• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM DAN KEBIJAKAN PERBANKAN DIINDONES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM DAN KEBIJAKAN PERBANKAN DIINDONES"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM DAN KEBIJAKAN PERBANKAN DIINDONESIA

A. Kedudukan Perbankan Dalam Moneter Dan Perekonomian

1. Kedudukan Bank Sentral

Sebagai lembaga independen bank sentral memiliki otoritas dan hak penuh dalam menentukan arah, tujuan ,instrumen yang akan digunakan dalam mencapai sasaran moneter yang diharapkan untuk kesejahteraan masyarakat indonesia secara menyeluruh.

Seperti yang telah dibahas oleh kelempok sebelumnya mengenai organisasi BI, kedudukan BI serta independensi BI, dimana Bank Sentral dalam hal ini Bank Indonesia memiliki wewenang dalam mengatur kebijakan moneter dengan satu tujuan akhir atau yang disebut single targetting yaitu mencapai dan memelihara kesetabilan nilai rupiah melalui 3 pilar utama tugas BI yaitu : stabilitas moneter , stabilitas sistem pembayaran, Dan stabilitas sistem keuangan.

Independensi bank sentral tertuang dalam peraturan perundang-undangan, secara tersirat dapat dirujuk dalam Pasal 23 UUD ’45, yang menyatakan : “Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab dan independensinya diatur dengan undang-undang.” Sedang penegasan independensi Bank Indonesia dimuat dalam Pasal 4 UU No. 23 tahun 1999, yang menyatakan :

(1) Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia

(2) Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan/atau fihak-fihak lainnya, keuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini. Bank Indonesia adalah badan hukum berdasarkan Undang-Undang ini.

(2)

BPK lembaga dan saling mendukung dengan tujuan yang sama. Walaupun BI memiliki hubungan dengan lembaga lainya, namun dalam penetapan kebijakan moneter dan berdasarkan UU no 23/1999 yang diamandemenkan UU NO. 03/2004 tentang independensi BI dalam menjalankan kebijakan moneter , BI menjadi lembaga yang bebas dari intervensi baik dari pemerintah maupun legislatif.

BI dalam hal ini bertindak sebagai Bank Sentral yang memiliki wewenang mengatur stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter, tentu memiliki andil besar dalam perekonomian. Di masa ini perlunya diterapkan kebijakan moneter masih banyak perdebatan, karena banyaknya ketidakcocokan kondisi suatu negara dengan negara lain yang memilih untuk menerapkan kebijakan moneter atau tidak dalam mengatur perekonomian. Bedanya reaksi yang terjadi akibat adanya kebijkan moneter pada suatu negara, sehingga membuat banyak pendapat yang pro dan kontra terhadap kebijakan moneter. Namun menurut kondisi perekonomian di Indonesia diterapkannya kebijakan moneter sangat perlu, ini telah dibuktikan dengan pembentukan lembaga Bank Sentral yang memliki tugas dibidang moneter. Implementasi kebijakan moneter sangat diperlukan untuk merespon siklus dunia usaha, tapi otoritas moneter ( Bank Sentral ) harus menerapkan prinsip kehati-hatian ( Natsir, 2014: 119). Dengan menganalisa kondisi perekonomian yang sedang terjadi di Negara Indonesia, otoritas moneter harus tetap siaga dalam memperhatikan kebijakan apa yang tepat untuk diterapkan agar dapat mengurangi masalah ketidak stabilan yang terjadi diperekonomian dan bukan memebuat kebijkan yang malah memperburuk keadaan ekonomi.

Jadi dewasa ini dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia yang semakin fluktuatif dan banyaknya ketidakpastian terhadap gejolak ekonomi, maka intervensi pemerintah melalui Bank Sentral sangat diperlukan dalam perekonomian.

2. Kedudukan Dan Peran perbankan

Laporan triwulan, sewaktu waktu, tahunan

(3)

Dari perkembangan dan sejarah yang lalu akan dirincikan kejadian dimana peran perbankan dalam perekonomian yang sangat signifikan dirasakan dan menyebabkan berbagai efek yang saling berhubungan dan berkaitan atau yang disebut efek domino. Pada situasi saat ini andil perbankan dalam perekonomian sangat besar ditambah lagi tujuan utama pemerintah saat ini adalah mengoptimalkan jasa perbankan sehigga perlunya mempelajari historical perbankan di indonesia akan sangat membantu dalam membaca situasi kedepannya.

Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang ada di indonesia saat ini .Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan Dan menyalurkan kepada masyarkat dalam bentuk pinjaman dengan tujuan meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (aulia pohan).

Keberadaan perbankan dalam perekonomian dewasa ini sudah menjadi kebutuhan pokok dalam menyukseskan pembangunan nasional. Banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas perbankan membuat perbankan perlu kebijakan-kebijakan yang mendukung kegiatan yang dilakukan bank agar posisi krusial yang ditempati perbankan dalam perekonomian berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan. Perlunya kebijakan menyangkut perizinan, pengaturan dan pengawasan terhadap lembaga perbankan. Dan tindak lanjut dari kebijkan pengawasan berupa sanksi terhadap penyimpangan dalam rangka pembinaan terhadap upaya meningkatkan kesehatan lembaga perbankan.

Karena lembaga perbankan yang aktivitasnya penghimpun dan penyalur dana yang dimiliki oleh masyarakat maupun entitas-entitas tertentu maka faktor kepercayaan terhadap lembaga perbankan oleh seluruh lapisan masyarakat harus dijaga, karena bank tidak hanya dibutuhkan oleh individu dan masyarakat secara keseluruhan tapi juga sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu negara. Proses pergerakanya mulai dari intermediasi yang dilakukan perbankan yaitu dengan mnghimpun dana dari masyarakat dan disalurkan pada pihak yang membutuhkan dana untuk mengembangkan dana tersebut ke sektor yang produktif sehingga kegiatan bank ini akan memicu kegiatan investasi, produksi Dan tentunya konsumsi masyarakat.

Pada perkembangan lebih jauh bank menjalankan berbagai kegiatan operasional lainya, seperti ikut dalam pasar modal, kegitan tranfer keluar negri dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan diluar operasional yang ditekuni perbankan di era moderen sekarang

Gambaran sederhana posisi perbankan dalam perekonomian

Debitur (masyarakat) Deposan

(masyarakat)

Investasi

(4)

B.

Kebijakan perbankan di Indonesia

1. Gambaran umum sistem Dan kebijakan perbankan di Indonesia

Bank adalah lembaga kepercayaan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi, membantu kelancara sistem pembayaran Dan juga sebagai lembaga yang menjadi sarana dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karenanya kondisi kesehatan bank perlu diperhatikan secara seksama, dalam prinsipnya kesehatan perbankan akan membawa kesehatan pada perekonomian. Untuk itu otoritas pengawasan bank merupakan bagian yang dibentuk untuk upaya menciptakan, menjaga dan memelihara sistem perbankan yang sehat.

a. Definisi Dan fungsi bank dalam perekonomian

Secara umum lembaga keuangan dibagi menjadi dua bagian yaitu lembaga keuangan bank Dan lemabaga keuangan non-bank.

Ciri umum yang dimiliki oleh seluruh perbakan adalah sbb:

1) Memiliki kewajiban yang harus dibayar setiap saat apabila ditagih sebagaimana tercermin dari sisi pasiva bank

2) Memiliki harta yang tidak liquid yang penilaiannya tidak mudah serta berjangka waktu lebih lama dibandingkan dengan kewajiban yang dimiliki (diamond and dybvig, 1983 dalam seri kebanksentralan n0.7: 2003).

Di era moderen bank dapat melakukan berbagai aktivitas sesuai ketentuan yang berlaku. Di indonesia menurut undang-undang yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana tersebut kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan pengertian tersebut maka Bank dikatakan sebagai lembaga perantara atau lembaga intermediasi.

Fungsi intermediasi bisa berlanjan dengan lancar apabila kedua belah pihak telah memiliki kepercayaan terhadap Bank. Kebijakan perbankan yang efektif terutama harus mengarah pada menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Oleh karena itu, bank sering disebut sebagai Lembaga Kepercayaan. Dari proses intermediasi tersebut, bank akan memperoleh manfaat berupa selisih pendapatan dan biaya bunga yang biasa disebut spread. Disisi lain perekonomian juga mendapat manfaat yaitu berupa mekanisme alokasi sumber-sumber dana

Perbankan

(Intermediasi )

Pertumbuhan Sektor rill

Kegiatan produksi

(5)

secara efektif dan efisien. Selain memberikan dua manfaat diatas, Bank juga bermanfaat untuk media dalam menstransmisikan kebijakan moneter.

b. Kedudukan Perbankan dalam Sistem Perekonomian

Pada dasarnya Bank merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang disebut dengan Sistem Perbankan. Sistem Perbankan dapat diartikan sebagai kumpulan dari lembaga, kegiatan usaha, serta cara dan proses pelaksanaan kegiatan usaha yang memungkinkan bank melaksanakan fungsinya dengan baik. Sistem perbankan juga dikatakan sebagai bagian dari suatu sistem yang lebih luas lagi yaitu Sistem Keuangan. Sistem Keuangan merupakan kumpulan dari pasar, lembaga keuangan, hukum, peraturan, customs tradisi.

Sistem Perbankan juga merupakan bagian dari sistem moneter, karena bank selain menjadi sarana dalam transmisi kebijakan moneter juga dapat menciptakan uang. Dalam prakterk, bank umum di Indonesia adalah bank yang dapat menciptakan uang giral dan uang kuasi.

c. Kenapa Bank Harus diatur dan Diawasi?

Timbulnya sistem perbankan yang tidak sehat menjadi alasan pentingnya pengaturan dan pengawasan bank sebagai upaya menciptakan dan memelihara kesehatan sistem perbankan.

Kesehatan Bank tidak hanya menjadi kepentingan pemilik dan pengelola bank yang bersangkutan, tetapi merupakan kepentingan masyarakat dan pemerintah serta perekonomian nasional. Pengaturan dan pengawasan bank tidak hanya dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetapi juga dimaksudkan untuk mencegah kerugian masyarakat dan pemerintah. Selain itu, dengan pengaturan dan pengawasan memunginkan tersedianya informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sesuai dengan kepentingannya. Dengan informasi tersebut masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam melakukan transaksi dan kegiatan lainnya yang terkait dengan bank.

d. Pengaturan dan Pengawasan Perbankan yang Efektif

Dalam kenyataannya memang pengaturan dan pengawasan tidak dapat menjamin seratus persen bahwa tidak akan ada bank yang dilikuidasi atau terjadi krisis perbankan. Pengawasan dan pengaturan sebenarnya merupakan bagian dari pengawasan yang lebih bersifat komprehensif atau menyeluruh.

1) Pengaturan Bank yang efektif

(6)

operasional bank. Peraturan atau ketentuan tersebut sering disebut dengan ‘banking prudential principles’ atau pengaturan tentang prinsip-prinsip kehati-hatian pada bank.

‘Prudential banking regulation’ atau pengaturan dan ketentuan tentang kehati-hatian pada bank pada dasarnya berupa pengaturan tentang izin pendirian atau pembukaan bank baru dan cakupan kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ketentuan mengenai pendirian bank baru sangat diperlukan karena jumlah bank akan menentukan struktur pasar dan persaingan dalam sistem perbankan di negara yang bersangkutan.

Selain mengatur masalah izin pendirian bank baru, otoritas juga mengatur kegiatan operasional suatu bank, mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pengaturan mengenai cakupan kegiatan operasional juga akan menentukan struktur industri perbankan di negara yang bersangkutan.

Pengaturan tentang prinsip kehati-hatian harus dapat meyakinkan bahwa pemilik dan pengelola bank adalah orang yang fit dan proper atau kompeten dan empunyai integritas dan tanggung jawab yang tinggi.

Pengaturan tersebut sebenarnya adalah untuk membantu pengelola bank agar tidak melakukan hal-hal yang dapat meyebabkan resiko yang berlebihan.

2) Pengawasan Bank yang Efektif

Tugas pengawas bank pada dasar nya adalah memantau dan memeriksa apakah pemilik dan pengelola bank telah melaksanakan pengaturan tentang kehati-hatian pada bank. Dengan pengawasan, maka akan dapat segera dilakukan langkah-langkah yang diperlukan apabila terdapat peraturan atau ketentuan yang tidak dilaksanakan. 2 pengawasan yang baik adalah :

- Pengawasan Offsite (Tidak Langsung) Pengawasan yang dilakukan melalui berbagai laporan yang disampaikan oleh bank. Dengan pengawasan ini, pengawas dapat memantau ketaatan pengurus bank terhadap ketentuan yang berlaku sehingga dapat mengidentifikasi adanya penyimpangan serta dapat segera mengambil tindakan yang diperlukan.

(7)

dan melakukan pemeriksaaan terhadap bank yang bersangkutan. Pengawasan ini terutama dilakukan untuk memeriksa kebenaran dan akurasi laporan keuangan dan seluruh kegiatan operasional bank, menilai kualitas manajemen serta sistem pengawasan yang dimiliki bank.

2. Kebijakan Dan perkembangan bidang perbankan

a. Sebelum 1 Juni 1983

Sampai dengan tahun 1967 sektor perbankan tidak dapat berkembang akibat politik dan ekonomi yang terjadi pada periode tersebut. Tingginya inflasi dan belum adanya pengaturan yang memadai mengenai sistem perbankan menyebabkan kurangnya kepercayaan masyarakat pada perbankan sehingga perkembangan sektor perbankan mengalami kemunduran (baik dalam penyaluran dan pengerahan dana). Terbentuknya Pemerintah Orde Baru berupaya menghidupkan kembali sistem finansial yang ada dan menata kembali sistem moneter dan perbankan.

Pada tahun 1968, pemerintah menempuh kebijakan penentuan suku bunga deposito sebesar 30%-72% per tahun dan suku bunga pinjamann sebesar 60% per tahun. Selain itu pemerintah mengeluarkan dua macam peraturan perbankan yang penting, yaitu UU No.14 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perbankan dan UU RI No.13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral.

Berdasarkan UU No.14 Tahun 1967 ditetapkan pengutamaan tugas sektoral masing-masing bank pemerintah yang ditujukan kepada usaha perbaikan ekonomi rakyat dan pembangunan nasional. Selain itu pemerintah juga memberikan izin bagi pendirian cabang dan kantor perwakilan bank-bank asing untuk beroperasi di Indonesia (dibatasi didalam wilayah DKI Jakarta saja), yang diharapkan memberikan dampak positif bagi perkembangan perbankan di Indonesia.

Pada tahun 1969/70 sampai dengan tahun 1973/74 pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan sebagai pelaksanaan dan undang-undang pokok perbankan tahun 1967 yang ditujukan untuk meningkatkan kegiatan bank-bank dan peranan perbankan. Peraturan pemerintah No.8 Tahun 1969 mengatur syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan bagi bank swasta nasional untuk bisa menjadi bank devisa.

(8)

tabungan pemerintah. Di bidang bank sekunder, pada tahun 1970 pemerintah telah pula mengatur kembali pendirian bank desa.

Pada bulan November 1969 Bank Indonesia menggariskan kebijakan baru di bidang pembinaan bank-bank. Tindakan tersebut mencakup 2 masalah penting yaitu 1) menyarankan dan menganjurkan bank untuk melakukan merger. 2) memberikan bantuan kepada bank-bank dalam bentuk fasilitas keuangan dan petunjuk-petunjuk teknis yang berhubungan dengan reorganisasi bank.

Pada bulan April 1974 bank swasta nasional diizinkan beroperasi sebagai bank devisa di daerah dimana bank tersebut berada membutuhkan tambahan bank devisa. Untuk beroperasi sebagai bank devisa, bank swasta tersebut telah beroperasi sekurang-kurangnya 5 tahun dan telah melakukan merger dengan bank lain. Patut dikemukakan bahwa dalam rangka mengendalikan laju inflasi yang terus meningkat tajam dalam permulaan tahun 1970-an, pemerintah pada bulan April 1974 mengambil kebijakan moneter secara kuantitatif, yaitu dengan membatasi ekspansi (pagu) kredit dan menentukan suku bunga deposito sebesar 15% per tahun untuk jangka waktu empat tahun berturut-turut. Kebijakan ini membawa dampak menurunnya aktivitas penghimpunan dana maupun karena adanya pembatasan pemberian kredit.

Pada tahun 1977 pemerintah menurunkan kewajiban pemeliharaan likuiditas minimum, yakni 30% menjadi 15%. Dalam ketentuan likuiditas minimum tersebut, Bank Indonesia memberikan bunga atas kelebihan diatas jumlah simpanan wajib pada Bank Indonesia. Fasilitas ini dimaksudkan untuk membantu bank-bank yang mengalami kelebihan likuiditas sebagai dampak dan adanya kebijakan pagu kredit.

Selanjutnya untuk mengembangkan bank-bank desa, sejak bulan September 1977, Bank Indonesia mendelegasikan fungsi pengawasan danpembinaan terhadap bank-bank desa kepada Bank Rakyat Indonesia. Meskipun demikian, petunjuk-petunjuk umum masih berada dibawah pengawasan Bani Indonesia.

Perkembangan Perbankan Tahun 1969, 1974 dan 1979

NO 1969 1974 1979

2 Total Aktiva (Rp Miliar) 290,7 1722 5322

3 Dana Terhimpun (Rp Miliar) 185,2 1002 3337

(9)

b. 1 juni 1983- sebelum pakto 28 oktober 1988

Memasuki tahun 1980-an kondisi perekonomian indonesia mengalami kesulitan sehingga mendorong pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk mendorong kembali perekonomian negara.

Langkah awal dengan melakukan deregulasi disektor perbankan pada tanggal 1 juni 1983 pada pokoknya berupaya mendorong perbankan untuk lebih meningkatkan mobilisasi dana masyarakat serta mempertinggi tingkat efisien dan profesionalisme perbankan melalui penghapusan pagu kredit, pemberian kebebasan pada bank-bank pemerintah untuk menetapkan kebijakan dan suku bunga kreditnya serta pembatasan penyediaan kredit iquiditas hanya kepada sektor yang berprioritas tinggi.

Dampak kebijakan ini membawa pengaruh signifikan pada dunia perbankan yang membuat makin sengitnya persaingan di dunia perbankan terutama dalam fungsinya sebagai lembaga penghimpun dana masyarakat.

Akibatnya, kondisi ini membuat pengaruh pada sistem dan tata kerja perbankan. Karena kondisi yang sangat kompetitive ini membuat suku bunga simpanan naik. Namun dampak positif juga dirasakan dalam situasi ini yaitu upaya untuk memperluas dan memperdalam pelayanan dan penggunaan perbankan dalam moneterisasi perekonomian serta meningkatkan efisiensi alokasi penggunaan sumber dana kearah sektor-sektor yang produktif.

Dampak lain, terjadinya pengawasan dan pembinaan yang ketat oleh BI terhadap perbankan.

Kemudahan perbankan saat adanya deregulasi :

 Penyediaan kredit liquiditas yang berbunga rendah ( 3%)

 Izin pembukaan kantor cabang

 Menyelenggarakan jenis pelayan baru kepada masyarakat

Pada dasarnya kemudahan ini bersifat mengikat karena perbankan diharuskan memenuhi kewajiban yang disyaratkan oleh BI.

Kebijakan pengembangan setelah 1 juni 83 terus berkembang spt brk:

 Mendorong penggabungan usaha atau marger antar bank swasta nasional

 Memberi bantuan peningkatan efisiensi bank pemerintah

 Dan bantuan teknis pada bank pembangunan daerah

 Memperluas jaringan kliring lokal

 Mendorong bank untuk lebih berkreasi, inisiatif , dan profesionalisme dalam menghadapi situasi yang competitive.

Pada tahun 1984 pemerintah memudahkan izin pembukaan kantor cabang .

Lalu pemerintah juga memberikan kelonggaran waktu pada BUSN untuk persiapan pembukaan kantor cabang yang semula 6 bulan menjadi 1 tahun.

Dampaknya bank memiliki kelebihan liquiditas akhirnya BI menaikan GWM dari 10% menjadi 13%.

Selanjutnya diterbitkan SBI Dan membuat jasa giro wajib turun dari 13% menjadi 7%.

(10)

Disususl pada tanggal 1 february 1985 dihapuskan jasa giro atas kelebihan saldo rupiah bank-bank pada BI.

Mei 1985 pemerintah memperbolehkan BUSN membuka kantor cabang bank devisa.

1 oktober 1987 bank-bank di kota- kota tertentu diberi kesempatan melakukan transferke kota lain atas kelebihan dana yang dimiliki.

Dengan adanya kebijakan yang diambil pada 1 juni 1983 membuat perbanakan diindonesia berkembang pesat Dan keberhasilan yang memuaskan dalam pengerahan dana. Sementara itu jumlah bank terus berkurang sebagai akibat dari marger pada akhir tahun 1987.

Tahun 1983 1987

Jumlah bank 127 112

Bank pemerintah 7 5

Bank swasta nasional 83 64

Bank pembangunan daerah 26 32

Bank asing Dan campuran 11 11

Jumlah kantor cabang 1064 1640

Total aktiva ( Rp miliar rupiah) 22118 50334 Dana terhimpun ( Rp miliar rupiah) 14704 34881 Kredit yaang disalurkan ( Rp miliar rupiah) 13827 34135 Pokok-pokok kebijakan deregulasi perbankan 1 juni 1983 yakni :

1. Pagu credit (ceiling policy) dibebaskan artinya setiap bank dapat mengadakan ekspansi kreditnya menurut pengelolaan masing-masing bank asalkan bank tersebut memiliki loanable funds yang cukup.

c. Loanable funds yang bersumberkan dari Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dibatasi dan hanya diberikan untuk kredit-kredit yang bersifat prioritas.

d. Masing-masing bank bebas menentukan tingkat bunga simpanan dan bunga pinjamannya.

e. Setelah paket kebijakan 27 oktober 1988

Langkah-langkah deregulasi lanjutan dengan adanya paket kebijakan 27 oktober 1988 dalam bidang moneter, perbankan dan keuangan.

Penyempurnaan dari pakjun mengenai penyempurnaan dan perluasan sarana yang dapat memungkinkan pengerahan dan penyaluran dana masyarakat secara lebih intensif dan efisien. Langkahnya dengan memberikan perluasaan izin kemudahan pempembukaan kantor cabang bank kantor lembaga bukan bank,pendirian bank swasta baru, bank campuran Dan BPR.

Semua bank diperkenankan menerbitkan Tabnas /Taska, LKBB diperkenankan menerbtkan sertifikat deposito .

kebijakan 27 oktober 1988 juga memberikan kemudahan bagi bank untuk menjadi bank devisa dengan pembukaan kantor cabang pembantu, bank asing, dan usaha perdagangan valas serta membuka kesempatan mendirikan bank campuran.

Tujuan dari pakto 1988 yakni :

(11)

b. Pendayagunaan lembaga keuangan dan perbankan agar bergfunsi sebagai sarana transaksi yang dapat mendorong ekspor non minyak dan gas

c. Peningkatan efisiensi dan kemudahan pendirian bank

d. Pengendalian kebijakan moneter serta pencipataan iklim pengembangan pasar modal.

Secara umum tujuan dilancarkannya deregulasi dapat disimpulkan

a. Penyederhaan proses berbagai kegiatan ekonomi.

b. Penekanan ongkos-ongks non produktif dalam perekonomian. c. Efisiensi lembaga-lembaga pelaku ekonomi.

d. Pengurangan campur tangan pemerintah dalam perekonomian e. Meningkatkan peran swasta yang lebih besar dalam

perekonomian.

f. Mengupayakan membuat daya saing produk di dalam negeri lebih wajar dalam percaturan ekonomi internasional.

f.

Paket Kebijakan Februari 1991

Yang berisi ketentuan yang mewajibkan bank berhati-hati dalam pengelolaannya. Pada 1992 dikeluarkan UU Perbankan menggantikan UU No. 14/1967. Sejak saat itu, terjadi perubahan dalam klasifikasi jenis bank, yaitu bank umum dan BPR. UU Perbankan 1992 juga menetapkan berbagai ketentuan tentang kehati-hatian pengelolaan bank dan pengenaan sanksi bagi pengurus bank yang melakukan tindakan sengaja yang merugikan bank, seperti tidak melakukan pencatatan dan pelaporan yang benar, serta pemberian kredit fiktif, dengan ancaman hukuman pidana. Selain itu, UU Perbankan 1992 juga memberi wewenang yang luas kepada Bank Indonesia untuk melaksanakan fungsi pengawasan terhadap perbankan.

lahir UU Perbankan baru No.7 tahun 1992 merupakan penyempurnaan UU Nomor 14 tahun 1967. Intinya, UU itu menggarisbawahi soal peniadaan pemisahan perbankan berdasarkan kepemilikan. Kalau UU yang lama secara tegas menjelaskan soal pemilikan bank/ pemerintah, pemerintah daerah, swasta nasional, dan asing.

Mengenai perizinan, pada UU lama persyaratan mendirikan bank baru ditekankan pada permodalan dan pemilikan. Pada UU yang baru, persyaratannya meliputi berbagai unsur seperti susunan organisasi, permodalan, kepemilikan, keahlian di bidang perbankan, kelayakan kerja, dan hal-hal lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan pertimbangan Bank Indonesia.

g. Paket kebijakan mei 1993

Pada periode 1992-1993, perbankan nasional mulai menghadapi permasalahan yaitu meningkatnya kredit macet. Selain kredit macet, yang menjadi penyebab keengganan bank dalam melakukan ekspansi kredit adalah karena ketatnya ketentuan dalam Pakfeb 1991 yang membebani perbankan.

Pakmei 1993 ternyata memberikan hasil pertumbuhan kredit perbankan dalam waktu yang sangat singkat dan melewati tingkat yang dapat memberikan tekanan berat pada upaya pengendalian moneter. Kredit perbankan dalam jumlah besar mengalir deras ke berbagai sektor usaha, terutama properti, meski BI telah berusaha membatasi. Keadan ekonomi mulai memanas dan inflasi meningkat.

(12)

Kebijkan perbankan pada dasarnya ditujukan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi Dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan semua rakyat secara merata. Menciptakan Dan mejaga Bank yang sehat dibrutuhkan kerjasama dari semua pihak seperti bank-bank yang bersangkutan, pemerintah beserta masyarakat yang menggunakan jasa perbankan.

a. Sistem perbankan indonesia

Jenis bank di indonesia sebagaimana disebutkan dalam UU NO. 7 tahun 1992 yang telah diamandemenkan dengan UU NO 10 tahun 1998 tentang perbankan, meliputi bank umum Dan bank perkreditan rakyat. Yang dimaksud dengan bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usah secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalulitas pembayaran. Sedangkan yang dimaksud BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional maupun syariah yang dalam aktivitasnya tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran.

Masalah pemberian jasa lalulintas pembayaran anatar bank umum Dan BPR, seperti : bank umum diperbolehkan menerima simpanan dalam bentuk giro yang penarikannya dapat dilakukan dengan menggunkan cek atau alat lalu lintas pembayaran lainya, serta bank umum dapat melakukan kliring. Oleh sebab itu bank umum disebut sebagai bank pencipta uang giral (BPUG).

Dengan adanya perbedaan antara bank umum Dan BPR, maka yang termasuk dalam sistem moneter di indonesia adalah bank umum Dan bank sentral selaku otoritas moneter.

Pengelompokan bank di indonesia berdasarkan kepemilikan Dan ruang lingkup operasi dibagi menjadi ;

Berdasarkan kepemilikan :

 Bank milik pemerintah, yang disebut bank persero

 Bank milik pemerintah daerah

 Bank pembangunan daerah (BPD)

 Bank asing

 Bank campuran

 Bank milik swasta nasional

(13)

Tabel perkembangan jumlah bank di indonesia

b. Peran bank indonesia dalam kebijakan perbankan

Alur peraturan perbankan diindonesia

PP No.1 tahun 1955

Alur penegasan peraturan pengawasan oleh

BANK INDONESIA

UU No.11 thun 1953  Peraturan pertma yang secara formal tentang Bank

Indonesia

 Bank Indonesia berperan sebagai penentu kebijakan perbankan di indonesia

 Pasal 7(3,4,5) ; bank (indonesia )memajukan perkembangan

yang sehat dari urusan kredit Dan urusan Bank RI pada umumnya Dan pada khususnya urusan kredit nasional Dan bank nasional

 Bank melakukan pengawasan terhadap urusan kredit  PP lebih lanjut bagi bank untuk menjalankan kepentingan

pengawasan termasuk kemampuan solvabilitas Dan liquiditas bank, pemberian kredit berdasarkan asas-asas kebijkan bank yang tepat

 Tentang pengawasan terhadap urusan kredit

 Masalah perizinan , pengaturan, pengawasan maupun

pemberian sanksi atas pelanggaran

 Isi perizinan pendirian bank berupa ketentuan

permodalan,pelaksanaan pengawasan , pemberian sanksi hingga encabutan izin usaha bank

 Masalah pengawsan dirinci dalam PP no.1 1955 pasal 5

yang menyatakan bahwa “Bank (indonesia) melakukan atas nama dewan moneter pengawsan terhadap badan-badan kredit yang ada Dan akan didirikan di indonesia guna kepentingan solvabilitet Dan likwiditet guna kepentingan pemberian kredit secara sehat Dan berdasarkan asas kebijkan bank yang tepat. Pembentukan Unit khusus pada indonesia dalam UU No. 13 thun 1968 keuangan Dan bukan lagi atas nama dewan moneter

Otoritas pengaturan Dan

(14)

Adanya deregulasi perbankan mulai tahun 1983 -1988 tidak merubah peran BI di bidang pengaturan Dan pengawasan . setelah terjadi deregulasi di sektor perbankan dilakukannya pembenahan mengenai ketentuan bidang perbankan yang dituangkan dalam UU No. 7 tahun 1992 tentang pokok-pokok perbankan.

Kemudian diamandemenkan oleh UU No.10 tahun 1998 tentang perbankan . terjadinya amandemen peraturan perbankan tersebut merubah peran Bank Indonesia. Peran penting Bank Indonesia dalam kebijakan perbankan yaitu sebagai otoritas tunggal yang berwenang mengatur Dan mengawasi perbankan ,kemudian ditegaskan kembali dalam UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Dalam UU tersebut juga dinyatakan bahwa pengawasan bank akan dialihkan dari BI ke lembaga pengawasan sektor jasa keuangan atau OJK .

Isi perubahan undang-undang No.10 tahun 1998 :

1. Pengalihan wewenang perijinan di bidang perbankan dari mentri keuangan kepada pimpinan bank indonesia

2. Pemilikan bank oleh pihak asing tidak dibatasi, tapi tetap memperhatikan prinsip kemitraan

3. Pengembangan bank berdasarkan syariah

4. Perubahan cakupan rahasia bank yang semula meliputi sisi aktiva dan pasiva dari neraca bank, menjadi hanya nasabah penyimpan dan simpanannya.

5. Pembentukan lembaga penjamin simpanan (LPS)

6. Pendirian badan khusus yang bersifat sementara dalam rangka penyehatan perbankan.

Pokok-poko kebijakan dan pengaturan pengawasan bank di Indonesia dituangkan dalam bentuk peraturan bank indonesia (PBI). Seluruh ketentuan perbankan telah diterbitkan dalam himpunan ketentuan perbankan indonesia (HKPI), yang terdiri dari empat jilid yaitu; ketentuan kelembagaan, kegiatan usaha bank, pengelolaan bank, dan pembinaan & pengawasan bank serta liquidasi bank.

Cakupan kebijakan pengaturan dan pengawasan bank secara umum dikelompokan dalam; perizinan, pengaturan, pengawasan dan pemberian sanksi.

c. Kebijakan dalam hal bank-bank mengalami kesulitan

Dalam UU perbankan telah diatur bahwa apabila dalam hal suatu bank menurut penilaian Bank Indonesia membahayakan kelangsungan usaha bank yang bersangkutan atau membahayakan sistem perbankan Dan selanjutnya akan berdampak pada perekonomian nasional, maka Bank Indonesia dapat melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam UU.

Apabila suatu bank mengalami kesulitan yang membahyakan kelangsungan usahanya, tindakan yang dapat dilakukan Bi adlah sbb;

 Pemegang saham menambah modal

 Pemegang saham mengganti dewan komisaris Dan atau direksi bank

 Bank menghapus bukukan kredit berdasarkan prinsip syariah yang macet Dan memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya

 Bank melakuakn marger atau konsolidasi

(15)

 Pengurus bank harus bertanggungjawab atas modal yang sudah ditanamkan.

Mendirikan bank baru memerlukan modal disetor 3T, rasio kecukupan modal (CAR) minimal 8%.

Penilaian bank sehat selanjutnya berasal dari kualitas aktiva produktif (asset). Hasil penyaluran kredit Dan aktiva lainya akan menjadi sumber pendapatan bagi bank. Walaupun bank secara rill memiliki modal yang cukup besar apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja terjadi kondisi modal ikut memburuk. Ini berkaitan dengan pembentukan cadangan ,penilaian asset,pemberian pinjaman pada pihak terkait, dll.

Maslah pemberi pinjaman pada pihak terkait diatur dalam ketentuan batas minimum pemberian kredit (BMPK).

Penilaian terhadap aktivitas produktif menurut ketentuan perbankan di Indonesia berdasarkan 2 rasio, yaitu rasio aktiva produktif Dan rasio CKPN atau PPAP( penyisishan penghapusan aktiva produktif) yang wajib dibentuk oleh bank.

Selanjutnya masalah Manajemen. Dengan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan bank yang bersangkutan.

Sisi keuntungan juga perlu sebaga indentifikasi bank-bank bermasalah . apabila bank selalu megalami kerugian dalam kegiatan operasionalnya maka lambat laun kerugian akan merambah Dan mempengaruhi permodalan.

Dari sisi liquiditas , penilaian terhadap faktor liquiditas dilakukan dengan menilai dua buah rasio yaitu rasio kewajiban bersih antar bank terhadap modal inti Dan rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank. Yang dimaksud dengan kewajiban bersih antar bank adalah selisih antara kewajiban bank dengan tagihan kepada bank lain. Sementara yang dimaksud dengan dana yang diterima adalah kredit liquiditas bank indonesia, giro ,deposito, tabungan, dll.

Selain itu terdapat fakt0r lain juga yang menentukan tingkat kesehatan bank yaitu BMPK Dan ketentuan posisi devisa neto.

4. Kebijakan penanggulangan kriss perbankan di Indonesia

(16)

dari bank. Dalam rangka menanggulangi kepercayaan masyarakat tersebut, Pemerintah dan Bank Indonesia mengeluarkan berbaga kebijakan di bidang perbankan.

I. Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

BPPN adalah suatu lembaga yang dibentuk berdasarkan Keppres No.27 pada tanggal 27 Febuari Tahun 1998 tentang Pembentukan BPPN dengan tujuan penyehatan perbankan di Indonesia yang bersifat sementara (berlaku lima tahun) dan dapat diperpanjang selama diperlukan untuk menjalankan tugas.

BPPN ditugaskan untuk memulihkan kondisi perbankan nasional serta mengembalikan uang negara yang telah disalurkan ke sektor perbankan. Sesuai undang-undang perbankan, tga tugas pokok BPPN adalah melakukan penyehatan perbankan, menyeleseikan aset bermasalah, dan mengupayakan pengembalian uang negara yang telah tersalur pada sektor perbankan.

II. Restrukturisasi Perbankan Indonesia

Program restrukturisasi ini diwujudkan dalam bentuk pemulihan kepercayaan masyarakat, serta perbaikan solvabilitas dan profitabilitas bank. Diharapkan dapat dibangun kembali sistem perbankan yang sehat, kuat, dan mampu mencegah terjadinya krisis di masa mendatang.

Restrukturisasi perbankan pada intinya dilakukan melalui dua program, yaitu :

1. Program Penyehatan Perbankan

Program ini berupaya menyeleseikan persoalan likuiditas yang lebih disebabkan oleh masalah kepercayaan masyarakat, persoalan rentabilitas yang disebabkan oleh buruknya kualitas aktiva, persoalan produktif (KAP) ketika kredit macet sangat tinggi serta persoalan solvabilitas yang disebabkan oleh menurunnya permodalan bank hingga negatif.

Sesuai dengan persoalan yang dihadapi tersebut, program ini meliputi : a. Program Penjaminan

b. Program Rekapitalisasi Bank Umum c. Program Restrukturisasi Kredit

2. Program Peningkatan Ketahanan Perbankan

Seiring dengan program penyehatan yang tengah berlangsung, dilakukan juga upaya untuk lebih meningkatkan kemampuan perbankan untuk menjalankan fungsinya dan dengan demikian menjadi lebih tangguh dalam menghadapi segala tantangan yang dilakukan melalui :

a. Pengembangan Infrastruktur

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Aulia Pohan.2008.Potret Kebijakan Moneter Indonesia.Jakarta:Rajawali Pers.

Anonime.200x. Sejarah Bank Indonesia : Perbankan (Periode 1983-1997).Unit Khusus Museum Bank Indonesia: www.bi.go.id .

Natsir,Muhammad.2014.Ekonomi Moneter Dan Kebanksentralan.Jakarta: Salemba4.

(18)

EKONOMI MONETER I

Sistem Dan Kebijakan Perbankan Di Indonesia

Oleh:

Nur fransiska ayu noviona (145020400111003)

Irma Asyatun (145020400111012)

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

Gambar

Tabel perkembangan jumlah bank di indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Kekurangan guru saat mengajar antara lain yaitu saat pertemuan pertama pada kegiatan pembelajaran guru kurang jelas menyampaikan tujuan pembelajaran masih ada yang

Furthermore, in support of these objectives, this research uncovered that organizations in successful partnering relationships commonly developed a system to assess the

Tujuan dari perancangan desain ini adalah merancang interior Museum Gunungapi Merapi sebagai sarana informasi bagi pengunjung untuk mengenal, memahami, dan menghayati

Definisi dari brand switching lainnya adalah perpindahan merek yang dilakukan oleh pelanggan untuk setiap waktu penggunaan, tingkat brand switching ini juga menunjukkan sejauh

The Fed berharap untuk menaikkan suku bunga setelah rapat FOMC; kenaikan tersebut merupakan yang keempat pada 2018.. Pun, Trump telah beberapa kali melontarkan

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sumber daya manusia, politik penganggaran, perencanaan, informasi pendukung tidak berpengaruh signifikan terhadap sinkronisasi dokumen

Setelah mencapai kedalaman yang ditentukan dan grouting selesai dilakukan pada titik B6*= dan B6*'2 maka ditengah*tengah segitiga tersebut dibuat lubang bor CH-2   dengan kedalaman

Dalam proses Profile Matching secara garis besar merupakan proses membandingkan antara kompetensi individu ke dalam kompetensi jabatan sehingga dapat diketahui