• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1. Analisis Sosial 4-1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4.1. Analisis Sosial 4-1"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Analisis Sosial

Analisis aspek sosial terkait dengan pengaruh pembangunan infrastruktur bidang cipta karya kepada masyarakat dimulai dari taraf perencanaan, pembangunan, maupun pasca pembangunan/pengelolaan. Pada taraf perencanaan, pembangunan infrastruktur permukiman diharapkan dapat menyentuh aspek-aspek sosial seperti permasalahan penganguran, perentasan masalah kemiskinan atau permasalah ketimpangan sosial dengan penyediaan saran dan prasarana penunjang yang terkait dengan kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan standr pelayanan minimun dan pada taraf perencanaan harus sesuai dengan isu-isu yang marak saat ini, seperti pengentasan kemiskinan serta pengarusutamaan gender.

Sedangkan pada saat pembangunan kemungkinan masyarakat terkena dampak sehingga diperlukan proses konsultasi, pemindahan penduduk dan pemberian kompensasi, maupun permukiman kembali, kemudian pada pasca pembangunan atau pengelolaan perlu diidentifikasi apakah keberadaan infrastruktur bidang cipta karya tersebut membawa manfaat atau peningkatan taraf hidup bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

(2)

4.1.1. Analisis Sosial pada Perencanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya

Analisis sosial pada tahap perencanaan pembangunanan sangat diperlukan terutama untuk mengidentifikasi dan menginvetarisasi isu-isu sosial yang berkembang dan menjadi persoalan utama dan yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Permasalahan sosial yang terkait dengan pembangunan infrastruktur permukiman di Kota Tanjungpinang meliputi; permasalahan kemiskinan, permukiman kumuh, dan permasalahan sanitasi. Permasalahan sosial yang teridentifikasi dan terinventarisasi kemudian menjadi dasar dalam penyusunan program-program pada tahap selanjutnya yaitu pada tahap pelaksanaan. Sehingga pada tahap pasca pelaksanaan diharapkan dapat memberikan dampak yang baik kepada obyek perencanaan atau pembangunan yang direncanakan tersebut dapat mengatasi permasalahan sosial yang terjadi.

4.1.2. Analisis Sosial pada Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya

Pelaksanaan pembangunan bidang cipta karya secara lokasi, besaran kegiatan dan durasi berdampak terhadap masyarakat, untuk meminimalisir terjadinya konflik dengan masyarakat penerima dampak maka perlu dilakukan beberapa langkah antisipasi, seperti konsultasi, pengadaan lahan dan pemberian kompensasi untuk tanah dan bangunan, serta permukiman kembali

1. Konsultasi Masyarakat

Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat, terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan Bidang Cipta Karya di wilayahnya, hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat, usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan, konsultasi masyarakat perlu dilakukan pada saat persiapan program bidang cipta karya persiapan AMDAL dan pembebasan lahan

(3)

2. Pengadaan lahan dan pemberian kompensasi untuk tanah dan bangunan

Kegiatan pengadaan tanah dan kewajiban pemberian kompensasi atas tanah dan bangunan terjadi jika kegiatan pembangunan bidang cipta karya beralokasi di atas tanah yang bukan milik pemerintah atau telah ditempati oleh swasta/masyarakat selama lebih dari satu tahun, prinsip utama pengadaan tanah adalah bahwa semua langkah yang diambil harus dilakukan untuk meningkatkan, atau memperbaiki, pendapatan dan standar kehidupan warga yang terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah ini

3. Permukiman kembali penduduk (resettlement)

Seluruh proyek yang memerlukan pengadaan lahan harus mempertimbangkan adanya kemungkinan kembali penduduk sejak tahap awal proyek, bilamana pemindahan penduduk tidak dapat dihindarkan, rencana permukiman kembali harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga penduduk yang terpindahkan mendapat peluang ikut menikmati manfaat proyek, hal ini termasuk mendapat kompensasi yang wajar atas kerugiannya serta bantuan dalam pemindahan dan pembangunan kembali kehidupannya di lokasi yang baru, penyediaan lahan, perumahan, prasarana dan kompensasi lain bagi penduduk yang dimukimkan jika diperlukan dan sesuai persyaratan

4.1.3. Aspek Sosial pada Pasca Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya

Output kegiatan pembangunan Bidang Cipta Karya pada pasca pelaksanaan dapat memberikan manfaat secara langsung kepada sendi kehidupan masyarakat. Manfaat sosial yang diharapkan pada pasca pelaksanaan pembangnan infrastruktur bidang cipta karya, minimal dapat terlihat secara kasat mata dan secara sederhana dapat terukur, seperti kemudahan mencapai lokasi pelayanan infrastruktur, waktu tempuh yang menjadi lebih singkat hingga pengurangan biaya yang harus dikeluarkan oleh penduduk untuk mendapat akses pelayanan tersebut.

(4)

Tabel 4.2: Identifikasi Kebutuhan Penanganan Aspek Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya

N

o Kegiatan Lokasi (Kecamatan/ Kelurahan) Tahun

Jumlah Pendudu k Keterang an 1 Pengembangan Permukiman Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kawasan Plantar Sulawesi Tanjungpinang Barat 2018 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh

kawasan Jl. akasia Bukit Bestari 2018 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh kawasan Lembah Purnama Bukit Bestari 2018 Peningkatan Kualitas Permukiman umuh

kawasan Pantai Impian Tanjungpinang Barat 2018 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh kawasan Tanjung Unggat Bukit Bestari 2018 Pembagunan PSD permukiman Pedesaan

kawasan Jl. Akasia Bukit bestari 2019 Pembagunan PSD permukiman Pedesaan kawasan Lembah Purnama Bukit Bestari 2019 Pembagunan PSD permukiman Pedesaan

kawasan Pantai Impian Tanjungpinang Barat 2020 Pembagunan PSD permukiman Pedesaan kawasan Plantar Sulawesi Tanjungpinang Barat 2018 Pembagunan PSD permukiman Pedesaan kawasan Tanjung Unggat Bukit Bestari 2018 Pembanguna rusunami

yang terjangkau bagi MBR.

Kp. Bugis, Kawasan Pusat

Kota 2017

Penyediaan rusunawa u/ MBR

Senggarang, Air Raja,

(5)

N

o Kegiatan Lokasi (Kecamatan/ Kelurahan) Tahun

Jumlah Pendudu

k

Keterang an 2 Penataan Bangunan dan Lingkungan

Penyusunan RTBL

Pulau Dompak Koridor I Pulau Dompak 2017 Supervisi Penataan Kota

Hijau/ P2KH Kota

Tanjung Pinang Kota Tanjungpinang 2017 Penyusunan RTBL (Jl.

Ganet) Tanjungpinang Timur 2019 Penyusunan RTBL (Jl.

Handjoyo Putro) Tanjungpinang Timur 2020 Penyusunan RTBL ( Jl.

Hang Lekir) Tanjungpinang Timur 2021 Penyusunan RTBL (Jl.

Melayu Kota Piring) Tanjungpinang Timur 2019 Penyusunan RTBL (Jl.

Nusantar Km. 12-Batas

Kota) Tanjungpinang Timur 2018 Penyusunan RTBL (Jl.

Pemuda-Jl. Pramuka) Bukit Bestari 2020 Penyusunan RTBL Jl.

Daeng Calak (kawasan

wisata Kota Rebah) Tanjungpinang Kota 2019 Penyusunan RTBL Jl.

Daeng Calak (Tg. Lanjut) Tanjungpinang Kota 2018 Penyusunan RTBL

Kawasan Senggarang Tanjungpinang Kota 2018 Penyusunan RTBL (jl.

Raya Tanjung Uban) Tanjungpinang Timur 2018 3 Pengembangan Air Minum

SPAM IKK Batu IX Tanjungpinang Timur 2018 SPAM IKK Dompak Kelurahan Dompak 2018 SPAM IKK Pinang

Kencana Tanjungpinang Timur 2019

SPAM IKK Sungai Timun 2019

Penyusunan masterplan air minum Kota

Tanjungpinang Kota Tanjungping 2019 Optimalisasi SPAM Ro

Penyenggat Tanjungpinang Kota 2018 SPAM IKK Akasia Kelurahan Tanjungpinang Timur 2018 Pembangunan SPAM

Kawasan Kumuh

Bukit Bestari, Tanjungpinang Timur dan Tajungpinang

Kota 2019

Pembangunan SPAM

Kawasan Nelayan Tanjungpinang Kota 2018 Pembangunan SPAM

(6)

N

o Kegiatan Lokasi (Kecamatan/ Kelurahan) Tahun

Jumlah Pendudu

k

Keterang an 4 Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman

Pembangunan SANIMAS Kota

Tanjungpinang Kota Tanjungpinang 2017 Pembangunan

SANIMAS Kota

Tanjungpinang Kota Tanjungpinang 2017 Pembangunan

SANIMAS Kota

Tanjungpinang Kota Tanjungpinang 2017 Pembangunan

SANIMAS Kota

Tanjungpinang Kota Tanjungpinang 2017 Pembangunan SANIMAS Kawasan Pesisir Kota Tanjungpinang Kota Tanjungpinang 2017 Peningkatan dan Pemeliharaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Ganet 2017 Pengadaan prasarana dan sarana persampahan (speedboat 6m3, gerobak motor, TPS)

Kp.Bugis, Kawasan pelantar Kota Tnjungpinang 2017 Penyediaan prasarana

pembuangan limbah komunal (biotek)

Kawasan kumuh/ pesisir (Seluruh Kecamatan) Peningkatan dan

pengembangan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL)

Pinang Marina, Dompak, Kawasan permukiman padat dan pada wilayah dengan potensi topografi lahan yang memungkinkan

2017 Bantuan Teknis

Pembentukan UPTD Sanitasi Dinas Pekerjaan Umum Kota

Tanjungpinang

Tanjungpinang Timur 2018 Pembangunan Sanitasi

Kawasan Pesisir di

Senggarang Tanjungpinang Kota 2018 Pembangunana

Drainase Primer

Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang Barat dan

Bukit Bestari 2020 Pembangunan sistem

Pengolahan Drainase

Kawasan Kota Tanjungpinang 2018 Sumber : Hasil Analisa

(7)

4.2. Analisis Ekonomi

Analisis Ekonomi diperlukan untuk mengetahui dampak pembangunan infrastruktur bidang cipta karya, dalam rangka untuk peningkatan taraf hidup masyarakat khususnya yang terkait dengan aspek ekonomi pada tahap pasca pembangunan atau pengelolaan.

Dasar peraturan perundang-undangan yang menyatakan perlunya memperhatikan aspek ekonomi adalah sebagai berikut:

1. UU No. 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional:

Dalam Rangka pembangunan berkeadilan, pembangunan sosial juga dilakukan dengan memberi perhatian yang lebih besar pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung, termasuk masyarakat miskin dan masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil, tertinggal dan wilayah bencana.

2. Peraturan Presiden No. 5/2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014:

Pasal 3: Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum bertujuan menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, negara dan masyarakat dengan tetap menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak.

3. Peraturan Presiden No. 5/2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014

Perbaikan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan melalui sejumlah program pembangunan untuk penanggulangan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja, termasuk peningkatan program di bidang pendidikan, kesehatan dan percepatan pembangunan infrastruktur

(8)

4. Peraturan Presiden No. 15/2010 tentang percepatan penanggulangan kemiskinan

Pasal 1: program penanggulangan kemiskinan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dunia usaha, serta masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil serta program lain dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi

Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya diharapkan mampu melengkapi kajian perencanaan teknis sektoral, salah satu aspek yang perlu ditindak-lanjuti adalah isu kemiskinan sesuai dengan kebijakan internasional MDGs dan agenda pasca 2015 serta arahan kebijakan pro rakyat sesuai direktif presiden.

Kemiskinan merupakan masalah klasik yang terjadi di negara-negara berkembangan khususnya di Indonesia. Permasalahan yang kemiskinan muncul sebagai akibat dari berbagai kesenjangan ekonomi. Menurut standar BPS terdapat 14 kriteria yang dipergunakan untuk menentukan keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin, yaitu:

a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang. b. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan. c. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas

rendah/tembok tanpa diplester.

d. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.

e. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

f. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.

g. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.

(9)

i. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

j. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.

k. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik. l. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas

lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.

m. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.

n. Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Tabel 4.1 : Analisis Kebutuhan Penanganan Penduduk Miskin Kota Tanjungpinang No Lokasi Jumlah Rumah Tangga Miskin

Kondisi Umum Permasalahan Penanganan Kebutuhan

1 Kecamatan Bukit Bestari, Tanjung Unggat 683 Kondisi kawasan permukiman mempunyai kepadatan bangunan tinggi dan mengelompok di sepanjang tepi pantai, dengan kondis sanitasi yang sangat memprihatinkan. Permukiman padat, tidak teratur, sebagian berada di atas sungai (menjorok) serta kondis lingkungan sekitar yang tidak bersih sehingga menimbulkan masalah kesehatan untuk masyrakat sekitar. Penataan Kawasan Permukiman yang berada di tepi Sungai dan Pantai. 2 Kecamatan Tanjungpinang Timur, Melayu Kota Piring 539 Kondisi permukimannya menunjukkan kondisi yang tidak teratur dan kumuh dengan kepadatan bangunan tinggi Kondisi lingkungan permukimannya tidak terpelihara dengan baik Permukiman tepi laut/sungai kondisi tata permukimannya padat mengelompok di sepanjang tepi laut/sungai tidak tertata, tidak teratur serta bangunan rumah tidak memiliki Garis Sempadan Sungai (GSS) Penataan Permukiman yang berada di atas lahan pasang surut

(10)

No Lokasi

Jumlah Rumah Tangga Miskin

Kondisi Umum Permasalahan Penanganan Kebutuhan

3 Kecamatan Tanjungpinang Kota, kampung Bugis 767 Kondisi permukiman yang padat penduduk, kondisi perumahan yang masuk dalam kategori kumuh serta keadaan lingkungan sekitar yang tidak tertata dengan baik.

Permukiman

masyarakat pada umumnya berada di tepi sungai/pantai dan tidak tertata dengan rapi sehingga sangat kumuh, bannyak limbah rumah tangga yag berserakan sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan Penataan kembali kawasan permukiman dan memperbaiki kuaitas lingkungan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung. 4 Kecamatan Tanjungpinang Barat , Kemboja 546 Kondisi permukiman penduduk yang padat. Permukiman

penduduk yang padat dan tidak teratur

Penataan kembali kawasan padat penduduk dengan relokasi dan menyediakan lokasi yang sesuai. Sumber : Hasil Analisa

4.3. Analisis Lingkungan

Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan atau kebijakan, rencana dan atau program KLHS perlu diterapkan di dalam RPI2-JM antara lain karena:

1. RPI2-JM membutuhkan kajian aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur

2. KLHS dijadikan sebagai alat kajian lingkungan dalam RPI2-JM bidang Cipta Karya berada pada tataran kebijakan/Rencana/Program, dalam hal ini, KLHS menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian, dimana kebijakan, rencana dan atau program menjadi garda depan dalam menyaring kegiatan pembangunan yang berpotensi mengakibatkan dampak negatif terhada lingkungan hidup

(11)

KLHS disusun oleh tim satgas RPI2-JM Kabupaten/Kota dengan dibantu oleh badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah sebagai instansi yang memiliki tugas dan fungsi terkait langsung dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kota/Kabupaten koordinasi penyusun KLHS antar instansi diharapkan dapat mendorong terjadinya transfer pemahaman mengenai pentingnya penerapan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup untuk mendorong terjadinya pembangunan berkelanjutan.

4.3.1. Pendekatan KLHS

Aspek Proses/Prosedural dan Aspek Substansi

Terdapat dua jenis pendekatan yang secara umum dalam penyusunan KRP (Kebijakan-Rencana-Program), yaitu terkait dengan: (1) Aspek proses/prosedural dalam penyusunan KRP dan (2) Metode-metode analisis terkait substansi-substansi KRP. Berikut penjelasan untuk masing-masing aspek.

1) Aspek Proses/Prosedural

Aspek ini merupakan pendekatan yang digunakan dalam KLHS terutama terkait dengan proses/prosedural dalam penyusunan KRP (procedure, political process/decision making). Pilihan dan contoh bentuk-bentuk pendekatan yang dapat digunakan menyangkut aspek ini adalah: top down, bottom-up, participatory, consultative-interactive, teknokratik, dan birokratik.

2) Aspek Substansi

Aspek ini menyangkut metode-metode analisis yang digunakan dalam KLHS terkait dengan substansi-substansi KRP. Dalam aspek substansi ini, metode-metode analisis yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan bersifat spesifik untuk setiap substansi isu. Pilihan metode yang dapat digunakan antara lain adalah: (a) Metode Cepat (Quick Appraisal atau Rapid Assesment); (b) Metode Semi Detil (Semi Detail Assesment); dan (c) Metode Detil (Detail Assesment).

(12)

Metode-Metode KLHS

Sebagaimana telah diuraikan pada bahasan sebelumnya, KLHS bukan saja merupakan proses teknokratis atau ilmiah melainkan juga proses politik melalui negosiasi. Meskipun demikian, berbagai metode ilmiah perlu dikaji kemungkinannya untuk meningkatkan kualitas KLHS. Tentu saja metode ilmiah ini sangat beragam dan terus berkembang, sehingga tidak ada suatu standarisasi dan keharusan untuk menerapkan satu metode ilmiah tertentu untuk KLHS.

Dalam kajian ini, metode yang digunakan disesuaikan dan ditentukan oleh konteks, kondisi, dan jenis KRP yang akan di-asses. Berikut ini diuraikan tiga pilihan metode yang dapat digunakan dalam proses KLHS.

a) Metode Cepat (Quick Appraisal atau Rapid Assesment)

Metode cepat atau quick appraisal merupakan metode kajian yang lebih mengandalkan pengalaman dan pandangan para pakar (professional judgement) dan cenderung bersifat kualitatif. Metode ini digunakan apabila situasinya darurat, KRP membutuhkan penilaian yang cepat, waktu dan sumberdaya yang ada terbatas, serta tidak tersedia data yang cukup. Metode ini juga dipilih ketika satu KRP berada dalam tekanan publik dan perlu segera mendapatkan masukan KLHS. Kelebihan dari metode ini adalah prosesnya yang cepat (dapat dilakukan dalam waktu kurang dari sebulan atau paling lama dua bulan, tergantung dari kompleksitas KRP-nya). Contoh metode yang dapat digunakan antara lain: analisis kualitatif, metode SPR ( State-Pressure-Response), dan LFA.

b) Metode Semi Detil (Semi Detail Assesment)

Metode semi detil adalah kajian yang memanfaatkan data-data yang ada digabungkan dengan pengalaman dan pandangan para ahli. Metode ini merupakan satu langkah lebih maju daripada metode cepat, dimana pandangan para pakar didasarkan pada dukungan data-data dan informasi yang cukup memadai, sehingga keputusannya lebih

(13)

akurat dan dapat lebih bersifat kuantitatif. Metode semi-detil dipilih apabila KRP yang dikaji tidak begitu mendesak untuk diputuskan, tidak dalam tekanan publik, serta tersedia waktu dan sumber daya yang cukup untuk mengumpulkan data dan informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan oleh para pakar. Metode ini dapat dilakukan antara dua sampai empat bulan, tergantung kompleksitas KRP yang dikaji. Contoh penilaian dengan pendekatan/metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis-analisis statistik deskriptif dan analisis prospektif.

c) Metode Detil (Detail Assesment)

Metode detil adalah kajian menggunakan berbagai metode ilmiah yang komprehensif, rumit, dan kompleks yang dalam beberapa hal hanya dapat dilakukan oleh para pakar di bidangnya masing-masing. Metode detil dilakukan untuk mengkaji beberapa isu spesifik yang dianggap penting dan sangat beresiko apabila diputuskan tanpa kajian ilmiah yang sesuai prosedur. Metode detil dilakukan apabila KRP yang dikaji menimbulkan isu-isu penting dan komprehensif dan tidak segera harus diputuskan. Metode ini juga dipilih apabila pemrakarsa KRP mempunyai data dan sumberdaya yang melimpah untuk melaksanakan metode ini, sementara itu tekanan publik/politik tidak terlalu mendesak untuk memutuskan satu KRP. Metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu berkisar antara empat hingga enam bulan. Contoh analisis yang dapat digunakan pada metode ini misalnya dengan model-model sistem dinamik (dynamics system modelling), causal statistics (econometrics), dan lain-lain.

Partisipasi, Konsultasi dan Diskusi dengan Para Pihak (Consultative/ Interactive/Partisipatory Based Approach). Pemenuhan tujuan-tujuan dari partisipasi masyarakat dan keterlibatan para pihak menjadi kunci pokok keberhasilan KLHS. Proses partisipasi dan konsultasi publik/masyarakat serta kegiatan-kegiatan konsultasi maupun diskusi dengan para pihak dalam KLHS memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:

(14)

a. Membuka kesempatan bagi masyarakat dan para pihak untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan;

b. Membantu penyetaraan posisi setiap pihak yang berkepentingan, agar proses pengambilan keputusan tidak mudah didominasi satu kalangan tertentu, dan tidak serta merta melupakan kalangan yang marjinal; c. Meningkatkan legitimasi KRP di mata masyarakat, sekaligus

memastikan komitmen semua pihak dalam melaksanakan dan mentaati muatan-muatan aturannya.

Dalam memulai pelaksanaan KLHS, perlu dilakukan kegiatan persiapan partisipasi dan konsultasi masyarakat/para pihak sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi dan memahami “peta” kelompok-kelompok masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya (termasuk juga instansi-instansi pemerintah yang terlibat/terkait);

b. Memahami aspirasi/kepentingan masing-masing pihak, dan alasan-alasan sesungguhnya yang mendasari munculnya aspirasi tersebut; c. Mengidentifikasi “kekuatan” masing-masing pihak;

d. Memahami interaksi masing-masing pihak satu sama lain (termasuk juga tatanan hubungan antar lembaga dalam pemerintahan).

Pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan di dalam pelaksanaan KLHS diselenggarakan dengan tujuan untuk:

a. Memahami informasi mengenai latar belakang lingkungan hidup dan mengidentifikasi permasalahan lingkungan hidup yang potensial, serta menargetkan pelaksanaan KLHS pada isu utama pembangunan berkelanjutan yang menjadi perhatian;

b. Mendapatkan saran dan pilihan alternatif yang layak dalam rangka kegiatan pencegahan kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkup pengendalian; c. Menyeimbangkan hak dan manfaat dari berbagai pihak, serta

menghindari konflik sosial yang mungkin timbul dari dampak lingkungan hidup yang merugikan;

d. Menciptakan proses pengambilan keputusan Pemerintah atau pemerintah daerah lebih transparan dan bertanggung jawab.

(15)

Kerangka Konseptual KLHS

Tujuan utama KLHS adalah untuk mengarusutamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proses pembangunan. Selama ini, proses pembangunan yang terformulasikan dalam Kebijakan-Rencana-Program (KRP) dipandang tidak dirumuskan dengan semangat dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Upaya-upaya pengelolaan lingkungan pada tataran kegiatan atau proyek melalui instrumen AMDAL, kemudian dipandang tidak optimal menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, karena sumber persoalannya terkadang ada pada tataran Kebijakan Rencana dan Program. KLHS juga bertujuan untuk memfasilitasi proses belajar bersama, dimana seluruh pihak yang terkait perumusan KRP menyadari betapa pentingnya menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap perumusan KRP. Sedangkan tujuan-tujuan lain dari penerapan KLHS adalah:

1. Memfasilitasi terbentuknya berbagai opsi perencanaan dan mencari opsi win-win solution.

2. Meningkatkan kerjasama kelembagaan dan mengatasi konflik kebijakan sektoral.

3. Mengevaluasi secara kritis berbagai alternatif perencanaan pembangunan.

4. Melibatkan peluang keterlibatan pemangku kepentingan (pemerintah dan non-pemerintah).

Terdapat enam (6) prinsip/azas KLHS yang seyogyanya dianut yakni (sumber: Panduan Teknis KLHS):

Prinsip 1: Self Assessment.

Prinsip ini menekankan pada konsep ’atur diri sendiri’ yakni satu sikap dan kesadaran yang diharapkan muncul dari diri pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses perumusan KRP agar lebih konsern atas prinsip pembangunan berkelanjutan dan mempertimbangkan

(16)

prinsip-Prinsip ini berasumsi bahwa setiap pengambil keputusan sebenarnya mempunyai tingkat kesadaran dan konsern atas lingkungan. KLHS menjadi media atau katalis agar kesadaran dan konsern tersebut terefleksikan/terformulasikan dalam proses pengambilan keputusan di setiap KRP.

Prinsip 2: Improvement of the KRP

Prinsip ini menekankan pada upaya untuk memperbaiki setiap pengambilan keputusan dalam KRP. KLHS tidak menghambat dan membuat proses perumusan KRP menjadi semakin rumit, melainkan menjadi media atau katalis untuk memperbaiki proses dan output perumusan KRP. Prinsip ini berasumsi bahwa perumusan KRP di Indonesia selama ini kurang sempurna dan KLHS dapat memicu perbaikan atau penyempurnaan perumusan KRP.

Prinsip 3: Capacity Building and Social Learning

Prinsip ini menekankan bahwa integrasi KLHS dalam perumusan KRP harus menjadi media untuk belajar bersama khususnya tentang isu-isu pembangunan berkelanjutan. KLHS harus memungkinkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam perumusan KRP untuk meningkatkan kapasitasnya.

Prinsip 4: Influencing Decision Makers

Prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus memberikan pengaruh yang positif pada pengambil keputusan. KLHS akan mempunyai makna apabila pada akhirnya dapat mempengaruhi pengambil keputusan, khususnya untuk memilih atau menetapkan satu kebijakan, rencana, dan program yang dipandang lebih menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

Prinsip 5: Akuntabel

Prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab, sehiungga dapat dipertanggung-jawabkan pada publik secara luas. Azas akuntabilitas KLHS sejalan dengan semangat akuntabilitas dari KRP intu sendiri, sebagai bagian dari prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

(17)

Prinsip 6: Partisipatif

Prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan pemangku kepentingan yang terkait dengan KRP yang di KLHS. Prinsip ini telah menjadi amanat dalam UUPLH No. 32 Th. 2009 dan harus diwadahi dalam seluruh proses KLHS.

Oleh karena KLHS menekankan pada pendekatan win-win solution dan empat prinsip sebagaimana dikemukakan di atas, maka menjadi penting untuk memahami karakter perumusan KRP, khususnya di Indonesia. Paling tidak empat (4) hal menjadi karakteristik perumusan KRP di Indonesia yang harus dipahami bagi mereka yang akan terlibat dalam KLHS.

Karakter 1: Pembangunan Konsensus/Concensus Building

Perumusan KRP adalah proses pembangunan konsensus atau kesepakatan. Perumusan KRP melibatkan berbagai pemangku kepentingan dimana masing-masing pihak seringkali mempunyai kepentingannya masing-masing. KLHS diintegrasikan dalam perumusan KRP dengan harapan dapat memperbaiki proses pembangunan kesepakatan, khususnya tentang hal-hal yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan dan isu lingkungan hidup. Namun, ada kalanya konsensus tidak selalu tercapai, proses KLHS tidak selalu mengarah pada satu kesepakatan bersama. Untuk itu proses KLHS sebaiknya tetap membuka peluang untuk adanya atau melampirkan “dissenting opinion” atas hasil akhir penilaian

Karakter 2: Dinamika Proses Teknokratik dan Politilk

Oleh karena perumusan KRP melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan kepentingan yang beragam, maka perumusan KRP tidak sepenuhnya merupakan proses teknokratik atau ilmiah, melainkan juga proses politik, dalam pengertian dimana antar pemangku kepentingan saling mempengaruhi dan berdialog untuk meloloskan kepentingannya. KLHS harus dilakukan dalam konteks ini. Meskipun dalam proses KLHS juga dilakukan kajian-kajian teknokratik/ilmiah, proses politik dalam pengertian negosiasi berbagai kepentingan akan sangat menonjol.

(18)

kasus-kasus tertentu, proses politiknya akan lebih menonjol/berperan. Kajian teknokratik atau teknis atau substantive pada dasarnya dibutuhkan secara berbeda untuk setiap kasus dan level KRP yang ada. Namun kajian ini sangat penting guna mendukung objektifitas namun juga perlu diatur tentang tingkat kedalaman proses ini. Kajian teknokratik/teknis/substantif yang terlalu sederhana tidak dapat mengimbangi dinamika partisipatif/politis. Namun kajian teknokratis yang terlalu dalam dapat memakan waktu dan sumberdaya yang terlalu besar (mahal).

Karakter 3: Pentingnya Dialog dan Komunikasi

Karena perumusan KRP adalah untuk membangun konsensus antar berbagai kepentingan, maka dinamika komunikasi dan dialog antar berbagai pemangku kepentingan menjadi sangat penting. KLHS harus juga menekankan pada proses dialog dan komunikasi yang efektif agar dapat mempengaruhi para pengambil keputusan untuk memilih alternatif KRP yang lebih mencerminkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan. Pelaku yang terlibat dalam KLHS harus menyadari hal ini dan mengembangkan ketrampilannya untuk dapat melakukan proses-proses komunikasi dan dialog yang efektif. Pada prakteknya mengembangkan teknik dialog/komunikasi harus dirancang prosesnya dengan sangat cermat. Rancangan proses dialog yang tidak cermat dapat dan tidak berkualitas dapat menurunkan nilai KLHS ini sendiri. Mekanisme dialog dan pengambilan keputusan menjadi sangat krusial jika prosesnya menyangkut perwakilan institusi.

Karakter 4: Pentingnya Peran Personal dan Proses Informal

Perumusan KRP di Indonesia juga dicirikan dengan lebih berperannya aktor-aktor personal, melalui jalur-jalur komunikasi informal/personal. Proses-proses formal dan komunikasi impersonal seringkali cenderung tidak efektif untuk menghasilkan satu konsensus atau kesepakatan. KLHS harus dilakukan dengan mempertimbangkan hal ini, yakni membangun jalur-jalur komunikasi informal/personal dengan para pemangku kepentingan. Melalui proses-proses komunikasi dan negosiasi personal/informal ini diharapkan dapat lebih dijamin peluang untuk mempengaruhi pengambil keputusan.

(19)

Beberapa manfaat KLHS adalah sebagai berikut (Adiwibowo, 2010):

 KLHS merupakan instrumen proaktif dan sarana pendukung pengambilan keputusan,

 Mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara lebih sistematis pada jenjang pengambilan keputusan yang lebih tinggi,

 Mencegah kesalahan investasi dengan teridentifikasinya peluang pembangunan yang tidak berkelanjutan sejak dini

 Tata pengaturan (governance) yang lebih baik berkat keterlibatan para pihak (stakeholders) dalam proses pengambilan keputusan.

 Melindungi asset-asset sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna menjamin berlangsungnya pembangunan berkelanjutan,

 Memfasilitasi kerjasama lintas batas untuk mencegah konflik, berbagai pemanfaatan sumberdaya alam, dan menangani masalah kumulatif dampak lingkungan.

4.3.2. Tahapan Penyelenggaraan KLHS

Tahapan Pelaksanaan KLHS diawali dengan penapisan usulan rencana/program dalam RPI2-JM per Sektor dengan mempertimbangkan isu-isu pokok seperti (1) Perubahan Iklim, (2) Kerusakan, Kemerosotan dan atau kepunahan anekaragam hayati (3) peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor kekeringan dan atau kebakaran hutan dan lahan (4) penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam (5) peningkatan alih fungsi kawasan dan/atau lahan (6) peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat dan atau (7) peningkatan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia, isu-isu tersebut menjadi kriteria apakah rencana/program yang disusun teridentifikasi meninbulkan resiko atau dampak terhadap isu-isu tersebut.

4.3.2.1 Pengelompokan Isu Pembangunan

Proses Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya di Kota Tanjungpinang, meliputi identifikasi dan pengelompokan isu-isu

(20)

pembangunan yang berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi dan aspek lingkungan, setelah proses identifikasi kemudian dilakukan penapisan terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan, sehingga diketahui beberapa isu kunci pembangunan berkelanjutan di Kota Tanjungpinang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3 Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya No PENGELOMPOKAN ISU-ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BIDANG CIPTA KARYA PENJELASAN SINGKAT

(1) (2) (3)

SOSIAL

1 Perilaku Hidup Sehat Masyarakat Pesisir Hampir sebagian besar permukiman yang ada wilayah di Kota Tanjungpinang berada di wilayah pesisir dengan kondisi lingkungan yang tidk sehat sehingga menimbulkan berbagai penyakit manular.

2 Terjaganya Karateristik Lokal Masyarakat Kearifan lokal masyarakat Kota Tanjungpinang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan dan pembangunan di Kota Tanjungpinang

3 Ketersediaan Sumber Energy dan Sumber Air Baku Permasalahan air bersih menjadi persoaalan serius, dalam penyediaan sumber daya air baku.

4 Terciptanya Lingkungan Permukiman yang Layak Huni Lingkungan permukiman yang layak huni dapat diwujudkan dengan penataan lingkungan permukiman yang baik, yang sesuai dengan standar pelayanan minimal dari suatu lingkungan permukiman

EKONOMI

1 Pemerataan pembangunan Pembangunan terkonsentrasi di pusat-masih pusat kota

2 Penyediaan lapangan kerja

Angka kemiskinan dan pengangguran yang banyak di Kota Tanjungpinang, sehingga penyediaan lapangan kerja sangat diperlukan.

(21)

No PENGELOMPOKAN ISU-ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BIDANG CIPTA KARYA PENJELASAN SINGKAT

3 Pengembangan sektor perikanan dan kelautan

Sektor-sektor utama pembangkit perekonomian di Kota Tanjungpinang yaitu perdagangan dan jasa, pariwisata serta industri dan kelautan harus didorong perkembangannya agar semakin bisa diandalkan sebagai roda penggerak perekonomian Kota Tanjungpinang

4 Pengembangan kawasan FTZ BBK

Pengembangan kawasn FTZ sampai saat ini belum memberikan dampak yang signifikan dalam pembangunan di Kota Tanjungpinang

5 Penyediaan infrastruktur penunjang kawasan perdagangan dan jasa

Tanjungpinang yang merupakan kawasan perkotaan dimana kegiatan perekonomian utamanya ialah perdagangan dan jasa sangat membutuhkan infrastruktur yang menunjang kawasan perdagangan dan jasa tersebut agar semakin mendorong perkembangan Kota Tanjungpinang. LINGKUNGAN

1 Ketersediaan sumber energy dan sumber air baku

Isu ketersediaan sumber air baku muncul menjadi isu prioritas karena mulai dirasakan bahwa ketersediaan air baku mulai berkurang. Kondisi ini tentunya perlu diperhatikan mengingat ketersediaan air baku merupakan faktor penting yang dapat menjadi pembatas pembangunan wilayah Kota Tanjungpinang

2 Pengelolaan persampahan

Masalah sampah sebagai salah satu bagian dari permasalahan yang terkait dengan bidang lingkungan hidup. Bagi daerah-daerah perkotaan terutama bagi daerah-daerah yang berkembang sebagai pusat kegiatan industri ataupun sebagai wilayah

(22)

No PENGELOMPOKAN ISU-ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BIDANG CIPTA KARYA PENJELASAN SINGKAT satu agenda permasalahan pemerintah setempat dan hal tersebut harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah

3 Pencegahan pencemaran laut dan udara

Hal ini terkait dengan berkembangnya aktivitas industri, pertambangan dan permukiman yang seringkali tidak dilengkapi dengan perencanaan dan instalasi pengolahan sampah dan limbah yang memadai. Sebagai akibatnya kondisi lingkungan menjadi semakin buruk karena perkembangan berbagai aktivitas tersebut

4 Peningkatan kualitas lingkungan perkotaan yang layak

Isu kualitas lingkungan perkotaan yang layak muncul menjadi isu prioritas karena melihat kondisi Kota Tanjungpinang saat ini secara tidak langsung dapat dilihat dari faktor lingkungan perumahan dan sanitasi lingkungan. Kondisi sanitasi di Kota Tanjungpinang saat ini menimbulkan permasalahan seperti kondisi air bersih, pengelolaan persampahan, drainase serta kondisi jalan. 5 Perlindungan Kawasan Lindung Setempat

Isu ini menjadi penting karena kawasan lindung di Kota Tanjungpinang perlahan lahan mulai di cemari.

Sumber : Hasil Analisa

4.3.2.2 Penentuan KRP Prioritas

Setelah melakukan proses identifikasi dan menyepakati isu-isu kunci/strategis pembangunan berkelanjutan di Kota Tanjungpinang, tahapan berikutnya adalah melakukan identifikasi dan menyepakati KRP (Kebijakan-Rencana-Program) prioritas yang akan diassess/dikaji. KRP prioritas pembangunan berkelanjutan bidang cipta karya di Kota Tanjungpinang dapat dilihat pada tabel berikut

(23)

Tabel 4.4. KRP Prioritas Kota Tanjungpinang

No Rencana Program

1 Pengembangan Perumahan

Penataan intensitas bangunan pada perumahan kepadatan tinggi diarahkan pada kawasan pusat kota lama dan sekitarnya

Penataan intensitas bangunan pada perumahan kepadatan sedang diarahkan pada kawasan bagian utara dan timur kota

Penataan intensitas bangunan pada perumahan kepadatan rendah diarahkan pada kawasan sebelah barat dan selatan kota (Pulau penyengat, Pulau Dompak dan pulau lainnya)

Penataan dan revitalisasi perumahan pesisir diarahkan pada kawasan perumahan pesisir/pelantar dengan karakteristik tertentu

Pengembangan rusun di Kota Tanjungpinang (Kelurahan Senggarang dan Kelurahan Dompak) Reklamasi pesisir pemukiman pelantar dari Pelabuhan Penyengat sampai Kampung Bulang Reklamasi Pantai Barat Tanjungpinang (dari pelabuhan Sri Bintan Pura ke Lantamal)

Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat Reklamasi Tanjung Kiang ke Pantai Impian Reklamasi Kampung Haji ke Sungai Serai Reklamasi Tanjung Sebauk ke Kampung Madong Reklamasi Senggarang Besar

2 Pengembangan Jaringan Air Minum

Pengembangan instalasi pemanfaatan air laut untuk air minum (SWRO) di Tanjung Unggat

Pengembangan instalasi pemanfaatan air laut untuk air minum (SWRO) di Tanjungpinang Barat dan Bukit Bestari

Pengembangan reservoir Bukit Cermin

Pengelolaan jaringan air bersih dilakukan oleh perusahaan daerah sesuai dengan rencana pengembangan jaringan air bersih.

Pengembangan Jaringan air bersih ditetapkan sebagai berikut:

a. jaringan primer ditanam di sepanjang jalan utama;

b. jaringan sekunder ditanam sepanjang jalan penghubung kawasan; dan

c. jaringan tersier ditanam sepanjang jalan-jalan penghubung kawasan dan langsung menghubungkan ke perumahan.

Penyediaan Hidran sesuai rencana pengembangan jaringan air bersih dan rencana induk kebakaran Untuk yang tidak menggunakan jaringan air bersih

(24)

No Rencana Program

PDAM harus dibuat sumur dengan kedalaman sesuai kondisi setempat dengan kualitas airnya harus memenuhi persyaratan kesehatan dan berjarak lebih dari 10 meter dari sumur peresapan air limbah

3 Pengembangan Penyehatan Lingkungan

Normalisasi drainase di kawasan Kota Lama

Normalisasi sungai dan drainase di seluruh Kota Tanjungpinang

Jaringan drainase mengikuti pola jaringan drainase yang sudah ada dan direncanakan secara menyeluruh sehingga dapat mengalirkan air hujan secara lancar dan tidak menganggu lingkungan sekitarnya.

a. jaringan primer ditanam disepanjang jalan utama;

b. jaringan sekunder ditanam disepanjang jalan penghubung; dan

c. jaringan tersier ditanam sepanjang jalan penghubung kawasan dan langsung menghubungkan ke perumahan.

Sistem drainase menggunakan sistem terbuka dan tertutup.

Pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Kelurahan Dompak dan Air Raja

Penampungan limbah B3 di kawasan pergudangan pelabuhan Tg Mocoh Kec. Bukit Bestari

Pembangunan instalasi IPAL vakum di Kelurahan Senggarang

Penyediaan pembuangan air limbah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. air limbah dibuang ke jaringan pembuangan air limbah kota dan atau dibuang ke tangki septik komunal dengan ukuran minimal memiliki daya tampung selama 2 tahun dengan ukuran minimal panjang 5 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 1,8 meter;

b. air limbah dari tangki septik disalurkan ke sumur peresapan air limbah dengan jarak minimal 10 meter dari sumur air bersih;

c. air limbah dilarang dibuang ke saluran pembuangan air hujan atau drainase.

Pengembangan sistem sanitary landfill yang berkelanjutan di TPA Ganet

(25)

4.3.2.3 Alternatif Rekomendasi Penyempurnaan KRP

Pada tahap alternatif rekomendasi penyempurnaan KRP, KRP-KRP yang paling berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap pembangunan berkelanjutan (hasil dari tahapan sebelumnya) akan disempurnakan. Alternatif-alternatif rekomendasi penyempurnaan KRP sisepakati dalam forum diskusi. Hasil pendeskripsian intensitas, persebaran, atau lama berlangsungnya pengaruh serta akumulasi dampak yang timbul dari implementasi KRP sebagaimana telah dilakukan pada tahap sebelumnya dapat digunakan untuk mempermudah proses perumusan alternatif-alternatif rekomendasi penyempurnaan KRP.

Dari hasil analisis deskriptif terhadap KRP prioritas baik itu mencakup bentuk dampak, intensitas dampak, lokasi dampak, dan lamanya dampak, disepakati beberapa alternatif KRP yang dapat diusulkan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap penyelesaian isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan.

Tabel 4.5. Alternatif Rekomendasi Penyempurnaan KRP

No Rencana KRP Alternatif KRP

1 Pengembangan Perumahan

Penataan intensitas bangunan pada Zona perumahan kepadatan tinggi diarahkan pada kawasan pusat kota lama dan sekitarnya

• Perumahan kepadatan tinggi yang ada di kawasan kota lama diarahkan dengan konsep perumahan vertikal. • Penataan intensitas bangunan pada zona perumahan kepadatan tinggi di kawasan kota lama diarahkan untuk tetap memperhatikan lingkungan dan daya dukung lingkungan.

• Perumahan kepadatan tinggi dengan konsep vertikal berada di permukaan tanah, bukan berbentuk pelantar. • Proporsi pemanfaatan ruang di

kawasan kota lama tetap mengedepankan kegiatan perdagangan dan jasa

Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat

• Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat harus melalui kajian teknis yang mendalam terutama pada aspek lingkungan.

• Reklamasi Pantai Pinang Marina - Tanjung Unggat harus

(26)

No Rencana KRP Alternatif KRP yang ada.

• Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat mempertimbangkan sosial-budaya masyarakat Kota Tanjungpinang yang merupakan masyarkat pesisir .

• Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat harus

memperhatikan aktivitas

perekonomian masyarakat, terutama aktivitas perekonomian yang sangat bergantung dengan sumber daya laut dan pantai.

Sumber : Hasil Analisa

Berdasarkan hasil kesepakatan alternatif rekomendasi penyempurnaan untuk KRP penataan intensitas bangunan pada zona perumahan kepadatan tinggi diarahkan pada kawasan pusat kota lama dan sekitarnya, karena isu kuncinya adalah kawasan kota lama sudah sangat padat dengan kegiatan perdagangan dan jasa dikhawatirkan apabila diarahkan untuk perumahan kepadatan tinggi di kawasan tersebut maka kawasan kota lama akan sangat padat dan kualitas lingkungan akan semakin menurun, maka alternatif KRP yang diusulkan adalah:

 Perumahan kepadatan tinggi yang ada di kawasan kota lama diarahkan dengan konsep perumahan vertikal.

 Penataan intensitas bangunan pada perumahan kepadatan tinggi di kawasan kota lama diarahkan untuk tetap memperhatikan lingkungan dan daya dukung lingkungan.

 Perumahan kepadatan tinggi dengan konsep vertikal berada di permukaan tanah, bukan berbentuk pelantar.

 Proporsi pemanfaatan ruang di kawasan kota lama tetap mengedepankan kegiatan perdagangan dan jasa

Sedangkan, untuk KRP Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat, karena isu kuncinya adalah dampak yang sangat besar terhadap lingkungan dan juga aspek sosial-budaya masyarakat serta kegiatan perekonomian masyarakat, maka alternatif KRP yang diusulkan adalah:

(27)

 Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat harus melalui kajian teknis yang mendalam terutama pada aspek lingkungan.

 Reklamasi Pantai Pinang Marina - Tanjung Unggat harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan sumber daya alam yang ada.

 Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat mempertimbangkan sosial-budaya masyarakat Kota Tanjungpinang yang merupakan masyarakat pesisir .

 Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat harus memperhatikan aktivitas perekonomian masyarakat, terutama aktivitas perekonomian yang sangat bergantung dengan sumber daya laut dan pantai.

 Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat dan bukan untuk perseorangan maupun golongan tertentu.

4.3.2.4 Rekomendasi Penyempurnaan KRP

Setelah tahap perumusan alternatif-alternatif rekomendasi penyempurnaan KRP selesai dilakukan, pada tahapan ini, akan dilakukan perumuskan rekomendasi penyempurnaan KRP terbaik (dari berbagai alternatif tersebut) yang dapat mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Hasil perumusan rekomendasi penyempurnaan KRP dari alternati-alternatif rekomendasi penyempurnaan KRP adalah:

1. Penataan intensitas bangunan pada perumahan kepadatan tinggi di kawasan kota lama rekomendasi yang didapat ialah pembangunan perumahan kepadatan tinggi di kota lama diarahkan dengan konsep perumahan vertikal dengan tetap memperhatikan kualitas ,daya dukung lingkungan dan tidak merubah bentuk bangunan atau mempertahankan keasliaan bangunan sehingga tidak menghilangkan jati diri kota lama sebagai kawasan wisata kota lama.

(28)

2. Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat direkomendasikan untuk melakukan kajian mendalam sebelum dilakukan reklamasi terutama terkait dengan kualitas lingkungan, daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta sumber daya alam terutama hasil laut yang menjadi sumber mata pencaharian sebagian warga masyarakat Kota Tanjungpinang, keberadaan jalan lingkar yang beberapa ruasnya berada di atas laut dikhawatirkan mengganggu keseimbangan alam terutama sumber daya laut.

Tabel 4.5. Rumusan Rekomendasi Penyempurnaan KRP

No Rencana KRP Rekomendasi Penyempurnaan KRP

1 Pengembangan perumahan

Penataan intensitas bangunan pada Zona perumahan

kepadatan tinggi diarahkan pada kawasan pusat kota lama dan sekitarnya

• Perumahan kepadatan tinggi yang ada di kawasan kota lama diarahkan dengan konsep perumahan vertikal dengan tetap memperhatikan kualitas dan daya dukung lingkungan serta fungsi utama kawasan kota lama tetap dipertahankan sebagai kawasan komersil.

Reklamasi Pantai Pinang Marina – Tanjung Unggat

• Reklamasi Pantai Pinang Marina - Tanjung Unggat harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan mempertimbangkan sosial-budaya masyarakat Kota Tanjungpinang yang merupakan masyarkat pesisir serta harus tetap memperhatikan aktivitas perekonomian masyarakat, terutama aktivitas perekonomian yang sangat bergantung dengan sumber daya laut dan pantai.

Gambar

Tabel 4.1 :  Analisis  Kebutuhan  Penanganan  Penduduk  Miskin  Kota  Tanjungpinang  No  Lokasi  Jumlah Rumah  Tangga  Miskin
Tabel 4.3 Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya
Tabel 4.5. Alternatif Rekomendasi Penyempurnaan KRP
Tabel 4.5. Rumusan Rekomendasi Penyempurnaan KRP

Referensi

Dokumen terkait

Kelompok Kerja ULP Pokja I Jasa Konstruksi Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun Anggaran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perumahan-perumahan di kawasan Bantul dengan model bangunan dan umur bangunan yang sama diperoleh kesimpulan

Dari 6 (enam) yang diberi rekomendasi penyempurnaan 4 (empat) diantaranya terkait dengan program Bidang Cipta Karya, sedang 2 (dua) program prioritas yaitu pengembangan jalan bebas

Kondisi perumahan dan permukiman kawasan kumuh Kota Tebing Tinggi sebagian besar merupakan bangunan permanen dengan tingkat kepadatan cukup tinggi. Selain itu terdapat pula

Sedangkan untuk daerah yang memiliki kepadatan bangunan kurang dari 100 rumah/ha strategi yang dapat diperguna- kan untuk penataan kawasan kumuh adalah dengan

terjadi karena zona 69 merupakan Kawasan pemukiman yang berupa. perumahan elite yang letaknya strategis, dan memiliki jarak

Beberapa usulan program yang masuk kategori dalam kebijakan, rencana dan program (KRP) yang perlu dilakukan kajian atau penyususnan KLHS sebelum diimplemantasikan, yaitu terdiri

Dari 6 (enam) yang diberi rekomendasi penyempurnaan 4 (empat) diantaranya terkait dengan program Bidang Cipta Karya, sedang 2 (dua) program prioritas yaitu pengembangan jalan bebas