• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TUGAS AKHIR"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

VISUALISASI PETA SEBARAN TITIK HOTSPOT DI INDONESIA BERBASIS WEB MENGGUNAKAN OPENLAYER

DENGAN PENDEKATAN SPATIO-TEMPORAL

TUGAS AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Informatika

Oleh:

MARYANTO HADI 11551100698

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU

2023

(2)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

678901234567890

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

(4)

iv

LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL

Tugas Akhir yang tidak diterbitkan ini terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau adalah terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta pada penulis. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetap pengutipan atau ringkasan hanya dapat dilakukan seizin penulis dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebut sumbernya.

Pengadaan atau penerbitan sebagian atau seluruh Tugas Akhir ini harus memperoleh izin dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Perpustakaan yang meminjamkan Tugas Akhir ini untuk anggotanya diharapkan untuk mengisi nama, tanda peminjaman dan tanggal pinjam.

(5)

v

SURAT PERNYATAAN

(6)

vi

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat kerya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan didalam daftar pustaka.

Pekanbaru, 19 Januari 2023 Yang membuat pernyataan,

MARYANTO HADI NIM 11551100698

(7)

vii

LEMBAR PERSEMBAHAN

ِمي ِح ٰرلٱ ِن ه مْح ٰرلٱ ِ هٰللَّٱ ِمْسِب

Segala puji bagi Allah yang menciptakan dan mengatur semesta alam. Kebesaran dan Kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan Allah Maha Suci dari sifat kekurangan. Serta shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita

Nabi Muhammad SAW beseta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya dari yang pertama kali sampai yang terakhir.

Alhamdullilah....

ٍدٰم حُم ا نِدِ ي س ِلآ ىهل ع و ٍدٰم حُم ا نِدِ ي س ىهل ع ِ ل ص ٰمُهٰلل ا

Kuhaturkan rasa syukur ini kepada-Mu ya Allah, atas selesainya Tugas Akhir ini, tiada daya dan upaya melainkan pertolongan, dan tiada pengetahuan melaikan

milik-Mu.

***

Tugas Akhir Ini Saya Persembahkan Untuk Bapak dan Mamak.

Terima Kasih karena sudah mendukung abang selama ini. Terima Kasih juga kepada adik-adik ku yang tak lepas berdoa demi melihat abangnya wisuda.

Semoga dengan karya ini, menjadi langkah kecil untuk lebih bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama kedepannya.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

(8)

viii

ABSTRAK

Kebakaran hutan di Indonesia merupakan salah satu masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Luas hutan yang dimiliki Indonesia sangat besar jika memasuki musim kemarau hutan di Indonesia sangat rentan terjadi kebakaran.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulanngan Bencana (BNPB) pada tahun 2019 terjadi kebakaran hutan terparah di indonesia dengan total dampak mencapai 942.484 hektar. Untuk melihat sebaran titik api dan tingkat keparahan kebakaran hutan perlu ada visualisasi peta yang dihubungkan dengan data Hotspot yang bersumber dari kementrian lingkungan hidup dan kehutanan dan diolah menjadi suatu tampilan visual untuk memudahkan melihat daerah mana yang sering terjadi kebakaran sehingga daerah yang titik api yang paling sering muncul dapat diambil tindakan antisipasi atau tindakan pencegahannya seperti dibuatkan sumur atau sumber air. SIG ini dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP, Javascript dan Node js.

Kata Kunci: Sistem Informasi Geografis, Kebakaran Hutan, Hotspot, PHP, Javascript, Node js..

(9)

ix

ABSTRACT

Until now, wildfire has been one of the unresolved problems in Indonesia.The area of its forests is huge and when the dry season comes it’s prone to couse a wildfire.

Based on data from The National Agency for Disaster Countermeasure (BNPB) in 2019, the worst wildfire that happened in Indonesia burned about 942.484 hectares of forest in total. We need a map visualization linked to hotspot data sourced from The Ministry of Environment and Forestry in order to observe the distribution and severity of wildfires. Then it is processed into a visual display to make it easier to see which areas often get into a wildfire. So that we could take an action to anticipate and prevent wildfire in the area that occurs hotspot the most, such as constructing well or water resources. GIS is developed using PHP, Javascript Language and Node Js.

Keywords: hotspot, Geographic Information System, Javascript, PHP, Wildfire, Node Js.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.

Alhamdulillahi robbil’alamin, tak henti-hentinya kami ucapkan kehadirat Allah Subhanahu wa ta’ala, yang dengan rahmat dan hidayah-Nya kami mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul “Visualisasi Peta Sebaran Titik Hotspot di Indonesia Berbasis Web Menggunakan Openlayer dengan

pendekatan Spatio-Temporal”. Tidak lupa bershalawat kepada Nabi dan Rasul- Nya, Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa salam, yang telah membimbing kita sebagai umatnya menuju jalan kebaikan.

Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Banyak sekali pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan ini, baik berupa bantuan materi ataupun berupa motivasi dan dukungan kepada penulis. Semua itu tentu terlalu banyak bagi kami untuk membalasnya, namun pada kesempatan ini kami hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Hairunas, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

2. Bapak Dr. Hartono, M.Pd selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

3. Bapak Iwan Iskandar, M.T. selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

4. Ibuk Yusra, ST, M.T selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan nasehat selama perkuliahan.

5. Bapak Surya Agustian, ST., M.Kom selaku Dosen Pembimbing I Tugas Akhir yang selalu meluangkan waktu, memberikan ilmu, nasehat, saran, serta sabar membimbing penulis hingga tugas ini selesai.

6. Ibuk Eka Pandu Cynthia, ST, M.Kom selaku Dosen Penguji I yang telah banyak memberikan saran demi kemajuan dan penyempurnaan dalam pengerjaan tugas akhir ini.

(11)

xi

7. Bapak Reski Mai Candra, ST, M.Sc. selaku Dosen Penguji II yang telah banyak memberikan saran demi kemajuan dan penyempurnaan dalam pengerjaan tugas akhir ini.

8. Seluruh Dosen Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang banyak memberikan ilmu, dan arahan selama perkuliahan.

Semoga ilmu yang bapak dan ibu berikan bermanfaat bagi penulis dan seluruh mahasiswa, Aamiin.

9. Khususnya untuk Bapak, Mamak dan adikku tercinta yang telah memberikan doa dan seluruh kebaikan yang selalu diberikan sehingga telah sampai pada tahap ini. Semoga selalu sehat, dan semoga Allah SWT melimpahkan semua kebaikan kepada bapak dan Mamak kelak didunia maupun di akhirat kelak, Aamiin.

10. Teruntuk Keluarga Om Bobi, Bang Alvin, Bang Alvan penulis mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya dikarenakan selalu mendukung penulis dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

11. Seluruh teman-teman TIF F 2015 dan angkatan TIF 2015 yang selalu menemani, memberi semangat, dan membantu hadi selama perkuliahan.

Semoga kita semua sukses dunia dan akhirat, semoga silaturahmi kita tetap terjalin, Aamiin.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan laporan ini. Akhirnya kami berharap semoga laporan ini dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.

Pekanbaru, 19 Januari 2023

Maryanto Hadi

(12)

xii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

LEMBAR PERNYATAAN ... vi

LEMBAR PERSEMBAHAN ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.4 Batasan Masalah... 2

1.5 Sistematika Penulisan ... 2

BAB II LANDASAN TEORI ... 4

2.1 WebGIS ... 4

2.2 Sistem Informasi Geografis ... 5

2.3 Spatio Temporal ... 5

2.4 Openlayers ... 9

2.5 Hotspot ... 11

2.6 Unified Modeling Language (UML) ... 13

2.6.1 Use Case Diagram ... 14

2.6.2 Sequence Diagram ... 14

2.6.3 Activity Diagram ... 15

2.6.4 Class Diagram ... 15

(13)

xiii

2.7 Penelitian Terkait ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 20

3.1 Metodologi Penelitian ... 20

3.1.1 Tahap Perencanaan... 21

3.1.2 Tahap Desain ... 21

3.1.3 Implementasi ... 24

3.1.4 Testing ... 24

3.1.5 Dokumentasi ... 24

BAB IV PEMBAHASAN ... 25

4.1 Arsitektur Sistem ... 25

4.2 Analisa Sistem ... 25

4.2.1 Use Case Diagram ... 25

4.2.2 Use Case Spesification ... 26

4.2.3 Class Diagram ... 30

4.2.4 Sequence Diagram ... 31

4.3 Deskripsi Umum Aplikasi ... 38

4.4 Analisa Aplikasi ... 38

4.4.1 Analisa Pengguna ... 38

4.4.2 Analisa Kebutuhan Data ... 38

4.5 Basis Data ... 39

4.6 Perancangan Antarmuka ... 40

4.7 Implementasi ... 42

4.7.1 Halaman Antarmuka Aplikasi ... 42

4.8 Pengujian ... 45

4.8.1 Pengujian Apache Benchmark ... 45

4.8.2 Pengujian User Acceptance Test (UAT) ... 47

4.8.3 Pengujian Data Time Lapse ... 51

(14)

xiv

BAB V PENUTUP ... 52

5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 53

LAMPIRAN A ... 57

LAMPIRAN B ... 59

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 80

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 piksel 30 x 30 ... 6

Gambar 2.2 Piksel 15 x 15 ... 7

Gambar 2.3 Piksel 10 x 10 ... 7

Gambar 2.4 Pengabungan Piksel 30 x 30 Dengan Piksel 10 x 10 ... 8

Gambar 2.5 Kode Program untuk Mendefinisikan Layer ... 10

Gambar 2.6 Peta yang dihasilkan pada Halaman HTML ... 11

Gambar 2.7 Ilustrasi Penentuan Koordinat hotspot ... 12

Gambar 3.1 Diagram Metodologi Penelitian ... 20

Gambar 3.2 Dashboard WebGIS ... 22

Gambar 3.3 Tabel Data ... 23

Gambar 3.4 Visualisasi WebGIS ... 23

Gambar 4.1 Arsitektur Sistem...25

Gambar 4.2 Use Case Diagram WEBGIS ... 26

Gambar 4.3 Class Diagram WebGIS... 31

Gambar 4.4 Sequence Diagram Login ... 32

Gambar 4.5 Sequence Diagram Impor Data Kebakaran ... 32

Gambar 4.6 Sequence Diagram Menampilkan Grafik Kebakaran Per Provinsi Untuk Pengguna ... 33

Gambar 4.7 Sequence Diagram Menampilkan Grafik Kebakaran Per Provinsi Untuk Admin ... 34

(16)

xvi

Gambar 4.8 Sequence Diagram Menampilkan Grafik Kebakaran Per Tahun Untuk

Admin ... 34

Gambar 4.9 Sequence Diagram Menampilkan Grafik Kebakaran Per Tahun Untuk Pengguna. ... 35

Gambar 4.10 Squence Diagram Menampilkan Visualisasi Hotspot Per Tahun Untuk Admin ... 36

Gambar 4.11 Sequence Diagram Menampilkan Visualisasi Hotspot Per Tahun Pengguna ... 36

Gambar 4.12 Sequence Diagram Menampilkan Data Kebakaran Untuk Admin . 37 Gambar 4.13 Sequence Diagram Menampilkan Data Kebakaran Untuk Pengguna. ... 37

Gambar 4.14 Rancangan Antarmuka Login ... 40

Gambar 4.15 Rancang Antarmuka Dashboard ... 41

Gambar 4.16 Rancangan Antarmuka Data... 41

Gambar 4.17 Rancang Antarmuka Visualisasi ... 42

Gambar 4.18 Antarmuka Halaman Login ... 43

Gambar 4.19 Antarmuka Halaman Dashboard ... 43

Gambar 4.20 Antarmuka Halaman Data ... 44

Gambar 4.21 Antarmuka Halaman Visualisasi ... 44

Gambar 4.22 Hasil Pengujian 100 Request Pada Server Aplikasi WebGIS ... 46

Gambar 4.23 Hasil Pengujian 200 Request Pada Server Aplikasi WebGIS ... 46

Gambar 4.24 Tampilan Data Time Lapse di Provinsi Riau Tahun 2019 ... 51

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 2.1 Makna selang kepercayaan dalam informasi hotspot ... 13

Tabel 2.2 Penelitian Terkait ... 16

Tabel 4.1 Use Case Spesification Login...26

Tabel 4.2 Use Case Spesification Import Data Kebakaran ... 27

Tabel 4.3 Use Case Spesification Menampilkan grafik kebakaran perprovinsi ... 28

Tabel 4.4 Use Case Spesification Menampilkan grafik kebakaran pertahun. ... 29

Tabel 4.5 Use Case Spesification Menampilkan Visualisasi Hotspot pertahun ... 29

Tabel 4. 6 Use Case Spesification Menampilkan Data Kebakaran. ... 30

Tabel 4.7 Tabel Data Kebakaran. ... 39

Tabel 4.8 Hasil Pengujian Apache Benchmark ... 47

Tabel 4.9 Skor Pilihan Jawaban UAT ... 47

Tabel 4.10 Pertanyaan UAT ... 48

Tabel 4.11 Skor Pilihan Jawaban UAT ... 49

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Teknologi dan informasi saat ini merupakan kebutuhan manusia didalam melakukan berbagai kegiatan. penggunaan piranti teknologi informasi yang tepat, maka akan dihasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan sehingga keputusan dapat diambil dengan cepat. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sebuah sistem komputer dapat menyimpan, menangkap, menganalisis, melakukan query, dan menampilkan data. Awal SIG dikembangkan berbasis desktop setelah semakin berkembang sistem informasi geografis sekarang mengarah pada aplikasi berbasis web yang disebut WebGIS dengan perkembangannya di lingkungan jaringan berpotensi dalam memberikan informasi geografis. Sebagai contoh dengan menggunakan peta online memudahkan pengguna melihat informasi secara realtime dan memungkinkan pengguna mudah dalam mendapatkan informasi tanpa mengenal batas [1]. (Barus & Sitanggang, 2017).

Pada SIG secara lambat tapi pasti dalam sepuluh tahun kedepan SIG dari kegiatan yang bersifat pasif, pengumpulan data digital yang bersifat aktif dinamis dalam menganalisa data geografis. Penggunaan teknologi SIG ada beberapa manfaat positif seperti efisiensi dan efektifitas, dapat juga dimanfaatkan untuk pembangunan daerah serta untuk mengetahui daerah - daerah yang rawan bencana seperti kebakaran hutan [2]. (Pardede & H, 2010).

Indonesia merupakan salah satu negara yang luas, jumlah luas daratan dan perairan kawasan hutan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 berjumlah 125.817.021,96 ha. Indonesia memiliki beberapa kawasan hutan yaitu konservasi daratan, hutan lindung, dan hutan produksi. berdasarkan data dari BPS tahun 2019, memiliki luas daratan kawasan hutan sebesar 120.495.702,96 ha sehingga hutan di Indonesia sangat rentan terjadinya kebakaran. Kebakaran hutan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Dampak negatif yang dihasilkan dari kebakaran hutan cukup besar mencakup menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktifitas tanah,

(19)

2

kerusakan ekologis perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi darat, laut maupun udara [3]. Dampak kebakaran hutan tersebut maka upaya dalam penyelamatan hutan sangatlah penting. Melihat sebaran titik api dan tingkat keparahan kebakaran hutan perlu suatu peta yang dapat memvisualisasikan seberapa banyak titik – titik api yang muncul dengan animasi bergerak menggunakan data time series yang meliputi tahunan, bulanan, jam, atau bahkan mili-detik. Diharapkan visualiasi tersebut memudahkan dalam melihat informasi daerah mana yang sering terjadi kebakaran sehingga daerah titik api yang paling sering muncul dapat diambil tindakan antisipasi atau tindakan pencegahannya seperti dibuatkan sumur atau sumber air.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, maka penelitian mengambil rumusan masalah “Bagaimana membangun sistem informasi geografis visualisasi sebaran titik api dan tingkat keparahan hutan dengan animasi bergerak dari waktu ke waktu menggunakan data time series”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk merancang dan membangun aplikasi WebGIS yang dapat memvisualisasikan sebaran titik api dan tingkat keparahan kebakaran hutan dengan animasi bergerak dari waktu ke waktu menggunakan data time series.

1.4 Batasan Masalah

Agar tidak meluasnya permasalahan maka dibutuhkan batasan masalah.

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Data yang digunakan tahun 2016 sampai 2019 yang bersumber dari Dinas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

2. Studi kasus di wilayah Indonesia

1.5 Sistematika Penulisan

Berikut merupakan ringkasan uraian masing–masing bab pada laporan tugas akhir ini.

(20)

3

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan teori–teori yang digunakan dalam menyelesaikan penelitian ini yaitu pengertian aplikasi, pengertian sistem informasi geografis, pengertian spatio temporal, pengertian openlayer, pengertian hotspot, pengertian Unified Modeling Language (UML) dan penelitian terkait..

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang penelitian ini dilakukan berdasarkan tahapan perencanaan, tahap desain, implementasi, testing dan dokumentasi.

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN

Bab ini membahas tentang Analisa kebutuhan sistem yang akan dibuat serta rancangan sistem ini sesuai dengan kebutuhan.

BAB V IMPLEMENTASI

Bab ini berisi implementasi dari hasil Analisa dan perancangan yang sudah dilakukan pada bab sebelumnya dan sesuai dengan batasan masalah yang dibuat.

(21)

4

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 WebGIS

WebGIS merupakan gabungan aplikasi antara web design dengan web pemetaan. Dengan ditampilkannya peta menggunakan teknologi WebGIS untuk pembangunan daerah di wilayah tertentu yang dilengkapi dengan ulasan terhadap objek pembangunan dan disajikan dalam bentuk website. Kelebihan dari WebGIS adalah tanpa menggunakan sebuah software, penyajian data spasial pada WebGIS dapat diakses secara online [4]. (Mertha, Simadiputra, Setyawan, & Suharjito, 2019).

Sistem Informasi Geografi berbasis web terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan. WebGIS merupakan gabungan desain grafis pemetaan, analisis geografis, peta digital, pemograman komputer dan database yang terhubung satu bagian web desain dan pemetaan [5]. (Ridwan Aminullah, Andri Suprayogi, 2018).

WebGIS juga dapat diakses secara online melalui internet atau web.

Konfigurasi pada WebGIS ada server yang berfungsi sebagai map server yang memproses permintaan peta dari client kemudian dikirimkan kembali ke client.

Pengguna dalam hal ini tidak perlu mempunyai software GIS, dengan menggunakan internet browser seperti mozilla fire fox, internet explorer atau google crome. Aplikasi GIS saat ini tidak tumbuh hanya jumlah aplikasinya namun juga bertambah jenis keragaman aplikasinya. Kedepannya pengembangan aplikasi SIG mengarah kepada aplikasi berbasis web yang dikenal dengan WebGIS. Hal ini disebabkan pengembangan aplikasi di lingkangan jaringan yang telah berpotensi yang besar dalam kaitan dengan geoinformasi [6] (Informatika et al., 2018).

Awal sistem informasi geografis dikembangkan berbasis desktop setelah semakin berkembang sistem informasi geografis sekarang mengarah pada aplikasi berbasis web yang disebut WebGIS dengan perkembangnya dilingkungan jaringan berpotensi dalam memberikan informasi geografis. Sebagai contoh dengan adanya peta online memudahkan pengguna melihat informasi secara realtime dan memungkinkan pengguna mudah dalam mendapatkan informasi tanpa mengenal batas [1] (Barus & Sitanggang, 2017).

(22)

5

2.2 Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (GIS) adalah sebuah sistem informasi yang berbasis komputer yang dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial. sistem ini dapat menyimpan, menangkap, menganalisis, mengintegrasikan, memanipulasi dan menampilkan data secara spasial mereferensikan pada kondisi bumi. Teknologi pada GIS mengintegrasikan operasi- operasi umum database seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik dalam pemetaan [7]. (Andre Hermawan, Moehammad Awaluddin, 2017).

GIS merupakan sejenis perangkat lunak dan perangkat keras seperti manusia, prosedur, basis data dan fasilitas jaringan komunikasi yang digunakan untuk memfasilitasi proses pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan dan keluaran data atau informasi geografis beserta atribut-atribut terkait. GIS merupakan sistem atau teknologi komputer yang dibangun dengan tujuan untuk mengumpulkan, menyimpan mengolah dan menganalisa serta menyajikan data dan informasi suatu objek yang berkaitan dengan letak dan keberadaannya di permukaan bumi. Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas GIS dapat berfungsi sebagai bank data terpadu yang dapat memandu data spasial dan non data spasial dalam suatu basis data terpadu. Sistem dalam pengelolaan yang mereferensikan geografis berguna untuk mengelola operasional dan administrasi lokasi geografis.

GIS juga berfungsi sebagai sistem pemetaan komputasi yang dapat menyajikan suatu peta yang sesuai dengan kebutuhan [8]. (Ferdiansyah, 2017).

2.3 Spatio Temporal

Spatio Temporal merupakan data spasial yang nilainya berubah ubah dari waktu ke waktu dan dalam berbagai pandangan objek geografis mengalami perubahan. Pada entitas spasial objek dapat berupa data spasial, data non spasial dan data waktu. Dalam sistem informasi geografis pada Spatio Temporal dibagi menjadi dua informasi yaitu statis dan dinamis. Informasi statis mengacu pada fenomena yang terjadi di alam seperti peta kartografi, jalan, pengguna fasilitas dan sebagainya yang tidak akan berubah dalam waktu singkat. Informasi dinamis merupakan informasi yang berubah rubah dalam waktu singkat dan merupakan perubahan geometri dari waktu ke waktu [9]. (Akbar, 2015).

(23)

6

Data spasial bertujuan untuk perubahan skala yaitu memperkecil resolusi gambar, sebuah prosedur yang meningkatkan ukuran piksel sambil mempertahankan luas spasial. Sebagai contoh, area dengan luas spasial 300 meter dapat diwakili dengan array 30 piksel kali 30 piksel, dimana setiap piksel berdimensi 10 m kali 10 m pada gambar 2.1. Luas spasial yang sama juga dapat diwakili dengan array 15 piksel x 15 piksel dengan setiap piksel berdimensi 20 m seperti gambar 2.2 atau dengan array 10 piksel x 10 piksel dengan setiap piksel berdimensi 30 m seperti gambar 2.3. Garis tebal pada gambar 2.4 menunjukkan cara dimana data pada resolusi 10 m dapat diubah skala untuk data resolusi menjadi 30 m.

Gambar 2.1 Piksel 30 x 30

(24)

7

Gambar 2.2 Piksel 15 x 15

Gambar 2.3 Piksel 10 x 10

(25)

8

Gambar 2.4 Pengabungan piksel 30 x 30 dengan piksel 10 x 10

Spatio Temporal bisa di visualisasikan dan direpresentasikan dalam pengolahan informasi. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dengan informasi spatio Temporal dalam SIG seperti animasi, representasi 3 dimensi, dan representasi multimedia. Menurut [9]. Visualisasi adalah penyajian data secara visual yang dapat berinteraksi dengan pengguna untuk mengeksplor dan mendapatkan informasi yang terdapat didalam data. Pada visualisasi Temporal disajikan dalam penggambaran kejadian kebakaran menggunakan time series. Time Series adalah serangkaian titik data yang berurutan, biasanya diukur selama waktu yang berurutan. Secara sistematis didefinisikan sebagai perangkat vektor 𝑥(𝑡), 𝑡 = 0,1,2, … dimana t mewakili waktu berlalu. Variabel pada 𝑥(𝑡) diperlakukan sebagai variabel acak. Time series secara umum seharusnya dipengaruhi oleh empat komponen utama, yang bisa jadi dipisahkan dari data yang diamati. Komponen – komponen ini adalah Trend, Siklis, Musim dan Komponen tidak beraturan.

Komponen yang tidak teratur atau acak dalam time series disebabkan oleh pengaruh

(26)

9

yang tidak terduga. Komponen ini disebabkan oleh insiden seperti perang, gempa bumi, banjir dan lain-lain.

Dalam praktiknya, model yang cocok dipasangkan pada time series tertentu dan yang sesuai parameter diperkirakan menggunakan nilai data yang diketahui.

Dalam peramalan pada time series, pengamatan sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis untuk mengembangkan sesuai model matematika yang menangkap proses pembuatan data. Peristiwa masa depan kemudian diprediksi menggunakan model. Pendekatan ini sangat berguna ketika tidak banyak pengetahuan tentang pola statistik yang diikuti oleh pengamat atau ketika ada kekurangan model penjelasan yang memuaskan [10]. (Adhikari K. & R.K., 2013).

2.4 Openlayers

Openlayers adalah sebuah aplikasi client berbasis javascript yang memudahkan dalam membuat aplikasi pemetaan dan menampilkan data peta pada web browser serta tidak perlu menggunakan web server. Pada pengimplementasikan openlayers javascript API digunakan untuk membuat aplikasi GIS berbasis web. Openlayer ini hampir sama dengan layanan pemetaan seperti Bing Maps, Google Maps, dan OpenStreetMap hanya saja ada satu perbedaan penting yaitu openlayers merupakan perangkat lunak gratis yang dikembangkan oleh komunitas perangkat lunak open source [11]. (Budiawan & Ir. Muchammad, 2010).

Openlayer merupakan library Javascript murni yang digunakan untuk menampilkan data peta di web browser, tanpa perlu menggunakan bantuan server side dependencies (ssd). Openlayer memiliki layer-layer yang digunakan sebagai basemap. Tipe-tipe layer pada saat pengoperasian dalam aplikasi yang dimiliki openlayer ada dua yaitu base layer dan Overlays. Kedua tipe layer tersebut merupakan control dengan aspek yang berbeda pada saat interaksi dengan openlayers maps. Kejadian yang terjadi di browser atau untuk mengendalikan event-event di browser fungsi dari openlayer yang merupakan javascript API.

Contohnya, ketika user melakukan atau mengklik peta dan mendrag pada objek peta. Respon dari event-event tersebut diatur openlayers [5]. Pada openlayer peta merupakan kumpulan layer dan berbagai kontrol untuk menangani interaksi

(27)

10

pengguna. Openlayer dalam membuat sebuah peta dihasilkan dengan tiga bahan dasar yaitu markup, deklarasi style dan kode inisiasi [12]. (Amroeni, 2019)

Openlayer dalam penggunaannya dilakukan dengan memanggil script kedalam peta dasar yang telah disediakan. Pada halaman web peta dasar yang akan ditampilkan pada suatu tag khusus didalam HTML. Meletakkan peta pada halaman web menggunakan tag div yang akan menampung peta dan mereferensikan element ke Document Object Model (DOM). Contoh kode untuk membuat basic map. Basic map pada halaman HTML berupa peta kosong yang akan digunakan untuk menampung peta yang dipanggil dengan Openlayers. Proses untuk menampilkan peta pada halaman HTML dengan melakukan pemanggilan fungsi dari Openlayers seperti gambar 2.5 dan pada gambar 2.6 hasil dari halaman web HTML [13]. (Alhogbi, 2017).

Gambar 2.5 Kode program untuk mendefinisikan layer

(28)

11

Gambar 2.6 peta yang dihasilkan pada halaman HTML

2.5 Hotspot

Titik panas (Hotspot) adalah suatu indikator kebakaran hutan yang mendeteksi lokasi yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di sekitarnya. Awal titik panas identik dengan adanya titik api, dalam mengindikasikan titik panas, pada kenyataannya tidak semua adanya titik api [14]

(Dasuka, Y.P, Sasm i to, B., 2014).

Didalam Permenhut No. P.12/Menhut –II/2009 menyebutkan hotspot adalah indikator kebakaran hutan yang mendeteksi suatu lokasi yang memilki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suhu disekitarnya. Titik–titik pada citra (pixel atau sub-pixel) merupakan titik api yang mempunyai suhu sangat tinggi dan berhubungan dengan active fire (kobaran api) dipermukaan bumi. Sebagian atau seluruh areal yang terbakar sebuah hotspot tidak dapat menunjukkan secara pasti seberapa besar areal yang terbakar [15]. (I. D. G. A. Putra, Heryanto, Sopaheluwakan, Pradana, & Haryoko, 2019).

(29)

12

Ilustrasi satelit pengideraan jauh memantau kebakaran hutan disajikan pada gambar 2.7

Gambar 2.7 Ilustrasi penentuan koordinat hotspot

Dilihat dari gambar diatas koordinat hotspot tidak selalu tepat pada lokasi kebakaran terdapat tiga contoh yang pertama sebuah kebakaran terjadi pada titik tengah piksel, maka koordinat piksel sama dengan lokasi kebakaran. Pada contoh kedua kebakaran terjadi lebih dari satu lokasi, kejadian kebakaran masih dalam radius 500 m dapat dideteksi dengan satu titik hotspot dan kebakaran yang tidak berada pada titik tengah piksel maka koordinat piksel berada pada titik tengah piksel seperti contah gambar ditengah dan contoh ketiga kejadian kebakaran yang sangat besar dapat dideteksi sebagai empat titik tengah piksel. Terkait hotspot hal yang perlu diperhatikan adalah koordinat hotspot. Koordinat hotspot yang diekstraksi dari data satelit tidak selalu tepat dengan koordinat lokasi dilapangan.

salah satu penyebabnya posisi koordinat lokasi hotspot dari data satelit diekstrak pada posisi tengah piksel (center of pixel). Jika ada kejadian kebakaran hutan dilapangan yang berada pada lokasi pinggir piksel maka koordinat yang diekstrak oleh data satelit adalah posisi tengah piksel [16]. (Sepriando, Hartono, & Jatmiko, 2019).

Hotspot merupakan hasil deteksi kebakaran hutan pada ukuran piksel tertentu (misal 1 km x 1 km) yang kemungkinan terbakar pada saat satelit melintas dalam kondisi relatif bebas awan dengan menggunakan algoritma tertentu. Hotspot suatu indikator yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan di suatu

(30)

13

wilayah, sehingga dengan banyaknya titik hotspot, potensi kejadian kebakaran hutan semakin banyak di suatu wilayah. Titik hotspot dapat digunakan sebagai identifikasi awal kejadian kebakaran hutan. Satelit yang digunakan untuk mendeteksi hotspot adalah satelit NOAA, Terra/Aqua, Modis maupun data satelit penginderaan jauh. Confidence level atau Selang kepercayaan merupakan tingkat kepercayaan yang menunjukkan bahwa hotspot yang dipantau dari data satelit penginderaan jauh merupakan kejadian kebakaran yang benar-benar terjadi dilapangan. Sehingga semakin tinggi confidence level, potensi bahwa hotspot tersebut benar-benar kebakaran hutan semakin tinggi [17]. (Endrawati, 2016).

Tabel 2.1 Makna selang kepercayaan dalam informasi hotspot

Tingkat Kepercayaan (C) Kelas Tindakan

0% ≤ C < 30% Rendah Perlu diperhatikan

30% ≤ C < 80% Nominal Waspada

80% ≤ C < 100% Tinggi Segera Penanggulangan

2.6 Unified Modeling Language (UML)

Unifed Modeling Language (UML) merupakan bahasa spesifikasi standar yang dipergunakan untuk mendokumentasikan dan membangun perangkat lunak.

UML metodologi dalam mengembangkan sistem berorientasikan objek dan alat untuk mendukung pengembangan sistem. UML adalah suatu bahasa yang berdasarkan grafik atau gambar yang divisualisasikan, menspesifikasikan, membangun dan mendokumentasikan dari sebuah sistem pengembangan software berbasis Object-Oriented. UML memberikan standar penulisan sebuah blue print, yang meliputi pada konsep bisnis proses, penulisan kelas-kelas dalam bahasa program yang spesifik, skema database dan komponen yang diperlukan dalam sistem software [18]. (Suendri, 2018).

UML merupakan salah satu standar yang paling sering digunakan di dunia industri untuk mendefinisikan requirement, membuat analysis dan desaign, serta menggambarkan arsitektur dalam pemrograman berorientasikan objek [19]. Dalam UML terdapat beberapa diagram, antara lain sebagai berikut:

(31)

14 2.6.1 Use Case Diagram

Use Case Diagram merupakan model UML yang digunakan untuk interaksi sistem yang akan dibuat. Cara kerja Use Case dengan cara mendeskripsikan tipikal interaksi antara user dan sistem melalui sebuah cerita bagaimana sistem itu dipakai [19]. (Wira et al., 2019).

Use case diagram menggambarkan secara grafis interaksi antara sistem, sistem eksternal dan pengguna. Dengan kata lain Use Case diagram mendeskripsikan siapa yang menggunakan sistem dan cara pengguna mengharapkan interaksi dengan sistem [20]. (Henderi & Raharja, 2016)

Use case diagram adalah suatu model fungsional sebuah sistem yang menggunakan actor dan use case. Use case merupakan layanan atau fungsi-fungsi yang disediakan oleh sistem untuk pengguna-penggunanya. Suatu pola atau gambaran yang menunjukkan kelakuan atau kebiasaan sistem dan suatu urutan yang saling berhubungan dan dilakukan oleh sebuah aktor dan sistem dalam bentuk sebuah dialog. Use case diagram dibuat untuk menggambarkan hubungan antara aktor dan use case. Use case diagram mempresesntasikan fungsi-fungsi dan kegunaan sistem dari perspektif pengguna [20]. (Henderi & Raharja, 2016).

2.6.2 Sequence Diagram

Sequence Diagram digunakan untuk menggambarkan interaksi objek pada Use Case dengan mendeskripsikan objek serta pesan yang dikirim dan diterima antar objek. Gambaran Sequence Diagram dibuat sebanyak pendefinisian Use Case yang memiliki proses interaksi penting yang sudah di cakup pada Sequence Diagram sehingga semakin banyak Use Case yang telah didefinisikan maka Sequence Diagram yang dibuat semakin banyak [19] (Wira et al., 2019).

Sequence Diagram merupakan gambaran tahap demi tahap termasuk urutan perubahan secara logis yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan use case diagram [18]. Sequence diagram merupakan penjelasan interaksi objek yang disusun berdasarkan urutan waktu [21]. (Studi, Komputer, & Mulawarman, 2011).

Sequence diagram adalah diagram yang menampilkan interaksi antar objek di dalam yang sudah tersusun pada sebuah urutan atau rangkaian waktu. Interaksi antar objek tersebut pengguna, display dan sebagainya yang berupa pesan.

(32)

15

Sequence juga dapat didefinisikan sebagai suatu diagram yang menggambarkan interaksi-interaksi antar class dalam suatu hubungan perubahan dengan sebuah pesan pada akhir waktu. Sequence diagram dapat menggambarkan rangkaian langkah-langkah yang dilakukuan sebagai sebuah respon dari suatu kejadian untuk menghasilkan output tertentu [20]. (Henderi & Raharja, 2016).

2.6.3 Activity Diagram

Activity Diagram yang menggambarkan tentang aktivitas yang terjadi pada sebuah sistem yang ada pada perangkat lunak [19]. Dan dapat dilakukan secara bersamaan dalam menggambarkan proses ataupun aksi pada Activity Diagram [18].

(Suendri, 201 8).

Activity Diagram adalah aktivitas sistem dalam bentuk kumpulan aksi-aksi, bagaimana masing-masing aksi tersebut dimulai, keputusan yang mungkin terjadi hingga berakhirnya aksi. Activity diagram menggambarkan proses lebih dari satu aksi dalam waktu yang bersamaan. Activity Diagram merupakan aktivitas-aktivitas, objek, transisi state, state dan event. Pada kegiatan Activity diagram alur kerja menggambarkan perilaku sistem untuk aktivitas [18]. (Suendri, 2018).

Activity Diagram adalah suatu diagram yang menggambarkan sifat dinamis secara alamiah dalam sebuah sistem dalam bentuk model aliran dan kontrol dari aktivitas lain. Activity diagram sebuah aktivitas yang merepresentasikan suatu operasi pada beberapa class dalam sistem yang menghasilkan suatu perubahan dari sistem tersebut. Secara khusus biasanya activity diagram menggunakan model diagram alir secara internal [20]. (Henderi & Raharja, 2016).

2.6.4 Class Diagram

Class Diagram digunakan untuk menggambarkan struktur sistem dalam mendefinisikan kelas objek yang dibuat untuk membangun sistem. Class Diagram suatu set objek yang memiliki atribut dan operasi dengan tujuan pembuat program dapat membuat hubungan antara dokumentasi perancangan dan perangkat lunak [19]. (Wira et al., 2019).

Class Diagram sebagai suatu objek yang memiliki atribut dan perilaku yang sama, class disebut class objek [18]. Class diagram memiliki tiga area pokok yaitu:

1. Nama, class harus mempunyai sebuah nama.

(33)

16

2. Atribut adalah kelengkapan yang melekat pada class, nilai dari suatu class yang hanya bisa diproses sebatas atribut yang dimiliki.

3. Operasi adalah proses yang dapat dilakukan oleh sebuah class, baik pada class itu sendiri ataupun kepada kelas lainnya.

Class Diagram adalah suatu yang menggambarkan struktur statis dari kelas dalam sistem dan menggambarkan atribut, operasi dan hubungan antar kelas. Class Diagram dapat membantu dalam memvisualisasikan struktur kelas-kelas dari suatu sistem dan merupakan tipe diagram yang banyak dipakai. Class diagram berperan dalam menangkap struktur dari semua kelas yag membentuk arsitektur sistem yang dibuat [21]. (Studi et al., 2011).

Class diagram adalah suatu diagram yang menunjukkan class yang ada dari sebuah sistem dan hubungannya secara logika. Pada class diagram menggambarkan struktur statis dari sebuah sistem. class diagram merupakan tulang punggung atau kekuatan dasar. Oleh karena itu gambar grafis mengenai struktur objek statis dari suatu sistem yang menunjukkan class-class objek yang menyusun pada sebuah sistem dan juga hubungan antar class dan objek [20]. (Henderi & Raharja, 2016).

2.7 Penelitian Terkait

Penelitian yang terkait dengan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.2 Penelitian Terkait

Nama Penelitian Judul Penelitian Hasil Penelitian

(Barus & Sitanggang, 2017)

Sistem Informasi Geografis Persebaran Titik Api di Indonesia menggunakan OpenGeo Suite 3.0

Dengan menggunakan OpenGeo Suite dalam pembuatan sistem informasi geografis yang berbasis web untuk menejemen data history hotspot disebabkan aplikasi ini menggabungkan PostgreSQL dengan Geoserver tanpa harus mengetahui rincian teknisnya. Hasil dari pengujian terhadap sistem ini dapat memberikan informasi berupa ringkasan data history hotspot yang membantu dalam pengambilan [1].

(34)

17

keputusan terkait pencegahan kebakaran.

(A. Putra et al., 2018) Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus:

Kecamatan Bukit Batu, Kab. Bengkalis

Hasil dari penelitian ini utuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bengkalis. Sebagian besar daerah kecamatan batu memiliki tingkat kerawanan tinggi seluas 27.533,611 Ha (22,49%) dan kerawanan sangat tinggi 94.915,83 (77,51%) [3].

(Yuliandri, 2019) Pemetaan Zonasi Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Gowa

Tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang paling berpotensi terjadi dikecamatan Parangloe, Tombolopao, Bungaya, Bontolempangan, Biringbulu, Manuju dan Pattallassang dengan luas 1.735,42 Ha atau sebesar 0,96% dari luas wilayah kebupaten Gowa [26].

(Akbar, 2015) Visualisasi Data Spatio- Temporal melalui WebGIS (Studi Kasus Rumah Bantuan Kota Banda Aceh)

Sistem ini memberikan informasi untuk melihat tahun, jumlah rumah, desa atau kecamatan, dan donatur yang membangun rumah bantuan tersebut. Dan mendapatkan nilai yang cukup baik yaitu 79% grade B dengan metode pengujian System Usability Scale (SUS) [9].

(Susanta, Pratama, Aditya, Khomaini, &

Abdillah, 2019)

Geovisual Analytics of Spatio-Temporal Eartquake Data in Indonesia

Hasil dari penelitian ini membuat dashboard visualisasi kejadian gempa bumi di indonesia pada tahun 2004 sampai tahun 2019 dari data spasial dan temporal. Untuk data statistik seperti nilai

kedalaman dan besar gempa pertahun ditampilkan dalam bentuk grafik. Sedangkan data pada temporal ditampilkan dalam bentuk time-series animation. Pada

tampilan peta dilengkapi dengan pop-up, skala, legenda, visibilitas layer, pencarian lokasi, dan pembesaran tampilan. Hal ini mendukung fungsi analitis visual

(35)

18

yang dapat memberikan wawasan baru bagi pengguna. Dashbord ini membuat pengambil kebijakan mudah untuk memonitor dan mengevaluasi [22].

(Ikhwan, 2016) Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabutaten Rokan Hilir

Hasil akhir dari penelitian ini tingkat kerawanan di Kabupaten Rokan Hilir terbagi dari empat kelas yaitu rawan sangat tinggi, rawan tinggi ,rawan sedang, dan rawan rendah. Daerah Kabupaten Rokan Hilir sebagian besar

memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Daerah yang memiliki tingkat rawan sangat tinggi memiliki luas 358.374,00 hektar (39,43%), tingkat rawan tinggi seluas 382.448.62 (42,08%) hektar, tingkat rawan sedang memiliki luas 158.943,95 hektar (17,49%) dan tingkat rawan rendah memiliki luas 9.152,55 hektar (1,01%). Dangan adanya peta daerah rawan kebakaran hutan dan lahan akan berguna dalam memberikan informasi ancaman bahaya kebakaran hutan dan lahan,

sehingga dapat dilakukan antisipasi dengan peringatan dini pada wilayah tersebut, khususnya pada saat musim kemarau [24].

(Saputra, 2017) Sistem Informasi Geografis Penanggulangan Bencana Kebakaran Pada Badan

Penanggulangan Bencana Daerah Kota Samarinda Berbasis Web Menggunakan Platform Google Maps

Penelitian ini dapat disimpulkan Sistem Informasi Geografis dibuat berbasis web. Dapat memberikan informasi spasial kepada personel BPBD mengenai persebaran daerah titik rawan kebakaran, sumber air, pos pemadam kebakaran dan pos kesehatan. Dengan adanya SIG BPBD dapat melakukan fungsi menganalisis untuk menentukan radius dan rute [25].

(36)

19 (Autika, Mulyadi, &

Siregar, 2018)

Pemetaan Index

Kekeringan dan Sebaran Titik Hotspot Daerah Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau

Hasil dari penelitian ini intensitas kategori kering sebesar 52% dari luas Riau dan tingkat keparahaan kekeringan tinggi sebesar 59% dari luas Riau. Durasi Maksimum kejadian kering 4 – 6 bulan sebesar 71%. Berdasarkan SPI

(Standardized Precipitation Index) terhadap titik panas nilai indeks SPI negatif menunjukkan bahwa

kondisi kering berpotensi

meningkatkan jumlah titik api dan sebaliknya jika nilai index SPI rendah potensi kemunculan hotspot rendah . kekeringan pada musim kemarau (Januari, April, September) tahun 2015 banyak memicu sebaran titik api.

Sedangkan pada bulan (April, November, dan Desember) beberapa wilayah kondisi kering dan basah sehingga menyebabkan rendahnya sebaran titik api [23].

(37)

20

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian adalah langkah-langkah atau tahapan yang akan dilakukan dalam melakukan suatu penelitian. Berikut merupakan langkah-langkah yang dilakukan bisa dilihat pada gambar 3.1 berikut:

Metode Penelitian

Tahap ITahap IITahap IIITahap IVTahap V

Kegiatan Hasil

Tahapan

Perencanaan 1. Pengumpulan Data 2. Identifikasi Masalah

Data Dari Kementerian Lingkungan Hidup

dan Kehutanan

Desain

1. Perancangan sistem 2. Perancangan tabel 3. Perancangan interface

1. Usecase Diagram 2. Class Diagraml 3. Activity Diagram 4. Rancangan Database 5. Rancangan Interface

Implementasi Coding

Sistem Informasi Geografis Visualisasi Sebaran Ttiik Hotspot

di Indonesia

Testing

Pengujian Apache benchmark, Testing

dan User Acceptance System

Specification

Dokumentasi Laporan Tugas

Akhir Dokumentasi Hasil

Tugas Akhir

Gambar 3.1 Diagram Metodologi Penelitian

(38)

21 3.1.1 Tahap Perencanaan

Perencanaan adalah tahap pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan suatu penelitian. Hal ini dilakukan agar penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.

Hal – hal yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu:

a. Studi Pustaka

Menggunakan literatur – literatur yang telah ada seperti jurnal- jurnal pendukung dan buku untuk digunakan sebagai referensi atau bahkan digunakan sebagai bahan pembanding. Banyak contoh yang digunakan penulis salah satu contoh jurnal yang diambil yakni “Geovisual Analytics of Spatio-Temporal Earthquake Data In Indonesia” yang disusun oleh [22].(Susanta et al., 2019).

b. Non Participant Observation

Non Participant Observation merupakan observasi penelitian yang tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati. Data yang dipakai dalam penelitian ini diperoleh dari website kementerian lingkungan hidup dan kehutanan Republik Indonesia yang menggunakan data satelit. Data yang diunduh berupa koordinat titik hotspot yang dilengkapi dengan berbagai informasi pendukung (satelit pengindera, waktu akuisi data, tingkat kepercayaan, sumber data, batas administrasi).

2. Identifikasi Masalah

Dari penelusuran tahap awal dapat di identifikasi masalah yang kemudian di bangun aplikasi WebGIS visualisasi peta sebaran titik hotspot di Indonesia.

3.1.2 Tahap Desain

Pada tahap ini, maka dilakukan perancangan aplikasi yang dapat diperkirakan sebelum dibuat coding. Hal – hal yang dilakukan pada tahap ini yaitu:

1. Perancangan Sistem

(39)

22

Tahap perancangan sistem menggunakan metode pemodelan sistem berorientasi objek yaitu Unified Modelling Language (UML).UML terdiri beberapa diagram yaitu use case diagram, use case description, activity diagram, sequence diagram, dan class diagram. UML berfungsi untuk mendeskripsikan alur dan cara kerja sistem yang akan dibuat dalam penelitian ini.

2. Perancangan Database

Perancangan ini mengidentifikasi tabel – tabel dan atribut yang akan digunakan pada sistem.

3. Desain Interface

Perancangan interface merupakan rancangan tampilan yang akan menjadi setiap kegiatan input dan output dari sistem.

Beberapa fitur yang disediakan pada sistem informasi geografis visualaisasi titik hotspot yaitu:

a. Dashboard

Pada WebGIS untuk bagian dashboard menampilkan grafik dan bar chart. Pada grafik berfungsi untuk melihat sebaran titik hotspot dari bulan januari sampai bulan desember dan pengguna bisa memilih berdasarkan tahun yang ingin ditampilkan. Sedangkan untuk bar chart berfungsi untuk melihat sebaran titik hotspot berdasarkan Provinsi dan pengguna bisa memilih berdasakan tahun yang ingin ditampilkan.

Gambar 3.2 Dashboard WebGIS

(40)

23 b. Tabel Data

Pada fitur tabel data untuk menampilkan data yang telah di simpan oleh admin.

Gambar 3.3 Tabel Data c. Visualisasi

Pada fitur visualisasi menampilkan peta Indonesia yang memiliki filter select tahun, sebelum menampilkan titik hotspot pengguna bisa memilih tahun berapa yang akan ditampilkan, maka akan keluar output animasi bergerak berupa titik hotspot yang tampil didalam peta.

Gambar 3.4 Visualisasi WebGIS

Pada penelitian ini perancangan aplikasi disertai dengan fitur pendukung.

Fitur tersebut antara lain:

a. Bar Chart

(41)

24

Aplikasi menyediakan fitur untuk melihat daerah mana yang paling tinggi titik api nya.

b. Grafik

Aplikasi menyediakan fitur untuk melihat jumlah titik hotspot dari tahun ketahun.

3.1.3 Implementasi

Pada tahap implementasi dilakukan pembuatan modul yang telah dirancang dan dianalisa, kemudian diimplementasikan pada bahasa pemograman dan dilakaukan pengujian untuk mengetahui tingkat keberhasilan aplikasi yang telah dibuat. Implementasi pengembangan sistem ini akan dibangun dengan spesifikasi perangkat keras dan lunak seperti berikut:

1. Perangkat Keras:

a. Processor : Celeron N2840

b. Memory : 4 GB

c. Harddisk : 500 GB

2. Perangkat Lunak:

a. Sistem Operasi : Microsoft Windows 10 64bit b. Bahasa Program : PHP, Javascript, Node JS c. Text Editor : Visual Studio

d. DBMS : MySQL

3.1.4 Testing

Pengujian dilakukan setelah tahap implementasi dimana pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat penyesuaian terhadap aplikasi. Adapun pengujian ini menggunakan Apache Benchmark Test dan UAT (User Acceptance Test). Setelah pengujian dilakukan, diharapkan agar sistem terhindar dari error dan kesalahan kesalahan lainnya.

3.1.5 Dokumentasi

Tahap ini mendokumentasikan seluruh kegiatan yang dilakukan pada tugas akhir. Dari proses pendahuluan, perencanaan, pengumpulan data, analisa dan perancangan sistem, dan implementasi dan pengujian sistem. Hasil dokumentasi ini adalah laporan Tugas Akhir

(42)

52

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan dari aplikasi visualisasi sebaran titik api berbasis web yaitu:

1. Visualisasi Sebaran Titik Api yang di buat dengan Openlayer berhasil dibangun dan dapat digunakan.

2. Berdasarkan pengujian Apache Benchmark, aplikasi ini dapat melayani permintaan pengguna dengan rata-rata waktu aplikasi yaitu 19363 ms (sembilan belas detik).

3. Berdasarkan hasil pengujian User Acceptance Test (UAT) aplikasi sesuai dengan keinginan pengguna dan dapat berjalan dengan baik.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan untuk menyempurnakan dan mengembangkan penelitian selanjutnya adalah:

1. Aplikasi dapat dikembangkan sehingga dapat terintegrasi dengan pengelolaan data di kementrian lingkungan hidup dan kehutanan.

2. Aplikasi dapat dikembangkan dalam versi android.

(43)

53

DAFTAR PUSTAKA

[1] Barus, S. V. B., & Sitanggang, I. S. (2017). Sistem Informasi Geografis Persebaran Titik Api di Indonesia Menggunakan OpenGeo Suite 3.0. Jurnal

Ilmu Komputer Dan Agri-Informatika, 3(1), 47.

https://doi.org/10.29244/jika.3.1.47-56.

[2] Pardede, F. A., & H, S. W. H. L. (2010). Pemanfaatan teknologi sistem informasi geografis untuk menunjang pembangunan daerah. National Seminar University of Budi Luhur, (August 2009), 1–6.

[3] Putra, A., Ratnaningsih, A. T., & Ikhwan, M. (2018). Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan Dan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kecamatan Bukit Batu, Kab. Bengkalis). Wahana

Forestra: Jurnal Kehutanan, 13(1), 55–63.

https://doi.org/10.31849/forestra.v13i1.1555.

[4] Mertha, I. M. P., Simadiputra, V., Setyawan, E., & Suharjito, S. (2019).

Implementasi WebGIS untuk Pemetaan Objek Wisata Kota Jakarta Barat dengan Metode Location Based Service menggunakan Google Maps API.

InfoTekJar (Jurnal Nasional Informatika Dan Teknologi Jaringan), 4(1), 21–

28. https://doi.org/10.30743/infotekjar.v4i1.1486.

[5] Ridwan Aminullah, Andri Suprayogi, A. S. (2018). Jurnal Geodesi Undip Januari 2018, 7, 109–119.

[6] Informatika, P. T., Informasi, S., Berbasis, G., Dengan, W., Kasus, S., Rawan, A., … Area, K. (2018). SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DENGAN STUDI KASUS AREA RAWAN BENCANA ALAM DI KOTA TASIKMALAYA, 02(01).

[7] Andre Hermawan, Moehammad Awaluddin, B. D. Y. (2017). Jurnal Geodesi Undip Oktober 2017, 6, 51–59.

[8] Ferdiansyah, M. (2017). SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN KLINIK BERSALIN BERBASIS WEB GIS ( STUDI KASUS : KAB .

(44)

54 PESAWARAN ), 14(2), 1–7.

[9] Akbar, F. (2015). VISUALISASI DATA SPATIO-TEMPORAL MELALUI WEB GIS ( Studi Kasus Rumah Bantuan Kota Banda Aceh ).

[10] Adhikari K., R., & R.K., A. (2013). An Introductory Study on Time Series Modeling and Forecasting Ratnadip Adhikari R. K. Agrawal. ArXiv Preprint ArXiv:1302.6613. https://doi.org/10.1210/jc.2006-1327.

[11] Budiawan, & Ir. Muchammad, H. (2010). Aplikasi Gis Berbasis Web Menggunakan Geoserver. Seminar, 1–4.

[12] Amroeni, L. N. U. R. (2019). PROYEK TUGAS AKHIR Sistem Informasi Geografis Pemetaan UMKM Di Kabupaten Batang Berbasis Web ELEKTRO UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA 2019 Naskah Publikasi PROYEK TUGAS AKHIR Sistem Informasi Geografis Pemetaan UMKM DI Kabupaten Batang Berbasis Web.

[13] Alhogbi, B. G. (2017). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 21–25. Retrieved from http://www.elsevier.com/locate/scp

[14] Dasuka, Y.P, Sasmito, B., H. (2014). Jurnal Geodesi Undip Jurnal Geodesi Undip. ANALISIS SEBARAN JENIS VEGETASI HUTAN ALAMI MENGGUNAKAN SISTEM PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : Jalur Pendakian Wekas Dan Selo), 3(April), 28–43.

[15] Putra, I. D. G. A., Heryanto, E., Sopaheluwakan, A., Pradana, R. P., &

Haryoko, U. (2019). Sebaran Spasial Dan Temporal Titik Panas (Hotspot) Di Indonesia Dari Satelit Modis Dengan Metode Gridding. Seminar Nasional Geomatika, 3(2007), 1123. https://doi.org/10.24895/sng.2018.3-0.1035 [16] Sepriando, A., Hartono, & Jatmiko, R. H. (2019). Deteksi Kebakaran Hutan

Dan Lahan Menggunakan Citra Satelit Himawari-8 Di Kalimantan Tengah Forest and Land Fires Detection Using Himawari-8 Satellite Imagery in Central Kalimantan. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 20(2), 79–

89.

(45)

55

[17] Endrawati. (2016). Analisis Data Titik Panas ( Hotspot) dan Areal Kebakaran Hutan dan Lahan tahun 2016. Retrieved from https://rfmrc-sea.org/wp- content/uploads/2015/01/Analisis-Data-Titik-Panas-Hotspot-dan-Areal- Kebakran-Hutan-dan-Lahan-Tahun-2016.pdf.

[18] Suendri. (2018). Implementasi Diagram UML (Unified Modelling Language) Pada Perancangan Sistem Informasi Remunerasi Dosen Dengan Database Oracle (Studi Kasus: UIN Sumatera Utara Medan). Jurnal Ilmu Komputer Dan

Informatika, 3(1), 1–9. Retrieved from

http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/algoritma/article/download/3148/1871 [19] Wira, D., Putra, T., & Andriani, R. (2019). Unified Modelling Language (

UML ) dalam Perancangan Sistem Informasi Permohonan Pembayaran Restitusi SPPD, 7(1).

[20] Henderi, H., & Raharja, U. (2016). OBJECT ORIENTED MODELLING WITH UNIFIED MODELING LANGUAGE ( UML ), (June).

https://doi.org/10.13140/RG.2.1.3464.4088.

[21] Studi, P., Komputer, I., & Mulawarman, F. U. (2011). Memahami Penggunaan UML ( Unified Modelling Language ), 6(1), 1–15.

[22] Susanta, F. F., Pratama, C., Aditya, T., Khomaini, A. F., & Abdillah, H. W. K.

(2019). Geovisual Analytics of Spatio-Temporal Earthquake Data in Indonesia. JGISE: Journal of Geospatial Information Science and Engineering, 2(2), 185–194. https://doi.org/10.22146/jgise.51131.

[23] Autika, Y., Mulyadi, A., & Siregar, Y. I. (2018). Pemetaan Indek Kekeringan dan Sebaran Titik Hotspot Daerah Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Propinsi Riau. Dinamika Lingkungan Indonesia, 5(1), 1.

https://doi.org/10.31258/dli.5.1.p.1-11.

[24] Ikhwan, M. (2016). Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Kabupaten Rokan Hilir. Wahana Forestra: Jurnal Kehutanan, 11(1), 57–66.

https://doi.org/10.31849/forestra.v11i1.137

[25] Saputra, F. P. (2017). Sistem Informasi Geografis Penanggulangan Bencana

(46)

56

Kebakaran Pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Samarinda Berbasis Web Munggunakan Platform Google Maps.

[26] Yuliandri. (2019). PEMETAAN ZONASI DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN GOWA (Zonation Mapping of Forest and Land Fire Areas in Gowa District) Yuliandri Pualilin 1 , Amir Tjoneng 2 , Abdullah 3, 3(1), 89–97.

(47)

57

LAMPIRAN A

Timestamp Nama Email

Apakah tampilan pada aplikasi ini mudah dipahami ?

Apakah tampilan halaman di setiap menu pada aplikasi ini mudah dipahami ? Apa warna pada aplikasi ini membuat anda nyaman ?

Apakah icon pada aplikasi ini sudah berfungsi dengan baik ?

Apakah jenis tulisan pada aplikasi sudah sesuai dan mudah dibaca ? Apakah semua menu pada aplikasi ini sudah berfungsi dengan baik ?

Apakah aplikasi ini membantu dalam mendapatkan informasi sebaran titik api (hotspot) ?

Apakah tampilan pada peta dapat terlihat dengan jelas ?

Apakah informasi sebaran titik api pada masing-masing daerah (Provinsi) mudah dimengerti ?

Apakah fitur pada aplikasi ini sudah berfungsi dengan baik ?

21/04/2022 13:24:39 Jihad Benastey [email protected] Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 13:58:00 Dedeh [email protected] Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 13:59:59 Moch Noor Alfan [email protected] Setuju

Sangat Setuju Setuju Netral Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju

(48)

58

21/04/2022 14:00:08 ACHMAD MUCHSIN [email protected] suska.ac.id Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju

Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 14:05:56 Azhar Siddiq [email protected] Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 14:26:02 DIAN WULANDARI [email protected]

Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju

21/04/2022 15:50:41 Abdul Haris [email protected] Sangat Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju

21/04/2022 15:56:02 rahma fitri asriani [email protected] suska.ac.id Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju

Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 15:56:33 Asranita [email protected] Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju

21/04/2022 15:58:18 Ryan Dwijaya Efendi [email protected]

Sangat Setuju Sangat Setuju Sangat Setuju Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Setuju Netral Setuju

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung sebaran titik panas ( hotspot ) sebagai penduga terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatra Selatan,

Penelitian ini mengukur hubungan antara peningkatan sebaran titik panas ( hotspot ) sebagai penunjuk adanya kebakaran hutan dan lahan, luas lahan terbakar

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi lokasi sebaran titik panas di Provinsi Riau, serta memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kebakaran

Maka dari itu diharapkan dapat memvisualisasikan dalam bentuk aplikasi multimedia yang dapat berguna bagi SD N Tawang 02 Sukoharjo sehinggaa dapat mempermudah dalam

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi lokasi sebaran titik panas di Provinsi Riau, serta memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kebakaran

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung sebaran titik panas (hotspot) sebagai penduga terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatra Selatan,

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara curah hujan dengan titik panas (hotspot) dan mengetahui sebaran kejadian kebakaran hutan dan lahan di Provinsi

Analisis pengaruh curah hujan dan sebaran titik panas terhadap luas area kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bengkalis menggunakan indeks Normalized Burn