16. Solvonad 17. Sultrim B. SEDIAAN KAPLET 1. Amox 500 mg Komposisi : Amoxicillin 500 mg 2. Ampi 500 mg Komposisi : Ampicillin 500 mg 3. Floxad 500 mg Komposisi : Ciprofloxacin 500 mg 4. Ponstan

Komposisi : Asam mefenamat 500 mg 5. Yudhavit

C. SEDIAAN KAPSUL

1. Sangobiad

Komposisi : Besi glukomat 250 mg, Mangan sulfat 0,2 mg, Tembaga

sulfat 0,2 mg, Vitamin C 50 mg, Asam folat 1 mg, Vitamin B12

dengan faktor intrisik 7,5 mg, sorbitol 25 mg/kap. 2. Thiamfi 250 mg

Komposisi : Thiamfenicol 250 mg

(24)

1. Lafodine sol 10% 60 ml 2. Lafodine sol 10% 1000 ml

E. SEDIAAN SIRUP

1. Amox 125 mg/ 5 ml

Komposisi : Amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilin anhidrat

125 mg

2. Ampi 125 mg/ 5 ml

Komposisi : Ampicillin trihydrate 3. Lafodil DMP

Komposisi : Dextromethorphan HBr 10 mg, diphenhydramin HCl

12,5 mg, ammon Cl 100 mg, Na citrate 50 mg, menthol 1 mg. 4. Sultrim

2.11 QUALITY CONTROL (PENGENDALIAN MUTU)

Ada beberapa komponen penunjang dalam proses pengendalian mutu

diantaranya adalah :

1. Pengawasan Mutu

Pengawasan mutu adalah kegiatan untuk memastikan apakah

kebijakan dalam hal mutu (standar) dapat tercermi dalam hasil akhir

dengan kata lain pengawasan mutu merupakan usaha untuk

mempertahankan atau kwalitas dari arang yangdihasilkan, agar sesuai

dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan

kebijaksanaan perusahaan. Dengan demikian dalam hal pengawasan

mutu semua produk harus diawasi dengan standar dengan

(25)

digunakan untuk tidakan-tindakan perbaikan pada masa yang akan

datang.

Setiap Industri Farmasi hendaklah mempunyai fungsi pengawasan

mutu, pengawasan mutu adalah agian dari CPOB yang berhubungan

dengan pengambilan sampel, spesifikasi dengan pengujian, serta

dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur, pelulusannya

memastikan bahwa pengujian yang diperlukan da relefan telah

dilakukan dan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan

serta produk yang belum diluluskan tidak dijual atau dipasok sebelum

mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat. Pengkajian mutu

produk secara berkala hendaklah dilakukan terhadap semua obat

terdaftar, termasuk produk ekspor dengan tujuan untuk membuktikan

konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan

pengemas dan obat jadi untuk melihat trend dan mengidentifikasi

perbaikan yang diperlukan untuk produk dan proses. 2. Personalia

Jumlah personil pada tiap tingkatan harus memadai dan memiliki

pengetahuan, keterampilan serta kemampuan sesuai dengan tugasnya.

Personil juga harus memilki kesehatan mental dan fisik, sehingga

mampu menyelesaikan tugasnya secara profesional, memiliki sifat dan

kesadaran yang tinggi untuk mewujudkan CPOB. Aspek personalia

meliputi organisasi, kualifikasi, tanggung jawab dan pelatihan.

3. Bangunan Dan Fasilitas

Bangunan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki ukuran dan

(26)

memudahkan dalam pelaksanaan kerja, pembersihan dan

pemeliharaan yang baik. Tiap sarana kerja hendaklah memadai

sehingga setiap resiko terjadinya kekeliruan, pencemaran silang dan

berbagai kesalahan lain yang dapat menurunkan mutu obat dapat

dihindarkan. 4. Peralatan

Peralatan yang dipergunakan dalam pembuatan obat hendaklah

memiliki rancang bangun dan kontruksi yang tepat, ukuran yang

memadai serta ditempatkan dengan tepat, sehingga mutu yang

dirancang bagi tiap produk obat terjamin secara seragam dari bets ke

batch serta untuk memudahkan pembersihan dan perawatannya. 5. Sanitasi dan Higiene

Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada

setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan hygiene

meliputi personalia, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan

produksi serta wadahnya dan setiap hal yang dapat menjadi sumber

pencemaran produk.

2.12. QUALITY ASSURANCE

Adalah suatu system pengendalian kualitas yang harus dipenuhi didalam

pembuatan produk dari mulai proses awal hingga akhir sehingga didapatkan out

put produk dengan kualitas yang terjamin. Tujuan dari quality assurance yaitu

untuk memberikan kepuasan dan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk

(27)

LAFIAD ( Lembaga Direktorat Kesehatan Angkatan Darat ) dalam

pembuatan produk, menggunakan CPOB ( Cara Pembuatan Obat Yang Baik )

sebagai pedoman atau penunjang, sehingga produk yang dihasilkan memiliki

kualitas yang terjamin serta handal. Adapun persyaratan dari CPOB ( Cara

Pembuatan Obat Yang Baik ) anatara lain :

A. Semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji secara

systematis berdasarkan pengalaman dan terbukti mampu secara konsisten

menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu dan spesifikasi yang

telah di tetapkan.

B. Tahap proses yang krisis dalam pembuatan, pengawasan proses dan sarana

penunjang serta perubahannya yang signifikan divalidasi. C. Tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB.

D. Prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan bahasa yang

jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan secara spesifik pada sarana

yang tersedia.

E. Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar. F. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan cara pencatat, selama

pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah, yang dipersyaratkan

dalam prosedur dan instruksi yang ditetapkan benar-benar dilaksanakan dan

jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. G. Catatan pembuatan termasuk distribusi yang memungkinkan penelusuran

riwayat Batch secara lengkap, disimpan secara komprehensiv, dan dalam

bentuk yang mudah diakses.

H. Penyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil resiko terhadap

mutu obat.

(28)

J. Keluhan terhadap produk yang beredar di kaji, penyebab cacat mutusi di

investigasi serta di lakukan tindakan perbaikan yang tepat dan pencegahan

pengulangan kembali keluhan.

2.13 SARANA PENUNJANG

Sarana penunjang merupakan salah satu media atau objek yang sifatnya

mendukung dalam suatu tempat atau unit kerja.

2.13.1 PEDOMAN CPOB

Cara Pemberian Obat yang Baik ( CPOB ) adalah baikan dari pemastian

mitu yang memastikan bahwa obat di buat dan di kendalikan secara konsisten

untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan dan persyaratan dalam

izin edar dan spesifikasi produk. persyaratan dasar dari CPOB antara lain :

A. semua proses pembuatab obat di jabarkan dengan jelas, di kaji secara

sistemis berdasarkan pengalaman dan terbukti mampu secara

konsisten menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu dan

spesifikasi yang telah di tetapakan

B. Tahap proses yang kritis dalam pembutan, pengawasan proses dan

sarana penunjang serta perubahan yang signifikan.

C. Tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB termasuk :

Personil yang terkualifikasi dan terlatih

1. Bangunan dan sarana dengan luas yang memadai 2. Peralatan dan sarana penunjang yang sesuai 3. Bahan, wadah dan label yang benar

4. Prosedur dan intruksi yang di setujui dan

5. tempat penyimpanan dan transportasi yang memadai

D. Prosedur dan intruksi di tulis dalam bentuk intruksi dengan bahasa yang

jelas, tidak berwarna ganda, dapat di terapkan secara spesifik pada sarana

(29)

E. Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar F. Pencatatan di lakukan secara manual atau dengan cara pencatat, selama

pembuatan yang menunjukan bahwa semua langkah, yang di persyaratkan

dalam prosedur intruksi yang di tetapkan benar-benar di laksanakan dan

jumlah serta mutu produk yang di hasilkan sesuai dengan yang di harapkan G. Catatan pembutan termasuk distribusi yang memungkinkan penulusuran

riwayat Batch secara lengkap. di simpan secara komprehensif, dalam bentuk

yang mudah diakses

H. Pemyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil resiko terhadap

mutu obat

I. Tersedia sistem penarikan kembali Batch obat manapun dari peredaran J. Keluhan terhadap produk yang beredar di kaji, penyebab cacat muu di

investigasi serta di lakukan tindakan perbaikan yang tepat dan pencegahan

penggulangan kembali keluhan

2.14 PENANGANAN LIMBAH

Penanganan limbah industri meliputi : air washer, Dust collextor. IPAL

instalasi pengolahan limbah). Boiler. Water System

1. Air washer

Suatu mesin otomatis untuk pemberian cairaban dengan sistem: 1

Pengapungan 2. Flokulasi dimana debu di kalutkan 3. spraying

dimana terjadi pengkabutan air. Kolom 1 dan 2 di buang dan kolom 3

hanya berisi air sisa 2. Dust Collektor

Suatu nesub oenumbang debu yang berukuran besar atau bersudar

padat, mis sisa-sisa untuk kapsul, tablet-tablet patah, sistem bejerja

dengan cara pendorongan debu halus kedalam kantung debu, dalam

(30)

3. IPAL ( instalasi pengolahan air limbah)

Khusus untuk limbah produksi cincun β laktam, limbah cairan terlebih

dahulu di destruksi untuk memecah cincin β laktam sebelum di alirkan

ke kolam sedimentasi awal tahapan pengolahan kolam sedimentasi

awal terdiri dari kolam limbah β laktam dan kimbah non β laktam

ekualisasi aeresi : di mana terdapat bakteri pengurai. di beri tmbahan

O2 denagn sistem goncangan air oleh mesin dan NPK untuk

kehidupan bakteri, Clarifier sebagai sedimentasi II, koagulasi, di beri

PAC Poly( alumuniun chlorida ) untuk menggumpalkan limbah dan

menjernihkn air limbah. Flokulsi. di beri PE ( polly elekrolik ) untuk

mengecilkan gumpalan dan menjernihkan air. sistem bidang miring

dilengkapi dengan dasar yang tidak rata, dengan sistem ini lumpur

tidak terbawa dan air yang ukuran partikelnyalebih kecil akan

mengalir ke bak kontrol. Penampungan sedimen lumpur, diberi

sabut-sabut kesat sebagai filter. Dari sini dialirkan lagi ke bak penampungan

untuk dialirkan lagi ke bak ekualisasi awal• Bak kontrol, tempat akhir

pembuangan air limbah. Dari sini dianalisa COD, BOD, pH dan TDS.

Jika telah memenuhi syarat air dapat dialirkan ke kolam yang menuju

masyarakat.

4. Boiler

Suatu mesin pemanas dengan bahan baku air demineral dan

metodenya fire tab atau water tube. Boiler dibersihkan dengan

(31)

5. Water system• Air baku konsumsi PDAM diolah menjadi air baku

farmasi. Terdiri dari 2 pretreatment: media dan sistem• Media : Air

PDAM dialirkan ke dinding 1 untuk keperluan toilet, dinding 2 untuk

pencucian botol, dinding 3 untuk dialirkan ke poma 1• Sistem : 1.

Pompa, terdiri dari pompa tarik dan pompa kembali sesuai dengan

kebutuhan tekanan ke dinding 2. Sand filter berisi zeolit atau silka

untuk menyaring kotoran besar. 3. Bad carbon untuk mengabsorbsi

bau. 4. Penukar ion untuk menghilangkan mineral dengan resin

penukar ion sampling product : pH 5-7 TDS < 10 ppm tidak terjadi

konduktivitas mikroba < 500 ppb1. RO (Reverse Osmosis) 2. HPW

(High Purified Water) 3. Sanitasi dengan pemanasan 85ºC. 4. Mesin

pengelolah TOC (Total Organic Compound) TOC = IC (Indicator

Carbon) – TC (Total Carbon).

Adapun tahapan penanganan limbah adalah sebagai berikut : A. Bak Penampung Awal

B. Bak Sedimentasi Pertama C. Bak Equalisasi

D. Bak Aerasi dan Stabilisasi

E. Bak Sedimentasi Kedua (clarifer) F. Bak Koagulasi

G. Bak Flokulasi

H. Bak Pengendapan Akhir (Bak Sedimentasi Ketiga) I. Bak Kontrol (Bak Pembuangan Akhir)

(32)

BAB III

KEGIATAN MAHASISWA PKL INDUSTRI

Kegiatan PKL Industri rombongan mahasiswa STIFA pada kunjungan

yang dilakukan, mahasiswa diharapkan mengetahui dan mampu menjelaskan

tujuan umum dan tujuan khusus. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 pagi, dimana

mahasiswa menuju langsung ke Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan

Darat (LAFIAD), perjalanan singkat membawa rombongan tiba di Lembaga

Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (LAFIAD) dan langsung diterima

oleh staf yang langsung dibawa menuju keruangan auditorium. Adapun tujuan

umum dan khusus disampaikan langsung oleh dosen pendamping dari STIFA pada

saat observasi yang dilakukan mahasiswa di tempat proses produksi baik

betalaktam dan non betalaktam dan juga proses pengolahan limbah.

Dari beberapa materi yang disampaikan oleh staf yang ada di Lembaga

Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (LAFIAD), yaitu tentang sejarah

dari lembaga farmasi direktorat kesehatan angkatan darat (LAFIAD), beberapa

produk yang diproduksi di LAFIAD serta cara pembuatan produk-produk

unggulan dari LAFIAD dan fasilitas-fasilitas apa saja yang terdapat di LAFIAD,

sehingga hal ini sesuai dengan tujuan umum serta khusus dari PKL industri

farmasi yang diantaranya mengenai prinsip-prinsip produksi (proses produksi dari

(33)

pedoman CPOB), pengendalian mutu (quality control) yang meliputi pengawasan

mutu, personalia, bangunan serta fasilitas , peralatan, dan sanitasi hygine dan

penjaminan kualitas (quality assurance) obat dan distribusi obat. Tujuan umum

serta khusus dibuat agar mahasiswa mengerti dan memahami serta mampu

mengimplementasikannya setelah menjadi lulusan yang siap memasuki dunia

kerja, khususnya di bidang industri farmasi yaitu pabrik obat modern.

Beberapa materi yang diberikan di atas, tentunya sangat bermanfaat untuk

menambah wawasan mahasiswa seputaran tentang pabrik obat yang dapat

menghasilkan produk-produk yang bermutu, dari produk-produk yang dihasilkan

hingga cara pembuatannya. Setelah menerima materi, mahasiswa juga diberikan

kesempatan untuk bertanya langsung kepada pembawa materi dalam diskusi.

Sehingga beberapa pertanyaan yang terangkat dari mahasiswa seputaran

materi-materi yang didapatkan maupun mengenai seputaran lembaga farmasi direktorat

kesehatan angkatan darat (LAFIAD) sendiri. Adapun pertanyaan yang

disampaikan kepada pembina di lapangan ketika proses observasi dilakukan oleh

mahasiswa yang meliputi apa yang di observasi oleh mahasiswa itu sendiri seperti

Fasilitas Instal produksi, Fasilitas Injeksi, Fasilitas Instal Wastu, Fasilitas

LITBANG, Dan Utility.

Kemudian rombongan mahasiswa melakukan kunjungan ke tempat

pengujian sampel, lalu ke tempat produksi pembuatan obat antara lain tablet,

kapsul, sirup, salep dan injeksi yang di produksi oleh lembaga farmasi direktorat

(34)

Hasil pengamatan yang di peroleh adalah sebagai berikut :

A. RuangInSwasTu

1. R. instrument, digunakan untuk menyimpan peralatan yang tidak tahan Terhadap kelembapan (<85%) dan suhu 25 C⁰

2. Spektrometer, digunakan untuk menetapkan kadar dan kelarutan 3. R. Uji coba

4. R. mikrobiologi, digunakan untuk uji steril 5. R. Uji rotasi

6. R. antara

7. R. fisika, digunakan untuk menghitung waktu hancur 8. Alneter, digunakan untuk menghitung kekerasan 9. Keregasan

10. R. reagen, digunakan untuk menyimpan semua bahan yang masih baru 11. R. Contoh tertinggal

12. R. kimia

13. Innporter, digunakan untuk mengatur suhu 14. Tungku pijar

15. Alat pengering

16. Pengatur sesut pengeringan 17. Blu fngle sfety equid ment

B. Ruang Non β-Lactam

Di ruang Non β-Lactam ini terdapat beberapa ruang dan alat-alat

yang digunakan, diantaranya : 1. Ruang antara

2. Ruang Cetak Kapsul

Alat yang digunakan adalah Kwang Dan (KDF-6) th. 2006. Alat ini dapat

mencetak kapsul sebanyak 25.000 kapsul perjam. 3. Ruang Cetak Tablet

(35)

Alat yang digunakan adalah CADMACH CMB 4-35 th. 2001. Alat ini

dapat mencetak tablet sebanyak 70.000 tablet perjam 4. Ruang Cetak Kaplet

Alat yang digunakan adalah CADMACH CMB4-D-27 th. 2002. Alat ini

dapat mencetak sebanyak 60.000 kaplet perjam 5. Ruang Karantina Salut

Ruang ini digunakan sebagai tempat pendinginan. 6. Ruang Uji

Yaitu : uji kekerasan, uji keseragaman bobot, uji ketebalan untuk tablet.

Sedangkan pada kapsul hanya di uji keseragaman bobotnya saja. 7. Ruang karantina rapuh produksi siap kermas primer

8. Ruang penghancur tablet (alat : multinoug)

9. Mesin pengering granul : jaw-chun/FBD – 120 kapasitas 120/kg th. 2003 10. Ruang pencampuran semi basah

Alat : super mixer. Jika bahan kering ditambahkan mucilage 11. Ruang Oven

Terdapat 2, yaitu lemari pengering granul kapasitas 500 kg th. 2006 dan

mesin ayak granul dengan kapasitas 50 kg/jam th. 2000 12. Ruang simpan alat

13. Ruang cuci alat 14. Mesin isi sirup

Alat : jicceng jc-Fm dengan kapasitas 2500 botol/jam 15. Ruang penimbangan

 R. strif IV → mesin stripping hipack/upd VII dengan kapasitas 3000/jam

 R. strif III → mesin stripping narong/nrt-25 dengan kapasitas 20.000/jam 6-7 ml

 R. Strif II → mesin stripping chen tai/ capm-A dengan kapasitas 25.000/jam

 R. Strif → mesin stripping chan tai/ ctapm-B dengan kapasitas 30.000/jam

16. Ruang Staging: tempat bahan yang sudah di timbang

Beta-laktam adalah golongan antibiotik yang memiliki kesamaan komponen struktur berupa adanya cincin beta-laktam dan umumnya digunakan

(36)

beta-laktam yang memiliki aktivitas antimikrobial pada bagian cincin beta-beta-laktamnya

dan apabila cincin tersebut dipotong oleh mikroorganisme maka akan terjadi

resistensi antibiotik terhadap antibiotik tersebut. Rumus sebagai berikut:

NH O

(37)

BAB IV PEMBAHASAN

LAFI AD (Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat),

berasal dari MSL (Militaire scheikundig Laboratorium). Lembaga ini berfungsi

sebagai tempat pemeriksaan obat-obatan bagi kebutuhan tentara Belanda.

Pada tanggal 23 Januari 1950, dibentuk panitia pengalihan, sehingga pada

tanggal 1 juni 1950 dilakukan serah terima dari MSL kepada TNI AD, yang

menjadi dasar dalam penetapan hari jadi LAFI AD, melalui SK No. Skep/23/1997

tanggal 31 januari 1997. Setelah serah terima pada tanggal 1 juni 1950 MSL.

Terbagi menjadi 2 :

1. Laboratorium kimia tentara (LKT) yang kemudian berkembang menjadi

Laboratorium kimia AD (LKAD).

2. Depot obat tentara pusat (DOTP) yang berkembang menjadi depot obat AD

(DOAP).

Berdasarkan SK Ditkesad No. kpts/61/10/IX/1960 tanggal 13 september

1960, terhitung mulai tanggal 8 juni 1960 LKAD dan DOAD disatukan menjadi

LAFI AD. Di lembaga Farmasi Angkatan darat (LAFI AD) tedapat beberapa

ruang yaitu Ruang INSWASTU, ruang β-lactam, ruang Non β-lactam.

Kegiatan kunjungan PKL industry yang dilakukan oleh mahasiswa STIFA

pelita Mas palu di lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (LAFI

AD) bertujuan yaitu untuk meningkatkan sumber daya manusia mahasiswa

(38)

dalam hal ini industry obat modern. Di lembaga Farmasi Angkatan Darat ini kami

berkunjung ke dua ruang, yaitu ruang INSWASTU, ruang Non lactam dan

β-lactam. Ruang INSWASTU pada dasarnya di gunakan untuk pengawasan mutu

obat yang di produksi, pengembangan dan penelitian-penelitian lebih lanjut.

Untuk ruang Non β-lactam digunakan untuk kegiatan produksi, oleh sebab itu

ruang ini harus steril guna menjamin mutu obat yang di produksi. Sedangkan

ruang β-lactam di ruang ini juga terdapat alat-alat canggih untuk memproduksi

obat dalam skala besar.

Mengingat industry farmasi yang tidak terdapat di Sulawesi Tengah, sehingga

pendidikan farmasi yang didapatkan lebih mencakup pada bidang farmasi klinik,

lewat kunjungan ini diharapkan mahasiswa benar-benar mendapatkan

wawasannya di bidang farmasi industri, khususnya industry obat modern. Lewat

kunjungan ini mahasiswa dapat melihat seacar langsung tentang cara pembuatan

obat (proses produksi ) dan optimalisasi penerapan CPOB (Cara pembuatan obat

yang benar). Sehingga mahasiswa dapat mengetahui mekanisme farmakologi yang

spesifik dari suatu pabrik farmasi menyangkut keamanan, kualitas, masa ekspire,

waktu penyimpanan dan efek samping dari suatu obat. Sehingga tujuan umum dan

tujuan khusus dari kunjungan PKL industry farmasi ini telah tercapai, dimana

tujuan umum dari PKL industry farmasi ini diantaranya prinsip-prinsip produksi

atau bagian produksi, pengendalian mutu (quality control) dan penjaminan

kualitas (quality assurance) obat, pengembangan dengan pedoman CPOB (Cara

(39)

Pelaksanaan produksi dilaksakan sesuai protap yang merupakan bagi dari

catatan pengolahan dan pengemasan batch dan disertai pemeriksaan dan

pengawasan mutu dimulai dari penyediaan bahan baku, tahap produksi, tahap

pengemasan sampai obat siap didistribusikan. Setiap produk telah memiliki

catatan pengolahan batch dan catatan pengemasan batch tersendiri sehingga

produk yang dihasilkan diharapkan memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.

Bahan baku yang digunakan merupakan bahan baku yang telah lulus uji

mutu, dimana bahan baku yang datang terlebih dahulu harus diperiksa kesesuaian

jumlah, nama bahan, nama pabrik, keutuhan kemasan, tanggal kedaluwarsa dan

diuji kemurnian, serta sifat-sifat lain dari bahan tersebut. Pengemasan sediaan jadi

di lafi ditkesad juga telah memenuhi persyaratan CPOB, dimana proses

pengewasan terhadap kebocoran strip atau kebocoran sediaan (untuk sediaan cair)

dan selama dilakukan packaging dilakukan pemeriksaan kembali oleh instalasi

pengewasan mutu. Setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar dandiluluskan,

kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, setelah itu baru dipak kedalam dos besar

yang dilengkapi dengan slip pak. Setelah itu dilakukan pengawasan produk dan

juga pengawasan mutu produk hal ini tidak trlepas dari proses produksi pada

ruang produksi dan laboratorium dengan alat-alat yang memadai dan modern dan

perlu di ingat pula bahwa diantara alat-alat tersebut ada yang buatan dalam negeri

yang dihasilkan bangsa Indonesia yang bertempat dibandung jawa barat. Tata

letak ruang antara ruang INSWASTU, ruang β-lactam, ruang Non β-lactam

sangatlah penting, oleh sebab itu ruang-ruang dibuat berdasarkan CPOB dan juga

(40)

Pengawasan mutu telah memenuhi persyaratan CPOB hal ini didukung

dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai diantaranya : laboratorium

kimia, fisik dan mikrobiologi yang sangat membantu dalam proses pengawasan

mutu bahan baku obat, bahan pembantu dan bahan kemas, pemantauan sebelum,

selama dan setelah produksi serta obat jadi yang telah diproduksi. Pengawasan

yang dilakukan di instalasi pengawasan mutu meliputi semua fungsi analisis

termasuk pengambilan contoh, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, produk

antara produk ruahan dan obat jadi, program uji stabilitas, validasi,

dokumentasi ,penyimpanan contoh pertinggal, penyusunan dan penyimpanan

dengan spesifikasi yang berlaku untuk setiap bahan dan produk termasuk metode

pengujiannya.

Lafi Ditkesad memiliki personil yang terkualifikasi dan berpengalaman dalam

hal pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai yang di isyaratkan dalam

CPOB. Penerimaan personil dilaksakan secara terpusat sehingga apabila

memerlukan waktu yang agak lama sehingga terjadi keterbatasan personil di

bagian produksi, mengakibatkan personil melaksakan tugas rangkap sehingga

pekerjaan yang dilakukan kurang maksimal.

Pelatihan karyawan dilingkungan Lafi Ditkesad dilaksakan minimal satu kali

setahun, selain itu tinggi terakhir disetiap bulannya pada minggu militer,

kadang-kadang digunakan untuk pelatihan CPOB. Pelatihan CPOB dilaksakan dibawah

bimbingan atasan yang bersangkutan, para praktisi dan professional di bidang

(41)

Lokasi bangunan dan fasilitas Lafi Ditkesad cuukup memenuhi persyaratan

CPOB yaitu transportasi yang mudah. Memiliki fasilitas air, listrik, telepon,

ketersediaan tenaga kerja yang cukup, bebas pencemaran dan tidak mencemari

lingkungan.

Gedung produksi Lafi Ditkesad terdiri dari gedung produksi betalaktam dan

non betalaktam. Sarana dan prasarana unit produksi non betalaktam sedang dalam

tahap pengembangan dan merencanakan pembangunan untuk produksi obat

golongan obat sefalosporin. Pemisahan produksi betalaktam dan non betalaktam

bertujuan utuk mencegah terjadinya kontaminasi silang, reaksi elergi dan

resistensi mikroba.

Penyimpanan bahan baku untuk produk non betalaktam dan betalaktam di

pisahkan berdasarkan CPOB untuk menghindari kombinasi silang antar produk.

Tersedia juga gudang untuk bahan yang membutuhkan suhu penyimpanan

tertentu, di mana gudang selalu terdapat palet yang sudah terbuat dari plastik dan

rak agar bahan baku maupun obat jadi tidak bersentuhan langsung dengan lantai

untuk menghindari udara lembab dari lantai. selain itu dilengkapi dengan alat anti

tikus, anti serangga, serta alat pemadam kebakaran.

Mesin-mesin produksi serta peralatan penunjang yang dimiliki Lafi Ditkesad

di tempatkan pada posisi yang tepat dan jarak yang cukup dengan menempatkan

satu ruang satu mesin, dan mempunyai jadwal tersendiri dalam merawat alat atau

mesin tersebut agar senantiasa siap untuk digunakan.

Setiap personil di bagian produksi pada saat memasuki ruang produksi selalu

(42)

bersih dilengkapi dengan penutup kepala rambut dan sepatu khusus untuk

menghindari pencemaran potensial. Untuk tamu disediakan juga pakaian khusus,

kain penutup rambut, masker dan sepatu khusus. Personil yang akan melakukan

proses pengolahan produk harus menggunakan sarung tangan untuk menghindari

kontak langsung antara tangan dengan bahan baku atau produk yang dihasilkan.

Cairan desinfektan yang digunakan tidak selalu sama untuk menghindari

resistensi dari bakteri. Personil dilarang merokok, makan, minum menyimpan

makanan dan minuman di dalam ruang produksi atau ruangan lain yang

kemungkinan dapat mencemari produk.

Alur produksi di Lafi Ditkesad terdiri dari alur material, personil dan proses

produksi sesuai dengan yang ditetapkan dalam CPOB. Selama proses produksi

personil yang bekerja diruang produksi senantiasa memakai pakaian lengkap

sesuai dengan ruang kerjanya. Setiap personil yang akan bekerja diruangan

produksi selesai mengenakan pakaian khusus sesuai dengan ruangan kerjanya juga

harus melalui ruang antara atau air shower, yang diperuntukan masuknya personil sesuai alur yang telah ditetapkan dalam CPOB.

Personil yang bekerja pada produksi steril sebelumnya diharuskan mengganti

pakaian dengan pakaian khusus yang tidak melepas serat. Pakaian ini harus

langsung dicuci setelah digunakan dengan mesin cuci system khusus yang tidak

melepaskan serat pakaian.

Setiap bahan baku, bahan tambahan dan bahan pengemas sebelum diterima

dilakukan proses pengujian terlebih dahulu. Selama proses produksi berlangsung.

(43)

ruahan atau produk jadi. Pelaksanaan kualifikasi, kalibrasi dan validasi dilakukan

dalam rangka memastikan bahwa semua proses, alat dan prosedur maupun

menjamin mutu dari produk yang dihasilkan, mulai dari bahan baku sampai

produk jadi. Kegiatan pengawasan mutu di Lafi Ditkesad didukung dengan

instrument-instrument yang memenuhi syarat untuk pengujian fisik, kimia dan

mikrobiologi.

Dengan adanya kunjungan industry ke Lembaga Farmasi Direktorat

Kesehatan Angkatan Darat (LAFI AD) ini, tentu sangat diharapkan akan

membangun hubungan kerja Sama antara STIFA Pelita Mas Palu, dengan

Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan (LAFI AD). Lewat kunjungan

ini, akan memperkenalkan kepada mahasiswa STIFA Pelita Mas Palu terhadap

Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (LAFI AD), sehingga

kedepannya akan ada kunjungan-kunjungan berikutnya yang tentu akan

(44)

BAB V

PENUTUP

V.1. Kesimpulan

1. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)

merup

akan unsur pelaksanaan Direktorat Kesehatan Angkatan Darat yang memproduksi

obat, yang dipruntukan bagi AD yang terdiri dari prajurit , AD, PNS,

yang bekerja di lingkungan AD, beserta keluarganya.

2. Obat jadi diproduksi Lafi Ditkesad telah memenuhi persyaratan cara

pembuatan Obat yang Baik (CPOB), hal ini dibuktikan dengan telah

diperolehnya 10 sertifikat CPOB masing-masing 5 sertifikat untuk

produk betalaktan dan 5 sertifikat produk non betalaktan.

3. Lafi Ditkesad terus berusaha meningkatkan pelaksanaan CPOB dengan

tujuan menghasilkan obat yang bermutu, aman dan berkhasiat dengan

upaya pembangunan gedung yang baru, melengkapi dia memperbaruhi

peralatan, validasi metode dan menignkatkan sistem pengawasan mutu

secara menyeluruh.

4. Lafi Ditkesad merupakan tempat pembelajaran baik di bidang produksi,

pengendalian kualitas dan penjaminan kualitas dan juga berbagai aspek

yang ada di industri. Hal ini berguna bagi mahasiswa/I yang sedang

(45)

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim 2015. Laporan PKL industri STIFA PELITA MAS PALU 2. (Online)

http://repository.usu.ac.id/bistream/123456789/14385/08E00349.pdf. 3. Power Point Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan TNI Angkatan Darat. 4. Shargel Leon, Wu-pong Susanna, B.C YU. Andrew, 2005 “Bifarmasetika

Dan Farmakokinetik Terapan” edisi V .Airlangga University Press. Surabaya

5. Badan POM. 2012.Petunjuk Operasional Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

rangkaian proses di industri farmasi dalam pembuatan obat jadi, sesuai dengan.. keputusan Menteri Kesehatan

farmasi hasil produksi Lafiau, sediaan obat jadi yang dibeli dari industri lain dan. peralatan kesehatan yang diadakan oleh Disadaau (Dinas Pengadaan