Bab 1: Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Metodologi
1.5 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain Bab 2: Gambaran Umum Wilayah
2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik 2.2 Demografi
2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah 2.4 Tata Ruang Wilayah
2.5 Sosial dan Budaya
2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah
3.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Higiene 3.1.1 Tatanan Rumah Tangga
3.1.2 Tatanan Sekolah 3.2 Pengelolaan Air Limbah Domestik
3.2.1 Kelembagaan
3.2.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan 3.2.3 Kesadaran Masyarakat dan PMJK 3.2.4 “Pemetaan” Media
3.2.5 Partisipasi Dunia Usaha 3.2.6 Pendanaan dan Pembiayaan
3.2.7 Isu strategis dan permasalahan mendesak 3.3 Pengelolaan Persampahan
3.3.1 Kelembagaan
3.3.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan 3.3.3 Kesadaran Masyarakat dan PMJK 3.3.4 “Pemetaan” Media
3.3.5 Partisipasi Dunia Usaha 3.3.6 Pendanaan dan Pembiayaan
3.3.7 Isu strategis dan permasalahan mendesak 3.4 Pengelolaan Drainase Lingkungan
3.4.1 Kelembagaan
3.4.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan 3.4.3 Kesadaran Masyarakat dan PMJK 3.4.4 “Pemetaan” Media
3.4.5 Partisipasi Dunia Usaha 3.4.6 Pendanaan dan Pembiayaan
3.4.7 Isu strategis dan permasalahan mendesak 3.5 Pengelolaan Komponen Terkait Sanitasi
3.5.1 Pengelolaan Air Bersih
3.5.2 Pengelolaan Air Limbah Industri Rumah Tangga 3.5.3 Pengelolaan Limbah Medis
Bab 4: Program Pengembangan Sanitasi Saat Ini dan yang Direncanakan 4.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Higiene 4.2 Peningkatan Pengelolaan Air Limbah Domestik
4.3 Peningkatan Pengelolaan Persampahan 4.4 Peningkatan Pengelolaan Drainase Lingkungan 4.5 Peningkatan Komponen Terkait Sanitasi
Bab 5: Indikasi Permasalahan dan Posisi Pengelolaan Sanitasi 5.1 Area Berisiko Sanitasi
Daftar Tabel Daftar Peta Daftar Gambar Daftar Istilah
Daftar Istilah dapat mengacu pada Glossary Sanitasi di Lampiran Petunjuk Praktis ini. Gunakan sesuai istilah yang ada di dalam dokumen Buku Putih Sanitasi.
GAMBARAN UMUM WILAYAH
Gambaran Umum Wilayah menjelaskan kondisi umum Kota Salatiga yang mencakup: kondisi fisik, kependudukan, administratif, keuangan dan perekonomian daerah, kebijakan penataan ruang, struktur organisasi serta tugas dan tanggung jawab perangkat daerah.
2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik Geografis
Kota Salatiga terletak antara 007.17’ - 007.17’.23” Lintang Selatan dan antara 110.27’.56,81” - 110.32’.4,64” Bujur Timur.
Adminstratif
Kota Salatiga terdiri dari 4 kecamatan dan 22 kelurahan, sebagaimana tersebut pada tabel berikut ini. Tabel 2.2 Nama, Luas Wilayah Per Kecamatan Dan Jumlah Kelurahan
Nama Kecamatan Jumlah Kelurahan Jumlah Penduduk
Luas Wilayah (Ha)
thd total (%) Kec. Tingkir 1. Kutowinangun 20.301 293,750 5 %
2. Gendongan 5.838 68,900 1%
3. Sidorejo Kidul 4.261 277,500 5%
4. Kalibening 1.641 99,599 2%
5. Tingkir Lor 3.962 177,300 3%
6. Tingkir tengah 4.374 137,801 2%
Kec. Argomulyo 1. Noborejo 5.589 332,200 6%
2. Ledok 10.051 187,330 3%
3. Salatigarejo 11.109 188,430 3%
4. Kumpulrejo 7.322 629,030 11%
5. Randuacir 5.178 377,600 7%
6. Cebongan 4.417 138,100 2%
Kec. Sidomukti 1. Kecandran 5.323 399,200 7%
2. Dukuh 11.084 377,150 7%
3. Mangunsari 16.275 290,770 5%
4. Kalicacing 7.249 78,730 1%
Kec. Sidorejo 1. Blotongan 11.683 423,800 7%
2. Sidorejo Lor 13.349 271,600 5% 3. Salatiga 15.690 202,000 4% 4. Bugel 2.745 294,370 5% 5. Kauman Kidul 3.931 195,850 3% 6. Pulutan 3.249 237,100 4% Jumlah Total 5.678,110 100 %
Sumber: RTRW Kota Salatiga 2010-2030
Kondisi Fisik
Tinjauan morfologis, Kota Salatiga berada di cekungan kaki gunung Merbabu diantara gunung-gunung kecil antara lain Gajahmungkur, Telomoyo dan Payung Rong. Dengan ketinggian antara 450 - 825 m dpl (dari permukaan air laut), dan pada aspek topografis, Kota Salatiga terdiri dari 3 bagian :
Bergelombang ± 65 %, terdiri dari :
a. Kelurahan : Dukuh, Ledok, Kutowinangun, Salatiga dan Sidorejo Lor. b. Keluarahan : Bugel, Kumpulrejo dan Kauman Kidul.
Miring ± 25 %, terdiri dari :
a. Kelurahan : Salatigarejo, Mangunsari dan Sidorejo Lor.
b. Keluarahan : Sidorejo Kidul, Tingkir Lor, Pulutan, Kecandran, Randuacir, Tingkir Tengah dan Cebongan.
Datar ± 10 %, terdiri dari : a. Kelurahan : Kalicacing
b. Keluarahan : Noborejo, Kalibening dan Blotongan Kondisi air tanah (ketinggian air tanah).
Curah hujan di Kota Salatiga dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan topografi dan perputaran/ pertemuan arus udara. Menurut data Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Salatiga (2011: 55-56) tercatat Curah hujan tertinggi sebesar 360 mm pada bulan Maret, sedangkan hari hujan terbanyak selama 19 hari pada bulan Januari dan bulan Desember. Jumlah curah hujan yang beragam sangat tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat. Menurut data SLHD jumlah curah hujan 3.577 mm, Jumlah Hari Hujan 172 hari dan Rata-rata Curah Hujan 20,80 mm/hari
Kota Salatiga termasuk dalam DAS Tuntang, yang merupakan Wilayah Sungai Jragung, Sungai Tuntang, Sungai Serang, Sungai Lusi, dan Sungai Juwana, (WS Jratunseluna). Hulu DAS Tuntang berada di Kabupaten Semarang (Rawapening), sedangkan bagian tengah dan hilir DAS berada di Kabupaten Demak. DAS Tuntang terletak pada posisi 110° 18' 26" - 110° 51' 01" Bujur Timur dan antara 6° 45' 31'' - 7° 26' 55'' Lintang Selatan, dengan luas wilayah 156.789,50 Ha dan debit ...M3/det. DAS Tuntang memiliki tiga sub das di Kota Salatiga. (RTRW 2010-2030: III-62).
Tabel 2.1 Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) di Wilayah Kota Salatiga Nama Sub DAS Luas (Ha) Debit (M3/dtk) Sub DAS Jurang Gunting
Sub DAS Banyu Putih Sub DAS Kali Taman
Sumber ...
2.2 Demografi
Demografi merupakan gambaran ringkas kondisi kependudukan di tingkat kecamatan (data kelurahan masuk lampiran),
Rumus untuk menghitung proyeksi penduduk 5 tahun:
Pt = Po (1 + r )t
Keterangan:
Pt = jumlah penduduk pada tahun t (2017). Po = jumlah penduduk pada tahun awal (2012)
r = angka pertumbuhan penduduk
Tabel 2.3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk dan Proyeksi 5 tahun Nama
Kecamata n
Jumlah Penduduk Jumlah KK Tingkat
Pertumbuhan
Tahun Tahun Tahun
2007 2008 2009 2010 2011 2007 2008 2009 2010 2011 2007 2008 2009 2010 2011 Kec. Tingkir 41.158 40.547 40.262 40.377 11407 11369 11107 11.107 -0,64 Kec. Argomuly o 41.029 40.654 40.148 43.666 11366 11287 11574 11.574 2,10 Kec. Sidomukti 36.050 36.129 40.007 39.931 9875 9850 10184 10.182 3,47 Kec. Sidorejo 49.024 49.703 49.605 50.647 13583 13749 11345 11.345 1,09 Sumber: RTRW 2010-2030
NO. KECAMATAN PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK
2012 2013 2014 2015 2016
1. Kec. Tingkir 2. Kec. Argomulyo 3. Kec. Sidomukti 4. Kec. Sidorejo
Jumlah penduduk Kota Salatiga mengalami kenaikan sebesar 4.599 jiwa. Konsentrasi penduduk paling banyak berada di Kecamatan Sidorejo sebagai pusat permukiman. Penduduk di kecamatan ini mencapai 50.647 jiwa (29%) dari total penduduk Salatiga, disusul oleh Kecamatan Argomulyo, jumlah penduduk sebesar 43.666 jiwa (25%). Sementara penduduk yang paling sedikit adalah di Kecamatan Sidomukti, yaitu hanya 39.931 jiwa (22,86%). Dibanding tahun 2009, penduduk Kota Salatiga pada tahun 2010 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 2,63%.
Bagian ini menjelaskan kondisi keuangan dan perekonomian daerah meliputi: pendapatan dan belanja modal sanitasi daerah, kapasitas keuangan daerah, kemampuan fiskal/ruang fiskal, data peta perekonomian dan data realisasi belanja modal sanitasi setiap SKPD.
Tabel 2.4 Ringkasan realisasi APBD 5 tahun terakhir
No Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)
A Pendapatan
1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Rp
36.192.748.028,00
Rp 45.149.901.979,00 Rp 53.055.833.309,00 Rp 51.549.747.508,00 Rp
60.611.340.067 2 Dana Perimbangan (Transfer) Rp
266.495.890.647,00
Rp 340.886.288.132,00 Rp
318.659.347.694,00
Rp 335.299.006.904,00 Rp 417.562.170.854 3 Lain-lain Pendapatan yang
Sah Rp - Rp 4.685.093.750,00 Rp 4.480.275.000,00 Rp 24.655.685.094,00 - Jumlah Pendapatan Rp 302.688.638.675,00 Rp 390.721.283.861,00 Rp 376.195.456.003,00 Rp 411.504.439.506,00 Rp 478.173.510.921 B Belanja
1 Belanja Tidak Langsung Rp
142.678.186.365,00 Rp 173.023.819.370,00 Rp 204.203.363.965,00 Rp 241.302.105.462,00 Rp 274.539.211.207,00 2 Belanja Langsung Rp 111.095.561.449,00 Rp 195.370.153.297,00 Rp 228.453.181.447,00 Rp 177.313.810.169,00 Rp 184.408.695.280,00 Jumlah Belanja Rp 253.773.747.814,00 Rp 368.393.972.667,00 Rp 432.656.545.412,00 Rp 418.615.915.631,00 Rp 458.947.906.487,00 Surplus/Defisit Anggaran Rp 48.914.890.861,00 Rp 22.327.311.194,00 Rp -56.461.089.409,00 Rp -7.111.476.125,00 Rp 19.225.604.434
Tabel 2.5 Ringkasan anggaran sanitasi dan belanja modal sanitasi per penduduk 5 tahun terakhir
No Subsektor/SKPD 2007 2008 2009 2010 2011
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)
A Air Limbah 243.750.000 570.000.000 700.720.000 1.985.464.000 2.396.929.000
1 Dinas pekerjaan Umum 93.750.000 - 160.000.000 - -
2 Disnaker & Permas 100.000.000 100.000.000 - - -
3 Dinas Pasar & PKL 50.000.000 - - - -
4 DPLH - 470.000.000 - - -
5 Dinas tata kelolah - - 215.000.000 978.250.000 50.000.000
6 KLH - - 282.000.000 1.007.214.000 2.346.929.000
7 Disperindagkop & UMKM - - 43.720.000 - -
B Persampahan 310.000.000 852.000.000 936.648.000 1.188.500.000 1.120.942.000
1 DPLH 310.000.000 827.000.000 - - - 2 Disnakertrans & Permas - 25.000.000 - - - 3 DTK - - 936.648.000 1.188.500.000 1.120.942.000
1 DPU 2.301.876.000 7.602.328.000 10.459.240.000 11.959.823.000 11.322.339.000 2 BAPPEDA 323.250.000 294.840.000 - - - D Aspek PHBS (pelatihan, sosialisasi, komunikasi, pendampingan) 124.540.000 344.962.000 753.806.000 543.358.000 884.301.000 1 Dinas Kesehatan 64.540.000 136.813.000 553.806.000 295.215.000 522.670.000 2 DPLH 60.000.000 - - - -
3 Disnakertrans & Permas - 208.149.000 - - - 4 Bapermas, Peremp, KB, dan KP - - 200.000.000 248.143.000 361.631.000
E Total Belanja Modal Sanitasi (A s/d D)
3.303.416.000 9.664.130.000 12.850.414.000 15.677.145.000 15.724.511.000 F Total Belanja Modal Sanitasi dari
APBD murni (bukan pendamping)
2.383.416.000 8.373.130.000 8.687.414.000 12.446.645.000 10.748.311.000 G Total Belanja APBD 253.773.747.814 482.466.340.530 485.111.546.463 472.104.586.200 518.883.551.889 H Proporsi Belanja Modal Sanitasi
terhadap Belanja Total (9:10x100%)
0,01 0,02 0,03 0,03 0,03
I Jumlah penduduk 167.261 167.033 170.022 174.621 xx174.621xx J Belanja Modal Sanitasi per
penduduk (E:I)
19.750,07 57.857,61 75.580,89 89.778,12 90.049,37
Tahun Indeks Kemampuan Fiskal/ Ruang Fiskal Daerah (IRFD) 2007 Rp 149.500.779.514,00 2008 Rp 145.782.930.577,00 2009 Rp 159.976.861.484,00 2010 Rp 119.298.560.780,00 2011 Rp 136.317.992.871,00 Sumber: DPPKAD Kota Salatiga 2012
Pertumbuhan ekonomi Salatiga tahun 2010 yang ditunjukkan oleh laju Pertumbuhan Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 sebesar 5,01%. Jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2009, dimana laju pertumbuhan sebesar 4,48%, maka pada tahun 2010 mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 Pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 sebesar 4.48% jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2008 dimana laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4.98% maka pada tahun 2009 mengalami penurunan. Penurunan ini dikarenakan karena dampak dari krisis global yang terjadi pada akhir tahun 2008, dan sektor riil mengalami dampak yang paling besar
Tabel 2.7 Data Perekonomian Umum Daerah 5 Tahun Terakhir
No D e s k r i p s i 2007 2008 2009 2010 2011 (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) 1 PDRB harga konstan (struktur perekonomian) (Rp.) 792.680,46 832.154,88 869.452,99 913.020,05 xxx 2 Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota (Rp.) 8.288.969,25 9.227.188,65 9.841.641,87 10.856.889,06 xxx 3 Upah Minimum Regional
Kabupaten/Kota (Rp.) 582.000 662.500 750.000 803.185 843.500 4 Inflasi (%) 7,22 10,20 3,28 6,65 2,89 5 Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,39 4,98 4,48 5,01 xxx
Sumber: Salatiga Dalam Angka 2012
2.4 Tata Ruang Wilayah Kebijakan Penataan Ruang
Tujuan penataan ruang Kota Salatiga adalah mewujudkan Kota Salatiga sebagai pusat pendidikan dan olahraga di kawasan Kendal–Ungaran–Semarang–Salatiga–Purwodadi (Kedungsepur) yang berkelanjutan didukung sektor perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan.
Secara umum, untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah Kota Salatiga, maka ditetapkan strategi dan kebijakan perencanaan ruang wilayah serta strategi perencanaan ruang wilayah. Terkait dengan bidang sanitasi (air limbah, drainase dan persampahan) termasuk di dalam kebijakan pengembangan infrastruktur kota.
Kebijakan Struktur Ruang
Tujuan kebijakan struktur ruang adalah untuk mendorong proses pertumbuhan pada wilayah yang mempunyai potensi untuk berkembang serta untuk memacu pertumbuhan wilayah tersebut sesuai dengan karakteristik masing-masing dengan tetap menjaga keberlanjutan pembangunannya.
Kebijakan pengembangan struktur ruang kota, meliputi:
b. Mengembangkan pusat perdagangan berskala regional;
c. Mengembangkan kegiatan pendidikan menengah kejuruan, akademi, dan d. perguruan tinggi hingga ke skala pelayanan regional;
e. Mengembangkan pusat kegiatan olah raga;
f. Mengembangkan kegiatan wisata budaya, wisata alam, dan wisata buatan; g. Mengembangkan kegiatan jasa pertemuan dan jasa pameran.
2. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem prasarana sarana umum, dengan strategi: a. Mengembangkan prasarana telekomunikasi nirkabel berupa tower BTS
b. (Base Transceiver Station) bersama;
c. Mengembangkan prasarana listrik dengan sumber energi alternatif; d. Meningkatkan dan mengembangkan ketersediaan air baku; e. Meningkatkan kualitas jaringan irigasi dan distribusi air.
3. Pengembangan sistem jaringan transportasi jalan yang memperlancar pergerakan antar pusat kegiatan, dengan strategi:
a. Mengembangkan jaringan jalan lingkar; b. Menata fungsi jaringan jalan; dan
c. Mengembangkan terminal tipe A, tipe C, dan terminal angkutan kota (angkota). Kebijakan pola ruang
Tujuan kebijakan pola ruang adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Kebijakan pengembangan pola ruang kota meliputi : 1. Peningkatan fungsi kawasan lindung, dengan strategi:
a. menetapkan kawasan lindung; b. menjaga kelestarian kawasan lindung;
c. mengembalikan dan mengatur pemanfaatan tanah sesuai peruntukan fungsi lindung; d. melestarikan kawasan lindung cagar budaya;
e. melakukan rehabilitasi dan konservasi kawasan lindung yang telah menurun fungsinya. 2. Penyediaan RTH Kota yang proporsional, dengan strategi:
a. meningkatkan kuantitas RTH hingga 30 %; b. mengembalikan RTH sesuai fungsinya; c. mempertahankan RTH yang telah ada.
3. Perwujudan pengembangan kegiatan budi daya yang optimal dan efisien, dengan strategi: a. menetapkan kawasan budi daya sesuai daya dukung dan daya tamping lingkungan; b. mengarahkan pengembangan kawasan industri di bagian Selatan kota;
c. mengarahkan pengembangan kawasan pertanian lahan basah di bagian Timur kota;
d. mendorong pengembangan kawasan budi daya secara vertikal di kawasan kepadatan tinggi; dan e. memperhatikan keterpaduan antar kegiatan budi daya;
f. mengembangkan fasilitas olah raga berskala nasional dan internasional.
4. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara, dengan strategi: a. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar b. kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;
c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya tidak terbangun disekitar kawasan strategis nasional yang mempunyai fungsi khusus pertahanan dan keamanan dengan kawasan budi daya terbangun;
d. menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan.
Cantumkan informasi mengenai wilayah rawan bencana dan kebijakan penataan ruang untuk wilayah perbatasan (apabila ada).
Di wilayah Kota Salatiga, rawan bencana yang dimaksud adalah rawan longsor, rawan erosi permukaan tanah dan rawan genangan. Beberapa lokasi rumah atau perumahan dan permukiman di Kota Salatiga masih berada di daerah yang merupakan daerah rawan longsor. Pada kawasan-kawasan seperti ini perlu dilindungi agar dapat menghindarkan masyarakat dari ancaman yang ada tersebut.
Salatiga. Seperti permukiman yang ada di Kelurahan Blotongan dan Bugel yang memiliki kelerengan > 40 %, dan untuk Kelurahan Sidorejo Lor tidak memiliki kelerengan yang tinggi, namun kelurahan ini memiliki kawasan rawan bencana berupa banjir. Kondisi ini dikarenakan kelurahan yang memiliki kelerengan tinggi dan semakin sedikit kawasan lindungan resapan air akibat dari kawasan ini dibangun untuk permukiman baru.
Kebijakan yang akan dilakukan antara lain: pengawasan dan pengendalian pembangunan perumahan baru di kawasan rawan longsor, kepadatan bangunan diarahkan dengan kepadatan rendah, harus ada pembatasan kepadatan dan pertumbuhan fisik – aktivitas kawasan, kepadatan diarahkan < 30 unit/Ha dengan luas lantai bangunan < 100 m2, kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase, pada daerah rawan banjir ini perlu adanya pemantapan kawasan lindung diantaranya dengan langkah reboisasi jenis tanaman khusus (tanaman tahunan).
Beberapa lokasi permukiman yang berada di daerah rawan longsor antara lain terdapat di Kelurahan Blotongan, Kelurahan Sidorejo Kidul, Kelurahan Kutowinangun, Kelurahan Bugel, Kelurahan Randuacir, dan Kelurahan Kumpulrejo. Walaupun jumlah tidak terlalu banyak dan belum pernah terjadi longsor namun lokasi tersebut membutuhkan pengendalian untuk pencegahan keberlanjutan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat atau pengembang.
2.5 Sosial dan Budaya
Kondisi sosial budaya menggambarkan keadaan prasarana pendidikan, jumlah penduduk miskin, serta kawasan kumuh yang terdapat di wilayah Kota Salatiga
Tabel 2.8 Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kota Salatiga Nama Kecamatan Jumlah Sarana Pendidikan
Umum Agama SD SLTP SMA SMK MI MTs MA Kec. Tingkir 21+4 1+2 0 1+1 0+3 Kec. Argomulyo 22+0 2+0 1+1 0 0+3 1+0 Kec. Sidomukti 15+2 3+1 0+1 2+4 3+0 Kec. Sidorejo 24+5 4+8 2+3 0+6 0+3 0+1 1+1 Sumber: Profil Daerah Salatiga 2011
Jumlah penduduk Kota Salatiga cukup banyak, dan jumlah masyarakat miskin yang tesebar di seluruh wilayah kota Salatiga juga begitu besar.
Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan
Nama Kecamatan Jumlah keluarga miskin (KK)
Kec. Tingkir 1.818
Kec. Argomulyo 1.862
Kec. Sidomukti 1.834
Kec. Sidorejo 2.139
Sumber: Salatiga Dalam Angka 2011 Jumlah rumah/KK.
Berdasarkan kepadatan penduduk Kota Salatiga cukup padat, Jumlah rumah di kota Salatiga Tabel 2.10 Jumlah Rumah Per Kecamatan
Nama Kecamatan Jumlah Rumah
Kec. Tingkir 7970
Kec. Argomulyo 9519
Kec. Sidomukti 7631
Kec. Sidorejo 9673
Sumber: Dinas kesehatan 2012
Berikan deskripsi tentang wilayah kumuh di kawasan perkotaan (apabila ada)
Kawasan Kumuh. Tidak ada Kawasan Kumuh diganti Lingkungan Kumuh Sumber DCKTR
2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah
- Menjelaskan struktur organisasi pemerintah kota dan SOTK sesuai perundangan yang berlaku (lihat hasil kajian kelembagaan dan kebijakan). Dilengkapi:
Sumber: Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda Kota Salatiga 2012
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemerintah Daerah Kota/Kota (Ukuran A4)
Struktur organisasi dari unit SKPD pengelola air limbah domestik di Kota Salatiga yaitu Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang dan Dinas Kesehatan.
Sumber: Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda Kota Salatiga 2012
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan
Keterangan: unit pengelola air limbah domestik di Kota Salatiga pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang adalah berbentuk Seksi (seksi sanitasi dan air bersih). Sedangkan pada Dinas Kesehatan unit pengelola air limbah domestik berbentuk …………..
Struktur organisasi dari unit SKPD pengelola persampahan di Kota Salatiga yaitu Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang beserta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
Sumber: Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda Kota Salatiga 2012
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
Keterangan: unit pengelola persampahan di Kota Salatiga pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang adalah berbentuk Bidang dengan tiga seksi pendukung.
Sumber: Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda Kota Salatiga 2012
Keterangan: unit pengelola persampahan di kota Salatiga pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah adalah berbentuk ………
Struktur organisasi dari unit SKPD pengelola drainase di Kota Salatiga yaitu Dinas Bina Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air.
Sumber: Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda Kota Salatiga, 2012
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Dinas Bina Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air Keterangan: unit pengelola drainase di Kota Salatiga pada Dinas Bina Marga dan Pengelolaan Sumber Daya Air adalah berbentuk ………