• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang dimana selalu berinteraksi dengan sekitarnya, dalam berinteraksi sehari-hari kita menggunakan tutur kata melihat gerakan ataupun simbol-simbol yang kita temui disekitar kita. Berbahasa sering kita lakukan baik secara sadar ataupun tidak sadar, dalam berkomunikasi sehari-hari bahasa memegang peran penting sebagai alat pembantu agar pesan yang disampaikan dapat diterima atupun dipahami oleh lawan bicara. Dalam berkomunikasi, Indonesia memiliki keberagaman yang melimpah dalam berbahasa, dari 34 provinsi terdapat 718 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi per tahun 2019(BPBP Kemendikbud, 2019).

Tidak hanya dari keberagaman budaya dari berbagai daerah saja, namun keberagaman budaya dari kaum tuli dan kaum dengar juga terdapat di indonesia.

Seperti yang kita ketahui kaum tuli atau teman-teman tuli merupakan mereka yang mengalami gangguan dalam pendengaran, baik ringan hingga yang berat sampai tidak dapat mendengar bunyi sama sekali. Dalam berkomunikasi, teman-teman tuli menggunakan bahasa isyarat untuk berinteraksi sehari-hari. Terdapat dua rujukan dalam berbahasa isyarat di indonesia, yaitu SIBI dan BISINDO. Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) merupakan suatu sistem berbahasa isyarat yang diciptakan oleh teman dengar yaitu Anton widyamoko yang merupakan mantan kepala sekolah SLB/B. Dimana pada tahun 1996 SIBI telah ditetapkan sebagai pengantar bahasa isyarat diseluruh SLB. Sedangkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) merupakan bahasa isyarat yang diciptakan oleh teman-teman tuli dari komunitas tuli yang muncul secara alami dan berdasarkan pengamatan teman-teman tuli itu sendiri(Yayasan Peduli Kasih ABK, 2018). Bahkan terdapat dialek yang berbeda bagi tiap-tiap daerah dalam berbahasa isyarat menggunakan BISINDO.

Dalam penerapannya, SIBI tidak sepenuhnya diterima oleh teman-teman tuli dikarenakan di dalam penerapan aktivitas sehari-hari SIBI memiliki kosakata

(2)

yang cukup rumit dan susah digunakan untuk berbahasa sehari-hari. Selain itu SIBI dalam penggunaannya terkesan tidak natural untuk orang indonesia yang memang sebagian besar sistemnya dipengaruhi oleh American Sign Language (ASL). Maka dari itu SIBI lebih sering digunakan di dalam SLB. Namun dalam keseharian teman-teman tuli, BISINDO lebih sering digunakan karena bahasanya yang lebih mudah untuk digunakan dan sesuai dengan dialek tiap masing-masing daerah di Indonesia.

Budaya tuli di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Akibat minimnya pengetahuan masyarakat terhadap budaya tuli, menimbulkan banyak kesalahpahaman terhadap kaum tuli tersendiri. Terlihat dari istilah yang digunakan oleh masyarakat umum untuk menyebut disabilitas pendengaran, masih banyak yang menggunakan tunarungu dibandingkan dengan Tuli dengan huruf kapital “T”.

Pada kenyataannya dua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, menurut artikel yang dimuat oleh Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universutas Sanata Dharma Yogyakarta (PSIBK USD, 2018) tunarungu merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan terdapat keterbatasan dalam sebuah fungsi secara medis. Namun istilah tuli dengan huruf kapital “T” merupakan suatu identitas budaya berkomunikasi yang berbeda. Oleh karena itu penggunaan istilah Tuli dengan huruf “T” kapital lebih halus dibandingkan dengan menggunakan istilah tunarungu bagi mereka para disabilitas pendengaran.

Selain dari masalah istilah yang digunakan oleh masyarakat umum, masalah perlakuan yang baik secara langsung ataupun tidak langsung menganggap bahwa kaum dengar memiliki superioritas terhadap kaum tuli atau yang bisa disebut dengan audisme sering terjadi. Menurut (Bauman, 2004) audisme adalah asumsi superioritas dan dominasi kemampuan mendengar atas budaya dan komunitas Tuli.

Salah satu contoh kasusnya adalah artis penyanyi Anang Hermansyah di channel youtubenya yang melakukan gerakan isyarat yang tidak sesuai BISINDO dan terkesan meremehkan bahasa isyarat. Tidak hanya itu aksesibilitas bagi kaum marjinal khususnya teman teman tuli dalam memperoleh informasi bisa dibilang masih minim. Konten-konten yang sifatnya publik dan tidak memiliki subtitle sangat berpengaruh bagi teman tuli untuk memahami pesan yang ingin

(3)

disampaikan. Salah satunya pada saat menonton film atau konten video serupa yang berbahasa indonesia, jika tidak terdapat teks penerjemah teman tuli sangat kesulitan untuk memahami isi pesan yang disampaikan ole film tersebut.

Stigma masyarakat umum tentang konsep kesetaraan bagi kaum tuli masih terbilang menyimpang. Banyak masyarakat umum beranggapan teman-teman tuli perlu dikasihani, sedangkan teman-teman tuli banyak yang berjuang dalam mengadvokasi agar indonesia menjadi negara yang inklusif. Menurut budaya tuli, antara teman tuli dengan teman dengar tidak ada yang berbeda melainkan dalam segi berkomunikasi teman tuli menggunakan bahasa yang berbeda yaitu bahasa isyarat. Maka dari itu banyak teman tuli yang meminta kepada pemerintah dan masyarakat umum untuk mempelajari bahasa isyarat agar teman tuli dapat belajar lebih luas dan juga mendapatkan kesetaraan terutama dari segi aksesibilitas informasi dan menjadikan indonesia sebagai negara yang inklusif.

Dalam menangani masalah-masalah tersebut pemerintah dan masyarakat melalui komunitas-komunitas sosial telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan indonesia sebagai negara yang inklusif.

Di Indonesia sendiri regulasi terkait kesejahteraan penyandang disabilitas dalam mendapatkan lapangan pekerjaan telah diatur. Seperti yang tertera pada pasal 14 undang-undang nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat “perusahaan negara dan swasta memberikan kesempatan dan perlakuan sama kepada penyandang cacat dengan mempekerjakan penyandang cacat di perusahaan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah karyawan dan/atau kualifikasi perusahaan.”

Penjelasan pasal 14 undang-undang nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat menjelaskan: “perusahaan harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan, untuk setiap 100 (seratus) orang karyawan(Republik Indonesia, 1997). Perusahaan yang menggunakan teknologi tinggi harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan walaupun jumlah karyawannya kurang dari 100 (seratus) orang.” Perlindungan kesempatan kerja bagi tenaga kerja

(4)

penyandang disabilitas juga diakui dalam Undang - Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu dalam Pasal 5 yang menyatakan bahwa “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk mendapatkan pekerjaan”(Republik Indonesia, 2003). Dalam hal regulasi memang sudah jelas dalam hal kesejahteraan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan namun memang pada kenyataannya penerapan regulasi tersebut masih sangat minim dalam pelaksanaannya.

Komunitas-komunitas sosial seperti, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) dan sebagainya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan juga seruan berupa kampanye terkait budaya-budaya tuli.

Selain regulasi dan kampanye-kampanye sosial lewat komunitas, terdapat profesi yang memegang peran penting dalam kesejahteraan para teman-teman tuli.

Seperti yang kita ketahui, Fenomena yang muncul terkait Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang sering kita lihat pada awal pandemic Covid-19 terjadi, dimana kotak kecil yang muncul di sudut televise yang berisi juru bahasa isyarat sering muncul khususnya dalam acara-acara televise yang menampilkan konten berita. Perannya dalam memberikan akses kepada teman Tuli menjadikan JBI sangat dipandang dalam perbuatannya yang membantu kaum marjinal tertentu yaitu budaya tuli.

Tentunya banyak media-media yang memberitakan profesi juru bahasa isyarat dengan kesan positif yang isinya tidak jauh-jauh dari kesukarelawanan dan pengabdian pada Negara. Namun terdapat teks yang diterbitkan oleh lembaga Remotivi yang isinya justru sebaliknya, menganggap pemberitaan dari media konvensional terkait juru bahasa isyarat berdampak buruk bagi JBI dan juga budaya tuli.

Peran masyarakat awam dalam menerima pesan, baik dari media konvensional ataupun dari teks Remotivi terkait profesi juru bahasa isyarat sangatlah berpengaruh pada inklusifitas di Indonesia. Melihat pemahaman masyarakat awam terkait budaya tuli juga masih sangat minim. Pentingnya penerimaan dari khalayak terhadap suatu produk media mempengaruhi prespektif masyarakat awam dalam memandang budaya tuli. Melihat masalah budaya tuli di

(5)

Indonesia yang juga masih terbilang banyak, mulai dari istilah tunarungu dan tuli untuk menyebut para disabilitas pendengaran hingga diskriminasi atau superioritas kaum dengar terhadap budaya tuli masih terjadi di Indonesia.

Hal tersebut juga diakibatkan dari penerimaan yang tidak tepat dari khalayak terkait isi pesan suatu produk media khususnya dalam memberitakan isu disabilitas. Melihat dari sudut pandang JBI yang juga merupakan khalayak yang menerima dan berdampingan secara langsung terkait isu pemberitaan JBI, baik dari media konvensional ataupun dari teks lembaga Remotivi yang dimana profesi tersebut memang masih dipandang sebelah mata, terlihat dari tidak adanya lembaga yang menyertifikasi profesi tersebut, walupun peran JBI yang sangat penting dalam budaya tuli sebagai penjembatan akses dari kaum dengar ke kaum tuli atau sebaliknya. Melihat peran penting tersebut tentunya profesi juru bahasa isyarat sangat berpengaruh pada kesejahteraan budaya tuli. Maka dari itu pentingnya pemaknaan secara langsung oleh para juru bahasa isyarat terkait teks media akan memberikan pemahaman dan posisi JBI yang lebih tepat terkait fenomena pemberitaan tentang profesi JBI, yang nantinya pemahaman awam masyarakat umum akan menjadi lebih tepat dalam memandang posisi JBI dan juga budaya tuli.

Apakah memang posisi juru bahasa isyarat berperan sebagai penolong kaum marjinal tertentu atau memang sudah sepantasnya juru bahasa isyarat dipandang seperti juru bahasa-juru bahasa pada umumnya.

Terkait artikel yang diterbitkan berjudul “Narasi Pengabdian dalam Pemberitaan Juru Bahasa Isyarat” dalam artikel tersebut, terdapat penjabaran tentang pemberitaan media konvensional dan contohnya, terkait juru bahasa isyarat yang dipandang sebagai seorang pahlawan namun tidak dipandang dari segi profesionalitasnnya melainkan terfokus pada kegiatan juru bahasa isyarat sebagai penolong kaum marjinal yang berlandaskan kesukarelawanan dan pengabdian pada negara. Pemahaman khalayak khususnya juru bahasa isyarat yang berhubungan secara langsung dengan isu yang ada dalam isi dari teks Remotivi tersebut akan berpengaruh terhadap inklusifitas Indonesia.

Maka, berdasarkan fenomena yang telah dibahas diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul PEMAKNAAN JURU BAHASA

(6)

ISYARAT SEBAGAI SARANA PENGABDIAN PADA TEKS “NARASI PENGABDIAN DALAM PEMBERITAAN JURU BAHASA ISYARAT”

(Analisis Resepsi Terhadap Juru Bahasa Isyarat Komunitas Akar Tuli Malang).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahannya seperti berikut, bagaimana pemaknaan dari Juru Bahasa Isyarat terhadap teks “Narasi Pengabdian dalam Pemberitaan Juru Bahasa Isyarat”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dari Juru Bahasa Isyarat terhadap teks “Narasi Pengabdian dalam Pemberitaan Juru Bahasa Isyarat”.

1.4 Manfaat Penelitian A. Manfaat Akademis

Hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan, berharap bisa dijadikan sebagai acuan dalam meneliti penelitian yang berkaitan dengan analisis penerimaan khalayak atau khususnya dalam kritik konten media online.

B. Manfaat Sosial

Hasil yang didapat dari penelitian ini, berharap dapat berguna bagi masyarakat atau khalayak dalam memberikan suatu pandangan dan pemahaman untuk memaknai suatu produk media khususnya teks media online.

(7)

7

Referensi

Dokumen terkait

Karena adanya pembakuan dan urutan organisasi stasiun kerja pada operasi aliran lini ini, maka pengubahan suatu produk atau volume akan memerlukan biaya yang

Salah satu masalah yang terjadi dalam proses evaluasi (penilaian) kinerja pegawai adalah subyektifitas pengambilan keputusan, Sistem pendukung keputusan yang

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

Konsekuensi yang diharapkan klien dapat memeriksa kembali tujuan yang diharapkan dengan melihat cara-cara penyelesaian masalah yang baru dan memulai cara baru untuk bergerak maju

Berdasarkan model teoritis yang diajukan dalam penelitian ini, pengujian secara empiris dengan menggunakan penganalisaan Structural Equation Model (SEM) maka

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Perencanaan pengumpulan bukti dilakukan dengan melakukan pengembangan dokumen PAAP (Perencanaan Aktivitas dan Proses Asesmen). Dalam penelitian tahun kedua 2020