1
1
MENGENAL REZIM HUKUM WTO DAN HUKUM
HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL*
___________________________________________________________________________
Sarah Joseph
Dalam bagian pembukaan ini, World Trade Oragnisation (WTO) dan rezim Hak Asasi Manusia (HAM) internasional akan diulas dan dijelaskan. Mengingat bagian-bagian berikutnya akan memfokuskan diri pada regulasi dan jalannya proses di dalam WTO secara lebih detail, dalam bagian pendahuluan ini akan lebih banyak ruang dikhususkan terkait dasar-dasar hukum HAM internasional. Perhatian khususnya dititikberatkan pada hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Ekosob), karena semua itu kurang dipahami dengan baik ketimbang hak-hak lainnya oleh mereka yang tidak memiliki penguasaan materi-materi dalam HAM.
1. World Trade Organization (WTO)
Asal mula berdirinya WTO terjadi ketika muncul keinginan mengatur ekonomi global setelah Perang Dunia Kedua. Perwakilan dari kelompok Sekutu melakukan pertemuan di Bretton Woods di New Hampshire pada tahun 1944 untuk merancang cetak biru bagi perekonomian global paska perang. Patut diakui bahwa ketidakstabilan ekonomi selama terjadinya Depersi Besar (the Great Depression) secara global pada tahun 1930-an telah menyebabkan kesengsaraan umat manusia yang teramat memilukan dan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya Perang.1 Konferensi Bretton Woods
2
mempertimbangkan tiga pilar untuk menstabilkan dan memperkuat ekonomi global yang baru, terdiri dari Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (the International Bank for Reconstruction and Development/IBRD), Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), dan Organisasi Perdagangan Internasional (the International Trade Organisation/ITO).
IBRD bertugas memberi pembiayaan untuk rekonstruksi ke banyak negara yang hancur karena perang. IRBD selanjutnya berkembang menjadi salah satu dari lima lembaga di bawah the World Bank Group, dengan misinya saat ini berubah menjadi penyedia finansial dalam membiayai pembangunan dan memerangi kemiskinan di negara-negara berkembang. Secara umum, Grup Bank Dunia sekarang ini mempromosikan program reformasi ekonomi mikro, kebanyakan di negara-negara berkembang, dengan cara menyediakan pembiayaan, misalnya pembiayaan untuk proyek-proyek pembangunan infrastruktur (contohnya: pembangunan waduk, jaringan pipa), dan gerakan anti korupsi dan reformasi tata kelola pemerintahan.
Regulasi IMF telah dan, sekarang dibuat untuk mendorong stabilitas ekonomi makro dalam nilai tukar global dan neraca perdagangan. Organisasi ini menyediakan pinjaman jangka pendek bagi negara-negara yang mengalami krisis ekonomi untuk menstabilkan perekonomiannya kembali guna mencegah dampaknya terhadap ekonomi global.
ITO dimaksudkan untuk mengawasi aturan main perdagangan internasional dan mempromosikan perdagangan bebas antar negara, dalam rangka untuk menjaga terulangnya kebijakan proteksionis masing-masing negara yang berkontribusi pada terjadinya Great Depression. Selanjutnya, pembinaan hubungan perdagangan internasional dapat diprediksi, penegakan aturan main perdagangan dunia yang diterapkan diharapkan mampu membantu mendorong hubungan internasional yang damai. Piagam Havana (Havana Charter) sendiri telah menginisiasi pendirian ITO tetapi kandas pada tahun 1948. Sejak saat itu, ITO kandas yang sebagian besar disebabkan oleh penolakan Amerika Serikat untuk meratifikasi Piagam Havana.2
1 James Harrison, The Human Rights Impact of the World Trade Organisation (Hart, Oxford,
2007) 9.
2 Amrita Narlikar, The World Trade Organization: A Very Short Introduction (Oxford
3
Salah satu perjanjian perdagangan, the General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1947, tidak mampu memerankan diri lagi sebagai perjanjian yang relatif adil di antara negara-negara anggota. GATT sendiri membuat sistem dimana Negara-Pihak harus berkomitmen untuk 'terikat' tarif terkait barang impor.
Perberlakuan prinsip tarrif binding (pengenaan tarif bea masuk komoditi impor oleh suatu negara) diberlakukan sebagai payung hukum mengingat pengenaan tarif barang impor oleh suatu negara tidak bisa dihindari. Setiap negara memiliki seperangkat aturan terkait tarrif binding yang berbeda-beda, yang disepakati secara Konsesi, dan diterapkan ke semua produk impor dari negara-negara lain sesuai dengan prinsip Most Favoured Nation (MFN) sebagaimana dalam Pasal I. Prinsip MFN mensyaratkan Negara-Pihak untuk memperlakukan setiap barang yang masuk dari setiap negara partisipan WTO lainnya sama.3 Perlakuan Nasional National Treatment/NT yang bersifat komplementer dalam Pasal III, mewajibkan Negara-Pihak dalam memperlakukan barang impor sama seperti dengan barang sendiri setelah barang impor tersebut sah memasuki pangsa pasar negara pertisipan (misalnya, setelah barang impor tersebut telah memenuhi tarif bea impor atau persyaratan lintas-batas lainnya). Prinsip utama ketiga adalah transparansi (transparency) yang disyaratkan kepada negara partisipan dalam membuat regulasi perdagangannya.4 Pasal XI melarang pembatasan kuantitatif, seperti pemberlakuan batas kuota impor dan ekspor. Pengecualian pemberlakuan batasan ini diperbolehkan GATT, khususnya disinggung dalam Pasal XX, jika sejauh dalam rangka untuk melindungi seperangkat nilai-nilai sosial. GATT juga memiliki sistem penyelesaian sengketa. Sengketa diselesaikan melalui lembaga Panel GATT. Keputusan Panel tersebut harus disetujui dengan suara bulat. Artinya, Negara-Pihak bisa saja kalah dan [berkeharusan] mengadopsi sekumpulan rekomendasi Panel GATT tersebut.5
Dengan runtuhnya ITO, keanggotaan GATT berubah menjadi forum untuk menegosiasikan lebih lanjut terkait aturan-aturan perdagangan bebas.
3 MFN tunduk pada pengecualian seperti serikat kepabeanan (misalnya Uni Eropa) dan
zona perdagangan bebas (Lihat Pasal XXIV GATT).
4 Caroline Dommen, Raising Human Rights Concerns in the World Trade Organization:
Actors, Processes and Possible Strategies Human Rights Quarterly 1, 11.
5 Vázquez mencatat bahwa terdapat ketentuan yang lebih baik dalam sistem GATT meski
ada ada juga kelemahan yang cukup jelas sebelum adanya WTO, lihat dalam Carlos Manuel
4
aturan ini dikembangkan melalui berbagai Putaran (Round) negosiasi, yang berpuncak pada Putaran Uruguay (Uruguay Round: 1986-1994) yang menjadi cikal bakal berdirinya lembaga WTO. Dalam Marrakesh Agreement disepakati pendirian WTO pada tahun 1994 yang mengubah GATT dari forum negosiasi provisional yang diselenggarakan bersama berdasar perjanjian multilateral ke lembaga WTO, sebagai organisasi internasionalnya. Pada saat penulisan buku ini, ada 153 negara anggota WTO. Lembaga ini berbasis di Jenewa, Swiss.6
Putaran Uruguay menyepakati serangkaian Perjanjian yang akan dipantau dan diawasi oleh WTO. Setiap Negara peserta GATT akan menjadi Anggota WTO, dan diminta mematuhi semua Perjanjian WTO sebagai upaya satu-satunya tanpa syarat.7 Persetujuan Anggota juga diartikan setuju untuk diminta mendaftar ke dalam seluruh paket aturan, seringkali paket aturan berisi konten kewajiban-kewajiban tambahan.8
Perjanjian-perjanjian dalam WTO secara signifikan memperluas mandat dan pengaruhnya lebih luas dibanding pendahulunya GATT. GATT hanya berfokus pada perdagangan barang dan sebagian besar memfokuskan diri pada satu masalah yang menghambat perdagangan, tarif bea masuk.9 Skema tarif di bawah Perjanjian WTO lebih komprehensif dibanding skemanya di bawah GATT dalam hal jumlah dan jenis barang yang tercakup. Misalnya, perdagangan barang pertanian sekarang tercakup dalam the Agreement on Agriculture (AoA), sementara perdagangan tekstil dan pakaian diatur di bawah the Agreement on Textiles and Clothing (ATC).10 Selain itu, WTO juga memfokuskan diri pada hambatan bersifat non-tarif. Misalnya, the Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) menyangkut
6 Tulisan berikut ini tentang WTO diadaptasi dari tulisan Sarah Joseph, Trade to Live or
Live to Trade: The World Trade Organization, Development, and Poverty in Mashood Baderin and Robert McCorquodale (ed), Economic, Social and Cultural Rights in Action
(Oxford University Press, Oxford, 2007) 389–416.
7 Ada dua kesepakatan secara plurilateral, yang hanya mengikat negara-negara yang
sukarela meratifikasinya, mengenai penerbangan komersil dan non komersil; dua berikutnya terkait pengadaan daging sapi dan produk susu yang sekarang telah berakhir. Ada juga beberapa fleksibilitas dalam perjian plurilateral yang umum dalam WTO, seperti kemampuan negara untuk memilih langkah liberalisasi di bawah ketentuan the General Agreement on Trade in Services.
Beberapa traktat dalam WTO secara eksplisit juga memungkinkan adanya provisional asalkan pihak lainnya menyetujui. Penulis tidak menguasai setiap ketersediaan hal tersebut dalam traktat WTO.
8 Lihat Bagian 5, teks dalam catatan kaki 89–100.
9 Beberapa regulasi terkait hambatan non-tarif diterapkan secara plurilateral
10 Perjanjian ini kadaluarsa per 1 Januari 2005. Tekstil dan pakaian sekarang menurut
5
langkah-langkah domestik yang dirancang untuk melindungi keberlangsungan kehidupan manusia, hewan atau hayati, ataupun kesehatan. The Agreement on Technical Barriers to Trade (TBT) menyangkut ketentuan mandat untuk negara domestik mengenai berbagai hal, termasuk di antaranya pemberian label, kemasan, proses produksi, dan karakteristik produk lainnya. SPS dan TBT mengatur sejauh mana standar-standar tersebut akan membatasi perdagangan internasional..11 Regulasi investasi Asing sendiri diatur di bawah the Agreement on Trade Related Aspects of Investment Measures (TRIMs). Aturan dalam GATT sendiri juga dipertahankan, termasuk di antaranya prinsip-prinsip kunci MFN dan NT, dan prinsip-prinsip dan regulasi diperluas dan telah diklarifikasi dalam GATT 1994, dan Perjanjian tentang Pemeriksaan Pra-Pengapalan (Pre-Shipment Inspection), Ketentuan Asal (Rules of Origin), dan Prosedur Perizinan Impor. Perjanjian tentang pelaksanaan Pasal VI (tentang anti-dumping)12 dan Perjanjian Subsidi dan Tindakan Balasan terhadap Subsidi (Subsidies and Countervailing Measures/SCM Agreement) menyediakan sarana bagi setiap anggota untuk bisa melawan praktek-praktek perdagangan tidak adil tertentu. Sedangkan Perjanjian Pengamanan (the Agreement on Safeguards) memberi beberapa kapasitas bagi Negara-Pihak guna mengambil tindakan terhadap melonjakannya impor yang tak terduga untuk melindungi industri rumahan.
Selanjutnya, yuridiksi WTO telah bergerak ke luar isu-isu perdagangan barang. Persetujuan Umum tentang Perdagangan Jasa (The General Agreement on Trade in Services/GATS) mengadopsi prinsip-prinsip yang sama dan hanya mengecualikan prinsip-prinsip GATT berkaitan dengan perdagangan internasional dalam jasa. Namun, aturannya lebih longgar dibanding dalam GATT, misalnya Anggota diperkenankan menciptakan layanan jasa yang mana mengikuti aturan NT dalam GATS dan kewajiban akan dibukanya akses pasar. Terakhir, Anggota WTO juga diharuskan untuk melindungi hak kekayaan intelektual (HaKI) di bawah ketentuan the Agreement on Trade-Related Intellectual Property Rights (TRIPs).
WTO juga memiliki mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif, dilakukan berdasarkan the Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes (populer disebut: Dispute Settlement Understanding/DSU). Dispute Settlement Body (DSB, lembaga yang dipercaya
11 Lihat Bagian 4, Bab 4.
12 Dumping arises where goods are exported at a lower price than its normal value:
6
menjalankan mandat dari DSU) terdiri dari seluruh negara anggota WTO. Langkah pertama dalam proses penyelesaian sengketa adalah menggelar konsultasi antara pihak-pihak yang bersengketa. Jika konsultasi mengarah jalan buntu, DSB biasanya akan merujuknya ke Panel WTO, yang akan memutuskannya menurut hukum WTO. Banding terhadap Keputusan Panel dapat diajukan ketika belum pernah ada pembahasan isu-isu hukum dan penafsiran hukumnya oleh Appellate Body.13 Sebagaimana disebutkan di atas, keputusan Panel GATT hanya bisa ditegakkan jika didukung oleh semua Anggota GATT. Sebaliknya, DSB bisa mengadopsi Putusan Panel atau Appellate Body, kecuali keputusan tersebut ditolak secara konsensus; terjadinya penolakan secara konsensus sendiri tidak mungkin terjadi mengingat pihak yang menang tidak mungkin memberikan suaranya guna melawan kemenangan sendiri. Jika pihak Anggota yang kalah dianggap gagal melaksanakan keputusan in cracht secara memuaskan dalam jangka waktu tertentu, DSB biasanya akan mengambil langkah-langkah pembalasan perdagangan (trade measures) melalui pihak negara-partisipan yang dibenarkan guna membalas pihak negara yang salah. Sesuatu yang bernilai komersial secara signifikan harus dibayar oleh pihak yang gagal mematuhi Keputusan DSB. Sistem penyelesaian sengketa sendiri diartikan sebagai komitmen dari Anggota WTO yang kredibel, sebagai konsekuensinya pemberian status non-compliance.14
Seperti GATT, WTO juga merupakan forum bagi para anggota untuk merundingkan kesepakatan provisional lebih lanjut tentang perdagangan bebas. Provisi baru bisa disepakati melalui konsensus, meski kadang juga ditempuh dengan cara suara mayoritas.15 Semua lembaga dalam WTO terbuka bagi setiap perwakilan semua anggota. Konferensi Tingkat Menteri (KTM), lembaga tertinggi dalam WTO, secara resmi melakukan pertemuan untuk melakukan negosiasi setiap dua tahun sekali. Sedangkan Dewan Jendral (General Council) bertugas mengawasi jalannya manajemen organisasi sehari-hari, dan juga bertindak sebagai anggota DSB. Dewan Jendral mengadakan pertemuan dengan Trade Policy Review Body yang menjalankan the Trade Policy Review Mechanism (TPRM), yang bertugas mengkaji kebijakan perdagangan masing-masing negara anggota secara berkala akan meninjau
13 Tidak ada ketentuan banding menurut regulasi GATT yang lama.
7
dalam hal transparansi dan efeknya terhadap sistem perdagangan internasional. Hal yang dijalankan TPRM sendiri bukanlah lembaga hukum sehingga temuannya tidak dianggap pelanggaran ,16 walau temuannya dapat memunculkan kritik terhadap kebijakan dan rekomendasi untuk dilakukannya reformasi. Terdapat juga beberapa lembaga/badan khusus di WTO, yang memfokuskan diri pada topik-topik dalam perdagangan yang berbeda-beda, misalnya Dewan TRIPs, Dewan Perdagangan Jasa, dan Dewan Perdagangan Barang, dan Komite-Komite yang bekerja di bawah naungan Dewan-Dewan tersebut, serta Komite-Komite yang menangani isu-isu lebih luas seperti Komite Perdagangan dan Lingkungan, Komite Perdagangan dan Pembangunan. Tapi, tidak ada Komite Perdagangan dan Hak Asasi Manusia. Pihak-pihak tersebut mengerjakan berbagai hal lainnya seperti aksesi anggota baru.17
WTO ditopang oleh kantor sekretariat, dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal, yang menyediakan dukungan administratif dan teknis kelembagaan WTO dan semua negara anggotanya. Direktur Jenderalnya saat ini adalah Pascal Lamy, mantan Komisioner Eropa untuk Perdagangan.18 Ia tidak memiliki kewenangan berinisiatif secara otonom, karena semua kebijakan dan keputusan dibuat oleh anggota WTO.19
Saat ini putaran perundingan dalam WTO, sejauh ini dirasa gagal dalam menghasilkan berbagai kemanfaatan. Sebuah babak baru dimaksudkan untuk digulirkan pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) di Seattle pada tahun 1999, namun pertemuan tersebut mandek di tengah merebaknya berbagai tuduhan di dalam dan di luar ruang sidang perundingan, di jalan-jalan juga penuh dengan para demonstran anti globalisasi. Dua tahun berikutnya, para negara anggota setuju untuk melakukan putaran perundingan berikutnya setelah KTM di Doha pada tahun 2001, yang disebut Doha Development Round. Namun, putaran yang digadang-gadang juga kandas, dengan bukti perjanjian yang ada dalam Puratan perundingan itu sulit disepakati ketika diadakan KTM di Cancun pada 2003, Hong Kong pada akhir 2005 dan juga di dalam pertemuan
16 Dommen, Loc.cit n 4, 9.
17 Lihat secara umum WTO, Understanding the WTO Chapter : The Organization
<http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/tif_e/utw_chap7_e .pdf> diakses pada 18 September 2010.
18 Lamy menjabat Direktur-Jenderal pada 2005, dan terpilih lagi untuk kedua kalinya oleh
Dewan Umum secara konsensus untuk masa jabatan 4 tahun, yang dimulai sejak 2009.
19 Dommen, Loc.cit n 4, 9. Hal ini bukan dimaksudkan mengatakan bahwa dia tidak
8
di tingkat yang lebih rendah yang digagas berikutnya sampai hari ini. KTM sendiri diharapkan bisa diadakan setiap dua tahun sekali, dan ada kesenjangan rentang empat tahun antara KTM Hong Kong dan KTM Jenewa pada tahun 2009. KTM Jenewa sendiri pada akhirnya hanya menghasilkan himbauan, yang mudah ditebak, bagi para negara anggota untuk berupaya mewujudkan hasil kesepakatan dalam Putaran Doha. Pada dasarnya, KTM adalah latihan
berumah tangga'.20
1.1 Raison d’être WTO
Dampak dari globalisasi perdagangan, setidaknya dampaknya bagi belahan dunia yang berkembang dan wilayah perkotaan di banyak negara berkembang, sebagaimana digambarkan oleh Martin Wolf:
Kita bisa membeli makanan yang diproduksi di seluruh dunia, yang, lantas dikapalkan, diproses, didistribusikan dan dijual melalui mata rantai panjang para grosir dan pengecer untuk memuaskan selera kita yang bervariasi. Makanan akan sangat aman sekali [menurut standar historis]. Seseorang dapat membeli pakaian yang dibuat oleh pekerja dari Cina, India, Italia atau Meksiko, dengan berbagai macam jenis kain dan model yang berbeda. Untuk transportasi pribadi, seseorang dapat memilih dari berbagai jenis mobil; untuk hiburan, orang bisa memilih berbagai macam pemutar DVD dan televisi layar datar; untuk bekerja, bersantai atau asisten kerja pribadi, orang bisa membeli komputer pribadi. Sekelompok investor saling bersaing, desainer, produsen, dan distributor mencoba untuk memenuhi semua tuntutan ini dan banyak hal lainnya. Sejumlah perantara mengambil untung dari kehidupan keluarga dan menyuplai kebutuhannya, mengajak mereka untuk menggunakannya secara
konsumtif.21
Wolf menambahkan bahwa barang-barang tersebut juga dapat dipesan melalui saluran telepon atau layanan jaringan internet yang disediakan oleh investor Asing atau pemasok luar negeri, dan pengadaan barang seperti ini adalah paling inovatif, atau adanya pengalihan lisensi, akan memberi keuntungan dari adanya mekanisme perlindungan atas kekayaan intelektual global.
Dasar pemikiran yang mendasari adanya WTO adalah untuk menanggulangi hambatan perdagangan antar negara, sehingga akan meningkatkan perdagangan bebas global. Seperti disebutkan di atas, salah satu alasan di balik
20 Lihat International Centre for Trade and Sustainable Development, WTO Ministerial
Lifts Hopes for Doha, but Scepticism Lingers Bridges Weekly Trade News Digest, <http://ictsd .org/i/news/bridgesweekly/65367/> diakses pada 18 September 2010.
9
penciptaan perdagangan bebas adalah penciptaan hubungan perdagangan antar negara sepanjang melalui prosedur damai dan otoritatif dalam menyelesaikan sengketa akan mempromosikan hubungan internasional ke tingkat yang lebih harmonis. Setelah semua itu, sejarahnya dipenuhi dengan sengketa perdagangan yang meningkat menjadi perang perdagangan.
Selanjutnya, teori keunggulan komparatif, bisa dibilang pemahaman paling
mendominasi dalam ekonomi, termasuk dalam situs WTO sendiri,22 menjadi
dasar intelektual utama bagi argumen yang mendukung kemanfaatan dari adanya perdagangan bebas. Singkatnya, teori ini menyatakan bahwa negara harus mengkonsentrasikan diri pada produksi apa yang terbaik baginya untuk diproduksi. Karena untuk melakukan sebaliknya menghasilkan inefisiensi dan pembengkakan biaya. Negara harus memproduksi dan mengekspor barang-barang tersebut, dan mengimpor barang-barang-barang-barang dibutuhkan. Praktek semacam ini, ditambah dengan adanya penghapusan hambatan impor dan ekspor, menghasilkan efisiensi ekonomi yang lebih besar, baik di tingkat domestik ataupun global. Dengan adanya semua negara memproduksi apa yang terbaik baginya untuk diproduksi, konsumen dapat mengakses barang dengan harga bersaing sementara industri dipaksa untuk berinovasi dan menjadi lebih efisien untuk survive di pasar global yang kompetitif.
Teori keunggulan komparatif akan dibahas lebih lanjut dalam Bagian 5. Untuk saat ini, perlu digarisbawahi bahwa meningkatnya kekayaan global ke tingkat lebih besar adalah hal terpuji dari sudut pandang HAM. Karena, peningkatan kekayaan yang angka lebih besar akan mampu memfasilitasi pengentasan kemiskinan. Beberapa pihak menggolongkan kemiskinan sebagai pelanggaran HAM itu sendiri.23 Setidaknya, pelanggaran HAM sering muncul bersamaan dengan terjadinya kemiskinan.24 Pembukaan Perjanjian Marrakesh (Marakesh Agreement) juga menggemakan kembali gagasan WTO bahwasanya perdagangan bebas harus menciptakan sarana untuk tujuan yang diinginkan dan bukan tujuan itu sendiri: perdagangan harus dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan standar hidup dan menjamin adanya pemenuhan
lapangan pekerjaan , ketika dimungkinkan untuk mengoptimalkan sumber
22 WTO, Understanding the WTO: The Case for Open Trade tanpa tanggal)
<http://www.wto.org/english/thewto_e/whatise/tife/fact3_e.htm> diakses pada 18 September 2010.
23 Lihat, misalnya, Thomas Pogge, Recognized and Violated: the Human Rights of the
Global Poor Leiden Journal of International Law 717.
10
daya di dunia ini sesuai dengan adanya tujuan pembangunan yang
berkelanjutan. Kesan pertama, misi WTO tampaknya benar-benar kompatibel
dengan promosinya, perlindungan dan pemenuhan HAM.25 Permasalah ini, tentu saja, adalah subyek buku ini.
2. Rezim HAM internasional
2.1 Standar-standar PBB
Sebelum terjadi Perang Dunia Kedua, sebagian besar konseptualisasi HAM tidak dikenal dalam hukum internasional. Pengecualian ada pada elemen-elemennya memang ada, misalnya prinsip-prinsip awal hukum humaniter (hukum konflik bersenjata) dan perlindungan tertentu untuk pihak asing.26 Akan tetapi, perlakuan suatu negara terhadap warga negaranya sendiri secara umum diakui sebagai masalah kedaulatan yang tidak menjadi concern dunia internasional. Lanskap hukum sendiri berubah paska Perang Dunia Kedua, terjadinya konflik ditandai munculnya pelanggaran HAM berat benar-benar menyayat hati nurani masyarakat internasional. Sama halnya konferensi Bretton Woods yang diadakan guna menanggulangi bencana ekonomi yang mendahului terjadinya perang dan diperlukannya langkah rekonstruktif paska perang, langkah-langkah ini juga menegaskan bahwa sistem hukum internasional paska terjadinya perang tidak lagi abai terhadap tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh negara terhadap warga negaranya sendiri.
Pemajuan dan dukungan terhadap penghormatan HAM dan kebebasan fundamental secara eksplisit diakui sebagai tujuan dari adanya organisasi internasional yang dibentuk, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), demi menjaga perdamaian dan keamanan internasional setelah perang sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 (3) dari Piagam PBB 1945. Berdasarkan Pasal 55 dan 56, negara anggota PBB harus berkomitmen untuk bekerjasama dan secara sendiri-sendiri untuk menciptakan stabilitas keamanan dan kesejahteraan di seluruh dunia, termasuk mempromosikan penghormatan universal, dan kepatuhan, terhadap HAM dan kebebasan fundamental bagi semua tanpa membedakan
25
Frank Garcia, The Global Market and Human Rights: Trading away the Human Rights Principle Brooklyn Journal of International Law 51, 59. Lihat juga Adam McBeth,
International Economic Actors and Human Rights (Routledge, Oxford, 2010) 87–8.
26 Lihat juga Louis B Sohn, The new international law: protection of the rights of
11
ras, jenis kelamin, bahasa, ataupun agama. Dengan demikian, sejak 1945, jelas sudah bahwa HAM tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah dalam negeri suatu negara yang bisa disembunyikan dibalik tabir kedaulatan.
HAM dan kebebasan fundamental tidak tercantum dalam Piagam PBB. Lembaga PBB mengesahkan sejumlah norma HAM tersebut dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR). Tidak ada satupun negara, baik pada tahun 1948 atau pada saat bergabung PBB, mencela keberadaan UDHR.27 UDHR sendiri ditegaskan kembali dalam Deklarasi Wina dan Program Aksi (the Vienna Declaration and Programme of Action/VDPA),28 diadopsi setelah penyelenggaraan Konferensi Dunia tentang HAM pada 1993, dan menjadi kunci arah program kebijakan HAM suatu negara terkait pembangunan nilai-nilai HAM global. UDHR sendiri bukanlah sebagai instrumen yang mengikat secara hukum. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa norma di dalamnya merupakan kristalisasi hukum kebiasaan internasional.29
Selain itu, dapat dikatakan juga bahwa UHDR mendefinisikan hak asasi
manusia lebih lanjut dalam ketentuan norma berkaitan HAM dalam Piagam PBB, sebagaimana dalam Pasal 1 (3), 55 dan 56, yang diakui sebagai norma-norma internasional yang harus dipatuhi.30
Pada tahun 1966, sebagian besar norma-norma dalam UDHR31 dikonkretkan ke dalam dua traktat, Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya/Ekosob (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights/ICESCR) dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik/Sipol (International Covenant On Civil And Political Rights/ICCPR). Tiga dokumen yang secara kolektif sering disebut The International Bill of Rights. Protokol Opsional dalam ICCPR diadopsi pada 1966, mengatur tata cara mempetisikan hak-hak pribadi ketika terjadi pelanggaran ICCPR dalam menggugat negara yang telah meratifikasi Protokol.
Sebenarnya, traktat HAM PBB pertama kali diadopsi beberapa bulan sebelum lahirnya beberapa traktat: Konvensi Internasional tentang
27 Delapan negara abstain ketika Dewan Umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal
HAM, yaitu: Byelorussia, Cekoslovakia, Polandia, Ukraina, Uni Soviet, Yugoslavia, Saudi Arabia, dan Afrika Selatan.
28 Deklarasi Wina dan Program Aksi (1993), dokumen PBB. A/CONF.157/23, para 2. 29 Lihat, misalnya, Sohn, Loc. Cit, n 26, 15–17.
30 Ibid, 16.
31 Hak-hak tertentu yang bersifat terpisah-pisah (diskrit) terkecualikan, seperti hak untuk
12
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial 1965 (the International Convention on the Elimination of all Forms of Racial Discrimination 1965/CERD). Menyusul berikutnya traktat yang diadopsi PBB adalah Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan 1979 (the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women/CEDAW), Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Pengkuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia 1984 (the Convention against Torture and other Cruel, Inhuman and Degrading Treatment or Punishment/CAT), Konvensi tentang Hak-hak Anak 1989 (the Convention on the Rights of the Child/CRC), Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya 1990 (the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families), Konvensi tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas 2006 (the Convention on the Rights of Persons with Disabilities/CPRD) dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa 2006 (the International Convention for the Protection of All Persons from Enforced Disappearance/Disappearances Convention).
Selain itu juga terdapat beberapa deklarasi penting menyangkut HAM, berisi hak-hak yang belum disinggung dalam Konvensi-Konvensi di atas, misalnya Deklarasi Hak atas Pembangunan 1986 dan Deklarasi Hak-hak Masyarakat Adat 2007 (the Declarations of the Rights of Indigenous Peoples/DRIP). Selain itu, banyak dari traktat di atas dilengkapi dengan Protokol Opsional, baik untuk menambahi hak-hak subtantif lebih lanjut dari masing-masing traktat induknya,32 atau menyediakan mekanisme tata cara baru dalam mengontrol negara dalam mempertanggungjawabkan kewajibannya terhadap traktat yang telah ditandatangani.33
2.2 Lembaga HAM PBB dan mesin penegaknya
Sejumlah lembaga PBB memiliki tanggung jawab atas penegakan HAM. Lembaga intergovermental yang menaunginya adalah Dewan HAM PBB.
32 Lihat, misalnya, Optional Protocol to the Convention on the Rights of the Child on the
Sale of Children, Child Prostitution and Child Pornography (diadopsi 25 Mei 2000, diberlakukan pada 18 Januari 2002), 2171 UNTS 227.
33 Lihat, misalnya, Prtokol Opsional CEDAW (diadopsi 6 Oktober 1999, diberlakukan 22
13
Dewan juga mempunyai tanggung jawab terhadap penegakan HAM secara luas, termasuk penetapan standar dan pemajuannya.34 Dewan juga memiliki wewenang untuk melakukan investigasi kondisi HAM dalam wilayah tertentu (misalnya, kondisi HAM atau situasi HAM di negara tertentu) melalui badan-badan ahli yang ditunjuk. Dewan juga mengkaji kinerja kemajuan HAM semua negara secara periodik di bawah mekanisme Tinjauan Periodik Universal (Universal Periodic Review). Ujungnya, setiap permasalahan HAM diselesaikan melalui Resolusi. Sebagai contoh, resolusi juga dapat untuk mendukung pengimplementasian prinsip-prinsip HAM baru atau yang baru saja diusulkan, atau untuk mengutuk catatan buruk HAM suatu negara. Dewan sendiri merupakan lembaga politik yang terdiri dari 47 negara anggota, yang dipilih oleh anggota PBB lainnya untuk masa tiga tahun.
Lembaga-lembaga traktat PBB didirikan guna memantau dan mengawasi pelaksanaan masing-masing traktat. Misalnya, Komite HAM (Human Rights Commite/HRC) yang didirikan berdasarkan amanat Pasal 28 Kovenan Sipol untuk menjalankan berbagai hal dalam Kovenan tersebut. Lembaga-lembaga traktat terdiri dari para ahli HAM yang independen. Mereka sendiri bukanlah hakim , jadi temuan mereka tidak mengikat secara hukum. Akan tetapi, penafsiran mereka atas Kovenan memiliki kekuatan persuasif cukup kuat, karena hanya mereka yang merepresentasikan penafsir dokumen yang otoritatif dan mengikat secara hukum.35 Lembaga-lembaga traktat ini bertindak sebagai kepanjangan tangan lembaga HAM PBB yang bersifat kuasi-yudisial (berkebalikan dengan kepanjangan tangannya di ranah politik, yang diwakili oleh Dewan HAM).
Lembaga-lembaga traktat tadi memiliki ragam fungsi. Untuk tujuan penulisan buku ini, fungsi penting mereka adalah: bahwasanya lembaga-lembaga tersebut melahirkan yurisprudensi hukum dan interpretasi HAM yang otoritatif. Interpretasi tersebut muncul ketika mengeluarkan keputusan dalam menanggapi pengaduan dari pihak tertentu (misalnya, pengaduan dari HRC melalui ketentuan Protokol Opsional dalam Kovenan Ekosob). Interpretasi tersebut juga bisa muncul melalui laporan prosedural, saat masing-masing
34 Lembaga ini memiliki banyak sebutan, seperti Special Rapporteurs, Special
Representatives, Independent Experts, atau (dalam kasus menegahi pertentangan antara kelompok dan invidui) Working Group.
35See, eg, Human Rights Committee, General Comment No : The Obligations of States
Parties under the Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political
14
lembaga traktat tadi mengkaji seluruh catatan rekam jejak negara-pihak yang terikat traktat dan mengkaji permasalahan-permasalahan dalam kesimpulan akhir pengamatan terhadap negara bersangkutan. Kesimpulan akhir pengamatan berfungsi sebagai rapor HAM bagi negara dan juga dapat menjadi indikator signifikan terhadap arti dari HAM secara relevan. Ujungnya, semua badan yang menjalankan traktat tadi merilis Komentar Umum , yang membahas permasalahan terkait dari setiap negara partisipan berkaitan Konvensi tertentu. Kebanyakan Komentar Umum berisi interpretasi hukum secara luas menyangkut hak-hak tertentu dalam Kovenan tertentu, Komentar Umum menjadi rujukan setiap permasalahan yang memiliki kemiripan terkait pelaksanaan traktat tertentu.36
Segala hal yang berkaitan kedua piagam (Piagam PBB dan Piagam HAM) dan semua traktat yang telah disebutkan di atas ditopang oleh Kantor Komisaris Tinggi HAM, sebuah birokrasi kepanjangan tangan HAM PBB.37
Titik lemah, atau kekurangan, sistem HAM internasional terletak pada penegakan. Tidak ada lembaga supranasional, selain Dewan Keamanan PBB38 dan Mahkamah Internasional (MPI),39 yang berwenang membuat keputusan yang mengikat secara hukum berkaitan HAM. Dewan Keamanan dan MI sendiri jarang menangani masalah-masalah HAM, meski ada peningkatan jumlah kasus HAM sebelum Mahkamah Internasional dibentuk dalam
36 Contohnya, lembaga traktat menerbitkan Komentar Umum tentang pedoman
pelaporan, metode melakukan penandatanganan traktat, dan pembatalannya.
37 Sarah Joseph dan Joanna Kyriakakis, United Nations and Human Rights in Sarah Joseph
and Adam McBeth (eds), Research Handbook on International Human Rights Law (Edward Elgar, Cheltenham, 2010) 18–20.
38 Dewan Keamanan PBB adalah salah satu lembaga utama PBB. Memiliki tanggung jawab
utama menurut ketentuan Piagam dalam memelihara perdamaian dan keamanan internasional. kekuasaannya meliputi pembentukan operasi tim penjaga perdamaian, dan otorisasi sanksi internasional dan tindakan militer. Resolusinya di bawah ketentuan Bab VII Pasal 25 Piagam mengikat seluruh anggota PBB. Ada 15 negara sebagai anggota Dewan Keamanan; 10 di antara terpilih untuk masa dua tahun dan lima (China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat) adalah anggota tetap yang memiliki hak untuk memveto setiap Resolusi Dewan Keamanan selain resolusi prosedural.
39 Didirikan pada bulan Juni 1945; wilayah kerja dan kekuasaannya diatur dalam Statuta
15
beberapa tahun terakhir.40 Penegakan hukum terhadap negara yang membandel sebagian besar dilakukan melalui proses pelabelan dan dengan cara membuat malu [negara bersangkutan di masyarakat internasional]. Rasa malu sendiri dapat mendorong perubahan perilaku negara bersangkutan,41 ini jelas sebuah ukuran penegakan hukum yang lemah dibanding dengan konsekuensi sanksi yang bersifat ekonomi yang terjadi jika ada ketidakpatuhan terhadap suatu putusan badan penyelesai sengketa di WTO.42 Catatan sikap kepatuhan negara terhadap aturan badan-badan HAM PBB, misalnya kepatuhan terhadap lembaga-lembaga yang menjalankan Konvensi, tampaknya pucat pasi jika dikomparasikan dengan catatan tingkat kepatuhan anggota WTO terhadap putusan badan penyelesai sengketanya.
2.3 Sistem perlindungan HAM regional
Terdapat pula sistem perlindungan HAM secara regional. Sistem HAM yang paling sukses, menyangkut hal kepatuhan dan reputasinya, berada di bawah naungan Dewan Eropa. Konvensi Eropa tentang HAM 1951 (The European Convention on Human Rights/ECHR) dan protokol yang sebagian besar melindungi hak-hak sipil dan politik, ditegakkan oleh Pengadilan HAM Eropa. Piagam Sosial Eropa 1961 (the European Social Charter) melingkupi hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dan di bawah pengawasan Komite kuasi-yudisial Eropa tentang Hak Sosial. Terdapat pula traktat HAM berkaitan masalah tunggal seperti Konvensi Eropa Menentang Penyiksaan 1987, yang juga di bawah pengawasan oleh lembaga kuasi-yudisial.
Sistem serupa juga terdapat di benua Amerika dan Afrika, yang mana sistem di benua pertama berdasarkan Konvensi Amerika tentang HAM 1969 dan yang terakhir berdasarkan the African Charter of Human and Peoples’ Rights 1981 (disebut pula Piaga Banjul). Ada juga traktat yang secara terpisah menangani hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya dan isu-isu HAM lainnya. Sebuah sistem regional baru juga muncul di bawah naungan Liga Arab, yang mulai berlaku mulai 2008, yaitu Piagam tentang HAM yang disahkan pada 2004. Sistem HAM regional lebih siap dalam hal penegakan hukumnya, sebagai sebuah keputusan
40 Lihat, secara umum, Sandesh Sivakumaran, The International Court of Justice and
Human Rights dalam Joseph and McBeth (ed), Loc. Cit, n 37, 299–325.
41 Lihat Joseph dan Kyriakakis, Loc. Cit, n 37, 26–8.
42 Lihat Philip Alston, Resisting the Merger and Acquisition of Human Rights by Trade
16
pengadilan regional yang mengikat secara hukum. Hambatan dalam penegakan memang tetap ada, karena negara sering memilih membayar ganti rugi kepada individu-individu yang dirugikan ketimbang melakukan langkah-langkah perubahan sistematis yang diperlukan guna menghindari terjadinya pelanggaran HAM di masa mendatang. Selain itu, tidak semua kawasan dilindungi oleh traktat HAM regional, misalnya tidak adanya sistem perlindungan HAM di Asia atau Oseania.43
Perkembangan lain mengenai perlindungan HAM regional adalah jangkauan pengadilan HAM-nya, seperti Pengadilan Eropa di bawah naungan Uni Eropa,44 atau the ECOWAS Community Court of Justice yang didirikan oleh Komunitas warga keturunan Eropa yang mendiami negara-negara di Afrika bagian barat,45 telah mempelopori penegakan norma-norma HAM. Kondisi seperti ini cukup menarik, khususnya untuk tujuan penulisan buku ini mengingat asal mula berdirinya Uni Eropa dan ECOWAS sebagai rezim perdagangan bebas.
2.4 Kovenan Sipol dan Kovenan Ekosob
Yang menjadi instrumen dasar dalam penulisan buku ini adalah dua traktat tersebut: Kovenan Sipol dan Kovenan Ekosob, meski nantinya juga akan mengikutkan beberapa referensi instrumen lainnya, terutama UDHR dan Deklarasi Hak atas Pembangunan. Kovenan-kovenan tersebut adalah yang paling relevan dengan penulisan buku ini karena lingkupnya global (sebagai lawan regional), dan luasnya cakupan hak (sebagai lawannya adalah instrumen yang lebih sempit cakupannya, yang lebih spesifik tentang kepemilikan haknya, seperti CEDAW, CRC dan CPRD, atau dalam lingkup hak yang dicakup, seperti CAT dan Konvensi penghilangan paksa).
43 ASEAN mendirikan Komisi HAM ASEAN untuk mempromosikan HAM di seluruh ASEAN
pada akhir 2009. Tidak akan dilakukan perbandingan antara Komisi HAM ASEANdengan sistem regional yang lebih mapan akan dibahas dalam bagian ini. Terlalu dini untuk menilai kemungkinan dampaknya terhadap perlindungan HAM di regional ASEAN. Lihat Yuval
Ginbar, Human Rights in ASEAN—Setting Sail or Treading Water? Human Rights Law Review 504.
44 Lihat, misalnya, Kadi and Al Barakaat International Foundation v Council of the European
Union (ECJ Grand Chamber, 3 September 2008) Cases C-4 02/05 and C-4 15/05 P.
45 Lihat, misalnya, Mme Hadijatou Mani Koraou v The Republic of Niger (2008)
ECW/CCJ/JUD/06/08 (ECOWAS Community Court of Justice). Lihat juga Helen Duffy,
17
UDHR sendiri tidak mengatur hak-hak secara hirarkis, dan pada awalnya hal ini dimaksudkan agar adanya traktat turunan tidak akan membagi-bagi berbagai hak-hak dalam UDHR. Namun, politik Perang Dingin, maupun karena perbedaan sudut pandang yang mendasar berkaitan hak-hak Sipol di satu sisi dan hak-hak Ekosob di sisi lain, telah melahirkan keputusan untuk membagi hak-hak dalam UDHR ke dalam dua Kovenan.46 Meski begitu, preambule setiap Kovenan menyatakan kedua Kovenan yang berisi hak-hak tersebut saling bertautan satu sama lain dan tak terpisahkan. Dua Kovenan terbukti secara formal kesetaraan kedudukan fungsinya dengan diberlakukan-nya kedua Kovenan pada tahun 1977, dan keduadiberlakukan-nya memiliki jumlah anggota negara partisipan yang hampir berimbang pada September 2010. Sama pentingnya dan saling ketergantungan kedua Kovenan yang menegaskan hak-hak ini dimantapkan kembali dalam VDPA 1993 .
ICCPR melindungi hak-hak sipil dan politik.47 Beranggotakan 166 negara peserta per September 2010. Pihak yang absen adalah RRC, yang mana telah menandatangani namun tidak/belum meratifikasi Kovenan Sipol.48 Hak-hak Sipol sendiri dapat dikategorikan meliputi (1) hak atas perlindungan fisik dan kebebasan berkeyakinan, dan kebebasan memilih; (2) hak atas perlakuan yang adil; dan (3) hak untuk berpartisipasi secara penuh dalam proses politik.49 Kategori 1 meliputi hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya, kebebasan bergerak dan hak atas perlindungan privasi. Kebebasan berkeyakinan berhubungan dengan hak-hak seperti dalam kebebasan beragama, berkeyakinan dan berpikir. Kategori 2 meliputi keadilan dalam arti prosedural secara sempit seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang fair, dan dalam arti secara lebih luas seperti hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum dan bebas dari diskriminasi. Kategori 3 jelas meliputi hak untuk memilih dan dipilih, dan juga termasuk hak akan
46 Lihat, misalnya, Dominic McGoldrick, The Human Rights Committee: Its Role in the
Development of the International Covenant on Civil and Political Rights, edisi ke-2 (Oxford University Press, New York, 1994) para 1.16.
47 Tulisan berikutnya adalah tulisan yang diadaptasi dari Sarah Joseph, Civil and political
rights dalam Mashood Baderin dan Manisuli Ssenyonjo, International Human Rights Law: Six Decades after the UDHR (Ashgate, Surrey, 2010) 89–106.
48 Setelah terjadi serah terima kedaulatan atas Hong Kong dan Macau, RRC sepakat bahwa
ICCPR akan terus berlaku bagi wilayah-wilayah tersebut, sebagaimana wilayah tersebut di bawah hukum kolonial sebelumnya, Inggris dan Portugal. Lihat, misalnya, Kuok Koi v Portugal, UN doc. CCPR/C/73/D/925/2000 (8 Februari 2002) (Komite HAM PBB).
49 Lihat juga Scott Davidson, Introduction dalam Alex Conte, Scott Davidson, dan Richard
18
pentingnya mendapatkan proses politik yang sehat, seperti kebebasan berkumpul dan berserikat. Ketiga kategori hak ini saling tumpang tindih. Misalnya, kebebasan berekspresi yang bisa dimasukan ke dalam semua kategori. Hal ini diperlukan guna melindungi keyakinan seseorang serta memastikan keyakinannya bisa diekspresikannya sesuai ide-idenya, dan adanya kemauan untuk menerima gagasan-gagasan orang lain. Kebebasan berekspresi juga terkait dengan perlakuan yang adil: seseorang tidak dapat diperlakukan secara adil dan setara jika kebutuhan dan keinginan orang lain tidak dipenuhi, atau jika orang lain tidak dapat mendapat akses informasi dan mengekspresikan ide-ide yang sesuai keyakinannya. Muaranya, kebebasan berekspresi berfungsi penting dalam sistem politik, yang akan menghadirkan kebebasan komunikasi antara yang dipilih dan orang-orang yang mereka wakili, dan dalam konteks civil society adalah untuk memastikan akuntabilitas pemerintahan.
Kebanyakan hak-hak Sipol diperbolehkan adanya kualifikasi limitatif. Sangat sedikit hak dalam ICCPR berlaku secara mutlak.50 Contohnya, hak kebebasan berekspresi dalam Pasal 19 (2), hak ini bukan berarti memperbolehkan pengekspresian setiap pandangan di setiap saat dalam forum apapun, meski di sisi lain pihak negara yang melakukan limitasi hak dalam ICCPR berkewajiban melakukan beban pembuktian ketika menetapkan batasan-batasan dalam hak Sipol agar bisa dibenarkan.51 Kebanyakan hak-hak dalam ICCPR dapat dibatasi melalui langkah-langkah proporsional yang reasonably demi mencapai titik tujuan melalui legitimasi hukum.
Kovenan Ekosob ditujukan memproteksi hak-hak Ekosob, dan beranggotakan 160 negara. Negara yang absen adalah Amerika Serikat, yang mana telah ikut menandatanganinya akan tetapi belum/tidak meratifikasi Kovenan Ekosob. Hak ekonomi adalah hak-hak yang berkaitan dengan perburuhan dan pekerjaan tertuang dalam Artikel 6 hingga 8 Kovenan
50 Contoh hak bersifat absolut adalah hak untuk bebas dari penyiksaan dan perilaku tidak
manusiawi lainnya (Pasal 7) dan bebas dari perbudakan dan penghambaan (Pasal 8).
51 Hak-hak dalam Pasal 19(2) dibatasi dalam Pasal 19(3) yang menyatakan: Pelaksanaan
19
Ekosob,52 serta kemanfaatan yang diperoleh dari perburuhan dan jaring pengaman sosial bagi mereka yang tidak bisa bekerja tertuang dalam Pasal 9 (hak atas jaminan sosial). Hak sosial tersebut dibutuhkan untuk diterapkan secara memadai di dalam masyarakat seperti dalam hak untuk membentuk keluarga (Pasal 10), hak atas standar hidup yang layak (Pasal 11), hak atas kesehatan (Pasal 12) dan hak atas pendidikan (Pasal 13 dan 14). Pasal 15 mencakup hak-hak kultural/kebudayaan, termasuk di dalam-nya hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat danmanfaat dari ilmu pengetahuan. Sekali lagi, perbedaan antara tiga kategori tidak ada batas, dan ini memang sering.53
PBB berkomitmen untuk kesetaraan secara formal dari adanya dua set hak-hak tersebut. Selanjutnya, kedua Kovenan sendiri memiliki keanggotaan negara yang hampir sama. Dan tentu saja, hak-hak ini saling bergantung satu sama lain dan saling memperkuat. Hak untuk hidup (Pasal 6 Kovenan Sipol) terkait erat dengan hak atas kesehatan (Pasal 12 Kovenan Ekosob. Hak atas pendidikan (Pasal 13 dan 14 Kovenan Ekosob) membantu untuk memberantas buta aksara, faktor kunci yang mengantarkan kepada kebebasan berekspresi (Pasal 19 Kovenan Sipol). Hak untuk membentuk serikat pekerja (Pasal 8 Kovenan Ekosob) adalah sub-komponen kebebasan berserikat (Pasal 22 Kovenan Sipol). Hak untuk hidup keluarga termaktub dalam Pasal 17 dan 23 Kovenan Sipol, dan Pasal 10 Kovenan Ekosob.
2.5 Perbedaan antara Kovenan Sipol dan Kovenan Ekosob
Bagaimanapun, norma-norma dalam Kovenan Sipol jauh lebih berkembang ketimbang Kovenan Ekosob. Hak-hak Sipol memiliki turunan hukum legal lebih lanjut, dengan adanya yurisprudensi hukum yang bertebaran diberbagai dokumen-dokumen bersifat konstitusional dalam suatu negara, seperti Bill of Right di AS, yang berumur lebih dari 200 tahun. Melihat hal tersebut, maka akan ada banyak sumber bahan hukum domestik yang signifikan guna menopang pengembangan hak-hak-hak Sipol di tingkat internasional. Sebaliknya, banyak hak-hak Ekosob baru untuk pertama kalinya dirancang dalam hukum internasional lebih dahulu ketimbang penyusunan hukumnya di
52 Pasal 6–8 meliputi, masing-masing, hak atas pekerjaan, yang adil dan kondisi kerja, dan
untuk bergabung serikat buruh.
53 Henry Steiner, Philip Alston dan Ryan Goodman, International Human Rights Law in
20
tingkat domestik.54 Berkebalikan dari hak Sipol, hak Ekosob tampaknya tidak punya pembanding kesejarahan sehubungan dengan perlindungan hukumnya di ranah domestik dan kapabilitas pengadilan dalam penegakannya, norma-norma yang kurang berkembangkan secara legal.
Keuntungan lain bagi hak-hak dalam Kovenan Sipol adalah bersemainya hak-hak tersebut di tingkatan gerakan advokasi. Lembaga Swadaya (LSM) yang bergerak di bidang HAM paling memiliki andil dalam proses politiknya di ranah domestik dan internasional, seperti Amnesti International dan HRW, yang secara historis berfokus pada soal hak-hak Sipol. LSM yang bergerak dalam ranah hak-hak Ekosob cenderung menjadi organisasi yang memfasilitasi pelayanan bagi kelompok-kelompok kurang beruntung, misalnya organisasi amal.55 Dengan demikian, secara historis terdapat agitasi yang lebih besar oleh kelompok advokasi HAM kepada negara untuk melakukan sesuatu saat terjadi pelanggaran hak-hak Sipol, baik yang terjadi di dalam negeri atau di luar negeri, dan kurang adanya agitasi untuk mengatasi berbagai kekurangan dalam hak-hak Ekosob adalah sebab kesenjangan terjadi.56 Kesenjangan ini setidaknya telah terkikis dalam 20 tahun terakhir. Misalnya, Amnesti International tidak lagi mengabaikan seruan akan hak-hak Ekosob.57 Dan dengan munculnya layanan LSM klasik seperti Oxfam and Médecins sans Frontières yang jauh lebih aktif secara politis, dan bertanggung jawab atas beberapa aktivitas paling mutakhir di ranah HAM dan perdagangan.58 Kendati begitu, hak-hak Sipol memiliki andil sebagai ujung tombak perjuangan terkait dengan hak-hak Ekosob dalam memfokuskan perhatian dan merancang agenda aktivitas HAM-nya.
Pelembagaan hak-hak Sipol ditetapkan melalui ICCPR, dan tetap lebih berkembang dibanding Kovenan Ekosob. Kovenan Sipol mengamatkan dibentuknya badan ahli yang independen untuk mengawasi pelaksanaannya,
54 Robert E Robertson, Measuring State Compliance with the Obligation to Devote the
Maximum Available Resources to Realizing Economic, Social, and Cultural Rights Human Rights Quarterly 693, 694.
55 J Oloka-Onyango, Beyond the Rhetoric: Reinvigorating the Struggle for Economic and
Social Rights in Africa California Western International Law Journal 1, 38–9.
56 Terdapat sejarah panjang terkait agitasi di seputar isu-isu ekonomi dan sosial, tapi tidak
dalam segi 'hak' ekonomi dan sosial di luar hak-hak buruh.
57 Lihat, secara umum, Amnesti International, Amnesty International action for economic,
social and cultural rights: What is Amnesty International doing? (tanpa tanggal) <http://www.amnesty.org/ en/economic- and- social-cultural- rights/ai- action-escr> diakses pada 18 September 2010.
21
yaitu Human Right Watch (HRW). Pada awalnya tidak ada badan yang didirikan untuk pengawasan pelaksanaan Kovenan Ekosob, dan hanya menyerahkan pengawasannya ke Dewan Ekosob, sebuah badan politik dengan agenda politik. Namun setelah delapan tahun kinerjanya yang tidak memadai, akhirnya dibentuklah badan ahli yang independen pada tahun 1985, Komite Ekosob, untuk mengawasi pelaksanaan Kovenan Ekosob.59 Sekali lagi, tema hak-hak Sipol menjadi bayang-bayang hak-hak Ekosob secara kasat mata. HRC menjadi kepala komando selama delapan tahun sejak dibentuk rekananannya, Dewan Ekosob, dalam melatih pengembangan praktik, tata cara, budaya kelembagaan, dan yurisprudensi yang subtantif.
Ada perbedaan konsekuensi yang mendasar yang lebar terkait kewajiban suatu negara di bawah dua Kovenan. Ketentuan kewajiban dalam Pasal 2 (1) Kovenan Sipol, berbunyi:
Setiap Negara-Pihak pada Kovenan ini berjanji untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini bagi semua orang yang berada dalam wilayahnya dan tunduk pada wilayah hukumnya, tanpa pembedaan apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal-usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya.
Oleh karena itu, Kovenan sipol mensyaratkan andil negara sesegera mungkin dalam menghormati dan memastikan setiap orang untuk bisa menikmati hak-haknya.
Ketentuan paralel terdapat dalam Pasal 2 (1) Kovenan Ekosob, yang berbunyi:
Setiap Negara-Pihak pada Kovenan ini, berjanji untuk mengambil langkah-langkah, baik secara individual maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional, khususnya di bidang ekonomi dan teknis sepanjang tersedia sumber dayanya, untuk secara progresif mencapai perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui oleh Kovenan ini dengan cara-cara yang sesuai, termasuk dengan pengambilan langkah-langkah legislatif.
Adanya kewajiban dalam Kovenan Ekosob tampak tak menjanjikan jika dibanding Kovenan Sipol. Dalam Kovenan Ekosob bentuk kewajiban adalah progresif ketimbang bersifat langsung, dan sepanjang tersedia sumber
dayanya . Negara sendiri bisa dibilang wajib berusaha mati-matian dalam
melaksanakan hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Adanya kewajiban yang lebih
22
lunak dalam Kovenan Ekosob bagi negara juga akan memudahkan negara yang melakukan pelanggaran menutupi temuan pelanggaran hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Akan jauh lebih mudah untuk menentukan apakah suatu negara telah atau belum melaksanakan hak-hak dalam Kovenan Sipol secara benar menurut standar minimal Kovenan Sipol, daripada untuk menentukan apakah suatu negara telah berusaha maksimal dalam mengimplementasikan hak-hak sesuai standar kewajiban provisional yang telah ditentukan oleh Kovenan Ekosob.
2.6 Hak positif dan negatif
Alasan utama dibalik adanya perbedaan kewajiban dalam Kovenan Sipol dan Ekosob adalah adanya persepsi bahwa hak Sipol adalah hak negatif, yang hanya mensyaratkan negara untuk menahan diri dari tindakan yang bisa melanggar hak-hak dalam Kovenan Sipol, sementara hak-hak Ekosob bersifat positif , yang membutuhkan peran serta negara untuk mengambil tindakan dalam memenuhi hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Sekilas tampak di sini bahwa hak negatif hanya mensyaratkan kepada negara untuk pasif. Kewajiban yang mudah dan sederhana ini menjadi justifikasi bahwasanya kewajiban dalam Kovenan Sipol relatif tidak berat. Sedangkan hak positif yang mahal dan sulit untuk dilaksanakan, menjadi justifikasi adanya pemberian kelonggaran penegakan hak-hak dalam Kovenan Ekosob kepada negara.
23
hal ini terjadi. Dalam Komentar Umum nomor 31, HRC menegaskan bahwa Pasal 2 (1) Kovenan Sipol dan Ekosob berisi ketentuan tanggung jawab Negara Pihak sehubungan dengan semua hak yang terdapat dalamnya, keduanya bersifat negatif dan positif.60
Hal yang sama berlaku dalam Kovenan Ekosob: norma-normanya juga memerlukan aspek negatif dan positif. Misalnya, hak atas tempat tinggal, aspek hak atas standar hidup yang layak ini tertuang dalam Pasal 11 ICESCR ini memiliki aspek positif dalam hal bahwasanya negara harus membuat regulasi yang memadai untuk rumah singgah bagi tunawisma. Hak ini akan memiliki aspek negatif ketika negara seharusnya tidak sewenang-wenang mengusir orang dari tempat tinggalnya. Satu hal dapat dicatat, sebagai contoh, bahwa penggusuran sewenang-wenang dan penggusuran tempat tinggal adalah bentuk pelanggaran HAM yang telah digunakan di masyarakat Zimbabwe terhadap lawan politik Robert Mugabe.61
2.7 Sifat tripartit keseluruhan HAM
Negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM, entah itu dalam hak Sipol ataupun hak Ekosob. Kewajiban untuk melindungi adalah kewajiban untuk menahan diri dari setiap tindakan yang melanggar HAM: tindakan semacam ini adalah bentuk kewajiban negatif paling mendasar. Bentuk kewajiban untuk melindungi adalah kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam melindungi orang-perorang dari segala sesuatu yang membahayakan hak asasi mereka oleh entitas lain, entah dari entitas perorangan atau korporasi. Oleh karena itu, Hak asasi di sini tentu akan berdampak pada ranah privat pula: yaitu negara diharuskan untuk mengatur entitas masyarakat guna memastikan, selama bisa doterima, bahwa mereka tidak merugikan HAM orang lain. Misalnya, menciptakan standar regulasi kesehatan dan keselamatan untuk memastikan bahwa hak-hak pekerja tidak dilanggar oleh majikannya. Kewajiban untuk memenuhi sendiri mencakup kewajiban untuk mengambil langkah-langkah
60 Komite HAM, General Comment No : Nature of the General Legal Obligation Imposed
on States Parties to the Covenant Dokumen PBB. CCPR/C/21/Rev.1/Add.13 (26 Mei 2008) para 6.
61 Lihat Komisi tentang HAM, Report of the Special Rapporteur on adequate housing as a
component of the right to an adequate standard of living, Miloon Kothari: Summary of
24
yang diperlukan dalam memastikan bahwa setiap individu dapat menikmati hak asasinya. Contoh dari pelaksanaan kewajiban ini berbentuk pemberian subsidi guna menjamin adanya akses masyarakat miskin atas kebutuhan hidup dan pelayanan yang vital seperti air, kesehatan dan pendidikan, dan adanya aksesibilitas terhadap pelaksanaan program vaksinasi demi tercapainya perlindungan dari segala ancaman terhadap hak untuk hidup dan kesehatan.
Kewajiban untuk menghormati dan melindungi umumnya memerlukan sumber daya lebih sedikit daripada kewajiban untuk memenuhi.62 Kewajiban untuk memenuhi selanjutnya meliputi kewajiban untuk menyediakan fasilitas, sosialisasi, dan penyediaan segala hal dalam mencapai hak-hak tersebut. Ketersediaan fasilitas mengharuskan negara membuat suatu skema yang dibutuhkan agar memungkinkan setiap orang untuk menikmati hak-haknya. Misalnya, penyediaan fasilitas terkait hak atas pendidikan akan melibatkan peranan strategis negara dalam memastikan standar minimum kualitas lembaga pendidikan. Sosialisasi menyangkut peningkatan kesadaran masyarakat tentang hak tertentu: sebagai contoh adanya sosialisasi hak-hak tertentu kepada masyarakat akan hak-hak mereka untuk mengakses bantuan hukum. Pada akhirnya, akan ada kewajiban yang melibatkan penyediaan oleh negara secara langsung atas bantuan hukum bagi kelompok tidak mampu, karena alasan di luar jangkauan kemampuan mereka untuk mengusahakannya. Misalnya, bantuan hukum harus ada bagi mereka yang dituduh melakukan kejahatan serius sebagaimana tertuang dalam Pasal 14 (3) (d) Kovenan Sipol, meski si terdakwa tidak mampu membayar penasehat hukum. Contoh kedua, negara seyogyanya menyediakan hunian bagi mereka yang terlalu miskin untuk mengusakan bagi dirinya sendiri sebagaimana tertuang dalam Pasal 11 Kovenan Ekosob.63
Ujungnya, untuk melaksanakan prinsip kewajiban tripartit HAM merupakan kewajiban pemenuhan HAM yang otomatis mengharuskan pemerintah dengan sendirinya untuk melindungi hak-hak tersebut.64 Kewajiban untuk menghormati menyiratkan bahwa pihak swasta diberikan ruang yang diperlukan untuk memainkan perannya dalam, misalnya, pemberdayaan bahan pangan atau penyediaan perumahan. Kewajiban untuk memfasilitasi (yang merupakan bagian dari tugas untuk memenuhi) membutuhkan peran negara
62 Dewan Ekosob PBB Report of the United Nations High Commissioner for Human
Rights , dokumen PBB. E/2007/82 (25 Juni 2007) para 11.
25
dalam menyediakan lingkungan yang memadai untuk pemenuhan hak, dengan demikian membutuhkan penguatan bagi sektor swasta dalam cara yang tepat. Misalnya, Negara dapat memfasilitasi dan mendorong adanya kegiatan badan-badan amal swasta, yang pada gilirannya akan membantu menyediakan pemenuhan hak-hak dalam Kovenan Ekosob dengan cara umpamanya menyediakan pembiayaan rendah perumahan, dengan mempertimbangkan pajak yang harus dibayar oleh organisasi tersebut.65 Tentu saja, pemerintah suatu negara di sini tetap memiliki tugas terdepan dalam menjamin semua hak-hak asasi: kewajiban yang tidak bisa didelegasikan atau dilimpahkan ke sektor swasta.
3. Melihat lebih dekat kondisi hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Ekosob)
Sisi tidak mengenakkan dari keberadaan hak-hak Ekosob jika dibandingkan hak-hak Sipol telah mulai diatasi. Sebagai contoh, Komite Ekosob sekarang ini telah mengeluarkan 21 Komentar Umum, yang telah membuat arah penjelasan makna teks-teks Kovenan Ekosob. Dengan demikian, kurang adanya penjelasan yang terjadi tentang hak-hak di dalam Kovenan Ekosob akan teratasi.
3.1 Kewajiban progresif
Kewajiban menerapkan prinsip progresif dalam Pasal 2 (1) Kovenan Ekosob mensyaratkan negara harus membuat langkah-langkah sejauh kemampuannya dalam menjamin tercapainya hak-hak tertentu dalam Kovenan ekosob. Oleh krena itu, capaian program akan suatu hak dalam Kovenan Ekosob harus lebih baik dalam rentang waktu lima tahun ketimbang masa sebelumnya:66 dengan harapan ada peningkatan dalam suatu negara dari waktu ke waktu. Realisasi prinsip progresif dapat dipantau, misalnya melalui Laporan Prosedural dalam
65 Komisi HAM, Realization of economic, social and cultural rights: Second progress
report prepared by Mr Danilo Türk, Special Rapporteur , UN doc. E/CN. /Sub. / /
Juli para ; Commission on Human Rights, The Realization of Economic, Social and Cultural Rights: Final report submitted by Mr Danilo Türk, Special Rapporteur , dokumen PBB. E/CN.4/ Sub.2/1992/16 (3 Juli 1992) para 192. Lihat juga Robertson, Loc. Cit, n 54, 698–9.
66UNGA, Report of the Special Rapporteur on the right of everyone to the enjoyment of
26
Kovenan Ekosob, dengan menggunakan indikator dan tolak ukur. Indikator sendiri terdiri data-data, yang dipilah berdasar ras, jenis kelamin, masyarakat perkotaan/pedesaan, dan status sosial-ekonomi, yang akan membantu untuk mengidentifikasi kinerja suatu negara secara aktual sehubungan dengan hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Tolak ukurnya adalah adanya capaian suatu negara terhadap program yang telah ditetapkan dalam rentang waktu tertentu: kesuksesan capaian program diukur dengan indikator-indikator.67 Sebagai contoh, indikator dapat mengungkap informasi secara rinci tentang angka kelahiran di setiap negara yang didampingi oleh dokter. Tolak ukur di sini untuk mengindikasikan adanya hal tertentu (misalnya, 50 persen) dalam persentase kelahiran dalam rentang waktu tertentu (misalnya, rentang tiga tahun). Dalam menetapkan tolak ukur kewajiban progresif, lembaga yang menjalankan mandat traktat PBB cenderung tunduk kepada Negara-Pihak dalam, karena alasan, menentukan target yang masuk akal dan realistis.68 Indikator dan tolak ukur membantu negara untuk memantau kemajuan capainnya sendiri, dan juga membantu untuk memastikan akuntabilitas negara di bawah Kovenan Eksob.69 Negara bisa juga dibantu dalam hal pengumpulan data-data oleh LSM internasional. Selanjutnya, kemajuan capaian di bidang terkait dikirim ke Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB untuk mendapatkan ulasan terhadap ketepatan indikator dalam HAM, dan bagaimana indikator tersebut harus digunakan dan dipantau oleh pemerintah dan berbagai lembaga traktat PBB.70
67 Komisi HAM, Report of the Special Rapporteur on the right of everyone to the
enjoyment of the highest attainable standard of physical and mental health, Paul Hunt , dokumen PBB. E/CN.4/2006/48 (3 Maret 2006) para 34.
68 Dokumen PBB. E/2007/82, Loc. Cit, n 62, para 54. Ada persyaratan prosedural dalam
menetapkan tolak ukur. Misalnya, tolak ukur harus ditetapkan berdasar proses partisipatif dan inklusif di tingkat nasional. Maka dari itu, pemerintah tidak bisa otokratis membangun tolok ukur sendiri.
69 Report of the Special Rapporteur on the right of everyone to the enjoyment of the
highest attainable standard of physical and mental health, Paul Hunt , dokumen PBB. E/CN.4/2006/48 (3 Maret 2006), Loc. Cit, n 67, para 35.
70 Lihat, misalnya, Office of the High Commissioner for Human Rights, Report on
27
Dengan adanya kewajiban progresif, menyiratkan bahwa negara harus terus bergerak maju dalam pengimplementasian hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Muncul juga anggapan bahwa capaian kinerja suatu negara tidak akan mundur ke belakang, karena:
Tindakan retrogessif secara sengaja. . . akan membutuhkan pertimbangan yang matang dan sepenuhnya memerlukan alasan pembenar kalau mengacu pada keseluruhan hak yang diatur dalam Kovenan dan dalam konteks penggunaan seluruh sumber daya yang tersedia berlimpah.71
Oleh karena itu bisa dimungkinkan suatu negara untuk mengambil langkah-langkah retrogressif terkait akses terhadap hak-hak dalam Kovenan Ekosob, asalkan langkah-langkah tersebut bisa dibenarkan dengan mengingat ketersediaan sumber daya (misalnya, adanya krisis ekonomi yang tiba-tiba atau bencana alam) dan harus memiliki kaitan dengan keseluruhan implementasi dan akses atas hak untuk menikmati hak-hak dalam Kovenan Ekosob. Akan tetapi, suatu negara menanggung beban pembuktian yang berat dalam hal ini di sisi lain, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Komentar Umum nomor 19, mengenai langkah retrogressif tentang hak atas jaminan sosial:
Ada dugaan kuat bahwa tindakan retrogressif yang diambil dalam kaitannya dengan hak atas jaminan sosial dilarang menurut Kovenan ini. Jika langkah-langkah retrogressif sengaja diambil, Negara-Pihak memiliki beban untuk membuktikan bahwa mereka telah mengajukan pertimbangan yang matang dari semua alternatif dan mereka sepatutnya dibenarkan dengan mengacu pada keseluruhan hak yang diatur dalam Kovenan ini, dalam konteks adanya penggunaan sumber daya yang tersedia secara maksimal yang tersedia oleh negara partisipan. Komite akan melihat dengan seksama apakah: (a) ada pembenaran yang masuk akal untuk tindakan tersebut; (b) alternatif yang komprehensif ditemui; (c) ada partisipasi yang serius dari kelompok yang terdampak dalam mencari langkah yang diusulkan dan langkah-langkah alternatif; (d) tindakan langsung atau tidak langsung yang diskriminatif; (e) tindakan akan memiliki dampak berkelanjutan atas realisasinya terhadap hak atas jaminan sosial, dampak memiliki dasar pembenar terhadap realisasi hak-hak jaminan sosial yang bisa diperoleh atau apakah individu atau kelompok yang dicabut aksesnya minimal terpenuhi hak jaminan sosialnya secara esensial; dan (f) apakah ada kajian yang independen dari langkah-langkah tersebut di tingkat nasional.72
71 Komite Ekosob, General Comment No. : The Nature of States Parties Obligations Ps.
2, Ayat. 1, Kovenan Ekosob , dokumen PBB. E/1991/23 (14 Desember 1990) para 9.
72 Komite Ekosob, General Comment No. : The right to social security (Ps. , dokumen
28
3.2 Ketersediaan sumber daya
Kovenan Ekosob secara eksplisit mempertimbangkan kemampuan negara untuk memenuhi kewajiban Kovenan Ekosob, termasuk penilaian terhadap peng-implementasian hak-hak dalam Kovenan Ekosob, tergantung pada ketersediaan sumber daya. Oleh karena itu, berharap lebih akan adanya kerja sama negara-negara kaya terhadap negara-negara miskin.73 Sumber daya keuangan bukanlah satu-satunya sumber yang relevan dengan Kovenan Ekosob: ada juga, misalnya, sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya informasi, dan sumber daya teknologi.74
Salah satu alat untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap kewajiban yang ada dalam kaitan penggunaan sumber daya yang tersedia sepenuhnya adalah dengan menganalisa anggaran negara. Sebagaimana dicatat oleh Komisaris Tinggi HAM dalam sebuah laporan 2009:
Anggaran merupakan sumber informasi berguna untuk mengevaluasi komitmen normatif yang telah ditetapkan secara sungguh-sungguh oleh negara, karena menyediakan preferensi-preferensi suatu negara, prioritas-proritasnya dan keputusan yang harus diambil (trade-offs) dalam belanjanya secara demonstratif. Contohnya, adanya pengalokasian anggaran belanja yang rendah untuk program kesehatan, pendidikan atau sosial, akan terlihat dengan adanya kesenjangan dengan implementasinya, maka akan terlihat prioritas atau estimasi kecukupan dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.75
Sebagai contoh:
Jika terdapat persentase anggaran pendidikan yang dikucurkan untuk mensubsidi sekolah swasta yang diperuntukan bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan menengah dan atas dibanding kucuran anggaran bagi sekolah-sekolah umum yang melayani masyarakat berpenghasilan rendah dari populasi yang ada, maka analisa akan menunjukkan bahwa prioritas pemerintah bisa jadi tidak sejalan dengan kewajiban internasionalnya.76
73 Report of the Special Rapporteur on the right of everyone to the enjoyment of the
highest attainable standard of physical and mental health, Paul Hunt , dokumen PBB. A/61/338 (13 September 2006), Loc. Cit, n 66, paragraf 55.
74 SLihat secara umum, Robertson, Loc. Cit, n 54.
75 Dewan Ekosob, Report of the High Commissioner for Human Rights on implementation
of economic, social and cultural rights , dokumen PBB. E/2009/90 (8 Juni 2009) para 46, dan, secara umum, paras 44–54.