21
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
Pengaturan mengenai batas usia minimal perkawinan adalah salah satu pilar penting dalam usaha perlindungan hukum terhadap perempuan di Indonesia. Hal ini disebabkan, dengan adanya batas usia minimal perkawinan dapat menjamin kesehatan (mental dan fisik), serta kesejahteraan perempuan Indonesia. Di dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU 1/74), terdapat perbedaan batas usia minimal perkawinan antara perempuan dan laki-laki, dimana perempuan adalah 16 (enam belas) tahun, sedangkan laki-laki adalah 19 (sembilan belas) tahun. Pembedaan ini didasarkan pada anggapan bahwa terdapat perbedaan kematangan secara biologis antara laki-laki dan perempuan. Seiring dengan perkembangan zaman yang mendorong perkembangan produktivitas dan pendidikan perempuan, batas usia minimal perempuan tersebut menimbulkan perdebatan baru, karena dianggap sudah tidak relevan.
Salah satu bentuk irelevansi batas usia minimal perkawinan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU 1/74 adalah terkait hak untuk mengenyam pendidikan yang mengalami pergeseran. Pada saat UU 1/74 disahkan, tidak ada progam yang mewajibkan pemerintah untuk menjamin pendidikan anak dalam kurun waktu tertentu.
Dewasa ini, terkait kebijakan tersebut, berkembang wajib belajar 12 (dua belas) tahun, sesuai dengan Pasal 2 huruf a Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya No. 19 tahun 2016 tentang Program Indonesia Pintar. Ini artinya, jika usia minimal perkawinan yang
22 ditetapkan adalah 16 (enam belas) tahun bagi perempuan, maka perempuan kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan selama 3 (tiga) tahun. Sementara, usia minimal perkawinan yang ditetapkan bagi laki-laki adalah 19 (sembilan belas) tahun, itu artinya, laki-laki dapat mengenyam hak untuk menikmati pendidikan secara penuh (selama 12 tahun). Ini berarti, telah terjadi disparitas keadilan antara perempuan dan laki-laki, dimana laki-laki dapat mengenyam pendidikan secara penuh, sementara perempuan tidak. Hal ini bertentangan dengan prinsip persamaan di depan hukum sesuai dengan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (selanjutnya disebut UUD NRI 1945).
Irevelansi berikutnya, selain terkait pendidikan adalah terkait kesehatan. Jika dilihat dalam penjelasan Pasal 7 ayat (1), memang dijelaskan, bahwa pertimbangan yang diatur adalah berdasarkan kesehatan. Dalam perkembangan dunia medis, perempuan yang masih berusia 16 (enam belas) tahun sangat rentan terhadap resiko gangguan kesehatan ketika menjalani perkawinan. Baik dalam konteks hubungan seksual suami istri ataupun pada saat proses kehamilan dan melahirkan. Hal ini misal terlihat dari perndapat dr. Fransisca Handy, yang mengatakan, bahwa setidaknya, terdapat lima konsekuensi kesehatan dari kehamilan usia dibawah 18 tahun, yakni: 1) kesehatan mental ibu; 2) penyakit menular; 3) gangguan kehamilan;4) masalah persalinan; 5) kesehatan bayi yang dilahirkannya.
Berbagai irelevansi peristiwa terkait batas usia minimal perkawinan ini mendorong sejumlah kelompok masyarakat untuk mengajukan gugatan judicial review terhadap Pasal 7 (1) UU 1/74 pada Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut MK)
23 agar pasal tersebut menjadi konstitusional bersyarat, yaitu sepanjang dibaca menjadi 18 (delapan belas) tahun. Gugatan terhadap Pasal 7 (1) UU 1/74 dengan dasar konstitusional Pasal 28 UUD NRI 1945 dalam Putusan MK No. 30-74/PUU-XII/2014 untuk menaikkan batas usia minimal perkawinan terhadap perempuan dilatarbelakangi dengan tingginya angka perceraian serta masalah kesehatan dan sosial terhadap perempuan akibat praktik perkawinan anak. Pada 18 Juni 2015, MK kemudian mengeluarkan Putusan No. 30-74/PUU-XII/2014 yang pada pokoknya menolak permohonan para penggungat seluruhnya. Di dalam putusannya, MK menolak gugatan tersebut, dengan ratio decedendi, bahwa kenaikan batas usia minimal perkawinan tidak akan dapat menjamin terselesaikannya masalah tingginya angka perceraian serta masalah kesehatan dan sosial. Selain itu, MK juga mempertimbangkan batas usia minimal perkawinan sebagai kebijakan hukum terbuka (open legal policy) yang dapat sewaktu-waktu diubah oleh pembuat Undang-Undang.
Pada tahun 2017, sejumlah masyrakat kembali mengajukan gugatan kepada MK dengan dalil yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu terkait hak kesetaraan di depan hukum (equality before the law) yang dijamin di dalam Pasal 27 (1) UUD NRI 1945. MK melalui Putusan No. 22/PUU-XV/2017, kemudian mengabulkan gugatan tersebut, dengan dalil persamaan kedudukan hukum antara laki-laki dan perempuan.
MK juga menimbang bahwa dalam usia perkawinan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU 1/74 sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman yang ada. Oleh karena itu, batas usia minimal perkawinan perempuan harus ditingkatkan.
24 2.1.1 Pengertian Perkawinan
Salah satu prinsip suatu perkawinan bertujuan untuk menciptakan dan mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta membentuk generasi yang bermanfaat untuk masa depan dan menjaga pandangan masyarakat serta menghindari dari kerusakan seksual akibat pergaulan yang telah sangat bebas saat ini. Perkawinan bukan sekedar bertujuan untuk memenuhi hawa nafsu.1
Menurut ketentuan dalam Pasal 1 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa:
“Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Ikatan lahir berarti bahwa para pihak yang bersangkutan karena perkawinan, secara formil merupakan suami isteri, baik bagi mereka dalam hubungannya satu sama lain maupun bagi mereka dalam hubungannya dengan masyarakat luas. Ikatan batin dalam perkawinan berarti bahwa dalam batin suami isteri yang bersangkutan terkandung niat yang sungguh-sungguh untuk hidup bersama sebagai suami isteri.2
Perkawinan adalah suatu proses yang sudah melembaga, yang mana laki-laki dan perempuan memulai dan memelihara hubungan timbal balik yang merupakan
1 Hilman Hadikusuma, Bahasa Hukum Indonesia. Cetakan ke empat, (Bandung: PT.
Alumni, 2010), hlm. 88.
2 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm.74.
25 dasar bagi suatu keluarga. Hal ini akan menimbulkan hak dan kewajiban baik di antara laki-laki dan perempuan maupun dengan anak-anak yang kemudian dilahirkan.3 Adapun beberapa pengertian menurut para ahli sebagai berikut:
Nani Suwondo mengemukakan pengertian perkawinan adalahSuatu tindakan hukum yang dilakukan dengan maksud akan hidup bersama dengan kekal, antara dua orang yang berjenis kelamin yang berlainan dan dilangsungkan menurut cara-cara yang ditetapkan pemerintah, perkawinan mana berdasarkan hukum sipil dan berasaskan monogami.4
Dr. Anwar Haryono SH, dalam bukunya Hukum Islam juga mengatakan:
“pernikahan adalah suatu perjanjian suci antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk keluarga bahagia”.5
Menurut Prof. Subekti, SH, Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk waktu yang lama.6
Pengertian pernikahan atau perkawinan menurut Abdullah Sidiq, Penikahan adalah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang hidup bersama (bersetubuh) dan yang tujuannya membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan, serta mencegah perzinaan dan menjaga ketentraman jiwa atau batin.7
3I Ketut Atardi, 1987, Hukum Adat Bali dengan Aneka Masalahnya Dilengkapi Yurisprudensi, Cet. II, Setia Lawan, Denpasar, hal. 169.
4 Nani Suwondo, Kedudukan Wanita Indonesia, Tintamas, Jakarta, 1970, hlm.12.
5 Riduan Syahrani, Seluk beluk Asas-asas hukum perdata, (Banjarmasin; PT. Alumni, 2006).
6 Subekti dan Tjitrosudibio. 2013. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) dan UU No. 1 Tahun 1974. Jakarta: Pradnya Paramita.
7 ABD. Shomad, Hukum Islam (Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia) Kencana Prenada Media Group , Jakarta, 2010.
26 Dari beberapa pengertian perkawinan tersebut dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri yang telah memenuhi syarat-syarat dalam peraturan hukum perkawinan.
2.1.2 Dasar Hukum Perkawinan
Dasar-dasar hukum perkawinan terdapat di dalam Pasal 28 B ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.” Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 B ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dapat diketahui bahwa tujuan dan cita-cita negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraaan rakyatnya dengan memberikan hak kepada setiap rakyatnya untuk mempertahankan kehidupannya yang berarti mempunyai hak untuk melanjutkan keturunan, dan setiap orang mempunyai hak untuk membentuk sebuah keluarga dan hal tersebut merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi. Dasar hukum perkawinan juga terdapat di dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur pada Bab I tentang Dasar Perkawinan yang terdiri dari 5 Pasal, yaitu dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 5. Di dalam Pasal 1 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai perngertian perkawinan yang menyebutkan bahwa:
“Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
27 Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai syarat sahnya suatu perkawinan yang menyebutkan bahwa “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayannya itu”.
Rumusan arti perkawinan:8
Dengan “ikatan lahir-batin” dimaksudkan bahwa perkawinan itu tidak hanya cukup dengan adanya “ikatan lahir” atau “ikatan batin” saja tapi harus keduanya. Suatu
“ikatan lahir” adalah ikatan yang dapat dilihat. Mengungkapkan adanya suatu hubungan hukum antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama, sebagai suami- istreri, dengan kata lain dapat disebut “hubungan formil”.9 Sebaliknya, suatu “ikatan Bathin” adalah merupakan hubungan yang tidak formil, suatu ikatan yang tidak dapat dilihat. Walau tidak dapat dilihat nyata, tapi ikatan itu harus ada. Karena tanpa adanya ikatan bathin, ikatan lahir akan menjadi rapuh.10
Ketentuan Pasal 1 UU Perkawinan tersebut dapat dirinci dalam beberapa unsur dari pengertian perkawinan, sebagai berikut:
a. Adanya Ikatan Lahir Batin.
Perkawinan dapat dikatakan sebagai suatu persetujuan yang dapat menimbulkan ikatan, dalam bentuk lahiriah maupun batiniah antara seorang pria dan wanita, bahkan ikatan batin ini merupakan daripada ikatan lahir.
8 K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia indonesia, jakarta, 2000, hlm. 14.
9 Ibid.
10 Ibid, hlm. 15.
28 b. Antara Seorang Pria dan Wanita.
Unsur pria dan wanita menunjukkan secara biologis orang akan melangsungkan perkawinan haruslah berbeda jenis kelamin. Hal ini sangat penting, karena perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang menghendaki adanya keturunan.
c. Sebagai Suami Istri
Pria dan wanita yang sudah terikat dalam suatu perkawinan, secara yuridis statusnya berubah. Pria berubah statusnya sebagai suami dan wanita berubah statusnya sebagai istri.
d. Adanya Tujuan
Tujuan dalam perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Seorang pria dan seorang wanita yang telah mempunyai ikatan lahir batin dengan melangsungkan perkawinan haruslah menuju pada suatu perkawinan yang kekal, bukan untuk masa tertentu.
e. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Unsur berdasarkan Pancasila, dimana sila yang pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, memberikan arti bahwa perkawinan itu mempunyai hubungan yang erat dengan agama atau kerohanian. Sini dapat di lihat bahwa peranan agama adalah sangat penting. Masalah perkawinan bukanlah semata-mata masalah keperdataan saja, melainkan juga masalah agama. Sehingga di dalam perkawinan tersebut harus diperhatikan unsur- unsur agama.
29 2.1.3 Asas Hukum Perkawinan
Asas Perkawinan di dalam perkawinan diperlukan ketentuan-ketentuan agar perkawinan itu dapat menjadi seseuatu yang bernilai. Ketentuan-ketentuan yang menjadi asas dan prinsip dari suatu perkawinan seperti yang dijelaskan atau diatur dalam penjelasan umum dari Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Asas-asas dan prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:11
a. Membentuk keluarga yang bahagia dan kekal tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.
b. Sahnya perkawinan berdasarkan hukum agama dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayannya itu dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menganut asas monogami, hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkan, seorang suami dapat beristeri lebih dari seorang.
d. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menganut prinsip bahwa calon suami isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat
11 Ibid, hlm.58-59.
30 melangsungkan perkawinan, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berfikir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.
e. Karena tujuan Perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera, maka Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian.
f. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat, sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami dan isteri.
Asas dan prinsip perkawinan itu dalam bahasa sederhana adalah sebagai berikut:
a. Asas sukarela.
b. Partisipasi keluarga.
c. Perceraian dipersulit.
d. Poligami dibatasi secara ketat.
e. Kematangan calon mempelai.
f. Memperbaiki derajat kaum wanita.
2.1.4 Syarat-syarat Perkawinan
Untuk melangsungkan suatu perkawinan calon pasangan harus memenuhi syarat-syarat perkawinan yang telah diatur didalam undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan diantaranya yang terdapat didalam pasal-pasal sebagai berikut:
31 Pasal 6:
1. Perkawinan harus didasarkan persetujuan kedua calon mempelai.
2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
3. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat 2 pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
4. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendak, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya.
5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat 2, 3 dan 4 pasal ini, atau salah seorang atau lebih di antara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberi izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat 2, 3 dan 4 pasal ini.
6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.
32 Pasal 7:
1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.
3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).
Pasal 8:
Perkawinan dilarang antara dua orang yang:
a. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas.
b. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
c. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri.
d. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan.
e. Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.
33 f. Mempunyai hubungn yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku,
dilarang kawin.
Pasal 9:
Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan seorang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 14 Undang-undang ini.
Pasal 10:
Apabila suami dan istri yang telah bercerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka diantara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.
Pasal 11:
1. Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
2. Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam Peraturan Pemerintah lebih lanjut.
Syarat-syarat perkawinan yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut, yaitu:
a. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
b. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin kedua orangtuanya/salah satu orang tuanya, apabila salah satunya telah meninggal dunia/walinya apabila kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
34 c. Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Kalau ada penyimpangan harus ada ijin dari pengadilan atau pejabat yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.
d. Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali memenuhi Pasal 3 ayat 2 dan pasal 4.
e. Apabila suami dan istri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya.
f. Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
Syarat perkawinan secara formal dapat diuraikan menurut Pasal 12 UU No.1 Tahun 1974 direalisasikan dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 11 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975. Secara singkat syarat formal ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan harus memberitahukan kehendaknya kepada Pegawai Pencatat Perkawinan di mana perkawinan di mana perkawinan itu akan dilangsungkan, dilakukan sekurang-kurangnya 10 hari sebelum perkawinan dilangsungkan. Pemberitahuan dapat dilakukan lisan/tertulis oleh calon mempelai/orang tua/wakilnya. Pemberitahuan itu antara lain memuat: nama, umur, agama, tempat tinggal calon mempelai (Pasal 3-5).
b. Setelah syarat-syarat diterima Pegawai Pencatat Perkawinan lalu diteliti, apakah sudah memenuhi syarat/belum. Hasil penelitian ditulis dalam daftar khusus untuk hal tersebut (Pasal 6-7).
35 c. Apabila semua syarat telah dipenuhi Pegawai Pencatat Perkawinan membuat pengumuman yang ditandatangani oleh Pegawai Pencatat Perkawinan yang memuat antara lain: Nama, umur, agama, pekerjaan, dan pekerjaan calon pengantin, hari tanggal, jam dan tempat perkawinan akan dilangsungkan (pasal 8-9).
d. Barulah perkawinan dilaksanakan setelah hari ke sepuluh yang dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Kedua calon mempelai menandatangani akta perkawinan dihadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.
Akta perkawinan dibuat rangkap dua, satu untuk Pegawai Pencatat dan satu lagi disimpan pada Panitera Pengadilan. Kepada suami dan Istri masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan (pasal 10-13).
Perkawinan yang tidak sesuai dengan syarat-syarat atau tidak memenuhi syarat yang terdapat pada UU Perkawinan dapat di batalkan, karena hal ini diatur lebih lanjut di dalam pasal 22 UU Perkawinan, yang menegaskan bahwa perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
2.1.5 Batas Usia Perkawinan
Dahulu, kedewasaan diukur dengan menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki, saat ini kita sadari bahwa kedua kondisi tersebut hanya menunjukkan kematangan biologis untuk kematangan reproduksi secara fisik, kedewasaan tentu bukan soal usia semata, tetapi soal kematangan sosial dan
36 berperilaku. Usia dibutuhkan sebagai batasan dan penanda kongkrit yang dapat digunakan sebagai standar bagi kedewasaan. Usia perkawinan adalah usia dimana seseorang boleh melakukan/melangsungkan perkawinan menurut peraturan yang berlaku atau oleh Undang-undang.
Dibawah ini akan diuraikan beberapa ketentuan undang-undang tentang batas usia nikah sebagai berikut:
a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Pdt) Pasal 330 Ayat (1) menyebutkan: belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan tidak lebih dulu telah kawin sedangkan pada Ayat (2) disebutkan bahwa apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka mereka tidak kembali lagi dalam kedudukan belum dewasa.
b. UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 50 Ayat (1) menyebutkan:
Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua, berada dibawah kekuasaan wali. Sedangkan mengenai batas kedewasaan untuk melangsungkan perkawinan ditentukan dalam Pasal 6 Ayat (2) menyebutkan:
Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Pasal 7 Ayat (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
37 Usia perkawinan diatur di dalam UU No. 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa:
Pasal 7:
1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.
3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).
Dapat disimpulkan menurut undang-undang no. 1 tahun 1974 usia perkawinan hanya diizinkan jika pria berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun, jika terjadi pelanggaran maka perlu adanya dispensasi dari pengadilan untuk melaksanakan pernikahan tersebut. Apabila adanya penyimpangan dari usia perkawinan yang ditentukan undang-undang maka pihak orang tua harus meminta dispensasi ke Pengadilan Agama atau pejabat lain yang ditunjuk oleh orang tua calon mempelai.
Apabila adanya penyimpangan terhadap usia perkawinan yang ditetapkan oleh UU Perkawinan dan tanpa meminta dispensasi ke Pengadilan Agama atau pejabat yang ditunjuk oleh orang tua maka Perkawinan tersebut dapat dibatalkan, hal ini sesuai dengan pasal 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentan Perkawinan.
38 2.1.6 Larangan Perkawinan
Di dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan perkawinan dilarang antara dua orang yang:
1. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas;
2. berhubungan darah, dalam garis keturunan menyamping yaitu antar saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;
3. sehubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan bapak tiri;
4. sehubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan, dan bibi/paman susuan;
5. sehubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenekan dalam isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari satu orang; dan
6. mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan yang berlaku, dilarang kawin.
Pasal 8 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di atas menjelaskan mengenai perkawinan yang tidak boleh dilaksanakan antara orang yang memiliki hubungan yang disebutkan dalam Pasal ini.
2.1.7 Pencegahan Dan Pembatalan Perkawinan 1. Pencegahan Perkawinan
Pencegahan perkawinan adalah menghindari suatu perkawinan berdasarkan larangan dalam hukum perkawinan. Ketentuan mengenai pencegahan perkawinan terdapat dari Pasal 13 sampai dengan Pasal 21 Undang-Undang No.1 Tahun 1974
39 tentang Perkawinan. Yang mana pada Pasal 13 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan “Perkawinan dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.” Pasal tersebut menjelaskan bahwa apabila di dalam suatu perkawinan ada syarat-syarat perkawinan yang tidak terpenuhi maka perkawinan tersebut dapat dicegah sebagaimana yang telah disebutkan. Pihak yang dapat mencegah suatu perkawinan disebutkan dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu “Yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga dalam keturunan lurus keatas dan ke bawah, saudara, wali nikah, pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.” Pasal ini menjelaskan para pihak yang berhak mengajukan pencegahan perkawinan ke Pengadilan dengan maksud untuk mengindari perkawinan yang dilarang oleh hukum.
2. Pembatalan Perkawinan
Pada dasarnya suatu perkawinan dikatakan batal (dibatalkan) apabila para pihak perkawinan itu tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan, tetapi perkawinan tersebut telah dilaksanakan. Ketentuan mengenai pembatalan perkawinan disebutkan dari Pasal 22 sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Yang mana pada Pasal 22 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan “Perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi, syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.” Pasal tersebut menjelaskan bahwa perkawinan dapat dibatalkan apabila calon suami ataupun isteri tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan yang disebutkan dari Pasal 6 sampai dengan Pasal 12
40 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan menurut Pasal 23 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu:
a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri;
b. Suami atau isteri;
c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan;
d. Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) Pasal 16 Undang-Undang ini dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu diputus.
2.1.8 Pernikahan Dini
Ada sejumlah definisi pernikahan dini dipandang dari beberapa aspek:
a. Menurut Negara
Pernikahan dini yaitu pernikahan yang terjadi pada mempelai yang usia perempuannya dibawah 16 tahun dan mempelai laki-laki belum berusia 19 tahun.
b. Menurut Kedokteran
Dikatakan pernikahan dini apabila pernikahan tersebut dilakukan sebelum kedua atau salah satu mempelai memiliki kematangan fisik untuk menikah.
Misalnya perempuan dibawah umur yang organ-organ reproduksinya belum siap dan matang.
41 c. Menurut Psikologi
Disebut pernikahan dini apabila kedua mempelai berada dibawah usia standar pernikahan sehingga belum memiliki kematangan emosi dan cara berpikir.
d. Menurut BKKBN
Pernikahan dini ialah pernikahan dibawah umur yang disebabkan oleh faktor sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, orangtua, diri sendiri dan tempat tinggal.
e. Menurut UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 jo UU No. 23 Tahun 2002 Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang belum berusia delapan belas (18) tahun. Maka, siapapun yang menikah di bawah usia tersebut bisa dibilang sebagai pelaku pernikahan dini.12
Faktor penyebab pernikahan dini:
a. Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor penyebab pernikahan dini yang disebabkan atas dorongan maupun sebab yang berasal dari anak yang melakukan pernikahan dini.
1) Pendidikan, jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktu dengan bekerja. Kemudian dia merasa sudah cukup mandiri, maka dia akan merasa mampu untuk menghidupi diri sendiri. Begitipula jika putus sekolah kemudian menganggur. Dalam kekosongan waktu ini mereka akhirnya melakukan hal-hal yang tidak
12 Lauma Kiwe, Mencegah Pernikahan Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 11- 12.
42 produktif. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang jika diluar kontrol membuat kehamilan diluar nikah.
2) Dewasa sebelum waktunya, Anak-anak yang masih usia dibawah 17 tahun tergolong masa kanak-kanak dan fase praremaja yang mempunyai rasa keingintahuan yang kuat terhadap berbagai hal, karena keingintahuannya ini maka berbagai tontonan yang berbau seks mereka akses. Demikian itu akan menimbulkan anak-anak berfantasi seks dan akan membuat anak- anak “Dewasa dini”.
3) Telah melakukan hubungan biologis, dengan kondisi seperti ini, orangtua anak perempuan cenderung segera menikahkan anaknya, karena hal ini menjadi aib.
4) Hamil sebelum menikah, yaitu kondisi anak perempuan sudah hamil, maka orangtua cenderung menikahkan anaknya. Bahkan ada beberapa kasus, walau orangtua pada dasarnya tidak setuju, anak gadis tidak mencintai calon suaminya, maka dengan terpaksa orangtua tetap menikahkannya.
Jelas ini bukan lagi perkawinan sebagaimana yang diamanatkan UU bahkan Agama.
b. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang berasal dari luar diri si anak. Penyebab ini biasanya cenderung pada keadaan lingkungan anak yang kuat baik berasal dari keluarga ataupun masyarakat sampai pada kondisi sosial ekonomi yang dijalani.
43 1) Orangtua, khususnya bagi anak perempuan punya peran yang sangat dominan dalam masalah perkawinan, terkadang orangtua memaksakan kehendak anaknya tanpa persetujuan anaknya untuk menikah diusia muda dengan dalih dapat menjauhkan dari perbuatan negatif, hal ini disebabkan oleh pemahaman orang tua terhadap agama dan rendahnya tingkat pendidikan yang memicu terjadinya pernikahan dini.
2) Lingkungan, jika lingkungan mayoritas melakukan pernikahan diusia dini maka secara otomatis anak tersebut juga melakukan hal yang sama. Karena watak, kebiasaan dan pola pikir anak secara alami akan berkembang sesuai dengan lingkungannya.
3) Ekonomi, biasanya ini terjadi ketika keluarga si gadis berasal dari keluarga kurang mampu, orangtuanya pun menikahkan si gadis dengan laki-laki dari keluarga mapan, sehingga mendapat kehidupan yang layak.
4) Faktor adat dan budaya, adat dan budaya perjodohan yang masih umum terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Misalnya alasan untuk segera menjalin hubungan kekerabatan antara 2 keluarga yang sudah lama mereka inginkan bersama, dorongan tersebut karena mereka percaya bahwa hal ini akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.
5) Media massa dan internet, disadari atau tidak, anak di zaman sekarang sangat mudah mengakses segala sesuatu yang berhubungan dengan seks dan semacamnya, memang pendidikan seks itu penting sejak dini, tapi
44 bukan berarti anak-anak tersebut belajar sendiri tanpa didampingi orang dewasa.13
2.1.9 Perlindungan Anak
a. Pengertian Perlindungan Anak
Pengertian Perlindungan anak terdapat dalam Pasal 1 ayat (2) Undang- Undang 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tahun 23 tahun 2002, memberikan definisi tentang Perlindungan Anak yaitu:
“segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak fundamental rights and freedoms of childrenserta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi masalah perlindungan hukum bagi anak mencakup lingkup yang sangat luas. Maka lingkup perlindungan hukum bagi anak-anak mencakup:
1. Perlindungan terhadap kebebasan anak;
2. Perlindungan terhadap hak asasi anak; dan
13 Nginayatul Khasanah, Pernikahan Dini Masalah dan Problematika (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2017), hlm 54-57.
45 3. Perlindungan hukum terhadap semua kepentingan anak yang berkaitan dengan
kesejahteraan.
Komitmen yuridis negara untuk melindungi warga negaranya sebagaimana disebutkan dalam alinea ke IV UUD 1945, selanjutnya dijabarkan Bab XA tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Khusus untuk perlindungan terhadap anak, Pasal 283 ayat (2) UUD 1945 menyatakan:
"Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.14
Anak ditempatkan pada posisi yang mulia sebagai amanah Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki peran strategis dalam menjamin kelangsungan ekstensi negara ini.
Melalui UU Nomor 23 tahun 2002 jaminan hak anak dilindungi, bahkan dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan efektivitas perlindungan anak.15
b. Hak dan Kewajiban Anak 1. Hak Anak
Hak-hak anak ditentukan dalam pasal 4 sampai dengan pasal 18 UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 2 UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, mengatakan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan
14 Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, Bandung: Mandar Maju, 2009. Hal 1.
15 M Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Dihukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2015. Hal. 9.
46 Pancasila dan UUD 1945 serta prinsip-prinsip konvensi Hak-Hak Anak, yang meliputi:
1) Non diskriminasi;
2) Kepentingan yang terbaik bagi anak
;
3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan; dan 4) Penghargaan terhadap anak.
Pengertian asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa dalam suatu tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.
Pengertian asas untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan adalah bahwa hak-hak asasi yang mendasar bagi anak wajib dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua. Artinya, pihak-pihak tersebut wajib mewujudkan dan tidak meniadakan hak-hak yang dimaksud (hak hidup, hak kelangsungan hidup dan hak berkembang.
Pengertian asas penghargaan terhadap pendapat anak adalah adanya penghormatan atas hak untuk mengambil keputusan, terutama terhadap hal yang berkaitan dengan kehidupannya. Perlindungan terhadap anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan partisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. demi terwujudnya anak
47 Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera (Pasal 3 UU No 23 Tahun 2002).16
2. Kewajiban anak
Kewajiban anak ditentukan dalam pasal 19 dalam UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setiap anak berkewajiban untuk:
1) Menghormati orangutan, wali dan guru;
2) Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman;
3) Mencintai tanah air, bangsa dan negara;
4) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan 5) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia;
Menurut Setya Wahyudi, anak melakukan kewajiban bukan semata-mata sebagai beban, tetapi justru dengan melakukan kewajiban-kewajiban menjadikan anak berpredikat anak yang baik. Anak yang baik tidak hanya meminta hak-haknya saja tetapi akan melakukan kewajiban-kewajibannya.17
2.2 HASIL PENELITIAN
Berdasarkan surat permohonan bertanggal 20 April 2017 yang diterima dan terdaftar di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal 20 April 2017 berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 38/PAN.MK/2017 dan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara
16 Waluyadi, Op.Cit. Hal 16.
17 M Nasir Djamil, Op.Cit. Hal 21.
48 Konstitusi dengan Nomor 22/PUU- XV/2017 pada tanggal 18 Mei 2017, yang telah diperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 6 Juni 2017, yang diajukan oleh:
1. Pemohon I: Endang Wasrinah, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, alamat Gang Walet RT/RW 002/010, Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat;
2. Pemohon II: Maryanti, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, alamat Desa Kembang Seri RT/RW 000/000, Desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu; dan
3. Pemohon III: Rasminah, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, alamat Blok Karang Malang RT/RW 014/004, Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Para Pemohon mengajukan permohonan dengan beberapa alasan sebagai berikut:
1. Bahwa Para Pemohon mengajukan permohonan pengujian Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “16 (enam belas) tahun” adalah demi pengakuan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi anak, khususnya anak perempuan Indonesia, serta memberikan kepastian hukum yang adil bagi warga negara baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana dimandatkan oleh UUD 1945.
2. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “16 (enam belas) tahun” UU Perkawinan telah melanggar prinsip “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum”, sehingga bertentangan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945.
49 3. Bahwa Pasal 27 UUD 1945 ayat (1) yang menyatakan bahwa segala warga
negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung hukum dan pemerintah dengan tidak terkecuali”, ketentuan a quo menunjukkan bahwa tidak ada pembedaan dalam hak dan kedudukan baik dalam hukum maupun didalam pemerintahan antara setiap warga negara, atau juga dikenal dengan prinsip “Equality before the Law”.
4. Bahwa ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU a quo menyebutkan, “(1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
Ketentuan a quo di atas selanjutnya dijadikan sebagai landasan dan dasar hukum dibenarkannya perkawinan bagi perempuan yang sudah mencapai umur 16 tahun, atau dengan kata lain masih berada dalam usia anak.
5. Bahwa perbedaan ketentuan usia antara pria dan wanita pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan ini merupakan wujud nyata dan konkrit tidak tercapainya persamaan kedudukan di dalam hukum antara laki-laki dan perempuan yang sebagaimana diatur pada Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 maupun UU Perkawinan itu sendiri.
6. Bahwa pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan tidak didasari oleh argumentasi alasan ilmiah yang jelas, dan hanya didasari oleh alasan jenis kelamin semata. Anggapan mitos bahwa perempuan tumbuh dewasa lebih cepat menjadi tidak relevan secara penelitian sebagaimana diuraikan dalam permohonan a quo dimana usia 16 tahun seorang anak perempuan belum mencapai kedewasaan berpikir dan belum sempurnanya
50 perkembangan alat reproduksi pada usia tersebut. Sehingga pembedaan usia tersebut dilakukan tanpa justifikasi yang jelas selain karena alasan jenis kelamin.
7. Bahwa UU Perkawinan menyatakan secara tegas bahwa dasar dan cita-cita dari sebuah perkawinan adalah adanya suatu kesetaraan atau equality antara calon mempelai laki-laki dan perempuan dalam membangun rumah tangga dan mencapai kesejahteraan, sebagaimana dinyatakan pada angka 4 huruf a Penjelasan UU Perkawinan:
“Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing- masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spirituil dan materiil.”
“Undang-undang ini menganut prinsip, bahwa calon suami-isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.”
“Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami-isteri yang masih di bawah umur.”
8. Bahwa berdasarkan penjelasan umum UU Perkawinan di atas juga, dapat disimpulkan bahwa perkawinan didasarkan pada tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, dimana suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya
51 membantu dan mencapai kesejahteraan spirituil dan materiil. Untuk tercapainya hal ini UU Perkawinan mengamanatkan terciptanya kondisi dimana kedua pasangan saling membantu dan melengkapi. Hal mana hanya dapat tercapai apabila adanya adanya kesetaraan dalam kondisi masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan.
9. Bahwa ketentuan terkait usia antara perempuan dan laki-laki secara langsung menunjukkan adanya ketidaksetaraan dalam kondisi jiwa dan raga dimana perempuan masih berusia anak (16 tahun) sedangkan laki-laki telah melewati usia anak (19 tahun).
10. Bahwa Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan juga menciptakan ketidaksetaraan perlakuan dalam hukum antara anak laki-laki dan anak perempuan. Penetapan usia perkawinan 16 tahun bagi anak perempuan, di bawah ambang batas usia anak 18 tahun berdasarkan konvensi hak-hak anak, mengakibatkan terjadinya pembedaan kedudukan hukum termasuk diantaranya kewajiban Negara antara lain untuk melindungi (to protect), memenuhi (to fullfill) dan menghargai (to respect) hak-hak anak sesuai dengan UUD 1945.
11. Bahwa pembedaan kedudukan hukum ini mengakibatkan seorang anak perempuan kawin pada usia di bawah 18 tahun, secara otomatis dia tidak lagi dianggap sebagai seorang anak, sehingga hak-hak anak yang seharusnya melekat pada dirinya menjadi terampas. Tindakan pengistimewaan berdasarkan gender diberikan kepada anak laki-laki yang terjamin hak-hak anaknya karena ketentuan usia perkawinan 19 tahun pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan.
52 12. Bahwa perbedaan ketentuan usia antara laki-laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan yang semata didasari oleh alasan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang sangat nyata. Sebagaimana telah di jelaskan oleh Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 028- 029/PUU-IV/2006 yang menyatakan “diskriminasi harus diartikan sebagai setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama (religion), ras (race), warna (color), jenis kelamin (sex), bahasa (language), kesatuan politik (political opinion). Hal mana juga ditegaskan pada Pasal 1 ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia berbunyi:
“Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”
13. Bahwa benar dalam hal-hal tertentu tindakan pembedaan perlakuan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan hal lainnya diperbolehkan oleh hukum.
Prof. Jimly Hassidiqie dalam tulisannya berjudul “Prinsip Pokok Negara Hukum” mengutarakan dalam rangka mewujudkan prinsip equality before the
53 law, segala tindakan diskriminatif dalam segala bentuk dan menifestasinya diakui sebagai sikap dan tindakan terlarang, kecuali tindakan-tindakan yang bersifat khusus dan sementara yang dinamakan “affirmative actions” guna mendorong dan mempercepat kelompok masyarakat tertentu atau kelompok warga masyarakat tertentu untuk mengejar kemajuan sehingga tercapainya perkembangan yang sama dan setara antar tiap kelompok masyarakat, seperti contoh perlakukan khusus untuk kaum perempuan dan anak-anak.
14. Bahwa salah satu contoh implementasi affirmative actions dalam bidang ketenagakerjaan yang diakui oleh Mahkamah Konstitusi adalah melalui Putusan Nomor 019-020/PUU-III/2005, yang pada intinya menyatakan syarat usia tertentu adalah sangat tepat untuk menghindari praktik mempekerjakan anak-anak di bawah umur, demikian juga syarat sehat jasmani dan rohani, serta adanya larangan seorang yang sedang hamil karena dapat membahayakan dirinya dan kandungannya.
15. Bahwa pertanyaannya sekarang adalah apakah perbedaan perlakuan antara laki- laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan merupakan suatu bentuk affirmative actions? Apakah dengan diaturnya usia untuk melangsungkan perkawinan yang lebih rendah kepada perempuan akan membantu kelompok tersebut untuk mengejar ketertinggalannya? Justru perbedaan perlakuan ini makin memperbesar jarak ketertinggalan kaum perempuan karena terampasnya hak-hak anak yang seharusnya melekat pada mereka. Oleh karena itu, pembedaan ketentuan usia perkawinan antara laki-
54 laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan merupakan bentuk inequality before the law dan diskriminasi yang sangat nyata.
16. Bahwa dengan adanya ketidaksamaan kedudukan dalam hukum dan diskriminasi pada ketentuan usia perkawinan untuk laki-laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan, telah mengakibatkan kerugian konstitusional baik nyata maupun potensial kepada para Pemohon dan kaum perempuan pada umumnya, karena tidak tercapainya pemenuhan hak-hak atas anak dikarenakan perkawinan di bawah usia 18 tahun. Adapun hak-hak anak ini bersifat fundamental dan dijamin oleh UUD 1945 yang meliputi, hak kesehatan, hak pendidikan, hak untuk tumbuh berkembang, hak untuk bermain, dan hak-hak lainnya.
Selanjutnya terdapat fakta sidang bahwa Pemohon I adalah perorangan warga negara Indonesia, Pemohon I dinikahkan pada saat berusia 14 Tahun dengan seorang laki-laki duda yang berusia 37 tahun, alasan pernikahan tersebut karena keadaan ekonomi keluarga. Pernikahan ini menimbulkan beberapa dampak bagi Pemohon yaitu:
a. Akibat dari pernikahan ini Pemohon I harus putus sekolah, dengan pendidikan terakhir kelas 2 SMP;
b. Setelah menikah kehidupan Pemohon I tidak menjadi lebih baik, tetap berada dalam garis kemiskinan dan akibat dari pendidikan yang tidak diselesaikan, maka Pemohon I tidak dapat mencari pekerjaan yang layak;
55 c. Akibat pernikahan yang terjadi pada saat Pemohon I masih dalam kategori anak
menyebabkan Pemohon I menderita infeksi/iritasi pada organ reproduksi.
Bahwa Pemohon II adalah perorangan warga negara Indonesia, Pemohon II dinikahkan pada saat berusia 14 tahun dengan seorang laki-laki yang berusia 33 tahun dan, alasan pernikahan tersebut karena keadaan ekonomi keluarga, orang tua Pemohon II memiliki hutang kepada calon suaminya tersebut. Akibat dari pernikahannya tersebut, Pemohon tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya dan mengalami beberapa kali keguguran.
Bahwa Pemohon III adalah perorangan warga negara Indonesia, Pemohon II dinikahkan pada saat berusia 13 tahun dengan seorang laki-laki yang berusia 25 tahun dan, alasan pernikahan tersebut karena keadaan ekonomi keluarga. Pemohon III menikah setelah tamat sekolah dasar, namun Pemohon III tidak dapat mengambil ijasah sekolah dasarnya karena keterbatasan ekonomi. Pemohon III melahirkan anak pertamanya di usia 14 tahun. Sepanjang hidupnya Pemohon III telah melakukan pernikahan sebanyak 4 kali, 2 di ataranya dilakukan pada saat Pemohon III masih dalam usia anak dan pernikahan ini dilakukan karena alasan ekonomi.
Berdasarkan seluruh uraian para Pemohon dalam menjelaskan kedudukan hukumnya sebagaimana diuraikan di atas, dalam kualifikasinya tersebut, para Pemohon telah jelas menerangkan hak-hak konstitusionalnya yang dianggap dirugikan oleh berlakunya norma undang-undang yang dimohonkan pengujian di mana kerugian dimaksud timbul dari adanya hubungan kausal antara norma yang dimohonkan pengujian dan kerugian yang dianggap dialami oleh para Pemohon sehingga apabila permohonan dikabulkan maka kerugian dimaksud tidak akan terjadi, dengan demikian
56 Mahkamah berpendapat para Pemohon memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan a quo.
Dalam putusan Mahkamah Konstitusi yang penulis teliti, hakim dalam memutus memeberikan pertimbangan-pertimbangannya yaitu:
1. Bahwa pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan dalam Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 merupakan wujud nyata tidak tercapainya persamaan kedudukan dalam hukum yang dilindungi oleh Pasal 27 ayat (1) UUD 1945. Penetapan usia perkawinan 16 tahun bagi anak perempuan berada di bawah ambang batas usia anak berdasarkan konvensi hak anak, di mana jika seorang anak perempuan telah dinikahkan di bawah usia 18 tahun secara otomatis kehilangan hak- haknya sebagai seorang anak. Penetapan usia perkawinan dalam UU 1/1974 menunjukkan adanya ketidaksetaraan bagi laki-laki dan perempuan khususnya terkait kondisi jiwa dan raga;
2. Bahwa perbedaan ketentuan usia antara laki-laki dan perempuan pada Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 yang semata-mata didasari oleh alasan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang sangat nyata. Perbedaan perlakuan atas usia perkawinan ini justru semakin memperbesar jarak ketertinggalan kaum perempuan karena terampasnya hak-hak anak yang seharusnya melekat pada mereka;
3. Bahwa penetapan batas usia perkawinan sebagaimana yang disebutkan dalam Penjelasan Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 semata-mata didasarkan pada aspek kesehatan, namun perkembangan dalam dunia medis perempuan yang telah
57 dinikahkan saat berusia 16 tahun sangat rentan atas gangguan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi di antaranya kehamilan. Menurut data UNICEF, perempuan yang melahirkan pada usia 15-19 tahun berisiko mengalami kematian dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan yang melahirkan pada usia di atas 20 tahun. Berbeda halnya dengan laki-laki di mana batas usia perkawinannya telah melewati batas usia anak-anak, sehingga hal ini menimbulkan diskriminasi di mana hanya laki-laki yang diperhatikan kesehatannya;
4. Bahwa pada dasarnya setiap orang berhak atas pendidikan, Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 merupakan diskriminasi negara dalam mendapatkan hak atas pendidikan, laki-laki mendapatkan kesempatan dan hak yang lebih besar.
Perkawinan yang dilakukan terhadap anak perempuan yang masih dalam usia anak dan usia sekolah seringkali menyebabkan anak tersebut kehilangan haknya atas pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 28C ayat (1) UUD 1945. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional pada tahun 2015 hanya sebanyak 8,88% anak perempuan Indonesia yang dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMA, sedangkan sebanyak 91,12% anak perempuan yang menikah sebelum 18 tahun tidak dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Perempuan yang menikah di bawah 18 tahun memiliki korelasi dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkannya.
Perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun cenderung memiliki pendidikan lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang menikah setelah
58 usia 18 tahun. Batas usia kawin bagi perempuan dan laki-laki jelas telah mengakibatkan perbedaan kedudukan hukum antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan hak atas pendidikan;
5. Bahwa yang menjadi faktor utama terjadinya pernikahan pada usia anak bagi seorang perempuan adalah faktor ekonomi keluarga, posisi anak perempuan saat itu tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan haknya untuk tidak dinikahkan oleh keluarganya. Dalam Pasal 6 ayat (1) UU 1/1974 disebutkan bahwa “Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai”
sehingga dari ketentuan ini seharusnya calon mempelai, termasuk mempelai wanita memiliki hak untuk menyetujui pernikahannya tanpa tekanan dari pihak- pihak lain. Hal ini mengarah pada eksploitasi anak terutama ekploitasi seksual anak dan hal ini bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945;
6. Bahwa ketentuan batas usia bagi perempuan dalam Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 membuka potensi seorang anak perempuan dinikahkan dengan laki-laki yang lebih tua, perkawinan dengan laki-laki yang lebih tua rentan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Dari pertimbangan-pertimbangan di atas hakim memutus permohonan tersebut sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian;
2. Menyatakan Pasal 7 ayat (1) sepanjang frasa “usia 16 (enam belas) tahun”
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara
59 Republik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
3. Menyatakan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) masih tetap berlaku sampai dengan dilakukan perubahan sesuai dengan tenggang waktu sebagaimana yang telah ditentukan dalam putusan ini;
4. Memerintahkan kepada pembentuk undang-undang untuk dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019), khususnya berkenaan dengan batas minimal usia perkawinan bagi perempuan;
5. Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya;
6. Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan selebihnya.
Putusan Mahkamah Kosntitusi nomor 22/PUU-XV/2017 merupakan suatu langkang awal pemerintah dalam melindungi hak-hak anak khususnya anak perempuan, karena atas Putusan tersebut terbentuklah suatu perubahan perundang- undangan yang baru yaitu: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
60 Perubahan yang dimaksud terdapat dalam Pasal 7 yang ketentuannya berbunyi sebagai berikut:
Pasal 7
1) Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.
2) Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.
3) Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.
4) Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).
2.3 ANALISIS
2.3.1 Penetapan Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pemenuhan Hak-Hak Anak Perempuan Permohonan pengujian undang-undang ke MK terkait batas usia minimal perkawinan, sebagai bentuk kepedulian terhadapa hak-hak anak yang hilang dikarenakan perkawinan anak. Perlindungan hukum terhadap anak yang telah melakukan perkawinan di usia dini terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindunagn Anak terdapat dalam Pasal 2 yang menyatakan Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
61 kekerasan dan diskriminasi. Dalam penjelasan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa tujuan dari pasal tersebut adalah untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan. Pada faktanya, berdasarkan penelitian yang berkembang dewasa ini, perkawinan pada usia 16 (enam belas) tahun bagi perempuan memiliki berbagai dampak di bidang kesehatan. Dari segi anatomi, tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, sehingga dapat terjadi komplikasi, seperti obstetric fistula. Hal ini menyebabkan, perempuan di bawah usia 18 (delapan belas) tahun lima kali lebih rentan mengalami komplikasi kehamilan dan memiliki mortalitas kelahiran yang lebih tinggi dibanding perempuan usia 20 (dua puluh) tahun ke atas. Kehamilan dan persalinan dini tak jarang berujung pada kematian Ibu yang mencapai angka 48 per 1.000 kelahiran untuk jumlah kelahiran pada usia 15- 19 tahun yang juga disebabkan karena kondisi fisik perempuan yang belum matang untuk melahirkan. Dampak perkawinan anak pun akan memengaruhi calon bayi, bayi yang dilahirkan oleh perempuan usia belia, memiliki peluang 20-30% lebih tinggi untuk lahir prematur, lahir dengan berat badan rendah, dan kekurangan gizi. Bahkan, anak-anak yang terlahir dari ibu remaja berusia kurang dari 19 (sembilan belas) tahun memiliki peningkatan risiko stunting hingga 40% dalam 2 (dua) tahun kehidupan pertamanya. Risiko kematian bayi sebelum genap berusia 1 (satu) tahun juga meningkat hingga 60% dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu berusia dua puluh tahunan. Risiko ini terjadi karena calon jabang bayi bersaing untuk mendapatkan asupan gizi dengan tubuh ibunya, yang notabennya juga sama-sama masih dalam tahap
62 tumbuh kembang. Bayi yang tidak mendapatkan cukup asupan gizi dan darah bernutrisi akan terhambat atau bahkan gagal berkembang dalam kandungan.
Selain terkait hak atas kesehatan, penetapan batas usia minimal perkawinan sejatinya juga merupakan upaya dalam memberikan perlindungan hukum terkait hak mengenyam pendidikan. Pada dasarnya, setiap orang berhak untuk mengenyam pendidikan, sesuai Pasal 31 ayat (1) UUD NRI 1945. Pengimplementasian dari adanya hak untuk mengenyam pendidikan bagi anak ini, kemudian dituangkan dalam program wajib belajar yang diatur dalam Pasal 7 UU 20/2003. Program wajib belajar tersebut dewasa ini menjadi 12 (dua belas) tahun yang kini dilaksanakan oleh pemerintah berdasarkan Pasal 2 huruf a Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya No. 19 tahun 2016 tentang Program Indonesia Pintar. Anak harus menempuh pendidikan terlebih dahulu sebelum menikah, tidak boleh adanya intervensi dari orangtua atau ancaman kekerasan yang mendorong si anak untuk menikah, dan agar si anak melaksanakan perkawinan setelah mereka sudah matang dalam hal pola pikir manusia. Adapun kewajiban orang tua adalah mendukung dan menghindarkan berbagi hambatan yang dapat menganggu anak dalam menempuh pendidikan dan perkembangan hidupnya. Dengan akibat dari perkawinan anak, seringkali anak tersebut tidak dapat menyelesaikan pendidikannya. Dalam hal ini orang tua gagal dalam memenuhi hak anak tersebut, yang artinya apabila anak sudah melakukan perkawinan dibawah umur yang tidak sesuai dengan batas usia perkawinan, maka anak tersebut tidak memiliki hak atas pendidikan dan kesempatan untuk berkembang.
63 Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2015 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik, sebesar 91,12% anak perempuan yang melangsungkan perkawinan sebelum usia 18 (delapan belas) tahun tidak dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA. Sedangkan 45,38% anak perempuan yang melangsungkan perkawinan setelah usia 18 (delapan belas) tahun dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA. Padahal, jika ditafsirkan secara sistematis, ini artinya hak mengenyam pendidikan yang dijamin oleh konstitusi, jika di aktualisasikan dengan kondisi sekarang adalah hak untuk mengenyam pendidikan selama 12 (dua belas) tahun. Itu artinya, Jika perempuan tersebut menikah pada saat usia 16 tahun, berarti dia kehilangan hak konstitusionalnya untuk mengenyam pendidikan selama 3 (tiga) tahun. Kehilangan hak konstitusional pada perempuan tersebut disebabkan, karena perempuan tersebut memiliki tanggung jawab baru sebagai istri atau calon ibu, mengurus rumah tangga atau menjadi tulang punggung keluarga. Selain itu, hak konstitusional dalam hal kesehatan seringkali terjadi akibat kehamilan dan persalinan.
Selain itu, perkawinan anak juga memengaruhi kondisi psikologis anak perempuan, di mana psikologis anak usia di bawah 18 (delapan belas) tahun masih belum berkembang secara optimal. Kondisi psikologis yang kurang matang ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tercatat oleh Komnas Perempuan, KDRT adalah tindak kekerasan terhadap perempuan yang paling umum dialami oleh perempuan Indonesia. Indonesia sendiri telah membuat instrumen hukum untuk menghapus tindakan KDRT melalui Undang-Undang Nomor
64 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (selanjutnya disebut UU 23/2004). Selain itu, perkawinan anak juga lebih rentan mengalami perceraian.
Secara psikologis pun, perempuan yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun, merupakan entitas yang rentan dan cenderung taat pada orang yang usianya di atas 18 (delapan belas) tahun. Hal ini secara yuridis dapat dilihat dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 5 ayat (3) dijelaskan bahwa anak (dibawah usia 18 tahun) termaksud dalam kelompok masyarakat yang rentan. Bahwa Berdasarkan sifat kerentanan dan ketergantungan yang besar terhadap orang dewasa disekitarnya, menjadi pertanyaan apakah seorang anak dapat memberikan persetujuan yang bebas dan penuh terbebas dari tekanan pihak manapun termasuk orang tuanya. Jangan sampai perkawinan tersebut tidak mencerminkan persetujuan para pihak secara substansial yang dijamin dalam Pasal 6 ayat (1) UU 1/74.
Dari akumulasi permasalahan-permasalahan yang timbul akibat perkawinan anak, dapat disimpulkan bahwa perkawinan anak menempatkan perempuan pada posisi yang rentan mengalami pelanggaran-pelanggaran hak asasi. Permasalahan tersebut lahir sebenarnya karena belum koherennya aturan terkait usia perkawinan yang diatur dalam UU 1/74 dengan konsep anak yang kini telah berubah. Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (selanjutnya disebut UU 35/2014) pada Pasal 1 memberikan pengertian bahwa usia anak adalah usia dibawah 18 (delapan belas) tahun. Hal tersebut bertentangan terhadap aturan Pasal 7 UU 1/74 yang menetapkan
65 usia minimal perkawinan bagi perempuan adalah 16 (enam belas) tahun. Pengaturan tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya perkawinan anak dan kontradiksi dengan Pasal 26 UU 35/2014 yang mewajibkan orang tua untuk mencegah terjadinya perkawinan anak. Jika telah terjadi perkawinan, maka status anak tersebut akan berubah menjadi orang dewasa, sementara bagi laki-laki perubahan demikian baru dimungkinkan apabila kawin pada usia 19 (sembilan belas) tahun dimana usia tersebut telah melampaui batas usia anak dalam UU 35/2014. Dengan itu, laki-laki masih dapat menikmati hak-haknya sebagai anak, seperti hak pendidikan, hak untuk tumbuh berkembang, hak untuk bermain, dan hak-hak lainnya seperti yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak (KHA) dan UU 35/2014. Berbeda dengan anak perempuan yang melangsungkan perkawinan sebelum usia 18 (delapan belas) tahun, maka anak perempuan tersebut akan kehilangan haknya sebagai anak. Berdasarkan hal itulah, umumnya usia perkawinan antra laki-laki dan perempuan di negara lain diatur dengan setidak-tidaknya dua indikator yaitu:
1. Usia minimal perkawinan yang diatur adalah di atas usia dewasa di negara tersebut;
2. Usia minimal perkawinan antara laki-laki dan perempuan setidaknya sama atau setidak-tidaknya usia perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki.
2.3.2 Putusan MK No. 22 PUU-XV 2017 sebagai Wujud Penghapusan Diskriminasi Batas Usia Minimal Perkawinan antara Laki-laki dan Perempuan
Beberapa tahun kemudian, masyarakat kembali mengajukan judicial review ke MK dalam rangka mendapatkan perlindungan hak-hak konstitusional yang terkait