ASPEK PERPAJAKAN PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH
Rani Intan
I. PENDAHULUAN
Masalah pengangguran dan kemiskinan masih merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Paradigma pembangunan ekonomi global/makro yang selama ini dipandang sebagai jalan keluar menuju kesejahteraan, kemajuan dan kejayaan justru mengalami kebuntuan, terutama dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Berdasarkan data BPS 2012 tercatat bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 28,6 juta orang dan jumlah pengangguran sebesar 7,3 juta orang. Disamping itu, angkatan kerja baru terus bertambah 2 juta s/d 3 juta orang setiap tahun. Oleh karenanya, perlu dikembangkan pembangunan berbasis pada masyarakat, yang didasarkan pada konsep kewirausahaan yaitu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha ekonomi, mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas terutama di sektor non-pertanian dan meningkatkan keterkaitan antar sektor. Disamping itu, aktivitas wirausaha merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian nasonal karena mampu menyerap tenaga kerja sebesar 107,6 juta pekerja atau sekitar 97 persen dari jumlah pekerja di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (2012) menyebutkan bahwa sebagian besar tenaga kerja berada pada usaha mikro yang mencapai 90 persen.
Namun dari segi rasio antara jumlah pengusaha dengan penduduk, tingkat wirausaha atau pengusaha di Indonesia tergolong masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Pacific. Rasio kewirausahaan dibandingkan penduduk di Indonesia hanya 1:83 sedangkan Filipina 1:66, Jepang 1:25 bahkan
Korea kurang dari 20. Berdasarkan rasio secara internasional, rasio unit usaha ideal adalah 1:20.
Jumlah wirausaha (pengusaha) di Indonesia saat ini 400 ribu jiwa atau kurang dari 1% populasi penduduk Indonesia yang berkisar 200 juta jiwa. Sedangkan menurut McClelland (2000), salah satu faktor yang menyebabkan sebuah negara menjadi maju adalah ketika jumlah wirausahawan (pengusaha) yang terdapat di negara tersebut berjumlah minimal 2% dari populasi penduduknya. Untuk itu, perlu upaya pemerintah untuk menggairahkan iklim ekonomi dan usaha sehingga diharapkan tumbuh pengusaha-pengusaha baru serta memantapkan dan mengembangkan aktivitas usaha bagi para pengusaha atau wirausahawan yang telah terjun di dunia bisnis dan usaha.
Wirausaha di Indonesia merupakan pelaku usaha pada sektor usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah yang ketiganya merupakan kegiatan yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional.
Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir ini walaupun di tengah krisis keuangan dan ekonomi melanda beberapa negara di dunia sejak tahun 2008. Salah satu faktor yang membuat ekonomi Indonesia tidak terpengaruh dengan krisis ekonomi yang melanda dunia kali ini adalah karena adanya usaha yang berskala kecil dan menengah menjadi penunjang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Usaha yang berskala kecil dan menengah hampir tidak terpengaruh bahkan terus bertumbuh dikala dunia tengah menghadapi krisis ekonomi.
banyak masyarakat memulai usahanya tanpa perlu dikhawatirkan dengan kewajiban pembayaran pajak atas pendapatan dari laba usahanya yang cenderung masih belum optimal.
II. PENGUSAHA KECIL PENGELOLA UKM
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau yang lebih dikenal dengan UMKM merupakan jenis usaha yang mendominasi perekonomian Indonesia. Dengan banyaknya pelaku UMKM dan cukup besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor ini, keberadaan UMKM telah menjadi penopang kehidupan ekonomi rakyat. Pemerintah mengatur secara khusus Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ini melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008.
Berikut ini adalah ketentuan mengenai UMKM berdasarkan Undang-Undang No. 20 Th. 2008, khususnya pasal 1 ayat (1), (2) dan (3) serta pasal 6 ayat (1), (2) dan (3):
a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria:
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).
c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif milik yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan dan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil maupun usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang memenuhi kriteria berikut:
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
Definisi Pengusaha Kecil dalam aspek perpajakan sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) dengan jumlah peredaran dan/atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah).
Jika dikaitkan dengan kriteria pengusaha kecil berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, maka yang termasuk Pengusaha Kecil sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perpajakan adalah pengusaha yang bergerak dalam usaha berskala mikro, kecil dan menengah.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak, tidak sedikit pemilik usaha kecil dan menengah yang belum sadar dan belum mematuhi dalam melakukan pembayaran pajak, khususnya pendaftaran untuk mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sampai ke dalam pembayaran pajak terhutang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kesadaran kewajiban pajak oleh pemilik usaha kecil dan menengah diantaranya adalah rendahnya pendidikan para pemilik usaha kecil dan menengah, kurangnya sosialisasi peraturan oleh pihak aparatur pajak dan tingkat kesadaran yang masih rendah dalam melakukan pembayaran pajak.
Adapun peraturan-peraturan yang menjadi dasar hukum perpajakan untuk usaha kecil dan menengah adalah sebagai berikut:
1) UU No. 6 tahun 1983 stdtd UU No. 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum Perpajakan
2) UU No. 7 tahun 1983 stdtd UU No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan 3) UU No. 8 tahun 1983 stdtd UU No. 42 tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan
Nilai
4) UU No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
5) Peraturan pelaksanaan perpajakan yang meliputi Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
Sebagai subjek pajak dalam negeri Indonesia, maka pengusaha UKM harus mematuhi peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia, yaitu sebagai berikut: 1. Bagi pengusaha UKM yang berbentuk perseorangan (orang pribadi):
Apabila pengusaha orang pribadi telah menerima atau memperoleh penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), maka memiliki kewajiban perpajakan sebagai berikut:
a. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dan atau PKP;
UKM yang berbentuk perseorangan setelah memenuhi persyaratan subjektif dan persyaratan objektif wajib mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Syarat-syarat pendaftaran untuk mendapatkan NPWP bagi UKM berbentuk perseorangan hanya KTP (Kartu Tanda Penduduk).
b. Menyetorkan dan Melaporkan Pajak Penghasilan Orang Pribadi dan Pajak lainnya;
UKM perseorangan yang menyelenggarakan pembukuan, wajib membuat laporan keuangan untuk menghitung besarnya Pajak Penghasilan yang terutang. Sedangkan UKM perseorangan yang tidak menyelenggarakan pembukuan tetapi hanya melakukan pencatatan, maka dalam menghitung PPh yang terutang cukup berdasarkan peredaran bruto (omzet) yang dicatat tersebut. UKM perseorangan yang menyelenggarakan pembukuan, dalam menghitung besarnya PPh terutang sama prinsipnya dengan UKM yang berbadan usaha yaitu memperhatikan penghasilan, dan biaya-biaya lainnya. c. Melakukan Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai, menyetor dan
melaporkannya (jika ditunjuk sebagai Pengusaha Kena Pajak);
sebagai pengusaha kecil (600 Juta), wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak berikutnya. Dengan pengukuhan sebagai PKP maka UKM perseorangan terikat pemenuhan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai, yaitu antara lain memungut PPN dari setiap Barang Kena Pajak dan atau Jasa kena Pajak yang diserahkan oleh UKM perseorangan serta menyetor dan melaporkannya setiap bulan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat UKM perseorangan tersebut terdaftar.
2. Bagi pengusaha UKM yang berbentuk badan
a. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dan atau PKP.
Pengusaha UKM yang berstatus badan hukum dan sudah memenuhi syarat subketif dan obyektif sebagai wajib pajak, wajib segera mendaftarkan diri pada kantor pelayanan pajak setempat (KPP) untuk memperoleh NPWP paling lambat 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan. NPWP dipergunakan sebagai identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya yang meliputi; pembayaran pajak, pemotongan pajak dan pemungutan pajak.
Sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi atau kegiatan usaha, Pengusaha wajib melaporkan usahanya pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan sebagai PKP (Pengusaha Kena Pajak). Wajib Pajak pengusaha yang berbentuk Badan yang memenuhi ketentuan sebagai PKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak.
maka tidak dikenakan kewajiban untuk dikukuhkan sebagai PKP. Namun pengusaha tersebut dapat memilih sebagai PKP apabila dikehendaki.
b. Melakukan pemotongan/pemungutan pajak penghasilan (PPh)
UKM yang berbentuk badan usaha wajib melakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana telah ditetapkan dalam undang-undang. Kewajiban pemotongan/pemungutan PPh oleh UKM meliputi jenis pajak sebagai berikut :
1) PPh Pasal 21
Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan. Kewajiban pemotongan PPh Pasal 21 wajib dilakukan UKM yang berbadan hukum, setiap dilakukannya pembayaran penghasilan kepada karyawan atau orang pribadi lainnya dan menyetorkan PPh hasil pemotongan tersebut ke Bank persepsi atau kantor Pos serta melaporkannya ke kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Pajak (KP2KP) tempat UKM terdaftar.
2) PPh Pasal 22
PPh Pasal 22 adalah pajak atas penghasilan yang tertentu yang ditetapkan Menteri Keuangan untuk dipungut Pajak Penghasilannya. UKM yang bergerak di bidang industri tertentu dapat ditunjuk untuk memungut PPh Pasal 22 atas penjualan hasil pertanian, perkebunan dan perhutanan, perikanan dari pedagang pengumpul sebesar 0,25% dari harga pembelian (tidak termasuk PPN). UKM juga dapat ditunjuk sebagai pemungut oleh KPP apabila bergerak sebagai industri tertentu ataupun sebagai penjual produk tertentu misalnya bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas.
PPh Pasal 23 adalah pajak atas penghasilan dari modal dan dari jasa tertentu. Apabila UKM melakukan pembayaran kepada pihak lain yang jenis penghasilan masuk katagori Objek PPh Pasal 23, maka wajib dilakukan pemotongan, menyetorkan hasil pemotongan ke Bank Persepsi dan kantor Pos serta melaporkannya ke KPP atau KP2KP tempat UKM terdaftar. Adapun objek dan tarif PPh Pasal 23 secara garis besar adalah sebagai berikut :
a) Dividen, bunga, royalti, hadiah : tarif 15%
b) Sewa dan penghasilan lain sehubungan penggunaan harta kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan pengggunaan harta yang telah dikenai PPh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) : tarif 2% c) Imbalan jasa selain jasa yang telah dipotong PPh Pasal 21, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU PPh : tarif 2%. Untuk yang tidak berNPWP dipotong 100% lebih tinggi atau menjadi 4%. 4) PPh Pasal 4 ayat (2)
Penghasilan yang diterima UKM yang merupakan objek PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut diatas, termasuk penghasilan dari bunga tabungan/deposito/ diskonto SBI, penghasilan atas bunga dan diskonto obligasi yang diperdagangkan dan atau dilaporkan perdagangannya di Bursa Efek, penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek yang PPh-nya dipotong oleh pihak pemberi penghasilan, wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh dari UKM tersebut. c. Menghitung PPh Badan Yang Terutang, Menyetorkan Pajak Masih Terutang dan
Melaporkan Pajak Penghasilan Baik Dari Pemotongan/Pemungutan Maupun Yang Dibayar sendiri.
UKM yang berbadan usaha wajib membuat laporan keuangan untuk menghitung besarnya PPh yang terutang. Dalam menghitung PPh yang terutang, yang perlu diperhatikan UKM ada 2 (dua) bagian utama, yaitu:
1) Penghasilan yang merupakan objek PPh dan bukan objek PPh yang diterima dan/atau diperoleh UKM
2) Biaya-biaya yang diperkenankan atau tidak diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto.
Berdasarkan Pasal 31 (E) UU PPh, UKM sebagai Wajib Pajak badan yang peredaran brutonya sampai Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliar rupiah) maka mendapat fasilitas pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif umum untuk Wajib Pajak badan atau menjadi 12,5% yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp. 4.800.000.000 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).
d. Melakukan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), menyetor dan melaporkannya jika ditunjuk sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
menurun dalam satu tahun buku tidak melebihi batas yang telah ditetapkan, maka dapat mengajukan permohonan pencabutan pengukuhan sebagai PKP kepada Kepala KPP tempat Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP paling lambat satu bulan sejak berakhirnya tahun buku. Berhubungan pengusaha kecil bukan PKP maka Pengusaha Kecil dilarang membuat faktur pajak dan tidak membuat/memasukkan SPT Masa PPN. Pengusaha kecil diwajibkan membuat pencatatan atau tidak wajib menyelenggarakan pembukuan.
Sanksi tidak melapor sebagai PKP jika batas usaha kecilnya sudah terlampaui adalah apabila diperoleh data dan/atau informasi yang menunjukkan adanya kewajiban perpajakan untuk melapor untuk dikukuhkan sebagai PKP tidak dipenuhi Pengusaha, Direktur Jenderal Pajak dapat mengukuhkan Pengusaha sebagai PKP secara jabatan dan Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan SKP (Surat Keterangan Pajak) dan/atau STP (Surat Tagihan Pajak) untuk Masa Pajak sebelum Pengusaha dikukuhkan secara jabatan sebagai PKP terhitung sejak saat jumlah peredaraan bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah).
Mekanisme perhitungan PPN adalah sebagai berikut: - Pajak Keluaran Rp xxxx
(10% x nilai DPP atas penjualan)
- Pajak Masukan Rp yyyy (-/-) (10% x nilai DPP atas penjualan)
- PPN yang kurang (lebih) bayar Rp zzzz
Perhitungan tersebut dilaporkan dalam SPT Masa PPN setiap bulan dengan menggunakan formulir 1111, formulir 1111DM (bagi PKP omset tertentu atau kegiatan usaha tertentu) atau menggunakan E-SPT DJP yaitu program SPT Masa PPN yang dibagikan secara gratis oleh DJP.
a. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dan atau PKP
Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
Syarat-syarat pendaftaran untuk mendapatkan NPWP bagi UKM berbentuk perseorangan hanya KTP (Kartu Tanda Penduduk).
UKM perseorangan yang sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun buku seluruh nilai peredaran bruto telah melampaui batasan yang ditentukan sebagai pengusaha kecil (600 Juta), wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak berikutnya. Dengan pengukuhan sebagai PKP maka UKM perseorangan terikat pemenuhan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai, antara lain memungut PPN dari setiap Barang Kena Pajak dan atau Jasa kena Pajak yang diserahkan oleh UKM perseorangan serta menyetor dan melaporkannya setiap bulan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat UKM perseorangan tersebut terdaftar.
b. Menyetorkan dan Melaporkan Pajak Penghasilan Orang Pribadi dan Pajak lainnya
UKM perseorangan yang menyelenggarakan pembukuan, wajib membuat laporan keuangan untuk menghitung besarnya Pajak Penghasilan yang terutang. Sedangkan UKM perseorangan yang tidak menyelenggarakan pembukuan tetapi hanya penyelenggarakan pencatatan, maka dalam menghitung PPh yang terutang cukup berdasarkan peredaran bruto (omzet) yang dicatat tersebut. UKM perseorangan yang menyelenggarakan pembukuan, dalam menghitung besarnya PPh terutang sama prinsipnya dengan Koperasi atau UKM yang berbadan usaha yaitu memperhatikan penghasilan, dan biaya-biaya lainnya. UKM perseorangan yang menyelenggarakan pencatatan, cara penghitungan besarnya PPh :
Penghasilan netto (Penghasilan bruto setahun x norma*) Rp AAA
Pengurangnya:
Penghasilan Kena Pajak Rp CCC
Contoh :
Penghasilan Kena Pajak Rp. 200.000.000,00, maka perhitungan pajak terhutangnya : Rp. 200.000.000 x 25% = Rp. 50.000.000
UKM perseorang wajib menyetor PPh Pasal 25 (angsuran PPh) setiap bulannya dan melaporkannya ke KPP atau KP2KP tempat UKM perseorangan tersebut terdaftar. Dasar angsuran PPh Pasal 25 adalah 1/12 dari PPh yang terhutang tahun sebelumnya, misalnya PPh terutang UKM perseorangan tahun 2010 sebesar Rp. 2.400.000, maka angsuran PPh Pasal 25 nya adalah 1/12 x Rp. 2.400.000 = Rp.
200.000,-Selain wajib mengangsur PPh (PPh Pasal 25), UKM perseorangan juga wajib menyetor PPh Pasal 4 ayat (2) yaitu penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan apabila UKM menerima penghasilan tersebut. Demikian juga dengan penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan yang diterima UKM perseorangan (penyewa bukan pemotong), wajib disetor sendiri.
c. Melakukan Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai, menyetor dan melaporkannya (jika ditunjuk sebagai Pengusaha Kena Pajak)
Jika UKM perseorangan melakukan penyerahan Barang Kena Pajak maupun Jasa Kena Pajak dengan peredaran brutonya (omzet) setahun melebihi Rp600.000.000,-(enam ratus juta rupiah), maka koperasi memiliki kewajiban melakukan pemungutan PPN sebesar 10%, serta menyetorkan dan melaporkan PPN yang terhutang setiap bulan. Ketentuan pemungutan PPN untuk UKM perseorangan sama dengan pemungutan PPN untuk Koperasi dan UKM yang berbentuk badan usaha.
PERLAKUAN KHUSUS DAN INSENTIF PERPAJAKAN BAGI
KOPERASI DAN UKM
1. Perlakuan Khusus Perpajakan Untuk Koperasi dan UKM
memberikan perlakukan khusus untuk Wajib Pajak Koperasi dan UKM. Perlakukan khusus tersebut adalah :
1. Atas penghasilan berupa bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi yang besarnya tidak melebihi dari Rp. 240.000,00 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan tidak dikenakan tarif PPh atau 0% (nol persen) dan bersifat final;
2. Sedangkan penghasilan berupa bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi yang besarnya melebihi dari Rp. 240.000,00 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan dikenakan tarif PPh sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final;
3. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan koperasi kepada para anggotanya tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23.
4. Bagi Koperasi dan UKM yang berbentuk badan usaha, tarif PPh badan menjadi tarif tunggal yaitu 25% dan apabila memenuhi syarat (peredaran bruto setahun tidak melebih Rp50.000.000.000) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari 25% atau menjadi 12.5% yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,-;
Insentif Pajak Bagi Koperasi dan UKM
Dalam UU Perpajakan terdapat beberapa ketentuan yang dapat dimanfaatkan Koperasi dan UKM untuk mengembangkan kegiatan usahanya.
a. Insentif PPh
2. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh koperasi dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat, deviden berasal dari cadangan laba yang ditahan (Pasal 4 ayat 3 huruf f UU PPh) bukan merupakan objek PPh. Dengan demikian, apabila Koperasi dan UKM yang berbentuk badan usaha menanamkan modal pada badan usaha lainnya di Indonesia dan menerima dividen dari badan usaha tersebut, maka atas dividen yang diterima tidak dikenakan PPh
b. Insentif PPN
1. Koperasi dan UKM melakukan kegiatan usaha Import dan penyerahan di dalam negeri berupa Barang hasil makanan ternak,unggas dan ikan dan atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, unggas dan ikan, bibit dan atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau perikanan, serta barang hasil peternakan, PPN nya dibebaskan. Dengan demikian, apabila Koperasi dan UKM membeli jenis barang tersebut, tidak akan dikenakan PPN (Peraturan Pemerintah Nomor : 12 Tahun 2001 jo. Peraturan Pemerintah Nomor : 31 Tahun 2007).
2. Koperasi dan UKM yang telah menjadi Pengusaha Kena Pajak melakukan kegiatan menyerahkan minyak goreng sawit curah dan minyak goreng kemasan sederhana dengan Merek MINYAKKITA, PPNnya ditanggung oleh Pemerintah;
3. Koperasi dan UKM melakukan kegiatan usaha (melakukan penyerahan barang dagangan atau jasa) di Batam, Bintan dan Karimun di bebaskan dari pengenaan PPN
termasuk apabila melakukan import barang dari luar daerah tersebut, juga dibebaskan dari PPN, PPh Pasal 22 import dan cukai (Peraturan pemerintah Nomor 2 tahun 2009);
c. Stimulus Bagi Koperasi dan UKM
diberikan kepada pekerja (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.03/2009) dengan syarat:
1. Jumlah penghasilan bruto tidak lebih dari Rp 5 juta dalam satu bulan;
2. Bekerja pada pemberi kerja yang berusaha kategori usaha tertentu, yaitu:
• Pertanian termasuk perkebunan dan peternakan, perburuan dan kehutanan;
• Perikanan; dan
• Industri pengolahan.
PENUTUP
Koperasi dan UKM sejak memperoleh status badan hukum, sudah memenuhi syarat subketif dan obyektif sebagai wajib pajak oleh karena itu sejak adanya pengesahan badan hukum baik koperasi dan UKM yang bersangkutan harus segera mendaftrakan diri pada kantor pelayanan pajak setempat (KPP) untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Demikian juga Koperasi dan UKM yang bergerak dibidang penjualan dan jasa apabila telah memenuhi persyaratan sesuai dengan Undang-Undang PPN, sebaiknya juga segera mendaftarkan diri di KPP setempat untuk memperoleh Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP). NPWP merupakan identitas sebagai wajib pajak.
Setelah memiliki NPWP dan NPPKP Koperasi dan UKM mempunyai kewajiban Perpajakan yaitu :
1. menghitung sendiri pajak terhutang,
2. memotong atau memungut PPh dan PPN terutang
3. menyetor sendiri pajak ditempat yang telah ditentukan,
Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan