• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal skripsi PRINTtok dan Sistem Akuntansi Keuang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal skripsi PRINTtok dan Sistem Akuntansi Keuang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

UNSUR-UNSUR INTRINSIK CERPEN “MU`JIZĀT WA KARĀMĀT” DALAM ANTOLOGI CERPEN ARINĪ ALLĀH

KARYA TAUFĪQ AL-ḤAKĪM : ANALISIS STRUKTURAL

Oleh :

AANG KHOIRUL ANAM 10/300174/SA/15516

JURUSAN SASTRA ASIA BARAT FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sastra adalah sebuah kegiatan kreatif karya seni dan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya dari karya fiksi (Wellek dan Austin Warren, 1989: 14). Sastra berisi berbagai pengalaman subyektif penciptanya, pengalaman subjektif seseorang dan pengalaman kelompok masyarakat (Sangidu, 2007:1). Pengalaman-pengalaman ini dijabarkan di dalam unsur-unsur karya sastra dengan bermediumkan bahasa.

Fiksi adalah salah satu bagian sastra yang pada hakikatnya merupakan karya cipta baru yang menampilkan dunia dalam bangun kata dan bersifat otonom, artinya karya sastra itu hanya tunduk pada hukumnya sendiri dan tidak mengacu, atau sengaja diacukan pada hal-hal yang di luar struktur karya fiksi itu sendiri (Nurgiyantoro, 2002: 8). Fiksi terbagi menjadi novel atau roman, cerita pendek, dan novelette (Sumardjo, 1991: 18).

Cerita pendek adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Menurut sastrawan Amerika, Edgar Allan P.J (dalam Nurgiyantoro, 2002: 10), cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah hingga dua jam. Dikatakan pendek juga karena genre ini hanya mempunyai efek tunggal. Karakter, plot, dan settingnya yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks (Sumardjo: 1991: 30). Adapun Stanton (1965: 37) berpendapat bahwa cerpen adalah sebuah karya fiksi yang maksimal terdiri dari lima belas ribu kata atau sekitar lima puluhan halaman.

Dalam dunia kesusastraan Arab, cerita pendek disebut al-qiṣṣah al-qasīrah

(3)

imajinasinya yang diwarnai dengan dialog-dialog yang terasa hidup, penuh dengan fantasi, dan bernuansa filosofis.

Taufīq Al-Ḥakīm adalah seorang sastrawan besar Mesir yang memiliki pemikiran kontroversional. Sebagai sastrawan yang kritis terhadap konteks sosial, ia sering mendapat kritikan bahkan dibenci oleh ulama konservatif karena tulisannya dianggap membahayakan nilai-nilai agama dan kemasyarakatan. Beliau dipandang sebagai guru oleh Najīb Mahfūz karena dianggap sebagai puncak representasi aliran realisme di Mesir (Al-Hakim, 2002:v). beliau adalah seniman produktif yang menghasilkan karya sastra yang diminati oleh publik baik berupa novel, kisah filsafat, cerpen, teater, dan lain sebagainya. Setengah abad lebih ia

mencurahkan seluruh hidupnya untuk dunia seni.

Antologi cerpen “Arinī Allāh” terdiri atas 18 judul, yang beliau karang pada tahun 1953. Antologi cerpen ini adalah salah satu dari sekian banyak karya beliau, dan salah satu judulnya adalah “Mu`jizāt wa Karāmāt”. Judul cerpen tersebut dibangun oleh unsur-unsur intrinsik, oleh karena itu untuk dapat memahaminya diperlukan analisis unsur-unsur tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan penulis diatas, penelitian ini akan membahas unsur-unsur intrinsik yang ada pada cerpen

“Mu`jizāt wa Karāmāt” karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī

Allāh”. Unsur-unsur intrinsik tersebut terdiri dari tema, fakta cerita, sarana cerita dan ironi. Fakta cerita terbentuk dari hal-hal berikut, yaitu tokoh dan penokohan, alur, dan latar, sedangkan sarana cerita terdiri dari sudut pandang, dan keterkaitan antar unsur sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antar unsur intrinsik yang menyusun cerita pendek “Mu`jizāt wa Karāmāt”, sehingga penelitian ini dapat dipelajari oleh mahasiswa lain. Selain itu, lewat penelitian ini

(4)

terhadap suatu karya sastra, khususnya karya sastra yang berasal dari dunia Arab oleh civitas akademik khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selain tujuan diatas, penulis berharap karya sastra ini dapat dinikmati oleh masyarakat, dikritisi isinya sekaligus diambil pelajaran yang tersimpan dalam cerita pendek ini.

1.4 Tinjauan Pustaka

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan dengan judul skripsi. Buku-buku yang digunakan dalam pengkajian ini adalah buku-buku tentang sastra, struktural sastra dan sumber bacaan yang lain. Sampai saat ini, penulis telah berusaha mencari referensi baik dari skripsi, tesis,

(5)

Yang kedua, cerpen I'tirāf al-Qātil yang telah dianalisi oleh Sidiq (2009) dengan analisis struktural dan disimpulkan bahwa proses peradilan yang dijalankan sesuai peraturan untuk menegakkan keadilan, sehingga kebenaran bisa terungkap. Terdakwa akhirnya tidak jadi dieksekusi mati. Keterkaitan antar unsur pada cerpen ini sangat kuat, sehingga membuat satu kesatuan yang utuh.

Yang ketiga, Cerpen "Al-abīb Al-Majhūl" telah dianalisis oleh Wardani (2009) dengan analisis struktural. Kesimpulan dari skripsi tersebut adalah kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain, kesimpulan ini merupakan tema dari cerpen tersebut. Hubungan antar unsur dalam cerpen ini memiliki hubungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya, baik antara Tema dengan Tokoh

Utama, Tema dengan Latar, Tema dengan Sudut Pandang, Tema dan Alur, Alur dengan Tokoh, serta Alur dengan Latar. Tokoh utama berperan menyampaikan tema kepada pembaca melalui latar dan sudut pandang orang pertama ‘aku’, alur bertugas menuntun pembaca untuk menikmati dan mencermati jalan cerita yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan latar, sehingga cerita dalam cerpen ini membentuk satu kesatuan cerita yang utuh dan mudah dipahami.

1.5 Landasan Teori

Teori sastra didefinisikan sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk menjelaskan, mengklasifikasi, menggeneralisasi apa yang disebut karya sastra (Wahyudi siswanto, 2008 : viii).

Sedangkan karya sastra adalah sebuah struktur yang dibentuk oleh unsur-unsur yang saling berkaitan, saling menentukan, saling membentuk hubungan timbal balik dalam suatu kesatuan (Nurgiyantoro, 2002; 36). Struktur itu sendiri adalah keseluruhan relasi antara berbagai unsur sebuah teks. Pandangan tentang struktur diwadahi dalam strukturalisme. Menurut Hawks (1978, 17-18)

Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur. Pada hakikatnya dunia ini lebih tersusun dari hubungan-hubungan daripada benda-bendanya itu sendiri. Dalam kesatuan hubungan-hubungan itu, setiap unsur atas anasirnya tidak memiliki makna sendiri-sendiri kecuali dalam

(6)

struktur. Dengan demikian, unsur-unsur struktur tersebut tidak dapat dipandang sebagai hal-hal yang berdiri sendiri, tetapi hal-hal tersebut saling berikat, saling berkaitan, dan saling bergantung. Pendapat ini sejajar dengan apa yang

dikemukakan oleh Teeuw (1984: 135).

Oleh karena didalam analisis struktural diletakkan pada unsur-unsur intrinsik, maka struktural merupakan objektif. Teori struktural merupakan pendekatan yang bersifat objektif, yaitu pendekatan yang menganggap karya sastra sebagai ‘makhluk’ yang berdiri sendiri. Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting disebabkan pendekatan apapun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu pda karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memusatkan

perhatian pada unsur-unsur yang dikenal sebagai analisis intriksik.

Teori struktural yang digunakan untuk menganalisis cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” dalam penelitian ini adalah teori struktural Robert Stanton yang ada pada buku nya yang berjudul An Introduction to Fiction (1965). Stanton (1965: 11) dalam bukunya tersebut, membagi unsur intrinsik fiksi menjadi tiga bagian, yaitu : fakta cerita (facts), sarana sastra (literary devices), dan tema (theme). Ketiganya merupakan unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dalam membentuk kesatuan makna. Satu unsur dengan yang lainnya tidak dapat berdiri sendiri. Disamping konsep yang dikemukankan oleh Stanton itu, penulis juga menambahkan konsep lain dengan tujuan agar memperjelas cerpen sebagai sebuah struktur dan memperkaya analisis. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga unsur tersebut.

(7)

berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam sebuah cerita (Stanton, 1965: 18)

Sarana cerita dapat diartikan sebagai metode pengarang memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengan adanya sarana cerita ini pembaca dapat melihat berbagai macam fakta melalui kecamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut, sehingga pengalaman pun dapat dibagi. Sarana-sarana sastra yang dimaksud adalah judul (title), sudut pandang (point of view), gaya bahasa nada (style and tone), simbolisme (symbolism), dan ironi (irony) (Stanton, 1965: 23). Dalam penelitian ini penulis hanya memusatkan perhatian pada unsur judul, sudut

pandang, dan ironi sebagai unsur yang berpengaruh dalam menentukan tema, sudut pandang, dan ironi sebagai unsur yang berpengaruh dalam menentukan tema. Stanton, (1965: 25-26) menyatakan bahwa judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan. Sudut pandang merupakan posisi pusat seorang pembaca memahami peristiwa-peristiwa dalam cerita (Stanton, 1965: 26). Ironi adalah cara untuk menunjukkan suasana berlawanan dengan sesuatu yang sudah ada

sebelumnya.

Tema sering diistilahkan dengan ide sentral atau gagasan sentral cerita. Tema merupakan aspek yang sejajar dengan ‘makna’ dalam pengalaman manusia. Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir cerita akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan. Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detil sebuah cerita (Stanton, 1965: 19). Tema dapat pula diartikan sebagai makna yang dapat merangkum semua elemen dalam cerita dengan cara yang paling sederhana (Stanton, 1965: 21).

1.6 Metode Penelitian

Kata metode berasal dari kata yunani methodos yang berasal dari gabungan dua kata yaitu meta yang berarti ‘menuju, melalui, mengikuti, sesudah’ dan kata hodos yang berarti ‘jalan, perjalanan cara, arah’. Berbicara metode,

(8)

yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek sasaran ilmu bersangkutan (Kesuma, 2007: 1)

Objek penelitian sastra dibedakan menjadi dua macam, yaitu objek material dan objek formal. Objek material penelitian sastra adalah semua bentuk kegiatan penelitian sastra, sedangkan objek formalnya ditentukan oleh sudut pandang masing-masing peneliti dalam penelitian sastra (Sangidu, 2007: 62). Adapun objek material dalam penelitian ini adalah cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī Allāh”, sedangkan objek formalnya adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen ini, sehingga bisa menjadi sebuah jalinan antar unsur yang padu. Penelitian

adalah segala aktivitas berdasarkan disiplin ilmiah untuk mengumpulkan, menjelaskan, menganalisis, dan menafsirkan fakta-fakta serta hubungan-hubungan antara fakta-fakta alam, masyarakat, kelakuan, dan rohani manusia guna menemukan prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode baru dalam usaha menanggapi hal-hal tersebut (Kesuma, 2007: 2-3).

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan membaca beberapa kali objek materialnya, yaitu cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt”

karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī Allāh” kemudian diterjemahkan, setelah diterjemahkan kemudian diedit lagi agar sesuai dengan kaidah EYD dan memiliki arti yang mudah dipahami. Dari langkah pertama tersebut, mulai dari pembacaan, penerjemahan, pengeditan dan penyesuaian dengan EYD, peneliti telah sangat memahami cerpen tersebut. Selanjutnya, peneliti membaca objek formal penelitian yang berupa teori-teori analisis karya sastra, khususnya teori tentang unsur-unsur intrinsik dan keterjalinan antar unsurnya. Langkah selanjutnya adalah menghayati dan memahami terhadap apa yang dibaca, peneliti mengumpulkan data yang berupa realita literer. Realita literer karya sastra ini berupa fakta-fakta literer yang terdiri dari kalimat-kalimat yang berhubungan dengan objek formal penelitian ini (Sangidu, 1996: 70). Adapun teknik dalam mengumpulkan data adalah teknik catat, yaitu setelah data-data ditemukan kemudian diikuti dengan pencatatan pada kartu (Kesuma, 2007:

(9)

Karena teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori struktural, maka metode yang digunakan adalah metode analisis struktural. Analisis struktural adalah metode yang bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semenditel, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984: 135). Nurgiyantoro (2002: 37) mengemukakan bahwa analisis struktural dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mangkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik karya sastra yang bersangkutan. Berkaitan dengan metode struktural ini, maka akan diuraikan unsur-unsur intrinsik dalam cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt”,

yaitu meliputi fakta cerita, sarana sastra, dan tema. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (i). memilih dan menentukan teks yang akan diteliti, (ii) menfokuskannya dan menerjemahkannya teks yang dipilih sebagai objek penelitian, (iii) menganalisis fakta cerita, (iv) menganalisis sarana sastra, (v) menganalisis tema, (vi) menganalisis hubungan antarunsur, (vii) dan mengambil kesimpulan. Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan untuk memaparkan objek penelitian secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur-unsur karya sastra secara bersama menghasilkan makna menyeluruh.

1.7 Sistematika Penelitian

Sistematika penulisan dari penelitian ini terdiri dari empat bab, yaitu bab I adalah pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, sistematika penelitian, pedoman transliterasi Arab-Latin. Bab II meliputi biografi Taufīq Al-Hakīm dan sinopsis cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” dalam antologi cerpen “Arinī

Allāh”. Bab III adalah analisis struktural berupa unsur-unsur intrinsik dari cerpen

“Mu`jizāt wa Karāmāt”, yang terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Bab IV adalah kesimpulan dan yang terakhir adalah daftar pustaka.

(10)
(11)

BAB II

BIOGRAFI PENGARANG DAN SINOPSIS CERPEN“MU`JIZĀT WA KARĀMĀT”

1. 1 Biografi Taufīq Al-Hakīm

Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang, Biografi pengarang,

2. 2 Sinopsis cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” dalam antologi cerpen “Arinī Allāh”

Sinopsis cerpen, Sinopsis cerpen, Sinopsis cerpen, Sinopsis cerpen,

(12)

BAB III

ANALISIS STRUKTURAL CERPEN “MU`JIZĀT WA KARĀMĀT”

Cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” dianalisis unsur-unsur intrinsik oleh penulis dari segi tema (theme), alur (plot), tokoh dan penokohan (character), latar (setting), judul (title), sudut pandang (point of view), dan ironi (irony). Analisis penulis berdasarkan kajian struktural yang menekankan pada unsur-unsur intrinsik sebuah karya sastra. Dari setiap unsur yang dianalisis nanti akan ditemukan

keterkaitan antar unsur yang menjadi bagian-bagian yang tak terpisahkan dari

cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” ini. Unsur-unsur tersebut pasti saling berkaitan, dan tidak mungkin dapat berdiri sendiri, sehingga didapat suatu makna dari keterkaitan satu unsur dengan unsur lainnya.

3.1 Fakta Cerita

Unsur-unsur yang termasuk dalam fakta cerita dalam suatu karya sastra fiksi adalah tokoh dan penokohan, alur, dan latar.

3.1.1 Tokoh dan Penokohan

Dalam setiap cerpen harus ada tokoh, tokoh disini ada yang menjadi tokoh utama dan tokoh figuran. Arti penokohan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah proses, cara, perbuatan menokohkan dan penciptaan citra tokoh dalam karya susastra. Tokoh pasti berhubungan dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut. Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita,

sedangkan penokohan adalah cara sastrawan menampilkan tokoh (Aminuddin, 1984:85).

3.1.1.1 Tokoh Utama “Pendeta”

Pada cerpen “Mu`jizāt wa Karāmāt” ini, tokoh Pendeta adalah tokoh utama,

(13)

dalam alur cerita. Hal itu dapat kita lihat dalam beberapa cuplikan dialog sebagai berikut :

ﻪﺗﺩﺎﻌﻛ ﺍﺮﻜﺒﻣ ﺐﻫﺍﺮﻟﺍ ﻆﻘﻴﺘﺳﺍ

/ istaiqaa al-rāhib mubakkiran ka‘ādatihi /

“Seorang pendeta bangun pagi seperti biasanya” (Al-Hakim, 1999 : 116)

ﻪﻘﺒﺴﺗ ﱂ

ﺎﻬﺷﺎﺸﻋﺃ ﻦﻣ ﺔﻀﻫﺎﻨﻟﺍ ﲑﻓﺎﺼﻌﻟﺍ ﲑﻏ

/ lam tasbiqhu gairu al-‘aṣāfīri al-nāhiḍati min a‘syāsyihā /

“tidak ada yang mendahuluinya kecuali burung-burung kecil yang keluar dari sarangnya” (Al-Hakim, 1999 : 116)

.

..

ﻕﺮﺸﻟﺍ ﻢﻴﻠﻗﺇ ﻦﻣ ﺔﻌﻴﺒﻟﺍ ﻚﻠﺗ ﰱ ﻪﻠﻤﻋ ﻭ ﻪﺗﺩﺎﺒﻋ ﻭ ﻪﺗﻼﺻ ﱃﺇ ﻡﺎﻗﻭ

/ wa qāma ilāṣalātihi wa ‘ibādatihi wa ‘amalihi fī tilka al-bai‘ati min iqlīmi

al-syarqi /

“Dia mendirikan sembahyangnya, ibadahnya, dan pekerjaannya di sebuah gereja yang berada di wilayah negeri timur.” (Al-Hakim, 1999 : 116)

ﺪﻘﻓ

(14)

“Di depan pintu ada pohon kurma kecil, yang ia tanam sendiri dan ia sirami setiap hari ketika matahari terbit.” (Al-Hakim, 1999 : 116)

Masih banyak lagi kutipan cerpen yang menceritakan tentang si pendeta itu tersebut. Kutipan tersebut menguatkan bila tokoh utama dalam cerpen tersebut adalah si Pendeta.

3.2.1.2 Tokoh Figuran

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ḥakīm, Taufīq. 1999. Arinī Allāh. Kairo: Maktabah al-Usrah Aminuddin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar

BaruAlgesindo.

Biografi Taufiq al-hakim. http://elmynourity.blogspot.com/2012/07/biografi-novelis-arab.html. diakses pada 25/06/2013 00.22

Biografi Taufiq el-hakim. http://www.scribd.com/doc/56076267/taufik-al-hakim

diakses pada 25/06/2013 00.16

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Kamus Arab-Indonesia. Surabaya : Pustaka

Progresif. Cetakan ke-14

Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pedoman tranliterasi Arab-Latin. http://lajnah.kemenag.go.id/unduhan/file/2-pedoman-transliterasi-arab-latin.html , http://repository.uii.ac.id , dan

http://download.bse.kemdikbud.go.id diakses pada tanggal 24/06/2013 14.20

Sangidu. 2007. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Yogyakarta: Seleksi Penerbitan Sastra Asia Barat FIB UGM

Setiawan, Ebta. 2010-2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia offline V 1.3. freeware. http://ebsoft.web.id

Shobikhah, Lailis. 2004. “Anā al-Maūt” karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī Allāh”: Analisis Struktural. Skripsi. Tidak diterbitkan. Jurusan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada.

Sidiq, Muhammad Said. 2009. “I'tirāf al-Qātil” karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī Allāh”: Analisis Struktural. Skripsi. Tidak

diterbitkan. Jurusan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada.

(16)

Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt Renehart and Widnston Inc

Suhardjo, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Penerbit Widya Duta. Teeuw, A. 1984. Sastra dan ilmu sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka

Jaya

Wardani, Anggita Kusuma. 2009. "Al-abīb Al-Majhūl" karya Taufīq Al-Ḥakīm dalam antologi cerpen “Arinī Allāh”: Analisis Struktural. Skripsi. Tidak diterbitkan. Jurusan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji Syukur Yang Teramat Dalam Saya Haturkan Ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Atas Percikan Kasih, Hidayah Dan

2 Jadi jika t hitung < t tabel dan signifikansi > 0,1 maka tidak ada pengaruh antara pengendalian internal, audit intern, dan sistem informasi akuntansi terhadap kualitas laporan