PERAN PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN TERHADAP
PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA SURAKARTA
TAHUN 2006 - 2010
Diajukan untuk Melangkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
DONI KURNIAWAN SUBARDO F0108053
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET
MOTTO
“ Sungguh bersama kesukaran pasti ada kemudahan..Karena itu apabila selesai suatu tugas, mulailah tugas yang lain dengan sungguh-sungguh. Hanya kepada Tuhanmu hendaknya kau berharap ”
(Qs Asy Syarh : 94: 58)
“ Bahwa ilmu pengetahuan itu menambahkan mulia orang yang mulia dan meninggikan seseorang budak sampai ke tingkat raja-raja. “
(Hadits Nabi Muhammad SAW) “Carilah ilmu dan kekayaan jika anda memilih cita-cita sebagai pemimpin.ilmu akan menyelesaikan masalah kelompok yang ‘khusus’ yang anda pimpin, sedangkan harta akan membantu anda menyelesaikan masalah kelompok orang ‘umum.” (Ali Bin Abi Thalib)
“ Tak ada yang jatuh dengan cuma-cuma, semua usaha dan doa” (Lirik lagu “hidup adalah perjuangan”,Ahmad Dhani)
PERSEMBAHAN
Skripsi ini dipersembahkan untuk :
v
Orang Tuaku
v
Keluarga besar Partomiharjo dan Prawiro Wiyatan
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
judul “Peran Pajak Hotel dan Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surakarta Tahun 2006 - 2010” Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat wajib guna memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi di Universitas Sebalas Maret Surakarta, namun demikian penulis
berharap skripsi ini dapat bermanfaat pula bagi berbagai pihak yang ingin
memafaatkannya.
Dalam pembuatan skripsi ini, penulis banyak menemui hambatan, baik
dari segi referensinya maupun keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki,
tetepi akhirnya semua hambatan itu dapat teratasi. Penulis juga menyadari bahwa
skripsi ini tidak akan dapat selesai tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan
kepada :
1. Drs. Wahyu Agung S, M.Si selaku pembimbing skripsi yang dengan sabar
telah membimbing dan mengarahkan sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Dr. Wisnu Untoro, M.S, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Sebelas Maret.
3. Drs. Supriyono, MEP Selaku ketua jurusan Ekonomi Pembangunan
4. Dra. Izza Mafuhah, M.Si, selaku Sekertaris jurusan Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi yang tidak dapat penulis sebutkan
namanya satu persatu, terima kasih atas segala ilmu, bimbingan, nasehat,
dan kebaikan yang telah diberikan.
6. Seluruh Pegawai BAPPEDA , Kebangpol ,Litbang ,BPS dan terutama
pegawai DPPKA Kota Surakarta, terima kasih atas kerja sama dan
kebaikan bapak dan ibu dalam penulisan skripsi ini, semoga selalu diberi
berkat dan rahmat oleh Allah SWT.aamiin.
7. Orang tua yang selalu memberi semangat dan bantuan dalam berbagai hal
yang diberika kepada penulis.
8. Teman-teman EP angkatan 2008 yang selalu membantu saya dalam
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Argo, Dwi, Donnie, Lukman ,
Bambang, Aris ,Cibie dan yang lain yang tidak bisa saya tulis namanya
satu persatu, terima ksih atas segala bantuannya,
9. Teman teman diluar perkuliahan yang selalu member semangat, terutama
Bintang, “ASK” always.
10.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.Terima kasih.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik yang
membangun demi perbaikan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat
member manfaat bagi semua pihak dimasa kini dan mendatang.
Surakarta, Juli 2012
Daftar Isi
Halaman
HALAMAN JUDUL……… i
HALAMAN PERSETUJUAN………. ii
HALAMAN PENGESAHAN………. iii
HALAMAN MOTTO………... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN……….. v
KATA PENGANTAR……….. vi
DAFTAR ISI……… viii
DAFTAR TABEL……… x
DAFTAR GAMBAR……… xii
ABSTRAK……….. xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………. 1
B. Rumusan Masalah……… 6
C. Tujuan Penulisan……….. 7
D. Manfaat Penulisan……… 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pajak………. 9
B. Kebijakan Keuangan daerah Di Indonesia………... 15
C. Pajak Daerah………. 16
D. Pajak Hotel dan Pajak Restoran……… 22
E. Pendapatan Asli Daerah ………... 28
G. Hubungan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Dengan PAD ………….. 34
H. Efisiensi Pajak ………. 36
I. Efektifitas Pajak ……….. 36
J. Kontribusi Pajak ……….. 37
K. Penelitian Terdahulu………. 38
L. Kerangka Pemikiran………. 40
M. Hipotesis………... 42
BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian………..…………. 43
B. Jenis dan Sumber Data……… 43
C. Devinisi Operasional Variabel………. 44
D. Metode Analisa Data……….. 46
BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kota Surakarta………. 54
B. Analisis Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran terhadap PAD.... 61
C. Analisis Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap PajakDaerah……….. 65
D. Matrik Kinerja Pajak Hotel dan Pajak Restoran………... 67
E. Analisis Efektifitas Pajak Hotel dan Pajak Restoran……….….. 70
F. Analisis Efesiensi Pajak Hotel dan Pajak Restoran ………. 73
G. Analisis Elastisitas PAD terhadap Pajak Hotel dan Pajak Restoran…. 76
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……….. 84
B. Saran ……… 86
DAFTAT PUSTAKA
Daftar Tabel
Halaman
1.1 Perkambangan Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Kota
Surakarta Tahun 2006-2010 ………. 4
1.2 Pertumbuhan Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Kota Surakarta Tahun 2006-2010 ……… 5
2.1 Penetapan Tarif Pajak Daerah……….. 19
2.2 Kriteria Kinerja Keuangan………... 36
2.3 Kriteria Kinerja Anggaran……… 37
2.3 Kriteria Kontribusi………... 38
3.3 Matrik Kinerja Pajak Hotel Dan Pajak Restoran……… 48
4.1 Pertumbuhan Penduduk Kota Surakarta Tahun 2006-2010 ……… 56
4.2 Luas wilayah,jmlah penduduk, dan tingkat kepadatan penduduk tiap kecamatan di Surakarta tahun 2010……….. 56
4.3 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut umur dan Jenis kelamin Tahun 2010 ……….. 57
4.4 Jumlah peduduk usia 15 Tahun yang Berkerja Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2010 ……… 58
4.5 Banyaknya pengelolahan industry dan banyaknya pekerja berdasarka kelompok kerja tahun 2010……….. 59
4.6 Banyaknya Pedagang yang mendapat ijin padatahun 2010 …….. 60
4.7 Kontribusi pajak Hotel terdahap PAD ……….. 61
4.8 Kontibusi Pajak restoran terhadap PAD ……… 63
4.10 Kontribusi Pajak Restoran Terhadap pajak daerah.……… 67
4.11 Matriks Kinerja Pajak Hotel dan restoran………... 69
4.12 Efektifitas Pemungutan Pajak Hotel disurakarta……… 70
4.13 Efektifitas Pemugutan Pajak Restora di Surakarta ……… 71
4.14 Efisiensi Pemungutan pajak Hotel Di Surakarta ……… 73
4.15 Efisiensi Pemungutan Pajak Restora Di Surakarta ……… 74
4.16 Elastisitas PAD terhadap Pajak Hotel Di Surakarta tahun 2006-2010……….. 77
Daftar Gambar
Gambara Halaman
2.1 Kerangka Pemikiran ……… 41
4.1 Persentase Luas Penggunaan Tanah Di Kota Surakarta
ABSTRAK
PERAN PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2006 – 2010
DONI KURNIAWAN SUBARDO F0108053
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pajak hotel dan pajak restoran dalam kontribusinya pada Penerimaan Asli Daerah dan Pajak Daerah Kota Surakarta serta mengetahui efektifitas dan efiensi pemungutannya. Dalam penelitian ini juga dikaji tingkat kepekaan pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Surakarta
Penelitian ini adalah penelitian studi pustaka yang mengambil lokasi penelitian di Kota Surakarta dengan menggunakan data sekunder tahun 2006 sampai dengan 2010. Dalam mencapai usaha mencapai tujuan penelitian dan menguji hipotesis, maka digunakan analisis kontribusi, matrik kinerja dan analisis elastisitas. Untuk mengukur kinerja hasil pemungutan pajak hotel dan pajak restoran digunakan tolak ukur administrasi, yaitu efisiensi dan efektifitas.
Hasil penelitian ini adalah terdapat kontribusi yang tinggu antara pajak hotel dan pajak restoran dengan Pendapatan Asli daerah dan Pajak Daerah di Surakarta pada tahun 2006 sampai dengan 2010. Perhitungan matrik kinerja pajak hotel dan restoran tergolong kriteria berpotensi bahkan prima. Dalam mengkaji efektifitas dan efisiensi pemungutan pajak hotel dan pajak restoran sudah termasuk kriteria efisien dan efektif. Melalui analisis elastisitas menunjukkan bahwa tingkat elastisitas rata-rata dalam lima tahun pajak hotel sebesar 0,98 (inelastis) dan pajak resrotan sebesar 0,82 (inelastis) terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Surakarta.
Saran yang diharapkan, pemerintah Kota Surakarta khususnya DPPKA Surakarta melakukan intensifikasi pajak, guna meningkatkan kontribusi, efektifitas dan efisiensi pajak. Dalam hal peningkatan elastisitas Pendapatan Asli Daerah terhadap pajak Hotel dan pajak Restoran, diharapkan pemerintah kota Surakarta bekerja sama dengan departrmen terkait untuk meningkatkan dan memajukan sektor pariwisata guna memajukan pajak hotel dan pajak restoran.
ABSTRACT
ROLE OF THE HOTEL TAX AND RESTAURANT TAX AGAINST THE ORIGINAL CITY REVENUE OF SURAKARTA IN YEAR 2006 – 2010
DONI KURNIAWAN SUBARDO F0108053
The purpose of this study was to determine the role of taxation in the hotel and restaurant tax contribution to the Revenue of Local and Regional Tax Surakarta City, and the effectiveness and efficiency of the collection. This research also examined the sensitivity of the hotel and restaurant tax to the Revenue Surakarta City.
The study was a literature study which took place in the city of Surakarta research using secondary data from 2006 to 2010. In achieving the business goals of research and test the hypotheses, we used analysis of contribution, and performance matrix elasticity analysis. To measure the performance results of hotel tax collection and tax administration restaurant used benchmarks, the efficiency and effectiveness.
The results of this study is that there is a high contribution between tax and hotel tax revenue to the local restaurant and Local Taxes in Surakarta in 2006 until 2010. The calculation of the performance metrics hotel and restaurant taxes potentially classified criteria even prime. In reviewing the effectiveness and efficiency of tax collection and the hotel include a restaurant tax efficient and effective criteria. Through analysis shows that the elasticity of the elasticity of the average in the five years the hotel tax amounting to 0.98 (inelastic) and restaurant tax of 0.82 (inelastic) to the Revenue Surakarta.
Suggestion expected, the government of Surakarta Surakarta especially DPPKA intensification taxes, in order to enhance the contribution, effectiveness and efficiency of the tax. In terms of increasing the elasticity of the tax Revenue hotel and restaurant tax, the government is expected to Surakarta in cooperation with relevant departemen to enhance and promote the tourism sector in order to promote the hotel tax and restaurant tax.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pergeseran paradigma dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan
dari pola sentralisali menjadi pola desentralisasi ditandai dengan lahirnya
Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan
Undang - undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah, yang kemudian direvisi menjadi
undang-undang No.32 Tahun 2004 dan Undang-undang-undang No. 33 Tahun 2004,
membawa implikasi yang mendasar terhadap keberadaan tugas, fungsi, dan
tanggung jawab lembaga serta aparatur. Kedua undang - undang ini
merupakan landasan utama bagi desentralisasi pemerintahan dengan
memberikan kewenangan pada daerah untuk mengelola berbagai urusan
pemerintahan kecuali urusan pertahanan, keamanan, kehakiman,
internasional, dan moneter.
Pelaksanaan otonomi daerah yang dimulai secara penuh sejak tanggal
1 Januari 2001 ini diharapkan menghasilkan dua manfaat yaitu yang pertama
mendorong peningkatan partisipasi, prakarsa, dan kreativitas masyarakat
dalam pembangunan daerah serta mendorong pemerataan hasil-hasil
pembangunan di seluruh daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan
memperbaiki alokasi sumber daya produktif melalui pergeseran peran
pengambilan keputusan publik ke tingkat pemerintah yang paling rendah
yang memiliki informasi yang lengkap (Mardasmo, 2002:6).
Guna menunjang keberhasilan pembanguan diperlukan penerimaan
yang kuat, dimana sumber pembiayaan diusahakan tetap bertumpu pada
penerimaan dalam negeri dan penerimaan dari sumber-sumber luar negeri
hanya sebagai pelengkap. Kemandirian pembangunan diperlukan baik
ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Hal ini tidak terlepas dari
keberhasilan penyelenggaraan pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah pusat
dengan kebijaksanaannya.
Dalam upaya mendukung pelaksanaan pembangunan nasional yang
maksimal, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan dibidang penerimaan
daerah yang berorientasi pada peningkatan kemampuan daerah untuk
membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan diprioritaskan pada
penggalian dana mobilisasi sumber-sumber daerah. Sumber pendapatan
daerah menurut Undang-Undang No. 33 tahun 2004 adalah :
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), terdiri dari:
a. Hasil pajak daerah.
b. Hasil retribusi daerah.
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan.
2. Dana perimbangan.
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pendapatan daerah
yang secara bebas dapat digunakan oleh masing-masing daerah untuk
menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan daerah. Tapi pada
kenyataannya kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap pendapatan dan
belanja daerah masih kecil. Selama ini dominasi sumbangan pemerintah
pusat kepada daerah masih besar. Oleh karenanya untuk mengurangi
ketergantungan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah perlu berusaha
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang salah satunya dengan
penggalian potensi daerah.
Salah satu potensi penting dari Pendapatan Asli Daerah adalah
pajak daerah. Pajak daerah adalah pajak yang ditetapkan oleh daerah
untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah tersebut.
Penerimaan potensial sumber Pendapatan Asli Daerah hanya sebahagian
dari beberapa pajak dalam arti disini pajak daerah itu tidak semuanya
terlaksana secara efisien. Hal ini terbukti karena untuk pemerintah daerah
salah satu penerimaan yang potensial berasal dari pajak hotel dan
restoran, pajak tontonan, pajak reklame. Semakin tinggi peranan
Pendapatan Asli Daerah merupakan cerminan keberhasilan usaha atau
tingkat kemampuan daerah dalam membiayai penyelenggaraan pemerintah
dan pembangunan.
Sesuai dengan Undang-unadang No. 34 tahun 2000 tentang pajak
daerah dan diantaranya adalah pajak hotel dan restoran. Mengingat bahwa
sektor perdagangan yang dominan di Kota Surakarta, maka semakin ketat
persaingan antar daerah di sektor perhotelan dan restoran. Untuk itu perlu di
lakukan perkembangan dan peningkatan usaha di sektor yang potensial.
Sektor perhotelan dan restoran atau rumah makan merupakan sektor yang
potensial hingga diharapkan pajak yang dihasilkan dari sektor tersebut dapat
meningkatkan pendapatan daerah di Kota Surakarta. Dari tabel 1.1 dapat
dilihat bahwa dari tahun ke tahun perkembangan pertumbuhan jumlah hotel
dan restoran di kota Surakarta terus meningkat, hal ini menunjukkan bahwa
bisnis perhotelan dan restoran maju di Kota Surakarta.
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah Hotel dan Restoran di Kota Surakarta Tahun 2006 – 2012
Jenis
Tahun
Jumlah Hotel Jumlah Restoran
2006 129 555
2008 137 808
2010 138 812
2012 147 821
Sumber : DPPKA dan BPS Kota Surakarta
Dari tahun ke tahun pertumbuhan sektor pajak perhotelan dan restoran
di Kota Surakarta menunjukkan perkembangan yang berarti. Pada tahun 2006
jumlah masing-masing hotel dan restoran adalah 129 dan 555, selanjutnya
pada 6 tahun kemudian yaitu tahun 2012 menjadi 147 dan 821. Untuk
restoran serta pajak Daerah dan Pendapatan asli daerah (PAD) di Kota
Surakarta, dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 1.1
Perkembangan Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Kota Surakarta Tahun 2006 s/d 2010
Tahun Pajak Hotel 2006 4,202,494,848 5,779,781,864 78,637,865,549 35,702,606,248 2007 4,403,515,967 6,193,638,884 89,430,977,982 41,404,082,034 2008 5,213,358,162 7,647,041,788 102,929,501,970 46,855,622,021 2009 7,251,331,746 9,044,588,060 101,972,318,682 52,163,818,689 2010 10,799,468,707 10,454,561,381 114,141,348,062 61,641,623,410 Sumber : Departemen Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Surakarta.
Tabel 1.2
Pertumbuhan Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran di Surakarta Tahun 2006 s/d 2010
Sumber : Departemen Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Surakarta, diolah.
Dari data tersebut dapat diperoleh gambaran singkat tentang
perkembangan Pajak daerah dan Penerimaan Asli daerah khususnya pajak
hotel dan pajak restoran di Kota Surakarta pada lima tahun terakir yaitu pada
tahun 2006 sampai dengan tahun 2010. Pada tahun 2006 pajak hotel sebesar
pajak hotel sebesar Rp 4,403,515,967,- dengan kenaikan 4,78% dari tahun sebelumnya dan pajak restoran Rp 6,193,638,884,- dengan kenaikan 7,16% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 pajak hotel dan restoran sebesar Rp 5,213,358,162,- dan Rp 7,647,041,788,- dengan masing-masing pertumbuhan sebesar 18.39% dan 23.47%. pada tahun 2010 pajak hotel dan restoran sebesar Rp 10,799,468,707,- dan Rp 10,454,561,381,- dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya sebesar 48,93% dan 19,40%.
Berdasarkan data perkembangan dan pertumbuhan penerimaan pajak hotel dan pajak restoran Kota Surakarta tahun 2006 sampai dengan 2010 diatas, maka diperlukan studi lebih lanjut mengenai perkembangan dan konntribusinya terhadap Pendapatan Asli daerah dan Pajak daerah Kota Surakarta guna mempelajari serta menelaah persoalan tentang pajak hotel dan pajak restoran di Kota Surakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdararkan latar belakang yang dikemukaan, maka yang menjadi
pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan
Asli Daerah (PAD) di Kota Surakarta?
2. Bagaimanakah kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pajak daerah
di Kota Surakarta?
3. Bagaimana status kinerja pajak hotel dan restoran di Kota Surakarta?
4. Bagaimana efektifitas dan efisiensi pemungutan pajak hotel dan restoran
di Kota Surakarta?
5. Bagaimanakah elastisitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pajak
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat peranan Pajak Hotel
dan Restoran terhadap PAD Kota Surakarta , yaitu :
1. Untuk mengetahui kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Surakarta.
2. Untuk mengetahui kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pajak
daerah di Kota Surakarta.
3. Untuk mengetahui status kinerja pajak hotel dan restoran di Kota
Surakarta.
4. Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pemungutan pajak hotel dan
restoran di Kota Surakarta.
5. Untuk mengetahui elastisitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap
pajak hotel dan pajak restoran di Kota Surakarta.
D. Manfaat Penulisan
1. Sebagai masukan pihak-pihak terkait, khususnya pemerintah Daerah
Kota Surakarta sebagai penentu kebijakan dalam mengambil
langkah-langkah yang diperlukan dalam hubungannya dengan peningkatan
penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Pajak Hotel dan
Restoran serta sebagai acuan dlam mengambil kebijakan dalam hal
perpajakan khususnya pajak hotel dan restoran.
2. Sebagai referensi bagi para pebisnis khususnya dalam bidang perhotelan
dan restoran guna meningkatkan potensi penerimaan dari hotel dan
3. Sebagai informasi dan masukan bagi peneliti lain yang berminat
pada permasalahan yang sama.
4. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana pada
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pajak
1. Pengertian dan Fungsi Pajak
Masalah pajak adalah masalah negara dan setiap orang yang hidup
dalam suatu Negara pasti berurusan dengan pajak, oleh karena itu masalah
pajak juga menjadi masalah seluruh rakyat dalam negara tersebut. Dengan
demikian setiap anggota masyarakat harus mengetahui segala persoalan
tentang pajak, baik tentang asas-asasnya, jenis atau macam-macamnya
yang berlaku di negara, tata cara pembayaran pajak serta hal dan kewajiban
sebagai wajib pajak.
Definisi pajak menurut Rochmat Soemitro dalam bukunya
Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pendapatan (1990:5) adalah sebagai berikut
(Halim, 2004:129) :
“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksa) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra-prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Dalam kontes daerah, pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak
adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepala
daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan
membiayai penyelenggara pemerintah dan pembangunan daerah.(UU No.
32 Tahun 2004)
Dilihat dari aspek pemungutannya, pajak mempunyai dua fungsi,
yaitu (Halim, 2004: 131) :
a. Fungsi Budgeter.
Fungsi ini terletak dan lazim dilakukan pada sektor publik dan
pajak disini merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk
memasukkan uang sebanyak-banyaknya kedalam kas negara / daerah
sesuai dengan waktunya dalam rangka membiayai seluruh pengeluaran
rutin dan pembangunan pemerintah pusat atau daerah.
b. Fungsi Pengaturan. .
Merupakan fungsi yang dipergunakan oleh pemerinah pusat
atau daerah untuk mencapai tujuan tertentu yang berada diluar sektor
keuangan negara atau daerah, konsep ini paling sering dipergunakan
kepada sektor swasta.
2. Sistem Pemungutan Pajak.
Pada dasarnya ada 3 sistem pemungutan pajak yang berlaku, yaitu :
a. Official Assessment System
Official Assessment System adalah suatu sistem pemungutan pajak
yang memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan
Ciri-ciri Official Assessment System :
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang pada
pemerintah.
2) Wajib pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh
pemerintah.
b. Self Assessment System
Self Assessment System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang
memberi wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri
besarnya pajak yang terutang.
Cirri-ciri Self Assessment System:
1) Wewenang untuk menentukan pajak terutang ada pada wajib pajak
itu sendiri.
2) Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung menyetor dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang.
3) Pemerintah tidak ikut campur dan hanya mengawasi.
c. With Holding System
With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang
memberikan wewenang kepada pihak ketiga (bukan pemerintah) untuk
menentukan besaran pajak yang terutang oleh wajib pajak. Ciri-cirinya
adalah wewenang yang menentukan besaran pajak yang terutang ada
3. Macam-macam Pajak
a. Menurut Golongannya (Mulyanto, 2007)
1) Pajak Langsung
Pajak langsung dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu
pengertian administrasi dan ekonomi. Dalam pengertian
administrasi, pajak adalah pajak yang dipungut secara priodik
(terus-menerus) dalam waktu tertentu menurut mulyanto (ketetapan
pajak). Sedangkan dalam pengertian ekonomis, pajak langsung
adalah beban pajaknya tidak dapat digeserkan kepada pihak lain,
atau pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib paja.
2) Pajak tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah suatu pajak yang dapat dilumpuhkan
(digeserkan) kepada pihak lain, misalnya pajak pembangunan.
Konsumen (pihak ketiga) menjadi tujuan pajak, sedangkan pihak
kedua adalah pemilik rumah makan dan pemilik penginapan atau
wakilnya.
b. Munurut Sifatnya (Mulyanto, 2007)
1) Pajak Subyektif
Pajak subyektif adalah pajak yang dipungut dengan
memperlihatkan keadaan wajib pajak menjadi ukuran terhadap
besar kecilnya jumlah pajak yang dibayar.
2) Pajak Obyektif
Pajak Obyektif adalah pajak yang pungutannya berpangkal pada
pembuatan dan kejadian yang dilakukan atau terjadi dalam wilayah
Negara dengan tidak mengindahkan sifat subyeknya.
4. Tarif Pajak
Tarif pajak merupakan alat ukur untuk menilai tingkatan besarnya
pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Secara teoritis terdapat 4
macam tarif pajak (Mulyanto, 2007) yaitu :
a. Tarif proporsional
Tarif pajak yang prosentasenya tidak tergantung pada besarnya dasar
pengenaan pajak
b. Tarif Progresif
Tarif pajak yang presentasenya meningkat, sesuai besarnya dasar
pengenaan pajak.
c. Tarif Degresif
Tarif pajak yang presentasenya menurun, sesuai meningkatnya dasar
pengenaan pajak.
d. Tarif Tetap
Tarif pajak yang jumlah atau angkanya tidak tergantung pada
besarnya dasar pengenaan pajak.
5. Syarat Pemungutan Pajak
Pemungutan pajak hendaknya dilakukan secara proporsional, agar
tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan dalam pemungutannya.
Pemungutan pajak (Musgrave, 1993: 235) harus memenuhi sebagai
a. Syarat keadilan
Pemungutan pajak harus sesuai dengan tujuan hukum mencapai
keadilan undang-undang dan pelaksanaannya pemungutannya harus
adil. Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak
secara umum dan merata serta disesuaikan dengan kemampuan
masing-masing. Sedangkan adil dalam pelaksanaannya
pemungutannya yakni dengan memberi hak bagi wajib pajak untuk
mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan
banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak.
b. Syarat Yuridis
Pemungutan pajak harus didasarkan pada undang-undang. Hal
ini memberi jaminan hukum untuk menyatakan keadilan bagi Negara
maupun warganya.
c. Syarat Ekonomis
Pemungutan pajak tidak sampai mengganggu perekonomian
khususnya pada kegiatan perdagangan, sehingga tidak menimbulkan
kelesuhan perekonomian masyarakat.
d. Syarat Finansial
Pemungutan pajak harus efisien dan didasarkan pada fungsi
budgeter dalam artian biaya pemungutan pajak harus ditekan sehingga
e. Sistem Pemungutan Pajak Harus Sederhana
Sistem pemungutan pajak yang sederhana akan memudahkan
dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya.
6. Teori-Teori yang Mendukung Pemungutan Pajak
Teori-teori yang mendukung pemungutan pajak antara lain adalah
(Mulyanto, 2007: 23) :
a. Teori Asuransi
Negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda, dan hak-hak
rakyatnya. Oleh karena itu rakyat harus membayar pajak yang
diibaratkan sebagai suatu premi asuransi karena memperoleh jaminan
perlindungan tersebut.
b. Teori Kepentingan
Pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada kepentingan
masing-masing orang. Semakin besar kepentingan seseorang terhadap
negara, makin tinggi pajak yang harus dibayar.
c. Teori Daya Pikul
Beban pajak untuk semua orang harus sama beratnya, artinya pajak
harus dibayar sesuai dengan daya pikul masing-masing orang. Untuk
1) Unsur objektif, dengan melihat besarnya penghasilan atau
kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
2) Unsur subjektif, dengan memperhatikan besarnya kebutuhan
materiil yang harus dipenuhi.
d. Teori Bakti
Dasar keadilan pemungutan pajak terletak pada hubungan rakyat
dengan negaranya. Sebagai warga negara yang berbakti, rakyat harus
selalu menyadari bahwa pembayaran pajak adalah sebagai suatu
kewajiban.
e. Teori Asas Daya Beli
Dasar keadilan terletak pada akibat pemungutan pajak. Maksudnya
memungut pajak berarti menarik daya beli dari rumah tangga
masyarakat untuk rumah tangga negara. Selanjutnya Negara akan
menyalurkannya dalam bentuk pemeliharaan kesejahteraan
masyarakat. Dengan demikian kepentingan seluruh masyarakat lebih
diutamakan.
B. Kebijaksanaan Keuangan Daerah di Indonesia
Kebijaksanaan keuangan daerah diarahkan untuk meningkatkan
pendapatan yang dapat digunakan oleh daerah dalam menyelenggarakan
pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhannya. Dari
beberapa jenis pendapatan asli daerah sendiri yang merupakan sumber
penerimaan terbesar bagi pendapatan asli daerah adalah pajak daerah (Halim,
Prinsip otonomi daerah yang merata dan bertanggung jawab,
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan secara bertahap akan
semakin banyak melimpahkan kepada daerah. Untuk itu daerah dituntut
untuk lebih efektif dalam memobilisasi sumber daya sendiri, disamping
mengelolah dana yang diterima dari pemerintah pusat secara efisien.Masalah
yang tampak dalam pengaturan ekonomi daerah aalah kemandirian daerah
dalam membiayai pembangunan daerah. Karena pada era sekarang ini
sumber investasi yang dahulu melalui sektor migas sekarang beralih kesektor
non migas memungkinkan peningkatan kemandirian pemerintah daerah,
karena setiap daerah tidak dapat ditafsirkan biaya pembangunan daerahnya
berasal dari pendapatan asli daerahnya.
Untuk lebih mendukung terciptanya tujuan pemerintah daerah yang
merata diseluruh daerah sesuai dengan prinsip otonomi daerah, maka ada
lima kebijaksanaan pokok dibidang keuangan daerah, yaitu:
1. Kebijaksanaan yang meningkatkan pendapatan asli daerah
2. Kebijaksanaan dibidang pengeluaran pemerintah
3. Peningkatan kemampuan organisasi pemerintah daerah
4. Peningkatan sistem informasi keuangan daerah dan pengendalian
pemerintah daerah.
5. Kebiksanaan untuk mendorong keikutsertaan swasta dalam pelayanan
C. Pajak Daerah
Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah ditetapkan ketentuan-ketentuan pokok yang
memberikan pedoman kebijakan dan arahan bagi daerah dalam pelaksanaan
pemungutan pajak dan retribusi, sekaligus menetapkan pengaturan untuk
menjamin penerapan prosedur umum Perpajakan Daerah dan Retribusi
Daerah. Pajak Daerah dan Pajak Nasional merupakan suatu sistem
perpajakan Indonesia yang pada dasarnya merupakan beban masyarakat,
sehingga perlu dijaga agar kebijakan tersebut dapat memberikan beban yang
adil.
Pajak secara umum adalah iuran wajib anggota masyarakat kepada
negara karena undang-undang, dan atas pembayaran tersebut pemerintah
tidak memberikan balas jasa yang langsung dapat ditunjuk. Dalam konteks
daerah, Pajak Daerah yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan
langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Pajak Daerah
digolongkan ke dalam dua kategori menurut tingkat Pemerintah Daerah,
yaitu:
1. Pajak-Pajak Daerah di Indonesia
Mengenai pajak daerah dapat dibedakan menjadi dua yaitu pajak
a. Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi)
Berdasarkan UU No. 34 tahun 2000 disebutkan bahwa pajak daerah
yang dapat dipungut oleh daerah tingkat I antara lain :
1) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
4) Pajak Pengambilan Dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan
Air Permukaan.
b. Pajak Daerah Tingkat II (Kabupaten atau Kota)
Sedangkan menurut UU No. 34 tahun 2000 disebutkan bahwa
pajak daerah yang dapat dipungut oleh Daerah Tingkat II, antara lain:
1) Pajak Hotel dan Restoran
2) Pajak Hiburan
3) Pajak Reklame
4) Pajak Penerangan Jalan
5) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
6) Pajak Parkir
2. Tarif Pajak Daerah
Sejalan dengan sistem perpajakan nasional, pembinaan pajak daerah
dilakukan secara terpadu dengan Pajak Nasional. Pembinaan dilakukan
secara terus menerus,terutama mengenai objek dan tarif pajak, sehingga
antara pajak pusat dan pajak daerah saling melengkapi. Meskipun beberapa
jenis pajak daerah dan retribusi daerah sudah ditetapkan dalam
dalam menggali potensi sumber-sumber keuangannya dengan menetapkan
jenis pajak dan retribusi selain yang telah ditetapkan dan sesuai dengan
aspirasi rakyat.
Berdasarkan UU No 34 Tahun 2004 tentang pajak Daerah dan
Retribusai daerah, pengenaan tarif Pajak Daerah Kabupaten atau Kota
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Penetapan Tarif Pajak Daerah
No. Jenis Pajak Tarif Pajak Pengenaan Tarif Pajak
1 Pajak Hotel 10% Atas jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel
2 Pajak Restoran 10% Atas Jumlah pembayaran yang dilakukan kepada restoran.
3 Pajak Hiburan 35% Atas jumlah pembayaran atau seharusnya dibayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan.
4 Pajak Reklame 25% Atas nilai sewa reklame yang didasarkan pada nilai jual objek.
5 Pajak Penerangan jalan 10% Atas nilai jual tenaga listrik yang terpakai. 6 Pajak Bahan galian
Gol. C
20% Atas nilai jual hasil galian golongan C
Sumber : UU No. 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.
3. Indikator-Indikator Penilaian Pajak dan Retribusi Daerah
Ada beberapa indikator yang biasa digunakan untuk menilai Pajak
dan Reribusi daerah, yaitu (Halim, 2004: 96) :
a. Hasil (Yield)
Hasil (Yield) yaitu memadai tidaknya hasil suatu pajak dalam kaitannya
dengan berbagai layanan yang dibiayainya, stabilitas dan mudah
tidaknya memperkirakan besarnya hasil pajak tersebut, perbandingan
hasil pajak dengan biaya pungut, dan elastisitas hasil pajak terhadap
inflasi, pertambahan penduduk, pertambahan pendapatan dan
sebagainya.
b. Keadilan (Equity)
Dalam hal ini dasar pajak dan kewajiban membayarnya harus jelas dan
tidak sewenang-wenang; pajak harus adil secara horizontal, artinya
beban pajak harus sama antara berbagai kelompok yang berbeda tetapi
dengan kedudukan ekonomi yang sama; adil secara vertikal artinya
beban pajak harus lebih banyak ditanggung oleh kelompok yang
memiliki sumber daya yang lebih besar; dan pajak / retribusi haruslah
adil dari suatu daerah ke daerah lain, kecuali memang suatu daerah
mampu memberikan fasilitas pelayanan sosial yang lebih tinggi.
c. Efisiensi ekonomi
Pajak / Retribusi Daerah hendaknya mendorong atau setidaktidaknya
dalam kehidupan ekonomi, mencegah jangan sampai pilihan konsumen
dan pilihan produsen menjadi salah arah atau orang menjadi segan
bekerja atau menabung; dan memperkecil ”beban lebih” pajak.
d. Kemampuan melaksanakan (Ability to Implement)
Dalam hal ini suatu pajak haruslah dapat dilaksanakan, baik dari aspek
politik maupun administratif.
e. Kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah (Suitability as local
revenue source)
Ini berarti, haruslah jelas kepada daerah mana suatu pajak harus
dibayarkan; dan tempat memungut pajak sedapat mungkin sama dengan
tempat akhir beban pajak; pajak tidak mudah dihindari, dengan cara
memindahkan objek pajak dari suatu daerah ke daerah lain; pajak
daerah hendaknya jangan mempertajam perbedaan-perbedaan antara
daerah dari segi potensi ekonomi masing-masing; dan pajak hendaknya
tidak menimbulkan beban yang lebih besar dari kemampuan tata usaha
pajak daerah.
4. Azas Pemungutan Pajak Daerah
Pemungutan pajak daerah selain didasarkan dan dilaksanakan
menurut asas-asas dan norma-norma hukum, juga perlu diperhatikan bahwa
prinsip bagi pengenaan pajak yang baik kepada wajib pajak. Prinsip-prinsip
tersebut yaitu:
a. Prinsip kesamaan
dari setiap wajib pajak. Perbedaan dalam tingkat penghasilan harus
digunakan sebagai dasar di dalam retribusi beban pajak itu,
sehingga bukan beban pajak dalam arti uang yang penting tetapi
baban riil dalam arti kepuasan yang hilang.
b. Prinsip kepastian
Pajak jangan sampai membuat rumit bagi wajib pajak, sehingga mudah
di mengerti oleh mereka dan juga akan memudahkan administrasi
pemerintah sendiri.
c. Prinsip kecocokan
Pajak jangan sampai menekan bagi wajib pajak, sehingga wajib pajak
akan dengan suka dan senang hati melakukan pembayaran
pajak kepada pemerintah.
D. Pajak Hotel dan Pajak Restoran
1. Pajak Hotel
a. Pengertian Pajak Hotel
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota SurakartaNo. 9 tahun 2002
tentang pajak hotel, pengertian Pajak Hotel adalah Pungutan pajak atas
pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran.
b. Subjek Pajak Restoran, Obyek Pajak Restoran dan Tidak Termasuk
Obyek Pajak Restoran
Yang termasuk objek pajak adalah pelayanan yang disediakan hotel
dengan pembanyaran termasuk fasilitas sebagai berikut:
2) Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan
atau tempat tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan
kemudahan dan kenyamanan;
3) Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu
hotel dan bukan untuk umum;
4) Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di
hotel;
Pengecualian dari objek pajak yang terkandung dalam Peraturan
Daerah Kota Surakarta No. 9 tahun 2002 tetang pajak hotel adalah :
1) Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan atau fasilitas tempat
tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;
2) Pelayanan tinggal di asrama dan pondok pesantren;
3) Fasiitas olahraga dan hiburan yang disediakan di Hotel yang
dipergunakan oleh bukan tamu hotel, dengan pembayaran;
4) Pertokoan, perkantoran, perbankan salon yang dipakai oleh umum
di hotel;
5) Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan
dapat dimanfaatkan oleh umum.
Subyek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran atas pelayanan hotel. Wajib Pajak adalah Pengusaha Hotel.
Pengusaha Hotel adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan
usaha hotel untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama
c. Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak
Dasar Pengenakan Pajak adalah jumlah pembayaran yang
dilakukan Subyek Pajak kepada Hotel atas pelayanan yang diberikan.
Pembagiannya sebagai berikut :
1) Tarip Pajak Hotel ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari
jumlah pembayaran.
2) Tarip Pajak Hotel lainnya sebesar 5% (lima persen) dari jumlah
pembayaran.
d. Tata Cara Pemungutan Pajak
1) Pajak dibayar sendiri oleh Wajib Pajak atau dipungut berdasarkan
penetapan Walikota atau Pejabat yang ditunjuk
2) Wajib Pajak memenuhi kewajiban pajak yang dibayar sendiri
dengan menggunakan SPTPD, SKPD, SKPDKB dan atau
SKPDKBT.
3) Wajib Pajak memenuhi kewajiban pajak yang dipungut dengan
menggunakan SKPD, atau dokumen lain yang dipersamakan
4) Terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud nomor (2) dan (3) di
atas, dapat diterbitkan STPD, Surat Ketetapan Pembetulan,Surat
Ketetapan Keberatan dan Putusan Banding sebagai dasar
e. Masa Pajak dan Saat Terutang Pajak
Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan atau
jangka waktu lain yang ditetapkan oleh Walikota.Saat terutangnya pajak
adalah pada saat terjadinya pelayanan hotel.Pajak yang terutang
dipungut di Wilayah Daerah. Pemungutan Pajak tidak dapat
diborongkan.
f. Tata Cara Pembayaran Pajak
Pembayaran pajak daerah tidak terdapat perbedaan yang signifikan
dengan pajak pusat. Prosedur-prosedurnya tercantum dalam peraturan
dan Undang-Undang. Prosedur pembayaran pajak dan sanksi pajak
bersifat mengikat terhadap Wajib Pajak dalam melaksanakan
pemenuhan kewajiban perpajakan. Tata cara pembayaran pajak hotel,
antara lain:
1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang
ditunjuk oleh Walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam
SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD.
2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk,
hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah
selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh
Walikota.
3) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dilakukan dengan
menggunakan SSPD.
g. Sanksi Administrasi Pajak Hotel
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dan
ditagih dengan menerbitkan STPD.
h. Penagihan Pajak
Penagihan pajak dilakukan sesuai dengan prosedur di bawah ini:
1) Surat Teguran atau Surat Peringatan sebagai awal tindakan
pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat
jatuh tempo pembayaran.
2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran
atau Surat Peringatan, Wajib Pajak harus melunasi pajak yang
terutang.
3) Surat Teguran atau Surat Peringatan sebagaimana di atas
dikeluarkan oleh Pejabat.
4) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi
dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran
atau Surat Peringatan, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih
dengan Surat Paksa.
5) Pejabat menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua
puluh satu) hari sejak tanggal penerbitan Surat Teguran atau Surat
2. Pajak Restoran
a. Pengertian Pajak Restoran
Berdasarkan Peratur an Daerah Kota Surakata No. 10 tahun 2002
tentang Pajak Restoran, pengertian pajak restoran adalah Pungutan pajak
atas pelayanan penjualan makanan dan atau minuman yang disediakan di
restoran.
b. Subjek Pajak Restoran, Obyek Pajak Restoran dan Tidak Termasuk Obyek Pajak Restoran
Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yang melaksanakan pembayaran atas pelayanan restoran berupa penjualan makanan dan/ atau minuman.
Obyek Pajak Restoran adalah setiap pelayanan atas penjualan makanan dan/ atau minuman yang disediakan di restoran dengan melaksanakan pembayaran, termasuk pesanan atau yang dibawa pulang.
Tidak Termasuk Obyek Pajak Restoran adalah :
1) Pelayanan usaha jasa boga atau katering,
2) Pelayanan yang disediakan di restoran yang peredarannya tidak
melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Walikota.
c. Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak
Dasar Pengenaan Pajak atas Pajak Restoran adalah jumlah
pembayaran yang dilakukan kepada restoran atas pelayanan yang
1) Kategori A, yaitu restoran atau rumah makan yang memiliki
fasilitas minimal berupa konstruksi bangunan permanen dan/ atau
semi permanen, dikenakan tarif 10% (sepuluh persen).
2) Kategori B, yaitu restoran atau rumah makan yang memiliki
fasilitas konstruksi berupa tenda atau knock down, dikenakan tarif
5% (lima persen).
3) PKL (Pedagang Kaki Lima) dikenakan pajak berupa karcis.
d. Masa Pajak dan Saat Pajak Terhutang
1) Masa Pajak Restoran adalah waktu yang lamanya 1 (satu) bulan
2) Saat Pajak Restoran terhutang adalah pada saat pelayanan atas
penjualan makanan dan/ atau minuman di restoran.
e. Pembayaran dan Sanksi
1) Pembayaran Pajak Restoran dilakukan di Kas Daerah atau tempat
lain yang ditunjuk oleh Walikota, sesuai waktu yang ditentukan
dalam Surat Ketetapan Pajak.
2) Pembayaran harus dilakukan secara tunai atau lunas paling lambat
10 (sepuluh) hari sejak berakhirnya masa pajak.
3) Kelambatan atas pembayaran pajak dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga 2% (dua persen) setiap bulan.
f. Tata Cara Pemungutan
1) Pajak Restoran dibayar sendiri oleh Wajib Pajak atau dipungut
berdasarkan penetapan Walikota atau Pejabat yang ditunjuk.
2) Wajib Pajak yang menjalankan restoran dengan omset Rp.300 juta
3) Pembukuan sebagaimana dimaksud dapat dijadikan dasar untuk
menghitung besarnya pajak terutang.
4) Walikota atau Pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan
untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
Daerah dalam rangka melaksanakan Peraturan Daerah.
E. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh
daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Munir, 2003: 38).
Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) meliputi :
a. Hasil Pajak Daerah
Diperoleh dari kewajiban penduduk menyerahkan sebagian dari
kekayaan kepada daerah disebabkan suatu keadaan, kejadian atau
perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai
hukuman. Dalam hal ini, pajak daerah memenuhi beberapa persyaratan,
antara lain :
1) Tidak bertentangan atau harus searah dengan kebijakan pemerintah
pusat;
2) Harus sederhana dan tidak terlalu banyak jenisnya;
4) Tidak mencampuri sistem perpajakan pusat menurut perturan
peraturan yang ditetapkan oleh daerah, serta dapat dipaksakan.
b. Hasil Retribusi Daerah
Berupa pemungutan uang sebagai pembayaran pemakaian karena
memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah, baik yang
berkepentingan atau karana jasa yang diberikan pemerintah daerah dan
berdasarkan peraturan daerah.
c. Hasil Perusahaan Milik Daerah
Dari pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan. Jenis
penerimaan yang termasuk hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya
yang dipisahkan, antara lain : bagian laba, deviden, dan penjualan saham
milik daerah.
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah
Antara lain berupa penjualan aset tetap daerah dan jasa giro.
F. Potensi Pendapatan Asli Daerah
Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah kekuatan yang ada di
suatu daerah untuk menghasilkan sejumlah penerimaan Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Untuk mengetahui potensi sumber-sumber Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dibutuhkan pengetahuan tentang analisis perkembangan
beberapa variabel yang dapat dikendalikan (yaitu variabel-variabel kebijakan
dan kelembagaan), dan yang tidak dapat dikendalikan, (yaitu
penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Beberapa variabel yang perlu
dianalisis untuk mengetahui potensi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD) adalah (Halim, 2004: 97) :
1. Kondisi awal suatu daerah
Keadaan struktural ekonomi dan sosial suatu daerah sangatlah
menentukan, yakni :
a. Besar kecilnya keinginan pemerintah daerah untuk menetapkan
pungutan. Hal ini disebabkan karena struktur ekonomi dan sosial
suatu masyarakat menentukan tinggi rendahnya tuntutan akan adanya
pelayanan publik dalam kuantitas dan kualitas tertentu. Pada
masyarakat agraris (berbasis pertanian) misalnya, tuntutan akan
ketersediaan fasilitas pelayanan publik dalam kuantitas dan kualitas
tertentu akan lebih rendah daripada tuntutan yang ada di masyarakat
industri (daerah yang berbasis industri). Pada masyarakat agraris
pemerintah tidak akan terpacu untuk menarik pungutan-pungutan dari
masyarakat, sementara dalam masyarakat industri pemerintah akan
terpacu untuk menarik pungutan-pungutan untuk memenuhi tuntutan
akan ketersediaan fasilitas pelayanan publik.
b. Kemampuan masyarakat untuk membayar segala pungutan-pungutan
yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Karena perbedaan pada
struktur ekonomi dan sosialnya, kemampuan membayar segala
pungutan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah akan lebih tinggi di
masyarakat industri daripada masyarakat agraris. Kondisi awal suatu
1) Kemampuan industri yang ada di daerah.
2) Struktur sosial, politik, dan institusional serta berbagai kelompok
masyarakat yang relatif memiliki kekuatan.
3) Kemampuan (kecakapan) administratif, kejujuran dan integritas
dari semua cabang-cabang perpajakan pemerintah.
4) Tingkat ketimpangan (ketidakmerataan) dalam distribusi
pendapatan. Indikator untuk mengetahui kondisi awal suatu daerah
adalah dengan melihat kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap
PDRB suatu daerah.
2. Peningkatan cakupan atau ekstensifikasi penerimaan Pendapatan Asli
Daerah (PAD).
Kegiatan ini merupakan upaya memperluas cakupan penerimaan
Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ada tiga hal penting yang harus
diperhatikan dalam usaha peningkatan cakupan ini, yaitu :
a. Menambah objek dan subjek pajak dan atau retribisi.
b. Meningkatkan besarnya penetapan.
c. Mengurangi tunggakan.
3. Perkembangan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita
Riil
Semakin tinggi pendapatan seseorang maka akan semakin tinggi
pada kemampuan seseorang untuk membayar (ability to pay) berbagai
pungutan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan logika yang sama,
pada tingkat distribusi pendapatan tertentu yang tetap, semakin tinggi
daerah, semakin besar pula kemampuan masyarakat daerah tersebut untuk
membiayai pengeluaran rutin pengeluaran pembangunan pemerintahnya.
Dengan kata lain, semakin tinggi Pendapatan Domestik Regional Bruto
(PDRB) per kapita riil suatu daerah, semakin besar pula potensi sumber
penerimaan daerah tersebut.
4. Pertumbuhan Penduduk.
Besarnya pendapatan dapat dipengaruhi oleh jumlah penduduk.
Jika jumlah penduduk meningkat, maka pendapatan yang dapat ditarik
akan meningkat. Tetapi pertumbuhan penduduk mungkin tidak
mempengaruhi pertumbuhan pendapatan secara proporsional.
5. Tingkat Inflasi
Inflasi akan meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang penetapannya didasarkan pada omset penjualan, misalnya
pajak hotel, pajak restoran. Untuk pajak atau retribusi yang penetapannya
didasarkan pada tarif secara tetap, maka inflasi diperlukan dalam
pertimbangan perubahan tarif.
6. Penyesuaian Tarif
Peningkatan pendapatan sangat tergantung pada kebijakan
penyesuaian tarif. Untuk pajak atau retribusi yang tarifnya ditentukan
secara tetap (flat), maka dalam penyesuaian tarif perlu
mempertimbangkan laju inflasi. Kegagalan untuk menyesuaikan tarif
Daerah (PAD). Dalam rangka penyesuaian tarif retribusi daerah, selain
harus memperhatikan laju inflasi, perlu juga ditinjau hubungan antara
biaya pelayanan jasa dengan penerimaan PAD.
7. Pembangunan Baru
Penambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga dapat diperoleh
bila pembangunan-pembangunan baru ada, seperti pembangunan pasar,
pembangunan terminal, pembangunan jasa pengumpulan sampah, dan
lain-lain.
8. Sumber Pendapatan Baru
Adanya kegiatan usaha baru dapat mengakibatkan bertambahnya
sumber pendapatan pajak atau retribusi yang sudah ada.
9. Perubahan Peraturan
Adanya peraturan-peraturan baru, khususnya yang berhubungan
dengan pajak atau retribusi, jelas akan meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD).
G. Hubungan Pajak Hotel dan Restoran Dengan Pendapatan Asli Daerah
Dalam penjelasan UU No. 25 tahun 1999 diperbarui dengan UU.
No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah
menjelaskan bahwa :
Pembangunan daerah sebagai sebagian intergal dari pembangunan
sumber daya nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan
demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatan kesejahteraan daerah menuju
masyarakat madani yang bebas korupsi, kolusi, kolusi dan nepotisme.
Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan, pelayanan masyarakat
dan pembangunan, maka pemerintah suatu negara pada hakekatnya
mengemban tugas dan fungsi utama yaitu fungsi alokasi yang meliputi
alokasi yang meliputi antara lain pendapatan dan kekayaan
masyarakat, pemerataan pembangunan, dan fungsi stabilitas yang meliputi
antara lain, pertahanan dan keamanan, ekonomi dan moneter. Fungsi
distribusi dan fungsi stabilitas pada umumnya lebih efektif dilaksanakan oleh
pemerintah daerah, karena daerah pada umumnya lebih mengetahui
kebutuhan serta standar pelayanan masyarakat. Namun dalam
pelaksanaannya perlu diperhatikan kondisi dan situasi yang berbeda-beda
dari masing-masing wilayah. Dengan demikian pembagian ketiga fungsi
dimaksudkan sangat penting sebagai landasan dalam menentukan dasar-dasar
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.
Untuk mendorong penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan
kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab di daerah secara
proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan
sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan
pemerintah pusat dan daerah. Sumber pembiayaan pemerintah daerah
dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah
1. Sumber Pendapatan Asli Daerah
Sumber-sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi terdiri
dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, Pinjaman
Daerah dan lain-lain Penerimaan yang sah. Sumber Pendapatan Asli
Daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dalam wilayah
daerah yang bersangkutan, yang terdiri :
a. Pajak Daerah
b. Retribusi Daerah
c. Bagian Laba Badan Usaha Milik Daerah
d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Pajak hotel dan restoran merupakan bagian dari pajak daerah, yang
mana kesemuanya terdapat dalam Pendapatan Asli Daerah. Pendapatan
asli Daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan pemerintah dan
pembangunan daerah yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan
pemerintah dan pembangunan daerah yang bersangkutan.
Pajak hotel dan restoran sebagai salah satu penyumbang
pendapatan daerah sangat potensi untuk ditingkatkan mengingat peran
pajak hotel dan restoran ini dalam peningkatan PAD. Pajak hotel
dan restoran bisa terus diupayakan dan dimaksimalkan
H. Efisiensi Pajak
Efisiensi adalah alat untuk mengukur bagian dari hasil yang
digunakan untuk menutupi biaya pemungutan pajak yang bersangkutan.
Apakah besarnya biaya pungut yang dikeluarkan sesuai dengan realisasi
penerimaan pajak. Rumus Efisiensi Pajak Hotel adalah (Halim, 2004) :
ªeninLain2̜Ȗ̜Ϝ= Biaya Pemungutan Pajak
Realisasi Penerimaan Pajak × 100%
Tolak ukur yang dipakai dalam menentukan tingkat efisien yaitu
dengan menggunakan kriterian penilaian kinerja keuangan pada tabel 2.2
berikut ini :
Tabel 2.2 Kriteria Kinerja Keuangan
Sumber : Depdagri, Kepmendagri No. 690.900.327
I. Efektifitas Pajak
Efektifitas adalah tolak ukur antara hubungan hasil pemungutan pajak
dengan potesi pajak itu sendiri. Rumus Efektifitas Pajak adalah (Halim,
2004) :
ªeLϜknenk̜i2̜Ȗ̜Ϝ= Realisasi Penerimaan Pajak
Target Penerimaan Pajak × 100%
Presentase Kinerja Keuangan Kriteria
Tolak ukur yang dipakai dalam menentukan tingkat efektifitas yaitu
dengan menggunakan kriteria penilaian kinerja angaran pada tabel 2.3 berikut
ini :
Tabel 2.3 Kriteria Kinerja Angaran
Presentase Kinerja Keuangan Kriteria
100% Keatas
90% - 100%
80% - 90%
60% - 80%
Dibawah 60%
Sangat Efektif
Efektif
Cukup Efektif
Kurang Efektif
Tidak Efektif
Sumber : Depdagri , Kepmendagri No 690.900.327
J. Kontribusi Pajak
Kontibusi adalah alat ukur untuk mengetahui besarnya prosentase peran
suatu variabel yang dibandingkan dengan variabel lain. Kontribusi pajak
hotel dan restoran terhadap PAD dan Pajak daerah bisa di ukur dengan
membandingkan realisasi penerimaan pajak dan hotel dengan realisasi PAD
dan Pajak Daerah (Halim , 2004).
Setelah hasil perbandingan diperoleh, maka dapat dilihat prosentase
apakan penerimaan pajak hotel dan restoran mempunyai kontribusi terhadap
PAD dan Pajak daerah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kriterianya. Menurut
Fuad Bawasir (1999:103) kriteria untuk mengetahui kontribusi bisa dilihat
Tabel 2.4 Kriteria Kontribusi
Prosentase Kontribusi Kriteria
0%-0,9%
1%-1,9%
2%-2,9%
3%-3,9%
Diatas 4%
Tidak Berkontribusi
Kurang Berkontribusi
Cukup Berkontribusi
Berkontribusi
Sangat Berkontribusi
Sumber : Fuad Bawazir, dalam Peran dan Strategi Keuangan Di Daerah. Jakarta:Gramedia
K. Penelitian terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Ardhiansyah (2005) tentang analisis
kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah
Kabupaten Purworejo tahun 1989-2003 yang bertujuan untuk tingkat
kontribusi, efisiensi, dan efektifitas pemungutan pajak hotel dan restoran di
Kabupaten Purworejo. Dari hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa dari hasil
analisis kontribusi penerimaan pajak dan restoran terhadap PAD Kabupaten
Purworejo sudah bagus dengan kenaikan tiap tahunya,dengan rata-rata 1,79
persen. Dari analisis efektifitas diperoleh bahwa tingkat ekfektifitas
pemungutan di Kabupaten Purworejo sudah tergolong sangat baik dengan
rata-rata 102,04 persen. Dari hasil analisis tingkat efisiensi menunjukkan bahwa
tingkat efisiesnsi cenderung fluktuatif antara 24,66 persen sampai dengan
27,29 persen .
pajak hotel dan kontribusinya terhadap pajak daerah di Kabupaten Semarang
tahun 2000 – 2004. Efektifitas yang meningkat akan dibarengi dengan
pengoptimalan potensi yang ada sehingga pada akhirnya akan meningkatkan
pendapatan asli daerah. Dari hasil penelitian, analisis efektifitas meunjikkan
pengelolahan pajak hotel di Kota Semarang tahun 2000-2004 nilainya terus
mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Sedangkan dari analisis kontribusi
menunjukkan bahwa kontribusi pajak hotel terhadap pajak daerah sebesar
10,9%.
Dadang (2010) dalam penelitian yang mengkaji peran pajak hotel dan
pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Karanganyar
tahun 2004-2008 yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kontribusi, efisensi,
efektifitas dan potensi pajak hotel dan pajak restoran di Kabupaten
Karanganyar. Dari analisis kontribusi menyimpulkan bahwa kontribusi pajak
hotel dan restoran mengalami fluktuatif dati tahun ke tahun dengan besaran
rata-rata adalah 0,86 yang tergolong berkontribusi kecil. Dari uji potensi
penerimaan pajak hotel dan restoran menunjukkan bahwa potensi pajak hotel
dan restoran sangat besar jauh dari target yang ditetapkan daerah. Pada analisis
efisiensi dan efektifitas penerimaan pajak menunjukkan bahwa efisiensi
penerimaan pajak di Kabupaten Karangannya sangat efisien dengan nilai 13,45
% ,dan tingkat efektifitas pajak hotel menunjukkan angka 32,5 % yang
tergolong tidak efektif dan pajak restoran dengan nilai 80,43 dengan kriteria
efektif.
Rahayu (2011) dalam penelitian yang mengkaji analisis potensi pajak
yang bertujuan untuk mengetahui besaran potensi pajak sebenarnya pada
Kabupaten Gunung Kidul. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi
hotel di Kabupaten Gunung Kidul sangat besar,jauh dari nilai realisasi
penerimaan pajak hotel. Pengukuran ini tercermin dari tingkat efektifitas pajak
hotel yang selalu menurun dari tahun ke tahun selama tahun 2005-2009,
bahkan nilainya tidak lebih dari 5%.
L. Kerangka Pemikiran
Salah satu sumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pajak
daerah. Salah satu upaya dari pemerintah daerah dalam meningkatkan pajak
daerah adalah mengefektifkan dan mengefesiensikan pada sektor pendapatan
pajak hotel dan pajak restoran. Dengan pertumbuhan dan kontribusi yang
tinggi dari pajak hotel dan pajak restoran terhadap pajak daerah dan PAD,
maka pajak hotel dan pajak restoran semakin berpotensi. Secara sederhana
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pengingkatan Pajak Daerah
Efesiensi dan Efektifitas Pajak Hotel
dan Restoran
Potensi Pajak Restoran Potensi Pajak
Hotel
Kontribusi Pajak Restoran Kontribusi Pajak
Hotel
Apabila potensi hotel dan restoran tinggi serta terealisasi dengan baik,
serta semakin kecil biaya pemungutan hotel dan pajak restoran yang
dikeluarkan maka pajak hotel dan pajak restoran tersebut bisa dikatakan telah
efektif dan efisien. Dengan efektif dan efisiensinya pengelolahan pajak hotel
dan pajak restoran maka dihasilkan pendapatan pajak hotel dan pajak restoran
yang maksimal, dimana diharapkan memberikan kontribusi yang tinggi
terhadap pajak daerah. Sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi
dapat membiayai pembangunan daerah secara maksimal. Oleh karena itu,
efektifitas ,efisiensi, dan kontribusi pajak hotel dan restoran sangat
diperlukan untuk meningkatkan pajak daerah.
M.Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka tersebut diatas,
maka hipotesis yan diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1. Diduga pajak hotel dan pajak restoran mempunyai kontribusi tinggi
terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Kota Surakarta.
2. Diduga pajak hotel dan pajak restoran mempunyai kontribusi tinggi
terhadap peningkatan pajak daerah di Kota Surakarta.
3. Diduga kondisi pajak hotel dan pajak restoran termasuk dalam
katagori potensial atau bahkan prima.
4. Pemungutan pajak hotel dan pajak restoran di Kota Surakarta
diduga sudah dilaksanakan secara efisien dan efektif.
5. Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) diduga inelastis