10
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Sejenis yang Relevan
Penelitian yang akan dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian yang terdahulu. Untuk membedakan penelitian yang berjudul “Analisis Keefektifan Kalimat pada “Surat Pembaca” Harian Suara Merdeka Edisi Agustus sampai September 2013” dengan penelitian sebelumnya, maka peneliti mengadakan peninjauan di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Untuk membuktikannya, peneliti meninjau satu penelitian mahasiswa yang dianggap relevan dengan penelitian yang bersangkutan. Meskipun penelitian yang terdahulu hampir sama dengan penelitian ini, akan tetapi hanya dijadikan referensi saja. Penelitian yang dimaksud adalah:
11
Berdasarkan kajian pustaka tersebut, maka penelitian dengan judul “Analisis Keefektifan Kalimat pada “Surat Pembaca” Harian Suara Merdeka Edisi Agustus sampai September 2013 “ berbeda dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan walaupun penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya terletak pada sebagian teori yang digunakan karena pada dasarnya teori tentang kalimat efektif sama, hanya saja menggunakan pendapat dari para ahli yang berbeda. Yang membedakannya yaitu data dan sumber datanya. Datanya berupa kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan ciri-ciri kalimat efektif pada “Surat Pembaca” edisi Agustus-September 2013. Sumber datanya adalah “Surat Pembaca” pada harian Suara Merdeka edisi Agustus-September 2013.
B. Bahasa
1. Pengertian Bahasa
12
2. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa pada umumnya adalah sebagai alat komunikasi atau penghubung dengan orang lain atau masyarakat setempat. Menurut Chaer dan Leoni Agustina (2004: 14) bahasa berfungsi sebagai alat berinteraksi atau alat berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan. Setiap gagasan, pikiran, dan perasaan seseorang dapat dituangkan melalui bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Menurut Keraf (2004: 3) bahasa mempunyai empat fungsi yaitu: alat untuk menyatakan ekspresi diri, alat komunikasi, alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, serta alat untuk mengadakan kontrol sosial. Jadi, fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh segenap anggota masyarakat untuk menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain, mengekspresikan diri, mengadakan integrasi (adaptasi sosial), dan mengadakan kontrol sosial antar sesama anggota masyarakat sehingga dapat tercipta kerja sama yang baik serta keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.
a) Alat untuk Menyatakan Ekspresi Diri
13
mulai belajar berbahasa, mereka menyatakan kata-kata untuk menyatakan lapar, haus, dsb, dan hal itu akan terus berlangsung hingga mereka menjadi dewasa. Sebagai contoh kata aduh, hai, wahai yang dapat digunakan untuk menyatakan keadaan hati seseorang agar tekanan-tekanan jiwanya dapat tersalur.
b) Alat Komunikasi
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud dan melahirkan perasaan manusia serta memungkinkan terciptanya kerja sama dengan sesama manusia. Jadi, bahasa digunakan sebagai alat untuk saling bertukar pikiran dan perasaan antar sesama manusia. Manusia tidak akan lepas dari kegiatan komunikasi dengan media bahasa sebagai alat penyampaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan, dan ketahui kepada orang lain. Hal ini karena, media bahasa dapat memungkinkan manusia menciptakan kerja sama dan berinteraksi dengan sesama manusia.
c) Alat Mengadakan Integrasi dan Adaptasi Sosial
14
laku, dan tata-krama masyarakatnya. Dua orang yang mempergunakan bahasa yang sama, akan mempergunakan kata-kata yang sama juga untuk melukiskan suatu situasi yang identik. Oleh karena itu, bahasa mempunyai peran penting sebagai media untuk membentuk keharmonisan kehidupan masyarakat dalam proses integrasi dan adaptasi sosial.
d) Alat Mengadakan Kontrol Sosial
Semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan menggunakan bahasa. Kontrol sosial adalah usaha untuk memengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Hampir setiap hari kegiatan kontrol sosial akan terjadi dalam masyarakat. Keberhasilan seseorang dalam melakukan kontrol sosial sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang tepat. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan komunikatif, seseorang bisa memengaruhi pikiran dan tindakan orang lain sesuai dengan yang diharapkannya. Dengan bahasa juga seseorang dapat mengembangkan kepribadian dan nilai-nilai sosial kepada tingkat yang lebih berkualitas. Misalnya, orang tua yang menasihati anak-anaknya.
C. Kalimat
1. Pengertian Kalimat
15
yang disertai nada akhir turun atau naik. Menurut Tarigan (2009: 8) kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa. Di sisi lain, Parera (2009: 44) mengatakan bahwa kalimat adalah suatu tutur yang disertai oleh ciri-ciri prosodi yang menunjukkan bahwa tutur itu telah berakhir dan tutur itu merupakan sebuah konstruksi ketatabahasaan yang maksimal. Berdasarkan pendapat beberapa pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang relatif dapat berdiri sendiri yang disusun sesuai kaidah yang berlaku dan terdiri dari satu klausa atau lebih yang diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca (titik, tanda seru, dan tanda tanya).
2. Kalimat Efektif
a. Pengertian Kalimat Efektif
16
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logika (Putrayasa, 2010: 66). Dengan kata lain, kalimat efektif selalu berterima secara tata bahasa dan makna. Sementara itu, Wibowo (2009: 95) mengatakan bahwa sebuah kalimat efektif adalah kalimat yang tersusun secara baik, benar, segar, jelas, bening, dan tidak berpeluang memunculkan ingar (noise). Kalimat yang baik dan benar adalah kalimat yang informasinya dapat diterima oleh pendengar/pembaca dan disusun sesuai kaidah yang berlaku. Kalimat yang segar merupakan kalimat yang tidak menimbulkan suasana yang monoton sehingga dapat memelihara minat baca pembaca. Kalimat yang jelas dapat menjaga kesatuan gagasan/pikiran. Keutuhan gagasan membuat nilai-nilai informasi yang terkandung di dalam kalimat dapat terlihat dengan bening. Kalimat harus disusun secara cermat agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran pada pembaca/pendengar. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menggambarkan atau mengungkapkan maksud, pikiran, dan perasaan si pengarang/penulis secara tepat pada pikiran pembaca dan tersusun secara baik dan benar sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna oleh pendengar/pembaca.
b. Ciri-ciri Kalimat Efektif
1) Ciri-ciri Kalimat Efektif Menurut Keraf
a) Kesatuan Pikiran
17
kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, maka akan rusak kesatuan pikiran itu (Keraf, 2004: 40). Kesatuan gagasan tidak hanya terdapat satu ide tunggal, tetapi dapat terbentuk dari dua gagasan atau lebih. Kesatuan gagasan yang diwakili oleh subjek, predikat, dan objek dapat berbentuk kesatuan tunggal dan kesatuan gabungan.
(1) Kesatuan Tunggal
Kesatuan tunggal adalah kesatuan yang terdiri atas satu klausa. Artinya, kesatuan tunggal hanya terdapat satu ide tunggal dalam sebuah kalimat. Dalam laju kalimat tidak boleh terdapat perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lain yang tidak ada hubungannya. Hal ini dapat menyebabkan kesatuan pikirannya menjadi rusak (Keraf, 2004: 41). Kesatuan gagasan dapat menjadi kabur karena kedudukan subjek atau predikat tidak jelas, terutama karena salah menggunakan kata-kata depan. Kesalahan ini sering terjadi di dalam kalimat yang terlalu panjang.
Contoh:
(5) Di Bali sekarang ini terkenal dengan patung-patung yang bercorak sangat primitif (Keraf, 2004: 42).
18
Frasa di Bali dapat menduduki fungsi subjek dengan cara menghilangkan kata depan di. Jadi, kalimat yang efektif adalah:
(5.a) Bali sekarang ini terkenal dengan patung-patung yang bercorak sangat S K P Pel
primitif.
(2) Kesatuan Gabungan
Kesatuan gabungan merupakan kesatuan gagasan yang terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih dalam kalimat (Keraf, 2004: 41). Jadi, kesatuan gabungan memiliki dua klausa atau lebih yang dihubungkan oleh konjungsi sehingga kalimatnya menjadi padu. Konjungsi yang digunakan dapat berupa konjungsi koordinatif dan subordinatif. Konjungsi koordinatif digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau lebih yang kedudukannya sederajat. Yang termasuk konjungsi ini adalah konjungsi yang menyatakan penambahan, pertentangan, dan pilihan. Konjungsi subordinatif digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau lebih yang kedudukannya tidak sederajat.
Contoh:
(6) Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya (Keraf, 2004: 43).
19
kata terhadap pada frasa terhadap orang yang lebih tinggi umurnya harus dihilangkan. Jadi, kalimat yang efektif adalah:
(6.a) Orang yang lebih tinggi umurnya dan kedudukannya berbeda caranya. S S P
(6.b) Orang yang lebih tinggi umurnya atau kedudukannya berbeda caranya. S S P
b) Koherensi yang Baik dan Kompak
Koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat (Keraf, 2014: 43). Artinya, hubungan antara subjek dan predikat, predikat dan objek, serta keterangan dan keterangan yang lain harus dapat saling menjelaskan dengan baik dan jelas. Jadi, koherensi lebih menekankan segi struktur atau inter-relasi antara kata-kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi yang dapat mengacaukan dan merusak koherensi yaitu: menempatkan kata kerja, kata penghubung yang tidak sesuai atau tidak pada tempatnya, menempatkan kata tidak sesuai dengan pola kalimat, merangkai dua kata yang maknanya mengandung kontradiksi, dan salah menempatkan keterangan aspek pada kata kerja tanggap. Oleh karena itu, hal-hal di atas harus dihindari dalam membuat kalimat agar koherensi kalimat tidak rusak. Cara-cara yang dapat dilakukan agar koherensi kalimat menjadi baik adalah sebagai berikut.
(1) Tempat Kata dalam Kalimat Sesuai dengan Pola Kalimat
20
kacau atau kalimat yang susunannya tidak teratur sehingga informasinya sulit dipahami. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan informasi atau maksud secara tepat kepada pembaca. Kalimat yang pola kalimatnya tidak benar akan menyebabkan makna kalimatnya menjadi tidak logis. Oleh karena itu, kalimat tersebut tidak dapat diterima oleh akal sehat. Contoh:
(7) Anjing kemarin pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga (koherensi tidak baik) (Keraf, 2004: 44).
(7.a) Adik saya yang paling kecil memukul anjing di kebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya (koherensi baik).
(2) Mempergunakan Kata Depan dan Kata Penghubung dengan Tepat
Kata depan yang ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya yaitu di, ke dan dari, kecuali daripada dan kepada (yang dianggap satu kata). Kata penghubung yang digunakan untuk menjalin kepaduan sebuah kalimat di antaranya adalah hubungan sebab-akibat (sehingga, sampai, akibat), hubungan alasan/sebab (sebab, sebab itu, karena, dan karena itu), dan hubungan kedekatan temporal/waktu (bilamana, ketika, sebelum, sejak, sesudah). Konjungsi tersebut merupakan konjungsi subordinatif. Konjungsi subordinatif yaitu konjungsi yang menghubungkan dua konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konstituen yang satu menjadi konstituen atasan yang bebas, dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan yang kedudukannya tergantung pada konstituen pertama (Chaer, 1993: 110).
Contoh:
(8) Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (Keraf, 2004: 44).
21
bagi. Kata bagi digunakan untuk menyatakan hubungan peruntukan. Kata menentukan yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat tersebut tidak perlu diikuti dengan kata bagi. Agar menjadi kalimat yang efektif, kata bagi dapat dihilangkan sehingga koherensinya menjadi baik. Jadi, kalimat yang efektif adalah:
(8.a) Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan pola kepribadian yang sedang berkembang (koherensi baik).
(3) Pemakaian Kata yang Maknanya Tidak Tumpang Tindih (Mengandung Kontradiksi)
Pemakaian kata, baik karena merangkainya dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi dapat merusak koherensi kalimat (Keraf, 2004: 45). Pemakaian kata-kata yang berlebihan atau yang searti disebut dengan pleonasme. Gejala pleonasme yang sering terjadi dalam kalimat antara lain: di dalam satu frasa terdapat dua atau lebih kata yang searti, bentuk jamak dinyatakan dua kali, dan kata kedua sebenarnya tidak perlu lagi karena pengertian yang terkandung pada kata itu sudah terkandung pada kata yang mendahuluinya. Oleh karena itu, penulis harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata yang mengandung kontradiksi dalam kalimat agar tidak terjadi pleonasme. Hal ini karena kalimat yang efektif dapat dibentuk dengan menghindari ploenasme dalam kalimat.
Contoh:
(9) Sering kali kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadar (Keraf, 2004: 45).
kesalahan-22
kesalahan memiliki makna jamak. Agar koherensinya menjadi baik, kedua kata tersebut tidak dirangkai sekaligus dalam sebuah kalimat. Jadi, kalimat yang efektif adalah:
(9.a) Sering kali kita membuat suatu kesalahan yang tidak kita sadari (koherensi baik).
(9.b) Sering kali kita membuat kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari (koherensi baik).
(4) Menempatkan Keterangan Aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada Kata Kerja Tanggap dengan Tepat
Kata kerja tanggap disebut juga kata kerja pasif. Kata kerja pasif merupakan kata majemuk, maka tidak boleh disisipi kata apa pun di antara kata ganti persona (sebagai komponen pertama) dan pokok kata kerja transitif (sebagai komponen kedua) (Putrayasa, 2009: 94). Pada kata kerja tanggap, penulisan kata ganti orang seperti saya, kami, kita, dia, dan mereka harus langsung didekatkan pada kata kerjanya. Dengan demikian, dalam kata kerja pasif penulisan persona + verba tidak boleh diselingi keterangan apa pun misalnya keterangan aspek. Hal ini karena hubungan antara persona dan verba sangat mesra.
Contoh:
(10) Buku itu saya sudah baca hingga tamat (Keraf, 2004: 46).
23
(10.a) Buku itu sudah saya baca hingga tamat (koherensi baik).
c) Penekanan
Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan. Gagasan utama kalimat tetap didukung oleh subjek, dan predikat, sedangkan unsur yang dipentingkan dapat bergeser dari satu kata ke kata yang lain (Keraf, 2004: 46). Kata-kata yang dianggap penting harus mendapat tekanan atau lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi penekanan pada kalimat yaitu dengan cara mengubah-ubah posisi dalam kalimat, mempergunakan repetisi, pertentangan, dan partikel penekan.
(1) Mengubah Posisi dalam Kalimat
Sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya dengan menempatkan sebuah kata yang dipentingkan pada awal kalimat (Keraf, 2004: 46). Bagian kalimat yang diletakkan di awal kalimat dianggap unsur yang penting. Kata-kata yang ditempatkan pada awal kalimat tersebut dapat mengubah struktur kalimatnya akan tetapi, isi kalimatnya tidak berubah. Jadi, apabila ide yang dipentingkan diletakkan di awal kalimat, ide pokoknya menjadi berbeda meskipun kalimat tersebut memiliki pengertian yang sama. Mengubah posisi dalam kalimat dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas.
Contoh:
24
Kalimat (11) menunjukkan bahwa kata yang dipentingkan adalah kami, bukan yang lainnya. Akan tetapi, kita dapat memberi penekanan pada kata-kata lainnya yaitu harapan kami, pada kesempatan lain, dan kita. Kata-kata tersebut dapat diletakkan pada awal kalimat dengan konsekuensi bahwa kalimat (11) dapat mengalami perubahan strukturnya, tetapi isinya tidak berubah. Gagasan utama kalimat tetap didukung oleh subjek dan predikat. Akan tetapi, kata yang dipentingkan dapat bergeser dari satu kata ke kata yang lain.
(11.a) Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
(11.b) Pada kesempatan lain kami berharap kita dapat membicarakan lagi sola ini.
(11.c) Kita dapat membicarakan lagi sola ini pada kesempatan lain demikian harapan kami.
(2) Mempergunakan Repetisi
Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat (Keraf, 2004: 47). Pengulangan kata dalam sebuah kalimat dimaksudkan untuk memberi penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting sehingga akan lebih jelas maksudnya. Jadi, repetisi digunakan untuk memberi penegasan pada bagian kalimat yang dianggap penting sehingga maksudnya menjadi lebih jelas. Penegasan dengan repetisi dapat dilakukan dengan mengulang kata atau frasa yang dianggap penting dalam kalimat. Apabila kata-kata yang diulang adalah kata yang berimbuhan, kata tersebut harus memiliki bentuk dasar yang sama.
Contoh:
25
Pada kalimat (12) unsur yang dianggap penting ditegaskan lagi dengan mengulang kata tersebut. Kata yang dianggap penting adalah kata kemajuan dan kesadaran. Untuk mencapai keefektifan kalimat, kata kemajuan dan kesadaran mendapat repetisi dalam kalimat. Kata kemajuan dan kesadaran ditekankan dengan menggunakan repetisi dimaksudkan agar kalimat (12) menjadi lebih jelas maksud yang disampaikan kepada pembaca/pendengar.
(3) Pertentangan
Pertentangan dapat dipergunakan untuk menekan suatu gagasan dalam kalimat (Keraf, 2004: 48). Agar maksud dari kalimat itu lebih ditonjolkan, diperlukan dua klausa atau kalimat yang mengandung pertentangan. Penekanan dengan menggunakan kata penghubung tetapi, meskipun, namun, padahal, dan sedangkan dimaksudkan untuk menekankan salah satu gagasan pada klausa yang pertama atau klausa yang kedua. Pada kalimat majemuk kata penghubung ini diletakkan di antara bagian-bagian yang sederajat itu.
Contoh:
(13) Anak itu rajin dan jujur (Keraf, 2004: 48).
26
(13.a) Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur (kalimat efektif).
(4) Partikel Penekan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel yang dimaksud adalah lah, pun, kah, yang oleh kebanyakan tata bahasa disebut imbuhan (Keraf, 2004; 49). Partikel lah, kah, dan tah, ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, sedangkan partikel pun ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya atau mengikutinya. Partikel kah, tah, dan lah bermakna menegaskan, sedangkan partikel pun bermakna ‘juga’. Partikel pun yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya ialah pun yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat. Partikel pun dapat melekat pada kata yang mendahuluinya yaitu sebagai klitika. Klitika biasanya adalah morfem yang pendek paling-paling dua silabe, biasanya satu, tidak diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat arti yang tidak mudah dideskripsikan (Verhaar, 2001: 119). Misalnya, bagaimanapun, adapun, ataupun, dan kalaupun. Contoh:
(14) Kami turut dalam kegiatan itu (kalimat kurang efektif) (14.a) Kami pun turut dalam kegiatan itu (kalimat efektif).
d) Kevariasian
27
secara berlebihan akan menimbulkan kejenuhan atau kebosanan pada diri pembaca/pendengar. Untuk menghindari hal tersebut perlu dilakukan variasi dalam kalimat. Variasi dalam kalimat dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu variasi sinonim kata, variasi penggunaan bentuk me- dan di-, dan variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat.
(1) Variasi Sinonim Kata
Pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan akan menghambarkan selera pendengar atau pembaca. Oleh karena itu, perlu dilakukan variasi dalam kalimat. Salah satunya adalah variasi sinonim kata. Variasi berupa sinonim kata atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak mengubah isi dari amanat yang akan disampaikan (Keraf, 2004: 49). Sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Yang sama sebenarnya hanya informasinya, sedangkan maknanya tidak persis sama. Adanya variasi sinonim kata dalam kalimat dimaksudkan agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang yang membacanya.
Contoh:
(15) Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi (Keraf, 2004: 50).
28
perkataan. Realitas artinya kenyataan. Kebenaran artinya keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
(2) Variasi Penggunaan Bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut dapat menimbulkan kelesuan pada pembaca (Keraf, 2004: 51). Untuk menghindari hal itu diperlukan variasi pemakaian bentuk gramatikal terutama dalam mempergunakan bentuk-bentuk kata kerja yang mengandung prefiks me- dan di-. Kevariasian dalam kalimat akan membuat kalimat terasa lebih segar karena pemakaian bentuk yang sama tidak dilakukan secara berlebihan. Apabila bentuknya bervariasi dalam kalimat, minat dan perhatian pembaca akan tetap terjaga dan terpelihara.
Contoh:
(16) Memang, cukup mengendorkan semangat kalau kita melihat keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap ‘tidur nyenyak’ meskipun pemerintah sudah membangun banyak fasilitas pengangkutan laut serta udara (Keraf, 2004: 51).
Kalimat (16) akan terasa lain jika dibuat variasi bentuk gramatikalnya. Kalimat (16) merupakan kalimat aktif yang ditandai dengan kata kerja mengendorkan, melihat, dan membangun. Agar kalimat (16) lebih bervariasi, seharusnya dibuat variasi bentuk me- dan di-. Dengan adanya variasi bentuk me- dan di- pada kalimat (16) diharapkan dapat terpelihara minat dan perhatian pembaca. Jadi, kalimat efektif yang dibentuk adalah:
29
(3) Variasi dengan Mengubah Posisi dalam Kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai hubungan dengan penekanan dalam kalimat. Penekanan adalah memberi penegasan terhadap unsur yang dianggap penting dalam kalimat. Jadi, unsur yang dianggap penting dalam kalimat diletakkan di posisi awal kalimat. Sebuah kalimat dapat dimulai atau didahului dengan frasa benda, frasa kerja, dan frasa keterangan. Hal ini dilakukan agar bentuk kalimatnya menjadi lebih bervariasi dan efektif.
Contoh:
(17) Pelaksanaan bantuan hukum di negara kita, yang dilaksanakan atas dasar peraturan peninggalan zaman penjajahan dahulu sifatnya sangat terbatas (Keraf, 2004: 52).
Untuk mencapai efektivitas pada kalimat (17) diperlukan variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat. Kalimat (17) diawali dengan frasa benda yaitu pelaksanaan bantuan hukum. Kalimat (17) akan terasa lain dan lebih bervariasi jika diawali dengan frasa keterangan yaitu di negara kita. Frasa di negara kita dianggap unsur yang penting dalam kalimat. Oleh karena itu, frasa di negara kita diletakkan di awal kalimat. Jadi, kalimat akan lebih efektif jika ditulis:
(17.a) Di negara kita pelaksanaan bantuan hukum yang dilaksanakan atas dasar peraturan peninggalan zaman penjajahan dahulu sifatnya sangat terbatas.
e) Keparalelan (Kesejajaran)
30
bagian-bagian yang sederajat dalam kontruksi yang sama. Sebagai contoh: jika salah satu gagasan itu ditempatkan pada struktur kata benda, kata-kata atau kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama juga harus ditempatkan dalam struktur kata benda. Jika salah satu gagasan ditempatkan pada struktur kata kerja, kata-kata atau kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama juga harus ditempatkan dalam struktur kata kerja. Kesejajaran dalam kalimat dapat berupa kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna.
Contoh:
(18) Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah: pengecatan seluruh temboknya, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruangnya (kalimat tidak efektif) (Keraf, 2004: 54). (19) Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah: pengecatan seluruh
temboknya, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruangnya (kalimat efektif).
f) Penalaran (Logika)
Bahasa tidak pernah lepas dari penalaran. Tulisan-tulisan yang jelas dan terarah merupakan perwujudan daripada berpikir logis. Jalan pikiran pembaca dapat untuk menentukan baik tidaknya kalimat yang disusun dan mudah tidaknya pikirannya dapat dipahami oleh pembaca/pendengar. Jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubungkan evidensi-evidensi menuju suatu kesimpulan yang masuk akal (Keraf, 2004: 54). Hal ini berarti kalimat-kalimat yang diucapkan harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi akal sehat atau sesuai dengan penalaran.
31
jauh untuk memahami maknanya. Oleh karena itu, perlu diberikan batasan yang jelas dan tepat untuk setiap istilah sehingga tulisan itu akan mendapat landasan yang kuat dan tidak dapat dibantah. Dalam membuat sebuah generalisasi, harus memerhatikan peristiwa-peristiwa yang dipakai cukup banyak dan meyakinkan. Apabila peristiwa yang dipakai sebagai dasar generalisasi tidak relevan, generalisasi tersebut akan ditolak oleh akal sehat.
Contoh Definisi:
(20) Debat adalah bila dua orang atau pihak mempertahankan dengan bukti-bukti tentang sesuatu hal dalam suatu diskusi yang teratur (definisi yang salah).
(21) Debat adalah suatu diskusi yang teratur tentang sesuatu hal antara dua pihak atau lebih (definisi yang benar).
Contoh Generalisasi:
(22) Orang-orang yang luar biasa radikal pada masa mudanya selalu menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan (generalisasi berlebihan).
(23) Bahkan pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi konsevatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan (generalisasi baik).
2) Ciri-ciri Kalimat Efektif Menurut Putrayasa
a) Kesatuan (Unity)
32
pembaca/pendengar, sebuah kalimat harus mempunyai subjek dan predikat meskipun dalam kalimat yang panjang. Selain itu, sebuah subjek tidak dapat diantarkan oleh partikel karena dapat menyebabkan kedudukan subjeknya menjadi tidak jelas.
Contoh:
(24) Kepada para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat (kalimat tidak efektif) (Putrayasa, 2010: 54).
(24.a) Para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat (kalimat efektif).
b) Kehematan (Economy)
Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu (Putrayasa, 2010: 55). Sebuah kalimat dikatakan hemat jika pembicara memerhatikan seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar bukan dari banyak sedikitnya kata yang digunakan. Oleh karena itu, kata-kata yang tidak perlu dapat dihilangkan. Menghemat penggunaan kata-kata dimaksudkan walaupun kata-kata itu ditanggalkan tidak akan mengganggu makna atau arti dari kalimat tersebut. Kehematan ini menyangkut persoalan gramatikal dan makna kata dalam kalimat. Cara-cara untuk menghemat kata-kata dalam kalimat antara lain: mengulang subjek kalimat, menghindari hiponimi, dan pemakaian kata depan dari dan daripada.
(1) Mengulang Subjek Kalimat
33
dalam kalimat sering dilakukan penulis tanpa disadari. Hal inilah yang menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif.
Contoh:
(25) Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan (kalimat tidak efektif) (Putrayasa, 2010: 55).
(25.a)Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui mempelai memasuki ruangan (kalimat efektif).
(2) Menghindari Hiponimi
Menurut Putrayasa (2010: 120) hiponimi adalah kata atau ungkapan yang maknanya termasuk di dalam makna kata atau ungkapan lain. Jadi, di dalam makna kata tersebut terkandung makna dasar kelompok makna kata yang bersangkutan. Hiponimi berkaitan dengan makna-makna leksikal suatu kata dalam kalimat. Hiponimi mempunyai hubungan yang berlaku satu arah. Misalnya, kata merah merupakan hiponimi warna, kata warna berada di atas kata merah bukan di bawahnya.
Contoh:
(26) Presiden SBY menghadiri Rapin ABRI hari Senin lalu (kalimat tidak efektif) (Putrayasa, 2010: 56).
(26.a)Presiden SBY menghadiri Rapin ABRI Senin lalu (kalimat efektif).
(3) Pemakaian Kata Depan dari dan daripada
34
menanggalkan kata depan yang kurang tepat dan dianggap berlebihan pada kalimat dapat membuat suatu kalimat menjadi lugas karena dengan menanggalkan kata depan tersebut tidak akan mengubah arti atau maksud kalimat. Akan tetapi, ada penggunaan kata depan yang memang tidak dapat ditanggalkan pada kalimat sehingga kalimat tersebut menjadi efektif.
Contoh:
(27) Anak dari tetangga saya Senin ini akan dilantik menjadi dokter (kalimat tidak efektif) (Putrayasa, 2010: 56).
(27.a) Anak tetangga saya Senin ini akan dilantik menjadi dokter (kalimat efektif).
c) Penekanan (Emphasis)
Penegasan dalam kalimat adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu unsur atau bagian kalimat, agar unsur atau bagian kalimat yang diberi penegasan itu lebih mendapat perhatian dari pendengar/pembicara (Putrayasa, 2010: 56). Ide pokok atau inti pikiran dalam sebuah kalimat harus diberi penekanan atau penegasan. Pemberian penegasan pada bagian kalimat yang dianggap penting dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. Dalam penulisan kalimat efektif ada beberapa cara untuk memberi penekanan pada kalimat, di antaranya: pemindahan letak frasa, mengulang kata-kata yang sama, penegasan dengan partikel, penegasan dengan kata keterangan, penegasan dengan kontras makna, penegasan dengan pemindahan unsur, dan penegasan dengan bentuk pasif.
(1) Pemindahan Letak Frasa
35
(Putrayasa, 2010: 57). Pemindahan letak frasa pada bagian depan kalimat disebut juga dengan pengutamaan bagian kalimat. Artinya, unsur yang diletakkan pada awal kalimat merupakan unsur yang ditekankan/ditegaskan. Memindahkan letak frasa dalam kalimat dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, memindahkan letak frasa dalam kalimat dapat digunakan untuk mencapai keefektifan kalimat.
(2) Mengulang Kata-kata yang Sama
Pengulangan kata dalam sebuah kalimat dapat diperlukan dengan maksud
memberi penegasanpada bagian kalimat yang dianggap penting (Putrayasa, 2010: 57). Mengulang kata-kata yang sama (repetisi) dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. Penegasan dengan repetisi dapat dilakukan dengan mengulang kata atau frasa yang dianggap penting dalam kalimat. Apabila kata-kata yang mendapat pengulangan adalah kata yang berimbuhan, kata-kata itu harus memiliki bentuk dasar yang sama. Oleh karena itu, mengulang kata-kata yang sama yang dianggap unsur yang penting dalam kalimat dapat digunakan untuk mencapai keefektifan kalimat.
(3) Penegasan dengan Partikel
36
predikatnya kata kerja) atau kalimat ajektival (kalimat yang predikatnya kata sifat). Partikel lah-yang digunakan di antara subjek dan predikat pada sebuah kalimat verbal atau kalimat ajektival. Partikel pun-lah digunakan: pun digunakan di antara subjek dan predikat, sedangkan –lah dirangkaikan pada predikat yang berupa kata kerja intrasitif. Contoh:
(28) Gadis yang cantik.
(29) Akulah yang meminjam bukumu.
(30) Mereka pun berangkatlah dengan segera.
(4) Penegasan dengan Kata Keterangan
Penegasan dalam kalimat dapat dilakukan dengan menggunakan kata keterangan. Penegasan dengan kata keterangan dapat digunakan untuk mencapai keefektifan kalimat. Keterangan penegas yang lazim digunakan untuk memberi penegasan adalah kata memang (Putrayasa, 2010: 59). Kata memang dapat digunakan untuk memberi penegasan pada subjek dan dapat juga pada predikat kalimat. Penegasan kalimat dengan kata keterangan penegas masih dapat pula lebih ditegaskan lagi dengan partikel penegas. Partikel penegas yang dapat digunakan adalah partikel – lah. Contoh:
(31) Memang dialah yang belum tahu (sedangkan kami semua sudah tahu).
(5) Penegasan dengan Kontras Makna
37
kalimat yang mengandung perbandingan. Makna kalimat pertama dari kalimat majemuk menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dipertentangkan dengan makna pada klausa kedua. Kata penghubung yang dapat digunakan untuk menghubungkan dua klausa yang mengandung perbandingan misalnya, padahal. Contoh:
(32) Rata-rata penduduk di negeri itu kaya raya padahal tanah mereka tandus dan gersang.
(6) Penegasan dengan Pemindahan Unsur
Penegasan dalam kalimat dapat dilakukan dengan cara pemindahan unsur. Pemindahan unsur adalah memindahkan unsur atau bagian kalimat ke posisi awal kalimat (Putrayasa, 2010: 60). Memindahkan unsur kalimat akan mengubah struktur kalimat secara keseluruhan. Sebuah kalimat tidak selalu diawali dengan unsur subjek. Apabila unsur predikat, objek, atau keterangan yang ingin ditonjolkan/ditegaskan, maka unsur tersebut harus diletakkan pada posisi awal kalimat.
(7) Penegasan dengan Bentuk Pasif
38
dapat tetap dipertahankan walaupun fungsinya berubah menjadi subjek, tetapi peranannya tetap sebagai penderita.
Contoh:
(33) Pohon tua itu ditebang kakak tadi pagi (Putrayasa, 2010: 64).
Kalimat (33) merupakan kalimat pasif yang berasal dari kalimat asal “Kakak menebang pohon tua itu tadi pagi”. Pada kalimat (33) frasa pohon tua itu menduduki fungsi subjek. Ditebang sebagai predikat. Kakak sebagai objek. Tadi pagi sebagai keterangan. Pohon tua itu walaupun sudah berfungsi sebagai subjek, tetapi peranannya tetap sebagai penderita.
d) Kevariasian (Variety)
Suatu kalimat yang ditulis dengan mempergunakan pola kalimat yang sama akan membuat suasana menjadi monoton atau datar sehingga akan menimbulkan kebosanan pada pembaca. Demikian juga, apabila kalimat yang panjang terus-menerus digunakan akan membuat pembaca kehilangan pegangan akan ide pokok yang dapat menimbulkan kelelahan pada pembaca. Untuk itu, dalam penulisan diperlukan pola dan bentuk kalimat yang bervariasi. Ciri kevariasian akan diperoleh jika kalimat yang satu dibandingkan dengan kalimat yang lain (Putrayasa, 2010: 65). Variasi dalam kalimat yang dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya: variasi dalam pembukaan kalimat, variasi dalam pola kalimat, variasi dalam jenis kalimat, dan variasi bentuk aktif-pasif.
(1) Variasi dalam Pembukaan Kalimat
39
kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau didahului dengan frasa keterangan, frasa benda, frasa kerja, dan partikel penghubung (Putrayasa, 2010: 65). Oleh karena itu, sebuah kalimat tidak selalu diawali dengan unsur subjek, tetapi dapat diawali dengan unsur lain dalam kalimat. Variasi pembukaan kalimat mempunyai hubungan dengan penekanan dalam kalimat. Artinya, unsur yang diletakkan di awal kalimat merupakan unsur yang ditegaskan karena dianggap penting.
Contoh:
(34) Pikiran yang menghantuinya selama ini dibuangnya jauh-jauh (kalimat diawali dengan frasa benda).
(35) Dibuangnya jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini (kalimat diawali dengan frasa kerja).
(2) Variasi dalam Pola Kalimat
Untuk mencapai efektivitas kalimat dan menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan kebosanan dapat dilakukan dengan variasi pola kalimat. Pola kalimat tidak harus diawali dengan unsur subjek. Akan tetapi, dapat diawali dengan unsur-unsur kalimat yang lain seperti predikat, objek, dan keterangan. Pola kalimat subjek-predikat-objek (S-P-O) dapat diubah menjadi predikat-objek-subjek (P-O-S), subjek-objek-predikat (S-O-P) atau yang lainnya (Putrayasa, 2010: 65). Pola kalimat yang subjeknya di depan disebut sebagai kalimat biasa. Sementara itu, jika pola kalimat unsur predikatnya diletakkan di depan disebut dengan kalimat inversi total. Struktur inversi total terjadi jika kalau frasa predikat secara keseluruhan mendahului subjek atau predikat inti saja mendahului subjek (Putrayasa, 2009: 22).
Contoh:
40
(37) Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju dokter muda itu (kalimat inversi). P O S
(3) Variasi dalam Jenis Kalimat
Untuk mencapai efektivitas sebuah kalimat berita, dapat dikatakan dalam kalimat tanya atau kalimat perintah (Putrayasa, 2010: 66). Kalimat berita adalah kalimat yang mendukung suatu pengungkapan peristiwa atau kejadian (Putrayasa, 2009: 19). Kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung suatu pertanyaan (Putrayasa, 2009: 26). Artinya, kalimat tanya dibentuk untuk memancing responsi yang berupa jawaban. Kalimat tanya dapat ditandai oleh partikel tanya seperti kah, atau kata tanya apa, bagaimana, mengapa, dll. Pemakaian kalimat berita secara terus menerus dalam bacaan akan menimbulkan suasana yang monoton atau datar sehingga dapat menimbulkan kebosanan pada diri pembaca. Oleh karena itu, diperlukan variasi jenis kalimat dalam kalimat berita.
(4) Variasi Bentuk Aktif-Pasif
41
3) Ciri-ciri Kalimat Efektif Menurut Wibowo
a) Keharmonian
Keharmonian sebuah kalimat ditunjukkan oleh kemampuan penulis dalam menyelaraskan antara gagasannya dan struktur bahasa yang digunakan (Wibowo, 2009: 95). Sebuah kalimat dikatakan efektif dapat ditentukan dari keharmonian atau keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Keharmonian kalimat dapat dilihat dengan cara: subjek dan predikatnya jelas, tidak mengandung makna ganda, dan cermat dalam menggunakan kata penghubung. Oleh karena itu, sebuah kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki subjek dan predikat. Pemakaian kata penghubung harus cermat agar tidak mengaburkan salah satu fungsi unsur dalam kalimat. Kalimat yang memiliki subjek yang sama tidak perlu ditulis ulang pada klausa berikutnya agar tercapai keefektifan kalimat.
b) Keparalelan
42
c) Ketegasan
Ketegasan dalam kalimat dilakukan untuk menonjolkan gagasan atau ide pokok kalimatnya (Wibowo, 2009: 98 ). Ide pokok yang dianggap penting perlu diberi penegasan agar dapat diketahui oleh pembaca. Gagasan utama kalimat tetap didukung oleh subjek dan predikat, sedangkan unsur terpenting yang dipentingkan dapat bergeser dari satu kata ke kata yang lain. Memberikan penegasan pada kalimat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk memberi penegasan dalam kalimat di antaranya:
(1) meletakkan kata yang ditonjolkan pada awal kalimat,
(2) membuat urutan suatu proses atau peristiwa dengan gambaran logis, (3) pengulangan terhadap kata yang ingin ditegaskan,
(4) pertentangan terhadap ide yang ingin ditegaskan, (5) menggunakan partikel penegas.
d) Kehematan
Kehematan yaitu tidak menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu (Wibowo, 2009: 100). Kehematan dalam kalimat dilakukan agar tidak terjadi pleonasme. Kalimat yang mengandung pleonasme dianggap sebagai kalimat yang tidak efektif. Seorang penulis/pembicara harus dapat memilih kata-kata yang tepat agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca/pendengar. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam kehematan pemakaian kata-kata dalam kalimat di antaranya:
(1) menghindari pengulangan subjek,
43
(3) menghindari dua kata yang bersinonim yang dipakai sekaligus dalam sebuah kalimat,
(4) tidak menjamakkan kata-kata yang bentuk (dan maknanya) sudah jamak.
e) Kecermatan
Kecermatan yaitu cermat menggunakan kata-kata dalam kalimat, sehingga kalimat tersebut tidak ambigu/menimbulkan tafsir ganda (Wibowo, 2009: 101). Kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda pada diri pembaca, maka kalimat tersebut merupakan kalimat tidak efektif. Seorang penulis harus cermat menggunakan kata-kata dalam menyusun sebuah kalimat. Hal ini agar maksud atau makna yang terkandung dalam kalimat tersebut menjadi lebih jelas. Penggunaan tanda hubung dan juga penghilangan salah satu unsur pada frasa dapat digunakan untuk menghindari salah tafsir pada kalimat. Frasa merupakan satu konstruksi kebahasaan yang terdiri dari dua kata atau lebih (Parera, 2009: 61).
f) Kelogisan
44
g) Kevariasian
Variasi dalam kalimat ditujukan agar pembaca tidak cepat merasa bosan dalam membaca sebuah tulisan. Hal ini karena kalimat yang pola kalimatnya selalu sama akan membuat suasana yang monoton sehingga dapat menghambarkan selera pembaca. Variasi dalam kalimat biasanya dilakukan pada pembukaan kalimat atau untuk mengawali sebuah tulisan (Wibowo, 2009: 102). Akan tetapi, ciri kevariasian akan diperoleh jika kalimat yang satu dibandingkan dengan kalimat yang lain. Kemungkinan variasi kalimat di antaranya:
(1) membentuk kalimat pembuka dengan frasa keterangan, frasa benda, frasa kerja, dan dengan partikel penghubung,
(2) membentuk kalimat pembuka dengan menempatkan subjek atau predikat pada awal kalimat.
4) Simpulan Ciri-ciri Kalimat Efektif
a) Kesatuan Pikiran
45
(1) Kesatuan Tunggal
Kesatuan tunggal adalah kesatuan pikiran yang terdiri atas satu klausa. Oleh karena itu, kesatuan tunggal disebut juga kalimat tunggal. Hal ini karena, kesatuan tunggal hanya memiliki satu ide tunggal dalam kalimat. Keefektifan kalimat dalam kalimat tunggal dapat dibentuk apabila ada kesatuan pikiran dalam kalimat. Artinya, dalam kalimat tersebut hanya terdapat satu gagasan pokok.
(2) Kesatuan Gabungan
Kesatuan gabungan adalah kesatuan pikiran yang terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih dalam kalimat. Oleh karena itu, kesatuan gabungan dapat berbentuk kalimat majemuk. Kesatuan gabungan tersebut bisa terdapat dalam kalimat majemuk setara maupun kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara dapat dibentuk jika kedua klausa dihubungkan dengan kata penghubung koordinatif. Kalimat majemuk bertingkat dapat dibentuk jika antara klausa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan kata penghubung subordinatif. Jadi, kesatuan gabungan terdiri atas dua klausa atau lebih yang dihubungkan oleh kata penghubung sehingga kalimatnya menjadi padu.
b) Kekoherensian
46
(1) Penempatan Kata Tidak Sesuai Pola Kalimat
Penempatan kata yang tidak sesuai dengan pola kalimat akan mengakibatkan kerancuan (kontaminasi) dalam kalimat. Kalimat yang rancu adalah kalimat yang kacau atau kalimat yang susunannya tidak teratur sehingga informasinya sulit dipahami oleh pembaca. Kalimat yang pola kalimatnya tidak tepat akan menyebabkan makna kalimatnya menjadi tidak logis. Oleh karena itu, kalimat yang kacau susunannya termasuk kalimat yang tidak efektif. Keefektifan kalimat dapat dibentuk jika penempatan kata-kata dalam kalimat harus sesuai dengan pola kalimatnya.
(2) Pemakaian Kata Depan dan Kata Penghubung Tidak Tepat
Penggunaan kata depan dan kata penghubung yang tidak tepat dalam kalimat dapat menyebabkan hubungan di antara unsur-unsur kalimat menjadi tidak padu. Penggunaan kata depan dan kata penghubung harus disesuaikan dengan fungsinya sehingga terbentuk koherensi yang baik dalam kalimat. Kata penghubung koordinatif dan subordinatif harus digunakan dengan tepat sehingga terbentuk hubungan makna yang baik dalam kalimat. Kata penghubung koordinatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua konstituen yang kedudukannya sederajat. Kata penghubung subordinatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua kontituen yang kedudukannya tidak sederajat.
(3) Pemakaian Kata yang Maknanya Tumpang Tindih
47
efektif. Oleh karena itu, penulis harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata yang maknanya tumpang tindih dalam kalimat agar tidak terjadi pleonasme. Hal ini karena, keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan menghindari pleonasme yaitu bentuk jamak dinyatakan dua kali dalam kalimat. Bentuk jamak yang dinyatakan dua kali dalam kalimat tidak akan membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas sehingga pemakaiannya harus dihindari.
(4) Penempatan Keterangan Aspek Tidak Tepat
Penempatan keterangan aspek dengan tidak tepat pada kata kerja tanggap dapat merusak koherensi kalimat. Koherensi yang rusak menyebabkan kalimatnya menjadi tidak efektif. Pada kata kerja tanggap penulisan kata ganti orang harus langsung didekatkan pada kata kerjanya sehingga tidak dapat disisipi oleh keterangan aspek. Hal ini karena hubungan antara persona dan verba pada kata kerja tanggap sangat mesra. Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan menempatkan keterangan aspek dengan tepat dalam kalimat, khususnya dalam kata kerja pasif.
c) Penekanan (Penegasan)
48
(1) Mengubah Posisi dalam Kalimat
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan memberi penekanan terhadap unsur yang dianggap penting dalam kalimat. Memberi penekanan terhadap unsur yang dianggap penting dalam kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi dalam kalimat. Walaupun posisi kalimat berubah, gagasan utama dalam kalimat tetap didukung oleh subjek dan predikat. Mengubah posisi dalam kalimat dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas sehingga kalimatnya menjadi efektif. Unsur kalimat yang diletakkan di awal kalimat merupakan unsur yang dipentingkan dalam kalimat.
(2) Mempergunakan Repetisi
Memberi penekanan terhadap unsur yang dianggap penting dalam kalimat dapat dilakukan dengan mempergunakan repetisi. Penegasan dengan repetisi dapat dilakukan dengan mengulang kata atau frasa yang dianggap penting dalam kalimat. Jadi, unsur yang dipentingkan tersebut mendapat pengulangan kata dalam kalimat. Mempergunakan repetisi dalam kalimat dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. Hal ini dapat dilakukan untuk mencapai keefektifan kalimat.
(3) Pertentangan
49
yang pertama atau pada klausa yang kedua dalam kalimat. Mempergunakan pertentangan dalam kalimat dimaksudkan untuk membuat makna kalimat menjadi lebih jelas.
(4) Partikel Penekan
Keefektifan kalimat dapat dilakukan dengan cara memberi penekanan dengan partikel penekan pada unsur yang ditegaskan dalam kalimat. Penggunaan partikel penekan dalam kalimat harus tepat agar kalimatnya menjadi efektif. Hal ini karena, ada partikel yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya (lah, kah, dan tah) dan ada yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya (partikel pun yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat). Ketepatan penulisan partikel dalam kalimat dapat mempengaruhi keefektifan kalimat. Oleh karena itu, seorang penulis/pengarang harus dapat membedakan penulisan partikel antara yang ditulis dipisah dengan kata yang mengikutinya dan yang ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
(5) Kata Keterangan
50
(6) Kontras Makna
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan cara memberi penekanan dengan kontras makna. Penegasan dengan kontras makna dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa yang pertama menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dibandingkan dengan makna klausa yang kedua. Untuk itu, diperlukan dua kalimat yang mengandung pertentangan/perbandingan. Kata penghubung yang digunakan misalnya, padahal.
(7) Pemindahan Unsur
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan cara memberi penekanan dengan pemindahan unsur dalam kalimat. Pemindahan unsur adalah memindahkan unsur atau bagian kalimat ke posisi awal kalimat. Memindahkan unsur kalimat akan mengubah struktur kalimat secara keseluruhan. Jadi, sebuah kalimat tidak selalu diawali dengan unsur subjek. Unsur yang diletakkan di awal kalimat adalah unsur yang ditegaskan/ditekankan dapat berupa subjek, predikat, objek, atau keterangan/
(8) Bentuk Pasif
51
(9) Urutan Peristiwa/Proses Dibuat dengan Gambaran Logis
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan memberi penekanan dengan membuat urutan peristiwa/proses dengan gambaran yang logis. Membuat urutan yang logis adalah membuat urutan ide atau gagasan yang makin lama makin penting. Jadi, ide atau gagasan yang diletakkan di bagian paling akhir adalah ide atau gagasan yang paling penting. Sebuah peristiwa harus disusun secara runtut dan kronologis agar ceritanya mudah dipahami oleh pembaca. Oleh karena itu, tiap tahap peristiwa tersebut harus dijelaskan dengan detail dan tegas sehingga pembaca dapat melihat seluruh proses itu dengan jelas.
d) Kevariasian
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan cara menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa. Menganekaragamkan bentuk-bentuk-bentuk-bentuk bahasa dimaksudkan untuk memelihara minat dan perhatian pembaca. Hal ini karena pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan dalam kalimat akan menghambarkan selera pembaca. Oleh karena itu, diperlukan variasi dalam kalimat. Kemungkinan-kemungkinan variasi dalam kalimat antara lain sebagai berikut.
(1) Pembukaan Kalimat
52
keterangan, frasa benda, frasa kerja, dan partikel penghubung. Jadi, sebuah kalimat tidak hanya diawali dengan unsur subjek saja.
(2) Pola Kalimat
Variasi pola kalimat dapat dilakukan untuk mencapai keefektifan kalimat. Pola kalimat dapat diubah-ubah sehingga sebuah kalimat tidak harus diawali dengan subjek. Sebuah kalimat dapat diawali dengan unsur predikat, objek, atau keterangan. Hal ini dilakukan untuk menghindari suasana yang monoton sehingga pembaca tidak cepat merasa jenuh dengan pola kalimat yang selalu sama. Pola kalimat yang bervariasi dapat memelihara minat dan perhatian pembaca.
(3) Jenis Kalimat
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan membuat variasi jenis kalimat. Hal ini karena bentuk kalimat berita yang dibuat secara terus-menerus dapat membuat pembaca merasa bosan. Untuk itu, diperlukan variasi jenis kalimat dalam kalimat berita yang berupa kalimat tanya. Penulisan kalimat tanya harus dilakukan dengan tepat agar dapat membentuk kalimat yang efektif. Hal ini karena, penulisan kata tanya dengan tidak tepat dapat menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif.
(4) Penggunaan Bentuk me- dan
53
akan menimbulkan kejenuhan pada diri pembaca. Oleh karena itu, pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan harus dihindari. Hal ini karena, apabila bentuknya bervariasi, minat dan perhatian pembaca dapat tetap terpelihara.
(5) Sinonim Kata
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan variasi sinonim kata. Variasi berupa sinonim kata yang berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak mengubah isi dari amanat yang akan disampaikan. Sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Sinonim kata berkaitan dengan makna-makan leksikal pada kata tersebut. Variasi sinonim kata dimaksudkan untuk membuat makna dan maksud kalimat menjadi lebih jelas.
e) Keparalelan (Kesejajaran)
Paralelisme adalah menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur gramatikal yang sama. Kesejajaran akan membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan. Kesejajaran bentuk memberi kejelasan dalam unsur gramatikal suatu kalimat dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam kontruksi yang sama. Kesejajaran dalam kalimat dapat berupa kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna. Kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna dalam kalimat dapat digunakan untuk mencapai keefektifan kalimat.
(1) Kesejajaran Bentuk
54
sederajat dalam kalimat. Ide yang disejajarkan dapat berupa unsur subjek, predikat, ataupun objek. Jika sebuah ide dinyatakan dengan kata kerja berimbuhan, ide-ide yang sederajat harus dinyatakan dengan kata kerja yang berimbuhan sama. Jika sebuah kalimat mengandung kesejajaran bentuk, maka kalimat tersebut termasuk kalimat yang efektif.
(2) Kesejajaran Makna
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan memberi kesejajaran makna dalam kalimat. Antara bentuk dan makna memiliki hubungan yang erat. Makna yang terkandung dalam satuan fungsional yakni unsur kalimat yang berkedudukan sebagai subjek, predikat, objek, dan keterangan. Oleh karena itu, fungsi unsur tersebut ditentukan oleh relasi makna antar unsur. Antara subjek dan predikat, predikat dan objek harus sejajar maknanya dalam kalimat.
(f) Penalaran (Logika)
Penalaran adalah suatu kegiatan yang memungkinkan seseorang berpikir secara logis atau masuk akal. Kalimat yang nalar adalah kalimat yang masuk akal. Artinya, kalimat tersebut dapat diterima oleh akal sehat pembaca. Keefektifan kalimat dapat dibentuk jika makna kalimatnya logis atau masuk akal. Untuk menjamin agar kalimat tidak bertentangan dengan penalaran diperlukan suatu definisi dan generalisasi.
(1) Definisi
55
mendapat landasan yang kuat dan tidak dapat dibantah. Keefektifan kalimat dapat dicapai apabila kalimat yang mengandung suatu istilah memiliki landasan yang kuat dan jelas agar kebenarannya tidak diragukan oleh orang lain. Untuk itu, seorang penulis harus dapat membuat definisi yang baik dan tepat agar membentuk kalimat yang efektif.
(2) Generalisasi
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan membuat generalisasi. Dalam membuat suatu generalisasi yang harus diperhatikan adalah peristiwa-peristiwa yang dipakai harus cukup banyak dan menyakinkan. Apabila dasar generalisasi tidak relevan, generalisasi akan ditolak oleh akal sehat. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang maknanya dapat diterima oleh akal sehat. Sebuah kalimat dapat diterima jika memenuhi kaidah kebenaran logikal.
(g) Kehematan
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan kehematan. Kehematan yaitu hemat dalam menggunakan kata-kata dalam menyusun kalimat agar susunannya tidak berlebih-lebihan. Kata-kata yang dianggap tidak diperlukan dapat dihilangkan agar tidak terjadi pleonasme dalam kalimat. Pleonasme dapat menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif. Kehematan dalam kalimat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
(1) Menghindari Pengulangan Subjek
56
menjadi tidak efektif. Hal ini karena mengulang subjek dalam kalimat tidak membuat kalimat menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, pengulangan subjek dalam kalimat harus dihindari. Subjek kalimat dapat ditempatkan pada induk kalimat agar gagasan utama kalimat jelas.
(2) Menghindari Hiponimi
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan menghindari hiponimi. Hiponimi adalah kata atau ungkapan yang maknanya merupakan bagian dari makna suatu kata atau ungkapan lain. Penggunaan hiponimi dalam kalimat dapat menyebabkan pleonasme. Adanya ploenasme dalam kalimat akan menyebabkan kalimat menajdi tidak efektif. Oleh karena itu, penggunaan hiponimi dalam kalimat harus dihindari agar tidak terjaid pleonasme.
(3) Pemakaian Kata Depan dari dan daripada
Penggunaan kata depan dari dan daripada berkaitan dengan makna gramatikal suatu kata dalam kalimat. Pemakaian kata depan dari dan daripada dalam kalimat harus disesuaikan dengan fungsinya. Kata depan dari berfungsi untuk menunjukkan arah (tempat) dan asal (asal usul). Kata depan daripada berfungsi untuk membandingkan sesuatu benda atau hal dengan benda atau hal lainnya. Pemakaian kata depan dari dan daripada dengan tepat dalam kalimat dapat membuat kalimat menjadi efektif.
(4) Menghindari Dua Kata Bersinonim
57
dua kata yang bersinonim secara sekaligus tidak membua makna kalimat menjadi jelas. Akan tetapi, dapat menyebabkan terjadinya pleonasme dalam kalimat. Oleh karena itu, untuk menghindari pleonasme dalam kalimat harus dihindari penggunaan dua kata bersinonim dalam kalimat. Hal ini dilakukan agar terbentuk kalimat yang efektif.
(5) Tidak Menjamakkan Kata
Keefektifan kalimat dapat dilakukan dengan tidak menjamakkan kata-kata yang bentuk (maknanya) sudah jamak. Hal ini agar tidak terjadi pleonasme dalam kalimat. Menghilangkan kata yang sudah jamak tidak akan menganggu makna atau arti dari kalimat. Agar terbentuk kalimat yang efektif, kita harus menghindari penggunaan kata-kata yang sudah bermakna jamak. Oleh karena itu, seorang penulis harus berhati-hati dan cermat dalam memilih kata.
(h)Kecermatan
Keefektifan kalimat dapat dibentuk dengan kecermatan. Kecermatan yakni cermat menggunakan kata-kata dalam kalimat sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda (makna ambigu) dalam kalimat. Sebuah kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda merupakan kalimat yang tidak efektif. Oleh karena itu, seorang penulis harus teliti dalam menggunakan kata dalam kalimat. Agar sebuah kalimat tidak mengandung makna ambigu, unsur yang menerangkan pada kalimat harus disebutkan dengan jleas.
58
dapat membantu peneliti dan pembaca memahami teori yang telah dikemukakan. Dengan membaca dan mengamati tabel tersebut, pembaca tidak akan kesulitan untuk memahami teori tersebut. Hal ini karena, ketiga pakar di atas mengungkapkan pendapat yang berbeda. Oleh karena itu, agar teori menjadi lengkap dan saling melengkapi, peneliti membuat simpulan mengenai teori tentang ciri-ciri kalimat efektif.
D. Rubrik “Surat Pembaca” pada Harian Suara Merdeka
1. Pengertian Surat Kabar
Menurut Depdiknas (2008: 1567) surat kabar adalah lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan berita atau informasi. Informasi yang disampaikan bisa melalui media cetak atau elektronik yang ditujukan kepada masyarakat umum. Menurut Alwi (2001: 1109) surat kabar adalah lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan berita atau informasi yang penyampaiannya bisa melalui media cetak atau media elektronik dan disampaikan kepada masyarakat umum. Menurut Komaruddin (2000: 110) surat kabar adalah kertas yang dicetak dan didistribusikan, dan biasanya berupa harian atau mingguan dan berisi opini, karangan, dan iklan dan merupakan suatu alat komunikasi tertulis yang berisi berita, tajuk rencana, artikel, reportase, dan kadang-kadang disertai dengan tulisan hasil kesenian, gambar karikatur, surat kabar, dan iklan.
59
2. Harian Suara Merdeka
Harian adalah surat kabar atau koran yang terbit tiap-tiap hari (Depdiknas, 2008: 526). Jadi, Suara Merdeka merupakan surat kabar yang terbit setiap hari. Suara Merdeka terbit di Kota Semarang, Jawa Tengah. Harian ini memiliki sirkulasi terbatas pada area Jawa Tengah. Oleh karena itu, Suara Merdeka disebut sebagai perekat komunitas Jawa Tengah. Suara Merdeka didirikan oleh H. Hetami yang sekaligus menjadi pemimpin redaksi pada tanggal 11 Februari 1950 (Wikipedia: 2014).
3. Pengertian Rubrik “Surat Pembaca”
Rubrik adalah kepala karangan (ruangan tetap) dalam surat kabar, majalah, dsb (Alwi, dkk., 2005: 965). Surat pembaca adalah surat yang ditulis oleh pembaca yang dimuat dalam surat kabar/ koran, tabloid, atau majalah (Depdiknas, 2008: 1566). Menurut Sumadiria (2011: 4) surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca (letter to the editor) adalah opini publik yang cukup menarik dalam penerbitan pers. Surat pembaca dijadikan umpan balik bagi pengelola penerbitan pers untuk mengetahui sejauhmana berita atau informasi yang disajikan itu dibaca atau ditanggapi pembacanya (Djaruto, 2004: 74).
60 Uraian Teori pada Bab II Dapat Dikerangkapikirkan Ke Bagan I
Bagan I. Kerangka Berpikir
Bahasa
Analisis Keefektifan Kalimat Pada “Surat Pembaca” Harian Suara Merdeka Edisi Agustus-September 2013