• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETAHANAN ORIENTED STRAND BOARD BAMBU TERHADAP SERANGAN RAYAP DAN KUMBANG AGUSTIANA PURWANINGSIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KETAHANAN ORIENTED STRAND BOARD BAMBU TERHADAP SERANGAN RAYAP DAN KUMBANG AGUSTIANA PURWANINGSIH"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

KETAHANAN ORIENTED STRAND BOARD BAMBU

TERHADAP SERANGAN RAYAP DAN KUMBANG

AGUSTIANA PURWANINGSIH

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Ketahanan Oriented Strand Board Bambu terhadap Serangan Rayap dan Kumbang

Nama : Agustiana Purwaningsih

NRP : E24070027

Departemen : Hasil Hutan

Fakultas : Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Menyetujui: Komisi Pembimbing,

Ketua, Anggota,

Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS Arinana, S.Hut., M.Si NIP. 19630209 198903 1 002 NIP. 19740101 200604 2 014

Mengetahui:

Ketua Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc. NIP.19660212 199103 1 002 Tanggal Lulus:

(3)

KETAHANAN ORIENTED STRAND BOARD BAMBU

TERHADAP SERANGAN RAYAP DAN KUMBANG

Skripsi

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

AGUSTIANA PURWANINGSIH

E24070027

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 1 Agustus 1989 sebagai anak pertama dari dua orang bersaudara pasangan Bapak Supriyanta dan Ibu Aisah Gusminawati. Pada tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Bogor dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima di Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan. Pada tahun 2010 penulis memilih Bio-Komposit sebagai bidang keahlian.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan yakni menjadi anggota divisi kewirausahaan kepanitian Olimpiade Mahasiswa IPB pada tahun 2008, anggota divisi eksternal Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan (HIMASILTAN) 2008-2009, dan anggota bidang minat Bio-Komposit Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan (HIMASILTAN) 2009-2010. Penulis juga pernah melaksanakan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Leuweung Sancang Timur dan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan Jawa Barat, melaksanakan Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi, dan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Riau Andalan Pulp and Paper Provinsi Riau.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, penulis melakukan penelitian dengan judul “Ketahanan Oriented Strand Board Bambu terhadap Serangan Rayap dan Kumbang” dibawah bimbingan Prof.Dr.Ir. Fauzi Febrianto, MS dan Arinana, S.Hut, M.Si.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Ketahanan Oriented Strand Board Bambu terhadap Serangan Rayap dan Kumbang. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak-pihak yang membutuhkan.

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya kepada penulis. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS dan Ibu Arinana, S.Hut, M.Si selaku dosen pembimbing, atas kesabaran dan keikhlasannya dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.

2. Bapak Ir. Iwan Hilwan, MS selaku dosen penguji dan Bapak Ir. E.G. Togu Manurung, MS, Ph.D selaku pimpinan sidang.

3. Orang tua tercinta, Bapak Supriyanta dan Ibu Aisah Gusminawati atas semua dukungan dan kasih sayang yang diberikan, baik moril maupun materil serta doa yang selalu mengalir tanpa henti kepada penulis.

4. Adikku tercinta Wisnu Wruhantoro atas kasih sayang yang diberikan serta doa yang selalu mengalir tanpa henti kepada penulis.

5. Seluruh Laboran dan Staf Departemen Hasil Hutan yang banyak memberikan dukungan dan bantuannya selama ini kepada penulis.

6. Muhammad Michael atas doa, kasih sayang, dukungan, dan semangat yang diberikan kepada penulis.

7. Teman-teman THH angkatan 44, terutama kepada Linda, Desi, Anita, Irma, Ina, Ria, Rospita, Avanty, Yanotama, Ferry, Nursyamsi, Iftor, Punto, Husnul, Mardiyanto, dan Kak Wenny serta seluruh mahasiswa FAHUTAN angkatan 44 yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas dukungan, semangat, dan kerjasamanya selama menempuh kuliah di Fakultas Kehutanan IPB.

8. Teman-teman satu bimbingan: Jala Yuriat, Dedi Dendi Wijaya, Januar Hariyadi, Kak Poppy, dan Kak Rizzal. Terima kasih atas kebersamaan dan bantuannya kepada penulis selama melaksanakan penelitian.

9. Semua pihak yang telah membantu kelancaran studi penulis, baik selama kuliah maupun dalam penyelesaian skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

(7)
(8)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Ketahanan Oriented

Strand Board Bambu terhadap Serangan Rayap dan Kumbang adalah benar-benar

hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

Agustiana Purwaningsih NRP. E24070027

(9)

RINGKASAN

Agustiana Purwaningsih. E24070027. Ketahanan Oriented Strand Board Bambu terhadap Serangan Rayap dan Kumbang. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS dan Arinana, S.Hut, M.Si.

Salah satu bentuk pemanfaatan bambu yang dapat dilakukan adalah dengan dibuat papan struktural, salah satuya adalah Oriented Strand Board (OSB). OSB merupakan produk papan komposit struktural yang diproduksi dari partikel berbentuk strand dan perekat thermosetting tahan air (waterproof). Penelitian mengenai OSB bambu dilakukan Naiborhu (2010) dengan kadar perekat sebagai variabelnya, dimana OSB dengan perekat MDI 5% merupakan OSB yang memiliki sifat fisis dan mekanis yang terbaik. Namun penelitian Naiborhu (2010) tidak dilakukan pengujian sifat ketahanannya terhadap serangan organisme makroskopis perusak. Maka, pada penelitian ini dilakukan pengujian mengenai sifat ketahanan OSB bambu terhadap serangan organisme makroskopis perusak. OSB diujikan ketahanannya terhadap serangan rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren) selama 4 minggu dan rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light) selama 12 minggu skala laboratorium sesuai Standar SNI 01. 7207-2006 serta pengujian ketahanan terhadap serangan kumbang secara semi lapang dengan pengumpanan alami selama 20 minggu.

Hasil yang diperoleh setelah dilakukan pengujian ketahanan terhadap serangan rayap tanah, berdasarkan tabel klasifikasi ketahanan kayu sesuai standar SNI 01. 7207-2006, menunjukkan bahwa ketahanan bambu dari kelas IV (buruk) meningkat menjadi kelas awet II (tahan) setelah dibuat menjadi produk OSB. Secara statistik, faktor susunan strand memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase kehilangan berat contoh uji akibat serangan rayap tanah. Sedangkan pengujian ketahanan OSB terhadap serangan rayap kayu kering menunjukkan bahwa OSB bambu tergolong ke dalam kelas awet III (sedang). Secara statistik, faktor susunan strand memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kehilangan berat contoh uji akibat serangan rayap kayu kering. Pada pengujian ketahanan OSB terhadap serangan kumbang jenis Anobium sp. diperoleh hasil bahwa persentase rata-rata kehilangan berat OSB bambu lebih kecil dibandingkan persentase rata-rata kehilangan berat bambu kontrol, namun tidak dapat diklasifikasikan kelas ketahananya, karena belum ada standar yang dapat dijadikan acuan pengujian secara semi lapang. Secara statistik, faktor susunan strand memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keilangan berat contoh uji akibat serangan kumbang.

Kata kunci : Oriented Strand Board, Bambu, Rayap tanah, Rayap kayu kering, Kumbang, dan Kehilangan berat.

(10)

ABSTRACT

INTRODUCTION. Bamboo is very promising to be used as OSB raw materials due to its excellent physical and mechanical properties. Unfortunately, naturally bamboo is also very susceptible to termite and beetles attack. In order to complete the information regarding the feasibility of using bamboo OSB for building component, the research associate with the resistance of OSB made from mixing bamboo against termite and powder post beetle attacked were observed.

MATERIALS AND METHOD. Three layered OSBs were produced with the size of 30 cm x 30 cm x 1.0 cm. Three (3) bamboo species were used in this experiment ie., Betung bamboo (Dendr ocalamus asper Schult.F) Backer ex. Heyne), Andong bamboo (Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro), and Ampel bamboo (Bambusa vulgaris Schrad. Ex Wendl.). Nine (9) c ombination of bamboo OSBs were prepared from these bamboos, namely 1) Betung/Betung/Betung; 2) Betung/Andong/Betung; 3) Betung/Ampel/Betung; 4) Andong/Andong/Andong; 5) Andong/Betung/Andong; 6) Andong/Ampel/Andong; 7) Ampel/Ampel/Ampel; 8) Ampel/Betung/Ampel; and 9) Ampel/Andong/Ampel. The density of OSB was around 0.7 g/cm3. Commercial MDI adhesive was used to bond the strands to OSB in amount of 5%. Four OSBs were prepared for each treatment. The resistances of bamboo OSBs against subterranean and dry wood termites were evaluated in accordance to Indonesia standard (SNI 01. 7207-2006). Meanwhile, the resistance of bamboo OSBs against powder post beetles was evaluated using semi-field test.

RESULTS AND DISCUSSION. The results indicated that the resistance of bamboo OSBs against subterranean termite (Coptotermes curvignathus Holmgren) increased 2 times compared to the solid bamboo. All the bamboo solid used belongs to “poor” (level 4) and after converted into OSBs the resistance of bamboo OSBs increased to become “resistance” (level 2). Conversely, the resistance of bamboo OSBs against dry wood termite (Cryptotermes cynocephalus Light) attacked decreased 2 times compared to the solid bamboo. All the bamboo solid used belongs to “very resistance” (level 1) and after converted into OSBs the resistance of bamboo OSBs lowered to become “moderately resistance” (level 3). Based on the values of weight loss obtained, whether OSBs prepared from single species bamboo or mixing bamboos had similar resistance to C. curvignathus and C. cynocephalus attacked. It was observed that the species of powder post beetle attacked the bamboo OSBs was Anobium sp. The resistance of solid bamboo against Anobium sp was varied. The average weight loss of Betung bamboo, Andong bamboo and Ampel bamboo were 3.19%, 17.39% and 25.36%, respectively. The average weight losses of bamboo OSBs prepared in this experiment were in the range of 2.85-3.87%. Andong bamboo and Ampel bamboo belong to very susceptible to Anobium sp attacked. After converted into bamboo OSBs their resistances were increased around 5 times. Whether OSBs prepared from single species bamboo or mixing bamboos had similar resistance to Anobium sp.

Keywords : Oriented Strand Board, Bamboo, Subterranean Termite, Drywood Termite, Powder Post Beetles, and Weight Loss

1).

Student of Forest Product Department, Faculty of Forestry IPB; 2).

Lecturer of Forest Product Department, Faculty of Forestry IPB

DHH

The Resistance of Oriented Strand Board Made from Mixing Bamboo against Termites

and Powder Post Beetle Attacked

1)

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Penelitian ... 2 1.3 Manfaat Penelitian ... 2 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oriented Strand Board (OSB) ... 3

2.2 Jenis Bambu yang Digunakan ... 5

2.2.1 Bambusa vulgaris Schrad. Ex Wendl ... 5

2.2.2 Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro ... 6

2.2.3 Dendrocalamus Asper (Schult.F) Backer ex. Heyne ... 6

2.3 Methylene diphenil diisocyanate ... 7

2.4 Coptotermes curvignathus Holmgren ... 8

2.5 Cryptotermes cynocephalus Light ... 10

2.6 Kumbang Bubuk ... 11

2.6.1 Bubuk Kayu Kering ... 11

2.6.2 Bubuk Kayu Basah ... 12

III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 13

3.2 Metode Penelitian ... 13

3.2.1 Pengujian terhadap Coptotermes curvignathus Holmgren ... 14

3.2.2 Pengujian terhadap Cryptotermes cynocephalus Light ... 17

3.2.3 Pengujian terhadap Kumbang ... 19

3.3 Analisis Data ... 21

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ketahanan OSB terhadap Serangan Rayap Tanah ... 23

(12)

ii

4.1.2 Mortalitas Coptotermes curvignathus Holmgren ... 25

4.2 Ketahanan OSB terhadap Serangan Rayap Kayu Kering ... 27

4.2.1 Kehilangan Berat ... 27

4.2.2 Mortalitas Cryptotermes cynocephalus Light ... 28

4.3 Ketahanan OSB terhadap Serangan Kumbang ... 30

4.3.1 Identifikasi Kumbang ... 30

4.3.2 Kehilangan Berat ... 32

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 35

5.2 Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

(13)

iii

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1 Sifat fisis mekanis papan partikel dan OSB ... 5

2 Susunan OSB dari tiga jenis bambu ... 13

3 Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah ... 16

4 Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap kayu kering ... 19

5 Analisis sidik ragam kehilangan berat contoh ujiakibat serangan rayap tanah ... 25

6 Analisis sidik ragam mortalitas rayap tanah ... 26

7 Analisis sidik ragam kehilangan berat contoh uji akibat serangan rayap kayu kering ... 28

8 Analisis sidik ragam mortalitas rayap kayu kering ... 30

9 Analisis sidik ragam kehilangan berat contoh uji akibat serangan bubuk kayu kering ... 33

(14)

iv

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1 Oriented Strand Board (OSB) ... 13

2 Pengujian keawetan terhadap serangan rayap tanah ... 15

3 Pengujian keawetan terhadap serangan rayap kayu kering ... 18

4 Pengujian keawetan terhadap serangan kumbang bubuk ... 20

5 Kehilangan berat OSB akibat serangan rayap tanah ... 24

6 Mortalitas rayap tanah ... 26

7 Kehilangan berat OSB akibat serangan rayap kayu kering ... 27

8 Mortalitas rayap kayu kering ... 29

9 Bubuk kayu kering (Anobium sp.) ... 31

(15)

v

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1 Persentase rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB terhadap

serangan rayap tanah (C. curvignathus Holmgren) ... 39 2 Persentase rata-rata mortalitas rayap tanah

(C. curvignathus Holmgren) ... 40 3 Persentase rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB terhadap

serangan rayap kayu kering (C. cynocephalus Light) ... 41 4 Persentase rata-rata mortalitas rayap kayu kering

(C. cynocephalus Light) ... 42 5 Persentase rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB terhadap

serangan bubuk kayu kering (Anobium sp.) ... 43 6 Bentuk kerusakan OSB dan kontrol bambu akibat serangan rayap

tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren) ... 44 7 Bentuk kerusakan OSB dan kontrol bambu akibat serangan rayap

kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light) ... 45 8 Bentuk kerusakan kontrol bambu akibat serangan bubuk

(16)
(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Selama ini, bambu sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, mulai dari alat untuk berburu di hutan, peralatan rumah tangga, alat musik sampai bahan konstruksi bangunan. Bambu tergolong hasil hutan bukan kayu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tidak berlebihan apabila dikatakan bambu sebagai tanaman serbaguna. Karena perannya sebagai tumbuhan serbaguna, bambu dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kayu. Dengan mengganti kayu dengan bambu, diharapkan penggunaan kayu berkurang dan akhirnya dapat mengurangi penebangan hutan.

Karena jumlahnya melimpah di Indonesia, maka diperlukan teknologi untuk meningkatkan kualitas dari penggunaan bambu. Saat ini, teknologi yang banyak dikembangkan adalah dengan dibuatnya produk komposit. Salah satu produk komposit yang dapat berfungsi sebagai papan struktural adalah oriented strand board (OSB). OSB merupakan produk papan komposit struktural yang diproduksi dari partikel berbentuk strand dan perekat thermosetting tahan air (waterproof). Dalam pembentukan lapik (mats), arah serat masing-masing strand diatur agar arah serat lapisan permukaan tegak lurus terhadap arah serat lapisan inti sehingga memiliki kekuatan dan karakteristik seperti kayu lapis (SBA 2005). Produk komposit dibuat karena produk dapat dibuat dengan berbagai ukuran yang diinginkan.

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki tingkat kelembaban tinggi, sehingga kecenderungan akan kerusakan kayu menjadi semakin besar, seperti serangan jamur, lapuk oleh cuaca, dan serangan organisme perusak seperti rayap dan kumbang bubuk. Kerusakan yang ditimbulkan oleh organisme perusak seperti rayap dan kumbang dirasa sangat merugikan, karena wilayah jelajah serangga ini yang sangat luas.

Penelitian mengenai keawetan papan OSB bambu ini mengacu pada penelitian Naiborhu (2010) yang membandingkan OSB dari susunan tiga jenis bambu yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl.), bambu andong (Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro), dan bambu betung (Dendrocalamus

(18)

2

asper (Schult.F) Backer ex. Heyne) sebagai bahan untuk membuat OSB dalam kadar penggunaan perekat MDI yang berbeda. Kadar perekat yang digunakan dalam penelitian Naiborhu (2010) adalah sebesar 4% dan 5%. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan kadar perekat MDI sebesar 5% memiliki sifat fisis dan mekanis yang lebih baik dibandingkan pada penggunaan kadar perekat 4%. Namun pada penelitian Naiborhu (2010) tidak diuji keawetan OSB, maka pada penelitian ini dilakukan pengujian keawetan OSB bambu dengan kadar perekat MDI 5% terhadap serangan rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren), rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light), dan kumbang.

1.2 Tujuan Penelitian

Mengetahui sifat ketahanan OSB dari tiga jenis bambu terhadap serangan rayap tanah dan rayap kayu kering skala laboratorium, serta terhadap serangan kumbang secara semi lapang dengan pengumpanan alami.

1.3 Manfaat Penelitian

Dapat memberikan informasi sifat ketahanan OSB dari susunan tiga jenis bambu dengan kadar perekat MDI 5% terhadap organisme perusak kayu yaitu rayap tanah, rayap kayu kering, dan kumbang (bubuk kayu kering).

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Oriented Strand Board (OSB)

Oriented Strand Board (OSB) merupakan papan yang diproduksi untuk penggunaan struktural terbuat dari untaian (strand) kayu yang sengaja diorientasikan secara bersilangan sehingga kekuatannya sama atau lebih dari kekuatan kayu lapis (plywood) dan memiliki sifat tahan air (waterproof) sehingga dapat digunakan untuk keperluan eksterior (Nuryawan dan Massijaya 2006).

Bahan berlignoselulosa pada umumnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan OSB. Namun demikian, kayu, terutama yang memiliki berat jenis (BJ) 0.35-0.65 lebih disukai dan disarankan (Tambunan 2000).Haygreen dan Bowyer (2003) menyatakan bahwa kayu yang banyak digunakan untuk memproduksi OSB adalah kayu dengan kerapatan rendah sampai sedang karena kayu dengan kerapatan tinggi sukar ditangani dan harganya lebih mahal.Sedang kayu berkerapatan sedang lebih disukai karena lebih mudah dikempa menghasilkan kontak sempurna antar strand. Kandungan zat ekstraktif tinggi dari suatu jenis kayu menyebabkan masalah dalam pengerasan perekat dan menimbulkan blister yaitu bagian tengah papan terdapat ruang kosong akibat tekanan gas internal zat ekstraktif yang mudah menguap.

Dalam pembuatan OSB, peranan perekat tidak boleh diabaikan karena OSB merupakan papan yang tersusun atas beberapa strand kayu tipis yang diikat bersama menggunakan perekat resin tahan air (waterproof) yang dikempa panas dan digunakan untuk keperluan struktural (Youngquist 1999). Terdapat dua jenis perekat yang umum digunakan dalam pembuatan OSB, yaitu resin Phenol Formaldehyde (PF) dan perekat Methylene di-phenil di-Isocyanate (MDI) (SBA 2005).

Keunggulan OSB diantaranya (Nelson dan Kelly 1998 diacu dalam Nuryawan dan Massijaya 2006) :

1. Jalinan strand pada tiap lapisannya memperbaiki sifat kuat pegang sekrup dan kuat pegang paku.

(20)

4

2. OSB dengan lapisan tipis dapat digunakan sebagai inti (core) kayu lapis atau dapat dilapisi Medium Density Fiberboard (MDF) untuk meningkatkan penampilan produk.

3. Biaya yang rendah dalam produksi dan dimensi yang bervariasi sangat ideal sebagi bahan furnitur.

4. OSB lebih fleksibel dalam dimensi dan sifat struktural untuk penggunaan spesifik dibandingkan kayu lapis.

5. Biaya bahan baku pada OSB untuk skala besar atau kecil sama, sementara pada kayu lapis semakin besar log sebagai bahan baku maka akan meningkatkan kelangkaan dan meningkatkan biaya.

6. OSB memiliki sifat fisik yang lebih konsisten dibandingkan kayu solid, hal ini dikarenakan kayu solid memiliki sifat anisotropis.

7. Penggunaan strand sebagai komponen penyusun OSB mengurangi kehadiran cacat kayu (mata kayu, berlubang, dan lain-lain).

8. Pemberian bahan pelapis pada OSB akan meningkatkan sifat mekanis hingga 10-15%, sementara pemberian cat (bahan plinkut) akan mengurangi pengembangan dan pecahnya flake.

Selain keunggulan tersebut, terdapat beberapa kelemahan OSB yaitu (Nelson dan Kelly 1998 dalam Nuryawan dan Massijaya 2006) :

1. Secara umum OSB tidak dapat dibuat moulding, karena semua sisi-sisinya relatif kasar dan biasanya terdapat lapisan plinkut (bahan penolak air).

2. Faktor pembatas dimensi OSB adalah peralatan proses, sementara pada kayu lapis adalah ukuran vinir.

3. Pengalaman di USA dan Canada, sifat-sifat struktural OSB kurang stabil pada temperature dan kelembaban yang bervariasi.

4. Industrinya menghasilkan limbah padat berupa partikel halus dan sisa penggergajian sisi (trimming).

(21)

5

Spesifikasi sifat fisis dan mekanis dari OSB menurut standar JIS A 5908 (2003) dan CSA 0437.0 (Grade O-2) disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Sifat fisis dan mekanis papan partikel dan OSB

Sifat Papan JIS A 5908 (2003) CSA 0437.0 (Grade O-2)* Kerapatan (g/cm3)

Kadar Air (%)

Tickness Swelling (%) Daya Serap Air (%)

MOE sejajar serat (Kg/cm2) MOE tegak lurus serat (Kg/cm2) MOR sejajar serat (Kg/cm2) MOR tegak lurus serat (Kg/cm2) Internal Bond (Kg/cm2)

Kuat Pegang Sekrup (Kg)

0,4 – 0,9 5 – 13 ≤ 25 - 40800 13260 245 102 3,06 51 - - ≤ 15 - 56084,39 15295,74 295,72 126,44 3,52 *Structural Board Asociation (2005)

2.2 Jenis Bambu yang Digunakan

Bambu merupakan tanaman berumpun dan dimasukkan ke dalam famili Gramineae. Di dunia diketahui ada 1250 jenis bambu berasal dari 75 marga menurut Sharma (1980) yang diacu dalam Departemen Kehutanan (2009).

2.2.1 Bambu Ampel (Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl.)

Bambu ampel terdiri atas dua varietas yaitu varietas hijau yang digunakan sebagai pagar, bangunan dan industri mebel. Sedangkan varietas yang kuning umumnya digunakan sebagai tanaman hias (Febriyani 2008). Menurut Dransfield dan Widjaja (1995) bambu ampel ditanam hampir di semua kota di pulau Jawa dan tumbuh di daerah yang sangat kering atau lembab atau dapat tumbuh juga di daerah yang tergenang air 2-3 bulan. Bambu ampel mempunyai rumpun yang simpodial, tumbuh tegak dan tidak terlalu rapat. Rebungnya berwarna kuning atau hijau tertutup bulu coklat hingga hitam. Buluh bambu ini tingginya mencapai 20 m, tegak atau agak berbuku-buku, dengan percabangan 1,5 m dari permukaan tanah, setiap ruas terdiri atas 2-5 cabang dimana satu cabang lebih besar dari cabang yang lainnya. Buluh muda berwarna hijau mengkilap atau kuning bergaris-garis hijau, panjang ruasnya 20-45 cm dengan diameter 5-10 cm dan berdinding tebal 15-17 cm. Pelepah buluhnya mudah luruh, tertutup bulu hitam hingga

(22)

6

coklat tua, kuping pelepah buluh kecil, membulat dengan ujung melengkung keluar. Daun dari bambu ini berukuran (9-30 x 1-4) cm dan gundul.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningsih (1997) yang diacu dalam Manuhuwa dan Laiwatu (2006)kadar alfa-selulosa bambu ampel (Bambusa vulgaris) sebesar 40,39% dan kadar ekstraktif larut dalam alkohol benzena sebesar 3,20%.

Menurut Kusumaningsih (1997) yang diacu dalam Manuhuwa dan Laiwatu (2006), jumlah pati bambu ampel (Bambusa vulgaris) lebih tinggi dibandingkan bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea) dan bambu apus (Gigantochloa apus), sehingga bambu ampel mengalami kerusakan yang lebih banyak oleh serangan kumbang bubuk.

2.2.2 Bambu Andong (Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro)

Bambu andong berbentuk simpodial dengan tinggi batang 7-30 m, diameter 5-13 cm dan ketebalan dinding mencapai 2 cm. Dimensi serat bambu andong memiliki panjang 2,75-3,25 mm, diameter 24,55-37,97 µm dan jumlah serat akan bertambah sekitar 10% dari pangkal ke ujung batang. Penyebarannya secara luas di Jawa, Bali, Sumatera dan Pulau Mentawai. Bambu andong hidup pada daerah dengan ketinggian 0-700 mdpl yang beriklim kering. Berat jenis 0,5-0,7 (antar ruas) dan 0,6-0,8 (ruas). Nilai MOE bambu andong sebesar 19,440-28,594 N/mm2 dan nilai keteguhan tarik adalah sebesar 128-192 N/mm2 (Dransfield dan Widjaja 1995).

2.2.3 Bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schult.F) Backer ex. Heyne) Bambu betung dapat tumbuh baik pada tempat-tempat mulai dari dataran rendah sampai daerah ketinggian 2000 mdpl. Bambu ini mempunyai rumpun yang agak sedikit rapat dengan tinggi pembuluh sampai 20 m dan bergaris tengah sampai 20 cm. Buku-bukunya sering mempunyai akar pendek yang bergerombol. Panjang ruas 40-60 cm dengan dinding buluh yang cukup tebal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Syafi’i (1984) yang diacu dalam Prasojo (2005), bambu betung mempunyai sifat fisis dan mekanis yang lebih baik dari jenis bambu lain.

(23)

7

Menurut penelitian yang dilakukan Dransfield dan Widjaja (1995), perkiraan dimensi serat dari batang adalah panjang 3,78 mm, diameter 19 µm, lebar lumen 7 µm dan tebal dinding 6 µm. Rata-rata kadar air dari batang bambu segar adalah 55% dan kadar air kering udara sebesar 15%. Berat jenis bambu betung sebesar 0,7 dengan penyusutan radial 5-7% dan tangensial 3,5-5%. Perkiraan kandungan holoselulosa dari batang adalah sebesar 53%, pentosan 19%, lignin 25%, abu 3%, kelarutan dalam air dingin 4,5%, kelarutan dalam air panas 6%, dalam alkohol benzena 1% dan dalam NaOH sebesar 22%.

Pada batang dalam keadaan basah (kadar air55%), modulus patah (MOR) adalah 81.6 N/mm2 dan modulus patah (MOR) dalam keadaan kering udara (kadar air 15%) adalah sebesar 103 N/mm2. Keteguhan tekan sejajar serat adalah 22,8 N/mm2 dan 3,14 N/mm2 serta keteguhan belah 6,96 N/mm2 dan 7,25 N/mm2. Perbandingan dari bagian rebung yang dikonsumsi sekitar 34%, berat rata-rata sebelum dikupas adalah 5,4 kg dan berat setelah dikupas adalah 1,8 kg.

2.3 Methylene diphenil diisocyanate (MDI)

Perekat Isocyanate berbahan dasar MDI telah dikembangkan sebagai bahan penguat ikatan.Hal ini dikembangkan juga untuk mengurangi atau mengeliminir emisi formaldehid dan meningkatkan sifat-sifat papan (Holfinger 1990).Perekat MDI pertama kali digunakan untuk produk komersil seperti waferboard pada tahun 1985.Sejak saat itu, penggunaan MDI terus berkembang sehingga saat ini sekitar 15-20% pasar OSB dan waferboard menggunakannya.

Komposisi perekat isocyanate yang digunakan secara umum terdiri atas :isocyanate yang umumnya berupa methylene diphenil diisocyanate (MDI), hidrogen aktif yang umumnya berupa polyester polyol, polyether polyol, dan polyglicol. Senyawa polyol sendiri berupa polycarpo lactones dan hydroxyl alam yang mengandung minyak, sebagai katalis biasanya polyamine serta bahan aditif.Selain dalam bentuk tunggal, perekat tersebut juga biasa dikemas dalam dua komponen yang terdiri dari komponen isocyanate dan komponen polyol (Petrie 2004).

(24)

8

Keuntungan menggunakan perekat isocyanat dibandingkan perekat berbahan dasar resin adalah dibutuhkan dalam jumlah sedikit untuk memproduksi papan dengan kekuatan yang sama, dapat menggunakan suhu kempa yang lebih rendah, memungkinkan penggunaan kempa yang lebih cepat, lebih toleran pada partikel berkadar air tinggi, energi untuk pengeringan lebih sedikit dibutuhkan, stabilitas dimensi papan yang dihasilkan lebih stabil, dan tidak ada emisi formaldehyde (Marra 1992).

MDI juga berpotensi memaksimalkan sifat fisis penampilan panel OSB, mengefisienkan proses, menguntungkan karena lebih cepat matang (curing) dan terikat kuat (bonding) yang berimplikasi pada biaya produksi (energi) lebih rendah, penampilan fisik papan bersih dan tidak ada emisi formaldehyda (Wikimedia 2006 diacu dalam Nuryawan dan Massijaya 2006).

2.4 Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren)

Rayap adalah serangga pemakan selulosa yang termasuk ke dalam Ordo Blatodea, tubuhnya berukuran kecil sampai sedang, hidup dalam kelompok sosial dengan sistem kasta. Dalam setiap koloni rayap, umumnya terdapat tiga kasta, yaitu kasta pekerja, kasta prajurit, dan kasta reproduktif (Borror et al., 1992). Menurut Supriana (1994), kasta pekerja umumnya berjumlah paling banyak dalam koloni dan berfungsi sebagai pencari dan pemberi makan bagi seluruh anggota reproduktif (raja atau ratu) yang berfungsi untuk berkembang biak, dan kasta prajurit berfungsi untuk menjaga koloni dari serangan musuh, seperti semut. Makanan dari kasta pekerja disampaikan kepada kasta prajurit dan kasta reproduktif melalui anus atau mulut.

Menurut Nandika et al. (2003), di dalam hidupnya rayap mempunyai 4 sifat yang khas, yaitu:

1. Trophalaksis, yaitu sifat rayap untuk saling menjilat dan melakukan pertukaran makanan melalui anus dan mulut.

2. Cryptobiotic, yaitu sifat menyembunyikan diri, menjauhkan diri dari cahaya dan gangguan. Sifat ini tidak berlaku pada rayap yang bersayap.

3. Cannibalism, yaitu sifat rayap untuk memakan sesamanya yang telah lemah atau sakit. Sifat ini menonjol dalam kedaan kekurangan makanan.

(25)

9

Rayap tanah merupakan rayap yang masuk ke dalam kayu melalui tanah atau lorong-lorong pelindung yang dibangunnya. untuk hidupannya diperlukan kelembaban tertentu secara tetap. Oleh karena itu, untuk mendapatkan persediaan air, rayap selalu berhubungan dengan tanah dan membuat sarang di dalam tanah (Nandika et al., 2003).

Menurut Tarumingkeng (2001), rayap tanah merupakan serangga sosial yang hanya dapat hidup jika berada di dalam koloninya. Karena di dalam koloninya terdapat bahan-bahan dan proses-proses yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Rayap tanah sangat ganas dan dapat menyerang obyek-obyek berjarak 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa sentimeter, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Jenis rayap ini biasannya menyerang kayu yang berhubungan dengan tanah, misalnya bantalan rel kereta api ataupun tiang listrik. Meskipun demikian rayap ini juga menyerang kayu yang tidak berhubungan dengan tanah melalui terowongan yang dibuat dari dalam tanah.

Ada dua famili rayap tanah di Indonesia, yaitu Rhinotermitidae dan Termitidae. Rayap tanah mudah menyerang kayu sehat atau kayu busuk yang ada di dalam atau di atas tanah lembab, juga dapat membentuk saluran-saluran yang terlindung pada pondasi-pondasi atau penghalang-penghalang lain yang tidak dapat ditembus serta dapat mendirikan sarang berbentuk seperti menara langsung dari tanah. Saluran-saluran dan menara-menara yang terbuat dari tanah yang halus dan kaya akan dicerna sebagian, kemudian direkatkan bersama dengan ekskresi serangga, memungkinkan rayap tersebut menciptakan kondisi kelembaban dalam kayu yang cocok. Jika tidak, kayu akan kering sehingga tahan terhadap serangan dari jenis rayap ini (Hunt & Garratt 1986).

Rayap tanah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan pronotum kuning pucat; antena terdiri dari 15 segmen, segmen kedua dan keempat sama panjangnya; mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung di ujungnya, batas antar sebelah dalam dari mandibel sama sekali rata; panjang kepala dengan mandibel 2,46-2,66 mm, panjang kepala tanpa mandibel 1,56-1,68 mm; lebar kepala 1,40-1,44 mm dengan lebar pronotum

(26)

1,00-10

1,03 mm dan panjangnya 0,56 mm, panjang badan 5,5-6,0 mm, bagian abdomen ditutupi dengan rambut yang menyerupai duri, dan abdomen berwarna putih kekuning-kuningan (Nandika et al., 2003).

2.5 Rayap Kayu Kering (Cryptotermes cynocephalus Light)

Rayap kayu kering adalah rayap yang dapat memasuki kayu yang terbuka di atas tanah secara langsung dari udara. Dinamakan rayap kayu kering karena jenis rayap ini masih mampu hidup dalam kayu berkadar air relatif rendah sekitar 5-6%. Rayap kayu kering mempunyai kepala coklat gelap berwarna kemerah-merahan dengan antena 11 segmen. Segmen kedua lebih panjang dari segmen lainnya. Panjang kepala dengan mandibel 0,87-0,97 mm. Panjang mandibel 0,50-0,57 mm. Panjang labrum 0,10-0,11 mm dan lebarnya 0,16-0,17 mm (Nandika et al. 2003).

Rayap ini termasuk Famili Kalotermitidae dan biasa menyerang kayu-kayu yang kering, kayu-kayu yang tidak lapuk termasuk kayu-kayu struktur bangunan, perabot rumah tangga dan tempat penyimpanan kayu. Kalotermitidae diwakili oleh Neotermes tectonae (hama pohon jati) dan Cryptotermes sp. (rayap kayu kering).Koloni rayap kayu kering berkembang sangat lambat dan maksimum anggota koloni berjumlah sedikit. Jumlah anggota koloni yang berumur 4 tahunan kurang dari 1000 ekor, sedangkan koloni yang sudah tua (berumur 10-15 tahun) anggotanya berjumlah ± 3000 ekor. Untuk hidup, rayap kayu kering tidak memerlukan tempat yang lembab dan tidak pernah masuk ke dalam tanah.

Dalam Yusuf dan Utomo (2006) dijelaskan bahwa cara penyerangan rayap kayu kering tidak mudah dideteksi sebab hidupnya terisolir di dalam kayu kering yang berfungsi sebagai sarangnya. Tanda serangan rayap ini adalah terdapatnya butiran-butiran kecil halus, kecoklatan dengan ujung yang bulat di sekitar kayu yang terserang. Sering terlihat secara kasat mata bahwa kayu terlihat masih utuh dan mulus, namun apabila ditekan/diketuk permukaannya maka kayu akan pecah sebab telah keropos di dalamnya, serta adanya serangan dapat dikenali dari struktur kayu yang menjadi tidak rata dan meninggalkan kotoran berbentuk butiran-butiran kecil.

(27)

11

2.6 Kumbang Bubuk

Ordo Coleoptera merupakan bagian terbesar dari kelas Insecta, dengan jumlah spesies kira-kira 350.000 atau 40% dari jumlah spesies serangga. Ordo ini terdiri dari 110 famili dimana 9 diantaranya merupakan faktor penting dalam deteriorasi kayu. Ciri utama dari anggota ini yaitu mempunyai dua pasang sayap, dimana sayap depannya tebal dan keras (ellytra) sedangkan sayap belakang berupa membran (selaput tipis), metamorfosa sempurna dan bagian-bagian mulut berkembang sempurna dengan tipe mengunyah. Larva dari serangga-serangga ini menggali dalam kayu untuk mendapatkan makanan dan berlindung, dan meninggalkan bagian-bagian kayu yang tidak dicerna dalam bentuk bubuk-bubuk halus. Anggota-anggota dari ordo Coleoptera sering disebut bubuk, dan dibagi menjadi dua golongan yaitu bubuk kayu kering dan bubuk kayu basah (Nandika et al. 2003).

2.6.1 Bubuk Kayu Kering

Disebut bubuk kayu kering (powder post beetles) karena larva dari jenis ini menggerek kayu dan eksremen-eksremen yang dihasilkan bentuknya halus menyerupai tepung. Bubuk kayu kering ini hanya terdapat pada jenis kayu yang kering. Kollman (1968) dalam Tambunan dan Nandika (1989) dikemukakan bahwa famili yang terpenting dalam ordo ini adalah Lyctidae, Anobidae, Cerambycidae dan Bostrichidae.

2.6.1.1 Famili Lyctidae

Penyebaran famili ini sangat luas, hampir di seluruh tempat di dunia ini (kosmopolitan). Anggota famili ini berwarna merah kecoklat-coklatan, panjang badan rata-rata 2 sampai 7 mm tergantung dari spesiesnya. Kumbang ini hanya merusak kayu gubal, serta kayu-kayu yang kelas awetnya rendah.

2.6.1.2 Famili Anobidae

Famili ini dikenal sebagai “the furniture beetles” dan “death watch beetles”. Kayu yang dirusak biasanya kayu tua termasuk kayu lapis. Lubang gerek kecil, bulat dan mengeluarkan eksremen berbentuk tepung. Larvanya kecil, panjang rata-rata 8,5 mm berbentuk huruf “c” (eruciform), berwarna keputih-putihan. Bagian punggungnya berduri

(28)

12

kecil-kecil, bentuk kepala bulat, mulut terletak dibagian bawah, kaki pada torax dan beruas lima.

2.6.1.3 Famili Cerambicydae

Famili ini sering disebut “longhorned beetles” atau “round headed borers”, dan merupakan famili yang sangat besar (lebih kurang 13.000 spesies). Beberapa spesies ini menyerang pohon kayu yang hidup dan juga pernah ditemukan menyerang kayu-kayu bangunan. Larva dewasa panjangnya mencapai 35 mm. Larva ini melubangi kayu gubal dari beberapa jenis konifer sebelum menjadi pupa.

2.6.1.4 Famili Bostrichidae

Famili ini sering disebut “anger” atau “shot hole borers”. Bentuk larva kecil dengan panjang 6,35 mm sampai 19,1 mm, berwarna putih dan berbentuk eruciform serta kepala yang berbentuk bulat. Famili ini menyerang kayu yang mempunyai kelas awet rendah, dan memakan zat tepung yang terdapat pada kayu-kayu tersebut. Serangannya pada kayu menyerupai serangan yang ditimbulkan oleh Lyctus, tetapi salurannya lebih besar, rata-rata berdiameter 2,5 mm sampai 3,2 mm.

2.6.2 Bubuk Kayu Basah

Serangga bubuk kayu basah sering disebut Ambrosia beetles atau “pin-hole borers”. Ambrosia beetles hidup dari fungi (mold) yang hidup pada dinding lubang-lubang yang dibuatnya pada kayu. Bubuk ini banyak menyerang kayu yang baru ditebang. Umumnya untuk dapat hidup, kumbang ini membutuhkan kadar air di atas 40% , sedangkan pada kadar air di bawah 25% kumbang akan mati.

(29)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan yaitu mulai dari bulan Juni 2011 sampai dengan bulan Oktober 2011 bertempat di Laboratorium Biokomposit dan Laboratorium Bagian Kimia Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

3.2 Prosedur Kerja

Pada pengujian keawetan OSB bambu digunakan OSB susunan dari jenis bambu betung (Dendrocalamus asper (Schult.F) Backer ex. Heyne), bambu andong (Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro), dan bambu ampel (Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl.) dengan kadar perekat MDI 5%. Susunan OSB dapat dilihat pada Tabel 2 dan bentuk OSB dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 2 Susunan OSB dari tiga jenis bambu

Susunan Keterangan

BBB Betung – Betung – Betung BGB Betung – Andong – Betung BLB Betung – Ampel – Betung GGG Andong – Andong – Andong GBG Andong – Betung – Andong GLG Andong – Ampel – Andong

LLL Ampel – Ampel – Ampel LBL Ampel – Betung – Ampel LGL Ampel – Andong – Ampel

(30)

14

3.2.1 Uji SNI 01-7207-2006 (Pengujian terhadap rayap tanah) A. Bahan dan Alat

Dalam pengujian ketahanan terhadap serangan rayap tanah dipergunakan bahan-bahan yang terdiri dari rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren) kasta pekerja sebanyak 200 ekor per botol uji, pasir steril, aluminium foil dan air destilata. Sedangkan peralatan yang dipergunakan terdiri dari botol kaca/ jampot dengan diameter 5 cm dan tinggi 14 cm, timbangan elektrik, dan oven.

B. Persiapan

Contoh uji OSB bambu dengan tebal 1 cm dan kadar perekat MDI 5% dipotong dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 4 kali, sehingga didapat 36 sampel OSB. Untuk contoh uji kontrol bambu betung, ampel dan andong dibuat secara acak tanpa memperhatikan perbedaan bagian pangkal, tengah dan ujung dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm dan tebal disesuaikan. Ulangan pengujian dibuat sebanyak 4 kali sehingga terdapat 12 sampel kontrol.

Sedangkan contoh uji kontrol kayu karet dibuat secara acak tanpa memperhatikan perbedaan bagian gubal dan teras kayu, dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 0,5 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 4 kali, sehingga terdapat 4 sampel kontrol. Contoh uji OSB, kontrol bambu dan karet dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2o C untuk mendapatkan nilai berat kayu sebelum pengujian (W1) serta dilakukan pengovenan pada botol uji dan

pasir yang akan digunakan sebagai media uji agar steril. C. Prosedur Kerja

Contoh uji dimasukkan kedalam botol uji kaca, dengan posisi berdiri dan disandarkan sehingga salah satu bidang terlebar menyentuh dinding botol uji (Gambar 2). Ke dalam botol uji dimasukkan 200 gram pasir dan ditambahkan air sebanyak 50 ml (kadar air pasir 25%) dari sisi bersebelahan dengan kayu. Sebanyak 200 ekor rayap tanah dari kasta pekerja dimasukkan ke dalam botol, kemudian botol uji ditutup dengan aluminium foil dan diletakkan ditempat gelap selama 4 minggu.

(31)

15

Setiap minggu aktivitas rayap dalam botol uji diamati dan masing-masing botol uji ditimbang. Jika kadar air pasir turun kurang lebih 2%, maka ke dalam botol uji ditambahkan air secukupnya sehingga kadar airnya kembali seperti semula (25%). Setelah 4 minggu botol uji dibongkar, dilakukan penghitungan rayap yang masih hidup. Sedangkan contoh uji kayu dicuci dan dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2o C kemudian ditimbang untuk memperoleh beratnya (W2).

Gambar 2 Pengujian ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah yang

dilakukan berdasarkan standar SNI 01. 7207-2006. D. Pernyataan Hasil

Hasil dinyatakan berdasarkan penurunan berat dan dihitung dengan menggunakan persamaan:

Keterangan:

WL = Kehilangan berat contoh uji kayu (%)

W1 = Berat kering oven kayu sebelum diumpankan (g)

(32)

16

Penentuan ketahanan kayu berdasarkan Tabel Klasifikasi Ketahanan Kayu terhadap Rayap Tanah Berdasarkan Penurunan Berat (Tabel 2). Hasil merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan contoh uji.Dalam standar SNI 01.7202-2006 tidak dilakukan pengamatan terhadap mortalitas rayap.

Selanjutnya tingkat ketahanan contoh uji berdasarkan indikator kehilangan berat dihitung dari nilai rata-rata keseluruhan contoh uji dengan menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia. Klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah Kelas Ketahanan Kehilangan Berat (%)

I Sangat Tahan < 3,52 II Tahan 3,52 – 7,5 III Sedang 7,5 – 10,96 IV Buruk 10,96 – 18,94 V Sangat Buruk 18,94 – 31,89 Sumber : SNI 01. 7207-2006

Selain itu, pada penelitian ini dilakukan pengamatan mortalitas rayap untuk mengetahui perbedaan mortalitas rayap dari kedua standar pengujian tersebut. Dengan mengadopsi rumus yang ada di JIS maka mortalitas rayap dihitung dengan menggunakan rumus:

dengan pengertian:

MR = Mortalitas rayap (%)

D = Jumlah rayap yang mati (ekor)

(33)

17

3.2.2 Uji SNI 01-7207-2006 (Pengujian terhadap rayap kayu kering) A. Bahan dan Alat

Dalam pengujian ketahanan terhadap serangan rayap kayu kering dipergunakan bahan-bahan yang terdiri dari rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.) kasta pekerja sebanyak 50 ekor per semprong uji, kapas dan lilin.Sedangkan peralatan yang dipergunakan terdiri dari semprong kaca berdiameter 1,8 cm dan tinggi 3 cm, timbangan elektrik dan oven.

B. Persiapan

Contoh uji OSB bambu dengan kadar perekat MDI 5% dipotong dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm x 1 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali, sehingga didapat 27 sampel OSB.Contoh uji kontrol bambu betung, ampel, dan andong dibuat secara acak tanpa memperhatikan perbedaan bagian pangkal, tengah dan ujung dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm dan tebal disesuaikan. Ulangan pengujian dibuat sebanyak 3 kali sehingga terdapat 9 sampel kontrol. Contoh uji OSB dan kontrol dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2o C untuk mendapatkan nilai berat kayu sebelum pengujian (W1)

serta dilakukan pengovenan pada semprong kaca sebagai media uji agar steril. C. Prosedur Kerja

Semprong kaca diletakkan diatas contoh uji dengan posisi berdiri (Gambar 2). Semprong kaca yang diletakkan di atas contoh uji kemudian direkatkan menggunakan lilin. Sebanyak 50 ekor rayap kayu kering dari kasta pekerja dimasukkan ke dalam semprong, kemudian semprong uji ditutup dengan kapas dan diletakkan ditempat gelap selama 12 minggu.

Setiap minggu aktivitas rayap dalam semprong uji diamati.Setelah 12 minggu semprong uji dibongkar, dilakukan penghitungan rayap yang masih hidup. Sedangkan contoh uji kayu dibersihkan dari kotoran yang melekat dan dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2o C kemudian ditimbang untuk memperoleh beratnya (W2).

(34)

18

(a) (b)

Gambar 3 Pengujian ketahanan OSB bambu (a) dan bambu utuh (b) terhadap serangan rayap kayu kering yang dilakukan berdasarkan standar SNI 01.7207-2006

E. Pernyataan Hasil

Hasil dinyatakan berdasarkan penurunan berat dan dihitung dengan menggunakan persamaan:

Keterangan:

WL = Kehilangan berat contoh uji kayu (%)

W1 = Berat kering oven kayu sebelum diumpankan (g)

W2 = Berat kering oven kayu setelah diumpankan (g)

Penentuan ketahanan kayu berdasarkan Tabel Klasifikasi Ketahanan Kayu terhadap Rayap Tanah Berdasarkan Penurunan Berat (Tabel 3). Hasil yang didapat merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan contoh uji. Dalam standar SNI 01.7202-2006 tidak dilakukan pengamatan terhadap mortalitas rayap. Selain itu, pada penelitian ini dilakukan pengamatan mortalitas rayap untuk mengetahui perbedaan mortalitas rayap dari kedua standar pengujian tersebut.

Selanjutnya tingkat ketahanan contoh uji berdasarkan indikator kehilangan berat dihitung dari nilai rata-rata keseluruhan contoh uji dengan

(35)

19

menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia. Klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap kayu kering Kelas Ketahanan Kehilangan Berat (%)

I Sangat Tahan <2,0 II Tahan 2,0 – 4,4 III Sedang 4,4 – 8,2 IV Buruk 8,2 – 28,1 V Sangat Buruk > 28,1 Sumber : SNI 01. 7207-2006

Dengan mengadopsi rumus yang ditetapkan standar JIS maka mortalitas rayap dihitung dengan menggunakan rumus:

dengan pengertian:

MR = Mortalitas rayap (%)

D = Jumlah rayap yang mati (ekor)

50 = Jumlah rayap pekerja pada awal pengujian (ekor)

3.2.3 Pengujian Terhadap Kumbang secara Semi Lapang A. Bahan dan Alat

Dalam pengujian ketahanan terhadap serangan kumbang dipergunakan bahan yang terdiri dari alkohol 70%. Sedangkan peralatan yang dipergunakan terdiri dari bak plastik, lembaran kawat dengan ukuran lubang kawat 0,5 cm x 0,5 cm, timbangan elektrik dan oven.

B. Persiapan

Contoh uji OSB bambu dengan kadar perekat MDI 5% dipotong dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 1 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali, sehingga didapat 27 sampel OSB. Contoh uji kontrol bambu betung, ampel dan andong dibuat secara acak tanpa memperhatikan perbedaan bagian pangkal, tengah dan ujung dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm dan tebal disesuaikan. Ulangan pengujian dibuat sebanyak 3 kali sehingga terdapat 9 sampel kontrol. Kemudian, contoh uji OSB dan kontrol dioven selama 48 jam

(36)

20

dengan suhu 60 ± 2o C untuk mendapatkan nilai berat kayu sebelum pengujian (W1).

C. Prosedur kerja

Contoh uji dimasukkan kedalam bak plastik, dengan susunan acak dan posisi mendatar (Gambar 4), bak plastik yang berisi contoh uji ditutup menggunakan lembaran kawat dengan ukuran lubang kawat 0,5 cm x 0,5 cm. Bak plastik kemudian diletakkan di atas tumpukan papan partikel, papan serat serta papan OSB yang diduga terserang oleh larva kumbang.

Gambar 4 Pengujian keawetan terhadap serangan kumbang bubuk dengan pengumpanan alami.

Setiap minggu bak plastik diamati apakah ada tanda-tanda serangan oleh kumbang yang dilihat dari ada atau tidaknya bubuk halus pada sisi contoh uji. Setelah 20 minggu contoh uji dalam bak plastik dibongkar, dilakukan identifikasi jenis kumbang yang menyerang dengan memasukkan larva kumbang yang berwarna hitam ke dalam botol berisi alkohol 70% dan difoto menggunakan Digital Video Microscope. Sedangkan contoh uji OSB bambu dibersihkan dari bubuk halus dan dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2o C kemudian ditimbang untuk memperoleh beratnya (W2).

(37)

21

D. Pernyataan Hasil

Hasil dinyatakan berdasarkan penurunan berat dan dihitung dengan menggunakan persamaan:

Keterangan:

WL = Kehilangan berat contoh uji kayu (%)

W1 = Berat kering oven kayu sebelum diumpankan (g)

W2 = Berat kering oven kayu setelah diumpankan (g)

3.3 Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 17.0 for Windows Evaluation Version. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan faktor susunan strand yang masing-masing menggunakan 4 kali ulangan untuk pengujian keawetan terhadap rayap tanah, 5 kali ulangan untuk pengujian keawetan terhadap rayap kayu kering dan 3 kali ulangan untuk pengujian keawetan terhadap kumbang. Respon yang diamati untuk pengujian keawetan terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering adalah kehilangan berat papan OSB dan mortalitas rayap, sedangkan pengujian keawetan terhadap kumbang bubuk adalah kehilangan berat papan OSB.

Model rancangan percobaan statistik yang akan digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Yij = µ + Ai + ij

Keterangan:

Yij = Nilai respon pada taraf ke-i faktor susunan tiga jenis bambu dan

ulangan ke-j

(38)

22

Ai = Pengaruh sebenarnya faktor susunan tiga jenis bambu pada taraf

ke-i

i* = LLL, LBL, LGL, GGG, GLG, GBG, BBB, BGB, BLB (L: Ampel, B: Betung, G: Andong)

J = Ulangan 1, 2, 3 (uji kumbang bubuk); j = 1, 2, 3, 4, 5 (uji rayap kayu kering) atau j = 1, 2, 3, 4 (uji rayap tanah)

(39)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keawetan kayu merupakan ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsurperusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk, dan penggerek di laut. Pengujian keawetan OSB bambu dengan kadar perekat MDI 5% dilakukan dengan dua cara yaitu pengujian laboratorium terhadap serangan rayap tanah dan serangan rayap kayu kering serta pengujian semi lapangterhadap kumbang. Indikator yang digunakan untuk pengujian laboratorium adalah persentase kehilangan berat contoh uji dan mortalitas rayap, sedangkan untuk pengujian semi lapang adalah dengan dilakukannya identifikasi jenis kumbang yang menyerang dan persentase kehilangan berat contoh uji.

4.1 Ketahanan OSB terhadap Serangan Rayap Tanah 4.1.1 Kehilangan Berat

Nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB bambu memiliki kisaran nilai sebesar 3,49% sampai 6,72%. Nilai kehilangan berat contoh uji OSB yang paling kecil adalah OSB dengan pola susunan LBL yaitu sebesar 3,49%. Sedangkan OSB yang memiliki nilai kehilangan berat yang paling besar adalah OSB dengan pola susunan BLB yaitu sebesar 6,72%. Untuk nilai kehilangan berat contoh uji kontrol bambu betung memiliki nilai sebesar 4,47%, bambu andong memiliki nilai sebesar 13,79% dan bambu ampel memiliki nilai kehilangan berat sebesar 14,2% (Gambar 5).

Gambar 5 menunjukkan bahwa, untuk OSB yang hanya terdiri dari susunan homogen, yaitu untuk susunan LLL memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan pola susunan GGG dan pola susunan BBB. Hal ini disebabkan oleh bambu ampel yang memiliki kandungan pati yang tinggi. Menurut Kusumaningsih (1997) yang diacu dalam Munuhuwa dan Laiwatu (2006), jumlah pati bambu ampel (B. vulgaris) lebih tinggi dibandingkan bambu betung (D. asper), bambu wulung (G. atroviolacea) dan bambu apus (G. apus). Hal ini didukung oleh nilai kehilangan berat masing-masing kontrol bambu, bambu betung memiliki nilai kehilangan berat yang lebih kecil dibandingkan nilai kehilangan bambu ampel dan bambu andong.

(40)

24

Gambar 5 Nilai rata-rata kehilangan berat OSB bambu dan kontrol bambu utuh terhadap serangan rayap tanah C.curvignathus. Dimana B: Betung, G: Andong, L: Ampel, dan K: Karet.

Menurut FAO (1980) dalam Fatriasari dan Hermiati (2006), kandungan silika bambu ampel sebesar 1,01%, lebih rendah dibandingkan kandungan silika bambu andong sebesar 1,2%, dan kandungan silika bambu betung sebesar 3,51%. Kandungan silika yang tinggi pada bambu betung menyebabkan jenis bambu ini kurang disukai rayap.

Selain karena kandungan kimia di dalam bambu, perekat isocyanate yang melapisi permukaan OSB tidak disukai rayap. Hal ini berpengaruh terhadap aktivitas makan rayap yang berakibat pada nilai kehilangan berat yang relatif kecil pada contoh uji OSB. Perekat isocyanate diduga kurang disukai oleh rayap. Didukung oleh penelitian yang dilakukan Islami (2011), bahwa rayap tanah cenderung tidak menyerang pada bagian yang terdapat perekat isocyanate, melainkan pada bagian sisi yang tidak ada perekatnya.

Menurut tabel klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah berdasarkan penurunan berat sesuai dengan Standar SNI 01. 7207-2006 kontrol bambu tergolong ke dalam kelas IV (buruk). Setelah dibuat produk OSB ketahanan meningkat, yaitu tergolong ke dalam kelas II (tahan).

6,00 6,45 6,72 4,47 6,22 5,79 5,48 13,79 6,67 6,13 3,49 14,2 18,38 0 5 10 15 20 25 BBB BGB BLB B GGG GLG GBG G LLL LGL LBL L K Ke hil ang an B era t (% )

(41)

25

Tabel 5 Analisis sidik ragam kehilangan berat contoh uji OSB bambu terhadap serangan rayap tanah dengan tingkat kepercayaan 95% Source

Type III Sum

of Squares Df Mean Square F Sig. Corrected Model 30,927a 8 3,866 4,589 ,001 Intercept 1245,384 1 1245,384 1478,357 ,000 susunan_strand 30,927 8 3,866 4,589 ,001 Error 22,745 27 ,842 Total 1299,056 36 Corrected Total 53.672 35

a. R Squared = ,576 (Adjusted R Squared = ,451)

Hasil analisis sidik ragam (Tabel 5) menunjukkan bahwa susunan strand memberikan pengaruh yang nyata terhadap respon kehilangan berat contoh uji. Berdasarkan uji lanjut Duncan untuk faktor susunan strand didapat bahwa pola susunan LBL memiliki nilai kehilangan berat yang berbeda nyata terhadap pola susunan OSB lainnya. Sedangkan pola susunan OSB selain pola susunan LBL tidak berbeda nyata satu dengan yang lainnya.

4.1.2 Mortalitas Rayap Tanah

Selain kehilangan berat, indikator lain yang digunakan untuk mengukur tingkat keawetan papan OSB terhadap serangan rayap tanah adalah besarnya mortalitas rayap tanah. Nilai mortalitas rayap tanah ditentukan berdasarkan jumlah rayap tanah yang mati selama proses pengumpanan contoh uji. Semakin banyak jumlah rayap tanah yang mati maka semakin tinggi nilai mortalitasnya.

Nilai rata-rata mortalitas rayap tanah pada contoh uji OSB bambu berkisar antara 98% sampai 100%, yang berarti hampir semua rayap dalam botol uji mati. Begitu juga dengan kontrol bambu yang memiliki nilai mortalitas sebesar 100% untuk semua contoh uji (Gambar 6). Mortalitas rayap tanah yang tinggi pada pengujian menggunakan standar SNI 01. 7207-2006 tidak dapat dikendalikan. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, dimana udara bebas mengandung banyak mikroorganisme yang mempengaruhi kebersihan media uji. Sedangkan saat pengujian, kesterilan media uji yang digunakan sangat dibutuhkan untuk perkembangan rayap selama 4 minggu pengujian.

(42)

26

Gambar 6 Nilai rata-rata mortalitas rayap tanah C. curvignathus Holmgren. Dimana B: Betung, G: Andong, L: Ampel, K: Karet.

Selain itu, makanan yang tersedia terbatas dalam hal ini hanya OSB dan tidak ada alternatif makanan lain sehingga kemungkinan rayap tidak menyukainya dan berakibat terhadap kematian rayap. Pada pengujian laboratorium dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya disajikan pada Tabel 6. Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 6 menunjukkan bahwa susunan strand memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap respon motalitas rayap tanah.Hal ini berarti bahwa nilai rata-rata mortalitas rayap tanah tidak dipengaruhi oleh susunan OSB.

Tabel 6 Analisis sidik ragam mortalitas rayap tanah dengan tingkat kepercayaan 95% 100 100 100 100 98 100 100 100 100 100 98,88 100 99,5 90 92 94 96 98 100 102 104 BBB BGB BLB B GGG GLG GBG G LLL LGL LBL L K R ata -ra ta M ort ali tas (%)

Susunan OSB dan Kontrol Bambu

Source

Type III Sum

of Squares Df Mean Square F Sig. Corrected Model 4,889a 8 ,611 ,907 ,525 Intercept 358701,174 1 358701,174 532504,835 ,000 susunan_strand 4,889 8 ,611 ,907 ,525 Error 18,188 27 ,674 Total 358724,250 36 Corrected Total 23,076 35

(43)

27

4.2 Ketahanan OSB terhadap Serangan Rayap Kayu Kering 4.2.1 Kehilangan Berat

Menurut Tambunan dan Nandika (1989), rayap kayu kering adalah golongan rayap yang biasa menyerang kayu-kayu kering. Sarangnya terletak di dalam kayu dan tidak mempunyai hubungan dengan tanah. Rayap kayu kering dapat bekerja di dalam kayu yang mempunyai kadar air 10% sampai 12% atau lebih rendah. Nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB selama pengumpanan 12 minggu terhadap serangan rayap kayu kering dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Nilai rata-rata kehilangan berat OSB bambu dan kontrol bambu utuh terhadap serangan rayap kayu kering C. cynocephalus Light. Dimana B: Betung, G: Andong, L: Ampel, dan K: Karet.

Nilai rata-rata kehilangan berat OSB terhadap rayap kayu kering berkisar antara 6,67% sampai 9,24%. Nilai rata-rata kehilangan berat tertinggi pada contoh uji dengan susunan OSB LLL sebesar 6,67% dan nilai rata-rata kehilangan berat tertinggi pada contoh uji susunan BGB sebesar 9,24%. Untuk nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji kontrol masing-masing bambu, yaitu bambu betung sebesar 0,28%, bambu andong sebesar 0,98%, dan bambu ampel sebesar 1,07% memiliki nilai rata-rata kehilangan berat yang lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB. Hal ini dikarenakan pada saat dilakukan pengujian, rayap kayu kering diletakkan di permukaan luar bambu.

8,12 7,27 9,24 0,28 8,2 7,38 7,75 0,98 6,76 7,077,32 1,07 0 2 4 6 8 10 12 14 16 BBB BLB BGB B GGG GLG GBG G LLL LBL LGL L Ke hil ang an B era t (% )

(44)

28

Nurriyatin (2000) menjelaskan bahwa jumlah ikatan vaskular pada permukaan bagian luar (outer part) bambu lebih banyak dibandingkan permukaan bagian dalam (inner part) bambu, sehingga kerapatan bambu lebih tinggi di permukaan luar dibandingkan permukaan dalam bambu dan penyebaran pati akan lebih banyak di permukaan bagian dalam dibandingkan permukaan bagian luar bambu. Hal ini yang menyebabkan rayap kayu kering kurang menyukai permukaan bagian luar bambu, sesuai pernyataan Krishna et al. (1970) bahwa rayap akan cenderung menyukai makanan yang banyak mengandung selulosa, mudah digigit, dan mudah dicerna. Dalam hal ini, bagian luar bambu mengandung lebih sedikit selulosa sehingga kurang disukai rayap.

Tabel 7 Analisis sidik ragam kehilangan berat contoh uji OSB terhadap serangan rayap kayu kering dengan tingkat kepercayaan 95%.

Source

Type III Sum

of Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 22,592a 8 2.824 .937 .499 Intercept 2651,905 1 2651.905 879.672 .000 susunan_strand 22,592 8 2.824 .937 .499 Error 108,527 36 3.015 Total 2783,024 45 Corrected Total 131,119 44

a. R Squared = ,172 (Adjusted R Squared = -,012)

Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 7 menunjukkan bahwa susunan strand memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap respon kehilangan berat contoh uji.Menurut tabel klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap kayu kering berdasarkan penurunan berat sesuai dengan Standar SNI 01. 7207-2006 OSB bambu tergolong ke dalam kelas III (sedang).

4.2.2 Mortalitas Rayap

Selain kehilangan berat, indikator lain yang digunakan untuk mengukur tingkat keawetan papan OSB terhadap serangan rayap kayu kering adalah besarnya mortalitas rayap kayu kering. Nilai mortalitas rayap kayu kering ditentukan berdasarkan jumlah rayap kayu kering yangmati selama

(45)

29

proses pengumpanan contoh uji. Semakin banyak jumlah rayap kayu kering yang mati maka semakin tinggi nilai mortalitasnya. Nilai rata-rata mortalitas rayap kayu kering setelah pengumpanan selama 12 minggu dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Nilai rata-rata mortalitas rayap kayu kering C. cynocephalus Light. Dimana B: Betung, G: Andong, L: Ampel.

Pada Gambar 8 diketahui bahwa nilai rata-rata mortalitas rayap kayu kering memiliki kisaran nilai 74% sampai 94%. Nilai mortalitas yang tinggi tidak dapat dikontrol saat melakukan pengujian. Banyak faktor yang mempengaruhi mortalitas rayap kayu kering dalam pengujian. Salah satunya adalah keterbatasan makanan yang tersedia dalam hal ini hanya OSB dan tidak ada alternatif makananan lain sehingga kemungkinan rayap tidak menyukainya dan berakibat terhadap kematian rayap.

Selain itu, kandungan silika tinggi yang terkandung pada masing-masing bambu juga mempengaruhi aktivitas makan rayap selama 12 minggu masa pengujian. Karena, baik rayap tanah maupun rayap kayu kering cenderung akan memilih makanan yang banyak mengandung selulosa, mudah digigit, dan dihancurkan sesuai dengan pernyataan Krishna et al. (1970). Untuk mengetahui pengaruh pola susunan strand terhadap mortalitas rayap kayu kering (C. cynocephalus) pada pengujian laboratorium dilakukan analisis sidik ragamyang hasilnya disajikan pada Tabel 8. Hasil analisis sidik ragam pada

74 82,4 84 96,8 81,685,6 83,2 94 74,4 84 94 96 0 20 40 60 80 100 120 BBB BLB BGB B GGG GLG GBG G LLL LBL LGL L Morta li tas (% )

(46)

30

Tabel 8 menunjukkan bahwa susunan strand memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap respon mortalitas rayap kayu kering.

Tabel 8 Analisis sidik ragam mortalitas rayap kayu kering dengan tingkat kepercayaan 95%

4.3 Ketahanan OSB terhadap Serangan Kumbang 4.3.1 Identifikasi Kumbang

Dari pengumpanan yang dilakukan selama 20 minggu terhadap serangan kumbang bubuk tidak dapat dihitung jumlah kumbang bubuk yang menyerang contoh uji. Namun, setelah dilakukan identifikasi diketahui bahwa jenis kumbang bubuk yang menyerang contoh uji OSB bambu menggunakan perekat MDI dengan kadar perekat 5% adalah kumbang bubuk Anobium sp. dari Famili Anobidae (Gambar 9) menggunakan alat Digital Video Microscope dengan perbesaran 30x. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Arinana et al. (2009) diketahui bahwa kumbang Anobium sp. telah menyerang 19% bangunan dari 84% bangunan yang terserang oleh kumbang di salah satu cluster komplek perumahan di kawasan Serpong.

Anobium sp. merupakan kumbang bubuk dari Famili Anobidae. Jenis spesifik yang banyak dijumpai dari Anobium sp. adalah jenis Anobium punctatum biasa dikenal sebagai kumbang yang banyak menyerang furniture atau kebanyakan sumber menyebutnya sebagai “woodworm”. Di negara yang memiliki empat musim, serangan kumbang jenis ini merupakan serangan yang paling besar jumlahnya. Kumbang dewasa menyerang produk dari kayu saat musim semi, yaitu antara bulan Mei hingga bulan Agustus. Seperti serangga lainnya, sebagian besar siklus hidup kumbang jenis Anobium dihabiskan sebagai larva. Di alam liar, larva jenis kumbang ini menghabiskan waktu satu Source

Type III Sum

of Squares Df Mean Square F Sig. Corrected Model 1427,378a 8 178,422 1,503 ,191 Intercept 306859,022 1 306859,022 2584,923 ,000 susunan_strand 1427,378 8 178,422 1,503 ,191 Error 4273,600 36 118,711 Total 312560,000 45 Corrected Total 5700,978 44

(47)

31

tahun untuk menggali terowongan berdiameter 1 sampai 2 mm dan umumnya sejajar arah serat dari kayu. Residu dari hasil kayu yang dikonsumsi berupa tepung yang berwarna putih kecoklatan dan apabila dilihat menggunakan alat mikroskop, residu ini berbentuk lonjong (Hutton 2008).

(a) (b)

(c)

Gambar 9 Morfologi Anobium sp. tampak bagian samping kiri (a), tampak bagian bawah (b) dan tampak bagian atas (c).

(48)

32

4.3.2 Kehilangan Berat

Nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB setelah pengumpanan selama 20 minggu terhadap serangan kumbang bubuk dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB bambu dan kontrol bambu utuh terhadap serangan bubuk kayu kering Anobium sp. Dimana B: Betung, G: Andong, L: Ampel.

Nilai rata-rata kehilangan berat contoh uji OSB bambu memiliki kisaran nilai sebesar 2,49% sampai 3,87%. Nilai rata-rata kehilangan berat OSB yang tertinggi terdapat pada contoh uji OSB yang memiliki core bambu ampel (B. vulgaris) yaitu pada susunan BLB. Sedangkan nilai rata-rata kehilangan berat terendah terdapat pada contoh uji OSB yang memiliki core bambu andong (G. verticillata) yaitu pada susunan GGG. Hal ini dikarenakan bambu ampel memiliki kandungan pati yang lebih tinggi dibandingkan jenis bambu andong (G. verticillata). Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kehilangan berat pada kontrol bambu bambu andong sebesar 17,89% dan bambu ampel sebesar 25,36%. Nilai kehilangan berat pada kontrol bambu andong lebih kecil dibandingkan bambu ampel, ini disebabkan oleh kandungan pati pada bambu ampel lebih banyak dibandingkan kandungan pati pada bambu andong. Menurut Kusumaningsih (1997) yang diacu dalam Munuhuwa dan Laiwatu (2006), jumlah pati bambu ampel (B. vulgaris) lebih tinggi

2,85 3,87 2,97 3,19 2,49 3,3 3,35 17,89 3,14 2,9 2,97 25,36 0 5 10 15 20 25 30 35 40 BBB BLB BGB B GGG GLG GBG G LLL LBL LGL L Ke hil ang an B era t (% )

Gambar

Tabel 1 Sifat fisis dan mekanis papan partikel dan OSB
Gambar 2  Pengujian  ketahanan  kayu  terhadap  serangan  rayap  tanah  yang
Tabel 5  Analisis  sidik  ragam  kehilangan  berat  contoh  uji  OSB  bambu  terhadap serangan rayap tanah dengan tingkat kepercayaan 95%
Gambar 6  Nilai  rata-rata  mortalitas  rayap  tanah  C.  curvignathus  Holmgren.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian keawetan alami sembilan jenis kayu mengacu pada prosedur pengujian ketahanan kayu terhadap rayap yang terdapat pada Standar Nasional Indonesia (SNI)

Rendahnya nilai pengurangan berat pada semua contoh uji komposit kayu-RPP menunjukkan bahwa ketahanan komposit kayu-RPP terhadap serangan rayap tanah lebih tinggi dibanding

Pengujian ini dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-7207- 2006. Hasil menunjukkan bahwa ketahanan kayu oleh serangan rayap tanah yang ditunjukkan dengan

tingkat keawetan bambu dari serangan tayap ditentukan dari selisish prosentase partikel OamUu antarasebelum dimakan rayap cian setelah dimakan rayap. R mus p*.hit ngun

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren) jenis kayu yang digunakan yaitu

Berdasarkan hasil pengujian ketahanan papan komposit dari limbah kayu dan karton gelombang terhadap serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren didapat

cynocephalus yang digunakan dalam pengujian (perbesaran 10 kali) 5 5 Media pengujian ketahanan terhadap serangan rayap tanah 6 6 Media pengujian ketahanan contoh uji terhadap

Ketahanan gubal jati hutan rakyat terhadap serangan rayap tanah dan kayu kering diawetkan dengan senyawa boron menggunakan metode