MENERUSKAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USI

Teks penuh

(1)

MENERUSKAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI Muhammad Gus Nur Wahid1

Abstrak

Seperti yang kita saksikan di berbagai media, kasus asusila sering menjadi pemberitaan utama. Kasus pelecehan seksual terhadap anak menjadi tranding topic dalam berita tersebut. pendidikan seksual merupakan pengajaran yang berhubungan dengan perilaku seksual, perkawinan, psikososial masyarakat, aspek-aspek kesehatan seksual, perkembangan seksual, serta sistem reproduksi pada manusia. Pendidikan seksual juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seksual, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang akan muncul. pendidikan seks untuk anak adalah tindakan preventif. Namun arah pendidikan bagi mereka diposisikan berbeda dengan bimbingan seksual bagi usia baligh. Pada fase baligh, aktivitas seksual adalah realita yang niscaya dan tidak bisa dihindari. Aktivitas seks pada usia baligh bukan lagi sebagai aktivitas yang kosong dari rasa lezat. Berbeda dengan aktivitas seksual pada masa anak-anak. Pemahaman pendidikan seks di usia dini ini diharapkan anak agar anak dapat memeroleh informasi yang tepat mengenai seks.

Kata Kunci: Meneruskan Pendidikan Seksual pada Anak, Pendidikan Seksual pada anak Usia Dini.

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman mengakibatkan masuknya berbagai arus informasi di negara Indonesia semakin tidak terkendali. Berbagai informasi tersebut masuk melalui media cetak maupun elektronik. Penyalahgunaan media tersebut dapat mengakibatkan hal buruk bagi penggunanya sehingga perlu adanya pemilahan terhadap informasi yang diakses.

(2)

moral yang terjadi adalah maraknya kasus asusila yang hampir setiap hari muncul di berbagai berita.

Seperti yang kita saksikan di berbagai media, kasus asusila sering menjadi pemberitaan utama. Kasus pelecehan seksual terhadap anak menjadi tranding topic dalam berita tersebut. Melihat fenomena ini sangat miris dimana anak yang nantinya menjadi penerus bangsa dalam menegakkan kedaulatan harus terputus semangatnya karena trauma yang dialami. Penyebab lain dari maraknya kasus asusila adalah mudahnya anak usia sekolah mengakses video porno. Media elektronik seperti handphone menjadi faktor utama dalam mengakses video tersebut baik itu secara manual (berbagi lewat bluetooth) maupun secara online. Dari video yang ditonton sudah jelas mereka akan tertarik melakukan hubungan seks yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri. Hubungan itu bisa saja dilampiaskan pada teman sebaya maupun anak-anak yang lebih kecil dari mereka dengan menggunakan cara-cara fisik maupun kekerasan.2

Dari fenomena seperti ini pendidikan seks menjadi salah satu solusi untuk mengentaskan permasalahan yang berkaitan dengan seks. Abdullah Nashih Ulwan mengemukakan bahwa pendidikan seks adalah daya tarik menarik antara satu sama lain. Kerinduan belahan yang satu dengan belahan lainnya untuk mencapai keutuhan dorongan dasar yang dibenarkan. Seks juga dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lain, yakni melanjutkan kehidupan manusia dengan melahirkan keturunan (prokreasi).3

Berbagai masalah yang dialami oleh anak seringkali orang tua bersikap acuh. Mereka berpendapat bahwa pada zaman dahulu tidak ada yang disebut pendidikan seks.45 Mereka menganggap bahwa pendidikan seks tidak penting untuk disampaikan atau diajarkan pada anak usia sekolah dasar. Demikian juga masyarakat secara luas menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya pada hal-hal yang negatif saja, padahal pendidikan seks sebenarnya mempunyai dampak positif untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak menuju remaja. Oleh karena itu, pendidikan seks perludi mulai pada saat seorang anak 2 Istanti Surviani, Membangun Anak Memahami Seks: Panduan Praktis Untuk Orang Tua, (Bandung: Pustaka Alimuddin, 2004), hal. 47.

3 Abdullah Nashih Ulwan dan Hassan Hathout, Pendidikan seks Menurut Islam ;Pendidikan Seks, (Bandung: PT Rosdakarya, 1992), hal. 129

(3)

mulai bertanya mengenai seks, misalnya mengapa alat kelaminnya berbeda dengan alat kelamin yang dimiliki saudaranya.5

Di sisi lain Yusuf Madani memandang salah satu dari penyebab berkembangnya perilaku seks menyimpang adalah kemiskinan. Rendahnya tingkat ekonomi rumah tangga sesekali menjadi penyebab utama dan penghambat dalam melaksanakan beberapa kaidah tentang pendidikan seks bagi anak dalam lingkungan keluarganya. Bagaimanapun proses pendidikan seks itu sendiri memerlukan materi yang cukup seperti pengadaan tempat tidur yang memadai, pakaian, buku-buku agama yang bisa membangkitkan perasaan beragama seperti buku-buku tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan aurat, dan bersuci.6

Dari uraian di atas peneliti sangat prihatin atas perkembangan anak yang seringkali merasa dihantui dengan fenomena-fenomena kejahatan seksual. Sebagai bagian dari civitas akademika peneliti merasa perlu melakukan penelitian terhadap pendidikan seks bagi anak. Oleh sebab itu saya akan menulis sebuah jurnal dengan judul: “Meneruskan Pendidikan Seks pada Anak.

B. Kajian Pustaka

1. Pengertian Pendidikan Seksual

Menurut Dariyo, kata seks berati jenis kelamin, segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin disebut dengan seksualitas7. Menurut Gunarsa, istilah umum seksualitas sering disamakan dengan seks. Seksualitas memiliki arti yang lebih luas, seksualitas tidak hanya berkaitan dengan jenis kelamin saja, namun berkaitan dengan perbedaan segi psikis, biologis dan fisiologis yang menandakan ciri khusus laki-laki dan perempuan.8

Menurut Depkes RI (2002) dalam Marmi, seksualitas adalah karakteristik biologis-anatomisal (khususnya sistem reproduksi dan hormonal) diikuti dengan karakteristik

5 Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis, h. 57.

6 Yusuf Madani, Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam : Penduan bagi Orang Tua,Ulama, Guru dan Kalangan Lainnya (Irwan Kurniawan. Terjemahan). (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hal. 59.

7 Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Remaja. (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.2004),h. 87.

8 Gunarsa, Singgih dan Gunarsa, Yulia Singgih. Psikologi untuk Muda Mudi ( Jakarta:

(4)

fisiologis tubuh yang menentukan seseorang disebut laki-laki atau perempuan9. Sedangkan, menurut Sulistyo, sexual instruction adalah penerangan mengenai anatomi dan biologi dari reproduksi, termasuk pembinaan keluarga dan metode-metode kontrasepsi.10

Sedangkan education in sexuality meliputi bidang-bidang etik, moral fisiologi, ekonomi dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang dibutuhkan seseorang untuk dapat memahami dirinya sendiri sebagai individu, serta untuk mengadakan hubungan interpersonal yang baik.

Menurut Sarwono (1997), pendidikan seksual merupakan pengajaran yang berhubungan dengan perilaku seksual, perkawinan, psikososial masyarakat, aspek-aspek kesehatan seksual, perkembangan seksual, serta sistem reproduksi pada manusia. Pendidikan seksual juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seksual, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang akan muncul, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, serta depresi sebagai dampak psikologisnya. Pendidikan seksual meliputi bidang-bidang sebagai berikut:

a. Biologi dan fisiologi, mengenai fungsi reproduksi. b. Etik, yang menyangkut kebahagiaan seseorang.

c. Moral, yaitu menjalin relasi dengan orang lain misalnya dengan parternya atau anak-anaknya.

d. Sosiologi, yaitu mengenai pembentukan keluarga.

Sex Instruction tanpa education in sexuality dapat menyebabkan promiscuity (seks menyimpang) serta hubungan-hubungan seksual yang tidak bertanggung jawab. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Rusia dan Swedia, pendidikan seksual berkaitan dengan tanggung jawab dari aktivitas seksual terhadap masyarakat sulit diajarkan di sekolah-sekolah, tanpa adanya latar belakang keluarga yang bahagia.

Berdasarkan teori psikoanalisa dari Sigmund Freud, pendidikan seksual sudah dimulai sejak seorang bayi lahir, yaitu sejak adanya hubungan pertama antara anak dengan orang tuanya, dan yang paling menentukan adalah keadaan serta lingkungan yang dialami si bayi pada dua tahun pertama dari kehidupannya. Tahun-tahun permulaan ini menentukan sifat-sifat seorang bayi dan juga menjadi dasar bagi interpersonal relationshipnya dikemudian hari.

(5)

Menurut Goble, jelas bahwa seorang anak yang mendapatkan kasih sayang yang cukup semasa kecil, lebih mudah tumbuh sehat (fisik dan mental) dibandingkan yang tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup.11 Bukti yang menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bahagia, dikemudian hari dapat membentuk perkawinan dan keluarga yang bahagia pula, yang dapat diberikan di sekolah ialah sex in instruction disertai pendidikan mengenai moral, etik, kejujuran, tanggung jawab, perlunya mempertimbangkan perasaan orang lain dalam setiap tindakan12

Jadi, pendidikan seksual secara umum adalah upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis dan psikososial sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan kata lain, pendidikan seksual pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan komitmen agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi.

2. Tujuan Pendidikan Seksual

Munculnya hormon seksualitas pada remaja menyebabkan dorongan-dorongan seksual tertentu. Gejala ini menimbulkan kebingungan, remaja belum tentu tahu tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengelolanya. Untuk itu perlu informasi yang tepat, perlu bimbingan yang bijaksana, diperlukan pendidikan seksual sehingga kehidupan remaja bisa berjalan dengan baik.

Matangnya organ reproduksi pada remaja menyebabkan gairah seksualnya semakin kuat. Ditengah banyaknya media cetak dan elektronik yang menyampaikan informasi secara bebas, remaja memahami secara apa adanya pula. Menurut Piaget dalam Dariyo, walaupun remaja telah mencapai kematangan secara kognitif, namun pada kenyataannya belum mampu mengolah informasi yang diterima secara benar. Akibatnya perilaku seksual remaja sering tidak terkontrol, menyebabkan maraknya pacaran hingga seks bebas di kalangan remaja.13

11 Goble, Frank G. Madzhab Ketiga; Psikologi Humanistik Abraham Maslow. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), h. 109.

12 Sulistyo, Rono. Pendidikan Sex, h. 20.

(6)

Berdasarkan hal tersebut, maka disinilah peran pendidikan seksual. Tujuan dari pendidikan seksual secara umum tidak hanya mencegah dampak negatif dari perilaku seksual diusia dini, tetapi lebih menekankan pada kebutuhan akan informasi yang benar dan luas tentang perilaku seksual yang sehat serta berusaha memahami seksualitas sebagai bagian penting dari kepribadian yang menyeluruh. Pendidikan seksual membantu remaja mengetahui tentang penyakit-penyakit yang akan timbul akibat hubungan seksual tidak sehat sekaligus upaya pencegahannya. Selain itu, menurut Hurlock. pendidikan seksual perlu diketahui remaja untuk mengetahui peran seksual sebagai salah satu tugas perkembangannya. 14Ia perlu menjalin relasi dengan lawan jenis, dan berperilaku lurus sejalan dengan jenis kelaminnya.Menurutnya, banyak remaja yang mendapatkan tekanan dari lingkungannya untuk memerankan hal tersebut secara berlawanan.

Tujuan penting lainnya adalah untuk menghindari aktivitas seksual yang tidak sehat, prematur, hubungan seksual yang tidak aman, kekerasan dan pelecehan seksual dan juga untuk mensosialisasikan pandangan positif tentang seksual. Memahami seksual secara positif bukan berarti menginginkan untuk melakukan hubungan seksual tetapi lebih pada bagaimana mempunyai pemahaman dan sikap positif terhadap seksual.

C. Materi Pendidikan Seksual

Materi pendidikan seksual sangat beragam, berbeda-beda satu dengan lain. Menurut Wahyudi (2000) umumnya meteri pendidikan seksual adalah sebagai berikut:

Menurut Hurlock, kata pubertas berasal dari bahasa Latin yang berarti usia kedewasaan. Kata ini menunjuk pada perubahan fisik daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara seksual menjadi matang dan mampu bereproduksi.15

Menurut Santrock (1999) dalam Dariyo (2004), mendefinisikan pubertas sebagai masa pertumbuhan dan kematangan seksual yang terjadi pada masa awal remaja. Pubertas adalah masa perkembangan fisik yang cepat ketika reproduksi seksual pertama kali terjadi. Dengan kata lain, pubertas merupakan pertama kali seorang laki-laki dan seorang perempuan mampu bereproduksi secara fisik.

14 Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ridwan Max Sijabat (Ed). Terjemahan oleh: Istiwidayanti & Soedjarwo. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996), h. 230.

(7)

Umumnya istilah pubertas dan remaja digunakan untuk maksud yang sama. Istlilah yang lebih tepat digunakan adalah pubertas, ketika membicarakan tentang beberapa perubahan fisik yang terjadi selama masa pra remaja dan masa remaja. Pada masa kanak-kanak, baik laki-laki maupun perempuan, kelenjar yang mempengaruhi organ seksual (hopotalamus, hipofise) tidak aktif. Pada saat memasuki kematangan seksual, hipotalamus menstimulasi kelenjar hipofise untuk menghasilkan hormon. Selanjutnya, hormon tersebut akan menstimulasi produksi hormon seksual pada ovarium maupun testis. Masa dimana ovarium maupun testis sudah menghasilkan hormon yang dikenal sebagai masa puber (puberty period), masa dimana organ seksual laki-laki dan perempuan mulai berfungsi 16

Perubahan tanda-tanda seksualitas yang terlihat secara fisik yang terjadi pada remaja terbagi menjadi 3 yaitu primer, sekunder dan tertier. Seorang guru atau psikolog dapat menjelaskan secara rinci mengenai tanda-tanda seksualitas tersebut kepada remaja, agar ia mengetahui dan mempersiapkan psikisnya dengan perubahan fisiknya yang akan atau sedang terjadi.

D. Pendidikan Seks Anak Dalam Islam

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengubahan cara berpikir atau tingkah laku dengan cara pengajaran, penyuluhan, dan latihan-latihan.17 Hasil dari pendidikan yang dilakukan diharapkan mampu membaawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi peserta didik. pendidikan Islam pada hakikatnya adalah pendidikan yang berdasarkan atas dasar Al-Qur‟an dan sunnah rasul yang bertujuan untuk membantu perkembangan manusia menjadi lebih baik. Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah (bertauhid)18.

Islam sebagai sebuah agama yang menjujung nilai-nilai pendidikan sangatlah menganjurkan kepada orang tuanya untuk senantiasa memberikan bekal pendidikan pada anaknya mulai dari dalam kandungan sampai anak mencapai usia akil-balig (akalnya sampai). Salah satu pendidikan yang wajib diberikan orang tua kepada anaknya adalah pendidikan seks. Hal ini perlu dilakukan karena akan memberikan pengaruh besar terhadap perilaku anak dikemudian hari. Pada hakikatnya pendidikan seks harus diberikan kepada

16 Windhu, Siti Candra. Disfungsi Seksual; Tinjauan Fisiologis dan Patologis terhadap Seksualitas. (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2009), h. 2.

17 Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Edisi Pertama, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hal. 353.

(8)

anak-anak dengan cara bertahap, dimulai dari dengan hal-hal yang sangat mendasar, dan dilanjutkan pada tahap berikutnya19.

Hal tersebut perlu dilakukan karena setiap anak memiliki perkembangan psikologis yang berbeda pada setiap usianya. Menurut Islam, pendidikan seks tidak dapat dipisahkan dari agama dan bahkan harus sepenuhnya dibangun di atas landasan agama. Dengan mengajarkan pendidikan seks yang sedemikian rupa, diharapkan akan terbentuk individu yang menjadi manusia dewasa dan betanggung jawab, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini dimaksudakan supaya individu tersebut mampu berperilaku sesuai jenisnya, dan bertanggung jawab terhadap kesuciannya, serta dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya20.

Islam memperhatikan bimbingan seksual bagi berbagai kelompok umur. Mengingat hal tersebut merupakan bagian dari program pendidikan yang integral, maka permulaan bimbingan ini berbeda antara satu fase dengan fase lainnya. Dan dalam hal ini kelurga merupakan aktor utama dalam melakukan bimbingan seksual terhadap anak.

Sesungguhnya pendidikan seks untuk anak adalah tindakan preventif. Namun arah pendidikan bagi mereka diposisikan berbeda dengan bimbingan seksual bagi usia baligh. Pada fase baligh, aktivitas seksual adalah realita yang niscaya dan tidak bisa dihindari. Aktivitas seks pada usia baligh bukan lagi sebagai aktivitas yang kosong dari rasa lezat. Berbeda dengan aktivitas seksual pada masa anak-anak.

Sehubungan dengan itu, Islam meletakkan etika-etika yang sempurna untuk mengarahkan potensi seksual kita. Etika-etika dalam hal aktivitas seks mencakup hukum-hukum taklif yang haram,sunah,dan makruh.

Adapun, pada masa anak-anak, karena kondisi tertentu, perilaku seksual pada diri mereka menampakkan suatu peniruan atau keingintahuan belaka. Perilaku seks mereka tidak disertai dengan rangsangan hasrat seksual yang sejatiya sebagaimana biasa melanda usia baligh karena telah mencapai kematangan seks. Dengan demikian, langkah-langkah penataan yang diberikan Islam pada fase ini haya berupa tuntunan yang bersifat preventif

19 Muhammad Syarif Al Shawwaf, Abg Islami : Kiat-kiat Efektif Mendidik Anak dan Remaja, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2003), hal. 210.

(9)

untuk meyongsong perubahan-perubahan biologis yang terjadi pada masa pertumbuhan berikutnya.

Islam menganjurkan agar anak mumayiz dilatih untuk minta izin (isti‟dzan) ketika memasuki kamar orang dewasa pada tiga waktu berdasarkan tuntunan Al-Qur‟an sebagaimana firman Allah SWT.

                                                       

“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu(ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. an-Nur : 58).21

Tidak perlu tabu membicarakan seks da-lam keluarga. Karena anak perlu mendapatkan informasi yang tepat dari orang tuanya, bukan dari orang lain tentang seks. Karena rasa ingin tahu yang besar, jika anak tidak dibekali pendi-dikan seks, maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain, dan akan lebih mena-kutkan jika informasi seks didapatkan dari teman sebaya atau internet yang informasinya bisa jadi salah. Karena itu, lindungi anak-anak sejak dini dengan membekali mereka pendidik-an mengenai seks dengan cara yang tepat. Ilma-wati (2014), psikolog, pemerhati masalah anak dan remaja di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterap-kan dan diajarkan kepada anak di antaranya adalah sebagai berikut22.

Pertama, menanamkan rasa malu pada anak. Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau ma-sih kecil, bertelanjang di depan orang lain;

21 Depag RI, Al-Qur‟an dan Tarjamah, (Q.S. an-Nur : 58), hal. 554.

(10)

mi-salnya, ketika keluar kamar mandi, berganti pa-kaian, dan sebagainya. Membiasakan anak pe-rempuan sejak kecil berbusana muslimah menu-tup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

Kedua, menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan. Secara fisik maupun psikis,laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun se-mata-mata karena fungsi yang berbeda yang ke-lak akan diperankannya.

Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap ter-jaga. Islam menghendaki agar laki-laki memi-liki kepribadian maskulin, dan perempuan memi-liki kepribadian feminin. Islam tidak menghen-daki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari ke-cil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka juga harus diperlakukan se-suai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah Saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki (HR al-Bukhari).

Ketiga, memisahkan tempat tidur mereka. Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mu-lai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak ti-dak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang ek-sistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orang tuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani man-diri. Anak juga dicoba untuk belajar melepas-kan perilaku lekatnya (attachment behavior) de-ngan orang tuanya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksis- tensi perbedaan jenis kelamin.

(11)

                           

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, Maka Kembalilah kamu". dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : "Sesungguhnya rumah-rumah Kami terbuka (tidak ada penjaga)". dan rumah-rumah-rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.

Selain itu Muhammad ibnu Abdul Hafidz Suwaid, menambahkan, tidur dengan posisi miring di atas lambung kanan, menjauhkan anak dari ikhtilat, mengajarkan mandi wajib dan sunah-sunahnya bagi anak yang menginjak dewasa, menjelaskan mukadimah surah An-Nur dan menghafalkannya bagi anak yang menginjak dewasa, memberikan penjelasan masalah seks dan perzinahan, memeberikan penjelasan terkait pernikahan dini, dan yang terakhir memnjelaskan tanda-tanda baligh.23

Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak, mereka akan menjadi anak yang me- miliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur. Kelima, mendidik menjaga kebersihan alat kelamin. Mengajari anak untuk menjaga keber-sihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training). Dengan cara ini, akan terbentuk pada diri anak sikap hati- hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu me-nguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang mem- perhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

E. Kesimpulan

Pemahaman pendidikan seks di usia dini ini diharapkan anak agar anak dapat memeroleh informasi yang tepat mengenai seks. Hal ini di-karenakan adanya media lain yang dapat meng- ajari anak mengenai pendidikan seks, yaitu me-dia informasi. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, diharapkan dapat menghindar-kan anak dari risiko negatif perilaku seksual mau- pun perilaku menyimpang. Dengan sendirinyaanak diharapkan akan tahu mengenai seksuali- tas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa me-matuhi

(12)

aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta dampak penyakit yang bisa ditimbulkan dari penyimpangan tersebut.

F. Daftar Pustaka:

Abdullah Nashih Ulwan dan Hassan Hathout, Pendidikan seks Menurut Islam ;Pendidikan Seks, Bandung: PT Rosdakarya, 1992.

Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.2004. Depag RI, Al-Qur‟an dan Tarjamah, Q.S. an-Nur : 58.

Goble, Frank G. Madzhab Ketiga; Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994.

Gunarsa, Singgih dan Gunarsa, Yulia Singgih. Psikologi untuk Muda Muda, Jakarta: Penerbit Libri. 2012.

Habib Thaha, Kapita Selekta Pendidkan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ridwan Max Sijabat (Ed). Terjemahan oleh: Istiwidayanti & Soedjarwo. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996.

Istanti Surviani, Membangun Anak Memahami Seks: Panduan Praktis Untuk Orang Tua, Bandung: Pustaka Alimuddin, 2004.

Marmi, Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Muhammad ibnu Abdul Hafidz Suwaid, Cara Nabi Mendidik Anak, Jakarta: Al-Ithishom, 2004.

Muhammad Syarif Al Shawwaf, Abg Islami : Kiat-kiat Efektif Mendidik Anak dan Remaja, Bandung: Pustaka Hidayah, 2003.

Nina Surtiretna, Bimbingan Seks Bagi Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001. Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Edisi Pertama,

Jakarta: Modern English Press, 1991.

Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1995.

(13)

Tri Endang Jatmikowati, Ria Angin, dan Ernawati, Model dan Materi Pendidikan Seks Anak Usia Dini Perspektif Gender untuk Menghindarkan Sexual Abuse, Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3, FKIP Universitas Muhammadiyah Jember, email: triendang@unmuhjember.ac.id.

Windhu, Siti Candra. Disfungsi Seksual; Tinjauan Fisiologis dan Patologis terhadap Seksualitas. Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2009.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...