• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor People, Process, Dan Technology

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor People, Process, Dan Technology"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Penilaian Knowledge Management System Readiness Di Perusahaan G Berdasarkan Faktor

People, Process, Dan Technology

Nur Zahra Afifah

1)

Dr. Luciana Andrawina

2)

Amelia Kurniawati, ST., MT

3)

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Institut Teknologi Telkom

Jl. Telekomunikasi no. 1, Terusan Buah Batu, Bandung 40257

[email protected]

1)

[email protected]

2)

[email protected]

3)

Abstrak

Perusahaan G harus meningkatkan pelayanan untuk menghadapi persaingan. Hal ini hanya

dapat dipenuhi melalui kolaborasi antar individu, antar unit, serta kemampuan berinovasi.

Kolaborasi tersebut menuntut perubahan internal Perusahaan G (Persero). Knowledge

Management (KM) adalah proses yang memungkinkan perusahaan menciptakan, mendapatkan,

menggunakan knowledge yang berguna untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Untuk

meningkatkan knowledge dan memudahkan karyawan dalam menerapkan knowledge

management, dibutuhkan Knowledge Management System (KMS). Sebelum meluncurkan

Knowledge Management System (KMS), perlu dilakukan penilaian atas tingkat kesiapan

kegiatan KMS agar dapat berjalan efektif. Knowledge Management System Readiness dapat

diukur berdasarkan faktor people, process, dan technology. Untuk mengetahui bobot tingkat

kepentingan kesiapan, digunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Sedangkan untuk

mengetahui nilai kesiapan, digunakan skala Aydin dan Tasci yang memiliki 5 skala tingkat

kesiapan. Hasil dari penelitian ini adalah faktor people memiliki tingkat kepentingan dan

kesiapan tertinggi dengan bobot tingkat kepentingan sebesar 45.78% dan nilai sebesar 3.186.

Tingkat kesiapan kedua adalah faktor process sebesar 3.079 dengan bobot tingkat kepentingan

sebesar 23.24% dan yang terakhir faktor technology sebesar 3.053 dengan bobot kepentingan

lebih besar dibanding process yaitu 30.98%.

Kata Kunci : Knowledge Management System Readiness, Metode AHP, Skala Pengukuran

Aydin dan Tasci

Pendahuluan

Saat ini, dunia telah memasuki era knowledge based economy, kondisi yang memungkinkan perusahaan memperoleh, berkreasi, dan memanfaatkan knowledge yang dimiliki para karyawan secara lebih efektif untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam era ini, intensitas kompetisi semakin meningkat. Menurut Tobing (2011, pp 8), ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh perusahaan yang ingin menang dalam kompetisi yaitu adanya kolaborasi, inovasi, adaptasi, penguasaan teknologi dan pasar serta pengelolaan aset intelektual perusahaan. Tantangan-tantangan ini mendorong munculnya kebutuhan akan penerapan knowledge management (KM). Implementasi KM bertujuan menjaga knowledge yang dimiliki perusahaan tetap terpelihara dan tersedia untuk dipelajari oleh karyawan yang membutuhkan.

Perusahaan G ingin menerapkan KM agar dapat bertahan dalam lingkungan bisnis yang kompetitif melalui proses pembelajaran dan transfer knowledge yang memanfaatkan mekanisme dari KM. Adapun tahapan KM yang akan dilakukan oleh Perusahaan G (Persero) dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Tahapan Kegiatan KM di Perusahaan G (Persero). Sumber : Perusahaan G (Persero)

(2)

Untuk meningkatkan knowledge di internal perusahaan dan memudahkan karyawan dalam menerapkan knowledge management, dibutuhkan suatu sistem sebagai media penyimpanan dan dokumentasi knowledge yang dinamakan Knowledge Management System (KMS). Penerapan Knowledge Management System (KMS) akan mendorong perubahan di dalam mengelola pengetahuan baik untuk personal, tim maupun perusahaan.

Sebagai langkah awal dalam memfasilitasi perubahan tersebut, KM yang akan dijalankan membutuhkan suatu penilaian readiness secara detail dan komprehensif (Holt dkk, 2004 dalam Erikson, 2006 pp 1). Menurut Wickramasinghe (2001), implementasi KM melibatkan tiga faktor penting yaitu faktor people, process, dan technology yang dikenal dengan sebutan KM Triad. Ketiga faktor tersebut juga merujuk pada penelitian Jerrel dan Landay (2000, dalam Erikson, 2006, pp 7) yang menyatakan bahwa enablers yang memengaruhi KM adalah people, process, dan technology. Maka dari itu, dalam penelitian ini faktor yang dinilai untuk mengetahui KMS readiness adalah people, process, dan technology. KMS readiness pada Perusahaan G (Persero) melibatkan para expert untuk dapat mengetahui faktor yang memiliki tingkat kepentingan kesiapan tertinggi. Perhitungan pembobotan ini menggunakan metode AHP, karena metode ini menggunakan perbandingan berpasangan yang cocok untuk menghitung bobot prioritas. Selain itu juga melibatkan karyawan untuk mengetahui tingkat kesiapan. Skala Aydin dan Tasci (2005) dapat membantu untuk mengukur skala tingkat kesiapan karena skala ini digunakan untuk perhitungan skala readiness.

Faktor people, process, dan technology ini diturunkan lagi menjadi beberapa dimensi berdasarkan organizational performance and change (Burke dan Litwin, 1992), yaitu budaya organisasi, leadership, work unit climate, motivation dan task requirements individual skill & ability yang masuk ke dalam faktor people. Faktor process terdiri dari visi, misi, dan strategi, management practices, sistem (policies dan procedure) dan struktur. Model organizational performance dan change berdasarkan Burke dan Litwin (1992) menurut Tobing (2011, pp 50) adalah model yang dapat memastikan adanya keselarasan dan sinergi antar semua dimensi dari organisasi yang melakukan perubahan. Dimensi dari faktor technology diambil dari perspektif sosio-teknikal menurut Pan dan Scarborough (1998, dalam Hayati, 2010, pp 30) yaitu infrastructure online. Kemudian dari dimensi tersebut diperoleh indikator kesiapan yang dijadikan sebagai pernyataan dalam kuesioner. Dengan adanya penilaian readiness, Perusahaan G (Persero) dapat mengetahui sejauh mana kesiapan Perusahaan G (Persero) untuk dapat menjalankan tahapan KM pada Gambar 1 agar dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat terutama untuk kepentingan Perusahaan G (Persero).

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui tingkat kepentingan kesiapan knowledge management system pada Perusahaan G (Persero) dengan menggunakan metode AHP berdasarkan pendapat expert.

2. Mengetahui tingkat kesiapan knowledge management system pada Perusahaan G (Persero) dengan menggunakan skala Aydin dan Tasci (2005).

3. Mengetahui dominasi dari masing-masing faktor dalam menentukan kesiapan penerapan knowledge management system di Perusahaan G (Persero).

Batasan Masalah

1. Penelitian ini hanya melakukan pengukuran tingkat kesiapan terhadap knowledge management system Perusahaan G (Persero) di wilayah Jakarta. 2. Tidak membahas masalah biaya. Misalnya, biaya

yang diinvestasikan oleh Perusahaan G (Persero) untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan KMS yang akan dijalankan. 3. Tidak membahas macam-macam hasil produksi

pada Perusahaan G (Persero) secara lebih detail.

Metodologi Penelitian

Model konseptual dari penelitian tugas akhir ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Model Konseptual

Penelitian dilakukan untuk mengetahui penilaian tingkat readiness penerapan Knowledge Management System (KMS) di Perusahaan G (Persero). Gambar 2 menjelaskan terdapat tiga faktor yang dapat diukur kesiapannya berkaitan dengan penerapan KMS, yaitu faktor people, process, dan technology.

Kesiapan people merupakan kesiapan yang berkaitan sumber daya yang dimiliki untuk mendukung pelaksanaan KMS di Perusahaan G (Persero), faktor ini berkaitan dengan budaya organisasi dari Perusahaan G (Persero), leadership dari para pemimpin di Perusahaan G (Persero), work unit climate, motivation karyawan Perusahaan G (Persero) untuk menjalankan KMS, dan task requirements individual skill dan ability. Kesiapan process merupakan kesiapan yang berkaitan dengan

(3)

konten-konten yang ada sebagai dasar dari seluruh kegiatan dalam Perusahaan G (Persero), seperti visi, misi dan strategi yang ada di Perusahaan G (Persero) yang dapat dijadikan acuan untuk visi, misi, dan strategi KM di Perusahaan G (Persero), management practices, sistem (policies dan procedure) yang mengatur tentang kebijakan dan prosedur di Perusahaan G (Persero), dan yang terakhir adalah struktur yang ada di Perusahaan G (Persero).

Kesiapan technology adalah kesiapan yang berkaitan dengan dukungan technology dan fasilitas yang dimiliki Perusahaan G (Persero) agar KMS dapat diadopsi dengan baik, ini dilihat dari infrastructure online yang mencakup hardware dan software yang ada di Perusahaan G (Persero), seperti ketersediaan komputer di setiap unit, ketersediaan telepon untuk melakukan sharing knowledge antar karyawan Perusahaan G (Persero), dan ketersediaan website yang dapat menampung knowledge dari para karyawan Perusahaan G (Persero). Kemudian untuk mendukung tingkat kesiapan yang dilakukan, perlu diidentifikasi indikator KMS readiness. Indikator tersebut diolah dengan kuesioner yang terdiri dari kuesioner untuk metode AHP dan kuesioner untuk skala pengukuran Aydin dan Tasci (2005).

Hasil dari perhitungan dengan metode AHP adalah penentuan tingkat kepentingan kesiapan oleh para expert di Perusahaan G (Persero). Setelah itu, hasil tersebut dibandingkan dengan hasil kuesioner tingkat kesiapan dari indikator kesiapan dengan menggunakan skala pengukuran Aydin dan Tasci (2005) yang melibatkan karyawan Perusahaan G (Persero) sebagai responden. Perbandingan kedua hasil kuesioner dari penelitian ini menghasilkan pengukuran prioritas tingkat kesiapan masing-masing faktor yaitu people, process, dan technology di Perusahaan G (Persero).

Pengumpulan Dan Pengolahan Data

Nilai

Kesiapan

Knowledge

Management

System

Kesiapan KMS Berdasarkan Nilai Dimensi

Nilai kesiapan KMS diperoleh berdasarkan hasil persepsi responden dengan bobot yang diberikan oleh para expert dalam menentukan kesiapan KMS untuk setiap dimensi. Hasil persepsi responden diketahui melalui hasil penyebaran kuesioner, sedangkan pemberian bobot yang dilakukan oleh para expert diketahui melalui kuesioner pembobotan. Penyebaran kuesioner dengan dua jenis responden dilakukan untuk mengetahui kesiapan yang telah dilakukan oleh Perusahaan G (Persero) untuk mengimplementasikan knowledge management system melalui persepsi responden. Dari hasil penyebaran kuesioner tersebut diperoleh nilai rata-rata setiap elemen dan rata-rata setiap dimensi. Di samping itu, pemberian bobot nilai menurut pendapat para expert dilakukan dengan

membandingkan secara berpasangan berdasarkan derajat pengaruhnya dalam menentukan tingkat kesiapan KMS di Perusahaan G (Persero) menurut dimensi-dimensinya. Pembobotan dimensi-dimensi oleh para ahli berjumlah 100% untuk setiap konsepnya. Nilai kesiapan KMS untuk setiap konsep merupakan penjumlahan dari nilai kesiapan masing-masing dimensi.

Tingkat kesiapan KMS untuk konsep people yang terdiri atas dimensi budaya organisasi, leadership, work unit climate, motivation dan task requirements individual skill & ability memiliki nilai kesiapan tertinggi yaitu dimensi budaya organisasi (4.22) dan nilai kesiapan terendah adalah dimensi leadership (3.61). Menurut expert, tingkat kepentingan yang paling tinggi ada di dimensi leadership sebesar 28.62%, dan tingkat kepentingan paling rendah ada pada dimensi work unit climate sebesar 11.20%. Kemudian untuk konsep process, nilai kesiapan tertinggi adalah dimensi visi, misi dan strategi dengan nilai 4.03 dan nilai kesiapan terendah adalah dimensi struktur dengan nilai 3.52. Berdasarkan expert, tingkat kepentingan paling tinggi adalah sistem (policies dan procedure) yaitu sebesar 42.30%. Tingkat kepentingan kesiapan yang paling rendah adalah struktur sebesar 13.34%. Setelah itu, kesiapan untuk KMS untuk konsep technology yang mempunyai dimensi infrastructure online memiliki nilai kesiapan 3.663 dengan tingkat kepentingan dimensi sebesar 100%.

Kesiapan KMS Berdasarkan Nilai Konsep

Nilai kesiapan KMS pada setiap nilai konsep diukur melalui dua pengukuran, yaitu pengukuran menggunakan metode AHP dan skala Aydin dan Tasci (2005). Pengukuran Aydin dan Tasci (2005) menggunakan 5 skala sedangkan penelitian ini menggunakan 6 skala untuk penyebaran kuesioner yang dilakukan, sehingga nilai kesiapan KMS dari hasil nilai persepsi responden dikonversikan menjadi 5 skala pengukuran. Hasil pengukuran tersebut menjadi nilai kesiapan KMS menggunakan skala Aydin dan Tasci (2005).

Tingkat kepentingan kesiapan KMS dengan menggunakan AHP, dilakukan dengan mengalikan nilai persepsi responden untuk setiap konsep KMS dengan bobot nilai yang diberikan oleh para expert. Kemudian, kesiapan KMS dengan menggunakan skala Aydin dan Tasci (2005) dilakukan dengan mengonversikan nilai persepsi responden untuk setiap konsepnya menjadi 5 skala pengukuran. Tingkat kesiapan KMS di Perusahaan G (Persero) untuk setiap konsep KMS dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kesiapan Berdasarkan Konsep Kesiapan KMS

Konsep Dimensi Nilai Setiap Dimensi Nilai Rata-Rata Setiap Konsep Bobot AHP Kesiapan KMS menurut Skala Aydin dan Tasci

(4)

PEOPLE Budaya Organisasi 4.219 3.823 45.78% 3.186 Leadership 3.606 Work Unit Climate 3.681 Motivation 3.686 Task Requirements Individual Skill & Ability

3.924 PROCESS Visi,Misi, dan Strategi 4.029 3.695 23.24% 3.079 Management Practices 3.630 Sistem (Policies dan Procedure) 3.598 Struktur 3.522 TECHNO-LOGY Infrastructure Online 3.663 3.663 30.98% 3.053

Merujuk pada Tabel 1, nilai kesiapan tertinggi berdasarkan skala Aydin dan Tasci (2005) adalah people sebesar 3.19. Kemudian nilai kesiapan berikutnya adalah process sebesar 3.08 dan terakhir adalah nilai kesiapan dari konsep technology sebesar 3.06.

Analisis Data

Analisis Tingkat KMS Readiness Menurut

Pendapat Para Expert

Merujuk pada Tabel 1, nilai persepsi responden memberikan nilai untuk faktor process lebih besar dari nilai kesiapan technology yaitu 3.08. Namun hal ini tidak didukung oleh para expert dengan memberikan nilai kepentingan terhadap kesiapan process sebesar 23.24% yang berarti process tidak lebih penting dibandingkan dengan people dan technology sehingga nilai kesiapan process sebesar 0.86. Nilai tertinggi diberikan oleh para expert untuk tingkat kepentingan kesiapan adalah faktor people sebesar 45.78%. Nilai yang tinggi juga diberikan berdasarkan nilai persepsi responden sebesar 3.186. Adapun penilaian tingkat kepentingan kesiapan menurut expert dan nilai kesiapan rata-rata responden dapat di lihat dari grafik pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Tingkat

Kepentingan

Kesiapan

KMS

Menggunakan AHP

Pada Gambar 3 terlihat bahwa para expert memberikan nilai tertinggi untuk faktor people dan nilai terendah pada faktor process. Ini berarti para expert menganggap bahwa faktor people memiliki kontribusi yang paling penting untuk mencapai KMS yang diinginkan.

Gambar 2 Tingkat Kepentingan Kesiapan KMS Menggunakan AHP

Faktor people sangat berpengaruh pada jalannya proses KMS yang akan dijalankan di Perusahaan G seperti pada Gambar 3. Di samping sebagai sumber knowledge, manusia pada hakikatnya juga merupakan pelaku dari proses-proses yang ada dalam KM. Menurut Tobing (2011, pp 14), jika proses knowledge sharing dan knowledge creation tidak dapat berjalan, persoalan utamanya adalah karena rendahnya kemauan dan kemampuan manusia untuk melakukannya. Semua proses tersebut dapat berjalan selama manusia memang terdorong untuk melakukannya. Itu sebabnya para expert memberi nilai kepentingan paling rendah pada faktor process. Di urutan yang kedua, para expert memberi tingkat kepentingan untuk faktor technology. Faktor ini diperlukan dalam KMS karena merupakan media yang memastikan terjadinya pertukaran, penyimpanan, dan pemanfaatan dari knowledge dan memungkinkan terjadinya kolaborasi diantara karyawan, unit kerja, fungsi, dan disiplin ilmu. Perkembangan teknologi secara online dengan berbagai aplikasi di dalamnya membuat teknologi menjadi basis utama pengembangan KM Tool.

Tingkat Kesiapan KMS Menggunakan Skala

Aydin dan Tasci (2005)

Hasil dari tingkat kesiapan KMS menurut rata-rata responden akan diolah dengan menggunakan skala Aydin dan Tasci (2005). Dengan begitu, dapat diketahui faktor yang paling siap dan faktor yang masih perlu diperbaiki. Tingkat kesiapan KMS tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.

(5)

Gambar 3 Kesiapan Menggunakan Skala Aydin dan Tasci (2005)

Berdasarkan Gambar 4, nilai persepsi responden menyatakan nilai kesiapan yang paling tinggi ada pada faktor people. Ini berarti karyawan di Perusahaan G (Persero) sudah menganggap penting akan adanya KMS di Perusahaan G (Persero). Tetapi, karyawan menganggap dari faktor technology di Perusahaan G (Persero) belum siap untuk menjalankan KMS. Karyawan memberi nilai 3.053 untuk faktor technology, faktor people 3.186 dan faktor process sebesar 3.079. Faktor technology pada Perusahaan G (Persero) saat ini memang belum mencapai tahap yang ditargetkan. Target dari Perusahaan G (Persero) adalah membuat suatu website yang tampilan dan isinya dirancang seperti jejaring social masa kini yaitu facebook dimana karyawan dapat mengklasifikasi, menyimpan, mengambil dan mendistribusikan pengetahuan. Tetapi, pada kenyataannya, website Perusahaan G (Persero) baru sampai pada tahap penyampaian informasi tentang Perusahaan G untuk masyarakat. Jadi, karyawan belum dapat ikut serta untuk mendistribusikan pengetahuan yang dimiliki baik kepada karyawan lain maupun kepada masyarakat.

Analisis Rekomendasi KMS Readiness di

Perusahaan G (Persero)

Secara umum, embrio Knowledge Management System (KMS) telah ada di Perusahaan G, namun belum memiliki fitur lengkap yang mendukung terjadinya kegiatan berbagi, mengakses, memanfaatkan dan berkolaborasi serta mendokumentasikan dengan baik, sehingga memudahkan karyawan untuk mendapatkannya apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Seseorang akan melakukan perubahan dengan sukarela, jika mereka merasa tertarik dan merasakan adanya kebutuhan. Tingkat kesiapan KMS di Perusahaan G ada pada kondisi siap dengan beberapa perbaikan, yang berarti diperlukan berbagai kegiatan yang mendorong karyawan untuk lebih menerapkan knowledge management secara optimal dan menjadi bagian dari budaya kerja.

Mengingat perubahan budaya akan terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang, dimana rata-rata perusahaan yang sukses membutuhkan waktu lima sampai dengan tujuh tahun, maka Perusahaan G harus memiliki komitmen jangka panjang untuk menjalankan berbagai kegiatan perubahan budaya dimaksud. Pimpinan harus terlebih dahulu disiapkan dan

berpartisipasi dalam menerapkan dan menjadi role model di Perusahaan G. Pimpinan harus dapat bertindak sebagai sponsor, komunikator dan fasilitator pada KMS di Perusahaan G. Untuk meningkatkan komitmen dan keterlibatan para pimpinan Perusahaan G dalam kegiatan KMS, perlu memprioritaskan pelatihan kepada pimpinan Perusahaan G terkait kepemimpinan dan knowledge management agar dapat bertindak sebagai sponsor, komunikator dan fasilitator bagi karyawan.

Selain itu, untuk mendorong terbentuknya knowledge culture, perusahaan melakukan penekanan pada penjabaran masing-masing nilai budaya yang ada di perusahaan. Hal ini akan sangat membantu untuk memberikan pemahaman kepada seluruh karyawan mengenai nilai-nilai dan perilaku yang diinginkan dari karyawan dalam menerapkan knowledge management. Untuk mendukung kegiatan KMS, Perusahaan G perlu membangun aplikasi yang dapat memudahkan karyawan berbagi, mengakses, memanfaatkan dan mendokumentasikan knowledge dengan baik, berkolaborasi dan bekerja sama tanpa terbatas oleh waktu, tempat, level posisi dan tingkat keahlian. Pembangunan aplikasi ini merujuk pada hasil pembobotan indikator kesiapan yang cukup tinggi dibanding indikator kesiapan lainnya dari faktor technology. yang menyatakan bahwa website KM mudah diakses dan digunakan oleh karyawan dan konsumen. Rencana aplikasi yang dapat dilakukan Perusahaan G (Persero) adalah menggunakan tampilan sistem jejaring social yang paling banyak digunakan saat ini yaitu tampilan facebook pada website KM yang akan dibangun. User interface yang menarik dan memudahkan pengguna baik karyawan maupun konsumen dalam mengakses aplikasi pada masing-masing account.

Aplikasi KMS diharapkan dapat juga memiliki daya tarik sendiri untuk penggunaannya dalam bertukar informasi, membuat dokumen knowledge yang ada di Perusahaan G (Persero). Adapun fitur yang ditampilkan sebagai berikut :

1. Lima artikel knowledge terbaru

2. Akses mudah bagi pengunjung portal KMS dalam melihat artikel knowledge berdasarkan :

Knowledge group yang ada di struktur KMS Perusahaan G

10 artikel knowledge yang paling banyak dibaca 10 penulis artikel knowledge yang paling aktif dalam portal KMS (pengunjung juga dapat melihat artikel knowledge berdasarkan artikel penulis) Arsip artikel knowledge berdasarkan bulan dan tahun pembuatan

5 (lima) diskusi terakhir yang terjadi di dalam forum diskusi KMS

3. Pengunjung yang telah memiliki account di portal KMS dapat langsung melakukan login pada bagian kiri atas portal KMS, dengan mengisikan user name dan password. Bagi pengunjung yang belum

(6)

memiliki account di portal KMS dapat langsung mendaftarkan diri di link daftar.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penilaian tingkat readiness KMS di Perusahaan G (Persero) berdasarkan faktor people, process, dan technology, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat kepentingan kesiapan KMS di Perusahaan G (Persero) yang ditinjau melalui pengukuan AHP berdasarkan faktor people, process, dan technology adalah para expert menganggap bahwa faktor people merupakan faktor yang paling penting dalam menjalankan KMS di Perusahaan G (Persero). Kemudian faktor technology menduduki peringkat kepentingan kedua dan yang terakhir adalah faktor process.

2. Tingkat kesiapan KMS di Perusahaan G (Persero) dengan menggunakan skala Aydin dan Tasci (2005) ada pada kategori siap walaupun masih butuh banyak perbaikan. Faktor people merupakan faktor yang mempunyai nilai kesiapan tertinggi. Kemudian faktor process ada di peringkat kedua dan terakhir adalah faktor technology.

3. Dominasi yang paling tinggi dari faktor people, process, dan technology adalah :

a. Faktor People Budaya Organisasi

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan karyawan Perusahaan G mempunyai keinginan kuat mendukung perubahan di perusahaan.

Leadership

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan pimpinan di Perusahaan G mendorong terbentuknya knowledge sharing di lingkungan Perusahaan G.

Work Unit Climate

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan karyawan Perusahaan G dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari proyek terdahulu.

Motivation

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan karyawan Perusahaan G memiliki kemauan yang tinggi dalam berinovasi kreatif untuk kepentingan Perusahaan G.

Task Requirements Individual Skill & Ability Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan karyawan Perusahaan G wajib berbagi knowledge yang dimilikinya.

b. Faktor Process Visi, misi, dan strategi

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan strategi knowledge management selaras dengan strategi Perusahaan G.

Management Practices

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan Perusahaan G menyediakan anggaran yang dibutuhkan untuk kegiatan knowledge management.

Sistem (Policies and Procedure)

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan Perusahaan G mempunyai peraturan tentang pemanfaatan knowledge.

Struktur

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan Perusahaan G mendorong terbentuknya jaringan informal sebagai wadah kerjasama.

c. Faktor Technology Infrastructure Online

Dominasi yang paling tinggi berasal dari indikator kesiapan Perusahaan G mempunyai sistem informasi yang mendukung komunikasi di antara karyawan dari lokasi yang berbeda dan Perusahaan G memberikan fasilitas berupa komputer (PC) untuk setiap karyawannya.

Saran

1. Bagi Perusahaan G (Persero)

Perusahaan G (Persero) diharapkan dapat mengimplementasikan rekomendasi perbaikan berdasarkan hasil pengukuran knowledge management system readiness berdasarkan faktor people, process, dan technology.

Perusahaan G (Persero) diharapkan dapat melakukan pengukuran dan evaluasi terhadap kegiatan knowledge management system secara periodik jika nantinya sudah dijalankan agar dapat memperlihatkan hasil signifikan pada tingkat pencapaian visi, misi, dan strategi knowledge management system.

Perusahaan G (Persero) diharapkan dapat mengadakan sosialisasi terlebih dahulu sebelum knowledge management system dijalankan dan menyediakan fasilitas dan alat pendukung yang dibutuhkan dalam kegiatan knowledge management system.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mengevaluasi performance kegiatan Knowledge Management System (KMS) yang sudah dijalankan oleh Perusahaan G (Persero). Sehingga akan didapatkan pengukuran dan evaluasi perfomance dari setiap kegiatan. Selain itu, dapat dilakukan pula penelitian dengan benchmark perusahaan lain yang sudah menerapkan KMS untuk membandingkan sejauh mana kesiapan Perusahaan G (Persero) untuk mengimplementasikan KMS serta keunggulan dari KMS pada perusahaan lain dapat dijadikan masukan dan rekomendasi untuk kemajuan kegiatan KMS di Perusahaan G (Persero).

(7)

Daftar Pustaka

[1] Aydin, C. H., dan Tasci, D. (2005). Measuring Readiness for e-Learning: Reflections from an Emerging Country. Educational Technology and Society, 8 (4), pp. 244-257

[2] Burke, Warner dan Litwin, George. (1992). A Causal Model of Organizational Performance and Change : Journal of Management.

[3] Erikson. (2006). Perancangan Instrumen Pengukuran Kesiapan Untuk Mendukung Pemilihan Metode Implementasi Knowledge management, Tesis Program Magister, Program Studi Teknik dan Manajemen Industri, ITB, Bandung.

[4] Fatimah, Maria. (2009). Analisis Tingkat Kesiapan E-learning Berdasarkan Faktor Resource, Education, dan Environment di Institut Teknologi Telkom, Institut Teknologi Telkom, Bandung. [5] Hayati, Indah. (2010). Evaluasi dan Perbaikan

Penerapan Knowledge Management System di PT. PLN (Persero) Wilayah Lampung Berdasarkan Perspektif Sosio-Teknikal, Institut Teknologi Telkom, Bandung.

[6] Kaplan, R. M. dan Saccuzzo. (1993). Psychological testing: Principles, application, and issues. California : Brooks/Cole Publishing Company.

[7] Saaty, T.L. (1993). The Analytical Hierarchy Process: Planning, Priority Setting, Resource Allocation, Pittsburgh University Pers.

[8] Sari, Efi Riana. (2010). Perbaikan Kinerja Knowledge management dari Perspektif Human Capital di Pt. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Institut Teknologi Telkom , Bandung.

[9] Tobing, Paul L. (2011). Knowledge Management: Manajemen Knowledge Sharing Berbasis Komunitas. Bandung.

[10] Wickramasinghe, N. (2001).“Do We Practice What We Preach? Are Knowledge management Systems in Practice Truly Reflective of Knowledge management Systems in Theory?”,Business Process Management Journal Vol.9 No.3, available online at www.emeraldinsight.com, diunduh pada 30 Desember 2010.

Gambar

Gambar  1 Tahapan  Kegiatan  KM  di  Perusahaan  G  (Persero). Sumber : Perusahaan G (Persero)
Gambar 2. Model Konseptual
Tabel 1 Kesiapan Berdasarkan Konsep Kesiapan KMS
Gambar  2 Tingkat  Kepentingan  Kesiapan  KMS  Menggunakan AHP
+2

Referensi

Dokumen terkait

karena restu dari Tuhan. Sesungguhnya dalam bersenggama seorang wanita harus mengikuti kemauan laki-laki. Hal tersebut adalah ajaran tentang tindakan yang tepat bagi

Prosedur pelaksanaan safeguard pembebasan tanah dan permukiman kembali terdiri dari beberapa kegiatan utama yang meliputi: penypisan awal dari usulan kegiatan untuk melihat

Serta fitur pendukung dalam SPKS kesesuaian lahan bawang putih yaitu menu data master, kriteria lahan, menu basis aturan dan menu bantuan mampu berjalan

Produktivitas sumber daya manusia itu dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah pemberian motivasi kepada karyawan dan insentif yang layak dan

chinensis (L.)) pada Konsentrasi Larutan Hara yang Berbeda dengan Metode Hidroponik Terapung”.. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Hasil analisis deskriptif menunjukkan skor kemampuan menyelesaikan soal-soal fisika menurut langkah pemecahan masalah Polya secara keseluruhan berada pada kategori

Yang termasuk afiks produktif dalam bahasa Indonesia terdapat pada kata… ab. Paman telah mencarikan kakak-kakak

sebab anak itu akan diasuh oleh Bandar Narkoba yang akan meracuni hidupnya. Untuk mengawasi anak orang tua harus mengetahui ciri-ciri pecandu narkotika. agar tidak