Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik

41  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

Tugas Akhir (Individu)

Mata Kuliah : Perkembangan Peserta Didik

Pembimbing : Dr. Gusnawaty, M.Hum/ Ita Rosvita Dahri, S.S.

Permasalahan yang Dihadapi

Peserta Didik Usia Menengah /

Remaja

Studi Kasus di SMP N 17 Makassar

OLEH :

ILMAL SATRIANI

(2)

PROGRAM SARJANA GURU BAHASA DAERAH ANGKATAN V

(3)

Kata Pengantar

Alhamdulillah, Puji dan Syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat Rahmat, Hidayah dan Cinta, Kasih, sayang serta Barokah-Nyalah sehingga penulis dapat merampungkan makalah yang berjudul

Salawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita, Rasullullah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman, Sang revolusioner sejati, beserta keluarga, para sahabat dan umatnya sampai akhir zaman, Amin.

Serta ucapan terima kasih kepada pembimbing, Ita Rosvita Dahri, S.S yang dengan senang hati meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.

Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada semua responden yang dengan senang hati meluangkan waktunya. Kepada kedua orang tua serta semua pihak yang membantu penulis dalam merampungkan karya ini.

Makalah ini disusun guna memenuhi syarat kelulusan pada mata kuliah

Perkembangan Peserta Didik, Program Sarjana Guru Bahasa Daerah (PSGBD), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin Makassar.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari peran dan sumbangsih pemikiran serta intervensi dari banyak pihak. Karena itu dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan makalah ini

Saya menyadari, makalah ini sangat jauh dari taraf kesempurnaan, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Agar di suatu saat nanti, saya mampu mebuat karya yang lebih baik lagi. Harapan saya semoga tulisan ini memberikan manfaat. Aamiinn…

Wassalam..

(4)

Daftar Isi

Kata Pengantar Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah 1.2. Identifikasi Masalah 1.3. Batasan Masalah 1.4. Rumusan Masalah 1.5. Rumusan Tujuan 1.6. Metode penelitian Bab II Tinjauan Pustaka

2.1. Definisi Peserta Didik

2.2. Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP)

2.3. Penyebab Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia (Menengah) SMP 2.4. Solusi dari Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP) Bab III Hasil Penelitian

3.1. Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP) 3.1.1. Berdasarkan Hasil Angket

3.1.2. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Guru BK

3.1.3. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Orang tua / Wali Siswa

3.2. Penyebab Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia (Menengah) SMP 3.2.1. Berdasarkan Hasil Angket

3.2.2. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Guru BK

(5)

3.3. Solusi dari Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP) 3.3.1. Berdasarkan Hasil Angket

3.3.2. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Guru BK

3.3.3. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Orang tua / Wali Siswa

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan peralihan ke masa remaja setelah melewati masa kekanak-kanaknya di Sekolah Dasar (SD). Dapat dimengerti bahawa akibat yang luas dari masa peralihan masa remajan ini (puber) sangat rentan dengan kenaklan remaja, karena pada masa ini anak masih labil dalam menentukan mana yang negative dan mana yang positif atau mana yang baik serta mana yang buruk. Hal demikian menjadi anak bertindak sesuai dengan kemampuan hatinya dan sulit bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Perubahan dari masa kanak-kanak ke masa remaja merupakan masa yang sulit untuk orang tua mapun guru karena pada masa ini butuh perhatian yang khusus dalam segala hal. Namun ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan sikap dan perilaku yang terjadi pada masa remaja merupakan akibat dari perubahan sosial pada akibat dari perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh. Kurangnya pembelajaran hati nurani, moral yang dieterima anak puber dari orang tua, kakak-adik, guru-guru dan teman-teman kemungkinan akan terjadi perubahan psikologi yang buruk. Semakin baik lingkungan yang diterima akan berdampak pula pada komunikasi dan pembentukan perilaku yang positif. Untuk itu peneliti merasa perlu untuk melakukan observasi dengan judul “Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah / Remaja Studi Kasus di SMP N 17 Makassar”

(7)

- Perilakau remaja - Pelajar SMP

- Masalah Pelajar SMP

- Factor penyebab masalah-masalah tersebut - Solusi dari permasalahan

1.3. Batasan Masalah

Berkaitan dengan latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas maka masalah yang mencakup penelitian ini terlalu luas, sehingga memerlukan waktu dan biaya yang cukup. Untuk itu, masalah-masalah tersebut perlu dibatasi ruang lingkupnya sebagai berikut.

- Masalah yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

- Penyebab terjadinya permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

- Solusi dari permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

1.4. Rumusan Masalah

Berkaitan dengan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan masalah maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut,

- Masalah apakah yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP)?

- Apakah penyebab terjadinya permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP)?

- Bagaimanakah solusi dari permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP)?

1.5. Rumusan Tujuan

(8)

- Penelitian ini berusaha menjelaskan tentang permasalahn yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

- Penelitian ini berusaha menguraikan penyebab terjadinya permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

- Penelitian ini berusaha menguraikan solusi dari permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP).

1.6. Metode Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti melakukan metode penelitian sebagai berikut: a. Tempat : SMP N 17 Makassar

b. Waktu : November 2013 c. Subjek :

1) Siswa Kelas 8 SMP N 17 Makassar 2) Guru BK

3) Oaring tua / Wali Siswa d. Prosedur

(9)

BAB II Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilembagakan dan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik. Tentu saja, optimasi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diragukan perwujudannya, tanpa kehadiran guru yang professional.

Sebutan “Peserta didik“ dilegitimasikan dalam produk hukum kependidikan Indonesia. Agaknya, sebutan “peserta didik” itu menggantikan sebutan “siswa” atau “pelajar” atau student. Akan tetapi, kalau benar sebutan “peserta didik” merupakan padanan kata “siswa” dan sebutan terakhir ini untuk mereka yang belajar pada jenjang sekolah menengah ke bawah; oleh karena itu tradisi kita mereka yang belajar di perguruan tinggi disebut mahasiswa, apakah ini akan disebut “mahapeserta didik”?

(10)

berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis tertentu. Peserta didik juga dapat difenisikan sebagai orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan. Potensi dimaksud umumnya terdiri dari tiga kategori, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2.1.2. Peserta Didik Usia Sekolah Munengah

Peserta didik usia 12 – 19 tahun merupakan prriode remaja transisi, yaitu periode transisi antara masa kanak-kanak dan usia dewasa. Periode ini merupakan masa perubahan yang sangat besar. Selama periode ini pertumbuhan fisik, emosional, dan intelektual terjadi dengan kecepatan yang “memusingkan”, menentang peserta didik sebagai remaja untuk menyesuaikan diri dengan suatu bentuk “tubuh baru” , identitas sosial, dan memperluas pandangannya tentang dunia.

Pertumbuhan dan perubahan fisik sangat nyata pada peserta didik usia ini, baik laki-laki maupun perempuan. Perubahan dan pertumbuhan itu merupakan pengalaman tersendiri bagi remaja. Dalam rentang beberapa tahun ini peserta didik mempersiapkan diri menjadi anggota masyarakat dewasa yang mandiri dan berkontribusi kepada masyarkat. Dimensi perkembangan psikoseksua pun mengalami pematanagn yang luar biasa. Peserta didik akan mengalami serta melewati masa pubertas. Pubertas adalah waktu perkembangan fisik yang cepat, menandakan akhir masa kanak-kanak dan awal kematanagn seksual. Meskipun pubertas dapat dimulai pada waktu yang berbeda bagi masing-masing peserta didik, baik peserta didik perempuan maupun laki-laki umumnya menyelesaikan masa ini tanpa masalah.

2.2. Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP)

(11)
(12)

deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain. Kelima, Attention Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.

2.3. Solusi dari Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP)

(13)
(14)

BAB III

HASIL PENELITIAN

3.1. Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP)

3.1.1. Berdasarkan Hasil Angket

Permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP) Berdasarkan hasil angket yang dibagikan, dari responden sekitar,

a. 64 % responden mengaku permasalahan yang sering mereka hadapi adalah kesulitan dalam memahami pelajaran.

b. 20 % responden mengaku permasalahan yang sering mereka hadapi adalah kesulitan dalam sosialisasi dengan teman.

c. 14 % responden mengaku permasalahan yang sering mereka hadapi adalah masalah percintaan.

d. Tidak ada responden yang mengaku kesulitan dalam financial ataupun permasalahan keluarga. ( 0% responden mengaku permasalahan yang sering mereka hadapi adalah kesulitan dalam Keluarga/Finansial.

e. 2 % responden mengaku permasalahan yang sering mereka hadapi adalah permasalahan lainnya.

(15)

memberikan deskripsi singkat permasalahan yang mereka hadapi. Hasinya adalah :

a. 36 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah kesulita memahami pelajaran MIPA.

b. 10 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah guru atau pendidik tidak menyenangkan.

c. 2 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah pelajaran yang dinilai kurang ataupun tidak menarik.

d. 12 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah kesulitan dalam menyelesaikan tugas ataupun kesulitan dalam menyelesaikan soal pada saat ulangan.

e. 4 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah teman yang rebut atau mengganggu ketika peruses belajar mengajar (PMB) berlangsung.

f. 2 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah penyakit yang sedang mereka derita kadang mengganggu.

g. 8 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah ketidaktersediaannya ruang belajar. Di SMP N 17 Makassar memang kekurangan ruang belajar disebabkan siswa kelas 7 yang diterima jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. h. 4 % responden mengaku permasalahan yang mereka hadapi adalah

menghilangkan inventaris (buku) di perpustakaan.

(16)

banyak masalah lain. Seperti pelajaran dan permasalalahan dengan temannya.

j. 14 % responden tidak memberikan jawaban atau tidak memeberikan spesifikasi permasalahan mereka.

3.1.2. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Guru BK

Permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP) Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru BK di SMP N 17 Makassar, permasalahan yang dihadapi peserta didik begitu heterogen. Mulai dari masalah mengenai kesulitan memahami pelajaran, konfik dengan teman ataupun kekasih, bolos, tawuran, merokok, hingga penyalahgunaan obat-obatan dan pergaulan bebas.

(17)

dan mengecewakan. Akibatnya siswa yang kedapatan tersebut diberikanperingatan keras atas pelanggarannya.

3.1.3. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Orang tua / Wali Siswa

Permasalahan yang dihadapi peserta didik usia menengah (SMP) Berdasarkan hasil wawancara dengan Orang tua / Wali siswa ialah ketiadaannya komunikasi. Saat ini kebanyakan anak lebih senang bercerita dengan sebayanya atau sahabatnya. Orang tua kehilangan fungsinya sebagai tempat bercerita dan berbagai keluh kesah dengan anaknya. Ketiadanya komunikasi antara orang tua dan anak inilah yang menjadi polemic sehingga menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks. Kecenderungan anak bersikap lebih terbuka kepada teman-temannya kadang merugikan Si anak itu sendiri. Kondisi psikologi anak yang masih labil, serta cenderung terbawa oleh emosi, bisa mengakibatkan mereka saling membuka aib masing-masing. Kemudian timbullah permusuhan antar mereka. Tak menutup kemungkinan dari sebuah permusahan, menjadi dendan yang mendarah daging akhirnya terjadilah tawuran. Hal lain dari keburukan tidak adanya keterbukaan Si anak dengan orang tua ialah, penyalahgunaan obat-obatan serta pergaulan bebas yang kini semakin marak terjadi pada remaja.

3.2. Solusi dari Permasalahan yang Dihadapi Peserta Didik Usia Menengah (SMP)

3.2.1. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Guru BK

(18)

sebagai orang tua janganlah terlalu focus pada pememenuhan materi Si peserta didik. Pihak sekolah dan orang tua sebaiknya bekerja sama dalam memanatau anak, disebabkan kebebasan Si peserta didik dalam mengakses internet.janagn sampai hal yang diakses peserta didik adalah hal yang tidak pantas mereka akses.

Hal lain yang dapat dilakukan ialah ketika menghadapi masalah peserta didik ketika Si peserta didik begitu hobby terhadap tawuran ialah; pertama. Memberikan pengajaran kepada peserta didik untuk tidak menyelesaikan permasalahnnya dengan kekerasan. Kedua,

memperbanyak kegiatan Ekstrakuliler di Sekolah. Ketiga, mengajajarkan kepada peserta didik ilmu bela diri yang mempunyai prinsip penggunaan untuk menyelamatkan orang bukan menyakiti orang lain.

Ketika Si peserta didik hobby merokok, hal dapat kita lakukan ialah; pertama, janagn membiarkan kmonukasi antara Si peserta didik dengan orang tuanya terputus. Kedua, pihak sekolah harislah menindak tegas peserta didik yang kedapatan merokok. Ketiga, di Indonesia iklan rokok begitu bebas wara-wiri. Seharusnya iklan rokok tersebut dibatasi.

Keempat, menanamkan kepada peserta didik janagn sekali-kali mencoba rokok. Kelima, memberikan contoh. Jangan kita hanya melarang Si peserta didik untuk merokok. Tetapi oranr tua ataupun pihak pendidik malah merokok di depan Si peserta didik. Keenam, mengajarkan kepada peserta didik untuk berhati-hati memilih teman.

3.2.2. Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Orang tua / Wali Siswa

(19)

a. Kesulitan memahami pelajaran sebagai stimulun agar Si anak lebih giat belajar. Seperti ruang belajar yang nyaman serta buku-buku yang menujang. Kedua, memberikan les privat dengan pengajar yang handal serta berkompeten agar sia anak semakin termotivasi untuk belajar lagi. Ketiga, memasukkan Si anak ke bimbingan belajar yang berkualitas tinggi yeng memiliki lingkungan yang baik. Agar Si anak selain memiliki pengalaman yang baik, sekaligus mengajarkan anak bersosialisasi dengan lingkungan luar. Keempat, memberikan hadia. Jika Si anak mendapatkan nilai yang bagus, Si Anak dapat diajak berjalan-jalan keluar kota, seperti Bali, Jakarta, Bandung, Pekanbaru ataupun Manado. Hal ini juga dapat mebuat Si Anak mencintai Negerinya.

b. Sosialisasi dengan teman

(20)

memiliki persamaan dan tidak canggung lagi untuk bersosialisasi. Ketiga, memasukkan Si Anak pada sekolah agama/TPA agar membuat Si Anak mendapatlan pendidikan yang religious dan memahami dirinya dengan Tuhan serta membantu anak lebih hakikat manusia agar dia lebih memahami dirinya, Tuhan dan masyarakat. Keempat, agar orang tua lebih mudah mengontrolnya sosialisasinya, jika ada tugas kelompok ataupun belajar bersama, baiknya diadaakn di rumah. Kelima, mengajak Si Anak berlibur dengan teman-temannya. Seperti ke pantai ataupun ke wisata kebun.

c. Percintaan

(21)

3.3. Hasil Wawancara dengan Salah seorang Peserta Didik

3.3.1. Identifikasi Masalah

Identitas Peserta Didik Nama lengkap : Andi Sulastri

Jenis Kelamin : Perempuan

Sekolah : SMP Negeri 17 Makassar

Kelas : 8.9

Agama : Islam

Temapat, Tanggal Lahir : Pattallassang Gowa, 23 Agustus 1999

Usia : 14 Tahun

Identitas Orang Tua / Wali

Nama Ayah : Ismail

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Wartawan

Nama Ibu : Andi Farida

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Nama Wali : Saparuddin

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Wirausaha/Bengkel

(22)

namanya tercatat di Bimbingan dan Konseling, Si Bule ketahuan membawa Telepon Seluler ( Handphone ). Sesuai peraturan yang berlaku di SMP N 17, Siswa tidak diperbolehkan membawa telepon seluler ke sekolah.

Karena Bule ketahuan membawa telepon seluler dia harus berhadapan dengan Guru BK (Ibu Racjmawati). Sebagai seorang guru BK, ibu Rajmawati memberikan bimbingan kepada Bule. Namun, hal yang tak pernah diduga, Bule langsung membantah dan menentang Sang Guru BK. Hal itulah yang semakin memperkeruh keadaan.

3.3.2. Diagnosa Terhadap Kasus Bule

Setelah melakukan Identifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah diagnosis yaitu penetapan masalah. Dalam langkah ini dilakukan pengumpulan informasi yang bersumber dari guru BK serta dengan tekhnik pendekatan intrapersonal, dengan responden itu sendiri. Dari informasi yang telah didapatkan, Bule tampaknya mencari cara untuk menutupi permasalahan yang telah lama ada pada dirinya.

Menurut Guru Ibu Rajmawati, Bule mengalami permasalahan alot pada keluaraganya. Sewaktu Bule masih berada didalam kandungan, merupakan klimaks dari pertebgkaran kedua kedua orang tuanya. Sosok Ayah yang saat ini dia panggilnya Ayah (Saparuddin) bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya adalah seorang wartawan yang bernama Ismail. Ibunya (Andi Farida) sewaktu mengandung Bule bertengkar hebat dengan ayah kandung Bule dan akhirnya bercerai.

Serta sangat disayangkan pula, orang tua yang saat ini bersamanya juga sering cekcok. Bule mereasa begitu tertekan. Jika kedua orang tuanya saat ini bertengkar, Bule biasa memilih pergi meninggalkan rumah. Bule biasanya mengunjungi taman dekat area rumahnya atau sebuah waduk yang terletak di sekitar Antang.

(23)

berada didalam kandungan kedua oaring tua kandungnya sering bertengkar dan bahakna klimaks dari pertengkaran keduanya. Ketika seseorang sedang mengandung seharusnya dia melakukan hal-hal yang baik. Bahakn semua pemikirannya haruslah bersifat positif dan harus kuat, sebab berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis Bule sangat mudah murung dan meneteskan air mata. Kedua, factor Eksternal atau factor yang berasal dari lingkungan Bule. Hal yang begitu disesalkan ialah, kembalinya factor pertengkaran didalam keluarga yang menjadi permasalahannya. Bule yang tidak pernah mengetahui perihal Ayah kandungnnya serta telah menganggap sosok Ayah yang dipanggilnya saat ini adalah ayah kandungnyya. Harus menutup telinganya rapat-rapat ketika mendengar kedua orang tuanua bertengkar. Bule begitu tertekan ketika mendengar kedua orang tuanya bertengkar.

Setelah melakukan diagnosis, penulis melakukan beberapa bimbingan secara khusus guna penyelesaian. Solusi terhadap kasus Bule yaitu:

Bekerja sama dengan orang tua siswa

Berkomunikasi dengan orang tua siswa guna penyelesaian masalah.

Pemberian motivasi, dukungan dan arahan positif. Seperti

Beberapa kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi siswa bisa diselesaikan yaitu : pertama, Prestasi siswa akan bisa terus meningkat. Kedua, Kemampuan bakat siswa akan semakin berkembang.

Ketiga, Pandangan siswa tentang masa depannya akan lebih cerah.

Keempat, Siswa akan kembali mempunyai semangat belajar yang tinggi Adapun kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila masalah yang dihadapi siswa tidak bias diselesaikan : Pertama,

Semangat belajar siswa akan semakin menurun dan semakin memburuk.

Kedua, Prestasi siswa akan semakin menurun. Ketiga, Siswa akan semakin terpuruk dan akan menjadi siswa yang berperilaku negative.

(24)

berkembang.Kelima, Siswa tidak akan punya pandangan ke depan untuk masa depannya ( cita-cita ). Keenamn, Hubungan siswa dengan kedua orang tuanya akan semakin memburuk

3.3.3. Alih Tangan Kasus

Dari jenis masalah yang sedang dihadapi Bule, penulis belum melakukan alih tangan khusus, mengingat kasus tersebut juga menyangkut urusan rumah tangga keluarga Bule, pihak sekolah maupun guru, hanya memberi solusi, bimbingan, arahan positif kepada pihak orang tua maupun kepada Bule, guna mengembalikan semangat belajar yang tinggi, serta sikap dan perilaku Bule kedepannya semakin baik dan lebih beretika.

3.3.4. Bimbingan untuk Mengatasi Masalah

Adapun bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut

Adapun bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bimbingan individu. Pihak guru dan orang tua hendaknya mampu menanamkan keyakinan kepada siswa agar tetap semangat dalam belajar meskipun siswa menghadapi suatu masalah yang berat.

2. Memberi pengertian kepada siswa untuk mengatur kegiatannya di rumah ataupun di sekolah, jangan sampai kegiatan bermain mengganggu tugas utama sebagai siswa yaitu belajar .Mengingatkan kepada siswa bahwa suatu kemampuan belajar haruslah dikembangkan, dan memotivasi siswa agar mengoptimalkan belajar sehingga prestasi tidak akan menurun, dan kemungkinan prestasi akan bisa terus dipertahankan juga semakin meningkat. Mengusahakan siswa untuk sering bertemu dan belajar bersama dengan orang yang dipercaya dan mengerti keadaan siswa, dan interaksi social siswa tidak akan terpuruk serta berkembang secara teratur .

(25)

memberi solusi. Menciptakan kedisiplinan kepada anak ,orang tua atau pun guru pembimbing dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan .

4. Kerjasama dengan orang tua juga sebaiknya mampu memberikan perannya dalam hal-hal berikut: Orang tua hendaknya memberikan perhatian yang penuh kepada siswa, agar dapat menambah semangat siswa,untuk belajar lebih baik lagi ,meskipun keadaan orang tua kurang harmonis. Orang tua hendaknya memberikan semangat kepada siswa agar selalu giat belajar. Orang tua harus selalu mengingatkan kepada siswa untuk memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar .

5. Kerjasama dengan guru. Guru hendaknya melakukan pendekatan-pendekatan kepada siswa dan memberi motivasi siswa untuk terus belajar, dan mempertahankan prestasinya

Guru sebaiknya bertanya langsung kepada siswa guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya hendaknya mencari situasi yang tepat untuk berkomunikasi secara terbuka dengan siswa, setelah itu ajak anak untuk mengungkapkan penyebab iya malas belajar .

Guru hendaknya member perhatian yang khusus kepada siswa guna keberhasilan siswa dalam belajar, dan melakukan bimbingan dalam bentuk tambahan waktu belajar Guru seharusnya melakukan hubungan kerjasama yang baik dengan orang tua dan melaporkan kepada orang tua tentang perkembangan siswa dalam belajar. Guru hendaknya menegakkan kedisiplinan kepada siswa, bilamana siswa melakukan suatu pelanggaran saat belajar dan siswa meninggalkan kesepakatan yang telah disepakati,apabila siswa melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik, untuk mengalihkannya gunakan konsekuensi logis yang yang dapat diterima oleh akal pikiran siswa

3.3.5. Tindak Lanjut

Dalam upaya memberikan layanan terhadap Bule dan siswa lain yang juga mengalami Tekanan Psikis akibat Permasalahan keluarga, penulis merekomendasikan pihak sekolah untuk melakukan beberapa kegiatan diantaranya :

(26)

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi yang dimaksud adalah pemberian dorongan yang berasal dari dalam diri individu dan guru memberikan dorongan untuk siswa belajar. Karena motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang efektif karena motivasi intrinsic relative lebih lama dan tidak akan tergantung pada motivasi dari luar. Guru memberikan dorongan kepada siswa yang bersumber pada diri individu untuk lebih maju ,lebih kreatif dan bersifat positif dalam menghadapi suatu masalah.

b. Motivasi Ekstrinsik

Adalah faktor yang datang dari luar diri individu tetepi member pengaruh terhadap kemauan belajar siswa. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orang tua.

Jadi guru memberikan dorongan spiritual kepada siswa, berupa memberi pujian kepada siswa,memberi tata tertib, menciptakan kedisiplinandi sekolah ataupun di rumah, guru memberi contoh teladan yang baik kepada siswanya, dengan begitu siswa tidak akan berbuat melanggar peraturan dalam kegiatan pembelajaran, siswapun akan merasa nyaman, tanpa beban dan masalah.

(27)
(28)

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari semua uraian yang telah dibahas ,maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar, tidak hanya didukung dari pihak sekolah saja, namun orang tua juga berperan penting dalam perkembangan belajar peserta didik. Orang tua dan pihak sekolah harus sama-sama mendukung proses pembelajaran peserta didik guna membentuk karakter siswa. Peserta didik usia menengah (SMP) pada umumnya masih banyak memerlukan dukungan, bimbingan, arahan, perhatian dari orang tua untuk memotivasi belajarnya, bukan hanya dari pihak sekolah saja.

Dan pada dasarnya bimbingan atau arahan merupakan proses memberikan bantuan kepada pihak peserta didik agar ia sebagai pribadi memiliki pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya,yang selanjutnya dapat diambil keputusan untuk melangkah maju guna menolong diri sendiri dalam menghadapi berbagai masalah. Dimana bimbingan dan pendidikan anak usia dini sangatlah dibutuhkan guna membentuk karakter dasar siswa

4.2. Saran

4.2.1. Bagi Guru

(29)

pihak sekolah dapat mengetahui perkembangan belajar masing-masing peserta didiknya, khususnya peserta didik yang terlibat dalam masalah sehingga tidak akan membuat peserta didik mengurangi semangat belajar.

4.2.2. Bagi Orang tua

Sebaiknya orang tua tidak memperlihatkan pertengkarannya ataupun permasalahannya di depan anak-anakny.banyak meluangkan waktu untuk memperhatikan perkembangan belajar anaknya di sekolah ataupun di rumah. Hendaknya orang tua jangan sampai bertengkar di depan anak, karena itu akan semakin membuat anak terpuruk,merasa menyerah, kurang diperhatikan, putus harapan. Orang tua hendaknya memberikan keleluasan kepada anak untuk menentukan pilihannya,namun dalam pengawasan orang tua

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Prof. Dr. Sudarwan. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Alfabeta

Anonim, 2008. Masalah dan Solusi Remaja di Sekolah : Diakses tanggal 30 November 2013.

(31)

Lampiran 1

ANGKET

MENGETAHUI PERMASALAHAN YANG DIHADAPI PESERTA DIDIK USIA MENENGAH

DI SMP NEGERI ………

NAMA /NIS : ………... 1. Permasalahan apa yang sering Anda hadapi?

a. Kesulitan memahami pelajaran b. Sosialisai dengan teman c. Percintaan

d. Keluarga/Finansial

e. Lainnya(…….………..)

2. Hal yang Saya lakukan ketika menghadapi masalah tersebut adalah …. a. Merokok / Zat adiktif lainnya

b. Nulis di Jejaring Sosial 3. Deskripsikan masalah yang sedang Anda hadapi

……… 4. Saya menyelesaikan masalah tersebut dengan …

a. Curhat (Guru/Sahabat/Orang tua/Pacar/Jejaring Sosial) b. Memendamnya saja

(32)
(33)

Lampiran 2

Wawancara dengan Guru BK

Nama Responden : Usia / Pekerjaan :

1. Selama Anda menjadi seorang Guru BK, permasalahan apa saja yang dihadapi oleh peserta didik?

(34)

Lampiran 3

Wawancara dengan Orang tua / Wali Siswa

Nama Responden : Usia / Pekerjaan :

1. Sebagai seorang Orang tua/wali siswa, Menurut Anda Masalah-masalah apa saja yang dihadapi peserta didik Usia menengah (SMP)?

2. Diantara semua masalah-masalah tersebut, masalah apakah yang paling sering dihadapi mereka?

3. Bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut?

4. Contoh Kasus, Berikan solusi pada masalah yang dihadapi Peserta didik berikut: a. Kesulitan memahami pelajaran 5. Pernahkah mereka berbagi masalahnya kepada Anda?

(35)
(36)
(37)

Lampiran 5 : Data dan Tabel

MENGETAHUI PERMASALAHAN YANG DIHADAPI PESERTA DIDIK USIA MENENGAH (SMP) DI SMP NEGERI 17 MAKASSAR

No Tanggapan Responden Jumlah Presentase

1

Merokok / Zat Adiktif 0 0% Nulis di Jejaring Sosial 17 34% Malas ( Belajar / Makan ) 15 30% *Baca Novel & SMSan 2 4%

*Merenung 1 2%

(38)

Pelajarannya tidak Menarik 1 2% Tugas yang Banyak / Ulangan 6 12%

Teman mengganggu (Ribut) 2 4% Persaingan / Cekcok dengan Teman 2 4%

Penyakit 1 2%

Ruang Belajar yang Tidak Ada 4 8%

Mengilangkan Buku 2 4%

(39)

Diagram 1

Pelajaran MIPA Gurunya Tidak Menyenangkan Pelajarannya tidak

Menarik Tugas yang Banyak / Ulangan Teman mengganggu

(Ribut) Persaingan / Cekcok dengan Teman Penyakit Ruang Belajar yang

Tidak Ada

Mengilangkan Buku Konflik dengan Pacar Tidak Merespon

(40)

31.91%

21.28% 12.77%

23.40% 10.64%

PENYELESAIAN

Curhat* (Tidak Spe-sifk ke Pihak Ter-tentu)

*Guru

*Sahabat *Orang Tua *Pacar *jejaring Sosial Mememdam Saja Tidak Merespon

(41)

Tentang Penulis

Ilmal Satriani, lahir di sebuah kampung yang terletak dipelosok Sulawesi Selatan. Di area pegunungan, kota bunga Malino, tepatnya di Gantarang. Pada tanggal 23 April 1994. Ilmal Satriani adalah anak bungsu dari pasanagn Muh. Anshar C dan Hasnah

Karir akademik pertamanya diselesaikan di SDI Hombes Armed Kec, Pattalassang Gowa, lalu hijrah ke

Makassar di SMP Negeri 17 Makassar lalu melanjutkan Ke SMA Negeri 10 Makassar. Pernah juga terdaftar sebagai mahasiswa Politekhnik Kesehatan Makassar Prodi Keperawatan Angkatan 2012 namun mengundurkan diri dan pindah ke Universitas Hasanuddin prodi Program Sarjana Guru Bahasa Daerah. Banyak hal yang membuat saya mengundurkan diri dai Karir seorang Florence Nightingel, nmaun hal yang paling berkesan ialah, saya ada disini karena Nasionalisme saya sabagai Warga Negara Indonesia.

Sejak kecil Ilmal Satriani bercita-cita menjadi seorang Dokter Specialis Anak, tapi apatah daya, takdir berkata lain. Takdir membawanya ke prodi yang tak pernah ia sangka-sangka. Walaupun, sastra merupakan dunia yang begitu disukainya. Sastra adalah cara yang diberikan Tuhan untuk membimbing saya menjadi seorang pemimpin yang berguna bagi Negeriku tercinta, Indonesia. Serta agama saya. Puisi dan menulis adalah dua hal yang paling penulis lakukan. “Lewat (Tulisan) puisi saya mampu membaca dan memahamimu, serta lewat tulisanku kau mampu melihat hatiku” ketertarikan pada dunia satra dan linguistik sehingga penulis bercita-cita melanjutkan study Psikiolingusitik.

Figur

Tabel 1PERMASALAHAN YG DIHADAPI

Tabel 1PERMASALAHAN

YG DIHADAPI p.38

Referensi

Memperbarui...