• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BIDANG ARSIP DAN MUSEUM"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANITIA KERJA DPR·RI

RANCANGAN UNDANG·UNDANG TENTANG PEMBINAAN DAN PERLINDUNGAN KETENAGA KERJAAN (PPK), DAN RUU TENT ANG PENYELESAIAN

PERSELISIHAN INDUSTRIAL (PPI)

========================================================================

2001-2002 T ahun Sidang

Masa Persidangan Jenis Rapat Sifat Rapat

Rapat Panitia Kerja ke-23 Tertutup

Hari/T anggal Rapat Waktu

Selasa, 11 September 2001 14.05 WIB

Deng an Tempat

Dirjen Binawas dan jajarannya Ruang Rapat Komisi VI I DPR RI

Ke tu a Dr. Surya Chandra S. MPH, Ph.D /KETUA RAPAT RUU PPK &

PPI DPR-RI

Anita Soekardjo, SH Membahas DIM Sekretaris

Acara

Anggota Hadir 17 orang dari 30 orang anggota Panja

PIMPINAN PANSUS RUU PPK & PPI DPR-RI :

1. Dr. SURYA CHANDRA SU RAPA TY, MPH, P.HD (F-PDIP/ KETUA) 2. DRS. T JARDA MUCHTAR, MBA (F-PG/WAKIL KETUA)

3. H.A. SYAHRUDJI TANJUNG, MBA (F-PPP/WAKIL KETUA) 4. H. AMRU AL MUTASHIM, SH, MM (F-PKB/WAKIL KETUA)

F·PDIP:

5. DRS. AGUS CONDRO PRAYITNO 6. ORA. BUDININGSIH

7. H. SAMBAS SOERJADI

8. DRS. JACOBUS K. MAYONG PADANG 9. DRS. HADI WASIKOEN

10. H. SYAHRUL AZMIR MATONDANG 11. RUSMAN LUMBANTORUAN B.TH 12. H. WOWO IBRAHIM

13. WILLIAM M. TUTUARIMA 14. IRMADI LUBIS

15. ERWIN PARDEDE

16. DR. REKSO AGENG HERMAN 17.DRS.MARSUDIPANDINEGARA F-PG:

18. RAMBE KAMARULZAMAN, MSC 19. DRS. H.A. DJAHIDIN

20. AZAR MUCHLIS, SH

F·PKB:

34. ORA. NY. IDA FAUZIYAH 35. AHMAD MUBASYIR MAHFUD 36. K.H. KHALILURRAHMAN 37. KH. MACHRUS USMAN 38. DR. AN. RADJAWANE F-TNI I POLRI:

39. TAAT TRI JANUAR 40. PRAYOGO, SIP 41. GADIONO, SIP 42. ROCHMULYATI, BSC

F·REFORMASI :

43. H. ROQIB ABDUL KADIR 44. IR. AFNI ACHMAD 45. H. PATRIALIS AKBAR

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(2)

21. DRS. H. BAMBANG W. SOEPRAPTO 22. H. HASANUDDIN MURAD, SH 23. DR. BURHAN DJABIR MAGENDA

24.SYAMSULBACH~,MSC

25. DRS. IBNU MUNZIR 26. PEDDY TANDAWUYA, BA 27. ORA. HJ. YET JE LANASI 28. DRS. RUBEN GOBAY f.ppp:

29. H.M. ARSYAD PANA

30. HJ. CHODIDJAH H.M. SALEH 31. H. AMALUDDIN NASUTION 32. H. ABDUL KADIR AKLIS 33. HM. IZZUL ISLAM

46. KH. LUTFHI ACHMAD F-KKI:

47. BIRINUS JOSEPH RAHAWADAN F-PBB:

48. ORA. HJ. NURBALQIS

F·PDU:

49. DRS. MUCHAROR, AM

KETUA RAPAT (dr. SURYA CHANDRA S. MPH, Ph.D):

Bapak/lbu sekalian,

Rapat Panja yang ke-24 hari ini Selasa 18 September kita buka dan tertutup.

(KETOK PALU 1 X) F·PDU (MUCHAROR) :

lnterupsi Ketua,

Tentunya bagaimanapun juga kita lihat tata tertib, kita lihat daripada hadirin apakah sudah .,, kuorum ataukah belum. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Sekarang sudah dihadiri oleh 6 (enam) fraksi dari 10 fraksi yang berarti rapat sudah kuorum. Untuk mengingatkan kita sekalian kemarin telah dibahas Pasal 17 sampai Pasal 24 ayat (5) dari arbitrase. Jadi kita mulai dari Pasal 24, silakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Pasal24

Ayat (1) Dalam hal arbiter tunggal mengundurkan diri atau meninggal dunia, maka para pihak harus mengangkat arbiter pengganti yang disepakati oleh kedua pihak.

Ayat (2) Dalam hal arbiter dalam majelis arbiter yang dipilih oleh salah satu pihak mengundurkan diri atau meninggal dunia, maka pengangkatan arbiter pengganti diserahkan kepada pihak yang memilih arbiter.

Ayat (3) Dalam hal arbiter ketiga yang dipilih oleh para arbiter mengundurkan diri atau meninggal duni, maka para arbiter harus mengangkat arbiter pengganti berdasarkan kesepakatan para arbiter.

Ayat (4) Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3), maka dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja harus mencapai kesepakatan arbiter pengganti.

Ayat (5) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), maka ... (dan seterusnya)".

Saya kira ayat (1) dan ayat (2) kemarin sudah kita setujui.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(3)

KETUA RAPAT:

Ayat (1), (2), (3) dan (4) sudah kita setujui, tinggal yang ayat (5).

f·PDl·P (RUSMAN LUMBATORUAN, B.TH):

Ayat (4) yang dibacakan tadi seperti kurang lengkap kalimatnya "apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) ... " bagaimana, apakah berhalangan atau bagaimana mungkin begitu, kenapa tiba-tiba "maka" begitu. mungkin kurang lengkap tadi kalimatnya yang dibacakan Pak. Terima kasih.

PEMERINT AH : Kami ulangi Pak,

lni berdasarkan Notulen Ayat (4) "apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) ... " berarti kurang ini. Mungkin "apabila" nya hilang sehingga menjadi Ayat (4) "("apabila" nya hilang) para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) ("maka" nya hilang) dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja harus mencapai kesepakatan arbiter penggantl'.

KETUA RAPAT :

Ayat (4) bisa kita setujui Ayat (4) "Para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud da/am ayat (1), (2) dan (3) dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja harus mencapai kesepakatan arbiter penggantl'.

f ·PDU (DRS. MUCHAROR, AM) :

Kalau dari segi bahasa saya kira " .... da/am ayat (1), (2) dan (3) harus mencapai .., kesepakatan arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja" kira-kira

begitu.

KETUA RAPAT :

Ayat (4) "Para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) harus mencapai kesepakatan menetapkan arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja."

"Dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja, para pihak atau para arbiter harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti".

f·PDU (DRS. MUCHAROR, AM) :

Barangkali saya sendiri menyadari tidak ahli bahasa, bagaimana kalau penekanan ini masalah mengganti arbiter. Jadi bahasanya itu, Ayat (4) "Para pihak atau para arbiter harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja".

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (1), (2) dan (3) kata-katanya "mengangkat arbitet' apakah kita memakai kata

"menunjul<' atau "mengangkaf' disini. Kalau dianggap sama saja tidak apa-apa, tapi kalau mau sama "mengangkaf' - "kesepakatan mengangkat arbiter penggantl'.

AHLI BAHASA :

T erima kasih. Dalam bentuk ini ada suatu hal mengenai konsep maknanya, ini saya mohon maaf saya hanya sepertinya ada sesuatu yang terhilang. Tadi kalau ada kata "apabila" itu

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(4)

adalah "apapila" jadi (1), (2) dan (3) terjadi. Saya mau tanya kepada forum, apakah selamanya itu akan terjadi seperti itu, kan tidak selalu seperti itu sehingga kata "apabila" disitu kalau tidak terjadi tidak apa-apa, tetapi apabila terjadi ayat (4) itu akan menunjukkan bahwa itulah jalan keluarnya.

Lalu untuk kata "mengangkat" atau "menunjuk" menurut saya dari sudut konsep maknanya

"menunjuk" itu lebih tepat, kalau "mengangkat" itu ada unsur pangkat, tapi kalau menunjuk itu menunjuk seseorang untuk menjadi katakanlah arbiter dalam konteks ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi menurut ahli bahasa lebih tepat menunjuk. Jadi kalau kita konsisten ayat (1), (2) dan (3) "mengangkaf' itu diganti "menunjuk''.

F-KB (K.H. KHALILURRAHMAN) :

Kalau ditanyakan kepada ahli bahasa itu kata "apabila" itu boleh tinggal atau tidak, kan sewaktu-waktu bisa terjadi.

AHLI BAHASA :

Terima kasih. Dalam konteks ini ayat (1), (2) dan (3) itu kalau misalnya terjadi ada hal yang tidak sesuai dengan (1 }, (2) dan (3) maka memang kata "apabila" dalam ayat (4) itu harus dimunculkan. Akan tetapi apakah selalu (1 ), (2) dan (3) akan terjadi seperti itu, artinya tidak ada kesepakatan. Kalau tidak selalu maka kita dapat menggunakan kata "apabila".

Teri ma kasih.

KETUA RAPAT :

Tapi itu rencananya dimasukkan di ayat (5) ayat tambahan kemarin, jadi dalam hal dia

-< tidak sepakat itu yang kemarin kita perdebatkan di ayat (5) ini tidak tercapai kesepakatan. Kalau

ayat (4) itu terjadi kesepakatan harus dalam 14 hari sudah menunjuk arbiter pengganti.

F-PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN, B. TH) :

Saya kira ayat (4) ini hanya memberikan batasan waktu kepada ayat (1), (2) dan (3) tanpa ada konsekuensi-konsekuensi yang lain, jadi hanya menentukan waktu saja ini. Kalau ayat (5) baru kepada "apabila-apabila" tadi saya kira.

F-PG (HASAN UDDIN MURAD, SH) :

Betul sekali itu.

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (4) pas kita sepakati "Para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja". Jadi kita sepakat "mengangkaf' diganti oleh "menunjuk''.

F-REFORMASI (K.H. LUTHFI ACHMAD) :

Pimpinan, lni apakah tidak perlu ada ketegasan 14 hari kerja, itu hitungannya dari sejak kapan, apakah tidak perlu ditegaskan disini apakah sejak meninggalnya atau sejak mundurnya atau sejak terjadi tidak kesepakatan dan sebagainya. Terima kasih.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(5)

F-PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Pimpinan, Karena sudah merujuk kepada ayat (1), (2) dan (3), maka pengertian mengundurkan diri dan meninggal dunia itu-kan pada saat itu. Jadi karena sudah menunjuk kepada ayat (1 ), (2) dan (3) saya kira apa yang dimaksudkan oleh Bapak sudah termasuk disitu.

F·KB (K.H. KHALILURRAHMAN) :

Pimpinan, Saya kira kalau seandainya di ayat (4) dibuat kata "apabila" berarti ayat (5) itu saya kira tidak akan perlu lagi. Terima kasih.

f·PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN, B.TH):

Ketua, Saya kira ayat (5) masih dalam konteks lain, ayat (1 ), (2) dan (3) ada anggapan bahwa akan terjadi kesepakatan dengan pengertian arbiter itu, sedangkan ayat (5) apabila tidak terjadi kesepakatan. Jadi ayat (1 ), (2) dan (3) itu kita anggap para pihak atau para arbiter berhasil menyepakati siapa yang akan menggantikan yang meninggal atau yang mengundurkan diri itu, sedangkan ayat (5) memang sama sekali kalau tidak terjadi kesepakatan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (5) masih diperlukan menunjukkan ketidaksepakatan, sedangkan ayat (4) menunjukkan sepakat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja.

f ·KB (K.H. KHALILURRAHMAN) :

Di ayat (4) itu saya kira ada unsur memaksa karena ada kata "harus mencapai kesepakatan" itu, jadi ada perintah harus mencapai. Jadi kalau harus mencapai itu sudah terjadi kesepakatan. Kalau seandainya memang tidak terjadi tidak perlu ditekankan kata "harus".

f ·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Jadi kalau kita melihat "harus" disitu kan dalam teks ayat (1), (2) dan (3), dan dalam ayat (1), (2) dan (3) ini kan mereka memang sepakat, tetapi mereka sepakat itu untuk menunjuk penggantinya juga harus diberi batas waktunya. Jadi "harus" disitu adalah harus dalam konteks bahwa mereka sependapat untuk menunjuk arbiter pengganti, hanya tentu saja kita juga harus memberikan limit waktu yang diberikan kepada pihak-pihak tersebut kalau mereka sudah sepakat.

Kemudian di ayat (5) itu betul saja bahwa "apabila" itu kan apabila sebaliknya, apa konsekuensinya yang harus di-inikan. Jadi di ayat (5) ini kata-kata "apabila" itu baru muncul, karena kalau tidak ayat (1 ), (2) dan (3) itu tidak terjadi yang sebaliknya tidak ada kesepakatan maka di ayat (5) inilah yang akan dibicarakan. Oleh karena itu di ayat (5) inilah "apabila" ini akan kita angkat kata-kata "apabila", hanya dalam hal ayat (5) ini barangkali ini yang menjadi sesuatu yang krusial yang kita perdebatkan kemarin. Untuk itu ada baiknya barangkali kita sud ah mencoba merumuskan tentang ayat (5) ini untuk mencari rumusan-rumusan yang bisa kita sepakati bersama. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi silakan sebelum masuk ayat (5) kita sepakati ayat (4), silakan.

F·REFORMASI (K.H. LUTHFI ACHMAD) :

Saya ada tambahan sedikit. Menurut saya "harus" itu tetap, karena bagaimana tidak harus itu-kan alasannya meninggal dunia dan mengundurkan diri di luar kemampuan dua pihak yang berseteru itu. T erima kasih.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(6)

KETUA RAPAT :

Jadi kita bacakan ayat (4) "Para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja".

Setuju?

(RAPAT: SETUJU) Kita masuk ayat (5).

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Sebelum masuk ayat (5) disini belum terwadahi apabila arbiter yang ditunjuk oleh para pihak kedua-duanya mengundurkan diri atau meninggal dunia. Oleh karena itu kami menyarankan dalam ayat (2) "dalam hal arbiter dalam majelis arbiter yang dipilih oleh para pihak (bukan salah satu pihak, karena bisa saja kedua-duanya mengundurkan diri atau meninggal dunia)". Untuk mewadahi hal tersebut mungkin ayat (2} ini bisa dirubah sedikit, "salah satu'', satu itu mungkin bisa diganti dengan kata "para" karena bisa saja kedua-duanya mengundurkan diri atau meninggal dunia. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Ayat (2) "dalam ha/ arbiter dalam majelis arbiter yang dipilih oleh salah satu para pihak mengundurkan dirl'.

F·REFORMASI (K.H. LUTHFI ACHMAD) : Saya kira itu mundur kalau diulang kembali.

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (5} ini apakah diserahkan kepada pengadilan negeri untuk menetapkan arbiter pengganti atau menyerahkan semuanya kepada pengadilan negeri, silakan.

F·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Disitu ditegaskan pengadilan negeri atau pengadilan perselisihan hubungan industrial.

PEMERINT AH :

Sebetulnya calon ayat (5) ini ayat (4) yang lama ini "apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2) dan (3) dalam waktu paling lama 14 (empat be/as) hari kerja tidak mencapai kesepakatan mengenai pengangkatan arbiter pengganti, maka para pihak dapat meminta kepada pengadilan hubungan industrial untuk menetapkan arbiter penggantf'.

KETUA RAPAT : Silakan.

F·PDIP (dr. REKSO AGENG HERMAN) :

Terima kasih. lni kalau melihat Pasal 24 ayat (4) ini sebenarnya ini sebelum diubah Pasal 21 ayat (5) itu mendukung hal yang sama sebelumnya itu boleh. Kalau memang sebelumnya tidak boleh ditunjuk untuk arbiter pengganti, maka kita harus konsisten.

Kalau ayat (5) Pasal 21 itu dikatakan kalau tidak bisa selesai maka diserahkan kepada pengadilan perselisihan hubungan industrial, dan itu juga saya kira Pasal 24 ayat (4) itu sebaiknya

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(7)

kalau memang itu sama saja kita harus konsisten, tidak bisa disini lain disana lain. lni kan tadinya juga ayat (5) Pasal 21, ini kan diserahkan kepada pengadilan untuk menentukan arbiter pengganti, tapi disini diganti ternyata, kita harus konsisten untuk hal itu.Saya mengharapkan agar ini juga kalau memang mau Pasal 24 itu diganti, diganti sebaiknya atau kalau tidak kembali lagi saja Pasal 21 ini juga boleh penunjukkan arbiter pengganti. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan yang lain.

F·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Terima kasih. Sedikit saran kepada Pimpinan bahwa untuk yang pertama dulu tentu saja ditanyakan kepada Anggota Panja, kepada fraksi untuk menyepakati sesuatu ayat atau Pasal, setelah itu baru dipertanyakan kepada Pemerintah, apakah setuju atau tidak dengan rumusan itu, karena undang-undang ini adalah harus disetujui bersama. Jadi di dalam ayat (4) tadi belum sempat ditanyakan kepada Pemerintah.

Kemudian saya hanya ingin memberikan satu ilustrasi bahwa prinsip dasar yang ingin kita capai di dalam membuat hokum, katakanlah hukum acara perburuhan ini yaitu Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial adalah berdasarkan kepada prinsip sederhana, murah, cepat, efisien, efektif dan sebagainya, dan itulah yang barangkali menjadi dasar untuk kita membuat undang-undang hukum acara ini. Oleh karena itu saya masih tetap mengatakan ada satu perbedaan yang mendasar antara ayat (21) dengan ayat (24) ini, karena di dalam ayat (21) itu bahwa satu perkara ayat (1) Perselisihan itu belum diproses sama sekali sementara Pasal 24 ini itu sudah berjalan.

Kalau kita mengacu kepada Pasal 21 berarti kembali ke 0 (nol) lagi prosesnya. Oleh karena itu prinsip dengan biaya murah, sederhana dan cepat itu tidak tercapai di dalam Undang- undang ini. Sejalan dengan pikiran-pikiran itu di dalam Pasal 24 ini khusus ayat (5) dari fraksi kami tetap seperti konsep ayat (4) sebelumnya sebagaimana konsep ayat (4) sebelumnya bahwa itu diserahkan kepada Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial jadi kepada Pengadilan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan komentar lain.

F-KB (K.H. KHALILURRAHMAN) :

Pimpinan, saya kira kita sudah memberikan alternatif ayat (4) tadi, ayat (1) tidak sepakat, ayat (2) tidak sepakat dan ayat (3) tidak sepakat sampai diberi waktu 14 (empat belas) hari juga tidak sepakat, maka rumusan ayat (5) ini diserahkan kepada pengadilan saja dna saya sepakat itu. T erima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi ayat (5) ini rencananya menyerahkan kepada Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial untuk menetapkan arbiter pengganti atau untuk menerima seluruh masalah perselisihan itu jadi tidak lewat arbitrase lagi.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F·PKB):

Ayat (4) ini kalau misalnya muncul ayat (5) tentang penyelesaian itu di bawa ke pengadilan, pekerjaan Undang-undang ini akan merugikan yang berselisih yang telah mengeluarkan uang banyak.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(8)

Jadi kalau kami prinsipnya, ini sudah bagus konsep ini, kalau mau dirubah yaitu 30 menjadi 14.

Saya kira tidak perlu muncul ayat ke-5 nya menyerahkan ke pengadilan, ini akan merugikan para pihak yang berselisih. Jadi saya kira Undang-undang tidak boleh merugikan mereka yang telah memasuki perkara yang telah mengeluarkan uang.

Saya mohon maaf, saya tidak ikut dalam perdebatan, hanya kalau ini muncul perkara ini dicabut diselesaikan pada pengadilan untuk tidak berarbitrase lagi Undang-undang ini jelas menyalahi satu prinsip pada penyelesaian masalah atau peradilan. Karena itu pertama kali undang-undang tidak boleh merugikan para pihak yang berselisih.

Jadi menurut kami, saya tidak pro pada siapa saia, pro Golkar boleh, pro POI boleh, pro Pemerintah boleh. Tapi prinsipnya pro prinsip. Jadi pokoknya ini prinsip, berdebat sampai manapun undang-undang tidak boleh, seperti dalam undang-undang hukum pidana, undang- undang tidak boleh berlaku surut. ltu prinsip perundang-undangan. Jadi misalnya munculnya undang-undang baru, kemudian orang dihukum dengan undang-undang yang baru tidak boleh itu.

Jadi ini juga kalau ini dicabut, ini juga akan merugikan para pihak yang berselisih. Menurut kami konsep ini sudah bagus, kalau mau ditambah ayat (5) apa yang dikatakan oleh Pak Hadi Wasikoen kemarin, kalau yang mati itu para pihak bagaimana ditengah-tengah. lni kalau itu, kalau tidak ya tidak apa-apa.

f·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Sebenarnya pak, saya hanya ingin klarifikasi, sebenarnya ayat (4) itu yang ada disitu "para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dimasukkan Pak Wasikoen kemarin ayat (1 ), (2) dan ayat (3)) harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti dalam waktu paling lama 14 hari kerja. Artinya itu-kan kalau mereka sepakat untuk menunjuk arbiter pengganti ada batas waktu 14 hari, yang 5-nya ini kalau mereka tidak sepakat. Kalau mereka tidak sepakat, apakah menurut dari kawan-kawan F-PDIP itu kita katanya harus diserahkan kepada pengadilan, dalam arti perkaranya. Kalau bagi kita adalah ke pengadilan itu adalah penunjukkan arbitemya, itu perbedaannya disitu. Jadi kalau jalan pikiran saya, nampaknya sejalan dengan jalan pikiran Pak Kyai, hanya persoalannya F-PDIP menginginkan adalah itukembali ke pengadilan negeri tidak ditunjuk arbiternya, jadi artinya buyar semua proses ini dan saya sependapat dengan Bapak, artinya kalau itu yang kita sepakati akhirnya pihak-pihak yang berperkara ini akan rugi. T erima kasih.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F-PKB):

Jadi ini-kan ayat (4) yang lama menjadi ayat (5) saya kira begitu.

f·PDIP (dr. REKSO AGENG HERMAN) :

Pimpinan, memang sebenarnya kelihatannya baik juga bahwa banyak dikeluarkan biaya, tapi kalau saya katakan merugikan, yang tidak bersepakat itu para pihak yang berselisih, mereka tidak merasa dirugikan kalau memang dibatalkan akan terus ke pengadilan. Malah kalau dipaksakan untuk menentukan arbiter pengganti, mereka baru dirugikan hak-haknya untuk tidak sepakat itu. Kalau mereka tidak sepakat itu-kan hak mereka, kalau sekarang tidak boleh, harus ada arbiter pengganti, ditentukan oleh pengadilan, maka itu hak-haknya bukan hanya dikurangi tapi diinjak-injak hak-hak mereka, orang mereka tidak setuju menunjuk arbiter pengganti kenapa harus dipaksakan dan itu akan terus berlarut-larut saya kira. Terima kasih.

f ·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Pimpinan, saya ingin memberikan ilustrasi bahwa mungkin mereka tidak sepakat menunjuk arbiter pengganti misalnya A dan B dan mereka tidak sepakat untuk menunjuk itu.

Dalam hal ini kalau kita mencoba meluruskan yang dimaksud dengan ayat (5) ini adalah kita serahkan mereka tidak sepakat menunjuk A dan B itu, pada akhirnya itu diserahkan kepada pengadilan untuk menunjuk arbiter pengganti, tapi bukan A dan B itu, mungkin saja bahwa ada

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(9)

arbiter lain yang ban yak terdaftar di pengadilan itu. Jadi itu bukan berarti bahwa harus memaksakan arbiter yang ini dan tentu saja tidak akan mungkin pengadilan akan menunjuk arbiter yang mereka tidak sepakati dan tentu saja tidak akan terjadi seperti itu.Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi supaya diskusi terarah, silakan mengisi ayat (5) itu. Silakan Pak Hasanudin isi kalimatnya.

F·PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

lsi kalimatnya seperti ayat (4) sebelumnya hanya di rubah seperti Pak Kyai tadi waktunya 14 hari.

"Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2), (3), dalam waktu paling lama 14 hari kerja tidak mencapai kesepakatan mengenai pengangkatan arbiter pengganti maka para pihak dapat meminta kepada pengadi/an perselisihan hubungan industrial untuk menetapkan arbiter pengganti".

KETUA RAPAT :

Jadi kami ulangi "Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam atau (4) tidak tercapai kesepakatan maka para pihak atau para arbiter dapat meminta kepada pengadi/an perse/isihan hubungan industrial untuk menetapkan arbiter penggantr

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F·PKB):

Jadi saya kira konsep ini menurut saya telah memadai. Pertama, yang harus mengganti itu para pihak atau arbiter, yang akan menetapkan juga para pihak atau arbiter. Dengan kalimat ini saya kira sudah memadai. Dan untuk lebih jelasnya atau dari teknis yuridis, saya minta ahli hukum diberi kesempatan oleh Pak Dirjen untuk menambah penjelasan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saya persilakan ahli hukum.

AHLI HUKUM:

Kalimatnya berbunyi "Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 4) tidak mencapai kesepakatan para pihak atau para arbiter dapat meminta kepada Pengadilan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dalam waktu paling lama 14 hari kerja untuk menetapkan arbiter pengganti". Saya kira sudah cukup dari aspek hukum.Terima kasih.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F-PKB):

Nama pengadilannya "Pengadilan Penyelesaian Perselisihan", jadi tidak ada "Pengadilan Perselisihan".

KETUA RAPAT :

Silakan Pak Herman.

F·PDIP (dr. REKSO AGENG HERMAN) :

Saya sepakat kata-kata ini, hanya perlu ditambah mungkin kalau ini masih terbatas. Kalau ini mereka hanya dapat meminta untuk menunjuk arbiter pengganti, bagaimana kalau ditambah

"atau". Jadi lanjutan itu "para pihak atau para abiter meminta untuk penyelesaian kasusnya di pengadilan PPHf', jadi tetap diberikan kesempatan juga kepada mereka.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(10)

Kalau alasannya hanya berkata bahwa itu sudah mengeluarkan biaya tinggi dan itu merupakan prinsip, saya sangat tidak sepakat seperti itu, tetapi kalau seperti ini boleh saja mereka dapat meminta agar ditetapkan arbiter pengganti atau mereka juga punya hak untuk meminta baik para pihak atau para arbiter meminta untuk penyelesaian perselisihannya di PPHI. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Silakan Pak Hasanudin.

F-PG (HASANUDDIN MURAD, SH) :

Kalau kita memahami pasal ini, ini tidak hanya melibatkan para pihak tetapi dia juga melibatkan arbiter. Bisa terjadi bahwa arbiter itu juga tidak terjadi kesepakatan dalam rangka menunjuk arbiter pengganti yang kalau dalam majelis arbiter, tidak hanya para pihak yang terlibat dalam persoalan ini. Jadi adalah sangat tidak pas apabila persoalannya justru para arbiter itu tidak mencapai kesepakatan untuk menunjuk arbiter pengganti lalu ke pengadilan, padahal yang terlibat ini-kan para pihak. Oleh karena itu bahwa kita melihat konteks ini tidak sekedar melihat kepada para pihak tetapi itu juga adalah arbiter. Jadi menurut kita adalah betul sekali seperti apa yang di dalam ayat (5) yang tertera itu bahwa itu diserahkan kepada Pengadilan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial untuk menunjuk arbiter pengganti tersebut. Jadi kita melihatnya tidak hanya dalam sisi lain, tidak hanya sekedar para pihak. Kalau arbiternya seperti yang saya jelaskan tadi arbiter misalnya tidak sepakat bahwa dua arbiter dalam majelis arbiter tidak sepakat menunjuk tentang arbiter yang pengganti, apakah itu juga harus ke pengadilan. Berarti arbiternya pada gilirannya juga bisa merugikan pihak yang berperkara, sementara yang berperkara-kan para pihak. Oleh karena itu dalam hal ini sudah pas sekali apabila persoalan itu diserahkan kepada pengadilan karena ini maknanya juga sangat berbeda dengan Pasal 21. Terima kasih.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F-PKB):

Saya ingin menambah sedikit Pak. Prinsip kita ini bahwa buruh itu sangat keberatan ke pengadilan, itu sudah diketahui umum, prinsip itu sedapat mungkin perkaranya segera selesai.

Kalau ini lagi arbiter sudah tinggal menunggu orang yang mati atau mengundurkan diri, kembali lagi ke pengadilan ini akan bertele-tele. Prinsip kita, arbitrase itu jalan yang semi peradilan tetapi bukan pengadilan agar perkaranya segera selesai dan saya kira itu prinsip. Karena itu kita tidak perlu kembali ke nol lagi supaya ke pengadilan. Kalau ini yang disetujui pengusaha itu pasti memilih ini supaya bertele-tele ini, karena bertele-tele itu gampang bagi buruh yang sudah tidak punya apa-apa. Jadi prinsip ini saya kira memberi kesempatan kepada semua pihak agar tidak berlama-lama ber arbitrase, dan menurut kami pembahasan ini sudah berjam-jam. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan Pak Hadi Wasikoen.

F-PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Terima kasih. Saya tidak akan masuk substansi dari apa yang diperdebatkan, sebab sesama bis kota dilarang saling mendahului, hanya kalau dalam ayat {5) nantinya disepakati sebagai sebuah kesepakatan, maka saya mengusulkan ada penambahan kata. Jadi ayat (5) dalam baris ke-2 11tidak mencapai kesepakatan para pihak atau para arbitel', itu bisa dibaca seperti itu, padahal maksudnya adalah 11tidak mencapai kesepakatan (koma), maka para pihak"., saya mengusulkan koma. Rasanya lebih pas kalau ayat itu diterima. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan yang lain atau silakan Pemerintah dulu.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(11)

-

PEMERINT AH :

Mungkin ada secara substantif kami memang setuju karena memang konsep, kemudian ada dua hal yang mungkin perlu pertimbangan.

Pertama, mengenai 14 hari itu. Disitu tidak jelas apakah 14 hari itu memintanya atau dalam 14 hari itu pengadilan memutuskannya. Kalau kami cenderung pengadilan itu dalam 14 hari sudah memutuskan sejak masuknya permintaan.

Kedua, ada kesan lagi para pihak atau para arbiter dapat meminta. Disitu terkesan harus kedua pihak yang meminta, padahal salah satu pihak saja meminta seyogyanya sudah bisa ditetapkan oleh pengadilan hubungan industrial.

KETUA RAPAT :

Tapi itu "atau'' Pak, para pihak atau para arbiter, jadi tidak perlu dua-duanya kalau "atau".

PEMERINT AH :

Para pihaknya sendiri Pak, para pihak itu ada pengusaha dan ada pekerjanya. Maksud saya adalah satu saja mengajukan sudah boleh untuk di proses penunjukkan arbiternya tidak harus kedua pihak. Terima kasih.

F-PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN, B. TH) :

Karena di baris keduanya tidak mencapai kesepakatan, tidak bisa satu pihak yang tidak mencapai kesepakatan, harus ada para pihak yang tidak mencapai kesepakatan, maka, jadi kalau hanya satu pihak saja tidak perlu mencapai kesepakatan, pasti kalau satu pihak tetap saja sepakat-sepakat. Jadi saya kira tidak cocok kalimat itu. Tapi kalau soal yang tadi bahwa pengadilan yang memutuskan 14 hari memang perlu dicari tambahan kata untuk itu. Terima kasih.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F-PKB):

Kalau saya usul, prinsipnya saja, mereka itu mengajukan harus diberi waktu dan pengadilan juga harus diberi waktu. Jadi mereka itu misalnya 7 hari, kemudian 14 hari pengadilan sudah harus putus. Tapi kalau sudah redaksi, supaya kita tidak berkutat maka Timus saja. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi sepakat ayat (5) ini masuk Timus, setuju ? (RAPAT: SETUJU)

Selanjutnya ke Pasal 25, silakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Pasal 25 ini betul-betul pasal baru berbunyi sebagai berikut "arbiter pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 harus membuat pernyataan kesediaan menerima hasil- hasil yang telah dicapai dan melanjutkan penyelesaian perkara". Jadi maksudnya tidak mengulang lagi dari awal tapi cukup menggunakan dokumen-dokumen ataupun risalah yang sudah dibicarakan sampai dengan saat terjadinya penggantian arbiter. Terima kasih.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(12)

KETUA RAPAT :

Silakan komentar. Jadi maksudnya Pasal 25 ini menunjukkan bahwa arbiter pengganti itu jangan mulai dari nol, mulai dari hasil-hasil yang telah dicapai. Jadi arbiter pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 harus membuat pernyataan kesediaan menerima hasil-hasil yang telah dicapai dan me/anjutkan penyelesaian perkara. Setuju?

F·KB (AHMAD MUBASYIR MAHFUD) :

Sebentar pak, sesuai dengan usul yang tadi berkembang ketika memasuki ayat (5) Pasal 24 bahwa penyelesaian perkara harus ada pembatasan waktu. Karena ini kaitannya dengan melanjutkan penyelesaian perkara, saya usulkan diberi batasan waktu tertentu. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan Pak Hadi Wasikoen.

F·PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Terima kasih. lni pertanyaan kepada Pemerintah, arbiter pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 harus membuat pernyataan kesediaan menerima hasil-hasil yang telah dicapai dan melanjutkan penyelesaian perkara.

Pertanyaannya adalah seandainya yang meninggal dunia atau mengundurkan diri dari majelis arbiter itu 3 orang total, kemudian yang meninggal dunia, satu yang mengundurkan diri, apakah ini harus tetap terikat pada proses sebelumnya, walaupun saya tahu jawabannya. Tetapi kalau menghadapi kasus bahwa tidak satupun arbiter walaupun kemungkinan itu bisa juga sangat kecil, tapi saya kira sangat mungkin juga kalau sama sekali arbiter terdahulu menjadi ada yang mengundurkan diri, ada yang meninggal dunia, apakah tetap begitu prosesnya Pak. Terima kasih.

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Teri ma kasih. Berhubungan pasal-pasal sebelumnya itu menyatakan bahwa arbiter yang ditunjuk itu bisa menolak atau menerima. Oleh karena itu saya menyarankan arbiter pengganti yang telah bersedia menerima penunjukkan ditambahkan bahwa arbiter pengganti itu sudah menerima penunjukkan, ditegaskan demikian. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Apakah tidak cukup dengan membuat pernyataan kesediaan menerima hasil-hasil.

F·PDU (DRS. MUCHAROR, AM) :

Pimpinan, saya kira perlu dijawab dulu pertanyaan dari Pak Hadi Wasikoen oleh Pemerintah.

KETUA RAPAT : Silakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Jadi andaikata ini memang kemungkin bisa terjadi, tapi menurut pasal-pasal berikutnya yang nanti akan kita baca itu sebenarnya semua pembicara atau pembahasan dalam rangka penyelesaian arbiternya ada risalahnya itu yang dibuat dalam bentuk berita acara. Jadi kalau kita berpedoman kepada risalah itu dapat dimengerti kalau andaikata-pun semuanya meninggal risalah itu masih bisa dibaca oleh arbiter pengganti.Yang kedua menyangkut batas waktu. Jadi pada

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(13)

,

hakekatnya kalau kita punya prinsip bahwa penyelesaian arbiter ini merupakan salah satu cara yang dipilih dengan maksud untuk dapat menyelesaikan perkara agar cepat, jadi batas waktu inipun menggunakan batas waktu setelah dikurangi waktu penunjukkan itu harusnya. Jadi misalnya kalau kemarin ditetapkan 30 hari harus selesai, kemudian sekarang proses penunjukkan baru-kan 14 hari. Jadi harusnya ditambahnya hanya sekedar 14 hari kalaupun mau ditambahkan batas waktunya. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Mengenai usul Pak Mubasyir tadi apa perlu kita tambahkan jangka waktunya di pasal ini.

PEMERINT AH :

Kalau mau ditambah kami tidak keberatan, tapi kalau pengusul penambahan itu tidak lebih juga dari 14 hari, karena waktu yang diperlukan untuk penunjukkan berarti-kan tidak berjalan penyelesaiannya. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan Pak Mubasyir yang konkretnya.

F·KB (AHMAD MUBASYIR MAHFUD) :

Untuk penyelesaian yang lebih cepat, maka saya usulkan 14 hari seperti yang di depan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi ditambah kata-kata "dan melanjutkan penyelesaian perkara paling lama 14 hari kerja".

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'TASHIM, SH. MM/F·PKB):

Kalau ini diperlukan, jangka waktu diberi penjelasan saja. Jadi arbiter pengganti ketika menerima pernyataan mungkin ditambah kata-kata bentuk pernyataan itu dan sebagainya. Jadi kalimat ini menurut kami sudah mengandung berbagai macam aspek, tapi saya kira maksud Pak Mubasyir dibikin di penjelasan saja. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi setuju diberi penjelasan jangka waktunya.

PEMERINT AH :

Kalau Pemerintah setuju.

KETUA RAPAT :

Jadi Pasal 25 dapat kita setujui ?

(RAPAT : SETUJU) Selanjutnya Pasal 26.

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Pimpinan, rasanya tidak adil kalau para pihak yang berselisih itu tidak diberi kesempatan untuk mencabut penunjukkan arbiternya, barangkali berubah pikiran. Kalau arbiter boleh

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(14)

mengundurkan diri, kenapa kalau para pihak yang berselisih tidak diberi kesempatan untuk dicabut penunjukkan arbiter. Barangkali dibatasi sebelum proses arbitrase itu dimulai, menambahkan pasal baru biar adil untuk memberi kesempatan kepada para pihak yang berselisih untuk barangkali berubah pikiran tidak melalui arbitrase untuk mencabut penunjukkannya. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Barangkali Pemerintah ingin menjawab, silakan.

PEMERINT AH :

Kalau kita kembali kepada masalah-masalah yang bersifat normatif memang perlu begitu, tapi fakta yang terjadi sekarang itu justru peluang-peluang semacam itu bisa digunakan untuk memperlama proses. Sebab pengalaman kita selama ini moral hajad ini pegang peranan dalam rangka penyelesaian perselisihan ini. Jadi katakanlah misalnya tanpa ada sebab apa, tapi kan hanya sekedar ingin memperlambat proses, kemudian menyiksa lawannya untuk berperkara. ltu ya sudah kami cabut saja berita penunjukan arbiter kami, jadi kemungkinan itu kita perkecil. ltu maksudnya tidak kita sebutkan disini adanya hak para pihak untuk mencabut penunjukan arbiternya. Terima kasih, Pak.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMU'T ASHIM, SH. MM/F-PKB) :

Saya mau menambahkan sedikit. Jadi begini, ya .. memang terus terang kita ini, undang- undang ini maksudnya kan melindungi buruh. Kalau pengusaha, saya kira senang, maksud lbu itu berhak mencabut itu yang ditunggu-tunggu. Saya tadi rapat di Sub Komisi Tenaga Kerja, saya yang mendengar saja saya marah tapi tidak saya ucapkan. Ketika Pak Hadi Wasikoen datang di Trailer yang mengamuk kemarin itu, beliau datang kesana masih tidak dipercaya, Anggota DPR ditunjukan, diterima dengan tangan kiri, Kartu Anggota beliau itu diterima tangan kiri. Untung orang Jawa Tengah itu sabar, kalau orang Jawa Timur ngamuk itu Pak. Betul-betul saya nilai Pak Hadi Wasikoen orang sabar itu, kalau saya itu ngamuk. Sudah dengan jikang, diterima tangan kiri Kartu Anggota DPR. Begitu menghinanya, pengusaha itu selama ini karena selalu terlalu dimanjakan.

Oleh karena itu kalau ini diberi peluang pasti dialah yang akan menggunakan, kalau buruh tidak bakal neko-neko, pokoknya cepat perkara cepat selesai, segera cari pekerjaan baru. Saya kira tidak perlu diberi. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Kita lanjutkan Pasal 26, silakan Pemerintah.

PEMERINTAH:

Pasal 26 ini juga merupakan pasal baru berbunyi sebagai berikut:

Pasal26

(1) Arbiter wajib menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam waktu 30 hari kerja sejak ditandatangani perjanjian penunjukan arbiter.

(2) Pemeriksaan atas perselisihan harus dimulai dalam waktu paling lama 3 hari kerja setelah ditandatangani surat perjanjian penunjukan arbiter.

(3) Atas kesepakatan para pihak arbiter berwenang untuk memperpanjang jangka waktu penyelesaian perselisihan industrial satu kali perpanjangan dengan jangka waktu yang sama sesuai dengan ayat (1).

Kalau ayat (1) dan (2) sudah pemah kita bicarakan dulu, sementara yang ayat {3) ini memang tambahan. Terima kasih.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(15)

-

KETUA RAPAT :

Silakan komentar atau tanggapan Pasal 26, 30 hari kerja apakah dapat disetujui? Silakan Pak Hadi.

F·PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Saya mengusulkan untuk ayat (3) itu, kalau tokh terjadi perpanjangan dan atas kesepakatan para pihak yang diberikan wewenang kepada arbiter, itu tidak satu kali perpanjangan, tetapi cukup hari saja. Sebab satu kali masa perpanjangan berarti 30 hari. Saya mengusulkan paling lama 15 atau 14 hari kerja, dengan alasan pada waktu 30 hari pertama itu kan sudah terjadi proses pertemuan yang panjang juga, sehingga kalau tokh terjadi perpanjangan waktu, lnsya Allah tidak dua kali waktu yang dibutuhkan.Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi untuk ayat (1) kita setuju 30 hari ?

(RAPAT: SETUJU)

Ayat (2) Pemeriksaan atas perselisihan harus dimulai dalam waktu paling lama 3 hari kerja setelah ditandatangani surat perjanjian penunjukan arbiter.

Setuju?

(RAPAT: SETUJU)

Jadi ayat (3), apakah usul Pak Hadi Wasikoen disetujui perpanjangannya hanya 15 atau 14 hari kerja ? 14 hari kerja.

Ayat (3) Atas kesepakatan para pihak arbiter berwenang untuk memperpanjang jangka waktu penyelesaian perse/isihan hubungan industrial paling lama 14 hari kerja.

Silakan Pak Lufthi.

F·REFORMASI (K.H. LUFTHI AHMAD) :

Saya kira usul Pak Hadi Wasikoen ini memang bagus, jadi kalau satu kali 30 hari itu memang dari awal sudah tahu, ini waktunya 60 hari. Dari awal arbiter itu tidak mau tahu, ini waktunya memang 60 hari karena saya berwenang. Jadi kalau itu 14 hari dari awal tahu ada waktunya itu 42 hari. Saya kira saya sependapat, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Setuju paling lama 14 hari kerja ?

(RAPAT: SETUJU)

Sekarang sudah pukul 16.00 WIB, jadi kita harus skors dulu sambil saya menyerahkan palu ini kepada Pimpinan. Jadi rapat kita skors 15 menit.

(RAPAT DISKORS PUKUL 16.00 WIB) KETUA PANJA (H. AMRU ALMUTASHIM, SH, MM/F·PKB) : Skorsing saya cabut, dan rapat kita lanjutkan.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(16)

(SKORS DICABUT PUKUL 16.15 WIB) Berikutnya Pasal 27, saya persilakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Pasal 27 ini merupakan penyempurnaan dari RUU AAKI Pasal 23, dan inipun pernah kita bahas di dalam rapat-rapat terdahulu, berbunyi sebagai berikut:

Pasal27

Pemeriksaan perselisihan hubungan industrian oleh abiter hubungan industrial atau majelis arbiter hubungan industrian dilakukan secara terlutup kecuali pada pihak yang berselisih menghendaki sebaliknya.

KETUA RAPAT :

Terima kasih. lni sudah kita bahas cukup lama, tetapl saya beri kesempatan kepada masing-masing Fraksi yang berkehendak memberikan pendapat, saya persilakan kalau ada yang ingin berpendapat. Tidak ada, cukup. Saya persilakan Pak Suwitno.

F· TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Pasalnya kelihatannya memang dulu sud ah disetujui itu, dulu menghendaki terbuka. Saya cancel saja, karena dulu saya ingatnya sudah disetujui ini. Terima kasih.

KETUARAPAT : Setuju?

(RAPAT: SETUJU) Berikutnya Pasal 28, silakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Pasal 28 penyempurnaan dari RUU AAKI Pasal 26 ayat (2), berbunyi sebagai berikut:

Pasal28

Dalam Sidang Arbitrase para pihak yang berse/isih dapat diwakili oleh kuasanya dengan surat kuasa khusus. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Pasal 26 asilnya berbunyi, "sebelum memberikan keterangan para saksi wajib disumpah . terlebih dahu/u", "terlebih dahulu" ini saksi, Pak, oleh para pihak yang berselisih. Saya persilakan pendapat dari masing-masing Fraksi. Silakan Pak Wasikoen.

f·PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Saya sependapat, tapi saya mengusulkan ada tambahan penjelasan di dalam pasal ini mengenai kandungan "surat kuasa khusus". Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Maksudnya penjelasan itu ada isi surat kuasa khusus, saya persilakan Pemerintah.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(17)

PEMERINT AH :

Untuk. menjelaskan itu tidak keberatan, Pak. Atau misalnya ada pesan-pesan khusus di dalam muatan "surat kuasa khusus" itu selain daripada yang biasa kita buat. Silakan kalau memang ada untuk kita catatan sebagai masukan .

KETUA RAPAT :

Atau barangkali Ahli Hukum bisa memberikan contoh biasanya isi "surat kuasa khusus".

Say a persilakan Pak Prof. lewat Saudara Dirjen.

AHLI HUKUM:

"Surat Kuasa Khusus" ini biasanya berisi sesuatu tindakan pemberian kuasa dari pihak pemberi kuasa dengan identitasnya yang lengkap, kemudian memberi kuasa kepada yang diberi kuasa dengan identitas yang lengkap untuk dan atas nama pemberi kuasa melakukan sesuatu yang dikuasakan. "Sesuatu" ini biasanya adalah pokok perkara tertentu, sehingga disitu ditegaskan kompetensi dari pemegang kuasa apa saja, biasanya disebutkan disana garis besar.

Terima ~asih.

KETUA RAPAT :

Jadi mungkin itu, Pak. Jadi nanti dalam penjelasan "surat kuasa khusus" itu mengandung masalah-masalah pokok-pokok yang diberikan atau kompetensi yang diberikan.

Karena ini menyangkut masyarakat luas mungkin jelas saja kalimatnya. Pasal ini bisa disetujui, silakan lbu Rukmini.

F-TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Kami setuju, hanya kami ingin menanyakan mengapa dalam RUU ini tidak dicantumkan atau diatur tentang apabila para pihak atau salah satu pihak yang berse/isih tidak hadir dalam persidangan dalam waktu yang ditentukan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

lni ada pertanyaan apabila tidak hadir, kalau hadir kan juga boleh memberi surat kuasa.

Saya persilakan saja Pak Prof. Mungkin lewat Pak Dirjen.

AHLI HUKUM:

Dalam sidang yang dilaksanakan untuk memeriksa perkara, apabila sudah ada kuasa hukumnya yang hadir tidak diperlukan pemberi kuasanya ikut hadir, kecuali kalau pemeriksa apakah itu hakim atau arbiter meminta kehadiran yang bersangkutan. Terima kasih.

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Begini, Pak. Maksud kami, apabila salah satu pihak atau para pihak tidak hadir dan tidak mewakilkan kepada kuasanya. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

lni dalam keadaan mereka tidak hadir. Saya ingin tanya, apakah ada aturan atau belum yang mengatur ini. Kalau belum ada, sekarang ini mereka dalam sidang tidak hadir, tidak memberi surat kuasa, bagaimana itu ? Saya kira itu memang perlu diatur.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(18)

r

AHLI HUKUM:

Di dalam Hukum Acara Perdata hal demikian sudah diatur, sehingga dengan demikian tidak perlu kita mengatur secara khusus. Karena prinsipnya sebenarnya sidang arbitrase inipun juga tunduk pada Hukum Acara Perdata. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Silakan Bu Rukmini.

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Hanya pertanyaan kami lagi, Pak. Di UU N0.30 ini diatur, Pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

UU N0.30 , bab dan pasal berapa?

F· TNl/POLRI (RUKMINI, S.IP) :

Pasal43

Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) pemohon tanpa suatu alasan sah tidak datang menghadap sedangkan telah dipanggil secara patut surat tuntutannya dinyatakan gugur dan tugas arbiter atau majelis arbitrase dianggap selesai.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

~ Jadi ini memang dalam pengadilan Perdata juga bisa itu. Jadi kalau orang dipanggil tidak, atau bisa langsung kalah. lni saya kira perlu juga diatur, tapi silakan pendapat dari Pemerintah dan Ahli Hukum.

PEMERINT AH :

Mungkin sekedar kami ingin mengingatkan, Pak. Di dalam pasal sebelum ini kita menyebutkan tentang Tata Kerja Arbiter itu diatur dengan Keputusan Menteri.

KETUA RAPAT :

Saya kira tidak bisa Pak Menteri mengatur soal hukum acara. Kalau masalah ini memang dipandang panting, saya kira bisa kita masukan saja. Jadi tidak setiap sidang itu mereka harus hadir, tapi sebelum itu saya kira kita sahkan saja pasal 28.

Setuju?

(RAPAT: SETUJU)

Sekarang ada persoalan baru, kalau mereka tidak hadir apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud, nanti saya kira ada pasal sendiri {Pasal 40 ayat (2)) bersamaan dengan itu arbiter atau Ketua Majelis Hakim memerintahkan agar para pihak atau kuasa mereka menghadap di muka sidang. Saya ingin mengusulkan prinsip Pasal 43 ini kalau diterima itu maksud kami, nanti kita masukan Timus saja. Prinsip ini diterima atau tidak ? Saya putar ini masalah substansi. Silakan Suwitno.

F· TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Masalah tadi yang diutarakan lbu rukmini, apakah kira-kira sudah bisa didukung dengan Pasal 22 ayat (2) huruf "d".

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(19)

Pasal22

, (2) Perjanjian penunjukan arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut :

d. pernyataan para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan keputusan arbitrase hubungan industrial.

Apa dalam keputusan arbitrase itu sudah termasuk di dalamnya harus hadir dalam perjanjian itu ?

KETUA RAPAT :

Pernyataan para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan keputusan, ini kan keputusan, tunduk kepada keputusannya. Tetapi kehadiran dalam sidang itu kan bisa ada sidang absensia, bisa tanpa hadirnya, tapi itu pasti kalah dalam Perdata.

F· TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Oke, apabila itu ditambahkan huruf lain misalnya "para pihak harus hadir di dalam sidang", itu bisa tidak di dalam perjanjian penunjukan arbiter. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saya kira itu bisa. Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH :

Jadi pad a prinsipnya kita setuju untuk mengatur itu, dan memang di dalam RUU AAKI ini ' Pasal 37 menyebutkan masalah itu, tapi terlalu ekstrim mungkin. Bunyinya begini;

-

Pasal37

Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) pemohon tanpa alasan sah tidak menghadap sedangkan dipanggil secara patut tuntutannya dianggap gugur dan tugas arbiter dianggap selesai.

KETUA RAPAT :

Say a masih ingin pendapatnya Pak Prof., ini menyangkut Perdata. lni kalau Perdata memang kalah kalau ini gugur. Saya persilakan Pak Prof.

AHLI HUKUM:

lni yang kita cermati adalah pasal yang mengatur mengenai ketidakhadiran pemohon tanpa alasan yang sah. sehingga pasal ini merupakan final terhadap pemohon yang tidak hadir pada hari sidang pertama, tanpa alasan yang sah. Sedang di dalam perkara Perdata, pada umumnya biasanya hakim masih memberikan kesempatan kepada pihak penggugat yang pada sidang pertama tidak hadir, untuk hadir pada sidang minggu yang berikutnya, jadi agak berbeda.

KETUA RAPAT :

Jadi ini perlu diatur atau tidak

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(20)

--

AHLI HUKUM:

Saya sependapat ini untuk dapat diatur, karena ini merupakan upaya juga untuk dapat mempercepat selesainya proses suatu perkara.

KETUA RAPAT :

Jadi kalau demikian seperti pendapatnya Pak Suwitno tadi, memang harus ada kehadiran, tiap kali sidang, hadir. Kemudian apabila tidak hadir, dipanggil sekali lagi apa begitu, atau langsung finalty ini. Jadi pertama kali setiap kali sidang harus hadir, kemudian apabila mereka sudah dipanggil dengan patut tidak hadir, dipanggil sekali lagi, apa begitu. Apabila dipanggil sekali lagi tidak hadir sampai tiga kali, itu biasanya setelah tiga kali tetap tidak hadir, baru finalty.

Dipanggil untuk yang kedua kalinya, yang ketiga kalinya kemudian finalty, begitu. Silakan Pak Suwitno.

F· TNl/POLRI {SUWITNO ADI, S.IP) :

Terima kasih. Kalau Pasal 43 UU N0.30 ini di dalam Penjelasannya, "sesuai dengan Hukum Acara Perdata sengketa menjadi gugur apabila pemohon tidak datang menghadap pada hari pemeriksaan pertama". Terima kasih.

KETUA RAPAT :

ltu memang ada hukum acaranya juga membolehkan langsung itu, jadi memang kita lihat dari itikad baiknya, wong ngajak perkara dituruti, malah tidak hadir tanpa alasan yang jelas, kecuali kalau kirim kuasa atau sakit. Kalau kita bikin cantolan Hukum Acara Perdata, saya kira itu artinya dalam undang-undang itu secara tersamar atau secara nyata-nyata kita juga mencantolkan diri kita pada Undang-Undang Hukum Acara Perdata. Saya kira itu usul itu, tapi harus ada, perintah harus hadir itu harus ada terlebih dahulu di dalam setiap kali persidangan, para pihak yang berperkara harus hadir. Kemudian apabila tidak hadir, itu. Tapi saya tanyakan begini saja, ini karena prinsipnya sudah kita setujui, redaksi kita serahkan Pemerintah, bisa begitu Pak. Setuju?

Dengan demikian kalimatnya, jadi ada sebuah perintah isinya itu perintah "setiap kali persidangan para pihak yang berselisih hadir had ii'.

Ayat (2) Apabila sudah dipanggil dengan seperti itu (Pasal 37) tadi, kemudian setelah itu ada Penjelasan. Setuju?

{RAPAT: SETUJU)

Nanti Timsin saja isinya. Dan saya harapkan ini karena itu waktunya pendek, hal-hal yang sudah kita sepakati dan itu segera, jadi kita ketemu nanti itu sudah dalam walaupun belum net konsep ya sud ah hampir final. Saya kira Pemerintah atau Sekretariat bisa mempersiapkan.

Pasal 29 sekarang ini, saya persilakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Berbunyi sebagai berikut;

Pasal29

(1) Penyelesaian perselisihan hubungan industrial o/eh arbiter harus diawali dengan upaya mendamaikan keduabelah pihak yang berselisih.

(2) Apabila penyelesaian perselisihan hubungan industrial mencapai kesepakatan maka arbiter wajib membuat akte perdamaian yang ditandatangani oleh para pihak yang berselisih dan arbiter atau majelis arbiter. ( Jadi ditandatangani o/eh para pihak yang berselisih dan arbiter a tau majelis arbiter).

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(21)

(3) Apabila upaya mendamaikan sebagaimana dimaksud didalam ayat (1) gaga/

arbiter atau para arbiter meneruskan sidang arbitrase.

Sekian.

KETUA RAPAT :

Ada pendapat, saya persilakan Pak Suwitno.

F· TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Terima kasih. Pasal ini pada pembicaraan sebelumnya sudah disetujui anggotanya, jadi saya kira tidak perlu dibahas lagi. Cuma barangkali saya menambahkan di ayat (2) kesepakatan apa, contohnya kesepakatan damai. Jadi apabila penyelesaian perselisihan hubungan industrial mencapai kesepakatan damai maka arbiter dan seterusnya. Terima kasih.

WAKIL KETUA (H. AMRU ALMUTASHIM, SH. MM/F-PKB):

Saya kira bagus ini ada kesepakatan damai, Pak Kiai Mubasyir?

F-KB (AHMAD MUBASYIR MAHFUD) :

Terima kasih. Pasal penyelesaian yang di ayat (1), penyelesaian perselisihan hubungan industrial oleh arbiter harus diawali dengan upaya mendamaikan problem dengan pihak yang selisih. Di pasal sebelumnya ada batasan waktu memulai proses, artinya itu 3 hari setelah perjanjian itu dilaksanakan, nah upaya perdamaian itu sejak kapan. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih, dari PDIP.

F·PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Substansinya sepakat, tapi saya mengusulkan begini karena ayat 1 bunyinya

"penyelesaian perselisihan hubungan industrial oleh arbiter harus diawali dengan upaya mendamaikan kedua belah pihak yang beselisih".

Ayat (2) saya mengusulkan "apabila perdamaian disepakati sebagaimana disebut ayat 1 maka arbiter wajib", nah gitu saja jadi satu tarikan napas. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih, dari F.PG.

F-PG (PEDDY TANDAWUYA, BA).:

Memang benar bahwa pasal yang sudah pernah disepakati, oleh sebab itu kami melihat bahwa pada ayat (2) itu apabila penyelesaian perselihan hubungan industrial mencapai kesepakatan damai sebagaimana diusulkan tadi, kata itu perlu ditambahkan dan juga yang diusulkan saudara Mubasyir itu soal jangka waktunya tadi. Terima kasih.

KETUA RAPAT : lbu Nurbalqis ?

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(22)

F·PBB (ORA. HJ. NURBALQIS) :

Terima kasih. Kami menanggapi dari beberapa teman tadi, cuma soal point yang ke 2 tentang damai apakah kesepakatan itu juga tidak damai. Kalau kami berpendapat sudah sepakat tadi damai, tapi masih mohon penjelasan dari tim ahli, kalau point 1-nya, kami setuju point ke 2, hanya ingin bertanya saja tentang damai tambahan damai. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saya silakan pemerintah, ada 3 point pertanyaan, pertama dari Kiai Mubasyir itu perlu waktu atau tidak, dari Pak Hadi Wasikoen modifikasi untuk meringkas kalimat saya kira ini, kemudian dari lbu Nurbalqis apa ada kesepakatan itu tidak dama, Kalau dalam dunia politik ada sepakat untuk tidak sepakat jadi dunia politik, ya tapi di dunia perselisihan perburuhan ini ada atau tidak. Saya silakan pemerintah.

PEMERINTAH:

Terima kasih. Pertama mungkin yang kami ingin jawab adalah mengenai waktu Pak, pada hakekatnya upaya perdamaian ini merupakan bagian daripada arbitrase. Oleh karena itu 30 hari yang dimaksud di dalam ayat sebelum ini, itu termasuk upaya perdamaian. Jadi bagian yang tidak terpisahkan dari sidang harbitrase itu sendiri, oleh karena itu kami menganggap tidak perlu kita cantumkan batas waktu mengenai atau mulai kapan upaya perdamaian ini dilakukan.

Yang kedua, apakah kesepakatan itu dapat tidak damai kan begitu, saya kira sudah kritis mungkin sekali Bu. Oleh karena itu memang kami setuju kalau ada tambahan kapan damai sesudah kata kesepakatan. Kemudian secara redaksional yang diusulkan oleh Pak Hadi Wasikoen karena substansinya memang tidak berubah, kami setuju saja, saya kira memang lebih baik.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi ini yang mendekati pertamakali apabila perdamaian sebagaimana dimaksud ayat (1) tercapai maka arbiter wajib membuat akte perdamaian, apabila ini hanya dibulak-balik dengan ... kenapa sulitnya apabila perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercapai kesepakatan, saya kira nggak usah pakai damai lagi, tercapai kesepakatan damainya hilang maka arbiter atau majelis arbiter gitu Pak, ya arbiter atau majelis arbiter wajib membuat akte perdamaian yang ditandatangani oleh para pihak yang tersisih dan atau arbiter dan arbiter atau majelis arbiter.

Gimana redaksi ini ? setuju ?

(RAPAT: SETUJU)

Sedang waktu Pak Kiai Mubasyir waktu itu sudah tercantum dalam jangka waktu 30 hari, ya silakan.

F·KB (AHMAD MUBASYIR MAHFUD) :

Terima kasih. lni saya kaitkan dengan pasal 26, jadi terjadinya pemeriksaan perselisihan itu dimulai sejak ditandatangani perjanjian, setelah 3 hari ditandatanganinya penunjukkan arbiter, perjanjian sebagaimana 3 hari setelah itu. Upaya perdamaian itu sebelum proses arbiter itu berapa hari maksud saya.

KETUA RAPAT :

Maksudnya ini sebelum proses ini bisa damai apa ada sidang. Silakan pemerintah.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(23)

PEMERINTAH:

Jadi kalau kita tuntun Pak, pertama setelah terjadi kesepakatan penunjukkan arbiter dalam kita menerima dibuat perjanjian antara para pihak dan arbiter, 3 hari sesudah perjanjian ditandatangani pasti mulai sidang arbitrase. Di dalam persidangan ini harus diawali dulu dengan upaya damai oleh arbiter, jadi kalau kita mengacu kepada tuntunan ini maka berarti sesudah 3 hari ditandatangani itu pertama kali setelah memperkenalkan pokok perkara membacakan sebagaimana yang kita bahas di dalam bab-bab terdahulu itu akan mulai sidang arbitrase, di sidang itulah pertamakali atau diawali dengan upaya damai yang dilakukan oleh arbiter kepada para pihak. Jadi kalau memang hanya terdapat damai maka sidang arbitrase selanjutnya saya kira sudah tidak diperlukan lagi. Tapi kalau memang ternyata tidak terjadi kesepakatan damai baru sidang-sidang arbitrase berikutnya dimulai. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi sidang arbitrase itu sidang arbitrase dimana para arbiter menyidangkan itu dimulai setelah 3 hari itu, itu start, jadi itu sudah masuk itu lagi. Saya ulangi

Ayat (2) Apabila perdamaian sebagaimana dimaksud pasal 1 tercapai maka arbiter atau maje/is arbiter wajib membuat akte perdamaian yang ditandatangani o/eh para pihak yang tersisih dan arbiter atau majelis arbiter.

Setuju?

(RAPAT: SETUJU)

Ayat (3) tidak perlu modifikasi ? Ayat (3) apabila upaya perdamaian, saya kira ini sudah jelas ya,

Apabila upaya perdamaian sebagaimana dimaksud ayat ( 1) gagal arbiter atau majelis arbiter, gitu Pak gagal arbiter atau majelis arbiter meneruskan sidang arbitrase, setuju?

(RAPAT: SETUJU)

Berikutnya pasal 30, saya silakan pemerintah.

PEMERINTAH:

Pasal 30 diadops dari Rancangan Undang-undang HKI pasal 40 ayat 2 dan ayat 3.

Ayat (1) berbunyi "Dalam persidangan arbitrase para pihak diberi kesempatan untuk menjelaskan secara tertulis maupun lisan pendirian masing-masing serta mengajukan bukti yang dianggap perlu untuk menguatkan pendiriannya dalam jangka yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbiter''.

Sementara ayat (2) "Arbiter atau majelis arbiter berhak meminta kepada para pihak untuk mengajukan penjelasan tambahan secara tertulis dokumen atau bukti lainnya yang dianggap perlu dalam jangka yang ditentukan oleh arbiter atau majelis arbite"r.

lni pada hakekatnya menyangkut prosedur penjelasan dan pembuktian Pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saya silakan Bapak-bapak dan lbu, setuju? Pak Suwitno belum, setuju Pak Suwitno

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(24)

,

f. TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Dalam hal ini prinsip 2 ayat ini saya setuju, seandainya kita tambahkan ayat lagi sebelum nomor 1, para pihak yang bersengketa mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam mengemukakan pendapat masing-masing, itu baik nggak?

KETUA RAPAT :

Apa tidak sudah seharusnya itu Pak f. TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Terlalu over ya ? , ok. kalau terlalu over saya cabut, saya sepakat dengan dua rumusan yang tadi. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Setuju?

(RAPAT: SETUJU)

Saya silakan berikutnya pasal 31 PE ME RI NT AH :

Pasal 31 berbunyi :

Ayat ( 1 ) Arbiter atau majelis arbitrase dapat memanggi/ seorang saksi atau lebih dari seorang saksi ahli atau lebih untuk didengar keterangannya.

" Ayat (2) Sebelum memberikan keterangan para saksi atau saksi ahli wajib mengucapkan sumpah sebagaimana berlaku di Pengadi/an Negeri.

Ayat (3) Biaya pemanggilan dan pe1alanan saksi atau saksi ahli dibebankan kepada pihak yang meminta.

Ayat (4) Biaya pemanggilan dan penunjukkan saksi atau saksi ahli yang diminta o/eh arbiter ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Selesai Pak.

KETUA RAPAT :

Hanya kalau arbiter tentunya majelisnya, majelis arbiter tidak majelis arbitrase. Saya silakan Bapak-bapak dan lbu Pak Peddy ?

F·PG (PEDDY TANDAWUYA, BA). :

Yang diungkap 4 ayat ini pada prinsipnya disetujui, hanya timbul pertanyaan bahwa tidak semua orang berhak menyumpah, tentu ada orang khusus yang harus melaksanakan sumpah itu.

Nah siapa yang membiayai yang melaksanakan sumpah, ini belum diatur dalam ayat ini. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih. Dan ini memang tidak kalau Pengadilan itu ada yang, sekarang yang menyumpah itu hakim atau kalau jam an Beland a itu Penglolanddraad. Saya silakan ini sebelum berkembang, saya silakan pemerintah dan ahli hukum barangkali.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(25)

,

..

PEMERINT AH :

Saya kira Pak Gunawan saja yang dimaksud ini.

AHLI HUKUM:

Pengambilan sumpah dilakukan oleh hakim kalau di Pengadilan Negeri sesuai dengan agamanya masing-masing, sedang untuk proses arbitrase saya kira wajar juga kalau itu ditugaskan kepada arbiter. Terima kasih

KETUA RAPAT :

Tapi ada persoalan Pak, yang menyumpah memang Hakim tapi yang biasanya kan kitab di atas itu, dan ini mohon maaf misalnya seandainya seluruh arbitemya itu Islam atau non Islam seluruhnya, tapi yang saksi ini Islam atau non Islam, ini kan masih ada orang yang pegang ini, ini yang dimaksudkan Pak Peddy itu begitu. Jadi misalnya yang menjadi saksi atau saksi ahli itu Islam tetapi arbiternya itu non Islam atau sebaliknya semua arbiternya itu Islam tetapi saksi ahlinya itu non Islam, siapa yang menyumpah. Saya silakan Pak.

AHLI HUKUM:

Kebetulan dalam praktek kami tidak pernah menjumpai semacam itu Pak, karena biasanya dari 3 dari majelis hakim yang jumlahnya 3 orang biasanya mereka itu mempunyai pemeluk agama yang berbeda. Kemudian yang ditugaskan untuk mengangkat buku Al Qur'an misalnya adalah panitera pengganti yang ditugasi. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

ltu pas diantara sekian itu ada yang agamanya sama itu Pak Peddy, ini misalnya kasusnya itu di Aceh saksi ahlinya itu orang beragama lain di Aceh. lni saya tidak sara tapi praktek saja gitu ya, atau di NTT mayoritas NTT kan non muslim. Kemudian misalnya terjadi disana kemudian saksi ahlinya itu seorang ahli muslim yang ada di NTT, itu kan bisa terjadi, tapi tidak boleh profesor ini bisa seluruh itu, tidak mungkin di antara paniteranya itu adalah ada yang sama agamanya dengan saksi ahli, itu Pak Peddy. Silakan Pak.

F·PG {PEDDY TANDAWUYA, BA).:

Hanya agak beda di Pengadilan Negeri itu dengan di arbitrase, sebab arbitrase dipilih oleh yang para pihak. Para pihak dipilih mana yang berkenan beda dengan di pelaksanaan di Pengadilan Negeri, berarti saya pikir barangkali bagus kalau diatur disini demi menjaga kemungkinan-kemungkinan. Teri ma kasih.

KETUA RAPAT :

Saya putar sekarang pendapat Pak Peddy ingin dari teman-teman yang lain , saya ingin dari Fraksi PBB, ya sekali-sekali kan harus jadi orang pertama, PBB ?

F·PBB (ORA. HJ. NURBALQIS) :

Nampaknya PBS nggak berkomentar ini Pak nih, karena apa yang dikatakan dari Pak ahli tadi dapat diterima, tidak ada komentar lagi. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Dari TN 1/POLRI ?

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

(26)

F· TNl/POLRI (SUWITNO ADI, S.IP) :

Terima kasih Pak. lni nantinya Pengadilan perselisihan arbitrase itu kan tidak ada di , Pengadilan itu ya, padahal kemarin konsistensinya adalah selama kita melaksanakan arbitrase masalah Pengadilan itu ya kalau bisa jauh gitu lho ya. Nah sekarang yang saya tanyakan apakah saksi atau saksi ahli itu harus mengangkat sumpah, gitu. Kalau harus mengangkat sumpah siapa sih sebetulnya mekanisme yang dibenarkan untuk mengangkat sumpah itu. Terima kasih.

..

J

KETUA RAPAT :

Terima kasih. Dari Pak Peddy tidak perlu .. karena pengusul. Dari PDl.P?

F·PDIP (DRS. HADI WASIKOEN) :

Masih sekitar sumpah, ini maaf kalau keliru, seingat saya sumpah itu hanya digunakan untuk agama Islam, non Islam berjanji kalau tidak salah gitu ya. Jadi mungkin perlu ada kata-kata mengucapkan sumpah atau janji itu dari sisi sumpah atau janjinya itu demikian dan pendapat berikutnya akan ditambah oleh Pak Rusman. Silakan.

KETUA RAPAT : Silakan Pak Rusman.

F·PDl·P (RUSMAN LUMBATORUAN, B. TH) :

Ya saya kira memang kalau petugas pengambilan sumpah itu harus didatangkan dari luar, harus diatur pembiayaannya gitu saja, kita atur saja gitu dalam Undang-undang ini. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Pak Kiai Mubasyir ?

F·KB (AHMAD MUBASYIR MAHFUD) :

Terima kasih. Saya setuju dengan usulan Pak Hadi Wasikoen, namun ada tambahan dari saya, jadi tidak perlu yang dinyatakan di Pengadilan Negeri, cukup dengan mengucapkan sumpah dan janji sesuai dengan agamanya. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Kalau begini ini diberi di penjelasan bagaimana, tapi kata sumpah/janji gitu ya sumpah janji. Setuju ?

(RAPAT: SETUJU)

Ya karena itu maka jadi kesepakatan nasional. Kemudian apabila sumpah atau di penjelasan saja Pak ya, apabila sumpah atau janji yang dilakukan oleh saksi atau saksi ahli lainnya memerlukan rohaniawan maka biaya dikenakan kepada pihak yang meminta misalnya begitu, di penjelasan saja saya kira, bisa Pak Peddy ?

F-PG (PEDDY TANDAWUYA, BA). : Tadi itu penjelasan ayat (2). Terima kasih.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan skor self efficacy antara siswa yang belajar menggunakan modul matematika dengan

Adapun berdasarkan penelitian dari Sjahrir (1995), ia menemukan bahwa pelaku migrasi (penduduk Bejer) yang pergi ke Jakarta segera mendapatkan pekerjaan tanpa harus melalui

Beberapa hal yang menjadi masalah bagi seksi logistic welding ini adalah: (1) kebutuhan area untuk penyimpanan alat bantu supply part (dolly attachment) yang

Bab Keempat: Orang tua dan peranannya dalam proses perkembangan konsep diri anak pra sekolah dasar, peranan orang tua, pentingnya perlakuan orang tua terhadap anak, upaya orang tua

Kepala Sub Direktorat Prasarana dan Sarana Perkotaan, Direktorat Perkotaan, Ditjen Bina PembanSunan Daerah, Kementeriatl Dalam Negeri;. 2g.Kepala S11b Direktorat Potensi

Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa aktor jaringan kebijakan dalam pemberdayaan usaha kecil menengah di Kota Makassar yaitu

Dalam hal terdapat perbedaan data antara DIPA Petikan dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database

Baut yang tidak diulir penuh ialah baut yang hanya bagian ujungnya diulir. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar berikut ini.. 9 Diameter nominal baut yang tidak diulir