• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik - Prarancangan Pabrik Zeolit Dari Coal Ash Dan Natrium Hidroksida Kapasitas 60.000 Ton/Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik - Prarancangan Pabrik Zeolit Dari Coal Ash Dan Natrium Hidroksida Kapasitas 60.000 Ton/Tahun"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) memiliki unit reboiler batubara sebagai

salah satu komponen pendukung utilitas pabrik. Reboiler tersebut menghasilkan

limbah yaitu coal ash dan memerlukan penanganan yang tepat dengan biaya

seminimal mungkin atau bahkan menghasilkan keuntungan. Prarancangan pabrik

zeolit ini merupakan studi kasus yang terjadi di PT PKT guna menangani limbah

batubara sekaligus memberikan penghasilan tambahan dari penjualan produk yang

dihasilkan.

Batubara merupakan bahan organik dapat terbakar (terdiri dari unsur utama

karbon, hidrogen, dan oksigen) yang terbentuk akibat proses sedimentasi tanaman

dalam lapisan batuan yang dibantu oleh tekanan dan temperatur tinggi dalam

waktu lama. Di Indonesia batubara adalah salah satu sumber energi yang memiliki

potensi besar dengan ketersediaannya cukup melimpah dan diperkirakan sekitar

67% tersebar di Sumatera, 32% di Kalimantan dan sisanya tersebar di Pulau Jawa,

Sulawesi dan Irian Jaya. Dengan kualitas batubara yang baik, jumlah yang besar,

serta tingginya tingkat produksi saat ini, batubara dapat menjadi sumber energi

bagi Indonesia selama ratusan tahun. Bahan bakar fosil (batubara) tetap menjadi

sumber pamasok utama, meskipun pilihan terhadap sumber daya energi telah

meluas kepada sumber-sumber yang bersih dan dapat diperbaharui, seperti tenaga

(2)

commit to user

2

Pada tahun 2000, peranan batubara dalam penyediaan energi nasional

mencapai sekitar 9%, kamudian pada tahun 2010 mencapai 19,23% dan

diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 39,6%. Sebaliknya, peran BBM

dalam penyediaan energi primer secara bertahap terus menurun, dari 68% pada

tahun 1992/1993 dan pada tahun 2020 menjadi 37% (Handbook of Energy and

Economy Statistic, 2011). Salah satu perolehan energi dari batubara adalah dengan

proses pembakaran di dalam tungku pembakaran (furnace) yang berpotensi

menghasilkan limbah batubara (coal ash). Semakin meningkatnya pemakaian

batubara, maka beban lingkungan juga akan semakin berat sehingga perlu

diantisipasi dengan teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara.

Zeolit sintetis dapat dibedakan berdasar kandungan Si menjadi tiga jenis

yaitu zeolit sintetis dengan kadar Si rendah, sedang dan tinggi. Zeolit kadar Si

rendah mengandung banyak Al, berpori dan mempunyai nilai ekonomi

tinggi karena efektif digunakan untuk pemisahan dengan kapasitas besar,

adsorben dan aditif pupuk. Zeolit sintetis dengan kadar Si sedang mempunyai

perbandingan Si/Al = 1 – 3. Zeolit sintetis dengan kadar Si tinggi, sangat

higroskopis dan menyerap molekul non polar sehingga baik digunakan sebagai

katalisator asam untuk hidrokarbon dan memiliki perbandingan Si/Al sampai

dengan 20.

Melalui proses direct hydrothermal single step akan menghasilkan zeolit

yang cocok digunakan di bidang pertanian seperti, aditif pupuk dan perbaikan

struktur tanah (Fansuri, 2008). Adanya kandungan SiO2 (40% – 65%) dan Al2O3

(3)

commit to user

3

dihasilkan produk yang dapat dimanfaatkan oleh industri pertanian. Mineral dari

limbah batubara ini diproduksi dengan penambahan senyawa basa (NaOH) pada

coal ash sehingga menghasilkan senyawa Na2O.Al2O3.2SiO2 (zeolite).

Penggunaan zeolit dan pupuk dengan rasio tertentu dapat menghemat penggunaan

pupuk 30% – 40% karena nutrisi pupuk tidak terserap secara efisien akibat terlarut

melalui resapan air dan cuaca panas. Zeolit akan mengikat sementara pupuk

kemudian melepaskan secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman karena daya ikat

zeolit terhadap pupuk lebih kecil dari daya serap akar tanaman (Salisbury, et. al,

1996). Ketersediaan limbah batubara sebagai bahan baku pembuatan zeolit yang

cukup tinggi di Indonesia menambah peluang didirikannya industri ini sekaligus

sebagai salah satu bentuk pengolahan coal ash menjadi produk bernilai ekonomi.

I.2 Kapasitas Perancangan

Pertimbangan utama dalam penentuan kapasitas pabrik adalah jumlah bahan

baku coal ash yang harus ditangani. Pertimbangan berikutnya adalah jumlah

permintaan produk saat ini. Bahan baku pada pabrik ini adalah coal ash dari PT

Pupuk Kaltim yang terdiri dari campuran fly ash dan bottom ash. Coal ash

merupakan limbah pada PT. Pupuk Kaltim yang dihasilkan oleh kettle reboiler

batubara sebesar 49.500 ton/tahun. Jumlah ini cukup besar dan bisa menimbulkan

masalah lingkungan cukup serius, sehingga pengolahan yang tepat diperlukan

agar tidak mencemari lingkungan dan bahkan mendatangkan keuntungan.

Permintaan zeolit yang ada saat ini melebihi produksi zeolit dunia sebesar

15% – 20%. Total konsumsi zeolit seluruh dunia adalah sebesar 3 juta ton per

(4)

commit to user

4

Produksi zeolit Indonesia berkisar 30.000 – 60.000 ton per tahun (tekmira, 2005)

dan banyak digunakan sebagai adsorben, wastewater treatment, aditif semen

pozzolan dan aditif bahan pertanian dan peternakan.

Kalimantan Timur memiliki luas perkebunan kelapa sawit seluas 368.504

Ha. Tipikal kebutuhan pupuk kelapa sawit adalah 4,8 ton/Ha/tahun. Dari tipikal

tesebut didapatkan kebutuhan total pupuk untuk perkebunan kelapa sawit di

Kalimantan Timur sebanyak 1,77 juta ton/Ha/tahun (Booklet Indonesian Palm Oil

Downstream Industry, 2012). Persoalan yang masih membelit industri pupuk

nasional adalah belum optimalnya produksi pupuk sehingga terjadi ketimpangan

antara permintaan dan penawaran. Tabel I.1 menunjukkan data produksi dan

permintaan pupuk anorganik di Indonesia sampai tahun 2011 dalam juta ton per

tahun (Kementerian Perindustrian, 2011)

Tabel I.1 Data produksi dan permintaan pupuk anorganik Indonesia

Jenis Produksi Permintaan Selisih

Urea 8,05 9,30 1,25

ZA 0,65 1,60 0.95

NPK 5,89 8,80 2.91

SP-36 1,00 4,50 3.50

Tabel I.1 menunjukkan kesenjangan antara produksi dan permintaan pupuk

di Indonesia cukup besar yaitu 8,61 juta ton per tahun. Dengan adanya

prarancangan pabrik zeolit berbasis limbah batubara diaplikasikan sebagai aditif

penggunaan pupuk, diharapkan mampu berperan dalam mengurangi defisit

kebutuhan pupuk anorganik karena meningkatkan efisiensi pemupukan sampai

(5)

commit to user

5

Dengan mempertimbangkan data primer dari PT. Pupuk Kaltim, kekurangan

suplai pupuk serta perhitungan proses, maka diputuskan kapasitas pabrik akan

didirikan sebesar 60.000 ton/tahun.

I.3 Penentuan Lokasi Pabrik

Lokasi pabrik berada di Kawasan Industri Bontang yang merupakan salah

satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Pertimbangan pemilihan lokasi

dipaparkan pada Tabel I.2 dan peta lokasi dapat dilihat pada Gambar I.1.

Tabel I.2 Faktor pemilihan lokasi pabrik

Kriteria Deskripsi

Persediaan dan akses bahan baku

Coal ash diambil dari PT. Pupuk Kaltim dengan

produksi mencapai 49.500 ton/tahun atau 150 ton/hari.

Persediaan dan akses utilitas

 Kebutuhan listrik pabrik dapat dipasok oleh

pembangkit milik PT Pupuk Kaltim berkapasitas 38 MW. Selain itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memiliki rencana membangun PLTGU berkapasitas 2x75 MW di Bontang. Kebutuhan utilitas lain tersedia cukup baik karena kawasan ini termasuk wilayah industri yang berkembang pesat.

Rencana pemasaran produk

 Luas lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 368.504

Ha, dan tipikal kebutuhan pupuk sebesar 4,8 ton/Ha/tahun. Kebutuhan total pupuk di Kalimantan Timur mencapai 1,77 juta ton/Ha/tahun dan merupakan potensi pasar produk zeolit.

 Kota Bontang memiliki dermaga untuk distribusi

produk secara lokal ke Indonesia timur atau bahkan internasional seperti ke Singapura dan Malaysia. Fasilitas pendukung Infrastruktur seperti akses telekomunikasi, kesehatan,

fasiltias sanitasi, jalan, dermaga, listrik, air, dan pendidikan sudah tersedia dengan baik, mapan, dan siap mendukung aktivitas produksi.

Lain-lain  Kondisi politik dan sosial di Bontang cukup stabil

dan sistem birokrasi mendukung proses industri.

 Berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2012,

(6)

commit to user

6

I.4 Tinjauan Pustaka

I.4.1 Macam-Macam Proses Pengolahan Coal Ash

Pengolahan coal ash ramah lingkungan (environment-friendly) mulai

banyak dilakukan. Teknologi yang umum digunakan adalah mengubah coal ash

menjadi adsorben atau menggunakannya sebagai bahan isian (filler). Beberapa

teknologi pemanfaatan coal ash dapat dilihat pada Tabel I.3.

(7)

commit to user

7

Tabel I.3 Teknologi pemanfaatan coal ash

Metode Kelebihan Kekurangan

Zeolitization  Kegunaan produknya

lebih fleksibel

bagus karena permintaan pupuk meningkat

 Prosesnya membutuhkan

kondisi temperatur sangat

tinggi mencapai 900oC

Desulfurizing

Bahan aditif Dapat menghemat bahan

baku utama

Prosesnya mudah

 Cenderung memperlukan

jenis coal ash khusus

I.4.2 Alasan Pemilihan Proses

Dari lima proses pengolahan coal ash dipilih proses zeolitization dengan

alasan sebagai berikut:

1. Menghasilkan produk dengan kegunaan fleksibel (pengolahan limbah,

adsorben, pengolahan tanah, dan pupuk)

(8)

commit to user

8

3. Produk dapat langung diaplikasikan kepada masyarakat dan mendorong

industri strategis Indonesia.

I.5 Kegunaan Produk

Zeolit banyak digunakan sebagai adsorben, senyawa pengolahan air, aditif

semen pozzolan dan aditif pupuk. Campuran zeolit dan pupuk dengan rasio

tertentu dapat menghemat penggunaan pupuk 30% – 40% karena mencegah

hilangnya nutrisi akibat terlarut melalui resapan air dan cuaca panas. Zeolit akan

mengikat sementara pupuk kemudian melepaskan secara bertahap sesuai

kebutuhan tanaman karena daya ikat zeolit terhadap pupuk lebih kecil dari daya

serap akar tanaman.

I.6 Sifat Fisika dan Kimia Bahan Baku dan Produk

I.6.1 Sifat Fisika dan Kimia Bahan Baku

1. Coal Ash

Sifat Fisika (Kikuchi, 1999)

Densitas : 2100 – 3000 kg/m3

Wujud : butiran halus berbentuk bola padat atau berongga

Berukuran kurang dari 0,075 mm (jenis bituminous)

Sifat Kimia (PKT, 2012)

Memiliki komposisi sebagai berikut:

Silikon dioksida (SiO2) : 37,84%

Aluminium trioksida (Al2O3) : 23,32%

(9)

commit to user

9

Kalsium oksida (CaO) : 6,69%

Magnesium oksida (MgO) : 1,91%

Sulfur dioksida (SO3) : 1,54%

Hilang Pijar (LOI) : 5,82%

Pozzolanic Activity Indeks dengan PC 7 hari : 78,80%

2. Natrium Hidroksida (NaOH)

Sifat Fisika (Perry, 2007)

Berat Molekul : 40 gram/mol

Titik didih : 1390 oC pada tekanan 1 atm

Titik leleh : 318,4 oC

Titik beku : -85 oC

Densitas : 2,13 gram/mL

Berwarna putih

Sifat Kimia (Perry, 2007)

- Mudah larut dalam air.

- Tidak larut dalam aseton.

- Higroskopis

3. Asam Klorida

Sifat Fisika (Perry, 2007)

(10)

commit to user

10

Titik leleh : -111 oC

Titik didih : -85 oC

Densitas : 1,181 gram/mL

Sifat Kimia (Fessenden, 1997)

- Merupakan oksidator kuat

- Dapat membakar materi organik jika ada kontak

- Mengalami ionisasi sempurna dalam air

- Mempunyai ikatan kovalen polar

I.6.2 Sifat Fisika dan Kimia Produk

1. Zeolit (Perry, 2007)

Sifat Fisika

Berat Molekul : 524,44 gram/mol

Warna : putih atau tidak berwarna

Bentuk : kristal triclinic

Specific gravity : 2,61

Titik leleh : 1100 0C

Tidak larut dalam air.

Sifat Kimia

Gambar

Tabel I.1 Data produksi dan permintaan pupuk anorganik Indonesia
Tabel I.2 Faktor pemilihan lokasi pabrik
Gambar I.1 Peta lokasi pabrik (Google map, 2013)
Tabel I.3 Teknologi pemanfaatan coal ash

Referensi

Dokumen terkait

Sebaiknya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Karanganyar meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah Kota Karanganyar dalam memberikan Pelayanan pelaporan dan konsultasi

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( classroom action research ), maka penelitian ini berusaha menfokuskan tentang peningkatan kualitas pembelajaran dengan

Karena banyaknya kasus penyakit cedera kepala itulah maka penulis tergerak untuk melakukan penelitian tentang asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala ringan di ruang

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan Kerapatan Mangrove terhadap Kepadatan Moluska di Dusun II Desa Pulau Sembilan Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat

Kajian tentang pengaruh leaching suhu vulkanisasi dan komposisi penyerasi alkanolamida pada pembuatan produk film lateks karet alam telah dilakukan dengan tujuan untuk

Perancangan Dan Pembuatan Aplikasi Sistem Pakar Untuk Diagnosa Awal Gangguan Pada Trafo Arus5. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Hal ini ditunjukan dengan beberapa indikator permasalahan diantaranya kurangnya kepercayaan diri peserta didik ketika mengemukakan pendapat dalam pembelajaran,

Penelitian ini membuktikan bahwa (1) tidak terdapat peningkatan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test kemampuan berpikir kritis pada kelompok yang menggunakan