Modul Bahan Ajar UB Distance Learning

92 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN- TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

Modul Bahan Ajar UB Distance Learning

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

(2)

1.

TUJUAN PEMBELAJARAN

1.1. Mempelajari Teknologi Produksi Tanaman dalam upaya mendapatkan produktifitas tanaman yang maksimal dengan cara yang berdayaguna dan berlanjut.

1.2. Memahami dan mampu menerapkan dengan tepat, benar dan trampil Teknologi Produksi Tanaman.

1.3. Mampu menerapkan sikap dan tata nilai akademis dalam melakukan Teknologi Produksi Tanaman

2. PERKULIAHAN

2.1 Bobot dan Penanggung Jawab Perkuliahan

Mata Kuliah Teknologi Produksi Tanaman adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa PS Agroekoteknologi dan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP-UB) pada semester III.

Bobot mata kuliah ini 6 SKS terdiri dari Kuliah Tatap Muka 2 SKS, Tutorial 2 SKS dan Praktikum 2 SKS. Satu SKS perkuliahan dan tutorial bermakna 50 menit tatap muka di kelas ditambah 1 – 2 jam tugas terstruktur dan 1 – 2 jam tugas mandiri setiap minggu. Satu SKS praktikum bermakna 2 – 4 jam praktikum di lapang ditambah 1 – 2 jam tugas terstruktur dan 1 – 2 jam tugas mandiri setiap minggu.

Penanggung Jawab kuliah ini adalah Laboratorium Sumberdaya Lingkungan (SDL), Jurusan Budidaya Pertanian FP-UB dan didukung dengan keilmuan dari Jurusan Ilmu Tanah dan Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.

2.2. Dosen Pengampu Kuliah dan Praktikum Teknologi Produksi

Tanaman

Perkuliahan pada setiap kelas diampu oleh 3 orang dosen yang berasal dari Jurusan Budidaya Pertanian, Jurusan Ilmu Tanah dan Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.

Dosen pengampu dari Jurusan Budidaya Pertanian bertugas pada paruh semester awal yakni sejak awal perkuliahan hingga sebelum UTS, sedangkan dosen pengampu dari Jurusan Ilmu Tanah dan Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman bertugas pada paruh semester akhir yakni perkuliahan setelah UTS hingga UAS.

Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang

1

(3)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

Dosen pengampu TA 2014/2015 dari Laboratorium Sumberdaya Alam (SDL) Jurusan Budidaya Pertanian sebagai berikut:

1. Dr. Ir .Agus Suryanto, MS *) 2. Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno 3. Prof. Dr. Ir. Husni Tamrin, MS 4. Prof. Dr. Ir. Sudiarso, MS

5. Prof. Dr. Ir. Eko Widaryanto, MS 6. Dr. Ir. Muji Santosa, MS

7. Dr. Ir. Didik Hariyono, MS 8. Dr. Ir. Agung Nugroho, MS 9. Dr. Ir. Nurul Aini, MS 10. Dr. Ir. Sitawati, MSi

11. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, MS 12. Dr. Ir. Titin Sumarni, MS

13. Karuniawan Puji Wicaksono, SP, MP, Ph.D 14. Ir. Y.B.Suwasono Hedy, MS

15. Ir. Ninuk Herlina, MS 16. Medha Baskara, SP, MT 17. Nur Azizah, SP, MP

18. Wiwin Sumiya Dwi Yamika, SP, MP 19. Sisca Fajriani, SP, MP

20. Adi Setiawan, Sp., MP

Dosen pengampu TA 2014/2015 dari Jurusan Ilmu Tanah sebagai berikut:

1. Prof.Dr.Ir. Zaenal Kusuma, SU. 2. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D. 3. Cahyo Prayogo, S.P.,M.P.,Ph.D. 4. Dr.Ir. Budi Prasetya, MP.

5. Dr.Ir. Sugeng Prijono,MS. 6. Ir. Endang Listyarini, MS. 7. Ir. Bambang Siswanto, MS.

8. Kurniawan Sigit Wicaksono, SP., M.Sc. 9. Iva Dewi Lestariningsih, SP., M.Agr.Sc. 10.Aditya Nugraha Putra, SP.

11.Istika Nita, SP.

12.Iva Dewi Lestariningsih, SP., M.Agr.Sc. 13.Antok Wahyu Sektiono, SP., MP.

(4)

Dosen pengampu TA 2014/2015 dari Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman sebagai berikut:

1. Prof.Dr.Ir. Siti Rasminah Chailani S. 2. Prof.Dr.Ir. Tutung Hadi Astono, MS. 3. Prof.Ir. Liliek Sulistyowati, Ph.D. 4. Dr.Ir. Syamsuddin Djauhari, MS. 5. Dr.Ir. Mintarto Martosudiro, MS. 6. Dr.Ir. Aminudin Afandhi, MS. 7. Dr.Ir. Retno Dyah Puspitarini, MS. 8. Dr.Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. 9. Dr.Ir. Toto Himawan, SU. 10.Dr. Anton Muhibuddin, SP.,MP. 11.Dr.Ir. Sri Karindah,MS.

12.Restu Rizkyta Kusuma, SP. 13.Silvi Ikawati, SP.MP.Msc.

14.Rina Rachmawati, SP., MP., M.Eng 15.Tita Widjayanti, SP., MSi.

16.Mohammad Akhid Syibli, SP., MP. 17.Moch. Syamsul Hadi, SP.

Adapun dosen pengampu praktikum dari Jurusan Budidaya Pertanian:

1. Dr. Ir .Agus Suryanto, MS *) 2. Nur Azizah, SP, MP

3. Sisca Fajriani, SP, MP

(* = Koordinator kuliah dan praktikum)

2.2 Topik perkuliahan

Topik perkuliahan terdiri dari 9 pokok bahasan, yaitu: 1. Pendahuluan

2. Teknologi Produksi Tanaman Serealia 3. Teknologi Produksi Tanaman Ubi-ubian

4. Teknologi Produksi Tanaman Kacang - kacangan 5. Teknologi Produksi Tanaman Buah-buahan 6. Teknologi Produksi Tanaman Sayuran 7. Teknologi Produksi Tanaman Hias

8. Teknologi Produksi Tanaman Industri Semusim 9. Teknologi Produksi Tanaman Industri Tahunan

2.3. Kuliah, Tutorial dan Praktikum

(5)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

Kuliah tatap muka dilakukan setelah jam tutorial. Dalam perkuliahan, dosen melengkapi dan menjelaskan lebih rinci tentang topik bahasan yang telah terlebih dahulu dipresentasikan oleh kelompok tugas mahasiswa. Dosen lebih bertindak sebagai fasilitator.

Praktikum dilaksanakan di lapang, yakni di Kebun Praktikum FP di Kepuhharjo, dibimbing oleh dosen pengampu praktikum dan asisten (mahasiswa semester akhir). Praktikum dilaksanakan minimal 10 kali kunjungan di lapang dengan berbagai topik sesuai dengan modul praktikum.

2.3 Tugas, Kuis, UTS,UAS dan Presensi

Penilaian presentasi tugas dilakukan oleh kelompok lain yang tidak sedang presentasi dan dosen. Penilaian presentasi meliputi : 1. Kelengkapan anggota, 2. Materi, 3. Cara penyampaian, 4. Handout, 5. Pre/post test, 6. Diskusi dan 7. Waktu.

Kuis diberikan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kuis diberikan oleh dosen pada jam perkuliahan.

UTS dan UAS dilaksanakan secara terstruktur pada minggu ke 8 dan 16. Mahasiswa diperbolehkan mengikuti ujian semester bila memenuhi presensi minimal 80%. Apabila berhalangan mengikuti ujian sesuai jadual yang telah ditentukan dengan alasan yang jelas dan disertai surat ijin, mahasiswa diperkenankan mengikuti ujian susulan setelah mendapatkan surat ijin dari Pembantu Dekan I. Apabila mahasiswa tidak mengikuti salah satu atau lebih kegiatan UTS, UAS atau praktikum tanpa keterangan mahasiswa mendapatkan nilai E.

2.4 Sistem Penilaian

Pencapaian kompetensi MK Teknologi Produksi Tanaman diindikasikan dengan nilai akhir dalam bentuk huruf. Komponen penilaian terdiri dari : UTS 30 %, UAS 30%, Praktikum 30% dan Tugas/Kuis 10%.

2.5. Pustaka Acuan

Bahan bacaan dan pustaka acuan dapat dilihat pada Daftar Pustaka Modul Kuliah. Modul kuliah dan Power Point perkuliahan serta modul praktikum dapat diunduh di www.wartabepe.staf.ub.ac.id.

3. RINGKASAN MATERI DAN LANDASAN TEORI

3.1. Pendahuluan

(6)

3.2. Teknologi Produksi Tanaman Serealia

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman serealia atau tanaman biji-bijian penghasil karbohidrat yang meliputi tanaman padi, jagung dan gandum.

3.2. Teknologi Produksi Tanaman Ubi-ubian

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi produksi yang maksimal dari tanaman ubi-ubian sebagai sumber karbohidrat alternatif, yang meliputi tanaman ubi kayu dan ubi jalar serta potensi tanam ubi-ubian yang lain.

3.3. Teknologi Produksi Tanaman Kacang – kacangan

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman kacang – kacangan (leguminose) yang meliputi kacang tanah, kedelai dan kacang hijau serta potensi tanaman biji-bijian legume yang lain.

3.4. Teknologi Produksi Tanaman Buah-buahan

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman buah-buahan yang terdiri dari tanaman buah-buahan annual dan perennial, baik yang berasal dari daerah tropis maupun sub tropis.

3.5. Teknologi Produksi Tanaman Sayuran

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman sayuran yang terdiri dari sayuran daun, sayuran buah, sayuran umbi, sayuran batang dan sayuran bunga.

3.6. Teknologi Produksi Tanaman Hias

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman hias yang meliputi bedding plants, cut flower (bunga potong, potted flowering plants (tanaman pot) dan foliage plant (tanaman hias daun).

3.7. Teknologi Produksi Tanaman Industri Semusim

(7)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

3.8. Teknologi Produksi Tanaman Industri Tahunan (Perenial)

Menjelaskan tentang potensi tanaman, berbagai masalah produksi dan teknologi produksi untuk mencapai potensi maksimal produksi tanaman kacang tanah, kedelai dan kacang hijau.

3.9. Teknologi Pengolahan Lahan

Menjelaskan tentang teknologi pengolahan lahan berkaitan dengan kondisi lahan dan budidaya tanaman.

3.10. Teknologi Pupuk dan Pemupukan

Menjelaskan tentang teknologi pemupukan dalam budidaya tanaman, yang meliputi macam dan jenis pupuk serta cara pemupukan yang berdayaguna.

3.11. Teknologi Pengairan

Menjelaskan tentang teknologi pengairan dalam budidaya tanaman, meliputi sistem dan sumberdaya pengairan

3.12. Teknologi Ketahanan Tanaman

Menjelaskan tentang strategi ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman

3.13. Musuh Alami

Menjelaskan tentang potensi berbagai musuh alami dan teknologi penggunaan musuh alami dalam upaya pengelolaan produksi tanaman yang berlanjut.

3.14. Bioteknologi Pengendalian

Menjelaskan tentang Bioteknologi dalam Pengendalian Hama dan Penyakit tanaman

3.15. Teknologi Pestisida dan Teknik Aplikasi

Menjelaskan tentang berbagai macam pestisida dan teknologi aplikasi pestisida dalam pengendalian Hama dan Penyakit tanaman

4. TUGAS

4.1. Pada setiap perkuliahan akan didahului dengan presentasi kelompok tentang topik bahasan pada saat itu.

Untuk keilmuan Budidaya Pertanian, dalam setiap kelas ditetapkan 7 kelompok yang akan presentasi sesuai topik bahasan dalam 6 minggu perkuliahan hingga UTS.

Topik presentasi tentang penggunaan teknologi produksi tanaman untuk mendapatkan produktifitas maksimal dalam setiap budidaya tanaman.

5. DAFTAR PUSTAKA

(8)

BPS (Statistic Centre Bureau). 2013. Harvest Area, Production and Yield of Rice, Corn, Potatoes and Palm Oil in Indonesia, 2007 - 2012. www.bps.go.id

Reddy, K.R. and H.F. Hodges. 2000. Climate Change and Global Crop Productivity

Shouchi Yoshida . 1981 Fundamentals of Rice Crop Science Los Banos. Philippines.

(9)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

1. TUJUAN PEMBELAJARAN

1.1.

Mempelajari potensi dan berbagai permasalahan produksi tanaman biji – bijian (Serealia) yang meliputi tanaman Padi, Jagung dan Gandum

1.

2. Mengetahui teknologi produksi tanaman Serealia yang

berdayaguna dan berlanjut dalam upaya mencapai potensi produksi yang maksimal.

1.3.

Memahami dan mampu menerapkan dengan tepat, benar dan trampil teknologi produksi tanaman Serealia

1.4. Mampu menerapkan sikap dan tata nilai akademis dalam teknologi produksi tanaman Serealia

2. RINGKASAN MATERI

Beberapa tanaman serealia penting di dunia antara lain : Gandum (Triticum aesticum L.), Padi (Oryza sativa L.), Jagung (Zea mays L.), Sorghum (Sorghum bicolor L.) dan Barley (Hordeum vulgare L.). Di Indonesia, tanaman serealia yang banyak dibudidayakan adalah tanaman padi dan jagung.

2.1. Padi

Budidaya tanaman padi di Indonesia dapat dibedakan sesuai tempat tumbuh tanaman, yakni padi sawah, padi lahan kering (padi gogo) dan padi rawa. Berdasar kegunaan, secara prinsip terbagi atas tanaman padi (Oryza sativa L.) untuk bahan pangan dan tanaman padi ketan (Oryza sativa L. var. Glutinosa) penghasil beras ketan yang digunakan untuk berbagai bentuk penganan. Tanaman padi untuk bahan pangan yang banyak dikenal menghasilkan beras putih, namun terdapat pula tanaman padi penghasil beras merah dan beras hitam.

Produksi padi pada tahun 2013 mencapai 71,29 juta ton GKG (BPS, 2013) setara 40 juta ton beras dan konsumsi beras nasional sekitar 34 juta ton. Angka ini cukup aman namun terdapat kelandaian produksi yang sangat mengkawatirkan terutama di pulau Jawa yakni produktifitas rata-rata 5 ton GKG/ha. Disisi lain konsumsi beras di Indonesia per kapita sangat tinggi, yakni sekitar 130 kg/kap/th, sangat tinggi bila dibandingkan dengan Thailand yang hanya 80 kg/kap/th, Malaysia 90 kg/kap/th dan Jepang 60 kg/kap/tahun (Kementan, 2012 dan BPS, 2012). Hingga tahun 2009, beras merupakan 61,8 % sumber energi bagi orang Indonesia.

TEKNOLOGI PRODUKSI

TANAMAN

Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang

MODUL

2

(10)

Ekstensifikasi dilakukan dengan perluasan lahan budidaya padi sawah di luar pulau Jawa. Peningkatan produksi dengan intensifikasi dapat dilakukan antara lain dengan, pemilihan varietas unggul, pengaturan jarak tanam, penggunaan tanam benih langsung (Tabela), Sistem of Rice Intensification (SRI), penyiangan gulma, penggunaan pupuk dan pestisida.

2.2. Jagung

Secara umum terdapat 7 kelompok kultivar tanaman jagung yang dibedakan menurut struktur biji (endosperm), yaitu : tanaman jagung primitif/jagung liar (Zea mays tunicate Sturt), jagung gigi kuda (Zea mays indentata Sturt), jagung mutiara (Zea mays indurata Sturt), pop corn (Zea mays everata Sturt), jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dan jagung ketan/Waxy maize (Zea mays ceritina Kulesh). Pertumbuhan tanaman jagung terdiri dari tiga tahap yaitu fase perkecambahan, fase pertumbuhan vegetatif dan fase generatif (reproduktif).

Tanaman jagung adalah tanaman C4 yang sangat efisien dalam pengubahan energi matahari menjadi energi kimia. Pada umur tanaman yang relatif singkat, yakni 90 – 120 hari, tanaman jagung mampu menghasilkan produksi sekitar 10 ton biji kering per ha.

Mengingat masa pertumbuhan yang sangat cepat, yakni 60 hari untuk jagung manis dan sekitar 90 hari untuk jagung gigi kuda (dent maize) dan jagung mutiara (flint maize), maka diperlukan kombinasi dua faktor utama produksi yakni faktor genetik dan lingkungan yang tepat dalam budidaya tanaman jagung agar diperoleh produksi maksimal. Pada saat ini cukup banyak varietas jagung inbrida dan hibrida namun perlu disesuaikan dengan lingkungan tumbuh tanaman agar mampu mencapai potensi produksi secara maksimal.

2.3. Gandum

Pada tahun 2010, produksi gandum dunia sekitar 651 juta ton, ketiga setelah jagung (844 juta ton) dan padi (672 juta ton). Bagian tanaman yang dikonsumsi adalah biji, terdiri dari tiga bagian yaitu kulit (pericarp), endosperm dan embrio. Untuk dapat digunakan sebagai bahan pangan, terlebih dahulu biji gandum harus digiling (ditumbuk) menjadi tepung.

Berdasar kegunaan tanaman gandum dibedakan atas subvarietas Triticum aesticum dikenal sebagai hard wheats yang menghasilkan tepung untuk pembuat roti dan Triticum durum dikenal sebagai soft wheats yang menghasilkan tepung untuk membuat mie, spageti,vermicelli, macaroni dan pasta. Berdasar proses pembuatan tepung, terdapat 2 jenis yaitu : tepung gandum dan tepung gandum putih.

(11)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

Kebun Percobaan Cangar, FPUB dengan tinggi tempat 1.650 m dpl dan suhu rata-rata 18 C pada tahun 2000 menghasilkan produksi rata-rata 5t/ha, namun penurunan ketinggian hingga 600 m dpl diikuti pula dengan penurunan produksi hingga hanya sekitar 2 t/ha. Saat ini Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas gandum antara lain : Dewata berasal dari DWR 162 (India), Selayar berasal dari Cimmyt Meksiko dan Nias berasal dari Thailand yang sesuai untuk dataran tinggi (>800 m dpl). Pada tahun 2013 Balai Penelitian Tanaman Sesrealia, Maros melepas varietas gandum GURI-1 dan GURI-2 (Gandum untuk Rakyat Indonesia). Impor gandum Indonesia tahun 2010 mencapai 7,1 juta ton.

3. LANDASAN TEORI

Tanaman serealia adalah tanaman biji-bijian penghasil karbohidrat untuk bahan pangan. Beberapa tanaman serealia penting di dunia antara lain : Gandum (Triticum aesticum L.), Padi (Oryza sativa L.), Jagung (Zea mays L.), Sorghum (Sorghum bicolor L.) dan Barley (Hordeum vulgare L.). Di Indonesia, tanaman serealia yang banyak dibudidayakan adalah tanaman padi dan jagung dan gandum lebih banyak dikenal lewat berbagai macam produk bahan pangan seperti roti, mi dan berbagai bentuk penganan lain namun budidaya tanaman gandum masih terbatas, sedang sorghum hanya dibudayakan di beberapa tempat saja.

3.1. Padi (Oryza sativa L.)

3.1.1. Latar Belakang

Tanaman padi (Oryza sativa L.) mempunyai 3 subspesies yakni Javanica, Japonica dan Indica. Subspesies Javanica banyak dibudidayakan di Indonesia yang beriklim tropis. Subspecies yang lain yakni Japonica banyak dibudidayakan di Jepang, Korea Selatan dan Cina Utara serta juga di New South Wales Australia, beberapa Negara di Eropa selatan, California serta beberapa Negara Amerika Selatan yang dibawah lintang 30, sedangkan subspecies Indica banyak dibudidayakan di lintang 0 - 25 terutama di Philipina dan negara lain di Asia Tenggara (Pursegove, 1981).

(12)
(13)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

A. B. C.

Gambar 2.1. A. Padi sawah, B. Padi gogo, C.Padi rawa

3.1.2. Permasalahan

Tanaman Padi menghasilkan biji padi (gabah) dan setelah digiling kulit biji akan terlepas dan menghasilkan beras yang digunakan sebagai makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Permintaan beras terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang ada tahun 2011 mencapai 241 juta jiwa.

Luas areal tanaman padi pada 2011 sekitar 7,79 juta hektar dengan total produksi sekitar 65 juta ton (BALITBANGTAN, 2013). Luas lahan pertanian lahan basah di Indonesia 7.748.848 ha yang terdiri dari lahan sawah irigasi, tadah hujan, rawa lebak dan pasang surut. Dari luas tersebut sebagian besar menyandarkan pada sistem budidaya lahan sawah yang berasal dari pulau Jawa (Departemen Pertanian, 2004). Hampir sekitar 48 % lahan produksi padi atau sekitar 5,71 juta ha berada di pulau Jawa. Bila ditinjau dari komposisi lahan pertanian lahan sawah di Indonesia, maka sekitar 3,32 juta ha atau sekitar 42,84 % berada di pulau Jawa yang hanya mempunyai luas 6,6 % dari luas wilayah nusantara (Suryanto, 2005). Luas lahan yang terbatas ini semakin menyusut mengingat laju konversi lahan pertanian yang tinggi di Pulau Jawa, yakni sekitar 150 ha/tahun, menyebabkan luas areal lahan pertanian termasuk lahan sawah menjadi semakin menyusut.

Produksi padi pada tahun 2013 mencapai 71,29 juta ton GKG (BPS, 2013) setara dengan 40 juta ton beras dan konsumsi beras nasional sektar 34 juta ton. Angka ini cukup aman namun terdapat kelandaian produksi yang sangat mengkawatirkan terutama di pulau Jawa yakni produktifitas rata-rata 5 ton GKG/ha. Disisi lain konsumsi beras di Indonesia per kapita sangat tinggi, yakni sekitar 130 kg/kap/th, sangat tinggi bila dibandingkan dengan Thailand yang hanya 80 kg/kap/th, Malaysia 90 kg/kap/th dan Jepang 60 kg/kap/tahun. kg/kap/th (Kementan, 2012 dan BPS, 2012). Hingga tahun 2009, beras merupakan 61,8 % sumber energi bagi orang Indonesia.

(14)

semakin mendapat tantangan karena menyangkut sistem pertanian yang ramah lingkungan, berlanjut (sustainable) dan mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Pasokan komoditas pangan beras harus dalam keadaan aman karena komoditas ini berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi dan politik.

3.1.3. Teknologi Produksi

Secara umum upaya mencapai kecukupan kebutuhan beras nasional dilakukan dengan ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi dilakukan dengan perluasan lahan budidaya padi sawah di luar pulau Jawa, antara lain pencetakan lahan sawah di pemukiman transmigrasi di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera dan rice estate di Merauke, Papua, perluasan lahan rawa pasang surut di Kalimantan dan perluasan area padi lahan kering (padi gogo) di lahan kering di Jawa maupun luar Jawa.

Pada padi sawah, peningkatan produksi dengan intensifikasi dapat dilakukan antara lain : pemilihan varietas unggul, pengaturan jarak tanam, penggunaan Tanam Benih Langsung (Tabela), Sistem of Rice Intensification (SRI), pengendalian gulma (penyiangan), pemberian pupuk dan pestisida yang tepat waktu dan sasaran. Pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiangan, pemupukan dan pengairan harus dilakukan sesuai pola pertumbuhan tanaman, yakni pada fase vegetatif (Gambar 2.2). Penyiangan dan pemupukan urea lazim dilakukan pada 21 dan 42 hst saat tanaman aktif membentuk anakan. Pupuk an organik yang diberikan yaitu Urea (N) 200- 300 kg/ha, SP-36 (P2O5) 100 – 200 kg/ha dan KCl (K2O) 50 – 100 kg/ha. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan bersamaan saat tanam.

Gambar 2.2. Pola pertumbuhan tanaman padi (Vergara, 1990). a. Penggunaan Varietas Unggul

0 hst 20 hst 55 hst 85 hst 100 -110 hst pembentukan anakan pemasakan

(15)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

Secara prinsip varietas padi yang dikembangkan dapat dikelompokkan menjadi 3 , yaitu : varietas padi inbrida unggul spesifik, varietas unggul hibrida dan varietas unggul inbrida padi tipe baru. Sejak tahun 1996 – 2000 Balai Besar Padi Sukamandi (BBPS) telah menghasilkan 66 varietas unggul padi, yang terdiri atas 54 varietas unggul inbrida, antara lain :Ciherang, Cigeulis, Cibogo, Mekonga, Sarinah, Cisadane, Way Apo Buru, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3 dan sebagainya; 8 varietas unggul hibrida yaitu : Maro, Rokan, Hipa 3, Hipa 4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7 dan Hipa 8 Pioneer; dan 4 varietas unggul tipe baru (padi inbrida dengan modifikasi arsitektur tanaman) yaitu Cimelati, Gilirang, Ciapus dan Fatmawati (BB Padi, 2009).

Pada tahun 2000 hingga saat ini BBPS menghasilkan beberapa Varietas Unggul Baru (VUB) adaptif dengan perubahan pemberian nama menjadi INPARI (inbrida irigasi), INPAGO (inbrida gogo), INPARA (inbrida rawa) dan HIPA (hibrida padi). Beberapa varietas yang telah dilepas antara lain INPARI 1 hingga 30; INPAGO 4,5,6,7 dan 8; INPARA 1,2,3,4,5 dan 6; HIPA 7,8,9,11 dan 14 (BALITBANGTAN, 2013). Varietas Hibrida mengandung makna benih yang digunakan adalah benih generasi pertama (F1) yang berasal dari persilangan antara tetua yang berbeda yang dipilih melalui seleksi (Satoto, Sutaryo dan Suprihatno, 2008). Varietas hibrida mempunyai kemampuan produksi tinggi 10 – 12 ton/ha atau hampir 100 % dibanding varietas inbrida.

Dalam memilih benih padi harus dipilih benih yang bersertifikat, yakni benih yang mempunyai jaminan keaslian varietas, mempunyai kemampuan pertumbuhan yang baik dan produksi yang optimal. Benih bersertifikat dapat diperoleh di koperasi unit desa, toko atau kios pertanian. Benih yang disediakan untuk ditanam adalah Benih Sebar (Extention Seed) atau dikenal dengan sebutan benih ES yang mempunyai label sertifikasi berwarna biru. Kadangkala tersedia pula benih dengan kelas yang lebih tinggi, yakni Benih Pokok (Stock Seed) atau SS dengan label sertifikasi berwarna ungu.

b. Pengaturan Jarak Tanam

Pengaturan tata letak tanaman dengan jarak tanam sangat diperlukan dalam budidaya tanaman padi agar setiap tanaman mendapatkan lingkungan pertumbuhan yang ideal. Menanam tanaman dengan jarak tanam juga akan memudahkan pemeliharaan tanaman pada saat penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Lain daripada itu penggunaan jarak tanam akan memudahkan menghitung populasi tanaman dan prediksi hasil panen.

(16)

A. B.

Gambar 2.3. A. Penanaman padi dengan pola bujur sangkar jarak tanam 20 x 20 cm dan B. Pola jajar legowo jarak tanam 40 x 20 x 12,5 cm

Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan cukup efektif untuk mengurangi serangan hama tikus, keong mas dan keracunan besi. Jajar legowo adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua atau lebih baris dan merapatkan dalam barisan tanaman, sehingga dikenal legowo 2 : 1 (dua baris tanaman padi diseling satu baris kosong) atau 4 : 1 (empat baris tanaman diseling satu baris kosong). Keuntungan sistem tanam ini adalah : semua barisan tanaman terletak dipinggir sehingga mendapat penyinaran maksimal, penggunaan pupuk lebih mudah dan efisien, pengendalian hama dan penyakit lebih mudah, terdapat ruang kosong untuk pengaturan air atau untuk mina padi. Penanaman bibit padi untuk sistem ini disarankan 2 – 3 bibit per lubang tanam. Penanaman dilakukan dengan bantuan Alat Tanam Jajar Legowo (Atajale) yang ditarik kesatu arah saja. Sistem tanam Jajar Legowo mampu meningkatkan produksi hingga 100 % daripada sistem tegel.

c. Penanaman Bibit Umur Muda

Budidaya padi di Indonesia lazim menggunakan bibit. Bibit adalah tanaman muda yang diperoleh dari persemaian, yaitu tempat khusus yang dibuat untuk menyemaikan benih padi. Bibit dipindahtanam dari persemaian ke lahan sawah ketika berumur 14 hari (2 minggu). Semakin tua bibit dipindahtanam ke lapang semakin berkurang kemampuan tanaman untuk membentuk anakan sehingga mengurangi kemampuan tanaman menghasilkan malai.

d. Penanaman Benih

(17)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

tanaman padi. Penggunaan benih akan meniadakan masa recovery (masa pemulihan) tanaman yang baru dipindahtanam dari persemaian ke lahan budidaya. Tanpa gangguan pertumbuhan saat vegetatif maka tanaman akan mampu menghasilkan komponen generatif (malai) secara optimal. Penanaman benih secara langsung memerlukan alat tanam untuk memudahkan meletakkan benih di lahan sawah secara teratur dengan cepat.

e. System of Rice Intensification (SRI)

System of Rice Intensification (SRI) adalah sistem budidaya padi yang mendayagunakan kemampuan fisiologis tanaman padi. Tanaman padi ditanam dengan menggunakan jarak tanam yang lebar, yakni 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm bahkan 40 x 40 cm agar tanaman mampu mendapatkan lingkungan pertumbuhan seperti cahaya, udara dan nutrisi secara maksimal.

Pada SRI, tanaman ditanam menggunakan bibit yang berumur sangat muda, yakni 7 hari dan dengan jumlah bibit 1 tanaman per lubang tanam. Hal ini agar bibit tanaman padi segera beradaptasi di lahan dan tidak perlu mengalami masa recovery yang berlebihan. Penggunaan 1 bibit per lubang tanam akan mengurangi kompetisi didalam rumpun tanaman. Dengan demikian tanaman akan mampu mengembangkan anakan secara optimal sejak awal pertumbuhan dan akan menghasilkan malai produktif yang optimal pula.

Pada SRI pengairan diatur secara intermitten atau tidak digenangi secara terus menerus namun diseling dengan pengeringan. Dengan cara ini volume perakaran tanaman akan bertambah dan kemampuan tanaman menyerap nutrisi akan meningkat. Pada sisi lain, pengeringan lahan akan mengurangi emisi NH4. SRI juga dikenal dengan aktifitas pendayagunaan mikroorganisme tanah. Kegiatan ini dilakukan dengan membiakkan mikroorganisme yang bermanfaat seperti mikroba penambat nitrogen dari udara, mikroba pelarut P seperti Psedomonas spp, Bacillus spp dan Aspergillus spp dan kemudian diberikan ke lahan budidaya. Penggunaan sistem tanam SRI ini mampu meningkatkan produksi hingga 100 % daripada sistem bujur sangkar.

(18)

3.2. Jagung (Zea Mays L.)

3.2.1. Latar Belakang

Tanaman jagung (Zea Mays L.) adalah tanaman pangan ketiga di dunia setelah gandum dan padi karena mampu menyediakan energy dan protein yang cukup tinggi. Didalam 100 g tepung jagung mengandung kurang lebih : 77 % pati, 2 % gula, 9 % protein dan 5% lemak dengan nilai kalori sekitar 355 kalori.

Secara umum terdapat 7 kelompok kultivar tanaman jagung yang dibedakan menurut struktur biji (endosperm), yaitu :

a. Pod corn (Zea mays tunicate Sturt), dikenal sebagai tanaman jagung primitif/jagung liar yang ditanam oleh suku Indian di Amerika

b. Dent maize (Zea mays indentata Sturt), dikenal sebagai jagung gigi kuda, banyak dibudidayakan untuk bahan pangan, industri maupun pakan ternak. Dicirikan dengan cekukan pada bagian atas biji, warna biji kebanyakan kuning, jingga dan putih.

c. Flint maize (Zea mays indurata Sturt), jagung mutiara mempunyai biji yang lebih kecil daripada jagung gigi kuda. Karena bentuk biji yang kecil maka banyak digunakan sebagai pakan ternak.

d. Pop corn (Zea mays everata Sturt), dikenal sebagai bahan baku jagung berondong.

e. Sweet Corn (Zea mays saccharata Sturt), jagung manis mempunyai biji dengan endosperm yang manis, dipanen dan dikonsumsi ketika tongkol buah masih muda

f. Waxy maize (Zea mays ceritina Kulesh), jagung ketan mempunyai biji dengan kandungan amylopectin tinggi, kebanyakan biji berwarna putih.

Secara prinsip pertumbuhan tanaman jagung terdiri dari fase pertumbuhan vegetatif dan fase generatif (reproduktif). Fase vegetatif dimulai pada saat daun pertama terbuka sempurna sampai tasseling (pembentukan tongkol) dan sebelum bunga betina muncul (silking) dan fase generatif yaitu fase pembungaan (flowering) - silking – pengisian biji (grain filling) sampai biji masak fisiologis (Gambar 2.4).

(19)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

Gambar 2.4. Fase pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung

(Beckingham, 2007)

3.2.2. Permasalahan

Budidaya tanaman jagung di Indonesia kebanyakan dari jenis dent maize dan flint maize, dengan tujuan sebagai bahan baku pakan ternak dan sebagian dikonsumsi sebagai bahan pangan. Belakangan mulai banyak dibudidayakan jagung manis dan jagung ketan untuk konsumsi sayuran.

Mengingat masa pertumbuhan yang sangat cepat, yakni 60 hari untuk jagung manis dan sekitar 90 hari untuk dent maize dan flint maize, maka diperlukan kombinasi dua faktor utama produksi yakni faktor genetik dan lingkungan yang tepat agar diperoleh produksi maksimal. Pada saat ini cukup banyak varietas jagung inbrida dan hibrida namun perlu disesuaikan dengan lingkungan tumbuh tanaman agar mampu mencapai potensi produksi secara maksimal.

Pengelolaan faktor lingkungan terutama dapat didekati dengan pengaturan jarak tanaman yang tepat agar diperoleh populasi optimal dengan hasil produksi yang maksimal. Faktor lingkungan yang lain ialah eliminir kompetisi gulma dengan penyiangan yang tepat waktu, penyediaan air melalui pengairan yang cukup dan pemberian pupuk ubtuk kelengkapan hara tanaman.

3.2.3. Teknologi Produksi

a. Varietas

Pemilihan varietas sangat menentukan produksi tanaman jagung karena setiap varietas mempunyai adaptasi dengan lingkungan tumbuh tanaman. Varietas tanaman jagung digolongkan menjadi dua, yaitu :

0 hst 30 hst 60 hst 90 - 100 hst Perkecambahan - Fase lambat Pembungaan Pengisian biji

(20)

1. Varietas bersari bebas (Open Pollinated Variety/OPV), antara lain : Arjuna, Bromo, Parikesit, Abimayu, Nakula, Sadewa, Wiyasa, Kalingga, Rama, Bayu, Antasena, Wisanggeni, Bisma, Kresna, Srikandi, Palaka, Sukmaraga dan Anoman-1 produksi Balitsereal, Maros.

2. Varietas hibrida, antara lain : Bima 2 Bantimurung, Bima 3 – 11 produksi Balitsereal, Maros; BISI 1 – 18 produksi PT. BISI, P4, P7, P11, P12, P13, P21, P23 dan P25 produksi Pioneer. NK (NKRI) 22, NK 33, NK 55, NK 66, NK 88, NK 99 produksi P.T. Syngenta Indonesia. Untuk jagung manis antara lain : Bisi Sweet dan Sweet Boy produksi PT BISI, Talenta dan Jambore produksi PT Agri Makmur Pertiwi,

Pemilihan varietas tanaman jagung perlu melihat juga tinggi tempat tanaman dibudidayakan, karena akan mempengaruhi umur dan produktifitas tanaman. Berdasarkan ketinggian tempat penanaman, jagung dibedakan menjadi dua kelompok varietas sebagai berikut :

1. Varietas untuk dataran rendah (<700 m dpl.) antara lain hampir semua varietas bersari bebas dan hibrida yang telah disebut diatas.

2. Varietas untuk dataran tinggi (>700 mdpl) antara lain :Pandu, Kania Putih, dan Baster Kuning, Bisi 9 – 11 dan Hibrida P 29,

b. Jarak Tanam dan Jumlah Biji per Lubang Tanam

Pengaturan jarak tanam dan jumlah biji per lubang tanaman sangat diperlukan agar diperoleh lingkungan tumbuh yang baik bagi tanaman disamping itu juga untuk mengatur populasi tanaman agar diperoleh produksi yang optimal. Pengaturan jarak tanam ini dapat dikombinasikan dengan jumlah biji (jumlah tanaman) per lubang tanam untuk mendapatkan produksi per tanaman dan per satuan luas yang optimal dan menguntungkan.

Secara prinsip tata letak tanaman jagung dapat diatur dengan jarak tanam persegi panjang dalam sistem baris tunggal dan dalam sistem jajar legowo. Jarak tanam sistem baris tunggal yang umum digunakan adalah 70 x 30 cm atau 75 x 20cm, sedangkan sistem baris ganda atau jajar legowo dapat diatur dengan jarak tanam 90 x 40 x 20 cm (Gambar 2.5.). Kedua sistem tata letak tanaman dapat ditanami dengan 1, 2 atau 3 tanaman per lubang tanam.

c. Penyiangan, pemupukan dan pengguludan

(21)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

A.

B.

Gambar 2.5. Pengaturan tata letak tanaman jagung; A. Sistem tanam baris tunggal jarak tanam 75 x 20 cm B. Sistem tanam baris ganda (jajar legowo) jarak tanam 90 x 40 x 20 cm

Pada tanaman jagung yang mempunyai pertumbuhan cepat, penyiangan dilakukan pada 14–21 hst., dan 35–42 hst. Penyiangan dilakukan dengan cangkul, bajak singkal atau rotary sekaligus pengguludan tanaman, yaitu menimbun pangkal tanaman agar tidak mudah roboh serta membuat alur/parit untuk mempermudah pengairan dan tanaman tidak tergenang air saat musim hujan (Gambar 2.6).

(22)

Gambar 2.6. Penyiangan tanaman dengan cangkul pada 14 hst (A) dan 28 hst (B) sekaligus dilakukan pengguludan.

Setelah penyiangan dilakukan pemupukan susulan dan kemudian pengguludan tanaman. Pada penyiangan pertama 14 – 21 hst diberikan pupuk susulan 1 yaitu pupuk urea (N) dengan dosis 50 -100 N/ha dan pada penyiangan kedua 35 – 42 hst diberikan pupuk susulan 2 (terakhir) dengan dosis 100 – 150 N/ha. Pupuk pertama (awal) biasa diberikan bersamaan tanam yang terdiri dari 50 kg N, 100 kg P2O5 dan 100 kg K2O per ha. Dosis pupuk bervariasi tergantung varietas dan tanah tempat budidaya tanaman.

3.3. Gandum (Triticum spp.)

3.2.1. Latar Belakang

Tanaman serealia penting selain padi dan jagung adalah gandum (Triticum spp.). Pada tahun 2010, produksi gandum dunia sekitar 651 juta ton, ketiga setelah jagung (844 juta ton) dan padi (672 juta ton).

Morfologi tanaman gandum hampir seperti tanaman padi, tinggi batang 30 – 80 cm, mempunyai 5 – 7 buku, berakar serabut, pelepah daun membungkus batang dengan daun yang sempit dengan panjang sekitar 20 – 37 cm dan lebar 1 – 2 cm. Setiap tanaman mempunyai malai dengan panjang 5 – 10 cm yang berisi ± 20 biji. Biji berbentuk oval panjang 6–8 mm dan diameter 2–3 mm (Gambar 2.7. ). Tanaman gandum berumur 110 – 130 hari tergantung varietas, lingkungan tanam dan iklim (GRDC, 2005).

Bagian tanaman yang dikonsumsi adalah biji, terdiri dari tiga bagian yaitu kulit (pericarp), endosperm dan embrio. Untuk dapat digunakan sebagai bahan pangan, terlebih dahulu biji gandum harus digiling (ditumbuk) menjadi tepung. Tepung gandum mempunyai keunggulan sifat gluten dibanding serealia lain.

A. B.

Gambar 2.7. A. Pertanaman Gandum var. Dewata. B. Malai dan biji gandum

(23)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

tepung untuk pembuat roti dan Triticum durum dikenal sebagai soft wheats yang menghasilkan tepung untuk membuat mie, spageti,vermicelli, macaroni dan pasta. Berdasar proses pembuatan tepung, terdapat 2 jenis yaitu : tepung gandum yang dibuat dengan menghilangkan kulit biji saat proses penggilingan dan tepung (putih) yang membuang kulit (pericarp) dan embrio dalam proses penggilingan. Kulit dan embrio yang tidak digunakan ini digunakan sebagai pakan ternak. Didalam 100 g tepung gandum mengandung ± 76 % karbohidrat, 10 % protein, 0 – 1 % lemak dan 3 % serat dengan nilai kalori sekitar 364 kalori.

Konsumsi pangan berbasis tepung terigu semakin berkembang, seperti mie, roti, kue dan lain sebagainya. Dampak dari perubahan pola konsumsi dari masyarakat ini adalah peningkatan ketersediaan gandum. Pada saat ini Indonesia tercatat sebagai negara pengimpor gandum terbesar kedua di dunia. Berdasarkan laporan United State Department of Agriculture (USDA) 2012, impor gandum Indonesia tahun 2010 mencapai 7,1 juta ton, meningkat bila dibanding dengan tahun 2009 yang hanya 6,7 juta ton.

3.2.2. Permasalahan

Tanaman gandum berasal dari daerah subtropis yang mempunyai suhu udara antara 0 - 22C, oleh karena itu budidaya gandum di Indonesia hanya bisa dilakukan di dataran tinggi ≥ 1.000 m.dpl yang mempunyai suhu udara dibawah 18 C . Cukup banyak dataran tinggi yang sesuai untuk budidaya gandum Indonesia, Dirjen Tanaman Pangan, (2010) melaporkan terdapat lahan seluas 73.455 hektar yang tersebar di 15 provinsi. Hanya saja saat ini dataran tinggi di Indonesia banyak dibudidayakan tanaman hortikultura (buah dan sayuran) yang bernilai ekonomis tinggi seperti tanaman apel, kentang,wortel, kubis dan lain-lain yang menjadi pembatas bagi budidaya tanaman gandum di dataran tinggi. Di Indonesia, potensi hasil gandum di daerah dataran tinggi 1000 m dpl lebih tinggi dibanding dengan negara Asia lainnya, yakni sekitar 5 t/ha.

Upaya mengembangkan tanaman gandum di Indonesia telah dilakukan Badan Litbang Pertanian dengan mengintroduksikan galur atau varietas gandum dari negara lain. Pengembangan gandum subtropis di Indonesia terkonsentrasi di dataran tinggi yang mempunyai luasan terbatas. Oleh karena itu, program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran medium dengan tinggi tempat 400 – 700 m dpl.

3.2.3. Teknologi Produksi

(24)

ketinggian hingga 600 m dpl diikuti pula dengan penurunan produksi hingga hanya sekitar 2 t/ha. Saat ini Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas gandum antara lain : Dewata berasal dari DWR 162 (India), Selayar berasal dari Cimmyt Meksiko dan Nias berasal dari Thailand yang sesuai untuk dataran tinggi (>800 m dpl). Pada tahun 2013 Balai Penelitian Tanaman Sesrealia, Maros melepas varietas gandum GURI-1 dan GURI-2 (Gandum untuk Rakyat Indonesia).

Budidaya tanaman gandum diawali dengan pengolahan tanah untuk mendapatkan media tumbuh tanaman yang baik, kemudian benih ditanam dalam lajur (larikan). Jarak antar lajur 20 atau 25 cm dan jarak tanam dalam lajur 10 cm. Pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiangan gulma, pemupukan N,P dan K dan pengairan dilakukan sesuai skala Zadoks (Zadoks Growth Stages/ZGS), yakni ketika tanaman berada pada saat fase vegetatif mulai fase ZGS 10 pertumbuhan bibit (seedling growth), anakan (tillering) , perpanjangan batang (stem elongation) hingga ZGS 49 booting (Gambar 2.8).

Gambar 2.8. Fase pertumbuhan tanaman gandum sesuai skala Zadoks (Zadoks Growth Stages)(GRDC, 2005).

Peningkatkan produktivitas gandum memerlukan varietas/galur yang secara genetik berdaya hasil tinggi dan mampu beradaptasi di lingkungan dengan suhu tinggi di dataran medium dan dataran rendah. Untuk itu program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran rendah.

4. EVALUASI

4.1 Evaluasi pembelajaran Teknologi Tanaman Serealia dilakukan dengan presentasi kelompok yang dinilai kelompok lain yang sedang tidak presentasi.

(25)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

4.3. Evaluasi meliputi teknologi produksi yang harus dilakukan agar produktifitas tanaman padi dan jagung mampu mencapai potensi produksi dan teknologi produksi yang perlu dilakukan agar impor jagung dan gandum bisa diperkecil.

5. TUGAS

5.1 Setiap kelompok/mahasiswa mencermati dasar teori pada

komoditas padi dan jagung untuk diterapkan pada praktikum

5.2 Kelompok presentasi Teknologi Produksi Tanaman Leguminose mempersiapkan presentasi dalam bentuk Power Point untuk presentasi minggu depan. Presentasi harus sesuai dengan RKPS. Pada saat presentasi bisa membawa alat peraga atau contoh tanaman.

6. DAFTAR PUSTAKA

Balitbangtan. 2013. Perubahan Kalender Tanam (Katam) Dukungan Litbang Pertanian Dalam Mengantisipasi Perubahan Iklim Dan Mencapai Sukses. Kementerian Pertanian-RI. Dies Natalis Fp-Ub. Malang

Balitsereal. 2013. Varietas Unggul Gandum. Balibangtan.

www.litbang.deptan.go.id

Beckingham, Clarrie. 2007. Commodity growing guides - Sweet corn.

NSW Department of Primary Industries

BPS (Biro Pusat Satistik). 2013. Harvest Area, Production and Yield of Rice in Indonesia 2012 - 2013 www.bps.go.id.

Departemen Pertanian. 2004. Ketahanan Pangan Ditunjang Penelitian Padi. www.deptan.go.id.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013. Program Strategis Pencapaian Swasembada Dan Swasembada Berkelanjutan Kementerian Pertanian Dan Antisipasi Perubahan Iklim. Kementerian Pertanian-RI. Dies Natalis FP-UB. Malang

FAO. 2012. Crop Water Information: Maize. www.fao.org. Akses april 2013

GRDC, 2005. Cereal Growth Stages. Grain Research Development Corporation (GRDC). New Zealand.

Pursegove, J.W. 1981. Tropical Crops. Monocotyledons I. Longman Group Lmt. London.

(26)

Suryanto, Agus. 2005. Perspektif Pangan Beras Indonesia Kedepan Ditinjau Dari Sumberdaya Lahan. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Agronomi Indonesia, Universitas Brawijaya, Malang 27 – 28 September 2005

(27)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

1. TUJUAN PEMBELAJARAN

1.1. Mempelajari potensi dan berbagai permasalahan produksi tanaman Ubi – ubian yang meliputi tanaman Ubi Kayu, Ubi Jalar dan berbagai tanaman ubi-ubian yang lain

1.

2. Mengetahui teknologi produksi tanaman Ubi – ubian yang

berdayaguna dan berlanjut dalam upaya mencapai potensi produksi yang maksimal.

1.3.

Memahami dan mampu menerapkan dengan tepat, benar dan trampil teknologi produksi tanaman Ubi – ubian.

1.

4. Mampu menerapkan sikap dan tata nilai akademis dalam

menerapkan teknologi produksi tanaman Ubi – ubian.

2.

RINGKASAN MATERI

Tanaman ubi – ubian merupakan tanaman yang memberikan kontribusi penting di Indonesia. Di Indonesia beberapa tanaman ubi – ubian banyak dibudidayan antara lain : ubi kayu (Manihot esculenta), ubi jalar (Ipomea batatas) dan kentang (Solanum tuberosum L.).

2.1 Ubi Kayu (Manihot esculenta)

Ubi – ubian merupakan tanaman tradisional yang sudah dikenal masyarakat sejak lama sebagai sumber pangan (karbohidrat) yang dapat diandalkan sebagai komplemen dan suplemen pangan beras. Kecukupan energi bahan pangan pada ubi-ubian sama dengan energi pangan pada beras. Beberapa ubi-ubian memiliki umur panen yang sama dengan padi, dengan umur panen sekitar 3 – 6 bulan, seperti kentang dan ubi jalar (Widodo, 1995). Beberapa ubi - ubian berumur panjang, seperti ubi kayu dan Talas sangat potensial sebagai cadangan pangan pada musim kemarau panjang,

70 % penduduk dunia mengkonsumsi tanaman ubi-ubian dan 92 % ubi-ubian adalah ketela pohon & ubi jalar. Pada saat krisis ekonomi 1997, terjadi perubahan pola makan penduduk yang diindikasikan dengan peningkatan konsumsi ubikayu dari 28,16 kal/kapita/hari pada tahun 1996 menjadi 34,96 kal/kapita/hari pada tahun 1999 (BPS, 2001). Ubi kayu merupakan komoditas penting setelah tanaman pangan di

TEKNOLOGI PRODUKSI

TANAMAN

Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang

MODUL

3

4

(28)

mana tanaman ini dikonsumsi 800 juta penduduk dunia, terutama dikonsumsi oleh penduduk di negara belum berkembang dan negara berkembang.

2.2 Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

Komoditas ubi jalar memegang peranan yang cukup penting karena mempunyai banyak manfaat dan nilai tambah. Ubi jalar merupakan salah satu penghasil karbohidrat (sebagai sumber energi) yang potensial dan dapat digunakan sebagai sumber pangan alternatif (selain nasi), bahan pembuatan pakan dan bahan industri. Nilai tambah dari ubi jalar cukup banyak yang dapat diperoleh dengan cara pengolahan ubi jalar segar menjadi tepung, selai, makanan ringan dan gula permanen.

Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. DiAfrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran.

Ubijalar ungu mempunyai kandungan antosianin tinggi. Antosianin bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia karena dapat berfungsi sebagai antioksidan, antihipertensi, pencegah gangguan fungsi hati.

Di Jepang, ubijalar warna ungu banyak digunakan sebagai zat pewarna alami untuk makanan, penawar racun, mencegah sembelit, dan membantu menyerap kelebihan lemak dalam darah. Juga dapat menghalangi munculnya sel kanker serta baik untuk dikonsumsi oleh penderita jantung koroner (Yoshinaga M, 1995). Pigmen antosianin pada ubijalar lebih tinggi konsentrasinya dan lebih stabil bila dibandingkan antosianin dari kubis dan jagung merah. Beberapa industri pewarna dan minuman berkarbonat telah menggunakan ubijalar berwarna ungu sebagai bahan baku produknya. Demikian pula, industri ice cream, minuman beralkohol, pie dan roti.

3. LANDASAN TEORI

3.1. Ubi Kayu (Manihot esculenta)

3.1.1. Latar Belakang

Ubi kayu (Mannihot esculenta) termasuk tumbuhan berbatang pohon lunak atau getas (mudah patah). Ubi kayu berbatang bulat dan bergerigi yang terjadi dari bekas pangkal tangkai daun, bagian tengahnya bergabus dan termasuk tumbuhan yang tinggi. Ubi kayu bisa mencapai ketinggian 1-4 meter. Pemeliharaan tanaman mudah dan produktif. Ubi kayu dapat tumbuh subur di daerah yang berketinggian 1200 m dpl. Daun ubi kayu memiliki tangkai panjang dan helaian daunnya menyerupai telapak tangan, dan tiap tangkai mempunyai daun sekitar 3-8 lembar. Tangkai daun tersebut berwarna kuning, hijau atau merah.

(29)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

memiliki umur tanam sekitar 7 – 24 bulan. Potensi produksi ubi kayu sekitar 10 – 70 ton/ha dengan Indeks panen 35 – 70%. Keuntungan budidaya ubi kayu yaitu mudah ditanam dan dapat ditanam di lahan marjinal. Selain itu, Ubi kayu memiliki Kandungan pati sekitar 29 – 36 % dan kandungan air 60 – 70 %. Pemanfaatkan ubi kayu antara lain sebagai penghasil tepung tapioka, gaplek, industri makanan ringan dan bahan baku industri seperti : glukose, maltose, fruktose, sorbitol, monosodium glutamat.

Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh ubi kayu untuk menyimpan kelebihan glukosa dalam jangka panjang. Pati atau amilum (CAS# 9005-25-8) adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.

Saat ini, fungsi singkong (ubi kayu) sudah mulai bergeser, dari penyediaan bahan pangan, berpotensi menjadi bahan baku untuk pengembangan bioethanol. Kebutuhan bioethanol sampai dengan 2010 tergolong cukup tinggi, yaitu mencapai 1,8 juta kilo liter.

Bioetanol adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif gasohol yang merupakan campuran antara bensin dan bioetanol. Manfaat pemakaian gasohol di Indonesia yaitu : memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair, mengurangi impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, meningkatkan kesempatan kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu dan antar daerah, meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) dan berpotensi mendorong ekspor komoditi baru. Bioetanol tersebut bersumber dari karbohidrat yang potensial sebagai bahan baku seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan tebu. Adapun konversi biomasa tanaman tersebut menjadi bioethanol adalah seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.1 Konversi Biomas menjadi Bioetanol

(30)

3.1.2. Permasalahan

Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas ekspor yang bersumber dari subsektor tanaman pangan dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Indonesia merupakan produsen ubikayu ke-4 terbesar di dunia. Sekitar 60 % produksi ubikayu dunia diproduksi oleh 5 negara, yaitu Nigeria, Brasil, Thailand, Indonesia dan Republik Demokrasi Congo. Secara umum perdagangan ubikayu dunia adalah dalam bentuk pellet dan chip untuk kebutuhan pakan (70 %) dan sisanya dalam bentuk pati dan tepung yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dan industri pengolahan pangan.

Ekspor ubi kayu Indonesia dilakukan dalam bentuk ubikayu kering (gaplek atau lainnya) dan tepung tapioka. Perkembangan ekspor ubikayu dalam bentuk kering (gaplek, chips atau tepung) selama tahun 2002 sampai tahun 2006 menunjukkan pertumbuhan yang positif, Laju pertumbuhan ekspor ubikayu Indonesia ke berbagai pasar di Asia dan Eropa menunjukkan kecenderungan positif. Kuota ekspor gaplek Indonesia (MEE) 850.000 ton setara dengan 2,6 juta ton ubi segar. Luas panen ubi kayu di Indonesia sekitar 18 jt ton ubi segar/tahun.

Indonesia memiliki tingkat keunggulan kompetitif yang tinggi dan potensial untuk terus berkembang untuk komoditas pati ubikayu. Ekspor pati ubikayu di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan meningkat bahkan berdasarkan data ekspor pati ubikayu Indonesia (Faostat, 2011) diketahui bahwa mulai tahun 1986 sampai dengan saat ini Indonesia mengekspor komoditas pati ubikayu. Namun, berdasarkan data statistik perdagangan ubikayu dunia, Indonesia lebih banyak impor pati ubikayu dibandingkan dengan ekspor. Hal ini menekankan bahwa tingkat kebutuhan pati ubikayu sebagai bahan baku industri sangat tinggi.

Industri pati dan gaplek ubikayu di Indonesia menunjukkan daya saing yang buruk sejak tingkat produksinya tidak cukup tinggi untuk mencapai skala ekonomi optimal, dan mengekspor pati ubikayu dengan kualitas tidak bagus (standar ekspor tertentu) serta produksi dalam negeri masih lebih kecil daripada permintaan dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri harus impor dari Thailand (95 % produksi cassava di Thailand untuk ekspor).

(31)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

3.1.3 Teknologi Produksi

a.Penggunaan Varietas Unggul

Ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk keperluan pangan, pakan maupun bahan dasar berbagai industri. Oleh karena itu pemilihan varietas ubi kayu harus disesuaikan untuk peruntukannya. Keistimewaan Manihot glaziovii memiliki daun yang lebar dengan cabang tanaman horizontal.

Varietas ketela pohon unggul, antara lain: Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Adira 2, Malang 1, Malang 2, dan Adira 4. Beberapa varietas dihasilkan oleh Pusat penelitian Ubi-ubian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, antara lain: UB 1 dan UB 2.

b.Penyambungan dengan Sistem Mukibat

Sistem penyambungan (grafting) bahan tanam antara Manihot esculenta sebagai batang bawah (Rootstock) dan Manihot glaziovii (ketela karet) sebagai batang atas (Scion). Panjang scion 10 – 15 cm dan panjang rootstock 25– 35 cm. Untuk memperkuat sambungan dipakai lidi dari bambu (panjang lebih kurang 10 cm) ditusukan ditengah tengah batang dan setelah itu diikat dengan pelepah pisang atau tali rafia.

Gambar 3.1 (a) Proses penyambungan batang atas dan batang bawah, (b) Pemilihan bibit yang muncul tunas untuk ditanam, (c) Bibit sambungan baru, (d) bibit randan 1, tahun ke 2 (tengah), dan (e) bibit randan 2, tahun ke 3.

a b

(32)

3.2

Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

3.2.1 Latar Belakang

Ubijalar (Ipomoea batatas L.) bahan pangan sumber karbohidrat, mengandung vitamin A, C dan mineral. Dapat diolah menjadi bahan pangan olahan seperti selai, saos, juice dan bahan baku industri. Ubijalar ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker. Ubijalar dengan umbi berwarna kuning, banyak mengandung vitamin A.

Umur panen dataran rendah 3 – 5 bln; dataran tinggi 5 – 8 bln Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan makanan pokok masyarakat di Kawasan Timur Indonesia, khususnya Papua dan Papua Barat. Data Badan Pusat Statistik (2001) menunjukkan, ketersediaan rata-rata ubi jalar per kapita di Indonesia pada tahun 1990–1995 hanya mencapai 16 kg/tahun, sedangkan beras 124 kg/tahun. Untuk Papua, ketersediaan beras hanya 10 kg/tahun, sedangkan ubi jalar 90 kg/tahun. Pada tahun 2006, ketersediaan ubi jalar per kapita di Papua meningkat menjadi 147,17 kg/tahun, sedangkan konsumsi hanya 129,51 kg/tahun (Badan Bimas Ketahanan Pangan Provinsi Papua 2007).

3.2.2 Permasalahan

Penghasil utama ubi jalar di Indonesiaadalah Pulau Jawa dan Irian Jaya yang menempati porsi sekitar 59 %. Peluang perluasan areal panen masih sangat terbuka. Adanya perbaikan teknik budidaya danpenggunaan varietas unggul nasional, produktivitas bisa dinaikkan menjadi 30 ton per hektar. Ubi jalar bisa ditanam sepanjang tahun, baik secara terus menerus, bergantianmaupun secara tumpang sari. produksinya juga cukup tinggi hingga 20 ton per hektar (hudori, 2001).

Peranan usahatani ubi jalar memiliki prospek yang baik sebagai komoditas pertanian unggulan tanaman palawija. Potensi produksi bisa mencapai ± 25 - 40 ton per hektar dan saat ini ubi jalar merupakan tanaman ubi-ubian yang paling produktif. Menurut data BPS Indonesia (2014), luas panen dan produksi di Indonesia mencapai 157.000 ha dengan produksi 214.000 ton dan produktivitas mencapai 15 - 20 ton/ha yang merupakan penyumbang produksi terbesar di Indonesia. Sehingga diperlukan suatu teknologi untuk meningkatkan produksi ubi jalar.

(33)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

(OPT). Serangga hama yang paling banyak merugikan adalah dari ordo Coleoptera, famili Curculionidae (Cylas formicarius).

Hasil penelitian Manikome (2011) menunjukkan rata-rata persentase serangan hama C.formicarius di desa Toraget Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa yakni 43,67%. Hama ini menyerang sejak tanaman di lahan dan berlanjut di tempat penyimpanan. Kerusakan C. formicarius terjadi pada bagian umbi. Umbi yang terserang terdapat lubang gerekan berisi kotoran berwarrna hijau dan bila di konsumsi terasa pahit (Jasson, dkk.1980). Kerusakan berkisar 5-70 % tergantung daerah dan cara bercocok tanam (Sutiharni, 1998). Lebih lanjut dilaporkan oleh Capinera (2003) dan Kalshoven (1981), Cylas formicarius merupakan hama ubi jalar yang menyerang tidak hanya di lapangan tapi juga menimbulkan kerusakan yang cukup nyata di tempat penyimpanan. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini berkisar antara 10–80%, bergantung pada lokasi, jenis lahan, dan musim (Widodo et al. 1994). Lebih lanjut dikemukakan bahwa larva merusak umbi dengan masuk ke dalam umbi dan memakan umbi tersebut dengan membuat liang-liang gerekan. Umbi yang terserang berasa pahit dan akhirnya membusuk. Mikroorganisme di sekitar liang gerek dapat Menghasilkan senyawa furanterpen dan coumarin yang menyebabkan ubi menjadi pahit.

3.2.3 Teknologi Produksi

a. Penggunaan Varietas Unggul

Ubi jalar dapat dimanfaatkan untuk keperluan pangan, pakan maupun bahan dasar berbagai industri. Oleh karena itu pemilihan varietas ubi jalar harus disesuaikan untuk peruntukannya. Beberapa varietas unggul ubi jalar yaitu : Varietas Sari, Varietas Sukuh, Varietas Jago, Varietas Kidal dan Varietas Ayamurasaki

Varietas Sari merupakan varietas unggul berumur genjah dan tahan kudis. Varietas Boko sesuai untuk dikonsumsi dalam bentuk rebus atau goreng karena rasa yang enak dan manis. Varietas Sukuh, Jago dan Kidal mempunyai kandungan bahan kering dan pati yang tinggi, sangat cocok untuk dibuat sebagai pati dan tepung. Varietas Ayamurasaki memiliki ciri umbi berwarna ungu. Untuk keripik dan untuk keperluan ekspor ke Jepang

a. Stek Batang Ubi Jalar

Satu batang ubi jalar dapat dipenggal menjadi 3 stek bibit, yaitu : 1. Penggalan pertama dari ujung batang (bibit nomor 1) (bagian

ujung merupakan bibit stek terbaik)

2. Penggalan kedua di bawahnya (bibit nomor 2) 3. Penggalan ketiga di bawahnya (bibit nomor 3)

(34)

sanggup membentuk umbi yang bagus terutama akar yang telah tua dan sering terkena sinar matahari. Penggunaan bibit stek secara terus menerus sampai beberapa turunan akan mengakibatkan mutu dan hasil umbi mengalami penurunan karena terjadi dehidrasi. Selain itu juga rasa umbi semakin kurang enak karena semakin banyak seratnya.

b. Aplikasi Mulsa

Jika tanah lembab dan batang menempel pada permukaan tanah, akan terjadi pertumbuhan akar pada ruas-ruas batang. Akar tersebut dapat membentuk umbi tetapi ukurannya kecil-kecil. Terbentuknya umbi kecil dapat dihindari dengan cara melakukan pengangkatan batang. Dengan demikian akar yang tumbuh pada ruas batang tersebut akan putus sehingga tidak bisa tumbuh lagi, dan air – hara dari tanaman akan tersalurkan untuk pembentukan umbi yang diinginkan.

Petani Mojokerto, Magetan, Karanganyar melakukan pembalikan batang 1 -2 kali selama musim tanam. Pembalikan batang pertama dilakukan pada umur 60 – 70 hst. Di India, pengangkatan atau pembalikan batang dilakukan 3 -5 kali selama musim tanam dan dilakukan setiap kali ada perlakukan pengairan.

c. Pengangkatan Batang

Pembalikan atau pengangkatan batang yang dilakukan lebih dari satu kali mampu memberikan panen yang tinggi. Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian Balittan Malang, pembalikan batang justru menurunkan hasil 9 – 20% dibandingkan batang yang tidak dibalik.

4.

EVALUASI

4.1 Evaluasi pembelajaran Teknologi Tanaman Ubi-ubian dilakukan dengan presentasi kelompok yang dinilai kelompok lain yang sedang tidak presentasi.

4.2 Evaluasi Dasar Teknologi Tanaman Ubi-ubian bagi kelompok atau mahasiswa yang sedang tidak presentasi dilakukan dengan memberikan Quiz dalam bentuk pre test atau post test atau tugas tambahan lain oleh kelompok presentasi.

4.3 Evaluasi meliputi teknologi produksi yang harus dilakukan agar produktifitas tanaman ubi kayu dan ubi jalar mampu mencapai potensi produksi dan teknologi produksi yang perlu dilakukan agar impor ubi kayu dan ubi jalar bisa diperkecil.

5.

TUGAS

(35)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

5.2 Kelompok presentasi Teknologi Produksi Tanaman Ubi-ubianmempersiapkan presentasi dalam bentuk Power Point untuk presentasi minggu depan. Presentasi harus sesuai dengan RKPS. Pada saat presentasi bisa membawa alat peraga atau contoh tanaman.

6.

DAFTAR PUSTAKA

Ahuluheluw, N., O. R. Pinontoan, C. S. Rante, E. Senewe. 2013. The Spread Of Cylas Formicarius F. Pests On Sweet Potato Plant (Ipomea batatas L.) In Some Altitude North Sulawesi. Sam Ratulang University. Manado.

Balitkabi

. 2013. Bertanam Ubikayu Sistem Sambungan (Mukibat) antara Batang Atas Ketela Karet Dan Ubikayu. Kementerian Pertanian-RI. Malang. www.litbang.deptan.go.id.

Radjit, Budhi Santoso dan N. Prasetiaswati. 2011. Tuber yield and starch content on several varieties of cassava by grafting system (Mukibat). J. Agrivigor 10(2): 185-195.

BPS (Biro Pusat Satistik). 2013. Harvest Area, Production and Yield of Cassava in Indonesia 2012 - 2013 www.bps.go.id.

BPS (Biro Pusat Satistik). 2014. Harvest Area, Production and Yield of Sweet Potato in Indonesia 2013 - 2014 www.bps.go.id.

Departemen Pertanian RI. 2005, Data Base Pemasaran Internasional Ubi Kayu. Direktorat Pengolahan dan pemasaran Hasil Tanaman Pangan Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI. Jakarta.

FAOSTAT, 2011. TradeSTAT Crops and Livestock Products. FAO. Rome: Italy (http://faostat.org). Diakses terakhir 18 Mei 2011. FAO and IFAD, 2004. Proceedings of The Validation Forum on The

Global Cassava Development Strategy (Volume 6): Global Cassava Market tudy Business Opportunities for The use of Cassava. FAO. Rome.

(36)

1.

TUJUAN PEMBELAJARAN

1.1.

Mempelajari potensi dan berbagai permasalahan produksi tanaman kacang – kacangan (leguminose) yang meliputi tanaman Kedelai, Kacang Tanah dan Kacang Hijau dan legume berbiji yang lain.

1.

2. Mengetahui teknologi produksi tanaman kacang – kacangan

(leguminose) yang berdayaguna dan berlanjut dalam upaya mencapai potensi produksi yang maksimal.

1.3.

Memahami dan mampu menerapkan dengan tepat, benar dan trampil teknologi produksi tanaman kacang – kacangan (leguminose) Mampu menerapkan sikap dan tata nilai akademis dalam menerapkan teknologi produksi tanaman kacang – kacangan (leguminose)

2.

RINGKASAN MATERI

Beberapa tanaman kacang – kacangan penting yaitu kedelai (Glycine max L. Merril), kacang tanah (Arachis hypogea L.), Kacang kapri (Phaseolus vulgaris L.) dan kacang hijau (Mung bean).

2.1 Kedelai (Glycine max L.Merril)

Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat penting, karena memiliki multi guna. Kedelai dapat dikonsumsi langsung dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku agroindustri seperti tempe, tahu, tauco, kecap,susu kedelai dan untuk keperluan industri pakan ternak.

Di Indonesia, saat ini kedelai banyak ditanam di dataran rendah yang tidak banyak mengandung air, seperti di pesisir Utara Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara (Gorontalo), Lampung, Sumatera Selatan dan Bali. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman budidaya dengan kandungan nutrisi yang tinggi, diantaranya mengandung protein 30-50%. Kandungan protein yang tinggi memberi indikasi bahwa tanaman kedelai memerlukan hara nitrogen yang tinggi pula. Di Indonesia sampai saat ini produksi kedelai belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri.

Kebutuhan kedelai nasional Indonesia meningkat tiap tahunnya. Saat ini kebutuhan perkapita mencapai 13,41 kg. Kebutuhan kedelai secara nasional per tahun 2004 sebanyak 2.955.000 ton sedangkan

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

LEGUMINOSE

Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian

(37)

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN - UB DistanceLearning 2014

produksi dalam negeri hanya 1.878.898 ton. Produksi rerata nasional 1,2 ton per hektar, sedangkan produk rerata dunia saat ini sudah mencapai 1,9 ton per hektar. Ini merupakan peluang sekaligus sebai tantangan bagi para petani Indonesia untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Bila pengelolaan penanaman kedelai di Indonesia dilakukan secara baik dan benar ternyata produksinya masih dapat ditingkatkan.

Upaya yang dapat dilakukan adalah terus membina petani yaitu

dengan penggunaan bibit unggul yang memiliki umur pendek/genjah serta

tahan terhadap hama dan penyakit. Selain itu harus didukung oleh irigasi

yang baik, penggunaan pupuk yang tepat serta penanganan pasca panen

yang baik.

2.2

Kacang Tanah

(Arachis hypogea L.)

Kacang tanah adalah komoditas agrobisnis yang bernilai ekonomi cukup tinggi dan merupakan salah satu sumber protein dalam pola pangan penduduk Indonesia. Kebutuhan kacang tanah dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, diversifikasi pangan, serta meningkatnya kapasitas industri makanan di Indonesia.

Di Indonesia kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di seluruh Indonesia. Dari data yang di peroleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) di tiap provinsi di Indonesa pada tahun 2009, menunjukan bahwa di Indonesia luas areal pertanaman kacang tanah sekitar 628.660 ha dan produksinya sekitar 763.507 Ton. Dari tahun ke tahun luas areal pertanaman kacang tanah di Indonesia semakin menyempit, pada tahun 2006 seluas 706.753 hektar menjadi 660.480 hektar pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 luas areal pertanamannya sekitar 628.660 hektar. Produksi hasil kacang tanah dari tahun ke tahun pun menurun seiring berkurangnya lahan pertanian khususnya luas areal kacang tanah. Pada tahun 2006 produksi hasil sekitar 838.096 ton, pada tahun 2009 sekitar 763.507 ton selama tahun 2006 sampai 2009 produksi hasil kacang tanah berkurang 74.569 ton, tidak sebanding dengan makin bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun di Indonesia yang mengakibatkan volume impor kacang meningkat.

2.3

Kacang Hijau

(Mung bean)

Kacang hijau banyak tumbuh hampir disemua tempat di Indonesia. Data Departemen Pertanian menunjukan luas tanaman tanaman kacang hijau di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 276,892.00 Ha dengan jumlah produksi kacang hijau menduduki urutan ketiga setelah kacang kedelai dan kacang tanah.

Figur

Gambar 2.1.  A. Padi sawah, B. Padi gogo, C.Padi rawa
Gambar 2 1 A Padi sawah B Padi gogo C Padi rawa . View in document p.13
Gambar 2.3. A. Penanaman padi dengan pola bujur sangkar jarak  tanam 20 x 20 cm dan B
Gambar 2 3 A Penanaman padi dengan pola bujur sangkar jarak tanam 20 x 20 cm dan B. View in document p.16
Gambar 2.4. Fase pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung   (Beckingham, 2007)
Gambar 2 4 Fase pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung Beckingham 2007 . View in document p.19
Gambar 2.7. A. Pertanaman Gandum var. Dewata. B. Malai dan biji gandum
Gambar 2 7 A Pertanaman Gandum var Dewata B Malai dan biji gandum . View in document p.22
Gambar 2.8.  Fase pertumbuhan tanaman gandum sesuai skala Zadoks  (Zadoks Growth Stages)(GRDC, 2005)
Gambar 2 8 Fase pertumbuhan tanaman gandum sesuai skala Zadoks Zadoks Growth Stages GRDC 2005 . View in document p.24
Tabel 3.1 Konversi Biomas menjadi Bioetanol
Tabel 3 1 Konversi Biomas menjadi Bioetanol . View in document p.29
Gambar 3.1  (a)  Proses penyambungan batang atas dan batang bawah,  (b) Pemilihan bibit yang muncul tunas untuk ditanam, (c) Bibit sambungan baru, (d) bibit randan 1, tahun ke 2 (tengah), dan (e) bibit randan 2, tahun ke 3
Gambar 3 1 a Proses penyambungan batang atas dan batang bawah b Pemilihan bibit yang muncul tunas untuk ditanam c Bibit sambungan baru d bibit randan 1 tahun ke 2 tengah dan e bibit randan 2 tahun ke 3. View in document p.31
Tabel 3.1 komposisi energi, protein, minyak dan karbohidrat pada sumber makanan (100g-1) (Marudut dan Sundari, 2000)
Tabel 3 1 komposisi energi protein minyak dan karbohidrat pada sumber makanan 100g 1 Marudut dan Sundari 2000 . View in document p.39
Gambar 3.1 (a) tanaman kedelai, (b) bintil akar tanaman kedelai, (c) bintil akar  tanaman legum
Gambar 3 1 a tanaman kedelai b bintil akar tanaman kedelai c bintil akar tanaman legum . View in document p.40
Tabel 3.2 Komposisi protein, lemak, kadar air, kadar abu dan serat kasar pada tanaman kacang – kacangan
Tabel 3 2 Komposisi protein lemak kadar air kadar abu dan serat kasar pada tanaman kacang kacangan . View in document p.42
Gambar 3,13 Langkah-langkah pembibitan dengan metode SBP
Gambar 3 13 Langkah langkah pembibitan dengan metode SBP . View in document p.75

Referensi

Memperbarui...