• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aquacultura Indonesiana (2004) 5(2): ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aquacultura Indonesiana (2004) 5(2): ISSN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

Kerapu bebek (Cromileptes altivelis) adalah satu di antara jenis ikan laut keluarga Seranidae yang hidup di perairan karang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor. Jenis ikan karang ini hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis. Ciri khasnya terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu bebek. Rasa dagingnya lezat sehingga bila disajikan di restoran-restoran banyak diminati orang. Melihat prospeknya yang semakin cerah sejalan dengan pangsa pasar yang memberikan peluang cukup besar dan tentunya menempati posisi yang paling ekonomis. Ikan kerapu bebek ini bila masih kecil ukuran 2 inchi banyak diminati konsumen

sebagai ikan hias (Kohno et al., 1990) dan bila ukuran berat mencapai 0,5 kg per ekor sebagai ikan konsumsi (Ahmad et al., 1991). Perikanan merupakan sektor yang cukup diandalkan dalam pengembangan sumberdaya pesisir dan laut. Selain sebagai penghasil devisa, perikanan juga merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan nasional protein hewani. Ikan memenuhi 60% dari kebutuhan protein hewani nasional dan 75% dari kebutuhan ikan tersebut dipenuhi oleh perairan pesisir dan laut (Ahmad et al., 1991).

Usaha budidaya laut khususnya ikan kerapu saat ini mulai diminati para investor untuk menanamkan modalnya. Ikan kerapu bebek ini cukup potensial untuk dibudidayakan di keramba

Pengaruh Penggunaan Iodin Pada Inkubasi Telur Ikan Kerapu Bebek

Cromileptes altivelis Terhadap Waktu Penetasan, Daya Tetas dan

Kelulushidupan Larva Pada Stadia Awal Pemeliharaan Ikan Laut

Tridjoko

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali PO Box. 140 Singaraja Bali

Telp. 0362-92278 / Fax. 0362-92272

Abstract

Tridjoko. 2004. The effects of iodine dossage during the eggs incubation on hatching time, hatching rate and survival of early stage larvae of humpback grouper (Cromileptes altivelis). Aquacultura Indonesiana, 5(2): 85–89. This experiment was conducted to know the effects of iodine dossage during the eggs incubation on

hatching time, hatching rate, and survival of early stage larvae of Cromileptes altivelis. The experiment using 9 transparent fibreglass tanks (10 L) filled with sea water (34 ppt) and density of eggs are 500/L. The treatments for this experiment were iodine concentration as follow: (A) 4 mg/L; (B) 6 mg/L and (C) 8 mg/L. The results show that the effect of iodine was significantly different (P<0.05) on hatching rate and survival rate of early stage larvae (D3). Range of hatching time was 19 hours and 52 minutes until 20 hours 33 minutes. The best hatching rate (78%) was observed with iodine 6 mg/L. This treatment also resulted the best survival rate (72%).

Keywords: Hatching rate; Iodine; Humpback grouper; Survival rate; Hatching time

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iodin pada inkubasi telur ikan kerapu bebek terhadap waktu penetasan telur, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva pada stadia awal (D3). Percobaan dilakukan menggunakan bak fiber glas volume 10 L sebanyak 9 buah dan masing-masing bak ditebari telur dengan kepadatan 500 butir/L. Sebagai perlakuan adalah dosis iodin pada bak inkubasi yaitu: (A) 4 mg/L; (B) 6 mg/L dan (C) 8 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan iodin pada inkubasi telur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva stadia awal (D3). Waktu penetasan telur antara 19 jam lebih 52 menit sampai 20 jam lebih 33 menit. Daya tetas telur terbaik diperoleh perlakuan (B) yaitu pada dosis iodine 6 mg/L sebesar 78% dan kelangsungan hidup larva stadia awal (D3) tertinggi juga dicapai pada perlakuan (B) yaitu sebesar 72%. Kata kunci: Daya tetas; Iodin; Kerapu bebek; Kelulushidupan;Waktu penetasan

(2)

yang paling mahal di antara jenis kerapu lain, juga pada umur 2–3 bulan (juvenil) dengan ukuran panjang tubuh 3–5 cm dapat digunakan sebagai ikan hias dengan harga cukup mahal yaitu antara Rp.10.000–35.000. Sedangkan yang berukuran konsumsi dalam keadaan hidup harganya Rp. 200.00–400.000/kg ditingkat pasar domestik dan $US 70–90 di pasaran Internasional khususnya Hongkong, China dan Taiwan, karena rasa dagingnya yang enak, lezat dan memenuhi selera konsumen, maka menjadikan ikan kerapu bebek ini sebagai salah satu komoditas primadona yang banyak diminati di restoran-restoran besar.

Melihat pelua ng pasar yang sa ngat menggiurkan, maka usaha penangkapan di alam yang terus-menerus dan belum diimbangi produksi massal di hatcheri yang belum stabil dikhawatirkan populasinya di alam terancam punah. Oleh karena itu upaya pembenihan dengan produksi massal benih ikan kerapu bebek ini segera diintensifkan. Dengan melalui serangkaian penelitian ikan kerapu bebek, di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali telah berhasil memproduksi juvenil dengan kelangsungan hidup 3–10% (Ismi et al., 1997; Wardoyo et al., 1997), 10–20% (Ismi et al., 1998; Matzuda et al., 1998), 20–53% (Kawahara et al., 1997; Ismi et al., 1998). Tingkat keberhasilan produksi massal juvenil tersebut belum stabil di duga salah satu faktornya adalah kualitas telur yang dihasilkan.

Pada inkubasi telur perkembangan embrio diawali dari proses fertilisasi, di mana sperma masuk ke dalam telur melalui mikrofil dari khorion dan mengalami peleburan dalam inti telur (Blaxter, 1969). Penetasan telur adalah merupakan saat terakhir masa inkubasi sebagai hasil dari beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya (Effendie, 1978). Beberapa faktor lingkungan seperti: suhu, salinitas, intensitas cahaya, dan aerasi berpengaruh terhadap perkembangan embrio pada Nassau grouper, Epinephelus striatus (Watanabe et al., 1995). Demikian juga penggunaan iodin sebagai disinfektan pada media inkubasi telur diduga berpengaruh terhadap daya tetas dan kelangsungan hidup larva pada stadia awal.

Oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut penelitian diarahkan pada inkubasi telur dengan penggunaan iodin dosis yang berbeda untuk mengetahui waktu penetasan telur, daya tetas telur

dan kelangsungan hidup larva stadia awal/umur 3 hari (D3).

Materi dan Metode

Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol. Bak yang digunakan untuk percobaan adalah bak fiber glas volume 10 liter sebanyak 9 buah dan masing-masing bak ditebari telur dengan kepadatan 500 butir/liter. Sebagai perlakuan adalah penggunaan iodin (10% bahan aktif iodin) pada bak inkubasi yaitu: (A) 4 mg/L; (B) 6 mg/L dan (C) 8 mg/L.

Rancangan yang digunakan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang diamati yaitu: waktu penetasan telur, daya tetas telur dan tingkat kelangsungan hidup larva stadia awal (D3). Analisis data dilakukan dari nilai daya tetas telur dan sintasan larva yang ditransformasikan ke dalam arc sin untuk selanjutnya dilakukan analisis sidik ragam pada tingkat kepercayaan 95%, serta uji beda nyata terkecil (BNT) untuk melihat pengaruh perlakuan. Sebagai data penunjang dalam penelitian ini juga dilakukan pengamatan parameter kualitas air yang meliputi: temperatur, pH, oksigen, salinitas dan amonia.

Hasil dan Pembahasan

Pengamatan Perkembangan Telur Ikan Kerapu Bebek

Hasil pengamatan perkembangan telur ikan kerapu bebek terjadi fase perubahan dari 1 sel hingga 16 sel terjadi pada jam 21:12–21:20 (Tabel 1). Kemudian pada jam 23:00 fase Morula yaitu pada perlakuan iodin 6 mg/L. Selanjutnya, fase Blastula terjadi pada jam 02:10 sebanyak 70% yaitu pada perlakuan B (6 mg/L). Selanjutnya, pada perlakuan A dan C berturut-turut terjadi pada jam 02:15 sebanyak 65% dan 02.20 sebanyak 50%. fase Neorula pada perlakuan A, B dan C masing-masing adalah terjadi pada jam 05:35 sebanyak 62%; 05:29 seba nyak 70% dan 05:40 sebanyak 50%. Pengamatan perkembangan telur diakhiri setelah 50% telur telah menetas. Rata-rata waktu penetasan yang paling cepat dicapai pada perlakuan (B) yaitu selama 19 jam lebih 52 menit. Selanjutnya berturut-turut diikuti oleh perlakuan (A) 20 jam lebih 15 menit, dan perlakuan (C) 20 jam lebih 33 menit.

(3)

Dibandingkan dengan jenis kerapu lain misalnya Epinephelus malabaricus mulai telur dibuahi hingga menetas memerlukan waktu yang hampir sama, yaitu antara 17–19 jam pada suhu 26–29C (Ruangpanit et al., 1993). Demikian juga yang terjadi pada ikan kakap. Maneewongsa dan Tattanon (1982) mengemukakan bahwa saat telur dibuahi hingga menetas membutuhkan waktu 17 jam 30 menit pada suhu antara 27–29C dan salinitas 33 ppt. Namun pada ikan kakap mata kucing (Psammoperca waigiensis) telur menetas 13 jam setelah pemijahan pada suhu inkubasi 27–29C dan salinitas 33 ppt (Sunyoto et al., 1993). Lain halnya dengan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) pada kisaran suhu 23,1–23,7C telur baru dapat menetas 26 jam 40 menit setelah pembuahan (Masume et al., 1993).

Daya Tetas Telur Ikan Kerapu Bebek

Dari hasil pengamatan daya tetas telur ikan kerapu bebek, menunjukkan bahwa perlakuan iodin pada media inkubasi telur berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur (P<0,05) (Tabel 2.).

Tabel 2. Rata-rata daya tetas telur ikan kerapu bebek C. altivelis

Dosis Iodin Rata-rata  Standar deviasi A (4 mg/L) 53.43  2.12b

B (6 mg/L) 68.13  9.24c

C (8 mg/L) 45.17  7.81a

Keterangan :

Nilai pada kolom yang diikuti dengan huruf yang sama adalah tidak berbeda nyata (P>0,05)

Rata-rata daya tetas telur pada perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B dan C. Rata-rata daya tetas telur tertinggi dicapai pada perlakuan B yaitu 68,13%. Selanjutnya berturut-turut diikuti oleh perlakuan A(53,43%) dan C (45,17%). Pada perlakuan C ternyata daya tetas telurnya terendah. Iodin merupakan salah satu obat atau disinfektan yang dapat digunakan untuk membunuh berbagai jenis organisme seperti bakteri, virus, protozoa, fungi dan spora. Selain itu iodine dapat bermanfaat untuk membersihkan dan mensterilkan secara menyeluruh (Bogas, 1956). Hasil pengamatan terhadap oksigen terlarut pada media inkubasi (Tabel 3) berkisar antara 3,13–5,81 mg/L. Kandungan oksigen tersebut dibutuhkan untuk perkembangan embrio sehingga tahapan perkembangannya dapat berjalan dengan sempurna (Yamagami, 1988). Selanjutnya dijelaskan bahwa kandungan oksigen dapat digunakan untuk respirasi dan ekresi telur.

Tabel 3. Kisaran parameter kualitas air pada inkubasi telur ikan kerapu bebek

Parameter Minimum Maksimum Temperatur (C) 27.50 29.80

pH 7.85 8.32

Oksigen (mg/L) 3.13 5.81 Salinitas (ppt) 31.50 34.00 Amonia (mg/L) 0.213 0.368

Dari beberapa hasil penelitian, antara lain Watanabe et al. (1995); Hart dan Purser (1995); Kawahara et al. (1997); Shimizu et al. (1998) menyatakan bahwa daya tetas telur (hatching rate) dipengaruhi oleh temperatur pada media penetasan.

Tabel 1. Pengamatan perkembangan telur ikan kerapu bebek pada masing-masing perlakuan. Fase perkembangan Dosis iodin

telur A (4 mg/L) B (6 mg/L) C (8 mg/L) Jam % Jam % Jam % 1–16 sel 21:15 80 21:12 80 21:20 80 Banyak sel 22:35 80 22:30 80 22:37 80 Morola – – 23:00 – – – Blastula 02:15 65 02:10 70 02:20 50 Gastrula – – 03:37 – – – Neorula 05:35 62 05:29 70 05:40 50 Sistem pencernaan 08:30 60 09:55 – – – Menetas 17:48 60 17:04 70 18:03 50 Total waktu 20:15 19:52 20:33

(4)

Sela njutnya dikatakan bahwa temper atur berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan telur dan juga efisiensi pemanfaatan sumber pakan (yolk) untuk pertumbuhan embrio. Kandungan oksigen di dalam inkubasi berfungsi yang cukup berarti pada tahapan perubahan embrio dari fase gastrula sampai tahapan telur menjelang menetas. Pada proses perkembangan embrio ikan hingga penetasan membutuhkan kisaran oksigen antara 4– 8 mg/L (Lagler et al., 1962). Hasil pengamatan kualitas air pada media inkubasi telur tersebut (Tabel 3) cukup optimal dalam menunjang penetasan telur ikan kerapu bebek.

Kelulushidupan Larva Ikan Kerapu Bebek Stadia Awal (D3)

Hasil penelit ian menunjukkan bawa perlakuan dosis iodin pa da inkubasi t elur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap rata-rata kelulushidupan larva ikan kerapu bebek stadia awal (D3) (Tabel 4).

Tabel 4. Kelulushidupan larva kerapu bebek pada stadia awal (D3)

Dosis Iodin (mg/L) Rata-rata  Standar deviasi B( 6 mg/L) 68.7  6.16b

A (4 mg/L) 57.3  2.31a

C (8 mg/L) 56.1  3.39 a

Keterangan :

Nilai pada kolom yang diikuti dengan huruf yang sama adalah tidak berbeda nyata (P>0,05)

Tingkat kelulushidupan larva ikan kerapu bebek stadia awal (D3) pada perlakuan B berbeda nyata terhadap perlakuan A dan C. Namun antara perlakuan A dan C tidak berbeda nyata. Hasil penelitian rata-rata kelulushidupan larva stadia awal (D3) yang terbaik adalah pada perlakuan B yaitu: 68,7%. Kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan A (57,3%) dan perlakuan C (56,1%). Pertumbuhan dan perkembangan larva awal (yolk sac) berkaitan dengan effisiensi pemanfaatan dari kandungan energi dan materi yang terbatas kesediaannya pada kuning telur. Kuning telur tersebut merupakan satu-satunya sumber energi bagi aktivitas metabolisme larva, baik untuk osmoregulasi maupun metamorfosis. Kualitas dan kuantitas kuning telur yang terkandung dalam tubuh larva akan menentukan perkembangan selanjutnya. Kuning

telur ini akan habis terserap pada umur 2–3 hari. Pada fase ini merupakan masa kritis bagi larva sebab kemampuan untuk memperoleh energi dari luar masih berkurang, maka larva akan lemah kehabisan energi.

Kesimpulan

Penggunaan iodin pada media inkubasi telur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas telur dan kelulushidupan larva stadia awal (D3). Waktu penetasan telur antara 19 jam lebih 52 menit sampai 20 jam lebih 33 menit. Daya tetas telur terbaik diperoleh perlakuan (B) yaitu pada iodin dosis 6 mg/L sebesar 78% dan kelulushidupan larva stadia awal (D3) tertinggi juga dicapai pada perlakuan (B) yaitu sebesar 72%.

Daftar Pustaka

Ahmad, T., P.T. Imanto, A. Muchari, A. Basyari, P. Sunyoto, B. Slamet, Mayunar, R. Purba, S. Diani, S. Redjeki, A. Pranowo dan S. Murtiningsih.

1991. Pedoman Teknis Operasional Pembesaran Ikan Kerapu Dalam Keramba Jaring Apung. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai, Maros. 59 hlm.

Bogassh, C.R. 1956. Polyvinylpyrrolidone iodine. Reprinted from the Bulletin American Society of Hospital Pharmacists, 13(3): 1–8.

Blaxter, J.H.S. 1969. Development: Egg and larvae, In:

W.S. Hoor an d D.J Ran dale (Eds.), Fish Physiology:. Reproduction and growth, Biolumenesence, Pigments and poisons, Academic Press New York and London, 3: 177– 252.

Effendie, M.T. 1978. Study natural history. Biologi Perikanan, Fak. Perikanan, IPB Bogor.

Hart, P.R. and G.J. Purser. 1995. Effects of salinity and

temperature on eggs and yolk sac larvae of the greenback flounder Rhombosolea tapirina. Aquaculture, 136: 221–230.

Ismi, S., Wardoyo dan K.M. Setiawati. 1997. Studi

penggunaan naupli copepode Acartia sp pada pemeliharaan larva kerapu bebek C. altivelis. Lap. Penyelesaian DIP 1997/1998, Lolitkanta Gondol, hlm. 129–136 (Unpublish).

Ismi, S., Wardoyo and K.M. Setiawati. 1998. Pemeliharaan

larva kerapu bebek C. altivelis dengan teknik per baikan pakan dan lin gkun gan . La p. Penyelesaian DIP 1998/1999. Lolitkanta Gondol, hlm. 51–82 (Unpublish).

Kawahara, S., I. Setiadi, S. Ismi, Tridjoko dan K. Sugama. 2000. Kunci keberhasilan produksi masal

(5)

Lolitkanta–JICA Booklet, No. 11 (Unpublish). Kawahara, S., A.J. Shams, A.A. Al Bosta, M.M. Mansoor

and Al Baqqal. 1997. Effects of incubation and

spawning water temperature and salinity on egg development of the Orange-spotted Grouper Epinephelus coioides, Serranidae . Asian Fisheries Science, 9: 239–250.

Kohno, H., P.T. Imanto, S. Diani, B. Slamet and P. Sunyoto. 1990. Reproduction performance and

early life history of the grouper, Epinephelus fuscoguttatus, Lar vae. Buletin Penelitian Perikanan, Special Edition, 1: 27–35.

Lagler, F., Fjho. Karl, Bardagh, R. Robert and Miller.

1962. The study of fishes. Ichthyology, John Wiley and Sons, Inc, New York London Toppan. Ltd, Tokyo Japan.

Maneewongsa, S. and T. Tattanon. 1982. Growth of larval

and juvenile in the larval and fry production of the seabass in Malaysia. Fisheries Research Institute, Glogor, Penang Malaysia, 24 pp. Masume, S., N. Tezuka and Teruya. 1993. Embrionic and

morphological development of larvae and juvenile coral trout, Plectropomus leopardus. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai, Terbitan Khusus 9(5): 146–152.

Matzuda, H., D. Rohaniawan, B. Slamet dan Tridjoko.

1998. Metode produksi benih kerapu bebek C. altivelis. Booklet, Lolitkanta Gondol –

JICA, No. 4 (Unpublish).

Ruangpanit, N., P. Boonliptanon and J. Kongkumnerd.

1993. The proceeding of grouper culture held et Viva Hotel, November 30–December 1, 1993. Songkhla, Thailand, pp. 32–44.

Shimizu, T., H. Sakai and N. Mizuno. 1998. Embrionic

and larval development of a japanese spinous looch , Cobitis takatsuensis. Ichthyology Research, 45 (4): 377–384.

Sunyoto, P., Masril, A. Ismail dan S. Diani. 1993.

Pemijahan rangsang dan perkembangan telur larva ikan kakap mata kucing, Psammoperca waigiensis. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai, Terbitan Khusus 9(5): 146–152.

Wardoyo, S. Ismi, K.M. Setiawati, J.H. Hutapea dan T. Aslianti. 1997. Pengaruh kepadatan rotifera

terhadap pertumbuhan dan sintasan larva kerapu bebek Cromileptes altivelis. Kumpulan Abstrak Symposium Perikanan Indonesia II. Ujung Pandang.

Watanabe, W.O., C.S. Lee, S.C. Ellis and E.P. Ellis. 1995.

Hatchery study of the of temperature on eggs and yolk sac larvae of the nassau grouper, Epinephelus striatus. Aquaculture, 136: 141–147. Yamagami, K. 1988. Mechanism of hatching in fish. In:

W.S. Hoar, D.J. Randall and J.R. Brett (Eds.), Fish Physiology, Vol. XI: 44–499.

Referensi

Dokumen terkait

Bapak dan Ibu Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama menjalankan studi dibangku

Tujuan:    Setelah Setelah melaksanakan melaksanakan PI/PKL PI/PKL mahasiswa mahasiswa memahami tentang manajemen perusahaan/dunia industri memahami tentang manajemen

Hak dan kewajiban perawat dan bidan di rumah sakit (SK. Dirjen Yanmed No. 2) Mengembangkan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai latar belakang pendidikannya. 3)

Indirect cost merupakan layanan umum dalam bentuk overhead dan tidak terkait langsung dengan perawatan pasien dan pelayanan intermediate seperti biaya administrasi

bangunan bukan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (d) wajib disesuaikan dengan arahan pemanfaatan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang

Tradisional dalam Menumbuhkan Kerjasama Peserta Didik di SD Alam Baturraden.. Oleh karena itu kerjasama harus dibiasakan dan sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak di

Senada dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono, Muhibbin Syah (2010: 140) juga mengatakan bahwa, “Evaluasi adalah pengungkapan dan pengukuran hasil belajar yang pada

Penelitian tentang “Analisis Kepuasan Pengguna Website Jurnal Online menggunakan Metode Webqual (Studi Kasus Buletin Penelitian Sistem Kesehatan)” merupakan