BAB II
LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka
1. Definisi Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni, Bahasa sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski dalam bukunya Soerjono Soekanto (2012:149) mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Herskovits dalam bukunya Selo Soemardjan (1964:115) memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain.
Menurut Andreas Eppink dalam bukunya Gazalba (1991:28), kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor (1924:1), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang
sebagai anggotamasyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (1964:113), kebudayaanadalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia.Tak ada manusia yang dapat hidup di luar ruang lingkup kebudayaan.Kebudayaan yang memberi nilai dan makna pada hidup manusia.Seluruh bangunan hidup masyarakat berdiri di atas landasan kebudayaan.Setiap masyarakat-bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat-bangsa yang satu ke masyarakat-bangsa lainnya.Kebudayaan secara jelas menampakkan kesamaan kodrat manusia dari pelbagai suku, bangsa, dan ras.Orang bisa mendefinisikan manusia dengan caranya masing-masing, namun manusia sebagai cultural being, mahluk budaya merupakan suatu fakta historis yang tak terbantahkan oleh siapa pun juga.Sebagai cultural being, manusia adalah pencipta kebudayaan.Dan sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia.Pada kebudayaan, manusia menampakkan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
Sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah dunia khas
manusia.Kebudayaanlah yang membedakan manusia dengan hewan.Dalam ruang lingkup kebudayaan, manusia mengembangkan hidup individual dan sosialnya, dalam rangka pemenuhan martabat kemanusiaannya.
Manusia memperoleh suatu modal yang bertumbuh dari tradisi sosial. Sehingga apa yang dimiliki oleh suatu generasi pun dapat ditransmisikan ke generasi berikutnya, dan hasil penemuan serta ide-ide baru dari seseorang pun dapat menjadi milik bersama suatu masyarakat. Di dalam kenyataannya, kebudayaan adalah suatu kehidupan yang bersifat menyeluruh mulai dari akarnya di tanah dan dalam kehidupan instingtif sederhana kaum penggembala, nelayan, dan sebagainya, sampai
taraf perkembangannya yang lebih tinggi dalam prestasi-prestasi yang menakjubkan para seniman dan filsuf (Dawson, 1929:52).
Kata Lowie (1949 : 3), kebudayaan adalah “segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat-istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal”.
Dewasa ini, kata kebudayaan dipakai untuk melukiskan cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan-tujuan hidup. Pendek kata kebudayaan dilihat sebagai proses humanisasi. Di samping itu masih terdapat pengertian-pengertian lain. Namun para antropolog umumnya sepakat bahwa kebudayaan merupakan cara berprilaku dan beradaptasi yang dipelajari, sebagai lawan dari pola-pola perilaku atau insting-insting yang diwariskan dari nenek moyang.
2. Unsur-Unsur Kebudayaan
Setiap kebudayaan mempunyai tujuh unsur dasar, yaitu: kepercayaan, nilai, norma dan sanksi, simbol, teknologi, bahasa, kesenian dan religi.
a. Kepercayaan
Kepercayaan berkaitan dengan pandangan tentang bagaimana dunia ini beroperasi. Kepercayaan itu bisa berupa pandangan-pandangan atau interpretasi-interpretasi tentang masa lampau, bisa berupa penjelasan-penjelasan tentang masa sekarang, bisa berupa prediksi-prediksi tentang masa depan, dan bisa juga berdasarkan common sense, akal sehat, kebijaksanaan yang dimiliki suatu bangsa, agama, ilmu pengetahuan, atau semua kombinasi antara semua hal tersebut.
Kepercayaan membentuk pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial.Orang barat misalnya, percaya bahwa waktu tak dapat berbalik atau berulang.Mereka mempunyai persepsi waktu liniear, yakni bahwa waktu bergerak lurus kedepan.Waktu bergerak dari suatu titik awal menuju ke suatu titik tujuan (akhir).Waktu bergerak kedepan karena itu ada kemajuan.Di sini orang tidak percaya pada nasib maupun takdir.Tetapi kemajuan dan perubahan masyarakat tergantung pada usaha dan kerja keras manusia.
b. Nilai
Jika kepercayaan menjelaskan apa itu sesutu, nilai menjelaskan apa yang seharusnya terjadi. Nilai itu luas, abstrak, standar kebenaran yang harus dimiliki, yang
diinginkan, dan yang layak dihormati.Meskipun mendapat pengakuan luas, nilai-nilai pun jarang ditaati oleh setiap anggota masyarakat.Namun nilailah yang memutuskan suasana kehidupan kebudayaan dan masyarakat.
Nilai mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia dan masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga. Dengan perkataan lain, nilai itu berasal dari pandangan hidup suatu masyarakat. Pandangan hidup ini berasal dari sikap manusia terhadap Tuhan, terhadap alam semesta, dan terhadap sesamanya.Sikap ini dibentuk melalui pelbagai pengalaman yang menandai sejarah kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
Karena pengalaman yang membentuk suatu masyarakat itu berbeda-beda dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, maka berbeda pula pandangan hidup bangsa yang satu dari bangsa yang lan. Perbedaan pandangan inilah yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan nilai di antara masyarakat.masyarakat kita misalnya, sangat menjunjung tinggi apa yang disebut kekeluargaan, keselarasan dan gotong royong. Sedangkan masyarakat Barat sangat mengagungkan individualisme. Jika loyalitas terhadap keluarga merupakan pusat kehidupan masyarakat Timur, masyarakat Barat justru beranggapan bahwa tanggung jawab utama seseorang adalah kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang tua, kakek dan nenek, saudara dan saudari, tante dan om. Jika masyarakat kita menekankan kerjasama, masyarakat Barat lebih menonjolkan upaya-upaya individual, prestasi-prestasi individual.
Namun tak boleh dilupakan bahwa manusia dan masyarakat mana pun umumnya memperjuangkan dan membela nilai-nilai dasar yang sama, seperti cinta, kebaikan, keindahan, keadilan, persaudaraan, persahabatan, persatuan, perdamaian, dan sebagainya. Nilai-nilai dasar inilah yang menyatukan manusia dari pelbagai latar belakang kebudayaan. Perjuangan ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki martabat dan cita-cita yang sama.
c. Norma dan Sanksi
Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagi setiap aktivitas manusia-lahir dan kematian, bercinta dan berperang, apayang harus dimakan dan apa yang harus dipakai, kapan dan dimana orang bisa bercanda, melucu, dan sebagainya.
Jika norma-norma adalah garis pedoman, sanksi-sanksi merupakan kekuatan penggeraknya. Sanksi adalah ganjaran ataupun hukuman yang memungkinkan orang mematuhi norma. Sanksi-sanksi itu bersifat formal bisa juga bersifat nonformal.Pelanggaran terhadap norma dan mendatangankan sanksi-sanksi tertentu. Tanpa sanksi, norma-norma kehilangan kekuatan.
d. Teknologi
Pengetahuan dan teknik-teknik suatu bangsa dipakai untuk membangun kebudayaan materialnya.Dengan pengertahuan dan teknik-teknik yang dimilikinya, suatu bangsa membangun lingkungan fisik, sosial, dan psikologis yang khas.
Sebagai hasil penerapan ilmu, teknologi adalah cara kerja manusia. Dengan teknologi manusia secara insentif berhubungan dengan alam dan membangun kebudayaan dunia sekunder yang berbeda dengan dunia primer (alam). Dewasa ini teknologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap manusia, tidak hanya terhadap cara hidup manusia tetapi juga menentukan teknologi berikutnya.
e. Simbol
Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna – sebuah salib atau suatu patung Budha, suatu konstitusi, suatu bendera.Banyak simbol berupa objek-objek fisik yang telah memperoleh makna kultural dan dipergunakan untuk tujuan yang lebih bersifat simbolik ketimbnag tujuan-tujuan yang bersifat instrumental.
Simbol-simbol seperti bendera atau salib menampakkan kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma kultural, dan mengandung banyak arti (Victor Turner, 1967:18).Simbol-simbol lain seperti tanda-tanda lalu lintas mempunyai arti yang lebih sempit dan spesifik.Objek yang sama kalau dipakai untuk tujuan yang sama pun bisa berbeda sekali artinya dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda.
f. Bahasa
Bahasamerupakan sarana utama untuk menangkap,mengkomunikasikan, mendiskusikan, mengubah, dan mewariskan arti-arti ini kepada generasi baru.Kemampuan untuk melakukan komunikasi simbolik, khususnya melalui bahasa, membedakan manusia dari hewan.Namun komunikasi yang dilakukan oleh hewan itu merupakan respon-respon langsug terhadap peristiwa-peristiwa di lingkungan sekitarnya, yang terprogram secara genetik.
Namun bahasa bukan sekedar sarana komunikasi atau sarana mengekspresikan sesuatu.Dengan bahasa manusia menciptakan duniannya yang khas manusiawi (kebudayaan). Dengan bahasa manusia membangun cara berpikir, dengan bahasa manusia bahkan menciptakan dirinya sendiri.
Semua bahasa mempunyai aturan-aturan tertentu untuk membuat pernyataan, untuk mengajukan pertanyaan, untuk mengingkari sesuatu, untuk memakai ungkapan pasif atau aktif, dan sebagainya.namun berfikir tanpa bahasa adalah nonsense.Bahkan untuk bermimpi pun diperlukan bahasa.Tanpa bahasa kita tak pernah tau tentang mimpi, jadi didalam tidur pun manusia tetap membutuhkan bahasa.
g. Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mataataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional.Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknikteknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias.Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.
h. Religi
Koentjaraningrat (1971:77) menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk
berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.
Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaanmereka masih primitif.
3. Teori-Teori Kebudayaan
Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Eropa, Tionghoa, India, Arab dan lain sebagainya.Kata Kebudayaan, berasal dari kata Sanskerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “kekal”.
Menurut Koentjaraningrat (1965:77) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi Koentjaraningrat, mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.
Culture dari kata Latin colere “mengolah”, “mengerjakan”, dan berhubungan dengan tanah atau bertani sama dengan “kebudayaan”, berkembang menjadi” “segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam”. Koentjaraningrat (1965:78)
Pada awalnya, konsep kebudayaan yang benar-benar jelas yang pertama kalinya di perkenalkan oleh Sir Edward Brnett Taylor. Seorang ahli Antropologi Inggris pada tahun 1871, mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, mora, kebiasaan, dan lain-lain. Pada waktu itu, banyak sekali definisi mengenai kebudayaan baik dari para ahli antropologi, sosiologi, filsafat, sejarah dan kesusastraan. Bahkan pada tahun 1950, A.L. Kroeber dan Clyde Kluchkhon telah berhasil mengumpulkan lebih dari seratus definisi ( 176 definisi ) yang diterbitkan dalam buku berjudul Culture : A Critical Review of Concept and Definition (1952).
Kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan
asing yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan itu sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Menurut J.J Honingman dalam Koentjaraningrat (2003:74) mengatakan bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :
1. Ideas
Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.
2. Activities
Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri.Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat.Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.
3. Artifacts
Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik.Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan.Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.
Sedangkan (Koentjaraningrat 2003:81) terdapat tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhon, antara lain :
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan 3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi 5. Sistem mata pencarian hidup
6. Sistem religi 7. Kesenian
Kebudayaan, sebagai suatu pengetahuan yang dipelajari orang sebagai anggota dari suatu kelompok, tidak dapat diamati secara langsung. Jika kita ingin
menemukan hal yang diketahui orang maka kita harus menyelami alam pikir mereka, dimana-mana setiap orang mempelajari kebudayaan mereka dengan mengamati oarang lain, mendengarkan mereka,kemudian membuat suatu kesimpulan. Maka disinilah peran seorang etnografer meleakukan proses yang sama yaitu dengan memahami hal yang dilihat dan didengarkan untuk menyimpulkan hal yang diketahui orang dimana hal ini meliputi pemikiran atas kenyataan. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat sebuah kesimpulan budaya dari tiga sumber sehingga hal ini menjadi dasar adanya saling keterkaitan yamg sangat kuat tentang Etnograpi dan Kebudayaan itu sendiri yaitu:
Dari hal yang dikatakan orang Dari cara orang bertindak, dan
Dari berbagai artefak yang digunakan orang. 4. Nilai Pendidikan
Darmodiharjo dalam bukunya (Setiadi, 2006:117) mengungkapkan nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani maupun rohani. Sedangkan Soekanto (1983:161) menyatakan, nilai-nilai merupakan abstraksi dari pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya. Nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, nilai dapat dikatkan sebagai sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Persahabatan sebagai nilai (positif/baik) tidak akan berubah esensinya manakala ada pengkhianatan antara dua yang bersahabat. Artinya nilai adalah suatu ketetapan yang ada bagaimanapun keadaan di sekitarnya berlangsung.
Pendidikan secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang berarti “Aku membimbing”. paedogogike berarti aku membimbing anak Hadi (dalam Amalia, 2010). Purwanto (dalam Amalia, 2010) juga menyatakan bahwa pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Hakikat pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak didik, maka seorang pendidik haruslah orang yang dewasa, karena tidak mungkin dapat mendewasakan anak didik jika
pendidiknya sendiri belum dewasa. Adler (dalam Amalia, 2010) mengartikan pendidikan sebagai proses dimana seluruh kemampuan manusia dipengaruhi oleh pembiasaan yang baik untuk untuk membantu orang lain dan dirinya sendiri mencapai kebiasaan yang baik.
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan merupakan batasan segala sesuatu yang mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna bagi kehidupannya yang diperoleh melalui proses pendidikan. Proses pendidikan bukan berarti hanya dapat dilakukan dalam satu tempat dan suatu waktu. Dihubungkan dengan eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan berbudaya.
5. Macam-macam Nilai Pendidikan a. Nilai Pendidikan Religius
Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, dalam Amalia, 2010). Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan.Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya seni dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama.Nilai-nilai religius dalam seni bersifat individual dan personal.
Semi (1993:21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaannya, kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai religius yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.
b. Nilai Pendidikan Moral
Moral merupakan makna yang terkandung dalam karya seni, yang disaratkan lewat cerita.Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005: 320).Hasbullah (dalam Amalia, 2010) menyatakan
bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk. Nilai moral yang terkandung dalam karya seni bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.
Uzey (2009) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia, moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan manusia sehari-hari.Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku.
c. Nilai Pendidikan Sosial
Kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai pendidikan sosial yang ada dalam karya seni dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan (Rosyadi, dalam Amalia, 2010). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai pendidikan sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Dalam masyarakatIndonesiayang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat.Oleh karena itu, nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri
tersendiri, dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai norma yang berlaku.
Uzey (2009:67) juga berpendapat bahwa nilai pendidikan sosial mengacu pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai ketuhanan. Jadi nilai pendidikan sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang yang memiliki nilai tersebut. Nilai pendidikan sosial juga merupakan sikap-sikap dan perasaan yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan apa yang penting.
d. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai budaya merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu masyarakat dan kebudayaannya.
Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. (Rosyadi, dalam Amalia, 2010).
Uzey (2009:86) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan.
Sistem nilai budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam
hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem nilai pendidikan budaya merupakan nilai yang menempati posisi sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola.
6. Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan
Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk mencapai kedewasaan, baik dalam perilaku maupun kehidupan sehari-hari, mendorong seseorang menjadi warga yang baik, sadar tehadap tata cara hidup bermasyarakat. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pendidikan merupakan bagian dari proses pembudayaan dan merupakan upaya masyarakat untuk kelangsungan tradisinya.
Menurut Manan (1989 : 17) pendidikan adalah sebuah proses melalui kebudayaan yang mengontrol orang dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Pendidikan sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia dalam arti seluas-luasnya dan kebudayaan sebagai milik seluruh bangsa, pada hakekatnya merupakan dua hal yang berkaitan erat.Dinyatakan demikian karena pendidikan berlangsung dalam suatu iklim budaya tertentu. Pendidikan yang dimaksud adalah suatu proses kehidupan di dalam masyarakat.
Menurut Dr. Sahiq Sama'an dalam al-Syaibany dalam bukunya Ali (1990:11) pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik-pendidik dan filosofis untuk menerangkan, menyelaraskan, mengecam dan merubah proses pendidikan dengan persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara (Hasan Langgulung). Maka sudah jelas bahwa pendidikan dan kebudayaan sangat erat sekali hubugannya karena keduanya berkesinambungan, keduanya saling mendukung satu sama lainnya.
Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara pendidikan dengan tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat betapa pun sederhananya masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi sebagai muatan budaya senantiasa terlestarikan dalam setiap masyarakat, dari generasi ke generasi. Hubungan ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila para pendukung nilai tersebut dapat menuliskannya kepada generasi mudanya sebagai generasi penerus.
Transfer nilai-nilai budaya dimiliki paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam masyarakat modern proses pendidikan tersebut didasarkan pada program pendidikan secara formal.Oleh sebab itu dalam penyelenggarannya dibentuk kelembagaan pendidikan formal.
Seperti dikemukakan Hasan Langgulung (1987:87) bahwa pendidikan mencakup dua kepentingan utama, yaitu pengembangan potensi individu dan pewarisan nilai-nilai budaya. Maka sudah jelas sekali bahwa kedua hal tersebut pendidikan dan kebudayaan berkaitan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa itu masing-masing, kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan antara satu sama lainnya.
Dalam pandangan ini, pendidikan mengemban dua tugas utama, yaitu peningkatan potensi individu dan pelestarian nilai-nilai budaya. Manusia sebagai mahluk berbudaya, pada hakikatnya adalah pencipta budaya itu sendiri. Budaya itu kemudian meningkatkan sejalan dengan peningkatan potensi manusia pencipta budaya itu.
7. Hubungan Pendidikan dengan Masyarakat
Bertolak dari penyelenggaraan sistem pemerintahan yang
berupa desentralistik, maka hal ini berdampak pula terhadap reorintasi Visi dan Misi Pendidikan Nasional yang di dalamnya menyangkut pula tentang Standar Pengelolaan Sistem Pendidikan Nasional.Yang berimbas pula pada Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan, Pendanaaan, dan Strategi Pembangunan Pendidikan Nasional. Hal-hal yang tersebut, terutama dilandasi dengan sifat desentralistik itu sendiri, mengingat kondisi geografis, sosial-kultural, dan ekonomi setiap wilayah (Propinsi-Kabupaten) yang berbeda satu sama lain.
Oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai hasil yang lebih optimal, efektif, efisien dan berhasil, memerlukan keterkaitan berbagai elemen yang ada.Implementasi otonomi terhadap lembaga pendidikan terwujud dalam School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah.Dikarenakan
Manajemen Berbasis Sekolah ini adalah upaya kemandirian, kreativitas sekolah dalam peningkatan kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas dalam peningkatan mutu melalui kerjasama atau pemberdayaan pemerintah dan masyarakat, maka diperlukan pula administrasi pendidikan di bidang hubungan sekolah dengan masyarakat.
Hubungan pendidikan dengan masyarakat memiliki keterkaitan dan ketergantungan yang sama-sama saling membutuhkan (simbiotic).Masyarakat sangat membutuhkan layanan pendidikan yang baik, dan tentunya hal itu bisa dilewati melalui lembaga pendidikan guna mempersiapkan diri serta memenuhi kebutuhan dan harapan hidup yang sempurna.Untuk memenuhi hal tersebut lembaga membutuhkan masyarakat agar layanan sesuai dengan keinginannya.Lembaga pendidikan tidak dapat eksis tanpa masyarakat, sebaliknya masyarakat tidak dapat mencapai hidup yang sempurna tanpa lembaga pendidikan.Dalam berbagai persoalan kependidikan terutama yang berkenaan dengan lemahnya (problematika) manajemen pendidikan suatu lembaga pendidikan, tidak dapat dibebankan atau menyalahkan masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan.
Hubungan pendidikan dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah sebagai salah lembaga pendidikan agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat, mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensukseskan program-program pendidikan yang berada di sekolah
8. Hubungan Kebudayaan dengan Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup dalam suatu daerah tertentu dalam waktu yang telah cukup lama dan mempunyai aturan-aturan yang mengatur mereka untuk menuju satu tujuan yang sama. Sedangkan manusia adalah sumber kebudayaan dan masyarakat adalah ibarat danau besar dimana air dari sumber-sumber itu mengalir dan tertampung didalamnya.Manusia mengambil air dari danau tersebut,jadi erat sekali hubungan antara masyarakat dengan kebudayaan.Kebudayaan tak mungkin timbul tanpa adanya masyarakat.Demikian pula eksistensi suatu masyarakat hanya dapat dijaga kelangsungannya dengan adanya kebudayaan.
Masyarakat, penduduk dan kebudayaan terdapat 3 hal penting yang tidak akan bisa dipisahkan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat memiliki peran penting dalam berkembangnya kebudayaan disekitar kita. Begitu juga penduduk, tanpa adanya masyarakat dan kebudayaan maka kehidupan para penduduk di suatu wilayah akan monoton. Sebagai contoh, tanpa adanya masyarakat kebudayaan tidak akan bisa dilestarikan. Bayangkan apabila di suatu wilayah terdapat masyarakat yang kaya akan kebudayaan, namun diantara mereka tidak satupun memiliki kesadaran untuk melestarikan kebudayaan tersebut, maka budaya itu akan hilang begitu saja.
Kebudayaan mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat.Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.Hubungan antara penduduk, masyarakat, dan kebudayaan yaitu masing-masing memliki kebudayaan.
Ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Penduduk masyarakat dan kebudayaanmerupakan konsep-konsep yang satu sama lain sangat berdekatan dan berhubungan. Bermukimnya penduduk dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu yang tertentu pula, memungkinkan untuk terbentuknya masyarakat di wilayah tersebut. Ini berarti masyarakat akan terbentuk bila ada penduduknya sehingga tidak mungkin akan ada masyarakat tanpa penduduk, masyarakat terbentuk karena penduduk. Kebudayaan merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu penduduk masyarakat yang terlahir secara turun temurun dari suatu daerah atau negara. Kebudayaan diantara lain adalah berupa kepercayaan, adat istiadat, kesenian, moral, nilai-nilai serta norma-norma, dan sebagainya.
Pertumbuhan penduduk yang makin cepat mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dsb. Berbeda dengan makhluk lain, manusia mempunyai kelebihan dalam kehidupannya. Manusia dapat memanfaatkan dan mengembangkan akal budinya. Pemanfaatan dan pengembangan akal budi telah terungkap pada perkembangan kebudayaan, baik kebudayan rohaniah maupun kebudayaan kebendaan.Akibat dari perkembangan kebudayaan ini, telah mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Demikian pula hubungan antara masyarakat dan kebudayaan, ini merupakan dwi tunggal, hubungan dua yang satu dalam arti bahwa kebudayaan merukan hasil dari suatu masyarakat, kebudayaan hanya akan bisa lahir, tumbuh dan berkembang
dalam masyarakat. Tetapi juga sebaliknya tidak ada suatu masyarakat yang tidak didukung oleh kebudayaan. Hubungan antara masyarakat dan kebudayaan inipun juga merupakan suatu hubungan yang saling menentukan.
9. Hubungan Nilai pendidikan dan Tradisi a) Nilai
Sejak zaman Yunani Kuno, nilai sudah dibicarakan dalam kerangka filsafati.Nilai sudah ditempatkan dalam hirarkhi ide atau gagasan pemikiran.Ide tentang hakikat kebenaran, kebaikan, dan keindahan sudah menjadi objek pemikiran secara mendalam.Pada akhir abad ke-19 kajian tentang nilai semakin mantap menjadi salah satu bidang kajian filsafat yang disebut aksiologi (filsafat nilai).Persoalan aksiologi meliputi nilai logis (benar-salah), nilai etis (baik-buruk), dan nilai estetis (indah-tidak indah).
Namun beberapa ahli, termasuk Fraenkel (1977:6), mengatakan bahwa: The study of values ussually is divided into the areas of aesthetics and ethics. Jadi, persoalan aksiologi hanya meliputi estetika dan etika.Dalam pembagian cabang-cabang filsafat, etika merupakan salah satu cabang filsafat yang membicarakan persoalan moral atau tingkah laku yang baik.
Seorang antropolog melihat nilai sebagai ‘harga’ yang melekat pada polabudaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan dan lain-lain.Menurut Kuperman (1983:27), seorang sosiolog berpendapat, nilai adalah patokan normatifyang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya. Menurut Gordon Allport (1964:11) ahli psikologi kepribadian, nilai adalah keyakinan yangmendorong tindakan dan pilihan seseorang.
Secara garis besar nilai dibagi dalam dua kelompok yaitu nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving). Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. Yang termasuk kedalam nilai-nilai nurani adalah kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan kesesuaian. Sedangkan nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu diparaktikan atau diberikan yang kemudian
akan diterima sebanyak yang diberikan. Yang termasuk pada kelompok nilai-nilai memberi yaitu setia, dapat dipercaya, hormat, cinta, kasih sayang, peka, adil dan murah hati. (Linda, 1995:22)
Nilai adalah segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan, bahwa dalam kehidupan masyarakat nilai merupakan sesuatu untuk memberikan tanggapan atas perilaku, tingkah laku, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat baik secara kelompok maupun individu. Nilai yang muncul tersebut dapat bersifat positif apabila akan berakibat baik, namun akan bersifat negatif jika berakibat buruk pada obyek yang diberikan nilai (Sulaiman, 1992: 19).
Menurut Mardiatmadja (1986:105), nilai menunjuk pada sikap orang terhadap sesuatu hal yang baik. Nilai-nilai dapat saling berkaitan membentuk suatu sistem dan antara yang satu dengan yang lain koheren dan mempengaruhi segi kehidupan manusia. Dengan demikian, nilai-nilai berarti sesuatu yang metafisis, meskipun berkaitan dengan kenyataan konkret. Nilai tidak dapat kita lihat dalam bentuk fisik, sebab nilai adalah harga sesuatu hal yang harus dicari dalam proses manusia menanggapi sikap manusia yang lain.
Nilai-nilai sudah ada dan terkandung dalam sesuatu, sehingga dengan pendidikan membantu seseorang untuk dapat menyadari dengan mencari nilai-nilai mendalam dan memahami kaitannya satu sama lain serta peranan dan kegunaan bagi kehidupan. Ada hubungan antara bernilai dengan kebaikan menurut Merdiatmedja (1986:105), nilai berkaitan dengan kebaikan yang ada dalam inti suatu hal. Jadi nilai merupakan kadar relasi positif antara sesuatu hal dengan orang tertentu. Antara lain, nilai praktis, nilai sosial, nilai estetis, nilai kultural/budaya, nilai religius, nilai susila/moral.
Kedua pendapat diatas berbicara masalah kebaikan, sikap dan norma-norma yang merupakan penjabaran dari nilai, pendapat-pendapat tersebut tidak dapat lepas dari kebudayaan seperti yang dikemukakan oleh Suminto (2000 : 5) bahwa kebudayaan sebagai suatu konsep yang luas, yang di dalamnya tercakup adanya sistem dari pranata nilai yang berlaku termasuk tradisi yang mengisyaratkan makna pewarisan norma-norma, kaidah-kaidah, adat istiadat dan harta-harta cultural. Kebudayaan yang di dalamnya terdapat nilai perlu
upaya pelestarian. Melalui pendidikan akan menyadarkan kepentingan dalam nilai budaya.
B. Kajian Penelitian Terdahulu
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya di dalam latar belakang masalah, untuk mendukung jalannya penelitian ini maka penulis akan melakukan analisis terlebih dahulu terhadap hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya yang tentunya mempunyai relevansi dan keterkaitannya dengan topik yang sedang penulis teliti saat ini.
Penelitian tentang pengaruh dan nilai-nilai pendidikan upacara Sedekah Bumi terhadap masyarakat juga pernah diangkat sebagai topik penelitian oleh beberapa peneliti sebelumnya.Oleh karena itu, penulismenganalisis, menelaah dan mempelajari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya untuk dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi penulis dalam melakukan penelitian.
Penelitian tentang nilai-nilai pendidikan upacara sedekah bumi dapat ditemukan di dalam skripsi yang ditulis oleh:
1. Herliyan Bara Wati dengan judul “Pengaruh dan Nilai-Nilai Pendidikan Upacara Sedekah Bumi Terhadap Masyarakat Desa Bagung Sumberhadi Kecamatan
Prembun Kabupaten Kebumen”. Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, dapat disimpukan sebagai berikut:
Prosesi upacara Sedekah Bumi, terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: (a) praprosesi: terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, (b) prosesi: terdiri dari gombrangan dan pelaksanaan upacara Sedekah Bumi; (c) akhir prosesi, terdiri dari pemberian sesaji di sumur beji. Ubarampe upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi, yaitu: (a) nasi tumpeng, (b) nasi kuning, (c) ingkung pitung talen, (d) bubur merah putih, (d) kembang telon. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam upacara Sedekah Bumi di Desa Bagung Sumberhadi terdiri atas tiga nilai, yaitu: (a)
nilai pendidikan ketuhanan, (b) nilai pendidikan sosial atau
kemasyarakatan, (c) nilai pendidikan moral. Pengaruh upacara Sedekah Bumi terhadap masyarakat di Desa Bagung Sumberhadi terdapat dua sifat, yaitu (a) sifat positif dan (b) sifat negatif.
2. Ondang Sri Kadarwati dengan judul “ Tradisi Sedekah Bumi Uler-Uler Kambang Sebagai Pengembangan Materi Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri I Gebog Kabupaten Kudus”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang tradisi sedekah bumi uler-uler kambang sebagai pengembangan materi pembelajaran sejarah di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus. Di samping itu penelitian ini juga bertujuan mendiskripsikan berbagai upaya dalam memanfaatkan tradisi sedekah bumi uler-uler kambang sebagai pengembangan materi pembelajaran sejarah di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan bentuk penelitian deskriptif kualitatf. Adapun strategi penelitian yang digunakan adalah studi kasus tunggal terpancang. Dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan cuplikan sampling (purposive sampling). Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, observasi pasif, dan analisis dokumen/arsip. Untuk memperoleh kesahihan data (validitas data), selanjutnya dilakukan
trianggulasi data dan trianggulasi sumber.Hasil penelitian ini
digunakan sebagai bahan pengembangan materi pembelajaran sejarah di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus, meskipun demikian masih banyak hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaannya, sehingga perlu adanya pemecahan persoalan yang ada, agar pengembangan materi pembelajaran sejarah di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus bisa berjalan lebih baik pada tahun pelajaran selanjutnya.Tradisi sedekah bumi uler-uler kambang merupakan salah satu sarana yang cukup efektif dalam memperkaya pengembangan materi pembelajaran sejarah .karena didalamnya terdapat aspek paedagogis antara lain nilai-nilai religius, gotong royong kedisiplinan rasa solidaritas antar sesama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi semua pihak yang terkait dalam upaya pengembangan materi pembelajaran sejarah sebagai usaha untuk memperkaya materi pembelajaran sejarah lokal guna menjadi acuan pembelajaran sejarah di SMA Negeri Gebog Kabupaten Kudus.Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan peserta didik dalam mengenal beragam tradisi di daerahnya.
3. Umami, Rizalatul.2012 “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Sedekah Desa Pada Masyarakat Nyatnyono”. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.
Penelitian ini hadir untuk mengungkapkan seberapa jauh makna yang terkandung dalam proses peran tersebut dalam hal penghayatan agama dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Nyatnyono. Diambilnya permasalahan ini berdasarkan pertimbangan, bahwa saat ini semakin surut dan tenggelamnya tradisi-tradisi lokal yang banyak mengadung nilai-nilai pendidikan Islam akibat tradisi-tradisi modern yang serba instant. Untuk itulah, mutlak dibutuhkan usaha untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut yang ada di desa Nyatnyono dan memberdayakan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Nyatnyono, setidaknya merupakan salah satu wujud upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut, yang di dalamnya menggambarkan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan Islam tidak mutlak diperoleh melalui lembaga formal saja.Dari permasalahan tersebut peneliti
merumuskan ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut: 1. Mengapa
masyarakat desa Nyatnyono melakukan tradisi sedekah desa?,
2.Bagaimana proses pelaksanaan tradisi sedekah desa di desa Nyatnyono?, 3.Nilai-nilai pendidikan islam apa saja yang terkandung dalam tradisi sedekah desa?. Sehubungan dengan pertanyaan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang mengembangkan model fenomenologis. Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, interview/wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Nyatnyono melalui tradisi sedekah desa ternyata mampu menjadi salah satu solusi alternatif bagi pengembangan dan peningkatan pendidikan Islam terutama dalam hal akhlak anak-anak dan remaja yang nantinya akan sebagai generasi penerus. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka diharapkan baik dari masyarakat Nyatnyono dari ritual upacara tradisi sedekah desa ini ditemukan, ternyata masyarakat menyambut positif tentang tradisi tersebut masyarakat setempat maupun dari masyarakat lainnya.
C. Kerangka Pemikiran
Kebudayaan adalah suatu fenomena universal.Setiap masyarakat-bangsa di dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat-bangsa yang satu ke masyarakat-bangsa yang lainnya.Kebudayaan secara jelas menampakkan kesamaan kodarat manusia dari pelbagai suku, bangsa, dan ras.
Indonesia memiliki begitu banyak kebudayaan, tradisi dan suku berbeda – beda satu dengan yang lainnya. Setiap daerah memiliki nilai budaya yang beragam dan unik. Dari berbagai ragam budaya dan tradisi yang ada, salah satunya terdapat di Jawa Tengah, seperti tradisi yang disebut sedekah bumi. Yang sampai saat ini masih tetap dilaksanakan serta telah melekat dan menjadi rutinitas pada setiap tahunnya.
Acara ini merupakan salah satu bentuk upacara adat tradisional masyarakat di Jawa yang telah turun temurun dari nenek moyang terdahulu.
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas.Awal mula dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu kemudian disepakati oleh beberapa kalangan dan akbirnya diaplikasikan secara bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah ajaran yang jika ditinggalkan akan mendatangkan bahaya. (Masrin,2009:3)
Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau Jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu.Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat Jawa yang berprofesi sebagai petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak famili mereka dari mengais rezeki dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.Bagi masyarakat Jawa khususnya para kaum petani dan para nelayan, tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka. Akan tetapi tradisi sedakah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari kultur (budaya) jawa yang menyiratkan simbol penjagaan terhadap kelestarian serta kearifan lokal (Local Wisdem) khas bagi masyarakat agraris maupun masyarakat nelayan.
Tradisi Sedekah Bumi di Desa Cibuntu yang telah lama tidak pernah dilaksanakan kini sudah mulai dilestarikan kembali. Perayaan ini tumbuh dan berkembang beserta dialektikanya pada konteks pembangunan sosok karya budaya menurut naluri ketahanan hidup, yang merupakan bagian dari pengelolaan karakter dan jati diri masyarkat Desa Cibuntu, antara lain ekspresi dari ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan-Nya dengan berbagai kegiatan dan ritual yang tidak menyimpang dari kaidah dan norma agama Islam.
Berdasarkan semua itu, banyak manfaat dari ritual sedekah bumi, karena bumi yang pada hakikatnya sebagai tempat hidup dan bertahan hidup bagi semua mahkluk yang ada di dalamnya, sudah selayaknyasebagai manusia yang sejatinya adalah khalifah atau pemimpin di muka bumi ikut menjaga agar keselamatan dan kesejahteraannya terjaga. Bila bumi sejahtera, tanah subur, tentram, tidak ada musibah, maka kehidupan di bumi pun akan terjaga dan manusia pun pada akhirnya
yang memetik dan menikmati kesejahteraan itu. Serakah, sombong, kikir, sewenang-wenang dan sifat buruk lainnya adalah hal yang tidak dapat di pisahkan dalam diri manusia, dari ulah manusia bumi dapat binasa dan dari ulah manusia pula bumi dapat terjaga kelestariaannya.
Oleh karena itu peneliti akan melakukan sebuah penelitian mengenaiupacara tradisi Sedekah Bumi yang ada di Desa Cibuntu Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan, penelitian tersebut menyangkut bagaimana prosesi jalannya upacara tersebut, serta nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung di dalamnya dan adakah pengaruh positif serta negatif dari adanya upacara sedekah bumi ini.