Pengaruh Pemberian Lendir Bekicot (Achatina fulica) dalam Mempercepat Waktu Penyembuhan Luka Insisi pada Mencit Swiss Webster Jantan.

16  12  Download (1)

Teks penuh

(1)

iv ABSTRAK

PENGARUH PEMBERIAN LENDIR BEKICOT (Achatina fulica) DALAM MEMPERCEPAT WAKTU PENYEMBUHAN LUKA INSISI PADA

MENCIT GALUR SWISS WEBSTER JANTAN

Maesa R. Kusnandar, 2015; Pembimbing : Hartini Tiono, dr.,M.Kes

: Sylvia Soeng, dr., M.Kes, PA(K)

Luka insisi biasanya tidak fatal kecuali bila terdapat di daerah leher atau pergelangan tangan, namun tetap harus ditangani dengan baik. Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar, salah satunya adalah pemanfaatan flora dan fauna di bidang kesehatan. Salah satu bahan alam yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan luka dan digunakan turun-temurun adalah lendir bekicot.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian lendir bekicot dalam mempercepat durasi penyembuhan luka insisi pada mencit Swiss webster jantan. Penelitian ini bersifat ekperimental laboratorik. Sebanyak 24 ekor mencit Swiss Webter jantan, berumur 8 minggu dibagi secara acak dalam 3 kelompok (n=8) yaitu kelompok lendir bekicot, Feracrylum 1% (kontrol positif) dan akuades (kontrol negatif). Data yang diukur adalah waktu (dalam hari) yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka. Data dianalisis menggunakan ANAVA satu arah, dilanjutkan dengan uji Tukey HSD dengan α=0.05.

Hasil penelitian rerata waktu penyembuhan luka (hari) yang diberi lendir bekicot (9,75) berbeda sangat signifikan dibandingkan yang diberi Feracrylum 1% (16,37), dan akuades (17,12) dengan p=0,000.

Simpulan dari penelitian ini adalah lendir bekicot (Achatina fulica) mempercepat waktu penyembuhan luka insisi pada mencit Swiss webster jantan.

Kata kunci: Lendir bekicot, luka insisi, waktu penyembuhan luka.

(2)

v

ABSTRACT

THE EFFECT OF SNAIL (Achatina fulica) SLIME IN ACCELERATING INCISION WOUNDS HEALING TIME IN MALE SWISS WEBSTER MICE

Maesa R. Kusnandar, 2015; Tutor : Hartini Tiono, dr.,M.Kes

: Sylvia Soeng, dr., M.Kes, PA(K)

Incision wound is not fatal, unless it is located on the neck or wrist, nevertheless incision wound should be well treated. Indonesia has a lot natural potentials, such as flora and fauna in medical field. One of the natural substances believed to be useful in wound healing and had been used by people over generation is snail slime.

The objective of this research was to determine whether snail slime could accelerated the duration time in the incision wound healing in male Swiss webster mice. This research was a laboratory experiment. Twenty-four male Swiss webster mice, eight weeks old, were divided randomly into 3 groups (n=8), and given snail slime topically, 1% Feracrylum (positive control), and aquadest (negative control). Measured data was the duration time (in days) for wound healing. Data was analyzed using one way ANOVA and followed with Tukey HSD test with α=0.05.

The result showed that the average duration time of wound healing (in days) for snail slime group (9.75) was highly significant different compared to 1% Feracrylum group (16.37), and aquadest group (17.12) with p value = 0.000. The conclusion of this research was snail (Achatina fulica) slime could accelerate incision wound healing time in male Swiss webster mice.

Keywords: Snail slime, incision wound, wound healing time

(3)

viii

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian………..………….2

1.4Manfaat Penelitian………..………..………..3

1.5Kerangka Pemikiran………...3

1.6 Hipotesis Penelitian………...………...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kulit………4

2.1.1Anatomi dan Histologi Kulit………...….……….4

(4)

ix

2.3Bekicot (Achatina fulica)………19

2.3.1Taksonomi dan Morfologi Bekicot (Achatina fulica)…………....…….19

2.3.2Kandungan Lendir Bekicot (Achatina fulica)………...…..20

2.4Feracrylum………...22

2.4.1 Mekanisme Kerja Feracrylum……….………22

2.4.2 Efek Feracrylum……….……….22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1Alat dan Bahan………...………..24

3.1.1Alat-Alat Penelitian………...………..24

3.1.2Bahan Penelitian………..………24

3.1.3Subjek Penelitian………...………..25

3.2Lokasi dan Waktu Penelitian………...……….25

3.3Metode Penelitian………...……….……….25

3.3.1Desain Penelitian……….……..………..25

3.3.2Penentuan Jumlah Sampel………..……….25

3.3.3Variabel Penelitian………..………26

3.3.3.1Definisi Konsepsional Variabel………..………26

3.3.3.2Definisi Operasional Variabel………..……….……..26

3.4Prosedur Penelitian………..……….27

3.4.1Pengumpulan Bahan Uji………..………27

3.4.2Persiapan Bahan Uji………...……….27

3.4.3Persiapan Hewan Coba………...……….28

3.4.4Prosedur Kerja………...………..28

3.4.5Cara Pemeriksaan………..………..29

3.5Metode Analisis………...……….29

(5)

x

3.6Aspek Penelitian………..……….30

BAB IV HASIL 4.1Hasil Penelitian………31

4.2Pembahasan………..34

4.3Uji Hipotesis……….35

4.3.1Hipotesis Penelitian……….………35

4.3.2Hal-Hal yang Mendukung……….…………..35

4.3.3Hal-Hal yang Tidak Mendukung………...……..……35

4.3.4Simpulan....……….………35

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1Simpulan………..36

5.2 Saran………...……….36

DAFTAR PUSTAKA………...37

LAMPIRAN………..40

RIWAYAT HIDUP………..49

(6)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Rerata Waktu Penyembuhan Luka Setiap Kelompok

Perlakuan (hari)………..31 Tabel 4.2 ANAVA Satu Arah Terhadap Waktu Penyembuhan Luka

Pada Setiap Kelompok………..……….32 Tabel 4.3 Uji Beda Rerata Waktu Penyembuhan Luka

Dengan Tukey HSD………..……..……...33

(7)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Garis Langer……….………5

Gambar 2.2 Lapisan Epidermis Kulit ……….7

Gambar 2.3 Lapisan Dermis Kulit………...………8

Gambar 2.3 Achatina fulica………...…19

(8)

xiii

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Rerata Waktu Penyembuhan Luka Setiap Kelompok

Perlakuan (hari)………..31

(9)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Proses Pengambilan Lendir Bekicot (Achatina fulica)……….……..40

Lampiran 2 Hasil Pengukuran Panjang Luka Mencit Masing-Masing Kelompok Perlakuan………..41

Lampiran 3 Hasil Uji Statistik Menggunakan SPSS…….………...43

Lampiran 4 Dokumentasi Proses Perlakuan, Alat dan Bahan………...….46

Lampiran 5 Komisi Etik Penelitian………48

(10)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Luka insisi adalah luka yang disebabkan karena alat yang berujung tajam. Pada

luka insisi, ukuran luka yang terlihat dari luar (external component) lebih panjang

daripada kedalaman luka (internal component). Kebanyakan orang mendapatkan

luka insisi di rumah terutama di dapur ataupun di tempat kerja misalnya di pabrik

(Vij, 2011). Luka insisi biasanya dapat fatal apabila tempat yang terkena luka

berada di daerah leher atau pergelangan tangan (Di Maio & Dana, 2007).

Penanganan pada luka yang sudah cukup dikenal masyarakat adalah dengan

menggunakan povidon iodin. Povidon iodin mengandung iodin bebas dan

polyvinylpyrolidone (PVP) yang memiliki efek antimikroba kuat, namun bahan

ini juga memiliki efek toksik terhadap sel-sel tubuh dan dapat menyebabkan

dermatitis kontak. Saat ini, terdapat bahan lain yang banyak digunakan untuk

mengobati luka, salah satunya adalah dengan menggunakan larutan Feracrylum

1%. Pemberian larutan Feracrylum 1% diindikasikan untuk mengurangi

pendarahan pada luka, mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi pada luka, dan

sebagai antiseptik (Moenadjat, Setiabudy, Astrawinata, & Gumay, 2008).

Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia memiliki potensi alam yang

sangat besar untuk dimanfaatkan, salah satunya adalah pemanfaatan flora dan

fauna di bidang kesehatan. Masyarakat desa terpencil tidak tergantung

sepenuhnya pada obat modern karena faktor geografis yang tidak memungkinkan

ketersediaan obat-obatan. Mereka mewarisi pengobatan tradisional secara turun

temurun, bahan alam yang dipercaya berkhasiat untuk mengobati luka salah

satunya adalah lendir bekicot (Achatina fulica) (Usman, 2014). Pada saat lendir

bekicot dioleskan pada luka, beberapa kandungan zat dalam lendirnya aktif

bekerja dalam proses penyembuhan luka. Achasin isolat sebagai salah satu

antibakteri ampuh membunuh bakteri yang terdapat pada luka. Achasin isolat

(11)

2

memiliki substrat yang spesifik untuk mengkatalisis oksidasi deaminasi. Salah

satu hasil dari oksidasi tersebut adalah H2O2 yang mampu menembus membran

plasma bakteri. Rusaknya membran plasma bakteri menyebabkan kematian

bakteri. Konsentrasi heparan sulfat akan terserap ke dalam matriks ekstraseluler

jaringan tubuh dan meningkatkan terjadinya proliferasi sel di daerah luka.

Kalsium yang terdapat dalam kelenjar pada tubuh bekicot tersimpan dalam bentuk

CaCO3 dan disekresikan bersama lendir. Kalsium berperan proses pembekuan

darah dengan mempercepat pembentukan aktivator protombin. Aktivator

protombin yang cepat terbentuk mempengaruhi kecepatan proses penyembuhan

luka. Kalsium dalam bentuk ion Ca++ akan membantu proses pengubahan

protrombin menjadi trombin (Bagaskara, 2009).

Berdasarkan hal ini penulis ingin mengetahui bagaimana pengaruh pemberian

lendir bekicot sebagai salah satu obat herbal yang dapat digunakan dalam proses

percepatan penyembuhan luka insisi.

1.2Identifikasi Masalah

Apakah lendir bekicot mempercepat waktu penyembuhan luka insisi pada

mencit Swiss webster jantan.

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti bahan alami yang dapat

menjadi sebagai salah satu obat alternatif yang dapat digunakan sebagai obat

penyembuhan luka yang ekonomis dan mudah didapatkan dengan bahan baku

lokal di Indonesia.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian lendir bekicot

terhadap percepatan waktu proses penyembuhan luka insisi pada mencit Swiss

webster jantan.

(12)

3 1.4Manfaat Penelitian

Manfaat akademik, menambah pengetahuan mengenai bahan alternatif yang

ekonomis dan mudah dicari dalam pengobatan luka dengan bahan baku lokal di

Indonesia.

Manfaat praktis, memberikan informasi kepada masyarakat bahwa lendir

bekicot dapat digunakan sebagai salah satu obat alternatif untuk penyembuhan

luka.

1.5Kerangka Pemikiran

Setiap jenis luka memiliki tahap-tahap penyembuhan luka yang sama yaitu fase

inflamasi, proliferatif, dan remodeling. Proses penyembuhan luka memerlukan

reaksi seluler, molekuler, dan biokimiawi yang kompleks dan dipengaruhi oleh

beberapa faktor eksterna dan interna (Robbin & Cotran, 2007).

Penentuan penggunaan lendir bekicot dalam penelitian ini didasari karena

banyaknya bekicot yang hidup di wilayah Indonesia dan lendirnya dapat

dimanfaatkan dalam proses penyembuhan luka. Lendir bekicot mempunyai

kandungan kimia berupa achasin isolat, heparan sulfat, dan kalsium. Achasin

isolat bermanfaat sebagai antibakteri dan antinyeri sementara heparan sulfat

berfungsi dalam mempercepat proses penyembuhan luka dengan membantu

proses pembekuan darah dan kalsium berperan dalam hemostatis (Usman, 2014).

1.6Hipotesis Penelitian

Lendir bekicot mempercepat waktu penyembuhan luka insisi pada mencit

Swiss Webster jantan.

(13)

36 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Lendir bekicot (Achatina fulica) dapat mempercepat waktu penyembuhan luka

insisi pada mencit Swiss Webster jantan.

5.2 Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah:

- Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan efektifitas

lendir bekicot yang diambil dan disimpan dalam lemari pendingin dengan

pemberian lendir bekicot yang langsung menempelkan bekicot pada luka.

- Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pemberian lendir bekicot dua

kali atau lebih per harinya.

- Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek pemberian lendir

bekicot tehadap jenis luka lainnya.

- Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji toksisitas terhadap lendir

bekicot Achatina fulica.

(14)

37

DAFTAR PUSTAKA

Bagaskara, D. H. (2009, Maret 18). Penggunaan Lendir Bekicot (Achatina fulica

Ferussac) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan Luka. Program

Kreativitas Mahasiswa, 7-8.

Baroroh, D. B. (2011). Konsep Luka. Retrieved Oktober 23, 2015, from S1 Keperawatan:

http://s1-keperawatan.umm.ac.id/files/file/konsep%20luka.pdf

Dewi, S. P. (2012, November 8). Perbedaan Efek Pemberian Lendir Bekicot (Achantina fulica) dan Gel Bioplacenton terhadap Penyembuhan Luka

Bersih pada Tikus Putih. Retrieved October 4, 2015, from

digilib.uns.ac.id: http://core.ac.uk/download/pdf/16506928.pdf

Diah. (2010). Feracrylum, Hemostatik Oral Terbaru di Indonesia. Jurnal Medika,

XXXVI.

DiMaio, V. J., & Dana, S. E. (2007). Handbook of Forensic Pathology. In

Handbook of Forensic Pathology (2 ed., p. 116). Taylor and Francis

Group, LLC.

E. A. Ayello, a. C. (2004). Conquer Chronic Wounds with Wound Bed

Preparation. Retrieved from

http://cenormagil.com.br/artigos/Conquer%20chronic%20wound%20with %20WBP.pdf

Efron D. E., A. C. (2007). Schwartz's Surgery (8 ed.). New York: McGraw-Hill.

Gartner L., H. J. (2006). Color Textbook of Histology (3 ed.). Philadelphia: Saunders.

Graham B., R. (2005). Lecture Notes on Dermatologi. Jakarta: Erlangga.

Hanafiah, K. A. (2012). Rancangan Percobaan, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.

Jachens, L. (2008). Healing the Skin : Holistic Aproaches to Treating Skin

Conditions : A practical guide based on anthroposophic medicine. Temple

Lodge.

Junqueira, C. J. (2005). Basic Histology Text and Atlas (11 ed.). New York: McGraw-Hill.

King, D. (2013, August 1). Introducing to Skin Histology. Retrieved October 2, 2015, from siumed.edu: http://www.siumed.edu/~dking2/intro/skin.htm

(15)

38

Lasmadasari, N., Hakimi, M., & Huriah, T. (n.d.). Efektifitas Pemberian Oral dan Topikal Gel Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) dalam Penyembuhan Luka pada Tikus Putih (Rattus novergicus). Thesis UMY, 9.

Moenadjat, Y., Setiabudy, R., Astrawinata, D. A., & Gumay, S. (2008, Oktober-Desember). The Safety and Efficacy of Feracrylum as Compared to Silver Sulfadiazine in the Management to Deep Partial Thickness Burn: A Clinical Study Report. Med J Indones, 17, 259-263.

NPUAP, N. P. (2007). NPUAP Pressure Ulcer Stages/Categories. Retrieved October 2, 2015, from npuap.org: www.npuap.org/resources/educational-and-clinical-resources/npuap-pressure-ulcer-stagescategories

Pardjianto, B., Bakarman, R., Yosef, H., & Hidayat, M. (2007, April).

Penggunaan madu sebagai primary dressing pada luka insisi steril dalam upaya pencegahan parut hipertropik dan keloid. Jurnal Ilmu Bedah

Indonesia (Indonesian Journal Of Surgery) , 34, 31.

Purnasari, P. W., Fatmawati, D., & Yusuf, I. (2012, Juli - Desember). Pengaruh Lendir Bekicot (Achatina fulica) terhadap Jumlah Sel Fibroblas pada Penyembuhan Luka Sayar. 4, 195-201.

Putra, M. A. (2014, Mei). Efektifitas Pemberian Lendir Bekicot 100% (Achantina fulica) dan Sediaan Krim 5% Terhadapt Lama Penyembuhan Luka Bakar

Derajat II (A) Secara In Vivo. Retrieved October 4, 2015, from

digilib.stikeskusumahusada.ac.id:

http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/13/01-gdl-mandalaadh-639-1-artikel-t.pdf

Rulam. (2011, March 30). Penyembuhan Luka. Retrieved October 2, 2015, from http://www.infodiknas.com/penyembuhan-luka-wound-healing

Sabiston, D. C. (1995). Buku Ajar Bedah Bagian I. Jakarta: EGC.

Sadler, D. W. (1999). Wounds II. Retrieved October 4, 2015, from http://dundee.ac.uk/forensicmedicine/notes/woundsdws.pdf

Schwartz, S. I. (2000). Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah (6 ed.). Jakarta: EGC.

Sjamsuhidayat, R. d. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2 (2 ed.). Jakarta: EGC.

Snell, R. S. (2006). Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa. Jakarta: EGC.

Tortora, G. J. (2009). Principles of Anatomy and Physiology Twelfth Edition (12 ed.). United States of America: John Wiley & Sons, Inc.

Tranggono, R. I. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(16)

39

Usman, A. R. (2014). Pengaruh Lendir Bekicot (Achatina fulica) Terhadap Waktu Penutupan Luka Sayat (Vulnus scissum) pada Mencit (Mus musculus). Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako Palu, Palu.

Vij, K. (2011). Wound. In Textbook of Forensic Medicine & Toxicology:

Principles and Practice (5 ed., p. 225). ELSEVIER.

Wasitaatmadja, S. M. (2010). Anatomi Kulit: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin (6 ed.). (M. H. Adhi Djuanda, Ed.) Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Yuthika Aghnia, A. G. (2015). Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015. Retrieved October 4, 2015, from Formulasi Masker Gel Peel-off Lendir Becikot (Achantina Fulica) dengan Variasi Konsentrasi Bahan Pembentuk Gel:http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/viewFile/184 8/pdf

Figur

Tabel 4.3 Uji Beda Rerata Waktu Penyembuhan Luka

Tabel 4.3

Uji Beda Rerata Waktu Penyembuhan Luka p.6
Gambar 2.3 Achatina fulica…………………………………………………...…19

Gambar 2.3

Achatina fulica…………………………………………………...…19 p.7

Referensi

Memperbarui...